• Tidak ada hasil yang ditemukan

Efektivitas penggunaan media video dalam pendidikan Agama Katolik di SDK Sang Timur Yogyakarta - USD Repository

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "Efektivitas penggunaan media video dalam pendidikan Agama Katolik di SDK Sang Timur Yogyakarta - USD Repository"

Copied!
187
0
0

Teks penuh

(1)

i

EFEKTIVITAS PENGGUNAAN MEDIA VIDEO DALAM PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK DI SDK SANG TIMUR

YOGYAKARTA

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Keagamaan Katolik

Oleh: Santi Utami NIM: 141124027

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KEAGAMAAN KATOLIK JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA

(2)
(3)
(4)

iv

PERSEMBAHAN

(5)

v MOTTO

(6)
(7)
(8)

viii ABSTRAK

Judul skripsi EFEKTIVITAS PENGGUNAAN MEDIA VIDEO DALAM PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK DI SDK SANG TIMUR YOGYAKARTA dipilih berdasarkan keingintahuan penulis akan sejauh mana penggunaan media video efektif atau tidak dalam proses pembelajaran Pendidikan Agama Katolik.

Media video adalah salah satu alat bantu guru dalam proses belajar mengajar dengan menampilkan nilai-nilai tradisi dan spiritualitas kisah-kisah dalam kitab suci. Tujuan pendidikan agama katolik adalah memperkembangkan iman siswa.

Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan metode pra eksperimen. Populasi pada penelitian ini adalah siswa-siswi kelas V.A dan V.B SDK Sang Timur Yogyarkarta dan suluruh populasi dijadikan sampel. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan tes (uraian) dan Skala Likert. Setelah data diperoleh, kemudian data diuji dengan uji coba terpakai untuk mengetahui apakah instrumen yang digunakan tersebut benar-benar valid dan reliable sehingga dapat digunakan untuk analisis selanjutnya. Dari hasil uji validitas instrumen ada beberapa butir instrumen yang tidak valid sehingga tidak digunakan untuk analisis selanjutnya dan dari hasil uji reliabilitas instrumen ditemukan bahwa butir instrumen masih pada taraf reliabilitas rendah.

(9)

ix ABSTRACT

The tittle EFFECTIVENESS OF VIDEO USING ON CATHOLIC RELIGIOUS EDUCATION IN SDK SANG TIMUR YOGYAKARTA is chosen based on the author’s curiosity about to what extent effectiveness of video using on catholic religious education studying proses.

Video is on of teacher tool’s on learning proccess, to show tradition value’s and spirituality stories in the bibble. The goal of catholic religious education is to development student’s faith.

The type of this research is quantitative with pra experiment method. The population on this research is the student’s on V.A and V.B class SDK Sang Timur Yogyakarta and all population become a sample. The technique of data collection on this research is done whit the test (essay) and likert scala. After obtain the data, the the data test by try out to understand whether the instrument are really valid and reliable. So that can used for next analysis from the result of instrument validity test, there are several instrument is not valid then not used on the next analysis and from the result of instrument reliability test found that the instrument item still at alow reliability level.

From result of the research with statistical description analysis show that

(10)

x

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis haturkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas segala berkat, kasih dan karunian - Nya sehingga penulis bisa menyelesaikan skripsi yang berjudul EFEKTIVITAS PENGGUNAAN MEDIA VIDEO DALAM PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK DI SDK SANG TIMUR YOGYAKARTA.

Skripsi ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat untuk menyelesaikan studi stara satu dan memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Keagamaan Katolik (PAK), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta.

Penulis menyadari kelancaran dan keberhasilan penulisan skripsi ini tidak lepas dari bimbingan, bantuan, nasehat, dukungan, doa dan motivasi dari berbagai pihak. Oleh sebab itu, penulis mengucapkan terimakasih kepada:

1. F.X. Dapiyanta, SFK., M.Pd., selaku dosen pembimbing skripsi yang telah bersedia memberikan perhatian, memberikan masukan, meluangkan waktu dan membimbing penulis dengan penuh kesabaran serta memberikan kritikan-kritikan sehingga penulis dapat semakin berkembang dan termotivasi dalam penyusunan skripsi ini dari awal sampai dengan akhir penulisan skripsi ini.

(11)

xi

3. Ibu C. Paulina S., S.Pd, M.Si, MM.Ed selaku dosen penguji ke III, yang dengan tulus hati memberikan dukungan kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

4. Dr. B. Agus Rukiyanto SJ, selaku Ketua Program Studi PAK, yang telah memberikan izin dan motivasi bagi penulis untuk mengerjakan tugas akhir ini mulai dari awal penyusunan sampai dengan akhir penyusunan skripsi ini. 5. Segenap Staf, Dosen Program Studi PAK, Fakultas Keguruan dan Ilmu

Pendidikan, Universitas Sanata Dharma, yang telah mendidik, membimbing dan memotivasi selama penulis belajar hingga menyelesaikan skripsi ini. 6. Kedua orang tua penulis, Bapak Amandus Sadan dan Ibu Yustina Ilui, yang

dengan penuh cinta memberikan doa, semangat, cinta, kasih sayang, dukungan, perhatian dan pengorbanaannya menghantar penulis hingga sampai pada jejang pendidikan S1.

7. Anggota keluarga Abang Pertama Stevanus Icho, Abang Kedua Silvanus Subarto dan Kakak Julita Saelintina, serta kepada seluruh Ipar saya yakni Seloma, Erna dan Anes dan seluruh keponakan saya Asap, Iren, Sekar, Eben dan Gempa yang senantiasa memberikan doa, dukungan, perhatian, cinta dan motivasi selama penulis belajar di PAK-USD hingga sampai pada penyelesaian skripsi ini.

(12)
(13)

xiii DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

HALAMAN PERSEMBAHAN ... iv

MOTTO ... v

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... vi

PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS ... vii

ABSTRAK ... viii

ABSTRACK ... ix

KATA PENGANTAR ... x

DAFTAR ISI ... xiii

DAFTAR LAMPIRAN ... xvii

DAFTAR TABEL ... xviii

DAFTAR GRAFIK ... xxi

DAFTAR DIAGRAM BATANG ... xxii

DAFTAR SINGKATAN ... xxiii

(14)

xiv

1. Pendidikan Agama Katolik di Sekolah ... 12

a. Hakikat Pendidikan Agama Katolik di Sekolah ... 12

b. Tujuan Pendidikan Agama Katolik di Sekolah ... 17

c. Ruang Lingkup Bahan Pendidikan Agama Katolik di Sekolah ... 20

d. Pola Pendidikan Agama Katolik di Sekolah ... 23

e. Sarana dan Prasarana Pendidikan Agama Katolik di Sekolah ... 25

f. Suasana Pelajaran Pendidikan Agama Katolik di Sekolah ... 26

2. Media Video ... 27

a. Media Pembelajaran dalam PAK ... 27

1) Pengertian Media Pembelajaran ... 27

2) Fungsi Media Pembelajaran ... 29

3) Jenis-jenis Media Pembelajaran ... 30

4) Prinsip-prinsip Penggunaan Media Pembelajaran ... 32

(15)

xv

E. Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data ... 45

1. Variabel Penelitian ... 45

B.Deskripsi Proses Pembelajaran ... 64

C.Deskripsi Hasil Penelitian ... 65

1. Deskripsi Statistik Materi Pokok Ester Perempuan Pemberani Pada Kelas V.A ... 65

a. Materi Pokok Ester Perempuan Pemberani Kelas V.A Segi Pengetahuan ... 65

b. Materi Pokok Ester Perempuan Pemberani Kelas V.A Segi Sikap Spiritual dan Sosial ... 67

c. Materi pokok Ester Perempuan Pemberani Kelas V.A Segi Keterampilan ... 69

(16)

xvi

pada Kelas V.A Segi Pengetahuan ... 71

b. Materi Pokok Maria dan Elisabeth Menanggapi Rencana Allah Kelas V.A Segi Sikap Spiritual dan Sosial ... 74

c. Materi Pokok Maria dan Elisabeth Menanggapi Rencana Allah Kelas V.A Segi Keterampilan ... 7

3. Deskripsi Statistik Materi Pokok Ester Perempuan Pemberani Pada Kelas V.B ... 79

a. Materi Pokok Ester Perempuan Pemberani Kelas V.B Segi Pengetahuan ... 79

b. Materi Pokok Ester Perempuan Pemberani Kelas V.B Segi Sikap Spiritual dan Sosial ... 81

c. Materi Pokok Ester Perempuan Pemberani Kelas V.B Segi Keterampilan ... 83

4. Deskripsi Statistik Materi Pokok Maria dan Elisabeth Menanggapi Rencana Allah Pada Kelas V.B ... 85

a. Materi Pokok Maria dan Elisabeth Menanggapi Rencana Allah Kelas V.B Segi pengetahuan ... 85

b. Materi Pokok Maria dan Elisabeth Menanggapi Rencana Allah Kelas V.B Segi Sikap Spritual dan Sosial ... 88

c. Materi Pokok Elisabeth Menanggapi Rencana Allah Kelas V.B Segi Keterampilan ... 90

D. Analisis Evaluatif ... 92

E. Pembahasan Hasil Penelitian ... 99

F. Keterbatasan Hasil Penelitian ... 108

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN ... 109

A.Kesimpulan ... 109

B.Saran ... 110

(17)

xvii

DAFTAR LAMPIRAN

LAMPIRAN Halaman

Lampiran 1: Surat Permohonan Izin Penelitian ... (1)

