PENDAMPINGAN PROGRAM SWASEMBADA DAGING SAPI (PSDS) DI KABUPATEN BARRU, SULAWESI SELATAN

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

PENDAMPINGAN PROGRAM SWASEMBADA DAGING SAPI

(PSDS) DI KABUPATEN BARRU, SULAWESI SELATAN

(Mentoring Program for Beef Sufficiency Program in

the District Barru, South Sulawesi)

SYAMSU BAHAR

Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sulawesi Selatan, Jl. Perintis Kemerdekaan Km. 17,5, Makassar

ABSTRACT

The implementation of mentoring program for beef sufficiency program/program swasembada daging sapi (PSDS) is carried out on Bali cattle development program unit in the village of Lompo Tengah, sub district Tanete Riaja, the district of Barru, South Sulawesi. At this location there is Sipurennue farmer group who received society direct loan/bantuan pinjaman langsung masyarakat (BPLM) for reinforcement of venture capital fund group/penguatan modal usaha kelompok (PMUK). Assistance activities were carried out on cattle maintenance system to improve cow reproduction and feeding management by the application of component feed technology for fattening consists of the basic feeding and concentrates. Fedding Practice was offering forages every day as much as 10 – 15% of body weight and concentrate every day as much as 1% of body weight as supplement feeding. The concentrate contented crude protein between 14 – 16%. Results showed that calving interval was about 19.8 months in the existing farming system. This was due to weaning and mating system of cattle was not optimal. Fattening steers for 90 days with initial body weight between 125 – 329.8 kg or average 234.6 kg, resulted in final body weight ranging from 184 – 365 kg or averaging 270 kg, thus there was 35.4 kg average gain or average daily gain (ADG) of 0.4 kg/head/day.

Key Words: Cattle, Forage, Reproduction

ABSTRAK

Pelaksanaan kegiatan pendampingan Program Swasembada Daging Sapi (PSDS) dilaksanakan pada unit program pengembangan sapi Bali di Desa Lompo Tengah, Kecamatan Tanete Riaja, Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan. Di lokasi ini terdapat kelompok tani Sipurennue yang menerima dana bantuan pinjaman langsung masyarakat (BPLM) untuk digunakan sebagai dana penguatan modal usaha kelompok (PMUK). Kegiatan pendampingan dilakukan pada sistem pemeliharaan ternak sapi untuk perbaikan reproduksi induk sapi dan inovasi teknologi perbaikan pakan dengan cara penerapan komponen teknologi pakan sapi untuk penggemukan terdiri dari pemberian pakan dasar dan pakan konsentrat. Pemberian pakan dasar berupa hijauan segar setiap hari sebanyak 10 – 15% dari bobot badan sapi dan pemberian pakan penguat (konsentrat) setiap hari sebanyak 1% dari bobot badan sapi. Kandungan nutrisi protein kasar konsentrat antara 14 – 16%. Hasil pendampingan menunjukkan bahwa jarak beranak (calving interval) masih panjang yaitu sekitar 19,8 bulan dengan sistem pemeliharaan yang ada keadaan reproduksi induk sapi masih menjadi kendala. Hal ini disebabkan belum optimalnya sistem penyapihan dan perkawinan sapi. Adapun hasil penggemukan sapi jantan dengan bobot badan awal antara 125 – 329,8 kg atau rataan 234,6 kg, dilakukan pemberian pakan penggemukan selama 90 hari dan diperoleh bobot badan akhir berkisar 184 – 365 kg atau rataan 270 kg, dengan demikian terdapat selisih kenaikan bobot badan sebesar 35,4 kg. Bila dikalkulasi rataan kenaikan bobot badan per hari sebesar 0,4 kg/ekor/hari.

(2)

PENDAHULUAN

Program pembangunan Kabupaten Barru masih mengandalkan sektor pertanian, perkebunan, peternakan dan perikanan serta dukungan dari sektor perdagangan yang memberikan kontribusi terhadap pergerakan perekonomian. Hal ini dapat dilihat dari sumbangan sektor pertanian sebesar 49,22% terhadap PDRB Kabupaten Barru yang besarnya 701,64 milyar (BAPPEDA KAB. BARRU, 2005).

Kegiatan pendampingan berupa model diseminasi inovasi teknologi. Salah satu inovasi teknologi yang dapat diterapkan pada kegiatan Program Swasembada Daging Sapi (PSDS) khususnya jenis sapi Bali adalah perbaikan pengelolaan pakan yang merupakan potensi agribisnis sapi dengan melakukan penggemukan sapi (fattening) dan pembibitan (breeding) sehingga memiliki nilai jual yang lebih tinggi. Pengembangan bidang peternakan di Kabupaten Barru diprioritaskan pada pengembangan peternakan rakyat guna mendorong diversifikasi pangan dalam rangka mencukupi kebutuhan protein hewani, yaitu daging.

Potensi ternak sapi di Kabupaten Barru cukup besar yang populasinya tahun 2008 sebesar 39.413 ekor, pada tahun 2009 meningkat menjadi 47.337 ekor (ANONIMUS, 2010) potensi ini dapat dikembangkan kualitasnya menjadi produk unggulan. Pengembangan bidang peternakan di Kabupaten Barru diprioritaskan pada pengembangan Peternakan rakyat guna mendorong diversifikasi pangan dalam rangka mencukupi kebutuhan protein hewani, yaitu daging.

Untuk pembibitan sapi dalam rangka meningkatkan populasi perlu aplikasi teknologi penyapihan dini agar supaya diperoleh anak sapi bakalan yang baik. Penyapihan dini dilakukan pada saat umur anak sapi 7 – 8 bulan, hal ini akan berdampak selain dapat anak sapi yang baik, juga dapat memperpendek jarak beranak bagi induknya. Usaha peningkatan laju reproduksi untuk memproduksi anak dapat dicapai melalui penyapihan dini dan suplementasi pakan untuk anak yang disapih dan induknya (CLARKet al., 1995). Menurut WIRDAHAYATI dan BAMUALIM (1990) bahwa anak sapi yang masih menyusu sama induknya lebih dari 6 bulan sudah tidak

efektif lagi, harus segera disapih karena produksi susu induk sapi Bali hanya mencukupi kebutuhan anak sapi hingga minggu ke-10 periode menyusui atau 2,5 bulan, sedangkan pada periode berikutnya produksi susu induk sapi sudah menurun.

MATERI DAN METODE

Pendampingan kegiatan PSDS sapi potong pada unit PSDS yang tersebar pada tujuh kecamatan. Unit PSDS yang sudah ada berupa bantuan langsung kepada kelompok tani baik berupa uang tunai maupun berupa ternak sapi. Waktu pengembalian dana sesuai dengan kontrak yang sudah disepakati oleh kedua belah pihak yaitu pemerintah daerah dengan kelompok tani penerima bantuan. Pembuatan demplot teknologi perbaikan pakan sapi potong untuk usaha penggemukan sapi pada salah satu lokasi PSDS yaitu di Desa Lompo tengah, Kecamatan Tanete Riaja. Demplot ini merupakan tempat pembelajaran bagi petani peternak sapi potong dalam hal pemeliharaan sapi agar diperoleh sapi yang sehat dan berkualitas baik.

Penetapan lokasi dan waktu pelaksanaan Lokasi kegiatan demplot dilaksanakan di Desa Lompo Tengah, Kecamatan Tanete Riaja, Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan. Waktu pelaksanaan dalam TA 2010 di lokasi kelompok tani Sipurennue yang menerima bantuan pinjaman langsung masyarakat (BPLM) untuk dana penguatan modal usaha kelompok (PMUK).

Identifikasi dan karakterisasi

Kegiatan ini merupakan pendataan keadaan sapi awal dan keadaan sapi akhir, keadaan sapi yang lahir, sapi yang dijual/dipotong, sapi yang mati, dan keadaan penggemukan sapi.

Sosialiasi

Sosialisasi merupakan kegiatan untuk memperkenalkan teknologi pertanian yang akan diterapkan kepada petani yang meliputi latar belakang, tujuan, keluaran, dan prosedur

(3)

pelaksanaannya. Pada sosialisasi ini diharapkan partisipasi petani dengan dukungan pemerintah daerah setempat dalam pelaksanaan kegiatan pendampingan.

Penetapan petani koperator

Penetapan petani kooperator yang dilibatkan dalam kegiatan ini adalah berdasarkan kriteria petani yang mempunyai motivasi untuk berkembang dan berpotensi menjadi petani pelopor dalam mengadopsi dan menyebarluaskan teknologi peternakan. Penerapan komponen teknologi

Teknologi reproduksi yaitu penyapihan dini dan pengaturan kawin. Komponen teknologi pakan sapi penggemukan terdiri dari pemberian pakan dasar berupa hijauan segar dan pakan penguat (konsentrat). Pemberian pakan dasar berupa hijauan segar setiap hari sebanyak 10 – 15% dari bobot badan sapi terdiri dari campuran rumput gajah dan daun gamal. Pemberian pakan penguat (konsentrat) setiap hari sebanyak 1% dari bobot badan sapi berupa campuran dedak padi 60% dan bungkil kelapa 40% dengan kandungan protein kasar 14 – 16%. Pengamatan

Pengamatan kegiatan di lapangan adalah untuk mendapatkan data berdasarkan perkembangan sapi yang dimiliki kelompok tani. Pengamatan meliputi pencatatan anak yang lahir, mati, dijual mulai dari awal pemilikan sapi. Penimbang sapi untuk mengukur pertambahan bobot hidup penggemukan sapi selama 90 hari. Umur sapi jantan penggemukan rata-rata 2,5 tahun.

HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan kelompok tani

Pelaksanaan pendampingan PSDS

dilakukan di Desa Lompo Tengah, Kecamatan Tanete Riaja, Kabupaten Barru. Kelompok tani yang terpilih adalah Kelompok tani Sipurennue penerima bantuan dana Bantuan Pinjaman

Langsung Masyarakat (BPLM) yang

pemanfaatannya untuk Penguatan Modal Usaha Kelompok (PMUK) sejak tahun 2006 untuk usaha pengadaan sapi. Anggota kelompok tani tersebut ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan Bupati Barru Nomor: 143 Tahun 2006, Tanggal 20 Maret 2006, Tentang Penetapan kelompok tani ternak penerima bantuan pinjaman langsung masyarakat satuan kerja pembinaan dan pengembangan peternakan provinsi Sulawesi Selatan tahun anggaran 2006. BPLM ini ditujukan untuk penguatan modal usaha berdasarkan Surat Perjanjian/ Kontrak Nomor: KT.S/Kp/07-2006, Tanggal 17 Juli 2006, Tentang Pemanfaatan dana penguatan modal usaha kelompok dalam rangka kegiatan bantuan pinjaman langsung masyarakat tahun 2006. Isi perjanjian tersebut antara lain setiap anggota (20 orang) menerima masing-masing 10 juta rupiah dengan bunga pinjaman 0,5% per tahun selama lima tahun. Pengembaliannya pada tahun ke-5 yakni tahun 2011. Dana pinjaman tersebut berupa uang tunai yang digunakan untuk pembelian ternak sapi 3 ekor per anggota. Sampai saat ini di akhir tahun 2010 sudah memasuki tahun ke-5 dan sebagian besar petani sudah dapat mengembalikan modal usaha yang dipinjamnya. Keadaan sapi awal dan akhir

Pelaksanaan pendampingan inovasi teknologi sapi potong dilakukan dengan pendataan keadaan sapi di awal bantuan dan keadaan sapi di akhir bantuan telah dilakukan selama pendampingan ini berlangsung. Keadaan sapi diawal penerimaan pada tahun 2006 adalah sebanyak 59 ekor terdiri dari 20 ekor sapi jantan dan 39 ekor sapi betina. Bantuan dari pemerintah daerah Kabupaten Barru ini berupa penguatan modal usaha kelompok (PMUK) untuk pengadaan ternak sapi bagi masing-masing anggota kelompok tani memelihara 1 ekor sapi jantan dan 2 ekor sapi betina. Kemudian selama pemeliharaan sapi diawal tahun 2006 hingga keadaan sapi akhir pada tahun 2010 sebanyak 112 ekor terdiri dari sapi jantan sebanyak 43 ekor dan sapi betina sebanyak 69 ekor. Hal ini berarti pertambahan populasi sapi jantan sebesar 115% sedangkan sapi betina sebesar 76,9%. Peningkatan jumlah populasi sapi tersebut hanya diukur keadaan

