BUPATI GIANYAR PROVINSI BALI
PERATURAN DAERAH KABUPATEN GIANYAR NOMOR 9 TAHUN 2019
TENTANG KEOLAHRAGAAN
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI GIANYAR,
Menimbang : a. bahwa dalam rangka memberikan perlindungan terhadap warga masyarakat untuk memperoleh kebutuhan dasar dan berhak mendapat pendidikan salah satunya melalui kegiatan Keolahragaan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat;
b. bahwa untuk mendukung Keolahragaan di Daerah yang bersifat menyeluruh dan komprehensif maka wajib dilakukan pembangunan, pengembangan dan pemerataan akses di bidang Keolahragaan yang sesuai dengan nilai kearifan lokal dan kebutuhan kondisi Daerah;
c. bahwa berdasarkan Pasal 12 ayat (l) Peraturan Pemerintah
Nomor 16 Tahun 2007 tentang Penyelenggaraan Keolahragaan, Pemerintah
https://jdih.gianyarkab.go.id/
kabupaten mempunyai kewenangan untuk mengatur, membina, mengembangkan, melaksanakan dan mengawasi penyelenggaraan keolahragaan di kabupaten ;
d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b, dan huruf c, perlu menetapkan Peraturan Daerah tentang Keolahragaan;
Mengingat 1. Pasal 18 Ayat (6) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 ;
2. Undang-Undang Nomor 69 Tahun 1958 tentang Pembentukan Daerah-daerah Tingkat II Dalam Wilayah Daerah-daerah Tingkat I Bali, Nusa Tenggara Barat Dan Nusa Tengggara Timur (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1958 Nomor 122, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 1655);
3 Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 89, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4535);
4. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5587) sebagaimana telah diubah beberapa kali, terakhir dengan Undang- Undang Nomor 9 Tahun 2015
tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembara n Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 58, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5679);
5. Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2007 tentang
Penyelenggaraan Keolahragaan Nasional (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 35,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
4703);
6. Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 2018 tentang Keolahragaan (Lembaran Daerah Provinsi Bali Tahun 20l8 Nomor 5, Tambahan Lembaran Daerah Provinsi Bali Nomor 5);
Dengan Persetujuan Bersama
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN GIANYAR
dan
BUPATI GIANYAR
MEMUTUSKAN :
Menetapkan : PERATURAN DAERAH TENTANG KEOLAHRAGAAN.
BAB I
KETENTUAN UMUM Pasal 1
Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksud dengan :
https://jdih.gianyarkab.go.id/
1 . Daerah adalah Kabupaten Gianyar.
2. Pemerintah Daerah adalah Pemerintah Kabupaten Gianyar.
3. Bupati adalah Bupati Gianyar.
4. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah yang selanjutnya disingkat DPRD adalah Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Gianyar.
5. Olahraga adalah segala kegiatan yang sistematis untuk mendorong, membina, serta mengembangkan potensi jasmani, rohani, dan sosial.
6. Keolahragaan adalah segala aspek yang berkaitan dengan Olahraga yang memerlukan pengaturan, pendidikan, pelatihan, pembinaan, pengembangan, dan pengawasan.
7. Penyelenggaraan Keolahragaan adalah proses sistematik yang melibatkan berbagai aspek Keolahragaan dan pemangku kepentingan secara terpadu dan berkelanjutan mulai dari perencanaan, pelaksanaan, sampai dengan evaluasi dan pengawasan dalam rangka mencapai tujuan Keolahragaan.
8. Pelaku Olahraga adalah setiap orang dan/ atau kelompok orang yang terlibat secara langsung dalam kegiatan Olahraga yang meliputi pengolahraga, pembina Olahraga, dan tenaga Keolahragaan.
9. Pembina Olahraga adalah orang yang memiliki minat dan pengetahuan, kepemimpinan, kemampuan manajerial, dan / atau pendanaan yang didedikasikan untuk kepentingan pembinaan dan pengembangan Olahraga.
10. Pembina Olahraga Warga Negara Asing adalah pembina Olahraga berkewarganegaraan asing yang melakukan
kegiatan pembinaan Olahraga di wilayah Kabupaten
11. Tenaga Keolahragaan adalah setiap orang yang memiliki kualifikasi dan sertifikat kompetensi dalam bidang Olahraga.
12. Olahragawan adalah pengolahraga yang mengikuti pelatihan secara teratur dan kejuaraan dengan penuh dedikasi untuk mencapai prestasi.
13. Olahragawan amatir adalah pengolahraga yang melakukan kegiatan pelatihan Olahraga secara teratur dan mengikuti kejuaraan dengan penuh dedikasi untuk mencapai prestasi atas dasar kecintaan atau kegemaran berolahraga.
14. Olahragawan profesional adalah setiap orang yang berolahraga untuk memperoleh pendapatan dalam bentuk uang atau bentuk lain yang didasarkan atas kemahiran berolahraga.
15. Alih status Olahragawan adalah perpindahan status Olahragawan amatir ke Olahragawan profesional atau sebaliknya.
16. Olahragawan Asing adalah pelaku Olahraga berkewarganegaraan asing yang melakukan kegiatan Olahraga di wilayah Kabupaten Gianyar
17. Perpindahan Olahragawan adalah proses kegiatan beralihnya Olahragawan dari satu tempat ke tempat lainnya, antarklub atau perkumpulan, antardaerah, dan/atau antamegara.
18. Pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi Keolahragaan adalah peningkatan kualitas dan kuantitas
https://jdih.gianyarkab.go.id/
pengetahuan dan teknologi yang bertujuan memanfaatkan kaedah dan teori ilmu pengetahuan yang telah terbukti kebenarannya untuk peningkatan fungsi, manfaat, dan aplikasi ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah ada atau menghasilkan teknologi baru bagi kegiatan Keolahragaan.
19. Pengolahraga adalah orang yang berolahraga dalam usaha mengembangkan potensi jasmani, rohani dan sosial.
20. Pembinaan dan Pengembangan adalah usaha sadar yang dilakukan secara sistematis untuk mencapai tujuan Keolahragaan.
21. Peningkatan Prestasi adalah upaya yang dilakukan untuk meningkatkan prestasi Olahraga.
22. Prestasi adalah hasil upaya maksimal yang dicapai Olahragawan atau kelompok Olahragawan (tim) dalam kegiatan Olahraga.
23. Olahraga Pendidikan adalah pendidikan jasmani dan Olahraga yang dilaksanakan sebagai bagian proses pendidikan yang teratur dan berkelanjutan untuk memperoleh pengetahuan, kepribadian, keterampilan, kesehatan, dan kebugaran jasmani.
24. Olahraga Rekreasi adalah Olahraga yang dilakukan oleh masyarakat dengan kegemaran dan kemampuan yang tumbuh dan berkembang sesuai dengan kondisi dan nilai budaya masyarakat setempat untuk kesehatan, kebugaran, dan kegembiraan.
25. Olahraga Prestasi adalah Olahraga yang membina dan mengembangkan Olahragawan secara terencana, berjenjang, dan berkelanjutan melalui kompetisi untuk
prestasi dengan dukungan ilmu pengetahuan dan teknologi Keolahragaan.
26. Olahraga Disabilitas adalah Olahraga yang dilakukan oleh masyarakat yang berkebutuhan khusus.
27. Kejuaraan Olahraga adalah kegiatan pertandingan / perlombaan yang memperebutkan gelar juara untuk 1 (satu) jenis cabang Olahraga.
28. Orang adalah seseorang, orang perorangan, kelompok orang, dan kelompok masyarakat.
29. Mantan/ Puma Olahragawan Berprestasi adalah seseorang yang mewakili Daerah pernah sebagai juara Daerah, Nasional dan Internasional pada bidang cabang Olahraga tertentu.
30. Prasarana Olahraga adalah tempat atau ruang termasuk lingkungan yang digunakan untuk kegiatan Olahraga dan/ atau penyelenggaraan keolahragaan.
31. Sarana Olahraga adalah peralatan dan perlengkapan yang digunakan untuk kegiatan Olahraga.
32. Doping adalah penggunaan zat dan/atau metode terlarang untuk meningkatkan prestasi Olahraga.
33. Standardisasi adalah proses merumuskan, menetapkan, menerapkan, dan merevisi standar nasional dalam berbagai aspek yang berhubungan dengan bidang Keolahragaan.
34. Standar nasional Keolahragaan adalah kriteria minimal tentang berbagai aspek yang berhubungan dengan
pembinaan dan pengembangan Keolahragaan.
