• Tidak ada hasil yang ditemukan

Effect Of Concentration Variation And Mordan Method On Dyeing With Kenikir Leaf Extract (Cosmos Caudatus Kuhn)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Effect Of Concentration Variation And Mordan Method On Dyeing With Kenikir Leaf Extract (Cosmos Caudatus Kuhn)"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH VARIASI KONSENTRASI DAN METODE MORDAN PADA PENCELUPAN DENGAN EKSTRAK DAUN KENIKIR (

Cosmos Caudatus Kuhn

)

Effect Of Concentration Variation And Mordan Method On Dyeing With Kenikir Leaf Extract (Cosmos Caudatus Kuhn)

Hilbram Adiyaksa 1, Didik Achadi Wedyatmo1

1 Prodi Kimia Tekstil, Sekolah Tinggi Teknologi Warga Surakarta, Jalan Raya Solo Baki Km.2, Kwarasan, Solo Baru – Sukoharjo

Korenspondesi Penulis

Email : [email protected]

Kata kunci: Pencelupan, daun kenikir, kain kapas, aluminium sulfat, metode mordan Key words: Dyeing, cosmos leaves, cotton fabric, aluminium sulfate, mordan method ABSTRAK

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui apakah metode mordan dan konsentrasi mordan berpengaruh pada hasil pencelupan kain kapas dengan zat warna alam dari ekstrak daun kenikir. Percobaan pencelupan pada kain kapas dilakukan dengan tahapan sesuai dengan metode mordan yang digunakan. Pencelupan dilakukan dengan metode perendaman pada suhu kamar selama satu (1) jam, menggunakan mordan Aluminium sulfat. Faktor yang diteliti adalah metode mordan yaitu:

pre, post dan pre-post mordan serta konsentrasi mordan: 15, 25 dan 35 g/L Untuk mengetahui kualitas hasil celupan, maka dilakukan pengujian meliputi uji ketuaan warna dan uji ketahanan luntur warna terhadap pencucian dan gosokan. Hasil analisa data dengan Anava ganda menunjukkan bahwa faktor konsentrasi dan metode mordan berpengaruh pada nilai ketuaan warna, nilai penodaaan warna pada uji pencucian dan nilai uji gosokan basah, tetapi tidak pengaruh pada nilai ketahanan luntur warna terhadap gosokan kering dan perubahan warna pada uji pencucian.

ABSTRACT

This study was conducted to find out whether the mordant method and mordant concentration influenced the results of dyeing cotton fabrics with natural dyes from cosmos leaf extract. The dyeing experiment on cotton fabric was carried out in stages according to the mordant method used. The dyeing was carried out by immersion method at room temperature for one (1) hour using Aluminum sulfate mordant. The factors studied were the mordant method (pre-, post-, and pre-post-mordant) and the concentration of mordant (15, 25, and 35 g/L). To determine the quality of the dyed results, tests were carried out including the color aging test and the color fastness test to washing and rubbing. The results of data analysis with Two-Way Anova showed that concentration and mordant method influenced the values of color strength, color staining on the washing test, and the wet rubbing test, but they had no effect on the value of color fastness to dry rubbing and color changes in the washing test.

(2)

C.6 2 PENDAHULUAN

Permasalahan industri tekstil saat ini adalah pencemaran lingkungan yang ditimbulkan oleh limbah tekstil. Zat warna sintetis, sampai saat ini masih digunakan oleh industri tekstil untuk pewarnaan kain karena harganya yang murah, mudah didapat dan mudah digunakan tetapi limbahnya sangat mencemari lingkungan. Pembuangan limbah cair sisa pewarnaan menyebabkan air sungai mengalami perubahan fungsi/kegunaannya, bahkan terkadang menjadi tidak layak digunakan untuk berbagai pemanfaatan. Untuk itu pemerintah mendorong pelaku industri/kerajinan tekstil untuk menggantikan penggunaan zat warna sintetis dengan zat warna alam guna mengurangi pencemaran lingkungan yang ditimbulkan oleh limbah tekstil (Haryono, 2018).

Penelitian mengenai mengenai pencelupan kain kapas dengan zat warna alam dari ekstrak daun kenikir telah dilakukan oleh Wicaksono (2020) dengan cara melakukan proses pencelupan kain kapas ke dalam larutan ekstrak zat warna sebanyak 4 kali selama 1 jam. Kain yang telah dicelup selanjutnya difiksasi selama 15 menit, fiksasi menggunakan 3 jenis fiksator yang berbeda (tawas, kapur, tunjung) dengan konsentrasi 50 g/L pada suhu kamar. Hasil penelitian menunjukkan

ada pengaruh jenis fiksator terhadap hasil pencelupan terhadap kerataan dan ketajaman warna.

