BAB IV HASIL PENELITIAN PEMBAHASAN. tersebut diperoleh dari situs serta publikasi lainnya. Dari hasil

Teks penuh

(1)

BAB IV

HASIL PENELITIAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

1. Kondisi data penelitian

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kuantitatif dan merupakan data sekunder. Data diperoleh dari laporan keuangan perusahaan manufaktur yang dipublikasi di Bursa Efek Indonesia. Laporan keuangan tersebut diperoleh dari situs www.idx.co.id serta publikasi lainnya. Dari hasil yang diperolah terdapat 143 populasi perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Berdasarkan kriteria yang telah detetapkan terdapat 19 perusahaan sampal yang memenuhi semua kriteria. 19 sampel tersebut dapat kita lihat pada tabel 4.1.

TABEL 4.1

DATA PERUSAHAAN SAMPEL

No Nama Perusahaan Kode Tanggal

Berdiri

Tanggal Listing

1 PT Akhasa Wira International Tbk ADES 06/03/1985 13/06/1994 2 PT Asahimas Flat Glass Tbk AMFG 07/10/1995 08/11/1995 3 PT Duta Pertiwi Nusantara Tbk DPNS 18/03/1982 08/08/1990 4 PT Indocement Tunggal Perkasa Tbk INTP 16/01/1985 05/12/1989 5 PT Indofood Cbp Sukses Makmur Tbk ICBP 05/02/1994 07/10/2010 6 PT Indofood Sukses Makmur Tbk INDF 14/08/1990 14/07/1994

(2)

7 PT Indospring Tbk INDS 05/05/1978 10/08/1990 8 PT Intanwijaya International Tbk INCI 14/11/1981 24/07/1990

9 PT Kalbe Farma Tbk KLBF 10/09/1966 30/07/1991

10 PT Kebelindo Murni Tbk KBLM 11/10/1979 01/06/1992 11 PT Kedawung Setia Industrial Tbk KDSI 09/01/1973 29/07/1996

12 PT Kimia Farma Tbk KAEF 16/08/1971 04/07/2001

13 PT Lion Metal Works Tbk LION 16/08/1972 20/08/1993 14 PT Lionmesh Prima Tbk LMSH 14/04/1982 04/06/1990 15 PT Mandom Indonesia Tbk TCID 05/11/1969 23/09/1993 16 PT Nusantara Inti Corpora Tbk UNIT 30/05/1988 18/04/2002 17 PT Selamat Sempurna Tbk SMSM 19/01/1976 09/09/1996 18 PT Tempo Scan Pasifik Tbk TSPC 20/05/1970 17/06/1994 19 PT Unilever Indonesia Tbk UNVR 05/12/1933 11/01/1982

Dalam penelitian ini yang menjadi variabel bebas (independen) yaitu carrent ratio (X1), Debt equity ratio (X2), dan return on equity (X3). Sedangkan yang menjadi variabel terikat (dependen) yaitu harga saham (Y). Dari hasil penelitian diperoleh data sebagai berikut :

TABEL 4.2

NO KODE TAHUN Y X1 X2 X3

1 ADES 2012 2900 1.94 0.86 39.87

(3)

2014 1375 1.52 0.72 10.64 2015 1015 1.39 0.99 10 2016 1000 1.64 1 14.56 2 AMFG 2012 8300 3.89 0.27 14.11 2013 7000 4.18 0.28 12.26 2014 8050 5.68 0.27 14.97 2015 6550 4.65 0.26 10.07 2016 6700 2.02 0.53 7.24 3 DPSN 2012 385 8.59 0.19 13.25 2013 470 10.17 0.15 29.9 2014 353 12.72 0.14 6.16 2015 387 13.35 0.14 4.09 2016 400 15.16 0.12 3.8 4 INTP 2012 22450 6.03 0.17 24.53 2013 20000 6.15 0.16 21.81 2014 25000 4.93 0.18 21.54 2015 22325 4.89 0.16 18.25 2016 15400 4.53 0.15 14.81 5 ICBP 2012 7800 2.72 0.49 19.04 2013 10200 2.41 0.6 16.85 2014 13100 2.19 0.72 17.65 2015 13475 2.33 0.62 17.84 2016 8575 2.41 0.56 19.63 6 INDF 2012 5850 2.05 0.74 14 2013 6600 1.67 1.04 8.9 2014 6750 1.81 1.14 12.98 2015 5175 1.71 1.13 8.6 2016 7925 1.51 0.87 11.04

