ARTIKEL
SIKAP MODERASI BERAGAMA DALAM BERTRADISI DI ERA MILENIAL
Dosen pengampu;
Dr. H. Dwi Surya Atmaja, M. A Wahyu Nugroho M. H
Penyusun;
Salsabila Trita Wardani (12102042) PENDIDIKAN BAHASA ARAB
FAKULTAS TARBIYAH ILMU KEGURUAN INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PONTIANAK
SIKAP MODERASI BERAGAMA DALAM BERTRADISI DI ERA MILENIAL
Abstrak
Penelitain yang penulis buat ini adalah metela’ah lebih dalam, cara atau bagaimana moderasi beragama bertradisi di era milenial ini, adapun jenis penelitian ini adalah penelitian kepustakaan, dimana data data yang di dapatkan atau kami kupulkan sebagai rujukan referensi, itu semua mengutif dari artikel, jurnal, buku, dan karya ilmiah lainnya, yang berhungan dengan penelitian ini, kemudia penulis analisis dan di jadikan sebagai suatu tulisan atau karya ilmiah yang deskriptif. Hasil daripada penulisan yang penulis analisis yaitu tentang cara moderasi beragama dalam bertradisi, yang sudah menjadi suatu kebiasaan masyarakat di indonesia yang tidak bisa di hilangkan bahkan semakin kuat, maka daripada itu dengan adanya moderasi beragama dengan tujuan megarahkan, jangan sampai anak anak muda dan masyarakat pada umunya salah dalam bertradisi akan tetapi cerdas dan bijaksana dalam bertradisi, dimana pun dan tradisi apapun, dan agar sesuai dengan ajaran islam yaitu al-qur’an dan hadits. Adapun tujuan daripada penelitian yang penulis buat ini adalah dengan harapan bahwa moderasi ini dapat menjadi penegah bagi suatu masalah di tengah masyarakat yaitu sebagai pemersatu bukan pemecah belah, maka indonesia bakalan tercipta masyarakat yang tentram dan damai.
Kata Kunci: Moderasi, tradisi , milenial.
Pendahuluan
Berbicara tentang Moderasi, Moderasi ini adalah suatu generasi yang dikatakan sebagai generasi yang dikatakan bisa meneruskan perjuangan agama islam, dan bahkan tidak hanya agama, namun bangsa dan Negara. Maka Moderasi ini terdiri daripada pemuda-pemuda yang bakalan meneruskan bangsa, adapun zaman sekarang ini, moderasi ini disandingkan dengan agama disebut dengan “Moderasi Beragama”
yang artinya, menurut para pakar ahli ulama dan orang-orang yang meneliti tentang hal tersebut menyimpulkan bahwasannya Moderasi Beragama adalah orang-orang yang menengai atau wushtoniah dalam perihal agama maupun Negara. Artinya tidak condong dengan ke tengah-tengah, itulah yang disebut dengan Moderasi Beragama. Di dalam Moderasi Beragama, kita ketahui bahwasannya sekarang ini yang kita ketahui bahwasannya banyak sekali aliran-aliran atau kepercayaan-kepercayaan yang masuk, baik dielemen masyarakat dan lain sebagainya. (Fahri and Zainuri, 2019)
Di dalam Moderasi Beragama Di Era Milenial, berbicara tentang tradisi, tradisi ini adalah suatu kepercayaan oleh suatu kelompok atau suku, ras, dan lain sebagainya. Kita ketahui bahwasannya banyak sekali di zaman sekarang ini, di Indonesia ini atau
diluar negeri, banyak sekali tradisi-tradisi dan kebiasaan-kebiasaan yang terkadang, menurut kita bisa diikuti, dan terkadang bisa tidak diikuti, dan bisa kita nilai itu benar ataupun kita nilai itu salah, Dalam bertradisi kita juga harus bisa bijaksana mana yang harus kita ikuti dan mana yang harus kita tinggalkan atau kita kritikki, maka dari itu, saat ini kita berada didalam generasi beragama dalam bertradisi. (Azra 2017)
Di Era Milenial, jikalau berbicara mengenai Era Milenial, yang mana sekarang kita berada Di Era Milenial, Era Milenial ini ialah era kekinian yang banyak orang-orang mengatakan era milenial ini, adalah eranya anak muda, didalam Era Milenial ini juga banyak sekali kepercayaan, kebiasaan oleh suatu kelompok atau ras dari anak muda maupun orang tua, yang terkadang bisa kita katakan sebagai melakukan hal yang baru. Dari ketiga hal tersebut, Moderasi Bergama Dalam Bertradisi Di Era Milenial itu, bisa diambil bahwasannya kita didalam bertradisi dizaman ini, haruslah bijaksana, artinya kita harus memilih, mana tradisi yang harus kita ambil dan mana tradisi yang harus kita tinggalkan. Artinya jikau dizaman sekarang itu, mengenai tradisi, penulis tertarik dengan pembahasan dizaman sekarang ini banyak sekali yang menyatakan bahwa, Era Milenial, ini adalah eranya anak anak muda yang suka denagn hal hal yang baru. (Nata, 2018 hal. ....)
