A. Latar Belakang Masalah
Dalam buku Ta`li>mul-Muta`allim T{ari>qut-Ta`allum, az-Zarnu>ji> menjelaskan isi kandungan karyanya, menukil Hadis-Hadis sebagai argumentasi dari pembahasan yang terdapat dalam buku tersebut. Akan tetapi Hadis-Hadis yang dinukil tersebut, tidak seluruhnya disebutkan sumber dimana Hadis diambil.
Minimal ada enam hal yang melatarbelakangi urgensi penelitian Hadis.1 Pertama, Hadis Nabi saw. memiliki karakter yang berbeda dari al-Qur'a>n. Al-Qur'a>n, seluruh riwayatnya mutawa>tir, sedangkan Hadis ada yang diriwayatkan secara mutawa>tir ada pula yang ah}a>d. Oleh karena itu, al-Qur'a>n dari sisi periwayatannya memiliki kedudukan yang qat}`i as\-s\ubu>t (kebenaran beritanya absolut). Berbeda dengan Hadis yang ada kalanya qat}`i dan adakalanya bahkan banyak yang z}anni as\-s\ubu>t (kebenaran beritanya relatif dan nisbi). Maka dari itu, dapat dikatakan bahwa seluruh ayat al-Qur'a>n tidak perlu diteliti orisinalitas periwayatannya, sedangkan Hadis Nabi saw., yang berkategori ah}a>d, perlu dikaji dan diteliti orisinalitasnya. Sehingga dapat diketahui apakah
Hadis tersebut dapat dipertanggungjawabkan
periwayatannya dari Nabi atau tidak.
Kedua, tidak semua Hadis telah ditulis pada zaman Nabi saw. dan setiap Hadis tidak selalu terjadi di hadapan orang banyak. Selain itu, tidak setiap Hadis yang telah ditulis para sahabat telah di cross-check di hadapan Nabi saw.. Hal ini berimplikasi bahwa Hadis Nabi saw. tidaklah terhindar dari kemungkinan adanya kesalahan periwayatan.
Ketiga, timbulnya pemalsuan Hadis. Gerakan pemalsuan Hadis ini mulai muncul pada tahun 40-an H. pada masa khalifah `Ali ibn Abi> T{a>lib. Pada mulanya, pemalsuan ini didorong oleh kepentingan politik. Terutama ketika terjadi pertentangan politik antara Ali dan Mu`a>wiyah. Kemudian tidak hanya terjadi pada faktor politik, melainkan juga kepentingan ekonomi, menjilat pejabat dan ambisi kekuasaan turut andil dalam meramaikan gerakan pemalsuan Hadis. Dengan adanya pemalsuan Hadis, akan sulit sekali memisahkan mana yang benar-benar berasal dari Nabi saw. dan mana yang bukan.
Keempat, lamanya proses penghimpunan Hadis. Penghimpunan Hadis secara resmi dan massal terjadi pada masa Khalifah `Umar ibn `Abdul-`Azi>z yang wafat pada tahun 101 H.. Dikatakan resmi karena penghimpunan itu atas prakarsa dan kebijaksanaan Kepala Negara. Dan massal karena kebijaksanaan tersebut ditujukan kepada para gubernur dan Ulama Hadis pada zaman itu. Kemudian pada pertengahan abad ke-2 H. muncul karya-karya himpunan Hadis di beberapa kota besar: Makah, Madinah, dan Basrah. Dan puncak penghimpunan Hadis ini terjadi sekitar pertengahan abad ke 3 Hijriah. Dengan demikian, penulisan kitab-kitab Hadis yang menjadi rujukan kaum Muslimin itu ditulis jauh setelah Nabi saw. wafat. Dalam rentang waktu antara penulisan dan wafatnya Nabi saw., tidak menutup kemungkinan adanya hal-hal yang menjadikan riwayat itu tidak sesuai dengan apa yang datang dari Nabi saw..
jumlah mukharrij al-h}adi>s\ yang juga banyak jumlahnya. Selain itu, ada pula seorang penghimpun Hadis yang menghasilkan kitab himpunan Hadis lebih dari satu. Metode penyusunan kitab-kitab tersebut tidaklah seragam, hal ini merupakan hal yang lumrah mengingat penekanan penulisan tersebut terletak pada pengumpulan dan penghimpunan Hadis, bukan pada penyusunannya. Melihat kenyataan tersebut, maka kualitas Hadis yang ada di dalam kitab-kitab Hadis tidak semuanya sama.
Keenam, adanya periwayatan Hadis secara makna. Para sahabat pada umumnya membolehkan periwayatan Hadis secara makna. Ini menunjukkan bahwa periwayatan Hadis secara makna telah ada. Padahal, untuk mengetahui kandungan petunjuk Hadis tertentu perlu mengetahui redaksi tekstual dari Hadis yang bersangkutan terutama yang berupa ucapan Nabi.
Berdasarkan latar belakang sejarah periwayatan Hadis di atas, maka ada dua bagian Hadis yang menjadi objek kajian dalam metodologi penelitian Hadis agar sebuah Hadis dapat dipertanggungjawabkan orisionalitas dan validitasnya. Kedua bagian tersebut adalah sanad Hadis dan matn Hadis.
