• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI DAN KERANGKA PEMIKIRAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI DAN KERANGKA PEMIKIRAN"

Copied!
31
0
0

Teks penuh

(1)

14 BAB II

LANDASAN TEORI DAN KERANGKA PEMIKIRAN

Pada bab kedua ini terbagi atas tiga sub bab. Pertama, sub bab kajian terdahulu yang berisi deskripsi ringkas artikel dari jurnal penelitian nasional dan internasional yang pernah dilakukan sebelumnya terkait topik penelitian serta matriks penelitian terdahulu. Kedua, sub bab kajian pustaka yang memuat referensi dan teori yang menjadi dasar penelitian yang dilakukan. Terakhir, sub bab ketiga memuat kerangka berpikir penelitian yang dilakukan.

2.1 Kajian Terdahulu

Penelitian berkaitan dengan collaborative governance dan penanggulangan HIV AIDS sudah pernah dilakukan sebelumnya.

Dibandingkan dengan beberapa penelitian terdahulu tersebut, penelitian ini memiliki beberapa persamaan dan perbedaan. Berikut penelitian mengenai collaborative governance yang pernah dilakukan sebelumnya :

1. Pinky Mahlangu, Jane Goudgeb, dan Jo Vearey melakukan penelitian dengan judul Towards a framework for multisector and multilevel collaboration: case of HIV and AIDS governance in South Africa, tahun 2019 dalam jurnal Global Health Action volume 12. Penelitian ini bertujuan untuk mengusulkan kerangka kerja kolaborasi multisektor untuk penanggulangan HIV di Afrika Selatan. Metode penelitian yang digunakan yaitu literatur review. Tinjauan kerangka kerja yang ada pada kolaborasi multisektor difokuskan pada tiga komponen yang didefinisikan oleh Gray dan Wood (1991) meliputi prasyarat yang memungkinkan kolaborasi dan memotivasi pemangku kepentingan untuk berpartisipasi, proses di mana kolaborasi terjadi, dan hasil dari kolaborasi. Hasil penelitian ini menggambarkan kerangka kerja multisektor yang memiliki tujuh komponen kunci dalam proses membangun kolaborasi yaitu preconditions, key drivers, structure, mechanisms, administration, execution, dan evaluation. Penelitian di artikel ini dan penelitian yang akan dilakukan sama-sama meneliti tentang kolaborasi dalam upaya

(2)

penanggulangan HIV/AIDS, namun yang membedakan, penelitian dalam artikel ini bertujuan membentuk kerangka kerja kolaborasi multisektor dalam penanggulangan HIV/AIDS sedangkan penelitian yang akan dilakukan menganalisa dinamika kolaborasi penanggulangan HIV/AIDS menggunakan teori milik Emerson dan Nabatchi (2015)

2. Agbodzakey dan Leslie Taylor melakukan penelitian berjudul Collaborative governance and role of the Grantee in HIV/ AIDS health services: the Broward County of South Florida experience, yang dimuat dalam jurnal International Review of Public Administration tahun 2019.

Penelitian ini mengkaji keterlibatan kolaboratif dari populasi kunci, penyedia layanan, dan tokoh masyarakat yang tidak terpilih mengikuti mandat legislatif untuk memberikan perawatan dan pengobatan pada ODHA dengan Penerima Hibah sebagai variabel kritis. Penelitian bertujuan memastikan kontribusi peran Penerima Hibah dalam tata kelola kolaboratif perawatan dan pengobatan HIV/AIDS di Kabupaten Broward, Negara Bagian Florida. Sebagai penghubung penting antara pemerintah kabupaten, dewan layanan HIV / komunitas, negara bagian, dan federal, Penerima Hibah melakukan berbagai peran kunci untuk memungkinkan alokasi sumber daya dan pemberian layanan kepada populasi sasaran.

Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif. Data yang dikumpulkan dari wawancara ditranskripkan dan diberi kode untuk dapat diidentifikasi berdasarkan kategori dan tema sesuai protokol analisis kualitatif. Artikel ini fokus pada 8 tema-tema yang muncul dari data seperti musyawarah Dewan, prioritas alokasi, resolusi konflik, membangun kapasitas stakeholder, hubungan Dewan dan Penerima Hibah, rencana komprehensif, jaringan penyedia, dan kontrak dengan penyedia. Temuan penelitian ini menunjukkan peran penting Penerima Hibah dalam prioritas alokasi, pengembangan kapasitas pemangku kepentingan, resolusi konflik, keterlibatan dan perencanaan strategis, kontrak dengan penyedia jaringan, dan ukuran pelaksanaan dan kinerja yang menyertainya. Artikel penelitian ini memiliki kesamaan dengan penelitian yang dilakukan yaitu sama-sama

(3)

membahas mengenai kolaborasi dalam upaya penanggulangan HIV/AIDS, namun perbedaannya artikel ini lebih terfokus pada peran salah satu aktor saja dalam mendukung tata kelola kolaboratif, selain itu teori yang digunakan juga berbeda karena penelitian yang dilakukan akan memakai teori milik Emerson dan Nabatchi (2015).

3. Agung Rheza Fauzi dan Amy Yayuk Sri Rahayu melakukan penelitian berjudul Collaborative Governance dalam Penanganan HIV AIDS di Provinsi Jakarta, pada tahun 2019 dalam jurnal SAWALA: Jurnal Administrasi Negara volume 7 nomor 1. Penelitian ini bertujuan menganalisa proses kolaborasi menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif. Penelitian ini mengkaji tata kelola kolaboratif yang dibangun pemerintah yang meliputi KPA Provinsi DKI Jakarta dan Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta kemudian LSM/NGO Peduli AIDS yang meliputi Direktur Program Yayasan Srikandi Sejati, Direktur Program Yayasan Kusuma Buana, Direktur Program Yayasan Pesona Jakarta, dan stakeholder masyarakat melalui kelompok Warga Peduli AIDS. Penelitian ini menggunakan teori collaborative dynamics milik Emerson dan Nabatchi (2015) yang memiliki 3 komponen proses yaitu principle engagement, shared motivation, dan capacity for joint action. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa proses collaborative governance pada penanggulangan HIV AIDS di Provinsi Jakarta pada umumnya telah memenuhi konsep dinamika kolaborasi. Namun, masih ditemukan berbagai kendala yaitu masih terbatasnya pertemuan formal untuk membahas hasil keputusan bersama, pertemuan bersama lebih banyak sekedar membahas kegiatan teknis. Kemudian dari segi komitmen lebih kuat di Dinas Kesehatan, LSM, dan Masyarakat saja, sedangkan OPD lain kurang. Penelitian ini memiliki kesamaan dimana dalam penelitian yang dilakukan difokuskan untuk mengkaji kolaborasi pemerintah melalui Dinas Kesehatan dan KPA, kemudian LSM/NGO Peduli AIDS dan juga masyarakat melalui peran WPA. Kesamaan lain yaitu berkaitan dengan teori yang digunakan yaitu collaborative dynamics milik Emerson dan

(4)

Nabatchi (2015) yang memiliki 3 komponen proses yaitu principle engagement, shared motivation, dan capacity for joint action. Namun perbedaan artikel ini dengan penelitian yang akan dilakukan peneliti yaitu penelitian yang akan dilakukan juga mengkaji faktor penghambat kolaborasi menggunakan teori system context milik Emerson dan Nabatchi (2015) yang meliputi kondisi sumber daya serta karakteristik jaringan.

4. Laila Rahmawati dan Utami Dewi melakukan penelitian dengan judul Dinamika Collaborative Governance dalam Penanggulangan HIV dan AIDS di Kota Yogyakarta, yang dimuat dalam jurnal Adinegara volume 7 nomor 2 tahun 2018. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dinamika collaborative governance antar aktor serta upaya meningkatkan keberhasilan dalam penanggulangan HIV AIDS di Kota Yogyakarta.

