Makalah LGBT di lihat dari sudut pandang (1)

16 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami ucapkan kehadirat Tuhan YME yang telah memberikan rahmat dan hidayahnya kepada kita semua, sehingga berkat rahmat dan karunia-Nya itu kami dapat menyelesaikan makalah tentang “Perlindungan Hukum Negara Terhadap Tindakan Pelecehan Seksual Anak” ini diharapkan mampu memberikan kontribusi bagi semua pihak. Uraian yang tersajikan berdasarkan hasil kutipan penyusun dari sumber yang terdapat di media cetak mengingat data-data tersebut yang menjadi pokok bahasan agar tersusunnya makalah ini.

Dalam penyusunan makalah ini, penyusun mengucapkan terima kasih kepada:

1. Dra. Nina Nurhasanah, M.Pd

2. Serta pihak lain yang telah terlibat dalam penyusunan makalah ini Dalam penulisan makalah ini kami merasa masih banyak kekurangan. Untuk itu, kritik dan saran dari semua teman-teman dan pembaca makalah ini sangat kami harapkan demi penyempurnaan pembuatan makalah ini.

Jakarta, 3 Juni 2016

(2)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR……… DAFTAR ISI………... BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang………...

B. Pengertian Judul………

BAB II PERMASALAHAN………... BAB III PEMBAHASAN

A. Pengertian HAM……….

B. Sejarah Munculnya Istilah LGBT………...

C. LGBT dari Sudut Pandang HAM ………

D. LGBT dari Sudut Pandang Hukum Negara………...

E. LGBT dari Sudut Pandang Kesehatan………

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan……….

(3)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

LGBT saat ini lebih dari sekadar sebuah identitas, tetapi juga merupakan campaign substance and cover atas pelanggengan Same Sex Attraction (SSA). Perilaku LGBT dimulai dari suatu preferensi homoseksual, kemudian mewujud dalam perbuatan homoseksual, lalu pada akhirnya melekat dalam bentuk perjuangan untuk diterima sebagai perilaku normal dalam membentuk institusi keluarga.

Preferensi homoseksual itu hadir dalam keyakinan atas aktualisasi diri, pemikiran berisi pembenaran preferensi tersebut, dan keinginan yang mendorong untuk merealisasikannya. Perbuatan homoseksual itu mewujud dalam hubungan interpersonal sesama homoseksual. Selanjutnya, pembentukan keluarga LGBT adalah fase paling mutakhir dalam melanggengkan kedua perilaku yang lainnya, baik preferensinya maupun perbuatannya sebagai homoseksual.

(4)

B. Pengertian Judul

Doktrin tentang Hak Asasi Manusia (HAM) sekarang ini sudah diterima secara universal sebagai a moral, political, and legal framework and as a guideline dalam pembangungan dunia yang lebih damai dan bebas dari ketakutan dan penindasan serta perlakuan yang tidak adil. Terkait tentang hakikat hak asasi manusia, maka sangat penting sebagai makhluk ciptaan Tuhan harus saling menjaga dan menghormati hak asasi masing-masing individu. Namun pada kenyataannya, kita melihat perkembangan HAM di Negara ini masih banyak bentuk pelanggaran HAM yang sering kita temui. Oleh karena itu, dalam paham negara hukum, jaminan perlindungan hak asasi manusia dianggap sebagai ciri yang mutlak harus ada disetiap negara yang dapat di sebut rechtsstaat.

Dalam perkembangannya, jaminan hak asasi manusia harus tercantum dengan tegas dalam undang-undang dasar atau konstitusi tertulis negara demokrasi konstitusional, dan diangggap sebagai materi terpenting yang harus ada dalam konstitusi, disamping materi ketentuan lainnya seperti mengenai format kelembagaan dan pembagian kekuasaan negara dan mekanisme hubungan antar lembaga negara (Jimly Asshiddiqie: 2002: hal.343).

(5)

BAB II PERMASALAHAN

Dalih untuk mengikuti perkembangan zaman, modernisasi dan tuntutan hak asasi manusia menuntut isu pernikahan sejenis agar di legalkan di Indonesia. Upaya pelegalan terus saja di lakukan oleh sebagian masyarakat Indonesia seperti misalnya menggelar aksi simpatik, pawai keliling dengan membawa isu diskriminasi dan pelanggaran hak asasi manusia terhadap kaum Lesbi Gay Biseksual dan Transgender (LGBT) dan berharap untuk mengubah sistem hukum yang saat ini berlaku hingga menerobos rambu-rambu agama yang di anut oleh rakyat Indonesia sehingga mereka mendapatkan hak untuk melangsungkan pernikahan sejenis sebagaimana yang mereka inginkan.