Yang pertama terkait dengan rangkaian periwayat yang menyampaikan Hadis, sedangkan yang kedua berkaitan dengan materi atau isi dari pada Hadis tersebut.
B. Rumusan Masalah
li>mul-Muta`allim T{ari>qut-Ta`allum. Dengan sub permasalahan sebagai berikut:
1. Bagaimana kualitas sanad Hadis-Hadis pada buku Ta`li>mul-Muta`allim T{ari>qut-Ta`allum?
2. Bagaimana kualitas matn Hadis-Hadis pada buku Ta`li>mul-Muta`allim T{ari>qut-Ta`allum?
C. Landasan Teori
Penelitian ini pada dasarnya bertujuan untuk membuktikan otentisitas Hadis atau keaslian Hadis yang terdapat pada buku Ta`li>mul-Muta`allim T{ari>qut-Ta`allum, karena karya ini banyak dijadikan rujukan bagi para praktisi pendidikan, oleh itu penelitian ini akan membuktikan apakah Hadis-Hadis yang ada dalam buku tersebut benar keotentikannya sampai pada kesimpulan apakah Hadis-Hadis dalam karyanya tersebut sampai pada derajat Hadis-Hadis maqbu>l yang dalam hal ini termasuk kategori hadis s}ah}i>h} atau h}asan.
pendidikan untuk mengambil sikap melalui dalil yang jelas status diterima atau ditolak.
D. Tujuan Penelitian
Berangkat dari rumusan masalah di atas, maka penelitian ini bertujuan untuk menjawab rumusan masalah tersebut, yakni untuk mengetahui bagaimana kualitas Hadis-Hadis yang ada dalam buku Ta`li>mul-Muta`allim T{ari>qut-Ta`allum. Tujuan itu dirinci sebagai berikut:
1. Menjelaskan kualitas sanad Hadis-Hadis pada buku Ta`li>mul-Muta`allim T{ari>qut-Ta`allum
2. Menjelaskan kualitas matn Hadis-Hadis pada buku Ta`li>mul-Muta`allim T{ari>qut-Ta`allum
E. Kegunaan Penelitian
Hadis-Hadis yang terdapat dalam buku Ta` li>mul-Muta`allim T{ari>qut-Ta`alum memuat banyak Hadis yang tidak asing bagi praktisi pendidikan, oleh itu penelitian ini dilakukan agar para akademi pendidikan dapat mengetahui sejauh mana kualitas Hadis-Hadis tersebut disamping dijelaskan pula pemahaman Hadis ( fiqh al-h}adi>s\ ) dari setiap pasal.
F. Kajian Terdahulu
Penelitian terhadap tokoh pendidikan Burha>nul-Isla>m az-Zarnu>Ji> dari aspek pemikiran pendidikan telah dilakukan oleh beberapa peneliti sebelumnya, diantaranya:
1. Ali As´ad, Terjemah Ta'limul Muta'allim, (Semarang: Menara Kudus, 1978)
2. A. Mudjab Mahali dan Umi Mujawazah Mahali, Kode Etik Kaum Santri, (Bandung: Al-Bayan, 1988)
3. Mochtar Afandi, The method of Muslim learning as illustrated in Zarnuji's Ta'lim Muta'allim Tariq al-Ta'allum, thesis, McGill University Institute of Islamic Studies, Montreal 1993. Diterbitkan oleh Depag RI, Jakarta 1993
4. Ahmad Maki bin Abdullah Mahfud, Penjelasan Ta'limul Muta'allim Thariqatta'allum, 3 jilid (Tipar Sukabumi: Pesantren Salafiyah Babakan, 1414 H/1993 M)
5. Abdul Kadir Aljufri, Terjemah Ta'lim Muta'alim, (Mutiara Ilmu, Surabaya, 1995)
7. Imam Ghazali Said, Deskripsi Singkat Kitab Ta'lim Muta'allim, (Surabaya: PP RMI, 1999)
8. Az-Zarnuji, Ta'lim al-Muta'allim-Tariq at-Ta'-allum
Instruction of the Student: The Method of Learning by G. E. von Grunebaum, Theodora M. Abel (New York: King’s Crown Press, 1947), pp. v + 78
9. Review article, by G. Levi Della Vida, Journal of the American Oriental Society, Vol. 68, No. 3 (Jul. - Sep., 1948), pp. 155-157
10.Instrucción del estudiante, el método de aprender = (Ta'lim al-muta'allim tariq at-ta'allum) / Az-Zarnuji ; traducción, estudio preliminar y notas de Olga Kattan, Madrid: Hiperión, D.L. 1991. pp. 108 + 2; 24 cm. Serie: Libros Hiperión no. 134
11. Daiber Collection II, Ms. 137 [2303] fols. 143v-168r: Burhan al-Din al-Zarnuji (Ms.: al-Radhanukhi ) نيدلا ناهرب
(يخونذرلا م يجونرزلا : Ta'lim al-muta'allim li-ta'allum : )
tariq al-ilm ملعلا قيرط ملعتل ملعتملا ميلعت. On the duty and tasks of study and on the relation between student and teacher, On the author (wrote ca. 600/1203) and his works → GAL I 462 and S. I 837. English translation by T.M. Abel and G. E. von Grunebaum: al-Zarnuji:
Instruction of the student - the method of learning, New York 1947. This important text is not used in G. Makdisi, The Rise of Colleges (Edinburgh 1981) or in id., The Rise of Humanism in Classical Islam and the Christian West ( Edinburgh 1990 ) . On fol. 164 follows a note by a later hand, in Turkish.
terdapat dalam buku Ta`li>mul-Muta`allim T{ari<qut-Ta`alum belum pernah dilakukan.