Lampiran 2: RPP Materi Pokok Ester Perempuan Pemberani, Maria dan Elisabeth Menanggapi Rencana Allah ... (2)

Lampiran 3: Instrumen Penelitian ... (27)

Lampiran 4: Hasil Tes Siswa ... (34)

(18)

xviii

DAFTAR TABEL

Halaman Tabel 1. Desain pascates satu kelompok ... 44 Tabel 2. Distribusi Populasi ... 45 Tabel 3. Kisi-kisi dalam materi Ester Perempuan Pemberani dan Maria dan

Elisabeth Menanggapi Rencana Allah ... 48 Tabel 4. Penentuan rtabel ... 49 Tabel 5. Validitas instrumen materi pokok Ester dan materi pokok Elisabeth

segi pengetahuan ... 50 Tabel 6. Validitas instrumen materi pokok Ester dan materi pokok Elisabeth

segi sikap ... 50 Tabel 7. Validitas instrumen materi pokok Ester dan materi pokok Elisabeth

segi keterampilan ... 51 Tabel 8. Validitas instrumern materi pokok Ester dan materi pokok Elisabeth

segi pengetahuan ... 51 Tabel 9. Validitas instrumen materi pokok Ester dan materi pokok Elisabeth

segi sikap ... 52 Tabel 10. Validitas instrumen materi pokok Ester dan materi pokok Elisabeth

segi keterampilan ... 52 Tabel 11. Keterangan penelitian Cronbach’s Alpha ... 53 Tabel 12. Reliabilitas instrumen segi pengetahuan materi pokok Ester

kelas V.A ... 53 Tabel 13. Reliabilitas instrumen segi pengetahuan materi pokok Elisabeth

kelas V.A ... 53 Tabel 14. Reliabilitas instrumen segi sikap materi pokok Ester kelas V.A ... 54 Tabel 15. Reliabilitas instrumen segi sikap materi pokok Elisabeth kelas V.A .. 54 Tabel 16. Reliabilitas instrumen segi keterampilan materi pokok Ester dan

Elisabeth kelas V.A ... 55 Tabel 17. Reliabilitas instrumen segi pengetahuan materi pokok Ester

kelas V.B ... 55 Tabel 18. Reliabilitas instrumen segi pengetahuan materi pokok Elisabeth

kelas V.B ... 55 Tabel 19. Reliabilitas instrumen segi sikap materi pokok Ester kelas V.B ... 56 Tabel 20. Reliabilitas instrumen segi sikap materi pokok Elisabeth kelas V.B ... 56 Tabel 21. Reliabilitas instrumen segi keterampilan materi pokok Ester dan

(19)

xix

Tabel 24. Tests Of Nomality Materi Pokok Ester Kelas V.B ... 61 Tabel 25. Tests Of Normality Materi Pokok Elisabeth Kelas V.B ... 62 Tabel 26. Rangkuman Deskripsi Statistik Segi Pengetahuan Materi Pokok

Ester Kelas V.A ... 65 Tabel 27. Statistik Frekuensi Segi Pengetahuan Materi Pokok Ester

Kelas V.A ... 66 Tabel 28. Rangkuman Deskripsi Statistik Segi Sikap Spiritual dan Sosial

Materi Pokok Ester Kelas V.A ... 67 Tabel 29. Materi Pokok Ester Segi Sikap Spiritual dan Sosial (tidak pernah –

selalu) Kelas V.A ... 68 Tabel 30. Rangkuman Deskripsi Statistik Segi Keterampilan Materi Pokok

Ester Kelas V.A ... 69 Tabel 31. Statistik Frekuensi Segi Keterampilan Materi Pokok Ester

Kelas V.A ... 70 Tabel 32. Rangkuman Deskripsi Statistik Segi Pengetahuan Materi Pokok

Elisabeth Kelas V.A ... 71 Tabel 33. Statistik Frekuensi Segi Pengetahuan Materi Pokok Elisabeth

Kelas V.A ... 72 Tabel 34. Rangkuman Deskripsi Statistik Segi Sikap Spiritual dan Sosial

Materi Pokok Elisabeth Kelas V.A ... 74 Tabel 35. Materi Pokok Elisabeth Segi Sikap Spiritual dan Sosial (tidak

pernah-selalu) Kelas V.A ... 75 Tabel 36. Rangkuman Deskripsi Statistik Segi Keterampilan Materi Pokok

Elisabeth Kelas V.A ... 76 Tabel 37. Statistik Frekuensi Segi Keterampilan Materi Pokok Elisabeth

Kelas V.A ... 77 Tabel 38. Rangkuman Deskripsi Statistik Segi Pengetahuan Materi Pokok

Ester Kelas V.B ... 79 Tabel 39. Statistik Frekuensi Segi Pengetahuan Materi Pokok Ester

Kelas V.B ... 80 Tabel 40. Rangkuman Deskripsi Statistik Segi Sikap Spriritual dan Sosial

Materi Pokok Ester Kelas V.B ... 81 Tabel 41. Materi pokok Ester Segi Sikap Spiritual dan Sosial (tidak pernah –

selalu) Kelas V.B ... 82 Tabel 42. Rangkuman Deskripsi Statistik Segi Keterampilan Materi pokok

Ester Kelas V.B ... 83 Tabel 43. Statistik Frekuensi Segi Keterampilan Materi Pokok Ester

Kelas V.B ... 84 Tabel 44. Rangkuman Deskripsi Statistik Segi Pengetahuan Materi Pokok

Elisabeth Kelas V.B ... 85 Tabel 45. Statistik Frekuensi Segi Pengetahuan Materi Pokok Elisabeth

(20)

xx

Materi Elisabeth Kelas V.B ... 88

Tabel 47. Materi Pokok Elisabeth Segi Sikap Spiritual dan Sosial (tidak pernah-selalu) Kelas V.B ... 89

Tabel 48. Rangkuman Deskripsi Statistik Segi Keterampilan Materi Pokok Elisabeth Kelas V.B ... 90

Tabel 49. Statistik Frekuensi Segi Keterampilan Materi Pokok Elisabeth Kelas V.B ... 91

Tabel 50. Hasil Belajar Materi Pokok Ester Kelas V.A ... 92

Tabel 51. Hasil Belajar Materi Pokok Elisabeth Kelas V.A ... 94

Tabel 52. Hasil Belajar Materi Pokok Ester Kelas V.B ... 95

Tabel 53. Hasil Belajar Materi Pokok Elisabeth Kelas V.B ... 97

Tabel 54. Hasil Ketercapaian KKM Kelas V.A materi pokok Ester ... 99

Tabel 55. Hasil Ketercapaian KKM Kelas V.A materi pokok Elisabeth ... 99

Tabel 56. Hasil Ketercapaian KKM Kelas V.B materi pokok Ester ... 99

(21)

xxi

DAFTAR GRAFIK

Halaman

Grafik 1. Normal Q-Q Plot Of Materi Pokok Ester Kelas V.A ... 59

Grafik 2. Detrended Q-Q Plot Of Materi Pokok Ester Kelas V.A ... 60

Grafik 3. Normal Q-Q Plot Of Materi Pokok Elisabeth Kelas V.A ... 61

Grafik 4. Detrended Normal Q-Q Plot Of Materi Pokok Elisabeth Kelas V.A ... 61

Grafik 5. Normal Q-Q Plot Of Materi Pokok Ester Kelas V.B ... 62

Grafik 6. Detrended Normal Q-Q Plot Of Materi Pokok Ester Kelas V.B ... 62

Grafik 7. Normal Q-Q Plot Of Materi Pokok Elisabeth Kelas V.A ... 63

Grafik 8. Detrended Nomal Q-Q Plot Of Materi Pokok Elisabeth Kelas V.B ... 63

Grafik 9. Materi pokok Ester Segi Sikap Spiritual dan Sosial (tidak pernah – selalu) Kelas V.A ... 68

Grafik 10. Materi Pokok Elisabeth Segi Sikap (tidak pernah-selalu) Kelas V.A ... 75

Grafik 11. Materi Pokok Ester Segi Sikap Spiritual dan Sosial (tidak pernah selalu) Kelas V.B ... 82

(22)

xxii

DAFTAR DIAGRAM BATANG

Halaman Diagram Batang 1. Statistik Frekuensi Segi Pengetahuan Materi Pokok Ester

Kelas V. A ... 66 Diagram Batang 2. Statistik Frekuensi Segi Keterampilan Materi Pokok Ester

Kelas V. A ... 70 Diagram Batang 3. Statistik Frekuensi Segi Pengetahuan Materi Pokok

Elisabeth Kelas V.A ... 73 Diagram Batang 4. Statistik Frekuensi Segi Keterampilan Materi Pokok

Elisabeth Kelas V.A ... 78 Diagram Batang 5. Statistik Frekuensi Segi Pengetahuan Materi Pokok Ester

Kelas V.B ... 80 Diagram Batang 6. Statistik Frekuensi Segi Keterampilan Materi Pokok Ester

Kelas V.B ... 84 Diagram Batang 7. Statistik Frekuensi Segi Pengetahuan Materi Pokok

Elisabeth Kelas V.B ... 87 Diagram Batang 8. Statistik Frekuensi Segi Keterampilan Materi Pokok

(23)

xxiii

H1 : Hipotesis Alternatif

Sig : Signifikansi

SPSS : Statistical Product and Service Sulutions

Std : Standard

C. Singkatan Lain

KBK : Kurikulum Berbasis Kompetensi KKM : Kriteria Ketuntasan Minimal Komkat : Komisi Kateketik

KWI : Konferensi Wali Gereja

Lih : Lihat

No : Nomor

PAK : Pendidikan Keagama Katolik RI : Republik Indonesia

SDK : Sekolah Dasar Katolik USD : Universitas Santa Dharma

(24)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

(25)

pengetahuan dan keterampilan, orang tua semakin kurang mampu memberi bekal bagi anak-anaknya, maka mereka menitipkan anak-anaknya pada orang yang memiliki pengetahuan khusus untuk magang keterampilan atau pekerjaan tertentu. Akhirnya disadari bahwa anak perlu mendapatkan pengetahuan dasar dan keterampilan yang kurang lebih baku, sebagai bekal pengembangan dirinya, maka mulai berkembang pendidikan formal (Supriyanti 2014: 5-6).