Aktor yang dianalisa meliputi pemerintah melalui KPA Kota Yogyakarta, Dinas Kesehatan, Dinas Sosial, kemudian LSM Peduli AIDS meliputi Yayasan Vesta Indonesia, Yayasan Victory Plus, dan masyarakat melalui WPA Kelurahan Brotokusuman. Penelitian ini memakai teori DeSave (2007) untuk melihat perkembangan dinamika kolaborasi dan keberhasilan kolaborasi yang memiliki 8 indikator yaitu network structure, commitment to a common purpose, trust among the participants, governance, access to authority, distributive accountability atau responsibility, information sharing, access to resourcess. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa dinamika Collaborative Governance dalam Penanggulangan HIV dan AIDS di Kota Yogyakarta cenderung mengalami peningkatan kualitas, namun kolaborasi yang dilakukan masih belum optimal. Realitanya, KPA sangat mengandalkan LSM dan Dinkes, kepercayaan antar aktor juga belum maksimal misalnya Yayasan Victory Plus belum menjalin kepercayaan sepenuhnya pada pemerintah karena masalah anggaran. Sumber daya manusia dan anggaran juga masih mengalami keterbatasan. Artikel penelitian ini memliki kesamaan dengan penelitian yang dilakukan peneliti yaitu kesamaan topik yang sama-sama membahas kolaborasi penanggulangan HIV/AIDS dengan menganalisa

(5)

aktor pemerintah, LSM/NGO peduli AIDS, dan masyarakat melalui WPA.

Namun, teori yang digunakan berbeda karena penelitian yang dilakukan peneliti menggunakan collaborative dynamics milik Emerson dan Nabatchi (2015) yang memiliki 3 komponen proses yaitu principle engagement, shared motivation, dan capacity for joint action serta faktor penghambat menggunakan system context Emerson dan Nabatchi (2015).

5. Sri Oniwati Susanti, Vishnu Juwono melakukan penelitian dengan judul Collaborative Governance : Proyek Penyelenggaraan Jaringan Tulang Punggung Serat Optik Palapa Ring di Indonesia Tahun 2016-2019, yang dimuat dalam jurnal Publik (Jurnal Ilmu Administrasi) volume 8 nomor 1, tahun 2019. Penelitian ini memiliki tujuan untuk menganalisa penerapan tata kelola kolaboratif proyek penyelenggaraan jaringan tulang punggung serat optik Palapa Ring di Indonesia pada tahun 2016 hingga 2019. Artikel penelitian ini menggunakan teori tata kelola kolaboratif menurut Emerson dan Nabatchi (2015) collaboration dynamics dalam melihat proses kolaborasi dan juga menggunakan teori system context untuk melihat faktor yang mempengaruhi tata kelola kolaboratif. Proyek ini menerapkan skema Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU). Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa proses tata kelola kolaboratif KPBU Palapa Ring telah cukup baik tetapi masih belum maksimal. Ada beberapa dimensi yang perlu diperbaiki yakni pada dimensi principled engangement, perlunya pelibatan aktor kolaborasi dalam membuat kesepakatan bersama. Pada dimensi capacity for joint action memerlukan adanya surat keputusan atau peraturan menteri untuk memberi kejelasan aksi dan peran aktor kolaborasi khusus KPBU Palapa Ring. Leader kolaborasi yang merupakan PJPK dalam KPBU Palapa Ring telah menjalankan peran dengan baik. Dinamika kolaborasi berjalan dengan baik dari perencanaan, pembangunan, dan pemeliharaan. Penelitian ini memiliki kesamaan teori yang digunakan menjadi pisau analisis yaitu teori Emerson dan Nabatchi (2015) collaboration dynamics dalam melihat proses kolaborasi dan teori system context untuk melihat faktor yang

(6)

mempengaruhi tata kelola kolaboratif. Perbedaannya, artikel ini membahas kolaborasi dalam proyek Palapa Ring dan penelitian yang akan dilakukan mengkaji penanggulangan HIV/AIDS di Kabupaten Wonogiri.

Tabel 2.1 Matriks Penelitian Terdahulu

No Judul Metode Hasil Relevansi

Persamaan Perbedaan 1 Towards a

framework for multisector and multilevel collaboration:

case of HIV and AIDS governance in South Africa

Penulis : Pinky Mahlangu, Jane Goudgeb, dan Jo Vearey

Jurnal : Global Health Action volume 12 tahun 2019

Literatur review

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat tujuh komponen kunci dalam proses membangun kolaborasi multisektor yaitu preconditions, key drivers, structure, mechanisms, administration, execution, dan evaluation

Kesamaan dengan penelitian yang dilakukan Mahlangu, dkk (2019) yaitu sama- sama mengkaji mengenai kolaborasi multisektor dalam penanggulang an HIV AIDS

Penelitian yang dilakukan Mahlangu, dkk (2019)

menggunakan konsep milik Gray dan Wood (1991), preconditions that make

collaboration possible and motivate

stakeholders to participate, the process through which collaboration occurs, dan the outcome of the collaboration

sedangkan peneliti menggunakan teori Emerson dan Nabatchi (2015) yang meliputi principal engagement, shared motivation, dan capacity for joint action.

2 Collaborative governance and role of the Grantee in HIV/ AIDS health services: the Broward County of South Florida experience

Penulis : James Agbodzakey dan Leslie Taylor

Jurnal : International Review of Public

Kualitatif deskriptif

Temuan menunjukkan peran penting Penerima Hibah dalam prioritas alokasi, pengembangan kapasitas pemangku kepentingan, resolusi konflik, keterlibatan dan perencanaan strategis, kontrak dengan penyedia jaringan, dan ukuran

pelaksanaan dan kinerja yang menyertainya.

Kesamaan dengan penelitian yang dilakukan Agbodzakey dan Taylor (2019) yaitu sama-sama mengkaji mengenai collaborative governance dalam penanggulang an HIV AIDS

Penelitian yang dilakukan Agbodzakey dan Taylor (2019) menggunakan teori analisis yang meliputi 8 indikator yaitu musyawarah, prioritas alokasi, resolusi konflik, relasi penerima hibah dan stakeholder,

membangun kapasitas stakeholder,

perencanaan komprehensif, penyedia jaringan, dan kontrak antar

penyedia. Sedangkan peneliti menggunakan teori Emerson dan Nabatchi (2015) yang meliputi principal

(7)

Administration tahun 2019

engagement, shared motivation, dan capacity for joint action.

3 Collaborative Governance dalam Penanganan HIV AIDS di Provinsi Jakarta

Penulis : Agung Rheza Fauzi dan Amy Yayuk Sri Rahayu

Jurnal : Sawala: Jurnal Administrasi Negara volume 7 nomor 1 tahun 2019

Kualitatif deskriptif

Proses collaborative governance pada penanggulangan HIV AIDS di Provinsi Jakarta pada umumnya telah memenuhi konsep dinamika kolaborasi.

Namun, masih ditemukan berbagai kendala yaitu masih terbatasnya pertemuan formal untuk membahas hasil keputusan bersama, pertemuan bersama lebih banyak sekedar membahas kegiatan teknis.

Kemudian dari segi komitmen lebih kuat di Dinas Kesehatan, LSM, dan Masyarakat saja, sedangkan OPD lain kurang.

Kesamaan dengan penelitian yang akan dilakukan yaitu sama- sama membahas collaborative governance dalam penanggulang an HIV AIDS dengan menggunakan teori milik Emerson dan Nabatchi (2015) yang meliputi principal engagement, shared motivation, dan capacity for joint action. Serta sama-sama menggunakan pendekatan kualitatif deskripsif.