35. Standar kompetensi adalah standar nasional yang berkaitan dengan kemampuan minimal yang mencakup
https://jdih.gianyarkab.go.id/
pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang harus dimiliki seseorang untuk dapat dinyatakan lulus dalam uji kompetensi.
36. Kompetensi adalah kemampuan minimal yang dimiliki tenaga Keolahragaan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan dalam bidang Keolahragaan.
37. Uji Kompetensi adalah kegiatan untuk melakukan pengukuran terhadap kemampuan minimal yang dipersyaratkan lagi seseorang untuk dapat melakukan pekerjaan atau tugas tertentu yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan dalam bidang Keolahragaan.
38. Akreditasi adalah pemberian kelayakan dan peringkat
terhadap pemenuhan standar nasional Keolahragaan yang berkaitan dengan pembinaan dan pengembangan Keolahragaan.
39. Sertifikasi adalah proses pemberian pengakuan atas pemenuhan standar nasional Keolahragaan.
40. Komite Olahraga Nasional Indonesia Daerah yang selanjutnya disingkat KONI Daerah adalah Induk Olahraga yang melaksanakan pembinaan dan pengembangan Olahraga Prestasi di Daerah.
41. Fasilitasi adalah penyediaan bantuan atau pelayanan untuk kemudahan dan kelancaran pelaksanaan kegiatan Keolahragaan.
42. Akreditasi adalah pemberian kelayakan dan peringkat terhadap pemenuhan standar nasional Keolahragaan yang berkaitan dengan pembinaan dan pengembangan Keolahragaan.
43. lnduk organisasi cabang Olahraga adalah organisasi Olahraga yang membina, mengembangkan, dan mengkoordinasikan satu cabang/jenis Olahraga atau gabungan organisasi cabang Olahraga dari satu jenis Olahraga yang merupakan federasi cabang Olahraga internasional yang bersangkutan.
44. Induk organisasi Olahraga fungsional adalah organisasi Olahraga yang membina, mengembangkan, dan mengkoordinasikan satu atau lebih cabang Olahraga amatir dan /atau profesional dalam lingkup Olahraga pendidikan, Olahraga rekreasi, dan/ atau Olahraga prestasi berdasarkan fungsi pengolahraga atau Olahragawan.
45. Koordinasi adalah suatu proses kegiatan untuk penyesuaian dan pengaturan diantara para pihak dalam pengelolaan dan penyelenggaraan Keolahragaan agar terjadi kerja sama yang harmonis dan sinergis.
46. Pengembangan Olahraga adalah Pengakuan atas prestasi di bidang Olahraga yang diwujudkan dalam bentuk material dan/atau non material.
47. Pengawasan adalah proses kegiatan yang ditujukan untuk menjamin agar penyelenggaraan Keolahragaan berjalan sesuai dengan rencana dan ketentuan Peraturan Perundang-undangan.
48. Badan Standardisasi dan Akreditasi Nasional Keolahragaan yang selanjutnya disingkat dengan BSANK adalah badan yang dibentuk oleh Pemerintah dalam rangka pengembangan, pemantauan, dan pelapiran percapaian Standar Nasional Keolahragaan.
https://jdih.gianyarkab.go.id/
BAB II
PENYELENGGARAAN KEOLAHRAGAAN Bagian Kesatu
Umum
Pasal 2
Penyelenggaraan Olahraga meliputi kegiatan:
a. Olahraga Pendidikan;
b. Olahraga Rekreasi;
c. Olahraga Prestasi;
d. Olahraga Disabilitas; dan
e. Olahraga Amatir dan Olahraga Profesional.
Bagian Kedua Olahraga Pendidikan
Pasal 3
( l) Olahraga pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf a diselenggarakan sebagai bagian proses pendidikan.
(2) Olahraga pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan pada jalur pendidikan:
a. formal;
b. nonformal; dan c. informal.
(3) Olahraga pendidikan jalur pendidikan informal sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf c dilaksanakan melalui instrakurikuler dan/ atau ekstrakurikule r.
Pasal 4
(1) Olahraga Pendidikan pada jalur pendidikan formal
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2) huruf a dilaksanakan pada setiap jenjang satuan pendidikan.
(2) Olahraga Pendidikan pada jalur pendidikan nonformal dan informal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2) huruf b dan c dapat dilaksanakan secara terstruktur, berjenjang dan berkelanjutan.
(3) Olahraga Pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dibimbing oleh guru Olahraga dan dibantu oleh tenaga Keolahragaan yang disiapkan oleh setiap satuan pendidikan.
(4) Setiap satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) menyiapkan prasarana dan sarana Olahraga Pendidikan sesuai dengan tingkat kebutuhan.
(5) Penyiapan prasarana dan sarana Olahraga sebagaimana dimaksud pada ayat (4) berkoordinasi dengan Perangkat Daerah yang menyelenggarakan urusan di bidang Keolahragaan.
(6) Setiap satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat melakukan kejuaraan Olahraga sesuai dengan taraf pertumbuhan dan perkembangan peserta didik secara berkala antar satuan pendidikan yang setingkat.
Pasal 5
(1) Pemerintah Daerah melaksanakan pembinaan dan Pengembangan Olahraga Pendidikan.
(2) Pembinaan dan pengembangan Olahraga Pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1} bertujuan untuk memperoleh pengetahuan, kepribadian, keterampilan,
https://jdih.gianyarkab.go.id/
kesehatan, dan kebugaran jasmani serta pengembangan minat dan bakat Olahraga.
(3) Pembinaan dan Pengembangan Olahraga Pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan melalui:
a. pembinaan pelatih Olahraga pada satuan pendidikan, pusat pembinaan dan latihan Olahraga pelajar, klub, sarana dan/atau sanggar Olahraga;
b. penyediaan sarana pelatihan Olahraga;
C. penyelenggaraan proses pembinaan dan pelatihan Olahraga;
d. pembinaan dan pengembangan pusat pembinaan dan latihan Olahraga pelajar;
e. pengembangan dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi; dan
f. penyelenggaraan Kejuaraan Olahraga bagi peserta didik pada tingkat Daerah.
(4) Pembinaan dan pengembangan Olahraga Pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan oleh Perangkat Daerah yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang Pendidikan bekerja sama dengan instansi terkait dan Badan Pembina Olahraga Pelajar Seluruh Indonesia.
(5) Pembinaan dan pengembangan Olahraga Pendidikan pada satuan pendidikan di bidang pendidikan agama dilaksanakan dan berkoordinasi dengan Perangkat Daerah yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang Pendidikan dan Badan Pembina Olahraga Pelajar Seluruh Indonesia.
Pasal 6
(1) Pembinaan dan pengembangan Olahraga Pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5, dilakukan dengan cara:
a. menyusun dan mengembangkan kurikulum;
b. melakukan pembinaan guru dan tutor;
c. penyelenggaraan proses belajar mengajar;
d. pengembangkan, dan pembinaan unit kegiatan belajar Olahraga dan kelas Olahraga;
e. pengembangan, dan pembinaan sekolah khusus Olahraga; dan
f. penyelenggaraan perlombaan/pertandingan dan festival Olahraga antar satuan pendidikan.
(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai cara pembinaan dan pengembangan Olahraga sebagaimana dimaksud pada ayat (l) diatur dalam Peraturan Bupati.
Pasal 7
(1) Pembinaan guru dan tutor sebagimana dimaksud dalam Pasal 6 huruf b, harus memiliki kualifikasi dan berkompetensi.
(2) Pembinaan guru dan tutor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) melibatkan pelatih atau pembimbing Olahraga yang memiliki kualifikasi dan sertifikat kompetensi dari Induk Organisasi Cabang Olahraga bersangkutan.
Pasal 8
(1) Peserta didik yang dibina di pusat latihan Olahraga Prestasi baik tingkat nasional maupun tingkat Daerah, yang karena kegiatannya mengurangi proses dan jam belajar diberikan izin
https://jdih.gianyarkab.go.id/
dan prioritas pemenuhan proses dan jam belajarnya secara khusus oleh satuan pendidikan yang bersangkutan.
(2) Penyelenggaraan kegiatan persekolahan secara khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibiayai oleh pelaksana pusat latihan Olahraga prestasi tingkat nasional atau tingkat Daerah.
Bagian Ketiga Olahraga Rekreasi
Pasal 9
(1) Olahraga Rekreasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf b dilakukan sebagai bagian proses pemulihan kembali kesehatan dan kebugaran.
(2) Olahraga Rekreasi sebagaimana dimaksud pada ayat ( 1) dapat dilaksanakan oleh setiap orang, satuan pendidikan, Lembaga, perkumpulan, atau Organisasi Olahraga.
