• Tidak ada hasil yang ditemukan

Thawalib Jurnal Kependidikan Islam

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Thawalib Jurnal Kependidikan Islam"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

e-ISSN 2807-386X

https://jurnal.staithawalib.ac.id/index.php/thawalib/article/view/27 DOI: https://doi.org/10.54150/thawalib.v3i1.27

15 Thawalib | Jurnal Kependidikan Islam This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.

NILAI-NILAI PENDIDIKAN ISLAM DALAM TRADISI TAHLILAN DI DESA BATU MELENGGANG KECAMATAN HINAI

Satria Wiguna1, Ahmad Fuadi2

12Sekolah Tinggi Agama Islam Jam’iyah Mahmudiyah Tanjung Pura Langkat

1[email protected], 2[email protected] ABSTRAK

Pada umum tradisi tahlilan merupakan kegiatan yang dilakukan dengan membaca tahlil, yakni kalimat “Laa Ilaaha Illa Allah”. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui penerapan nilai-nilai Pendidikan Islam dalam tradisi tahlil di Desa Batu Melenggang Kecamatan Hinai Kabupaten Langkat. Metode penelitian dengan metode penelitian kualitatif dengan teknik pengumpulan data yaitu observasi, wawancara dan dokumentasi. Objek penelitian ini adalah masyarakat desa Batu Melenggang Kecamata Hinai. Teknik analisis data pertama mengkaji secara mendalam tentang permasalahan, kemudian menafsirkan data dan disesuaikan dengan teori, dan terakhir menyimpulkan seluruh dari hasil penelitian.

Hasil penelitian mengenai nilai-nilai pendidikan Islam pada tradisi Tahlilan adalah nilai sedekah, nilai tolong-menolong, nilai solidaritas, nilai kerukunan, nilai silaturrahim sebagai ukhuwah islamiyah, nilai keutamaan dzikrulmaut (mengingat kematian), nilai keutamaan dzikrullah (mengingat kepada allah swt), unsur dakwah, dan nilai kesehatan. Pelaksanaan tradisi tahlilan yang ada di masyarakat Desa Batu Melenggang Kecamatan Hinai sering diadakan pada saat matahari telah terbenam atau setelah Maghrib. Acara tahlilan baru dimulai apabila para undangan sudah banyak yang datang dan dianggap cukup dan Biasanya tradisi yang dilakukan dengan amalan- amalan bacaan Al Qur’an dan dzikir.

Kata Kunci: Budaya Islam, Pendidikan Islam, Tahlilan

(2)

ABSTRACT

In general, the tradition of praying for the dead is an activity carried out by reading the phrase "Laa Ilaaha Illa Allah". The purpose of the study was to determine the application of Islamic education values in the tradition of praying for the dead in Batu Melenggang Village, Hinai District, Langkat Regency. The research method uses qualitative research methods with data collection techniques, namely observation, interviews and documentation. The object of this research is the villagers of Batu Melenggang, Hinai District. The first data analysis technique examines in depth the problem, then interprets the data and adapts it to the theory, and finally concludes all of the research results.

The results of the research on the values of Islamic education in the tradition of praying for the dead are the value of alms, the value of mutual assistance, the value of solidarity, the value of harmony, the value of silaturrahim as ukhuwah Islamiyah, the value of the virtue of dhikrulmaut (remembering death), the value of the virtue of dhikrullah (remembering Allah swt).), elements of da'wah, and health values. The implementation of the tradition of praying for the dead in the Batu Melenggang Village community, Hinai District, is often held when the sun has set or after Maghrib. The event to pray for the dead only starts when many invitees have come and are considered sufficient and usually the tradition is carried out with the practices of reading the Qur'an and dhikr.

