PENGARUH PEMBEBANAN DINAMIS PADA INTEGRITAS INTERFACE DINDING
SALURAN AKAR DAN BAHAN OBTURASI PADA HARI
KE-3 DAN KE-7 : IN VITRO
TESIS
Oleh:
MARTHA HASIANNA PURBA NIM. 127160014
PROGRAM PENDIDIKAN DOKTER GIGI SPESIALIS ILMU KONSERVASI GIGI
FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2015
PENGARUH PEMBEBANAN DINAMIS PADA INTEGRITAS INTERFACE DINDING
SALURAN AKAR DAN BAHAN OBTURASI PADA HARI
KE-3 DAN KE-7 : IN VITRO
TESIS
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat
Untuk Memperoleh Gelar Spesialis Konservasi Gigi (Sp. KG) Dalam Bidang Ilmu Konservasi gigi
Pada Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara
Oleh:
MARTHA HASIANNA PURBA NIM. 127160014
PROGRAM PENDIDIKAN DOKTER GIGI SPESIALIS ILMU KONSERVASI GIGI
FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2015
Judul : Pengaruh Pembebanan Dinamis pada Integritas Interface Dinding Saluran Akar dan Bahan
Obturasi pada Hari ke-3 Dan ke-7 : In Vitro Nama Mahasiswa : Martha Hasianna Purba
Nomor Induk Mahasiswa : 127160014
Menyetujui Pembimbing
Prof. Trimurni Abidin, drg., Sp.KG(K)., M.Kes Prof. Dr. Harry Agusnar, M.Sc., M.Phil
Pembimbing I Pembimbing II
Ketua Program Studi, Dekan,
Prof. Trimurni Abidin, drg., Sp.KG(K)., M.Kes Prof. H.Nazruddin., drg., C. Ort., Ph.D., Sp.Ort
Tanggal Lulus :
Telah diuji :
Pada Tanggal : 30 Oktober 2015
PANITIA PENGUJI TESIS
Ketua : Prof. Trimurni Abidin, drg., Sp. KG(K)., M.Kes Anggota : 1. Prof.Dr. Harry Agusnar, M.Sc., M.Phil
2. Prof. Dr. Rasinta Tarigan, drg., Sp.KG(K) 3. Sumadhi S., drg., Ph.D
4. Dr. Eng. Ir. Indra, MT
PERNYATAAN
PENGARUH PEMBEBANAN DINAMIS PADA INTERGRITAS INTERFACE DINDING SALURAN AKAR DAN BAHAN OBTURASI PADA HARI KE-3 DAN KE-7 SETELAH OBTURASI:
IN VITRO TESIS
Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam tesis ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.
Medan, 30 Oktober 2015
Martha Hasianna Purba
ABSTRAK
Tekanan oklusal pada gigi yang di rawat endodontik akan memberi efek terhadap integritas bahan pengisi saluran akar dan pada akhirnya menyebabkan celah.
Restorasi sementara mempunyai keterbatasan dalam memproteksi pengisian saluran akar terhadap perembesan bakterial. Sering terjadi bahan pengisian saluran akar akan mengalami celah walaupun kamar pulpa sudah ditutup rapat dengan bahan adhesif.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lamanya pembuatan restorasi akhir terhadap keberhasilan perawatan endodontik. Sampel gigi premolar mandibula yang dibagi dalam delapan kelompok kemudian dilakukan pengisian saluran akar dengan bahan pengisi utama Gutta-percha, dengan dua sealer yang berbeda yaitu Topseal dan Realseal, dua teknik pengisian saluran akar yang berbeda yaitu kondensasi lateral dan warm vertical compaction, dan dua waktu pemberian beban yang berbeda yaitu 3 dan 7 hari. Sampel direndam dalam saline selama 24 jam untuk memberikan waktu sealer mengeras, kemudian dilakukan thermocycling dan uji beban dengan load 100N, selanjutnya sampel direndam dalam methylen blue 0.3%
selama 10 hari. Pengukuran celah mikro dengan melihat penetrasi zat warna pada sampel yang telah dibelah secara vertikal dan horizontal melalui stereomikroskop perbesaran 20x. Selanjutnya dilakukan pengamatan dengan scanning electrone microscopy (SEM) untuk melihat kebocoran mikro secara detail. Analisis statistik dengan Kruskal-Wallis Test dan Mann- Whitney Test menunjukkan bahwa ada perbedaan yang signifikan untuk saluran akar yang di isi dengan sealer Topseal dan Realseal pada daerah korona dengan kondensasi lateral pada pemberian beban 7 hari setelah obturasi (p≤0.05). Penelitian ini menunjukkan bahwa semua teknik pengisian saluran akar pada akhirnya tidak mampu menahan kebocoran mikro oleh karena itu restorasi akhir pasca endodontik harus dibuat segera mungkin.
Kata kunci : gigi pasca endodontik, integritas saluran akar, obturasi, load, Kebocoran mikro.
i
ABSTRACT
Occlusal load on endodontically treated tooth will give influence on the integrity of root canal filling material effect against charging integrity material and eventually cause agap. Temporary restoration has limitation in protecting the root canal against diffusion bacterial. It often occurs that root canal filling will leak though the pulp chamber has been sealed with adhesive material. Research aimed to investigate the influence of time in applying final restoration on the success of endodontic treatment.
Sample where mandibular premolar divided into eight groups then obturation was performed with solid material Gutta-percha, and two different sealer namely Topseal and Realseal using lateral condesation and warm vertical compaction and two different time at 3 and 7 days. Samples were soaked in saline for 24 hours to give time for the sealer fo set, and then thermocycling performed and the load 100N, was applied samples were soaked in solution methylen blue 0.3% for 10 days.
Microleakage measurement by seeing the penetration of the dye in the samples that has been cut vertically and horizontally through stereomicroscope magnification 20x.
Further observation using scanning electron microscope (SEM) to look for microleakage in detail. Statistical analysis with Kruskal-Wallis test and Mann- Whitney test showed that there were significantlly differences between root canal filling with sealer Topseal and Realseal in coronal region with lateral condensation technique by giving loading on the 7th day after obturation (p≤0.05). This research shows that all the root canal filling techniques were ultimately unable to resist microleakage therefore the final coronal restoration should be made as soon as possible.
Key words : endodontically treated tooth, the integrity of the root canal, obturation,load, microleakage.
ii
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan karunianya sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis ini sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Spesialis Konservasi Gigi dari Universitas Sumatera Utara.
Ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya penulis sampaikan kepada mami tercinta, yaitu Tonggo Siburian, B A dan mendiang papi (alm) St. Maripin Purba yang telah membesarkan, memberikan kasih sayang yang tak terbatas, doa, semangat dan dukungan yang tidak pernah putus dan selalu penulis rasakan walaupun dengan keterbatasan kondisi kesehatan penulis. Penulis juga menyampaikan terima kasih kepada suami tercinta, Ir. Haratua Marpaung , yang telah banyak membantu dan mendukung dalam setiap studi yang penulis jalani dan kepada anak-anak tercinta Shanty Laura Eriskania M dan Christian Leonardo M yang selalu menjadi penghibur saat penulis merasa sedih.
Ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya penulis sampaikan kepada ke tiga abang dan adik penulis, Ir. Sabar Surya Antariksa Purba Mpt beserta istri, Ir.Victor Ari Christmas Purba beserta istri, dr. Donald Boy Pardamean Purba, M.Ked PD, Sp.
PD beserta istri, dan Shelly Primasari Purba, SE.Ak beserta suami atas bantuan moril terutama materi selama penulis menjalani pendidikan.
iii
Dalam pelaksanaan penelitian dan penulisan tesis ini, penulis telah banyak mendapatkan bimbingan, bantuan, dan doa dari berbagai pihak. Pada kesempatan ini, dengan segala kerendahan hati dan penghargaan yang tulus, penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Prof. Nazruddin, drg., C.Ort., Ph.D., Sp.Ort selaku Dekan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara.
2. Drg. Cut Nurliza, M.Kes selaku Ketua Departemen Ilmu Konservasi Gigi Fakultas Kedokteran Gigi universitas Sumatera Utara yang telah memberikan dukungan serta bantuan kepada penulis.
3. Prof. Trimurni Abidin, drg., Sp.KG(K)., M.Kes selaku Ketua Program Studi dan pembimbing utama yang telah memberikan judul tesis ini dan banyak meluangkan waktu, memberikan tunjuk ajar, arahan, semangat serta dukungan kepada penulis sehingga tesis ini dapat diselesaikan dengan baik.
4. Drg. Neviyanti, M.Kes selaku Sekretaris Departemen Ilmu Konservasi Gigi Universitas Sumatera Utara yang telah banyak memberikan bimbingan dan masukan kepada penulis.