(3) Olahraga Rekreasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertujuan:
a. memperoleh kesehatan, kebugaran jasmani, dan kegembiraan;
b. membangun hubungan sosial; dan / atau
c. melestarikan dan meningkatkan kekayaan budaya daerah dan nasional.
Pasal 10
(1) Setiap orang yang menyelenggarakan Olahraga Rekreasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 wajib memiliki Izin.
(2) Izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi persyaratan administratif dan teknis.
(3) Persyaratan Administratif sebagaimana dimaksud pada (2) terdiri dari :
a. menaati ketentuan dan prosedur yang ditetapkan sesuai dengan jenis Olahraga;
b. memenuhi persyaratan yang ditetapkan oleh perkumpulan atau Organisasi Olahraga; dan
c. memperoleh rekomendasi dari pihak terkait.
(4) Persayaratan Teknis sebagaimana dimaksud pada (2) terdiri dari:
a. saran prasarana Olahraga;
b. standar operasional prosedur; dan
c. instruktur atau pemandu yang mempunyai pengetahuan dan keterampilan sesuai dengan jenis Olahraga.
(5) Izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikeluarkan oleh Perangkat Daerah yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang perizinan.
(6) Ketentuan lebih lanjut mengenai jenis dan tata cara prosedur perizinan Olahraga Rekreasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam Peraturan Bupati.
Pasal 11
(1) Pemerintah Daerah melaksanakan pembinaan dan pengembangan Olahraga Rekreasi.
(2) Pembinaan dan pengembangan Olahraga Rekreasi sebagaimana dimaksud pada ayat (11) bertujuan untuk mengembangkan kesadaran masyarakat dalam meningkatkan kesehatan, kebugaran, kesenangan, dan hubungan sosial.
(3) Selain tujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Pembinaan dan Pengembangan Olahraga Rekreasi diarahkan
https://jdih.gianyarkab.go.id/
untuk digali, dikembangkan, dilestarikan serta memanfaatkan Olahraga tradisional yang ada, tumbuh dan berkembang sebagai budaya Daerah.
(4) Pembinaan dan pengembangan Olahraga Rekreasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi :
a. menggali dan mengembangkan Olahraga Rekreasi;
b. membangun prasarana dan sarana Olahraga Rekreasi sesuai potensi sumber daya Daerah;
c. memfasilitasi pembentukan sanggar Olahraga dan perkumpulan Olahraga dalam masyarakat; dan
d. memfasilitasi festival dan perlombaan Olahraga Rekreasi tingkat daerah, nasional dan internasional
(5) Pembinaan dan pengembangan Olahraga Rekreasi sebagaimana dimaksud pada ayat {1) dilaksanakan oleh Perangkat Daerah yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang Keolahragaan serta dapat dibantu oleh Federasi Olahraga Rekreasi Masyarakat Indonesia.
(6) Ketentuan lebih lanjut mengenai pembinaan dan pengembangan Olahraga Rekreasi sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diatur dalam Peraturan Bupati.
Bagian Keempat Olahraga Prestasi
Pasal 12
(1) Olahraga Prestasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf
c sebagai upaya untuk meningkatkan kemampuan dan potensi Olahragawan dalam rangka meningkatkan harkat dan martabat bangsa.
(2) Olahraga Prestasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) oleh setiap memiliki bakat, kemampuan, dan potensi untuk mencapai prestasi.
Prestasi sebagaimana dimasud pada ayat (1) dilaksanakan proses pembinaan dan secara terencana, berjenjang, dan berkelanjutan dengan dukungan ilmu pengetahuan dan teknologi Keolahragaan.
(4) Pembinaan dan pengembangan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dilakukan dengan cara:
a. pendirian perkumpulan Olahraga;
b. penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi Keolahragaan;
c. pembentukan sentra pembinaan Olahraga Prestasi;
d. pendidikan dan pelatihan tenaga Keolahragaan;
e. pengadaan prasarana dan sarana Olahraga Prestasi;
penyusunan sistem pemanduan dan pengembangan bakat Olahraga dan informasi Keolahragaan; dan
g. penyelenggaraan kejuaraan, pekan dan
(5) Dalam hal penyelenggaraan kejuaraan, pekan, dan festival Olahraga sebagaimana dimaksud pada ayat (4) huruf g, penyelenggara berkewajiban menyediakan tenaga medis dan/atau paramedis sesuai dengan teknis penyelenggaraan Olahraga Prestasi.
(1) Pemerintah Daerah
Pasal 13
pembinaan dan pengembangan Olahraga Prestasi.
https://jdih.gianyarkab.go.id/
(2) Pembinaan dan pengembangan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan dan diarahkan untuk mencapai prestasi pada tingkat Daerah, nasional dan internasional.
(3) Pembinaan dan pengembangan Prestasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1} dilaksanakan secara terencana oleh induk organisasi cabang Olahraga tingkat Daerah dilakukan oleh pelatih yang memiliki kualifikasi dan sertifikasi kompetensi dibantu tenaga Keolahragaan dengan pendekatan ilmu pengetahuan dan teknologi.
(4) Dalam pelaksanaan pembinaan dan pengembangan Prestasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan
oleh Perangkat Daerah yang urusan pemerintahan di bidang dan dapat dibantu oleh induk cabang Olahraga Daerah dan KONI Daerah guna memfasilitasi:
a. pemberdayaan perkumpulan Olahraga sekolah khusus dan penyelenggaraan kompetisi
berjenjang dan berkelanjutan;
b. peningkatan kemampuan pelatih olahraga;
c. pengembangan dan penerapan ilmu pengetahuan dan
d. penyediaan sarana dan prasarana Olahraga; dan e. penyelenggaraan kejuaraan tingkat Daerah.
(5) Penyediaan sebagaimana
dimaksud pada ayat (5) huruf d terdiri dari:
a. pusat pendididikan latihan pelajar Daerah;
b. pusat latihan Daerah;
c. sekolah khusus Olahraga; dan/atau
d. pusat pelatihan Olahraga keagamaan atau lembaga sejenis.
(6) Ketentuan mengenai pemben tukan
sebagaimana dimaksud pada ayat (6) diatur dalam Peraturan Bupati.
Pasal 14
(1) Pemerintah Daerah dibantu KONI Daerah melaksanakan pembinaan dan pengembangan Olahraga Prestasi.
(2} Pembinaan dan pengembangan sebagaimana dimaksud ayat (1), meliputi:
a. pemassalan dan pembibitan;
b. pemberdayaan perkumpulan Olahraga; dan
c. pengembangan dan peningkatan mutu organisasi.
Pasal 15
( 1) Pemerintah Daerah menetapkan cabang
unggulan, dalam mendukung peningkatan prestasi.
(2) Ketentuan mengenai tata cara penetapan cabang Olahraga unggulan diatur dalam Peraturan Bupati.
Bagian Kelima Olahraga Disabilitas
Pasal 16
Disabilitas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf d dilaksanakan meningkatkan kesehatan, rasa percaya diri, dan prestasi.
https://jdih.gianyarkab.go.id/
(2) Pembinaan dan pengembangan Disabilitas sebagaimana dimaksud pada ayat {1) dilaksanakan oleh organisasi Olahraga Penyandang Disabilitas.
(3) Organisasi Olahraga Penyandang Disabilitas sebagaimana dimaksud pad ayat (2) bertanggungjawab
penyelenggaraan kompetensi Penyandang Disabilitas pada tingkat Daerah dan keikutsertaan dalam pekan dan kejuaraan Olahraga Penyandang Disabilitas tingkat Provinsi dan Nasional.
Pasal 17
(1) Pembinaan dan pengembangan
dimaksud dalam
Disabilitas 16 ayat diselenggarakan berdasarkan jenis Olahraga khusus bagi Penyandang Disabilitas yang sesuai dengan kondisi kelainan fisik dan/atau mental Olahragawan Penyandang Disabilitas.
(2) Pembinaan dan pengembangan Disabilitas, sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pada lingkup:
a. Olahraga Pendidikan;
b. Olahraga Rekreasi; dan
(3) Pembinaan dan pengembangan Penyandang Disabilitas dalam lingkup Olahraga Pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a diarahkan
terselenggaranya proses pendidikan teratur dan berkelanjutan bagi peserta didik Penyandang Disabilitas memperoleh pengetahuan, keterampilan dan keperibadian
kesehatan, dan kebugaran jasmani.
percaya diri,
(4) Pembinaan dan pengembangan Penyandang Disabilitas dalam lingkup Olahraga Rekreasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b diarahkan untuk meningkatkan kesehatan, kebugaran, dan kesenangan serta meningkatkan pereaya diri dan hubungan sosial Olahragawan Penyandang Disabilitas.