Nilai kerataan warna paling baik diperoleh menggunakan fiksator tawas dan hasil ketajaman warna pada fiksator tawas memperoleh nilai: 2,83, pada kapur memperoleh nilai: 3,40, dan tunjung memperoleh nilai: 3,47.

Berbeda dengan penelitian sebelumnya, maka penelitian pencelupan kain kapas dengan ekstrak daun kenikir dilakukan dengan memvariasikan konsentrasi dan metode mordan untuk diketahui pengaruhnya terhadap nilai ketuaan dan ketahanan luntur warna terhadap pencucian maupun gosokan. Jenis mordan yang digunakan adalah Aluminium sulfat/tawas dengan memvariasikan konsentrasinya: 15, 25, dan 35 g/L. Variasi metode mordan yang digunakan adalah:

pre-mordan

,

post-mordan

, dan

prepost-mordan

. Mordan yang digunakan adalah Aluminium sulfat karena dibanding dengan mordan kimia lainnya, Aluminium sulfat mempunyai potensi pencemaran yang lebih kecil (Rosyida; 2021). Metode mordan merupakan salah satu faktor yang diteliti karena metode mordan yang digunakan dalam pencelupan mempunyai pengaruh pada nilai ketuaaan warna yang dihasilkan. Penggunaan metode mordan yang tepat dalam pencelupan akan memperbanyak terjadinya ikatan zat warna dengan serat dan pembentukan senyawa kompleks antara mordan dengan molekul zat warna pada bahan tekstil (Cardon, 2007; Somantri dkk., 2014; Baaka

et al.

, 2017).

Diharapkan dari hasil penelitian ini diperoleh suatu metode/cara pencelupan yang lebih mudah, singkat, dan biaya murah dengan hasil yang lebih baik sehingga dapat membantu industri tekstil/batik untuk dapat melakukan pencelupan dengan zat warna alam dari ekstrak daun kenikir. Selain itu sebagai upaya dalam membantu pemerintah dalam mengurangi pencemaran lingkungan perairan oleh limbah zat warna sintetis melalui penggunaan zat warna alam yang bersifat lebih ramah lingkungan.

(3)

C.6 3 METODOLOGI PENELITIAN

Bahan Dan Alat

Bahan yang digunakan adalah kain kapas/cotton 100 % (siap celup), daun kenikir (Cosmos caudatus Kuhn), aluminium sulfat/tawas (Al2(SO4)3), teepol , sabun netral, dan air untuk ekstrak pewarna alam dan proses pencelupan.

Alat yang digunakan dalam pencelupan adalah timbangan analitik, beker glass, kompor gas, gelas ukur, bunsen, pengaduk, penyaring, thermometer, dan pH Meter. Alat untuk evaluasi hasil pencelupan adalah

Spectrophotometer

,

Laundry-O-meter

,

Crockmeter

,

Grey scale

, dan

Staining scale

.

Prosedur Kerja

Pembuatan larutan mordan

Ambil air sesuai kebutuhan, masukan dalam beker glass dan masukkan pembasah 1 cc/L, aduk sampai tercampur merata. Masukkan mordan dengan konsentrasi 15, 25, dan 35 g/L, kemudian aduk sampai larut, berikutnya larutan mordan diendapkan selama 30 menit sebelum digunakan. Pisahkan endapan dari larutan mordan yang bersih sehingga larutan mordan siap digunakan.

Pembuatan larutan ekstrak daun kenikir

Ambil daun kenikir yang telah dicuci, timbang daun kenikir sesuai dengan kebutuhan.

Masukkan daun kenikir pada panci dan tambahkan air dengan perbandingan (1:5). Panaskan dan lakukan ekstrak daun kenikir pada suhu 80-90°C selama 30 menit, lakukan pengadukan selama proses ekstrak berlangsung. Setelah ekstrak, dinginkan larutan ekstrak dan lakukan penyaringan pada larutan ekstrak menggunakan alat penyaring agar kotoran dapat dipisahkan dari larutan ekstrak. Setelah itu endapkan larutan ekstrak selama 15 menit sebelum digunakan. Pisahkan endapan dari larutan ekstrak sehingga larutan ekstrak siap digunakan.