(4)

7 INDS 2012 4200 2.36 0.46 11.8 2013 2675 3.86 0.25 8.42 2014 1600 2.91 0.25 7.01 2015 350 2.23 0.33 0.1 2016 810 3.03 0.2 2.4 8 INCI 2012 245 7.71 0.14 3.84 2013 240 13.87 0.08 8.19 2014 238 12.86 0.08 8.42 2015 305 9.68 0.1 12.48 2016 306 5.82 0.11 4.11 9 KLBF 2012 1060 3.41 0.28 24.08 2013 1250 2.84 0.33 23.18 2014 1830 3.4 0.27 21.74 2015 1320 3.7 0.25 18.81 2016 1515 4.13 0.22 18.86 10 KBLM 2012 135 0.98 1.73 9 2013 158 0.96 1.43 2.85 2014 155 1.04 1.23 7.06 2015 132 1.06 1.21 4.3 2016 240 1.3 0.99 6.19 11 KDSI 2012 495 1.59 0.81 11.66 2013 345 1.44 1.42 10.23 2014 364 1.37 1.58 12.28 2015 191 1.16 2.11 3.03 2016 350 1.23 1.72 11.23 12 KAEF 2012 740 2.8 0.44 14.27 2013 590 2.43 0.52 13.28 2014 1465 2.39 0.75 14.98

(5)

2015 870 1.93 0.74 13.59 2016 2750 1.71 1.03 11.96 13 LION 2012 10400 9.34 0.17 22.96 2013 12000 6.73 0.2 15.58 2014 9300 3.69 0.42 11.44 2015 1050 3.8 0.41 10.12 2016 1050 3.56 0.46 9 14 LMSH 2012 10500 4.07 0.32 42.33 2013 8000 4.2 0.28 13.02 2014 6450 5.33 0.25 6.75 2015 575 8.09 0.19 1.73 2016 590 2.77 0.39 5.33 15 TCID 2012 11000 7.73 0.15 13.71 2013 11900 3.57 0.24 13.54 2014 17525 1.8 0.44 13.63 2015 16500 4.99 0.21 31.75 2016 12500 5.26 0.23 9.09 16 UNIT 2012 345 0.58 0.58 0.15 2013 250 0.4 0.9 0.34 2014 318 0.45 0.82 0.15 2015 260 0.6 0.9 0.16 2016 360 0.65 0.77 0.35 17 SMSM 2012 2525 2.05 0.71 31.53 2013 3450 2.1 0.69 34.84 2014 4750 2.11 0.57 37.62 2015 4760 2.39 0.54 32.03 2016 980 2.86 0.43 31.78 18 TSPC 2012 3725 3.09 0.38 18.94

(6)

2013 3250 2.96 0.4 16.53 2014 2865 3 0.37 14.35 2015 1750 2.54 0.45 12.2 2016 1970 2.65 0.42 11.77 19 UNVR 2012 20850 0.67 2.02 121.94 2013 26000 0.7 2.14 126.04 2014 32300 0.71 2.01 124.86 2015 37000 0.65 2.26 121.22 2016 38800 0.61 2.56 135.85 2. Deskripsi Data

Analisis data dimulai dengan mengolah data dengan menggunakan Microsoft excel, selanjutnya dilakukan analisis statistic deskriptif dan pengujian asumsi klasik. Jika asumsi klasik telah terpenuhi maka selanjutnya dilakukan uji hipotesis. dan pengujian hipotesis. Pengujian asumsi klasik dan hipotesis dilakukan dengan menggunakan software SPSS versi 20. Prosedur dimulai dengan memasukkan variable-variabel penelitian ke program SPSS tersebut dan menghasilkan output-output sesuai dengan analisis data yang ditentukan.