Akhirnya penulis tertarik untuk meneliti tentang anak-anak muda dizaman sekarang atau Era Milenial dalam mereka bertradisi dan cara mereka bersikap dalam bermoderasi, Moderasi Beragama yang akan diangkat atau dia analisis oleh penulis ini adalah mempelajari bagaimana peranan budaya dalam memperkuat anak amak muda dalam Moderasi Beragam, bertingkah laku, berbuat, dalam mereka melakukan suatu hal yang sesuai denga napa yang di ajarkan oleh al qur’an dan hadits, Karena banyak sekali dijumpai anak-anak zaman sekarang ini yang meninggalkan dariada tradisi atau kepercayaan yang nenek moyang mereka telah ajarkan dahulu kala, apakah ini adalah suatu hal yang dibenarkan atau suatu hal yang disalahkan, Demikian juga banyak sekali pemuda-pemuda yang tetap istiqomah dengan hal tersebut, padahal sekarang ini sudah zaman modern, apakah itu suatu hal yang di haruskan atau tidak, Maka daripada itu, pada pembelajaran Ilmu Kalam ini, penulis menarik kesimpulan untuk tertarik meneliti tentang
“Moderasi Beragama Dalam Bertradisi Di Era Milenial”.(Suhendra 2019)
Metode
Dalam penelitian ini penulis, menggunakan pendekatan atau sistem kualitatif ialah penelitian yang melantaskan, memanifestasikan, menganalisis, lalu memparafrasekan, menafsirkan dari objek yang ada
pada situasi tertentu. Deskriptif ialah suatu siasat atau sistem penelitian yang memperlihatkan karakteristik, populasi atau kejadian yang tengah diteliti. Hingga pada akhirnya sistem analisis ini utamanya focus pada menjelaskan objek pada analisis, serta menjawab mengenai pristiwa atau kejadian apa yang sedang terjadi. Analisis hukum Normatif ialah suatu siasat untuk menjumpai atau mendapati suatu aturan hukum, hal- hal pokok pada hukum, maupun ideology atau paham mengenai hukum, guna menjawab topik hukum yang dihadapi, adapun data sekunder ialah akumulasi data-data guna menguraikan hingga memvalidasikan pembuktian suatu analisis, sebagai akar data sekunder penulis mengutip sumber data dari literature atau pustaka cuan lain, serupa jurnal-jurnal yang substansial, prinsipil untuk memperbanyak polemik atau pembahasan dalam artikel ini.
Hasil dan Pembahasan
Pengertian Moderasi Beragam Dan Tradisi
Moderasi Beragama, pengertian moderasi ini dibagi menjadi tiga bagian di dalam tiga bahasa yaitu Bahasa indonesi, Bahasa igris , dan Bahasa arab. Di dalam Bahasa indonesia modarasi ini diartikan sebagai antara kelebihan dan kekurangan yang ada pada suatu hal, artinya moderasi ini adalah mengendalikan atau menguasai sikap kita terhadap suatu hal yang memiliki suatu kekurangan dan kelebihan, artinya yang pertama bersikap sewajarnya jagan berlebihan dan jangan juga kurang, bersikap tidak ekstream atau bisa kita katakana bersikaplah sewajarnya. (Abror, 2020)
Yang ke dua moderasi ini di artikan di dalam Bahasa ingris yaitu moderations yang berarti tidak berpihak kepada siapapun, jikalau kita lihat secara umum bahwasannya moderasi itu tidak berpihak kepada siapun baik di bidang umum atau individu, iya selalu mengedapankan kebersamaan atau bisa kita katakana sebagai orang yang netral.(Kosasih 2019)
Tradisi, tradisi ini adalah suatu kebiasaan masyarakat di suatu tempat atau suatu suku misalnya, bugis, melayu, Dayak, madura, dan sambas, setiap suku ini memiliki suatu keyakinan yang sangat mereka jaga atau kita sebut degan tradisi, nah inilah yang selalu mereka rawat dan merka jaga atau mereka lestarikan, agar kepercayaan atau keyakinan di setiap suku mereka ini dapat bertahan samapai kapanpun, tradisi ini lah yang mereka sebut degan keramat mereka, jadi tradisi ini adalah suatu hal atau kebasaan dari nenek moyang suatu suku masyarakat yang melekat padanya dan menjadi suatu kepercayaan atau keharusan di dalam suku mereka, jikalau tidak mereka lakukan maka
itu menjadi suatu aib atau suatu yang menurut mereka bakalan menbuat mereka celaka di dalam hidupnya.(II and SEDEKAH 2016)
Adapun tradsisi ini juga di sebut sebagai kepercayaan animisme dan dinamisme, yaitu kepercayaan kepda roh roh luhur mereka seperti kepada pohon atau kepada laut dan yang lainnya. (Hasan 2012)
Adapun tradisi atau kebiasaan ini di bagi menjadi dua bagian yaitu tradisi yang selaras atau sejalan dengan agama yaitu tradisi yang ritualnya di lakukan atau di laksanakan tidak menyimpang dengan ajaran agama islam seperti menyembah pepohonan, menyembah lautan, memberi makan hantu atau jin penunggu ini yang tidak di benarkan karena menyimpang daripda ajaran agama, dan bisa merusak keyakinan kita ketauhidan kita kepada allah, adapun yang selaras atau yang sesuai dengan ajaran agama mereka melakukan tradisi tersebut seperti baca qur’an baca do’a baca tahlilalan, sedekah kepada sesama, ini yang di benarkan oleh agama dan selaras dengan ajaran islam karena hal tersebut ajarkan oleh al-qur’an dan hadits sebagaimana dikatakan di dalam al-qur’an wama anfaqtum min syai in fahuwa yukhlifu , dan dikatakan juga di dalam hadits nabi, assodaqoh tudfa’ul bala’, jadi jikalu tradisi di dalam masyarakat di lakukan seperti ini maka itu di benarkan di dalam agama, namun kita juga harus tau bahwasannya di indinesia ini banyak macam suku dan budaya artinya banyak juga tradisi dan kebiasaan, tidak semua suku atau ras itu adalah orang islam masih banyak juga yang di luar islam, maka daripada itu bagaimana car akita sebagai anak muda penerus bagsa bermoderasi dengan banyak nya tradisi dan kepercayaan ini agar kita menjadi moderasi yang baik yang sesuai degan ajaran al-qur’an dan sunnah yang akan kita bahas di pembahasan berikutnya.(Rodin 2013)
Macam-Macam Tradisi Di Era Milenial
Di era milenial sekarang ini kita ketahui bahwasannya banyak sekali tradisi tradisi atau kebiasaan yang muncul di tengah tengah masyarakat atau suatu suku yang di mana kita tidak mengetahui sumber daripada hal tersebut datang, dan kebanyakan anak anak sekarang ini hanya melihat enaknya saja atau ngambil enak nya saja tidak melihat terlebih dahulu suatu hal tersebut apakah baik atau tidak, dan, banyak juga sekarang ini hal hal yang baru timbul di tengah tengah masyarakat, apakah itu bisa di katakana sebagai tradisi, lalu bagaimana kah cara kita atau moderasi beragama dalam bertradisi di era milenial ini, maka daripada itu penulis akan memaparkan terlebih dahulu macam macam tradisi di era meilenial ini.(Mufid 2020)
Tradisi tahlilan, tahlilan ini adalah suatu tradisi yang sangat melekat pada masyarakat bahkan tetap eksis sampai saat sekarang ini di tengah tengah masyarakat, dan jikalau kita lihat hampir setiap suku
yang menganut ajaran islam semuanya melakukan tradisi tahlilan ini, cuman terkadang Bahasa atau sebutannya saja yang berbeda, misalnya antara masyarakat melayu pontinak sebutannya adalah beruah atau tahlilan, sedangkan sebutan pada masyarakat melayu ngabang adalah meniti hari, lalu bagaimana nilai tradisi ini di dalam ajaran islam apakah menyimpang ataukah sesuai dengan ajaran islam, jikalau kita lihat dari segi pelaksanaanya tahlilan ini dilaksanakan yang pertama dengam mengumpulkan masyarakat di tempat orang yang meninggal, lalu mebacakan surah yasin, tahlilan, baca do’a, dan kemudian makan makan atau sedekah makanan, jikalau kita lihat dengan kacamata islam maka tradisi ini sangat di anjurkan oleh agama karena di dalam ragkaian pelaksanaan tradisi ini semuanya sesuai dengan ajaran agama islam, maka nilai tahlilan ini bagi mederasi beragama sangat baik.
