• Tidak ada hasil yang ditemukan

Surat Edaran Dirjen Pajak, SE - 17/PJ.4/1995

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Surat Edaran Dirjen Pajak, SE - 17/PJ.4/1995"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

23 Maret 1995

SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR SE - 17/PJ.4/1995

TENTANG

PPh ATAS HADIAH UNDIAN (SERI PPh UMUM NOMOR 7) DIREKTUR JENDERAL PAJAK,

Sehubungan dengan telah ditetapkannya Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 42 Tahun 1994 tentang Pajak Penghasilan atas Hadiah Undian, dan Keputusan Menteri Keuangan RI Nomor : 639/KMK.04/1994 tentang Tata Cara Pemotongan atau Pemungutan, Penyetoran, dan Pelaporan Pajak Penghasilan atas Hadiah Undian, untuk pelaksanaannya diberikan petunjuk sebagai berikut :

1.

Sesuai dengan penjelasan Pasal 1 Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 1994, yang dimaksud dengan hadiah undian adalah hadiah dengan nama dan dalam bentuk apapun yang diterima atau diperoleh orang pribadi atau badan yang pemberiannya melalui cara undian.

2.

Penyelenggara undian adalah orang pribadi, badan, kepanitian, organisasi atau penyelenggara lainnya baik yang telah ataupun yang belum memperoleh ijin Departemen Sosial termasuk pengusaha yang menjual barang atau jasa yang memberikan hadiah dengan cara diundi, misalnya bank, supermarket, toko, perusahaan, panitia penarikan undian dan sebagainya.

3.

Kewajiban penyelenggara undian.

(2)

3.1. Penyelenggara undian wajib memotong atau memungut Pajak Penghasilan atas hadiah undian

sebesar 20%

(dua puluh persen) dari jumlah bruto yang

dibayarkan atau apabila hadiah

tersebut berupa natura dan/atau kenikmatan dari nilai pasar natura dan/atau kenikmatan tersebut.

Pemotongan Pajak Penghasilan tersebut bersifat final.

Dokumen ini diketik ulang dan diperuntukan secara eksklusif untuk www.ortax.org dan TaxBase, 2022

(3)

dan

pemungutan Pajak Penghasilan seperti

tersebut pada butir 3.1 dilakukan oleh

penyelenggara undian sebelum hadiah tersebut dibayarkan, atau apabila hadiah

tersebut berbentuk natura dan/atau kenikmatan sebelum hadiah tersebut diserahkan kepada pemenang undian.

(4)

3.3. Penyelenggara undian selaku pemotong atau pemungut Pajak Penghasilan atas hadiah undian wajib membuat dan memberikan bukti pemotongan atau

pemungutan Pajak Penghasilan atas hadiah undian untuk setiap

pembayaran atau

penyerahan hadiah

undian, dalam 3 rangkap yang

diperuntukkan :

- Lembar ke 1 : untuk Penerima hadiah undian.

- Lembar ke 2 : untuk Kantor Pelayanan Pajak.

- Lembar ke 3 : untuk Pemotong atau Pemungut Pajak.

Dokumen ini diketik ulang dan diperuntukan secara eksklusif untuk www.ortax.org dan TaxBase, 2022

(5)

bulan dibayarkan atau

diserahkannya hadiah undian, pemotong atau pemungut harus membuat daftar pemotongan atau

pemungutan Pajak Penghasilan bulan yang bersangkutan, dan

menyetorkan Pajak Penghasilan yang

dipotong atau dipungut tersebut dengan Surat Setoran Pajak (SSP) Final ke bank persepsi atau Kantor Pos dan Giro selambat- lambatnya tanggal 10 bulan

berikutnya.

(6)

3.5. Pemotong atau pemungut wajib melaporkan Pajak Penghasilan yang telah dipotong atau dipungut dan disetorkan tersebut kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak setempat selambat- lambatnya tanggal 20 bulan

berikutnya setelah bulan dibayarkan atau

diserahkannya hadiah undian dengan menggunakan formulir Surat Pemberitahuan Masa Pajak Penghasilan atas hadiah undian seperti contoh

terlampir.