5. Prof. Dr. Harry agusnar M.Sc., M.Phil selaku pembimbing kedua yang telah banyak meluangkan waktu, memberikan tunjuk ajar serta bimbingan, arahan, semangat dan dukungan kepada penulis sehingga tesis ini dapat diselesaikan dengan baik.
iv
6. Prof.Dr. Rasinta Tarigan, drg., Sp.KG(K) selaku anggota panitia
Penguji serta dosen Ilmu Konservasi Gigi yang telah memberikan dukungan, bantuan serta masukan kepada penulis.
7. Drg. Sumadhi S., Ph.D selaku anggota panitia penguji dan dosen
Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara yang telah banyak memberikan bimbingan dan masukan kepada penulis.
8. Dr. Eng. Ir. Indra, MT selaku anggota panitia penguji dan dosen
Fakultas Teknik USU yang telah banyak memberikan bimbingan dan masukan kepada penulis.
9. Dr. Putri Chairani Eyanoer, MS., Epi., Ph.D selaku dosen Fakultas
Kedokteran Universitas Sumatera Utara atas bantuannya dalam analisis statistik hasil penelitian.
10. Drg. Dennis, MDSc., Sp.KG Atas bantuanya sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian ini.
11. Seluruh staf serta pegawai Departemen ilmu Konservasi Gigi
FKG-USU yaitu drg. Bakrie, drg. Darwis, drg. Wanda, drg. Widi, drg. Fitri, ibu Ros, Kak Mila, Bang Ilyas, Bang Jun atas segala dukungan serta bantuan selam proses pengerjaan tesis ini.
12. Teman-teman penulis pada Program pendidikan Dokter Gigi Spesialis Konservasi Gigi yaitu drg. Teddy, drg, Member, drg. Wiwik , drg. Novelyn, drg.
Susi, drg. Steven dan angkatan kelima atas bantuan, semangat, dan dukungan yang diberikan dalam suka dan duka.
v
Penulis menyadari bahwa tesis ini masih terdapat banyak kekurangan, oleh karena itu, penulis memohon maaf yang sebesar-besarnya. Penulis berharap semoga tesis ini dapat bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan pemecahan masalah praktis.
Medan, 30 Oktober 2015 Penulis,
( Martha Hasianna Purba) NIM: 127160014
vi
RIWAYAT HIDUP Keterangan Pribadi
Nama : Martha Hasianna Puraba
Alamat Tempat Tinggal : Komp. TNI-AU Karang sari I Jln. Dadali No. 93 Medan
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Protestan
No.Kontak : 081274854413
Nama Ayah : St. M. Purba
Nama Ibu : T. Siburian
Pekerjaan : PNS (Dokter Gigi)
Pendidikan Formal
Taman Kanak-kanak : Tk. Angkasa Medan Sekolah Dasar : SD Angkasa II Medan Sekolah Menegah Pertama : SMP Negeri 1 Medan Sekolah Menengah Atas : SMA Negeri 2 Medan Fakultas Kedokteran Gigi : Universitas Sumatera Utara.
vii
Publikasi
1. Short Lecture Management of Mandibular Insicors with External Inflammatory Resorption and 2nd Degree of mobility Due to traumatic Occlusion Used as Overdenture abutments: a Case Report pada Temu Ilmiah Nasional IKORGI III (TINI III), 27-29 November 2014 di Surabaya, Indonesia.
2. Short Lecture Management of Endodontic Treatment on Fractured Deepbite Anterior Tooth: A Case Report pada The 6 th Regional Dental Meeting and Exhibition (RDME VI), 4-6 Desember 2014 di Medan, Indonesia.
3. Short Lecture Penanganan Abses Apikalis pada Gigi Anterior maksila Akibat Kesalahan dalam mempertimbangkan Perlindungan Terhadap jaringan Pulpa:
Laporan Kasus. Pada Jambi Dentistry III, 25 April 2015 di Jambi, Indonesia.
4. Short Lecture Influence of Final Restoration in Endodontically Treated Tooth on the Integrity of Root Canal Obturation ( Literature Review ) pada Pertemuan Ilmiah 6 Ilmu Kedokteran Gigi (PERIL 6), 22-23 Mei 2015 di Bandung, Indonesia.
5. Short Lecture Pemilihan Restorasi Akhir Pasca Endodonti Pada Gigi Insisivus Sentralis atas Kiri Disertai Kehilangan Gigi Insisivus Sentralis Atas Kanan dengan Adhesive Bridge: Laporan Kasus pada Forum Silaturahmi Ilmiah II (FORSILA II), 30-31 Mei 2015 di Semarang, Indonesia.
viii
DAFTAR ISI
Halaman HALAMAN JUDUL
HALAMAN PENGESAHAN JUDUL HALAMAN PERNYATAAN
ABSTRAK ... i
ABSTRACT ... ii
KATA PENGANTAR ... iii
RIWAYAT HIDUP ... vi
DAFTAR ISI ... ix
DAFTAR TABEL ... xii
DAFTAR GAMBAR ... xiii
DAFTAR LAMPIRAN ... xv
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Masalah Penelitian ... 7
1.3 Tujuan Penelitian ... 8
1.4 Manfaat Penelitian ... 9
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 10
2.1 Bahan Obturasi ... 10
2.1.1 Bahan Pengisi Utama Saluran Akar ... 11
2.1.1.1 Gutta-Percha. ... 11
2.1.1.2 Siver Points ... 12
2.1.1.3 Resin ... ... 13
2.1.2 Sealer... ... 16
2.1.2.1 Sealer Berbasis Pelarut... ... 17
2.1.2.2 Sealer Berbasis Zinc-Oxide-Eugenol... ... 18
2.1.2.3 Sealer Berbasis Resin ... ... 18
2.2 Teknik Pengisian Saluran Akar ... ... 22
2.3 Pengisian Saluran Akar... ... 22
2.4 Kerapatan Pengisian dan Kebocoran Sealer... ... 23
2.5 Monoblok Sistem dalam Perawatan Endodonti... ... 24
2.5.1 Proses Terjadinya Celah Mikro... ... 25
2.5.2 Metode Pengukuran kebocoran Mikro Sealer. ... 26
2.5.3 Metode Pengukuran Kebocoran Mikro Sealer dengan Penetrasi Zat Warna serta Pemotong an Vertikal dan Horizontal ... 26
ix
2.5.4 Scanning Electrone Microscopy (SEM) ... 26
2.6 Landasan Teori... ... 30
BAB III KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS PENELITIAN ... 31
3.1 Kerangka Konsep ... 31
3.2 Hipotesis Penelitian ... 32
BAB IV METODE PENELITIAN ... 33
4.1 Jenis dan Desain Penelitian ... 33
4.2 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 33
4.3 Populasi dan Sampel Penelitian ... 33
4.3.1 Populasi Penelitian ... 33
4.3.2 Sampel Penelitian ... 34
4.3.3 Besar Sampel ... 34
4.4 Variabel dan Definisi Operasional ... 35
4.4.1 Variabel Penelitian ... 35
4.4.1.1 Variabel Bebas ... 35
4.4.1.2 Variabel Terikat ... 36
4.4.1.3 Variabel Terkendali ... 36
4.4.1.4 Variabel Tak Terkendali ... 37
4.4.2 Identifikasi Variabel Penelitian ... 38
4.4.3 Definisi Operasional ... 39
4.5 Alat dan Bahan Penelitian ... 40
4.5.1 Alat Penelitian ... 40
4.5.2 Bahan Penelitian ... 41
4.6 Prosedur Kerja ... 42
4.6.1 Persiapan Sampel ... 42
4.6.2 Pengisian Saluran Akar Menggunakan Sealer Resin Topseal... ... 43
4.6.3 Pengisian Saluran Akar Menggunakan Sealer Resin Realseal... ... 45
4.6.4 Perlakuan Sampel Sebelum Pengamatan ... 46
4.6.5 Pengamatan dan Pengukuran ... 48
4.7 Analisa Data ... 49
BAB V HASIL PENELITIAN ... 50
BAB VI PEMBAHASAN ... 67
BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN ... 73
7.1 Kesimpulan ... 73
7.2 Saran ... 73
x
DAFTAR PUSTAKA ... 76 LAMPIRAN ... 81
xi
DAFTAR TABEL
No. Judul Halaman
2.1 Penilaian Kebocoran Pada Koronal, Tengah dan Apikal Pada Gigi Yang Di Isi Dengan Resilon Dan Gutta-percha Setelah di Inkubasi Untuk 10 Hari, 1 Bulan
dan 3 Bulan ... 14
2.2 Komposisi Sealer Resin Epoksi ... 20
4.1 Definisi Operasional Variabel Bebas... ... 40
4.2 Definisi Operasional Variabel Terikat... ... 41
5.1 Tabel Uji Beda Untuk Perlakuan Berdasarkan Waktu... ... 52
5.2 Tabel Distribusi frekuensi Skor Kebocoran Bahan Pengisi Saluran Akar Dengan Dinding Saluran Akar ... ... 53
5.3 Tabel Uji Beda Untuk Delapan Perlakuan Berdasarkan Teknik Pengisian Saluran Akar ... ... 56
5.4 Tabel Perbedaan Kerapatan Antara Bahan Pengisi Saluran Akar Dengan Dinding Saluran Akar... ... 57
xii
DAFTAR GAMBAR
No. Judul Halaman
