• Tidak ada hasil yang ditemukan

Journal of Communication Sciences Vol 3 No 2, April, 2021: 65-73

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Journal of Communication Sciences Vol 3 No 2, April, 2021: 65-73"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

65

Pengaruh Keterlibatan Caleg Milenial Terhadap Elektabilitas Partai Golkar Di Kalangan Pemilih Milenial Pada Pemilu 2019 Di Kabupaten Maros

The Effect Of The Involvement Of Milenial Candidates On The Electricity Of The Golkar Party Among Milenial Voter In The 2019 Election In Maros District

Fatmawati Hamir

Prodi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu SosiaI dan Ilmu politik, Universitas Islam Makassar

Abstract

This study aims to find out the influence of the involvement of millennial candidates on the electability of the Golkar Party, the research method uses a quantitative approach with regression analysis. The results showed that the variable involvement of millennial candidates explained 81 percent of the electability of the Golkar Party among youth.

Suggestions that can be formulated from this research are, political parties to be able to further improve the recruitment or regeneration system for legislative candidates or party members so that they have many programs or track records that can be seen by the public before nomination. openings because of who the people behind it are. Therefore, party leaders in the government are expected not to interfere with all elements of government in society.

Keywords: millennial voter; election; party elecability

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mencari tahu pengaruh keterlibatan caleg milenial terhadap elektabilitas Partai Golkar, metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan analisis regresi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variable keterlibatan caleg milenial menjelaskan 81 persen elektabilitas Partai Golkar di kalanga pemuda. Saran yang dapat dirumuskan dari penelitian ini adalah, partai politik agar bisa lebih memperbaiki sistem perekrutan atau kaderisasi calon legislatif atau anggota partai sehingga memiliki banyak program atau rekam jejak yang bisa terlihat oleh masyarakat sebelum pencalonan/.Masyarakat harus betul- betul melihat kualitas dan kapabilitas caleg bukaan karena siapa orang-orang di belakangnya. Oleh karena itu tokoh partaai yang ada di pemerintahan diharapkan tidaak mengintervensi semaua elemen-elemen pemerintahan yang ada di masyarakat.

Kata Kunci: pemilih milenial; pemilu; elektabilitas partai

PENDAHULUAN

Demokrasi merupakan salah satui istilah yang paling dikenal oleh rakyat Indonesia disamping istilah politik. Oleh karena itu bila mendengar istilah demokrasi tidak menjadi soal, apakah mereka memahami atau tidak, akan tetapi kata demokrasi itu telah menjadi bagian dari kehidupan politik mereka. Disukai atau tidak, istilah demokrasi telah demikian akrabnya dengan mereka.

Konsep klasik demokrasi diartikan sebagai bentuk pemerintahan yang dijalankan oleh banyak pihak “rule by the many” atau suatu bentuk pemerintahan yang dijalankan oleh rakyat “rule by the people”. Demokrasi berfokus pada dua hal penting yang saling berkaitan, yakni representasi (perwakilan) dan partisipasi. Yang pertama menunjukkan

pertimbangan pada kepentingan mayoritas atau orang banyak, dan yang terahir menunjukkan keinginan dan keikutsertaan publik pada aktivitas politik. Menurut Abraham Lincoln dalam suatu pidatonya yang menekankan bahwa dimana pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Atau arti lain Demokrasi adalah “sistem politik mengenai tata cara mengikutsertakan rakyat dalam membuat suatu keputusan” (Cangara, 2016:53).

Ketika rakyat atau warga diikut sertakan dalam pembuatan keputusan, di situlah terdapat demokrasi. Hali ini sejalan dengan ketentuan Undang-Undang Dasar pasal 1 ayat (2), yaitu : “Kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang-

(2)

66 Undang Dasar”. Ketentuani ini didasarii

prinsipi silai keempati Pancasilai: “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan”.