Proses Pencelupan

Proses pencelupan yang dilakukan dengan metode mordan yang berbeda menggunakan prosedur yang berbeda, yaitu:

Metode pre-mordan

Menyiapkan kain yang akan dicelup dengan melakukan proses

pre-mordan

pada suhu kamar selama 60 menit, kemudian dikeringkan. Selanjutnya kain dicelup pada larutan ekstrak pencelupan dengan suhu kamar selama 60 menit, setelah selesai kain dilakukan pencucian (panas, sabun dan panas), kemudian kain dikeringkan dengan cara diangin-anginkan.

Metode pre-post

Menyiapkan kain yang akan dicelup dengan melakukan proses

pre-mordan

pada suhu kamar selama 60 menit, kemudian dikeringkan. Selanjutnya kain dicelup pada larutan ekstrak pencelupan dengan suhu kamar selama 60 menit setelah selesai kain diperas dan dimasukkan dalam larutan mordan pada suhu kamar selama 15 menit. Selanjutnya kain dilakukan

(4)

C.6 4 pencucian (panas, sabun dan panas), kemudian kain dikeringkan dengan cara diangin- anginkan.

Metode post-mordan

Menyiapkan kain yang akan dicelup dan larutan pencelupan, kemudian kain dicelup dalam larutan ekstrak pada suhu kamar selama 60 menit. Selanjutnya kain diperas dan dimasukkan dalam larutan mordan pada suhu kamar selama 15 menit, kemudian kain dilakukan pencucian (pencucian panas, sabun dan panas), kain yang telah dimordan kemudian dikeringkan dengan cara diangin-anginkan.

Pengujian ketuaan warna (K/S)

Pengujian nilai ketuaan warna (K/S) pada kain hasil pencelupan dilakukan menggunakan alat uji

Spectrophotometer

Data

Color

600 dan dihitung menggunakan rumus Kubelka tahun 1954. Nilai uji beda warna dilakukan berdasarkan dari nilai kecerahan (

lightness

) terhadap kejenuhan warna (

chromal

) dan corak/arah warna (

hue

) dengan notasi L*, a* dan b*. Nilai L*

menunjukkan tingkat kecerahan warna hasil pencelupan. Nilai a* menunjukkan arah warna kain hasil pencelupan pada warna merah dan hijau, jika nilai a* positif (+) maka menunjukkan arah warna merah dan nilai a* negatif (-) menunjukkan arah warna hijau. Nilai b* menunjukkan arah warna kain hasil pencelupan mengarah pada warna kuning dan biru, jika nila b* positif (+) maka menunjukkan arah warna kuning, sedangkan apabila nilai b* negatif (-) maka menunjukkan arah warna biru (CIE, 1976).

Pengujian ketahanan luntur warna terhadap pencucian

Pengujian ketahan luntur warna terhadap pencucian rumah tangga dan pencucian komersial adalah metoda pengujian tahan luntur warna bahan tekstil dalam larutan pencucian dengan menggunakan salah satu kondisi pencucian komersial yang dipilih, untuk mendapatkan nilai perubahan warna dan penodaan pada kain pelapis. Alat uji Laundry O- Meter berdasarkan standar uji tekstil SNI ISO 105-C06:2010 terhadap nilai penodaan warna dan perubahan warna pada kain hasil pencapan yang diukur menggunakan skala

Grey Scale

dan

Stanning Scale.

Pengujian ketahanan luntur warna terhadap gosokan

Pengujian ketahanan luntur warna terhadap gosokan dilakukan pada kondisi basah dan kering menggunakan alat uji

Crockmeter

berdasarkan standar uji tekstil SNI ISO 105-X12:2012 terhadap nilai penodaan warna dan perubahan warna pada kain hasil pencapan yang diukur menggunakan skala

Stanning Scale.

(5)

C.6 5 HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Hasil uji ketuaan warna

Tabel 1. Nilai uji ketuaan warna No. Konsentrasi

mordan (g/L) K/S L a* b* Warna Hasil Pencelupan Pre-mordan

1 15 3,01 78,88 1,16 46,3

2 25 3,03 78,56 1,7 46,58

3 35 1,73 81,11 0,91 38,78

Prepost- mordan

4 15 1,66 81,33 0,06 39,74

5 25 1,92 80,48 0,74 40,54

6 35 1,291 82,14 -0,02 35,26

Post-mordan

7 15 1,30 82,05 -0,17 36,06

8 25 1,13 82,10 0,35 32,11

9 35 1,12 82,46 0,18 33,27

Keterangan:

Nilai L* menunjukkan tingkat kecerahan warna hasil pencelupan Nilai a* positif (+) maka menunjukkan arah warna merah