2.1 Perbandingan Analisa Regresi Dari Persentase Microleakage Antara Resilon
Dan Gutta-percha ... 15
2.2 Scanning Electrone Microscopy Dari Cross Sections Gigi Setelah 10 Hari Di Isi Dengan Gutta-percha Dan Resilon ... 15
2.3 Scanning Electrone Microscopy Dari Cross Sections Gigi Setelah 1 Bulan Di Isi Dengan Gutta-percha Dan Resilon ... 16
2.4 Scanning Electrone Microscopy Dari Cross Sections Gigi Setelah 3 Bulan Di Isi Dengan Gutta-percha Dan Resilon ... 16
2.5 Skema Yang Menggambarkan Klasifikasi Monoblok ... 25
2.6 Cara Kerja Scanning Electrone Microscopy ... 29
3.1 Kerangka Konsep ... 32
4.1 Alat Dan Bahan Penelitian ... 42
4.2 Themocycling ... 46
4.3 Uji Beban Dengan Universal Testing Machine... ... 47
4.4 Proses Pembelahan Sampel ... 48
4.5 Millimeter Grid ... 48
5.1 Hasil foto stereomikroskop Pada Kelompok Perlakuan A ... 59
5.2 Gambaran SEM Pada Kelompok Perlakuan A dengan perbesaran 500x dan 2000x ... 59
5.3 Hasil foto stereomikroskop Pada Kelompok Perlakuan B ... 60
xiii
5.4 Gambaran SEM Pada Kelompok Perlakuan B dengan perbesaran 500x dan 2000x ... 60 5.5 Hasil foto stereomikroskop Pada Kelompok Perlakuan C ... 61 5.6 Gambaran SEM Pada Kelompok Perlakuan C dengan perbesaran 500x dan
2000x ... 61 5.7 Hasil foto stereomikroskop Pada Kelompok Perlakuan D ... 62 5.8 Gambaran SEM Pada Kelompok Perlakuan D dengan perbesaran 500x dan
2000x ... 62 5.9 Hasil foto stereomikroskop Pada Kelompok Perlakuan E... ... 63 5.10 Gambaran SEM Pada Kelompok Perlakuan E dengan perbesaran 500x dan
2000x ... 63 5.11 Hasil foto stereomikroskopPada Kelompok Perlakuan F ... 64 5.12 Gambaran SEM Pada Kelompok Pelakuan F dengan perbesaran 500x dan
2000x ... 64 5.13 Hasil foto stereomikroskop Pada Kelompok Pelakuan G ... 65 5.14 Gambaran SEM Pada Kelompok Perlakuan G dengan perbesaran 500x dan
2000x ... 65 5.15 Hasil foto stereomikroskop Pada Kelompok Perlakuan H ... 74 5.16 Gambaran SEM Pada Kelompok Perlakuan H dengan perbesaran 500x dan
2000x ... 74
xiv
DAFTAR LAMPIRAN
No. Judul Halaman
1. Alur Penelitian ... 81
2. Ethical Clearance ... 82
3. Surat Permohonan Melakukan Penelitian di Laboratorium Teknologi Hasil Hutan FP USU ... 83
4. Surat Permohonan Melakukan Penelitian di Laboratorium Biologi Dasar LIDA USU ... 84
5. Surat Permohonan Melakukan Penelitian di Laboratorium Biologi Dasar FMIPA UNIMED ... 85
6. Surat Keterangan Melakukan Penelitian di Laboratorium Kimia Dasar FMIPA USU ... 86
7. Surat Keterangan Melakukan Penelitian di Laboratorium Teknologi Hasil Hutan FP USU ... 87
8. Surat Permohonan Melakukan Penelitian di Laboratorium Biologi Dasar LIDA USU ... 88
9. Surat Keterangan Melakukan Penelitian di Laboratorium Fisika FMIPA UNIMED ... 89
10. Hasil Analisis Statistik ... 90
11. Hasil Analisa Scanning Electrone Microscopy ... 92
12. Grafik Uji Kompresi Menggunakan Universal Testing Machine ... 100
xv
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Prosedur perawatan saluran akar tidak akan lengkap sampai dilakukan restorasi akhir . Sering di klinik dijumpai pada beberapa kasus –kasus pasien yang telah dilakukan perawatan endodonti tidak ditempatkan restorasi akhir segera dan dibiarkan restorasi sementara sampai beberapa minggu bahkan beberapa bulan.
Restorasi sementara mempunyai keterbatasan dan dapat gagal dalam waktu 3 minggu masih memproteksi pengisian saluran akar terhadap perembesan bakterial. Sering terjadi bahan pengisian saluran akar akan mengalami celah walaupun kamar pulpa sudah ditutup rapat dengan bahan adhesif ( Bishop et al 2008 ).Salah satu tahap dalam triad endodontic adalah melakukan pengisian sistem saluran akar secara hermetis dalam arah tiga dimensi. Pengisian yang tidak hermetis akan menyebabkan terjadinya ruang kosong di dalam saluran akar dan menyebabkan reaksi inflamasi yang akan menimbulkan kegagalan perawatan (Bishop et al., 2008 dan Schilder, 2006 ).
Pengisian saluran akar dianggap penting untuk keberhasilan perawatan saluran akar jangka panjang (Sjogren et al.1990, Buckley dan Spangberg 1995).Gigi yang sudah di rawat endodonti akan terkena tekanan oklusal selama berfungsi.
Tekanan tersebut memberi efek terhadap integritas bahan pengisi saluran akar dan pada akhirnya dapat terjadi celah ( Paque, 2007).Meskipun perawatan saluran akar menguntungkan, pengisian saluran akar mungkin tidak memberikan hasil kerapatan
yang optimal untuk jangka panjang (Shipper et al. 2004). Banyak studi telah menunjukkan bahwa kebocoran apikal atau koronal, akan mempengaruhi hasil perawatan saluran akar ( Ray dan Trope 1995, Hommez et al.2002 ). Bahan pengisian harus dapat memberikan kerapatan yang baik di dalam ruang saluran untuk mencegah masuknya cairanjaringan, bakteri dan produknya (Tang et al.2002, Williamson et al.2005 ).
Terbentuknya celah pada saluran akar yang sudah di isi mungkin terjadi di sepanjang interface antara sealer dengan dentin dan sealer dengan bahan pengisi saluran akar. Oleh karena itu, kualitas dari bahan pengisi saluran akar sangat tergantung pada distribusi sealer dan adherence pada dinding dentin dan gutta-percha (Pommel et al. 2003).Gutta-percha sendiri tidak memiliki ikatan internal dengan struktur gigi sehingga seal yang dihasilkan tidak menutup sempurna( Stratton et al., 2006 dan Monticelli et al., 2007).
Penggunaan gutta-percha dan sealer saluran akar untuk obturasi masih tetap merupakan standar dalam perawatan endodonti meskipuntidak adanya kemampuan gutta-percha dalam mencapai seal sepanjang dinding dentin saluran akar.Fungsi utama sealer adalah mengisi celah yang terjadi antara gutta-percha dengan dinding saluran akar, sehingga bahan pengisi utama dapat menutup saluran akar dengan baik ke arah apikal maupun lateral sehingga mencegah terjadinya kebocoran apikal (Monticelli et al., 2007; Gesi et al., 2005 dan Williams et al., 2006). Celah mikro terus menjadi alasan utama di dalam kegagalan perawatan saluran akar, yang menjadi tantangan dalam pencapaian seal yang adekuat antara struktur gigi dan bahan pengisi
utama yaitu gutta-percha. Gutta-percha dan sealer tidak memberikan fluid-tight seal (Friedman etal. 1997, DeMoordan Hommez2002).
Kerapatan yang tidak memadai terbentuk bila menggunakan gutta-percha sebagai bahan pengisi saluran akar telah diketahui selama beberapa dekade (Apteker dan Ginan, 2006). Saat ini berkembang penggunaan gutta-percha dengan sealer berbasis resin dalam perawatan endodonti untuk meningkatkan kerapatan dari gutta- percha ke dinding saluran akar. Resin merupakan suatu polimer sintetik yang dapat beradaptasi dengan baik pada dinding saluran akar karena daya adhesinya yang tinggi dan perubahan dimensinya kecil. Sealer ini lambat mengeras. Sifat menguntungkan lain yang dimiliki sealer jenis ini adalah kelarutan yang rendah terhadap cairan jaringan, toksisitas yang rendah,daya antibakteri yang tinggi, radiopasitas yang paling tinggi, waktu kerja panjang dan dapat melekat pada dentin pada keadaan lembab ( Williams et al., 2006; Orstavik, 2005 dan Tay et al., 2006).
