• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III PERANCANGAN BANGUNAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB III PERANCANGAN BANGUNAN"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

Universitas Kristen Petra 27

BAB III

PERANCANGAN BANGUNAN

3.1 DESKRIPSI PROYEK

Dengan berlokasi di kota kupang, penyediaan fasilitas di pantai Lasiana, Kupang-NTT dapat menyediakan fasilitas-fasilitas yang dapat melengkapi kebutuhan pengunjung yang berwisata ke pantai Lasiana, Kupang-NTT.

Adapun fasilitas-fasilitas yang termasuk di dalam penyediaan fasilitas di pantai Lasiana, Kupang-NTT antara lain;

Lobby : Penerima dan tempat pembelian tiket masuk.

Food court : Menyediakan tempat makanan dan minuman khas Lasiana, Kupang dengan harga yang terjangkau.

• Serba Guna : Menyediakan fasilitas untuk mengadakan acara bersama.

Penikmat View : Menyediakan tempat untuk menfasilitasi pengunjung yang ingin menikmati pemandangan pantai.

Retail : Menyediakan restaurant dan retail-retail yang menyediakan tempat yang menjual oleh-oleh khas Kupang ataupun Lasiana.

• Area Rekreasi Anak: Menyediakan fasilitas bermain untuk anak-anak

• Area Rekreasi Air : Menyediakan permainan air bagi pengunjung.

• Fasilitas SPA : Menyediakan fasilitas SPA indoor maupun outdoor untuk kebutuhan pengunjung yang sekedar ingin bersantai atau melepas lelah.

Restaurant : Menyediakan tempat makanan dan minuman lokal maupun internasional.

Cottage : Menyediakan tempat bermalam untuk wisatawan lokal maupun mancanegara yang ingin bermalam di pantai Lasiana.

• Jalan Pesisir : Menyediakan fasilitas bagi pejalan kaki yang ingin menikmati suasana pantai, yang berawal dari rencana pemerintah kota kupang yang akan membangun jalan pesisir di sepanjang zona pantai yang ada di Kupang.

(2)

Universitas Kristen Petra 28

3.2 KONSEP DESAIN

Kerangka Berpikir Dalam Desain

Bermula dari latar belakang, dengan masalah yang ada di kawasan pariwisata pantai lasiana, Kupang-NTT, kemudian penulis mendesain proyek Penyediaan Fasilitas Hiburan dan Sarana Rekreasi Pantai di Lasiana, Kupang.

Kemudian beranjak dari masalah dan analisa penulis menemukan konsep, kemudian menentukan pendekatan vernakular kontemporer, pendalaman budanya NTT, prograam ruang yang dibantu oleh referensi, untuk membentuk desain pada bangunan.

Gambar 3.1. Kerangka Berpikir Sumber: Dokumen Pribadi, Juli 2011.

Konsep Ide

Konsep ide pada desain yaitu Sumber, dimana mengibaratkan pantai Lasiana sebagai sumber, dimana sumber-sumber yang dimaksud berhubungan dengan dengan potensi yang ada di pantai Lasiana, antara lain sebagai sumber

(3)

Universitas Kristen Petra 29

Pariwisata, sumber tempat untuk mencari nafkah bagi warga Lasiana, Kupang, selain itu juga sebagai sumber hiburan bagi warga Lasiana.

3.3 LUASAN RUANG

Beberapa ruang yang diperlukan dalam penyediaan fasilitas di pantai Lasiana, Kupang-NTT antara lain;

3.3.1. Lobby

Tabel 3.1. Luasan Lobby

No Jenis Ruang Standart Jumlah Luasan

1 Lobby 1 x 275 275 m2

Lobby dan front

desk 20 m2 1 20 m2

Receptionist 10 m2 1 10 m2

Front office room 225 m2 5 45 m2

total ruang Lobby yang diperlukan pada fasilitas Lobby adalah 275 m2

2 Servis 1 x 55 m2 55 m2

Toilet Wanita 25 m2 1 25 m2

Toilet Pria 25 m2 1 25 m2

Gudang 5 m2 1 5 m2

total ruang servis yang diperlukan pada fasilitas Lobby adalah 55 m2 Total luasan Lobby 275 m2 + 55 m2 = 330 m2

Sumber: Dokumen Pribadi, Desember 2011.

3.3.2. Food Court

Tabel 3. 2. Luasan Food Court

No Jenis Ruang Standart Jumlah Luasan

1 Food Court 1 x 820 m2 820 m2

Ruang 1 136 m2 8 17 m2

Ruang 2 80 m2 8 10 m2

Dapur 3 m2 1 3 m2

(4)

Universitas Kristen Petra 30

Sirkulasi dan Area

Duduk 600 m2 1

600 m2 total ruang food court yang diperlukan pada fasilitas food court

adalah 820 m2

2 Servis 1 x 25 m2 55 m2

WC/Toilet

100 m2 2 unit (Prian

dan Wanita) 50 m2

Washtafel 25 m2 5 unit 5 m2

total ruang servis yang diperlukan pada fasilitas food court adalah 55 m2

Total keseluruhan ruang fasilitas food court adalah 820m2+55 m2 = 875 m2

Sumber: Dokumen Pribadi, Desember 2011.

3.3.3. Serbaguna

Tabel 3.3. Luasan Serba Guna

No Jenis Ruang Standart Jumlah Luasan

Serba Guna 1 x 490 m2 490 m2

Kantor Pengelola 27,75 m2 1 27,75 m2

Lobby 35 m2 1 35 m2

KM/WC 10 m2 1 10 m2

Audiovisual 30 m2 2 15 m2

Ruang Multi Fungsi

100 m2 1 100 m2

Gudang 25 m2 1 25 m2

total ruang yang diperlukan pada fasilitas Serba Guna adalah 490 m2 Total luasan Serba Guna 490 m2

Sumber: Dokumen Pribadi, Desember 2011.

(5)

Universitas Kristen Petra 31

3.3.4. Bangunan Penikmat View

Tabel 3.4. Luasan Bangunan Penikmat View

No Jenis Ruang Standart Jumlah Luasan

Bangunan

Penikmat View 2 x 351 m2 702 m2

lantai 1 180 m2 1 180 m2

lantai 2 86 m2 1 86 m2

lantai 3 43 m2 1 43 m2

Retail 8 m2 2 4 m2

KM/WC + Sirkulasi

23 m2 2 10 m2

Gudang 11 m2 1 11 m2

total ruang Bangunan Penikmat View yang diperlukan pada fasilitas Bangunan Penikmat View adalah 351 m2

Total luasan Bangunan Penikmat View 702 m2 Sumber: Dokumen Pribadi, Desember 2011.

3.3.5. Retail

Tabel 3.5. Luasan Retail

1 Retail 1 x 1.202 m2 150 m2

Retail 1 324 m2 12 27 m2

Retail 2 678 m2 12 56,5 m2

Balkon 200 m2 1 200 m2

total ruang retail yang diperlukan pada fasilitas Retail adalah 1.202 m2

2 Servis 6 x 20 m2 120 m2

Toilet 20 m2 2 10 m2

Washtafel 5 m2 1 5 m2

Gudang 5 m2 1 5 m2

total ruang servis yang diperlukan pada fasilitas Retail adalah 20m2 Total keseluruhan ruang fasilitas Retail adalah 1.202 m2 + 120 m2 =

(6)

Universitas Kristen Petra 32

1222 m2

Sumber: Dokumen Pribadi, Desember 2011.

3.3.6. Fasilitas SPA

Tabel 3.6. Luasan Fasilitas SPA

Fasilitas SPA 1 x 316,5 316,5 m2

Resepsionis 87 m2 1 87 m2

Ruang SPA

Outdoor 8,5 m2 1 8,5 m2

Kamar SPA 200 m2 8 25 m2

Toilet 21 m2 1 21 m2

total ruang fasilitas SPA yang diperlukan pada fasilitas SPA adalah 316,5 m2

Total luasan Fasilitas SPA adalah 316,5 m2 Sumber: Dokumen Pribadi, Desember 2011.

3.3.7. Cottage

Tabel 3.7. Luasan Cottage

No Jenis Ruang Standart Jumlah Luasan

Cottage 7 x 65 m2 455 m2

Kamar Tidur 20 m2 1 20 m2

KM/WC 10 m2 1 10 m2

Ruang Duduk 10 m2 1 10 m2

Balkon (depan dan

belakang) 25 m2 1 25 m2

total ruang Cottage yang diperlukan pada fasilitas cottage adalah 65 m2

Total luasan cottage 455 m2

Sumber: Dokumen Pribadi, Desember 2011.

(7)

Universitas Kristen Petra 33

3.3.8. Restaurant

Tabel 3.8. Luasan Restaurant

No Jenis Ruang Standart Jumlah Luasan

1 Restaurant 1 x 531 m2 530m2

Tempat Makan 230 m2 1 230 m2

Kasir 6 m2 1 6 m2

Ruang makan Outdoor

250 m2 1 250 m2

Dapur 45 m2 1 45 m2

total ruang restaurant yang diperlukan pada fasilitas Restaurant dan adalah 531 m2

2 Servis 6 x 20 m2 120 m2

Toilet 20 m2 2 10 m2

Washtafel 5 m2 1 5 m2

Gudang 5 m2 1 5 m2

total ruang servis yang diperlukan pada fasilitas Restaurant adalah 120 m2

Total keseluruhan ruang Fasilitas Restaurant adalah 530m2 + 120 m2 = 650 m2

Sumber: Dokumen Pribadi, Desember 2011.

3.3.9. Area Bermain anak

Tabel 3.9 Luasan Area Bermain Anak

No Jenis Ruang Standart Jumlah Luasan

1 Area Bermain Anak 1 x 320 m2 32 m2

Total keseluruhan ruang fasilitas area wisata anak adalah 320 m2 Sumber: Dokumen Pribadi, Desember 2011.

3.3.10. Area Rekreasi Air

Tabel 3.10. Luasan Rekreasi Air

No Jenis Ruang Standart Jumlah Luasan

(8)

Universitas Kristen Petra 34

Dermaga 1 x 180 m2 180 m2

Ruang Tunggu 85 m2 1 85 m2

Sirkulasi 95 m2 1 95 m2

total ruang yang diperlukan pada fasilitas dermaga adalah 180 m2 Total luasan dermaga 180 m2

Sumber: Dokumen Pribadi, Desember 2011.

3.3.11. Lopo atau Gasebo

Tabel 3.11. Luasan Lopo atau Gasebo

No Jenis Ruang Standart Jumlah Luasan

Lopo 25 x 16,5 m2 412,5 m2

Lopo 16,5 m2

total ruang yang diperlukan pada fasilitas lopo adalah 16,5 m2 Total luasan Lopo 412,5 m2

Sumber: Dokumen Pribadi, Desember 2011.

3.3.12. Ruang Ganti

Tabel 3.12. Luasan Ruang Ganti

No Jenis Ruang Standart Jumlah Luasan Ruang Ganti

Keseluruhan

3 x 78,5 m2 235,5 m2

1 Ruang Ganti Pria 16 m2 4 4 m2

2 Ruang Ganti Wanita

16 m2 4 4 m2

Sirkulasi 46,5 m2 2 23,25 m2

total ruang yang diperlukan pada Ruang Ganti adalah 78,5 m2 Total luasan Ruang Ganti 235,5 m2

Sumber: Dokumen Pribadi, Desember 2011.

3.3.13. Servis

Tabel 3.13. Luasan Servis

No Jenis Ruang Standart Jumlah Luasan

Servis 117 m2 117 m2

Ruang Genset 2 77 m2

(9)

Universitas Kristen Petra 35

Ruang Pompa 60 m2 3 20 m2

Ruang Travo 20 m2 1 20 m2

total ruang yang diperlukan pada fasilitas servis adalah 117 m2 Total luasan servis 117 m2

Sumber: Dokumen Pribadi, Desember 2011.

