i
PERANCANGAN PEMBUKUAN PADA USAHA KECIL MENENGAH (UKM)
(Studi Kasus UKM Sabun Susu Thalitta Getasan)
HALAMAN JUDUL
Oleh :
SISILIA NOVY YOTANTIA NIM : 232013097
SKRIPSI
Diajukan kepada Fakultas Ekonomika dan Bisnis Guna Memenuhi Sebagian dari
Persyaratan untuk Mencapai Gelar Sarjana Ekonomi
FAKULTAS : EKONOMIKA DAN BISNIS PROGRAM STUDI : AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMIKA DAN BISNIS UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA
SALATIGA
2018
1
PERANCANGAN PEMBUKUAN PADA USAHA KECIL MENENGAH (UKM)
(Studi Kasus UKM Sabun Susu Thalitta Getasan)
Sisilia Novy Yotantia [email protected]
PENDAHULUAN
Usaha Kecil Menengah (UKM) memiliki peran penting pada laju pertumbuhan pekonomian di Indonesia. Menurut Laporan Tahunan Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (KKUKM) 2015, jumlah sektor UMKM pada tahun 2013 mencapai sebanyak 57.895.721 unit dan menyerap tenaga kerja sebanyak 114.144.082 orang. UKM merupakan bentuk usaha kecil yang menjadi alternatif bagi penyerapan tenaga kerja di Indonesia, selain itu UKM juga memberikan kontribusi besar bagi pendapatan daerah maupun pendapatan negaraupun pendapatan negara. Dengan modal yang sedikit dan pengelolaan yang baik UKM mampu berkembang menjadi sebuah usaha yang besar.
Saat krisis ekonomi melanda, UKM mampu bertahan dan menjadi tulang punggung ekonomi di Indonesia. Menurut Kristiyanti (2012) mengingat pengalaman yang telah dihadapi oleh Indonesia selama ini, kiranya tidak berlebihan apabila pengembangan sector swasta difokuskan pada UKM, terlebih lagi unit usaha ini seringkali terabaikan hanya karena hasil produksinya dalam skala kecil dan belum mampu bersaing dengan unit usaha lainnya. UKM sendiri menjadi salah satu perwujudan konkrit dari kegiatan ekonomi rakyat yang bertumpu pada kekuatan sendiri (Eko 2008). Keberhasilan UKM saat ini tidak terlepas dari peran pemerintah dalam membina melalui Dinas Koperasi dan UKM. Selain memanfaatkan berbagai Sumber Daya Alam yang berpotensial pada suatu daerah yang belum diolah secara komersial.
2 Peranan UKM dalam perekonomian bukan tanpa masalah, berbagai macam permasalahan dihadapi oleh UKM yang ada di Indonesia. Hafsah (2004) menyatakan umumnya UKM menghadapi permasalahan salah satunya adanya faktor dari eksternal yaitu iklim usaha belum sepenuhnya kondusif, terbatasnya sarana dan prasarana usaha, implikasi otonomi daerah, implikasi perdagangan bebas. Selain beberapa faktor tersebut, ketidakmampuan menggunakan dan menyediakan informasi akuntansi juga menjadi suatu kelemahan dari segi manajemennya. Informasi akuntansi berupa laporan keuangan memiliki pengaruh yang sangat penting bagi usaha mikro, kecil, menengah maupun besar karena digunakan sebagai penentu untuk pengambilan keputusan yang berkaitan dengan bisnis tersebut.
Pentingnya pembukuan bagi pelaku UKM tidak membuat pemilik berusaha menerapkannya, sebaliknya pemilik UKM enggan untuk melakukan aktifitas pencatatan keuangan dikarenakan membutuhkan ketelitian, waktu dan juga biaya yang terkadang tidak sedikit jumlahnya. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Sinarwati (2014) mengungkapkan bahwa hal penting bagi pengelola usaha kecil ialah bagaimana cara menghasilkan laba yang banyak tanpa repot menerapkan akuntansi. Kelemahan UKM dalam hal pembukuan seringkali membuat UKM menghadapi berbagai macam kendala seperti dalam hal Pemberian Kredit Usaha oleh bank, kesulitan dalam mengetahui posisi keuangan saat ini. Sehingga hal tersebut dapat menyulitkan dalam proses pengambilan keputusan bisnis.