Dokumen ini diketik ulang dan diperuntukan secara eksklusif untuk www.ortax.org dan TaxBase, 2022

(7)

atau pemungut yang tidak atau tidak sepenuhnya melakukan kewajiban pemotongan atau

pemungutan, penyetoran, dan pelaporan Pajak

Penghasilan atas hadiah undian

sebagaimana dimaksud pada butir 3.1 sampai dengan 3.5 di atas

dikenakan sanksi sesuai dengan ketentuan dalam Undang- undang Nomor 6 Tahun 1983 sebagaimana telah diubah dengan Undang- undang Nomor 9 Tahun 1994.

4. Kewajiban Kantor Pelayanan Pajak.

4.1. Melakukan inventarisasi terhadap para penyelenggara undian dengan menghubungi

(8)

4.2. Melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan pemotongan atau pemungutan, penyetoran dan pelaporan Pajak Penghasilan atas hadiah undian yang dilakukan oleh penyelenggara undian.

4.3. Menatausahakan

penyetoran dan pelaporan Pajak Penghasilan atas hadiah undian dengan cara :

a. Membuat buku pengawasan Pajak Penghasilan atas hadiah undian, pada Seksi

Pemotongan dan

Pemungutan Pajak Penghasilan;

b. Menatausahakan Surat Setoran Pajak Pajak Penghasilan atas hadiah undian sesuai ketentuan TUPRP;

c. Menatausahakan SPT masa Pajak

Penghasilan atas hadiah undian;

4.4. Menerapkan sanksi terhadap pemotong atau pemungut Pajak Penghasilan atas hadiah undian sebagaimana dimaksud pada butir 3.6.

Dokumen ini diketik ulang dan diperuntukan secara eksklusif untuk www.ortax.org dan TaxBase, 2022

(9)

dilakukan dengan cara diundi, sedangkan untuk hadiah atau penghargaan yang pemberiannya tidak dengan cara undian, maka pemotongan Pajak Penghasilannya melalui Pasal 21 atau Pasal 23/26.

6.

Tata cara penyetoran dan pelaporan sebagaimana diatur dalam Surat Edaran ini berlaku mulai Masa Pajak April 1995.

Demikian untuk dilaksanakan sebagaimana mestinya.

DIREKTUR JENDERAL PAJAK, ttd

FUAD BAWAZIER

Referensi

Dokumen terkait

Peraturan Pemerintah RI Nomor 39 Tahun 1993 merupakan perubahan atas ketentuan Pasal 13 Peraturan Pemerintah RI Nomor 42 Tahun 1985. Sebelum diundangkannya Peraturan Pemerintah Nomor

Dalam rangka optimalisasi penggalian potensi pajak berbasis profil Wajib Pajak (WP) dan sehubungan dengan ditetapkannya Indikator Kinerja Utama (IKU) Direktorat Jenderal Pajak

Sehubungan dengan telah diundangkannya Peraturan Menteri Keuangan Nomor 220/PMK.03/2020 tentang Tata Cara Penghitungan dan Pemungutan Pajak Pertambahan Nilai atas Penyerahan

Sesuai dengan Pasal 1 Keputusan Menteri Keuangan Nomor: 248/KMK.04/1995tanggal 2 Juni 1995 yang dimaksud dengan bangun guna serah adalah bentuk perjanjian kerja sama yang

Sehubungan dengan telah diterbitkannya Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-38/PJ/2015 tentang Tata Cara Pendaftaran dan Pemberian Nomor Pokok Wajib Pajak dalam rangka

Sesuai dengan ketentuan Pasal 26 ayat (5) huruf b Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1994 dan Pasal 15 ayat

IV. Honorarium Tim Sensus Pajak Nasional dapat diberikan kepada Tim Sensus Pajak Nasional pada tingkat satuan kerja sesuai dengan Keputusan Menteri Keuangan Nomor

Atas pembetulan Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan sebagaimana dimaksud pada romawi I angka 2 huruf a, atau penyampaian surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan