10 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Kerangka Teori
1. Tinjauan Umum tentang Anak
Anak adalah anugerah dari Tuhan Yang Maha Kuasa yang diberikan kepada setiap orang tua. Pada hakikatnya seorang anak harus dijaga dengan penuh kasih sayang dan perhatian dari orang tuanya serta anak wajib mendapat pendidikan setinggi-tingginya sehingga memiliki wawasan dan ilmu pengetahuan yang luas sebagai generasi penerus bangsa kelak dimasa depan. Selain itu seorang anak berhak mendapatkan kehidupan yang layak dari kedua orang tuanya. Anak juga merupakan amanah dari Tuhan sehingga anak perlu dididik dengan sebaik-baiknya supaya menjadi pribadi yang baik, berbakti kepada kedua orang tua, bermanfaat bagi orang lain, dan takut akan Tuhan karena orang tua tidak hanya bertanggung jawab di dunia namun kelak di akherat orang tua yang juga akan dimintai pertanggung jawaban atas anak yang sudah mereka rawat. Untuk itu sangat penting adanya pendidikan karakter diberikan kepada anak-anak sejak dini karena saat ini perkembangan zaman sudah jauh lebih maju serta pergaulan anak juga semakin bebas.
Dalam mengartikan pengertian anak sendiri banyak sumber seperti pendapat para ahli sampai peraturan perundang-undangan di Indonesia yang mendefiniskan apa itu anak. Pengertian tentang anak menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia sebagai berikut:
a. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak, Pasal 1 Ayat 2:
Anak adalah seseorag yang belum mencapai umur 21 tahun dan belum pernah menikah.
b. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak, Pasal 1 Ayat 1: commit to user
11
Anak adalah orang yang dalam perkara Anak Nakal telah mencapai umur 8 (delapan) tahun tetapi belum mencapai umur 18 (delapan belas) tahun dan belum pernah kawin.
c. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia, Pasal 1 Ayat 5:
Anak adalah setiap manusia yang berusia dibawah 18 (delapan belas) tahun dan belum menikah, termasuk anak yang masih didalam kandungan apabila hal tersebut adalah demi kepentingannya.
d. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, Pasal 1 Ayat 1:
Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kadungan.
e. Berdasarkan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, Pasal 330
Dalam Pasal 330 KUHPerdata berbunyi “ Belum dewasa adalah mereka yang belum mencapai umur genap 21 (dua puluh satu) tahun, dan lebih dahulu telah kawin.” Anak adalah seseorang yang belum dewasa dari bunyi pasal tersebut dapat diartikan bahwa anak atau seseorang yang belum dewasa adalah mereka yang belum berumur 21(dua puluh satu) tahun.
f. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, Pasal 42:
Anak yang sah adalah anak yang dilahirkan dalam atau sebagai akibat perkawinan yang sah.
2. Tinjauan Umum Tentang Hak Anak
Menurut Notonegoro, hak adalah sebuah kuasa untuk menerima atau melakukan suatu hal yang memang semestinya diterima atau dilakukan. Sama halnya dengan hak anak, setiap anak berhak untuk mendapatkan kehidupan yang layak, kasih sayang dari kedua orang tuanya, perlindungan dari bahaya serta mendapatkan pendidikan untuk commit to user
12
masa depannya Di Indonesia hak anak diatur dalam peraturan perundang- undangan. Berikut hak-hak anak yang diatur dalam peraturan perundang- undangan:
a. Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak:
1) Hak anak adalah bagian dari hak asasi manusia yang wajib dijamin, dilindungi, dan dipenuhi oleh orang tua, keluarga, masyarakat, pemerintah, dan negara (Pasal 1 Ayat 12)
2) Setiap anak berhak untuk dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara wajar sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi (Pasal 4)
3) Setiap anak berhak atas suatu nama sebagai identitas diri dan status kewarganegaraan (Pasal 5)
4) Setiap anak berhak untuk beribadah menurut agamanya, berpikir, dan berekspresi sesuai dengan tingkat kecerdasan dan usianya, dalam bimbingan orang tua (Pasal 6)
5) Setiap anak berhak untuk mengetahui orang tuanya, dibesarkan, dan diasuh oleh orang tuanya sendiri (Pasal 7 Ayat 1 )
6) Setiap anak berhak memperoleh pelayanan kesehatan dan jaminan sosial sesuai dengan kebutuhan fisik, mental, spiritual, dan sosial (Pasal 8)
7) Setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannya sesuai dengan minat dan bakatnya (Pasal 9 Ayat 1)
8) Selain hak anak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), khusus bagi anak yang menyandang cacat juga berhak memperoleh pendidikan luar biasa, sedangkan bagi anak yang memiliki keunggulan juga berhak mendapatkan pendidikan khusus (Pasal 9 Ayat 2) commit to user
13
9) Setiap anak berhak menyatakan dan didengar pendapatnya, menerima, mencari, dan memberikan informasi sesuai dengan tingkat kecerdasan dan usianya demi pengembangan dirinya sesuai dengan nilai-nilai kesusilaan dan kepatutan (Pasal 10) 10) Setiap anak berhak untuk beristirahat dan memanfaatkan waktu
luang, bergaul dengan anak yang sebaya, bermain, berekreasi, dan berkreasi sesuai dengan minat, bakat, dan tingkat kecerdasannya demi pengembangan diri (Pasal 11)
11) Setiap anak yang menyandang cacat berhak memperoleh rehabilitasi, bantuan sosial, dan pemeliharaan taraf kesejahteraan sosial (Pasal 12)
12) Setiap anak selama dalam pengasuhan orang tua, wali, atau pihak lain mana pun yang bertanggung jawab atas pengasuhan, berhak mendapat perlindungan dari perlakuan: 1. diskriminasi; 2.
