• Tidak ada hasil yang ditemukan

POJOK REDAKSI. perempuan untuk mendapatkan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "POJOK REDAKSI. perempuan untuk mendapatkan"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

POJOK REDAKSI

Dewan Pengarah: Muhammad Dong, S.P ,Andang Yudiantoro, SH.,MH, H.Agus Malik, SH.I,Rois Habib, S.IP , Ahmad Tamimi, SH.I, Nurillah, SE Penanggung Jawab: Andang Yudiantoro,.SH.,MH Redaktur: Fitra Edia Jandru, SH Penyunting Editor: Arie A Supriadi, SH, Zidni Mubarok, SE, Rustam, SH Desain Grafis/Layout: Sumardi. AR, S.Kom, M. Azmi, S.SI , Julhendri Arie Sosanto, S.E Fhotografer: M. Azmi, S.SI. Alamat Redaksi: Jalan Baharuddin Yusuf No. 10 Tembilahan Ka- bupaten Indragiri Hilir. 29212 Website: www.indragirihilir.bawaslu.go.id

PEREMPUAN dan Demokrasi adalah suatu per- spektif yang menarik untuk terus dibincangkan dan didiskusikan. Kalau ditanya, tentulah banyak kaum perempuan yang mengaku ingin sekali maju dalam dunia usaha, pemerintahan, dunia demokrasi dan bahkan dunia politik.

Akan tetapi tentu sedikit sekali yang mampu dan berhasil sukses terutama di dunia politik yang penuh tantangan dan pro kontranya di tengah masyarakat. Hambatan dan tantangan adalah menjadi sisi yang harus dilalui kaum perempuan untuk menuju kesuksesan di bidang tersebut.

Mencermati perkembangan kekinian yang terus maju dan berubah, Indonesia secara kon- stitusi memberi peluang yang cukup besar kepada kaum hawa untuk bisa menghantarkan mereka ke dunia politik yang tentu dapat menghantarkan mereka ke dunia kekuasaan dan kepemimpinan, baik daerah maupun na- sional.

Berbicara tentang perempuan dalam bingkai demokrasi kekinian, adalah sesuatu yang menarik yang penuh tantangan di tengah iklim demokrasi yang partiarkal. Kemampuan untuk menyuarakan pendapat serta cara pandang de- mokrasi ala perempuan adalah sesuatu yang harus dimiliki para perempuan masa kini.

Dalam negara demokrasi pengakuan perem- puan atas dasar prinsip persamaan derajat, dalam semua wilayah dan tataran kehidupan publik menjadi penting, terutama dalam posisi- posisi pengambilan keputusan. Peran serta per- empuan dalam segala aktivitas dan pengambi- lan keputusan adalah bentuk emansipasi dan demokrasi nyata bagi entitas

yang satu ini. Ini sebagai salah satu bentuk usaha yang digunakan untuk men- jelaskan sejumlah usaha perempuan untuk menda- patkan hak politik, keseta- raan dan persamaan dera- jat.

Perempuan dalam kerangka sejarah memang se- lalu menjadi korban dari ke-

bijakan penguasa negara yang otoriter. Penin- dasan ekonomi politik dari kebijakan rezim se- lalu menimpa terhadap perempuan, sehingga semakin jelas landasan kita untuk memahami, kepentingan perempuan terlibat dalam perla- wanan anti rezim otoriter. Untuk menumbang- kan rezim otoriter menuju sistem yang demok- ratis membutuhkan kesadaran dan juga per- juangan yang luar biasa militan dari seluruh ta- tanan sosial yang tertindas. Perempuan yang pada saat rezim otoriter diletakkan pada posisi terbawah dari struktur sosial menjadi semakin berkepentingan untuk memastikan jalur dan kekokohan transisi demokrasi agar tidak terje- rumus dalam penindasan yang berulang.

Memang benar bahwa demokrasi tidak serta merta menyelamatkan perempuan dari jebakan ketidaksetaraan, namun demokrasi adalah salah satu jembatan bagi perempuan untuk menuju pembebasan. Keseluruhan persoalan yang dihadapi oleh perempuan dalam masa kediktatoran baik yang bersifat gender praktis maupun gender strategis membutuhkan partisi- pasi langsung dari perempuan terhadap struk- tur masyarakat yang baru jika tidak ingin dikembalikan pada takdir ilmiahnya setelah sis- tem demokrasi menemui singgasananya. Keter- wakilan perempuan dalam lembaga legislatif, DPR dan DPD, diperlukan agar kepentingan perempuan tersuarakan dalam penyusunan ke- bijakan, program, terlebih soal anggaran yang berimplikasi pada hajat hidup orang banyak, tak terkecuali perempuan Indonesia.

Demokratisasi di Indonesia setelah Reformasi 1998 telah membuka akses bagi perempuan untuk terlibat dalam proses politik dan pen-

gambilan kebijakan. Jumlah perempuan di legislatif, khususnya di DPR mengalami pen-

ingkatan dari 9% pada pemilu 1999 men- jadi 17% pada pemilu 2014. Namun persen- tase tersebut masih jauh dari angka 30%, yakni jumlah minimum yang diperkirakan dapat menghasilkan perubahan arah kebija-

kan politik. Gerakan perempuan dalam demokrasi elektoral masih mengha-

dapi berbagai tantangan. Anggota legislatif perempuan juga menghadapi tantangan politik terkait aspek institusi politik baik sistem pemilu mau-

pun kebijakan internal partai. Di dalam DPR pun, suara legislator perempuan masih berada dalam kontrol fraksi dan politik yang maskulin.

Tekanan gerakan perempuan di luar parlemen tetap memiliki arti penting untuk mendukung dan mengawal politik perempuan di parlemen.

Demokrasi Indonesia pasca 1998 tumbuh men- jadi demokrasi elektoral yang berbiaya politik besar. Hal ini dapat dilihat dari biaya pendirian partai politik yang tinggi dan biaya pencalonan legislatif dan kampanye yang mahal. Partai politik kemudian diisi dan dikontrol oleh mereka yang memiliki kekuasaan dan uang un- tuk mendanai biaya politik elektoral yang tinggi tersebut. Koalisi politik pun dibangun se- bagai sarana untuk memuluskan jalan bagi pimpinan atau pengurus partai guna mendapat- kan kekuasaan dan jabatan (entah menteri, gu- bernur, bupati, atau walikota) yang dapat men- jadi mesin uang untuk pemilu selanjutnya.

Kesamaan ideologi, nilai atau visi politik tidak menjadi dasar dalam pembentukan koalisi.

Koalisi yang cair, cenderung oportunis dan gampang bubar ini membuat pemilih kesulitan untuk meminta pertanggungjawaban masing- masing partai atau pimpinannya. Dalam kon- teks ini, politik elektoral berada dalam kontrol kekuatan yang disebut sebagai kekuatan oli- garki. Oleh karena itu, wajah DPR saat ini diisi oleh kalangan yang memiliki latar belakang se- bagai elite ekonomi (pengusaha) dan memiliki hubungan kekerabatan dengan elite politik.

Lembaga pemerintah dan kebijakan yang diha- silkan menjadi rentan terhadap kepentingan oligarki. Praktik korupsi politik menyebar dan menjadi persoalan besar di Indonesia.

Perempuan dan Demokrasi Pemilu seharusnya menawarkan pilihan yang beragam di antara gagasangagasan yang bersaing. Namun yang terjadi saat ini pilihan itu menyusut, perbedaan antar partai menjadi kabur, dan pemilih tidak dapat meminta pertanggungjawaban politisi atas tindakan mereka. Jika demokrasi dilihat sebatas yang terjadi di parlemen, maka definisi demokrasi menjadi sempit. Demokrasi bukan hanya sebatas pemilu, ia mencakup adanya ke- bebasan untuk berekspresi, berpendapat, berserikat, adanya perlindungan bagi minor- itas, serta mencakup aspek sosial dan ekonomi, bukan hanya politik.

Sejumlah kalangan bahkan memandang bahwa demokratisasi Indonesia saat ini sedang mengalami kemunduran bahkan kebuntuan. Fenomena ini da- pat dilihat misalnya pada penerapan UU ITE (Informasi dan Transaksi Elek- tronik) yang kian masif. (***)

1

(3)

LAPORAN UTAMA

BULETIN Bawaslu Inhil: Dekan Fakultas Hu- kum sekaligus dosen tetap Universitas Islam In- dragiri (UNISI), Dr. Fitri Wahyuni,SH,MH men- yebutkan, berdasarkan Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 27 ayat 1 yang berbunyi semua warga negara sama kedudukannya didalam hu- kum dan pemerintahan, dan wajib menjunjung hukum dan pemerintah itu dengan tidak ada kecualinya. “Artinya setiap warga negara Indo- nesia memiliki kesempatan yang sama baik di depan hukum maupun dalam pelaksanaan de- mokrasi yang ada. Itu dasar yang pertama ketika kita berbicara tentang kesetaraan gen- der,” tutur Fitri kepada Tim Buletin Bawaslu be- berapa waktu lalu.

Perempuan kelahiran Pangean tahun 1986 silam tersebut juga menyatakan, perempuan memiliki peranan dalam pembangunan na- sional, terutama dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan juga dalam penegakan hukum, sosial serta budaya sehingga peran perempuan sangat berarti di negara yang men- ganut sistem demokrasi ini. “Jadi perempuan harus bisa berperan aktif dalam demokrasi dan di semua sisi terutama dalam pendidikan, karena harus kita sadari bahwa baiknya suatu negara terletak dari sejauh mana peran perem- puan didalamnya,” ungkap Dr. Fitri.

