UPAYA SULTAN MUHAMMAD II DALAM PENAKLUKKAN KONSTANTINOPEL Oleh: Yeni Wijayanti* Arief Fatriansyah** Program Studi Pendidikan Sejarah-FKIP-UNIGAL

12 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

Yeni Wijayanti* Arief Fatriansyah**

Program Studi Pendidikan Sejarah-FKIP-UNIGAL ABSTRAK

Permasalahan dalam penelitian ini adalah (1) Bagaimana upaya yang dilakukan Sultan Muhammad II dalam penaklukkan Konstantinopel 1453? (2) Bagaimana dampak jatuhnya Konstantinopel ke tangan Turki Utsmani terhadap konstalasi sosial, ekonomi dan politik? Metode yang digunakan adalah metode Sejarah atau metode historis, yang meliputi heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sultan Muhammad II mengerahkan pasukannya menuju Konstantinopel pada awal musim semi tahun 1453, dengan pasukan pelopor yang mendirikan perkemahan dekat dengan tembok Theodosius pada 2 April, hari Senin Paskah. Tiga hari kemudian Muhammad II tiba dengan sisa pasukannnya, sebuah pasukan berjumlah sekitar 80.000 orang, mendirikan markas yang terlihat dari Gerbang St. Romanus, di tengah-tengah Tembok Theodosius. Kemudian, Sultan mempersiapkan persenjataan meriamnya. Yang paling utama adalah meriam raksasa yang disebut meriam Orban, yang bisa menembakkan bola meriam batu seberat 700 kilogram sejauh satu setengah meter. Pengeboman pertama dimulai pada 6 April. Setelah pengepungan selama 54 hari akhirnya tembok Konstantinopel berhasil dibobol. Dampak ekonomi yang terjadi pasca jatuhnya Konstantinopel ke tangan pemerintah Kesultanan Turki, arus pelayaran di wilayah Mediterania praktis dikuasai secara mutlak oleh Turki Utsmani. Hal ini berakibat pada terhambatnya interaksi (perdagangan) Barat dan Timur. Sedangkan dampak politik yang terjadi atas jatuhnya Konstantinopel adalah pola pemerintahannya berada di bawah kendali Turki. Pola pemerintahan Turki Utsmani dipimpin oleh seorang Sultan sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan yang dibantu oleh seorang wazir agung, dan sejumlah wazir yang mengendalikan militer dan pemerintahan provinsi serta pelayanan sipil.

Kata kunci: penaklukan, konstantinopel PENDAHULUAN

Konstantinopel (Istanbul, Byzantium) secara geografis terletak di negara Turki. Konstantinopel termasuk daerah pesisir pantai terbesar yang terletak cukup strategis sebagai sebuah kota pelabuhaan untuk bersinggah dan menetap bagi kapal-kapal dari Timur dan Barat, terhampar di daratan berbentuk segitiga seperti tanduk dan terletak di sebelah Barat Selat Bosphorus yang memisahkan antara Benua Eropa dan Asia. Di sebelah Utara kota ini terdapat Teluk Tanduk Emas (Golden Horn), sebuah pelabuhan alami yang sempurna. Dan di seberang Selat Bosphorus terdapat daratan yang kaya dengan hasil bumi, Semenanjung Asia Kecil atau lebih dikenal dengan Anatolia. Posisinya di tengah dunia membuat Konstantinopel menjadi kota pelabuhan paling sibuk karena sebagai jalan penghubung antara Benua Eropa dan Benua Asia pada masanya.

Wilayah ini begitu unik, terletak di persimpangan jalur perdagangan dan gerbang militer; sejarah pendudukannya terkenal dengan barisan pasukan jalan kaki dan pasukan

pendayung. Di persimpangan ini Kota Kristen mengendalikan kekayaan di dataran tinggi. Ke arah Timur kekayaan Asia Tengah dapat dialirkan lewat Bosphorus ke gudang-gudang di Kota Kerajaan Byzantium; emas barbar, kulit binatang dan budak-budak Rusia; caviar (telur ikan) dari Laut Hitam; lilin dan garam, rempah-rempah, gading batu amber dan permata dari Timur Jauh. Ke arah Selatan, ada banyak jalur menuju kota di Timur Tengah; Damaskus, Aleppo, Baghdad; ke Barat, ada jalur laut melalui Selat Dardanela yang berakhir di Laut Mediterania yang luas; rute ke Mesir dan delta Nil, pulau-pulau kaya di Sicilia dan Crete, semenanjung Italia dan tempat-tempat lain yang terdapat hingga ke Selat Gibraltar. Tak jauh dari lokasi ini terdapat sumber daya alam yang cukup berlimpah seperti kayu gelondongan, batu gamping, batu pualam dan ikan musiman di arus laut Selat Bosphorus dan sementara ladang Thrace Eropa sebuah dataran rendah di Anatolia begitu kaya akan minyak zaitun, jagung dan anggur (Roger Crowley, 2005 : 18).

(2)

Kota ini dikenal sebagai Byzantium; berusia seribu tahun saat Konstantin Agung menjadikannya Ibu Kota Kekaisaran Romawi pada 330 M. Sejak itu kota ini dinamai Konstantinopel, Kota Konstantin. Sebagai Ibu Kota imperium terbesar pada masanya Konstantinopel dihuni oleh berbagai etnis Yunani. Kaisar Konstantin I menjadikannya sebagai “kota yang paling diinginkan di seluruh dunia” dengan memperkeras seluruh jalan kota dengan batu porfiri dan gedung-gedung marmer di kanan kirinya, tiang-tiang dan alun-alun disediakan disetiap sudut kota lengkap dengan taman-taman dan monument-monumen kemenangan. Di situ juga terdapat hippodrome (tempat arena pacuan kuda) yang dapat menampung ratusan ribu orang untuk menyaksikan pacuan kuda. Kota ini juga penuh dengan barang-barang berharga dari seluruh dunia yang terkumpul sebagai hadiah rampasan perang seperti kuda Alexandria, emas dan perak yang berlimpah dan uang pajak dari negara-negara jajahan.

Dengan kekayaaan seperti itu maka wajar saja Konstantinopel menjadi kota yang paling diperebutkan dan diinginkan. Ancaman datang dari darat dan laut untuk menguasai kota ini. Wilayah Konstantinopel yang sebagian besar berbatasan dengan laut juga mengharuskannya memiliki pasukan laut yang kuat dan Byzantium menjadi pasukan laut terkuat pada masanya dan hegemoninya dibuktikan dengan penguasaan Laut Mediterania yang menjadi tempat peperangan laut selama berabad-abad sebagai perairan Byzantium. Setidaknya itulah anggapan seluruh dunia pada Byzantium dengan Konstantinopel. Dan gelar ‘pasukan laut tanpa tanding’ ini yang akhirnya dicoba oleh pasukan Muslim pada abad ke-7.