3. Hasil Uji Asumsi Klasik

Untuk melihat pengaruh antara variable independen terhadap variable dependen dengan menggunakan analisis regresi linier berganda perlu dilakukan pengujian asumsi klasik terlebih dahulu, yaitu uji Multikolonieritas, uji autokorelasi, uji heteroskedasitas, dan uji normalitas.

(7)

a. Uji Normalitas

Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi, variable pengganggu atau residual memiliki distribusi normal. Uji normalitas dilakukan dengan uji statistic non-parametrik kolmogrov-smimov. Dengan criteria nilai signifikansi lebih besar dari 0,05 maka Ho (data berdistribusi normal) diterima, dan Ha (data berdistribusi tidak normal) ditolak. Sedangkan jika nilai signifikansi lebih kecil dari 0,05 maka Ho ditolak dan Ha diterima. Berikut adalah hasil uji normalitas :

TABEL 4.3

Hasil Uji Normalitas

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

Unstandardized Residual

N 95

Normal Parametersa,b

Mean 0E-7

Std. Deviation 5380.12817275

Most Extreme Differences

Absolute .139

Positive .139

Negative -.063

Kolmogorov-Smirnov Z 1.351

Asymp. Sig. (2-tailed) .052

a. Test distribution is Normal. b. Calculated from data.

Dari tabel 4.3 di atas, dapat dilihat besarnya nilai Kolmogorov Smirnov Z adalah 1,351 dengan nilai signifikansi sebesar 0,052. Nilai signifikansi lebih besar dari 0,05. Dengan demikian Ho diterima dan Ha

(8)

ditolak artinya data tersebut berdistribusi normal. Untuk lebih jelas, berikut ini dilampirkan grafik histogram dan plot data yang berdistribusi normal :

Gambar 4.1 Grafik Histogram

Berdasarkan gambar 4.1 diatas terlihat bahwa pola berdistribusi normal akan tetapi normal atau tidaknya data tidak hanya dilihat dari grafik histogram melainkan juga bisa dilihat dengan menggunakan metode lainnya. Karena jika hanya dilihat dari grafik histogram, maka hal ini dapat menyesatkan khususnya untuk jumlah sampel yang kecil. Oleh karena itu, untuk melihat normal tidaknya data juga bisa dilihat menggunakan metode analisis grafik yaitu dengan melihat gambar 4.3 yang dapat dideteksi dengan melihat penyebaran data (titik) pada sumbu diagonal dari grafik. Jika data menyebar disekitar garis diagonal menunjukkan pola distribusi normal, dan

(9)

sebaliknya jika data menyebar jauh dari garis diagonal menunjukkan pola distribusi tidak normal.1 Hal tersebut dapat dilihat pada gambar 4.2 dibawah:

Gambar 4.2

Hasil Uji Normalitas dengan PP-Plot

Grafik di atas menunjukkan distribusi data mengikuti garis diagonal yang tidak menceng dari kiri maupun ke kanan. Hal ini dapat disimpulkan bahwa data berdistribusi normal. Demikian juga dengan grafik flot yang menunjukkan titik-titik menyebar disekitar garis bawah diagonal serta penyebarannya mendekati dengan garis diagonal sehingga dapat dsimpulkan bahwa data dalam model regresi berditribusi secara normal.

1Imam Ghozali,Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS,(Semarang: Badan Penerbit

(10)

b. Hasil Uji Multikolonieritas

Uji multikolonieritas bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antar variable independen. Untuk mendeteksi ada tidaknya gejala multikolonieritas dilihat dari nilai tolerance dan variance inflation factor (VIF). Besarnya tingkat kolonieritas yang dapat ditolerir yaitu : Tolerance > 0.10, Variance Inflantion Facktor (VIF) < 10. Berikut hasil uji Multikolonieritas :

