EFEKTIFITAS PURSED LIPS BREATHING DAN TIUP BALON DALAM PENINGKATAN ARUS PUNCAK EKSPIRASI (APE)
PASIEN ASMA BRONCHIALE DI RSUD BANYUMAS Dewi Natalia1)Saryono2Dina Indrati3
1Mahasiswa Program sarjana Keperawatan, Universitas Jenderal Soedirman 2,3,Program sarjana Keperawatan, Universitas Jenderal Soedirman
ABSTRACT
Asthma bronchiale involved into 5 of major lung diseases and it increasingly in prevalention rate, in also in hospital case, morbidity, and mortality. Asthma bronchiale Patient is getting disturbance of expiration, this is shown by decreasing of peak expiratory flow, and caused to respiratory function disturbance, low of productivity and quality of live, so breathing exercise is very important to help gain peak expiratory flow.
The research wants to know affectivity of breathing exercise in increasing of peak expiratory flow in asthma bronchiale patient. The research is quasi experiment with two group pre and post test design. The respondent this research is 52 patients of asthma bronchiale in Bougenvile, Cempaka, and RRD ward of Banyumas Hospital from June up to September 2006 which was gotten by simple randomization. The writer used primary data was taken from measuring of peak expiratory flow at pursed lips breathing and blew up the balloon groups.
The statistical analysis is pair t test and independent t test. Pair t test with 5 % finding indicate that pursed lips breathing and blew up the balloon are effective to increasing of peak expiratory flow (p<0.05), and the analysis mean of two groups by independent t test with 5 % finding indicate that pursed lips breathing more effective than blew up the balloon to increase peak expiratory flow of asthma bronchiale patient (p<0.05).
The conclusion of this research is breathing exercise by pursed lips breathing and blew up the balloon important in rehabilitation of asthma bronchiale patient to increase peak expiratory flow.
Keywords: Pursed Lips Breathing, Blew Up the Balloon, Peak Expiratory flow(PEF).
PENDAHULUAN
Penyakit asma bronchiale masuk dalam 5 penyakit paru utama yang bertanggung jawab pada 17,4 % kematian di dunia, dan dalam 10 tahun terakhir meningkat sebesar 50%. Berdasarkan survei kesehatan
rumah tangga (SKRT) ditahun 1986 asma bronchiale menduduki urutan ke-5 dari 10 penyebab kesakitan (morbiditas) di Indonesia. Tahun 1992 asma bronchiale, bersama bronchitis dan emfisema merupakan penyebab
kematian (mortalitas) ke-4 di Indonesia atau sekitar 5,6 % (PDPI, 2004).
Asma bronchiale mempunyai dampak yang sangat mengganggu. Gangguan fungsi pernafasan menjadi komplikasi dan menimbulkan gangguan pada berbagai aktifitas sehari-hari sehingga menurunkan produktifitas kerja dan kualitas hidup (GINA, 2003). Pada asma bronchiale terdapat ketidakmampuan mendasar dalam mencapai angka aliran udara normal pernafasan terutama pada ekspirasi yang dicerminkan dengan rendahnya arus puncak ekspirasi (APE) (Price, 1992). Arus puncak ekspirasi adalah nilai kekuatan aliran udara maksimal paru untuk menilai ada dan berat obstruksi jalan nafas, respon pengobatan, dan menilai “asthma attack” yang dilakukan pada pasien asma bronchiale (PDPI, 2004).
Penatalaksanaan
penyakit asma bronchiale sering dikaitkan dengan senam asma yang berdasar pada latihan pernafasan (PDPI, 2004). Latihan nafas tidak hanya ditujukan untuk membersihkan jalan nafas dari mukus berlebihan tapi juga ditujukan untuk mengatasi masalah penurunan volume paru, peningkatan beban kerja pernafasan, pola nafas abnormal, gangguan pertukaran gas, dan hambatan arus udara dalam saluran nafas (Jenkins & Turker, 1993).