Pada dasarnya Pendidikan Agama Katolik merupakan tugas orang tua dan masyarakat lingkungan sekitar Gereja. Maka PAK dalam lingkup sekolah adalah melanjutkan dan melengkapi apa yang telah didapat sebelumnya. Heryatno (2008:14) berpendapat bahwa Pendidikan Agama Katolik itu harus bervisi spiritual. Spiritual berarti segala yang menyangkut ciri dasar hidup manusia. Bervisi spiritual berarti Pendidikan Agama Katolik secara konsisten berusaha memperkembangkan kedalaman hidup, jati diri atau inti hidup peserta didik. Pendidikan Agama Katolik juga secara sadar berusaha memperkembangkan kepekaan hati setiap peserta didik. Kepekaan hati yang dimaksudkan adalah keterbukaan peserta didik untuk dapat memaknai setiap pergulatan hidupnya agar semakin mampu memperteguh imannya terhadap Tuhan sesuai dengan ajaran Agama Katolik dengan tetap memperhatikan dan mengusahakan penghormatan terhadap agama dan kepercayaan lain.

(26)

ranah sikap dan keterampilan. Kecerdasan pada ranah kognitif bukanlah jaminan untuk keberhasilan dalam hidup nyata, dikatakan bahwa hanya 4-10%. Jadi 90% dari keberhasilan dalam hidup nyata lebih ditentukan oleh kecerdasan-kecerdasan lain. Oleh sebab itu, Guru Pendidikan Agama Katolik tidak boleh mengukur kemampuan siswa hanya berdasarkan ranah kognitif saja, melainkan segi sikap dan keterampilan perlu untuk dijadikan sebagai penilaian. Maka untuk dapat mencapai itu semua Pendidikan Agama Katolik perlu ditempuh melalui proses pembelajaran yang nantinya akan mengantar peserta didik untuk lebih mengetahui ranah Pendidikan Agama Katolik lebih jauh lagi dan tidak hanya berpusat pada segi kognitif.

(27)

saling berkaitan satu sama lain dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditentukan. Komponen tersebut terdiri dari tujuan, materi, metode, media dan evaluasi. Keseluruhan komponen tersebut tentunya saling berkaitan dan merupakan satu kesatuan yang tidak akan terpisahkan. Jika melihat lebih jauh lagi pada era yang semakin berkembang ini, maka ada salah satu komponen yang sangat jelas perkembangannya terus maju dan komponen tersebut adalah media.

(28)

Berdasarkan wawancara penulis kepada dua orang guru agama, di sekolah swasta katolik di Yogyakarta pada Minggu 29 April 2018. Guru pertama mengatakan sudah menggunakan media koran, video dan powerpoint. Kemudian guru kedua mengatakan sudah menggunakan media video dan media gambar. Namun guru masih merasa kesulitan dalam mencari media pembelajaran yang sesuai dengan tujuan pembelajaran. Contohnya saja media video, mereka mengungkapkan bahwa masih kesulitan dalam menemukan atau memilih video yang sesuai dengan materi atau tujuan pembelajaran yang ingin dicapai, sehingga terkadang hanya mengulang video lama dari tahun-tahun sebelumnya. Kemudian bersadarkan pengalaman PPL penulis di sebuah Sekolah Dasar swasta katolik di Yogyakarta pada tahun 2016. Penulis melihat guru-guru memang sudah menggunakan berbagai media seperti yang sudah disebutkan kedua guru tersebut, namun penulis melihat bahwa sekolah masih belum memberikan sarana yang baik untuk penunjang proses belajar-mengajar. Contohnya saat penulis mengajar dengan menggunakan media video, penulis mendapati LCD yang kurang baik sehingga tidak dapat menampilkan visual yang baik dan ditambah lagi sekolah tidak memiliki speaker sehingga penulis harus berusaha membawa speaker sendiri dan itu berlangsung selama penulis PPL.

(29)

ini lahir di saat internet tengah berkembang sehingga mereka sangat melek teknologi dan internet. Mereka sangat suka berkomunikasi dengan semua kalangan khususnya lewat jejaring sosial seperti facebook, twitter atau whatsapp. Melalui media ini mereka jadi lebih bebas berekspresi dengan apa yang dirasa, mereka cenderung berprilaku instan, menyukai kebebasan, percaya diri dan melek teknologi. Oleh karena itu, sekolah sebaiknya bisa menerima pekembangan teknologi dan internet ke dalam kegiatan belajar mengajar (Gizabenyo 2018). Dari kondisi di atas terlihat bahwa remaja kekinian kurang gemar membaca dan tidak suka terlalu banyak mendengarkan ceramah guru. Mereka lebih suka berbicara, menonton, mendengar musik secara bersamaan atau menyerap informasi dari berbagai sumber internet. Hal ini menunjukan bahwa mereka menginginkan segala sesuati serba cepat, tidak bertele-tele dan berbelit-belit. Oleh sebab itu, mereka tidak bisa lagi dengan cara-cara jaman dahulu, tetapi harus lebih kekinian. Maka mau tidak mau, guru dan sekolah harus melibatkan perangkat teknologi dalam pola pengajaran sehari-hari. Itu dilakukan agar generasi Z mampu menyerap pelajaran dengan lebih cepat dan tepat sasaran.

(30)

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas maka permasalahan diidentifikasikan sebagai berikut :

1. Sebagian guru masih kesulitan dalam menggunakan media pembelajaran yang sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.

2. Sebagian sekolah kurang menyediakan sarana yang baik bagi penunjang proses pembelajaran.

3. Siswa zaman now tidak suka belajar dengan cara lama seperti membaca dan mendengarkan banyak ceramah.

4. Dalam penilaian Pendidikan Agama Katolik guru lebih banyak memberikan penilaian pada ranah kognitif saja dan kurang memperhatikan ranah kecerdasan emosional, kecerdasan kinestetik dan kecerdasan antar pribadi.

C. Batasan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah di atas, maka skripsi ini akan membatasi kajian pada masalah media video dalam Pendidikan Agama Katolik di SDK Sang Timur Yogyakarta.

D. Rumusan Masalah

(31)

Dan rumusan masalah pada penelitian ini adalah “Bagaimanakah Efektivitas

Penggunaan Media Video dalam Pendidikan Agama Katolik di SDK Sang Timur Yogyakarta?”

E. Tujuan Penelitian

Berdasarkan permasalahan di atas, maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui sejauhmana penggunaan media video menjadi sarana yang efektif dalam Pelajaran Agama Katolik di SDK Sang Timur Yogyakarta.

F. Manfaat Penulisan

Manfaat yang diharapkan dari penelitian “Efektivitas Penggunaan Media

Video dalam Pendidikan Agama Katolik di SDK Sang Timur Yogyakarta.

1. Bagi Siwa SDK Sang Timur Yogyakarta

Siswa mendapat pengalaman belajar baru setelah belajar dengan menggunakan media video.

2. Bagi guru SDK Sang Timur Yogyakarta

(32)

menumbuhkan kekreatifan dalam menggunakan pelajaran Pendidikan Agama Katolik.

3. Bagi SDK Sang Timur Yogyakarta

Sebagai masukan bagi SDK Sang Timur Yogyakarta untuk memberikan ruang dan penyediaan media pembelajaran yang efektif yang dapat semakin menunjang proses pembelajaran.

4. Bagai mahasiswa PAK USD

Membantu mahasiswa PAK sebagai calon guru agama untuk mengembangkan penggunaan media video dalam Pendidikan Agama Katolik. 5. Bagi PAK USD

Sebagai refleksi bagi calon guru agama katolik untuk mengembangkan penggunaan media video dalam Pendidikan Agama Katolik.

G. Metode Penulisan

(33)

H. Sistematika Penulisan

Tulisan ini diberi judul “Efektivitas Penggunaan media Video dalam

Pendidikan Agama Katolik di SDK Sang Timur Yogyakarta” pembahasan dalam

penelitian ini adalah sebagai berikut:

BAB I : PENDAHULUAN

Pada bab ini menerangkan tentang pendahuluan yang meliputi: latar belakang, rumusan masalahan, tujuan penulisan, manfaat penulisan, metode penulisan dan sistematika penulisan.

BAB II : KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS

(34)

BAB III : METODOLOGI PENELITIAN

Pada bab ini membahas tentang metode penelitian yang meliputi: jenis penelitian, desain penelitian, tempat dan waktu penelitian, populasi dan sampel penelitian, teknik dan instrumen pengumpulan, teknik pengumpulan data, instrumen penelitian, pengembangan instrumen dan teknik analisis data.

BAB IV : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Pada bab ini akan membahas hasil penelitian dan analisis data “Manfaat

penggunaan media audio visual video dalam pelajaran Agama Katolik yang meliputi deskripsi hasil penelitian, pengujian hipotesis dan diakhiri keterbatasan penelitian.

BAB V : PENUTUP

(35)

BAB II

KAJIAN TEORI DAN HIPOTESIS

Pada bab II ini penulis akan membahas dan mendalami pokok-pokok Pendidikan Agama Katolik, media video dan efektivitas. Pertama Pendidikan Agama Katolik di Sekolah dibagi ke dalam enam bagian, yang meliputi: Hakikat Pendidikan Agama Katolik, tujuan Pendidikan Agama Katolik di Sekolah, ruang lingkup dan bahan Pendidikan Agama Katolik di Sekolah, pola Pendidikan Agama Katolik di Sekolah, sarana dan prasarana Pendidikan Agama Katolik di Sekolah dan suasana Pelajaran Agama Katolik di Sekolah. Kedua media video yang meliputi: Pengertian media pembelajaran, jenis-jenis media pembelajaran, prinsip-prinsip penggunaan media pembelajaran. Media video meliputi: Pengertian Video, Karakteristik video, kelebihan video dan kelemahan video. Ketiga yakni mengenai efektivitas.

A. Kajian Teori

1. Pendidikan Agama Katolik di Sekolah a. Hakikat Pendidikan Agama Katolik

(36)

Undang-undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dalam penjelasan pasal 3 menyebutkan bahwa:

Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Berdasarkan ketentuan tersebut ditegaskan bahwa strategi pertama dalam melaksanakan sistem Pendidikan Nasional adalah penataan kehidupan agama dan akhlak mulia. Hal ini menunjukkan bahwa agama juga sangat berperan penting demi terwujudnya persatuan Nasional.

Dalam konteks Gereja komunitas murid-murid Kristus, Gereja memiliki tiga tugas penting yaknipertama tugas kenabian yakni mewartakan misteri keselamatan kepada seluruh dunia dan mengajak orang menjawab panggilan Allah dan menyambut keselamatan yang ditawarkan dan ia memenuhi tugas itu dengan pelayanan sabda. Pelayanan sabda adalah tindakan gerejani (“eklesial”), suatu

(37)

Kemudian Amalorpavadass (1972: 7) mengemukakan pula bahwa “pelayanan sabda mencakup dua tahap yakni pewartaan Injil dan katekese”. Dalam konteks ini pewartaan Injil merupakan pelayanan sabda yang utama dan fundamental, namun bukan berarti katekese menjadi tidak berarti tetapi katekese juga berfungsi sebagai penyampaian sabda Allah dengan cara mengajar dan mendidik. Maka melihat hal ini tujuannya adalah agar memberi, membangun dan mendidik iman setiap pribadi sehingga semakin memperdalam penghayatan iman mereka.

Dapiyanta (2008: 5-6) berpendapat bahwa ”PAK merupakan salah satu bentuk katekese. Dengan hal itu PAK terkait pula pada fungsi katekese dan situasi sekolah. Katekese mempunyai fungsi khas melaksanakan pendidikan iman agar orang beriman kristen mencapai kedewasaan iman. Pendidikan iman yang dimaksud merupakan penciptaan situasi dan kondisi sedemikian rupa hingga orang dapat mengembangkan imannya secara bebas”. Dalam hal ini pendidikan iman bukan merupakan hasil campur tangan langsung atas perkembangan iman seseorang, karena iman pada dasarnya adalah perjumpaan rahmat Allah dan kebebasan manusia sehingga perkembangan iman seseorang pun merupakan hasil kerjasama antara rahmat Allah dan kebebasan manusia. Melihat hal ini PAK tentunya tidak berhenti pada pengetahuan tentang kebenaran-kebenaran agama saja, melainkan mesti mengolahnya dan menghantar peserta didik sampai pada iman yang dewasa, relasi dengan Kristus dan dalam keseluruhan hidupnya.

(38)

dalam PAK iman dan pengalaman menjadi yang utama. PAK yang sifatnya praktis artinya selalu menuju ke arah yang memperkembangkan dan PAK harus berawal dari pengalaman penghayatan iman, melalui refleksi dan komunikasi menuju kepada penghayatan iman yang baru yang lebih baik, sehingga iman dan pengalaman menjadi yang paling utama. Bersifat praktis juga berarti PAK lebih menekankan tindakan daripada konsep atau teori. Maka dengan sifatnya yang praktis Pendidikan Agama Katolik menjadi mediasi perkembangan iman yang berlangsung secara terus-menerus. Komunikasi semacam ini tentunya akan saling memperkaya dan meneguhkan iman para pesertanya. Iman yang sejati menunjuk hal-hal yang mendalam, hakiki dan membuat manusia merasa rindu dan ingin dekat pada Tuhan. PAK sejatinya tidak berhenti pada pengejaran agama saja melainkan proses perkembangan dan pendewasaan iman, peneguhan pengharapan dan perwujudan cinta kasih. Komunikasi iman ini akan terwujud apabila susasana pembelajaran dapat saling menghargai setiap pribadi, sehingga tidak ada lagi pengalaman yang memalukan tetapi sebaliknya pengalaman sungguh-sungguh dikomunikasikan dan direfleksikan sebagai sebuah pengalam iman dan akhirnya menunjukan pada arah hidup yang lebih baik (Heryatno 2008: 15-16).

Kemudian Heryatno (2008: 14) mengatakan juga bahwa “PAK itu harus

(39)

interioritas artinya berhubungan dengan kesadaran, kedalaman nilai hidup dan kemudian diwujud nyatakan. Oleh karena itu, Pendidikan Agama Katolik diharapkan tidak hanya mengejar prestasi akademik saja, tetapi juga memperkembangkan kejujuran, kepekaan, kebijaksanaan dan hati nurani peserta didik”.

Menurut buku guru Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti Belajar Mengenal Yesus untuk SD kelas 5 kurikulum 2013 (2017: 9) dikemukakan bahwa “Pendidikan Agama Katolik adalah usaha yang dilakukan secara terencana dan berkesinambungan dalam rangka membantu dan membimbing siswa untuk memperteguh iman sesuai ajaran iman Katolik dengan tetap memperhatikan, menghormati agama dan kepercayaan lain. Hal ini dimaksudkan untuk menciptakan keharmonisan hubungan antarumat beragama dalam masyarakat Indonesia yang majemuk demi terwujudnya semangat persatuan dan kesatuan nasional.

Maka dapat dikatakan bahwa Pendidikan Agama Katolik di sekolah merupakan salah satu bentuk usaha untuk memampukan peserta didik berinteraksi, memahami, menggumuli dan menghayati iman. Dengan kemampuan tersebut diharapkan iman peserta didik semakin diperteguh.

(40)

melainkan sampai pada proses perkembangan dan pendewasaan iman, peneguhan pengharapan dan perwujudan cinta kasih. Sedangkan PAK di sekolah adalah merupakan pendidikan yang dilakukan secara terencana dan berkesinambungan dalam rangka mengembangkan kemampuan pada peserta didik untuk memperteguh iman dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan agama Katolik, dengan tetap memperhatikan penghormatan terhadap agama lain dalam hubungan kerukunan antar umat beragama dalam masyarakat untuk mewujudkan persatuan nasional. Maka PAK merupakan bagian dari ketekese yang padahakikatnya adalah sebagai bagian dari pewartaan Injil dan pewartaan Sabda yang nantinya akan memampukan peserta didik berinteraksi, memahami, menggumuli dan sampai pada penghayatan iman yang sejati.

b. Tujuan Pendidikan Agama Katolik di Sekolah

Tujuan PAK menurut Undang-undang RI Nomor 20 Tahun 2003 yakni Pendidikan Agama dimaksudkan untuk membentuk peserta didik menjadi manusia yang beriman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia. Pada dasarnya PAK bertujuan untuk membangun dan memperkuat hidup beriman peserta dan bertakwa serta berakhlak mulia dalam rangka membentuk manusia dan bangsa Indonesia seutuhnya.

Karena PAK merupakan bagian dari katekese maka Amalpavadass (1972: 8) berpendapat bahwa “katekese bertujuan membangunkan, memelihara dan

(41)

pribadi dan berbuah dalam tindakan dan semua itu harus dipandang serta dihayati menurut terang Injil serta konsekuensinya terhadap pernyerahan pribadi yang bersangkutan kepada Kristus”.

Kemudian Riemer (1998: 124) berpendapat bahwa ”tujuan ketekse adalah

mengantarkan murid-murid hingga mampu mengambil keputusan sendiri perihal kepercayaannya. Dengan demikian, katekese tidak hanya perlu untuk membentuk pendapat atau pengetahuan mengenai ajaran Kristen, tapi juga harus mengantarkan murid menuju pergaulan dengan Tuhan”.

(42)

Disampaikan pula bahwa tujuan PAK di sekolah dapat di rumuskan secara luas dan sempit. Secara luas arah PAK ialah memperluas pengetahuan, memperteguh iman (internalisasi) dan memperkaya penghayatan iman dalam belbagai bentuk serta memperkembangkan dialog antar iman (jika terdapat peserta yang beragama lain). secara sempit arah PAK dirumuskan membantu anak menggulati hidupnya. Dengan demikian ia memperkembangkan pengetahuan dan penghayatan iman (Jacobs dalam Dapiyanta 2008: 23).