Sistem pengisian saluran akar dengan Resilon/ Epiphany merupakan bahan pengisian saluran akar yang baru, dimana perlekatannya adalah secara kimia terhadap struktur gigi.Resilon adalah sintetis, bahan pengisi resin termoplastik yang dipercaya bisa mengatasi keterbatasan dan masalah dengan gutta-percha. Pengisi utama resilon digunakan untuk mengisi ruang saluran akar. Obturasi dengan sistem ini menciptakan ikatan seal dengan tubulus dentin dalam sistem saluran akar. Pada dasarnya akan menghasilkan efek monoblock dimana bahan pengisi utama, sealer, dan tubulus dentin menjadi satu struktur yang solid. Shipperet et al. (2004) dalam penelitiannya terhadap kebocoran koronal dengan menggunakan Streptococcus mutans dan
Enterococcus faecalis pada saluran akar yang di isi dengan gutta-percha dibandingkan dengan resilon dengan menggunakan teknik kondesasi lateral dan vertikal, menunjukkan perbedaan yang signifikan.
Kontaminasi diduga akan menimbulkan masalah pada gigi yang sudah dilakukan perawatan endodonti. Oleh karena itu, restorasi langsung harus segera ditempatkan, bila memungkinkan. Menunda pembuatan restorasi untuk menilai keberhasilan perawatan endodonti umumnya bukan merupakan hal yang baik bila di pandang dari pencapaian keberhasilan perawatan endodonti, juga kepentingan pasien.
Restorasi sementara tidak efektif dalam mencegah kontaminasi untuk periode waktu yang lama ( Bishop et al., 2008) ketika restorasi akhir tidak memungkinkan untuk segera di tempatkan, maka penutupan orifice harus ditempatkan dengan baik untuk membantu melindungi sistem saluran akar dari kontaminasi saliva. Restorasi akhir harus dipertimbangkan sesuai indikasi. Restorasi akhir bukan saja untuk mengurangi kebocoran tetapi juga mengurangi kekuatan pengunyahan agar tidak menimbulkan stress pada gigi dan bahan pengisi( Bishop et al, 2008).
Rusaknya restorasi sementara selama atau setelah perawatan saluran akar merupakan salah satu penyebab utama kebocoran koronal. Kegagalan restorasi sementara dapat disebabkan oleh tidak memadainya ketebalan bahan tumpatan, teknik penempatan yang tidak tepat dan kegagalan dalam mengevaluasi oklusi setelah penempatan bahan. Umumnya bahan tumpatan sementara yang digunakan yaitu Cavit, temporary restorative material (TERM) dan intermediate restorative material (IRM),dilakukan dengan penempatan cottonpelet terlebih dahulu pada ruang
pulpa dan bahan tumpatan sementara ditempatkan di atas cotton pellet, cotton pellet harus minimal dan ditempatkan dengan baik di rongga akses sebelum penempatan tumpatan untuk mencegah lifting atau lepasnya bahan tumpatan sementara (Schwartz RS et al. , 2004).
Penelitian menunjukkan bahwa koronal seal dari gigi yang sudah dirawat endodonti dapat sama penting dengan apikal seal dalam kesuksesan perawatan saluran akar. Swanson dan Madison 1987, Madison dan Wilcox 1988 menegaskan bahwa paparan dari lingkungan rongga mulut ke saluran akar memungkinkan kebocoran koronal berlangsung (Stratton et al., 2006; Paque, Sirtes, 2007). Penyebab kegagalan saluran akar yang paling umum adalah kontaminasi bakteri baik melalui kebocoran mikro atau kontaminasi selama proses perawatan saluran akar berlangsung. Tujuan pengisian adalah seal yang hermetis dari sistem saluran akar.
Semakin baik seal dapat dicapai, semakin besar prognosis jangka panjang gigi yang telah di rawat (Monticelli et al., 2007).
Adanya kebocoran di bawah kondisi tertentu akan mempengaruhi integritas sistem obturasi. Integritas sistem obturasi telah diteliti dalam berbagai studi,dalam kenyataannya adanya kebocoran sistem obturasi saluran akar dapat terpapar secara tetap terhadap kekuatan oklusal, yang dapat menimbulkan stress pada gigi yang telah di restorasi dan akan mempengaruhi perlekatan ( gutta-percha ke sealer ) sehingga menimbulkan celah melalui restorasi sementara dan obturasi. Bishop et al (2008) dalam penelitian menyatakan bahwa pada gigi yang telah di obturasi dan diberikan tekanan oklusal terlihat adanya celah mikro antara bahan pengisi dan dinding saluran
akar. Tidak ada perbedaan yang signifikan dalam panjang celah antara 2 bahan obturasi yang digunakan yaitu Gutta-percha/ AH Plus atau Resilon/ Epiphany dengan kondisi pembebanan yang meniru tekanan oklusal dengan menggunakan servohydraulic testing machine(STM) dengan frekuensi 2 Hz pada 100 N selama 22 jam ( Bishop et al., 2008).
Ada beberapa penelitian yang menganalisis kerapatan dari beberapa jenis sealer saluran akar. Zhang et al. (2009) membandingkan kemampuan penutupan sealer kalsium silikat (iRootSP) dengan sealer resin AH Plus dengan menggunakan tiga teknik pengisian yang berbeda yaitu continuous wave dan kon tunggal dengan sealer yang sama (iRoot SP) dan continuous wave dengan sealer resin. kemudian kebocoran apikal diukur dengan metode fluid filtration pada 24 jam, 1, 4, dan 8 minggu, karena daerah apikal sering tidak terisi dengan padat, kemudian dilihat dengan menggunakan SEM , terlihat kebocoran sedikit lebih tinggi pada kelompok yang diisi dengan kon tunggal dan sealer kalsium slikat tetapi tidak bermakna untuk semua kelompok( Zang et al., 2009) .
Sebenarnya yang menjadi masalah adalah untuk melihat berapa lama sebenarnya gigi yang telah dilakukan perawatan endodonti dilakukan restorasi tetap.
Sampai saat ini belum ada penelitian untuk melihat berapa lama suatu gigi yang telah di rawat endodontik untuk dilakukan restorasi tetap, dengan melihat efek kekuatan oklusal terhadap interface obturasi akibat pengaruh mastikasi sehingga perlu dilakukan penelitian dalam hal ini untuk melihat celah pada bahan obturasi sesudah dilakukan cyclic load yang menggambarkan kekuatan pengunyahan terhadap
interface antara bahan obturasi dan dinding saluran akar , dengan metode dye penetration yang dapat dilihat dengan Stereomikroskop dan Scanning Electron Microscopy ( SEM ).
1.2 Rumusan Masalah
Tema sentral penelitian ini adalah:
1. Keberhasilan perawatan endodonti sangat tergantung pada pengisian saluran akar dan restorasi akhir yang direncanakan .
2. Restorasi sementara tidak cukup baik, tidak efektif dalam mencegah kontaminasi untuk periode waktu yang lama.
3. Gutta-percha tidak dapat melekat dengan baik pada dinding saluran akar.
4. Belum diketahui berapa lama waktu yang tepatdalam melakukan restorasi akhir pada gigi yang telah dirawat endodoti .
Dari uraian diatas timbul masalah sebagai berikut :
1. Apakah ada perbedaan celah antara dinding saluran akar dengan bahan pengisi saluran akar dengan teknik kondensasi lateral dan teknik warm vertical compaction , setelah di beri pembebanan dinamis pada hari ke-3 dan hari ke – 7 setelah obturasi.
2. Apakah ada perbedaan celah antara dinding saluran akar dengan bahan pengisi saluran akar yang menggunakan sealer Topseal dan Realseal
dengan teknik kondensasi lateral dan warm vertical compaction setelah di beri pembebanan dinamis pada hari ke- 3 dan ke- 7 setelah obturasi?
1.3 Tujuan Penelitian Tujuan Umum
Untuk mengetahui pengaruh lamanya pembuatan restorasi akhir ter hadap keberhasilan perawatan endodontik.
Tujuan Khusus
1. Mengetahui distribusi frekuensi skor celah bahan pengisi saluran akar dengan dinding saluran akar pada delapan jenis perlakuan penelitian.
2. Menganalisis perbedaan celah antara bahan pengisi saluran akar dengan dinding saluran akar dengan menggunakan bahan pengisi saluran akar dan sealer serta teknik pengisian yang berbeda setelah diberi pembebanan dinamis pada hari ke-3 dan ke-7.
3. Mengetahui gambaran perbedaan celah antara bahan pengisi saluran akar dengan dinding saluran akar pada 1 (satu) sampel gigi dengan celah paling minimal yang dipilih setelah masing-masing perlakuan selesai.
1.4 Manfaat Penelitian
1. Secara teoritis, hasil penelitian ini akan memberikan penjelasan terhadap pemilihan kapan waktu yang terbaik untuk pembuatan restorasi akhir setelah selesai dilakukan perawatan saluran akar.
2. Secara metodologi, hasil penelitian dapat menjelaskan mekanisme beban pengunyahan terhadap bahan dan teknik pengisian saluran akar pada gigi yang sudah di lakukan perawatan endodontik.
3. Secara aplikatif, hasil penelitian ini dapat mendukung perkembangan ilmu kedokteran gigi, terutama di bidang perawatan endodontik, dalam mengurangi kebocoran pada gigi yang telah dilakukan perawatan endodonti sehingga gigi dapat bertahan selama mungkin di dalam mulut.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Bahan Obturasi
Prinsip dasar dalam pengisian saluran akar adalah mencapai pengisian dari ruang saluran akar secara tiga dimensi (3D).Keberhasilan suatu perawatan saluran akar tergantung pada pengangkatan jaringan pulpa, bakteri, dan debris nekrotik dengan melakukan cleaning andshaping saluran akar untuk memfasilitasi dalam membentuk obturasi ( Schilder, 2006; Chang et al., 2004).Potensi penyebab kegagalan endodontik adalah kontaminasi ulang bakteri pada saluran akar dari rongga mulut, karena kehilangan restorasi sementara atau kebocoran dari restorasi akhir yang tidak memadai dalam menerima tekanan oklusal pada waktu mastikasi( Bishop et al., 2008; Stratton et al., 2006; Monticelli et al., 2007; Williams et al., 2006).
Bahan pengisi saluran akar terdiri dari bahan inti dan sealer.Bahan inti di bagi menjadi dua bentuk yaitu material inti solid dan semisolid , material inti solid yang digunakan dapat berupa gutta-percha,kon perak, dan resilon ( Shilder et al., 2006;
Orstavik et al., 2005) . Resilon merupakan bahan pengisi termoplastik, yang berbahan dasar polimer, dikembangkan untuk menghasilkan ikatan adhesif bahan inti solid dan sealer. Kon perak telah digunakan sebagai bahan pengisi saluran akar sejak tahun 1930. Bahan perak ini memiliki toksisitas yang tinggi dan dapat menyebabkan cedera jaringan oleh karena itu bahan ini tidak lagi digunakan. Gutta-percha merupakan bahan yang paling umum dan sering digunakan saat ini sebagai bahan
pengisi saluran akar ( Stratton et al., 2006; Monticelli et al., 2007; Gesi et al., 2005;
Johnson dan Gutmann, 2006).
Sifat bahan pengisi saluran akar yang ideal, menurut kriteria Grossman adalah: mudah di masukkan ke dalam saluran akar, harus menutup kanal lateral dan apikal, tidak menyusut setelah dimasukkan, tahan terhadap kelembaban, harus bakteriostatik atau setidaknya tidak mendorong pertumbuhan bakteri, harus radiopak, tidak mewarnai struktur gigi, tidak mengiritasi jaringan periapikal, harus steril atau dengan cepat dan mudah di sterilkan sebelum di masukkan, dapat dibersihkan dengan mudah dari saluran akar jika diperlukan( Orstavik, 2005).
2.1.1 Bahan Pengisi Utama Saluran Akar 2.1.1.1Gutta-Percha
Gutta-percha berasal dari ekstrak pohon family Sapotaceae yang merupakan isomer dari caoutchouc,tapi lebih keras, lebih rapuh dan kurang elastis, bahan ini pertama kali digunakan dalam kedokteran gigi pada akhir tahun 1800. Bentuk kimia gutta-percha 1,4-polyisoprene. Gutta-percha mengalami fase transisi ketika dipanaskan dari fase beta ke alpha pada suhu 1150 F (460 C), titik melunak gutta-
percha ditemukan pada 1470 F (640 C) dan akan melt pada suhu 1000 C.
( Orstavik, 2005) .
Komposisi Gutta-percha points terdiri dari: Gutta percha 19%-22%, Zinc oksida 59%-75%, garam logam berat 1%-17%, wax atau resin 1%-4%. Penggunaannya sebagai bahan pengisi sementara berlanjut sampai tahun 1950. Penggunaan Gutta-
percha tanpa sealer tidak akan memberikan penutupan yang baik.
Metode memanipulasi Gutta- perca menggunakan panas atau pelarut akan menghasilkan beberapa penyusutan (1-2%) dari bahan.
Keuntungan gutta-percha: bersifat plastis, larut dalam kloroform / ekaliptol, dapat beradaptasi dengan baik terhadap dinding saluran akar, manipulasinya sederhana, dapat dikeluarkan dari saluran akar bila diperlukan, toksisitasnya rendah.
Kerugiannya: sulit untuk saluran akar yang sempit dan bengkok, penyimpanan yang tidak baik / terlalu lama akan mudah patah / rapuh ( Glickman dan Walton, 2009; De- Deus et al., 2007).
2.1.1.2 Silver Points
Instrumentasi saluran akar bertujuan untuk mempertahankan bentuk alami saluran akar berbentuk seperti semula walaupun dilakukan pelebaran bentuk konus dari saluran akar harus dipertahankan. Tetapi dengan kasus-kasus saluran akar yang sempit diperlukan bahan pengisi yang bersifat fleksibel tetapi cukup kaku.
Keuntungan darisilver point bahwa silver pointtidak akan melengkung dan dapat lebih mudah di masukkan kedalam saluran akar dan silver point dapat disemenkan dengan sealer ( Orstavik, 2005).
Keuntungan lain dari silver points adalah: dapat digunakan pada saluran akar yang sempit dan bengkok, radiopak, bakteriostatik, mudah disterilkan : termis / kimia. Kekurangan silver points adalah: adaptasi dengan dinding saluran akar kurang baik, korosif yang menyebabkan low grade pain, apikal seal kurang baik,dan sulit dikeluarkan bila diperlukan ( Schilder, 2006; Orstavik, 2005).
2.1.1.3 Resin
Pada tahun 2004, bahan pengisi baru , Resilon(Resilon LLC, Madison, CT, USA), yang dihubungkan dengan sistemadhesif(Epiphany, Pentron Clinical Technologies, Wallingford,CT, USA) diperkenalkan. Bahan Inti polimer termoplastik yang baru (berbasis-polikaprolakton) memiliki potensi untuk mengalahkan gutta- percha yang merupakan gold standar, sebagai bahan inti pengisi saluran akar (Shipper etal.2004). Adhesif dentin bisa diterapkan sebagai sealer baik dengan gutta-percha (Mannocci danFerrari1998) atau berikatan secara simultan ke dentin intraradikular ke Resilon(Shipper etal.2004).Resin telah di uji selama beberapa dekade sebagai bahan pengisi saluran akar. Resilon adalah bahan inti polyester dengan bahan pengisi kaca bioaktif, bismut dan garam barium ( Aptekar dan Ginnan, 2006; Gesi et al., 2005; Williams et al., 2006; Orstavik, 2005; De-Deus et al., 2007). Idealnya sealer saluran akar harus mampu berikatan ke dentin saluran akar dan Resilon. Stratton et al.
2006, Tunga dan Bodrumlu 2006 melaporkan bahwa Resilon dan Epiphany lebih baik dalam mencegah masuknya cairan di banding dengan gutta-percha dan AH Plus atau AH26 tetapi beberapa laporan juga menyimpulkan bahwa tidak ada perbedaan antara bahan yang digunakan antara Resilon dan Epiphany dengan gutta-percha dan AH Plus atau AH26 dengan menggunakan model filtrasi cairan (Biggset al. 2006, Onay et al. 2006, Shemesh et al. 2006). Namun semua hasil yang diperoleh baik atau sampai dengan 3 bulan sesudahnya. Hal ini di ketahui dari aplikasi koronal sistem bonding dentin yang dapat berkurang dari waktu ke waktu (De Munck et al. 2005). Resilon bersifat biodegradable melalui enzimatik dan hidrolisis alkalin (Tay et al. 2005),
dicurigai bahan pengisi saluran akar Resilon/ Epiphany mungkin kehilangan kemampuannya dalam hal seal dari waktu ke waktu ( Paque dan Sirtes, 2007).
Penilaian kebocoran pada koronal, tengah dan apikal pada saluran akar yang di isi dengan bahan pengisi utama Resilon dan Gutta-percha dengan sealer epiphany dapat dilihat pada tabel 2.1.
Tabel 2.1 Penilaian kebocoran pada koronal, tengah dan apikal pada gigi yang di isi dengan resilon dangutta- percha dengan sealere epiphany setelah di inkubasi untuk 10 hari, 1 bulan dan 3 bulan ( Aptekar danGinnan, 2006)
Pada gambar 2.1 terlihat bahwa kebocoran lebih besar terjadi pada saluran akar yang di isi dengan bahan pengisi utama Gutta-percha di banding dengan Resilon pada hari ke-10 sampai hari ke-90.
Gambar 2.1 Perbandingan analisa regresi dari persentase microleakage antara Resilon dan Gutta percha (Aptekar dan Ginnan, 2006)
Penelitian Aptekar dan Ginnan, (2006) cit. Menunjukkan bahwa pengisian saluran akar dengan Resilon menghasilkan celah mikro yang lebih kecil dibandingkan dengan Gutta-percha pada waktu inkubasi 10 hari, 1 bulan dan 3 bulan pada pemeriksaan SEM ( Gambar 2.2- 2.4).
Gambar 2.2. Scanning electrone microscopy dari cross-sections gigi setelah 10 hari di isi dengan Gutta-percha dan Resilon ( 500 x pembesaran ) (Aptekar dan Ginnan, 2006)
• Resilon
Gutta-percha
Gambar 2.3. Scanning electrone microscopy dari cross-sections gigi setelah 1 bulan di isi dengan Gutta-percha (a) dan resilon (b) ( 500 x pembesaran (Aptekar dan Ginnan, 2006)
Gambar 2.4. Scanning electrone microscopy dari cross-sections gigi setelah 3 bulan di isi dengan Gutta-percha (a) dan resilon (b) . Terjadi crack ( 500 x pembesaran )
2.1.2 Sealer
Sealer saluran akar memiliki peranan penting pada pengisian saluran akar.
Sealer harus digunakan bersamaan dengan bahan obturasi tanpa melihat teknik dan bahan yang digunakan. Sealer ini berfungsi untuk menciptakan penutupan yang kedap cairan, sedangkan intinya mengisi ruang yang ada dan berfungsi sebagai kendaraan bagi sealer. Sealer akan mengisi seluruh ruang yang tidak dapat ditempati oleh bahan inti karena keterbatasan fisik. Sealer bertanggung jawab atas fungsi –
fungsi utama dalam pengisian akhir saluran akar, kerapatan dari sistem saluran akar, menutup jalandari bakteri yang tersisa dan pengisian kanal-kanal assesoris ( Schilder, 2006) .
Menurut Grossman kriteria sealer saluran akar yang ideal adalah mempunyai toleransi yang baik terhadap jaringan artinya sealer beserta komponennya tidak boleh menyebabkan kerusakan jaringan atau kematian sel. Selain itu sealer tidak menyusut saat mengeras sehingga tetap stabil secara dimensional dan sedikit mengembang saat setting. Sealer juga diharapkan memiliki waktu setting yang lambat karena harus menyediakan waktu kerja yang adekuat untuk penempatan dan manipulasi bahan obturasi. Sifat adhesif merupakan syarat yang paling diinginkan. Bahan adhesif akan membentuk ikatan yang absolut antara bahan inti dan dentin, menutup semua rongga, radiopak, tidak menyebabkan perubahan warna, stabil, mudah dicampur dan dimasukkan ke dalam saluran akar, mudah dikeluarkan, tidak mudah larut dalam cairan jaringan, bakterisidal ( Schilder, 2006; Orstavik, 2005).
2.1.2.1 Sealer berbasis pelarut
Rosin-Kloroform sebagai sealer/ softener dapat digunakan dan chloropercha merupakan formulasi penghancuran atau pelunakan Gutta-percha ke dalam chloroform dapat menambah perlekatan permukaan dentin dan Gutta-percha. Zinc oxide dapat ditambahkan ke dalam campuran sealer untuk mengurangi celah.
Kebocoran karena adanya celah masih tetap menjadi masalah dengan metode ini(Orstavik, 2005).
2.1.2.2 Sealer berbasis Zinc-oxide-eugenol
Bahanzinc-oxide-eugenol telah mendominasi dari tahun 70 sampai 80an.
Rickysealer yang komersial dalam bentuk KerrPulp Canal Sealer, dan Grossman sealer, yang komersil dalam beberapa varian, di antaranya Rothsealer dan ProcoSol.
Ricky menambahkan bubuk silver untuk mendapatkan kontrasX-ray, sedangkan Grossman menggunakan garam bismuth dan barium. DiEropa, paraformaldehyde ditambahkan untuk aktivitas antibakteri, seperti dalam pastaN2 dan Endomethasone yang masih kontroversial. Sealer berbasis zinc-oxide-eugenol memiliki beberapa aktivitas antibakteri, tetapi juga akan menunjukkan beberapa toksisitas ketika ditempatkan secara langsung pada jaringan vital( Orstavik, 2005).
2.1.2.3Sealer berbasis Resin
Sejauh ini yang paling sukses dari sealer berbasin resin adalah seri AH. Prototipe ini dikembangkan lebih dari 50 tahun yang lalu oleh Andre Schroeder dari Switzerland. Sealer resinbis-fenol menggunakan methenamine untuk polimerisasi.
Beberapa studi mengenai kebocoran telah dipublikasikan dengan membandingkan bahan baru , beberapa penulis melaporkan bahwa Resilon dengan epiphany lebih baik dibanding dengan Gutta-percha dengan AH Plus atau AH26 dalam mencegah kebocoran (Stratton etal. 2006, Tunga dan Bodrumlu 2006).
Menurut Tunga et al. (2006) dari lima jenis sealer yang telah dikembangkan dan dipakai secara luas di seluruh dunia, sealer resin sudah diteliti memiliki kemampuan penutupan yang paling baik dibandingkan dengan empat golongan sealer
lainnya yaitu zinc-oxide-eugenol, ionomer kaca, kalsium hidroksida dan silikon.
Contoh sealer resin yang banyak digunakan dipasaran yaitu sealer AH26, tetapi sealer ini mulai digantikan AH Plus dan Topseal , karena produksi sulfida perak hitamnya yang dapat menyebabkan diskolorasi pada gigi, sealer AH Plus tidak melepaskan formaldehid selama selama polimerisasi (Orstavik, 2005; Paque dan Sirtes, 2007).
Menurut Tunga et al. (2006), Stratton et al. (2006) dan Kim et al. (2009), sealer resin memiliki sifat yang baik, tetapi memiliki ikatan yang kurang baik pada dentin. Sifat resin yang selalu mengalami pengkerutan dapat menyebabkan terbentuknya celah pada pengisian saluran akar, sehingga diperlukan teknik yang
menggunakan ratio Gutta-percha lebih banyak dibandingkan dengan sealer (Monticelli et al., 2007; Paque dan Sirtes, 2007). Komposisi sealer Topseal terdiri
dari 2 pasta , pasta A terdiri dari resin bisphenol- A epoksi, resin bisphenol-F epoksi, kalsium tungstat, zirconium oksida, silika, besi oksida, sedangkan pasta B berisi dibenzyldiamin, amino adamantan, trisiklodecan-diamin, kalsium tungstat, zirconium oksid, silika, minyak silikon ( Ingle dan Bakland, 2002 ).Sealer berbahan dasar resin epoksisebagai sealer saluran akar memiliki kelebihan yaitu bersifat radiopak, kelarutanrendah, penyusutan kecil, memiliki antibakteri, dan toksisitas rendah (Cohen danHargreaves, 2010). Kelebihan lain yang dimiliki sealer berbahan dasar resin epoksi ialah mudah dicampur, mengalir dengan baik, waktu kerja panjang dan dapat melekat pada dentin dalam keadaan lembab (Limkangwangkol et al., 1991 cit. Mc
Comb, 1975). Adapun komposisi sealer resin epoksi dapat dilihat pada tabel 2.2 dibawah ini( Stratton et al., 2006).
Tabel 2.2 Komposisi Sealer Resin Epoksi
BUBUK CAIRAN
Bismuth (III) oxide (60%) Bisphenol-A-diglycidylether(BADGE) Hexamethylene tetraamine (25%)
Perak (10%)
Titanium dioksida (5%)
Tabel 2.3 Jenis bahan kimia dan contoh sealer
Jenis Merek Kandungan Produksi
Menurut Stratton et al., 2006 dan Kim et al., 2009, sealer resin epoksi tidak akan berikatan baik dengan dinding saluran akar apabila tidak dilakukan irigasi akhir dengan menggunakan EDTA untuk menghilangkan smear layer pasca preparasi saluran akar.Kekurangan sealer berbahan dasar resin epoksi yang lainnya yaitu waktu pengerasan yang lama antara 24-36 jam ( Ingle dan Bakland, 2002).