Keywords: Islamic culture, Islamic education, Praying for the dead

(3)

17 | Thawalib | Jurnal Kependidikan Islam

A. PENDAHULUAN

Tahlil pada mulanya ditradisikan oleh Wali Songo (sembilan pejuang Islam di tanah Jawa). Seperti yang telah diketahui, di antara yang withering berjasa menyebarkan ajaran Islam di Indonesia adalah Wali Songo. Keberhasilan dakwah Wali Songo ini tidak lepas dari cara dakwahnya yang mengedepankan metode kultural atau budaya. Wali Songo mengajarkan nilai-nilai Islam secara luas dan tidak secara front facing menentang tradisi Hindu yang telah mengakar kuat di masyarakat, namun membiarkan tradisi itu berjalan, hanya saja isinya diganti dengan nilai Islam (Jaiz, 2007).

Tujuan Wali Songo mengisi acara kumpul dengan amal kebaikan agar tidak timbul kesedihan atau yang dikatakan oleh Imam Asy Syafi'i pada awal tulisan ini sebagai "memperbaharui kesedihan" pada ahli waris dengan adanya dzikrullah untuk menegaskan ke Maha Kuasaan sehingga suasana hati ahli waris tetap ikhlas menerima takdir Allah ta'ala terhadap ahli kubur (Rodin, 2013). Terdapat realita sosial, terdapat tradisi masyarakat jawa, jika ada keluarga yang meninggal, malam harinya banyak sekali para tamu yang bersilaturrahim, baik tetangga dekat maupun jauh. Mereka semua ikut belasungkawa atas segala yang menimpa, sambil mendoakan orang yang meninggal dan keluarga yang ditinggalkan (Fatah, 2006).

Tradisi tersebut berlaku sampai pada hari ke-tujuh, sebab di samping bersiap menerima tamu, sanak keluarga, dan kerabat dekat, mereka mengadakan doa bersama melalui bacaan-bacaan kalimat Thayyibah, seperti bacaan yasin, tahlil, tahmid, istighatsah dan diakhiri dengan membaca doa yang dikirimkan kepada yang sudah meninggal. Sedangkan persoalan ada dan tidaknya hidangan makanan, bukan hal penting, tapi pemanfaatan pertemuan majlis silaturrahim separti ini, akan terasa lebih berguna jika diisi dengan berdzikir bersama (Anwar, 2014).

Tradisi Tahlil tidak saja dibaca sebagai upaya mendoakan ahli kubur, tetapi tahlil dibaca juga sebagai pelengkap dari doa selametan, sehingga kapan saja diadakan acara slametan dimungkinkan juga untuk dibacakan tahlilan. Pemahaman masyarakat tentang tradisi tahlilan di desa Batu Melenggang Kecamatan Hinai sangat diterima dan diakui. karena di desa ini mayoritas masyarakat bersuku jawa walaupun tinggal di sumatera. Selain itu, tahlilan merupakan kewajiban bagi masyarakat setempat, karena bertujuan untuk menyebarkan atau memperluas syi’ar Islam, saling menjaga tali silaturrahim sesama warga serta untuk mengirim doa kepada keluarga yang telah meninggal.

Masyarakat Islam Jawa mempunyai kebiasaan atau adat mengadakan selamatan orang mati (Jaiz, 2007). Selamatan kematian yang dimaksud, berdoa bersama-sama untuk mendoakan seseorang yang sudah meninggal, yang mana selamatan satu akar dengan Islam dan salam yaitu kedamaian atau kesejahteraan.

Contoh bila seorang Muslim meninggal, maka keluarga terdekat atau masyarakat yang ditinggalkan mengadakan upacara keagamaan dalam selamatan kematian yang berlangsung selama: 1-7 hari, 40 hari, 100 hari, 1 tahun, 2 tahun, 1000 hari dan juga

(4)

diadakan haul setiap tahunnya. Upacara tersebut juga disebut “tahlilan” (dari kata tahlil), yakni membaca lafal “lailahaillallah” secara bersama-sama (Madjid, 2017).