(5) Pembinaan dan pengembangan Penyandang Disabilitas dalam lingkup Olahraga Prestasi sebagaimana dimaksud pada huruf c diarahkan
meningkatkan prestasi Olahragawan Penyandang Disabilitas di tingkat Provinsi dan Nasional.
Bagian Keenam
Olahraga Amatir dan Olahraga Profesional Pasal 18
(1) Olahraga Amatir dan Olahraga Profesional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf e dilaksanakan dan diarahkan untuk terciptanya prestasi Olahraga, lapangan kerja, dan peningkatan pendapatan.
Pembinaan dan Pengembangan Olahraga Amatir dan Olahraga Profesional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh lnduk Organisasi Cabang Olahraga, Induk
Organisasi
Olahraga profesional.
fungsional, dan/ atau
Pemerintah Daerah berkewajiban memberikan pelayanan dan kemudahan kepada Induk Organisasi Cabang Olahraga, Induk Organisasi Olahraga fuiigsional, den /atau Organisasi Olahraga Profesional untuk terciptanya prestasi olahraga,
https://jdih.gianyarkab.go.id/
lapangan kerja, dari peningkatan pendapatan sebagaimana dimaksud pada ayat ( 1).
Pasal 19
Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan Pengembangan dan Pembinaan Olahraga Amatir dan Olahraga Profesional diatur dalam Peraturan Bupati.
BAB IV
PENGELOLAAN KEOLAHRAGAAN Bagian Kesatu
Umum Pasal 20
(1) Pemerintah Daerah bertanggung jawab dalam pengelolaan Keolahragaan di Daerah.
(2) Pengelolaan Keolahragaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:
a. Perencanaan Keolahragaan;
b. Tenaga Keolahragaan dan Organisasi Olahraga;
c. Metode Pembinaan dan Pengembangan Olahraga; dan d. Prasarana dan Sarana Olahraga.
Bagian Kedua Perencanaan Keolahragaan
Pasal 21
(1) Bupati menyusun Perencanaan Pengelolaan Keolahragaan Daerah.
(2) Perencanaan Keolahragaan sebagaimana dimaksud pada ayat (l) meliputi rencana strategis Keolahragaan Daerah dan rencana operasional Keolahragaan Daerah.
Rencana Keolahragaan Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) meliputi visi, misi, tujuan, sasaran,
kebijakan,
pelaksanaan, dan koordlnasi pengelolaan Keolahragaan, serta penggalangan sumber daya keolahragaan yang berbasis keunggulan lokal.
(4) Rencana operasional Keolahragaan Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dibuat sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Bagian Ketiga
Tenaga Keolahragaan dan Organisasi Olahraga
Tenaga Keolahragaan Pasal 22
(1) Tenaga keolahragaanterdiri atas pelatih, guru, wasit, juri, manajer, promotor, administrator, pemandu, penyuluh, instruktur, tenaga medis dan para medis,
biomekanika, psikolog, atau sebutan lain yang sesuai dengan
kekhususannya
berpartisipasi dalammenyelenggarakan kegiatan Olahraga.
Tenaga Keolahragaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
bertugas melakukan kegiatan
keolahragaan sesuai dengan bidang keahlian dan/ atau kewenangan Tenaga Keolahragaan yang bersangkutan.
https://jdih.gianyarkab.go.id/
Pasal 23
(l) Tenagn. keolahragaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 melaksanakan profesinya berhak untuk mendapatkan:
pembinaan,
keterampilan melalui pelatihan;
b. jaminan keselamatan; dan
dan
c. peningkatan karier, pelayanan kesejahteraan, bantuan hukum, dan/atau penghargaan.
(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai hak tenaga keolahragaan sebagimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam Peraturan Bupafi.
Paragraf 2
Pasal 24
(l) Pemerintah Daerah memfasilitasi pembentukan Induk Organisasi Cabang Olahraga Daerah dan Induk Organisasi
(2) Setiap Induk Organisasi Cabang Olahraga dan Induk
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus berbadan hukum yang pendiriannya sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundang-undangan.
(3) Setiap Induk Organisasi Cabang Olahraga atau Induk sebagaimana dimaksud pada ayat harus memenuhi standar pengelolaan persyaratan dengan
a. akta pendirian yang bersifat autentik;
b. anggaran dasar dan anggaran rumah tangga;
c. Nomor Pokok Wajib Pajak;
d. struktur dan personalia yang kompeten;
e. program kerja;
administrasi dan manajemen Keolahragaan; dan
g. kode etik organisasi.
(4) Setiap Induk Organisasi Cabang Olahraga dan Induk Organisasi Olahraga Fungsional yang memenuhi syarat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) berkewajiban menjadi anggota Federasi Olahraga Internasional.
(S) Ketentuan lebih lanjut mengenai pembentukan Cabang Olahraga sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Bupati.
Pasal 25
(1) KONI Daerah dibentuk oleh Organisasi Cabang Olahraga tingkat Daerah dan Organisasi Olahraga Fungsional tingkat Daerah yang telah memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 ayat (2) dan ayat (3).
(2) KONI Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat mempunyai tugas:
a. mengusulkan kepada Bupati rencana dan program Daerah mengenai pengelolaan serta pembinaan dan pengembangan prestasi Olahraga;
b. melakukan koordinasi dengan Daerah dan
Cabang
Fungsional tingkat Daerah dalam rangka pembinaan dan pengembangan prestasi Olahraga; dan
https://jdih.gianyarkab.go.id/
c. mengajukan rencana kerja dan melaksanakan serta mengkoordinasikan kegiatan Pekan Olahraga Daerah sesuai dengan penugasan dari Bupati.
Pasal 26
(I) Pengurus KONI Daerah bersifat mandiri dan tidak terikat dengan kegiatan jabatan struktural dan jabatan publik.
(2) Dalam menjalankan tugas, kewajiban, dan kewenangannya, pengurus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus bebas dari pengaruh dan intervensi pihak
Peraturan Bupati.
menjaga netralitas dan menjamin keprofesionalan pengelolaan Keolahragaan.
(3) Pengurus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilarang
memegang suatu jabatan yang menunjukkan
wewenang, dan hak seorang pegawai negeri sipil dan militer dalam rangka memimpin satuan organisasi negara atau pemerintahan, antara lain, jabatan di departemen lembaga pemerintahan nondepartemen dan/atau Perangkat Daerah.
(4) Pengurus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilarang memegang suatu jabatan publik yang diperoleh melalui suatu proses pemilihan langsung oleh rakyat atau melalui pemilihan di Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia atau Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.
Pasal 27
Ketentuan lebih lanjut mengenai Pembentukan KONI Daerah dimaksud dalam Pasal 25 diatur dalam
Bagian Keempat
Metode Pembinaan dan Pengembangan Olahraga Pasal 28
(1) Pemerintah Daerah mengembangkan Metode Pembinaan
dan Pengembangan dalam
Penyelenggaraan Keolahragaan di Daerah.
(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai Metode Pembinaan dan Pengembangan Olahraga sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam Peraturan Bupati.
Bagian Kelima
Prasarana dan Sarana Olahraga
Pasal 29
(1) Pemerintah Daerah menjamin ketersediaan Prasarana dengan standar dan kebutuhan Pemerintah Daerah.
(2) Jumlah dan jenis prasarana Olahraga yang dibangun harus memperhatikan potensi yang berkembang di Daerah.
(3) Prasarana Olahraga sebagaimana dimaksud pada ayat (2) yang dibangun di Daerah wajib memenuhi jumlah dan standar minimum yang ditetapkan oleh Pemerintah.
(4) Ketentuan mengenai penetapan
Olahraga sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sampai dengan ayat {3) diatur dengan Peraturan Bupati.
(S) Badan usaha yang bergerak dalam bidang pembangunan perumahan dan permukiman berkewajiban menyediakan
https://jdih.gianyarkab.go.id/
fasilitas umum dengan standar dan kebutuhan yang ditetapkan oleh Pemerintah yang selanjutnya diserahkan kepada pemerintah Daerah sebagai aset/ milik Pemerintah Daerah.
(6) Sedap dilarang meniadakan dan/ atau
mengalihfungsikan prasarana Olahraga yang telah menjadi
aset/milik Pemerintah Daerah.
Paragraf 2
Pasal 30
(I) Pemerintah Daerah membina dan mendorong pengembangan industri sarana Olahraga di Daerah.
(2) Setiap orang atau badan usaha yang memproduksi sarana Olahraga berkewajiban memperhatikan standar teknis sarana Olahraga dari Cabang Olahraga.