Nilai a* negatif (-) menunjukkan arah warna hijau Nilai b* positif (+) maka menunjukkan arah warna kuning

Nilai b* negatif (-) maka menunjukkan arah warna biru

(6)

C.6 6 Gambar 1. Grafik nilai ketuaan warna

Hasil Uji Ketahanan Luntur Warna

Tabel 2. Hasil rata rata uji ketahanan luntur warna terhadap pencucian Metode Mordan Konsentrasi

Mordan (g/L)

Perubahan warna Penodaan warna

GS CD SS CD

Pre-mordan 15 3-4 2,5 4 4,3

25 3-4 2,8 3-4 6

35 3-4 2,8 3-4 6,8

Rata- rata

Prepost-mordan 15 3-4 2,23 4 4,3

25 3-4 2,5 4 4,3

35 3-4 2,5 3-4 6

Rata- rata

Post-mordan 15 3-4 2,5 4 4,3

25 3-4 2,5 4 4,3

35 3-4 2,5 3-4 6

Rata- rata

Keterangan :

5 = baik sekali, 4-5 = baik, 4 = baik, 3-4 = cukup baik, 3 = cukup, 2-3 = kurang, 2 = kurang, 1-2 = jelek, 1 = jelek

0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5

15g/L 25g/L 35g/L

Pre-modan Prepost-mordan Post-mordan

Nilai ketuaan warna

(7)

C.6 7 Gambar 2. Hasil rata rata nilai perubahan warna uji ketahanan luntur warna pencucian

Gambar 3. Hasil rata rata nilai penodaan warna uji keahanan luntur warna pencucian

Tabel 3. Hasil rata rata uji ketahanan luntur warna terhadap gosokan Metode Mordan Konsentrasi

Mordan (g/L)

Gosok kering Gosok basah

SS CD SS CD

Pre-mordan 15 4-5 1,46 4 4,3

25 4-5 1,46 4 4,3

35 4-5 1,46 4 4,3

Prepost-mordan 15 4-5 1,46 4-5 2,2

25 4-5 1,46 4-5 2,2

35 4-5 1,46 4 4,3

Post-mordan 15 4-5 1,46 4-5 2,2

25 4-5 1,46 4-5 2,2

35 4-5 1,46 4 4,3

Keterangan :

5 = baik sekali, 4-5 = baik, 4 = baik, 3-4 = cukup baik, 3 = cukup, 2-3 = kurang, 2 = kurang, 1-2 = jelek, 1 = jelek

1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5 5

15g/L 25g/L 35g/L

Pre Post Prepost

1-2

1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5 5

15g/L 25g/L 35g/L

Pre Post Prepost

1-2 4-5

3-4

2-3

Nilai perubahan warna

4-5

3-4

2-3

Nilai penodaan warna

(8)

C.6 8 Gambar 4. Hasil rata rata nilai penodaan warna ketahanan luntur warna pada gosokan kering

Gambar 5. Hasil rata rata nilai penodaan warna ketahanan luntur warna pada gosokan basah

Pembahasan

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan variasi konsentrasi mordan dan metode mordan yang berbeda pada hasil pencelupan kain kapas dengan ekstrak daun kenikir, khususnya nilai ketuaan warna, ketahanan luntur terhadap pencucian dan gosokan. Metode mordan yang digunakan yaitu:

pre-mordan

,

prepost- mordan

, dan

post-mordan

sedangkan jenis mordan yang digunakan adalah: aluminium sulfat/tawas dan konsentrasi mordan yang digunakan 15, 25, 35 g/L. Berikut ini adalah pembahasan dari hasil pengujian yang telah diperoleh, diantaranya:

Ketuaan Warna

Hasil uji ketuaan warna pada kain hasil pencelupan dengan menggunakan variasi konsentrasi dan metode mordan yang berbeda diperoleh nilai ketuaan warna (K/S), kecerahan (L) dan arah warna (a) dan (b) yang berbeda. Data hasil uji spektrofotomer pada Tabel 1. Uji

1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5 5

15g/L 25g/L 35g/L

Pre Post Prepost

1-2

1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5 5

15g/L 25g/L 35g/L

Pre Post Prepost

1-2 2-3 3-4 4-5

Nilai penodaan warna

2-3 3-4 4-5

Nilai penodaan warna

(9)

C.6 9 ketuaan warna, menunjukkan bahwa nilai ketuaan warna pada hasil pencelupan dengan metode

pre-mordan

dengan konsentrasi mordan 25 g/L diperoleh nilai yang lebih tinggi dibanding metode

prepost-mordan

dan

post-mordan

dan konsentrasi lainnya.

Hasil analisa data dengan analisa faktorial ganda menunjukkan bahwa metode mordan yang berbeda dan penggunaan variasi konsentrasi mordan yang berbeda mempengaruhi nilai ketuaan warna. Metode mordan dapat mempengaruhi kandungan mordan (unsur aluminium) yang terserap pada serat/kain dan menurut (Vankar, 2009) dan (Fitrihana, 2007) mordan dapat meningkatkan afinitas zat warna alam terhadap serat. Ini berarti semakin banyak kandungan aluminium pada serat/kain dapat meningkatkan afinitas zat warna pada serat serta pembentukan jembatan kimia antara zat warna alam dengan serat sehingga zat warna yang berikatan dengan serat jumlahnya lebih banyak sehingga hasil celupan diperoleh warna yang lebih tua.

Nilai ketuaan pada hasil pencelupan dengan metode

pre-mordan

lebih tinggi dibanding metode

prepost-mordan

dan

post-mordan

karena sebelum dicelup, kain (dalam kondisi bersih) di proses mordan terlebih dulu sehingga kain dapat menyerap zat mordan lebih banyak. Banyaknya kandungan mordan pada serat dapat menambah afinitas zat warna pada serat sehingga zat warna dapat terserap masuk ke dalam serat dan berikatan dengan serat dengan jumlah yang lebih banyak dan diperoleh warna yang lebih tua. Pada metode

pre-post- mordan

, warna hasil celupan lebih muda dibanding

pre-mordan

. Ini disebabkan saat dilakukan proses mordan ke-2 (setelah kain dicelup), serat akan mengalami pembasahan yang mengakibatkan pori serat terbuka sehingga zat warna yang sebelumnya telah berikatan dengan serat (saat pencelupan) akan larut dan keluar kembali dari serat. Berkurangnya jumlah zat warna yang berikatan dalam serat tersebut menyebabkan ketuaan warna yang dihasilkan lebih rendah.

Nilai ketuaan warna pada kain hasil pencelupan dengan metode

post-mordan

paling rendah dibandingkan pada

pre-mordan

dan

prepost-mordan

. Ini karena pada proses

post- mordan

, kain di celup pada larutan zat warna terlebih dahulu setelah itu baru di mordan. Tanpa adanya zat mordan pada kain menyebabkan zat warna yang diserap oleh kain lebih sedikit karena afinitas zat warna alam pada serat sellulosa yang rendah sehingga diperoleh hasil celupan dengan warna yang lebih muda.

Variasi konsentrasi mordan mempengaruhi nilai ketuaan warna hasil pencelupan. Pada pencelupan dengan metode

pre-mordan

dan

prepost-mordan

, titik optimal penggunaan mordan pada konsentrasi 25 g/L. Pada konsentrasi tersebut mordan yang dapat terserap dan berikatan dengan serat kapas jumlahnya paling optimal. Penggunaan konsentrasi mordan yang lebih tinggi (30 g/L) tidak akan menambah jumlah mordan yang terserap pada serat karena serat kapas hanya akan menyerap mordan sesuai dengan kemampuannya, sisanya akan tetap berada dalam larutan mordan. Pada metode

post-mordan,

nilai ketuaan warna paling tinggi diperoleh pada penggunaan mordan dengan konsentrasi 15g/L. Ini disebabkan pada konsentrasi tersebut, mordan telah dapat mengikat zat warna yang telah berada di dalam serat secara maksimal sehingga diperoleh nilai ketuaan yang paling tinggi. Penggunaan

(10)

C.6 10 mordan pada konsentrasi yang lebih tinggi menyebabkan diperoleh nilai ketuaan (K/S) yang lebih rendah karena dimungkinkan konsentrasi mordan dalam jumlah yang lebih besar menyebabkan molekul zat warna yang berada di dalam serat akan tertarik keluar dari serat dan berikatan dengan mordan di permukaan serat dan dalam larutan mordan. Nilai K/S tertinggi: 3,03 diperoleh pada pencelupan dengan metode

pre-mordan

menggunakan konsentrasi 25 g/L. Pada metode

prepost-mordan

, nilai K/S tertinggi: 1,92 diperoleh dari hasil celupan dengan konsentrasi alumunium sulfat 25 g/L sedangkan pada metode

post-mordan

, nilai K/S tertinggi: 1,30 diperoleh dari hasil celupan dengan konsentrasi alumunium sulfat 15g/L.

Ketahanan luntur warna terhadap pencucian

Uji ketahanan luntur warna terhadap pencucian pada kain hasil pencelupan dapat dilihat pada Tabel 2. Data pada tabel dan analisa data dengan Anava ganda menunjukkan bahwa penggunakan variasi konsentrasi mordan dan metode mordan tidak mempengaruhi nilai perubahan warna tetapi berpengaruh pada nilai penodaan warna. Hal ini dapat dijelaskan pada uraian dibawah ini.

Hasil uji ketahanan luntur warna terhadap pencucian menunjukkan nilai perubahan warna yang sama, yaitu (GS: 3-4). Nilai (GS: 3-4) merupakan memperoleh kategori cukup (Hitariat, 2005) . Hal ini disebabkan karena ikatan yang terbentuk antara serat dengan zat warna hanyalah ikatan hidrogen yang mudah putus oleh pencucian menyebabkan saat dilakukan uji pencucian ada molekul zat warna yang keluar dari serat sehingga terjadi perubahan warna pada kain uji.

Hasil uji ketahanan luntur warna terhadap pencucian menunjukkan nilai penodaan warna yang berbeda. Faktor variasi konsentrasi mordan dan metode mordan berpengaruh terhadap nilai penodaan warna. Hal ini disebabkan kedua faktor mempengaruhi banyaknya jumlah mordan yang terserap pada serat. Ini karena penggunaan konsentrasi dan metode mordan yang tepat dalam pencelupan akan memperbanyak terjadinya ikatan zat warna dengan serat dan terjadinya pembentukan senyawa kompleks antara mordan dengan molekul zat warna pada bahan tekstil sehingga mempengaruhi nilai ketahanan luntur warnanya terhadap pencucian. Adanya penodaan pada kain putih sampel uji disebabkan gerakan mekanis pada uji pencucian menyebabkan ikatan zat warna dengan serat yang lemah dapat putus kembali sehingga menodai kain putih yang digunakan sebagai kain pelapis dalam pengujian.

Penggunaan konsentrasi mordan 15 g/L pada pencelupan dengan ketiga metode mordan diperoleh nilai penodaan yang baik (SS: 4).

Ketahanan luntur warna terhadap gosokan

Uji ketahanan luntur warna terhadap gosokan pada kain hasil pencelupan dengan variasi konsentrasi mordan dan metode mordan yang berbeda menunjukkan bahwa nilai gosokan kering mempunyai nilai yang hampir sama sedangkan pada uji gosokan basah mempunyai nilai yang berbeda. Hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut:

(11)

C.6 11 Nilai uji ketahanan luntur warna terhadap gosokan kering dan basah pada kain hasil pencelupan dapat dilihat pada Tabel 3. Data hasil uji menunjukkan bahwa nilai rata-rata penodaan warna dari uji gosokan kering pada kain yang dicelup dengan variasi konsentrasi dan metode mordan memiliki nilai yang sama yaitu dengan nilai yang baik (SS:4-5). Hasil analisa data dengan anava ganda juga menunjukkan bahwa variasi konsentrasi dan metode mordan tidak mempunyai pengaruh terhadap nilai penodaan gosokan kering pada kain hasil pencelupan. Ini disebabkan mordan telah berikatan dengan molekul zat warna di dalam serat dan telah terbentuk senyawa kompleks logam antara molekul zat warna dengan mordan yang bersifat stabil didalam serat sehingga tidak mudah lepas saat dikenai gosokan mekanik pada permukaan serat

Nilai uji ketahanan luntur warna terhadap gosokan basah pada kain hasil pencelupan dengan metode mordan dan variasi konsentrasi yang berbeda menunjukkan adanya nilai yang berbeda. Hasil analisa data dengan Anava ganda juga menunjukkan bahwa kedua faktor tersebut mempunyai pengaruh terhadap nilai penodaan warna pada gosokan basah.