Tahlilan merupakan amalan shalih yang sesuai dengan tuntutan agama dipandang dari sudut penambahan ilmu. Berdasarkan temuan tersebut terdapat wacana bahwa tradisi tahlilan dapat berjalan dan akan berjalan sampai di masa mendatang, itu terbukti dari jumlah peserta yang ikut dan antusias masyarakat terhadap kegiatan ini. Seperti halnya masyarakat Desa Batu Melenggang Kecamatan Hinai pada tradisi tahlilan menjadikan hal-hal yang positif melalui tradisi keagamaan yang sudah turun temurun dilakukan. Kedekatan masyarakat yang berkurang jadi lebih harmonis. Hal ini yang membuat keluarga atau orang- orang terdekat yang tinggalnya jauh bisa meluangkan waktu untuk berkumpul, sekarang tahlilan tidak hanya dilaksanakan oleh para lelaki, namun juga dilaksanakan oleh perkumpulan ibu-ibu dengan mengadakan arisan sekaligus yasinan di rumah- rumah ataupun di Mesjid terdekat. Hal ini juga rutin dilakukan setiap minggunya guna mempererat silaturahmi dan juga menambah kegiatan masyarakat.

Tradisi tahlilan merupakan salah satu hasil akulturasi antara nilai-nilai masyarakat setempat dengan nilai-nilai Islam, di mana tradisi ini tumbuh subur di kalangan Nahdliyyin. Sementara ormas-ormas lainnya cenderung memusuhi bahkan berusaha mengikisnya habis-habisan. Seakan-akan tradisi tahlilan menjelma sebagai tanda pembeda apakah dia warga NU, Muhammadiyah, atau yang lainnya (Amin M. D., 2010).

Terjadinya permasalahan terjadi pada masyarakat Desa Batu Melenggang mengenai bahwa tahlil dari sudut padang seseorang masing-masing, hal tersebut tentu bisa berdampak pada rusaknya ikatan kekeluargaan antar muslim, seperti saling menuduh dan menyesatkan kelompok lainnya, timbulnya rasa curiga yang berlebihan. Tradisi tahlilan dalam acara selamatan kematian pada masyarakat desa Batu Melenggang Kecamata Hinai ini merupakan salah satu sistem ritualiatas yang masih dipertahankan secara eksklusif hingga kini. Tradisi tahlilan ini meskipun berangkat dari kristalisasi nilai-nilai budaya yang sedemikian tradisional, namun pengaruhnya hingga kini masih sedemikian kuat sekaligus di desa-desa sekitarnya terutama di Desa Batu Melenggang Kecamatan Hinai Kabupaten Langkat.

B. METODE PENELITIAN

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif (Lexy J. Moleong 2019). Teknik pengumpulan data dengan cara observasi, wawancara dan dokumentasi.

Observasi dilaksanakan secara langsung mengenai keterkaitan kegiatan tahlilan warga Desa Batu Melenggang Kecamatan Hinai. Informan yang akan wawancari adalah mewancarai tokoh masyarakat, tokoh agama, dan masyarakat di Desa Batu Melenggang Kecamatan Hinai. Lokasi penelitian ini adalah masyarakat Desa Batu Melenggang Kecamata Hinai. Dokumentasi yang ditemukan pada penelitian ini

(5)

19 | Thawalib | Jurnal Kependidikan Islam

berupa foto-foto kegiatan tahlilan warga Desa Batu Melenggang Kecamatan Hinai.

Teknik analisis data pertama yang peneliti lakukan adalah membaca sekaligus mengkaji secara mutlak dan mendalam tentang permasalahan. Langkah selanjutnya menafsirkan data dan disesuaikan dengan teori, dan langkah terakhir adalah menyimpulkan seluruh dari hasil penelitian. (Djam’an Satori dan Aan Komariah 2013). Teknik keabsahan data dengan cara empat tahapan yaitu derajat keterpercayaan (credibility), keteralihan (transferability), kebergantungan (dependability), dan kepastian (confirmability) (Djam’an Satori dan Aan Komariah 2013).