Menurutnya, kaum perempuan harus mampu mencerdaskan dan bahkan harus bisa mencegah dan mengantisipasi adanya kekerasan terutama dalam keluarganya.

“Dalam rumah tangga, perempuan juga harus menciptakan suasana yang akan membentuk karakter anak-anaknya sehingga anak tersebut nantinya akan berperan baik di dalam masyara- kat. Maka dari itu perempuan harus bisa men- ingkatkan perannya di semua sisi baik pendidi- kannya, budaya, sosialnya serta keagamaannya guna meningkatkan kualitas perempuan di ten- gah masyarakat,” sebutnya.

Lebih lanjut dikatakan Dr. Fitri, ada faktor- faktor yang menjadi hambatan atau terhadap kesetaraan atau persamaan perempuan dengan laki-laki, salah satunya adalah masalah sosial budaya yang mana masih adanya persepsi masyarakat yang menganggap jika perempuan menjadi pemimpin merupakan suatu hal yang tabu. “Padahal didalam rumah tangga, perem- puan adalah seorang pemimpin untuk anak- anaknya. Didalam konteks lainnya, jikapun per- empuan memimpin suatu daerah apabila diang- gap mampu itu sebenarnya tidak menjadi ma- salah,” terangnya.

Faktor yang menjadi penghambat selanjutnya, menurut Alumni Universitas Andalas Padang ini adalah mengenai pemahaman dan kualitas dari perempuan itu sendiri. “Maksudnya adalah banyak perempuan yang ingin berkemabang dan maju akan tetapi kualitas, kemampuan dan kapasitasnya belum maksimal dan memadai.

Untuk itu hal ini harus diperhatikan dan diting-

katkan kembali, sebab untuk menggapai semua itu perempuan harus dicerdaskan disegala aspek dan sisi, itu yang paling idealnya agar perempuan bisa benar-benar memiliki keseta- raan gender,” tegasnya.

Kendati demikian, disebutkannya sudah ban- yak tokoh-tokoh nasional perempuan yang ada, salah satunya RA Kartini yang menjadi pelopor bagi perempuan untuk ikut serta dalam pem- bangunan di Negara Republik Indonesia tercinta ini. “Ini membuktikan bahwa perem- puan juga sangat berperan dalam demokrasi bangsa ini.

Walaupun demikian

peran perem- puan itu

juga harus tetap menye-

suaikan hak- haknya

sesuai porsinya serta

penempatan

kodratnya den-

gan kondisi- kondisi yang ada,”

tutur per-

empuan yang menyelesaikan program Doktor (S3) nya pada tahun 2017 lalu tersebut.

Ia menambahkan, dalam demokrasi, perem- puan harus berperan dan ikut serta mengingat perempuan mempunyai hak yang sama untuk memilih dan dipilih, terlebih dengan adanya aturan keterwakilan 30% yang mengharuskan ada perwakilan perempuan yang ikut serta dalam pemilihan. “Adanya keterwakilan per- empuan tiga puluh persen ini menurut saya su- dah cukup mewakili perempuan, hanya saja tinggal bagaimana meningkatkan atau memoti- vasi perempuan-perempuan yang ada untuk ikut serta dalam memenuhi keterwakilan per- empuan tersebut,” ungkapnya.

Maka dari itu, katanya, perempuan harus bisa meningkatkan animo, kapasitas sumber daya manusia, pendidikan serta pemahamannya un- tuk berpartisipasi dalam membangun bangsa ini. Namun yang paling penting lagi adalah ba- gaimana peran perempuan diluar sejalan juga dengan perannya didalam rumah tangganya.

‘’Didalam berumah tangga kita harus punya ko- mitmen bersama suami, walaupun kita bekerja

diluar kita tidak boleh mengabaikan peker- jaan dan kewajiban dirumah. Untuk itu kita

harus bisa membagi waktunya dengan baik sesuai dengan porsi tanggungjawabnya,”

imbuh ibu dua anak ini.

Dosen yang juga aktif sebagai penulis dan telah menulis beberapa buku, artikel dan jurnal ini melanjutkan, perempuan yang ingin berkarya diluar juga harus menjalin komunikasi yang baik dengan keluarga yang ada di rumah. “Sebagai wanita karir dan ibu rumah tangga perempuan itu ha- rus menjalani dua tanggug jawab seka- ligus, dan yang terpenting itu harus didu- kung oleh keluarga terutama oleh suami.

Tidak semua perempuan bisa melakukan hal itu, maka patut dihargai dan diapresiasi jika ada perempuan yang mampu kearah itu,” sebutnya.

“Dalam perannya bagi demokrasi di Indone- sia, mari kita tingkatkan sisi-sisi kemampuan perempuan Indonesia, terutama keilmuan.

Yang terpenting adalah jangan ditinggalkan agama kita dan nilai-nilai moral dan budaya yang berlaku di masyarakat. Ini akan mem-

bantu kita dalam berpartisipasi didalam masyarakat, bangsa dan negara. Untuk itu seimbangkanlah antara agama dan ke-

mampuan kita, maka akan terciptalah per- empuan-perempuan hebat yang ideal

yang diharapkan menjadi pemimpin- pemimpin bangsa yang dapat dibangga- kan dan mengharumkan nama di Repub- lik Indonesia tercinta ini,” tutupnya. (Tim Kreatif Bawaslu Inhil)***

2

(4)

BULETIN Bawaslu In- hil:

Anggota KPU Kabupaten Indragiri Hilir, Hasni Novriana, SE,MSi mengungkapkan, kesetaraan gender adalah ketika semua orang menerima perlakuan dan peluang yang sama (setara) dan tidak diskriminasi berdasarkan identitas gender. “Dan emansipasi wanita adalah persamaan hak antara hak perempuan dan hak laki-laki di segala bidang kehidupan, setara dalam mendapatkan hak dan melaksanakan perannya khususnya di ruang ruang publik,” ujarnya kepada Buletin Bawaslu Inhil beberapa waktu lalu.

Menurut satu-satunya komisioner perempuan di KPU Kabupaten Indragiri Hilir ini, laki-laki dan perempuan mempunyai kodratnya masing-masing. Pada kondisi tertentu menurutnya perempuan bisa sama dan sederajat dengan kemampuan laki-laki, tapi dalam kondisi yang lain, laki laki dan perempuan berjalan sesuai dengan kodrat dan fitrahnya masing-masing. “Dalam hal keterwakilan perempuan tiga puluh persensendiri menurut saya hal itu adalah sebuah dorongan untuk memotivasi kepada perempuan agar mengambil bagian didalam perpolitikan di Indonesia,” ungkap komisioner KPU Inhil yang sudah menjabat dua periode ini.

Adapun kendala paling besar bagi perempuan untuk bisa setara dengan laki-laki menurutnya justru datang dari internal (lingkungan keluarga), dimana masih banyak masyarakat yang berpendapat bahwa ruang lingkup perempuan itu hanya sumur, dapur dan kasur sehingga sangat sulit bagi perempuan untuk

mendapatkan izin dari orang tua atau suami agar bisa berkiprah di bidang-bidang yang juga di geluti oleh laki-laki.

“Apakah misalnya perempuan juga bisa memimpin tentu menurut kami juga sangat pantas dan layak. Tidak ada alasan yang

spesifik

tentang hal ini, bahkan pada masa sekarang sudah banyak contoh-contoh daerah yang pemimpinnya adalah perempuan dan daerah tersebut maju sebagaimana jika dipimpin oleh laki-laki, misalnya seperti Provinsi Jawa Timur. Memang masih ada beberapa pendapat yang mengatakan perempuan masih banyak kelemahan, namun menurut saya kelemahannya adalah saat perempuan lebih menggunakan perasaan daripada logika,” tutur Hasni.

Terkait keyakinan apakah jika perempuan karir bisa membagi waktu dan tanggungjwabnya didalam keluarga, ditegaskan Hasni dirinya sangat yakin. “Kami sangat yakin karena terhitung dari tahun 1998 sampai sekarang, artinya sudah 24 tahun saya berkarir, Alhamdulillah tidak ada komplain dari keluarga tentang ketersediaan waktu yang saya berikan untuk keluarga dan tanggungjawab saya sebagai ibu rumah tangga. Kuncinya adalah komunikasi. Dan perempuan dikatakan sukses bila ia mampu memenej sumber daya yang dimilikinya untuk kepentingan orang banyak dan diterima dengan baik oleh keluarga maupun lingkungannya,” sebutnya.

Hasni melanjutkan, kemampuan untuk menyuarakan pendapat serta cara pandang demokrasi ala perempuan dan bagaimana peran serta perempuan dalam segala aktivitas dan pengambilan keputusan adalah bentuk nyata dari keikutsertaan perempuan terhadap proses demokrasi. “Data pemilih menunjukkan ada perimbangan antara jumlah pemilih laki-laki dan perempuan di Indonesia.

Karena itu sangat penting perempuan hadir dalam demokrasi di Indonesia untuk menyuarakan dan ikut ambil bagian dalam pengambilan keputusan guna mengawal kepentingan perempuan dan regulasi-regulasi yang berpihak dan ramah terhadap perempuan,” ujarnya.

Salah satu upaya untuk mengangkat marwah dan eksistensi perempuan menurut Hasni sebenarnya sudah dilakukan dengan menerbitkan peraturan dan perundang- undangan yang menjamin keterlibatan

perempuan di dalam ruang publik, tinggal lagi bagaimana meningkatkan kesadaran bagi perempuan untuk memanfaatkan peluang yang ada. “Saat ini eksistensi perempuan sudah lebih maju seiring dengan banyaknya dukungan untuk eksistensi perempuan pada semua wilayah dan tataran kehidupan publik baik dukungan dalam bentuk regulasi, maupun dukungan dari lingkungan dan sosial masyarakat yang sudah mulai familiar dengan keberadaan perempuan dalam ruang

publik,” terangnya.