Jadi, total keseluruhan dari luasan ruang yang di desain adalah 330 m2 + 875 m2 + 490 m2 + 702 m2+ 1222 m2+ 316,5 m2+ 455 m2+ 650 m2 + 320 m2 + 180 m2 + 412,5 m2 + 235,5 m2 + 117m2 = 6.305,5 m2

3.4 Pendekatan Desain

Berdasarkan rumusan masalah yang sudah diutarakan yaitu keinginan penulis unuk menyediakan fasilitas bagi wisatawan tanpa harus menghilangkan identitas dari budaya Nusa Tenggara Timur, maka melalui pendekatan Pendekatan Vernakular Kontemporer, penulis mencoba menginterpretasikan bangunan yang selain dapat menampung, mewadai, atau menfasilitasi kebutuhan bagi para pengunjung juga tetap mampu memberi nuansa Nusa Tenggara Timur di dalam desain.

Dengan melihat masalah desain yang ada maka penulis menggunakan pendekatan vernakular kontemporer, yaitu menggunakan bentukan dari Rumah Adat Provinsi Nusa Tenggara Timur yang berada di Wae Rebo yang bernama Mbaru Niang sebagai titik awal dari bentukan bangunan yang ada.

Gambar 3.2. Rumah adat Wae Rebo Gambar 3.2. Kerangka Berpikir Sumber: Wae Rebo, 2010 Sumber: Wae Rebo, 2010

(10)

Universitas Kristen Petra 36

Menggunakan bentuk rumah tradisional daerah yang terletak di kampung Satar Lenda, kecamatan Satar Mese Barat, Kabupaten Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur yang kemudian ditransformasikan ke dalam bentuk desain bangunan yang ada pada tapak. Dimana bentukan dasar awal diambil dari bentuk asli rumah adat Mbaru Niang (rumah bundar berbentuk kerucut).

Transformasi yang terjadi pada desain.

Transformasi pada bangunan Utama yang berfungsi sebagai bangunan penikmat view, dimana transformasi yang terjadi dan menciptakan bentukan bangunan yang terdiri dari unsur solid dan void disesusaikan dengan fungsi bangunan itu sendiri, yaitu sebagai penikmat view, agar memaksimalkan view pengunjung yang ingin menikmati view ke arah pantai maupun ke dalam site.

Gambar 3.4. transformasi awal Gambar 3.5. Transformasi akhir Sumber: Dokumen Pribadi, July 2011. Sumber: Dokumen Pribadi, July 2011.

Transformasi yang terjadi pada akses masuk, disesuaikan dengan fungsi bangunan. Selain itu, transformasi juga digunakan pada atap bangunan yang tinggi, dengan memanfaatkannya sebagai lantai ke dua pada bangunan selain itu juga digunakan sebagai balkon pada bangunan.

Gambar 3.6. Transformasi awal Gambar 3.7. Transformasi akhir Sumber: Dokumen Pribadi, July 2011. Sumber: Dokumen Pribadi, July 2011.

Penambahan unsur kotak maupun pemanfaatan balkon, disesuaikan dengan fungsi bangunan yang ada dalam desain. Selain itu unsur vertikal yang ada pada

(11)

Universitas Kristen Petra 37

bangunan rumah adat Wae Rebo, ditransformasikan ke dalam desain pada bangunan yang digunakan sebagai cladding atau sun shading pada bangunan.

Gambar 3.8. Transformasi awal Gambar 3.9. Transformasi akhir Sumber: Dokumen Pribadi, July 2011. Sumber: Dokumen Pribadi, July 2011.

Menggunakan sistem transformasi dengan cara memotong, menggunakan bentuk dasar dari rumah adat yaitu bundar kemudian mentransformasikannya menjadi bentukan akhir yaitu bentuk setengah lingkaran.

Gambar 3.10. Transformasi Awal Gambar 3.11. Teknik Pemotongan Sumber: Dokumen Pribadi, July 2011. Sumber: Dokumen Pribadi, July 2011.