C. HASIL DAN PEMBAHASAN

Kegiatan tradisi merupakan pewarisan serangkaian kebiasaan dan nilai-nilai yang diwariskan dari suatu generasi kepada generasi berikutnya. Nilai-nilai yang diwariskan berupa nilai-nilai yang oleh masyarakat pendukungnya masih dianggap baik dan relevan dengan kebutuhan kelompok. Dalam tahlilan ini dapat dipakai untuk mengukuhkan nilai-nilai dan keyakinan yang berlaku dalam masyarakat.

Oleh karena itu, tahlilan merupakan salah satu upacara keagamaan yang sangat diperhatikan dalam rangka mendo’akan arwah yang telah mendahului mereka serta melestarikan tradisi yang turun-temurun ini. Adapun tradisi tahlilan mengandung nilai-nilai sebagai berikut:

1. Nilai Sedekah

Agama Islam sangat menganjurkan kepada umat muslim untuk melaksanakan perintah shodaqoh. Karena shodaqoh memiliki peranan yang penting dalam membantu perekonomian umat Islam. Jamuan makanan dalam acara tahlilan dalam setiap acara tahlilan, tuan rumah memberikan makanan kepada orang-orang yang mengikuti tahlilan. Selain sebagai sedekah yang pahalanya diberikan kepada orang yang telah meninggal dunia, motivasi tuan rumah adalah sebagai penghormatan kepada para tamu yang turut mendoakan keluarga yang meninggal dunia (Muchlisin B.K 2022).

Tradisi tahlilan yang dilakukan di saat kematian menurut sabagaian masyarakat Desa Batu Melenggang merupakan suatu bentuk kebajikan yang dianjurkan oleh Islam. Kebajikan tersebut disebut sedekah, yang diharapkan pahala dari padanya akan sampai kepada almarhum atau almarhumah.

Selamatan yang biasa dilakukan oleh mereka yang melakukannya berasal dari harta si almarhum atau almarhumah itu sendiri, para keluarga si almarhum atau almarhumah dan juga dari berbagai macam bawaan mereka yang bertakziyah (biasanya orang-orang yang bertakziyah kepada keluarga si almarhum atau almarhumah atas musibah yang menimpa mereka selalu disertai dengan membawa sedikit kebutuhan pokok).

Memberi jamuan yang biasa diadakan ketika ada orang meninggal, hukumnya boleh (mubah), dan menurut mayoritas penduduk desa Batu Melenggang Kecamatan Hinai menyatakan bahwa memberi jamuan itu

(6)

termasuk ibadah yang terpuji dan dianjurkan. Sebab, jika dilihat dari segi jamuannya termasuk sedekah yang dianjurkan oleh Islam yang pahalanya dihadiahkan pada orang telah meninggal. Dan lebih dari itu, ada tujuan lain yang ada di balik jamuan tersebut, yaitu ikramud dla`if (menghormati tamu), bersabar menghadapi musibah dan tidak menampakkan rasa susah dan gelisah kepada orang lain (Anwar, 2014).

2. Nilai Tolong-Menolong

Nilai tolong-menolong dalam tradisi tahlilan pada masyarakat Paya Bengkuang terlihat dalam pelaksanaan atau penyelenggaraanannya, misalnya dalam hidangan, selama tujuh hari berturut-turut ibu-ibu (para tetangga dan kerabat dekat almarhum atau almarhumah) membantu dalam persiapan hidangan (makan dan minuman) untuk para undangan, karena dalam tahlilan tidak sedikit yang hadir kadang-kadang 50-100 jiwa (sesuai dengan relasi seseorang dalam bermasyarakat). Bahkan pada saat pelaksanaan kematian selesai, mereka bersama-sama membersihkan tempat tempat yang telah digunakan (Amirah Islam ... [et al.] 2021).