G. Penjelasan Istilah Kunci
1. Hadis menurut bahasa memiliki arti:
a. Al-jadi>d minal-asyya>' (sesuatu yang baru), lawan dari qadi>m. Hal ini mencakup sesuatu (perkataan), baik banyak ataupun sedikit.2
b. Qari>b (yang dekat)
c. Khabar (warta), yaitu sesuatu yang dipercakapkan dan dipindahkan dari seseorang kepada orang lain dan ada kemungkinan benar atau salahnya.3 Dari makna inilah diambil perkataan Hadis Rasulullah saw..
Jamaknya adalah h}uds\an, h}ids\an dan ah}a>di>s\. Jamak ah}a>di>s -jamak yang tidak menuruti qiyas dan jamak yang syaz\- inilah yang dipakai jamak Hadis yang bermakna khabar dari Rasulullah saw.. Oleh karena itu, Hadis-Hadis Rasul saw. dikatakan ah}adis\ ar-Rasu>l bukan h}uds\an ar-Rasu>l atau yang lainnya. Ada juga yang berpendapat ah}a>di>s\ bukanlah jamak dari h}adi>s\, melainkan merupakan ism jamaknya. Dalam hal ini, Allah juga menggunakan kata h}adi>s\ dengan arti khabar, dalam firman-Nya;
2Muhammad ajjaj al-Khat}i>b, Us}ul al-H{adi>s\ `Ulu>muhu wa Mus}t}alah}uhu, (Libanon: 1992), h. 26
“Maka hendaklah mereka mendatangkan khabar yang sepertinya jika mereka orang yang benar.” (QS. at}-T{u>r/52: 24)
Adapun Hadis menurut istilah Ahli Hadis sama (muradif) dengan Sunnah, yang mana keduanya memiliki arti segala sesuatu yang berasal dari Rasul saw., baik setelah diangkat ataupun sebelumnya. Akan tetapi kalau kita memandang lafaz Hadis secara umum adalah segala sesuatu yang diriwayatkan dari Nabi Muhammad saw. setelah diangkat menjadi Nabi, yakni berupa ucapan, perbuatan, dan taqrir beliau. Oleh sebab itu, Sunnah lebih umum daripada Hadis.4
Menurut Ahli Usul Fiqh adalah segala perkataan Rasul saw., perbuatan dan taqrir beliau, yang bisa bisa dijadikan dalil bagi hukum syar`i.5 Oleh karena itu, menurut Ahli Usul Fiqh sesuatu yang tidak ada sangkut pautnya dengan hukum tidak tergolong Hadis, seperti urusan pakaian.
2. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran, agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.6 Pengertian pendidikan menurut sebagian pakar adalah:
a. Herman H. Horn
4Al-Khat}i>b, Us}ul al-H{adi>s\ `Ulu>muhu wa Mus}t}alah}uhu, h. 27
5Ibid.
Pendidikan adalah proses abadi dari penyesuaian lebih tinggi bagi makhluk yang telah berkembang secara fisk dan mental yang bebas dan sadar kepada Tuhan seperti termanifestasikan dalam alam sekitar, intelektual, emosional dan kemauan dari manusia.7
b. MJ. Langeveld
Pendidikan adalah setiap pergaulan yang terjadi antara orang dewasa dengan anak-anak merupakan suatu keadaan dimana pekerjaan mendidik itu berlangsung.8
c. John Dewey
Pendidikan adalah suatu proses pengalaman. Karena kehidupan adalah pertumbuhan, pendidikan berarti membantu pertumbuhan batin tanpa dibatasi oleh usia. Proses pertumbuhan ialah proses menyesuaikan pada tiap-tiap fase serta menambahkan kecakapan di dalam perkembangan seseorang.9
d. Mahmud Yunus
Pendidikan adalah usaha-usaha yang sengaja dipilih untuk mempengaruhi dan membantu anak dengan tujuan peningkatan keilmuan, jasmani dan akhlak sehingga secara bertahap dapat mengantarkan si anak kepada tujuannya yang paling tinggi. Agar si anak hidup bahagia, serta seluruh apa yang
7Herman H. Horne, The philosophy of education: Being the foundation of education in the related natural and mental sciences, (New York: Macmillan, 1904), p. 294
8M.J Langeveld, Beknopte Teoritische Paedagogiek, terj. Simanjuntak, (Bandung: Jemmars, 1980), h. 54
dilakukanya menjadi bermanfaat bagi dirinya dan masyarakat.10
3. Ta`li>mul-Muta`allim T{ari<qut-Ta`alum adalah judul buku karya Burha>nul-Isla>m az-Zarnu>ji> yang terdiri atas 13 pasal.