Sama halnya dengan UKM Sabun Susu Thalitta yang tidak mempunyai pembukuan sehingga pemilik tidak mengetahui berapa jumlah kas di tangan dan kas di bank serta tidak mengetahui jumlah kas keluar setiap bulannya, akibatnya pemilik tidak dapat mengukur besarnya biaya rutin yang dikeluarkan oleh kas dan kesulitan untuk membuat keputusan bisnis seperti mengalokasikan kas untuk pembuatan produk baru. Tidak adanya buku catatan utang dan piutang pelanggan sehingga sulit mengetahui jumlah utang dan piutang yang jatuh tempo serta batas keterlambatan pembayaran tagihan. Berdasarkan uraian tersebut Sabun Susu Thalitta membutuhkan adanya pembukuan, mengingat keterbatasan Sumber Daya
3 Manusia (SDM) dan Teknologi Informasi (TI) maka pembukuan tersebut dibuat secara manual.
Pokok permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini adalah belum adanya pembukuan pada UKM Sabun Susu Thalitta , sehingga ketidaktersediaan informasi dari sisi keuangan menyulitkan pemilik dalam mengetahui perkembangan usaha serta proses pengambilan keputusan bisnis.
Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk merancang pembukuan sederhana sesuai dengan kondisi yang ada pada UKM Sabun Susu Thalitta. Sehingga diharapkan penelitian ini mampu menjadi bahan acuan dalam perancangan pembukuan yang berguna untuk pengembangan UKM serta pengambilan keputusan bisnis yang ada pada UKM Sabun Susu Thalitta.
4
TINJAUAN PUSTAKA
Usaha Kecil dan Menengah (UKM)
Menurut Undang-Undang N0. 9 tahun 1995 tentang Usaha Kecil, batasan usaha/industri kecil didefinisikan sebagai kegiatan ekonomi yang dilakukan perseorangan atau rumah tangga maupun suatu badan, yang bertujuan untuk memproduksi barang ataupun jasa untuk diperniagakan secara komersial. UKM di Indonesia sangat berperan penting terhadap laju pertumbuhan ekonomi, bahkan saat terjadinya krisis moneter di tahun 1997 UKM menjadi penyangga perekonomian di negara ini.
Undang – Undang No. 20 Tahun 2008 tentang UMKM (Usaha Mikro, Kecil dan Menengah) pada Bab IV Pasal 6 menyebutkan kriteria dari UMKM adalah sebagai berikut:
1. Kriteria Usaha Mikro
- Memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp 50.000.000,- (lima puluh juta rupiah) diluar tanah dan bangunan tempat usaha ; atau
- Memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp 300.000,- (tiga ratus juta rupiah)
2. Kriteria Usaha Kecil
- Memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp 50.000.000,- (lima puluh juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp 500.000.000,- (lima ratus juta rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha ; atau
- Memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp 300.000.000,- (tiga ratus juta rupiah) sampai paling banyak Rp 2.500.000.000,- (dua milyar lima ratus juta rupiah).
3. Kriteria Usaha Menengah
- Memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp 500.000.000,- (lima ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp 10.000.000,- (sepuluh milyar rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha ; atau
5 - Memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp 2.500.000.000,- (dua milyar lima ratus juta rupiah) sampai paling banyak Rp 50.000.000.000,- (lima puluh milyar rupiah).
Badan Pusat Statistik (BPS) memberikan definisi UKM berdasarkan kuantitas tenaga kerja. Usaha kecil merupakan entitas usaha yang memiliki jumlah tenaga kerja 5 s.d 19 orang, sedangkan usaha menengah merupakan entitas usaha yang memiliki tenaga kerja 20 s.d 99 orang.
Dalam perspektif perkembangannya, UKM diklasifikasikan menjadi 4 (empat) kelompok yaitu :
a. Livelihood Activities, merupakan UKM yang digunakan sebagai kesempatan kerja untuk mencari nafkah, yang lebih umum dikenal sebagai sector informal. Contohnya adalah pedagang kaki lima
b. Micro Enterprise, merupakan UKM yang memiliki sifat pengrajin tetapi belum memiliki sifat kewirausahaan
c. Small Dynamic Enterprise, merupakan UKM yang telah memiliki jiwa kewirausahaan dan mampu menerima pekerjaan sub kontrak dan ekspor.