Sejak Islam masih berusia muda, usaha penaklukkan Konstantinopel sudah banyak dilakukan. Nabi Muhammad SAW pernah mengatakan, “Konstantinopel pasti tertaklukkan. Sebaik-baik panglima dan tentara adalah yang menaklukkan kota itu.” Usaha pertama untuk mengepung Konstantinopel dilakukan pada tahun 34 H. / 654 M. pada masa pemerintahan Usman bin Affan. Dia mengirimkan Muawiyah bin Abu Sophian r.a. dengan pasukan yang besar untuk mengepung dan menaklukkannya. Tetapi mereka pulang dengan tangan hampa disebabkan oleh kokohnya pagar yang mengilingi Konstantinopel.

Percobaan ini diikuti dengan beberapa kali usaha penaklukkan. Yang terpenting ada dua: Pertama; yang dilakukan pada masa Muawiyah bin Abu Sophian r.a. Dalam usaha penaklukkan itu Abu Ayub Al-Anshari wafat dan dikuburkan di bawah pagar Konstantinopel. Usaha terpenting kedua adalah yang dilakukan pada masa Sulaiman bin Abdul Malik. Pada saat itu dia mengirimkan pasukan tentara sejumlah 20.000 orang dan sekitar seratus perahu untuk mengepung dan menaklukkan Konstantinopel. Tetapi usaha itu belum juga berhasil akibat suhu udara yang sangat dingin. Pasukan itu kemudian ditarik mundur oleh Umar bin Abdul Aziz setelah dirinya naik tahta menggantikan Sulaiman bin Abdul Malik yang mangkat pada saat tentara masih berada di medan pertempuran. Umar bin Abdul Aziz takut tentara itu akan binasa. Konstantinopel tetap bertahan, hingga Dinasti Turki Utsmani berkuasa. Tetapi itupun setelah sekian kali percobaan. Pada masa Sultan Bayazid I. Tetapi gagal karena serangan Kaum Salib dari Barat dan serangan Mongol dari Timur.

Pada masa pemerintahan Sultan Muhammad II bin Murad II Turki Utsmani mencoba untuk menaklukkan Konstantinopel dengan semua pasukan yang dikerahkan dan yang paling utama adalah adanya pasukan Janissari dan 265 orang tentara yang dilengkapi dengan meriam besar. Yang berada di barisan paling depan adalah Sultan Muhammad II sendiri lalu diikuti oleh para ulama, sesepuh dan para pemuka negara. Di bawah hujan api dan panah, dengan mantap pasukan Turki Utsmani bergerak maju dan akhirnya berhasil menduduki Konstantinopel. Sultan Muhammad memasuki Konstantinopel pada hari Selasa, 20 Jumadilawal 857 H / 29 Mei 1453 M. Sejak itu Sultan Muhammad II digelari dengan Al-Fatih (Sang Penakluk). Gelar ini menjadi sangat terkenal dan mengalahkan nama aslinya dikemudian hari. Gereja Aya Sophia diubah menjadi Masjid. Sejak itu Konstantinopel menjadi Ibu Kota Turki Utsmani dan oleh Sultan Muhammad II diubah namanya menjadi Islambol (Kota Islam), kemudian mengalami pergeseran ucapan sehingga menjadi Istanbul. Dari uraian di atas, pokok permasalahan yang bakan dibahas adalah (1) bagaimana upaya yang dilakukan Sultan Muhammad II dalam penaklukkan Konstantinopel 1453? dan (2) bagaimana dampak jatuhnya Konstantinopel ke tangan Turki Utsmani terhadap konstalasi sosial, ekonomi dan politik?

(3)

METODE PENELITIAN

Metode yang digunakan adalah metode Sejarah atau metode historis. Adapun teknik penelitiannya melalui kajian pustaka atau studi literature. Metode sejarah mengandung empat langkah penting seperti yang diungkapkan oleh Ismaun (1992 : 125-131) sebagai berikut : 1. Heuristik

Tahap ini merupakan langkah awal bagi penulis dalam proses mencari dan mengumpulkan bahan-bahan informasi yang diperlukan yang berhubungan dengan permasalahan penelitian.Sasaran untuk mendapatkan sumber-sumber sejarah misalnya penulis mendatangi perpustakaan umum, dan meminjam pada teman seprofesi yang mengajar sejarah. Disamping itu juga bisa dari arsip-arsip yang bersifat lokal, nasional, dan bahkan internasional.

2. Kritik

Kritik sejarah adalah penilaian secara kritis terhadap data dan fakta sejarah yang ada. Data dan fakta sejarah yang telah diproses melalui kritik sejarah ini disebut bukti sejarah. Bukti sejarah adalah kumpulan fakta-fakta dan informasi yang sudah divalidasi, yang dipandang terpercaya sebagai dasar yang baik untuk menguji dan menginterpretasi suatu permasalahan.

Pada tahap ini penulis mengkaji keabsahan sumber yang sudah dikumpulkan. Pengkajian terhadap sumber misalnya penulis lakukan dengan membandingkan antara data yang satu dengan data yang lainnya, dan kesesuaian dengan topik yang telah ditentukan. Kritik sumber ini dimaksudkan untuk dapat dipertanggungjawabkan dalam keabsahannya. Dalam pelaksanaanya, kritik ini dibedakan menjadi dua bentuk, yaitu kritik ekstern dan kritik intern.

Kritik ekstern dimaksudkan untuk mengkaji sumber-sumber yang sudah dikumpulkan, karena seringkali ada dokumen-dokumen yang dipalsukan. Kritik ekstern dilakukan dengan menyelidiki bahan yang digunakan seperti kertas, tinta, gaya tulisan, bahasa dan jenis huruf.

Kritik intern dimaksudkan untuk menilai kredibilitas dari sumber yang didapatkan penulis. Dengan kata lain kritik intern dimaksudkan untuk menilai suatu

sumber dari sisi isi, apakah isinya dapat dipercaya atau tidak.

3. Interpretasi

Pada tahap ini, penulis mengadakan interpretasi (penafsiran) dan analisis terhadap data dan data yang terkumpul. Prosedur ini dilakukan dengan mencari data dan fakta, menghubungkan berbagai data dan fakta serta membuat tafsirannya.

Penafsiran terhadap data-data yang sudah diperoleh harus dilakukan secara jujur dan penuh ketelitian karena jika tidak, penafsiran yang dilakukan penulis akan menimbulkan subjektivitas dalam sejarah. Dalam penafsiran data-data sejarah diperlukan kemampuan dalam membaca sumber seperti makna bahasa yang terdapat dalam sumber tersebut.

4. Historiografi

Setelah melakukan tahap-tahap dalam metode sejarah yaitu mengumpulkan data, kritik data dan interpretasi maka sebagai tahap terakhir dari metode sejarah adalah penulisan sejarah.