H. Hadis-Hadis yang Menjadi Objek Penelitian
Dalam buku Ta`li>mul-Muta`allim, karya Burha>nud-Di>n az-Zarnu>ji terdapat 48 Hadis, yang terpisah dalam 13 pasal.11 Adapun Hadis-Hadis tersebut sebagai berikut:
1. Pasal pertama: menerangkan hakikat ilmu, hukum mencari ilmu, dan keutamaannya
1.
ملسم لك ىلع ةضيرف ملعلا بلط ملسو هيلع هللا ىلص هللا لوسر لاق
:
ةملسمو
2.ةيفاعلاو وفعلا كلأسأ ينإ مهللا 3.اووادت هللا دابعاي 2. Kedua: niat dalam mencari ilmu
1.
تاينلاب لامعلا امنإ
2.
لمع ةروصب روصتي لمع نم مك ملسو هيلع هللا ىلص هللا لوسر نع
:
ةروصب روصتي لمع نم مكو ،ةرخلا لامعأ نم ةينلا نسحب ريصي مث ،ايندلا
ةينلا ءوسب ايندلا لامعأ نم ريصي مث ةرخلا لمع
10Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, (Jakarta: Hidakarya Agung, 1985), h. 453.
نم رحسل اهنا هديب دمحم سفن يذلا وف ايندلا اوقتإ ص يبنلا لاق
.
تورامو توراه
3. Ketiga: cara memilih ilmu, guru, teman, dan ketekunan 1.مهناوخاب سانلا اوربتخا
2.
لإ ،ملسلا ةرطف ىلع دلوي دولوم لك ملسو هيلع هللا ىلص ىبنلا لاق
:
هناسجميو هنارصنيو هنادوهي هاوبأ نأ
4. Keempat: cara menghormati ilmu dan guru
1.هللا باتك نم ةيا ادبع ملع نم 2.قلخلا ةيصعم ىف قولخم ىف ةعاطل 3.ايندل هنيد بهذي نم سانلا رش نا
4.
وأ بلك هيف اتيب ةكئلملا لخدت ل ملسو هيلع هللا ىلص هللا لوسر لاق
:
ةروص
5. Kelima: kesungguhan dalam mencari ilmu, beristiqamah dan cita-cita yang luhur12
1.
نيتم نيدلا اذه نإ لأ ملسو هيلع هللا ىلص هللا لوسر لاق
:
2.
ىقبأ ارهظ لو اضرأ ل تبنملا نإ
3.
اهب قفراف كتيطم كسفن ملسلا هيلع لاقو
:
4.
روملا ىلاعم بحي هللا نإ ملسو هيلع هللا ىلص هللا لوسر لاقو
:
5.
ةقدصلاب قزرلا اولزنتسا
6.
هللا مهضغبي ةثلث لاق هنأ ملسلا هيلع ىبنلا نع
:
6. Keenam: ukuran dan urutannya
1.
ءاعبرلا موي ئدب ئيش نم ام ملسو هيلع هللا ىلص هللا لوسر لاق
:
2.اهبر ىلا ءاعبرلا تكتشا
3.
نمؤملا ةلاض ةمكحلا ملسو هيلع هللا ىلص هللا لوسر لاق
:
4.
حلاصلا لجرلل حلاصلا لاملا معن
5.
هتلفغب لمع نم لفاغلا ملسو هيلع هللا ىلص هللا لوسر لاق
:
6.
هلقعب لمع نم لقاعلا
7.
هبر فرع هسفن فرع نم ملسو هيلع هللا ىلص هللا لوسر لاق
:
8.
لخبلاو نبجلا نم كبذوعا ينا مهللا
9.
لخبلا نم أودأ ءاود يأ ملسلا هيلع ىبنلا لاق
:
10.
هسفن لذي نأ نمؤملل سيل ملسلاو ةلصلا هيلع هللا لوسر لاق
:
11.
هسفن لذي نا نمؤمل يغبنيل
12.
رضاح رقف هناف عمطلاو كايا
13.
رقفلا ةفاخم رقفلا ىف مهلك سانلا ملسلاو ةلصلا هيلع ىبنلا لاق
:
14.
عبط ىلإ ىندب عمط نم هللاب ذوعأ لوقيو ملسلا هيلع لاق
7. Ketujuh: tawakal
1.هللا هافك هللا نيد ىف هقفت نم
2.
ةلصلا اهرفكي ل ابونذ بونذلا نم نإ ملسلاو ةلصلا هيلع هلوق امأو
:
8. Kedelapan: waktu belajar ilmu (tidak terdapat padanya satu Hadispun)
9. Kesembilan: saling mengasihi dan saling menasehati
1.
اريخ نينمؤملاب اونظ ملسلاو ةلصلا هيلع هلوقل
:
2.
ةدابعلا نسح نم نظلا نسح
10. Kesepuluh: mencari tambahan ilmu pengetahuan
ةربحملا قرافتل 11. Kesebelas: bersikap wara` ketika menuntut ilmu
:
هملعت ىف عروتي مل نم لاق هنأ ملسو هيلع هللا ىلص هللا لوسر نع
12. Keduabelas: hal-hal yang dapat menguatkan hafalan dan yang melemahkannya
2.
رتعصلاو نابللاب مكتويب اورخب
3.
