ETIKA BISNIS DALAM ISLAM (1)

Teks penuh

(1)

ETIKA BISNIS DALAM ISLAM

Definisi Etika

Beekun (1997) secara ringkas menjelaskan bahwa etika adalah “The set of moral principles that distinguish what is right from what is wrong.” (Sekumpulan prinsip-prinsip moral yang digunakan untuk membedakan perilaku yang benar dengan perilaku yang salah).

Etika ini menurut Beekun (1997) adalah studi yang bersifat normatif sebab etika menjelaskan apa yang seharusnya dilakukan seseorang dan apa yang seharusnya tidak dilakukan seseorang. Sedangkan etika bisnis, didefinisikan Beekun sebagai “management ethics or organizational ethics”, yaitu etika manajemen atau etika organisasional, yang cakupannya menurut Beekun secara sederhana terbatas pada organisasi-organisasi bisnis.

Dalam konteks keterkaitan definisi etika dengan aspek normatif Islam, Beekun memandang bahwa terminologi yang paling dekat dengan istilah etika adalah istilah akhlaq. Kaitan definisi etika dengan term-term Qur`an juga ditunjukkan Beekun dengan menyebutkan beberapa term Al-Qur`an yang berkaitan dengan konsep kebaikan, seperti kata khayr (kebaikan), birr (kebajikan), qisth (kesamaan), ‘adl (keadilan), haqq (kebenaran dan hak), ma’ruf (kebaikan), taqwa (ketaqwaan).

Sistem Etika Islam

Beekun menjelaskan bahwa sistem etika Islam (Islamic ethical system) berbeda dengan sistem etika sekuler dan sistem etika agama lain. Sistem etika sekuler, misalnya, berbeda dengan sistem etika Islam karena sistem etika sekuler memisahkan sistem etik dengan agama. Sedang sistem etika Kristen, berbeda dengan sistem etika Islam, karena sistem etika Kristen terlalu menekankan kehidupan kerahiban (monasticism) sehingga membuat orang menarik diri dari kancah kehidupan keseharian.

Sistem etika yang dominan saat ini, menurut Beekun, ada 6 (enam) sistem etika, yaitu: 1. Relativisme

(2)

Relativisme bertentangan dengan Islam, sebab Islam menegaskan bahwa perilaku etika individu wajib didasarkan pada kriteria Al-Qur`an dan As-Sunnah, bukan kriteria individu yang relatif. Di samping itu, relativisme akan menimbulkan kemalasan dalam pembuatan keputusan, karena semuanya toh dapat secara sederhana diputuskan menurut selera masing-masing. Islam mensyariatkan syura dalam pengambilan keputusan bersama, yang dapat mencegah adanya penggunaan kriteria moral individual yang relatif. 2. Utilitarianisme

Utilitarianisme (calculation of costs and benefits) adalah suatu paham bahwa baik buruknya perilaku tergantung pada hasil-hasil (manfaat) dari keputusan yang diambil. Suatu perilaku dianggap etis jika menghasilkan keuntungan terbesar bagi sebagian besar manusia. Beekun mengkritik paham ini dengan menunjukkan ketidakjelasan kriteria “siapa” yang menentukan sesuatu itu “baik” untuk sebagian besar masyarakat. Selain itu, jika mayoritas yang dijadikan kriteria, maka bagaimanakah nasib kelompok minoritas? Jika mayoritas menghendaki “free sex”, siapakah yang akan melindungi kepentingan minoritas yang menolak “free sex”? Begitu pula, untuk hal-hal yang tak dapat dikuantifikasi, utilitarianisme tak menyediakan perangkat memadai untuk perhitungan untung-ruginya. Hak-hak dan tanggung jawab individu juga terabaikan menurut utilitarianisme karena semuanya dianggap tercakup dalam hak dan tanggungjawab kolektif.

3. Universalisme

(3)

berarti perbuatannya dinilai etis. Jika tidak ada niatan ini, berarti perbuatannya tidaklah etis.

