1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Timor Timur atau Tim-tim singkatnya dulu merupakan provinsi ke-27 di Indonesia, namun pada tanggal 20 Mei 2002 Timor Timur tidak lagi menjadi bagian dari ke-27 provinsi di Indonesia, Tim-tim melepaskan diri dari Indonesia dan merubah nama menjadi Timor-Leste. Tiga belas tahun berjalan sendiri (merdeka), sebagai sebuah negara yang usianya masih muda, Timor-Leste masih harus berjuang dalam meningkatkan kualitas masyarakatnya disegala bidang. Bidang yang dimaksud meliputi pembangunan sarana dan prasarana fisik serta pembangunan sumber daya manusia. Negara baru tentu ingin meningkatkan kesejahteraan rakyatnya dan akan memberikan prioritas pada tujuan pengentasan kemiskinan, namun Timor-Leste masih menjadi menjadi negara yang kecil dan miskin, ditandai dengan GDP yang kira-kira sebanding dengan daerah-daerah pinggiran pada suatu negara kaya (dengan catatan bahwa perbandingan ini memperhitungkan juga perbaikan dalam kesenjangan daya beli masyarakat) (Hill dan saldanha, 2006:4). Dengan pendapatan perkapita
$300 sekalipun dan dengan pertumbuhan ekonomi yang cepat negara ini akan tetap miskin untuk waktu yang lama.1 Dibuktikan dengan IPM (Indeks Pembangunan Manusia) Negara Timor-leste yang rendah. IPM tersebut merupakan salah satu indikator bagaimana negara membangun manusia-manusianya sehingga mencapai tujuan dasar yang menjadi sasaran IPM. Ada tiga komponen pokok dalam
1 Beberapa perhitungan sederhana barangkali merupakan cara yang paling jelas untuk menerengkan hal ini. Dengan pertumbuhan yang sangat cepat sekalipun, (katakanlah) 5 persen per kapita GDP, akan memakan waktu 12 tahun untuk mencapai tingkat GDP per kapita Indonesia saat ini (yang sangat rendah), dan 53 tahun untuk sama dengan Malaysia. Dengan pertumbuhan yang lebih rendah, 2 persen perkapita-lebih tinggi dari pesaing-pesaing Timor Leste pada umumnya-akan memperbesar periode waktu ini menjadi masing-masing 55 dan 131 tahun.
2 pembangunan manusia yaitu kesehatan, pendidikan, dan standar kehidupan yang layak.
Menurut laporan Badan Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa menunjukan bahwa Indek Pembangunan Manusia (IPM) Negara Timor-Leste masuk pada kategori negara yang ber-IPM terendah di negara Asia (Timor-Leste.um).
Tabel 1.1
Indeks Pembangunan Manusia Negara Timor-Leste 1990-2015
S
Sumber: UNDP 2016
Tabel 1.1 di atas menunjukan bahwa Negara Timor-Leste masih menduduki peringkat terbawah dan tidak mengalami peningkatan namun terus tetap berada pada peringkat 133 pada data pembangunan manusia, masih melemahnya indikator pada IPM tersebut yang meliputi tingkat harapan hidup, pengetahuan, tingkat pendidikan dan standart hidup Negara Timor-Leste. Indeks Pembangunan Manusia merupakan data yang menjelaskan bagaimana penduduk dapat mengakses hasil pembangunan dalam memperoleh pendapatan, kesehatan, pendidikan, dan sebagainya dengan menunjukan keberhasilan negara Timor-Leste dalam membangun kualitas hidup masyarakatnya. Menjadi bangsa yang maju merupakan cita-cita yang ingin dicapai setiap negara di dunia. Salah satu faktor yang mempengaruhi adalah factor pendidikan karena pendidikan yang baik akan menciptakan SDM yang berkualitas,
3 adanya pembangunan sosial dan pertumbuhan ekonomi karena itu penulis berpendapat bahwa Timor-Leste harus memperhatikan pengembangan SDM dalam bidang pendidikan.
Permasalahan yang menonjol di sini adalah pada saat menjelang referendum pada bulan Agustus 1999, dan sesudahnya lebih dari 80% gedung sekolah dan fasilitas sekolah dihancurkan atau dirusakkan, dan hampir seluruh tenaga guru dan staf administrasi yang bukan warga negara Timor Leste namun berpengalaman meninggalkan wilayah ini (Gabrielson:2002).