Maka tidak heran jika pihak yang pro terhadap isu ini mengedapankan tataran persamaan di depan hukum sebagai warga negara dan persamaan hak yang kian di jadikan senjata utama bagi mereka untuk melegalkan pernikahan sejenis di Indonesia. Isu pelanggaran hak asasi manusia bagi kaum Lesbi Gay Biseksual dan Transgender (LGBT) membuat sebagian tokoh cendekiawan di Indonesia mendukung upaya pelegalan tersebut.

(6)

BAB III PEMBAHASAN A. Pengertian Hak Asasi Manusia (HAM)

Menurut UU No. 39 tahun 1999 pasal 2 (UUHAM), HAM adalah seperangkat hak yang melekat pada hakikatnya dan keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan anugrahnya, yang wajib dijunjung tinggi, di hormati, dan dilindungi oleh negara, hukum, pemerintahan dan setiap orang demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia.

Sampai pada saat ini sebenaranya belum ada pengertian yang baku tentang definisi atau pengertian hak asasi manusia. Mengingat hak asasi manusia bersifat universal maka pandangan yang mempertentangkan HAM yang berasal dari budaya barat dan HAM budaya Timur adalah sangat tidak relevan karena sifat dari HAM yang melekat pada diri manusiamtermasuk sifat universalnya sendiri. HAM sering didefinisikan sebgai hak-hak yang demikian melekat pada ifat manusia sehingga tanpa hak-hak itu kita mungkin mempunyai martabat sebagai manusia (inherent dignity). Dan karena itu pula dikatakan bahwa hak-hak tersebut tidak dapat dicabut (inalienable) dan tidak boleh di langgar (inviolable).

(7)

B. Sejarah Istilah LGBT

Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender ( LGBT) adalah istilah yang digunakan semenjak tahun 1990an menggantikan istilah komunitas gay yang sebelumnya digunakan untuk mewakili kelompok-kelompok yang termasuk dalam kategori tersebut. Akronim ini dibuat untuk menekan keanekaragaman budaya yang berdasarkan identitas seksual dan gender.

LGBT merupakan fenomena sosial yang sangat mengkhawatirkan dimana sewajarnya manusia yang berakal menyukai dan berorientasi seksual terhadap lawan jenis tidak berlaku bagi orang-orang yang berada dalam golongan ini. Golongan LGBT tidak lagi mengindahkan fitrah mereka sebagai makhluk hidup yang ditakdirkan berpasang-pasangan dan memilih berorientasi seperti penamaan golongan mereka.

(8)

C. LGBT dari Sudut Pandang HAM

Kaum LGBT mengukuhkan eksistensinya dengan dalih Hak Asasi Manusia. Banyak dari mereka mengacu pada International Convenant on Civil and Poltical Rights / ICCPR (Konvenan Internasional tentang Hak-hak Sipil dan Politik ) yang disahkan Majelis Umum PBB tahun 1951 yang isinya memuat hak untuk menentukan nasibnya sendiri, dewan Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (Dewan HAM PBB) mengeluarkan resolusi yang menyatakan tidak boleh ada diskriminasi atau kekerasan terhadap orang berdasarkan orientasi seksual mereka. Resolusi tersebut dikeluarkan setelah melalui perdebatan sengit antara negara-negara Barat melawan negara-negara mayoritas berpenduduk Islam. Bagi negara Barat, resolusi tersebut termasuk bersejarah. Melalui resolusi ini, Dewan HAM PBB mengakui persamaan hak lesbian, gay, biseksual dan transgender. Resolusi yang ini diajukan oleh Afrika Selatan ini diadopsi oleh 23 negara yang mendukung. Telah meratifikasi ICCPR pada 28 oktober 2005 melalui UU No.12 tahun 2005 tentang pengesahan ICCPR. Berikut adalah poin-poin yang termasuk dalam hak sipil :

1. Hak hidup

2. Hak bebas dari siksaan, perlakuan, atau penghukuman yang kejam, tidak manusiawi, atau merendahkan martabat.

3. Hak bebas dari perbudakan

(9)

5. Hak memilih tempat tinggalnya untuk meninggalkan negara manapun termasuk negara sendiri

6. Hak persamaan didepan lembaga peradilan dan badan peradilan

7. Hak atas praduga tak bersalah

8. Hak kebebasan berfikir

9. Hak berkeyakinan dan beragama

10.Hak untuk mempunyai pendapat tanpa campur tangan orang lain

11.Hak atas kebebasan untuk menyampaikan pendapat

12.Hak atas perkawinan / membentuk keluarga

13.Hak anak atas perlindungan yang dibutuhkan oleh statusnya sebagai anak dibawah umur, keharusan segera didaftarkan setiap anak sejak lahir dan keharusan mempunyai nama dan hak anak atas kewarganegaraan

14.Hak persamaan kedudukan semua orang di depan hukum

15.Hak atas perlindungan hukum yang sama tanpa diskriminasi.