Pada tolong-menolong terdapat hubungan saling ketergantungan sebagai akibat dari adanya proses pertukaran yang saling memberikan balasan atau jasa yang diberikan orang lain kepada dirinya. Tolong menolong dalam masyarakat Batu Melenggang dalam proses ritual tahlilan terjadi secara spontan dan atas dasar suka rela, tetapi ada juga yang didasarkan oleh perasaan saling membutuhkan yang ada dalam jiwa masyarakat tersebut. Kegiatan tolong- menolong ini diartikan sebagai suatu kegiatan kerja yang melibatkan tenaga kerja dengan tujuan membantu si punya hajat dan mereka tidak menerima imbalan berupa upah (tolong- menolong pada situasi kematian musibah cenderung rela). Sebagaimana penelitian oleh (Hatimah, Emawati, and Husni 2021) menyatakan bahwa nilai-nilai tradisi tahlilan yang dilakukan oleh semua lapisan masyarakat muslim di Palangka Raya pada setiap ada orang yang meninggal dunia sangat bagus sekali. Karna terdapat beberapa unsur-unsur nilai yang begitu bisa merekatkan antar saudara baik yang jauh maupun yang dekat.

Nilai Religius yang bermanfaat dan masyarakat lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT, serta kepedulian sosial masyarakat kepada keluarga si mayit sangat tinggi. Beberapa perkembangan yang dilakukan oleh masyarakat terkait tahlilan ini sangat baik walaupun perkembangannya tidak terlalu signifikan. Pada perkembangan ini, santri sangat berperan dan menjadi salah satu kebanggan masyarakat yang dapat meneruskan hal-hal positif seperti meneruskan tradisi keagamaan yang sudah turun temurun dilakukan. Kedekatan masyarakat yang berkurang jadi lebih harmonis.

3. Nilai Solidaritas

Suatu ciri khas masyarakat Batu Melenggang dalam menghadapi keluarga yang berduka cita adalah bertakziyah (ngirim) dengan membawa bawaan untuk diberikan kepada keluarga almarhum atau almarhumah, dengan

(7)

21 | Thawalib | Jurnal Kependidikan Islam

harapan dapat membantu meringankan penderitaan mereka selama waktu berduka cita. Bentuk bawaan menurut kebiasaan dapat berupa beras, gula, mie ball, uang dan lain sebagainya yang dikenal dengan tradisi sumbangan (Listyawati, 2021).

Pada konteks sosiologis, ritual selamatan kematian ini sebagai alat memperkuat solidaritas sosial, maksudnya alat untuk memperkuat keseimbangan masyarakat di desa Batu Melenggang yakni menciptakan situasi rukun, toleransi di kalangan partisipan, serta tolong-menolong bergantian untuk memberikan berkah (doa) yang akan ditujukan pada keluarga yang sudah meninggal. Solidaritas yang diberikan oleh masyarakat Paya Bengkuang tidak hanya dalam perkara benda saja tetapi meliputi kasih sayang, perhatian, dan kebaikan lainnya. Agama Islam sangat menganjurkan pada solidaritas kebersamaan (Listyawati, 2021).

4. Nilai Kerukunan

Apabila undangan tahlilan menghadiri acara tersebut untuk berkumpul dengan berdo’a bersama, makan bersama secara sederhana, merupakan suatu sikap sosial yang mempunyai makna turut berduka cita terhadap keluarga si almarhum atau almarhumah atas musibah yang telah menimpanya, yaitu meninggalnya salah seorang anggota keluarga, maka akan tercipta kerukunan di antara mereka, mereka saling berkumpul jadi satu, tua maupun muda.

Karena muslim yang satu dengan yang lainnya itu bagaikan anggota tubuh, ketika salah satu anggota tubuh sakit maka yang bagian tubuh yang lain juga ikut merasakannya. Jadi menjaga kerukunan antar sesame sangat penting bagi keutuhan suatu daerah maupun bangsa dan Negara (Jaiz, 2007).

