• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Menurut Permendikbud Nomor 21 Tahun 2016 tentang Standar Isi untuk Tingkat Kompetensi pada Tingkat Pendidikan Menengah (Kelas X-XII) salah satu kompetensi mata pelajaran biologi di SMA/ MA/ SMALB/ PAKET C adalah memahami dan menganalisis konsep, prinsip, hukum, dan teori biologi serta keterkaitan dan penerapannya untuk menyelesaikan masalah dalam kehidupan dengan salah satu ruang lingkup materi klasifikasi makhluk hidup pada KD 3.3.

Berdasarkan data hasil observasi pada Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) pada materi klasifikasi makhluk hidup pada Kompetensi Dasar/ KD 3.3 di 4 SMA eks Karesidenan Surakarta dan 1 SMA provinsi Jawa Timur menunjukkan indikator yang ditetapkan untuk KD 3.3 belum merujuk ke 4 konsep dasar taksonomi yang harus dikuasai yaitu keterampilan identifikasi, deskripsi, klasifikasi dan membuat fenogram (Wheeler, 2012). Penetapan indikator juga cenderung sama yaitu berkaitan dengan pemahaman konsep dasar prinsip klasifikasi makhluk hidup, sistem pengklasifikasian makhluk hidup, ciri-ciri setiap kingdom, tingkatan takson makhluk hidup dan sistem binomial nomenclature, kunci determinasi, dan pengidentifikasian makhluk hidup.

Indikator awal pencapaian siswa pada KD 3.3 diukur melalui soal evaluasi kognitif. Soal yang digunakan untuk mengukur indikator awal pencapaian KD 3.3 bersifat two tier diagnostic test berdasarkan identifikasi indikator umum kumpulan RPP yang telah disepakati oleh forum Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP).

Hasil Persentase jawaban responden pada uji kompetensi awal berdasarkan pemahaman konsep awal taksonomi diperoleh bahwa maksimum jawaban benar hanya 56% dari 147 responden pada 10 sekolah menengah atas (SMA) dari 10 SMA eks Karesidenan Surakarta.

commit to user

(2)

Materi klasifikasi makhluk hidup adalah salah satu materi yang erat kaitannya dengan kehidupan. Klasifikasi makhluk hidup merupakan suatu cara memilih dan mengelompokan makhluk hidup menjadi golongan atau unit tertentu. Materi klasifikasi makhluk hidup termasuk salah satu materi yang sulit untuk dipelajari, karena pada materi klasifikasi makhluk hidup mempelajari tentang perkembangan klasifikasi, bagaimana proses klasifikasi, mengklasifikasikan takson dari yang tertinggi sampai yang terendah, sistem tata nama makhluk hidup, menggunakan kunci determinasi, dan manfaat dari klasifikasi dimana siswa sulit untuk mempelajari dan memahaminya.

(Yusmar, Syamswisna, & Marlina, 2017). Berdasarkan penelitian Insani (2015), materi yang paling sulit untuk dipahami adalah Klasifikasi Makhluk Hidup yang dialami oleh 13 dari 48 orang guru (27%). Materi lainnya yang juga sulit dipahami dengan baik adalah Sistem Reproduksi sebanyak 5 orang (10%), dan Pewarisan Sifat sebanyak 4 orang (8%) se-kota Malang. Kendala utama dalam pembelajaran biologi adalah materi yang bersifat abstrak karena sulit divisualisasikan atau dikonkretkan.

Salah satu bagian penting dari pembelajaran Klasifikasi Makhluk Hidup adalah pembelajaran Kingdom Animalia. Materi Kingdom Animalia banyak memuat konsep-konsep tentang dasar-dasar Klasifikasi Makhluk Hidup berdasarkan persamaan dan perbedaan ciri pada tiap tingkat taksonomi tertentu. Berdasarkan hasil studi literatur, tingkat keterampilan klasifikasi siswa SMA dalam materi Animalia masih belum berkembang dengan baik (Kurniadi, 2015). Siswa merasa kesulitan dalam mempelajari materi Animalia dikarenakan konten materi yang sangat banyak, mulai dari ciri-ciri setiap filum, baik ciri-ciri morfologis maupun fisiologis yang sederhana disertai klasifikasi serta contoh organisme yang mewakilinya (Sistriyani, Suwarsi, &

Supriyadi, 2012). Ketercapaian siswa dalam belajar kingdom Animalia akhirnya belum mencapai kriteria ketuntasan minimal (KKM). Hasil penelitian terdahulu menyebutkan, bahwa ketuntasan hasil belajar siswa pada materi kingdom Animalia paling rendah dibandingkan materi lainnya dalam rumpun materi keanekaragaman hayati (Alawiyah, Muldayanti, & Setiadi, 2016). Ternyata setelah dianalisis, banyak siswa yang mengalami kesulitan dalam belajar Kingdom Animalia.