Gambar 3.12. Transformasi Akhir Sumber: Dokumen Pribadi, July 2011.

(12)

Universitas Kristen Petra 38

Menggunakan sistem transformasi dengan cara memotong, menggunakan bentuk dasar dari rumah adat yaitu bundar kemudian mentransformasikannya menjadi bentukan akhir yaitu bentuk segi lima.

Gambar 3.13. Transformasi Awal Gambar 3.14. Teknik Pemotongan Sumber: Dokumen Pribadi, July 2011. Sumber: Dokumen Pribadi, July 2011.

Gambar 3.15. Transformasi Akhir Sumber: Dokumen Pribadi, July 2011.

Bentuk dari transformasi akhir yang terjadi pada bangunan kemudian diterapkan ke dalam desain sesuai dengan fungsi bangunnan yang ada.

3.5 Pendalaman Desain

Pendalaman yang di terapkan pada perancangan adalah Pendalaman Budaya dari Nusa Tenggara Timur yaitu, budaya Wae Rebo. Hal ini disebabkan karena keinginan penulis untuk mampu menfasilitasi dan memberikan kesan yang sesuai dengan kepribadian dari Nusa Tenggara Timur ke dalam desain.

(13)

Universitas Kristen Petra 39

Gambar 3.16. Kerangka Rumah Adat Gambar 3.17. Kerangka Ladang Sumber: Wae Rebo, 2010 Sumber: Wae Rebo, 2010

Struktur dari rumah adat Wae Rebo, diambil dari bagaimana cara nenek moyang mereka membagi lahan. Selain itu juga, Rumah adat, rumah adat tersebut juga disusun agar berada ditengah kemudian rumah warga yang lainnya yang berada disekitar rumah utama (rumah adat) mengelilingi. sehingga rumah utama tersebut menjadi pusat dan orientasi dari rumah-rumah lainnya.

Gambar 3.18. Sumber pada Desain Gambar 3.19. Arah dan Sumber Sumber: Dokumen Pribadi, Desember 2011. Sumber: Dokumen Pribadi, Desember 2011

Bangunan yang didesain menerapkan letak dan sirkulasi dari budaya rumah adat Nusa Tenggara Timur, susunan masa yang terpusat mengarah ke tengah sumber-sumber yang ada di dalam desain, sesuai dengan peletakan rumah adat dan rumah-rumah sekitarnya di yang pada budaya rumah adat Wae Rebo yang ada pada provinsi Nusa Tenggara Timur, dimana semua rumah yang ada mengelilingi dan berpusat pada rumah adat yang berada di tengah lahan.

(14)

Universitas Kristen Petra 40

Selain itu juga desain menggunakan material yang sesuai atau senada dengan material asli dari rumah adat Wae Rebo yang berada di Nusa Tenggara Timur.

Gambar 3.20. Tingkatan Rumah Adat Gambar 3.21. Desain Bangunan Sumber: Wae Rebo, 2010 Sumber: Dokumen Pribadi, Desember 2011

Rumah adat ini, memiliki lima tingkat dengan fungsi sendiri-sendiri, antara lain;

• Tingkat pertama adalah Lutur atau Tenda yang akan ditempati masyarakat.

• Tingkat Dasar adalah Lobo (Loteng) yang berfungsi sebagai tempat tinggal.

• Tingkat Kedua adalah Lentar berfungsi untuk menyimpan makanan sehari- hari.

• Tingkat Ketiga adalah Lempa Rae berfungsi sebagai tempat stok makanan cadangan.

• Tingkat Keempat adalah hekang Kode yang berfungsi untuk menyimpan benih-benih untuk padi atau jagung.

• Tingkat Kelima adalah Kilikiang yang langkar berfungsi untuk menyimpan sesajian buat leluhur.