5. Nilai Silaturrahim

Mempererat persaudaraan Islam antar sesama baik bagi yang masih hidup dan berkumpul ditempat tahlil maupun bagi yang sudah meninggal dunia dengan pahala bacaan sebab sejatinya, persaudaraan itu tidak terputus dengan kematian. Nilai Silaturrahmi dalam tradisi tahlilan pada masyarakat Batu Melenggang memberikan kesempatan berkumpulnya sekelompok orang berdo’a bersama, makan bersama secara sederhana, merupakan suatu sikap sosial yang mempunyai makna turut berduka cita terhadap keluarga si almarhum atau almarhumah atas musibah yang telah menimpanya, yaitu meninggalnya salah seorang anggota keluarga. Disamping itu, juga bermakna mengadakan silaturrahmi serta memupuk ikatan persaudaraan antara mereka (Fatah, 2006).

6. Nilai Keutamaan Dzikrulmaut (Mengingat Kematian)

Mengingatkan bahwa nyawa kita dicabut oleh malaikat maut. Nafas kita tersengal, mulut kita dikunci, anggota badan kita lemah, pintu taubat telah tertutup bagi kita. Di sekitar kita terdengar tangisan dan rintihan handai taulan yang kita tinggalkan. Pada saat itu tidak ada yang bisa menghindarkan kita dari sakaratul maut. Tiada daya dan usaha yang bisa menyelamatkan kita dari

(8)

kematian. Cukuplah kematian sebagai nasehat, cukuplah kematian menjadi-kan hati bersedih, cukuplah kematian menjadikan air mata berlinang. Perpisahan dengan saudara tercinta. Penghalang segala kenikmatan dan pemutus segala cita-cita. Oleh sebab manusia harus percaya bahwasannya setiap apapun yang hidup di alam dunia ini pasti akan mati dan kembali kepada Allah SWT (Satria Wiguna 2021).

7. Nilai Keutamaan Dzikrullah (Mengingat kepada Allah SWT)

Dzikrullah sebagai jalan untuk mensucikan dan mendekatkan diri kepada Sang Khaliq untuk mengingat bahwa akhir dari sebuah kehidupan tentu adalah kematian dan siapapun tidak bisa melewatinya sehingga dapat mengingatkan untuk selalu mempersiapkan bekal sebelum kedatangan ajal.

Sebaik-baik bekal adalah selalu menjalankan amal ketaatan (menjalankan kewajiban-Nya dan menjauhi larangan-Nya) dan mengerjakan amal kebaikan (amal sholeh). Dengan mengingat kepada Allah dan selalu berlindung pada- Nya manusia akan mendapat kekuatan ekstra menghadapi berbagai halangan dan rintangan yang datang menghadang baik di dunia maupun diakhirat.

Orang yang selalu ingat pada Allah akan mendapat kemudahan dalam mengatasi berbagai halangan dan rintangan yang datang menghadang. Hal tersebut terjadi karena Allah selalu ingat dan memperhatikan keadaan orang yang selalu ingat pada-Nya, Dia selalu siap memberi pertolongan kepada orang yang selalu ingat pada-Nya (Jaiz, 2007).

8. Nilai Unsur Dakwah

Pelaksanaan tradisi tahlilan juga terdapat unsur dakwah. Tahlilan bisa digunakan menjadi media dakwah, contoh pada setiap acara keluarga tentu ada tahlilan sebut saja seperti acara muslimat, pengajian kampung dan lain-lain. Pengajian umum yang kadang dirangkai dengan pembacaan secara singkat sejarah orang yang dihauli, yang mencakup nasab, tanggal lahir dan wafat, jasa-jasa, serta keistimewaan yang patut diteladani. Di desa Batu Melenggang Kecamatan Hinai apabila mengadakan acara tahlilan yang diadakan secara besar-besaran seperti tahlil akbar/kubro atau juga khol/haul, dilengkapi dengan acara inti yaitu ceramah agama yang pembicaranya adalah Ustadz/Ustadzah yang diundang dari luar desa Batu Melenggang Kecamatan Hinai.