Perbedaan dengan penelitian yang akan dilakukan terletak pada lokasi dan waktu penelitian. Penelitian ini dilakukan di Provinsi DKI Jakarta tahun 2019, sedangkan penelitian penulis di Kabupaten Wonogiri pada 2021. Selain itu penelitian dalam artikel hanya membahas proses kolaborasi menggunakan collaboration

dynamics Emerson dan Nabatchi (2015) sedangkan penelitian yang akan dilakukan juga mengkaji faktor penghambat kolaborasi menggunakan teori system context milik Emerson dan Nabatchi (2015) yang meliputi kondisi sumber daya, serta karakteristik jaringan.

4 Dinamika Collaborative Governance dalam Penanggulang an HIV dan AIDS di Kota Yogyakarta

Penulis : Laila Rahmawati dan Utami Dewi

Jurnal : Adinegara volume 7

Kualitatif deskriptif

Dinamika Collaborative Governance dalam

Penanggulangan HIV dan AIDS di Kota Yogyakarta oleh KPA, OPD, LSM, dan WPA cenderung mengalami peningkatan kualitas dan semakin baik walaupun dalam kolaborasi penanggulangan belum optimal.

Kesamaan dengan penelitian yang akan dilakukan yaitu sama- sama membahas collaborative governance dalam penanggulang an HIV AIDS menggunakan metode kualitatif deskriptif

Penelitian yang dilakukan Rahmawati dan Dewi (2018) memakai teori keberhasilan Collaborative Governance milik DeSave (2007) yang meliputi Network structure, Commitment to a common purpose, Trust among the participants,

Governance, Access to authority, Distributive accountability atau responsibility, Information sharing, Access to resourcess.

(8)

nomor 2 tahun 2018

Sedangkan peneliti menggunakan teori Emerson dan Nabatchi (2015) yang meliputi principal engagement, shared motivation, dan capacity for joint action.

5 Collaborative Governance : Proyek Penyelenggara an Jaringan Tulang Punggung Serat Optik Palapa Ring di Indonesia Tahun 2016- 2019

Penulis : Sri Oniwati Susanti, Vishnu Juwono

Jurnal : Publik (Jurnal Ilmu

Administrasi) Volume 8 nomor 1, tahun 2019

kualitatif dengan pendekat an post positivist

Hasil penelitian menunjukkan jika collaborative governance dalam proyek

Penyelenggaraan Jaringan Tulang Punggung Serat Optik Palapa Ring di Indonesia belum berjalan dengan maksimal dikarenakan adanya beberapa dimensi

kolaborasi yang belum dipenuhi dengan baik.

Kesamaan dengan penelitian yang akan dilakukan yaitu sama- sama membahas collaborative governance dan

menggunakan teori milik Emerson dan Nabatchi (2015) yang meliputi principal engagement, shared motivation, dan capacity for joint action.

Penelitian yang dilakukan oleh Susanti dan Juwono (2019) membahas

Collaborative

Governance mengenai Proyek

Penyelenggaraan Jaringan Tulang Punggung Serat Optik Palapa Ring di Indonesia Tahun 2016- 2019 sedangkan penelitian yang akan dilakukan membahas mengenai

penanggulangan HIV/AIDS

Dari pembahasan diatas menunjukkan adanya persamaan dan perbedaan antara penelitian yang telah dilakukan dalam kelima artikel baik nasional maupun internasional diatas dengan penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti. Pada artikel pertama memiliki kesamaan yaitu sama-sama mengkaji mengenai kolaborasi multisektor dalam penanggulangan HIV AIDS namun memiliki perbedaan teori, metode penelitian dan tujuan penelitian. Pada artikel kedua juga mengkaji collaborative governance dalam penanggulangan HIV AIDS namun memiliki perbedaan teori yang dipakai. Di artikel ketiga sama sama menggunakan teori collaboration dynamics milik Emerson dan Nabatchi (2015) dalam mengkaji proses kolaborasi dalam penanggulangan HIV/AIDS namun perbedaannya penelitian yang

(9)

akan dilakukan juga mengkaji faktor penghambat kolaborasi menggunakan teori system context milik Emerson dan Nabatchi (2015). Artikel keempat juga membahas collaborative governance dalam penanggulangan HIV AIDS namun memiliki perbedaan teori yang digunakan dimana penelitian dalam artikel tersebut memakai teori keberhasilan collaborative governance milik Desave (2007). Dan artikel kelima memiliki kesamaan teori yang digunakan yaitu system context dan collaboration dynamics milik Emerson dan Nabatchi (2015) namun memiliki perbedaan topik karena penelitian dalam artikel tersebut membahas mengenai Proyek Palapa Ring.

2.2 Kajian Pustaka 1. Kolaborasi

Suatu negara tidak dapat terlepas dari adanya masalah publik.

Terkadang masalah yang terjadi bersifat kompleks dan sulit untuk dipecahkan, hal ini sejalan dengan pendapat Emerson & Nabatchi (2015:

6) yang mengungkapkan jika semakin tinggi kompleksitas permasalahan publik maka penyelesaiannya juga menjadi lebih kompleks. Suatu masalah yang kompleks tanpa definisi dan solusi yang jelas memungkinkan berbagai pemangku kepentingan memahami dan memberikan solusi yang berbeda-beda. Dalam rangka memecahkan permasalahan publik yang kompleks maka batasan-batasan sektoral, yuridiksi, geografis, termasuk demarkasi pemerintah harus dilampaui. Masalah publik yang kompleks tidak dapat diatasi oleh satu organisasi saja maka diperlukan suatu model hubungan kerja kolektif melalui konsep kolaborasi yang mendorong tata kelola kolaboratif (collaborative governance) (Emerson & Nabatchi, 2015: 7).

a. Pengertian Collaborative Governance

Eppel (Sudarmo, 2015: 196) mengungkapkan jika collaborative governance terdiri atas dua konsep pertama yaitu collaboration yang berarti bekerja bersama-sama dalam rangka mencapai tujuan dimana setiap pihak memiliki kontribusi satu dengan

(10)

lainnya, kedua yaitu governance yang berarti suatu proses yang melibatkan pemerintah, swasta, dan masyarakat dalam rangka pemecahan masalah dalam suatu negara. Dari kedua konsep tersebut maka collaborative governance dapat dipahami sebagai suatu hubungan kerja bersama-sama antara pemerintah, swasta, dan masyarakat dalam rangka mencapai tujuan publik dan pemecahan masalah publik.

Ann Marie Thomson, 2001 (Thomson & Perry, 2006: 23) dalam bukunya yang berjudul “Collaboration: Meaning and Measurement” menjelaskan pengertian collaborative governance sebagai berikut :

“Process in which autonomous actors interact through formal and informal negotiation, jointly creating rules and structures governing their relationships and ways to act or decide on the issues that brought them together; it is a process involving shared norms and mutually beneficial interactions”

(sebuah proses dimana beberapa aktor otonom melakukan interaksi dan negosiasi secara formal ataupun informal, bersama membuat aturan serta struktur yang mengatur hubungan, cara bertindak, atau membuat keputusan mengenai suatu permasalahan tertentu, proses ini termasuk berbagi norma dan interaksi yang menguntungkan satu sama lain)

Pengertian collaborative governance juga dikemukakan oleh Ansell dan Gash (2007: 2) sebagai berikut :

“A governing arrangement where one or more public agencies directly engage non-state stakeholders in a collective decision- making process that is formal, consensus-oriented, and deliberative and that aims to make or implement public policy or manage public programs or assets”

(sebuah pengeturan pemerintahan dimana terdapat satu atau lebih lembaga publik secara langsung melibatkan pemangku kepentingan non negara untuk membuat keputusan bersama secara formal, berorientasi pada konsensus, dan deliberatif yang bertujuan membuat atau melaksanakan kebijakan publik atau mengelola program atau aset publik)