(4)

Tabel 1. Jumlah sapi di awal dan akhir pada kelompok tani Sipurennue

Populasi awal (tahun 2006) Populasi akhir (tahun 2010) Nama petani

Jantan Betina Jumlah Jantan Betina Jumlah

Mahmud R. 1 2 3 2 4 6 Jupri Nur 1 2 3 6 4 10 Arief 0 3 3 2 5 7 Baha 1 2 3 1 3 4 Bahri 1 2 3 4 5 9 Daha 1 2 3 2 5 7 Darwis 1 2 3 2 3 5 Juha 2 1 3 2 1 3 Juhardin 1 2 3 2 4 6 Agus 1 2 3 1 4 5 Muha 1 2 3 4 2 6 Mure 1 2 3 1 5 6 Nurung 1 2 3 1 3 4 Ramli 1 2 3 4 2 6 Ruse 1 2 3 2 3 5 Samsuddin 1 2 3 1 5 6 Samsuddin P. 1 2 3 1 2 3 Sumardin 1 2 3 0 3 3 Supu 1 2 3 3 4 7 Wahyu 1 1 2 2 2 4 Jumlah 20 39 59 43 69 112

diawal dan diakhir, keadaan ini belum termasuk ternak sapi yang dijual atau dipotong selama pemeliharaan. Bila diperhitungkan juga dengan jumlah ternak yang lahir maka jumlah ternak sapi akan lebih tinggi lagi. Dengan adanya bantuan ini petani sangat antusias untuk memelihara sapi, baik sebagai sapi pembibitan juga sebagai sapi penggemukan. Hanya saja pada pembibitan sapi induk terkendali dengan ketersediaan sapi pejantan. Umumnya petani menjual sapi jantannya jika sudah cukup umur dan sudah ada kesesuaian harga dengan pembeli.

Keadaan sapi lahir, dijual dan mati

Selama pemeliharaan dari tahun 2006 s/d 2010 terdapat sapi yang lahir, sapi yang dijual

atau dipotong dan sapi yang mati. Jumlah sapi yang lahir sebanyak 97 ekor terdiri dari sapi jantan 53 ekor dan sapi betina 44 ekor. Hal ini berarti kelahiran sapi jantan sebesar 54,6% dan kelahiran sapi betina sebesar 45,4%. Adapun sapi yang dijual atau dipotong untuk konsumsi sebanyak 44 ekor terdiri dari sapi jantan 34 ekor dan sapi betina 10 ekor. Hal ini berarti bahwa persentase jumlah sapi jantan yang dijual sebesar 77,3% dan sapi betina sebesar 22,7%. Besarnya persentase sapi jantan yang dijual disebabkan permintaan daging yang juga meningkat. Sedangkan persentase sapi betina yang dijual rendah disebabkan petani masih menyimpan sebagai penghasil bibit (anak sapi). Untuk usaha pembibitan maka sapi betina harus dipertahankan selama masih dalam umur produktif. Sapi betina hanya dapat dijual atau dipotong bila sudah tidak produktif lagi.

(5)

Tabel 2. Jumlah sapi yang lahir, dijual dan mati pada kelompok tani Sipurennue

Sapi yang lahir Sapi dijual/dipotong Sapi yang mati

Nama petani

Jantan Betina Jumlah Jantan Betina Jumlah Jantan Betina Jumlah

Mahmud R. 3 2 5 2 2 Jupri Nur 3 2 5 2 2 Arief 2 3 5 0 1 1 Baha 3 3 6 2 2 Bahri 3 2 5 1 2 3 Daha 2 3 5 1 1 Darwis 4 2 6 1 1 Juha 2 2 4 4 4 Juhardin 2 3 5 1 1 2 Agus 2 2 4 2 2 1 1 Muha 3 2 5 2 2 Mure 3 3 6 3 3 Nurung 3 1 4 3 3 Ramli 4 2 6 1 2 3 Ruse 1 3 4 1 2 3 1 1 Samsuddin 2 4 6 1 1 1 1 2 Samsuddin P. 4 4 4 4 Sumardin 1 2 3 2 1 3 Supu 4 2 6 2 2 Wahyu 2 1 3 1 1 Jumlah 53 44 97 34 10 44 1 4 5