Sebagaimana penelitian dilakukan oleh (Andi Warisno 2017) bahwa Tahlilan merupakan sebuah budaya yang sangat dinamis dan dari sudut pandang antropologis dan psikologis, sangat menarik. Dia tak hanya menjadi perekat sosial, tapi juga mempersatukan berbagai elemen masyarakat yang berbeda ideologi dan keyakinan. Tahlilan merupakan tradisi Islam di Indonesia yang sangat menarik yang bisa menjadi kohesi bagi masyarakat kota yang kerap terlena dalam kesibukan sehari-hari. Tahlilan bisa menjadi media yang representatif, mentradisi, dan mampu memberikan rasa damai, meningkatkan kualitas keimanan, bahkan juga, meningkatkan ukhuwah

(9)

23 | Thawalib | Jurnal Kependidikan Islam

Islamiyah dan kerukunan umat. Berbagai organisasi masyarakat yang ada di Indonesia, sebenarnya, memiliki potensi yang sangat strategis dalam membangun, membina, dan merajut tali persaudaraan antarumat muslim.

9. Nilai Kesehatan

Jamuan makanan dalam acara tahlilan dalam setiap acara tahlilan, tuan rumah memberikan makanan kepada orang-orang yang mengikuti tahlilan.

Selain sebagai sedekah yang pahalanya diberikan kepada orang yang telah meninggal dunia, motivasi tuan rumah adalah sebagai penghormatan kepada para tamu yang turut mendoakan keluarga yang meninggal dunia.

Kaitannya dengan masalah makanan dalam acara tersebut, kadang-kadang pihak keluarga si mayyit ada yang menyajikannya sampai dua kali, yaitu untuk disantap bersama di rumah tempat mereka berkumpul dan untuk dibawa pulang ke rumah masing-masing, yang disebut dengan istilah “berkat”

(berasal dari bahasa Arab) “barakah” (Jaiz, 2007).

D. KESIMPULAN

Penyelenggaraan tradisi tahlilan yang ada di masyarakat Desa Paya Bengkuang Kecamatan Gebang, Waktu pelaksanaan sering diadakan pada saat matahari telah terbenam yaitu setelah Maghrib atau Isya, Acara tahlilan baru dimulai apabila para undangan sudah banyak yang datang dan dianggap cukup dan Biasanya ritual yang dilakukan dengan amalan-amalan yang dilakukan didalamnya.

Nilai-nilai Pendidikan Islam yang terdapat dalam tradisi Tahlilan antara lain:

nilai sedekah, nilai tolong-menolong, nilai solidaritas, nilai kerukunan, nilai silaturrahim sebagai ukhuwah islamiyah, nilai keutamaan dzikrulmaut (mengingat kematian), nilai keutamaan dzikrullah (mengingat kepada allah swt), nilai unsur dakwah dan nilai kesehatan.

Pelaksanaan tradisi tahlilan yang ada di masyarakat Desa Batu Melenggang Kecamatan Hinai, waktu pelaksanaan setelah Maghrib atau ba’da Isya, tradisi tahlilan baru dimulai apabila para undangan sudah banyak yang datang dan dianggap cukup dan Biasanya ritual yang dilakukan dengan amalan-amalan bacaan Al Qur’an. Tujuan mengadakan tahlilan atau selamatan kematian yang untuk mendoakan arwah ahli kubur bahwa mengadakan tradisi tahlilan untuk selamatan kematian bertujuan untuk mendoakan attau mengirim doa bagi arwah ahli kubur agar si ahli kubur di alam arwahnya senantiasa mendapat rahmat dari Allah SWT

DAFTAR PUSTAKA

Amirah Islam ... [et al.]. 2021. Asyiknya Tolong Menolong. Bandung: CV. DD Publishing.