d. Fast Moving Enterprise, merupakan UKM yang telah memiliki jiwa kewirausahaan dan akan melakukan transformasi menjadi Usaha Besar (UB)
Usaha Kecil Menengah juga memiliki kekuatan dan kelemahan dalam menjalani bisnisnya. Kekuatan dari UKM ialah kebebasan untuk bertindak, menyesuaikan kepada kebutuhan setempat, berperan dalam melakukan tindakan/usaha. Sedangkan kelemahan itu sendiri ialah relatif lemah dalam spesialisasi, terbatasnya modal dalam pengembangan, serta sulit mendapatkan karyawan yang cakap (Kristiyanti 2012)
Karena peranannya yang sangat penting dalam menggerakkan ekonomi Indonesia, menyelesaikan permasalahan yang ada pada UKM juga dapat dikatakan sebagai kunci penyelesaian masalah perekonomian. (Rodhiyah 2011) mengungkapakan secara umum Usaha Kecil dan Menengah memiliki empat
6 karakteristik yaitu : (1) sistem pembukuan yang masih sederhana, (2) Tipisnya marjin usaha karena tingginya persaingan usaha, (3) Terbatasnya modal, (4) Terbatasnya pengalaman manajerial.
Pembukuan
Menurut Krisdiartiwi (2008) pengertian dari pembukuan adalah seni mencatat, membukukan, dan mengklasifikasikan aktivitas penjualan atau pembelian, baik barang maupun jasa dengan cara yang tepat. Pembukuan di dalam suatu usaha merupakan hal yang sangat penting dalam menunjang perkembangannya.
Pembukuan merupakan suatu proses pencatatan yang dilakukan secara teratur untuk mengumpulkan data dan informasi keuangan ( Sudarsono dan Prihandoko 2007). Pembukuan menjadi faktor kunci kinerja suatu usaha, informasi yang terdapat dalam pembukuan berguna bagi pihak internal maupun pihak eksternal terutama pemilik usaha. Dengan adanya pembukuan yang sesuai maka memudahkan pemilik dalam pengambilan keputusan bisnis.
Kegunaan dari sebuah pembukuan yaitu untuk mengetahui setiap transaksi yang dilakukan oleh usaha tersebut, untuk itu dibutuhkan ketelitian dan kerapian dalam melakukan pencatatan di dalam sebuah usaha. Dengan pembukuan yang transaksinya dicatat setiap harinya maka dapat diketahui berapa jumlah kas yang masuk dan jumlah kas yang dikeluarkan serta besarnya piutang usaha yang dimiliki setiap harinya.
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Rohman et al. (2011) menyebutkan ada dua faktor yang menyebabkan sedikitnya UKM yang melakukan pembukuan, faktor pertama ialah terbatasnya kemampuan manajemen pelaku UKM khususnya dalam aspek pembukuan dan akuntansi, faktor kedua yaitu biaya yang digunakan untuk menyelenggarakan sistem pembukuan yang standar masih terlalu tinggi.
Pengelolaan pembukuan yang baik memerlukan pengetahuan dan keahlian khusus agar informasi yang dihasilkan akurat.
7 Krisdiartiwi (2008) mengungkapkan proses-proses menghasilkan informasi dalam pembukuan meliputi :
1. Pengidentifikasian pada pihak yang berkepentingan.
2. Mengetahui rancangan sistem pembukan dan informasi yang dibutuhkan kebutuhan informasi mereka dan rancangan sistem pembukuannya guna pemenuhan kebutuhan informasi tersebut.
3. Sistem pembukuan mencatat berbagai data ekonomi mencakup hal-hal yang terjadi dan kegiatan yang ada pada perusahaan dan nantinya akan dilaporkan pada pihak yang berkepentingan sesuai dengan informasi yang dibutuhkan oleh mereka.
Proses tersebut nantinya akan menghasilkan laporan pembukuan yang memberikan gambaran mengenai informasi yang dapat digunakan oleh pemilik dalam mengambil keputusan serta pihak lain yang memiliki kepentingan.
Dalam menjalankan sebuah bisnis hal mendasar yang dicari ialah memperoleh keuntungan, dengan mengetahui transaksi setiap harinya yang besarnya dicatat dalam angka-angka serta mengetahui arus pendistribusian barang dank kas maka sebuah bisnis dapat mengetahui besarnya keuntungan atau kerugian yang diperoleh. Angka-angka tersebut juga dapat menunjukan perkembangan sebuah usaha yang nantinya dapat dijadikan dasar dalam pengambilan sebuah keputusan baik jangka panjang maupun pendek.
Pembukuan juga berperan penting dalam penilaian suatu bisnis, karena pembukuan memuat segala aktivitas yang dilakukan sebuah usaha maka dengan adanya pembukuan dapat diketahui gambaran perkembangan sebuah usaha.
Apakah usaha tersebut mengalami keuntungan atau mengalami kerugian. Dengan adanya pembukuan juga dapat dijadikan acuan untuk mecari kesalahan dan memperbaiki strategi yang ada pada suatu bisnis agar bisnis tersebut tidak mengalami kerugian.
Perancangan
Dalam merancang pembukuan dituntut untuk lebih mengerti mengenai kebutuhan dan permasalahan yang ada pada suatu usaha supaya pembukuan yang
8 dihasilkan sesuai dengan kondisi usahanya. Menurut Purnama (2010) perancangan merupakan tahap tingkat yang lebih lanjut setelah tahap analisis diselesaikan.
Langkah-langkah dalam merancang pembukuan yaitu : (1) Harus mengenali karakteristik bisnis, hal ini sangatlah penting karena setiap bisnis memiliki karakteristik yang berbeda-beda, (2) Mengenali dan mengidentifikasi transaksi- transaksi apa saja yang terjadi pada bisnis tersebut, (3) Membuat laporan keuangan yang dibutuhkan seperti laporan penjualan, laporan pemasukan kas dan laporan arus kas.
Tidak adanya pembukuan yang pasti dalam UKM ini maka dibutuhkan perancangan pembukuan yang sesuai kondisi bisnis. Perancangan dilakukan dengan mengumpulkan data-data dan melakukan analisa dan membuat pembukuan sesuai kebutuhan yang nantinya akan digunakan sebagai pencatatan transaksi harian.
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Atik (2013) mengungkapkan untuk membantu keefektifan dan kinerja yang efisien maka diperlukan sistem keuangan yang baik, kemudian merancang sistem keuangan.
9
METODE PENELITIAN
Pendekatan Penelitian
Pada penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Gunawan (2013) menyatakan bahwa metode kualitatif berusaha memahami dan menafsirkan makna suatu peristiwa interaksi tingkah laku manusia dalam situasi tertentu menurut perspektif peneliti sendiri serta bertujuan untuk memahami obyek yang diteliti secara mendalam.
Subjek dan Lokasi Penelitian
Subjek pada penelitian ini ialah UKM Sabun Susu Thalitta. Lokasi penelitian terletak di Dusun Piji Desa Sumogawe RT. 009 RW. 005 Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang
Teknik Pengumpulan Data
Pada penelitian ini jenis data yang digunakan adalah : a. Data primer
Data diperoleh secara langsung dari objeknya pertama melalui pengamatan dan melakukan survey langsung ke lokasi selanjutnya melakukan wawancara dengan pemilik untuk memperoleh informasi terkait proses bisnis serta permasalahan dan pembukuan UKM Sabun Susu Thalitta.
b. Data sekunder
Merupakan sebagai pelengkap data primer yang berupa informasi-informasi meliputi dokumen atau arsip seperti laporan penjualan, bukti transaksi harian, serta catatan informasi tambahan, dan data lain yang terkait. Dalam pengumpulan data metode yang digunakan ialah melalui :
- Observasi
Observasi dilakukan terhadap proses pencatatan bukti transaksi dan laporan penjualan untuk memperoleh informasi serta gambaran mengenai UKM Sabun Susu Thalitta.
- Wawancara
Wawancara dilakukan kepada pihak terkait yaitu pemilik dan pegawai untuk memberikan informasi dan data seperti profil usaha, laporan
10 penjualan, macam-jenis prodak, serta informasi lain yang dibutuhkan oleh peneliti.
Langkah-Langkah Analisis
Langkah – langkah analisis pada penelitian ini yaitu dengan cara mengidentfikasi keputusan bisnis yang ada pada UKM Sabun Susu Thalitta melalui hasil wawancara yang telah dilakukan. Adapun keputusan bisnis pada UKM Sabun Susu Thalitta yaitu pemilik ingin membuka Usaha baru berupa Kafe Susu. Cara mengidetifikasinya yaitu dengan memahami permasalahan yang terjadi seperti rencana usaha untuk ke depannya, menarik kesimpulan terhadap permasalahan yang ada. Selanjutnya mengidentifikasi informasi bisnis yang dibutuhkan UKM seperti besarnya laba yang diperoleh dan besarnya kas yang dikeluarkan setiap bulannya serta besarnya modal yang dimiliki hingga saat ini. Mengidentifikasi dengan cara menggali informasi mengenai keuangan usaha, mencari informasi tambahan berpa catatan-catatan keuangan. Terakhir yatu merancang pembukuan bersama pemilik, dimulai dari merancang laporan-laporan untuk mencatat transaksi setiap harinya yang dibutuhkan oleh UKM Sabun Susu Thalitta.
11
HASIL DAN PEMBAHASAN
Sabun Susu Thalitta merupakan UKM yang berdiri sejak tahun 2010, memproduksi berbagai macam sabun berbahan dasar susu murni. Dengan berlatar belakang tempat tinggal yang rata-rata penduduknya bergerak dibidang perternakan sapi perah dan berpotensi menghasilkan susu sapi yang sangat melimpah sehingga mendorong pemilik untuk membuat produk berbahan baku susu sapi murni. Sejak berdiri hingga sekarang perkembangan bisnis tersebut sangatlah pesat, terlihat dari pelanggan yang tidak hanya di daerah tersebut tetapi sampai ke luar kota dan juga penambahan jenis sabun dan produk lain seperti lotion dan juga lulur mandi.
Akan tetapi yang menjadi permasalahan di sini adalah, tidak adanya pencatatan pembukuan mengenai bukti dari transaksi-transaksi setiap harinya sehingga sering menimbulkan kesalahan seperti tidak adanya buku utang maupun piutang yang menyulitkan pemilik untuk mengetahui jumlah piutang yang ada serta jatuh tempo pembayarannya. Tidak adanya laporan kas menyulitkan pemilik untuk mengetahui berapa jumlah pengeluaran rutin setiap bulannya dan berbagai macam biaya-biaya tak terduga yang dikeluarkan serta berapa jumlah pemasukan yang telah diterima oleh UKM tersebut.
Pentingnya dilakukan pembukuan juga sebenarnya telah di sadari oleh pemilik karena bisa mengetahui keluar masuknya uang penjualan tetapi dikarenakan waktu dan kemampuan untuk membayar orang yang berkompeten dalam hal ini maka pemilik enggan menerapkannya. Berikut pemaparan narasumber :
“Sebenarnya tau mbak, seperti buku besar itu mbak. Penting juga jane mbak, kita bisa tau keluar masuk uang penjualan tapi kadang tidak sempat, mau bayar orang belum kuat bayar…”
Bukti transaksi yang ada pada UKM ini yaitu berupa nota penjualan tunai dan penjualan kredit serta catatan piutang. Sistem pencatatan penjualannya tidak ada, hanya mengandalkan nota penjualan. Untuk sistem pencatatan persediaan juga tidak ada, persediaan hanya dikira-kira dan di lihat dari jumlah fisiknya. Untuk di
12 toko biasanya persediaan akan di stok sebanyak 100 buah untuk masing-masing jenis produknya, jika jumlah produk pada etalase terlihat akan habis maka akan di isi kembali dari gudang. Di gudang sendiri biasanya pemilik akan menyimpan persediaan barang dagang sebanyak 1000 hingga 3500 buah sabun. Selain untuk mengisi toko, persediaan juga digunakan sewaktu-waktu ada pesanan dalam jumlah banyak.
Sistem pencatatan piutang pada UKM ini hanya di catat pada nota tambahan. Tidak ada pencatatan piutang khusus untuk masing-masing pelanggan, tetapi ada lima pelanggan tetap yang memiliki catatan khusus secara terpisah.
Untuk sistem pencatatan utang, pemilik masih menggunakan prinsip tidak berhutang. Oleh karena itu tidak pernah ada transaksi atau catatan hutang hingga saat ini. Biaya-biaya produksi yang dikeluarkan meliputi biaya gaji karyawan, untuk kemasan luar dan dalam, label, air masuk dalam kategori biaya bahan. untuk biaya lstrik diambil dari laba karena pembuatan produk tidak banyak menggunaka listrik. Harga produk ditentukan dengan cara : Harga produk + biaya produksi + laba 20%. Pemilik melihat perkembangan bisnis ini juga menyadari akan rencana bisnis untuk kedepannya dan masih mengandalkan olahan berbahan dasar susu yaitu berencana akan membuka Kafe Susu.
”Rencana ke depan apa ya mbak, kalau produk baru sudah pernah. Untuk buka usaha di tempat lain itu juga dulu ada rencana mbak, takut Allah marah kalau kita ngawu-awu. Sudah di kasih lima minta sepuluh, jadi rencana saat ini fokusnya sih buka kafe susu aja…”
Dari adanya permasalahan - permasalahan di atas menjadikan bahan pertimbangan untuk pembuatan pembukuan sederhana yang sesuai dengan kondisi UKM itu sendiri. Dikarenakan para pegawai tidak memiliki latar belakang yang cukup memadai untuk melakukan pembukuan secara komputerisasi serta pembukuan secara komputerisasi memerlukan biaya yang tidak sedikit dan kemampuan khusus maka pembukuan dilakukan secara manual.
13 Pertama-tama perancangan pembukuan dimulai dari mengidentifikasi keputusan bisnis yang ada pada UKM Sabun Susu Thalitta seperti pembuatan jenis produk baru, dan akan membuka usaha baru yaitu Kafe Susu. Dari keputusan bisnis yang ada tahapan selanjutnya yaitu mencari informasi-informasi yang ada pada UKM Sabun Susu Thalitta seperti nota penjualan tunai, catatan penjualan kredit, dan nota-nota pembelian bahan baku.
Setelah diperoleh informasi yang dibutuhkan maka diperoleh hasil laporan- laporan pembukuan sebagai berikut :
Laporan Penjualan
Laporan penjualan disajikan dalam tabel 1 (lampiran), digunakan untuk mencatat transaksi-transaksi penjualan tunai dengan cara memposting dari nota penjualan tunai ke laporan penjualan.
Laporan Kas Masuk dan Keluar
Laporan penerimaan dan pengeluaran kas disajikan dalam tabel 2 (lampiran), digunakan untuk mencatat seluruh transaksi penerimaan dan pengeluaran kas dengan cara memposting dari nota penjualan tunai dan biaya non produksi seperti biaya pemasaran, biaya pengiriman.
Laporan Persediaan Barang Dagang
Laporan persediaan barang dagang disajikan dalam tabel 3 (lampiran), digunakan untuk mencatat dan mengetahui jumlah barang dagang yang tersedia yaitu dengan cara mengecek jumlah persediaan barang awal, persediaan barang yang masuk dan keluar sehingga dapat diketahui berapa jumlah persediaan yang ada saat ini.
Laporan Biaya Produksi
Laporan biaya produksi disajikan dalam tabel 4 (lampiran), digunakan untuk mencatat biaya-biaya yang berkaitan dengan produksi dengan cara mengumpulkan seluruh nota-nota seperti pembelian bahan baku, pembelian kemasan luar dan dalam, pembelian label, dan gaji karyawan. Seluruh nota dibendel menjadi satu dan dicatat seluruh totalnya lalu diposting sesuai urut tanggal produksi, pada kolom keterangan ditulis nomor bendel nota.
14 Laporan Piutang
Laporan piutang disajikan dalam tabel 5 (lampiran), digunakan untuk merekap jumlah keseluruhan piutang yang dimiliki yaitu dengan cara memposting dari buku piutang masing-masing pelanggan.
Buku Piutang
Buku piutang disajikan dalam tabel 6 (lampiran), digunakan untuk mencatat jumlah piutang yang telah dibayar serta piutang yang belum dilunasi oleh pelanggan.
15
SIMPULAN, KETERBATASAN DAN SARAN
Penelitian ini bertujuan untuk merancang pembukuan sederhana sesuai dengan kondisi yang ada pada UKM Sabun Susu Thalitta. Dari hasil penelitian maka dapat ditarik kesimpulan yaitu UKM tersebut mengalami kendala dalam membuat keputusan bisnis untuk memajukan usahanya, oleh karena itu diperlukan informasi berupa catatan atau nota-nota transaksi untk penyusunan pembukuan.
Laporan-laporan yang dihasilkan berupa laporan penjualan, laporan utang, laporan kas masuk dan keluar, laporan persediaan barang dagang, laporan biaya produksi, laporan piutang, buku piutang. Serta laporan tahunan berupa laporan laba rugi, perubahan modal dan neraca. Dari laporan tersebut maka akan tersedia informasi dari sisi keuangan yang dapat digunakan sebagai acuan dalam pengambilan keputusan bisnis.
Implikasi Penelitian
Hasil dari penelitian ini akan membantu pemilik dalam melakukan pembukuan atas transaksi-transaksi usaha. memberikan informasi dari sisi keuangan yang akan menjadi bahan pertimbangan dalam pembuatan jenis produk baru dan pembukaan usaha baru.
Keterbatasan dan Saran
Keterbatasan pada penelitian ini adalah kurangnya pengetahuan yang berkaitan dengan pembukuan sehingga membuat pegawai terkadang kesulitan dalam melakukan pencatatan laporan. Selain itu ada beberapa informasi yang tidak bisa didapatkan terkait kerahasiaan usaha.
Saran dari penelitian ini adalah bagi UKM untuk menyediakan waktu dalam mencatat transaksi harian dengan dan rapi sesuai laporan yang telah dibuat, mengikutsertakan pegawai dalam pelatihan penyusunan laporan keuangan bagi UKM, pemilik diharapkan menyediakan sarana yang lebih bagi usahanya seperti komputer agar kedepannya pencatatan dapat dilakukan secara komputerisasi. Bagi lembaga terkait diharapkan memberikan pelatihan mengenai pembukuan secara berkala dengan cara terjun langsung ke tiap-tiap UKM yang ada.
16
DAFTAR PUSTAKA
Eko, P. P. 2008. Peran Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dalam Kebijakan Penanggulangan Kemiskinan dan Pengangguran. Akmenika UPY. Volume 2
Gunawan, I. 2013. Metode Penelitian Kualitatif, Jakarta : Bumi Aksara.
Hafsah, M. J. 2004. Upaya Pengembangan Usaha Kecil dan Menengah (UKM). INFOKOP, 12(25).
Kellen, P. B. 2004. Peranan Akuntansi Untuk Pengembangan Bisnis Kecil.
Jurnal Bisnis dan Usahawan, II No.7
Krisdiartiwi, M. 2008. Pembukuan Sederhana untuk UKM, Yogyakarta : Media Pressindo
Kristiyanti, M. 2012. Peran Strategi Usaha Kecil Menengah (UKM) Dalam Pembangunan Nasional. Majalah Ilmiah INFORMATIKA. Vol. 3 No. 1 Laporan Tahunan Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (KKUKM)
2015. Available at http://www.depkop.go.id/berita-informasi/data- informasi/laporan-tahunan/
Purnama, B. E. 2010. Pembangunan Sistem Informasi Pendataan Rakyat Miskin Untuk Program Beras Miskin (Raskin) Pada Desa Mantren Kecamatan Kebonagung Kabupaten Pacitan. Jurnal Speed-Sentra Penelitian Engineering dan Edukasi. Vol. 2 No. 4
Rodhiyah, S. U. 2012. Kajian Tentang Akuntabilitas Usaha Kecil Menengah Melalui Laporan Keuangan (Studi Kasus Pada UKM Konveksi di Semarang). FORUM: Majalah Pengembangan Ilmu Sosial. Vol. 40. No. 2.
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Diponegoro
Rohman, H. A., Zulaikha, S. N. Raharjo, P. Hartono. 2011. Kajian Terhadap Kapabilitas Pembukuan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) Dalam Mendukung Perilaku Kepatuhan Wajib. Jurnal Akuntansi. Vol.15 No.03
17 Sinarwati, N. K., 2014. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Belum Diterapkannya Pencatatan Keuangan Berbasis SAK ETAP di UMKM (Studi Kasus UKMKM di Kabupaten Buleleng). Seminar Nasional Riset Inovatif II. ISSN : 2339-1553
Sudarsono, D. T. E., dan Prihandoko. 2007. Pembukuan dan Kinerja Usaha Kecil dan Menengah. Majalah Ilmiah Ekonomi Komputer. No. 3
Undang – undang Republik Indonesia No. 9 Tahun 1995 Tentang Usaha Kecil Undang – undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2008 Tentang Usaha Mikro,
Kecil, dan Menengah
\
18 Lampiran 1
Daftar Pertanyaan Wawancara
Daftar pertanyaan wawancara ini berfungsi untuk menjawab masalah penelitian pada penelitian yang berjudul “Perancangan Pembukuan Pada Usaha Kecil Menengah (Studi Kasus UKM Sabun Susu Thalitta Getasan)”.
1. Sudah berapa lama UKM Sabun Susu Thalitta berdiri ?
2. Berapa banyak jumlah pegawai yang ada di UKM Sabun Susu Thalitta ? 3. Berapa macam jenis produk yang di jual pada UKM Sabun Susu Thalitta ? 4. Bagaimana perkembangan UKM Sabun Susu Thalitta sejak awal berdiri
hingga saat ini ?
5. Seberapa besar pengetahuan Ibu Yuliati mengenai pembukuan ? 6. Seberapa penting pembukuan bagi usaha menurut Ibu Yuliati ?
7. Apa saja jenis bukti transaksi yang ada di UKM Sabun Susu Thalitta ? 8. Bagaimana sistem pencatatan penjualan pada UKM Sabun Susu Thalitta ? 9. Bagaimana sistem pencatatan persediaan pada UKM Sabun Susu Thalitta ? 10. Bagaimana sistem pencatatan piutang pada UKM Sabun Susu Thalitta ? 11. Bagaimana sistem pencatatan Utang pada UKM Sabun Susu Thalitta ? 12. Biaya produksi apa saja yang ada pada usaha ini ?
13. Biaya non produksi aa saja yang ada pada usaha ini ? 14. Bagaimana cara menentukan harga sabun ?
15. Keputusan bisnis apa saja yang ada pada UKM ini ? 16. Apa rencana ke depan untuk usaha bisnis saat ini ?
19 Lampiran 2
Profil UKM Nama Usaha : Sabun Susu Thalitta Nama Pemilik : Supriyono
Alamat : Dusun Piji RT. 009 RW. 005 Desa Sumogawe Keamatan Getasan Kabupaten Semarang
Telepon : 08784614144
Facebook : Thalitta Tiwi
Tahun Berdiri : 2010
Produk yang Ditawarkan : - Sabun Herbal - Sabun Kecantikan Jenis Kegiatan : Tepat Guna
Diskripsi Teknogi : Susu diolah menjadi sabun susu Diskripsi Poduk : Bulat Oval
Keunikan Produk : Susu sapi menjadi sabun mandi dan wajah Sasaran Konsumen : Semua golongan lapisan masyarakat
20
Tabel 1
Laporan Penjualan Sabun Susu Thalitta SABUN SUSU THALITTA
LAPORAN PENJUALAN BULAN :………..
TGL NAMA BARANG UNIT HARGA
SATUAN TOTAL HARGA
Tabel 2
Laporan Kas Masuk dan Kas Keluar Sabun Susu Thalitta SABUN SUSU THALITTA
LAPORAN KAS MASUK / KELUAR BULAN :………
TGL KETERANGAN PEMASUKAN PENGELUARAN SALDO
21
Tabel 3
Laporan Persediaan Barang Dagang Sabun Susu Thalitta SABUN SUSU THALITTA
LAPORAN PERSEDIAAN BARANG DAGANG BULAN :………
No Nama Barang
Persediaan Awal Mutasi
Persediaan Akhir Jlh
Satuan
Jlh Barang
Masuk Keluar
Jlh Satuan
Jlh Harga
Jlh Satuan
Jlh Harga
Jlh Satuan
Jlh Harga
Tabel 4
Laporan Biaya Sabun Susu Thalitta SABUN SUSU THALITTA
LAPORAN BIAYA
KETERANGAN TANGGAL
PRODUKSI
TOTAL BIAYA
PRODUKSI NO BUKTI
22
Tabel 5
Laporan Piutang Sabun Susu Thalitta SABUN SUSU THALITTA
BUKU BIAYA BULAN :………..
NO NAMA PELANGGAN JUMLAH PIUTANG KETERANGAN
Tabel 6
Buku Piutang Sabun Susu Thalitta
Nama :
Alamat :
Dusun Piji RT. 009 RW. 005 Desa Sumogawe Telepon :
Kec. Getasan Kab. Semarang 50744
TANGGAL KETERANGAN UNIT HARGA D (Rp) K (Rp) SALDO
Thalitta
23
Lampiran
Gambar 1
UKM Sabun Susu Thalitta
Gambar 2
Berbagai jenis produk olahan dari susu yang siap di jual
24 Gambar 3
Nota penjualan tunai dan penjualan kredit
Gambar 4
Wawancara dengan narasumber
Gambar 5
Bersama pemilik UKM Sabun Susu Thalitta