(3) Sarana Olahraga sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diproduksi, diperjualbelikan, dan/atau disewakan untuk masyarakat umum, baik untuk pelatihan maupun untuk kompetisi berkewajiban memenuhi standar kesehatan dan keselamatan
undangan.
dengan peraturan perundang-
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai pengembangan industri sarana Olahraga sebagaimana dimaksud pada ayat ( 1) sampai dengan ayat (3) diatur dalam Peraturan Bupati.
BAB V
PENYELENGGARAAN KEJUARAAN, PEKAN DAN FESTIVAL
Pasal 3 l
(1) Bupati menyelenggarakan kejuaraan, pekan dan festival
(2) Dalam menyelenggarakan kejuaraan, pekan dan festival Olahraga sebagaimana dimaksud pada ayat ( l) Bupati mendelegasikan
Perangkat Daerah
pemerintahan di bidang Keolahragaan.
kejuaraan, dan
tersebut kepada
sebagaimana dimaksud pada ayat (l) dapat bekerjasama dengan Perangkat Daerah yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pendidikan serta dapat dibantu oleh Badan Pembinaan Olahraga Pelajar Daerah, dan Federasi Olahraga Rekreasi serta Organisasi Olahraga.
dan
dimaksud dalam Pasal 31 dilaksanakan bagi :
a. mahasiswa oleh perguruan tinggi yang ditunjuk oleh Pemerintah Daerah dan dapat dibantu oleh KONI Daerah dan Organisasi Olahraga Fungsional Daerah;
b. pendidikan agama dilaksanakan oleh Kantor Wilayah Kementerian berkoordinasi dengan
daerah yang menyelenggarakan di bidang Keolahragaan serta Badan Pembina Olahraga Pelajar
https://jdih.gianyarkab.go.id/
Seluruh Indonesia dan organisasi olahraga fungsional Daerah.
c. rekreasi kemasyarakatan dilaksanakan oleh perangkat daerah yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang Keolahragaan dibantu organisasi Olahraga Rekreasi Daerah.
(2) Kejuaraan pekan Olahraga pelajar federasi masyarakat dan festival Olahraga Rekreasi serta Olahraga Prestasi dilaksanakan untuk menghasilkan Olahragawan berbakat selanjutnya dikembangkan untuk dibina sesuai dengan Cabang Olahraganya.
(3) Olahragawan berbakat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dibina oleh pelatih yang berkompeten.
Kejuaraan Olahraga sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 untuk Olahraga Prestasi dan Pekan
Daerah di tingkat Daerah dilaksanakan oleh KONI Daerah dengan melibatkan Induk Organisasi.
Standar penyelenggaraan kejuaraan Olahraga dan Pekan
struktur organisasi penyelenggaraan;
b. tenaga Keolahragaan yang kompeten;
rencana kerja;
d. jadwal penyelenggaraan;
e. administrasi dan manajemen penyelenggaraan; dan pelayanan kesehatan, dan keselamatan penyelenggaraan.
Ketentuan lebih lanjut mengenai Kejuaraan Olahraga sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam Peraturan Bupati.
BAB VI
PERPINDAHAN OLAHRAGAWAN Pasal 34
(1) Dalam rangka pembinaan dan pengembangan Olahragawan, dapat dilaksanakan perpindahan Olahragawan
perkumpulan/klub, dan antar daerah, dan antar negara.
(2) Perpindahan olahragawan sebagaimana dimaksud pada ayat memiliki hak dan kewajiban sesuai dengan ketentuan Induk
Organisasi Cabang Olahraga, dan sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundang-undangan.
(3) Perpindahan Olahragawan sebagaimana dimaksud pada ayat bagi Olahragawan yang tidak bernaung di bawah perkumpulan / klub diatur menurut ketentuan federasi olahraga internasional bersangkutan dan sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundang-undangan.
(4) Dalam hat perpindahan Olahragawan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), setiap Organisasi Cabang Olahraga dapat mengatur tentang kompensasi perpindahan.
Pasal 35
(1) Perpindahan Olahragawan perkumpulan / klub sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 ayat (1) dilakukan dengan memenuhi persyaratan sebagai berikut:
https://jdih.gianyarkab.go.id/
a. perpindahan Olahragawan antar perkumpulan / klub dalam daerah harus memperoleh tertulis dari
b. perpindahan Olahragawan antar perkumpulan / klub antar daerah harus memperoleh tertulis dari perkumpulan/ klub, Organisasi Cabang Olahraga tingkat Daerah, dan pengesahan dari Induk Organisasi Cabang Olahraga; dan
c. memenuhi ketentuan sesuai Peraturan Perundang- undangan.
(2) Perpindahan Olahragawan sebagaimana dimaksud pada ayat perkumpulan/klub Olahragawan memberikan kompensasi kepada perkumpulan/klub Olahragawan sesuai dengan ketentuan Induk Organisasi Cabang Olahraga.
Pasal 36
(l) Perpindahan daerah sebagaimana
dimaksud pada ayat (l) harus memenuhi syarat sebagai berikut:
a. memperoleh izin tertulis dari pengurus perkumpulan / klub Cabang Olahraga;
b. memperoleh izin tertulis dari pengurus Daerah Organisasi Cabang Olahraga;
e. memperoleh izin tertulis dari pengurus Daerah Organisasi Cabang Olahraga; dan
d. memperoleh pengesahan dari Induk Organisasi Cabang
BAB VII
PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN OLAHRAGAWAN Pasal 37
(l) Bupati memfasilitasi Pembinaan dan Pengembangan Olahragawan dalam rangka untuk memberikan motivasi dalam pemusatan latihan.
(2) Pembinaan dan Pengembangan Olahragawan sebagaimana dimaksud pada ayat ( 1) terdiri atas:
a. Uang pembinaan;
b. Uang transport;
c. Pendidikan dan pelatihan; dan / atau d. Asuransi jiwa dan kesehatan.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara Pembinaan dan Pengembangan Olahragawan sebagaimana dimaksud pada ayat ( 1) diatur dalam Peraturan Bupati.
BAB VIII
PENDANAAN KEO LAH RAGAAN Bagian Kesatu
Sumber Pendanaan Pasal 38
(1) ) Pemerintah Daerah berkewajiban mengalokasikan anggaran penyelenggaraan Keolahragaan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah sesuai dengan kemampuan keuangan Daerah.
(2) Selain alokasi anggaran penyelenggaraan Keolahragaan sebagaimana dimaksud pada ayat ( 1) dapat bersumber dari:
b. Pendanaan Keolahragaan dari masyarakat; dan c. Pendanaan Keolahragaan dari I ndu stri Olahraga.
https://jdih.gianyarkab.go.id/
pendanaan dari masyarakat
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a dapat diperoleh dari:
a. kegiatan sponsorship Keolahragaan;
b. hibah baik dari dalam maupun luar negeri;
c. penggalangan dana;
d. kompensasi alih status dan transfer Olahragawan;
e. uang pembinaan dari olahragawan profesional;
f. kerja sama yang saling menguntungkan;
g. sumbangan lain yang tidak mengikat; dan
h. sumber lain yang sah berdasarkan ketentuan Peraturan Perundang-undangan.
(4) Sumber pendanaan Keolahragaan dari Industri Olahraga sebagaimana dimaksud pada ayat (2} huruf b meliputi:
a. tiket penyelenggaraan pertandingan / kompetisi;
b. penyewaan prasarana Olahraga;
c. jual beli produk sarana Olahraga;
d. sport labelling;
e. iklan;
f. hak siar Olahraga;
g. promosi, eksibisi, dan festival Olahraga;
h. keagenan; dan
i. layanan informasi dan konsultasi Keolahragaan.
(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai dana penyelenggaraan Keolahragaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dalam Peraturan Bupati.
Bagian Kedua Alokasi Pendanaan
Pasal 39
(1) Dana yang diperoleh dari sumber pendanaan sebagaimana dimaksud dalam pasal 38 hanya dapat dialokasikan untuk Penyelenggaraan Keolahragaan yang meliputi:
Pendidikan, Olahraga Rekreasi dan Olahraga Prestasi;
b. pembinaan dan pengembangan Olahraga;
c. pengelolaan Keolahragaan;
d. pekan dan kejuaraan Olahraga;
e. pembinaan dan pengembangan pelaku Olahraga;
f. peningkatan kualitas dan kuantitas prasarana dan sarana
g. pengembangan Keolahragaan;
pengetahuan dan teknologi
h. pemberdayaan peran serta masyarakat dalam kegiatan
pengembangan keria sama dan informasi Keolahragaan;
pembinaan dan pengembangan industri Olahraga;
k. standardisasi, akreditasi dan sertifikasi;
pencegahan dan pengawasan doping;
m. pemberian penghargaan; dan n. pelaksanaan pengawasan.