Hasil Workshop Rehabilitasi Penyakit Paru di RS Moewardi Surakarta pada
5-literatur bahwa pursed lips breathing yang dilakukan secara teratur dapat memperbaiki ventilasi sehingga dapat memperbaiki aliran udara dan volume paru pasien asma bronchiale. Pada pelaksanaan di rumah sakit – rumah sakit latihan tiup balon merupakan tekhnik yang lebih sering dilakukan. Berdasarkan hal tersebut peneliti tertarik untuk mengetahui lebih jauh tentang efektifitas tekhnik latihan nafas terhadap peningkatan arus puncak ekspirasi (APE) pada pasien asma bronchiale.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini termasuk penelitian eksperimental semu (quasi experiment) dengan jenis rancangan two group pre and post test design. Desain ini mengobservasi subyek sebanyak 2 kali (pre test dan post test), dengan pendekatan terhadap subyek penelitian adalah studi eksperimen, yaitu mengusahakan timbulnya variabel dan selanjutnya dikontrol untuk dilihat pengaruhnya (Arikunto, 2002). Perlakuan berupa tekhnik pernafasan pursed lips breathing dan tiup balon yang dilakukan pada kelompok berbeda.
Subyek penelitian ini adalah pasien asma bronchiale yang menjalani rawat inap di bangsal penyakit dalam RSU Banyumas yang memenuhi kriteria inklusi dan didapat subyek sebanyak 52 responden, terdiri dari 25 responden pada kelompok pursed lips breathing
dan 27 responden pada kelompok tiup balon.
Proses penelitian dimulai dengan melakukan randomisasi (random allocation/random
asessment) pada subyek
penelitian yang memenuhi kriteria inklusi menjadi dua kelompok. Randomisasi dilakukan dengan simple randomization (randomisasi sederhana), yaitu setiap anggota populasi memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi anggota dari 2 kelompok perlakuan (Sastroasmoro & Ismail, 1995). Sampel pada masing masing kelompok kemudian diajarkan tekhnik pernafasan pursed lips breathing atau tiup balon, dan cara pengukuran APE. Tahap selanjutnya sampel pada masing-masing kelompok diukur nilai APE sebelum perlakuan (pre test), dan pasien diminta untuk melakukannya
4x sehari (dengan jarak 4-5 jam), masing masing 10 menit, selama 4 hari. Akhir perlakuan APE pasien diukur kembali untuk mengetahui hasil perlakuan (post test). Tiap pengukuran dilakukan 3 kali, dilakukan pada pagi hari sebelum pemberian bronchodilator, dan diambil nilai yang tertinggi sebagai nilai APE pasien.
HASIL DAN BAHASAN
Hasil penelitian pada kelompok tiup balon dan pursed lips breathing dengan pair t test menunjukkan bahwa nilai t pada kedua kelompok lebih besar dari t tabel dan nilai p lebih kecil dari nilai α (α 5% atau 0,05) yang berarti pursed lips breathing dan tiup balon efektif untuk meningkatkan APE pada pasien asma bronchiale.
Tabel 1Perubahan APE pasien asma bronchiale pada kelompok pursed lips breathing dan tiup balon sebelum dan sesudah
latihan nafas
Nilai Sebelum-Sesudah Pursed Lips Breathing Tiup Balon
n % n % APE Naik Tetap Turun 22 2 1 88 8 4 21 4 2 77,79 14,81 7,40 Jumlah 25 100 27 100
Hasil penelitian dengan independent t test didapat nilai t 2,030 dan p 0,048 yang berarti p lebih kecil dari α(α5% atau 0,05) sehingga Ho ditolak dan Ha diterima atau berarti
pursed lips breathing lebih efektif dari tiup balon dalam meningkatkan APE pasien asma bronchiale di RSU Banyumas dapat dilihat pada table dibawah ini
Tabel 2 Perbandingan tingkat obstruksi pasien asma bronchiale pada kelompok pursed lips breathing dan tiup balon sebelum dan sesudah
latihan nafas
No Kelompok Sebelum Perlakuan Sesudah Perlakuan
n % n %
1. Pursed Lips Breathing a. Ringan b. Sedang c. Berat -25 -100 -6 19 -24 76 2. Tiup Balon a. Ringan b. Sedang c. Berat -1 26 -3,70 96,30 -4 23 -14,81 85,19
SIMPULAN DAN SARAN
Pasien asma bronchiale sebelum mendapat latihan nafas mengalami gangguan aliran udara pernafasan khususnya pada saat ekspirasi, yang ditunjukkan dengan nilai APE yang rendah dan tingkat obstruksi yang berat. APE setelah pursed lips breathing dapat meningkat dengan rata-rata peningkatan sebesar 26,20 l/menit.