Ditabahkan Hasni, kesempatan perempuan untuk menjadi pemimpin sama besarnya dengan kesempatan laki-laki, hal ini ditunjukkan dengan jumlah pemilih perempuan yang hampir berimbang dengan jumlah pemilih laki-laki, tinggal bagaimana

perempuan mampu meyakinkan

masyarakatnya bahwa dia mampu sebagai pemimpin meski kadang masih kentalnya budaya patriarki yang seringkali mendiskriminasi perempuan, kemudian adanya beban berlapis yang harus ditanggung perempuan di ruang privat dan ruang publik dan adanya anggapan bahwa pendidikan dan kemampuan perempuan lebih rendah dibanding laki laki masih menjadi kendala.

Kata Hasni, salah satu tantangan terbesar perempuan didalam keikut sertaannya dalam dunia demokrasi adalah keluarga dan lingkungannya. Karena itu penting bagi seorang perempuan untuk mendapatkan dukungan yang maksimal dari keluarga dan lingkungannya. Harapan saya tentu saja perempuan semakin banyak mengambil peran didalam demokrasi dan politik yang ditandai dengan semakin banyaknya keterwakilan perempuan dalam parlemen dan yang menjadi pemimpin baik pusat maupun daerah. Hal ini penting karena kehadiran perempuan di parlemen dan sebagai pemimpin memberikan otoritas pada perempuan untuk membuat kebijakan yang berkontribusi besar pada pencapaian hak- hak perempuan khususnya pada kesetaraan gender. Sebab sering kali laki-laki tidak dapat sepenuhnya mewakili kepentingan perempuan karena adanya perbedaan pengalaman dan kepentingan.

Terakhir Hasni mengajak warga Negara Indonesia untuk bersyukur karena mempunyai seorang Kartini, yaitu sosok yang memperjuangkan emansipasi perempuan dan melakukan perubahan tatanan sosial agar perempuan mempunyai hak yang sama dengan laki-laki. Menurutnya bukan hal yang mudah bagi seorang Kartini untuk tetap memperjuangkan pendirian dan pendapatnya untuk bisa diterima berbagai pihak.

“Priyayi jawa dengan pemikiran maju dan berani melawan hegemoni laki-laki yang sangat kuat pada masa itu, namun dia sangat brilian, melakukan perjuangan dan perlawanannya bukan dengan senjata dan kekerasan tapi mengaktualisasikannya melalui surat-surat yang dikirim untuk sahabatnya di Belanda yang kemudian dibukukan dalam buku Habis Gelap Terbitlah Terang. Saya pikir kemampuan Kartini yang berani berjuang didalam keterbatasan patut menjadi contoh bagi kartini-kartini masa kini untuk berani juga mengaktualisasikan dirinya agar berguna bagi keluarga dan lingkungannya,” tutup Hasni. (Tim Kreatif Bawaslu Inhil)***

LAPORAN UTAMA 2 3

(5)

LAPORAN UTAMA

Dimata Komisioner Bawaslu Kabupaten Kampar, Witra Yeni, S.IP., M.Si, kesetaraan gender ber- arti tidak adanya diskriminasi terhadap seseo- rang berdasarkan jenis kelamin dan kodrati mereka, seperti diantaranya hamil, melahirkan dan menyusui. Kesetaraan gender ini, menurut- nya sebagaimana diatur pada CEDAW (Convention on Elimination from all Diskrimina- tion Agains Women) atau konvensi interna- sional tentang penghapusan segala macam bentuk diskriminasi terhadap perumpuan.

“Disisi lain istilah emansipasi juga kerap digunakan yang berarti memberikan hak yang sepatutnya kepada orang atau sekumpulan orang dimana sebelumnya haknya dirampas atau diabaikan,” ujar Witra Yeni saat dimintai pendapat tentang bagaimana adanya penyeta- raan gender dan emansipasi oleh Tim Kreatif Bawaslu Inhil beberapa waktu lalu.

Lebih lanjut wanita kelahiran Pulau Kijang ini menjelaskan bahwa perem- puan dan laki-laki itu setara,

yang membatasi hanya kedalam beberapa hal saja seperti dian- tarnya mendapat- kan pendidikan yang layak, men- dapat kesempatan kerja yang se- tara. “Setara disini tetap memperhati- kan kodrat perem- puan

yang hamil, melahirkan dan menyusui sehingga di dunia kerja ada waktu untuk cuti hamil dan melahirkan. Selain itu juga hendaknya di kantor atau fasilitas umum disediakannya ruang khusus untuk ibu menyusui. Biasanya perkanto- ran atau daerah yang telah menerapkan hal tersebut diberi julukan kota ramah perempuan dan anak. Didalam islam sendiri perempuan telah mendapat tempat yang mulia. Suatu ketika seorang sahabat bertanya pada Rasulullah sia- pakah yang dihormati terlebih dahulu, maka Rasul menjawab ibumu, ibumu, ibumu, setelah itu barulah ayahmu. Jadi setara disini tetap sa- dar akan kodrat dan berdasarkan syari’at islam sebagai agama yang saya anut,” paparnya.

Berbicara tentang sederajat, Witra Yeni men- yatakan bahwa sesungguhnya manusia dihada- pan Allah atau Tuhannya adalah sama, yang membedakan hanya iman dan takwa. Kemudian tentang kemampuan dalam hal ini adalah ke- mampuan intelektual, menurutnya perempuan memiliki kemampuan intelektual yang sama dengan laki-laki. Bahkan untuk hal-hal tertentu, perempuan memiliki sense of belong sehingga lebih mampu menyelesaikan suatu permasala- han daripada laki-laki. “Adanya keterwakilan 30% itu jelas sekali sebagai keterwakilan per- empuan baik sebagai penyelenggara pemilu (KPU, Bawaslu dan DKPP) dan politik. Untuk penyelenggara pemilu itu sudah jelas diatur dalam UU Nomor 7 tahun 2017 pasal 10 (7) Kom-

posisi keanggotaan KPU, keanggotaan KPU Provinsi, dan keanggotaan KPU Kabu-

paten/Kota memperhatikan keterwaki- lan perempuan paling sedikit 30% (tiga

puluh persen). Begitu juga untuk adhoc di KPU ada pasal 52(3) uu 7 thn 2017, tentang keterwakilan PPK 30%

perempuan, pasal 53 (3) PPS dan pasal 55(3) KPPS 30% perem-

puan dan untuk Bawaslu sendiri sudah jelas pada pasal 92 (11), bahwa kom-

posisi keanggotaan bawaslu, Bawaslu

Propinsi Bawaslu ka- bupaten / kota mem- perhatikan keterwakilan perempuan paling sedikit 30%. Se- dangkan un- tuk keter- wakilan per- empuan di partai politik juga telah diatur dalam undang-

undang ten- tang partai

politik. Bahwasanya kepengurusan partai politik harus memenuhi kuota 30% perem- puan,” urainya.

Dalam hal apa saja keterwakilan 30% itu dipe- nuhi, Witra Yeni lebih lanjut menerangkan bahwa ada beberapa hal diantaranya adalah mulai dari perekrutan tim seleksi untuk pemili- han calon anggota Bawaslu dan KPU mulai ting- kat pusat hingga kabupaten/kota dan bila perlu hingga tingkat ad hoc. “Untuk rekruitmen tim- sel Bawaslu dan KPU RI tahun 2021 lalu sudah terpenuhi timsel 30 perempuan. Pada saat pen- daftaran calon anggota KPU Bawaslu pun setiap sesi kelulusan 30% untuk sesi awal hingga sesi wawancara seleksi KPU Bawaslu 2021 lalu telah memenuhi hal ini. Meskipun output terakhirnya tidak sampai memenuhi 30%,” tuturnya.

Mengenai profesi apa saja yang bisa dilakukan perempuan, wanita yang juga aktif dibidang pendidikan ini menjelaskan bahwa hampir disemua bidang bisa misalnya bidang pendidi- kan, kesehatan, kemaritiman, bidang agama, sosial, kemasyarakatan, ekonomi, sosial bu- daya, dan kemiliteran. “Misanya saja perem- puan memilih menjadi guru, dosen, tenaga ad- ministrasi, operator sekolah dan lain seba- gainaya dibidang kependidikan. Begitu juga dengan bidang kesehatan menjadi dokter, bidan perawat, apoteker dan lain-lain. Bidang politik, anggota dewan, penyelenggara pemilu dengan melalui prosedur undang-undang politik dan undang-undang pemilu. Bidang militer perempuan menjadi tentara dan polisi.

Bidang ekonomi perempuan kerja di bank, sales marketing, pengusaha dan lain-lain.

Bidang agama perempuan menjadi ustadzah, guru mengaji dan lain-lain. Bahkan saat ini ban- yak bidang sudah dirambah perempuan terma- suk dunia keras seperti tukang ojek, supir, tu- kang parkir, pemulung dan lain sebainya, yang tidak boleh adalah memilih pekerjaan yang tak halal dan melanggar aturan,” sebutnya.

Meskipun demikian, ditambahkan Witra Yeni dibukanya kesempatan bagi perempuan untuk bisa berkarir disemua bidang masih akan se- lalu ada kendalanya, seperti masih adanya ke- bijakan yang tidak atau kurang tepat untuk per- empuan. “Regulasi yang belum sepenuh hati misal untuk penyelenggara pemilu sesuai den- gan amanat undang-undang nomor 7 tahun 2017 tentang keterwakilan perempuan 30% ti- dak ada sanksi apabila tidak terimplementasi.