(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penggunaan dana Penyelenhggaraan Keolahragaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam Peraturan Bupati.
https://jdih.gianyarkab.go.id/
BAB IX
I LMU PENGETAUAN DAN TEKNOLOGI KEOLAHRAGAAN Bagian Kesatu
Pasal 40
Daerah memfasilitasi pengembangan pengetahuan dan teknologi Keolahragaan secara terencana dan berkelanjutan untuk memajukan Keolahragaan.
(2) Dalam hal pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagaimana dimaksud pada ayat
dilaksanakan oleh dinas yang menyelenggarakan urusan di
bidang Keolahragaan untuk membentuk Sistem Keolahragaan Daerah.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai Pembentukan Sistem Keolahragaan Daerah diatur dalam Peraturan Bupati.
(4) Pengembangan sebagaimana dimaksud pada ayat dilakukan dengan cara:
a. pemberdayaan dan pengembangan sumber daya manusia pada lembaga penelitian atau pengkajian;
b. peningkatan prasarana dan sarana bagi penelitian atau pengkajian Keolahragaan;
c. akses terhadap informasi Keolahragaan; dan
d. pemberdayaan pusat-pusat penelitian dan pengembangan
Keolahragaan.
pengetahuan dan teknologi
(5) Fasilitasi Pemerintah Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat ( 1) dapat berupa bantuan dana, bantuan teknis, kemudahan, pelayanan, dan penyediaan informasi.
BAB X
PERAN SERTA MASYARAKAT
(1) Masyarakat memiliki kesempatan yang sama dan seluas- luasnya untuk berperan serta dalam kegiatan Keolahragaan.
(2) Peran serta masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan secara perseorangan, kelompok, keluarga,
badan
kemasyarakatan lain sesuai dengan prinsip keterbukaan dan kemitraan.
(3) Selain Peran serta masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) masyarakat ikut serta mendorong upaya pembinaan dan pengembangan Keolahragaan.
(4) Pembinaan dan pengembangan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dilakukan dalam berbagai kegiatan Keolahragaan secara aktif, baik yang dilaksanakan atas dorongan Pemerintah Daerah, maupun atas kesadaran atau prakarsa sendiri.
(5) Dalam ha1 pembinaan dan pengembangan Olahraga sebagaimana dimaksud pada ayat (4), masyarakat melaksanakan kegiatan Keolahragaan antara lain :
b. penyelenggaraan kejuaraan atau pekan Olahraga Prestasi;
c. peraturan permainan dan pertandingan;
d. perlombaan atau pertandingan Olahraga Rekreasi;
e. pelatihan tenaga Keolahragaan;
pengenalan, pemantauan, pemanduan, dan pengembangan bakat Olahragawan;
g. penyediaan tenaga Keolahragaan;
https://jdih.gianyarkab.go.id/
h. pengadaan prasarana dan sarana Olahraga;
i. penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi Olahraga;
penyediaan informa9i Keolahragaan;
k. pemberian penghargaan; dan 1. pendanaan.
(6) Ketentuan lebih lanjut mengenai mekanisme pembinaan dan pengembangan Olahraga sebagaimana dimaksud pada ayat (5) diatur dalam Peraturan Bupati.
BAB XI
KERJASAMA DAN INFORMASI KEOLAHRAGAAN Bagian Kesatu
Kerjasama Pasal 42
(l
Pemerintah Daerah dan masyarakat dapat saling bekerja sama dalam bidang Keolahragaan sesuai dengan Peraturan Perundang-undangan.(2) Kerja sama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan memperhatikan tujuan keolahragaan nasional dan prinsip keterbukaan, efisiensi, efektivitas, dan akuntabilitas.
(3) Pemerintah Daerah dan /atau masyarakat dapat menyelenggarakan kerja sama internasional dalam bidang
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai Keijasama sebagimana dimasud pada ayat (1) dan ayat (3) diatur dalam Peraturan Bupati.
Bagian Kedua Informasi
Daerah ketersediaan dan
penyebarluasan informasi kepada masyarakat untuk kepentingan pembinaan dan pengembangan Keolahragaan.
(2) Dalam menyediakan dan menyebarluaskan
Daerah mengembangkan informasi Keolahragaan dengan memanfaatkan media massa dan media
dan
sebagaimana dimaksud pada kemampuan dan kondisi Daerah.
informasi Keolahragaan (2) sesuai dengan
BAB XII
INDUSTRI OLAHRAGA Pasal 44
(1) Pemerintah Daerah memfasilitasi pengembangan Industri
(2) Pengembangan Industri Olahraga sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan cara:
a. memberikan kemudahan pembentukan sentra pembinaan dan pengembangan Industri Olahraga; dan
b. memfasilitasi perwujudan
Olahraga dengan media massa dan media cetak.
Industri
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai pengembangan Industri Olahraga sebagaimana dimaksud pada ayat (2} diatur dalam Peraturan Bupati.
https://jdih.gianyarkab.go.id/
BAB XIII
STANDARDISASI, AKREDITASI, DAN SERTIFI KASI
Bagian Kesatu
Standardisasi Keolahragaan Pasal 45
(1) Standardtsasi Keolahragaan bertujuan penyelenggaraan sistem keolahragaan pencapaian Standar Keolahragaan.
mutu melalui
(2) Standar Keolahragaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:
a. standar kompetensi Tenaga Keolahragaan;
b. standar isi program pelatihan Tenaga Keolahragaan;
e. standar prasarana dan sarana Olahraga;
d. standar pengelolaan Organisasi Keolahragaan;
e. standar penyelenggaraan Keolahragaan; dan f. standar pelayanan minimal Keolahragaan.
(3j Ketentuan lebih lanjut mengenai Standardisasi Keolahragaan sebagimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dalam Peraturan Bupati.
Bagian Kedua Akreditasi Keolahragaan
Pasal 46
(1) Akreditasi dilakukan untuk menentukan kelayakan dan peringkat isi program pelatihan Tenaga Keolahragaan dan Organisasi Olahraga.
(2) Akreditasi kelayakan dan peringkat isi program pelatihan Tenaga Keolahragaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
ditentukan berdasarkan tingkat pemenuhan persyaratan mengenai:
b. proses pembelajaran;
c. prasarana dan sarana penataran/pelatihan;
d. tenaga penatar/pelatih;
e. sumber pembiayaan; dan f. sistem evaluasi.
(3} Akreditasi kelayakan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1} ditentukan berdasarkan tingkat pemenuhan standar pengelolaan Organisasi Keolahragaan.
Pasal 47
Kriteria penilaian untuk menentukan Akreditasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 47 ayat (2} ditetapkan oleh BSANK sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundang-undangan.
Pasal 48
Ketentuan Akreditasi Keolahragaan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 47 diatur dalam Peraturan
Bagian Ketiga Sertifikasi Keolahragaan
Pasal 49
(1) Sertifikasi dilakukan untuk menentukan standar:
a. kompetensi tenaga keolahragaan;
b. kelayakan prasarana dan sarana olahraga; dan
https://jdih.gianyarkab.go.id/
c. kelayakan dalam melaksanakan
kejuaraan.
(2) Hasil sertifikasi berbentuk Sertifikat Kompetensi Tenaga Keolahragaan, Sertifikat Kelayakan Prasarana dan Sarana Olahraga, dan Sertifikat Kelayakan Organisasi Olahraga.
Pasal 50
(l) Tenaga Keolahragaan yang bertugas dalam setiap Organisasi Olahraga dan/ atau lembaga olahraga berkewajiban memiliki kualifikasi dan sertifikat kompetensi yang dikeluarkan oleh Induk Organisasi Cabang Olahraga yang terakreditasi atau
(2) Induk Organisasi Cabang Olahraga yang terakreditasi atau BSANK menerbitkan Sertifikat Kompetensi Tenaga Keolahragaan dengan memperhatikan Standar Kompetensi Organisasi Profesi yang bersangkutan dan sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundang-undangan.
Pasal 51
(1) Sertifikat Kompetensi Tenaga Keolahragaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 ayat {2) memiliki masa berlaku paling lama 3 (tiga} tahun dan dapat diperpanjang pada trap akhir tahun berlaku.
(2) Dalam hal masa berlaku sertifikat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berakhir, perpanjangan masa berlaku sertifikat hanya dapat dilakukan setelah pemegang sertifikat mengikuti penyegaran melalui pelatihan.