APE setelah tiup balon dapat meningkat dengan rata-rata peningkatan sebesar 13,148 l/menit. Latihan nafas dengan pursed lips breathing dan tiup balon pada pasien asma bronchiale efektif untuk membantu mencapai peningkatan APE dan memperbaiki tingkat obstruksi. Latihan nafas dengan pursed lips breathing lebih efektif daripada tiup balon dalam peningkatan APE pada pasien asma bronchiale.
Saran bagi petugas rehabilitasi medik, khususnya fisioterapis untuk lebih meningkatkan penggunaan latihan nafas pursed lips
breathing dan dapat
breathing sebagai prosedur tetap dalam penatalaksanaan latihan nafas pada pasien asma bronchiale.Saran bagi perawat, perlu meningkatkan fungsinya sebagai edukator untuk mengajarkan, melatih dan memotifasi pasien untuk menggunakan latihan nafas sebagai latihan yang diperlukan selama perawatan maupun untuk penatalaksanaan asma bronchiale di rumah.Saran bagi penderita asma bronchiale, hendaknya bisa berperan serta secara mandiri dalam penatalaksanaan penyakit asma bronchiale yang diderita dengan menggunakan tekhnik latihan nafas baik pursed lips breathing maupun tiup balon sehingga dapat memperbaiki aliran udara pada saat terjadi serangan.
Penelitian selanjutnya perlu dilakukan untuk mengetahui pengaruh pursed lips breathing dan tiup balon terhadap pasien asma bronchiale dengan kelompok umur, kelompok klasifikasi, dan tingkat obstruksi yang berbeda.
DAFTAR PUSTAKA
Aditama, Y. T. (2004, April 16). Mengobati asma (On-line). Terdapat
pada:http://www.suarape mbaruan.com/News/2004 /25/kesehatan/kes03.htm l.
Amin, M. (1989). Pengantar ilmu penyakit paru. Surabaya: Airlangga University Press. A, Suhasimi. (2002). Prosedur
penelitian suatu
pendekatan praktek.
Jakarta: Rineka Cipta. Basuki. (Desember, 2005).
Modalitas fisioterapi pada penatalaksanaan pasien
gangguan paru.
Dipresentasikan dalam workshop rehabilitasi penyakit paru di RSUD Moewardi Surakarta 5-7 Desember 2005. Budiarto, E. (2001). Biostatistika untuk kedokteran dan kesehatan masyarakat. Jakarta: EGC. Ediyono, M. A. (1994). Perbedaan efek pursed
lips breathing dan
relaksasi pada
rehabilitasi paru
terhadap kenaikan
saturasi oksigen darah
pada penderita
emfisema. Paru; Majalah perhimpunan dokter paru Indonesia. Vol. 14 no 4 okt. 1994. PT. Satria Tugu Muda (Asrita Printing).
Fregonezi, F. G. A. (2003, 11 November). Pursed lips breathing (On-line). Terdapat pada
http://www.vardorg/jou
r/03/40/55UP2/gosseli nk.html.
GINA. (2003, 23 Juni). What is known asthma (On-line).
Terdapat pada: http://www.ginaasthma .org/whatisknownasthm a/pocketasthma.html. Guyton, A. C. (1990). Human physiology and mechanism of disease. (terjemah) (3th ed). Alih
bahasa: Adrianto.