Dalam penulisan sejarah, penulis harus memperhatikan aspek kronologi. Dari cara penyampaiannya, penulisan sejarah dibedakan menjadi dua yaitu penulisan sejarah naratif dan penulisan sejarah strukturalis. Sejarah naratif yaitu penulisan sejarah dengan pendekatan sejarah sebagai rekaman peristiwa yang berlangsung dalam kurun waktu tertentu. Sedangkan penulisan sejarah strukturalis atau sejarah social lebih menekankan pada masalah bagaimana masyarakat mempertahankan dirinya dan mengatur hubungan dengan sesamanya serta bagaimana masyarakat memecahkan masalah yang dihadapinya.

PEMBAHASAN

Upaya Sultan Muhammad II Dalam Menghimpun Kekuatan Turki Utsmani

Dinasti Utsmani berasal dari suku Qayigh Aghuz yang dipimpin oleh Sulaiman Syah. Anak Sulaiman Syah, yaitu Erthogrol Ibn Sulaiman Syah mengabdi kepada Sultan Allaudin II (Dinasti Seljuk). Ketika Seljuk diserang Byzantium, Erthogrol membantu Sultan Seljuk hingga berhasil mematahkan serangan Byzantium. Karena jasa tersebut, Sultan Alauddin II memberi hadiah kepada Erthogrol, yaitu sebuah wilayah yang bernama

(4)

Sogud (wilayah yang berbatasan dengan Byzantium).

Pada tahun 1300 M, Mongol menyerang Dinasti Seljuk dan Sultan Alauddin II mati terbunuh. Sepeninggal Sultan Alauddin II, Seljuk terpecah menjadi dinasti-dinasti kecil. Dalam keadaan yang demikian, Usman menyatakan kemerdekaan dan berkuasa penuh atas daerah yang dikuasainya. Sejak itu, Dinasti Utsmani dibentuk dan pemimpin mereka yang pertama adalah Usman Ibn Erthogrol (Usman I). Putera Erthogrol inilah yang dianggap sebagai pendiri Kerajaan Utsmani. Sejak itulah Kerajaan Utsmani dinyatakan berdiri (Badri K. Yatim, 1999 :126).

Usman I mengumumkan dirinya sebagai Padisyah Al-Usman (raja besar keluarga Usman) pada tahun 699 H (1300M) wilayah kerajaan dapat diperluas secara berangsur-angsur. Usman sebagai sultan pertama lebih banyak mencurahkan perhatiannya kepada usaha-usaha untuk memantapkan kekuasaannya dan melindungi wilayahnya dari segala macam serangan, khususnya dari Byzantium yang memang mengancam hendak menyerang.

Dalam masa pemerintahannya, Usman I berusaha memperkuat tentara dan memajukan negerinya. Kepada Raja-raja kecil dibuat suatu peraturan untuk memilih salah satu dari tiga hal, yaitu:

1.

Masuk Islam

2.

Membayar Jizyah (upeti tahunan yang harus dibayarkan penduduk non muslim sebagai tanda ketundukan mereka atas perlindungan Islam kepada mereka)

3.

Berperang

Penerapan sistem ini membawa hasil yang menggembirakan, yaitu banyak raja-raja kecil yang tunduk kepada Usman I. Dalam bidang pendidikan, Usman I juga mengantarkan pada pengorganisasian sebuah sistem pendidikan madrasah yang tersebar luas. Madrasah Usmani pertama didirikan di Izmir pada tahun 1331, ketika itu sejumlah ulama di datangkan dari Iran dan Mesir untuk mengembangkan pengajaran Muslim dibeberapa teritorial baru. Tapi hal ini tidak begitu berkembang, karena Turki Usmani lebih memfokuskan kegiatan mereka dalam bidang kemiliteran, sehingga dalam khazanah Intelektual Islam kita tidak menjumpai ilmuan terkemuka pada awal berdirinya Turki Usmani.

Diakhir kehidupannya Usman I menunjuk Orkhan (42) anak yang lebih muda dari kedua orang putranya sebagai calon

pengganti pemimpin kerajaan. Keputusan tersebut disandarkan pada pertimbangan kemampuan dan bakat anaknya masing-masing. Orkhan sebagai prajurit yang potensial telah mendapat pengawasan dari ayahnya dan telah menunjukkan kemampuannya dalam konteks militer pada penaklukkan Broessa. Sementara Alauddin (kakaknya) lebih potensial dalam bidang agama dan hukum. Meskipun mereka sama-sama dibina dan dididik oleh ayahnya.

Sepeninggal Usman I pada Tahun 1326 M, kerajaan dipimpin oleh anaknya Sultan Orkhan I (1326-1359 M). Orkhan mengadakan perombakan besar-besaran dalam tubuh militer. Orkhan melantik seorang waziragung (perdana menteri) untuk menangani administrasi dan kemiliteran pusat dan mengangkat sejumlah gubernur sipil untuk sejumlah propinsi yang ditaklukkan. Kepala-kepala jabatan disatukan dalam sebuah dewan kerajaan. Pembaruan dalam tubuh organisasi militer oleh Orkhan, tidak hanya dengan memutasi personil-personil pimpinan, tetapi juga dengan merombak keanggotaan. Bangsa-bangsa non-Turki dimasukkan sebagai anggota, bahkan anak-anak Kristen yang masih kecil diasramakan dan dibimbing dalam suasana Islam untuk dijadikan prajurit. Program ini ternyata berhasil dengan terbentuknya kelompok militer baru yang disebut pasukan Janissari atau Inkisyariah. Pasukan inilah yang dapat mengubah Negara Utsmani menjadi mesin perang yang paling kuat, dan memberikan dorongan yang amat besar dalam penaklukkan negeri-negeri non Muslim. Di samping Janissari, ada lagi prajurit dari tentara kaum feodal yang dikirim kepada pemerintah pusat. Pasukan ini disebut tentara atau kelompok militer Thaujiah. Angkatan laut pun dibenahi, karena ia mempunyai peranan yang besar dalam perjalanan ekspansi Turki Utsmani. Orkhan meninggal tahun 1359 dan mewariskan kesultanan yang berkembang pesat kepada puteranya Murad I.

Pengganti Sultan Orkhan adalah Sultan Murad I. Murad I dikenal sebagai sosok yang sangat pemberani, dermawan, dan agamis. Ia sangat kokoh memegang semua aturan dan berlaku adil pada rakyat dan tentaranya. Selain memantapkan keamanan di dalam negerinya, Sultan juga meneruskan perjuangan dan menaklukkan beberapa daerah ke benua Eropa. Ia menaklukkan Adrianopel, yang kemudian dijadikan sebagai Ibu Kota kerajaan yang baru yang kelak lebih terkenal dengan nama Edirne.

(5)

Bayazid adalah putra sekaligus pengganti Murad I. Ia meneruskan perjuangan ayahnya dengan memperluas wilayahnya seperti Eiden, Sharukan, dan Mutasya di Asia Kecil dan Negeri-negeri bekas kekuasaan Bani Saluki. Kemudian Paus Bonifacius mengadakan penyerangan terhadap pasukan Bayazid, dan peperangan inilah yang merupakan cikal bakal terjadinya Perang Salib.