Kemudian Emerson & Nabatchi (2015: 18) mendefinisikan collaborative governance sebagai :

(11)

“collaborative governance as the processes and structures of public policy decision making and management that engage people across the boundaries of public agencies, levels of government, and/or the public, private, and civic spheres to carry out a public purpose that could not otherwise be accomplished”

(collaborative governance adalah suatu proses dan struktur pengambilan keputusan kebijakan publik dan manajemen yang melibatkan orang-orang melintasi batas-batas badan publik, tingkat pemerintahan, dan / atau ranah publik, swasta, dan sipil untuk melaksanakan tujuan publik yang tidak dapat dicapai dengan cara lain)

Dari beberapa definisi collaborative governance yang dideskripsikan oleh para ahli tersebut, dapat dipahami bahwa collaborative governance merupakan suatu proses interaksi yang melibatkan beberapa pemangku kepentingan baik pemerintah, swasta, dan atau masyarakat sipil dalam rangka melaksanakan tujuan publik, pengambilan keputusan kebijakan publik dan manajemen publik dimana tidak dapat dicapai oleh salah satu pemangku kepentingan saja.

Ansell dan Gash (Sudarmo, 2011: 101) mengungkapkan secara umum kolaborasi dapat dipahami dalam artian proses serta dalam artian normatif :

1) Kolaborasi dalam artian proses

Adalah serangkaian cara mengatur atau mengelola atau memerintah secara institusional. Institusi pemerintah ataupun non pemerintah atau yang terdiri dari LSM setempat, lokal, dan asing ikut terlibat sesuai dengan porsi kepentingan serta tujuannya.

Institusi yang terlibat dalam kolaborasi secara interaktif melakukan governance bersama dengan porsi keterlibatan berbeda-beda. Mungkin hanya terlibat di sebagian kegiatan, kemudian kegiatan lain dilakukan aktor lain.

2) Kolaborasi dalam arti normatif

(12)

Adalah aspirasi atau tujuan-tujuan filosofi pemerintah untuk mencapai interaksi-interaksinya dengan mitra serta partnernya.

collaborative governance dalam hal ini bukan hanya berupa institusi formal tapi dapat berupa a way of behaving (cara berperilaku/bersikap) institusi non pemerintah yang lebih besar dalam melibatkan dalam manajemen publik pada suatu periode.

Kemudian Emerson dan Nabatchi (2015: 57-58) mengungkapkan bahwa ada dua pendekatan untuk konsepsi proses kolaborasi. Pendekatan pertama menggambarkan kolaborasi sebagai suatu urutan langkah yang linear atau tahapan dari waktu ke waktu termasuk definisi masalah, pengaturan arah, dan implementasi.

Pendekatan kedua melihat kolaborasi sebagai suatu tahapan siklus atau suatu interaksi berulang-ulang antar aktor. Kolaborasi yang dilakukan dalam upaya penanggulangan HIV/AIDS dapat dilihat sebagai kolaborasi dalam artian proses dimana terdapat siklus interaksi yang berulang-ulang oleh pemerintah, LSM/NGO peduli AIDS dan Warga Peduli AIDS dalam mengelola upaya penanggulangan HIV/AIDS. Kolaborasi yang dilakukan lebih bersifat formal tidak sekedar norma cara berperilaku.

Kemunculan collaborative governance dapat dikaitkan dengan banyak faktor. Menurut Ansell dan Gash kemunculan collaborative governance pada umumnya secara adaptif atau sengaja dibuat karena alasan berikut (Sudarmo, 2011: 104) :

1) Kompleksitas serta saling ketergantungan antar institusi 2) Konflik antar kelompok kepentingan yang sulit diatasi 3) Upaya mencari cara baru untuk mendapat legitimasi politik

Selain itu Emerson dan Nabatchi (2015: 7-6) juga mengungkapkan dua faktor menonjol munculnya collaborative governance. Pertama, yaitu adanya ‘masalah jahat’ yaitu masalah

(13)

yang sulit dipecahkan karena; informasi yang tidak lengkap atau kontradiktif, perubahan lingkungan yang cepat, adanya ketergantungan yang kompleks. Contoh masalah jahat mulai dari pendidikan, perawatan kesehatan, energi, infrastruktur dan sebagainya hingga masalah global seperti perubahan iklim, kurang pangan, penyakit menular dan sebagainya. Kedua, yaitu faktor semakin bertambahnya jumlah dan kompleksitas permasalahan publik, sehingga sumber daya baik sumber daya finansial dan sumber daya manusia badan publik kurang, dukungan politik menurun.

Tata kelola kolaboratif yang dilakukan memiliki tujuan agar dapat meningkatkan efisiensi dan efektivitas pencapaian tujuan publik dan pemecahan masalah publik yang kompleks secara kolektif.

Menurut Thomson dan Perry (Islamy, 2018: 2) collaborative governance merupakan salah satu cara pemecahan masalah publik antar pemangku kepentingan dengan merumuskan rencana pembangunan daerah melalui self-organisasi antar pemangku kepentingan yang dilaksanakan secara kreatif, deliberatif, dan saling menguntungkan. Disertakannya pemangku kepentingan terkait dalam collaborative governance mendorong adanya pengambilan keputusan secara kolektif dalam rangka memecahkan masalah yang kompleks dengan efektif (Islamy, 2018: 3). Hal tersebut juga sejalan dengan pendapat Alter dan Hage, 1993 (Islamy 2018: 3) yang menjelaskan bahwa kolaborasi hadir sebagai pendekatan pencapaian tujuan lebih keatif dengan waktu yang relatif singkat dari pada organisasi bekerja sendiri.

Menurut Ansell dan Gash (2007: 544) collaborative governance memiliki enam kriteria, antara lain :

1) Forum yang diprakarsai lembaga publik 2) Aktor non-state tergabung dalam forum

(14)

3) Pengambilan keputusan dilakukan oleh seluruh aktor yang terlibat, tidak hanya sekedar berkonsultasi

4) Keputusan berdasarkan pada konsensus

5) Berfokus pada kerjasama dalam manajemen dan kebijakan publik b. Teori Collaborative Governance

Kerangka kerja collaborative governance yang disusun oleh Emerson & Nabatchi (2015: 26-27) merupakan sekumpulan dimensi dimana berbagai komponen dan elemen ditempatkan untuk bekerja bersama secara dinamis, non linier, dan berulang. Secara khusus kerangka kerja ditampilkan dalam bentuk oval pada gambar yang mewakili system context, Collaborative Governance Regime (CGR) yang didalamnya terdapat colaboration dynamics, dan action.

Lingkaran oval terluar yang digambar dengan garis padat dan arsir gelap merupakan system context yang mencakup pengaruh politik, hukum, sosial ekonomi, lingkungan dan lainnya yang dapat mempengaruhi dan dipengaruhi oleh CGR. Dari konteks sistem ini muncul empat hal penting yaitu drivers digambarkan dengan bentuk segitiga pada sebelah kiri, yang meliputi ketidakpastian, saling ketergantungan, insentif konsekuensional, dan kepemimpinan awal.

Drivers ini membantu memulai CGR yang digambarkan dalam lingkaran oval bergaris putus-putus, dan mengatur arah awalnya.

Berikut gambar kerangka integratif collaborative governance.