TABEL 4.4

HASIL UJI MULTIKOLONIERITAS

Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. Collinearity Statistics

B Std. Error Beta Tolerance VIF

1 (Constant) 3394.619 1570.111 2.162 .033 Carrent Ratio -150.076 225.818 -.058 -.665 .508 .608 1.645 Dep to Equity Ratio -3168.125 1553.351 -.212 -2.040 .044 .423 2.363 Return On Equity 268.352 26.417 .861 10.158 .000 .635 1.574 a. Dependent Variable: Harga Saham

Berdasarkan tebel 4.3 diatas, dapat dilihat tidak satupun variable independen yang memiliki nilai VIF lebih besar dari 10 dan tidak ada satupun variabel independen yang memiliki nilai tolerance lebih kecil dari 0,10. Hal ini menunjukkan bahwa tidak terjadi multikolonieritas dalam penelitian ini.

(11)

c. Uji heteroskedasitisitas

Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan lainnya. Untuk mendeteksi ada tidaknya heteroskedastisitas adalah dengan cara melihat grafik scatterflot antara nilai prediksi variabel dependen. Berikut adalah hasil grafik hasil pengujian heteroskedastisitas :

GAMBAR 4.3

Hasil Uji Heteroskedasitisitas

(12)

Dari hasil Scatterflot pada gambar 4.3 diatas, terlihat bahwa titik-titik menyebar secara acak dan tidak membentuk suatu pola tertentu serta tersebar baik di atas maupun di bawah angka 0 pada sumbu Y. oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa pada model regresi tidak terjadi heteroskedastisitas sehingga model regresi layak digunakan untuk melihat pengaruh rasio likuiditas dari Carrent Ratio,rasio solvabilitas Dept To Equity, dan rasio profitabilitas dari Return On Equity terhadap harga saham pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

d. Uji Autokorelasi

Uji autokorelasi bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi linier ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan pengganggu pada periode t-1 (sebelumnya). Uji yang dapat digunakan untuk mendeteksi masalah autokorelasi adalah uji Durbin-Watson (SW test). Kriteria untuk menentukan uji autokorelasi adalah sebagai berikut :

1) Jika DW lebih kecil dari -2, berarti terdapat autokorelasi

2) Jika DW berada diantara -2 dan +2, berarti tidak terdapat autokorelasi 3) Jika DW berada lebih besar dari +2, berarti terdapat autokorelasi negatif

(13)

TABEL 4.5 Uji Autokorelasi

Model Summaryb Model R R Square Adjusted R

Square

Std. Error of the Estimate

Durbin-Watson

1 .765a .585 .571 5468.093 .498

a. Predictors: (Constant), Return On Equity, Carrent Ratio, Dep to Equity Ratio b. Dependent Variable: Harga Saham

Tebel 4.5 Diatas menunjukkan bahwa nilai Durbin Watson adalah 0,498, angka ini berada diantara -2 dan +2, berarti tidak terdapat autokorelasi.

4. Analisis Statistic Deskriptif

Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis statistic yang menggunakan regresi berganda. Statistic deskriptif memberikan gambaran atau deskripsi suatu data yang dilihat dari rata-rata (mean), standar deviasi, Varian, nilai maksimum, nilai minimum.

TABEL 4.6

Descriptive Statistics

N Minimum Maximum Mean Std. Deviation

Harga Saham 95 132 38800 6108.23 8348.492

Carrent Ratio 95 .40 15.16 3.6626 3.20351

Dep to Equity Ratio 95 .08 2.56 .6385 .55816

Return On Equity 95 .10 135.85 19.6988 26.78670

(14)

Berdasarkan data dari tabel Descriptive statistik diatas, dapat dijelaskan bahwa :

a. Variable harga saham (Y) memiliki nilai minimum (terkecil) sebesar 132, dan nilai maksimum (terbesar) sebesar 38.800 dengan mean (rata-rata) sebesar 6108,23 dan standar deviasi sebesar 8348,49.

b. Variable Current Ratio (X1) memiliki nilai minimum (terkecil) sebesar 0,40, dan nilai maksimum (terbesar) sebesar 15,16 dengan mean (rata-rata) sebesar 3,6626dan standar deviasi sebesar 3,20351.

c. Variable Dept To Equity (X2) memiliki nilai minimum (terkecil) sebesar 0,08, dan nilai maksimum (terbesar) sebesar 2,56, dengan mean (rata-rata) sebesar 0.6385 dan standar deviasi sebesar 0,55816.

d. Variable Return On Equity (X3) memiliki nilai minimum (terkecil) sebesar 0,10, dan nilai maksimum (terbesar) sebesar 135,85, dengan mean (rata-rata) sebesar 19,6988 dan standar deviasi sebesar 26,78670.