Ekspansi Kesultanan Utsmani sempat terhenti beberapa lama. Tentara Mongol yang dipimpin Timur Lenk melakukan serangan ke Asia Kecil. Bayazid menahan serangan Timur Lenk. Namun kemudian beliau berhasil ditawan dalam pertempuran Ankara tahun 1402. Tertangkapnya Bayazid menimbulkan perebutan kekuasaan antara anak-anak Bayazid sehingga kekuasaan Utsmani menjadi kacau. Utsmani pun kehilangan beberapa daerah kekuasaannya di Eropa dan Anatolia karena daerah tersebut memanfaatkan keadaan Utsmani yang sedang kacau untuk melepaskan diri (separatis). Muhammad I yang dapat mengatasi perebutan kekuasaan menjadi penerus tahta Ustmani selanjutnya. Sultan Muhammad I dapat mengangkat citra Turki Usmani sehingga dapat bangkit kembali, yaitu dengan menyusun pemerintahan, memperkuat tentara dan memperbaiki kehidupan masyarakat. Akan tetapi saat rakyat sedang mengharapkan kepemimpinannya yang penuh kebijaksaan itu, pada tahun 824 H (1421 M) Sultan Muhammad I meninggal.

Sepeninggalnya Sultan Muhammad I, pemerintahan diambil alih oleh Sultan Murad II. Cita-citanya adalah melanjutkan usaha perjuangan Muhammad I. Perjuangan yang dilaksanakannya adalah untuk menguasai kembali daerah-daerah yang terlepas dari Kerajaan Turki Utsmani sebelumnya. Daerah pertama yang dikuasainya adalah Asia Kecil, Salonika Albania, Falokh, dan Hungaria. Setelah bertambahnya beberapa daerah yang dapat dikuasai tentara Islam, Paus Egenius VI kembali menyerukan Perang Salib. Tentara Sultan Murad II menderita kekalahan dalam perang salib itu. Akan tetapi dengan bantuan putranya yang bernama Muhammad, perjuangan Murad II dapat dilanjutkan kembali yang pada akhirnya Murad II kembali berjaya dan keadaan menjadi normal kembali sampai akhir kekuasaan diserahkan kepada putranya

bernama Sultan Muhammad II (Muhammad Al-Fatih).

Saat menaiki singgasana pada tahun 1444, usia Sultan Muhammad II/Mehmed II/ yang lebih terkenal dengan nama Muhammad Al-Fatih baru berusia 12,5 tahun, penguasa termuda dari Wangsa Utsmani pada saat itu. Saat menaiki singgasana pada tahun 1444, usia Sultan Muhammad II/Mehmed II/ yang lebih terkenal dengan nama Muhammad Al-Fatih baru berusia dua belas tahun setengah, penguasa termuda dari Wangsa Utsmani pada saat itu.

Tatkala mengetahui Muhammad II diangkat menjadi Sultan Utsmani dan Murad II berada pada tempat yang jauh dari pemerintahan, dengan segera Paus Eugene IV membujuk Ladislas untuk mengkhianati perjanjian-perjanjian damai dan memanfaatkan situasi ini untuk meletuskan Perang Salib mengusir kaum Muslim dari Eropa. Dengan cepat kapal-kapal Venezia memblokade Selat Dardanela untuk mencegah diarahkan ke Varna sebuah kota pelabuhan di Laut Hitam untuk menyerang kaum Muslim dari utara. Di saat yang sama, Byzantium juga mengambil keuntungan untuk dirinya sendiri dengan melepaskan Orhan sepupu Muhammad II, tawanan mereka untuk mengklaim tahta Kesultanan Utsmani. Keadaan menjadi sangat kacau di Edirne, keresahan masyarakat akan serangan Tentara Salib dari Utara dan Barat, kerusuhan yang diakibatkan pendukung Orhan dan ketidakhadiran Murad II membuat situasi menjadi tidak terkendali. Sementara Muhammad II yang baru mempelajari cara pemerintahan juga tidak berdaya dan bingung menyikapi gejolak politik yang belum pernah dihadapinya. Dengan segera, ia meminta bantuan kepada ayahnya yang berada di Anatolia untuk segera datang dan membantunya menghadapi urusan yang sangat genting di Edirne (Roger Crowley, 2005 : 50).

Dalam pertempuran, Murad II mendapatkan kemenangan yang sangat gemilang. Hampir 20.000 pasukan gabungan yang dipimpin Hungaria dihukum atas pengkhianatan mereka. Saat situasi mulai stabil, Muhammad II segera membuat kebijakan baru sebagai manifestasi obsesinya sejak kecil, yaitu penaklukkan Kontantinopel. Sedikit demi sedikit, Muhammad II membenahi pemerintahan Utsmani agar sesuai dengan visi

(6)

besarnya untuk menaklukkan Konstantinopel. Adapun upaya dan strategi yang dilakukan Muhammad II untuk mempersiapkannya adalah sebagai berikut:

1. Menstabilkan keadaan negara

Sultan Muhammad II akan membangun sebuah benteng baru yang dibuat di wilayah Eropa, benteng yang dapat menjadi pertahanan, penyerangan sekaligus pengawasan dan kontrol pada waktu bersamaan (Roger Crowley, 2005 : 70). Selain itu, keberadaan benteng ini juga akan menjadi pemutus suplai makanan dan perlengkapan perang serta bantuan pasukan dari komunitas Genoa di Black Sea. Lebih dari itu, dengan benteng itu dia dapat menahan dan mengawasi pergerakan logistik di Konstantinopel karena Selat Bosphorus ibarat nadi utama yang mengalirkan kehidupan ke Konstantinopel. Pada 15 April 1452, pekerjaan dimulai. Muhammad II membangun benteng barunya dengan tiga menara utama yang dia dedikasikan kepada ketiga wazirnya; Halil Pasha, Zaganos Pasha dan Saruja Pasha. Masing-masing diberikan porsi pembangunan benteng berdasarkan master desain dan masing-masing wazir bertanggung jawab terhadap bagiannya sendiri, Halil Pasha diberikan bagian menara Timur dekat gerbang benteng, Saruja Pasha mendapatkan bagian sebelah Utara sementara Zaganos Pasha bertanggung jawab atas pembangunan menara bagian Selatan. Dalam pengawasan Muhammad II, pembangunan benteng berlangsung dengan sangat cepat. Tepat pada tanggal 31 Agustus 1452, benteng di Selat Bosphorus ini selesai hanya dalam 4 bulan. Muhammad II dapat menyelesaikan bangunan yang berdiri megah diatas lahan 31,250 m2 dengan tiga

menara utama dan 14 menara penjaga. Tinggi masing-masing menara berkisar antara 22 – 28 m dengan ketebalan dinding antara 5 – 7 meter. Selanjutnya, benteng ini lebih dikenal dengan nama “Rumeli Hisari”, benteng Romawi.