Untuk membenahi kembali kondisi ini maka awal 2000 dalam masa transisi PBB negara membuat suatu kampanye untuk merekonstruksi kembali gedung sekolah, dan membenahi kembali dunia pendidikan. Dengan bantuan keuangan dan teknik dari banyak pihak internasional dalam jangka waktu dua tahun berhasil membangun kembali 604 gedung Sekolah Dasar, 62 gedung sekolah menengah pertama dan 23 sekolah menengah umum di seluruh negeri. Pada tahun 2001 negara ini mempunyai siswa sekitar 240,000 yang mengikuti pendidikan dasar dan menegah, dengan 700 sekolah dasar SD, 70 SMP dan 32 SMU dan 1 Universitas Negeri dengan mahasiswa sekitar 5000 orang (UNICEF : 2001).
Pendidikan dasar bertambah pesat secara kuantitatif, tetapi penambahan tingkat SMP dan SMA sangat lambat. Berdasarkan survey oleh bank dunia dan UNDP menemukan 57% kaum muda yang berpendidikann rendah atau tidak pernah sekolah, 23% yang lulus SD, 18% lulus sekolah menengah dan hanya 1,4% yang masuk perguruan tinggi (World Bank, 2003 dalam Soares: 2010).
4
Tidak sekolah atau pernah SD
Tamat SD
SMP SMA Pergurua
n tinggi
Tidak sekolah atau pernah SD
Tamat SD
SMP SMA Pergurua
n tinggi
15-19 52,9 32,1 13,8 1,3 0,0 52,4 32,1 13,5 2,0 0,0
20-24 44,6 21,8 18,9 14,2 0,5 58,4 17,7 13,4 10,4 0,1
25-29 48,6 15,2 12,4 23,1 0,7 70,1 13,0 7,9 8,6 0,4
30-34 67,5 13,5 4,6 13,0 1,4 86,3 7,2 2,9 3,3 0,5
35-39 77,6 11,6 4,9 5,3 0,5 91,5 5,0 1,9 1,6 0,0
40-44 80,1 12,6 3,7 3,2 0,4 93,2 3,5 1,3 1,7 0,2
45-49 92,6 4,6 1,4 1,2 0,2 98,2 1,6 0,0 0,2 0,0
50-54 94,7 3,9 1,4 0,0 0,0 98,2 0,9 0,7 0,2 0,0
55-59 94,9 4,4 0,7 0,0 0,0 98,1 1,6 0,3 0,0 0,0
60-64 97,5 1,3 0,8 0,4 0,0 99,5 0,5 0,0 0,0 0,0
65-69 98,5 1,5 0,0 0,0 0,0 99,4 0,0 0,6 0,0 0,0
68,6 14,7 8,0 8,2 0,4 79,4 10,8 5,7 3,9 0,2
142017 30467 16625 16878 931 154772 22503 11794 8052 304
Laki-laki Perempuan
Total jumlah kasus Kelompok Umur
Tabel 1.2
Capaian Pendidikan Penduduk berusia 15-69 tahun yang tinggal dalam keluarga yang Kepala Rumah Tangganya Lahir di Timor Leste, 1995 (%)
Sumber: diambil dari data rekaman, survey penduduk antarsensus tahun 1995
Pada tabel 1.2 tersebut menunjukan kelompok umur 15-19 tahun yang sepenuhnya lahir pada zaman pemerintahan Indonesia, hampir separuh dari jumlah pria maupun perempuan mampu menyelesaikan pendidikan dasar atau melanjutkan sekolahnya. Proporsi orang Timor-Leste yang memperoleh pendidikan menengah atas dan perguruan tinggi sangat sedikit, kendati telah berkembang pesat pada saat itu. Untuk kelompok usia 25-29 tahun kaum pria telah mengalami peningkatan 23 persen, akan tetapi untuk perempuan masih kurang 9 persen. Tingkat buta huruf tetap sangat tinggi khususmya untuk yang berusia diatas 40 tahun dan kaum perempuan.
Tantangan utama dari sistem pendidikan Timor-leste adalah faktor kemiskinan, infrastruktur yang buruk serta kurangnya guru yang berkualitas.