Hasil nilai gosokan basah

pre-mordan

diperoleh paling rendah dibanding hasil

prepost- mordan

dan

post-mordan

hal ini disebabkan sebelum dicelup, kain di proses mordan terlebih dulu sehingga kain dapat menyerap zat mordan lebih banyak. Banyaknya kandungan mordan pada serat dapat menambah afinitas zat warna pada serat sehingga zat warna dapat terserap masuk ke dalam serat dan berikatan dengan serat dengan jumlah yang lebih banyak. Selain itu pada permukaan kain juga banyak terdapat aluminium yang dapat melakukan ikatan dengan zat warna dipermukaan serat. Ikatan antara mordan dengan molekul zat warna adalah ikatan hidrogen yang terbentuk antara gugus hidroksil pada zat warna dengan gugus hidroksil pada serat (Chakraborty, 2014). Ikatan hidrogen merupakan ikatan yang lemah sehingga mudah putus saat kain dikenai gosokan, apalagi pada kondisi basah. Ini menyebabkan molekul zat warna yang ada dipermukaan serat akan mudah lepas kembali dari serat dan menodai kain putih sampel uji. Pada pencelupan dengan metode

post-mordan

diperoleh nilai gosokan basah yang lebih baik dibanding nilai

pre-mordan.

Hal ini karena pada proses mordan dilakukan diakhir pencelupan sehingga ikatan zat warna dengan serat terjadi di dalam serat. Ini menyebabkan molekul zat warna akan sulit keluar dari serat meskipun terjadi proses gosokan dan kondisi basah. Hasil

prepost-mordan

memperoleh hasil yang sama dengan hasil

post-mordan.

Ini karena proses mordan dilakukan diawal dan diakhir proses pencelupan sehingga ikatan yang terbentuk antara molekul zat warna dan serat menjadi lebih kuat. Ikatan antara zat warna dengan serat yang lebih kuat ini menyebabkan molekul zat warna menjadi lebih sulit keluar walaupun terjadi gerakan mekanis dan kondisi basah

Nilai uji ketahanan luntur warna terhadap gosokan basah berpengaruh pada variasi konsentrasi mordan. Pencelupan dengan metode

post

-mordan dan

prepost-mordan

, titik optimal penggunaan mordan pada konsentrasi 25 g/L. Pada konsentrasi tersebut mordan yang dapat terserap dan berikatan dengan serat kapas jumlahnya paling optimal.

Penggunaan konsentrasi mordan yang lebih tinggi (30 g/L) tidak akan menambah jumlah

(12)

C.6 12 mordan yang terserap pada serat karena serat kapas hanya akan menyerap mordan sesuai dengan kemampuannya, sisanya akan tetap berada dalam larutan mordan. Nilai gosokan basah paling baik diperoleh pada penggunaan konsentrasi 15 dan 25 g/L.

Pada uji gosokan basah diperoleh nilai penodaan yang lebih rendah dibanding gosokan kering. Hal ini karena pada kondisi basah, serat akan mengalami pembasahan sehingga terjadi penggelembungan serat dan pori-pori serat menjadi lebih terbuka. Selain itu menyebabkan zat warna pada kain hasil pencelupan dapat larut dan keluar kembali dari serat oleh gosokan mekanik diberikan pada permukaan kain/serat saat uji gosokan basah dilakukan sehingga dapat menodai kain putih yang digunakan dalam pengujian.

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan

Variasi konsentrasi dan metode mordan pada pencelupan kain kapas dengan zat warna alam daun kenikir memiliki pengaruh terhadap nilai ketuaan warna, nilai penodaan warna pada uji pencucian dan nilai penodaan pada uji gosokan basah tetapi tidak pengaruh terhadap nilai perubahan warna pada uji pencucian dan nilai penodaan pada uji gosokan kering.

Saran

Pada penelitian berikutnya dapat diteliti penggunaan temperatur pencelupan dan waktu fiksasi pada pencelupan sehingga dapat diketahui pengaruh kedua faktor terhadap hasil pencelupan.

KONTRIBUSI PENULIS

Semua penulis mempunyai kontribusi yang sama dalam melakukan penelitian dan penulisan naskah ini.

UCAPAN TERIMA KASIH

Kami mengucapkan terimakasih pada PT. DAN LIRIS yang telah mengizinkan untuk melakukan uji ketuaan warna menggunakan spektrofotometer. Sekaligus kami ucapkan terimakasih kepada Bapak Ahmad Priyanto yang telah membantu dalam pengujian ketuaan warna dengan spektrofotometer.

DAFTAR PUSTAKA

Baaka, N., Mahfoudhi, A., Haddar, W., Mhenni, M, F. (2017). Green dyeing process of modified cotton fibres using natural dyes extracted from Tamarix aphylla (L.) Karst. Leaves. Natural Product Research, 31(1), 22-31.

Cardon, D And Chaenetgidu (1990) “Guide to Natural dyes ’’Delachauxetniestleparis.(pp 5-29).

Chakraborty, J.N., (2014). Fundamentals and Practices in Coloration Textiles. Woodhead Publishing:

New Delhi.