Sejak saat itu, tidak satupun kapal dapat melewati Selat Bosphorus tanpa pemeriksaan, Muhammad II sesungguhnya telah memutus nadi utama Konstantinopel dan menambah pengepungan terhadap Konstantinopel dengan keberadaan Rumeli Hisari. Dengan pembangunan benteng ini, Muhammad II dapat memantau logistik Konstantinopel, persenjataan dan persediaan

bahan makanannya dan juga mengetahui rumor dan setiap berita yang sangat diperlukan untuk menentukan taktik dan strategi perang nantinya. Pada 26 November, dua bulan setelah proses isolasi kepada Konstantinopel dilakukan Muhammad, dua kapal Venezia berhasil menerobos blokade Benteng Rumeli Hisari dan memberikan bantuan pangan kepada Konstantinopel, tapi tidak dengan kapal ketiga. Nasib buruk menimpa Antonio Rizzo, kapten kapal ketiga yang berniat menerobos blokade, kapalnya karam dengan sekali tembak. 2. Pembaruan sistem militer

Sultan Muhammad II melakukan pembaruan dibidang kemliteran. Ia juga menyeleksi tentaranya yang layak untuk ikut dalam divisi Janissari dan secara umum dalam pasukan Utsmani, sebagaimana Rasulullah dulu juga menyeleksi tentara yang ikut dalam perang Tabuk. Hanya yang ‘kuat’ saja yang diperbolehkan ikut. Divisi Janissari ini dikepalai oleh seorang aga, yaitu posisi setingkat jenderal dan membawahi empat brigade, yaitu brigade cemaat (pasukan depan), brigade boluk (pengawal inti Sultan) dan brigade sekban. Masing-masing brigade terdiri dari beberapa orta (satu orta sama seperti batalyon yang terdiri dari 300-1300 tentara) yang setingkat dengan batalion dan dipimpin oleh corbaci (kolonel). Beberapa catatan sejarawan menunjukkan bahwa pada akhir awal abad ke-15, senjata api telah diperkenalkan pada tentara Janissari walaupun jumlahnya belum banyak, namun pedang, tombak dan panah tetap mendominasi sebagai senjata Janissari. Berbeda dengan Janissari, divisi Sipahi Kesultanan Utsmani adalah asli Turki, keberadaan mereka sama tuanya seperti sejarah Turki sendiri. Pasukan ini dibagi menjadi pasukan infanteri dan kavaleri, baik dengan pakaian zirah yang berat ataupun ringan. Senjata yang digunakan pada umumnya adalah tombak, panah dan pedang, walaupun ada juga yang menggunakan gada dan kapak. Mereka dikenal oleh pasukan Eropa karena ketangkasan, kecepatan geraknya dan seolah dapat muncul darimana saja. Pada masa Muhammad II, pasukan Sipahi mencapai 40.000 personil yang siap menerima perintah Sultan sebagai komandan tertinggi Kesultanan Utsmani (Felix Y. Siauw, 2011 : 108). Dalam laporan dan

(7)

pertanggung-jawaban, Sultan Muhammad II menjadikan Sultan sebagai satu-satunya orang yang dapat memerintah Janissari, bukan wazir ataupun yang lainnya. Pemimpin Janissari atau aga melaporkan hanya kepada Sultan dan hanya menerima instruksinya bukan yang lain. Ini menjadikan bahaya kudeta atau perpecahan terhindar dari pasukan Utsmani.

3. Modernisasi persenjataan

Selain dari pembaruan sebuah sistem militer, Muhammad II juga melakukan modernisasi persenjataan dengan meminta para penasehatnya untuk memanggil ahli senjata dari Italia untuk menjelaskan secara rinci sistem perang kaum Kristen Barat.

Orban direkrut menjadi ahli pembuat senjata Sultan Muhammad II Tiga bulan berikutnya, orban membuat meriam-meriam, meriam paling besar yang pernah dilihat siapapun pada zamannya. Lima meriam awal yang diselesaikan orban dengan panjar 4,2 m dipasang di rumeli hisati untuk pengamanan Selat Bosphorus. Meriam inilah yang menghancurkan kapal Antonio Rizzo pada November 1452. Mengetahui keefektifan meriam barunya, Sultan memerintahkan Orban untuk mencari cara agar ukuran dan kekuatan meriam dapat digandakan. Cetakan baru dari campuran tanan liat, serta linen dan jerami, dibuat dengan ukuran 8,2 meter. Cetakan meriam baru ini terdiri dari dua bagian, yaitu bagian depan dengan lubang peluru berdiameter 70 cm. Sedangkan bagian kedua dipersiapkan sebagai tempat bubuk mesiu. Dinding meriam bagian belakang ini lebih tebal untuk menahan tekanan akibat ledakan. Untuk menempatkan cetakan ini, lubang yang sangat besar digali ditanah. Cetakan ini kemudian didirikan dengan moncong meriam menghadap kebawah, sedangkan inti cetakan yang akan membentuk lubang peluru dibentuk dari tanah liat yang telah dikeringkan, ditempatkan di tengah sehingga menyisakan ruang kosong untuk dipenuhi dengan cairan panas leburan tembaga dan timah. Di sekeliling cetakan tanah liat diperkuat dengan batu, kayu, besi dan tanah serta pasir basah, untuk menahan berat logam cair yang dituangkan. Orban benar-benar membuat meriam sepanjang lebih dari 8 m dengan diameter lebih dari 0,7 meter,

yang dapat dimasuki pria dewasa dengan berlutut di dalamnya, dengan tebal bibir meriam 20 cm dari logam padat. Pelurunya dibuat dari batu yang dibentuk laksana bola dengan berat 700 kg per peluru.

Orban melanjutkan pekerjaannya untuk membuat meriam-meriam lain untuk sang Sultan. Walaupun tidak satupun meriam setelahnya yang lebih besar dari “monster raksasa”, tetapi tetap saja ukurannya lebih besar dari meriam standar, ukurannya bervariasi dengan rata-rata 4,2 meter.

Penaklukkan Konstantinopel

Muhammad II mengerahkan seluruh pasukannya untuk bergerak menuju Konstantinopel pada awal musim semi tahun 1453, dengan pasukan pelopor yang mendirikan perkemahan dekat dengan tembok Theodosius pada 2 April, hari Senin Paskah. Tiga hari kemudian Muhammad II tiba dengan sisa pasukannnya, sebuah pasukan berjumlah sekitar 80.000 orang, mendirikan markas yang terlihat dari Gerbang St. Romanus, di tengah-tengah Tembok Theodosius. Kemudian sang Sultan mempersiapkan persenjataan meriamnya. Yang paling utama adalah meriam raksasa yang disebut meriam Orban, yang bisa menembakkan bola meriam batu seberat 500 kilogram sejauh satu setengah meter. Pengeboman pertama dimulai pada 6 April, dengan bola meriam raksasa Orban menghantam tembok daratan dengan akibat yang mematikan. Tetapi, setiap malam seluruh masyarakat Konstantinopel bahu membahu memperbaiki kerusakan di tembok itu dengan diiringi nasihat dan semangat sang Kaisar sendiri (Felix Y. Siauw, 2011 : 128-129).