Ketentuan dan prinsip tersebut menegaskan mengenai adanya demokrasi di Indonesia dan harus terselenggara.

Di samping itu, masyarakat Indonesia telah menyelenggarakan pesta demokrasi yaitu Pemilu (Pemilihan Umum) padai tanggali 17 April 2019. Pemilui yang di selenggarakan ini merupakan pemilihan anggota legislatif, Presiden dani Wakil presiden.

Pemilihan umum adalah cerminan demokrasi dalam kehidupan berbangsa. Oleh karena itu untuk mendapatkan sebuah kursi jabatan sebagai anggota dewan legislatif para calon legislatif (caleg) harus memiliki dukungan dan suara pada saat pemilihan umum agar bisa terpilih menduduki kursi legislatif.

Bukan hanya keterwakilan rakyat yang di tentukan dalam pemilihan umum tetapi yang terpenting adalah seberapa jauh partai dapat memainkan perannya secara aktif di dalam proses politik. Oleh karena itu melalui pemilihan umum, demokrasi ditegakkan.

Seperti yang kita ketahui di dalam pemilihan umum harus ada partai politik yang berkompetisi dengan bebas karna ini merupakan cerminan dari masyarakat yang demokratis. Partai politik adalah wadah, setiap partai politik menyediakan calon legislatif sehingga harus melakukan perekrutan bakal calon anggota secara terbuka dan demokratis.

Kegiatan partai yaitu memilih calon, melakukan kampanye dalam proses pemilihan umum dan mengelola pemerintahan, mengadakan kegiatan sosial, mendirikan organisasi pemuda guna mengerahkan pemilih baru dan merekrut pekerja dan pemimpin (Ranney dalam Karim, 1991:8). Berdasarkan pendapat tersebut, maka partai politik sangat berperan dalam melahirkan para anggota legislatif. Anggota legislatif yang terpilih seharusnya memiliki kualitas dan kompetensi sebagai anggota dewan, sekaligus mampu menyuarakan konstituen yang diwakilinya.

Pemilu legislatif Kabupaten Maros tidak terlepas dari caleg milenial disetiap partai, khususnya Partai Golkar hal ini masihi

mendominasi pengaruh tingkat partisipasi pemilih milenial dalam menentukan arah dukungannya.

Berdasarkan riset yang diolah dari data Badan Pusat Statistik (BPS) dalam kompasiana.com, kelompok milenial merupakan pemilih terbesar. Persentasi kelompok milenial yang punya hak suara sebesar 37,7 persen pada Pemilu 2019. Caleg milenial adalah generasi baru calon politisi Indonesia. Mereka tak terlibat korupsi, kolusi, dan nepotisme yang marak, seperti di masa orde baru. Inilah beberapa hal yang menjadi alasan partai memilih generasi milenial untuk menjadi calon anggota lesislatif karena dianggap lebih paham dunia anak muda, masalah pendidikan kaum muda, lapangan pekerjaan, startup dan unicorn.

Namun penulis dalam penelitian ini hanya memfokuskan terhadap studi elektabilitas Partai Golkar Kabupaten Maros.

Partai menempatkan kader milenial pada setiap dapil yang beberapa menempati suara tertinggi pada pemilu legislatif 2019 kabupaten Maros. Dapil 1 meliputi Kecamatan Turikale dan Maros Baru, Dapil 2 meliputi Kecamatan Bontoa dan Lau, dan Dapil 3 meliputi Kecamatan Bantimurung, kecamatan simbang dan cenrana. Di antara partai yang terpilih yaitu Partai Golkar menempati suara tertinggi pada dapil 1 dan 3 kabupaten Maros, dengan perolehan suara sebanyak 3.312 di dapil 1 dan dapil 3 sebanyak 2.453.