5. Pengujian hipotesis

Dalam pengujian hipotesis, peneliti menggunakan analisis regresi linier berganda. Setelah dilakukan pengolahan data maka diperoleh hasil regresi sebagai berikut :

(15)

Tabel 4.7 Pengujian Hipotesis Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. Collinearity Statistics

B Std. Error Beta Tolerance VIF

1 (Constant) 3394.619 1570.111 2.162 .033 Carrent Ratio -150.076 225.818 -.058 -.665 .508 .608 1.645 Dep to Equity Ratio -3168.125 1553.351 -.212 -2.040 .044 .423 2.363 Return On Equity 268.352 26.417 .861 10.158 .000 .635 1.574 a. Dependent Variable: Harga Saham

Berdasarkan tabel di atas dapat diperoleh persamaan regresi sebagai berikut : YHS = 3394,619 + -150,076 X1 + -3168,125 X2 + 268,352 X3 + μ

Keterangan ;

1) Konstanta sebesar 3394,619 yang berarti bahwa apabila tidak ada variable independen (X1=0, X2=0, X3=0) maka harga saham adalah sebesar 3394,619.

2) β1 sebesar -150,076 yang berarti bahwa setiap kenaikan Current Ratio sebesar 1% akan diikuti dengan penurunan harga saham sebesar 150,076 dengan asumsi variable lain tetap.

3) β2 sebesar -3168,125 berarti bahwa setiap kenaikan Dept To Equity Ratio sebesar 1% akan diikuti dengan penurunan harga saham sebesar 3168,125 dengan asumsi variable lain tetap

(16)

4) β3 sebesar 268,352 berarti bahwa setiap kenaikan Return On Equity sebesar 1% akan diikuti dengan kenaikan harga saham sebesar 268,352 dengan asumsi variable lain tetap.

1. Hasil Uji Parsial (T test)

Uji parsial digunakan untuk mengetahui berpengaruh atau tidaknya masing-masing variable independen terhadap variable dependen. Dalam pengujian hipotesis ttabel ditentukan dengan acara uji dua arah, derajat bebas (df) dapat ditentukan dengan rumus = n-k. Dimana, n adalah banyak observasi, sedangkan k adalah banyaknya variable bebas dan terikat.

Tabel 4.8

Hasil Uji Parsial (T test)

Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients T Sig. Collinearity Statistics

B Std. Error Beta Tolerance VIF

1 (Constant) 3394.619 1570.111 2.162 .033 Carrent Ratio -150.076 225.818 -.058 -.665 .508 .608 1.645 Dep to Equity Ratio -3168.125 1553.351 -.212 -2.040 .044 .423 2.363 Return On Equity 268.352 26.417 .861 10.158 .000 .635 1.574 a. Dependent Variable: Harga Saham

Dilihat dari hasil uji t di atas dapat disimpulkan sebagai berikut : 1) Pengaruh current ratio dari rasio likuiditas terhadap harga saham.

Pada variabel Curent Ratio (X1) nilai thitung adalah sebesar -0,665 dan nilai ttabel adalah sebesar 1,66105. Sehingga dapat diketahui bahwa

(17)

thitung < ttabel (-0,665<1,66105) maka H0 diterima dan Ha ditolak. Hal ini berarti rasio likuiditas dari current ratio secara parsial tidak berpengaruh terhadap harga saham. Tingkat signifikansi pada variable ini adalah sebesar 0,508 dan tingkat signifikansi ini lebih besar dari 0,05. Dengan demikian Ho ditolak dan Ha diterima. Artinya variabel likuiditas dari current ratio berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap harga saham.