Sedangkan untuk material yang dipakai menggunakan material bambu, kayu, jerami, dan ijuk, dimana semua bahannya masih sangat alami. Lima Tingkat yang ada dalam kebudayaan Rumah adat Mbaru Niang tersebut ditransformasikan ke dalam desain bangunan, dan juga disesuaikan dengn fungsi bangunan tersebut, yang kemudian tercipta desain bangunan seperti gambar diatas.

(15)

Universitas Kristen Petra 41

3.6 Zooning Bangunan

Zooning yang ada dibagi 4 dalam zona, yaitu zona publik, zona semi publik, zona servis, zona semi privat.

Berikut ini adalah pembagian fasilitas ke dalam zona-zona yang ada di dalam desain;

3.6.1 Zona Publik

Yang tergolong dalam zona publik antara lain bangunan lobby dan Bangunan Serba Guna yang dapat diakses oleh pengunjung luar dimana fungsinya sangat umum.

3.6.2 Zona Semi Publik

Yang tergolong dalam zona semi public merupakan fasilitas yang ada, antara lain; food court, retail, ruang ganti, Fasilitas SPA, area rekreasi air, dan Area Rekreasi Anak.

3.6.3 Zona Semi Private

Yang tergolong dalam zona semi privat merupakan fasilitas yang membutuhkan ketenangan, yaitu fasilitas cottage yang dapat digunakan pengunjung untuk bermalam di dalam fasilitas ini.

3.6.4 Zona Servis

Yang tergolong dalam zona servis merupakan ruang genset, ruang servis untuk fasilitas cottage, ruang pompa, PLN, dan lain sebagainya.

3.7 Hubungan Antar Ruang

Gambar 3.22. Hubungan Antar Ruang Sumber: Dokumen Pribadi. Desember 2011.

(16)

Universitas Kristen Petra 42

Pembagian zona dapat dilihat sesuai dengan warna, yaitu Ungu : Zona Publik

Biru : Zona Semi Publik Merah Muda : Zona Semi Privat Kuning : Zona Servis

3.8 Pola Penataan Masa Bangunan

Pola penataan masa bangunan pada awalnya mengambil tataan dari konsep desain itu sendiri yaitu sumber, dimana ada tiga sumber yang dijadikan pusat orientasi pada bangunan, sedangkan masa-masa bangunan yang lainnya mengelilingi ketiga sumber tersebut.

Gambar 3.23. Sumber pada Desain Gambar 3.24. Alur pada Desain Sumber: Dokumen Pribadi, Desember 2011. Sumber: Dokumen Pribadi, Desember 2011

Alur yang terjadi pada bangunan ditransformasikan melalui buada yang ada pada Wae Rebo, dimana alur yang ada pada desain yang berkelok-kelok menampilkan sirkulasi yang sangat panjang dan tidak lurus untuk mendapatkan rumah adat Wae Rebo.

Masa disusun berdasarkan kebutuhan ruang dan zona yang ada, dimulai dengan daerah awal masuk yaitu loby, food court, retail, Area Rekreasi, Serba Guna merupakan bagian dari zona semi publik, sedangkan untuk bagian penginapan dan fasilitanya merupakan daerah zona semi privat.

3.9 Bentuk dan Tampilan Massa Nangunan

Bentuk dan tampilan dari desain yang dihadirkan merupakan bentukan yang ditransformasikan dari bentuk rumah adat NTT, Mbaru Niang.

(17)

Universitas Kristen Petra 43

Gambar 3.25. Tampak Utara Sumber: Dokumen Pribadi. Desember 2011.

Gambar 3.26. Tampak Timur

Sumber: Dokumen Pribadi. Desember 2011.

Gambar 3.27. Tampak Selatan

Sumber: Dokumen Pribadi. Desember 2011.

Gambar 3.28. Tampak Barat

Sumber: Dokumen Pribadi. Desember 2011.

Gambar 3.29. Tampak Barat Laut

Sumber: Dokumen Pribadi. Desember 2011.

(18)

Universitas Kristen Petra 44

3.10 Sistem Struktur

Struktur penupang bangunan terdiri dari 12 kolom utama Penyaluran beban yang terjadi yaitu; beban yang diterima di masing-masing lantai diteruskan melalui balok lantai lalu kemudian di salurkan ke kolom lalu ke pondasi.