Menurut buku guru Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti Belajar Mengenal Yesus untuk Kelas V SD Kurikulum 2013 (2017: 10) dikemukan bahwa “Pendidikan Agama Katolik pada dasarnya bertujuan untuk membantu siswa dalam mengembangkan pengetahuan, keterampilan dan sikap membangun hidup yang semakin beriman. Membangun hidup beriman Kristiani berarti membangun kesetiaan pada Injil Yesus Kristus, yang memiliki keprihatinan tunggal, yakni Kerajaan Allah. Kerajaan Allah merupakan situasi dan peristiwa penyelamatan: situasi dan perjuangan untuk perdamaian dan keadilan, kebahagiaan dan kesejahteraan, persaudaraan dan kesetiaan, kelestarian lingkungan hidup, yang dirindukan oleh setiap orang dari perlbagai agama dan kepercayaan”.

(43)

penghayatan iman dalam terang Injil serta semakin terwujud pula nilai-nilai Kerajaan Allah.

c. Ruang Lingkup dan Bahan Pendidikan Agama Katolik

PWI Kateketik dalam Dapiyanta (2008: 24) dikatakan bahwa, “bahan PAK dilihat sebagai sarana, bukan tujuan. Bahan dipilih sejauh membantu pergulatan hidup beriman. Namun demikian ia bukan bahan mati. Bahan itu diharapkan dapat bersaksi tentang hidup beriman, sehingga dapat menjadi partner dialog, komunikasi. Bahan merupakan personifikasi dari nilai-nilai hidup murid, masyarakat dan tradisi kristen”.

(44)

ruang lingkup materi ialah hidup siswa, masyarakat dan Tradisi Kristen. Sehubungan dengan itu ruang lingkup di sini tidak dalam arti kehidupan tetapi juga menyangkut cara pandang mengenai hidup dan cara menjalani hidup dalam perspektif iman kristiani. Maka ini berarti juga menyangkut relasi diri tokoh beserta akibat-akibat pilihannya (Dapiyanta 2008: 33-34).

(45)

perasaan gembira murid mengikuti pelajaran. Tapi bahan ajaran juga harus dapat berfungsi sebagai cambuk untuk belajar secara teratus dan tekun”.

Ruang lingkup dalam PAK dapat dipahami pula sebagai kegiatan kurikuler, kokurikuler dan ekstrakulikuler (Dapiyanta 2011: 13). Kegiatan kokurikuler pada dasarnya masih berkaitan pada bidang studi, sedangkan kegiatan ekstrakulikuler umumnya lintas bidang studi dan dilaksanakan di luar jam belajar yang bertujuan agar peserta didik dapat mengembangkan kepribadian, bakat dan kemampuannya di berbagai bidang di luar bidang studi.

Menurut buku guru Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti Belajar Mengenal Yesus untuk Kelas V SD kurikulum 2013 (2017: 10) ruang lingkup pembelajaran dalam Pendidikan Agama Katolik mencakup empat aspek yang memiliki keterkaitan satu dengan yang lain. Keempat aspek yang dibahas secara lebih mendalam sesuai tingkat kemampuan pemahaman peserta didik adalah sebagai berikut.

1) Pribadi Siswa: ruang lingkup ini membahas tentang diri sebagai laki-laki atau perempuan yang memiliki kemampuan dan keterbatasan, kelebihan dan kekuarangan, yang dipanggil untuk membangun relasi dengan sesama serta lingkungannya sesuai dengan Tradisi Katolik

(46)

3) Gereja: ruang lingkup ini membahas makna Gereja, agar peserta didik mampu mewujudkan kehidupan menggereja.

4) Masyarakat: ruang lingkup ini membahas tentang perwujudan iman hidup bersama di tengah masyarakat sesuai dengan Tradisi Katolik.

d. Pola Pendidikan Agama Katolik 1) Pola Pergumulan

(47)

2) Pola Naratif-Eksperensial

Naratif berarti bahan yang dikemas dalam bentuk cerita dan diceritakan (narasi) sebagai partner yang bersaksi mengenai pengalaman serta penghayatan iman peserta (eksperiensi). Komunikasi tersebut berangkat dan menuju ke pengalaman dan penghayatan iman (eksperinsia) sehari-hari para peserta. Pada pola ini PAK cocok dengan bahan yang hidup dan sebagai partner dialog yang menarik dan tidak memaksa bukan pola indoktrinasi atau bimbingan pribadi, melainkan pola yang mengolah bahan dalam bentuk cerita. Melalui pola cerita ini akan menyapa setiap pengalaman hidup peserta secara terbuka (Dapiyanta 2008: 77).

3) Pola Yang Berpusat Pada Hidup Peserta

Pola ini menekankan pentingnya afeksi (keakraban, kebebasan di dalam prosesnya), karena inti agama dijumpai di dalam hati atau inti hidup seseorang bukan pada penguasaan dogma-dogma Gereja. Pola ini juga membantu peserta didik untuk menghayati dan memperkembangkan imannya (segi kualitas dari pada kuantitas). Disamping itu segi refleksi terhadap pengalaman merupakan bagian penting dengan maksud agar peserta dapat menemukan maknanya. Disamping itu pola ini terlalu banyak atau berhenti pada sharing pengalaman sehingga arah menjadi kabur dan tidak jelas serta evaluasinya juga tidak jelas (Heryatno 2008: 57).

(48)

pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran, yang menunjukan pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginspirasi, menguatkan dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teorietis tertentu. Dalam Pendidikan Agama Katolik, pendekatan pembelajaran lebih ditekankan pada pendekatan yang didalamnya terkandung 3 proses yaitu proses pemahaman, pergumulan yang diteguhkan dalam terang Kitab Suci/ ajaran Gereja dan pembaharuan hidup yang terwujud dalam penghayatan iman sehari-hari.

e. Sarana dan Prasarana Pendidikan Agama Katolik

Dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Pasal 45 disebutkan bahwa sarana dan prasarana Pendidikan yakni: (1) Setiap satuan Pendidikan formal dan nonformal menyediakan sarana dan prasarana yang memenuhi keperluan Pendidikan sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan potensi fisik, kecerdasan intelektual, sosial, emosional dan kewajiban peserta didik. (2) Ketentuan mengenai penyediaan sarana dan prasarana Pendidikan pada semua satuan Pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat pertama dan diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintahan.

(49)

menyampaikan pesan-pesan mengenai Kerajaan Allah kepada seluruh umat beriman, terlebih dalam lingkup sekolah yakni guru dan peserta didik, sehingga melalui media mereka mampu menerima ajaran-Nya dan mampu untuk berkomunikasi tentang imannya. Dengan demikian, harapannya iman mereka semakin berkembang dan diperkaya menurut ajaran iman Katolik tetapi tetap memberikan penghormatan terhadap agama lain.

f. Suasana Pelajaran Pendidikan Agama Katolik

Sekolah-sekolah perlu memberikan suasana yang nyaman pada seluruh peserta didiknya agar mereka merasa dihargai dan dihormati. Kemudian guru juga perlu menciptakan suasana kelas yang membuat peserta merasa krasan, senang dan membantu mereka memasuki hidupnya sendiri serta tidak kaku dan ketat agar tidak tegang dan menakutkan karena bila guru dapat memberikan suasana yang baik maka guru juga akan menjadi guru yang baik bagi peserta didiknya.

(50)

maksudnya kekeluargaan di dalam sekolah adalah suasana pendidikan yang membuat peserta didik merasa krasan, gembiara, diterima dan dipercayai. Di dalam PAK suasana reflektif dapat mempermudah peserta didik mendengar sabda Allah, suara hati sendiri dan suara komunitasnya perlu sekali diusahakan. Seperti halnya jika suasana refleksif dipadukan dengan usaha menciptakan suasana saat-saat hening jelas akanmembantu peserta didik sampai pada perkembangan diri yang bersifat utuh (Heryatno 2008: 17).

2. Media Video

a. Media Pembelajaran dalam PAK 1) Pengertian Media Pembelajaran

PAK merupakan sebuah karya katekese dan bagian dari pewartaan Injil yang prosesnya sangat khas dengan komunikasi iman. Melihat hal ini PAK tentunya membutuhkan media pembelajaran agar apa yang menjadi pesan Injil sunggguh dapat dikomunikasikan dengan baik kepada peserta didik.

Kata media berasal dari bahasa Latin medius yang secara harafiah berarti tengah, perentara atau pengantar. Menurut Gerlach & Ely (1971) dalam Arsyad (2009: 3) mengatakan bahwa “media apabila dipahami secara garis besar adalah

manusia, materi atau kejadian yang membangun kondisi yang membuat siswa mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan atau sikap”. Maka Media

(51)

dan penerima. Kemudian AECT (Association of Education and Communication Technology, 1977) dalam Nizwardi, dkk. (2016: 3) “memberikan pengertian tentang media sebagai segala sesuatu bentuk dan saluran dan saluran yang digunakan untuk menyampaikan pesan dan informasi”.