Amin, M. D. (2009). Islam dan Kebudayaan Jawa. Yogyakarta: Gama Media.

(10)

Andi Warisno. 2017. “Tradisi Tahlilan Upaya Menyambung Silaturahmi Andi Warisno .” Ri‟Ayah 02: 69–79.

Anwar, K. (2014). Integrasi Agama Dalam Budaya Islam Indonesia (Tahlilan Salah Satu Integrasi Agama dan Budaya). Jurnal An-Nahdhah, Vol 8 No 2(November 2014), 20-30.

Djam’an Satori dan Aan Komariah. 2013. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung:

Alfabeta.

Fatah, M. A. (2006). Tradisi Orang-Orang NU. Yogyakarta: PT LKIS Pelangi Aksara.

Hatimah, Husnul, Emawati, and Muhammad Husni. 2021. “Tradisi Tahlilan Masyarakat Banjar Di Kecamatan Pahandut Kota Palangka Raya.” Syaams: Jurnal Studi Keislaman 2(1): 8. http://e-journal.iain-palangkaraya.ac.id/index.php/syams.

Jaiz, H. A. (2007). Tarekat, Tasawuf, Tahlilan dan Maulidan. Surakarta: Wacana Ilmiah Press.

Koentjaraningrat. (2008). Kebudayaan Jawa. Jakarta: Balai Pustaka.

Lexy J. Moleong. 2019. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosda Karya.

Listyawati, A. (2021). Penguatan solidaritas sosial berbasis masyarakat lokal. Jakarta:

Kreasi Total Media.

Madjid, N. (2017). Islam Doktrin dan Peradaban: Sebuah Telaah Kritis tentang Masalah Keimanan, Kemanusiaan dan Kemodernan. Jakarta: Paramadina.

Muchlisin B.K. 2022. Sebiji Sedekah Sebukit Pahala : Keutamaan, Faedah, Dan Kisah- Kisah Keajaiban Sedekah. Jakarta: Harfa Creative.

Rodin, R. (2013). Tradisi Tahlilan dan Yasin. IBDA : Jurnal Kajian Islam dan Budaya, Vo 1 No 1(Januari 2013), 15-21.

Satria Wiguna. 2021. Fikih Ibadah. Bandung: Pena Persada.

Referensi

Dokumen terkait

Dalam tradisi Jawa ada kebiasaan "ruwahan". Pada kesempatan itu, banyak orang pergi ke makam untuk membersihkan batu nisan dan memanjatkan doa bagi keselamatan orang

Bentuk simbol komunikasi pada tradisi Rokat 7DVHn adalah segala sesuatu yang menyimpan makna di baliknya sesuai dengan pemahaman pada sekelompok orang (masyarakat desa

Kepercayaan dan tradisi lokal dalam masyarakat yang masih terdapat sisa- sisa tradisi menghalithikum (adalah kebudayaan yang menghasilkan bangunan- bangunan dari batu

Tokoh utama dapat mengambil keputusan berdasarkan kepentingan bersama teman dan istrinya, memberikan kesempatan kepada orang lain untuk berpendapat sebelum melakukan

Tradisi Tahlilan Di Perkotaan Modern: Tanah Abang Jakarta Pusat | 7 Tradsi banyak mempunyai fungsi dan kekuatan dalam masyarakat setempat baik.. dibidang spiritual maupun

Pemahaman mayoritas responden mengenai Tradisi Akademik adalah tradisi yang menjadi ciri khas kehidupan masyarakat akademik dengan menjalankan proses belajar-

Waktu pelaksanan tahlilan dan yasinan adalah setiap malam senin dan malan jum’at, dengan memberikan mauidloh khasanah insyaallah banyak masyarakat yang sebelumnya memiliki sifat akhlak

Jadi kecap pamili terucap ketika ada orang, baik dari masyarakat Kampung Naga maupun dari luar, ketika akan melakukan sesuatu yang dilarang atau ditabukan oleh tradisi setempat dalam