Gambar 3.30. Aksonometri 1 Gambar 3.31. Aksonometri 2 Sumber: Dokumen Pribadi. Desember 2011. Sumber:Dokumen Pribadi. Desember 2011

Gambar 3.32. Aksonometri 3 Gambar 3.33. Aksonometri 4 Sumber: Dokumen Pribadi. Desember 2011. Sumber:Dokumen Pribadi. Desember 2011

Struktur bangunan menggunakan kayu kelapa dengan ukuran diameter 40 cm, sedangkan untuk struktur atapnya menggunakan bambu sebagai penerapan dari struktur rumah adat Wae Rebo itu sendiri dan juga sebagai pengganti reng.

3.11 Sistem Pencahayaan

Sistem pencahayaan pada bangunan menggunakan sistem pencahayaan alami, dimana ruang-ruang yang ada dalam bangunan didesain agar mampu

(19)

Universitas Kristen Petra 45

memperoleh cahaya langsung, sedangkan untuk malam hari menggunakan sistem pencahayaan buatan.

3.12 Sistem Penghawaan

Pada bangunan lobby, food court, bangunan Penikmat view, retail, rumah SPA outdoor, dan cottage menggunakan sistem penghawaan alami, agar pengunjung atau wisatawan yang datang benar-benar merasakan suasana pantai

Pada bangunan lobby, food court, restaurant, penikmat view, retail, rumah SPA outdoor menggunakan permainan tampak yang terbuat dari bambu dan juga unsur solid dan void sehingga penghawaan yang terjadi di dalam bangunan tersebut dapat berjalan dengan baik.

Pada bangunan serba guna, restaurant, dan Fasilitas SPA menggunakan penghawaan buatan air conditioner, hal ini dimaksutkan untuk memberikan kenyamanan pada pengunjung yang datang.

3.13 Sistem Utilitas

Sistem utilitas air bersih pada bangunan menggunakan tandon bawah, untuk pembuangan dari kamar mandi menggunakan septitank yang terdapat di dekat bangunan. Sedangkan untuk menjaga kebersihan pada danau, air yang ada di danau difilter setiap bulannya.

Gambar 3.34. Utilitas Bangunan Sumber: Dokumen Pribadi, Desember 2011.

Gambar

Gambar 3.1. Kerangka Berpikir  Sumber: Dokumen Pribadi, Juli 2011.
Tabel 3.1. Luasan Lobby
Tabel 3.3. Luasan Serba Guna
Tabel 3.5. Luasan Retail
+7

Referensi

Dokumen terkait

7 Penelitian ini akan melihat bagaimana strategi pengelolaan pemandian alam berbasis masyarakat di sumber maron, wisata yang memberikan nilai lebih,

Kedua, strategi tindak tutur ilokusioner yang paling sering digunakan dalam rubrik pojok Mang Usil adalah strategi bertutur samar-samar dan bertutur terus-terang dengan

Hasil uji menunjukkan bahwa ekstrak metanol memiliki nilai LC50 0,59 ppm sedangkan ekstrak n-heksana dengan nilai LC 50 1122,02 ppm, ini menunjukkan bahwa ekstrak

Dari pengetahuan materi prasyarat ini, siswa mampu membuat perencanaan dan melaksanakan perencanaan yang dibuat secara tepat tetapi tidak bisa membedakan

Pada saat D-panthenol diaplikasikan pada permukaan kulit maka D- panthenol akan berpenetrasi ke dalam epidermis dan diubah menjadi asam pantotenat (vitamin B5) yang merupakan

Dari 153 UKM yang dalam menjalankan usahanya melakukan kegiatan manajemen pengetahuan yang dibantu dengan teknologi informasi, baik untuk pelaku UKM dalam hal ini

Dalam rangka pelaksanaan tugas dan kewenangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 dan Pasal 5, Ketua TWUP4 dan/atau Ketua Bidang dapat menghadiri rapat pimpinan

[r]