(3)

Kesulitan belajar tersebut apabila tidak segera diatasi akan menghambat siswa dalam menerima pengetahuan-pengetahuan baru. Apabila kesulitan belajar tidak segera diantisipasi oleh guru, maka berakibat semakin bertambahnya materi yang tidak mampu dipahami secara tuntas. Hal tersebut, dapat mengakibatkan ketidakmampuan siswa dalam mengevaluasi soal-soal yang diberikan dan akhirnya berdampak pada rendahnya hasil belajar siswa. Oleh karena itu, dibutuhkan berbagai usaha untuk mengatasi masalah tersebut, yaitu dengan pemanfaatan model dan media pembelajaran yang tepat (Alawiyah et al., 2016).

Berdasarkan hasil wawancara dengan guru biologi SMA Negeri 8 Surakarta diperoleh hasil bahwa media yang digunakan dikelas adalah power point. Pemanfaatan media pembelajaran masih rendah. Metode yang sering digunakan adalah ceramah.

Pembelajaran masih bersifat teacher centered learning. Siswa merasa bosan dan kurang tertarik selama pembelajaran berlangsung.

Implementasi model pembelajaran yang tepat dalam proses pembelajaran Biologi dapat meningkatkan pemahaman konsep siswa (Rahmatullah, 2011). Think Aloud Pair Problem Solving (TAPPS) adalah salah satu model pembelajaran yang melatih siswa untuk memecahkan masalah sehingga siswa terlatih untuk menemukan konsep (Mariyana, Ahzan, & Sukroyanti, 2018). Hasil penelitian Pate & Miller (2011) menunjukkan bahwa model TAPPS berpengaruh positif terhadap prestasi siswa daripada siswa yang tidak diberi perlakuan. Pate & Miller (2011) dalam penelitiannya menyatakan bahwa dalam proses belajar mengajar yang menggunakan pembelajaran kolaboratif dapat digunakan sebagai salah satu cara untuk mengurangai kesalahpamahaman dalam menyerap informasi pada diri siswa. Kemampuan verbal siswa dapat mendukung proses mengidentifikasi selama proses pemecahan permasalahan. Komunikasi siswa dengan siswa lain berpengaruh terhadap proses pemecahan permasalahan sehingga siswa dapat menemukan konsep dalam pembelajaran.

Model pembelajaran TAPPS adalah model pembelajaran yang dimulai dengan mengelompokkan siswa dengan berpasangan. Siswa dapat dikelompokkan antara 2/4

(4)

siswa, dalam kelompok tersebut terdapat siswa yang berperan sebagai problem solver dan listener. Problem solver memberikan penyelesaian masalah untuk memecahkan permasalahan terkait materi yang disampaikan oleh guru. Listener mendengarkan penyelesaian masalah dan memberikan umpan balik terhadap problem solver. Proses pembelajaran dengan model TAPPS dapat berganti peran. Sehingga melalui model pembelajaran ini siswa dapat terlatih menyelesaikan masalah yang terkait dengan kehidupan sehari-hari dan dapat menemukan konsepnya sendiri sehingga suasana pembelajaran menjadi aktif dikelas.