Meskipun pada pemilu 2009 yang lalu mengim- plementasikannya dimana saat itu ada 3 perem- puan komisioner di KPU RI, hal ini mampu men- jawab pertanyaan publik selama ini bahwa peremuan itu layak dan pantaskah menjadi pemimpin. UUD 1945 memberikan ruang untuk itu mulai dari pembukaan UUD 1945, pasal 28 lalu undang-undang HAM pasal 4 yang telah diratifikasi indonesia kedalam undang-undang nomor 7 tahun 1984 undang-undang partai

5

(6)

politik dan undang-undang pemilu. Selain itu juga perempuan memiliki ilmu atau pendidi- kan yang layak untuk menjadi pimpinan, hal ini dikarenakan perempuan memiliki humans of belong yang baik dan juga karena perem- puan memiliki style kepemimpinan tersendiri.

Saya yakin perempuan bisa menjadi pemimin yang baik jika hal ini didukung oleh ilmu, style, jejaring serta mitra yang bagus,” ung- kap perempuan yang sudah menulis 17 buku ini.

Disisi lain diakuinya bahwa kelemahan masih ada, sama halnya dengan kaum adam yang juga pastinya memiliki kelemahan saat men- jadi pemimpin. Hal ini dilatarbelakangi oleh wanita yang memiliki human interes tinggi yang mudah tersentuh perasaannya melihat ketidakadilan. “Sebenarnya ini kekuatan wanita, namun kadang menjadi kelemahan juga tergantung individu masing-masing menetralisir perasaannya. Persoalan bisa atau tidaknya dalam membagi waktu saya berpandangan insy Allah saya yakin bisa membagi waktu antara kodrat saya yang juga sebagai ibu rumah tangga dengan profesi saya.

Dan tentang membagi waktu ini saya ingat pesan dari dr. Aisyah Dahlan seorang ustadzah yang juga dokter ahli syaraf bahwa satu kele- bihan perempuan adalah pandai me- lakukan beberapa pekerjaan dalam satu waktu A woman can do somethings in onetime but a man nope, saat memasak per- empuan bisasambil nyuci pakaian, sambil nyuci piring sambil menyapu rumah sambil nyiapin sarapan selain itu juga tehnologi ikut membantu perempuan dan itu saya lakukan jelasnya,” tuturnya.

Meskipun demikian menurutnya bukan serta merta perempuan itu bisa dijadikan pemim- pin, tentunya harus memiliki kriteria dan syarat-syarat yang harus juga dipenuhi.

Adapun syarat perempuan menjadi pemimpin adalah memiliki pendidikan formal dan non formal yang layak, memiliki kecakapan memimpin yang bisa didapat saat di sekolah seperti OSIS, PMR, paskibra, tim pecinta alam dan lain-lain, oranisasi sekolah dan ekstra se- kolah di kampus seperti BEM, Mapala, Kopma, HMI, PMII, KNPI, Hima, koran kampus, Rohis, GMKI, GMNI dan lain-lain, memiliki networking atau jejaring yang bisa didapat melalui organisasi dan lain-lain, update ilmu wawasan dan keterampilan karena ilmu pege- tahuan sifatnya dinamis selalu ada hal baru harus selalu membaca, diskusi menulis buku, artikel, opini, rajin sholat dan berdoa pada pecipta berserahlah pad- Nya karena akan banyak onak duri selama menjadi pemimpin.

“Dan yang tidak kalah pentingnya adalah mendapatkan restu orang tua, keluarga, suami bagi yang sudah menikah itu penting, kemudian kemampuan berkomunikasi harus lancar memiliki figur idola yang menunjang dan bisa dijadikan motivasi, bisa juga dipen- garuhi umur waktu dan kondisi, kekerabatan, hubungan emosional,” tambahnya.

Adapun figur yang menjadi panutan Witra Yeni adalah Aisyah istri Rasulullah, Roehnna

Koedoes yang merupakan wartawati pertama indonesia, lahir ta- hun 1884 yang

membidangi lahirnya PWI

dan berha- sil mendiri-

kan surat kabar

Soenting Melayu

yang memba-

has isu perem-

puan saat itu,

ke- mudian

Cut Nyak Dien

pejuang perem- puan

pem-

berani dari

aceh, Raden Ajeng Kartini

perempuan nin- grat yang visioner memerhatikan nasib kaumnya mendirikan se- kolah untuk kaumnya mengajari kaumnya membaca menulis dan berhitung, Susi Pudji- asturi menteri perempuan cerdas dan berani menenggelamkan kapal ilegal, Maimanah Umar yg memiliki semangat belajar tinggi meraih jenjang pendidikann S3 di usia senja yang juga pendiri lembaga pendidikan dan panti asuhan, aktif menyuarakan aspirasi riau di pusat, Azlani Agus, Rosnaniar. Sedangkan untuk figur perempuan luar negeri Kemala Harris Wapres USA, Hillary Clinton, Lady Diana, Michele Obama. “Adapun yang men- jadi tolok ukur perempuan dikatakan suskses yakni adanya balancing domestik dan ranah publik yang artinya domestik perempuan yaitu sumur dapur kasur sudah harus selesai, sehingga tak menggangunya di ranah public.

Disitulah ujiannya dikala perempuan itu di- jadikan pemimpin, ada dua hal yang harus diimbanginya,” ungkapnya lagi.

Sementara itu, bicara soal demokrasi dijelas- kan Witra Yeni tentunya memiliki hubungan yang erat dengan perempuan, dimana Indo- nesia adalah negara yang berdemokrasi, kon- sep demokrasi dari rakyat okeh rakyat dan untuk rakyat. Perempuan adalah bagian dari rakyat itu sendiri. “Dari hasil sensus pen- duduk tahun 2020, sebanyak 49,50% pen- duduk indonesia adalah perempuan dan ber- dasarkan data juga hampir 50%. Sehingga perempuan adalah rakyat indonesia yang juga memberikan hak pilihnya pada proses

demokrasi di tanah air baik pada pemilu mau- pun pilkada. Demokrasi akan hampa tanpa hadirnya wanita, dengan kata lain perempuan dan demokrasi adalah dua sisi mata uang yang saling membutuhkan, no country in te world without women wome are important in democracy. Partisipasi perempuan di idonesia dalam demokrasi tidak bisa diabaikan begitu saja sejak zaman dahulu hingga sekarang kita flashback kebelakang perjuangan seorang Rehana Koedoes wartawati perempuan per- tama asal sumbar mengajarkan bagaimana peran wanita dalam berdemokrasi dimulai dari ranah domestik yaitu keluarga masyarakat dan bangsa, melalui tulisan

-tulisannya di koran yang telah didiri- kannya,” katanya.

Kemudian ada lagi seorang per- empuan hebat asal Minahasa

yang dikenal sebagai pejuang hak pilih perempuan di Indone-

sia, Maria Walandari Maramis.

“Beliau adalah seorang istri dan ibu yang miris melihat perempuan di Minahasa saat itu yang tidak memiliki hak pilih pada perwakilan rakyat Minahasa, sementara perem- puan bagian dari rakyat, per- empuan memiliki kebutuhan dan aspirasi yang butuh disampaikan dan diperjuang- kan. Saat itu Maria aktif menulis perjuangan hak pilih di koran Tjahaya Minahasa, Maria juga menulis surat pada pe- merintah Hindia Belanda saat itu agar perem- puan di daerahnya juga memiliki hak pilih dan dipilih. Akhirnya tahun 1901 pemerintah Hindia Belanda memberikan hak pilih pada perempuan di Minahasa. Perjuangan maria tak sia-sia selain sebagai seorang jurnalis Maria juga seorang cikgu mendirikan seko- kah dan kursus serta aktif pada bidang or- ganisasi untuk perempuan, sekolah Pikat atau Pertalian Kasih Sayang Ibu Terhadap Anaknya. Sekolah Pikat ini tak hanya berkem- bang di Manado, tapi juga Kalimantan dan Jawa,” tutur Witra Yeni.

“Jadi memang eksistensi perempuan di dunia demokrasi memang sudah ada sejak dulu.

Kongres perempuan Indonesia pada tanggal 22 hingga 25 Desember 1928 dihadiri 600 orang dari 30 organisasi perempuan saat itu juga bukti eksistensi perempuan pada bidang demokrasi. Tidak hanya itu, setelahnya yakni masa orde lama, orde baru, orde reformasi hingga kini perempuan juga turut andil dalam demokrasi. Hal ini juga tercatat dalam data pemilu tahun 2019 lalu dimana perempuan tercatat terbesar dalam memberikan hak pilihnya dibanding laki-laki, ini menunjukkan perempuan yang telah memiliki hak pilih adalah makhluk yang paling loyal datang ke TPS membrikan hak pilihnya. Selain itu juga permpuan berperan aktif mengambil per- anannya sebagai penyelenggara pemilu baik di KPU maupun di Bawaslu. Perempuan di leg- islatif juga turut andil memperjuangkan aspi- rasi masyarakat,” tutup wanita yang telah menjadi wartawan selama 17 tahun ini.

LAPORAN UTAMA 7

(7)

LAPORAN UTAMA

Bawaslu Indragiri Hilir—Perempuan harus mengambil peranan dalam bidang apapun kecuali hal-hal yang memang sudah ditentukan oleh syariat agama dimana perem- puan tidak bisa, selebihnya silahkan ambil peranan misalnya saja dalam bidang sosial, ekonomi bahkan politik karena yang membe- dakan antara gender perempuan dan laki-laki hanyalah urusan melahirkan dan menyusui.