(Warisno 2017)
Tradisi Robo Robo adalah salah satu tradisi yang sangat viral bagi setiap golongan masyarakat bahkan samapai saat sekarang ini tradisi ini tetap sukses dan semakin meriah di laksanakan, jikalu kita telusuri bagaimana si asal usul tradisi robo robo ini dan bagaimana sih relevansi nya dengan ajaran islam apakah bertentangan atau sesuai dengan ajaran islam, kenapa kita penting mengetahui tentang tradisi Ini karena tradisi ini sangat banyak di lakukan oleh masyarakat khusnya juga untuk suku, melayu, madura, sambas, bugis, dan lain sebagainya.
Tardisi ini lahir dari masyarakat kabupaten mempawah yang pada saat itu di perkirakan oleh tokoh masyarakat setempat bakalan ada suatu musibah atau balak yang bakalan datang dari penunggu lautan mempawah kepada kabupaten mempawah akhirnya di adakanlah robo robo tersebut, dengan tujuan memberi makan penunggu lautan dan menolak balak, tereus bagaimana pandangan islam terhadap tradisi ini, jiklau kita lihat dari pelaksanaan tradisi ini di berbagai tempat atau daerah sama saja namun ada sedikit perbedaan, nah adapun pelaksaannya yaitu, berkumpul di suatu tempat, kemudian masing masing membawa makanan, dan kemudian pembacaan do’a tolak balak, dan makan Bersama. Jikalau kita lihat tradisi ini tidak bertentangan dengan ajaran islam, akan tetapi yang menjadi permasalahan tentang keyakinan bahwa akan ada penunggu lautan yang bakalan mendatangkan musibah kepada suatu tempat jikalu tidak memberi makan penunggu laut tersebut dengan menghayutkan seperti pulut kunung, yang di sertakan dengan ayam panggang dan telur ayam kampung rebus tiga butir, ini yang membuat hal ini tidak di benarkan namun bisa kita ambil jalan tengah.(Firmansyah, Putri, and Marisah 2021)
Tradisi Maulidan, maulidan ini juga adalah suatu kebiasaan yang sangat melekat pada kebanyakan masyarakat khususnya Melayu,
Madura, Sunda, Jawa, dan lain sebgainya. Maulidan ini adalah suatu tradisi yang di laksanakan setiap tahun bahkan semakin tahun semakin meriah, maulid ini di laksanakan dalam ragka menyambut atau memperingati hari lahirnya baginda nabi Muhammad SAW. Nah lalu apakah malid ini bisa kita golongkan sebagai tradisi atau tidak, jikalau kita lihat dari pengertian tradisi maulid ini adalah suatu tradisi karena sebagai suatu kebiasaan masyarakat yang melekat dari dulu hingga saat ini, lalu bagaimana tanggapan agama islam terhadap maulid ini, di dalam agama islam maulid sangat di anjurkan dan di ajarkan oleh para sahabat, namun malid ini mejadi ikhtilaf antara mazhab satu dengan yang lainnya. Lalu bagaiamana moderasi beragama menyikapi hal ini.