Armada Turki berhasil dipukul mundur saat berusaha menembus rantai pertahanan di teluk Tanduk Emas. Pada 18 April, pasukan darat Turki meluncurkan serangan tiba-tiba dibagian dinding yang mengalami kerusakan paling parah. Walaupun dengan serangan yang ganas dan kondisi tembok yang sudah hancur, penyerbuan itu berhasil dipatahkan. Dua hari kemudian empat kapal laut tiba dengan persediaan dari Genoa dan Sisilia, mengelabui kapal perang Turki yang mencoba mencegahnya masuk ke kota melalui Tanduk Emas. Pengeboman Turki berlanjut hingga Minggu 27 Mei dan kerusakan yang cukup

(8)

parah terjadi di Kota Konstantinopel, melihat keadaan yang semakin terdesak dari pasukan bertahan. Muhammad II mengirimkan pesan kepada Pasukan bertahan Kota Konstantinopel untuk menuntut penyerahan tanpa syarat, dan Sultan menawarkan untuk membiarkan Konstantin pergi tanpa dilukai untuk mendirikan negara di tempat lain di bawah pengawasan kekhalifahan Utsmani. Selain itu Sultan juga akan berbelas kasihan dengan rakyat kota itu bila mereka menyerah; bila tidak mereka akan menghadapi peperangan yang dahsyat. Konstantin menolak tawaran Sultan sehingga, Muhammad II memerintahkan para wazirnya untuk memulai persiapan penyerangan habis-habisan atas kota itu, dan menjanjikan tiga hari penjarahan kepada pasukannya saat mereka berhasil menguasai Konstantinopel. Menurut hukum Islam, sebuah kota yang berhasil direbut dengan kekuatan bersenjata boleh dijarah selama tiga hari (John Freely, 1996 : 218-219).

29 Mei 1453 tidak hanya menjadi klimaks antara Utsmani dan Byzantium, lebih daripada itu, ini adalah penentuan dan kompetisi antara Salib dan Sabit, clash between cross and crescent. Di satu sisi, seorang panglima muda yang cerdas dan penuh ambisi meraih janji utusan tuhannya, di sisi yang lain seorang Kaisar yang mewarisi masalah besar kerajaannya di ujung kejayaan dan sejarah panjang Romawi, mati-matian mempertahankan gerbang Kristen Barat.

Sultan membagi pasukannya menjadi dua gelombang oleh pasukan Azap, pasukan non reguler yang merupakan bagian paling besar dari pasukan Utsmani, sedangkan pasukan kedua disusun dari para Akinci dan Sipahi, pasukan Antolia dan Eropa dengan perlengkapan perang yang lebih baik dan lebih terlatih daripada pasukan Azap. Sedangkan serangan dibagi menjadi tiga titik utama, yaitu tembok Mesoteichion antara gerbang St. Romanus dan gerbang Charisian di lembah Lycus sebagai titik pusat dari serangan. Dua titik lainnya adalah istana Blachernae serta gerbang militer II di sebelah Selatan tembok. Pasukan laut juga diperintahkan sebisa mungkin menyerang melalui laut Marmara dan Teluk Tanduk Emas (Felix Y. Siauw, 2011: 241).

29 Mei 1453 tidak hanya menjadi klimaks antara Utsmani dan Byzantium, lebih daripada itu, ini adalah penentuan dan kompetisi antara Salib dan Sabit, clash between cross and crescent. Di satu sisi, seorang

panglima muda yang cerdas dan penuh ambisi meraih janji utusan tuhannya, di sisi yang lain seorang Kaisar yang mewarisi masalah besar kerajaannya di ujung kejayaan dan sejarah panjang Romawi, mati-matian mempertahankan gerbang Kristen Barat.

Sultan membagi pasukannya menjadi dua gelombang oleh pasukan Azap, pasukan non reguler yang merupakan bagian paling besar dari pasukan Utsmani, sedangkan pasukan kedua disusun dari para Akinci dan Sipahi, pasukan Antolia dan Eropa dengan perlengkapan perang yang lebih baik dan lebih terlatih daripada pasukan Azap. Sedangkan serangan dibagi menjadi tiga titik utama, yaitu tembok Mesoteichion antara gerbang St. Romanus dan gerbang Charisian di lembah Lycus sebagai titik pusat dari serangan. Dua titik lainnya adalah istana Blachernae serta gerbang militer II di sebelah Selatan tembok. Pasukan laut juga diperintahkan sebisa mungkin menyerang melalui laut Marmara dan Teluk Tanduk Emas (Felix Y. Siauw, 2011 : 241).

Keadaan semakin mendesak, Sultan Muhammad II kini dihadapkan kepada dua pilihan sulit. Semua pasukannya telah dikerahkan, artileri terus menerus ditembakkan tanpa henti selama 54 hari, 5.400 peluru telah menghantam tembok Konstantinopel dan memporakporandakannya, namun kesemuanya belum mampu menghabisi perlawanan pasukan bertahan. Tersisa pada Sultan satuan tempur terkhir, pasukan elit Janissari yang telah dia persiapkan untuk menjadi pasukan tebaik. Jumlah mereka mungkin tertinggal hanya 7.000 orang saat itu. Apabila ia mengerahkan pasukan Janissari secara besar-besaran maka hanya ada dua kemungkinan ekstrim; apakah Konstantinopel dapat direbut, ataukah dia harus mengangkat pengepungan karena semua pasukannya telah terluka (Felix Y. Siauw, 2011: 245). Muhammad II mengambil keputusan cepat dengan mengerahkan pasukan Janissari. Akhirnya garis pertahanan Konstantinopel lumpuh. Sultan Muhammad II kemudian memasuki pusat Kota Konstantinopel pada tanggal 29 Mei 1453.