2.2 Teknik Pengisian Saluran Akar
Teknik pengisian saluran akar terbagi menjadi teknik Gutta-percha padat dan Gutta-percha yang dilunakkan. Teknik Gutta-percha padat di bagi menjadi teknik kon tunggal dan teknik kondesasi lateral, sedangkan teknik Gutta-percha yang dilunakkan dibagi menjadi teknik kondesasi lateral panas dan teknik kondesasi vertikal panas, teknik Gutta-percha injeksi, teknik kondensasi termomekanis, teknik Gutta-percha core carrier , dan teknik resin kloroform. Teknik kondensasi lateral panas dan teknik kondensasi vertikal panas adalah teknik yang menggunakan panas pada Gutta-percha di dalam saluran akar. Teknik kondesasi vertikal panas yang banyak digunakan adalah sistem B, sistem ini dikenal juga sebagai teknik continous wave . sedangkan teknik yang menggunakan panas pada Gutta-percha di luar saluran akar antara lain teknik Gutta-percha injeksi dan teknik kondesasi termomekanis dan teknik core carrier, contoh teknik Gutta-percha injeksi adalah Obtura dan Ultrafil . Teknik resin- kloroform merupakan teknik pelunakan Gutta-percha menggunakan solven berupa kloroform( Aptekar dan Ginnan, 2006).
2.3 Pengisian Saluran Akar
Saluran akar yang telah di preparasi dengan baik harus dilanjutkan dengan pengisian saluran akar yang padat. Tujuan utama pengisian saluran akar adalah memberikan kerapatan yang baik pada bagian koronal dan apikal saluran akar serta menutup semua iritan yang masih ada di dalam saluran akar yang tidak dapat dibersihkan secara sempurna ( Hammad, 2009; Schilder,2006).
Pengisian saluran akar dapat didefinisikan sebagai pengisian seluruh sistem saluran akar secara tiga dimensi, menggunakan semen yang telah diteliti sebagai bahan yang biokompatibel, yang digunakan bersamaan dengan bahan pengisi utama untuk menciptakan penutupan yang adekuat ( Schilder, 2006 ).
Dapat disimpulkan bahwa pengisian saluran akar yang baik adalah pengisian yang tepat sepanjang kerja dan padat sehingga dapat tercipta tight fluid seal dan monoblok sistem yang baik.
2.4 Kerapatan Pengisian ( Sealing Ability ) dan Kebocoran Sealer
Kebocoran cairan jaringan yang berasal dari apeks merupakan penyebab terbesar dari kegagalan perawatan saluran akar karena dapat menjadi suplai nutrisi bagi bakteri yang tersisa di dalam saluran akar, terutama disebabkan tidak adekuatnya kualitas kerapatan pengisian saluran akar sehingga mengakibatkan adanya kebocoran.
Kebocoran dapat terjadi pada apeks maupun korona. Adanya kebocoran ini akan memfasilitasi masuk dan berkembangnya bakteri. Kebocoran ini juga dipengaruhi oleh bahan pengisi saluran akar sendiri dan faktor lain seperti oleh anatomi saluran akar dan preparasi, akses kavitas, smear layer, kekeringan saluran akar, kekentalan sealer dan teknik pengisian serta metode irigasi. Kebocoran biasanya terjadi diantara bahan pengisi saluran akar dan dinding saluran akar, walaupun ada beberapa penelitian menunjukan kebocoran antara sealer dan bahan inti ( Monticelli et al., 2007; Aptekar dan Ginnan, 2006; Paque dan Sirtes, 2007; De-deus et al., 2009).
2.5 Monoblok sistem dalam perawatan endodonti
Perkembangan endodonti sekarang ini telah melibatkan penggunaan bahan adesif pada perawatan saluran akar. Teknik ini menciptakan suatu sistem monoblok di dalam saluran akar yaitu suatu istilah yang secara harafiah berarti satu kesatuan.
Sistem monoblok mampu meningkatkan kualitas seal pada bagian koronal dan apikal sehingga memperkuat akar karena mampu mendistribusikan beban pengunyahan secara homogen dan mengurangi tekanan pada fungsi pengunyahan. Bahan monoblok harus memiliki kemampuan ikatan kuatdan saling menyatu satu sama lain, serta substrat monoblok berfungsi sebagai reinforced (penguat). Bahan monoblok juga harus memiliki modulus elastisitas yang mirip dengan dentin (Tay dan Pashley, 2007).
Elastisitas dentinyang besar membuat dentin lebih kuat dari pada email, modulus elastisitas berfungsi untuk menahan tekanan atau sebagai shock absorbing dari email.
Monoblok saluran akar di klasifikasi sebagai monoblok primer hanya ada satu permukaan (interface) antara bahan pengisi saluran akar dengan dinding dentin.
Monoblok sekunder terdapat dua permukaan, satu antara pasak fiber/bahan pengisi saluran akar dengan sealer saluran akar dan satu permukaan antara sealer saluran akar dengan dinding dentin. Monoblok tertier tercipta ketika terdapat tiga permukaan yaitu pada permukaan fiber post, sealer saluran akar dengan dinding dentin, dapat dilihat pada gambar 2.6 (Tay et al., 2007 dan Varna, 2010).
Gambar 2.5Skema yang menggambarkan klasifikasi monoblok
2.5.1 Proses Terjadinya Celah Mikro
Pada kenyataannya gigi yang telah dilakukan perawatan endodonti akan terkena tekanan oklusal secara terus menerus selama berfungsi yang dapat berpotensi mengganggu ikatan yang terjadi antara bahan pengisi saluran akar dengan dinding saluran akar dan memungkinkan terjadinya kebocoran melalui restorasi sementara dan bahan obturasi. Celah dapat terjadi antara dinding saluran akar dengan sealer dan sealer dengan bahan pengisi utama ( Bishop et at., 2008; Aptekar dan Ginnan, 2006).
sementum
Dentin akar
Bahan pengisi saluran akar
Semen resin atau sealer saluran akar
Pasak fiber atau bahan pengisi saluran akar
Bondable coating pada pasak fiber atau bahan pengisi saluran akar
2.5.2 Metode Pengukuran Kebocoran Mikro Sealer
Pengujian kebocoran mikro dari sealer saluran akar dapat dilakukan dengan beberapa metode diantaranya dengan zat warna (dye penetration test ). Dye penetration test adalah test yang sederhana dan relatif murah, pengukuran kebocoran ini dilakukan dengan merendam preparat gigi yang diteliti di dalam zat warna selama beberapa waktu, setelah itu dilakukan pemotongan( Pommel dan Camps, 2001).
2.5.3 Metode Pengukuran kebocoran Mikro sealer dengan Penetrasi zat Warna serta Pemotongan Vertikal dan Horizontal
Metode pengukuran dengan menggunakan zat warna untuk pertama kali dilaporkan oleh Grossman pada tahun 1939. Metode ini untuk menilai kebocoran apeks melalui zat pewarna yang berpenetrasi melalui bagian apeks sepanjang celah di antara bahan pengisi dan dinding saluran akar. Selanjutnya gigi di belah secara vertikal dan horizontal sehingga penetrasi zat pewarna kedalam saluran akar dapat dinilai. Teknik pemotongan yang vertikal memungkinkan pemeriksaan bahan pengisi yang terekspos dengan adanya penetrasi zat pewarna ke dalam bahan dan pada permukaan dinding dentin pada satu sisi( Verissimo dan Vale, 2006)
2.5.4 Scanning Electron Microscopy (SEM)
Indra penglihatan manusia memiliki keterbatasan untuk melihat materi yang memiliki ukuran amat kecil. Mikroskop semakin berkembang setelah pada tahun 1609 Galileo Galilei, ilmuwan asal Italia, membuat alat pembesar yang menggunakan lensa optik. Alat itu kemudiandisebut sebagai mikroskop optik. Keterbatasan kemampuan mikroskop optik itu menginspirasi ilmuwan asal Jerman Ernst Ruska dan
Max Knoll menciptakan mikroskop elektron yang memiliki panjang gelombang pendek pada tahun 1932. Mikroskop elektron memunyai kemampuan pembesaran objek (resolusi) yang lebih tinggi dibanding mikroskop optik. Perbedaan mikroskop optik dengan mikroskop elektron adalah fungsi pembesaran objeknya. Mikroskop optik menggunakan lensa dari jenis gelas, sedangkan mikroskop elektron menggunakan jenis magnet. SEM dikembangkan pertama kali tahun 1938 oleh Manfred von Ardenne ( Bogner et al ,2007).
Konsep dasar dari SEM ini sebenarnya disampaikan oleh Max Knoll (penemu TEM) pada tahun 1935. SEM bekerja berdasarkan prinsip scan sinar elektron pada permukaan sampel, selanjutnya informasi yang didapatkan diubah menjadi gambar.
Cara terbentuknya gambar pada SEM berbeda dengan apa yang terjadi pada mikroskop optik dan TEM. Pada SEM, gambar dibuat berdasarkan deteksi elektron baru (elektron sekunder) atau elektron pantul yang muncul dari permukaan sampel ketika permukaan sampel tersebut discan dengan sinar elektron. Elektron sekunder atau elektron pantul yang terdeteksi selanjutnya diperkuat sinyalnya, kemudian besar amplitudonya ditampilkan dalam gradasi gelap-terang pada layar monitor CRT (cathode ray tube). Di layar CRT inilah gambar struktur obyek yang sudah diperbesar bisa dilihat ( Radiological and Enviromental Management,2009).