Namun karena adanya COVID-19 model pembelajaran ini tidak dapat diterapkan di kelas. Adanya COVID-19 berdampak pada sistem pendidikan di Indonesia (Pratiwi, 2020). Hasil keputusan dari menteri pendidikan bahwa seluruh kegiatan pembelajaran baik di sekolah maupun perguruan tinggi dilaksanakan di rumah masing-masing melalui aplikasi yang tersedia. Menteri Pendidikan mengeluarkan Surat Edaran Nomor 3 Tahun 2020 tentang Pencegahan Corona Virus Disease (COVID-l9) pada Satuan Pendidikan yang menyatakan bahwa meliburkan sekolah dan perguruan tinggi (Kemdikbud RI, 2020). Hal ini dilakukan untuk memutus mata rantai penyebaran COVID-19, sebagai gantinya kegiatan pembelajaran dilakukan secara daring untuk semua jenjang pendidikan. SMA Negeri 8 Surakarta merupakan salah satu sekolah yang menerapakan kebijakan tersebut. Bentuk perkembangan teknologi informasi yang dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran adalah menggunakan e-learning (pembelajaran daring) (Hartanto, 2016). Pembelajaran daring diartikan sebagai pembelajaran dengan suatu jaringan komputer yang saling terkoneksi dengan jaringan komputer lainnya ke seluruh penjuru dunia (Kitao & Kitao, 1998 dalam Riyana & Pd, 2018). Aplikasi e-learning ini dapat memfasilitasi aktivitas pelatihan dan pembelajaran serta proses belajar mengajar secara formal maupun informal, selain juga memfasilitasi kegiatan dan komunitas pengguna media elektronik, seperti internet, intranet, CD-ROM, Video, DVD, televisi, HP, PDA, dan lain sebagainya (Darmawan, 2012). Siswa dapat berinteraksi dengan guru menggunakan beberapa aplikasi seperti

(5)

e-classroom, video conference, telepon atau live chat, zoom maupun melalui whatsapp group (Arora & Dhull, 2019 dalam Fitriyani, Fauzi, & Sari, 2020).

Solusi atas penerapan model pembelajaran TAPPS yang terkendala yaitu dengan menggunakan media video pembelajaran. Video pembelajaran adalah salah satu media pembelajaran yang dapat digunakan dalam pembelajaran daring. Riyana (2012) berpendapat bahwa media video pembelajaran adalah media yang menyajikan audio dan visual yang berisi pesan-pesan pembelajaran baik yang berisi konsep, prinsip, prosedur, teori aplikasi untuk membantu pemahaman terhadap suatu materi pembelajaran. (Rahmat, 2012) mengemukakan, video pembelajaran adalah alternatif media pembelajaran elektronik yang dapat memuat wawasan dan pengetahuan mengenai teori dan penerapan materi dalam kehidupan sehari-hari. Video dapat memberikan nuansa baru dengan visualisasi konsep secara konkrit dan tampilan secara nyata. Penerapan konsep atau mengenai eksperimen yang tidak dapat dilakukan yang bersifat abstrak dapat divisualisasikan melalui video.

Penggunaan media pembelajaran dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru, membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan pembelajaran dan bahkan membawa pengaruh-pengaruh psikologis terhadap siswa (Koseoglu & Efendioglu, 2015). Menurut Asyhar (2010), seorang guru harus mampu mentransformasikan pengetahuan konten yang dimilikinya agar dapat dengan mudah dipahami oleh siswa melalui suatu media pembelajaran yang dapat mewadahi berbagai keterampilan siswa. Selain itu, guru yang berfungsi sebagai fasilitator dalam proses pembelajaran dituntut untuk dapat memilih dan menggunakan alat bantu media yang sesuai dengan kebutuhan siswa, serta meningkatkan kualitas pembelajaran (Odchazelova, 2015).

Berdasarkan pemaparan latar belakang di atas dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: hasil observasi pada RPP di 4 SMA eks Karesidenan Surakarta dan 1 SMA provinsi Jawa Timur menunjukkan bahwa RPP belum merujuk ke 4 konsep dasar taksonomi. Selain itu hasil pengukuran awal indikator pencapaian siswa pada KD 3.3 menunjukkan hasil maksimum jawaban benar hanya 56%. Siswa mengalami kesulitan

(6)

belajar pada KD 3.3 karena banyaknya materi yang bersifat abstrak. Salah satu materi yang penting dalam klasifikasi makhluk hidup adalah kingdom animalia. Namun pada materi ini siswa banyak mengalami kesulitan karena banyaknya konten materi sehingga nilai siswa tidak mencapai kriteria ketuntasan minimal. Implementasi model pembelajaran yang tepat diharapkan mampu mengatasi masalah tersebut. Model pembelajaran TAPPS adalah salah satu model yang melatih siswa untuk menemukan konsep. Namun karena adanya pandemi COVID-19 model pembelajaran ini tidak dapat diterapkan secara langsung dikelas, sehingga memerlukan media yang tepat. Video pembelajaran merupakan salah satu media pembelajaran yang dapat mengatasi masalah tersebut. Melalui video pembelajaran, model pembelajaran dapat diterapkan.