(10)

Perlu diketahui bahwa penerapan HAM disetiap negara disesuaikan dengan kondisi demokrasi di negara tersebut. Di Indonesia yang menerapkan demokrasi berasaskan Pancasila, yang dimana pada sila pertama ditegaskan Ketuhanan Yang Maha Esa maka demokrasi di Indonesia adalah demokrasi yang religius, tidak terlepas dari kehidupan beragama dimana seperti diketahui pada kajian diatas bahwa tidak ada satupun agama di Indonesia yang membenarkan perilaku LGBT. Maka tidak mungkin Indonesia untuk melegalkan status kaum LGBT meskipun selama mereka tidak melakukan tindak kriminal yang diatur oleh negara, mereka dapat mempunyai hak yang sama dalam setiap sendi kehidupan kecuali dalam hal pernikahan sesama jenis. Mengenai diskriminasi oleh mayoritas masyarakat adalah hal alamiah yang mau tidak mau diterima karena kelainan orientasi seksual mereka yang terungkap publik mengingat kehidupan masyarakat yang religius.

Hak Asasi Manusia wajib dilindungi oleh pemerintah. Namun kebijakan pemerintah Indonesia dengan tidak melegalkan LGBT sesunguhnya adalah demi melindungi warga negara itu sendiri. Kita juga dapat merujuk pada International Convenant on ekonomic, social, cultural right / ICESCR (Konvenan Internasional tentang Hak-hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya ) yang disahkan Majelis Umum PBB pada tahun 1966. Pada bagian 3 berisi tentang :

1. Hak atas pekerjaan

2. Hak mendapat program pelatihan

3. Hak mendapat kenyamanan dan kondisi kerja yang baik

(11)

5. Hak menikmati jaminan sosial termasuk asuransi sosial

6. Hak menikmati perlindungan pada saat dan setelah melahirkan

7. Hak atas standar hidup yang layak termasuk pangan, sandang, dan perumahan

8. Hak terbebas dari kelaparan

9. Hak menikmati standar kesehatan fisik dan mental yang tinggi

10.hak atas pendidikan termasuk pendidikan dasar secara cuma cuma

11.Hak untuk berperan serta dalam kehidupan budaya dan menikmati manfaat dari kemajuan ilmu pengetahuan dan aplikasinya

Dalam hal ini negara wajib melindungi hak warga negara untuk menikmati standar kesehatan fisik dan mental yang tinggi. Dalam kajian kesehatan sudah dijelaskan bahwa perilaku LGBT memiliki resiko besar terhadap gangguan kesehatan. Bagaimana warga negara dapat hidup sehat jika memelihara kebiasaan yang membahayakan kesehatan, tentu pemerintah mengambil jalan terbaik dengan tidak melegalkan LGBT demi kemaslahatan masyarakat yang lebih besar dan berpegang teguh pada Pancasila dan UUD 1945 tanpa melanggar hak asasi manusia itu sendiri.

“Tidak Membenarkan Perilaku LGBT dan Menolak Legalitas LGBT di Indonesia” dengan pertimbangan :

(12)

2. Perilau LGBT tidak sesuai dengan kehidupan masyarakat Indonesia yang bermartabat, menjunjung tinggi adat istiadat dan agama.

3. Tidak ada agama di Negara Kesatuan Republik Indonesia yang membenarkan perilaku LGBT.

4. Tidak ada hukum di Negara Kesatuan republik Indonesia yang melegalkan eksistensi LGBT dan pernikahan sesama jenis adalah perbuatan ilegal.

5. Tidak melegalkan LGBT tidak dapat diartikan sebagai pelanggaran HAM, tetapi justru melindungi HAM.

D. LGBT dari Sudut Pandang Hukum Negara

Di dalam konstitusi Indonesia UUD 1945 Pasal 28J Ayat 1 dikatakan “Setiap orang wajib menghormati hak asasi manusia orang lain dalam tertib kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara”, ini berarti hak asasi manusia yang diinginkan oleh bangsa ini ialah hak asasi manusia yang sesuai dengan norma dan tata tertib yang tumbuh dan berkembang di dalam masyarakat, maka ketika penuntutan pemenuhan hak untuk melegalkan pernikahan sejenis oleh kaum Lesbian Gay Biseksual dan Transgender (LGBT) yang kemudian itu dinilai oleh mayoritas masyarakat Indonesia bertentangan dengan norma yang berlaku di masyarakat maka pemenuhan hak tersebut tidak dapat di wujudkan begitu saja sehingga tidak ada dalih pelanggaran hak asasi manusia di sini.