Pasal 52
Ketentuan mengenai Sertifikasi sebagimana dimaksud dalam Pasal 49 diatur dalam Peraturan Bupati.
BABVV
PENCEGAHAN DAN PENGAWASAN TERHADAP DOPING Pasal 53
(I) Pemerintah Daerah berkewajiban melaksanakan pengawasan dan pencegahan terhadap doping di Daerah.
(2) Pengawasan dan pencegahan doping sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan sesuai Peraturan Perundang- undangan.
BAB XV PENGHARGAAN
Bagian Kesatu
Penghargaan Kepada Pelaku Olahraga Pasal 54
(1) Pemerintah Daerah berkewajiban memberikan penghargaan kepada setiap pelaku Olahraga yang berprestasi dan/atau berjasa dalam memajukan Olahraga.
(2) Pemberian penghargaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disesuaikan dengan tingkat prestasi yang dicapai di tingkat nasional dan internasional.
(3) Penghargaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat berbentuk beasiswa, asuransi, kenaikan pangkat luar biasa, tanda kehormatan, jaminan hari tua, pengangkatan pegawai kontrak/ Pegawai Negeri Sipil, atau penghargaan lain yang bermanfaat bagi penerima penghargaan.
https://jdih.gianyarkab.go.id/
(4) Pemberian Penghargaan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) disesuaikan dengan kemampuan keuangan Daerah.
(S) Ketentuan lebih lanjut mengenai bentuk dan
pemberian penghargaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam Peraturan Bupati.
Bagian Kedua
Penghargaan Kepada Mantan / Purna Olahragawan Berprestasi Pasal 55
(l) Dalam menjaga kesinambungan dan partisifasi terhadap dunia Keolahragaan, mantan / puma olahragawan berprestasi dapat membentuk asosiasi mantan / puma atlet berprestasi di tingkat Daerah ditetapkan dengan Keputusan Bupati.
(2) Pemerintah Daerah dapat memberikan motivasi dalam meningkatkan kesejahteraaan kepada
olahragawan berprestasi berupa :
a. pelatihan dan pendampingan kewirausahaan;
b. modal usaha;
c. jaminan kesehatan; dan
d. tenaga kontrak pada Perusahaan Daerah.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai pembentukan asosiasi dan pemberian bagi mantan / puma olahragawan yang berprestasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dalam Peraturan Bupati.
PENGAWASAN KEOLAHRAGAAN Pasal 56
(I) Bupati bertanggung jawab terhadap pengawasan Penyelenggaraan Keolahragaan di Daerah.
(2) Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat dilaksanakan oleh Perangkat Daerah yang menyelenggarakan urusan di bidang Keolahragaan.
(3) Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat dilaksanakan melalui:
a. pengendalian internal dilakukan dengan memantau, mengevaluasi, dan menilai
kebijakan, prosedur, pengorganisasian, personil, perencanaan, penganggaran, pelaporan, dan supervisi atas penyelenggaraan kegiatan Keolahragaan;
b. koordinasi dilakukan secara vertikal internal, hierarki intrasektoral, lintas sektoral, dan hierarki antar instansi multisektoral;
c. pelaporan dilakukan secara akuntabilitas dan transparansi;
d. monitoring dilakukan melalui pemantauan, pengkajian dan/atau penilaian informasi terkait
Keolahragaan; dan dilakukan
penyelenggaraan Keolahragaan.
(4) Pengawasan
penilaian kinerja
sebagamana
dimaksud pada ayat (2) dilakukan dengan prinsip transparansi dan akuntabilitas.
https://jdih.gianyarkab.go.id/
(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai prosedur pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam Peraturan Bupati.
BABXV71
KETENTUAN PENYI DIKAN Pasal 57
(1) Pejabat Pegawai Negeri tertentu di
Pemerintah Daerah diberi wewenang khusus sebagai penyidik untuk melakukan penyidikan tindak pidana sesuai Peraturan Perundang-undangan.
(2) Wewenang penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) melipu0:
a. menerima, mencari, mengumpulkan, dan meneliti keterangan atau laporan berkenaan dengan tindak pidana;
b. meneliti, mencari, dan keterangan mengenai orang pribadi atau badan tentang kebenaran perbuatan yang dilakukan sehubungan dengan tindak pidana;
c. meminta keterangan dan bahan bukti dari orang pribadi atau badan sehubungan dengan tindak pidana;
d. memeriksa buku, catatan, dan dokumen lain berkenaan dengan tindak pidana;
e. melakukan penggeledahan untuk mendapatkan bahan bukti pembukuan, pencatatan, dan dokumen lain, serta melakukan penyitaan terhadap bahan bukti tersebut;
f. meminta bantuan tenaga ahli dalam rangka pelaksanaan tugas penyidikan tindak pidana;
g. menyuruh berhenti dan /atau melarang seseorang
meninggalkan ruangan atau tempat pada saat pemeriksaan sedang berlangsung dan memeriksa identitas orang, benda dan atau dokumen yang dibawa;
h. memotret seseorang yang berkaitan dengan tindak pidana;
i. memanggil orang untuk didengar keterangannya dan diperiksa sebagai tersangka atau saksi;
j. menghentikan penyidikan; dan/atau
k. melakukan tindakan lain yang perlu untuk kelancaran pendidikan tindak pidana sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundang-undangan.
(3) Penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1), memberitahukan dimulainya penyidikan dan menyampaikan hasil penyidikannya kepada Penuntut Umum melalui penyidik pejabat Polisi Negara Republik Indonesia, sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang Hukum Acara Pidana.
BAB XVIII KETENTUAN PIDANA
Pasal 58
(1) Setiap Orang yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10, Pasal 26 ayat (3)dan Pasal 29 ayat (3) diancam dengan pidana kurungan paling lama 6 (enam) bulan atau pidana denda paling banyak Rp. 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah).
(2) Tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan pelanggaran.
https://jdih.gianyarkab.go.id/
BAB XIX
KETENTUAN PENUTUP Pasal 59
Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Kabupaten Gianyar.
Ditetapkan di Gianyar
Pada tanggal 8 Oktober 2019 BUPATI GIANYAR
Ttd
I MADE MAHAYASTRA
Diundangkan di Gianyar pada tanggal 8 Oktober SEKRETARIS DAERAH
2019
KABUPATEN GIANYAR,
ttd
1 MADE GEDE WISNU WIJAYA
LEMBARAN DAERAH KABUPATEN C IANYAR TAHUN 2019 NOMOR 9 NOREG PERATURAN DAERAH KABUPATEN GIANYAR, PROVI NSI BALI (9,54/ 2019)
PENJELASAN ATAS
PERATURAN DAERAH KABUPATEN GIANYAR NOMOR 9 TAHUN 2019
TENTANG
UMUM
Di dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 mengatur segala aspek keolahragaan
yang memajukan kesejahteraan umum,
mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.
Olahraga pada dasarnya merupakan suatu fenomena yang sudah lama dikenal, dipraktikan dan dikelola. Selain itu juga, eksistensial olahraga dapat dijumpai dimanapun di belahan dunia ini, bahkan hampir di sepanjang zaman. Banyak sekali manfaat bagi kesehatan Hanya dengan meluangkan 5 % ( lima persen ) waktu yang kita miliki setiap hari untuk olahraga dapat membuat mental menjadi lebih sehat, stress, menjadi jernih, dan memicu ttmbulnya perasaan bahagia. Disamping itu, olahraga telah menjadi bagian hidup dari masyarakat Indonesia, baik di kota besar maupun di pelosok pedesaan.
Maka dari itu peran olahraga di zaman yang serba instan ini memiliki peran yang sangat penting bagi penunjang kesehatan setiap individu maupun kelompok.
Olahraga juga bagian dari proses dan pencapaian tujuan pembangunan nasional sehingga keberadaan dan peranan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara harus ditempatkan pada kedudukan yang jelas dalam sistem hukum nasional. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional, mengatur segala aspek keolahragaan yang bertujuan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dari ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian
https://jdih.gianyarkab.go.id/
abadi, dan keadilan Dalam mewujudkan kehidupan bangsa yang bermanfaat bagi pembangunan yang berkeadilan dan
berkesinambungan
demokratis tersebut,
bertahap pembinaan
dan dan pengembangan keolahragaan nasional harus dapat menjamin kepada seluruh masyarakat untuk mendapatkan pemerataan akses terhadap olahraga, sarana dan prasarana olahraga yang memadai, area olahraga yang mencukupi sehinga dengan berolahraga secara teratur, baik dan benar tujuan peningkatan kesehatan dan kebugaran, serta peningkatan prestasi dapat tercapai dan pada akhirnya mampu melahirkan sumber daya manusia yang nantinya dapat berdaya guna dan mampu secara mandiri menghadapi tantangan serta tuntutan perubahan kehidupan nasional dan global. Dalam Pasal l3 ayat (2) Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional menegaskan bahwa pemerintah daerah mempunyai kewenangan untuk mengatur, membina, mengembangkan, melaksanakan, dan mengawasi penyelenggaraan keolahragaan di daerah.