2) Pengaruh dept to equity ratio dari solvabilitas terhadap harga saham. Pada variable Dept To Equity Ratio (X2) nilai thitung adalah sebesar -2,040 dan nilai ttabel adalah sebesar 1,66105. Sehingga dapat diketahui bahwa thitung < ttabel (-2,040<1,66105) maka Ho diterima dan Ha ditolak. Hal ini berarti Dept To Equity Ratio secara parsial tidak berpengaruh terhadap harga saham. Tingkat signifikansi pada variable ini adalah sebesar 0,044 dan tingkat signifikansi ini lebih besar dari 0,05. Dengan demikian Ho diterima dan Ha ditolak. Artinya variable dept to equity ratio berpengaruh negatif dan signifikan terhadap harga saham. 3) Pengaruh Return On equity dari profitabilitas terhadap harga saham.

Pada variable Return On equity (X3) nilai thitung adalah sebesar 10,158 dan nilai ttabel adalah sebesar 1,66105. Sehingga dapat diketahui bahwa thitung> ttabel (10,158>1,66105) maka Ho ditolak dan Ha diteima. Hal ini berarti Return On equity secara parsial berpengaruh positif terhadap harga saham. Tingkat signifikansi pada variabel ini adalah

(18)

sebesar 0,000 dan tingkat signifikansi ini lebih kecil dari 0,05. Dengan demikian Ho ditolak dan Ha diterima. Artinya Return On equity berpengaruh positif dan signifikan terhadap harga saham.

a. Hasil Uji Simultan (Uji F)

Uji F merupakan pengujian yang digunakan untuk mengetahui apakah current ratio dari rasio likuiditas, dept to equity ratio dari rasio solvabilitas, dan Return On equity dari rasio profitabilitas berpengaruh secara simultan atau bersama-sama terhadap harga saham. Dalam pengujian hipotesis Ftabel ditentukan dengan cara uji dua arah, derajat bebas (df) dapat ditentukan dengan rumus = n-k. Dimana, n adalah banyak observasi, sedangkan k adalah banyaknya variable bebas dan terikat. Yang dapat kita lihat pada tabel berikut:

Tabel 4.9

Hasil Uji Simultan (Uji F)

ANOVAa

Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.

1

Regression 3830644344.316 3 1276881448.105 42.705 .000b

Residual 2720903240.590 91 29900035.611 Total 6551547584.905 94

a. Dependent Variable: Harga Saham

b. Predictors: (Constant), Return On Equity, Carrent Ratio, Dep to Equity Ratio

Dilihat dari tabel diatas, nilai Fhitung adalah sebesar 42,705 dan nilai Ftabel adalah sebesar 2,47. Hasil tersebut menunjukkan bahwa Fhitung > Ftabel (42,705>2,47), oleh karna itu Ho ditolak dan Ha diterima. Tingkat

(19)

signifikansi dari tabel diatas sebesar 0,000 dan lebih kecil dari 0,05 oleh karena itu Ho ditolak dan Ha diterima. Artinya variable independent yaitu current ratio, dept to equity ratio, dan return on equity ratio secara simultan atau bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap harga saham pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

b. Hasil Uji koefisien determinasi (R2)

Koefisien determinasi bertujuan untuk mengukur tingkat kemampuan model dalam menerangkan variasi variable dependen. Nilai koefesien determinassi berkisar antara 0 dan 1 (0 < R > 1). Koefisien determinasi dapat dilihat pada tabel 4.9 sebagai berikut :

Tabel 4.10

Hasil Uji koefisien determinasi (R2)

Model Summaryb Model R R Square Adjusted R

Square

Std. Error of the Estimate

Durbin-Watson

1 .765a .585 .571 5468.093 .498

a. Predictors: (Constant), Return On Equity, Carrent Ratio, Dep to Equity Ratio b. Dependent Variable: Harga Saham

Berdasarkan tabel Diatas menunjukkan nilai R Square sebesar 0,585. Itu artinya 58,5% variable harga saham (Y) dapat dijelaskan oleh Current Ratio, Dept to Equity ratio, dan Return On Equity, sedangkan sisanya 41,5% dijelaskan oleh variable lain yang tidak dijelaskan dalam model penelitian ini.