بيبزلا ماعطلا معن
13. Ketigabelas: hal-hal yang mempermudah datangnya rizki, hal-hal yang dapat memperpanjang, dan
mengurangi umur
1.
ءاعدلا لإ ردقلا دري ل ملسو هيلع هللا ىلص هللا لوسر لاق
:
2.
هبيصي بنذلاب قزرلا مرحيل لجرلا نا
3.
ةقدصلاب قزرلا اولزنتسا ملسو هيلع هللا ىلص هللا لوسر لاق
:
4.
ةليل لك ةعقاولا ةروس أرق نم
5.
ئيش لك ةلص اهناف هدمحبو ميظعلا هللا ناحبس هدمحبو هللا ناحبس
قلخلا قزري اهبو
6.
كمارح نع كللحب ينفكا مهللا
7.
رمعلا ىف ديزت محرلا ةلص
8.
هقزر ىف هل طسبي نا بحا نم
I. Metodologi Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian kritik sanad dan matn Hadis atau naqd al-h}adi>s\ matnan wa sanadan. Karena penelitian ini berkenaan dengan Hadis maka sumber data diambil dari buku-buku yang berkaitan dengan Hadis dan mus}t}alah} al-h}adi>s\. Penelitian ini secara metodologi menggunakan metode penelitian Hadis atau naqd al-h}adi>s\ yaitu penelitian kritik sanad dan matn. Sanad adalah rangkaian para periwayat Hadis yang terhubung dengan matn, sedangkan matn merupakan isi (materi) Hadis yang diriwayatkan oleh para periwayat hadis.13 Dengan demikian untuk menetapkan kualitas
sebuah Hadis harus dilakukan penelitian terhadap kedua aspek tersebut.
Buku yang dijadikan dalam acuan metodologi dalam penelitian sanad dan matn Hadis di antaranya adalah buku Us}u>l at-Takhr>ij wa Dira>sah al-Asa>ni>d karya Mah}mu>d At-T}ah}h}a>n, `Ulu>m al H}adi>s| karya Ibn as}-S}ala>h,} Nuzhah an-Naz}r fi Taud}i>h} Nukhbah Fikar fi Mus}t}alah} ahli As\ar oleh Ibn H{ajr al-`Asqalani, Tadri>b ar-Ra>wi oleh as Suyu>t}i, Metodologi Penelitian Hadis Nabi dan Kaedah Kesahihan Sanad Hadis karya M. Syuhudi Ismail dan Metodologi Penelitian Hadis karya Nawir Yuslem.
Secara operasional ada beberapa langkah atau tahapan yang ditempuh dalam metode kegiatan penelitian ini yaitu sebagai berikut:
1. Takhri>j al-h}adi>s\ atau penelusuran sumber Hadis yaitu upaya untuk menemukan hadis yang berkaitan dengan setiap pasal, pada kitab-kitab sumber Hadis atau kitab induk Hadis yang memuat Hadis secara lengkap dengan sanad dan matn-nya serta menjelaskan status dan kedudukan Hadis tersebut bila diperlukan.14 2. Melakukan i`tiba>r, kata i`tiba>r merupakan mas}dar
dari kata i`tabara –ya`tabiru . Menurut bahasa arti i`tiba>r adalah peninjauan terhadap beberapa hal yang bermaksud untuk mengetahui sesuatu yang sejenis.15 Menurut istilah ilmu Hadis i`tiba>r berarti menyertakan sanad-sanad yang lain untuk suatu Hadis tertentu, yang Hadis itu pada bagian sanadnya tampak hanya terdapat
14 Mah}mu>d at T}ah}h}a>n, 'Us}u>l at Takhr>ij wa Dira>sah al Asa>ni>d (Beirut:Da>r al Qur`a>n al Kari>m, 1398H/1978 M) h.12
satu periwayat saja.16 Gunanya agar dapat diketahui apakah ada periwayat yang lain atau tidak untuk bagian sanad dari sanad Hadis dimaksud. Dengan melakukan i`tiba>r akan terlihat dengan jelas seluruh jalur sanad Hadis yang diteliti, nama para periwayatnya dan metode periwayatan yang dilakukan oleh masing-masing periwayat.17 Untuk memperjelas dan mempermudah proses i`tiba>r diperlukan pembuatan skema untuk seluruh sanad Hadis yang diteliti.18 Kegiatan i`tiba>r juga bertujuan untuk mengetahui ada atau tidak muta>bi` dan sya>hid terhadap sanad hadis yang diteliti.19 Hadis muta>bi` adalah hadis yang diriwayatkan oleh lebih dari seorang periwayat baik dari segi lafaz atau makna.20 Hadis muta>bi` ada dua macam muta>bi` tamm dan muta>bi` qa>s}ir. Muta>bi` tamm adalah Hadis yang diriwayatkan oleh seorang perawi baik dari segi lafaz atau makna dengan rangkaian awal sanad yang sama yang juga diriwayatkan oleh perawi lain, sedangkan muta>bi` qa>s}ir adalah adalah Hadis yang diriwayatkan oleh seorang perawi baik dari segi lafaz atau makna namun kesamaan hanya terletak pada pertengahan rangkaian sanad Hadis yang juga diriwayatkan oleh perawi lain.21 Sedangkan sya>hid adalah sebuah hadis yang diriwayatkan oleh seorang perawi dengan lafaz atau makna yang sama dengan perawi lain walaupun tidak