Teknik SEM pada hakekatnya merupakan pemeriksaan dan analisis permukaan.
Data atau tampilan yang diperoleh adalah data dari permukaan atau dari lapisan yang tebalnya sekitar 20 μm dari permukaan. Gambar permukaan yang diperoleh merupakan gambar topografi dengan segala tonjolan dan lekukan permukaan.
Gambar topogorafi diperoleh dari penangkapan pengolahan elektron sekunder yang dipancarkan oleh spesimen ( Bogner et al, 2007).
Spesimen yang akan di gambar oleh SEM harus dapat mengalirkan listrik (electrically conductive). Spesimen yang terbuat dari metal hanya memerlukan sedikit
tindakan preparasi untuk di gambar oleh SEM sedangkan spesimen yang tidak dapat menghantarkan listrik harus dilapisi coating dengan suatu zat yang bersifat sebagai konduktor. Pelapis yang biasa digunakan adalah emas, aloi, platinum, osmium, iridium, tungsten, chromium dan graphite. Syarat agar SEM dapat menghasilkan citra permukaan yang tajam adalah permukaan benda harus bersifat sebagai pemantul elektron atau dapat melepaskan elekton sekunder ketika ditembak dengan berkas elektron. Material yang memiliki sifat demikian adalah logam. Jika permukaan logam diamati di bawah SEM maka profil permukaan akan tampak dengan jelas. Sementara, pada profil permukaan bukan logam untuk diamati dengan SEM, permukaan material tersebut harus dilapisi dengan logam. Film tipis logam dibuat pada permukaan material tersebut sehingga dapat memantulkan berkas elektron, cara kerja SEM dapat di lihat pada gambar 2.7 (Radiological and Enviromental Management,2009).
Gambar 2.6 Cara Kerja SEM ( Radiological and Enviromental Management, 2009)
2.6Landasan teori
PERAWATAN SALURAN AKAR
PREPARASI SALURAN AKAR PENGISIAN SALURAN AKAR
BAHAN PENGISIAN SALURAN AKAR TEKNIK PENGISIAN SALURAN AKAR
SEALER SALURAN AKAR BAHAN INTI
LOAD/ TEKANAN PENGUNYAHAN
REAL SEAL TOPSEAL
GUTTA-PERCHA AKSES
KEBOCORAN MIKRO
KOND. LAT WVC
BAB III
KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS
3.1 Kerangka Konsep
Kebocoran mikro sealer resin Topseal dan Realseal dapat ditentukan dengan cara mengobservasi kebocoran pengisian saluran akar didaerah sepertiga korona, sepertiga tengah dan sepertiga apikal yaitu dengan cara mengukur penetrasi zat warna pada sampel yang diamati dengan menggunakan stereomikroskop. Secara klinis terlihat bahwa Gutta-percha sulit beradaptasi ke dinding saluran akar. Pemakaian sealer dan teknik pengisian saluran akar sangat memegang peranan penting untuk menghasilkan pengisian / obturasi yang adekuat (hermetis).
Pemberian sealer tujuannya adalah untuk memberi kerapatan bahan pengisi utama yaitu Gutta-percha supaya dapat melekat erat ke dinding saluran akar serta menutup tubulus dentin agar tidak terjadi masuknya bakteri sehingga dapat terjadi reinfeksi saluran akar kembali. Perlekatan bahan sealer sendiri ke dinding saluran akar sangat dipengaruhi oleh kebersihan dinding saluran akar dari smear layer yang melekat didinding saluran akar.
Pengisian saluran akar dengan teknik kondensasi lateral dan warm vertical compaction untuk mendapatkan kerapatan yang adekuat ke dinding saluran akar
sangat dipengaruhi oleh kerapatan sealer terhadap Gutta-percha dan sealer terhadap dinding saluran akar.
Gambar 3.1. Kerangka Konsep
3.2 Hipotesis
Dari uraian yang telah disebutkan diatas maka hipotesis untuk penelitian ini adalah :
1. Ada perbedaan celah antara dinding saluran akar dengan bahan pengisi saluran akar yang menggunakan teknik kondensasi lateral dan warm vertical
Gutta-percha + Real seal Kondensasi Lateral Gutta-percha + Realseal Warm Vertical Compac tion
Gutta-percha+ Topseal Kondensasi lateral Gutta-percha+ Topseal Warm Vertical Compac tion
Diberi pembebanan dinamis 100N;
0,02 m/dtk pada 3 dan 7 hari setelah obturasi
Kebocoran mikro dengan melihat stereo mikroskop dan SEM
compaction, setelah diberi pembebanan dinamis pada hari ke-3 dan ke-7 setelah obturasi.
2. Ada perbedaan celah antara dinding saluran akar dengan bahan pengisi saluran akar yang menggunakan sealer Topseal dan Realseal dengan teknik kondensasi lateral dan warm vertical compaction setelah diberi pembebanan dinamis pada hari ke-3 dan ke-7 setelah obturasi.
BAB IV
METODOLOGI PENELITIAN
4.1 Jenis dan Desain Penelitian
Jenis penelitian adalah Eksperimental/ Laboratorium komparatif dengan rancangan posttest only group design.
4.2 Lokasi Penelitian dan Waktu Penelitian 4.2.1 Lokasi Penelitian
1. Klinik Konservasi FKG USU
2. Laboratorium Kimia Fisika FMIPA USU 3. Laboratorium Fisika Material UNIMED 4. Laboratorium Terpadu USU
5. Laboratorium Hasil Hutan FP USU
4.2.2 Waktu Penelitian: 3 bulan ( Maret – Mei 2015)
4.3 Populasi dan Sampel Penelitian 4.3.1 Populasi Penelitian
Gigi premolar satu mandibula yang telah diekstraksi untuk keperluan ortodonti.
4.3.2 Sampel Penelitian
Gigi premolar mandibula yang telah diekstraksi untuk keperluan ortodonti dan diperoleh dari praktek dokter gigi di Kotamadya Medan dengan kriteria inklusi sebagai berikut:
1. Mahkota gigi masih utuh 2. Akar lurus
3. Tidak ada karies pada akar
4. Apikal gigi telah tertutup sempurna
5. Belumpernah dilakukan perawatan saluran akar 6. Ukuran panjang akar gigi dipilih diantara 20-23 mm 7. Tidak ada kalsifikasi akar
4.3.3 Besar Sampel
Penelitian eksperimen dengan rancangan acak kelompok, berdasarkan jumlah minimal yang ditetapkan rumus Federer (1955), secara sederhana dirumuskan:
(t-1) (r-1) ≥ 15. .(8-1) (r-1)≥ 15r ≥3….
Keterangan : t = banyaknya kelompok perlakuan r = jumlah sampel.
Dari perhitungan di atas diperoleh r ≥ 3 artinya besar sampel untuk tiap kelompok ≥ 3 dan dibuat menjadi 5 sampel, yaitu :
Kelompok A : 5 sampel gigi yang di isi dengan Gutta-percha +sealer Topseal, teknik obturasi kondensasi lateral 7 hari setelah obturasi.
Kelompok B : 5 sampel gigi yang di isi denganGutta-percha + sealer Realseal, Teknik obturasi warm vertical compaction, 7 hari setelah obturasi.
Kelompok C : 5 sampel gigi yang di isi dengan Gutta-percha + sealer Topseal,
teknik obturasi kondensasi lateral, 3 hari setelah obturasi.
Kelompok D
Kelompok E
Kelompok F
Kelompok G
Kelompok H :
:
:
:
:
5 sampel gigi yang di isi dengan Gutta-percha+sealer Realseal, teknik obturasi warm vertical compaction, 3 hari setelah obturasi.
5 sampel gigi yang di isi denganGutta-percha + sealer Realseal, teknik obturasi kondensasi lateral , 3 hari setelah obturasi.
5 sampel gigi yang di isi dengan Gutta-percha + sealer Topseal, teknik obturasi warm vertical compaction , 3 hari setelah obturasi.
5 sampel gigi yang di isi dengan Gutta-percha + sealer Realseal, teknik obturasi kondensasi lateral, 7 hari setelah obturasi.
5 sampel gigi yang di isi dengan gutta-percha + sealer Topseal, teknik obturasi warm vertical compaction , 7 hari setelah obturasi.
4.4Variabel dan Defenisi Operasional 4.4.1 Variabel Penelitian
4.4.1.1Variabel Bebas
a. Teknik pengisian saluran akar - Kondensasi lateral
- Warm vertical compaction b. Bahan pengisi utama saluran akar
- Gutta-percha point ( Spident, Korea) untuk teknik kondensasi lateral