Biasanya betina dapat dipelihara sampai berumur 10 tahun masih dapat menghasilkan anak. Pengamatan dalam pendampingan ini menunjukkan bahwa selama pemeliharaan terdapat juga sapi yang mati sebanyak 5 ekor terdiri dari 1 ekor sapi jantan dan 4 ekor sapi betina. Semua sapi yang mati adalah sapi dalam usia dewasa, bukan pada sapi usia muda atau pedet sapi. Kematian sapi perlu diminimalkan agar kerugian tidak terjadi akibat kesalahan penanganan sapi. Penanganan yang baik akan mengurangi risiko kematian sapi.

Keadaan reproduksi sapi

Keadaan reproduksi ternak (sapi Bali) selama pemeliharaan dapat dilihat dari jumlah kelahiran dan jarak beranak. Reproduksi sapi ini sangat penting untuk usaha

pengembang-biakan dalam rangka peningkatan populasi. Sapi-sapi betina produktif sengaja dipertahankan sebagai penghasil bibit (anak). Rata-rata jumlah kelahiran dalam periode 2006 – 2010 adalah 2,6 ekor dengan jarak beranak 19,8 bulan. Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan jumlah sapi masih rendah yang dilihat dari jarak beranak masih panjang. Jarak beranak yang ideal adalah 12 bulan sehingga sapi induk dapat melahirkan anak satu ekor per tahun. Di kelompok tani ini jarak beranak sapi sangat bervariasi, namun sudah ada 1 orang petani yang jarak beranak sapinya 12 bulan. Usaha peningkatan laju reproduksi untuk memproduksi anak dapat dicapai melalui penyapihan dini dan suplementasi pakan untuk anak yang disapih dan induknya (CLARKet al., 1995). Menurut WIRDAHAYATI dan BAMUALIM (1990) bahwa anak sapi yang masih menyusu pada induknya lebih dari 6 bulan sudah tidak

(6)

Gambar 1. Jumlah kelahiran dan jarak beranak per pertani periode 2006 – 2010

efektif lagi, harus segera disapih karena produksi susu induk sapi Bali hanya mencukupi kebutuhan anak sapi hingga minggu ke-10 periode menyusui atau 2,5 bulan, pada periode berikutnya produksi susu induk sapi sudah menurun.

Selanjutnya menurut WINUGROHO (2002) bahwa strategi pemberian pakan tambahan untuk memperbaiki efisiensi reproduksi induk sapi. Pemberian konsentrat selama 2 bulan pre-partum sampai 2 bulan post-partum akan menaikkan presentase kelahiran di atas 69% dan menurunkan persentase kematian pedet dibawah 6%. Komposisi ransum konsentrat adalah bungkil kelapa, onggok, tapioka, dedak padi dan mineral dengan kandungan protein kasar 17% dan TDN 72%. Jika konsentrat sulit dipenuhi maka dapat digantikan dengan daun leguminosa pohon seperti daun tanaman gamal, daun lamtoro dan daun turi.

Keadaan penggemukan sapi

Penggemukan sapi dilakukan dengan menentukan sapi jantan umur 2,5 tahun yang siap untuk digemukkan. Dari hasil seleksi terdapat 11 ekor sapi jantan yang siap digemukkan diperoleh dengan bobot badan awal antara 125 s/d 329,8 kg atau rataan bobot badan awal adalah 234,6 kg. Penggemukan dilakukan selama 90 hari dan diperoleh bobot badan akhir berkisar 184 s/d 365 kg atau rataan

270 kg. Dengan demikian terdapat selisih kenaikan bobot badan sebesar 35,4 kg. Bila dikalkulasi kenaikan bobot badan per hari bervariasi antara 0,06 s/d 0,76 kg per ekor per hari atau rataan sebesar 0,4 kg/ekor/hari. Berfluktuasinya pertambahan bibir badan harian disebabkan petani mengalami masa sibuk mengolah sawah dan menanam padi. Kegiatan penggemukan sapi ini masih bersifat sampingan sedangkan kegiatan utama adalah usahatani padi. Pada pengamatan saat petani mengolah sawah terjadi penurunan bobot badan sapi. Hal ini disebabkan petani kurang memperhatikan jumlah pakan yang diberikan. Setelah aktivitas di sawah berkurang, maka petani kembali memperhatikan pemberian pakan pada sapi penggemukaannya. Hal ini memberi dampak pertambahan bobot badan sapi yang meningkat lagi karena pemberian pakan sudah teratur. Untuk usaha bisnis penggemukan sapi perlu adanya manajemen yang ketat terhadap pemeliharaan dan pemberian pakan, karena petani selama ini tidak memperhitungkan curahan tenaga yang disalurkan untuk memelihara sapi.