(13)

C.6 13 Fitrihana, N. (2007) Teknik Eksplorasi Zat Pewarna Alami Dari Tanaman Di Sekitar Kita Untuk Pencelupan

Bahan Tekstil. Universitas Negeri Yogyakarta. Yogyakarta.

Haryono, Muhammad Faizal, D., Christi Liamita, N., dan Atiek Rostika. (2015) Pengolahan Limbah Zat Warna Tekstil Terdispersi dengan Metode Elektroflotasi. Jurnal Kimia dan Pendidikan, 3(1), 94- 105.

Hitariat, S., Widayat. (2005). Evaluasi Kain. Sekolah Tinggi Teknologi Bandung. Bandung

Rosyida, A., Suranto., Masykuri, M., & Margono. (2021). Minimisation of pollutionin the cotton fabric dyeing process with natural dyes by the selection of mordan type. Journal of Textile and Apparel. https://doi.org/10.1108/RJTA-08-2020-0098.

Somantri K, Mauliza IN, Muslim I & Nuramdhani I. (2014). Pemanfaatan Zat Warna Alam Ekstrak Daun Jati dan Mordan Kulit Biji Asam Jawa untuk Proses Pewarnaan Sutera dan Nilon, 259-272 Vankar, P., S. (2000) Chemistry of Natural Dyes. Journal of Resonance, 5(10), 73-80.

Wicaksono, Intan Maharani dan Irma, R. (2020) Pengaruh Jenis Fiksator terhadap Hasil Jadi Pewarnaan Alami dengan Air Rebusan Kenikir pada Busana Anak,. e- Journal, 09(1), 34-38.

(14)

C.6 14 Lembar Tanya Jawab

Moderator : Irfa’ina Rohana Salma Notulis : Novita Ekarini

1. Penanya Pertanyaan Jawaban

: : :

Irfa’ina Rohana Salma ( Balai Besar Kerajinan dan Batik)

Bagaimana kondisi daun kenikir yang digunakan untuk pencelupan? Dan bagaiman proses pencelupanya?

Daun kenikir yang digunakan untuk membuat larutan pewarna adalah daun kenikir segar, proses pembuatanya dengan cara dicacah terlebih dahulu lalu di masukan kedalam tungku panas.

Proses pencelupanya dengan direndam didalam larutan pewarna selama 1 jam tanpa pencelupan ulang.

2. Penanya Pertanyaan Jawaban

: : :

Renung Reningtyas ( Universitas Pembangunan Nasional

“Veteran” Yogyakarta )

Apa nama alat yang di gunakan untuk melakukan pengujian uji ketuaan warna? dimana dilakukan pengujian dan berapa biayanya?

Pengujian dilakukan di PT. Danliris Solo dengan alat uji yang digunakan yaitu spectofotometer data 600

Gambar

Tabel 1. Nilai uji ketuaan warna  No.  Konsentrasi
Tabel 2. Hasil rata rata uji ketahanan luntur warna terhadap pencucian  Metode Mordan  Konsentrasi
Tabel 3. Hasil rata rata uji ketahanan luntur warna terhadap gosokan  Metode Mordan  Konsentrasi

Referensi

Dokumen terkait

Rugi Periode Berjalan Yang Dapat Diatribusikan Kepada Pemilik Perusahaan: meningkat sebesar 471,3% dibandingkan 9B 2012 yang utamanya disebabkan oleh meningkatnya rugi selisih

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam bentuk empisris terhadap teori manajemen keuangan yang berhubungan dengan pengaruh manajemen modal kerja

Susunan indeks yang baik adalah mampu menyelamatkan buku, dalam arti pembaca tidak perlu membaca secara keseluruhan dari setiap halaman, tetapi hanya cukup dengan mencari

Karena itu sebagaiman penulisan sebelumnya yang dilkukan oleh Suntoko melalui skripsinya dengan tujuan mengangkat nilai-nilai dalam pendidikan adat Kambik dengan

Oleh karena itu salah satu metode yang tepat untuk mengembangkan moral pada anak dengan metode storytelling atau bercerita Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui “Apakah

Namun, dapat dilihat pula bahwa komunitas ini juga tetap mengadakan pertemuan tatap muka untuk beribadah seperti kelompok doa kecil yang disebut sel dan kelompok

Berdasarkan hasil analisis data dalam studi yang dimeta-analisis dapat diperoleh gambaran yang le- bih tegas tentang hubungan aktivitas pengasuhan yang dilakukan orang