Hal tersebut diungkapkan salah seorang ak- tivis perempuan di Kabupaten Indragiri Hilir, Yuliana Daud, S.Pd., AUD saat ditemui Tim Kreatif Bawaslu Inhil beberapa waktu lalu.

“Demikian juga dengan emansipasi wanita yang sudah sangat tidak asing kita den- gar saat ini, dimana mulai era penjajahan hingga diera digitalisasi yang kita alami sekarang banyak tumbuh dan lahir perem- puan-perempuan hebat, R.A Kartini misalnya yang begitu banyak memberikan kontribusi positif terhadap adanya penyetaraan hak per- empuan dengan laki-laki. Bahkan saat ini juga banyak lahir perempuan yang selain aktif didunia kecantikan, bisnis, tenaga pendidik juga merambah pada aspek politik yang dahu- lunya ini sangatlah tabu bagi seorang perem- puan karena stigma perempuan kerap kali disandingkan dengan urusan dapur saja,”

ujarnya.

Meskipun demikian, saat ini menurut perempuan yang akrab disapa Mak Yuli ini tak bisa dipungkiri bahwa perempuan kerap menjadi objek yang dirugikan mulai dari korban kekerasan, penzoliman dan lain seba- gainya. Apa lagi saat ini banyak perempuan yang dinikahi siri oleh kaum lelaki atas janji- janji manis yang kemudian berujung pada petaka rumah tangga. “Hal ini tentunya di- latarbelakangi kurangnya pemahaman perem- puan dengan perkembangan dunia saat ini di- mana efek daripada nikah siri itu sangat me- rugikan dirinya bahkan keturunannya. Untuk itu perlu adanya edukasi dan pendidikan bagi kaum perempuan diberbagai hal agar kede- pannya tidak lagi menjadi obyek yang me- rugikan dirinya sendiri,” ungkapnya.

Edukasi terhadap kaum perempuan sendiri dikatakan Yuliana harus diberbagai hal, mulai dari edukasi bidang keluarga, sosial, keagamaan, manajerial bahkan juga tentang politik. Hal ini dirasa penting mengin- gat semua aspek tersebut saat ini begitu dekat bahkan bersentuhan langsung dengan perem- puan-perempuan. “Perihal politik misalnya, dimana dulunya para ibu-ibu rumah tangga tak diperlukan sama sekali tentang hiruk- pikuk dunia politik ini, kenapa? karena me- mang tidak terjangkau secara kapasitas begitu juga dengan kesempatannya, hal ini berband- ing terbalik manakala saat ini para politisi su- dah merambah masuk pada kaum ibu-ibu,”

paparnya.

Misalnya saja saat dimulainya tahapan

kampanye, maka begitu banyak politisi yang memanfaatkan forum-forum perempuan mulai dari tingkat atas hingga bawah untuk dijadi- kan basis suara mereka dan dijadikan tempat sosilasiasai visi misi para politisi karena hal ini dirasa efektif. “Untuk itulah perlu kiranya dila- kukan edukasi dibidang politik terhadap kaum perempuan ini paling tidak mereka yang selama ini hanya menerima bingkisan dan janji politik sekarang teredukasi sehingga bisa lebih cerdas dalam menentukan pili- hannya, memberikan kontribusi positif teha- dap calon kepala daerah dan atau perwaki- lannya yang ingin mengambil mandat politik dari kaum hawa ini,” imbuhnya

Soal kepantasan ataupun kelayakan perempuan itu dijadikan sebagai Pemimpin, menurut perempuan yang memiliki hoby me- masak serta traveling ini sejauh perempuan yang akan dijadikan sosok pemimpin itu su- dah memenuhi kriteria yang telah ditentukan dan memiliki kemampuan yang mumpuni hal ini bukan suatu persoalan, namun

yang menjadi soal adalah mana- kala perempuan yang memiliki ambisi kuat menjadi namun ti- dak memiliki softskil, abai den- gan keluarganya dan tidak bisa menjaga keseimbangan antara pekerjaan dengan kodratnya yang juga selaku ibu rumah tangga, makamenurutnya hal ini perlu menjadi pertim- bangan kembali.

Lebih lanjut Yuliana menyampaikan bahwa In- donesia juga pernah dipimpin oleh Presiden dari kaum perempuan yang selama ini dikonota- sikan hanya taunya soal dapur saja. “Presiden Megawati Soekarno Pu- tri menjadi bukti bahwa perempuan itu mampu dan layak un- tuk menjadi pemimpin.

Meskipun harus diakui perempuan juga memiliki kelemahan, yakni perempuan itu sensitif sehingga mana- kala menghadapi suatu persoalan tak luput dari yang namanya melibat- kan perasaan hingga uraian air mata,” ucapnya sambil tersenyum saat di- wawancarai Tim Kreatif di Pondok Lansia tempat be- liau mengabdikan diri di masyarakat selama ini.

Akan tetapi, dilan- jutkan Yuliana kelemahan

itu bisa disiasati asalkan perempuan itu mampu mengontrol diri dan ingat akan tujuan awalnya dan juga hal ini tak luput dari dukun- gan keluarga. “Perempuan itu dikatakan suk- ses manakala mampu menyeimbangkan antara prosfesionalnya dengan kewajibannya dirumah tangga sendiri,” ungkap perempuan yang menjadikan figur orang tuanya sendiri sebagai idolanya ini karena menurutnya hal ini dilatarbelakangi oleh begitu gigihnya sang ibunda tercinta dalam membesarkan dan ber- juang demi memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya dan ini menjadi motivasi tersendiri dan mampu memberikan asupan semangat dikala menghadapi kesulitan dalam hidup yang dijalaninya saat ini.

Mak Yuli menambhakan, hubungan per- empuan dengan demokrasi sangat erat dan merupakan satu kesatuan yang tidak bisa terpisahkan, dimana saat ini tingkat partisipan perempuan menurutnya mulai membaik meskipun disadarinya masih ada diluaran sana kaum hawa yang sangat tidak mempe-

dulikan tentang hal ini. Untuk itu melalui komoditas emak-emak yang dibinanya saat ini menjadi salah satu cara untuk memberikan edukasi terhadap kaum emak-emak agar kiranya bisa mendapat pengetahuan diberbagai bidang, karena bi-

cara kedepannya perempuan itu memiliki kesempatan yang luas untuk mengisi kursi pemimpin bangsa ini dengan catatan yang ha-

rus dipenuhi adalah mencerdaskan dirinya sendiri terlebih da-

hulu.

“Dan hal ini juga ti- dak luput dari sejarah pejuang wanita yang dikenal dengan R.A Kartini yang telah memperjuangkan ke-

sempatan perem- puan itu untuk me- nempuh dunia pen- didikan dan pen- yeteraan dengan

laki-laki se- hingga mulai saat itulah mulai bermunculan perempuan yang memiliki latarbelakang pendidikan mumpuni bahkan memiliki ja-

batan sebagai pemim- pin,” tutupnya.

8

(8)

LAPORAN UTAMA

BULETIN Bawaslu Inhil: Peran perempuan dalam kehidupan sosial dan demokrasi sejak dahulu tak habis-habisnya dibicarakan dan diperdebatkan. Ber- pagai pandangan tentang eksistensi perempuan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, terutama dalam soal kepemimpinan dan demokrasi masih silih berganti. Ada yang meragu- kanya dan ada pula yang yakin akan kemampuan mereka. Para lelaki, misalnya, memang lebih cen- drung meragukan dan kurang yakin akan kemam- puan kelompok cucu Hawa ini.

‘’Kalau kita berbicara soal perempuan khususnya dalam soal kepemimpinan, meskipun ada perempuan yang memiliki kemampuan yang tidak kalah dengan laki-laki, akan tetapi mereka masih merasa enggan untuk tampil di depan. Mereka cenderung menghin- dari tantangan dan tanggung jawab yang lebih besar sehingga dimata kaum laki-laki mereka masih sering dipertanyakan dan diragukan kepemimpinannya,”

ujar Titin Triana,SH,MH, seorang aktivis perempuan dan advokat Inhil ketika dimintai penilaiannya soal perempuan dan demokrasi oleh tim Buletin Bawaslu Inhil baru-baru ini di Tembilahan.

Gender, kata Titin, merupakan isu sosial yang sering dibicarakan dewasa ini. Definisi gender itu sendiri diartikan jenis kelamin, baik laki-laki maupun per- empuan. Gender, sebut Titin, adalah perbedaan yang

tampak pada laki-laki dilihat dari tingkah laku, yang merupakan suatu konsep kultural yang membuat perbedaan peran, perilaku, mentalitas dan karakteristik emosional antara laki-laki dan perem- puan yang berkembang di masyarakat.

‘’Sifat ini sebenarnya bukan sifat bawaan tetapi sifat yang terbentuk karena pengaruh proses sosial dan kultural dan menjadi ciri yang telah berlangsung se- jak lama. Perbedaan gender yang telah lama berlang- sung terus menerus, turun temurun dari generasi ke generasi sehingga banyak perempuan yang berang- gapan bahwa perbedaan tersebut adalah hal yang kodrat, maka mereka sering merasa kalah dari kaum laki-laki,’’ sebut praktisi hukum dan pegiat literasi ini.

Perempuan yang sering disapa Bundo Titin ini selain menggeluti dunia praktisi hukum ternyata juga meru- pakan aktivis perempuan dan penggiat literasi, bahkan juga pengajar di SMA N 1 Tembilahan. Ia juga pernag menjadi dosen dan mengajar di Fakultas Hukum UNISI Tembilahan.