(13)

dan melindungi hak asasi dan kebebasannya, setiap orang wajib tunduk kepada pembatasan yang ditetapkan dengan undang-undang dengan maksud semata-mata untuk menjamin pengakuan serta penghormatan atas hak dan kebebasan orang lain, dan untuk memenuhi tuntutan yang adil sesuai dengan pertimbangan moral, nilai-nilai agama, keamanan, dan ketertiban umum”.

Maka jelas sudah tidak ada pendiskriminasian dan pelanggaran hak asasi manusia bagi kaum Lesbi Gay Biseksual dan Transgender (LGBT) di Indonesia, mengingat Indonesia memang tidak memiliki celah hukum untuk pelegalan pernikahan sejenis tersebut dan ini di atur secara tegas oleh konstitusi kita yaitu UUD 1945 begitu juga halnya falsafah negara kita yaitu Pancasila di sila Ketuhanan Yang Maha Esa, maka sudah seharusnya segala aspek kehidupan berbangsa dan bernegara haruslah berlandaskan ketuhanan yang maha esa. Ini berarti jika ingin melegalkan pernikahan sejenis maka kita harus mengubah UU Pernikahan yang telah ada dan yang sangat di cintai oleh rakyat Indonesia, terbukti ketika ada pihak yang menguji pasal serupa yaitu Pasal 1 Undang-undang No. 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan yang kemudian menimbulkan gejolak di tengah-tengah masyarakat hingga akhirnya Mahkamah Konstitusi memutuskan bahwa pasal tersebut tidak bertentangan dengan konstitusi Indonesia, itu artinya ketika negara memberikan status pelegalan untuk Lesbi Gay Biseksual dan Transgender (LGBT) maka pemerintah akan berhadapan dengan massa yang jauh lebih besar yaitu rakyat Indonesia sendiri.

E. LGBT dari Sudut Pandang Kesehatan

(14)

150.296 kasus HIV dan 55.799 kasus AIDS. Presentase kasus AIDS dari faktor resiko adalah :

 Heterosex tidak aman 61,5%

 IDU 15,2%

 Tak diketahui 17,1%

 Homosex 2,4%

 Bisex 0,6%

 Perinatal 2,7%

 Transfusi darah 0,2%

 Lain-lain 0,3%

Sedangkan antara Juli-september 2015 tercatat 6.799 kasus AIDS dengan presentase resiko akibat Homoseksual adalah 24,4%. Menurut badan kesehatan dunia (WHO) kaum Gay dan Transgender memiliki resiko 20 kali lebih besar tertular HIV / AIDS dibanding populasi normal. Bahkan sebanyak 40% kaum Homoseks dan 68% kaum Transgender di dunia telah menderita HIV / AIDS.

(15)

normal yang juga terinfeksi HIV. Penularan dapat terjadi melalui hubungan seks (mohon maaf) anal maupun oral yang biasa dilakukan oleh kaum gay.

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan

Jelas sudah tidak ada pendiskriminasian dan pelanggaran hak asasi manusia bagi kaum Lesbi Gay Biseksual dan Transgender (LGBT) di Indonesia, mengingat Indonesia memang tidak memiliki celah hukum untuk pelegalan pernikahan sejenis tersebut dan ini di atur secara tegas oleh konstitusi kita yaitu UUD 1945 begitu juga halnya falsafah negara kita yaitu Pancasila di sila Ketuhanan Yang Maha Esa, maka sudah seharusnya segala aspek kehidupan berbangsa dan bernegara haruslah berlandaskan ketuhanan yang maha esa. Ini berarti jika ingin melegalkan pernikahan sejenis maka kita harus mengubah UU Pernikahan yang telah ada dan yang sangat di cintai oleh rakyat Indonesia, terbukti ketika ada pihak yang menguji pasal serupa yaitu Pasal 1 Undang-undang No. 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan yang kemudian menimbulkan gejolak di tengah-tengah masyarakat hingga akhirnya Mahkamah Konstitusi memutuskan bahwa pasal tersebut tidak bertentangan dengan konstitusi Indonesia.

B. Saran

(16)

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...