Media pembelajaran juga dapat berupa perangkat keras (hardware) dan perangakat lunak (software) (Jalinus dkk 2016: 2). Hardware adalah alat-alat yang dapat mengantarkan pesan seperti proyektor film, film bingkai, proyektor overhead, radio, video, cassette recorder dan televisi. Sedangkan software adalah isi program yang mengandung pesan-pesan yang perlu disajikan baik dengan bantuan alat penyaji maupun tanpa alat penyaji yakni contohnya buku, modul, majalah, transparansi OHP, film bingkai, radio.

(52)

2) Fungsi Media Pembelajaran

Sudiman, dkk. (1990) dalam Nizwardi, dkk (2016: 5-6) menyampaikan fungsi media secara umum yakni sebagai berikut:

a) Memperjelas penyajian pesan agar tidak terlalu bersifat visual.

b) Mengatasi keterbatasan ruang, waktu dan daya indra, misal objek yang terlalu besar untuk dibawa ke kelas dapat diganti dengan gambar, slide dan sebagainya. Peristiwa yang terjadi di masa lalu bisa ditampilkan lagi lewat film, video, fota atau film bingkai.

c) Meningkatkan kegairahan belajar, memungkinkan siswa belajar sendiri berdasarkan minat dan kemampuannya dan mengatasi sikap pasif siswa. d) Memberikan rangsangan yang sama, dapat menyamakan pengalaman dan

persepsi siswa terhadap isi pelajaran.

Fungsi media tersebut diharapkan dapat membantu proses belajar mengajar agar menjadi lebih baik dan sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.

Selain fungsi di atas Sanjaya (2014: 73-75) mengemukakan bahwa media pembelajaran memiliki lima fungsi yakni fungsi komunikatif, fungsi motivasi, fungsi kebermaknaan, fungsi penyamaan persepsi, fungsi individualitas dan akan dijabarkan sebagai berikut:

(53)

b) Fungsi motivasi yakni dengan menggunakan media pembelajaran diharapkan siswa akan lebih termotivasi dalam belajar. Media pembelajaran diharapkan juga tidak hanya mengandung unsur artistik saja akan tetapi juga memudahkan siswa mempelajari materi pelajaran sehingga dapat lebih meningkatkan gairah siswa untuk belajar.

c) Fungsi kebermaknaan yakni melalui penggunaan media, pembelajaran dapat lebih bermakna yakni pembelajaran bukan hanya dapat meningkatkan penambahan informasi berupa data dan fakta sebagai pengembangan aspek kognitif tahap rendah, akan tetapi dapat meningkatkan kemampuan siswa untuk menganalisis dan mencipta sebagai aspek kognitif tahap tinggi. Bahkan lebih dari itu dapat meningkatkan aspek sikap dan keterampilan.

d) Fungsi penyamaan persepsi yakni melalui pemanfaatan media pembelajaran, diharapkan dapat menyamakan persepsi setiap siswa, sehingga setiap siswa memiliki pandangan yang sama terhadap informasi yang disuguhkan.

e) Fungsi individualitas yakni melalui pemanfaatan media pembelajaran berfungsi untuk dapat melayani kebutuhan setiap individu yang memiliki minat dan gaya belajar yang berbeda.

3) Jenis-jenis Media Pembelajaran

(54)

a) Media Audio

Media audio berkaitan dengan indera pendengaran. Pesan yang disampaikan dituangkan ke dalam lambang-lambang auditif baik verbal maupun non verbal. Terdapat beberapa jenis media yang dapat dikelompokkan dalam media audio antara lain: radio, alat perekam pita maknetik, piringan hitam dan laboratorium bahasa (Cecep Kustandi dan Sujipto 2011: 65).

b) Media Visual

Pada media visual ini hanya melibatkan indra pengelihatan. Media ini memiliki persamaan dengan media grafis yang menyajikan rangsangan-rangsangan visual seperti dalam bentuk sketsa, gambar, foto, diagram, table dsb. Selain itu pesan-pesan visual disajikan pula dalam bebagai media massa seperti televisi, percetakan dan produksi (Hujair 2013: 113-114).

c) Media Audio Visual

(55)

d) Multimedia

Media ini disebut sebagai multimedia karena media ini merupakan kombinasi dari berbagai media yang telah disebutkan sebelumnya yaitu menggunakan audio, video, grafis dan lain sebagainya. Multimedia diarahkan kepada komputer yang perkembangannya sangat pesat dan sangat membantu dalam dunia pendidikan.

4) Prinsip-prinsip Penggunaan Media Pembelajaran

Ada sejumlah prinsip yang perlu diperhatikan dalam penggunaan media pada proses pembelajaran yakni sebagai berikut:

a) Media digunakan dan diarahkan untuk mempermudah siswa belajar dalam upaya memahami materi pelajaran. Maka penggunaan media di sini harus dipandang dari sudut kebutuhan siswa bukan dipandang dari sudut kepentingan guru (Sanjaya 2012: 75).

b) Media yang akan digunakan oleh guru harus sesuai dan diarahkan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Di sini media tidak digunakan sebagai alat hiburan atau semata - mata dimanfaatkan untuk mempermudah guru menyampaikan materi akan tetapi benar-benar untuk membantu siswa belajar sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai (Sanjaya 2012: 75-76).

(56)

d) Media pembelajaran harus sesuai dengan minat, kebutuhan dan kondisi siswa, karena setiap siswa memiliki kemampuan yang berbeda-beda (Sanjaya 2012: 76).

e) Media yang akan digunakan harus memerhatikan efektivitas dan efisiensi. Media yang mahal belum tentu efektif mencapai tujuan tertentu dan media yang sangat murah belum tentu tidak memiliki nilai. Maka setiap media yang dirancang guru perlu memperhatikan efektivitas penggunaannya (Sanjaya 2012: 76).

f) Media yang digunakan harus sesuai dengan kemampuan guru dalam mengoprasikannya karena banyak media seperti komputer, LCD dan media elektronik dan lainnya memerlukan kemampuan khusus dalam mengoprasikannya (Sanjaya 2012: 76-77).

b. Media Video

1) Pengertian Media Video

(57)

menayangkan materi pelajaran pendidikan agama katolik yang dikemas dengan baik dan sesuai dengan tujuan pembelajaran, materi dan metode.

Video adalah media yang mengirimkan lambang-lambang dalam bentuk bayangan-bayangan yang bergerak, bersuara dan berwarna yang dapat kita saksikan secara bersama. Maka tidak diherankan jika video sangat dinikmati siapa saja karena melalui video orang tersentuh seluruh perasaannya dengan melihat dan menyaksikan lambang-lambang yang ditampilkan dalam video.

Pada Pendidikan Agama Katolik media video sangat membantu dalam perkembangan pengetahun dan menjadi sarana untuk memperteguh nilai-nilai tradisi dan spiritualitas dengan program tentang kisah-kisah dalam kitab suci yang menarik ataupun dapat menyuarakan nilai-nilai dasar hidup manusia seperti keadilan, cinta kasih dan solidaritas (Hermin dalam Iswarahadi 2004: 1).

2) Karakteristik Video

Media video sebagai salah satu media pembelajaran memiliki karakteristik sebagai berikut:

(58)

b) Memiliki perangkat slow motion untuk memperlambat proses atau peristiwa yang berlangsung (Hujair 2013: 123).

c) Video dapat diulangi kembali agar menambah kejelasan sehingga pesan yang ingin disampaikan sungguh tersampaikan dengan cepat dan semakin mudah untuk diingat serta mengembangkan pikiran, imajinasi dan pendapat para peserta didik.

d) Video juga dapat memperjelas hal-hal yang abstrak dan memberikan gambaran yang lebih realistik sehingga pada akhirnya dapat memengaruhi emosi seseorang dan peserta didik dapat belajar dari video yang telah ditayangkan baik yang pandai maupun yang kurang pandai (Yuhdi 2013: 127).

3) Kelebihan Video

Media video memiliki beberapa kelebihan yang akan dijabarkan sebagai berikut:

a) Menyajikan objek belajar secara konkret atau pesan pembelajaran secara realistik sehingga sangat baik untuk menambah pengalaman belajar.

b) Sifatnya yang audio visual sehingga memiliki daya tarik tersendiri dan dapat menjadi pemicu atau memotivasi pembelajaran untuk belajar.

c) Sangat baik untuk pencapaian tujuan belajar psikomotorik.

(59)

e) Menambah daya tahan ingatan atau retensi tentang objek belajar yang dipelajari pembelajar.

f) Portable dan mudah didistribusikan (Hujair 2013: 123-124).

Kemudian Cecep Kustandi dan Sutjipto (2011: 73) mengemukankan pula mengenai kelebihan media video yang akan dijabarkan sebagai berikut:

a) Video dapat melengkapi pengalaman-pengalaman dasar siswa ketika mereka membaca, berdiskusi, parktek dan lain-lain.

b) Video dapat menggambarkan suatu proses secara tepat dan dapat disaksikan secara berulang jika diperlukan.

c) Video dapat pula mendorong dan meningkatkan motivasi dan selain itu video juga menanam sikap serta segi-segi afektif lainnya.

d) Video dapat mengundang pemikiran dan pembahasan dalam kelompok siswa bahkan video dapat membawa suasana duni kedalam kelas.

e) Video dapat menyajikan peristiwa kepada kelompok besar atau kelompok kecil, kelompok heterogen maupun perorangan.

f) Dengan teknik pengambilan gambar frame demi frame, Video yang dalam kecepatan normal memakan waktu satu minggu dapat ditampilkan dalam satu atau dua menit.