Dalam Islam, niat semata tidak menjadikan suatu perbuatan etis atau tak-etis. Menurut Beekun, mengutip Yusuf Al-Qaradhawi, “niat yang baik tak dapat menghalalkan perkara yang haram.” Jika suatu perbuatan sudah halal, lalu diniatkan dengan niat baik, maka itu akan menjadi perilaku yang etis. Jika suatu perbuatan sudah haram, maka niat yang baik tak akan menjadikan perbuatan haram itu menjadi etis. Demikian pula suatu tujuan yang baik yang diniatkan dengan niat baik, tetap tak dibenarkan kalau ditempuh dengan jalan yang haram.

4. Rights

Rights (individual entitlement) merupakan paham bahwa baik buruknya perilaku didasarkan pada satu nilai, yaitu kebebasan (liberty), dan didasarkan pada hak-hak individu untuk bebas memilih. Hak-hak ini rawan disalahgunakan. Individu-individu tertentu bisa saja mengedepankan hak-hak mereka sehingga mengesampingkan hak-hak individu lainnya. Islam mengakui hak individu untuk memilih, tapi pilihan itu harus disertai tanggung jawab dan tetap dalam koridor nilai Islam.

5. Keadilan Distributif

Keadilan distributif, adalah paham bahwa baik buruknya perilaku didasarkan pada satu nilai keadilan. Terdapat lima prinsip keadilan distributif: (1) setiap orang mendapatkan hasil bersama yang setara (equal share), (2) setiap orang mendapatkan sesuai kebutuhan individualnya, (3) setiap orang mendapatkan sesuai usaha individualnya, (4) setiap orang mendapatkan sesuai kontribusi sosialnya, dan (5) setiap orang mendapatkan sesuai prestasinya (merit system). Menurut Beekun, pada dasarnya, islam menyetujui prinsip-prinsip di atas. Hanya saja dalam Islam, harus ada kondisi seimbang (balance manner). Misalnya, Islam mengakui kepemilikan negara/umum untuk hal-hal yang menyangkut kepentingan publik. Islam mengakui adanya infaq, walaupun orang penerima infaq tidak mempunyai kontribusi sosial.

6. Eternal Law

(4)

haruslah berupa pembacaan simultan antara keduanya, yaitu kitab suci (Al-Qur`an) dan alam semesta. Meski ada kemiripan, etika Kristen tidak sama dengan etika Islam. Dalam agama Kristen, penarikan diri dari kehidupan untuk beribadah, sangat berlebihan. Sementara Islam mengharuskan manusia untuk terjun ke dalam kehidupan sehari-hari. Kristen menganggap hukum hanya mengatur urusan ritual, sementara dalam Islam, hukum mengatur segala aspek kehidupan.

Beekun juga menjelaskan beberapa parameter kunci untuk sistem etika Islam, yaitu: 1. Perilaku dinilai etis bergantung pada niat baik masing-masing individu.

2. Niat yang baik harus diikuti oleh perbuatan yang baik. Niat baik tidak dapat mengubah perbuatan haram menjadi halal.

3. Islam memberikan kebebasan individu untuk mempercayai sesuatu atau berbuat sesuatu, selama tidak mengorbankan nilai tanggungjawab dan keadilan.

4. Harus ada kepercayaan bahwa Allah memberikan kepada individu pembebasan (freedom) yang komplit, dari sesuatu atau siapa pun selain Allah.

5. Keputusan mengenai keuntungan mayoritas atau minoritas tidak diperlukan. Sebab etika bukanlah permainan angka.

6. Islam menggunakan sistem pendekatan terbuka kepada etika, tidak tertutup, atau self-oriented system. Tak ada egoisme dalam Islam.

7. Keputusan etis didasarkan pada pembacaan simultan antara Al-Qur`an dan alam semesta. 8. Islam mendorong tazkiyah (penyucian diri) di samping mendorong partisipasi aktif dalam

kehidupan.

Integrasi Etika dan Fiqih.

Etika bisnis Islami tak dapat dilepaskan dari syariah. Sebab aktivitas bisnis adalah bagian dari keseluruhan perbuatan manusia, yang wajib berjalan sesuai syariah. Maka kriteria baik-buruk, benar-salah, dalam aktivitas bisnis seorang muslim, adalah syariah Islam semata, bukan yang lain.