(15)

Gambar 2.1 Model Collaborative Governance Menurut Emerson &

Nabatchi (2015)

Sumber : Emerson & Nabatchi (2015: 27)

Selama dan setelah pembentukan CGR, para pesertanya terlibat dalam dinamika kolaborasi yang diwakili oleh tiga komponen yang dinamis dan saling berinteraksi antara lain; keterlibatan principled engagement (keterlibatan berprinsip), shared motivation (motivasi bersama), capacity for joint action (kapasitas untuk aksi bersama). Melalui dinamika kolaborasi peserta mengembangkan tujuan kolektif, target, perubahan bersama untuk mencapai tujuan yang memandu aksi kolaborasi. Tindakan tersebut nantinya mengarah pada outcomes kemudian nantinya dapat menyebabkan adanya adaptasi pada konteks sistem maupun pada CGR.

System context (konteks sistem) menurut Emerson &

Nabatchi (2015: 39) bahwa kolaborasi lintas batas tidak terjadi dalam ruang yang hampa. Kolaborasi muncul dan berkembang dalam konteks sistem yang kompleks yang terdiri dari beberapa kondisi yang saling terkait seperti kondisi politik, hukum, ekonomi, sosial, budaya, dan lingkungan. Konteks yang luas dan dinamis ini menciptakan peluang dan kendala yang secara langsung mempengaruhi CGR di awal pembentukan maupun saat kolaborasi berkembang. Secara khusus, konteks tidak hanya mempengaruhi permulaan CGR tetapi juga mempengaruhi dinamika dan kinerja CGR dari waktu ke waktu.

Misalnya setelah kolaborasi dimulai dapat muncul peristiwa tidak terduga yang menimbulkan tantangan tidak terduga. Sifat temporal

(16)

yang sedang berlangsung membuat konteks sistem dalam kerangka integratif digambarkan sebagai ruang tiga dimensi yang mengelilingi CGR dan hasil serta adaptasinya bukan sebagai rangkaian kondisi awal yang terpisah.

Penting untuk menganalisis konteks sistem untuk mengembangkan pemahaman yang lebih lengkap mengenai kepraktisan, kelangsungan hidup, dan keberlanjutan CGR. Beberapa kondisi dapat dapat menghalangi CGR yang muncul di awal proses, sedangkan kondisi lain, jika tidak teridentifikasi dapat menggagalkan CGR di kemudian hari. Misalnya tanpa pemahaman yang baik tentang konteks sistem peserta kolaborasi dapat memandang kondisi tertentu sebegai ‘pemberian’ (sebagai suatu yang tidak dapat diubah) akibatnya dapat membuat anggapan bahwa kolaborasi tidak diinginkan atau tidak layak. Alternatif lainnya, peserta kolaborasi menerima kondisi luar di awal kemudian melanjutkannya, memungkinkan mereka membentuk tujuan kolektif, sasaran target, teori perubahan bersama hanya untuk menemukan bahwa perubahan kondisi sangat mempengaruhi pekerjaan mereka. Dalam kedua kasus itu, pemahaman komprehensif tentang konteks sistem dapat memberikan informasi yang lebih baik pada peserta tentang peluang dan kendala kolaborasi lintas batas.

Beberapa kondisi yang dapat mempengaruhi kolaborasi menurut Emerson dan Nabatchi (2015: 40) antara lain :

1) Kondisi sumber daya atau layanan publik

Kondisi sumber daya atau layanan publik sangat penting karena memberikan dasar masalah atau peluang disekitar CGR yang terbentuk. Kondisi sumber daya publik meliputi keadaan penipisan, pencemaran, atau ekstraksi potensi lingkungan dan sumber daya alam. Kondisi sumber daya buatan manusia mengacu pada ketidakcukupan, kemerosotan, atau risiko

(17)

kesehatan publik atau keselamatan infrastruktur fisik, seperti pasokan air minum, sistem transportasi, dan perumahan umum.

Kondisi pelayanan publik meliputi kualitas, luas, dan distribusi kesehatan publik dan pelayanan manusia, pendidikan publik, bantuan kesejahteraan, regulasi publik atas jasa keuangan, dan sebagainya.

2) Karakteristik jaringan

Karakteristik jaringan dapat membantu atau menghambat upaya CGR. Jaringan didefiniskan O’Toole, 1997 (Emerson dan Nabatchi, 2015: 42) sebagai struktur saling ketergantungan yang melibatkan banyak atau sebagian organisasi, dimana suatu unit tidak hanya menjadi bawahan formal dari yang lain dalam beberapa pengaturan hierarkis yang lebih besar. Hal yang menarik dari karakteristik jaringan yaitu kepadatan dan kekuatan hubungan atau ikatannya. Jaringan menjadi padat ketika ada lebih banyak hubungan langsung antar sebagian besar organisasi, dan jaringan menjadi jarang ketika hubungan langsung antar organisasi sedikit. Kekuatan ikatan dalam jaringan dioperasionalkan oleh frekuensi interaksi antar anggota. Ikatan lemah jika hanya sedikit interaksi, dan kuat jika ada banyak interaksi. Semakin padat jaringan dan semakin kuat ikatan, semakin besar kemungkinan organisasi berjejaring memiliki modal sosial yang dibutuhkan untuk berkomunikasi dan berbagi informasi serta sumber daya lainnya secara efektif.

Collaboration dynamics (dinamika kolaborasi) menurut Emerson dan Nabatchi (2015: 58) yang merupakan komponen utama CGR. Dinamika kolaborasi merupakan proses kolaborasi dimana dipandang sebagai suatu siklus atau interaksi yang berulang antar peserta kolaborasi. Dinamika kolaborasi terdiri dari tiga komponen yaitu keterlibatan berprinsip, motivasi bersama, dan kapasitas aksi

(18)

bersama. Masing-masing komponen tersebut memiliki elemen pendukung dan setiap komponen bekerja mendukung komponen lainnya. Dinamika ini memperkuat apa yang disebut sebagai siklus yang baik dalam kolaborasi. Berikut pembahasan lebih rinci mengenai komponen dinamika kolaborasi dan elemen-elemen pendukungnya (Emerson & Nabatchi, 2015: 58 -73) :

1) Keterlibatan berprinsip (principled engagement)

Keterlibatan berprinsip terjadi secara berulang dari waktu ke waktu. Hal ini memungkinkan aktor-aktor dengan tujuan substantif, relasional, dan identitas berbeda untuk berkolaborasi melintasi batas kelembagaan, yuridiksi, atau sektoral mereka untuk memecahkan masalah. Berprinsip menyarankan asumsi normatif tertentu yang mendasari, terutama tentang interaksi perilaku antar peserta. Berprinsip berarti penggunaan proses yang menjunjung prinsip inti untuk keterlibatan yang efektif. Dimana prinsip tersebut mencakup keadilan dan wacana sipil, komunikasi terbuka dan inklusif dari seluruh partisipan. Kemudian keterlibatan yang efektif biasanya membutuhkan representasi yang seimbang dari “semua kepentingan berbeda yang relevan dan signifikan”. Representasi yang seimbang tidak hanya dari segi peserta yang ada di meja tapi juga dalam hal ide, keyakinan, perspektif yang relevan dengan masalah yang dihadapi.

Keterlibatan berprinsip menurut Emerson & Nabatchi meliputi : a) Penemuan (discovery)

Merupakan pengungkapkan dan penjelasan minat, perhatian, dan nilai individu dan nilai bersama dengan informasi yang relevan dan implikasinya. Dalam proses ini mencakup penyelidikan sosial dan ilmiah dimana peserta terlibat dialog dasar. Mereka saling mengajukan pertanyaan pada satu sama lain dan diri sendiri serta mencari informasi dari ahli dan sumber lain. Mereka mengeksplorasi perspektif

(19)

individu melelui penyelidikan terbuka atau spesifik. Pada awalnya tahap penemuan ini fokus mengidentifikasi kepentingan berbeda kemudian fokus dan pencarian fakta bersama.

b) Definisi (definition)

Disaat mencari penemuan (discovery) mereka mulai terlibat proses definisi. Pada proses ini peserta membangun makna dan pemahaman bersama tentang konsep dan terminologi yang mereka gunakan untuk mendeskripsikan masalah dan peluang, mengklarifikasi dan menyesuaikan tugas dan harapan satu sama lain dan menetapkan kriteria bersama untuk menilai informasi. Awalnya tugas definisi berarti menggambar batasan masalah yang dihadapi kelompok (misal aspek kebijakan perawatan kesehatan yang ditangani). Nantinya proses tersebut dapat fokus pada terminologi spesifik.

c) Deliberation

Saat peserta membuat kemajuan melalui penemuan dan definisi, mereka memulai musyawarah dimana mereka melakukan komunikasi dan pertukaran informasi yang terstruktur serta berorientasi pada pemecahan masalah.

Deliberasi merupakan ciri dan unsur penting keterlibatan berprinsip yang sukses. Dalam musyawarah seluruh peserta harus memiliki kesempatan yang memadai untuk berbicara, mendengarkan, mempertimbangkan kontribusi anggota lain, dan menghormati satu sama lain. Melalui musyawarah ini dapat dilakukan pengambilan keputusan publik yang mewakili kebaikan bersama.

d) Penetapan (determination)

Merupakan penggabungan proses keterlibatan berprinsip untuk membuat banyak keputusan bersama,

(20)

termasuk keputusan prosedural (penetapan agenda, diskusi, penugasan kelompok kerja) dan keputusan substantif (misalnya mencapai kesepakatan tentang item tindakan atau rekomendasi akhir). Dalam upaya kolaboratif berkelanjutan banyak keputusan substantif dan prosedural yang dibuat, yang membentuk aspek kritis dari keterlibatan berprinsip.

Teori serta praktik kolaborasi menunjukkan jika keterlibatan yang kuat dapat menghasilkan determinasi yang lebih adil, tahan lama, kuat dan efektif. Kebanyakan praktisi mendorong bagaimanapun mendorong konsensus sebagai cara dasar membuat keputusan kelompok meskipun keputusan bulat atau penuh selalu sesuai.

2) Motivasi bersama (shared motivaton)

Perspektif dan motivasi utama peserta berasal dari minat mereka sendiri dan kelompok yang mereka wakili. Jika minat tersebut dipenuhi maka peserta cenderung terus bekerjasama.

Seiring siklus keterlibatan berprinsip berlanjut, peserta bisa mengembangkan motivasi bersama yang akhirnya dapat memperkuat dedikasi mereka. Motivasi bersama menyoroti elemen interpersonal dan relasional dari dinamika kolaborasi dan menggabungkan banyak dimensi sosial. Motivasi bersama dipupuk oleh keterlibatan berprinsip serta dapat memperkuat keterlibatan berprinsip. Motivasi bersama memiliki empat elemen antara lain :

a) Kepercayaan (trust)

Pengembangan kepercayaan terjadi seiring waktu saat anggota bekerjasama, saling mengenal, pembuktian bahwa mereka bisa diandalkan. Kepercayaan berperan mengurangi biaya transaksi, meningkatkan stabilitas hubungan, mendorong pertukaran pengetahuan dan inovasi.

Kepercayaan memungkinkan anggota melampaui perspektif

(21)

pribadi, kelembagaan, dan yuridiksi untuk memahami kepentingan, kebutuhan, nilai, dan masalah orang lain.

Kepercayaan membentuk ikatan sosial yang diperlukan dalam hubungan jangka panjang.

b) Saling mengerti (mutual understanding)

Kepercayaan membentuk dasar untuk saling memahami. Saling mengerti dipahami sebagai tumbuhnya rasa hormat terhadap perbedaan baik perbedaan kepribadianm posisi, nilai, minat, dan faktor lain. Saling mengerti mengacu pada kemampuan memahami dan menghormati kepentingan orang lain bahkan ketika tidak sependapat dengan mereka.

Meskipun mungkin terdapat pemahaman bersama tentang suatu tujuan mungkin belum ada pemahaman bersama tentang mengapa tujuan itu penting atau bagaimana mencapai tujuan itu. Mengingat jika peserta memiliki alasan berbeda untuk terlibat, serta misi luas yang belum tentu selaras maka penting adanya untuk membangun pemahaman bersama

c) Legitimasi internal (internal legitimacy)

Saling pengertian menghasilkan validasi interpersonal dan legitimasi relasional, yang disebut legitimasi internal oleh Provan dan Milward (1995) dalam Emerson dan Nabatchi (2015: 67). Konfirmasi bahwa peserta dapat dipercaya, melegitimasi dan memperkuat dinamika kolaborasi yang berlangsung. Selain itu, norma interpersonal informal tentang kepercayaan dan timbal balik semakin memperkuat keyakinan dalam legitimasi.

Legitimasi penting karena memberikan alasan spesifik dan substantif bagi para peserta di luar manfaat relasional yang

(22)

membenarkan kelanjutan keterlibatan mereka dengan orang yang mereka wakili.

d) Komitmen (commitment)

Komitmen memungkinkan peserta melintasi batas sektoral organisasi yang sebelumnya memisahkan mereka.

Komitmen berkembang dari waktu ke waktu karena adanya kepercayaan, saling pengertian, dan legitimasi internal serta keterlibatan berprinsip. Ikatan antar peserta mungkin awalnya implisit dan informal, atau bergantung pada pelaksanaan tugas tertentu. Namun dalam perkembangan dinamika kolaborasi ikatan dapat berwujud kewajiban formal misalnya piagam yang ditandatangani atau nota kesepakatan tertulis.

Para peserta jarang diberikan kewenangan atau derajat kebebasan yang sama untuk bernegosiasi oleh organisasinya sendiri, mereka juga tidak berpartisipasi dengan tingkat kesukarelaan yang sama. Kapasitas serta kecenderungan yang berbeda diantara peserta ini bisa berdampak pada sejauh mana motivasi bersama berkembang. Kemampuan peserta menjadi penting bukan hanya mewakili organisasinya tapi juga menyampaikan dan membangun kepercayaan serta komitmen organisasi pada kolaborasi.

3) Kapasitas untuk aksi bersama (capacity for joint action)

Kolaborasi bertujuan meningkatkan kapasitas diri dan pihak lain demi tujuan bersama, hasil akhir yang tidak dapat dicapai sendiri. Untuk berkolaborasi, peserta harus memiliki kapasitas yang ditingkatkan atau baru untuk aksi bersama yang belum ada sebelumya. Kapasitas untuk aksi bersama dilihat sebagai kumpulan elemen lintas fungsi yang bersatu untuk menciptakan

(23)

potensi pengambilan tindakan yang efektif. Kapasitas untuk aksi bersama memiliki empat elemen, antara lain :

a) Pengaturan prosedural dan kelembagaan (procedural and institutional arrangement)

Sebagian besar kerangka kerja kolaborasi mengakui pentingnya aturan dan protokol baik formal dan informal, desain kelembagaan, dan dimensi struktural lainnya untuk mengelola interaksi berulang peserta dari waktu ke waktu.

Beberapa protokol tersebut termasuk pengaturan seperti kesepakatan mediasi, aturan dasar, keputusan dsb. Namun karena jaringan kolaboratif lebih besar, kompleks, dan berjangka waktu lama maka membutuhkan struktur dan protokol yang lebih eksplisit dan formal untuk administrasi dan manajemennya, contohnya melalui adanya hukum peraturan, regulasi dan charter.

b) Kepemimpinan (leadership)

Kepemimpinan merupakan elemen kapasitas bersama yang penting. Beberapa peran kepemimpinan dalam tata kelola kolaborasi yaitu sebagai pemrakarsa atau pendukung, sponsor atau penyelenggara, fasilitator atau mediator, peserta mewakili organisasi atau kontituensi, pakar ilmiah dan teknis, dan pembuat keputusan publik.

Peran kepemimpinan di awal sangat penting, terlebih lagi ketika masa kritis selama musyawarah atau manajemen konflik, dan ketika memperjuangkan teori perubahan bersama hingga implementasi.

c) Pengetahuan (knowledge)

Pengetahuan merupakan mata uang kolaborasi.

Peserta kolaborasi harus saling membagikan pengetahuan yang dimilikinya. Pengetahuan yang tidak lengkap perlu diimbangi serta ditingkatkan dengan pengetahuan baru. Pada

(24)

intinya kolaborasi memerlukan agregasi, pembagian, dan pemasangan dan pembuatan data dan informasi baru.

Pengetahuan merupakan informasi yang digabungkan dengan pemahaman dan kemampuan. Pengetahuan memandu tindakan.

d) Sumber daya (resources)

Salah manfaat kolaborasi merupakan potensi untuk berbagi sumber daya yang langka. Kolaborasi yang sukses memerlukan dukungan anggaran memadai dan akses ke sumber daya lain misalnya pendanaan; barang; ruang pertemuan; biaya perjalanan; telekomunikasi; teknis, teknologi, dan logistik; bantuan administrasi serta organisasi; dan keterampilan pengumpulan dan analisis data serta implementasi. Peserta kolaborasi sering kali memiliki sumber daya yang berbeda-beda, berbagai sumber daya tersebut dapat dikelola dan dimanfaatkan dalam kolaborasi.

Keadilan, legitimasi, serta kemanjuran kolaborasi dapat bergantung pada seberapa baik sumber daya ini dikelola.

Penelitian ini menggunakan teori milik Emerson dan Nabatchi (2015) karena teori ini mendeskripsikan dengan dengan rinci dalam kerangka integratifnya bagaimana proses collaborative governance bersifat dinamis dan bersiklus. Teori ini juga dianggap sesuai untuk mengkaji permasalahan penelitian kolaborasi dalam upaya penanggulangan HIV/AIDS di Kabupaten Wonogiri melalui komponen keterlibatan berprinsip, motivasi bersama, dan kapasitas untuk aksi bersama.

2. Stakeholders

Banyak definisi stakeholders yang diungkapkan oleh para ahli, salah satunya milik Freeman (Boucher & Rendtorff, 2016: 2) dimana ia mendefinisikan stakeholder sebagai :

(25)

“An individual or group of individuals which can affect or be affected by the achievement of organizational objectives”

(individu atau kelompok individu yang dapat mempengaruhi atau dipengaruhi oleh pencapaian tujuan organisasi)

Kemudian definisi stakeholder juga diungkapkan oleh Hertifah (Ulum & Anggaini, 2020: 75) sebagai individu, kelompok organisasi, baik perempuan maupun laki-laki yang mempunyai kepentingan, terlibat maupun dipengaruhi secara positif maupun negatif oleh suatu kegiatan program pembangunan.

Stakeholder dapat dibedakan menjadi beberapa macam antara lain yaitu (World Wildlife Fund, 2000: 2.2):

1) Stakeholder primer

Merupakan mereka yang menjadi inti inisiatif konservasi apapun karena memiliki kekuasaan, tanggung jawab, wewenang, atau klaim atas sumber daya. Berdasarkan kekuatan yang mereka miliki, stakeholder primer memiliki kemampuan untuk mempengaruhi hasil kolaborasi. Kelompok ini dapat mencakup politisi, pejabat lokal, nasional, atau regional yang memiliki kontrol atas kebijakan, undang- undang, serta dana.

2) Stakeholder sekunder

Merupakan mereka yang memiliki minat langsung pada hasil.

Pemangku kepentingan ini kemungkinan perlu dilibatkan dalam kolaborasi sebagai peran tambahan bagi stakeholder primer, sehingga mungkin pelibatakan mereka hanya secara berkala.

3) Stakeholder oposisi

Merupakan mereka yang berkapasitas mendapatkan dampak negatif melalui sumber daya dan pengaruh yang mereka perintah. Meskipun dapat mempengaruhi aspek rencana awal konservasi tapi penting untuk dilibatkan dalam dialog terbuka agar konservasi dapat dicapai.

4) Stakeholder marginal

(26)

Merupakan mereka yang tidak memiliki pengakuan atau kapasitas untuk berpartisipasi dalam kolaborasi. Upaya khusus perlu dilakukan untuk memastikan partisipasi mereka. Misalnya perempuan, masyarakat adat, kelompok miskin dan terpinggirkan dsb.

Stakeholders dalam penanggulangan HIV/AIDS di penelitian ini dapat digolongkan meliputi stakeholder primer dan stakeholder sekunder.

Stakeholder primer diantaranya yaitu Dinas Kesehatan dan KPA Wonogiri yang merupakan pemegang program serta kebijakan penanggulangan HIV/AIDS di Wonogiri. Kemudian stakeholder sekunder meliputi KDS Gajah Mungkur Wonogiri, Yayasan Mitra Alam, serta kelompok Warga Peduli AIDS.

3. HIV dan AIDS

Human Immunideficiency Virus (HIV) merupakan virus golongan RNA yang secara spesifik menyerang sistem kekebalan tubuh atau imunitas manusia hingga mengakibatkan Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS). HIV menginfeksi tubuh dengan sangat progresif dalam merusak sistem kekebalan tubuh yang membuat infeksi akibat jamur, parasit, bakteri, serta virus tidak dapat ditahan oleh tubuh. Sebagian penderita HIV dapat berkembang menjadi AIDS dalam kurun waktu tertentu dari bulan hingga 15 tahun. Beberapa penderita HIV tidak memiliki gejala sakit tapi dapat menularkan ke orang lain. AIDS adalah sekumpulan gejala penyakit akibat adanya penurunan sistem kekebalan tubuh kerena HIV. Acquired berarti didapat, immune berarti sistem kekebalan tubuh, deficiency berarti kekurangan, syndrome berarti kumpulan gejala penyakit, maka AIDS dapat diartikan sebagai sindrom cacat kekebalan tubuh dapatan (Alamsyah dkk., 2020: 1).

HIV menginfeksi sel-sel darah yang berperan dalam sistem kekebalan tubuh sehingga sel itu tidak dapat berfungsi. HIV tidak membunuh penderita secara langsung tapi daya tahan tubuh penderita yang semakin lemah mengakibatkan penderita mudah tertular berbagai infeksi

(27)

yang disebut sebagai Infeksi Oportunistik (IO), infeksi ini yang kebanyakan mengakibatkan kematian (Alamsyah dkk., 2020: 2).

HIV dapat ditularkan penderita kepada orang lain melalui berbagai cara, diantaranya yaitu (Setiarto dkk., 2021: 15-16):

1) Transmisi seksual

Penyebaran HIV seringkali terjadi melalui hubungan seksual homoseksual maupun heteroseksual tanpa pelindung (kondom).

2) Transmisi non seksual a) Transmisi parenteral

Transmisi ini bisa terjadi ketika pemakaian jarum suntik serta alat tusuk lain (contohnya alat tindik) yang telah terkontaminasi sebelumnya sehingga tidak steril seperti ketika penggunaan alat suntik bergantian pada saat penyalahgunaan narkotika suntik.

b) Transmisi transplasenta

Merupakan penularan yang terjadi dari ibu hamil yang terinfeksi HIV kepada janin yang dikandungnya. Penularan ini dapat terjadi disaat hamil, melahirkan, dan menyusui.

c) Transmisi lewat darah atau produk darah

d) Transplantasi organ serta jaringan tubuh yang terinfeksi HIV Transplantasi organ potensial menularkan HIV/AIDS telah dicangkokkan pada orang sehat sehingga virus bisa menyebar ke seluruh tubuh.

Sampai sekarang vaksin maupun obat yang efektif untuk menyembuhkan maupun mencegah HIV/AIDS belum ditemukan, maka perubahan perilaku menjadi kunci utama menekan penyebaran dan memutus rantai penularan. Pendidikan kesehatan dan peningkatan pengetahuan yang baik mengenai patofisologi HIV dan cara penularannya sangat diperlukan. HIV ditularkan terutama melalui hubungan seksual, maka agar tidak tertular HIV perlu berperilaku seksual yang aman dan bertanggung jawab, yaitu hanya berhubungan seksual dengan pasangan

(28)

sendiri serta tidak berganti-ganti pasangan. Jika pasangan telah terinfeksi HIV maka perlu pemaikaian kondom dengan benar ketika berhubungan seksual. Selain itu, dalam rangka memutus penularan HIV melalui darah perlu memastikan bahwa dalam proses transfusi darah yang dipakai tidak terinfeksi HIV, pemakaian alat suntik yang telah disterilisasi, dan pencegahan penularan ibu ke anak (Setiarto dkk., 2021: 22-23).

Penanggulangan merupakan segala upaya yang dilakukan meliputi kegiatan pencegahan, penanganan, dan rehabilitasi. Program penanggulangan AIDS di Indonesia sekarang ini memiliki empat pilar, yang seluruhnya menuju paradigma Zero New Infection, Zero AIDS- related death dan Zero Discrimination. Empat pilar itu meliputi (Setiarto dkk., 2021: 23):

1) Pencegahan (prevention); meliputi pencegahan penyebaran HIV melalui transmisi seksual serta alat suntik, pencegahan di lembaga pemasyarakatan dan rumah tahanan, pencegahan dari ibu ke bayi, pencegahan dari kelompok penjaja serta pelanggan seks komersial, dsb.

2) Perawatan, dukungan dan pengobatan (PDP); penguatan layanan kesehatan, pencegahan dan pengobatan infeksi oportunistik, pengobatan antiretroviral serta dukungan dan pendidikan bagi ODHA.

Program PDP terutama untuk menurunkan angka kesakitan, rawat inap dan kematian akibat AIDS serta meningkatkan kualitas hidup penderita HIV melalui pemberian terapi antiretroviral (ARV).

3) Mitigasi dampak melalui dukungan psikososio-ekonomi.

4) Menciptakan lingkungan kondusif (creating enabling environment) yang meliputi program peningkatan lingkungan kondusif melalui penguatan kelembagaan serta manajemen, manajemen program serta penyelarasan kebijakan, dsb.

2.3 Kerangka Berpikir

(29)

HIV/AIDS merupakan suatu penyakit yang terus mengalami tingkat penyebaran tinggi hingga saat ini di wilayah Indonesia. Wonogiri merupakan salah satu kabupaten yang tidak luput dari penyebaran virus ini. Hingga tahun 2020 kumulasi kasus HIV dan AIDS di Wonogiri telah mencapai 615 kasus.

Sampai saat ini masih belum ditemukan obat maupun vaksin yang dapat mencegah serta mengobati HIV sepenuhnya. Tidak hanya menyebabkan masalah kesehatan, HIV/AIDS juga menimbulkan permasalahan sosial kemasyarakatan sehingga sering muncul stigma dan diskriminasi dari masyarakat pada ODHA yang membuat penderita atau masyarakat menyembunyikan statusnya serta malu untuk melakukan tes ataupun berobat yang dapat berrisiko pada keberlangsungan hidup ODHA. Hal tersebut menyebabkan penanggulangan HIV/AIDS tidak dapat dipandang sebagai masalah kesehatan saja dan diselesaikan satu stakeholder saja saja, oleh sebab itu salah satu strategi pemerintah dalam upaya penanggulangannya yaitu melalui collaborative governance yang dibangun antara pemerintah khususnya dalam penelitian ini KPA dan Dinas Kesehatan, NGO/LSM peduli AIDS, dan masyarakat melalui kelompok Warga Peduli AIDS.

Namun kolaborasi lintas sektor ini seringkali masih menemui berbagai tantangan dan kendala dalam prosesnya seperti yang dijelaskan dalam latar belakang. Sehingga penelitian ini bermaksud untuk melihat bagaimana dinamika kolaborasi stakeholders dimana proses kolaborasi dilihat sebagai suatu siklus interaksi berulang antar aktor menggunakan teori collaboration dynamics milik Emerson dan Nabatchi (2015) yang memiliki tiga komponen.

Komponen pertama yaitu Principle Engagement yang memiliki 4 elemen yaitu discovery, definition, deliberation, determination. Kedua yaitu komponen Shared Motivation dengan 4 elemen trust, mutual understanding, commitment, internal legitimation. Ketiga, komponen Capacity for Joint Action yang memiliki 4 elemen yaitu procedural arragement, leadership, knowledge, resources. Selain itu, penelitian ini juga bermaksud mengetahui faktor penghambat yang dialami dalam kolaborasi penanggulangan HIV/AIDS di Wonogiri, menggunakan teori system context milik Emerson dan Nabatchi

(30)

(2015) yang meliputi kondisi sumber daya serta karakteristik jaringan. Melalui penelitian ini maka dapat diketahui bagaimana dinamika kolaborasi stakeholders dalam penanggulangan HIV/AIDS di Wonogiri berjalan serta apa saja faktor penghambatnya dalam upaya pencapaian penurunan angka kasus baru, penurunan angka kematian akibat AIDS dan penurunan diskriminasi dan stigma di masyarakat terhadap ODHA. Berikut kerangka berpikir penelitian ini dalam bentuk gambar.

(31)

Gambar 2.2 Kerangka Berpikir

Permasalahan HIV/AIDS di Kabupaten Wonogiri : Peningkatan jumlah kasus, adanya stigma pada ODHA

Collaborative Governance

Collaboration dynamics PEMERINTAH :

KPA Dinas Kesehatan

Faktor penghambat : 1. Kondisi sumber

daya

2. Karakteristik jaringan

MASYARAKAT : Warga Peduli AIDS LSM/NGO

PEDULI AIDS

Three Zero HIV AIDS : Penurunan angka kasus baru Penurunan angka kematian

Penurunan diskriminasi dan stigma

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

Berdasarkan landasan teori dan penelitian terdahulu, sehingga dapat ditentukan penelitian ini menggunakan variabel independen good corporate governance yang

Setelah disajikan kajian tentang sistem dan teori-teori yang akan mendasari dan digunakan dalam membahas reduksi orde model sistem LPV, maka pada bab selanjutnya akan dibahas

Sebelum konsumen membeli dan menggunakan produk yang konsumen pilih maka ada berbagai kepentingan konsumen dan kepercayaan konsumen dari atribut-atribut yang dimliki oleh

Terdapat beberapa kesamaan dalam penelitian terdahulu kedua ini dengan penelitian yang akan dilakukan oleh penulis yaitu kedua penelitian menggunakan perceived ease of use

Berdasarkan hasil penelitian tersebut, kesamaan dengan penelitian yang akan peneliti lakukan adalah membahas tentang salah satu ahwal mahasiswa santri dalam ilmu

Sadono Sukirno (2002,p77). Pengertian Permintaan / Demand adalah keinginan yang disertai kemampuan untuk membeli barang dan jasa pada tingkat harga tertentu. Teori

Kedua teori diatas, menyatakan bahwa pelanggan yang puas terhadap suatu produk, dipastikan pelanggan itu akan melakukan pembelian ulang dan hal lain yang dilakukan oleh pelanggan

Merupakan metode yang paling tua dan paling banyak digunakan dalam penilaian prestasi, di mana para penilai harus diharuskan melakukan suatu penilaian