16 Ibid.
17 Nawir Yuslem, Metodologi Penelitian Hadis, Teori dan Implementasinya dalam Penelitian Hadis, (Bandung:CitaPustaka, 2008) h. 43
18 Ibid.
19 Mah}mu>d at T{ah}h}a>n, Taisi>r Mus}t}alah} al H{adi>s\, h.142 20 Ibid.
memiliki persamaan pada susunan lafaz sanad,22 dalam artian masing-masing perawi mengambil Hadis dari jalur yang berbeda. Keberadaan sanad Hadis yang memiliki muta>bi` atau sya>hid yang kuat sanad-nya dapat menjadi penguat dan pendukung sanad Hadis yang diteliti.23
3. T{uruq at-tah}ammul wa Ada’ al-H{adi>s\ yaitu penelitian terhadap metode periwayatan yang dipakai oleh para periwayat Hadis berupa lambang-lambang periwayatan seperti sami`na> dan h}addas\ani>. Lambang t}uruq at-tah}ammul wa Ada' al-H{adi>s\ memiliki delapan tingkatan,24 pertama, lafaz sami`tu dan h}addas\ani, kedua lafaz akhbarani dan qara'tu
`alaihi, ketiga quri'a `alaihi dan ana> asma`u, keempat lafaz anba'ani>, kelima lafaz na>walani>, keenam lafaz sya>fahani>, lafaz ketujuh kataba ilayya, dan yang kedelapan lafaz `an, qa>la, z\akara dan rawa,25atau lambang periwayatan dengan cara as-sama`, qira>'ah, ija>zah, muna>walah, kita>bah, al-i`la>m, al-was}iyyah dan al-wija>dah.26 Dua lafaz sami`tu dan h}addas\ani>, adalah metode periwayatan as-sama>` yaitu pendengaran riwayat atau Hadis dari murid kepada gurunya, namun lafaz sami`tu adalah lafaz tah}ammul terbaik karena periwayatan antara seorang murid kepada gurunya terjadi secara langsung tanpa adanya perantara.27 Sedangkan lambang
22 Ibn H{ajar al `Asqala>ni, Nuzhah an Naz}r fi> Taud}i>h} Nukhbah al Fikar fi> Mus}t}alah} ahli al As\ar, cet. II, (Madinah: Maktabah al Malik Fahd:1429H/2008 M)h. 88
23 Ibn H{ajar al `Asqala>ni, Nuzhah an Naz}r , h. 86 24 Ibid, h.151
25 Ibid.
na>walani>, disepakati sebagai lambang periwayatan al-muna>walah, yakni metode periwayatan yang masih dipersoalkan tingkat akurasinya.28
4. Naqd as-sanad atau melakukan identifikasi para periwayat Hadis, dalam melakukan identifikasi periwayat yang perlu dicatat adalah masa hidupnya; yaitu tahun lahir dan wafatnya, tempat lahirnya dan daerah-daerah yang pernah dikunjunginya, guru-gurunya; yaitu sumber Hadis yang diterimanya; dan murid-muridnya; yaitu orang-orang yang meriwayatkan Hadis-Hadisnya, yang sangat penting adalah penilaian atau kritik ulama hadis terhadap periwayat hadis, khusus yang terakhir ini sangat terkait dengan apakah riwayat Hadis yang dikemukakan dapat diterima sebagai h}ujjah atau tidak. Langkah selanjutnya pada penelitian sanad hadis adalah mengetahui kritik ulama Hadis terhadap individu para perawi, baik berupa pujian maupun celaan, hal ini disebut dengan ilmu al-jarh} wa at- ta`di>l.