Menurut Titin, sebagian masyarakat juga ada yang berpendapat kesetaraan gender memakai standar ukuran maskulin (materi, status dan power). “Sifat yang selama ini dikaitkan dengan figur perempuan yang feminisme memang tidak cocok untuk meraih kesetaraan, karena sifat ini bertolak belakang dengan apa yang dibutuhkan untuk meraih keberhasilan ber- dasarkan standar maskulin. Keberhasilan standar

tersebut mem- butuhkan sifat- sifat independ- ent, otonom, ambisi, agre- sif, dan mampu men- gontrol

keadaan. Se- dangkan sifat perempuan bersifat ke- balikannya, yakni keterika- tan, dependen, berkorban, ti- dak mampu mengontrol keadaan dan perasaannya,”

sebut Titin.

Berangkat dari pandangan bahwa pema- haman agama amat dipenga- ruhi oleh kontruksi bu- daya, dikata- kan Titin pan- dangan terse- but diterima oleh masyara- kat sebagai sebuah keyaki- nan agama

tanpa me- lalui proses penyeleksian.

“Selama ini pencitraan laki-laki dalam islam sebagai sosok pemimpin atau kepala keluarga dikalangan masyarakat dalam nuansa hubungan laki-laki dan perempuan sebagai pemimpin dan yang dipimpin, pendominasi dan yang didominasi, pelindung dan yang dilindungi yang menempatkan perempuan dalam posisi ketidaksetaraan,’’ sebutnya.

Titin melihat bahwa perempuan adalah penerus, pen- gabdi dan pendidik bagi generasi yang akan datang yaitu generasi yang akan menetukan perjalanan bangsa. ‘’Dengan bertumpu pada titik pandang ke- manusiaan, kita akan menilai bahwa perempuan dan laki-laki pada dasarnya adalah sama, mereka memiliki kecerdasan otak yang sama, sama mulia budi pekertinnya, sama luhur cita-citanya dan sama- sama memiliki impian dan harapan dan tentu mereka memiliki potensi kepemimpinan yang sama baik po- tensi kepemimpinan sebagai individu maupun mak- hluk sosial,” terangnya.

Fungsi kepemimpinan sendiri dijelaskan Titin adalah memandu, menuntun, membimbing, membangun, membangkitkan prakarsa dan motivasi. Perbedaan antara fungsi atau peran kepemimpinan terdapat pada bagaimana seorang pemimpin dapat diterima secara sukarela dan bukan terpaksa. Oleh karena itu, seorang pemimpin memerlukan legitimasi yang diperoleh melalui pemilihan atau seleksi aturan yang disepakati bersama. Sifat kepemimpinan yang harus dimiliki seorang pemimpin adalah memiliki energi jasmani dan mental, memiliki kesadaran akan tujuan dan arah, memiliki antusiasme, memiliki keramahan dan kecintaan, memiliki integritas, memiliki ketegasan dalam mengambil keputusan dan tentunya lagi memilik kecerdasan. Kepercayaan semua itu ti- dak terlepas dari unsur kekuasaan, kewibawaan serta kemampuan diri.

“Dalam memilih sosok seorang pemimpin hendaklah memiliki berbagai kriteria diantaranya memiliki kualitas, memiliki semangat yang luar biasa serta rasa tanggung jawab yang besar menuntut ketulusan dan nilai-nilai mulia dengan hal-hal besar yang dapat diraih. Seorang yang pemimpin baik adalah pemim- pin yang mampu memisahkan perasaan, penilai, evaluasi dalam dirinya dengan visi serta komitmen dengan janji-janjinya. Meski banyak studi yang men- gindikasikan bahwa perempuan mempunyai keahlian dalam berperilaku dan kualitas yang memenuhi syarat dalam kepemimpinan yang efektif, akan tetapi mereka masih belum dapat mewakili dalam kapasitas yang signifikan,” tambah Titin.

Hal tersebut menurut Titin disebabkan berbagai rin- tangan yang menghambat kemajuan kepemimpinan perempuan antara lain rintangan secara kelompok, perorangan dan prbadi, sehingga harus ada sebuah pola atau bentuk dalam memupuk perkembangan dan kemajuan perempuan. “Harapan besar saya men- genai peran perempuan dalam demokrasi adalah meningkatkan kapasitas dan kemampuan diri untuk bersaing dalam pembangunan demokrasi. Intinya adalah tidak perlu diperdebatkan lagi tentang keseta- raan gender itu, keterwakilan perempuan tersebut pada hakikatnya mengembalikan peran perempuan yang mempunyai hak yang sama sebagai warga ne- gara yang telah diatur dalam perundang-undangan,”

tutupnya. (Tim Kreatif Bawaslu Inhil)***

9

(9)

LAPORAN UTAMA

BULETIN Bawaslu Inhil: Sosok perempuan dan perannya di dunia demokrasi dimata Mar- liah,S.S.,M.Pd amatlah penting. Bahkan menu- rutnya taka ada yang perlu diperdebatkan antara kedudukan lelaki dan perempuan, karena keduanya bisa saling menyempurna- kan, bukan dalam bingkai persaingan akan tetapi ia adalah mitra bagi kaum laki-laki.

Menurutnya lelaki dengan sikap tegas, keras, dan logic yang tinggi akan semakin sempurna jika mau menerima masukan dari seorang perempuan yang teliti, penuh kehati-hatian, dengan tidak melupakan sifat sensitivitasnya.

“Kesetaraan gender itu awal kemunculannya adalah sebagai bentuk protes pada rendah- nya penghargaan terhadap kaum perempuan.

Namun, saat ini perempuan yang kuat, hebat, dan cerdas sudah masuk pada berbagai posisi yang strategis, baik di pemerintahan maupun di perusahaan dan dunia usaha. Dalam per- jalanan kariernya perempuan-perempuan ini sudah mampu mengimbangi lelaki dan di- hargai sebagai pimpinan atau rekan kerja yang profesional. Pada dasarnya sikap penghargaan itu didapat ber- dasarkan kondikte kita dalam bekerja,” ujar Marliah yang meru- pakan owner Paud Ziqra Tembilahan ini saat bincang-bincang dengan tim kreatif Bawaslu Inhil baru-baru ini.

Ia berpendapat lelaki dengan sikap tegas, keras, dan logic yang tinggi akan semakin sempurna jika mau menerima masukan dari seorang perempuan yang teliti, penuh ke- hati-hatian, dengan tidak melu- pakan sifat sensitivitasnya. Dan bagi seorang suami, istri (sebagai wanita) itu adalah mitra dalam rumah tangga bahkan dalam mencukupi kebutuhan keluarga.

Kata bunda Lia, begitu ia sering dipang- gil, emansipasi wanita adalah sah-sah saja asal tidak terlepas dari kodratnya sebagai perempuan. Misalnya pada per- empuan yang sudah berumah tangga yang mau tak mau akan bersinggungan akan ke- pentingan berkarier atau tetap menjadi ibu rumah tangga. Pada titik ini berkarier me- mang kadang bisa menjadi dilema. Namun, jika mau sedikit berlelah maka menurut Mar- liah seorang perempuan tetap dapat men- jalankan fungsi keduanya.

“Seorang wanita yang bekerja dan berkarier dalam suatu bidang tertentu saat kembali ke rumah harus kembali pada hakikatnya seba- gai hamba Allah yang harus patuh pada suaminya dan melayaninya. Dan kita semua tau bahwa surga istri itu tergantung pada ridho suami. Jika hal ini tidak dipegang oleh wanita tersebut maka jangan berharap bahwa maghligai rumah tangganya akan langgeng.

Jangan bermimpi anaknya akan menjadi anak hebat dan sholeh-sholeha,” ungkapnya.

Kita, kata Lia, harus mengakui bahwa pada dasarnya perempuan adalah mitra kerja hebat bagi suami yang menghargai kedudukannya sebagai istri. Setinggi apapun seorang per- empuan berkiprah di luar maka jangan melu- pakan bahwa ia adalah role model bagi pen- didikan anak- anaknya dan ia

adalah kreator, inspira-

tor, moti- vator, mobili-

sator bagi keluar-

ganya. Maka, seo-

rang wanita yang

tahu kedudukan

dan fungsinya

ia akan

mem-

beri alarm

pada apa

yang bisa

dan ti-

dak akan dilakukannya, sejauh apa karier yang akan dikejarnya, bagaimana agar suami terlibat dan tahu apa yang dilakukannya, den- gan tujuan agar kehidupan rumah tangga dan kariernya dapat berjalan berdampingan.

Ibu dua anak ini berpandangan bahwa lelaki dan perempuan dihadapan Allah adalah se- tara kedudukannya sebagai hamba Allah, yang membedakan hanyalah seberapa taat- nya mereka pada Allah dan Rosul. Dan hal tersebut dikatakannya sesuai dengan firman Allah dalam Al-Qur’an Surat Al-Hujurat ayat 13. “Dalam ayat tersebut jika kita kaitkan pada organisasi, maka keterlibatan semua yang ada didalamnya pada sebuah tanggung jawab pekerjaan itu lebih kepada perbedaan kedudukan, fungsi, tanggung jawab, prilaku serta pembagian kerja antara lelaki dan per- empuan yang wajar menurut agama, masyara- kat, adat istiadat, atau norma yang berlaku di masyarakat. Dalam bekerja memang setara namun tentu dibatasi oleh pantas dan tidak pantas sesuai dengan norma yang berlaku.

Wanita lebih bekerja di lini yang fem- inim, lelaki pada ranah maskulin. Ini

pada posisi yang tepat secara propor- sionalitas,” sebutnya.

Saat ditanya apakah derajat seorang perempuan bisa menyamai laki-laki, Marliah menyatakan dirinya tidak menyebutnya menyamai tetapi lebih kepada “The Power of Kepepet”.

Menurutnya hal ini bisa saja terjadi terkait dengan bidang pekerjaan.

“Saat ini pekerjaan kasar semisal menjadi tukang becak, buruh angkut, driver bus atau taksi, penjaga parkir, dan lain seba-

gainya banyak sudah menjadi lahan pekerjaan perempuan karena kemampuan yang dian- dalkan hanya tenaga.

Pabrik-pabrik sendiri juga lebih senang mempekerjakan perempuan dibanding lelaki. Selanjutnya untuk kemampuan yang sifatnya lebih soft juga peran perempuan ada disana.

‘’Artinya saat ini kesetaran juga sudah lumrah kita lihat, baik itu di dunia or-

gansisasi atau pekerjaan. Peran perem- puan dan lelaki kini tidak lagi menjadi

persoalan, namun kemampuan dan ke- mauanlah yang kini haru lebih dikede-

pankan,” ungkapnya.

Marliah menambahkan, kehadiran perempuan di ranah politik praktis yang dibuktikan dengan keterwaki-

lan perempuan 30% di parlemen, kini menjadi syarat mutlak bagi ter-

ciptanya kultur pengambilan kebi- jakan publik yang ramah dan sensi- tif pada kepentingan perempuan.

Namun, hingga saat ini menurut- nya kebijakan tersebut belum be- gitu memberikan dampak bagi

4 4

LAPORAN UTAMA LAPORAN UTAMA 10

(10)

ranah demokrasi. Posisi tawar perempuan yang masih rendah di mata elit politik atau pemilihnya, dapat dilihat pada keterwakilan perempuan tahun 2014 di angka 17, 32 di DPR. “Padahal tanpa keterwakilan perem- puan di parlemen dalam jumlah yang me- madai, kecenderungan untuk menempatkan kepentingan laki-laki sebagai pusat dari pen- gambilan kebijakan akan sulit dibendung,”

katanya.

Wakil Ketua PC Muslimat NU Kabupaten In- dragiri Hilir ini menilai, rendahnya keter- wakilan perempuan di ranah politik sering lebih dikarenakan, pertama, masih mengakar kuatnya paradigma patriarki di sebagian be- sar masyarakat Indonesia. Pola pikir patriarki cenderung menempatkan perempuan di bawah kekuasaan laki-laki. Perempuan dicitrakan sekaligus diposisikan sebagai pihak yang tidak memiliki otonomi dan kemandirian di semua bidang, terma- suk politik. “Kedua, institusi politik pada umumnya tidak benar-benar memiliki komitmen penuh pada pemberdayaan perempuan. Misal- nya, dalam hal pengajuan bakal calon legislatif perempuan oleh parpol yang kerapkali hanya di- lakukan demi memenuhi per- syaratan pemilu. Selama ini, nyaris tidak ada langkah berarti yang menunjukkan komitmen parpol pada pemberdayaan politik perempuan,” sebutnya.

Adapun kendala yang menyebab- kan tidak setaranya kedudukan per- empuan dan lelaki menurut Marliah adalah kemauan dan kemampuan dari perempuan itu sendiri. “Contohnya, jika seorang perempuan memiliki keinginan untuk dianggap keberadaannya disuatu komunitas maka ia harus memiliki ke- mauan yang kuat untuk menjadikan keinginannya tersebut terwujud melalui kemampuan yang diasah sesuai hara- pan komunitas. Perempuan tangguh yang tidak mudah patah, dapat men- jadi mitra kerja yang baik, tidak gam- pang hanyut dan larut dengan perasaan, serta memiliki komitmen,

kondikte, dan loyalitas yang tinggi akan mampu menyeimbangi kerja rekannya. Ke- banyakan perempuan selalu mengedepankan feminimnya jika dihadapkan pada

suatu masalah, sehingga

mau tak mau kaum le-

laki akan kembali

menidaksetara-

kan kaum perem-

puan dilangkah selanjutnya,” pa- parnya.

Sementara itu, terkait pantas dan layaknya perem-

puan menjadi pemimpin

menurut- nya ter-

gantung pada siapa perem- puan yang akan men- jadi

pemimpin tersebut.

“Kalau saya secara pri- badi tidak begitu setuju

dengan perempuan yang menjadi pemimpin dalam kapasitas besar selevel presiden, na- mun jika hanya masih level gubernur saya masih bisa menyetujuinya. Perempuan itu, terlebih yang sudah berkeluarga maka ban- yak sekali yang akan menjadi bahan pemikirannya dan ini menyebabkan perem- puan bisa kurang fokus. Selain itu budaya dan adat ketimuran juga akan mampu mena- han langkah panjang seorang perempuan dalam pencapaian kariernya. Di agama Islam- pun perempuan masih di bawah ridho dan berkah suaminya, sehingga saat pengambilan sebuah keputusan bisa jadi ada keputusan sang suami disana,” terangnya.

Kendati demikian, katanya, sebenarnya di- dalam rumah tangga pemegang kekuasaan tertinggi itu adalah perempuan. Bukankah dinyatakan bahwa “Di belakang lelaki yang hebat ada perempuan yang luar biasa?”.

‘’Artinya perempuan dapat menjadi pen- dorong bagi suaminya. Selain itu akan lahir anak yang hebat dari seorang ibu yang luar biasa, menggambarkan kepada kita bahwa sosok perempuan adalah kaum intelektual di- balik keberhasilan anggota keluarganya. Se- benarnya jika sebuah keluarga dibangun oleh ibu yang luar biasa maka generasi yang tercipta tidak perlu diragukan lagi kualitas- nya, baik agama, moral, karakter maupun pendidikannya,” tambah Marliah.

Belajar dari sosok Kartini, Marliah menilai perempuan yang hebat adalah perempuan yang mampu mengaktualkan dirinya disaat masyarakat menganggap tabu perempuan mengeluarkan pendapatnya. “Artinya per- juangan dapat dilakukan dalam diam, namun memberi getaran suara hati kedalam jiwa yang mendengarnya. Seorang perempuan yang telah terjun di dunia perpolitikan harus paham akan perjuangannya untuk perem- puan lainnya. Melahirkan ide dan keputusan yang nantinya akan membawa marwah per- empuan lebih tinggi lagi. Kebijakan yang diambil membela kepentingan perempuan yang sudah barang tentu sulit dibawa jika ti- dak oleh perempuan itu sendiri,” tutupnya.

(Tim Kreatif Bawaslu Inhil)***

LAPORAN UTAMA 11

(11)

LAPORAN UTAMA

Bawaslu Indragiri Hilir—Kesetaraan gender merupakan kesempatan yang sama bagi gender, artinya perempuan dan laki-laki dalam hal partisipasi dalam berbagai bidang, baik di bidang ekonomi, akses terhadap pendidikan, akses kesehatan, serta women political empowerment (pemberdayaan politik perempuan). Gender bukanlah sesuatu yang merujuk kepada jenis kelamin, karena jenis kelamin hanya berbeda secara biologis.

Perbedaan jenis kelamin antara laki–laki dan perempuan merupakan kodrat, tidak mungkin dipertukarkan atau berubah dari waktu ke waktu. Gender adalah perbedaan hak dan kewajiban serta kesempatan antara laki–laki dan perempuan, lebih jauh dapat dilihat sebagai perbedaan status pembagian kerja yang dibuat dalam masyarakat berdasarkan jenis kelamin. Dalam konteks gender kesetaraan sangat dibutuhkan dalam hal melakukan peran dan melaksanakan kewajiban yang diberikan, agar tidak terjadi ketimpangan antara peran perempuan dan laki–laki dalam melaksanakan hak dan kewajibannya sebagai warga Negara.

Sesungguhnya emansipasi adalah bentuk pemberian hak dasar (Human Rights) kepada wanita untuk mengembangkan diri

dan kemahirannya atau sebuah proses pelepasan diri seorang wanita dari kedudukan sosial ekonomi yang rendah dan pengekangan hukum yang membatasinya untuk berkembang agar dapat bergandeng bahu dengan laki-laki dalam membangun Negara. Tidak ada maksud negatif yang tersembunyi dibalik gerakan emansipasi wanita. Emansipasi wanita merupakan tindak lanjut dari gagasan kesetaraan gender dalam bentuk tindakan nyata seorang wanita dalam kehidupannya.

Idealnya perempuan memiliki hak dan kesempatan yang setara dengan gender lainnya. Banyak pelanggaran hak dan kesenjangan kesempatan yang dialami perempuan atau merugikan banyak perempuan, seperti kekerasan dalam rumah tangga, kekerasan seksual, hingga kurangnya akses pendidikan dan layanan kesehatan yang memadai bagi kaum perempuan. HAM (Hak Asasi Manusia) berlaku secara universal, artinya semua orang berhak atas perlindungan hak asasi dan kebebasan.

Pemenuhan hak harus setara untuk semua orang dan bebas dari diskriminasi.

Emansipasi dapat diartikan sebagai bentuk kerjasama antar laki-laki dan perempuan

dalam menjalankan kehidupan. Sebagai seorang patner, tentu saja memiliki kedudukan yang sama tinggi mempunyai hak yang sama tanpa adanya perbedaan yang memandang keduanya.

Keterlibatan perempuan dalam institusi politik dijamin oleh kebijakan afirmatif.

Semangat dari sistem yang mewajibkan adanya kuota 30 persen keterwakilan perempuan dalam daftar calon legislatif adalah upaya peningkatan peran perempuan.