4) Kelemahan Video

(60)

a) Pengadaannya memerlukan biaya mahal.

b) Tergantung pada energi listrik sehingga tidak dapat dihidupkan di segala tempat.

c) Sifat komunikasi searah sehingga tidak dapat memberi peluang untuk terjadinya umpan balik.

d) Mudah tergoda untuk menayangkan video yang bersifat hiburan sehingga suasana belajar akan terganggu (Hujair 2013: 124).

Kemudian Cecep Kustandi dan Sutjipto (2011: 74) mengemukan mengenai kelemahan media video sebagai bahan belajar yakni sebagai berikut:

a) Pengadaan video umumnya memerlukan biaya mahal dan waktu yang banyak b) Pada saat video dipertunjukan, gambar-gambar bergerak terus sehingga tidak

semua siswa mampu mengikuti informasi yang ingin disampaikan melalui film tersebut.

c) Video yang tersedia tidak selalu sesuai dengan kebutuhan dan tujuan belajar yang diinginkan, kecuali video itu dirancang dan diproduksi khusus untuk kebutuhan sendiri.

3. Efektivitas

(61)

efektif pula kegiatan tersebut, sehingga kata efektivitas dapat diartikan sebagai suatu tingkat keberhasilan yang tercapai sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. Jika dikaitkan dengan media pembelajaran, bisa dikatakan efektif ketika mampu memberikan pengaruh, perubahan atau dapat membawa hasil yang baik, maka semikn banyak tujuan yang tercapai semakin efektif pula media pembelajaran yang digunakan tersebut.

Menurut Othenk (2008: 4) dalam literaturbook.com Susan (2014) efektivitas adalah pemanfaatan sumber daya, sarana dan prasarana dalam jumlah tertentu yang secara sadar ditetapkan sebelumnya untuk menghasilkan sejumlah kegiatan yang dijalankan. Jika hasil kegiatan semakin menedakti saasaran, berarti makin tinggi efektivitasnya.

Ada bebarapa aspek efektivitas menurut pendapat Muasaroh (2010: 13) dalam literaturbook.com Susan (2014) yakni sebagai berikut:

a. Aspek tugas atau fungsi, yaitu lembaga dikatakan efektivitas jika melaksanakan tugas dan fungsinya, begitu juga suatu program pembelajaran akan efektif jika tugas dan fungsinya dapat dilaksanakan dengan baik dan peserta didik belajar dengan baik.

b. Aspek rencana atau program adalah rencana pembelajaran yang terprogram, jika seluruh rencana dapat dilaksnakan maka rencana atau program diakatakan efektif.

(62)

berlangsungnya proses kegiatan. Aspek ini mencakup aturan-aturan baik yang berhubungan dengan guru maupun yang berhubungan peserta didik, jika aturan ini dilaksankan dengan baik berarti ketentuan atau aturan telah berlaku secara efektif.

d. Aspek tujuan atau kondisi ideal, suatu program kegiatan dikatakan efektif dari sudut hasil jika tujuan atau kondisi ideal program tersebut dapat tercapai. Penilaian aspek ini dapat dilihat dari prestasi yang dicapai peserta didik.

Menurut Covey (1997: 43) efektivitas adalah suatu fungsi dari dua hal apa yang dihasilkan atau diprodukasi dan asset yang menghasilkan atau kapasitas produksi. Jika manusia menggunakan pola kehidupan yang berfokus pada apa yang diproduksi dan mengabaikan produksi tersebut. Sebaiknya, jika manusia hanya mengurus asset tanpa memperhatikan produkasi maka manusia tidak akan memiliki persediaan yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhannya sendiri atau orang lain.

B. Penelitian Yang Relevan

Ada dua penelitian yang relevan dengan penelitian ini. Pertama, Ardianto (2015) “Efektivitas Media Video Pembelajaran “Rumahku” Terhadap Aktivitas

dan Hasil Belajar Siswa Kelas B di TK RA Perwanida Boyolali”. Berdasarkan

hasil penelitian, hasil belajar anak TK KR Perwanida 1 Boyolali setelah mengikuti pembelajaran penggunaan media video “rumahku” sangat baik terbukti dengan

(63)

diperoleh prosentase jawaban benar dalam satu kelas yakni 97,7% yang berarti video pembelajaran “rumahku” tergolong sangat efektif.

Kedua, Hasanah (2015) “Penggunaan Media Video Sebagai Sumber Belajar PAI dan Budi Pekerti Dalam Meningkatkan Nilai Keislaman Siswa Di

Kelas X 3 SMA N 3 Bantul”. Dari hasil penelitian yang didapatkan, hasil

pembelajaran dengan media video yang diperoleh siswa kelas X 3 dengan materi haji dan umroh baik. Nilai kognitif, psikomotorik maupun afektif menunjukkan nilai yang memuaskan yaitu siswa mendapatkan nilai tuntas dan nilai afektif minimal B. Penggunaan media video sebagai sumber belajar juga efektif, guru merasa lebih mudah memahami materi yang disampaikan sehingga tujuan pembelajaran tercapai.

C. Kerangka Pikir dan Hipotesis

Media video disini diposisikan sebagai variabel bebas yang nantinya akan diposisikan sebagai faktor yang memberikan efek kepada variabel terikat. Kemudian pendidikan agama katolik dipandang sebagai variabel terikat, karena hendak dilihat sebagai faktor yang mendapatkan efek dari faktor bebas.

(64)

Tujuan pendidikan agama katolik dapat tercapai dengan berbagai faktor yakni jasmani, psikologis, kematangan fisik dan psikis, lingkungan keluarga, lingkungan Sekolah dan lingkungan masyarakat. Namun yang paling besar mempengaruhi tercapaiatau tidaknya tujuan pendidikan agama katolik yakni potensi akademik siswa.

Media video adalah salah satu media yang cocok dalam proses pembelajaran karena dengan media video siswa dapat mendengar, melihat dan merasakan secara langsung. Media sendiri memiliki beberapa fungsi yakni (1) Fungsi komunikatif yakni media pembelajaran digunakan untuk memudahkan komunikasi antara penyampai pesan dan penerima pesan. (2) Fungsi motivasi yakni meningkatkan termotivasi, memudahkan siswa dalam mempelajari materi pelajaran dan meningkatkan gairah siswa untuk belajar. (3) Fungsi kebermaknaan yakni meningkatkan penambahan informasi berupa data dan fakta sebagai pengembangan aspek kognitif tahap rendah sampai tahap tinggi dan juga dapat meningkatkan aspek sikap dan keterampilan. (4) Fungsi penyamaan persepsi yakni menyamakan persepsi setiap siswa, sehingga setiap siswa memiliki pandangan yang sama terhadap informasi yang disuguhkan. (5) Fungsi individualitas yakni berfungsi untuk melayani kebutuhan setiap individu yang memiliki minat dan gaya belajar yang berbeda.

(65)

dalam proses pembelajaran sehingga penggunaan media video dalam pendidikan agama katolik dapat terlihat keefektivitasannya dari hasil pencapaian targetnya:

1. Hipotesis

Berdasarkan kerangka berpikir di atas, maka dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut:

H0 : Tidak ada pencapaian target atau hasil penggunaan media video dalam

pendidikan agama katolik di SDK Sang Timur Yogyakarta

H1 : Ada ketercapaian target atau hasil penggunaan media video dalam

(66)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

Pada bab ini penulis akan menguraikan metodologi penelitian yang akan digunakan dalam proses memperoleh data Efektivitas Penggunaan Media Video dalam Pendidikan Agama Katolik di SDK Sang Timur Yogyakarta yakni yang akan meliputi jenis penelitian, desain penelitian, tempat dan waktu penelitian, populasi dan sampel, teknik dan instrumen pengumpulan data, teknik pengembangan instrumen dan teknik analisis data.

A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah penelitian kuantitatif. Penelitian kuantitatif adalah suatu proses menentukan pengetahuan yang menggunakan data berupa angka sebagai alat menentukan keterangan mengenai apa yang ingin kita ketahui (Margono 2007: 105).

B. Desain Penelitian

(67)

memberikan tes untuk mengukur (variabel y/ Tujuan Pendidikan Agama Katolik) setelah pelakuan (pascates) (Nana Sudjana dan Ibrahim 1989: 35). Setelah diberi perlakuan dengan hasil tes, apakah mencapai target artinya nilai tes siswa-siswi melebihi KKM sebesar 76. Dari efektivitas pencapaian target berdasarkan Kompetensi Dasar Pendidikan Agama Katolik yang sudah dirancang sedemikian rupa maka harapannya penggunaan media video dalam proses pembelajaran dapat menjadi salah satu cara yang efektif untuk semakin memperkembangkan iman siswa-siswi. Disainnya sebagai berikut:

Tabel 1. Desain pascates satu kelompok Perlakuan

C. Tempat dan Waktu Penelitian

Tempat : Penelitian ini dilakukan di Sekolah Dasar Katolik Sang Timur Yogyakarta

Waktu : Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November 2018.