5. Naqd al-matn; yaitu penilaian terhadap kesahihan matn Hadis. Pada dasarnya neraca penilaian ulama Hadis terhadap sebuah riwayat sangat ketat, mereka tidak menerima suatu riwayat kecuali riwayat tersebut juga diperoleh dari periwayat yang bersih dari cacat intelektual maupun akhlak.29 Oleh itu ulama Hadis
28 M. Syuhudi Ismail, Metodologi Penelitian Hadis Nabi, h.82. lihat juga Nawir Yuslem, Metodologi Penelitian Hadis, h.7
terlebih dahulu meneliti kesahihan para periwayat hadis, bila terdapat kelemahan maka hadis tidak diterima sekalipun matn Hadis dinilai s}ah}i>h}.30 Namun tidak berarti jika suatu sanad telah diteliti dan bernilai s}ah}i>h}, maka matn Hadis juga bernilai s}ah}i>h}.31 Oleh itu dalam melakukan penelitian matn Hadis dilakukan beberapa perbandingan, diantaranya pendapat al-Khat}i>b al-Baghda>di> yang menyatakan tentang perlunya melakukan perbandingan suatu riwayat dengan akal; sesuai dengan nalar berpikir manusia sehat, perbandingan dengan nas} al-Qur'a>n; artinya tidak bertentangan dengan apa yang Allah tetapkan atau yang termaktu>b dalam al-Qur'a>n, tidak bertentangan dengan Hadis mutawa>tir, tidak bertentangan juga dengan ijma>` ulama.32dan tidak bertentangan dengan peristiwa sejarah.33
6. Menyimpulkan hasil penelitian
Setelah tahapan-tahapan di atas dilakukan, langkah terakhir yaitu menyimpulkan hasil penelitian. Hasil penelitian berupa hadis maqbu>l; yaitu hadis yang dapat diterima dengan klasifikasi hadis s}ah}i>h} dan h}asan.34 Sedangkan hasil penelitian matn berupa s}ah}i>h} atau d}a`i>f.35
30 Ibid. 31 Ibid,h.83 32 Ibid, h.85 33 Ibid, h.91
DAFTAR PUSTAKA
Abu> Da>u>d, Abu> T{ayyib Muh}ammad Syams al H{aqq.`Aunul Ma`bu>d, Kairo:Da>rul- H{adi>s\, 1422H, 2001 Ad-Da>rimi>, `Abdur-Rah}ma>n ibn al-Fad}l ibn Bahra>m, Sunan ad-Da>rimi>. Riya>d}: Da>r al-Mugni>, 1421 H/ 2000M Ad-Dailami>, Abu> Syuja>`.Al-Firdaus bi Ma's\u>r al-Khit{a>b, Beirut: Da>r al Kutub al
Ilmiyah 1406H/ 1986 M
Al-Abra>syi>, Muh}ammad `At}iyyah. Dasar-dasar Pokok Pendidikan Islam, cet.7, terj. Bustami A. Gani dan Djohar Bahry , Jakarta: Bulan Bintang, 1993
---,At-Tarbiyah fi> al-Isla>m (Kairo: al-Majlisu al A`la li as-Syu’u>ni al
---At-Tarbiyyah al- Isla>miyah wa Fala>sifatuha> , Cet. 3, Kairo: Maktabah `I<sa Al-Ba>by Al-H}alaby> , 1975
--- Beberapa Pemikiran Pendidikan Islam (Ru>h}
al-Isytahara Min al Ah}a>di>s\ `ala Alsinah an Na>s, Mesir: Maktabah al Quds, 1351H
Al-Alba>ni>, Muh{ammad Na>s}ir ad Di>n. Silsilah al Ah}a>di>s} ad} D{a`i>fah wa As\aruha>as-Sai'u fi> al Ummah, Riyad}: Maktabah al Ma`a>rif, 1412H/1992M
Al-`A<miri>, Ah}mad ibn `Abd al Kari>m al Gazzi. Al Jadd al H{as\i>s\ fi> Baya>n Ma> Laisa Bi H{adi>s\, Beirut: Da>r Ibn H{azm, 1418H/ 1997M
Al-As}baha>ni>, Abu> Na`i>m Ah{mad ibn `Abd Allah .H{ilyah al Auliya>' wa T{abaqa>t al-As{fiya>', Beirut: Da>r al Kutub al
`Ilmiyah, 1409H/1988
---Taqri>b at Tahz\i>b, Suria: Dar ar Rasyid, 1406 H/ 1986 M
Al-A`z}ami, Muh}ammad Mus}t}afa. >Manh}aj an- Naqd `inda al-Muh}addis\i>n, Nasy'atuhu wa Ta>rikhuhu, cet. III Saudi Arabia: Maktabah al Kaus\ar, 1410H/1990M
Al-Bagda>di>, Ah}mad ibn `Ali ibn S|a>bit al Khat}i>b. Al Kifa>yah fi Ma`rifah Us}u>l ar
Riwa>yah, ( Kairo:Da>r al Huda, 1423H/2003)
1422 H/ 2001 M
---Al Fas}l li al Was}l al Mudraj fi an Naql, Riya>d}: Da>r Ibn al Jauzi>,
1418H/1997 M
Al-`Ira>qi > Zain ad Di>n `Abd ar Rah}i>m ibn al H{usain, Al Mugni>`an H{aml al Asfa>r fi> al-Asfa>r fi> Takhri>j ma> fi> al Ih{ya>'min al Akhba>r, Riya>d}:Maktabah Da>r at}
T{abriyyah, 1415 H/1995 M
Al-H{u>t Muh}ammad Darwi>sy, Asna al Mat}a>lib fi> Ah}a>di>s \ Mukhtalifah al Mara>tib,
Beirut: Da>r al Kita>b al `Arabi>, 1403H/1983M
Al-Jawa>bi>, Muh}ammad T{a>hir. Al Jarh} wa at Ta`di>l baina al Mutasyaddidi>na waal-Mutasa>hili>na, Tunisia: Ad Da>r al
`Arabiyyah li al Kita>b, 1997
Al-Mizzi, Abu> al H{ajja>j Yusuf. Tahz\i>b al Kama>l fi> Asma>'
ar Rija>l, Beirut: Muassasah ar Risa>lah, 1403/1983M
Al-Mana>wi>, Faid{ al Qadi>r bi Syarh} al Jami` as} S{agi>r, cet II, Beirut: Da>r al Ma`rifah, 1391H/ 1972M
Al-Mans}u>ri>, Abu> at-T{ayyib Na>yif ibn S{ala>h} ibn `Ali. Irsya>d al-Qa>d}i> Wilda>ni ila>
Tara>jum Syuz\u>z\ at-T{abra>ni>, Riyadh: Dar al Kiya>n, tt.
