• Tidak ada hasil yang ditemukan

Prosedur perawatan saluran akar tidak akan lengkap sampai dilakukan restorasi akhir . Sering di klinik dijumpai pada beberapa kasus –kasus pasien yang telah dilakukan perawatan endodonti tidak ditempatkan restorasi akhir segera dan dibiarkan restorasi sementara sampai beberapa minggu bahkan beberapa bulan.

Restorasi sementara mempunyai keterbatasan dan dapat gagal dalam waktu 3 minggu masih memproteksi pengisian saluran akar terhadap perembesan bakterial. Sering terjadi bahan pengisian saluran akar akan mengalami celah walaupun kamar pulpa sudah ditutup rapat dengan bahan adhesif ( Bishop et al 2008 ).Salah satu tahap dalam triad endodontic adalah melakukan pengisian sistem saluran akar secara hermetis dalam arah tiga dimensi. Pengisian yang tidak hermetis akan menyebabkan terjadinya ruang kosong di dalam saluran akar dan menyebabkan reaksi inflamasi yang akan menimbulkan kegagalan perawatan (Bishop et al., 2008 dan Schilder, 2006 ).

Pengisian saluran akar dianggap penting untuk keberhasilan perawatan saluran akar jangka panjang (Sjogren et al.1990, Buckley dan Spangberg 1995).Gigi yang sudah di rawat endodonti akan terkena tekanan oklusal selama berfungsi.

Tekanan tersebut memberi efek terhadap integritas bahan pengisi saluran akar dan pada akhirnya dapat terjadi celah ( Paque, 2007).Meskipun perawatan saluran akar menguntungkan, pengisian saluran akar mungkin tidak memberikan hasil kerapatan

yang optimal untuk jangka panjang (Shipper et al. 2004). Banyak studi telah menunjukkan bahwa kebocoran apikal atau koronal, akan mempengaruhi hasil perawatan saluran akar ( Ray dan Trope 1995, Hommez et al.2002 ). Bahan pengisian harus dapat memberikan kerapatan yang baik di dalam ruang saluran untuk mencegah masuknya cairanjaringan, bakteri dan produknya (Tang et al.2002, Williamson et al.2005 ).

Terbentuknya celah pada saluran akar yang sudah di isi mungkin terjadi di sepanjang interface antara sealer dengan dentin dan sealer dengan bahan pengisi saluran akar. Oleh karena itu, kualitas dari bahan pengisi saluran akar sangat tergantung pada distribusi sealer dan adherence pada dinding dentin dan gutta-percha (Pommel et al. 2003).Gutta-percha sendiri tidak memiliki ikatan internal dengan struktur gigi sehingga seal yang dihasilkan tidak menutup sempurna( Stratton et al., 2006 dan Monticelli et al., 2007).

Penggunaan gutta-percha dan sealer saluran akar untuk obturasi masih tetap merupakan standar dalam perawatan endodonti meskipuntidak adanya kemampuan gutta-percha dalam mencapai seal sepanjang dinding dentin saluran akar.Fungsi utama sealer adalah mengisi celah yang terjadi antara gutta-percha dengan dinding saluran akar, sehingga bahan pengisi utama dapat menutup saluran akar dengan baik ke arah apikal maupun lateral sehingga mencegah terjadinya kebocoran apikal (Monticelli et al., 2007; Gesi et al., 2005 dan Williams et al., 2006). Celah mikro terus menjadi alasan utama di dalam kegagalan perawatan saluran akar, yang menjadi tantangan dalam pencapaian seal yang adekuat antara struktur gigi dan bahan pengisi

utama yaitu gutta-percha. Gutta-percha dan sealer tidak memberikan fluid-tight seal (Friedman etal. 1997, DeMoordan Hommez2002).

Kerapatan yang tidak memadai terbentuk bila menggunakan gutta-percha sebagai bahan pengisi saluran akar telah diketahui selama beberapa dekade (Apteker dan Ginan, 2006). Saat ini berkembang penggunaan gutta-percha dengan sealer berbasis resin dalam perawatan endodonti untuk meningkatkan kerapatan dari gutta-percha ke dinding saluran akar. Resin merupakan suatu polimer sintetik yang dapat beradaptasi dengan baik pada dinding saluran akar karena daya adhesinya yang tinggi dan perubahan dimensinya kecil. Sealer ini lambat mengeras. Sifat menguntungkan lain yang dimiliki sealer jenis ini adalah kelarutan yang rendah terhadap cairan jaringan, toksisitas yang rendah,daya antibakteri yang tinggi, radiopasitas yang paling tinggi, waktu kerja panjang dan dapat melekat pada dentin pada keadaan lembab ( Williams et al., 2006; Orstavik, 2005 dan Tay et al., 2006).

Sistem pengisian saluran akar dengan Resilon/ Epiphany merupakan bahan pengisian saluran akar yang baru, dimana perlekatannya adalah secara kimia terhadap struktur gigi.Resilon adalah sintetis, bahan pengisi resin termoplastik yang dipercaya bisa mengatasi keterbatasan dan masalah dengan gutta-percha. Pengisi utama resilon digunakan untuk mengisi ruang saluran akar. Obturasi dengan sistem ini menciptakan ikatan seal dengan tubulus dentin dalam sistem saluran akar. Pada dasarnya akan menghasilkan efek monoblock dimana bahan pengisi utama, sealer, dan tubulus dentin menjadi satu struktur yang solid. Shipperet et al. (2004) dalam penelitiannya terhadap kebocoran koronal dengan menggunakan Streptococcus mutans dan

Enterococcus faecalis pada saluran akar yang di isi dengan gutta-percha dibandingkan dengan resilon dengan menggunakan teknik kondesasi lateral dan vertikal, menunjukkan perbedaan yang signifikan.