D. Populasi dan Sampel Penelitian

Populasi pada penelitian ini adalah siswa-siswi kelas V SDK Sang Timur Yogyakarta, kelas VA berjumlah 27 orang, VB berjumlah 26 orang dan jumlah keseluruhan adalah 53 orang. Maka penelitian ini akan menggunakan teknik

sampling jenuh. Sampling jenuh adalah teknik penentuan sampel bila semua

(68)

Tabel 2. Distribusi Populasi

Kelas VA (Lima) VB (Lima) Jumlah

Sampel 27 Orang 26 Orang 53 Orang

E. Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data 1. Variabel Penelitian

a. Identitas Variabel

Penelitian ini berjudul EFEKTIVITAS PENGGUNAAN MEDIA VIDEO DALAM PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK DI SDK SANG TIMUR YOGYAKARTA. Maka ada satu variabel yang akan diukur peneliti yakni:

Variabel terikat : Tujuan Pendidikan Agama Katolik

b. Defenisi Konseptual Variabel

1) Tujuan Pendidikan Agama Katolik adalah membantu peserta didik agar semakin dapat menggumuli pergulatan hidupnya, memperteguh iman dan memperkaya iman dalam terang injil serta semakin terwujudnya nilai-nilai Kerajaan Allah.

c. Definisi Oprasional Variabel

(69)

1.3 Beriman kepada Allah melalui kisah tokoh-tokoh Perjanjian Lama, seperti Ester.

2.3 Percaya diri dalam berinteraksi dengan sesama, dengan meneladan para tokoh Perjanjian Lama, seperti Ester

3.3 Memahami karya keselamatan Allah yang dialami tokoh-tokoh Perjanjian Lama dalam kisah Ester.

4.3 Melakukan aktivitas (misalnya menceritakan kembali/ bermain peran/ menuliskan refleksi dan sebagainya) mengenai tokoh-tokoh Perjanjian Lama seperti dalam kisah Ester (Komkat KWI, 2017:105).

(Maria dan Elisabeth Menanggapi Rencana Allah)

1.4 Beriman kepada Allah melalui karya keselamatan-Nya dalam peristiwa sengsara, wafat dan kebangkitan Yesus

2.4 Percaya diri dalam mengungkapkan imannya akan Yesus Kristus yang sengsara, wafat dan bangkit

3.4 Memahami sengsara, wafat dan kebangkitan Yesus sebagai puncak karya keselamatan Allah

(70)

2. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan tes dan Skala Likert. Tes adalah alat ukur yang diberikan kepada individu untuk mendapatkan jawaban-jawaban yang diharapkan baik secara tertulis, secara lisan ataupun secara perbuatan. Skala likert adalah skala yang digunakan untuk mengembangkan instrumen yang digunakan untuk mengukur sikap, persepsi atau pendapat seseorang. Maka dalam penelitian ini, peneliti melakukan perlakuan terhadap kelas V dengan sebanyak dua kali pertemuan. Setiap kali pertemuan dilakukan selama 105 menit (3 jam pelajaran). Setelah memberikan perlakuan peneliti memberikan tes dan skala likert untuk mendapatkan jawaban-jawaban yang diharapkan. Tes dan skala likert dilakukan langsung pada hari yang sama saat peneliti memberikan perlakuan kepada peserta didik.

3. Instrumen Penelitian

Instrumen pada penelitian adalah semua alat yang digunakan untuk mengumpulkan data sebelum ada tindakan, selama tindakan dan setelah ada tindakan (Sugiyono 2015: 191). Maka pada penelitian ini, peneliti akan mengumpulkan data setelah ada tindakan atau perlakuan. Bentuk instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah soal-soal uraian (essay) dan skala likert checklist yang berupa kata-kata antara lain: Selalu, sering, ragu-ragu dan tidak pernah.

(71)

keterampilan. Pada instrumen ini penulis akan membuat pertanyaan-pertanyaan untuk meneliti segi pengetahuan, sikap dan keterampilan berdasarkan kompetensi dasar, indikator serta materi yang sesuai dengan kelasnya. Peneliti juga membuat kunci jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang telah dibuat.

a. Kisi-kisi

Tabel 3. Kisi-kisi dalam materi Ester Perempuan Pemberani dan Maria dan Elisabeth Menanggapi Rencana Allah

(72)

c. Validitas

Validitas bekenaan dengan ketepatan alat ukur terhadap konsep yang diukur, sehingga betul-betul mengukur apa yang seharusnya diukur (Nana Sudjana dan Ibrahim, 1989: 117). Maka pada penelitian ini akan diketahui hasil uji validitas dari setiap pertanyaan-pertanyaan yang disebarkan kepada responden dan uji validitas dilakukan dengan program Microsoft Exel 2007.

Berdasalkan hasil pengambilan sampel didapatkan jumlah responden pada pertemuan pertama kelas V.A sebanyak 24 responden dan kelas V.B sebanyak 24 responden. Sedangkan pada pertemuan kedua kelas V.A sebanyak 27 responden dan kelas V.B sebanyak 22 responden. Dengan menggunakan jumlah responden yang ada, maka nilai r tabel akan diperoleh melalui table r product momen person dengan df (degree of freedom) = n-2. Diperoleh r tabel sebagai berikut:

Tabel 4. Penentuan r tabel No

.

Pertemuan Kelas Jumlah

(73)

a) Analisis validitas instrumen penelitian segi pengetahuan materi pokok Ester dan materi pokok Elisabeth pada kelas V.A

Tabel 5. Validitas instrumen materi pokok Ester dan materi pokok Elisabeth segi pengetahuan

Butir

Soal r hitung r tabel Keterangan r hitung r tabel Keterangan

Materi pokok Ester Materi pokok Elisabeth

1 0.3848 0.3438 Valid 0.7781 0.3297 Valid

2 0.6713 0.3438 Valid 0.8274 0.3297 Valid

3 0.4951 0.3438 Valid 0.3519 0.3297 Valid

4 0.7548 0.3438 Valid 0.8552 0.3297 Valid

5 0.6749 0.3438 Valid 0.8219 0.3297 Valid

b) Analisis validitas instrumen penelitian segi sikap materi pokok Ester dan materi pokok Elisabeth pada kelas V.A

Tabel 6. Validitas instrumen materi pokok Ester dan materi pokok Elisabeth segi sikap

Butir

(74)

c) Analisis validitas instrumen penelitian segi kerampilan materi pokok Ester dan materi pokok Elisabeth di kelas V.A

Tabel 7. Validitas instrumen materi pokok Ester dan materi pokok Elisabeth segi keterampilan

Butir

Soal r hitung r tabel Keterangan r hitung r tabel Keterangan

Materi pokok Ester Materi pokok Elisabeth

1 1 0.3438 Valid 1 0.3297 Valid

d) Analisis validitas instrumen penelitian segi pengetahuan pada materi pokok Ester dan materi pokok Elisabeth pada kelas V.B

Tabel 8. Validitas instrumen materi pokok Ester dan materi pokok Elisabeth segi pengetahuan

Butir

Soal r hitung r tabel Keterangan r hitung r tabel Keterangan

Materi pokok Ester Materi pokok Elisabeth

(75)

e) Analisis validitas instrumen penelitian segi sikap pada materi pokok Ester dan materi pokok Elisabeth pada kelas V.B

Tabel 9. Validitas instrumen materi pokok Ester dan materi pokok Elisabeth segi sikap

Butir

Soal r hitung r tabel Keterangan r hitung r tabel Keterangan

Materi pokok Ester Materi pokok Elisabeth

1 0.4953 0.3438 Valid 0.4298 0.3515 Valid

f) Analisis validitas instrument penelitian segi keterampilan pada materi pokok Ester dan materi pokok Elisabeth pada kelas V.B

Tabel 10. Validitas instrumen materi pokok Ester dan materi pokok Elisabeth segi keterampilan

Butir

Soal r hitung r tabel Keterangan r hitung r tabel Keterangan

Materi pokok Ester Materi pokok Elisabeth

1 1 0.3438 Valid 1 0.3515 Valid

Gambar

Tabel 1. Desain pascates satu kelompok
Tabel 2. Distribusi Populasi
Tabel 3. Kisi-kisi dalam materi Ester Perempuan Pemberani dan Maria dan
Tabel 4. Penentuan r tabel
+7

Referensi

Dokumen terkait

Pendidikan Agama Buddha adalah usaha yang dilakukan secara terencana dan berkesinambungan dalam rangka mengembangkan kemampuan peserta didik untuk

Pendidikan Agama Hindu adalah usaha yang dilakukan secara terencana dan berkesinambungan dalam rangka mengembangkan kemampuan peserta didik untuk memperteguh

Pendidikan Agama Buddha adalah usaha yang dilakukan secara terencana dan berkesinambungan dalam rangka mengembangkan kemampuan peserta didik untuk

Pendidikan Agama Katolik adalah usaha yang dilakukan secara terencana dan berkesinambungan dalam rangka mengembangkan kemampuan siswa untuk memperteguh iman dan ketakwaan kepada

Pendidikan Agama Hindu adalah usaha yang dilakukan secara terencana dan berkesinambungan dalam rangka mengembangkan kemampuan peserta didik untuk memperteguh

Pendidikan Agama Hindu adalah usaha yang dilakukan secara terencana dan berkesinambungan dalam rangka mengembangkan kemampuan peserta didik untuk memperteguh

Pendidikan Agama Kristen adalah upaya yang dilakukan secara terencana dan berkesinambungan dalam rangka mengembangkan kemampuan peserta didik untuk memperteguh imannya kepada Tuhan

Pelaksanaan Pendidikan Agama Katolik di sekolah adalah suatu usaha yang dilakukan secara terencana dan berkesinambungan dalam rangka mengembangkan kemampuan siswa untuk memperteguh iman