Jakarta: EGC.
Herman, P. D. (2006, 26 April).
Senam nafas sehat
sebagai salah satu
pilihan terapi latihan pada penderita asma bronchiale (On-line). Terdapat pada:
http://www.physiosby.c
om/senam nafas sehat.
Hole, E. J., Pickard, C. G., Ouymette, R., Lohe, J.A., & Bowell, W. I. (1999). Patient care guidelines for nurse practitioner. (5th ed). Philadelphia: J.B Lippincott Company. Hough, A. (1991).
Physioteraphy in
respiratory care; problem solving approach. 1st ed. London: Chapman & Hall. Idiyah, N. N. (2005). Penanganan rehabilitasi penderita asma. Dipresentasikan dalam workshop rehabilitasi penyakit paru di RSUD Moewardi Surakarta 5-7 Desember 2005.
John, E. H. (1994). Respiratory care; a guide to clinical practice (2nd ed.).
Philadelphia: J.B. Lippincott Company. Kavuru, S. M., Lang, M. D., &
Erzulum, C. S. (2006). Asthma (On-line). Terdapat pada: http://www.clevelandcli nicmeded.com/disease management/pulmonar y/asthma/asthma.htm.
Keeley & Osman. (2001, Mei 5).
Prevalence of
dysfunctional breathing in patien treated for asthma in primary care: cross sectional survey (On-line). Terdapat pada:
http://bmj;2001: 322:1098-1100.
National Jewish Rehabilitation Department. (2006). Breathing technique (On-line). Terdapat pada:
http://www.njc.org/dis
ease-info/wellness/breathing .aspx
Non Name. (2002, Juni 17). Breathing: pursed lips breathing (On-line). Terdapat pada:
http://www.copd-international.com/librar y/plb.htm
PDPI. (2004). Asma; Pedoman diagnosis & penatalaksanaan di Indonesia. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. Pradjnaparamita. (2005, Juli
22). Paru paru sehat, nafaspun lega…!. (On-line). Terdapat pada:
http://www.kompas.co
m//kesehatanhtml.
Price, S. A., & Wilson, L. M. (1992). Phatophysiology: clinical concept of
(terjemah). Alih bahasa:
Anugrah, P.
Patofisiologi; konsep klinis proses penyakit. Ed 4 cetakan 2. Jakarta: EGC.
Rab, T. (1996). Ilmu penyakit paru. Jakarta: Hipokrates.
Rachma, N. (2005). Rehabilitasi nafas sebagai bagian penanganaan penyakit paru. Dipresentasikan dalam workshop rehabilitasi penyakit paru di RSUD Moewardi Surakarta 5-7 Desember 2005.
Rees, J., & Price, J. (1998). ABC of asthma (3 th ed). (terjemah). Alih bahasa: Nugroho, E. Petunjuk penting asma. Edisi ketiga.. Jakarta: EGC. Rekam Medis RSU Banyumas.
(Maret 2006). Data
penyakit asma
bronchiale di RSU
Banyumas periode
januari sampai maret 2006.
Riwidikdo, H. (2002). Aplikasi
komputer untuk
rancangan analisis
statistik dan metodologi penelitian. Depkes RI yogyakarta
Sastroasmoro, S., & Ismael, S. (1995). Dasar dasar metodologi penelitian
klinis. Jakarta:
Binarupa Aksara.
Soemarno. (2001). Perbedaan pengaruh senam asma
Indonesia terhadap
peningkatan KVP, VEP1 , dan APE pada penderita asma persisten ringan
Jakarta. Fisioterapi; Jurnal ikatan fisioterapis Indonesia. (Vol. 02. April 2001). Solo: IFI. Smeltzer, S. C., Bare, G. B. (2001). Buku ajar keperawatan medikal bedah. (Edisi 8 vol.1).
Alih bahasa: Waluyo, A., dkk. Jakarta: EGC. WHO. (1998, Desember 7). Asthma (On-line). Terdapat pada: http://www.who.int/inf -pr-1998/en/pr98-92.html