Potensi sumber daya ternak sapi mendukung PSDS

Potensi ternak (sapi Bali) di lokasi PSDS Kabupaten Barru menunjukkan potensi yang cukup besar yang populasinya terus meningkat Jumlah kelahiran Jarak beranak (bulan)

19,2 19,2 28,8 16 19,2 24 19,2 16 12 19,2 19,2 16 24 16 24 16 24 32 16 16 19,2 28,8 16 24 19,2 16 12 19,2 19,2 16 24 16 24 16 24 32 16 2,5 2,5 1,7 3,0 2,5 2,5 3,0 4,0 2,5 2,0 2,5 3,0 2,0 3,0 2,0 3,0 2,0 1,5 3,0 3,0

(7)

Gambar 2. Bobot badan awal dan bobot akhir sapi jantan penggemukan (kg/ekor)

Gambar 3. Pertambahan bobot badan harian sapi jantan penggemukan (kg/ekor/hari)

mulai tahun 2004 sebesar 33.246 ekor hingga tahun 2009 sebesar 47.337 ekor. Potensi ini dapat dikembangkan kuantitas dan kualitasnya

menjadi produk unggulan daerah.

Pengembangan bidang peternakan sapi di Kabupaten Barru diprioritaskan pada pengembangan peternakan rakyat guna mendorong diversifikasi pangan untuk mencukupi kebutuhan protein hewani, yaitu kebutuhan daging. Namun sebagian besar dari populasi sapi yang ada saat ini pemeliharaannya dengan cara digembalakan di padang rumput alam, sedangkan kondisi padang penggembalaan alam yang sangat

rendah nilai nutrisi pakannya sehingga suplementasi protein dalam ransum pakan sangat diperlukan untuk pertumbuhan sapi. Menurut DALZELL et al. (2006) bahwa suplementasi protein sangat penting bagi sapi yang digembalakan pada padang rumput alam yaitu membutuhkan protein kasar sebesar 13% untuk pertumbuhannya. Sumber protein yang murah dapat diperoleh dari pemberian daun leguminosa antara lain daun lamtoro.

Populasi sapi tahun 2009 sebesar 47.337 ekor (DISNAK KAB. BARRU, 2010) dengan keragaman ternak bervariasi antara jantan dan betina dan antara sapi anak, sapi muda dan sapi

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 0,25 0,52 0,10 0,35 0,06 0,76 0,20 0,25 0,61 0,52 Sapi 0,36 kg/ ekor 400 350 300 250 200 150 100 50 0 329,8 229,8 254,5 314,5 289,8 219,3 125,0 245,0 119,3 209,8 204,0 365,0 254,0 305,0 324,0 324,0 225,0 199,3 265,0 184,0 269,8 254,0 BB awal BB akhir

(8)

Tabel 3. Populasi ternak (sapi Bali) per kecamatan di Kabupaten Barru tahun 2004 – 2009 Tahun Kecamatan 2004 2005 2006 2007 2008 2009 Tanete Riaja 8.494 8.578 10.622 10.966 11.724 11.417 Pujananting 9.578 9687 7.937 8.193 8.767 9.450 Tanete Rilau 3.597 3.688 3.018 3.124 3.343 4.726 Barru 4.873 5.434 4.800 4.955 5.302 6.985 Balusu 2.167 2.216 2.997 3.091 3.307 4.490 Soppeng Riaja 2.962 3.034 3.003 3.098 3.315 5.498 Mallusetasi 1.575 1.606 3.302 3.407 3.645 4.771 Jumlah 33.246 34.243 35.679 36.834 39.413 47.337