(Suriadi 2019)
Tradisi Meriam Karbit, tradisi meriam karbit ini sering kita jumpai di Kalimantan barat khususnya di kota Pontianak taradisi ini di laksanakan pada saat menjelang hari raya idul fitri, jikalau kita lihat bagaimana asal usul tardisi meriam karbit ini yaitu pada zaman dahulu pada kesultanan keraton qadariah yaitu sultan Muhammad al-qadri Ketika meleawti sungai Kapuas mereka Bersama rombongan di ganggu oleh penunggu sungai Kapuas bias kita sebut hantu kuntilanak, akhirnya di ledakan lah meriam itu sebanyak tiga kali untuk mengusir hantu kuntilanak tersebut, peluru yang pertama jatuh ke keraton mempawah, yang ke dua ke batu layang, dan yang ke tiga jatuh ke, keraton qadariah Pontianak, yang akhirnya di dirikan kerajaan keraton qadariah tepatnya di tanjung raya satu. Maka daripada itu di jadikanlah tradsisi samapi saat sekarang ini sebagai tanda kemenagan, adapun tanggapan islam terhadap tradisi ini tidak juga mendukung dan tidak juga melarang aratinya boleh boleh saja, sama seperti acara walimahan dan lain sebagainya namun alagkah indahnya di isi dengan hal hal yang bermanfaat dan mengajarkan nilai moral yang baik.(Tantoro and Handoko 2014)
Cara Moderasi Beragama Bertradisi
Perlu kita ketahui bahwasannya di era melenial ini banyak sekali tradisi atau kebisaan yang sangat sangat viral atau banyak di senagi oleh banyak suku dan masyarakat pada umumnya, di dalam hal ini kita pelu juga ilmu untuk menentukan suatu pendapat terkait suatu hal maka alagkah baiknya dengan adanya penulisan ini dapat membantu memberikan informasi kepada khususnya anak anak muda calon penerus bagsa dan agama untuk lebih jelih dan cerdas dalam bertradisi di era milenial ini.(Awwaliyah 2019)
Kita ketahui di dalam makna pengertian moderasi beragama itu adalah tidak berpihak kepada siapapun baik individu ataupun umum, dengan kata lain memilih jalan yang tengah, di dalam bertradisi artinya
tidak menyalahkan suatu tradisi yang tidak belum selaras debgan ajaran islam, tidak juga terlalu membanga bangakan suatu tradisi yang sudah di benarkan oleh islam, karena tugas moderasi adalah berdakwah menyatukan ummat dan menjadi penegah daripada suatu permasalahan sebagaimana misi nya nabi muhmmad dan nabi Muhammad nya sendiri menjadi penengah di antara kaum muhajirin dan anshar, maka daripada itu bisa kita fahami jagan sampai kita salah dalam pemahaman dalam bertradisi, kita fahami bahwa jikalu atau tradisi yang pelaksaan nya belum selaras dengan ajaran islam alagkah baiknya kita sebagai moderasi beragama menjadi penegah di tengah tengah permsalahantersebut dengan cara tetap membenarkan tradisi tersebut akan tetapi merubah cara pelaksanaanya seperti yang buang buang nakanan di sunagi di ganti dengan berbagi makanan kepada fakir miskin dan anak yatim.(Bakir and Othman 2017)
Begitulah cara moderasi beragama dalam bertradisi di era milenial ini, tidak menyalahkan siapapun apapaun akan tetapi menjadi penengah di ndalam perikhtilapan masyarakat, dan kemudian memperbaiki sistem tersebut menjadi suatu hal yang selaras dengan ajaran islam, seperti contoh yang telah penulis paparkan di atas , yaitu Tahlilan, Robo-robo, Maulidan, meriam karbit, dan lain sebagianya, maka daripada itu cara moderasi adalah menjadi penegah dan tugasnya adalah mempersatukan ummat, bukan memecah belah ummat maka insyaallah akn tercipta, masyarakat, kota, negeri, yang aman tentram Makmur dan damai. (Rahmadayanti 2021)
Kesimpulan
Moderasi beragama adalah salah satu hal yang penting baik di masyarakat maupun di negara ini karena akan terciptanya masyarakat yang tentram dan damai, pelu moderasi beragama yang baik dengan tujuan adalah menyatukan ummat.
Islam juga megajarkan kepada kita untuk menjadi sebagai penegah yang menyatukan bukan pemisah atau pemecah, sebagaimana sabda nabi muhmmad Khairul umuri ausatuha, dan nabi muhmmad sendiri sebgai penegah, dan ajaran islam pun sebagai penegah atau penyatu daripada ajaran ajaran yang lainnya.
Dan ajaran di era milenial ini sangat penting sekali peranan moderasi beragama tersebut untuk meluruskan atau mengajarkan kepada anak anak muda agar bijaksana dalam bertradisi baik tradisi yang sudah lama ataupun yang baru, karena di era milenial ini banyak sekali tradisi tradisi yang tidak sesuai dengan ajaran islamm, maka daripada itu dengan adanya penulisan artikel ini harapan penulis kedepannya untuk anak anak muda penerus bagsa, jadi moderasi beragama yang baik yang bijak, khusnya dalam bertradisi di era
milenial sekarang ini agar tercipta masyarakat yang rukun aman dan tentram.
Daftar Pustaka
Abror, Mhd. 2020. “Moderasi Beragama Dalam Bingkai Toleransi.”
Rusydiah: Jurnal Pemikiran Islam 1(2): 143–55.
Awwaliyah, Neny Muthi’atul. 2019. “Pondok Pesantren Sebagai Wadah Moderasi Islam Di Era Generasi Millenial.” Islamic Review: Jurnal Riset dan Kajian Keislaman 8(1): 36–62.
Azra, Azyumardi. 2017. Surau: Pendidikan Islam Tradisi Dalam Transisi Dan Modernisasi. Kencana.
Bakir, Muhamadul, and Khatijah Othman. 2017. “Wasatiyyah (Islamic Moderation).” Journal of Islamic Thought and Civilization 7(1):
13–30.
Fahri, Mohamad, and Ahmad Zainuri. 2019. “Moderasi Beragama Di Indonesia.” Intizar 25(2): 95–100.
Firmansyah, Haris, Astrini Eka Putri, and Marisah Marisah. 2021.
“Implementasi Nilai Budaya Robo-Robo Sebagai Penguat Pendidikan Karakter Peserta Didik Di Kabupaten Mempawah.”
Jurnal Basicedu 5(3): 1658–66.
Hasan, Ridwan. 2012. “Kepercayaan Animisme Dan Dinamisme Dalam Masyarakat Islam Aceh.” MIQOT: Jurnal Ilmu-Ilmu Keislaman 36(2).
II, B A B, and TRADISI D A N SEDEKAH. 2016. “Fungsi Trasisi 1.
Pengertian Tradisi Dan Macam-Macam Tradisi.”
Istahiriah, Ratna Sari. 2022. “Konsep Moderasi Beragama Perspektif Tafsir Al-Misbah (Karya: M. Quraish Shihab).”
Kosasih, Engkos. 2019. “Literasi Media Sosial Dalam Pemasyarakatan Sikap Moderasi Beragama.” Jurnal Bimas Islam Vol 12(2): 264.
Mufid, Abdul. 2020. MODERASI BERAGAMA Perspektif Yusuf Al- Qaradawi: Kajian Interdisipliner Tentang Wacana Penyatuan Hari Raya. CV Pena Persada.
Nata, Abuddin. 2018. “Pendidikan Islam Di Era Milenial.” Conciencia 18(1): 10–28.
Rahmadayanti, Nurul. 2021. “Peran Moderasi Beragama Sebagai Pemersatu Bangsa.” MODERASI BERAGAMA: 68.
Rodin, Rhoni. 2013. “Tradisi Tahlilan Dan Yasinan.” IBDA: Jurnal Kajian Islam Dan Budaya 11(1): 76–87.
Suhendra, Ahmad. 2019. “Transmisi Keilmuan Pada Era Milenial Melalui Tradisi Sanadan Di Pondok Pesantren Al-Hasaniyah.”
Jurnal SMART (Studi Masyarakat, Religi, Dan Tradisi) 5(2): 201–
12.
Suriadi, Ahmad. 2019. “Akulturasi Budaya Dalam Tradisi Maulid Nabi Muhammad Di Nusantara.” Khazanah: Jurnal Studi Islam dan Humaniora 17(1): 167–90.
Tantoro, Swis, and Mohamad Imam Handoko. 2014. “Perubahan Tradisi Permainan Meriam Karbit Di Desa Tanjung Harapan, Kecamatan Singkep, Kabupaten Lingga, Provinsi Kepulauanriau.”
Warisno, Andi. 2017. “Tradisi Tahlilan Upaya Menyambung
Silaturahmi.” Riayah: Jurnal Sosial dan Keagamaan 2(02): 69–
97.