(5)

berbagai gradasi kebaikannya. Sedang perilaku bisnis yang buruk, adalah yang masuk dalam kategori haram. Hal ini ditunjukkan dalam tabel berikut ini.

No Kategori Fiqh Kategori Etika

Berdasarkan tabel di atas, kita dapat memahami bahwa etika dan fiqih sesungguhnya tak dapat dipisahkan satu sama lain. Penilaian etis dan tak-etisnya suatu perilaku, pada akhirnya akan berujung pada penilaian hukum syara’ terhadap perilaku tersebut.

Perbedaan Etika Bisnis Islam dan Barat

ISLAM BARAT

Etika Islam bersumber dari prinsip keagamaan (Al-Qur’an dan Hadits)

Konsep moral bernuansa pemikiran fisafat sangat kental

Islam mengajarkan kesatuan hubungan, merangkul seluruh aspek kehidupan (manusia, lingkungan, dan Tuhan)

Lebih cenderung bersifat individualistis

Niat baik tidak dapat mengubah yang haram menjadi halal

Sesuatu menjadi baik karena berdasarkan kategori imperative yang mewajibkan kita begitu saja, tak tergantung syarat apapun Islam mewajibkan manusia aktif dalam

kegiatan muamalah sebagai proses tazkiyah sesuai tuntunan Al-Qur’an

Lebih mengedepankan keduniawian dengan dukungan rasionalitas menggunakan kriterianya sendiri-sendiri dan berbeda setiap negara/budaya

Islam menekankan lima aksioma yaitu kesatuan, keseimbangan, kebebasan, tanggung jawab, dan ihsan

(6)

kolektivisme Kebersamaan pelaku bisnis dalam menikmati

hasil bisnis secara proporsional

Pada sistem kapitalis, nasib buruh tidak mendapat perhatian terutama dalam menikmati hasil kerjanya yang hanya

Perusahaan besar melakukan eksploitasi (misalnya industri pertambangan: emas, minyak bumi) dalam kapasitas besar dan kurang memperhatikan dampaknya terhadap lingkungan sekitar, seperti kasus Freeport

Nilai Dasar dan Prinsip Umum Etika Bisnis Islam Nilai Dasar Prinsip Umum Pemaknaan pertimbangan ras, warna kulit, jenis kelamin, atau agama Khilafah Intelektualitas

Kehendak bebas

Tanggung jawab

- Kemampuan kreatif dan konseptual pelaku bisnis yang berfungsi membentuk, mengubah, dan mengembangkan semua potensi kehidupan alam semesta menjadi sesuatu yang konkret dan bermanfaat

- Kemampuan bertindak pelaku bisnis tanpa paksaan dari pihak luar, sesuai dengan parameter ciptaan Allah

(7)

dan

akuntabilitas Ibadah Penyerahan

total

- Kemampuan pelaku bisnis untuk membebaskan diri dari segala ikatan penghambaan manusia kepada ciptaannya sendiri (seperti kekuasaan dan kekayaan)

- Kemampuan pelaku bisnis untuk menjadikan penghambaan manusia kepada Tuhan sebagai wawasan batin sekaligus komitmen moral yang berfungsi memberikan arah, tujuan, dan pemaknaan terhadap aktualisasi kegiatan bisnisnya

Tazkiyah Kejujuran

Keadilan

Keterbukaan

- Kejujuran pelaku bisnis untuk tidak mengambil keuntungan hanya untuk dirinya sendiri dengan cara menyuap, menimbun barang, berbuat curang, dan menipu, tidak memanipulasi barang dari segi kualitas dan kuantitasnya

- Kemampuan pelaku bisnis untuk menciptakan keseimbangan/moderasi dalam transaksi (mengurangi timbangan) dan membebaskan penindasan, misalnya riba dan memonopoli usaha

- Kesediaan pelaku bisnis menerima pendapat orang lain yang lebih benar, serta menghidupkan potensi dan inisiatif yang konstruktif, kreatif, dan positif

Ihsan Kebaikan bagi orang lain Kebersamaan

- Kesediaan pelaku bisnis untuk memberikan kebaikan kepada orang lain, misalnya menerima pengembalian barang yang telah dibeli, pembayaran hutang sebelum jatuh tempo

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...