Undang-Undang Pemilihan umum dan aturan turunanya tidak hanya mewajibkan 30 persen sebagai calon legislatif, termasuk juga dalam kepengurusan Partai politik di pusat.

Demokrasi sudah menganut kesetaraan dan keadilan keterwakilan perempuan dalam penyelenggaran Pemilu, suatu tindakan afirmatif untuk meningkatkan keterwakilan perempuan sebagai penyelenggara Pemilu sudah diatur sejak tahun 2007 melalui UU No.

22/2007 direvisi pada UU No. 15/2011 : keanggotaan KPU dan Bawaslu memperhatikan sekurang-kurangnya 30 persen. Namun demikian hal ini masih problematik karena adanya tantangan internal, institusi politik bias gender dan kebijakan diskriminatif.

Kondisi empiris menunjukkan minim- nya jumlah perempuan sebagai penyeleng- gara Pemilu dan Pemilihan diberbagai tingka- tan, adapun tantangan yang dihadapi perem- puan untuk terlibat dalam kepemiluan ada di- antaranya faktor sumber daya perempuan masih terbatas, rekam jejak perempuan dalam organisasi masih terbatas, distribusi pengetahuan kepemiluan masih terbatas, proses seleksi yang cendrung netral gender dalam perencanaan regulasi dan implementasi serta kepentingan politik masih kental, faktor ketidak seimbangan gender terlihat dalam segala aspek antara lain dalam lingkungan keluarga, ekonomi, pekerjaan, dalam pemerintahan termasuk dalam politik.

Lambatnya pemahaman tentang gender itu sendiri yang menjadikan perempuan hanya sebagai subjek yang berada dalam lingkup keluarga mengurusi rumah tangga, menbuat peran perempuan dalam bidang ekonomi, pendidikan, pekerjaan masih memprihatinkan.

Kedepannya harus ada upaya sistematis untuk menyipkan kapasitas sumber daya per- empuan yang potensial sebagai penyeleng- gara Pemilu dan Pemilihan. Diantaranya per- empuan harus didorong agar memiliki wawa- san kepemiluan yang mumpuni melalui pro- gram-program peningkatan kompetisi ke- pemiluan untuk perempuan.

Kendala lain yang dihadapi perempuan untuk dapat setara dengan laki-laki adalah pada akses dan kesempatan yang diberikan.

Dalam mencapai kesetaraan tentunya

4 4

LAPORAN UTAMA LAPORAN UTAMA 12

(12)

LAPORAN UTAMA

perempuan membutuhkan dukungan dari laki –laki dari berbagai ruang dan peran untuk berkembang dan meraih kesempatan yang seluas-luasnya termasuk sebagai pemimpin.

Perempuan yang cerdas dan berkualitas juga dapat menjadi seorang pemimpin karena ketika perempuan sebagai pemimpin dapat mengambil kebijakan-kebijakan yang mengakomodir terhadap kepentingan perempuan. Namun kerap kali ketika perempuan telah menjadi pemimpin lupa akan perjuangannya dan mengabaikan tujuan sejati dari perjuangannya bagi kaum perempuan lainnya karena posisi yang diberikan kepada perempuan belum strategis.

Kodrat seorang wanita yang sesungguhnya adalah mengandung, menyusui, dan melahirkan tiga hal ini tidak bisa dipindahkan kepada laki-laki.

Sementara gender laki-laki dan perempuan dapat ditukar dalam artian seorang laki-laki bisa mencari nafkah diluar dan mendidik anak dirumah demikian juga perempuan pada intinya gender adalah saling melengkapi.

Jika seorang perempuan berkarir diluar tentu sejatinya tidak akan meninggalkan kewajibannya dirumahnya dan

dapat membagi waktu dan

tanggungjawabnya sebagai ibu rumah tangga karena ada peran lain yang dapat digantikan oleh orang lain, seperti melakukan tugas domestik rumah tangga kecuali perannya sebagai istrilah yang tidak dapat digantikan.

Syarat perempuan yang sukses adalah perempuan yang mempunyai pendidikan

yang baik menularkan kepada lingkungannya dan dapat diterima ditengah masyarakat dengan peran yang diembannya serta manpu mendorong orang lain untuk terus maju.

Bicara tentang perempuan dan demokrasi, adalah sesuatu yang

menarik.

Kemampuan

untuk

menyuarakan pendapat serta

cara pandang demokrasi

“ala” perempuan adalah suatu hal yang harus dimiliki perempuan masa kini. Negara demokrasi mengakui prinsip persamaan derajat dalam semua wilayah tatanan kehidupan terutama dalam posisi pengambilan keputusan. Peran serta perempuan dalam segala aktifitas dan pengambilan keputusan adalah bentuk emansipasi dan demokrasi yang nyata adanya. Mengenang emansipasi dalam demokrasi, kita harus bersyukur atas perjuangan sosok R. A Kartini yang memperjuangkan emansipasi perempuan dalam melakukan perubahan tatanan sosial

agar kaum peremuan mempunyai hak yang sama dengan kaum laki-laki. Bukan hal yang mudah bagi seorang Kartini untuk tetap memperjuangkan pendirian dan pendapat yang ada pada dirinya untuk bisa diterima oleh berbagai pihak. Berkat jasa beliau, di era globalisasi ini peran wanita bukanlah sesuatu hal yang tabu untuk melakukan aktivitas yang diluar perkiraan wanita, namun masih dalam batas-batas yang wajib diperhatikan.

Kehadiran perempuan dalam partisipasi politik di Indonesia penting bagi kemajuan bangsa, rendahnya keterwakilan perempuan di parlemen akan berpengaruh terhadap isu kebijakan terkait kesetaraan gender dan belum mampu merespon masalah utama yang dihadapi oleh perempuan. Pentingnya peningkatan partisipasi perempuan supaya pengambilan keputusan politik yang lebih akomodatif dan substansial. Selain itu, menguatkan demokrasi yang senantiasa memberikan gagasan terkait perundang-undangan pro perempuan dan anak diruang publik.

Mengangkat marwah dan eksistensi perempuan lebih maju tidak lain adalah dengan cara memberikan pendidikan politik sejak dini terhadap kaum perempuan. Serta memberikan kesempatan yang sama bagi perempuan untuk dapat menjadi pemimpin.

Karena selama ini salah satu kendala dari emansipasi wanita adalah akses dan dukungan serta kualitas dari kaum perempuan itu sendiri yang belum memadai.

Keluarga dan lingkungan harus mendukung terhadap kemajuan kaum perempuan tidak hanya dalam demokrasi tetapi dalam segala aspek pembangunan Nasional. Kehadirann perempuan saat ini di parlemen setidaknya telah mampu mendorong berbagai rancangan Peraturan perundang-undangan yang melindungi kaum perempuan yang pengaturan tidak diatur dalam hukum positif yang ada di Indonesia. Salah satunya adalah rancangan Undang-Undang TPKS yang menyebabkan banyak kekerasan seksual yang tidak dapat diproses secara hukum belakangan ini bertujuan untuk penghapusan kekerasan seksual.

Pejuang emansipasi wanita R.A Kartini dapat kita teladani sebagai wanita yang cerdas dan berwawasan luas, memiliki tekad yang kuat dan pantang menyerah, patuh dan menghormati orang tua, berani dan optimis, sederhana, rendah hati, serta berjiwa sosial dan penuh kasih sayang.

Agar Indonesia mampu menjawab cita- cita R.A Kartini. Perempuan Indonesia akan lebih maju, bila memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh keadilan sosial dan dapat menyumbangkan potensinya secara optimal bagi bangsa, umat manusia di dunia dengan tetap menjadi sosok yang berbudi luhur, cerdas, dan berani. Perempuan masa depan harus mengambil bagian dan lebih aktif di berbagai bidang dan meningkatkan berbagai kapasitas perempuan dimanapun berkiprah disektor domestik maupun sektor publik. (Tim Kreatif Bawaslu Indragiri Hilir)

4 4

LAPORAN UTAMA LAPORAN UTAMA 13

Referensi

Dokumen terkait

Dan dalam syahadat itu, kemudian dengan segera disusul dengan pengecualian, bahwa tidak semua tuhan itu tidak ada, kecuali satu, yaitu Tuhan itu sendiri, atau Allah (Allah adalah

Salah satu upaya menggantikan unsur hara yang hilang di dalam tanah dan cara meningkatkan pertumbuhan serta kualitas hasil tanaman kedelai adalah dengan memberikan

Berdasarkan h a i l penelitian dan pembahasan, dapat ditarik kesimpulan bahwa gambaran umum responden yang melakukan pengobatan sendiri sesuai dengan aturan adalah:

Dapat disimpulkan bahwa pemberian sefiksim berulang pada tikus Wistar muda yang ditransplantasi dengan mikrobiota feses bayi menimbulkan disbiosis dengan kecenderungan adanya

Umur mulai berbunga ± 10 bulan, bentuk buah bulat, warna buah muda hijau, warna buah masak merah jingga, mulai berbunga s/d buah masak ± 9 bulan, rata-rata buah pertandan ± 60

Kompetensi berbicara Bahasa Inggris siswa kelas IX E SMP N 4 Kintamani masih sangat rendah, oleh karena itu peneliti merasa perlu untuk melakukan tindakan

Analisis Hujan Bulan Oktober 2017, Prakiraan Hujan Bulan November, Desember 2017 dan Januari 2018 disusun berdasarkan hasil pantauan kondisi fisis atmosfer dan data yang diterima

Eksistensi Islam Bali yang secara kedaerahan tersebar di Bali sesungguhnya memiliki banyak persamaan sebagaimana penduduk Bali yang beragama Hindu pada