Kontaminasi diduga akan menimbulkan masalah pada gigi yang sudah dilakukan perawatan endodonti. Oleh karena itu, restorasi langsung harus segera ditempatkan, bila memungkinkan. Menunda pembuatan restorasi untuk menilai keberhasilan perawatan endodonti umumnya bukan merupakan hal yang baik bila di pandang dari pencapaian keberhasilan perawatan endodonti, juga kepentingan pasien.

Restorasi sementara tidak efektif dalam mencegah kontaminasi untuk periode waktu yang lama ( Bishop et al., 2008) ketika restorasi akhir tidak memungkinkan untuk segera di tempatkan, maka penutupan orifice harus ditempatkan dengan baik untuk membantu melindungi sistem saluran akar dari kontaminasi saliva. Restorasi akhir harus dipertimbangkan sesuai indikasi. Restorasi akhir bukan saja untuk mengurangi kebocoran tetapi juga mengurangi kekuatan pengunyahan agar tidak menimbulkan stress pada gigi dan bahan pengisi( Bishop et al, 2008).

Rusaknya restorasi sementara selama atau setelah perawatan saluran akar merupakan salah satu penyebab utama kebocoran koronal. Kegagalan restorasi sementara dapat disebabkan oleh tidak memadainya ketebalan bahan tumpatan, teknik penempatan yang tidak tepat dan kegagalan dalam mengevaluasi oklusi setelah penempatan bahan. Umumnya bahan tumpatan sementara yang digunakan yaitu Cavit, temporary restorative material (TERM) dan intermediate restorative material (IRM),dilakukan dengan penempatan cottonpelet terlebih dahulu pada ruang

pulpa dan bahan tumpatan sementara ditempatkan di atas cotton pellet, cotton pellet harus minimal dan ditempatkan dengan baik di rongga akses sebelum penempatan tumpatan untuk mencegah lifting atau lepasnya bahan tumpatan sementara (Schwartz RS et al. , 2004).

Penelitian menunjukkan bahwa koronal seal dari gigi yang sudah dirawat endodonti dapat sama penting dengan apikal seal dalam kesuksesan perawatan saluran akar. Swanson dan Madison 1987, Madison dan Wilcox 1988 menegaskan bahwa paparan dari lingkungan rongga mulut ke saluran akar memungkinkan kebocoran koronal berlangsung (Stratton et al., 2006; Paque, Sirtes, 2007). Penyebab kegagalan saluran akar yang paling umum adalah kontaminasi bakteri baik melalui kebocoran mikro atau kontaminasi selama proses perawatan saluran akar berlangsung. Tujuan pengisian adalah seal yang hermetis dari sistem saluran akar.

Semakin baik seal dapat dicapai, semakin besar prognosis jangka panjang gigi yang telah di rawat (Monticelli et al., 2007).

Adanya kebocoran di bawah kondisi tertentu akan mempengaruhi integritas sistem obturasi. Integritas sistem obturasi telah diteliti dalam berbagai studi,dalam kenyataannya adanya kebocoran sistem obturasi saluran akar dapat terpapar secara tetap terhadap kekuatan oklusal, yang dapat menimbulkan stress pada gigi yang telah di restorasi dan akan mempengaruhi perlekatan ( gutta-percha ke sealer ) sehingga menimbulkan celah melalui restorasi sementara dan obturasi. Bishop et al (2008) dalam penelitian menyatakan bahwa pada gigi yang telah di obturasi dan diberikan tekanan oklusal terlihat adanya celah mikro antara bahan pengisi dan dinding saluran

akar. Tidak ada perbedaan yang signifikan dalam panjang celah antara 2 bahan obturasi yang digunakan yaitu Gutta-percha/ AH Plus atau Resilon/ Epiphany dengan kondisi pembebanan yang meniru tekanan oklusal dengan menggunakan servohydraulic testing machine(STM) dengan frekuensi 2 Hz pada 100 N selama 22 jam ( Bishop et al., 2008).

Ada beberapa penelitian yang menganalisis kerapatan dari beberapa jenis sealer saluran akar. Zhang et al. (2009) membandingkan kemampuan penutupan sealer kalsium silikat (iRootSP) dengan sealer resin AH Plus dengan menggunakan tiga teknik pengisian yang berbeda yaitu continuous wave dan kon tunggal dengan sealer yang sama (iRoot SP) dan continuous wave dengan sealer resin. kemudian kebocoran apikal diukur dengan metode fluid filtration pada 24 jam, 1, 4, dan 8 minggu, karena daerah apikal sering tidak terisi dengan padat, kemudian dilihat dengan menggunakan SEM , terlihat kebocoran sedikit lebih tinggi pada kelompok yang diisi dengan kon tunggal dan sealer kalsium slikat tetapi tidak bermakna untuk semua kelompok( Zang et al., 2009) .

Sebenarnya yang menjadi masalah adalah untuk melihat berapa lama sebenarnya gigi yang telah dilakukan perawatan endodonti dilakukan restorasi tetap.

Sampai saat ini belum ada penelitian untuk melihat berapa lama suatu gigi yang telah di rawat endodontik untuk dilakukan restorasi tetap, dengan melihat efek kekuatan oklusal terhadap interface obturasi akibat pengaruh mastikasi sehingga perlu dilakukan penelitian dalam hal ini untuk melihat celah pada bahan obturasi sesudah dilakukan cyclic load yang menggambarkan kekuatan pengunyahan terhadap

interface antara bahan obturasi dan dinding saluran akar , dengan metode dye penetration yang dapat dilihat dengan Stereomikroskop dan Scanning Electron Microscopy ( SEM ).

Dokumen terkait