Kemenangan tentara Islam Kesultanan Turki Utsmani di bawah pimpinan Sultan Muhammad II terhadap tentara Romawi Timur (Byzantium) yang ditandai dengan direbutnya Ibu Kota Konstantinopel sekaligus yang mengakhiri kekuasaan Kerajaan Romawi Timur (Byzantium) pada tanggal 29 Mei 1453,

(9)

membuka sejarah peranan negara berideologi Islam ke dalam percaturan politik antarbangsa. Dampak Jatuhnya Konstantinopel Terhadap Konstalasi Sosial, Ekonomi Dan Politik

Kemenangan tentara Islam Kesultanan Turki Utsmani di bawah pimpinan Sultan Muhammad II terhadap tentara Romawi Timur (Byzantium) yang ditandai dengan direbutnya Ibu Kota Konstantinopel sekaligus yang mengakhiri kekuasaan Kerajaan Romawi Timur (Byzantium) pada tanggal 29 Mei 1453, membuka sejarah peranan negara berideologi Islam ke dalam percaturan politik antarbangsa. Adapun dampak yang terjadi akibat dari jatuhnya Konstantinopel adalah sebagai berikut:

Dampak Sosial: Kaum Muslim diantara penghuni baru itu segera membangun Masjid atau mengubah Gereja-Gereja Byzantium sebagai Masjid seperti yang dilakukan Sultan Muhammad II atas Aya Sophia. Kemudian penduduk yang bukan beragama Islam dikelompokkan ke dalam millet atau “bangsa”, menurut agamanya. Sehingga millet Yunani dipimpin patriark Ortodoks yang sebelum penaklukkan ditiadakan oleh Kekaisaran Romawi melalui sebuah perjanjian, bangsa Armenia dipimpin patriark Gregorian, dan Yahudi dipimpin kepala rabi. Kewenangan yang diberikan Sultan Muhammad II tak hanya urusan keagamaan, tetapi juga pada sebagian besar masalah hukum selain kasus kriminalitas, yang harus ditangani hakim-hakim sang Sultan. Dan sistem millet, yang dilanjutkan penerus Sultan Muhammad II sampai akhir Kekaisaran Utsmani, menjadi sebuah alat dalam kebijakan pemerintah, sesuatu yang berjalan dengan baik dalam negara Utsmani yang berkarakter multi-etnis. (Jhon Freely, 1996 : 230).

Dampak Ekonomi: Kota Konstantionopel sebagai kota perdagangan pada hakikatnya merupakan sebuah negara kecil. Hal ini disebabkan karena Konstantinopel tidak hanya dihuni oleh para pedagang, tetapi juga menjadi pusat industri barang-barang untuk keperluan hidup bahkan juga untuk keperluan ekspor ke tempat lain. Pasca jatuhnya Konstantinopel ke tangan pemerintah Kesultanan Turki, arus pelayaran di wilayah Mediterania praktis dikuasai secara mutlak oleh Turki Utsmani. Hal ini berakibat pada terhambatnya interaksi (perdagangan) Barat dan Timur, apalagi dengan permusuhan yang terjadi antara Turki (Islam)

dan Barat akibat Perang Salib. Perdagangan antara Eropa dan dunia Timur mengalami kemunduran, bahkan terputus. Wilayah di sekitar Laut Tengah yang sebelumnya ramai dikunjungi para pedagang dari berbagai negara menjadi sepi. Hal ini menyebabkan keguncangan perekonomian di wilayah sekitar Laut Tengah Mediterania (Badri K. Yatim, 1999: 155). Sementara itu Konstantinopel sendiri mengalami perkembangan yang sangat pesat di bawah kekuasaan Turki Utsmani yang menjadikan Ibu Kotanya yang baru. Kota Konstantinopel yang merupakan pusat perdagangan dan pelayaran yang ramai, sehingga dapat menghasilkan devisa yang sangat besar bagi Turki Utsmani. Di samping itu Konstantinopel adalah gudang Ilmu Pengetahuan dari peradaban Bangsa Yunani. Karena itu Bangsa Turki memperoleh derajat yang tinggi dalam pengetahuan, kesenian dan kebudayaan yang mereka ambil dari peradaban Yunani

Dampak politik: Kemenangan tentara Islam tersebut dalam perjalanan sejarah selanjutnya menjadi pemicu terjadinya imperialisme dan kolonialisme di masa berikutnya. Diambil alihnya Kota Konstantinopel, yang namanya kemudian diganti menjadi Istanbul, oleh para penakluk Turki menyebabkan perubahan pola pemerintahan di Konstantinopel. Pada saat Konstantinopel berada di bawah kekuasaan Byzantium puncak pemerintahan ada ditangan Kaisar. Kaisar berhak mengangkat pembesar-pembesar Gereja, dan juga yang memutuskan mengenai perselisihan dogma agama. Dengan jatuhnya Konstantinopel ke tangan Turki Utsmani secara otomatis pola pemerintahannya berada di bawah kendali Turki. Pola pemerintahan Turki Utsmani dipimpin oleh seorang Sultan sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan yang dibantu oleh seorang wazir agung atau grand wazir, dan sejumlah wazir yang mengendalikan militer dan pemerintahan provinsi serta pelayanan sipil (Colin Imber, 2009 ; 212).

SIMPULAN

Pada masa pemerintahan Sultan Muhammad II bin Murad II, Turki Utsmani mencoba untuk menaklukkan Konstantinopel. Sultan Muhammad II melakukan persiapan yang sangat matang dengan penuh perhitungan.

(10)

Sultan Muhammad II mengetahui untuk dapat menaklukkan Konstantinopel, ia harus memajukkan dan mengkondusifkan negaranya terlebih dahulu. Maka dari itu Sultan Muhammad II mencoba untuk menstabilkan keadaan negaranya. Karena pada saat itu terjadi beberapa gejolak politik dan ancaman baik dari dalam maupun dari pihak luar.

Muhammad II belajar dari peristiwa-peristiwa pengepungan Konstantinopel sebelumnya bahwa kota itu tidak akan dapat ditaklukkan selama mereka masih dapat menerima bantuan lewat jalur laut. Oleh karena itu, Muhammad II segera memerintahkan gubernurnya di setiap wilayah, khususnya di kota-kota pelabuhan seperti Gallipoli, Sinop dan Izmit yang memiliki tersane (tempat pembangunan kapal) untuk berkonsentrasi membangun kapal-kapal perang dalam pembebasan Konstantinopel dari 1451-1453.

Setelah melakukan persiapan-persiapan yang matang Muhammad II mengerahkan seluruh pasukannya untuk bergerak menuju Konstantinopel pada awal musim semi tahun 1453, dengan pasukan pelopor yang mendirikan perkemahan dekat dengan tembok Theodosius pada 2 April, hari Senin Paskah. Tiga hari kemudian Muhammad II tiba dengan sisa pasukannnya, sebuah pasukan berjumlah sekitar 80.000 orang, mendirikan markas yang terlihat dari Gerbang St. Romanus, di tengah-tengah Tembok Theodosius. Kemudian, Sultan mempersiapkan persenjataan meriamnya. Yang paling utama adalah meriam raksasa yang disebut meriam Orban, yang bisa menembakkan bola meriam batu seberat 700 kilogram sejauh satu setengah meter. Pengeboman pertama dimulai pada 6 April.

Setelah pengepungan selama 54 hari akhirnya tembok Konstantinopel berhasil dibobol. Yang berada di barisan paling depan adalah Sultan Muhammad II sendiri lalu diikuti oleh para ulama, sesepuh dan para pemuka negara. Di bawah hujan api dan panah, pasukan Turki Utsmani bergerak maju. Sultan Muhammad memasuki Konstantinopel pada hari Selasa, 20 Jumadilawal 857 H / 29 Mei 1453 M. Sejak itu Konstantinopel berada di bawah kekuasaan Kesultanan Turki Utsmani.