“Menurut Jose de Jesus, koordinator Koalisi Pendidikan Timor Leste, mengatakan sistem pendidikan negara ini perlu diperbaiki.“Kami memiliki banyak masalah,” katanya. “Yang paling penting adalah infrastruktur sekolah, kualitas guru dan fasilitas mengajar.”(Ucanews:2015)
5 Gambar 1.1
Sebuah gedung sekolah tua di Dili, ibukota Timor Leste, yang ditinggalkan dan membutuhkan renovasi.
Sumber: Ucanews 2015
Gambar 1.1 di atas menunjukan keadaan salah satu sekolah di Timor-Leste yang tidak layak untuk mendukung proses belajar mengajar. Kualitas yang buruk dari sarana dan prasarana yang dimiliki sekolahan dan perguruan tinggi, maupun kurangnnya tenaga pengajar yang ada makan akan menghasilakan manusia-manusia yang tidak berkualitas untuk membangun dirinya dan juga membangun bangsa ini ke depan menjadi bangsa yang lebih baik dan lebih maju kedepanya.
Melihat masalah di sektor pendidikan sebelum dan sesudah merdeka menjadi hal yang utama untuk negara ini maka dibuat konstitusi Timor-Leste mengenai Pembangunan sarana dan prasarana pendidikan dasar di Timor-Leste yang diatur dengan kebijakan pendidikan dasar yaitu Decreto-Lei no 7/2010 tertanggal 19 Mei, tentang Sistem Hukum dan Pengelolaan sistem Pendidikan. Pasal 17 dalam kebijakan tersebut diatur tentang pengelolaan pembangunan sarana dan prasarana pendidikan dasar sebagai berikut:
6
“bahwa sarana dan prasarana pendidikan dasar merupakan bagian dari tanggung jawab dalam pengelolaan keuangan dan perencanaan, untuk: (a) menjamin pemenuhan kebutuhan sekolah secara fungsional dalam menyelenggarakan proses belajar mengajar di sekolah, (b) menjamin pemeliharaan sarana dan prasarana pendidikan di sekolah, (c)melaksanakan tugas-tugas yang ditetapkan terkait pembangunan atau rehabilitasi sekolah, (d) memastikan pengelolaan dan distribusi peralatan sekolah ke setiap satuan pendidikan”.
Kendati konstitusi yang dibuat oleh pemerintah Timor-Leste tersebut masih belum dikatakan dalam peningkatan kualitas di sektor pendidikan yang berguna bagi pembangunan nasional di Timor-Leste, untuk itu dari permasalahan-permasalahan yang dihadapi Negara ini, menjadikan pemerintah Timor Leste mempunyai tanggung jawab moral untuk melakukan kerjasama dengan negara lain dalam meningkatkan kualitas di sektor pendidikan yang dapat membantu proses pembangunan di Timor Leste pada masa yang akan datang.
Salah satu kerjasama yang dilakukan oleh pemerintah Timor-Leste setelah kemerdekaan pada Mei 2002 adalah kerjasama dengan pemerintah Indonesia di berbagai bidang, kerjasama tersebut dilakukan sejak dibukanya hubungan diplomatik secara resmi dan mendatangani perjanjian kerjasama di Jakarta pada tanggal 8 Oktober 2002. Pertemuan Pertama Tingkat Menteri Komisi Bersama Timor Leste – Indonesia (Joint Commission Timor Leste – Indonesia) (suara merdeka, 2002).
Kerjasama ini dilakukan karena dinilai Indonesia memberikan kontribusi yang sangat besar bagi Timor-Leste terutama di sektor pendidikan. Hal tersebut terbukti dengan kerja sama yang terjalin selama ini antara Timor-Leste dengan Republik Indonesia.
Bagi Indonesia kerja sama ini dinilai dapat menaikan citra Indonesia di mata International sedangkan bagi Timor-Leste hubungan kerja sama dibutuhkan untuk menaikan standar dan kualifikasi tertentu untuk mengimbangi tujuan-tujuan dasar yang telah di targetkan pemerintah bagi keberlangsungan Pendidikan di Timor-Leste
7 serta untuk menghindari kekurangan dalam hal materi dan fasilitas seperti sarana dan prasarana. Tanpa dukungan maksimal dari pemerintah untuk menciptakan Pendidikan yang berkualitas maka sarjana-sarjana yang dihasilkan, secara otomatis akan miskin pengetahuan,buta huruf, terutama untuk kebutuhan yang tak bisa disediakan oleh Perguruan Tinggi dan sekolah-sekolah di Negara Timor-Leste.
Kerja sama Timor Leste dengan Indonesia disektor pendidikan memberikan peluang yang sangat besar bagi masyarakat Timor Leste untuk bisa melanjutkan pendidikan di Indonesia. Dengan melanjutkan pendidikan ke Negara Indonesia tersebut pemerintah Timor Leste berharap mahasiswa yang melanjutkan pendidikan di Indonesia dapat membentuk sumber daya manusia yang berkualitas dan setelah lulus akan kembali ke Timor Leste untuk membangun Timor Leste.
Sejak masa Pemerintahan Megawati sudah dimulainya hubungan diplomasi antara Timor-leste dengan Indonesia di sektor pendidikan seperti yang sudah dijelaskan pada paragraph sebelumnya. Hubungan diplomatik tersebut dibuka pada 3 oktober 2002. Namun tidak terlihat ada peningkatan pada indek pembangunan manusia di negara Timor-Leste. Negara Timor-Leste masih dihadapkan pada permasalahan SDM yang rendah. Berdasarkan penjelasan tersebut penulis tertarik untuk membahas mengenai “Hubungan Kerjasama Pemerintah Timor-Leste dengan Indonesia di Sektor Pendidikan Timor-Leste era SBY-JOKOWI”.
1.2. Rumusan Masalah
“ Bagaimana kerjasama bilateral Timor-Leste dengan Indonesia di sektor pendidikan Timor-Leste Era SBY-JOKOWI ?”
1.3. Tujuan Penelitian
Mendeskripsikan kerja sama bilateral Timor-Leste dan Indonesia di sektor pendidikan Timor-leste era SBY-JOKOWI.
8
1.4. Manfaat Penelitian
Penelitian harus mempunyai kegunaan bagi pemecahan masalah yang diteliti.
Untuk itu suatu penelitian setidaknya dapat memberikan manfaat bagi pembaca.
Kegunaan penelitian ini dapat ditinjau dari dua segi yang saling berkaitan yakni dari segi teoritis dan segi praktis, yaitu:
1.4.1. Manfaat Teoritis
1. Memperkaya pengetahuan mengenai bentuk kerjasama International dan Bilateral dalam mengatasi suatu permasalahan, khususnya dalam penelitisn ini kerhasama antara Timor-leste dengan Indonesia dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Timor-leste.
2. Menambah literatur atau bahan-bahan informasi ilmiah yang digunakan untuk melakukan penelitian selanjutnya, khususnya penelitian mengenai kerjasama bilateral di bidang pendidikan.
1.4.2. Manfaat Praktis
1. Sebagai referensi dan studi empiris bagi para penstudi ilmu hubungan internasional yang menaruh minat terhadap hubungan kerjasama di bidang pendidikan, khususnya kerjasama pendidikan di Timor-leste dengan Indonesia.
2. Serta dapat mengambil keputusan dalam mengupayakan pelaksanaan hubungan internasional sebagai program dari kepentingan nasional yang dikorelasikan dalam bentuk hubungan kerjasama bilateral dapat dicapai dalam interaksi intersional agar terciptanya keharmonisan hubungan diplomatic yang lebih baik.
9
1.5. Batasan Penelitian
Penelitian berjudul “Hubungan Kerjasama Pemerintah Timor-Leste dengan Indonesia Dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan di Timor-Leste” ini menggunakan batasan agar penelitian dapat fokus dan tidak melebar, yaitu:
Penelitian Hubungan Kerjasama Timor-Leste dengan Indonesia di sektor pendidikan di Timor-Leste akan dibatasi pada era SBY-JOKOWI. Pada era SBY dipilih penulis karena dianggap telah terciptanya diplomasi Indonesia yang konstruktif dalam membangun hubungan bilateral antara RI dan Timor Leste selama ini sedangkan penulis memilih era Jokowi karena penulis ingin melihat perkembangan terbaru dari kerjasama yang sudah terjalin antara Timor-leste dengan Indonesia. Hubungan RI dan Timor Leste memang memiliki sejarah penting terlebih setelah Timor Leste memisahkan diri dari Indonesia.
Penelitian ini berfokus pada hubungan bilateral Timor-Leste dengan Indonesia era SBY-JOKOWI di Sektor Pendidikan Timor-Leste serta bentuk kerjasama yang telah terjalin dan keuntungan yang diperoleh kedua negara dalam menjalin kerjasama.