eksploitasi, baik ekonomi maupun seksual; 3. penelantaran; 4.
kekejaman, kekerasan, dan penganiayaan; 5. ketidakadilan; dan 6.
perlakuan salah lainnya (Pasal 13 Ayat 1)
13) Setiap anak berhak untuk diasuh oleh orang tuanya sendiri, kecuali jika ada alasan dan/atau aturan hukum yang sah menunjukkan bahwa pemisahan itu adalah demi kepentingan terbaik bagi anak dan merupakan pertimbangan terakhir (Pasal 14) 14) Setiap anak berhak untuk memperoleh perlindungan dari : 1.
penyalahgunaan dalam kegiatan politik; 2. pelibatan dalam sengketa bersenjata; 3. pelibatan dalam kerusuhan sosial; 4.
pelibatan dalam peristiwa yang mengandung unsur kekerasan; dan 5. pelibatan dalam peperangan (Pasal 15)
15) Setiap anak berhak memperoleh perlindungan dari sasaran penganiayaan, penyiksaan, atau penjatuhan hukuman yang tidak manusiawi (Pasal 16 ayat Ayat 1)
16) Setiap anak berhak untuk memperoleh kebebasan sesuai dengan hukum (Pasal 16 Ayat 2) commit to user
14
17) Setiap anak yang dirampas kebebasannya berhak untuk : 1.
mendapatkan perlakuan secara manusiawi dan penempatannya dipisahkan dari orang dewasa; 2. memperoleh bantuan hukum atau bantuan lainnya secara efektif dalam setiap tahapan upaya hukum yang berlaku; dan 3. membela diri dan memperoleh keadilan di depan pengadilan anak yang objektif dan tidak memihak dalam sidang tertutup untuk umum (Pasal 17 Ayat 1) 18) Setiap anak yang menjadi korban atau pelaku kekerasan seksual
atau yang berhadapan dengan hukum berhak dirahasiakan (Pasal 17 Ayat 2)
19) Setiap anak yang menjadi korban atau pelaku tindak pidana berhak mendapatkan bantuan hukum dan bantuan lainnya (Pasal 18)
b. Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak yang terdapat pada Bab II, sebagai berikut:
1) Anak berhak atas kesejahteraan, perawatan, asuhan dan bimbingan berdasarkan kasih sayang baik dalam keluarganya maupun di dalam asuhan khusus untuk tumbuh dan berkembang dengan wajar (Pasal 2 Ayat 1)
2) Anak berhak atas pelayanan untuk mengembangkan kemampuan dan kehidupan sosialnya, sesuai dengan kebudayaan dan kepribadian bangsa, untuk menjadi warganegara yang baik dan berguna (Pasal 2 Ayat 2)
3) Anak berhak atas pemeliharaan dan perlidungan, baik semasa dalam kandungan maupun sesudah dilahirkan (Pasal 2 Ayat 3) 4) Anak berhak atas perlindungan terhadap lingkungan hidup yang
dapat membahayakan atau menghambat pertumbuhan dan perkembangannya dengan wajar (Pasal 2 Ayat 4)
5) Dalam keadaan yang membahayakan, anaklah yang pertama-tama berhak mendapat pertolongan, bantuan, dan perlindungan (Pasal 3) commit to user
15
6) Anak yang tidak mempunyai orang tua berhak memperoleh asuhan oleh negara atau orang atau badan (Pasal 4 Ayat 1)
7) Anak yang tidak mampu berhak memperoleh bantuan agar dalam lingkungan keluarganya dapat tumbuh dan berkembang dengan wajar (Pasal 5 Ayat 1)
8) Anak yang mengalami masalah kelakuan diberi pelayanan dan asuhan yang bertujuan menolongnya guna mengatasi hambatan yang terjadi dalam masa pertumbuhan dan perkembangannya (Pasal 6 Ayat 1)
9) Anak cacat berhak memperoleh pelayanan khusus untuk mencapai tingkat pertumbuhan dan perkembangan sejauh batas kemampuan dan kesanggupan anak yang bersangkutan (Pasal 7)
10) Bantuan dan pelayanan, yang bertujuan mewujudkan kesejahteraan anak menjadi hak setiap anak tanpa membeda-bedakan jenis kelamin, agama, pendirian politik, dan kedudukan sosial (Pasal 8) 3. Tinjauan Tentang Pengangkatan Anak
a. Pengangkatan Anak
Pengangkatan anak atau anak angkat sering dikenal dengan adopsi. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adopsi diartikan sebagai anak orang lain yang diambil dan disamakan dengan anaknya sendiri. Berdasarkan pengertian tersebut, dengan melakukan pengangkatan anak (adopsi) berarti orang tua tersebut memiliki hak atas anak angkat mereka dan berkewajiban memenuhi hak anak tersebut seperti layaknya anak kandung mereka. Pengertian anak angkat juga dijelaskan didalam peraturan perundang-undangan sebagai berikut:
1) Berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 54 Tahun 2007 Tentang Pelaksanaan Pengangkatan Anak, Pasal 1 Ayat 1:
Anak angkat adalah anak yang haknya dialihkan dari lingkungan kekuasaan keluarga orang tua, wali yang sah, atau orang lain yang commit to user
16
bertanggung jawab atas perawatan, pendidikan, dan membesarkan anak tersebut, ke dalam lingkungan keluarga orang tua angkatnya berdasarkan keputusan atau penetapan pengadilan.
2) Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak, Pasal 1 Ayat 9:
3) Anak angkat adalah anak yang haknya dialihkan dari lingkungan kekuasaan keluarga orang tua, wali yang sah, atau orang lain yang bertanggung jawab atas perawatan, pendidikan, dan membesarkan anak tersebut, ke dalam lingkungan keluarga orang tua angkatnya berdasarkan putusan atau penetapan pengadilan.
4) Berdasarkan Kompilasi Hukum Islam, Pasal 171 (h):
5) Anak angkat adalah anak yang dalam pemeliharaan untuk hidupnya sehari-hari, biaya pendidikan dan sebagainya beralih tanggung jawabnya dari orang tua asal kepada orang tua angkatnya berdasarkan putusan Pengadilan.
6) Tujuan dari dilaksanakannya pengangkatan anak dimuat dalam Pasal 2 Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 54 Tahun 2007 tentang Pelaksanaan Pengangkatan Anak yaitu Pengangkatan anak bertujuan untuk kepentingan terbaik bagi anak dalam rangka mewujudkan kesejahteraan anak dan perlindungan anak, yang dilaksanakan berdasarkan adat kebiasaan setempat dan ketentuan peraturan perundang-undangan. Pengangkatan anak tidak hanya berasal dari Panti Asuhan namun juga bisa langsung dari orang tua kandung anak tersebut. Sehingga melalui pengangkatan anak tersebut tidak akan memutuskan hubungan darah antara orang tua kandung anak tersebut.
b. Regulasi Pengangkatan Anak
Pengangkatan anak merupakan salah satu peristiwa penting dalam administrasi kependudukan. Dalam pelaksanaannya pengangkatan anak berkaitan langsung dengan kehidupan seorang anak angkat (adopsi) tersebut. Untuk itu pemerintah mengatur tentang commit to user
17
pengangkatan anak dalam peraturan perundang-undangan sebagai berikut:
a. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak
b. Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Pengadilan Agama c. Kompilasi Hukum Islam
d. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 54 Tahun 2007 Tentang Pelaksanaan Pengangkatan Anak
e. Surat Edaran Mahkamah Agung Republik Indonesia (SEMA) Nomor 2 Tahun 1979 tentang Pengangkatan Anak
f. Surat Edaran Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2005 tentang Pengangkatan Anak
commit to user
18 Prosedur
Pengangkatan Anak di Disdukcapil Kota
Surakarta B. Kerangka Pemikiran
Gambar 1: Kerangka Pemikiran
Keterangan:
Kerangka pemikiran merupakan suatu konsep yang digunakan untuk menentukan alur dari suatu penelitian berdasarkan permasalahan yang akan diteliti penulis. Dari penelitian tersebut diharapkan dapat mengarah pada
Akibat Hukum yang ditimbulkan Sesudah adanya Pengangkatan
Anak Regulasi
Pelayanan Adminduk di Dinas Kependudukan
dan Pencatatan Sipil Kota Surakarta
Nasab Terhadap Anak
Angkat
Hak Waris Terhadap
Anak Angkat
commit to user
19
suatu hipotesis atau jawaban sementara yang akan menentukan alternatif solusi dari permasalahan yang diteliti sehingga hasil penelitian dapat tercapai sesuai dengan apa yang diharapkan.
Kerangka pemikiran diatas menjelaskan bagaiaman alur dari penulis dalam menejelaskan dan menjabarkan serta menelaah permasalahan yang diteliti sehingga dapat ditemukan suatu kesimpulan dan jawaban atas permasalahan yang diteliti.
commit to user