Alwi, Hasan et al. Kamus Besar Bahasa Indonesia, cet 1,ed. 3, Jakarta: Balai
Pustaka,2001
An-Naisabu>ri>, Ibn Khuzaimah as Salmi.S}ah}i>h} Ibn Khuzaimah, Mekkah: Maktab al-Isla>mi>, 1400H/ 1980M
An-Nasa>'i, Abu> `Abd ar Rah}ma>n Ah}mad ibn Syu`aib ibn
`Ali.Sunan an Nasa>'I ma`a at Ta`li>q Muh}ammad Na>s}ir ad Di>n al Alba>ni>, Riya>d{: Maktabah al Ma`a>rif, 1417H
Ar-Ra>zi>, Muh}ammad `Abd ar Rah}ma>n ibn Abu> H|a>tim. Al Jarh} wa at Ta`di>l, Jilid III, Beirut:Da>r Ih{ya' at Tura>s\ al
As-Sakha>wi>, Muh}ammad ibn `Abd ar Rah}ma>n. Al Maqa>s}id al H{asanah fi> Baya>n
Kas}i>r min al Ah}a>di>s\ al Musytaharah `ala> al Alsinah, Beirut: Da>r al Kutub al
`Ilmiyah, 1399 H/1979 M
---. Fathu al Mugi>s\ bi Syarh} Alfiah al H{adi>s\, Riya>d}: Maktabah Da>r al-Minha>j, 1426 H
As-Subki>, `Abd al Wahha>b ibn `Ali ibn `Abd al Ka>fi>. T{abaqa>t asy Sya>fi `iyah al
Kubra>, Kairo: Da>r Ih}ya>' wa al Kutub al `Arabiyyah, 1326 H/1918 M
As-S{uyu>t}i>, Jala>l ad Di>n. Tadri>b ar Ra>wi> fi> Syarh} Taqri>b an Nawa>wi>, Kairo: Da>r al-H{adi>s\,1423 H/2002 M
At}-T{abra>ni>, Ima>m al H{a>fiz} Abu> al Qa>sim Sulaima>n ibn Ah}mad ibn Ayyu>b al
Lakhmi>. Mu`jam al Ausat}, Yordania: Da>r al Fikri>, 1420 H/1999 M
At}-T}ah}h}a>n, Mah}mu>d. Taisi>r Mus}t}alah} al-Hadi>s\, cet IX, Riyad}:Maktabah al Ma`arif, 1417 H/1996 M
---'Us}u>l at Takhr>ij wa Dira>sah al Asa>ni>d Beirut:Da>r al Qur`a>nal-Kari>m, 1398 H/1978 M
Az\-Z|ahabi, Syams ad Di>n Abu> `Abd Allah Muh>ammad ibn Ah}mad ibn `Us\ma>n ibn Qi>ma>z. Siyar A`la>m an Nubala>’, Lebanon: Bait Afka>r ad Dauliyah, 2004 M
---. Tazkirah al H{uffa>z}, Cet ke IV, Hyder Abad:Da>’irah al- Ma`a>rif al-`Us\ma>niah, 1377 H/1958
Ibn Abu> ad Dunya> al Qurasyi> al Baghda>di>, Abu> Bakr `Abd Allah ibn Muh}ammad.Az-Zuhd li Ibn Abu> ad Dunya>, Beirut:Da>r ibn Kas\i>r, 1420H/1999M
Ibn `Abd al Barr Yu>suf. Ja>mi` fi Baya>n al `Ilmi wa Fad}lihi, Saudi Arabia: Da>r Ibn al-Jauzi>,1414H/1994 M
Ibn `Ali al Hindi>, Muh}ammad T{a>hir .Taz\kirah al Maud}u>`a>t, Mesir: Ida>rah at}
Ibn al-Jauzi `Abd ar Rah}ma>n ibn `Ali, Al `Ilal al Mutana>hiyah fi> al Ah}a>h}a>di>s\
al-Wa>hiyah, Beirut: Da>r al Kutub al `Ilmiyah, 1403 H/1983 M
Ibn Ma>jah, Muh}ammad ibn Yazi>d al Qazwaini.Sunan Ibn Ma>jah, Riya>d}:Maktabah al-Ma`a>rif, 1417 H
Ibn Marwa>n al Qa>d}i> al Ma>liki> , Abu> Bakr Ahmad ibn Muh}ammad ad Dainu>ri> . Al
Maja>lisah wa Jawa>hir al `Ilm, Jilid IV, Beirut: Da>r Ibn H{azm,1419 H/1998 M
Ibn H{anbal, Ah}mad, Musnad Ah}mad ibn H{anbal, Beirut:
`A<lam al Kutub, 1419 H/1998 M
Ibn H{ibba>n, al Basati Muh}ammad, Raud}atul `Uqala>' wa Nuzhatul Fud}ala>', (Beirut: Da>r al Kutub al `Ilmiyah, 1397H/1977M
Khaldu>n , Ibnu. Muqaddimah , (Mesir: Mat}ba`ah Mus|t}afa Muh}ammad, t.th.
Yuslem, Nawir. Metodologi Penelitian Hadis, Teori dan Implementasinya dalam