(20)

B. Pembahasan

Metode analisis Statistic deskriptif yang menggunakan regresi berganda memberikan gambaran atau deskripsi suatu data yang dilihat dari rata-rata (mean), standar deviasi, Varian, nilai maksimum, dan nilai minimum yang dapat dlihat dari tabel 4.2 menunjukan bahwa N atau jumlah data pada setiap variabel yang valid adalah sebanyak 95 data.

Variable harga saham (Y) memiliki nilai minimum (terkecil) sebesar 132 terdapat pada PT Kebelindo Murni tbk pada tahun 2015 , dan nilai maksimum (terbesar) sebesar 38.800 terdapat pada PT Unilever Indonesia tbk pada tahun 2016 dengan mean (rata-rata) sebesar 6108,23 dan standar deviasi sebesar 4348,492.

Variabel Current Ratio (X1) memiliki nilai minimum (terkecil) sebesar 0,40 terdapat pada PT Nusantara Inti Corpora tbk pada tahun 2013, dan nilai maksimum (terbesar) sebesar 15,16 terdapat pada PT Duta Pertiwi Nusantara tbk pada tahun 2016 dengan mean (rata-rata) sebesar 3,6626dan standar deviasi sebesar 3,20351.

Variabel Dept to Equity Ratio (X2) memiliki nilai minimum (terkecil) sebesar 0,08 terdapat pada PT Intanwijaya International tbk pada tahun 2013-2014, dan nilai maksimum (terbesar) sebesar 0,2,56 terdapat pada PT Unilever Indonesia pada tahun 2016, dengan mean (rata-rata) sebesar 0,6385 dan standar deviasi sebesar 0,55816.

Variabel Return On Equity (X3) memiliki nilai minimum (terkecil) sebesar 0,10 terdapat pada PT Indospring tbk, dan nilai maksimum (terbesar) sebesar 135,85 terdapat pada PT Unilever Indonesia pada tahun 2016, dengan mean (rata-rata) sebesar 19,6988 dan standar deviasi sebesar 26,78670.

(21)

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh current ratio dari rasio likuiditas, dept to equity ratio dari solvabilitas, dan Return On equity dari profitabilitas terhadap harga saham perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa :

1) Pengaruh current ratio dari rasio likuiditas terhadap harga saham.

Pada variable Current Ratio (X1) memiliki nilai koefisien sebesar -150,076 dengan nilai thitung sebesar -0,665 dan nilai ttabel adalah sebesar 1,66105. Sehingga dapat diketahui bahwa thitung < ttabel (-0,665<1,66105) maka H0 diterima dan Ha ditolak. Hal ini berarti rasio likuiditas dari current ratio secara parsial tidak berpengaruh terhadap harga saham. Tingkat signifikansi pada variabel ini adalah sebesar 0,508 dan tingkat signifikansi ini lebih besar dari 0,05. Dengan demikian Ho diterima dan Ha ditolak. Artinya variable likuiditas dari current ratio berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap harga saham sebesar 150,076.

Dalam teori menunjukan bahwa current ratio berpengaruh positif terhadap harga saham. Namun dalam penelitian ini menunjukan hasil yang bertolak belakang dengan teori. Hal ini terjadi karena dari data terlihat bahwa nilai mean (rata-rata) current ratio sebesar 3,6626, nilai minimun current ratio sebesar 0,04, dan nilai maximum sebesar 15,16. Hal ini dapat disebabkan karena terlalu banyaknya perusahaan yang memiliki nilai current ratio terlalu tinggi sehingga menyebabkan midle money (dana menganggur).

(22)

Hasil analisis ini menunjukkan bahwa perubahan nilai Current Ratio (CR) tidak akan memberikan kontribusi dan signifikan terhadap perubahan harga saham perusahaan manufaktur, yaitu kenaikan atau penurunan nilai CR akan berdampak pada penurunan harga saham perbankan. Nilai CR yang semakin tingggi akan memberikan kontribusi terhadap nilai harga saham perusahaan manufaktur yang semakin menurun. Berdasarkan hasil penelitian ini CR tidak dapat dipakai sebagai prediktor dalam memprediksi tentang harga saham khususnya untuk harga saham perusahaan manufaktur.

2) Pengaruh dept to equity ratio dari solvabilitas terhadap harga saham.

Pada variable Dept to Equity Ratio (X2) memiliki nilai koefisien sebesar -3168,125 dengan nilai thitung sebesar -2,040 dan nilai ttabel sebesar 1,66105. Sehingga dapat diketahui bahwa thitung < ttabel (-2,040<1,66105) maka Ho diterima dan Ha ditolak. Hal ini berarti Dept to Equity Ratio secara parsial tidak berpengaruh terhadap harga saham. Tingkat signifikansi pada variabel ini adalah sebesar 0,044 dan tingkat signifikansi ini lebih kecil dari 0,05. Dengan demikian Ho diterima dan Ha ditolak. Artinya variabel dept to equity ratio berpengaruh negatif dan signifikan terhadap harga saham sebesar 3168,125.

Hasil penelitian ini tidak sesuai dengan hipotesil penelitian yaitu rasio solvabilitas dari dept to equity ratio berpengaruh positif terhadap harga saham perusahaan manufaktur. Penelitian ini didukung oleh penelitian Devy Agrihotlita Situmorong (2011), yang membuktikan bahwa current ratio, dept to equity, dan

(23)

return on asset tidak berpengaruh terhadap harga saham sedangkan return on equity berpengaruh positif terhadap harga saham.

3) Pengaruh Return On equity dari profitabilitas terhadap harga saham.

Pada variabel Return On equity (X3) memiliki nilai koefisien sebesar 268,352 dengan nilai thitung sebesar 10,158 dan nilai ttabel sebesar 1,66105. Sehingga dapat diketahui bahwa thitung> ttabel (10,158>1,66105) maka Ho ditolak dan Ha diteima. Hal ini berarti Return On Equity secara parsial berpengaruh positif terhadap harga saham. Tingkat signifikansi pada variabel ini adalah sebesar 0,000 dan tingkat signifikansi ini lebih kecil dari 0,05. Dengan demikian Ho diterima dan Ha ditolak. Artinya Return On Equity berpengaruh positif dan signifikan terhadap harga saham sebesar 268,352.

Hasil penelitian ini juga didukung oleh penelitian Devy Agrihotlita Situmorong (2011), yang membuktikan bahwa current ratio, dept to equity, dan return on asset tidak berpengaruh terhadap harga saham sedangkan return on equity berpengaruh positif terhadap harga saham. Namun, Hasil penelitian ini bertentangan dengan penelitian Hadi Mastoni (2011) yang mengungkapkan return on asset berpengaruh terhadap harga saham, sedangkan return on equity tidak berpengaruh terhadap harga saham.

C. KeterbatasanPenelitian

Meskipun penelit telah berusaha merancang dan mengembangkan penelitian sedemikian rupa, namun masih terdapat beberapa keterbatasan dalam penelitian ini yang masih perlu revisi penelitian selanjutnya, antara lain:

(24)

1. Jangka waktu pengamatan yang singkat, yaitu dari tahun 2012-2016.

2. Penelitian ini hanya menggunakan variable current ratio dari rasio likuiditas, dept to equity ratio dari rasio solvabilitas, dan Return On equity dari rasio profitabilitas sebagai variable independen.

3. Perusahaan yang dijadikan sampel hanya aperusahaan yang tergolong dalam perusahaan manufaktur, dengan jumlah19 sampel perusahaan.

Figur

Grafik di atas menunjukkan distribusi data mengikuti garis diagonal yang  tidak menceng dari kiri maupun ke kanan

Grafik di

atas menunjukkan distribusi data mengikuti garis diagonal yang tidak menceng dari kiri maupun ke kanan p.9
Related subjects :