Keberhasilan penaklukkan Konstantinopel oleh pasukan Turki Utsmani di bawah pimpinan Sultan Muhammad II ini berdampak langsung terhadap beberapa aspek kehidupan seperti, sosial, ekonomi dan politik di Konstantinopel dan secara tidak langsung

juga berdampak kepada Bangsa Barat karena peranan Konstantinopel yang sangat krusial sebagai pertemuan antara Dunia Barat dan Dunia Timur. Adapun dampak yang terjadi terhadap kehidupan sosial adalah kerukunan masyarakat yang terdiri dari berbagai macam jenis bangsa, Bangsa Islam memiliki toleransi terhadap bangsa lain, jadi bangsa-bangsa yang berada di Konstantinopel pun merasa nyaman, karena yang tidak memeluk Islam hanya dikenakan pajak. Sedangkan yang mau memeluk Islam diberikan jabatan dalam daerah-daerah yang ditaklukkan. Jadi, kenyamanan tersebut akan menimbulkan harmonisasi dalam masyarakat Konstantinopel.

Dampak ekonomi yang terjadi pasca jatuhnya Konstantinopel ke tangan pemerintah Kesultanan Turki, arus pelayaran di wilayah Mediterania praktis dikuasai secara mutlak oleh Turki Utsmani. Hal ini berakibat pada terhambatnya interaksi (perdagangan) Barat dan Timur, apalagi dengan permusuhan yang terjadi antara Turki (Islam) dan Barat akibat Perang Salib. Kemunduran perdagangan di Laut Tengah dan terputusnya hubungan antara dunia Timur dan Eropa menimbulkan kesulitan bagi bangsa Eropa untuk mendapatkan rempah-rempah. Akibatnya, rempah-rempah dari dunia Timur menjadi barang langka dan harganya sangat mahal. Hal itu tentu saja menimbulan kegoncangan perekonomian di Eropa. Dampak lainnya, mendorong bangsa Eropa mencari langsung ke dunia Timur sebagai tempat penghasil rempah-rempah melalui penjelajahan Samudera. Sementara itu Konstantinopel sendiri mengalami perkembangan yang sangat pesat dibawah kekuasaan Turki Utsmani yang menjadikan Ibu Kotanya yang baru. Kota Konstantinopel yang merupakan pusat perdagangan dan pelayaran yang ramai, sehingga dapat menghasilkan devisa yang sangat besar bagi Turki Utsmani. Di samping itu Konstantinopel adalah gudang Ilmu Pengetahuan dari peradaban Bangsa Yunani. Karena itu Bangsa Turki memperoleh derajat yang tinggi dalam pengetahuan, kesenian dan kebudayaan yang mereka ambil dari peradaban Yunani.

Sedangkan dampak politik yang terjadi atas jatuhnya Konstantinopel adalah pada saat Konstantinopel berada di bawah kekuasaan Byzantium puncak pemerintahan ada ditangan Kaisar. Kaisar berhak mengangkat pembesar-pembesar Gereja, dan juga yang memutuskan mengenai perselisihan dogma agama. Hal ini

(11)

berbeda dengan Eropa, Kepausan Roma terlepas dari keuasaan raja atau kaisar. Bahkan Paus Roma menganggap kekuasaannya melebihi kekuasaan dari para raja yang ada di Eropa. Kekuasaan Kaisar Byzantium, termasuk Konstantinopel tergantung pada angkatan perang yang terlatih yang dibiayai dari pajak dan monopoli sutera (Jan Romein, 1956 : 51).

Dengan jatuhnya Konstantinopel ke tangan Turki Utsmani secara otomatis pola pemerintahannya berada di bawah kendali Turki. Pola pemerintahan Turki Utsmani dipimpin oleh seorang Sultan sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan yang dibantu oleh seorang wazir agung, dan sejumlah wazir yang mengendalikan militer dan pemerintahan provinsi serta pelayanan sipil.

Kemenangan Turki dan tentara Islam di Konstantinopel menampakkan kekuatan baru dalam pergaulan antar bangsa. Mereka berhasil mendobrak dominasi Eropa dan doktrin Gereja, hal mana yang sekaligus memicu kebangkitan bangsa Eropa dalam mengidentifikasi ketertinggalannya dari dunia Arab. Maka dimulailah sebuah babakan baru dalam pola interaksi antara Barat dan Islam, yang lebih banyak terjadi karena faktor permusuhan di antara kedua pihak. Dimana nantinya Eropa memasuki massa Renaissance yang membawanya kembali kepada massa kejayaannya pada ilmu pengetahuan dan tekhnologi. Kemenangan tentara Islam tersebut dalam perjalanan sejarah selanjutnya menjadi pemicu terjadinya imperialisme dan kolonialisme oleh Bangsa Barat di masa berikutnya.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad Syalabi, 1987, Sejarah dan Kebudayaan Islam. Jakarta : Penerbit Pustaka Al-Husna.

Badri K. Yatim, 1999, Sejarah Peradaban Islam. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada. Colin Imber, 2009, Kerajaan Ottoman,

1300-1650. Jakarta : Penerbit PT. Elex Media Komputindo.

Edyar, Busman dan Ilda Hayati, 2009, Sejarah Peradaban Islam. Jakarta : Pustaka Asatrus.

Felix Y. Siauw, 2011, Muhammad Al-Fatih 1453. Jakarta : Penerbit Khilafah Press.

Ismaun, 1992, Modul Pengantar Ilmu Sejarah. Bandung : Jurusan Pendidikan Sejarah, FPIPS.

J.M Romein, 1956, Aera Eropa, Peradaban Eropa Sebagai Penyimpangan dari Pola Umum. Bandung : Penerbit Gonaco N.V. Jhon Freely, 1996, Istanbul Kota Kekaisaran.

Jakarta : Penerbit PT. Pustaka Alvabet. Jhon Freely, 2009, Sultan Mehmed II Sang

Penakluk. Jakarta : Penerbit PT. Pustaka Alvabet.

Latif Osman, 1979, Ringkasan Sejarah Islam. Jakarta : Penerbit Widjaya.

Moh. Nazir, 1988, Metode Penelitian. Jakarta : Ghalia Indonesia.

Philip K. Hitti, T.T., History of the Arabs. Jakarta : Penerbit PT. Serambi Ilmu Semesta.

Roger Crowley, 2005, 1453 Detik-Detik Jatuhnya Konstantinopel ke Tangan Muslim. Jakarta: Penerbit PT. Pustaka Alvabet.

Soebantardjo, 1960, Asia-Australia. Yogyakarta: Penerbit Bopkri.

(12)

Figur

Memperbarui...

Related subjects :