Berdasarkan latar belakang yang telah disebutkan, maka peneliti akan melakukan penelitian yang berjudul “Perancangan Pembelajaran Daring Materi Klasifikasi Animalia dengan Video Pembelajaran Berbasis Think Aloud Pair Problem Solving (TAPPS)”

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka timbul beberapa pernyataan yang mendasari penelitian ini, antara lain:

1. Indikator yang diterapkan guru dalam RPP belum merujuk kepada 4 konsep dasar taksonomi.

2. Indikator pencapaian Kompetensi Dasar/ KD 3.3 belum tercapai secara maksimal di dapatkan hasil maksimum jawaban benar hanya 56%.

3. Materi klasifikasi makhluk hidup merupakan materi yang paling sulit, karena memuat konsep-konsep yang tidak mudah divisualisasikan atau dikonkretkan 4. Kurangnya penggunaan media dan model pembelajaran.

5. Pandemi COVID 19 mengakibatkan dilaksanakannya pembelajaran daring C. Pembatasan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah di atas, maka penelitian dibatasi pada permasalahan sebagai berikut:

(7)

1. Subjek penelitian dibatasi pada peserta didik kelas X MIPA semester Ganjil SMA Negeri 8 Surakarta Tahun Pelajaran 2010/2021.

2. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif

3. Video pembelajaran berbasis TAPPS pada materi klasifikasi Animalia.

D. Rumusan Masalah

Rumusan masalah dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Bagaimana karakteristik pembelajaran daring materi klasifikasi Animalia dengan video pembelajaran berbasis TAPPS?

2. Bagaimana respon siswa dan guru terhadap pembelajaran daring materi klasifikasi Animalia dengan video pembelajaran berbasis TAPPS?

E. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui karakteristik pembelajaran daring materi klasifikasi Animalia dengan video pembelajaran berbasis TAPPS.

2. Untuk mengetahui respon siswa dan guru terhadap pembelajaran daring materi klasifikasi Animalia dengan video pembelajaran berbasis TAPPS.

F. Manfaat Penelitian

Adapun hasil penelitian yang dilakukan diharapkan dapat memberikan manfaat:

1. Manfaat Teoritis

Secara teoritis manfaat penelitian ini diharapkan dapat menjadi ilmu yang bermanfaat sebagai bahan referensi tambahan untuk pengembangan ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan model dan media dalam pembelajaran daring.

2. Manfaat Praktis a. Bagi Siswa

Menjadi alternatif media pembelajaran daring yang dapat menambah pengetahuan siswa.

b. Bagi Guru

Memberikan referensi kepada guru tentang media pembelajaran

(8)

daring yang dapat digunakan pada materi klasifikasi Animalia.

c. Bagi Sekolah

Menambah media pembelajaran sebagai penunjang proses pembelajaran di sekolah.

Referensi

Dokumen terkait

Akbar (2011)dalam penelitiannya menyatakan bahwa pendapatan petani penerima PUAP lebih tinggi dibandingkan petani non PUAP walaupun dengan selisih pendapatan yang

Dalam penelitiannya yang berjudul “Penerapan Pembelajaran Kooperatif Model Numbered Heads Together (NHT) untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa pada Mata Diklat

Analisis pencapaian dan peningkatan kemampuan pemodelan dan abstraksi matematis serta motivasi belajar siswa, juga penerapan pembelajaran kontekstual kolaboratif,

responden menyatakan kurang menunjang, dan 5% menyatakan tidak menunjang.. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa fasilitas menunjang terhadap kegiatan belajar mengajar mata

Minat belajar peserta didik dalam proses belajar mengajar adalah suatu perasaan atau rasa ketertarikan pada mata pelajaran atau proses belajar mengajar yang memunculkan

Paradigma baru yang mengembangkan strategi belajar mengajar siswa aktif dalam kegiatan belajar mengajar bukan hanya menuntut guru untuk mampu mendidik siswa agar

Sumarmo dkk dalam penelitiannya mengemukakan bahwa siswa mengalami kesulitan belajar dan guru juga mengalami kesulitan mengajar sehingga hasil matematika siswa sekolah

Keberhasilan proses belajar mengajar dapat dilihat dari prestasi belajar siswa. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi keberhasilan proses belajar mengajar