BAB II. KAJIAN TEORI DAN HIPOTESIS
A. Kajian Teori
1. Pendidikan Agama Katolik di Sekolah
Dalam konteks Pendidikan Nasional, Pendidikan Agama Katolik bukan hanya urusan Gereja saja tetapi juga Negara, maka secara khusus PAK diposisikan oleh Negara guna memperkuat iman ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan membina kerukunan hidup demi mewujudkan persatuan Nasional.
Undang-undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dalam penjelasan pasal 3 menyebutkan bahwa:
Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Berdasarkan ketentuan tersebut ditegaskan bahwa strategi pertama dalam melaksanakan sistem Pendidikan Nasional adalah penataan kehidupan agama dan akhlak mulia. Hal ini menunjukkan bahwa agama juga sangat berperan penting demi terwujudnya persatuan Nasional.
Dalam konteks Gereja komunitas murid-murid Kristus, Gereja memiliki tiga tugas penting yaknipertama tugas kenabian yakni mewartakan misteri keselamatan kepada seluruh dunia dan mengajak orang menjawab panggilan Allah dan menyambut keselamatan yang ditawarkan dan ia memenuhi tugas itu dengan pelayanan sabda. Pelayanan sabda adalah tindakan gerejani (“eklesial”), suatu fungsi pastoral dan pernyataan istimewa tradisi yang hidup. Melalui itulah Sabda Allah disampaikan dengan berbagai cara dan bentuk, dengan tujuan membina, menggairahkan dan memupuk iman. Pelayanan mengakibatkan Sabda Allah menjadi aktual dan relevan bagi waktu dan tempat serta kategori pendengar dengan kata-kata yang betul-betul manusiawi.Maka dalam hal tersebut dapat disimpulkan bahwa dalam konteks Gereja hakikat PAK adalah bagian dari pewartaan dan ketiga konteks tersebut tentunya saling berkaitan dan tak terpisahkan (Amalorpavadass 1972: 5-6).
Kemudian Amalorpavadass (1972: 7) mengemukakan pula bahwa “pelayanan sabda mencakup dua tahap yakni pewartaan Injil dan katekese”. Dalam konteks ini pewartaan Injil merupakan pelayanan sabda yang utama dan fundamental, namun bukan berarti katekese menjadi tidak berarti tetapi katekese juga berfungsi sebagai penyampaian sabda Allah dengan cara mengajar dan mendidik. Maka melihat hal ini tujuannya adalah agar memberi, membangun dan mendidik iman setiap pribadi sehingga semakin memperdalam penghayatan iman mereka.
Dapiyanta (2008: 5-6) berpendapat bahwa ”PAK merupakan salah satu bentuk katekese. Dengan hal itu PAK terkait pula pada fungsi katekese dan situasi sekolah. Katekese mempunyai fungsi khas melaksanakan pendidikan iman agar orang beriman kristen mencapai kedewasaan iman. Pendidikan iman yang dimaksud merupakan penciptaan situasi dan kondisi sedemikian rupa hingga orang dapat mengembangkan imannya secara bebas”. Dalam hal ini pendidikan iman bukan merupakan hasil campur tangan langsung atas perkembangan iman seseorang, karena iman pada dasarnya adalah perjumpaan rahmat Allah dan kebebasan manusia sehingga perkembangan iman seseorang pun merupakan hasil kerjasama antara rahmat Allah dan kebebasan manusia. Melihat hal ini PAK tentunya tidak berhenti pada pengetahuan tentang kebenaran-kebenaran agama saja, melainkan mesti mengolahnya dan menghantar peserta didik sampai pada iman yang dewasa, relasi dengan Kristus dan dalam keseluruhan hidupnya.
Hakikat PAK adalah sebagai komunikasi iman bukan pengajaran agama. PAK sebagai komunikasi iman perlu menekankan sifatnya yang praktis artinya di
dalam PAK iman dan pengalaman menjadi yang utama. PAK yang sifatnya praktis artinya selalu menuju ke arah yang memperkembangkan dan PAK harus berawal dari pengalaman penghayatan iman, melalui refleksi dan komunikasi menuju kepada penghayatan iman yang baru yang lebih baik, sehingga iman dan pengalaman menjadi yang paling utama. Bersifat praktis juga berarti PAK lebih menekankan tindakan daripada konsep atau teori. Maka dengan sifatnya yang praktis Pendidikan Agama Katolik menjadi mediasi perkembangan iman yang berlangsung secara terus-menerus. Komunikasi semacam ini tentunya akan saling memperkaya dan meneguhkan iman para pesertanya. Iman yang sejati menunjuk hal-hal yang mendalam, hakiki dan membuat manusia merasa rindu dan ingin dekat pada Tuhan. PAK sejatinya tidak berhenti pada pengejaran agama saja melainkan proses perkembangan dan pendewasaan iman, peneguhan pengharapan dan perwujudan cinta kasih. Komunikasi iman ini akan terwujud apabila susasana pembelajaran dapat saling menghargai setiap pribadi, sehingga tidak ada lagi pengalaman yang memalukan tetapi sebaliknya pengalaman sungguh-sungguh dikomunikasikan dan direfleksikan sebagai sebuah pengalam iman dan akhirnya menunjukan pada arah hidup yang lebih baik (Heryatno 2008: 15-16).
Kemudian Heryatno (2008: 14) mengatakan juga bahwa “PAK itu harus bervisi sipiritual. Bervisi spiritual yang berarti secara konsisten PAK terus berusaha memperkembangkan kedalaman hidup, jati diri atau inti hidup naradidik.Dengan membantu siswa memperkembangkan jiwa dan interioritas hidup mereka.jiwa merupakan tempat Allah bersemayam, sehingga membuat setiap manusia rindu kepada-Nya dan peduli kepada hidup sesamanya. Sedangkan
interioritas artinya berhubungan dengan kesadaran, kedalaman nilai hidup dan kemudian diwujud nyatakan. Oleh karena itu, Pendidikan Agama Katolik diharapkan tidak hanya mengejar prestasi akademik saja, tetapi juga memperkembangkan kejujuran, kepekaan, kebijaksanaan dan hati nurani peserta didik”.
Menurut buku guru Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti Belajar Mengenal Yesus untuk SD kelas 5 kurikulum 2013 (2017: 9) dikemukakan bahwa “Pendidikan Agama Katolik adalah usaha yang dilakukan secara terencana dan berkesinambungan dalam rangka membantu dan membimbing siswa untuk memperteguh iman sesuai ajaran iman Katolik dengan tetap memperhatikan, menghormati agama dan kepercayaan lain. Hal ini dimaksudkan untuk menciptakan keharmonisan hubungan antarumat beragama dalam masyarakat Indonesia yang majemuk demi terwujudnya semangat persatuan dan kesatuan nasional.
Maka dapat dikatakan bahwa Pendidikan Agama Katolik di sekolah merupakan salah satu bentuk usaha untuk memampukan peserta didik berinteraksi, memahami, menggumuli dan menghayati iman. Dengan kemampuan tersebut diharapkan iman peserta didik semakin diperteguh.
Berdasarkan gagasan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa Pendidikan Agama Katolik merupakan bagian dari pewartaan yakni lewat pewartaan Gereja dan pewataan di sekolah. PAK pewartaan Gereja merupakan salah satu bentuk katekese yang memiliki kekhasan yakni sebagai pendidikan iman. Pada dasarnya Pendidikan Agama Katolik juga tidak hanya berhenti pada pengajaran agama saja
melainkan sampai pada proses perkembangan dan pendewasaan iman, peneguhan pengharapan dan perwujudan cinta kasih. Sedangkan PAK di sekolah adalah merupakan pendidikan yang dilakukan secara terencana dan berkesinambungan dalam rangka mengembangkan kemampuan pada peserta didik untuk memperteguh iman dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan agama Katolik, dengan tetap memperhatikan penghormatan terhadap agama lain dalam hubungan kerukunan antar umat beragama dalam masyarakat untuk mewujudkan persatuan nasional. Maka PAK merupakan bagian dari ketekese yang padahakikatnya adalah sebagai bagian dari pewartaan Injil dan pewartaan Sabda yang nantinya akan memampukan peserta didik berinteraksi, memahami, menggumuli dan sampai pada penghayatan iman yang sejati.
b. Tujuan Pendidikan Agama Katolik di Sekolah
Tujuan PAK menurut Undang-undang RI Nomor 20 Tahun 2003 yakni Pendidikan Agama dimaksudkan untuk membentuk peserta didik menjadi manusia yang beriman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia. Pada dasarnya PAK bertujuan untuk membangun dan memperkuat hidup beriman peserta dan bertakwa serta berakhlak mulia dalam rangka membentuk manusia dan bangsa Indonesia seutuhnya.
Karena PAK merupakan bagian dari katekese maka Amalpavadass (1972: 8) berpendapat bahwa “katekese bertujuan membangunkan, memelihara dan memperkembangkan iman, sambil membaharui, memperdalam dan menyempurnakan pertobatan pertama dengan jalan membuatnya makin bersifat
pribadi dan berbuah dalam tindakan dan semua itu harus dipandang serta dihayati menurut terang Injil serta konsekuensinya terhadap pernyerahan pribadi yang bersangkutan kepada Kristus”.
Kemudian Riemer (1998: 124) berpendapat bahwa ”tujuan ketekse adalah mengantarkan murid-murid hingga mampu mengambil keputusan sendiri perihal kepercayaannya. Dengan demikian, katekese tidak hanya perlu untuk membentuk pendapat atau pengetahuan mengenai ajaran Kristen, tapi juga harus mengantarkan murid menuju pergaulan dengan Tuhan”.
Menurut Heryatno (2008: 23-24) “tujuan utama PAK yakni terwujudnya nilai-nilai Kerajaan Allah. Terwujudnya Kerajaan Allah merupakan arah utama seluruh kegiatan pendidikan di dalam iman atau PAK. Kerajaan Allah juga memampukan manusia untuk senantiasa bertobat secara integral dengan meninggalkan cara hidup yang lama dan mengenakan hidup baru. Selain itu Pendidikan Agama Katolik juga bersifat holistik. Bersifat holistik artinya sesuai dengan kepentingan hidup peserta didik, tujuan Pendidikan Agama Katolik di sekolah harus mencakup segi kognitif (pikiran), afeksi (perasaan) dan praksis (tindakan). Ketiga segi ini tidak dapat dipisahkan, tidak dapat satu unsur dilebihkan dan diabaikan. Tujuan PAK juga bersifat kognitif yakni pendidikan di dalam iman sudah diolah dan dipertimbangkan matang-matang, sehingga diyakini kebenarannya dan selanjutnya mendorong semua pihak supaya semakin setia serta konsisten mewujudkannya di dalam kenyataan hidup sehari-hari”.
Disampaikan pula bahwa tujuan PAK di sekolah dapat di rumuskan secara luas dan sempit. Secara luas arah PAK ialah memperluas pengetahuan, memperteguh iman (internalisasi) dan memperkaya penghayatan iman dalam belbagai bentuk serta memperkembangkan dialog antar iman (jika terdapat peserta yang beragama lain). secara sempit arah PAK dirumuskan membantu anak menggulati hidupnya. Dengan demikian ia memperkembangkan pengetahuan dan penghayatan iman (Jacobs dalam Dapiyanta 2008: 23).
Menurut buku guru Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti Belajar Mengenal Yesus untuk Kelas V SD Kurikulum 2013 (2017: 10) dikemukan bahwa “Pendidikan Agama Katolik pada dasarnya bertujuan untuk membantu siswa dalam mengembangkan pengetahuan, keterampilan dan sikap membangun hidup yang semakin beriman. Membangun hidup beriman Kristiani berarti membangun kesetiaan pada Injil Yesus Kristus, yang memiliki keprihatinan tunggal, yakni Kerajaan Allah. Kerajaan Allah merupakan situasi dan peristiwa penyelamatan: situasi dan perjuangan untuk perdamaian dan keadilan, kebahagiaan dan kesejahteraan, persaudaraan dan kesetiaan, kelestarian lingkungan hidup, yang dirindukan oleh setiap orang dari perlbagai agama dan kepercayaan”.
Berdasarkan gagasan di atas dapat disimpulkan bahwa PAK memiliki tujuan yang sama satu dengan yang lainnya yakni merupakan salah satu bentuk pendidikan iman agar peserta didik semakin menggumuli pergulantan hidupnya lewat sebuah komunikasi iman yang meliputi pengetahuan, pergumulan dan
penghayatan iman dalam terang Injil serta semakin terwujud pula nilai-nilai Kerajaan Allah.
c. Ruang Lingkup dan Bahan Pendidikan Agama Katolik
PWI Kateketik dalam Dapiyanta (2008: 24) dikatakan bahwa, “bahan PAK dilihat sebagai sarana, bukan tujuan. Bahan dipilih sejauh membantu pergulatan hidup beriman. Namun demikian ia bukan bahan mati. Bahan itu diharapkan dapat bersaksi tentang hidup beriman, sehingga dapat menjadi partner dialog, komunikasi. Bahan merupakan personifikasi dari nilai-nilai hidup murid, masyarakat dan tradisi kristen”.
Pada lokakarya Malino dan arah reformasi pendidikan di Indonesia, bahan merupakan sarana, bukan tujuan. Bahan ditentukan sejauh membantu pergulatan dan penghayatan hidup beriman. Baik itu kemampuannya minimal maupun yang maximal pergulatan dan penghayatannya demi kedalaman pemahaman, sebaiknya bahan ditentukan sangat minimal (sangat mungkin terselesaikan dalam waktu yang tersedia dengan proses yang mendalam) atau bahan disediakan sedemikian rupa sehingga mewakili seluruh aspek kehidupan namun sebagai alternatif yang dapat dipilih mana yang relevan dengan situasi kelas, bukan sebagai sebagai yang harus diselesaikan semuanya. Dengan demikian sangat dimungkinkan perbedaan pilihan bahan antara kelas yang satu dengan kelas yang lain, sesuai dengan situasi dan tantangan hidup kelompok murid. Namun demikian pada prinsipnya pilihan bahan sedapat mungkin diserahkan kepada pelaku PAK, siswa dan guru. Maka
ruang lingkup materi ialah hidup siswa, masyarakat dan Tradisi Kristen. Sehubungan dengan itu ruang lingkup di sini tidak dalam arti kehidupan tetapi juga menyangkut cara pandang mengenai hidup dan cara menjalani hidup dalam perspektif iman kristiani. Maka ini berarti juga menyangkut relasi diri tokoh beserta akibat-akibat pilihannya (Dapiyanta 2008: 33-34).
Riemer (1998: 147-148) berpendapat bahwa “bahan ajar merupakan isi ajaran yang diberikan konkret dalam setiap jam pengajaran. Pembahasan bahan ajar harus dilakukan belakangan, karena dalam bahan ajaran pada hakikatnya harus dinilai di bawah kepentingan situasi awal dan tujuan pengajaran. Situasi awal dan tujuan itulah yang akan menentukan isi bahan ajaran (dan seterusnya juga susunannya dan organisasinya). Jadi bahan ajaran baru dapat ditentukan setelah analisa situasi awal dan tujuan pengajaran ditetapkan. Bahan ajaran harus disesuaikan dengan hasil penyelidikan itu dan harus melayani tujuan yang telah ditentukan itu. Penentuan bahan ajaran tergantung dari analisa situasi awal dan tujuan teologis serta tujuan khusus pengajaran. Demikianlah bahan ajaran merupakan komponen ketiga dalam proses belajar. Penentuan isi dan arahnya tergantung dari tujuan yang hendak dicapai. Sedangkan tingkat dan titik tolak tergantung dari situasi awal murid-murid. Bahan ajaran terdiri dari sesuatu yang belum diketahui, atau belum pernah dilihat atau didengar oleh murid. Bahan ajaran berasal dari luar, masuk ke dalam situasi awal si murid dan dikaitkan kepada sesuatu yang sudah ada sebelumnya. Bahan ajaran itu juga harus mampu menjadi stimulans untuk meningkatkan prestasi, semangat belajar dan merangsang
perasaan gembira murid mengikuti pelajaran. Tapi bahan ajaran juga harus dapat berfungsi sebagai cambuk untuk belajar secara teratus dan tekun”.
Ruang lingkup dalam PAK dapat dipahami pula sebagai kegiatan kurikuler, kokurikuler dan ekstrakulikuler (Dapiyanta 2011: 13). Kegiatan kokurikuler pada dasarnya masih berkaitan pada bidang studi, sedangkan kegiatan ekstrakulikuler umumnya lintas bidang studi dan dilaksanakan di luar jam belajar yang bertujuan agar peserta didik dapat mengembangkan kepribadian, bakat dan kemampuannya di berbagai bidang di luar bidang studi.
Menurut buku guru Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti Belajar Mengenal Yesus untuk Kelas V SD kurikulum 2013 (2017: 10) ruang lingkup pembelajaran dalam Pendidikan Agama Katolik mencakup empat aspek yang memiliki keterkaitan satu dengan yang lain. Keempat aspek yang dibahas secara lebih mendalam sesuai tingkat kemampuan pemahaman peserta didik adalah sebagai berikut.
1) Pribadi Siswa: ruang lingkup ini membahas tentang diri sebagai laki-laki atau perempuan yang memiliki kemampuan dan keterbatasan, kelebihan dan kekuarangan, yang dipanggil untuk membangun relasi dengan sesama serta lingkungannya sesuai dengan Tradisi Katolik
2) Yesus Kristus: ruang lingkup ini membahas tentang pribadi Yesus Kristus yang mewartakan Allah Bapa dan Kerajaan Allah, seperti yang terungkap dalam Kitab suci Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, agar peserta didik berelasi dengan Yesus Kristus dan meneladani-Nya.
3) Gereja: ruang lingkup ini membahas makna Gereja, agar peserta didik mampu mewujudkan kehidupan menggereja.
4) Masyarakat: ruang lingkup ini membahas tentang perwujudan iman hidup bersama di tengah masyarakat sesuai dengan Tradisi Katolik.
d. Pola Pendidikan Agama Katolik 1) Pola Pergumulan
Pada pola pergumulan ini dirumuskan sebagai proses pembelajaran yang bertujuan agar peserta didik mampu menggumuli hidupnya dari segi pandang kristiani dan dengan demikian mudah-mudahan berkembang menjadi manusia paripurna (beriman). PAK bertolak dari hidup peserta didik dan persoalannya dalam keseharian dan dalam tugas perkembangannya hidup itulah yang diolah, dialami dan dimaknai dalam proses pembelajaran PAK. Dalam proses ini diharapkan peserta didik menemukan dan berkembang kemampuan menggumuli hidup, kemampuan mengambil keputusan berdasarkan iman kristen sehingga semakin berkembang menjadi dewasa. Sehubungan dengan itu ada langkah-langkah pembelajaran yakni: a) Menampilkan pengalaman manusia dan fakta yang membuka pemikiran atau yang dapat menjadi umpan. b) Membawa ke pengolahan sehingga mendorong proses mengetahui dan memahami secara mendalam dan meluas. c) menggumulinya sehingga peserta mempunyai kemampuan menerapkan dan mengintegrasikan dalam hidup (Dapiyanta 2008: 74).
2) Pola Naratif-Eksperensial
Naratif berarti bahan yang dikemas dalam bentuk cerita dan diceritakan (narasi) sebagai partner yang bersaksi mengenai pengalaman serta penghayatan iman peserta (eksperiensi). Komunikasi tersebut berangkat dan menuju ke pengalaman dan penghayatan iman (eksperinsia) sehari-hari para peserta. Pada pola ini PAK cocok dengan bahan yang hidup dan sebagai partner dialog yang menarik dan tidak memaksa bukan pola indoktrinasi atau bimbingan pribadi, melainkan pola yang mengolah bahan dalam bentuk cerita. Melalui pola cerita ini akan menyapa setiap pengalaman hidup peserta secara terbuka (Dapiyanta 2008: 77).
3) Pola Yang Berpusat Pada Hidup Peserta
Pola ini menekankan pentingnya afeksi (keakraban, kebebasan di dalam prosesnya), karena inti agama dijumpai di dalam hati atau inti hidup seseorang bukan pada penguasaan dogma-dogma Gereja. Pola ini juga membantu peserta didik untuk menghayati dan memperkembangkan imannya (segi kualitas dari pada kuantitas). Disamping itu segi refleksi terhadap pengalaman merupakan bagian penting dengan maksud agar peserta dapat menemukan maknanya. Disamping itu pola ini terlalu banyak atau berhenti pada sharing pengalaman sehingga arah menjadi kabur dan tidak jelas serta evaluasinya juga tidak jelas (Heryatno 2008: 57).
Menurut buku guru Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti Belajar Mengenal Yesus untuk Kelas V SD kurikulum 2013 (2017: 11) “pendekatan
pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran, yang menunjukan pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginspirasi, menguatkan dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teorietis tertentu. Dalam Pendidikan Agama Katolik, pendekatan pembelajaran lebih ditekankan pada pendekatan yang didalamnya terkandung 3 proses yaitu proses pemahaman, pergumulan yang diteguhkan dalam terang Kitab Suci/ ajaran Gereja dan pembaharuan hidup yang terwujud dalam penghayatan iman sehari-hari.
e. Sarana dan Prasarana Pendidikan Agama Katolik
Dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Pasal 45 disebutkan bahwa sarana dan prasarana Pendidikan yakni: (1) Setiap satuan Pendidikan formal dan nonformal menyediakan sarana dan prasarana yang memenuhi keperluan Pendidikan sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan potensi fisik, kecerdasan intelektual, sosial, emosional dan kewajiban peserta didik. (2) Ketentuan mengenai penyediaan sarana dan prasarana Pendidikan pada semua satuan Pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat pertama dan diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintahan.
Sarana dan prasarana dalam Pendidikan Agama Katolik memerlukan sebuah media agar pesan-pesan yang akan disampaikan oleh guru mengenai pewartaan Injil dapat diterima oleh peserta didik dengan baik. Media dalam Pendidikan Agama Katolik adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk
menyampaikan pesan-pesan mengenai Kerajaan Allah kepada seluruh umat beriman, terlebih dalam lingkup sekolah yakni guru dan peserta didik, sehingga melalui media mereka mampu menerima ajaran-Nya dan mampu untuk berkomunikasi tentang imannya. Dengan demikian, harapannya iman mereka semakin berkembang dan diperkaya menurut ajaran iman Katolik tetapi tetap memberikan penghormatan terhadap agama lain.
f. Suasana Pelajaran Pendidikan Agama Katolik
Sekolah-sekolah perlu memberikan suasana yang nyaman pada seluruh peserta didiknya agar mereka merasa dihargai dan dihormati. Kemudian guru juga perlu menciptakan suasana kelas yang membuat peserta merasa krasan, senang dan membantu mereka memasuki hidupnya sendiri serta tidak kaku dan ketat agar tidak tegang dan menakutkan karena bila guru dapat memberikan suasana yang baik maka guru juga akan menjadi guru yang baik bagi peserta didiknya.
Suasana yang semacam ini membuat para peserata didik merasa martabatnya dihormati, permasalahan hidupnya dipahami, pertanyaan dan keluahannya diperhatikan. Peserta didik juga semakin terbantu menemukan identitas diri dan perannya di dalam lingkungan sekolah dan masyarakat. Disamping itu sekolah-sekolah Katolik di mana pun perlu menciptakan suasana kemitraan dan kekeluargaan. Kemitraan berarti PAK bukan hanya tanggungjawab guru tetapi juga peserta didik. Perlu terjalin kerjasama antara guru dengan peserta didik, guru dan orang tua dan lebih-lebih antara peserta didik sendiri. Kemudian
maksudnya kekeluargaan di dalam sekolah adalah suasana pendidikan yang membuat peserta didik merasa krasan, gembiara, diterima dan dipercayai. Di dalam PAK suasana reflektif dapat mempermudah peserta didik mendengar sabda Allah, suara hati sendiri dan suara komunitasnya perlu sekali diusahakan. Seperti halnya jika suasana refleksif dipadukan dengan usaha menciptakan suasana saat-saat hening jelas akanmembantu peserta didik sampai pada perkembangan diri yang bersifat utuh (Heryatno 2008: 17).