dewasa. Sapi betina masih berpotensi untuk dijadikan sebagai sumber sapi bakalan bibit karena jumlahnya masih lebih banyak dibandingkan dengan dengan sapi jantan. Hanya yang perlu dijaga adalah pemotongan betina produktif, karena hal ini akan menyebabkan pengurasan populasi. Sapi yang dipotong selama tahun 2009 sebanyak 1.848 ekor terdiri dari jantan 1.202 ekor dan betina 647 ekor. Produksi daging sapi tahun 2009 sebanyak 231.222 kg. Hal ini berarti kontribusi daging per satu ekor adalah 125 kg. Selanjutnya adalah pengeluaran sapi selama tahun 2009 sebanyak 342 ekor ke berbagai daerah antara lain ke kabupaten Pangkep, Soppeng, Pinrang dan Sidrap.

KESIMPULAN

Keadaan ternak (sapi Bali) di lokasi pendampingan PSDS menunjukkan jarak beranak (calving interval) masih panjang yaitu sekitar 19,8 bulan. Pengembangbiakan sapi (breeding) dapat diperbaiki dengan cara penyapihan diri (earlyweaning) pedet sapi pada umur 7 – 8 bulan dan pengaturan waktu kawin (control mating) induk sapi 2 – 3 bulan setelah melahirkan. Teknologi penggemukan sapi (fattening) dengan pakan hijauan berupa rumput dan leguminosa serta konsentrat menunjukkan rataan pertambahan bobot badan harian 0,4 kg/ekor/hari. Hasil kegiatan pendampingan PSDS dapat diamati secara kualitatif dengan indikator minat petani terhadap teknologi perbaikan pakan dan teknologi perbaikan reproduksi yaitu penyapihan dini. Dari hasil kegiatan ini disarankan agar dijadikan sebagai

model pengelolaan ternak sapi sehingga pendampingan teknologi tetap terjaga dan ditingkatkan fungsinya sebagai tempat pembelajaran bagi petani sekitarnya.

DAFTAR PUSTAKA

BAPPEDA KAB.BARRU. 2005. Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Kabupaten Barru Tahun 2005 – 2010. Badan Perencanan Pembangunan Daerah Kabupaten Barru. DISNAK KAB. BARRU. 2010. Laporan Tahunan

Keadaan Perkembangan Peternakan Kabupaten Barru. Dinas Peternakan Kabupaten Barru. CLARK, R., T. COWAN, K. ADAY, M.GILBERT, D.

GRAMSHAW, R. HOLROYD, P. JOHNSTON, M. JOSEY,N.MACLEOD,J.MCIVOR,G.MCKEON, J.MILLER,N.O’DEMPSEY,G.REASON and M. WEGEHER. 1995. Integrated management for sustainable forage-based livestock systems in the tropics. CSIRO Division of Tropical Crops and Pastures. 306 Carmody Rd. St. Lucia, Queensland 4067.

DALZELL,S.,M.SHELTON, B. MULLEN,P.LARSEN and K. MCLAUGHLIN. 2006. Leucaena: A Guide to Establishment and Management. PARTRIDGE, I. (Ed.). Published by Meat & Livestock Australia (MLA) Limited, Sidney, NSW, Australia. p. 70.

WINUGROHO, M. 2002. Strategi pemberian pakan tambahan untuk memperbaiki efisiensi reproduksi induk sapi. J. Litbang Pertanian. 21(1): 19 – 23.

WIRDAHAYATI, R.B. dan A. BAMUALIM. 1990. Penampilan produksi dan struktur populasi ternak sapi Bali di pulau Timor, NTT. Laporan Tahunan 1989/1990. Sub Balitnak Lili, Kupang.

(9)

DISKUSI

Pertanyaan:

1. Yakinkah saudara bahwa sapi Bali lebih tepat dibandingkan dengan sapi BX? 2. Berapa jarak beranak dan mortalitas anak dan ADG sapi yang digemukkan?

Jawaban:

1. Sapi Bali lebih tepat untuk peternakan rakyat karena sebagian besar dimiliki petani. Petani cocok pakan lokal.

2. Jarak beranak 12 – 19,8 bulan, mortalitas 5 – 10% pertambahan bobot badan harian sapi yang digemukkan adalah 0,4 – 0,6 kg/ekor/hari.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :