• Tidak ada hasil yang ditemukan

STUDI AWAL KETERAMPILAN PROSES SAINS PESERTA DIDIK SMA NEGERI 14 MAKASSAR SKRIPSI. Oleh Ikram Andi Tadda

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "STUDI AWAL KETERAMPILAN PROSES SAINS PESERTA DIDIK SMA NEGERI 14 MAKASSAR SKRIPSI. Oleh Ikram Andi Tadda"

Copied!
54
0
0

Teks penuh

(1)

STUDI AWAL KETERAMPILAN PROSES SAINS PESERTA DIDIK SMA NEGERI 14 MAKASSAR

SKRIPSI

SKRIPSI

Oleh

Ikram Andi Tadda 10539135415

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA 2020

(2)

i

STUDI AWAL KETERAMPILAN PROSES SAINS PESERTA DIDIK SMA NEGERI 14 MAKASSAR

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi salah Satu Syarat guna Memperoleh Gelar Serjana Pendidikan pada Jurusan Pendidikan Fisika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Universitas Muhammadiyah Makassar

Oleh

Ikram Andi Tadda 10539135415

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA 2020

(3)

ii

(4)

iii

(5)

iv

(6)

v

(7)

vi

MOTTO DAN PERSEMBAHAN

Berhenti untuk katakan nanti karena waktu tak akan menunggu

Hanya perlu sadar diri untuk berbuat dengan hati

Hanya perlu ingat diri untuk bersikap sesuai kemampuan diri…..

Kerja kerasmu hari ini akan terbayar nanti ….

Tuhan maha adil tak Ada yang luput dari penglihatannya Meski kau bersembunyi di lubang semut

Jadi apa yang harus kau khawatirkan…

Yakin saja akhirnya akan indah kawan

Persembahan:

Kupersembahkan karya ini untuk:

Kedua orang tuaku, Keluarga, dan Sahabatku atas keikhlasan dan doanya dalam mendukung penulis

mewujudkan harapan menjadi kenyataan

(8)

vii ABSTRAK

IKRAM ANDI TADDA 2020. STUDI AWAL KETERAMPILAN PROSES SAINS PESERTA DIDIK SMA NEGERI 14 MAKASSAR. Skripsi. Program Studi Penddikan Fisika Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar. Pembimning I Abd. Haris dan Pembimbing II Dewi Hikmah Marisda

Rumusan masalah yang ingin diteliti yaitu Bagaimana keterampilan proses sains peserta didik di SMA Negeri 14 Makassar dalam hal merumuskan pertanyaan, merancang eksperimen, mengkomunikasikan, merumuskan hipotesis dan menarik kesimpulan ?. Yang bertujuan untuk mengetahui bagaimana keterampilan proses sains peserta didik di SMA Negeri 14 Makassar dalam hal merumuskan pertanyaan, merancang eksperimen, mengkomunikasikan, merumuskan hipotesis dan menarik kesimpulan peserta didik kelas XI MIPA SMA Negeri 14 Makassar pada mata pelajaran fisika. Jenis penelitian ini adalah expost facto (survei yang bersifat deskriftif) Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh kelas XI MIPA SMA Negeri 14 Makassar yang berjumlah 126, jumlah sampel dalam penelitian ini berjumlah 68 responden. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis statistik deskriptif dengan bantuan aplikasi Microsoft Excel 2010. Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa tingkat keterampilan proses sains peserta didik barada pada kategori sedang. Untuk indikator merumuskan pernyataan dengan

presentase

59,71 masuk dalam kategori sedang, indikator merancang eksperimen dengan presentase 52,64 masuk dalam kategori sedang, indikator mengkomunikasikan dengan presentase 62,65 masuk dalam kategori tinggi, indikator merumuskan hipotesis dengan presentase 52,94 masuk dalam kategori sedang sedangkan indikator menarik kesimpulan dengan presentasi 68,82 masuk dalam kategori tinggi. Untuk menigkatkan keterampilan proses sains peserta didik, guru diharapkan melakukan inovasi-inovasi terbaru dalam proses pembelajaran, berupa pemilihan model pembelajaran yang sesuai dengan materi di bawakan pada setiap proses pembelajaran terutama pada mata pelajaran fisika.

Kata Kunci: Keterampilan Proses Sains

(9)

viii

KATA PENGANTAR

Assalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Tiada kata indah selain ucapan syukur Alhamdulillah, segala puji hanya milik Allah SWT sang penentu segalanya, atas limpahan Rahmat, Taufik, dan Hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan karya sederhana ini.

Salam dan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW yang telah menjadi pelopor peradaban manusia yang hakiki, pembawa cahaya kehidupan dan teladan akhlak pencinta ilmu yang menjadi figur panutan dan inspirasi penulis hadir sebagai penyambung rantai kesinambungan ilmu pengetahuan melalui karya sederhana ini.

Skripsi yang berjudul “Studi Awal Keterampilan Proses Sains Peserta Didik SMA Negeri 14 Makassar” Skripsi ini disusun untuk memenuhi salah satu persyaratan akademik guna memperoleh gelar sarjana Pendidikan Fisika pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhahammadiyah Makassar.

Dalam pelaksanaan penelitian hingga penyusunan skripsi ini, penulis memperoleh banyak hambatan, namun berkat adanya bantuan dan dukungan dari berbagai pihak, akhirnya skripsi ini dapat terselesaikan. Olehnya itu, penulis menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan dan setulusnya kepada Bapak Drs. Abd. Haris., M.Si. selaku pembimbing I dan Dewi Hikmah Marisda., S. Pd. M.Pd selaku pembimbing II yang selalu bersedia meluangkan waktunya dalam membimbing penulis, memberikan ide, arahan, saran, dan bijaksana dalam menyikapi keterbatasan pengetahuan penulis, serta memberikan ilmu dan pengetahuan yang berharga dalam penyusunan skripsi ini. Semoga Allah

(10)

ix

SWT memberikan perlindungan, kesehatan, dan pahala yang berlipat ganda atas segala kebaikan yang telah dicurahkan kepada penulis selama ini.

Pada kesempatan ini, dengan segala kerendahan hati penulis menyampaikan ucapan terima kasih juga kepada:

1. Kedua Orang Tua tercinta, alm. Ayah Andi Gali dan Ibunda Becce penulis ucapkan terima kasih yang tak terhingga atas dukungan baik moril maupun materi serta do’a - do’a yang tiada hentinya senantiasa mengalir untuk keberhasilan anak-anaknya.

2. Bapak Dr. H. Abdul Rahman Rahim, S.E., M.M., selaku Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar.

3. Bapak Erwin Akib, M.Pd., Ph.D.,selaku Dekan Fakultas Keguruaan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar.

4. Ibu Dr. Nurlina, M.Pd., selaku Ketua beserta bapak Ma’aruf, S.Pd., M.Pd., selaku Sekretaris Program Studi Pendidikan Fisika, Fakultas Keguruaan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar.

5. Bapak Ma’ruf., S.Pd., M.Pd, selaku Pembimbing Akademik penulis

6. Bapak dan Ibu dosen Program Studi Pendidikan Fisika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar yang telah banyak berjasa.

7. Ibu Dra. Hj. Agustiyati Kurusi, selaku Kepala SMA Negeri 14 Makassar yang telah berkenan memberikan izin untuk meneliti.

8. Ibu Nisbah, S.Pd., selaku guru Fisika SMA Negeri 14 Makassar yang telah memberikan bantuan dan masukannya selama penelitian.

(11)

x

9. Keluarga besar Kinematika 2015 dan terkhusus kepada Kinematika A atas kebersamaannya selama ini yang telah memberikan motivasi kepada penulis demi terselesaikannya skripsi ini.

Dengan ini penulis senantiasa, mengharapkan saran dan kritik sehingga penulis dapat berkarya yang lebih baik lagi pada masa yang akan datang. Semoga skripsi ini memberikan manfaat dan menambah khasanah ilmu pengetahuan khususnya di bidang Pendidikan Fisika.

Billahi Fii Sabilil Haq. Fastabiqul Khaerat.

Wassalamua Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Makassar, Desember 2020

Penulis

(12)

vii DAFTAR ISI

Halaman Judul ...i

Persetujuan Pembimbing ...ii

Surat Pernyataan...iii

Surat Perjanjian ...iv

Motto Dan Persembahan ...v

Abstrak ...vi

Kata Pengantar ...vii

Daftar Isi...x

Daftar Tabel ...xii

Daftar Gambar ...xiii

Daftar Lampiran ...xiv

BAB I PENDAHULUAN……… ...1

A. Latar Belakang……… ...1

B. Rumusan Masalah……….. ...5

C. Tujuan Penelitian……… ...5

D. Manfaat Penelitian……….. ...5

BAB II KAJIAN PUSTAKA……… ...7

A. Landasan Teori…… ...7

1. Hakikat Belajar……. ...7

2. Pembelajaran Fisika……. ...8

3. Hakikat Pembelajaran Sains. ...8

4. Keterampilan Proses… ...9

5. Keterampilan Proses Sains ...11

6. Jenis-Jenis Keterampilan Proses Sains ...13

(13)

viii

7. Indikator Penilainan Dalam Keterampilan Proses Sains ...15

B. Kerangka Pikir………. ...18

BAB III METODE PENELITIAN…...19

A. Jenis Penelitian ...19

B. Populasi dan Sampel ….. ...19

C. Prosedur Penelitian……...19

D. Defenisi Operasional Variabel ...20

E. Instrumen Penelitian...20

F. Teknik Pengumpulan Data ...21

G. Teknik Analisis Data ...25

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ...28

A. Hasil Penelitian ...28

Analisis Statistik Deskriptif ...28

1. Kemampuan Proses Sains Peserta Didik Secara Umum ...28

2. Kemampuan Proses Sains peserta didik Tiap Indikator KPS ...31

B. Pembahasan…. ...32

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN… ...35

A. Kesimpulan… ...35

B. Saran……. ...35

DAFTAR PUSTAKA ...37

LAMPIRAN ... 39

(14)

ix

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

3.1 Tabulasi 2x2 ... 22

3.2 Hasil Uji Gregoriy ... 22

3.3 Kisi-Kisi Instrumen Tes Keterampilan Proses Sains ... 24

3.4 Kriteria Tingkat Reliabilitas Item ... 25

3.5 Hasil Uji Coba Instrumen Kriteria Tingkat Reliabilitas Item ... 25

3.6 Kriteria Skor Keterampilan Proses Sains ... 27

4.1 Statistika Deskriptif Skor Keterampilan Proses Sains Peserta Didik ... 28

4.2 Pengkategorian Skor Keterampilan Keterampilan Proses Sains Peserta Didik ... 29

4.3 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Pengkategorian Skor Keterampilan Keterampilan Proses Sains Peserta Didik ... 29

4.4 Distribusi Frejuensi Indikator Keterampilan Proses Sains Pesertadidik ... 31

(15)

x

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman 2.1 Kerangka Pikir…………. ... 18 4.1 Diagram Batang Presentase Kemampuan Proses Sains Peserta Didik

Kelas XI MIPA SMA Negeri 14 Makassar ... 30 4.2 Distribusi Frekuensi Indikator Keterampilan Proses Sains Peserta Didik

Di Kelas XI MIPA SMA Negeri 14 Makassar ... 32

(16)

xi

DAFTAR LAMPIRAN 1. Instrumen Penelitian Sebelum Uji Coba 2. Instrumen Penelitian Setelah Uji Coba 3. Analisis Validitas Instrumen

4. Analisis Reliabilitas Instrumen 5. Hasil Rekapitulasi Penelitian

6. Distribusi Frekuensi Dan Perhitungan Statistika Dasar 7. Dokumentasi

(17)

1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Pendidikan adalah segala kegiatan yang dilakukan secara sadar berupa pembinaan pikiran jasmani peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat untuk meningkatkan kepribadiannya, agar dapat memainkan peranan dalam berbagai lingkungan hidup secara tepat di masa yang selaras dengan alam dan masyarakatnya, pentingnya pendidikan dalam membangun masa depan suatu bangsa tidak diragukan lagi.

Dalam hal ini proses pembelajaran sains juga ikut serta dalam meningkatkan mutu pendidikan dikarenakan proses pembelajaran yang bersifat utuh yang meliputi aspek di antaranya aplikasi, aspek proses, sikap dan produk.

Proses pembelajaran sains menekankan pada pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar menjelajahi dan memahami alam secara alamiah. Pendidikan sains telah dimulai sepanjang hidup , namun pendidikan sains secara khusus dipelajari pada tingkat SMP dan SMA. Di mana pembelajaran sains sangat memungkinkan peserta didik untuk terlibat dalam kegiatan pengamatan, percobaan, serta kemampuan menganalisis.

Salah satu cara melatih dan mengembangkan kemampuan berpikir yaitu melalui pembelajaran sain yang menekankan pada pendektan keterampilan proses. Keterampialan proses sains memiliki pengaruh yang

(18)

2

besar pada pendidikan sains karena keterampilan ini membantu peserta didik mengembangkan keterampilan mental yang lebih tinggi, seperti berpikir kritis, pengambilan keputusan dan pemecahan masalah.

Mengingat keterampilan proses sains bukan merupakan keterampilan bawaan, maka keterampilan ini harus dilatihkan melalui pengembangan pembelajaran. Melalui pengalaman langsung seseorang dapat lebih menghayati proses atau kegiatan yang sedang dilakukan

Ango (2002) dikutip oleh Ardhiantari (2015:2) menyatakan bahwa pengalaman belajar peserta didik harus melatih keterampilan proses, seperti mengamati, mengklasifikasi dan memprediksi, menginferensi, dan berkomunikasi. Keterampin ini sangat penting untuk membangun pemahaman konsep ilmiah peserta didik yang bermanfaat dan bermakna.

Selain itu pengalam seperti ini adalah hal penting agar peserta didik dapat menggunakan prosedur ilmiah untuk memecahkan masalah dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Kemampuan menganalisis menggunakan model pembelajaran yang melibatkan semua aspek keterampilan sains ialah pembelajaran dengan menggunakan metode eksperimen. Namun pada kenyataan metode yang sering digunakan di sekolah ialah metode ceramah yang menekankan pada teori, hukum, dan rumus. Guru menjelaskan materi dan peserta didik hanya memperhatikan tanpa terlibat aktif dalam proses pembelajaran. Peserta didik dituntut untuk menghafal rumus, menghafal bunyi hukum-hukum serta mengerjakan tugas atau soal-soal yang diberikan ketika proses pembelajaran

(19)

3

berlangsung. Padahal proses pembelajaran dapat berjalan dengan baik bila seorang guru dapat menerapkan proses pembelajaran yang sesuai keadaan peserta didik dan materi yang akan di bawakan dalam proses pembelajaran.

Terutama belajar fisika bukan hanya sekedar untuk menghafal rumus, menghafal bunyi hukum dan mengerjakan soal, tetapi lebih menekankan pada proses suatu kejadian untuik menemukan suatu konsep.

Menurut Trianto (2010) dikutip oleh Zulaiha (2014: 2) proses belajar mengajar IPA lebih ditekankan pada pendekatan keterampilan proses, hingg pesertadidik dapat menemukan fakta, membangun konsep, teori-teori dan sikap ilmiah itu sendiri akhirnya dapat berpengaruh positif tehadap kualitas proses pendidikan maupun produk pendidikan.

Hasil survei yang dilakukan oleh Sari (2011) dikutip oleh D.

Rahmawati (2014:41). Mengenai kekurangan pelatihan untuk meningkatkan keterampilan proses sains yang dimiliki oleh peserta didik. Hasil penelitian yang dilakukan di SMP Negeri 14 Surakarta menunjukkan keterampilan proses sains yang dicapai peserta didik tingkat penguasaann aspek keterampilan proses sains sebesar 60,75% dan tingkat peguasaan indikator keterampilan proses sains peserta didik sebesar 60,97%.

Hasilnya menunjukkan bahwa keterampilan proses sains siswa masih rendah dan kurang dikembangkan oleh guru. Penyebab rendahnya keterampilan proses sains yang dimiliki peserta didik salah satunya adalah guru kurang memberikan kesempatan pada seluruh peserta didik untuk ikut berpartisipasi dalan proses pembelajaran.

(20)

4

Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan salah satu guru fisika di SMA Negeri 14 Makassar mengatakan bahwa tingkat keterampilan proses sains peserta didik bervariasi, beberapa peserta didik nilai keterampilan proses sains yang tinggi karena peserta didik tersebut bisa melakukan eksperimen dengan baik dan antusias dalam pembelajaran berlangsung, beberapa peserta didk nilai keterampilan proses sains sedang karena peserta didik bisa mengunakan alat-alat lab namun belum mahir dan tidak paham dalam membaca nilai yang ditunjukkan oleh alat dan ada pula nilai keterampilan proses sainsnya rendah karena peserta didik tersebut tidak bisa menggunaka alat-alat dan tidak paham dalam membaca nilai yang ditunjukkan alat. Faktor-faktor kurangnya nilai keterampilan proses sains peserta didik diantaranya, di mana sebagian peserta didik pada saat proses pembelajaran berlangsung tidak memperhatikan guru saat menjelaskan, pada saat guru memberikan tes atau menyuru peserta didik melakukan eksperimen peserta didik tersebut tidak bisah menyelesaikan. Dan kurangnya fasilitas menunjang keterampilan proses sains berupa alat-alat eksperimen di sekolah karena peserta didik dalam satu kelas berjumlah 22-30 orang.

Namun ketika kita mengacu pada kurikulum K13 tidak ada peserta didik yang rendah keterampilan proses sainsnya karena k13 itu pada saat proses pembelajaran berlangsung peserta didik 75% aktif dimana peserta didik dituntuk untuk mencari tau sendiri tentang materi dan 25% guru yang aktif namun tugas guru hanya sebagai fasilitator dan mengatur proses pembelajaran, K13 ini sudah diterapkan dari SD, SMP hingga SMA.

(21)

5

Berdasarkan uraian tersebut, peneliti tertarik untuk mengetahui Keterampilan Proses Sains Peserta Didik Di SMA Negeri 14 Makassar B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan di pendahuluan maka rumusan masalah yang ingin diteliti yaitu Bagaimana keterampilan proses sains peserta didik di SMA Negeri 14 Makassar dalam hal merumuskan pertanyaan, merancang eksperimen, mengkomunikasikan, merumuskan hipotesis dan menarik kesimpulan ?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui keterampilan proses sains peserta didik di SMA Negeri 14 Makassar dalam hal merumuskan pertanyaan, merancang eksperimen, mengkomunikasikan, merumuskan hipotesis dan menarik kesimpulan

D. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini di harapkan memiliki manfaat sebagai berikut:

1. Secara teoritis:

a. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan konstribusi bagi perkembangan dalam dunia pendidikan fisika.

b. Penelitian ini dapat digunakan sebagiai acuan dan menjadi bahan pertimbangan bagi penelitian selanjutnya.

2. Secara praktis:

a. Bagi guru, memberikan masukan kepada guru mengenai keterampilan proses sains dan meningkatkan hasil belajar siswa dengan menggunakan metode eksperimen.

(22)

6

b. Bagi peserta didik, peserta didik menjadi lebih tertarik dengan fisika dan meningkatkan keterampilan proses sains

(23)

7 BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Landasan Teori 1. Hakikat Belajar

Belajar adalah usaha atau suatu kegiatan yang dilakukan secara sadar supaya mengetahui atau dapat melakukan sesuatu. Hasil kegitan belajar adalah perubanan diri, dari keadaan tidak tahu menjadi tahu ,dari tidak melakukan sesuatu menjadi melakukan sesuatu, dari tidak mampu melakukan sesuatu menjadi mampu melakukan sesuatu. Hamdayama, (1016:28).

Belajar merupakan sebuah proses yang kompleks yang terjadi pada semua orang dan langsung seumur hidup, sejak masih bayi (bahkan dalam kandungan ) hingga liang lahat. Salah satu pertanda bahwa seseorang telah belajar sesuatu adalah adanya perubahan tingkah laku dalam dirinya. Sehubungan dengan hal ini siregar (Irwantoro, 2016:53) menegaskan bahwa perubahan (kognitif) dan keterampilan (psikomotor) maupu yang menyangkut nilai dan sikap/ afektif.

Irwantoro (2016:54) mengemukakan bahwa belajar adalah sebuah proses yang kompleks yang didalamnya terkandung beberapa aspek, yakni sebagai berikut.

a. Bertambanya jumlah pengetahuan

b. Adanya kemampuan mengingat dan mereproduksi c. Ada penerapan pengetahuan

(24)

8

d. Menyimpulkan makna

e. Menafsirkan dan mengaitkan dengan realitas dan f. Adanya perubahan sebagai pribadi.

Dari pegertian tersebut dapat disimpulkan bahwa esensi dari belajar adalah perubahan. Perubahan ini menyangkut pengetahuan, sikap, perilaku, kecekapan, kebiasaan, kepribadian dan keterampilan yang terjadi sebagai akibat interaksi dengan lingkungan seperti guru, bahkan belajar dan lain-lain.

2. Pembelajaran Fisika

Menurut andi nurbaeti nurdin (2016:195)

Mata pelajaran fisika merupakan salah satu mata pelajaran dalam rumpun sains yang dapat megembangkan kemapuan berpikir analitis induktif dan deduktif dalam menyelesaikan masalah yang berkenaan dengan peristiwa alam sekitar, baik secara kualitatif maupun kuantitatif dengan menggunakan matematika, serta mengembangkan pegetahuan, keterampilan dan sikap percaya diri. Mata pelajaran di smu bertujuan agar siswa mampu menguasai konsep fisika dan saling keterkaitannya serta mampu menggunakan model ilmiah yang dilandasi sikap ilmiah untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya sehingga lebih menyadari keagungan tuhan yang maha Esa.

3. Hakikat Pembelajaran Sains

Hakikat sains menurut suastra (2009) dikutip oleh Marjan (2014:2) Mmengatakan bahwa hakikatnya sains memiliki tiga komponen yaitu omponen produk, proses dan sikap. Sain sebagai produk memiliki arti sebagai sekumpulan fakta-fakta, konsep, prinsip dan hukum tentang gejala alam. Sains sebagai proses merupakan suatu rangkaian terstruktur dan

(25)

9

sistematis yang dilakukan untuk menemukan konsep, prinsip, hukum dan gejala alam. Sedangkan sains sebagai sikap diharapka mampu membentuk karakter.

Berdasarkan hakekat sains tersebut tersirat jelas bahwa yang diinginkan dalam pembelajaran adalah bagaimana siswa mampu bersikap serta mampu menunjukkan karakter yang dimiliki.

Menurut zamista dan kaniawati (2015:5) dikutip oleh lestari

Fisika berasal dari bahasa yunani yaitu fysikos, yang berarti

“alamiah”, fysis, yang berarti “alam”. Jadi, fisika adalah ilmu pengetahuan yang paling mendasar, karena berhubungan dengan prilaku dan struktur benda. Fisika merupakan ilmu alam yang mempelajari materi beserta gerak dan perilakunya dalam lingkup ruang dan waktu. Fisika merupakan bagian dari ilmu- ilmu tantang alam (natural science).

Menurut lestari (2017:40), fisika mengandung prinsip-prinsip dasar ilmu alamiah bahwa kebearan dalam ilmu fisika adalah tentatif, dimana fisika bergantung pada observasi dan penelitian sehingga teori yang ada akan berubah seiring berjalannya waktu.

4. Keterampilan Proses

Keterampilan merupakan kemampuan menggunakan pikiran, nalar, dan perbuatan secara efisien dan efektif untuk mencapai suatu hasil tertentu, termasuk kreativitas. Proses didefinisikan sebagai perangkat keterampilan kompleks yang digunakan ilmuwan dalam melakukan penelitian ilmiah.

Proses merupakan konsep besar yang dapat diuraikan menjadi komponen- komponen yang harus dikuasai seseorang bila akan melakukan penelitian.

(26)

10

Menurut Pratama (2015:7) keterampilan proses adalah keterampilan fisik dan mental berkatan dengan kemampuan-kemampuan dasar yang dimiliki, dikuasai, dan diterapkan dalam suatu kegiatan ilmiah sehingga para ilmuan behasil menemukan sesuatu yang baru

Sedangkan menurut Nurlina (2015:16). Menyatakan,

Keterampilam Proses adalah keterampilan yang diperoleh dari latihan kemampuan mental, fisik dan sosial yang mendasar sebagai penggerak kemampuankemampuan yang lebih tinggi.

Kemampuan yang mendasar yang telah dikembangkan dan terlatih, lama kelamaan akan menjadi suatu keterampilan.

Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa keterampilan proses adalah keterampilan yang melibatkan keterampilan-keterampilan kognitif atau intelektual, manual dan sosial yang terarah yang didapat dari latihan.

Ada berbagai macam keterampilan dalam keterampilan proses, keterampilan-keterampilan tersebut dapat terdiri dari keterampilan dasar (basic skills) dan keterampilan terintegritas (Integrated sklills).

Keterampilan dasar dasar terdiri dari:

1. Pengamatan (observation)

2. Pengomunikasian (communication) 3. Pengklasifikasian (classification) 4. Pengukuran (measurement) 5. Penyimpulan (inference) 6. Prediksi (prediction)

Sedangkan keterampilan-keterampilan trintegritas terdiri dari

(27)

11

1. Mengidentifikasi variabel 2. Membuat tabulasi data

3. Menyajikan data dalam bentuk tabulasi 4. Menggambarkan hubungan antara variabel 5. Mengumpulkan dan mengolah data

6. Menganalisa penelitian dan menyusun hipotesis 7. Mengidentifikasi variabel secara operasional 8. Merancang penelitian

9. Melaksanakan eksperimen.

5. Keterampilan Proses Sains

Secara umum istilah sains diartikan sebagai ilmu atau ilmu pengetahuan. Istilah science yang berasal dari scire, scire (bahasa latin) yang berarti tahu. Begitupun juga ilmu berasal dari kata alima (bahasa arab) yang juga berarti tahu. Jadi baik ilmu maupun sains secara etimologis berarti pengetahuan. Dalam makna sempit, sains diartikan sebagai natural sains atau ilmu kealaman yang terdiri atas disiplin ilmu.

Menurut H.W Fowler dikutip oleh Nurlina (2015:16) Sains adalah pengetahuan yang sistematis dan dirumuskan, yang berhubungan dengan gejala–gejala kebendaan dan didasarkan terutama atas pengamatan dan deduksi.

Menurut Wahyana dikutip oleh Nurlina (2015:16) menyatakan, sains adalah suatu kumpulan pengetahuan tersusun secara sistematik dan dalam penggunaanya secara umum terbatas pada gejala-gejala alam. Perkembangannya tidak hanya ditandai dengan adanya kumpulan fakta tetapi oleh adanya metode

(28)

12

ilmiah dan sikap ilmiah. Sehingga dapat disimpulkan bahwa sains adalah suatu kumpulan teori yang sistematis.

Penerapannya secara umum terbatas pada gejala-gejala alam lahir dan berkembang melalui metode ilmiah seperti observasi dan eksperimen serta menuntut sikap ilmiah seperti rasa ingin tahu, terbuka,jujur dan sebagainya.

Menurut Dahar (1985:11) dikutip oleh Pratama (2015:7) keterampilan proses sains adalah kemampuan siswa untuk menerapkan metode ilmiah dalam memahami, memperoleh, atau mengembangkan ilmuh pengetahuan.

Keterampilan proses sains ialah keterampikan yang membolehkan peserta didik mempersoalkan sesuatu dan mencari jawaban secara bersistem keterampilan proses sain terdiri dari pada keterampilan yang mudah kepada yang kompleks. Usman ( 2018:103)

Keterampilan proses sains dapat diartikan sebagai wawasan atau panutan pengembangan keterampilan intelektual, social, dan fisik yang bersumber dari kemapuan yang mendasar pada prinsipnya ada dalam diri peserta didik. Senada dengan hal tersebut, Kurniati (2001), mengungkapkan bahwa keterampilan proses sains adalah memberi kesempatan kepada peserta didik agar dapat menemukan fakta, membangun konsep-konsep, melalui kegiatan atau pengalaman.

Menurut Sugianto dikutip oleh Winda Sayafitri (2010:20) menyatakan, pendekatan keterampilan proses merupakan pendekatan pembelajaran yang menekankan pada proses belajar, aktivitas dan kreativitas peserta didik dalam memperoleh pengetahuan , keterampilan , nilai dan sikap, serta menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

(29)

13

Menurut Nurlina (2014:16) keterampilan proses sains adalah pendekatan yang didasarkan pada aggapan bahwa sains itu terbentuk dan berkembang melalui suatu proses ilmiah dan merupakan upaya yang penting untuk memperoleh keberhasilan belajar peserta didik yang optimal.

Menurut Semiawan dikutip oleh Nurhasanah (2015:10) menyatakan,

keterampilan proses sains (KPS) perlu diterapkan karena mempunyai beberapa alasan. Pertama, perkembangan ilmu pengetahuan berlangsung secara cepat sheingga tidak mungkinkan lagi peran guru mengajarkan semua fakta dan konsep kepada siswa.

Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa keterampilan proses sains adalah mengembangkan keterampilan peserta didik untuk memproses informasi untuk memperoleh fakta, konsep, maupun pengembangan dan nilai melalui pengalamnnya.

6. Jenis-Jenis Keterampilan Proses Sains

Keterampilan proses dibagi menjadi dua tingkatan yaitu keterampilan proses tingkat dasar (Basic sciene process skill) dan keterampilan proses terpadu (Integrated Sciene Process Skill).

Keterampilan proses tingkat dasar meliputi: observasi, klasifikasi, komunikasi, pengukuran, prediksi dan inferensi. Sedangkan keterampilan proses terpadu meliputi menentukan variabel, menyusun tabel data, menyusun grafik, memberi hubungan variabel, memproses data, menganalisis penyelidikan, menyusun hipotesis, menentukan variabel

(30)

14

secara operasiml, merencanakan penyelidikan, dan melakukan eksperimen, menurut Trianto dikutip oleh Lestari (2017:54)

Menurut mudjiono (2009) dikutip oleh Lestari (2017:55) menyataka,

Keterampilan proses sains dibedakan menjadi dua kelompok yang pertama yaitu, keterampilan dasar (Basic Skills) terdii atas, mengamati, mengklasifikasikan, mengkomunikasikan, mengukur, memprediksi dan menyimpulkan. Dan yang kedua adalah, keterampilan terintegrasi (Integrated Skill), yaitu mengenali variabel, membuat tabel data, membuat grafik, menggambar hubungan antara variabel, mengumpulkan dan mengolah data, menganalisis penelitian, menyusun hipotesis, mendefinisikan variabel, merancang penelitian dan bereksperimen.

Menurut Khaeruddin ddk (2005) dikutip oleh Nurlina (2014:16) menyatakan,

Keterampilan proses sains menjadi dua bagian yaitu keterampilan proses dasar dan keterampilan proses terintegrasi . Pada keterampilan proses dasar meliputi: Pengamata, penggunaan bilangan, pengklasifikasian, pengukuran, pengkomunikasian, peramalan, dan penginferensial. Sedangkan keterampilan proses terintegrasi meliputi: Pengontrol variabel, penafsiran data, perumusan hipotesis, pendefinisian secara operasional, dan melakukan eksperimen.

Menurut Karamustafaoglu (2011) dikutip oleh Hamdani (2017:2) keterampilan proses sains dapat dikelompokan menjadi dua yaitu keterampilan proses sains dasar (basic science process skills) dan keterampilan proses sains terpadu (integrated science process skills).

Keterampilan proses sains dasar tersebut meliputi

1. Mengamati yaitu menggunakan indera untuk mengumpulkan informasi tentang objek atau peristiwa

(31)

15

2. Menyimpulkan yaitu membuat tebakan ilmiah (educated guess) tentang objek atau peristiwa berdasarkan data atau informasi yang dikumpulkan

3. Mengukur yaitu menggunakan ukuran yang standar dan titik standar untuk menentukan besaran dari suatu objek

4. Mengkomunikasikan mengunakan kata-kata, tabel dan grafik untuk menjelaskan objek atau peristiwa

5. Megelompokkan yaitu menentukan golongan objek atau fenomena berdasarkan kriteria dan sifatnya

6. Meramalkan yaitu membuat dugaan atau meramalkan kemungkinan pada objek atau fenomena yang akan terjadi berdasarkan bukti yang ada

Keterampilan proses sains terintegrasi tersebut meliputi 1. Variabel yaitu mampu mengindentifikasi variabel terkait

2. Menentukan langkah kerja yaitu kemampuan untuk mengukur variabel-variabel dalam percoban.

3. Merumuskan hipotesis yaitu kemampuan mengorganisasi data dan menarik kesimpulan berdasarkan data tersebut

4. Eksperimen yaitu kemampuan melakukan percobaan, membuat hipotesis, mengidentifikasih dan mengontrol variabel, merancang dan melakukan percobaan dan menafsirkan hasil percobaan.

7. Indikator Penilaian dalam Keterampilan Proses Sains 1. Mengamati /obserfasi

(32)

16

Mengunakan berbagai indera; mengumpulkan/mengunakan fakta yang relevan.

2. Mengelompokkan/klasifikasi

Mencatat setiap pengamtan secara terpisah; mencari perbedaan , persamaan; mengkontraskan ciri-ciri; membandingkan; mencari dasar pengelompokan atau penggolongan

3. Menafsirkan /interpretasi

Menghubung-hubungkan hasil pengamatan; menemukan pola/keteraturan dalam suatu seri pengamatan; menyimpulkan 4. Melakukan komunikasi

Mendeskripsikan atau menggambarkan data empiris hasil percobaan/pengamatan dengan grafik/tabel/diagram atau mengubahnya dalam bentuk salah satu nya; menyusundan menyampaikan laporan secara sistematis dan jelas;menjelaskan haasil percobaan/penyelidikan; membaca grafik atau tabel atau diagram; mendiskusikan hasil kegiatan suatu masalah/peristiwa.

5. Mengajukan pertanyaan

Bertanya apa, bagaimana dan mengapa; bertanya atau meminta penjelasa; mengajukan pertanyaan yang berlatabelakangi hipotesis 6. Mengajukan hipotesis

Mengetahui bahwa ada lebih dari suatu kemungkinan penjelasan dari suatu kejadian; menyadari bahwa suatu penjelasan perlu diuji kebenarannya dengan memperoleh bukti lebih banyak atau melakukan cara pemecahan masalah

7. Merencankan percobaan/penyelidikan

Menentukan alat, bahan atau sumber yang akan digunakan;

menentukan fariabel atau faktor-faktor penentuan; menentukan apa yang akan diatur,diamati,dicatat menetukan apa yang akan yang akan dilaksanakan berupa lngka kerja.

8. Mengunakan alat/bahan/sumber

(33)

17

Memakai alat dan bahan atau sumber; mengetahui alasan mengapa menggunakan alat atau bahn/sumber.

9. Menerapkan konsep

Mengunakan konsep/prinsip yang lebih dipelajari dalam situasih baru; mengunakan konsep/ prinsip pada pengalaman baru untuk menjelaskan apa yang sedang terjadi

10. Melaksankan percobaan/penyelidikan

Penelitian proses dan hasil belajar ipa menurut teknik dan cara-cara penelitian yang lebih komprehensif (stinggins, ) disamping aspek hasil belajar yang dinilai harus menyeluruh yaitu aspek kognitif, afektif dan pisikomotorik, teknik penelitian dan instrumen penelitian seyogyakarta lebih bervariasih. Hasil belajar dapat dapat dibedakan menjadi pengetahuan (knowledge), penelitian (reasoning),keterampiulan (skills), hasil kerja (product) dan afektif (affectifitas).

Tawil (2014 : 37-38)

(34)

18

B. Kerangka Pikir

Gambar 2.1 Kerangka pikir

Keterampilan Proses Sains Tes

Instrumen

Menarik Kesimpulan Merumuskan

Pernyataan

Merancang Eksperimen

Mengkomunikasikan

Merumuskan Hipotesis Observasi

Analisis

(35)

19 BAB III

METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian expost facto (survei yang bersifat deskriftif). Dalam penelitian survey, peneliti membagikan instrumen ke peserta didik (yang disebut dengan responden) untuk mengetahui seberapa kuat keterampilan proses sains peserta didik.

B. Subjek dan Sampel

Populasi pada penelitian ini adalah seluruh peserta didik kelas XI MIPA di SMA Negeri 14 Makassar yang terdiri dari 5 kelas berjumlah 126 peserta didik.

Sampel pada penelitian ini 3 kelas XI MIPA di SMA Negeri 14 Makassar yang berjumlah 68 peserta didik yang diambil dengan jenis purposive sampling

C. Prosedur Penelitian

Penelitian ini dilakukan melalui tiga tahap yaitu tahap persiapan, tahap pelaksanaan, dan tahap akhir

1. Tahap persiapan

a. Melakukan observasi ke sekolah serta berkonsultasi dengan guru mata pelajaran fisika.

b. Membuat instrumen penelitian yang berupa tes keterampian proses sains peserta didik dalam bentuk soal pilihan ganda.

c. Melakukan uji validasi instrumen penelitian.

(36)

20

2. Tahap Pelaksanaan

a. Menjelaskan terlebih dahulu tes yang akan dilakukan sebelum membagikan soal pilihan ganda kepada peserta didik.

b. Membagikan soal pilihan ganda keterampian proses sains yang mana waktu pengerjaan tesnya adalah 45 menit.

c. Setelah waktu 45 menit selesai maka peneliti mengambil kembali soal pilihan ganda.

3. Tahap Akhir

Setelah semua pelaksanaan selesai, selanjutnya peneliti menganalisis hasil dari tes yang dilakukan pada peserta didik untuk mengetahui keterampian proses sains peserta didik dalam pelajaran fisika di kelas XI IPA di SMA Negeri 14 Makassar.

D. Definisi operasional variabel

Keterampilan proses sains ialah mengembangkan keterampilan peserta didik memperoses informasi untuk memperoleh fakta, konsep maupun pengembangan dan nilai melalui pengalamannya dalam hal merumuskan masalah, merancang eksperimen, mengkomunikasikan, merumuskan hipotesis dan menarik kesimpula yang diperoleh melalui tes keterampiln proses sains dan dinyatakan dalam bentuk skor

E. Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian merupakan alat atau fasilitas yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data, instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes keterampilan proses sains yang menekankan dalam hal Merumuskan pertanyaan, Merancang eksperimen,

(37)

21

Mengkomunikasikan, Merumuskan hipotesis, Menarik kesimpulan yaitu beberapa pertanyaan dalam bentuk pilihan ganda, yang digunakan untuk mengukur tingkat keterampilan proses sains fisika pada peserta didik.

Langkah-langkah yang di tempuh dalam penyusunan instrument tes KPS penelitian adalah sebagai berikut:

a) Membuat soal yang sesui dengan KPS

b) Instrumen yang telah dibuat kemudian di konsultasikan kepada dosen pembimbing.

c) Menyusun 40 item tes keterampilan proses sains peserta didik dalam multiple choise test (bentuk pilihan ganda). Semua item yang telah disusun dikonsultasikan ke dosen pembimbing. Hal ini dimaksudkan untuk melihat apakah tes kemampuan ini layak atau tidak untuk digunakan, dalam artian apakah tes kemampuan ini valid dan dapat dipercaya.

F. Teknik Pengumpulan Data

Tes Keterampilan proses sains ini adalah soal-soal pilihan ganda yang diawali dengan sebuah Pertanyaaan. Soal keterampilan proses sains ini disesuaikan dengan indikator yang digunakan untuk mengetahui keterampilan proses sains peserta didik.

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan memberikan tes menggunakan instrumen yang akan diuji cobakan untuk mengetahui validitas dan reabilitasnya. Sebelum mengetahui tingkat validitas dan realibilitas perangkat yang akan digunakan, terlebih dahulu instrumen tersebut divalidasi oleh dua pakar (ahli), kemudian dianalisis

(38)

22

dengan menggunakan uji gregory, untuk dinyatakan valid (layak digunakan) hasil uji gregory harus memiliki nilai r ≥ 0,75.

Validitas isi =

Dengan bantuan tabel tabulasi silang seperti di bawah ini Tabel 3.1 Tabel Tabulasi

Validator 1 Sangat relevan

skor 1-2 Sangat relevan skor 3-4 Validator 2

Sangat relevan

skor 1-2 A

B Sangat relevan

skor 3-4 C

D

Retnawati (2016: 97-98) Jika , maka instrumen layak untuk digunakan.

dengan:

r = Validitas isi

A = Sel yang menunjukkan n ketidaksetujuan kedua validator B = Validator I setuju, validator II tidak setuju

C = Validator II setuju, validator I tidak setuju D = Kedua validator setuju

Retnawati (2016: 97-98) Tabel 3.2 Hasil Uji Gregory,

Variabel r Keterangan

Keterampilan proses sains 0,92 Dapat digunakan

Setelah uji Gregory maka instrument diuji cobakan pada kelas uji coba lalu instrument dianalisis untuk menggunakan uji validitas dan reliabilitas.

(39)

23

a. Uji Validitas

Uji validitas digunakan untuk mengetahui kualitas terhadap instrumen yang di gunakan dalam penelitian ini.

Pengujian validitas setiap item tes dihitung menggunakan persamaan berikut:

Keterangan :

= koefesien korelasi point biserial

Mp = mean skor dari subjek yang menjawab betul bagi item yang dicari korelasinya dengan tes

Mt = mean skor total (skot rata-rata seluruh pengikut test) St = standar deviasi skor total

P = proporsi peserta didik yang menjawab benar

q = Proporsi peserta didik yang menjawab salah (q = 1 - p)

Valid tidaknya item ke- ditujukkan dengan membandungkan nilai ( ) dengan nilai

r

tabel pada taraf singnifikan

α

= 0,05 dengan kriteria sebagai berikut:

Jika nilai ( ) , item dinyatakan valid Jika nilai ( ) , item dinyatakan invalid

(40)

24

Tabel 3.3. Kisi-Kisi Instrumen Tes Keterampilan Proses Sains

N

o Indikator

Butiran soal Kunci jawaban Sebelum

validasi

Sesudah validasi

Sebelum validasi

Sesudah validasi

1 Merumuskan pertanyaan

1,2,3,4,5,6 ,7,8

2,3,4,6,7 C,A,B,A, E,B,C,A,

E,D,A, B,C

2 Merumuskan Hipotesis

9,10,11,12, 13,14,15,16

10,11, 12,15 ,16

D,B,B,D, B,B,A,C

E,E,C, B,D 3 Merancang

Eksperimen

17,18,19,20, 21,22,23,24

17,20,21, 23,24

C,A,A,E, A,D,D,B

C,E,A, D,B 4 Mengkomunikasikan 25,26,27,28,

29,30,31,32

25,27,29, 30, 32

C,D,D,C, C,C,D,A

D,B,C, A,E 5 Menarik kesimpulan 33,34,35,36

37,38,39,40

33,34,35, 39,40

C,B,B,D, C,E,E,D

A,B,C, D,E

b. Uji Reliabilitas

Untuk mengetahui konsistensi instrument yang digunakan, maka harus ditentukan reliabilitasnya. Berdasarkan hasil uji coba instrument yang telah dianalisis dengan menggunakan uji validitas yang dinyatakan valid , selanjutnya dianalisis dengan menggunakan persamaan Kuder Richardson untuk mengetahui besarnya nilai Reliabilitas instrumen ( )

Pengujian relibialitas dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan persamaan Kuder Richardson (KR 20) sebagai berikut:

(

) { ∑ }

(Sugiyono, 2016: 186) Keterangan:

(41)

25

= Reliabilitas instrumen

= Proporsi subjek yang menjadi item dengan benar = Proporsi subjek yang menjadi item dengan salah

(q = 1 - p)

∑ = Jumlah hasil perkalian antara p dan q

= Jumlah item

= Standar deviasi dari tes (standar variasi adalah akar variasi)

Untuk tingkat reliabilitas dan kategorinya dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 3.4. Kriteria Tingkat Reliabilitas Item Rentang Nilai Kategori

> 0,800 - 1,000 Sangat Tinggi

> 0,600 - 0,800 Tinggi

> 0,400 - 0,600 Sedang

> 0,200 - 0,400 Rendah

0,000 - 0,200 Sangat Rendah

Sugiyono (2016: 186) Tabel 3.5. Hasil Uji Coba Instrumen Kriteria Tingkat Reliabilitas Item

Nilai Kategori

0,69 Tinggi

G. Teknik Analisi Data

Data hasil keterampilan proses sains dalam penelitian dianalisis dengan menggunakan teknik analisis statistik, yaitu analisis statistik deskriptif

Analisis Statistik Deskriptif

(42)

26

Analisis statistika deskriptif digunakan untuk mendeskripsikan atau memberi gambaran umum data yang diperoleh yaitu keterampilan proses sains peserta didik terhadap pembelajaran fisika dengan menggunakan metode eksperimen. Pengolahan datanya dengan cara membuat tabel distribusi frekuensi, mencari nilai rata-rata, variansi, dan standar deviasi untuk mendeskripsikan karakteristik variabel penelitian.

a. Menentukan skor rata-rata peserta didik dengan menggunakan rumus:

M =

Sugiyono (2016: 49) Keterangan:

M = skor rata-rata

∑X = jumlah skor total peserta didik N = jumlah responden

b. Menentukan standar deviasi menggunakan rumus:

√∑ ( ̅)

Sugiyono (2016: 58) Keterangan:

s = standar deviasi xi = skor peserta didik x = skor rata-rata

n = banyaknya subjek penelitian

(43)

27

Untuk mengetahui nilai yang diperoleh peserta didik, maka skor dikonversi dalam bentuk nilai dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

dengan:

N = Nilai peserta didik

SS = Skor hasil belajar peserta didik SI = Skor ideal

Tabel 3.6. Kriteria skor Keterampilan Proses Sains Interval Skor/Nilai Keterangan

81-100 Sangat Tinggi

61-80 Tinggi

41-60 Sedang

21-40 Rendah

0-20 Sangat Rendah

Sumber: Rujukan Riduwan (2012:20)

(44)

28 BAB IV

HASIL PENILITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri 14 Makassar dengan tujuan untuk mengetahui keterampilan proses sains Peserta Didik dengan mata pelajaran fisika kelas XI MIPA di SMA Negeri 14 Makassar.

Analisis Statistik Deskriptif

1. Kemampuan Keterampilan Proses Sains Peserta Didik Secara Umum Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan di SMA Negeri 14 Makassar pada kelas XI MIPA yang berjumlah 68 orang sehingga peneliti dapat mengumpulkan data-data melalui soa-soal pilihan ganda yang dikerjakan oleh peserta didik SMA Negeri 14 Makassar, kemudian di periksa dan diberikan skor untuk kemudian dianalisis dengan menggunakan program pengolahan data Microsoft excel 2010. Hasil perhitungan statistik deskriptif masing-masing variabel secara lengkap dapat dilihat pada pada lampiran.

Hasil Analisis Deskriptif Keterampilan Proses Sains Peserta Didik Kelas XI MIPA SMA Negeri 14 Makassar

Tabel 4.1 Statistik deskriptif skor keterampilan proses sains peserta didik

Statistik Skor Statistik Jumlah responden 68

Skor maksimum 25

Skor minimum 0

Skor tertinggi 18

Skor terendah 9

Rentang 9

Rata-rata 14,84

Standar deviasi 2,77

(45)

29

Beradasarkan kriteria interpertasi skor yang dikemukakan oleh Riduwan pada tabel 3.2 Halaman (22), maka apabila disesuaikan dengan skor keterampilan proses sains peserta didik akan diperoleh.

Tabel 4.2 Pengkategorian Skor Keterampilan Proses Sains Peserta Didik

Interval skor/nilai Interval skor Keterangan

0% - 20% 1-5 Sangat rendah

21% - 40% 6-10 Rendah

41% - 60% 11-15 Cukup

61% - 80% 16-20 Tinggi

81% - 100% 21-25 Sangat tinggi

Jadi, distribusi skor keterampilan proses sains peserta didik dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel 4.3

Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Pengkategorian Skor Keterampilan Proses Sains Peserta Didik

Interval Skor Frekuensi Frekuensi (%) Kategori

1-5 0 0

sangat rendah

6-10 8 11,76

Rendah

11-15 26 38,24

Cukup

16-20 34 50,00

Tinggi

21-25 0 0

sangat tinggi

Jumlah 68 100

-

(46)

30

Dari tabel 4.3 di atas, distribusi frekuensi tingkat kemampuan proses sains peserta didik dapat ditunjukkan dalam diagram batang pada gambar 4.1

Gambar 4.1 Diagram Batang Presentase Kemampuan Proses Sains Peserta Didik Kelas XI MIPA SMA Negeri 14 Makassar

Pada gambar diatas di peroleh bahwa tidak ada peserta didik yang berada pada kategori sangat rendah. Selanjutnya sebanyak 8 peserta didik berada pada kategori rendah dengan presentase 11,76%. Untuk kategori cukup sebanyak 26 peserta didik dengan presentase 38,24%, kategori tinggi sebanyak 34 peserta didik dengan presentase 50,00%

dan tidak ada peserta didik pada kategori sangat tinggi.

2. Kemampuan Keterampilan Proses Sains peserta didik Tiap Indikator KPS

Berdasarkan pada tabel 4.3 maka analisis selanjutnya adalah menganalisis jawaban benar peserta didik dan mengelompokkannya ke

0%

10%

20%

30%

40%

50%

Sangat rendah

Rendah Cukup Tinggi Sangat tinggi 0.00%

11.76%

38.24%

50.00%

0.00%

Frekuensi (%)

Katagori

(47)

31

dalam setiap aspek KPS. Untuk mengetahui sejauh mana KPS peserta didik untuk tiap aspek KPS dapat dilihat pada tabel 4.4 berikut.

Tabel 4.4 Distribusi Frekuensi Indikator Keterampilan Proses Sains Peserta Didik Di Kelas XI MIPA SMA Negeri 14 Makassar

Indikator Frekuensi (%) Kategori

Merumuskan pernyataan 59,71 Sedang

Merancang eksperimen 52,64 Sedang

Mengkomunikasikan 62,65 Tinggi

Merumuskan hipotesis 52,94 Sedang

Menarik kesimpulan 68,82 Tinggi

Dari tabel 4.4 di atas, distribusi frekuensi tingkat kemampuan proses sains peserta didik tiap indikator KPS dapat ditunjukkan dalam diagram batang pada gambar 4.2 berikut.

Gambar 4.2 Distribusi Frekuensi Indikator Keterampilan Proses Sains Peserta Didik Di Kelas XI MIPA SMA Negeri 14 Makassar

0%

50%

100%

59.71% 52.64% 62.65% 52.94% 68.82%

Frekuensi (%)

Indikator

(48)

32

gambar di atas dapat dilihat bahwa indikator merumuskan pernyataan dengan presentase 59,71 masuk dalam kategori sedang, indikator merancang eksperimen dengan presentase 52,64 masuk dalam kategori sedang, indikator mengkomunikasikan dengan presentase 62,65 masuk dalam kategori tinggi, indikator merumuskan hipotesis dengan presentase 52,94 masuk dalam kategori sedang sedangkan indikator menarik kesimpulan dengan presentasi 68,82 masuk dalam kategori tinggi.

B. Pembahasan

Berdasarkan hasil analisis statistik deskriptif menunjukkan bahwa dari 68 peserta didik kelas XI MIPA SMA Negeri 14 Makassar yang mengisi angket keterampilan proses sains, maka diperoleh bahwa tidak ada peserta didik yang tingkat keterampilan proses sains berada pada kategori sangat rendah. Selanjutnya sebanyak 8 peserta didik yang tingkat keterampilan proses sains berada pada kategori rendah dengan presentase 11,76%.

Sebanyak 26 peserta didik yang tingkat keterampilan proses sains berada pada kategori cukup dengan presentase 38,24%, sebanyak 34 peserta didik yang tingkat keterampilan proses sains berada pada kategori sedang dengan presentase 50,00% dan tidak ada peserta didik pada kategori sangat tinggi.

Di mana indikator merumuskan pernyataan dengan presentase 59,71 masuk dalam katagori sedang, indikator merancang eksperimen dengan presentase 52,64 masuk dalam katagori sedang, indikator mengkomunikasikan dengan presentase 62,65 masuk dalam katagori tinggi, indikator merumuskan hipotesis dengan presentase 52,94 masuk dalam

(49)

33

katagori sedang sedangkan indikator menarik kesimpulan dengan presentasi 68,82 masuk dalam katagori tinggi

Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa keterampilan proses sains peserta didik di kelas XI MIPA SMA Negeri 14 Makassar berada pada kategori sedang dan di mana Indikator menarik kesimpulan memiliki nilai yang paling tinggi dan indikator merancang eksperimen memiliki nilai yang paling rendah. Hasil penelitian ini relevan dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Hamdani ( 2017 ) dan Eka Puspita Dewi ( 2017 )

Hasil penelitian yang di lakukan oleh Hamdani yang berjudul “ Deskripsi Keterampilan Proses Sains Mahasiswa Calon Guru Fisika”.

Menunjukkan hasil penelitian penguasaan keterampilan proses sains mahasiswa calon guru fisika tergolong rendah, dengan rata-rata skor 48,88.

Ada tujuh aspek keterampilan proses sains yang diungkap. Tara-rata skor kemampuan memprediksi 41,55; kemampuan mengklasifikasi 41,76;

kemampuan interpretasi 49,37; kemampuan berhipotesis 49,48; kemampuan merencanakan percobaan 50,26; kemampuan mengamati 50,34 dan kemampuan menerapkan konsep 59,43. Hasil uji U Mann Whitney menunjukkan tidak ada perbedaan keterampilan proses sains antara mahasiswa laki-laki dan mahasiswa perempuan (sig.0,717 > 0,05).

Demikian pula penelitian yang di lakuakan Eka Puspita Dewi dengan judul “Efektivitas Modul Dengan Model Inkuiri Untuk Menumbuhkan Keterampilan Proses Sains Siswa Pada Materi Kalor”. Menunjukkan dari indikator keterampilan proses sains yang paling tinggi pada kelas eksperimen

(50)

34

adalah mempredeksi sedangkan pada kelas kontrol indikator yang paling tinggi adalah identivikasi variabel.

Kesulitan yang di tempuh oleh peneliti dalam mengambil data berupa sulitnya minat peserta didik untuk megerjakan soal dengan sungguh-sungguh sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Cara mengatasi kurangnya minat peserta didik untuk menjawab soal keterampilan proses sains yang dibagikan yaitu memberikan pemahaman bahwa penelitian ini semata-mata untuk mengetahui kemampuan diri peserta didik dan untuk referensi guru agar lebih kreatif dalam mengajar

(51)

35 BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil data yang diperoleh dalam penelitian ini , maka dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Keterampilan proses sains kelas XI MIPA pada SMA Negeri 14 Makassar berada pada kategori Sedang.

2. Merumuskan pernyataan, merancang eksperimen dan merumuskan hipotesi berada pada kategori tingkat sedang, sedangkan pada indikator mengkomunikasihkan dan menarik kesimpulan masuk dalam katagori tinggi

3. Indikator menarik kesimpulan memiliki nilai yang paling tinggi dan indikator merancang eksperimen memiliki nilai yang paling rendah.

B. Saran

Sehubungan dengan hasil yang diperoleh dalam penelitian ini, maka peneliti mengajukan saran sebagai berikut:

1. Bagi guru, agar penelitian ini dapat digunakan sebagai acuan untuk dapat mengembangkan model-model mangajar yang bervariasi sehingga keterampilan proses sains lebih baik lagi.

2. Bagi peneliti selanjutnya, apabila ingin melakukan penelitian dengan judul yang sama agar penelitian yang dilakukan lebih disemurnakan lagi.

(52)

36

3. Bagi pengembangan ilmu, diharapkan dalam pembelajaran fisika diberikan referensi metode yang diterapkan untuk meningkatkan hasil belajar fisika peserta didik terutama pada KPS.

(53)

37

DAFTAR PUSTAKA

Ardhiantari, winny dkk . 2015, Pengembangan LKS Berbasis Keetrampilan Proses Sains Pada Materi Hukum-Hukum Dasar Kimia. Jurnal pendidikan dan pembelajaran kimia. 4 (1).

Hamdani. 2017. Deskripsi Keterampilan Proses Sains Mahasiswa Calon Guru Fisika. Jurnal Pendidikan Matematika Dan IPA. 8 (1)

Hamdayama , Jumanta. 2016. Metodologi Pengajaran. Jakarta: Bumi Aksara.

Irwantoro, N. dan Yusuf Suryana. 2016. Kompetensi Pedagogik. Surabaya:

Gentar Group Production.

Lestari, MegaYati. 2017. Analisis Keterampilan Proses Sains Pada Pelaksanaan Praktikum Fisika Dasar I Terhadap Mahasiswa [Skripsi]. Lampung (ID): Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung.

Nurhasanah. 2016. Pengunaan Tes Keterampilan Prosesa Sains (KPS) Siswa Dalam Pembelajaran Konsep Kalor Dengan Model Inkuiri Terbimbing [Skripsi]. Jakarta (ID): Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Nurlina. 2015, Penelitian Keterampilan Proses Sains Dengan Menerapkan Model Pembelajaran Berdasarkan Masalah Pada Peserta Didik Kelas VIIIB SMP Negri 1 Lappariaja Kabupaten Bone. Jurnal Pendidikan Fisiska Universitas Muhmmadiyah Makassar.3(1): 16.

Marjan, johari. 2014. Pengaruh Pembelajaran Pendekatan Saintifik Terhadap Hasil Belajar Biologi Dan Keterampilan Proses Sains Siwa MA Mu’allimat NW Panco Selong Kabupaten Lombok Timur Nusa Tenggara Barat. Jurnal Program pascasarjana Universitas pendidikan ganesha. Volume 4

Pratama, Hutomo Eri. 2015. Keteranpilan Proses Sains Siswa Jurusan IPA Beberapa SMA Di Yogyakarta [Skripsi]. Yogyakarta (ID): Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

Purwanto. 2016. Evaluasi Hasil Belajar. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Rahmawati, D dkk, 2014.Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Head Toogethe Berbasis Eksperimen Meninkatkan

(54)

38

Keterampilan Proses Sains Siswa SMP. Unnes Physics Education Journal. 3(1): 21.

Samatowa Usman. 2018, Model Inovasi Pembelajaran Herbarium. Tangerang : Tira Smart

Sani, Ridwan Abdullah. 2017. Pembelajaran Scientific untuk Implemen tasi Kurikulum 2013. Jakarta: Bumi Aksara.

Sayafitri, Winda. 2010. Analisis Keterampilan Proses Sains Siswa Melalui Pendekatan Inkuiri Pada Konsep Sistem Koloid [Skripsi]. Jakarta(ID):

Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Sugiyono. 2013. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dn R&D. Bandung: alfabeta.

Sugiyono. 2016. Metode penelitian pendidikan pendekatan kuantitatif, kualitatif, dn R&D. Bandung: alfabeta.

Tawil, M & Liliasari. 2014. Keterampilan-Keterampilan Sains dan Implementasinya Dalam Pembelajaran. Makassr: Universitas Muhammadiyah Makassar.

Zulaiha dkk. 2014. Pengembangan Buku Panduan Praktikum Kimiah Hidrokarbon Berbasis Keterampilan Proses Sains di SMA. Jurnal Pendidikan Kimia. 1 (1): 21

Gambar

Gambar                                                                                                        Halaman  2.1  Kerangka Pikir…………
Gambar 2.1  Kerangka pikir
Tabel 3.3. Kisi-Kisi Instrumen Tes Keterampilan Proses Sains
Tabel 3.4. Kriteria Tingkat Reliabilitas Item   Rentang Nilai  Kategori
+7

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil keterampilan proses Sains dan sebaran keterampilan proses Sains peserta didik dalam pembelajaran kimia kelas XI semester 2

Penelitian ini bertujuan untuk: (1)mendeskripsikan kemampuan berpikir divergen dalam keterampilan proses sains (KBDKPS) peserta didik SMA Negeri di Kabupaten Kulon Progo

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) tingkat kemampuan berpikir divergen dalam keterampilan sains (KBDKPS) peserta didik SMA Negeri di Kabupaten Kulon Progo

Uji coba lapangan dilakukan di SMA Negeri 1 Wonosobo kelas XI pada bulan Maret 2019. Subjek uji coba terdiri dari tiga kelas yaitu kelas XI MIPA 1 sebagai kelas eksperimen 1

Skripsi dengan judul “Pengaruh Pendekatan Saintifik terhadap Keterampilan Proses Sains Peserta Didik pada Materi Kingdom Monera Kelas X SMA Negeri 6 Palembang” disusun

Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa: (1) tingkat keterampilan proses sains peserta didik berada dalam kategori rendah, (2) tingkat kemampuan numerik peserta didik

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keterkaitan antara keterampilan proses sains dengan kemampuan penguasaan konsep peserta didik kelas XI MAN 1 PATI

Simpulan Simpulan yang dapat ditarik dari hasil penelitian ini adalah 1 keterampilan berpikir kreatif peserta didik kelas XI MIPA.3 UPT SMA Negeri 1 Parepare sebelum penerapan model