Otonomi Daerah sebagaimana dimaksud dalam Undang — Undang Nomor 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintahan Daerah adalah hak, wewenang, dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri Urusan Pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sebagaimana diamanatkan oleh Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, terdapat Pemerintahan yang sepenuhnya menjadi kewenangan Pemerintah Pusat yang dikenal dengan istilah urusan pemerintahan absolut dan ada urusan pemerintahan konkuren. Urusan pemerintahan konkuren terdiri atas Urusan Pemerintahan Wajib dan Urusan Pemerintahan Pilihan yang dibagi antara Pemerintah Pusat, Daerah provinsi, dan Daerah kabupaten/kota. Urusan Pemerintahan Wajib dibagi dalam Urusan Pemerintahan Wajib yang terkait Pelayanan Dasar dan Urusan Pemerintahan Wajib yang tidak terkait Pelayanan Dasar.
Salah satu bentuk Urusan Pemerintahan Wajib yang tidak terkait Pelayanan Dasar adalah Kepemudaan dan Olah Raga
sebagaimana tersebut dalam pasal 12 ayat (2) huruf Undang — Undang Nomor 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintahan Daerah.
Dalam peijalanannya disadari bahwa implementasi Undang- Undang tentang Sistem Keolahragaan Nasional dan peraturan pelaksanaannya belum memadai untuk menjawab berbagai kondisi obyektif dan permasalahan yang dihadapi daerah dalam pembangunan olahraga. Demikian pula pada Kabupaten Gianyar, produk hukum daerah mengatur mengenai kewenangan untuk mengatur, membina,
mengembangkan, dan mengawasi
penyelenggaraan keolahragaan belum ada.
Keterbatasan dana atau pembiayaan juga merupakan permasalahan utama dalam keolahragaan. Hal tersebut semakin dirasakan dengan perkembangan modern yang menuntut penyelenggaraan keolahragaan harus didukung anggaran yang memadai. Untuk itu, dana keolahragaan tidak saja bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah, tetapi juga berasal Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara dan masyarakat lain melalui peran serta dalam pengadaan dana, pengadaan dan /atau pemeliharaan prasarana dan sarana, dan industri olahraga.
Kenyataan yang ada pada saat ini, di Kabupaten Gianyar perlu adanya komprehensif yang sangat diperlukan untuk mengatasi masalah yang terjadi dilapangan secara meluas, khususnya dalam penyelenggaraan
bahwa banyak kegiatan olahraga baik dalam pelaksanaan olahraga pendidikan, olahraga prestasi, maupun
rekreasi ditemukan kendala yang cukup menghambat. Beberapa yang dapat dijabarkan berdasarkan hasil wawancara di
koordinasi terkait diantara
Perangkat Daerah baik Dinas Pemuda Dan Olahraga beserta Dinas Pendidikan yang dulunya merupakan satu kesatuan Perangkat Daerah juga permasalahari dalam penyesuaian terhadap urusan pemerintahan bidang Olahraga setelah pemisahan perangkat daerah tersebut.
Hal yang perlu dikaji juga adalah ketersediaan sarana dan prasarana olahraga yang ada di Kabupaten Gianyar yang saat ini tersebar di beberapa tempat serta pengelolaan yang belum
https://jdih.gianyarkab.go.id/
memiliki dasar pengaturan, sehingga berdampak pada kurang maksimalnya kegiatan olahraga bagi pengolahraga maupun kegiatan pembinaan bagi olahraga pendidikan serta olahraga prestasi. Ketersediaan sarana olahraga seperti Stadion Dipta juga masih belum mampu mengatasi kegiatan pembinaan bagi olahraga pendidikan maupun olahraga prestasi. Akan tetapi keberadaan stadion tersebut juga mampu menyumbangkan pendapatan bagi Kabupaten Gianyar sehubungan dengan pelaksanaan kegiatan olahraga sepakbola.
diperhatikan adalah bentuk penghargaan olahragawan yang telah menyumbangkan prestasi. Sebagaimana yang ditemukan di lapangan bahwa sering terjadi olahragawan yang dulunya dalam pembinaan oleh Kabupaten Gianyar berpindah membela daerah lain dalam kegiatan olahraga berskala nasional, diakibatkan oleh kurang maksimalnya penghargaan bagi olahragawan.
Walaupun program tersebut telah dilaksanakan, akan tetapi masih dalam bentuk pengangkatan olahragawan pada tenaga harian lepas yang tidak memberikan jaminan penghidupan bagi olahragawan tersebut.
Lebih lanjut, penyelenggaraan olahraga rekreasi sebaiknya perlu dilakukan pembinaan dan pengawasan
keselamatan pelaku olahraga rekreasi dapat dijamin, sehingga mampu menarik wisatawan dan juga meningkatkan pendapatan daerah dari sektor pariwisata. Akan tetapi, tidak ditemukan kewenangan perizinan maupun pembinaan dan pengawasan pada perangkat daerah manapun di Kabupaten
Sehingga diperlukan pengaturan
pemungutan retribusi sebagai bagian dari upaya pembinaan dan pengawasan dalam rangka peningkatan jaminan keselamatan bagi pelaku olahraga rekreasi. Apalagi jenis olahraga rekreasi yang ada di Kabupaten Gianyar seharusnya memerlukan pengawasan yang lebih ketat seperti rafting yang cukup banyak diselenggarakan oleh pelaku pariwisata mengingat terdapat l2 buah sungai melintasi wilayah Kabupaten Gianyar, yang merupakan sarana dalam kegiatan olahraga rekreasi rafting dan bagian dari daya tarik wisata. Demikian pula dengan olahraga rekreasi bersepeda melintasi daya tarik wisata di Kabupaten
Gianyar, yang penyelenggaraannya menggunakan sarana jalan raya yang dapat menghambat kelancaran lalu lintas, sehingga diperlukan suatu sistem perijinan serta pembinaan dan pengawasan dalam rangka memberikan kenyamanan pada penyelenggaraan olahraga rekreasi tersebut tanpa memberikan dampak terhadap ha1 lain.
Berdasrkan hal tersebut diperlukan adanya Peraturan Daerah mengenai penyelenggaraan keolahragaan, sebagai upaya hukum khususnya bagi peningkatan keolahragaan di Kabupaten Gianyar.
II. PASAL DEMI PASAL Pasal l
Cukup jelas.
Pasal 2
Cukup jelas.
Pasal 3
Pasal 4
Cukup jelas.
Cukup jelas Pasal S
Cukup jelas.
Pasal 6
Cukup jelas.
Pasal 7
Cukup jelas.
Pasal 8
Cukup jelas.
Pasal 8
Cukup jelas.
Pasal 9
Cukup jelas.
Pasal 10
Cukup jelas.
Pasal 1 l
Cukup jelas.
Pasal 12
https://jdih.gianyarkab.go.id/
Cukup jelas.
Pasal 13
Cukup jelas.
Pasal 14
Cukup jelas.
Pasal 15
Cukup jelas.
Pasal 16
Cukup jelas.
Pasal 17
Cukup jelas.
Pasal 18
Cukup jelas.
Pasal 19
Cukup jelas.
Pasal 20
Cukup jelas.
Pasal 21
Cukup jelas.
Pasal 22
Cukup jelas.
Pasal 23
Cukup jelas.
Pasal 24
Cukup jelas.
Pasal 25
Cukup jelas.
Pasal 26
Cukup jelas.
Pasal 27
Cukup jelas.
Pasal 28
Cukup jelas.
Pasal 29
Cukup jelas.
Pasal 30
Cukup jelas.
Pasal 31
Cukup jelas.
Pasal 32
Cukup jelas.
Pasal 33
Cukup jelas.
Pasal 34
Cukup jelas.
Pasal 35
Cukup jelas.
Pasal 36
Cukup jelas.
Pasal 37
Cukup jelas.
Pasal 38
Cukup jelas.
Pasal 39
Cukup jelas.
Pasal 40
Cukup jelas.
Pasal 41
Cukup jelas.
Pasal42
Cukupjelas.
Pasal 43
Cukup jelas.
Pasal 44
Cukup jelas.
Pasal 45
Cukup jelas.
Pasal 46
Cukup jelas.