Padahal, kita ketahui Partai Golkar yang mengalami penurunan tidak hanya di tingkat nasional namun Partai Golkar Kabupaten Maros juga mengalamii penurunani pascai terlibatnyai kader-kaderi partaii tingkat nasional dalami pemberitaan kasusi, dimulai pada Pemilu 2009-2014 berkurang menjadi 7 orang dimana sebelumnya mencapai 11 orang.

Sementara 2014-2019 hanya tersisa 4 kursi bagi kader Golkar. Pemilu 2019 mampu menaikkan jumlah kursi dari 4 menjadi 7 kursi di DPRD Maros hal ini menunjukkan adanya kecenderungan peningkatan elektabilitas partai pada pemilu legislatif DPRD Kabupaten Maros 2019.

Berdasarkan uraian dalam latar belakang tersebut, maka penulis tertarik untuk

(3)

67 melakukan penelitian dalami judul “Pengaruh

Keterlibatan Caleg Milenial Terhadap Elektabilitas Partai Golkar Pada Pemilu 2019 di Kabupaten Maros”

METODOLOGI PENELITIAN

A regresi yang mengukur bobot penilaian pada indicator variabel. Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Maros pada bulan Juli-Agustus 2019. Populasi penelitian ini adalah seluruhi milenial dii Kabupaten Maros yaang merupakan pemilih pada pemilu 2019.

Maka dilakukan pengambilan sampel menggunakan metode simple random sampling.

Berikut daftar jumlah pemilih milenial :

Tabel 1

Jumlah pemilih milenial di Kabupaten Maros

No. Daerah Pilihan Jumlah

Pemilih 1. Dapil 1 (Maros Baru, dan Turikale) 11.194 2. Dapil 2 (Bontoa, dan Lau) 10.681 3. Dapil 3 (Camba, Bantimurung,

Mallawa, Simbang, dan Cenrana)

11.718

Total 33.593

Sumber : Data diolah, 2019

Sampel dalam penelitian ini adalah para pemilih milenial yang berada di dapil 1, dapil 2 dan di dapil 3 Kabupaten Maros, yang dimana sudah berumur 19 hingga 39 tahun dan sudah memiliki hak pilih.

Berdasarkan data yang diperoleh maka peneliti menggunakan rumus Taro Yamane dengan presisi 5% dengan tingkat kepercayaan 95%, yakni n = 395,211765 dibulatkan menjadi 395 orang

Berikut merupakan definisi operasional penelitian”:

Variabel Bebas (X)

Variabel bebas (X) adalah keterlibatan caleg milenial yang terdiri dari:

Generasi Milenial, yaitu menjadi kelompok generasi terbesar.

Isu era globalisasi, yaitu memiliki pemahaman terkait isu era globalisasi sekarang.

Terkoneksi teknologi dan media social, yaitu mampu menjadi pribadi yang memiliki pemikiran terbuka dalam memecahkan atau menguraikan teknologi informasi yang lebih mudah dipahami.

Suasana Reformasi, yaitu dimana generasi millenial memiliki kelebihan yaitu membandingkan dua era kesempatan untuk mengubah kancah perpolitikan Indonesia Dorongan Keluarga, yaitu dalam keterlibatannya tidak terlepas dari dorongan keluarga.

Variabel Terikat (Y)

Variabel terikat merupakan variabel yang diduga sebagian akibat atau yang dipengaruhi oleh variabel lainnya (Kriyantono, 2008:21).

Variabel (Y) adalah Elektabilitas Partai Golkar yang akan ditampilkan kepada responden untuk menguji tiga hal yang akan dinilai dengan skala likert 1-5 oleh responden meliputi :

Popular : Apakah caleg milenial dikenal masyarakat.

Prestasi : Apakah caleg milenial memiliki prestasi

Rekam Jejak positif : Apakah responden mengetahui rekam jejak caleg

Kader Partai : Apakah responden mempertimbangkan kader partai

Lambang Partai : Apakah responden mengetahui atau mengingat identitas/lambang partai

Lokasi tempat tinggal : Apakah responden terpengaruh lingkungan tempat tinggalnya Tabel 2

Kisi-Kisi

N o

Variabel Indikator Pengukur

an 1. Keterlibat

an Caleg Milenial

Generasi milenial

Menjadi kelompok generasi terbesar

Skala Likert Isu era

globalisa si

Memiliki pemahaman terkait isu era globalisasi sekarang Terkone

ksi teknologi dan media sosial

Mampu menjadi pribadi yang memiliki pemikiran terbuka dalam memecahkan atau menguraikan teknologi informasi yang lebih mudah dipahami.

Suasana Reforma si

Mampu untuk mengubah kancah perpolitikan

(4)

68

Indonesia

Doronga n Keluarga

Memiliki dukungan dari keluarga selama proses

pencalonan sampai pemilihan 2. Elektabilit

as Partai Golkar

Populer apakah caleg milenial dikenal masyarakat

Skala Likert

Prestasi apakah responden mengetahui prestasi caleg milenial Rekam

Jejak positif

Apakah responden mengetahui rekam jejak caleg milenial Kader

Partai

Apakah responden mempertimbang kan kader partai Lambang

Partai

Apakah responden mengetahui atau mengingat identitas/lamban g partai Lokasi

tempat tinggal

Apakah responden terpengaruh lingkungan tempat tinggalnya

HASIL DAN PEMBAHASAN

Penelitian dimulai pada minggu terakhir bulan September 2019. Penelitian ini dilaaksanakan selama dua bulan, haal inii sesuai dengaan kebutuhan peneliti, untuik pengambilan daata laain sesuai kebutuhan penelitian dilaksanakan di luar jadwal penelitian yaang ditentukan. Pada penelitian ini peneliti membagikan kuesioner kepada masyarakat pemilih millennial dapil 1, dapil 2, dan dapil 3 pada pemilu 2019 di Kabupaten Maros yang berjumlah 33.593 orang.

Pemilihan ketiga dapil ini didasarkan pada pertimbangan, terdapat caleg millennial yang jumlahnya lebih banyak dan memiliki suara tertinggi dari dapil lain pada Partai Golkar pada pemilu 2019 di Kabupaten Maros. Selain itu, pemilihan ini didasarkan pada pertimbangan, salah satu dari dapil tersebut mendapatkan suara terbanyak di antara partai

lain. Caleg millenial diasumsikan lebih berpengaruh dalam peningkatan elektabilitas Partai Golkar. Hal ini berarti pemilih millenial seharusnya lebih berpengaruh terhadap terpilihnya caleg millenial.

Pada penelitan ini, peneliti melakukaan uji analisis data menggunaakan teeknik Uji Analisis Regresi Linear Sederhada dengan bantuaan Proagram SPSS 26. Sebelum menganalis, peneliti memenuhi uji prasyarat yang harus dipenuhi uji reliabilitas pada variabel dalam survey. Paada hasil penelitian ini, peneliti akan mendeskripsikan data masing-maasing variable, hasla pengujiaaan hipotesis, daan hasil temuan yag peneliti dapatkan dalam penelitian.

Berdasarkan sampel penelitian yang penulis tetapkan, dilakukan analisis terhadap identitas pemilih pada pemilu di dapil sampel yang terpilih. Tujuan penulis melakukan ini adalah untuk mengetahui secara spesifik karakteristik dari responden yang ada hingga diperoleh gambaran bagaimana pengaruh keterlibatan caleg milenial terhadap elektabilitas partai Golkar yang sesungguhnya.

Karakteristik yang digunakan berdasarkan pada 5 (LIMA) jenis karakteristik responden, yaitu jenis kelamin, usia, pendidikan terakhir, pekerjaan dan pengeluaran per bulan. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan, maka diperoleh identitas atau karakteristik responden sebagai berikut :

Jenis kelamin Tabel 3 Jenis Kelamin

Kategori Frekuensi Persentase

Laki-Laki 226 57,5%

Perempuan 169 42,5%

Sumber: Data hasil olahan kuesioner Bila dilihat dari persentasi jumlah pemilih perempuan dan laki-laki yang telah menggunakan hak pilihnya dalam pemilu terdapat kecenderungan pemilih laki-laki lebih banyak dari pemilih perempuan.

Kecenderungan ini terjadi karena pemilih yang di jumpai penulis kebanyakan dari laki-laki,

(5)

69 yaitu terdapat sebanyak 226 orang (57,5%)

laki-laki dan 169 orang (42,5%) perempuan.

Tabel 4 Usia

Kategor

i Frekuensia Persentasea

19 - 29

tahun 304 77%

30 - 39

tahun 91 23%

Sumber: Data hasil olahan kuesioner Jika dibedakan atas dasar penyebaran usia millenial responden terpilih, ada sebanyak 77% yang berusia 19-29 tahun. Hal ini mencerminkan bahwa sebagian besar responden yang terpilih adalah generasi milenial yang lahir di tahun 1990-2000.

Sedangkan generasi milenial yang lahir di tahun 1980-1989 sebanyak 91 orang (23%).

Tabel 5 Pendidikan

Kategori Persentase Persen

tase

SD 0 0%

SMP 0 0%

SMA 307 77,7%

D3 18 4,6%

≥ S-1 70 17,7%

Sumber: Data hasil olahan kuesioner Berdasarkan table 5.3 pendidikan terakhir yang dimiliki responden terpilih sebanyak 307 orang (77,7%) lulusan SMA, sebanyak 18 orang (4,6%) lulusan Diploma, sebanyak 70 orang (17,7%) lulusan strata 1, kemudian untuk lulusan SD dan SMP tidak ada (0%).

Tabel 6 Pekerjaan

Kategori Persentase Persen

tase Pegawai

Negeri 22 5,6%

Wiraswasta 55 13,9%

Bercocok

Tanam 37 9,4%

Pelajar/Mahasi

swa 161 40,8%

Belum Bekerja 77 19,5%

Lainnya 43 10,9%

Sumber: Data hasil olahan kuesioner Hasil penelitian menunjukkan bahwa dilihat dari latarbelakang pekerjaan responden, pelajar/mahasiswa merupakan pemilih terbanyak yaitu sebanyak 161 orang, sebanyak 55 orang wiraswasta dan sebanyak 77 orang yang belum bekerja, kemudian disusul oleh pekerjaan lain-lain seperti karyawan, nelayan dan ibu rumah tangga sebanyak 43 orang, PNS sebanyak 22 orang, setelah itu petani 37 orang.

Tabel 7

Pengeluaran Perbulan

Kategori Persent

ase

Per sentase

< Rp. 500.000a 158 40

% Rp. 500.000 - Rp.

999.999a 139 35,

2%

Rp. 1.000.000 - Rp.

1.999.999a 77 19,

5%

Rp. 2.000.000 - Rp.

2.999.999a 17 4,3

% Rp. 3.000.000 – Rp.

4.999.999a 4 1%

>Rp. 5.000.000a 0 0%

Sumber: Data hasil olahan kuesioner Dilihat dari tingkat pengeluaran responden, lebih banyak yang berpengeluaran lebih rendah atau sama dengan lima ratus ribu rupiah sebanyak 40% kemudian berpengeluaran lima ratus ribu rupiah sampai Sembilan ratus sembilan puluh sembilan ribu sembilan ratus sembilan puluh sembilan.

Analisis Data Ujit Reliabilitas

Pengujian ini menggunakan SPSS 26, yaitu dengan rumus alpha cronbach. Kriteria reliabilitas instrument dibagi menjadi lima kelas, yaitu:

Berikut adalah hasil uji reliabilitas pada soal test dengan menggunakan SPSS 26:

(6)

70 Tabel 8

Nilai Reliabilitas

Vari abel

Indi kator

Alp ha Cronbach

Keteran gan

Ket erlibatan Caleg Millenial

Gen erasi Millenial

.777 Reliabel

Isu Era Globalisasi

.793 Reliabel

Terk oneksi teknologi dan media sosial

.681 Reliabel

Suas ana Reformasi

.663 Reliabel

Dor ongan Keluarga

.820 Sangat

Reliabel

Elek tabilitas Partai Golkar

Pop uler

.958 Sangat

Reliabel Pres

tasi Rek am Jejak Positif

Kad er Partai

Lam bang

Lok asi Tempat Tinggal

Sumber: Data diolah, 2019

Berdasarkan perhitungan SPSS 26 pada tabel Reliability Statistics, nilai Cronbach’s Alpha setiap iteem padaa instrument tersebutt adaalah reliaabel. Jadii respondeen menudnjukkan bahawa respondeen memilikei konsiestensi.

Ujii Hipotesis

Selanjutnya penulis menguji hipotesis melalui analisis regresi di SPSS. Hipotesis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

H0: Tidak terdapat pengaruh keterlibatan caleg Millenial terhadap elektabilitas Partai Golkar

Ha: Terdapat pengaruh keterlibatan caleg Millenial terhadap elektabilitas Partai Golkar.

Hipotesis pada penelitian ini diuji dengan analisis regresi berganda. Hipotesis ini berguna untuk mengetahui pengaruh Keterlibatan Caleg Millenial terhadap elektabilitas Partai Golkar. Melalui uji regresi berganda di SPSS, tabel dibawah ini akan menjelaskan hasil perbandingan tersebuit, lalu diambil suatu kesimpulan untuk menolak maupun menerima suatu hipotesis.

Tabel 9

Model Summary

M

odel R

R Square

Adj usted R Square

Std Error of the Estimate

1 .

906a

.

821 .818 .23

151

predictors (Constant), Millenial

ANOVA

M odel

S um of Square s

D f

M ean Squar

e F

S ig

1 R

egression

9

5.345 5 1

9.069

3 55.776

. 000b R

esidual

2 0.850

3 89

. 054 T

otal

1 16.194

3 94

Dependent Variable : Elektabilitas Predictors (Constant), Millenial Coefficients

Unst andardized Coefficients

St andardize d Coefficien ts

M

odel B

S td.

Erro r

Be

ta T

S ig

1 (

Constan t)

. 301

. 116

2 .600

. 01 0 M

ean_gm

. 115

. 039

.1 09

2

.936 .

00

(7)

71

4 M

ean_ieg .

078

. 031

.0 84

2 .538

. 01 2 M

ean_tms .

060

. 024

.0 88

2 .528

. 01 2 M

ean_sr .

495

. 035

.4 81

1 4.252

. 00 0 M

ean_dk .

188

. 020

.2 86

9 .570

. 00 0

Dependent Variable: Mean_Elektabilitas Sumber: Data diolah, 2019

Penjelasan dari tabel di atas adalah sebagai berikut:

Pada output Model Summary menjelaskan besarnya nilai korelasi atau hubungan (R) yaitu sebesar 0,906. Dari output tersebut diperoleh koefisien determinasi (R Square) sebesar 0.821, yang mengandung pengertian bahwa pengaruh variable bebas (Keterlibatan Caleg Millenial) terhadap variable terikat (Elektabilitas Partai Golkar) adalah sebesar 82,1% esedangkan sisanyae sebesarf 17,9% dipengaruhii olehi variabeli externali.

“Pada output Model Summary tertulis Standard Error of the Estimate mempunyai nilai 0.23. Standard Error of the Estimate adalah ukuran kesalahan prediksi. Dalam kasus ini, kesalahan dapat terjadi dalam memprediksi nilai elektabilitas partai sebesar 0.23”.

Berdasarkan output Coefficientsa konstanta sebesar 0.301 mengandung arti bahwa nilai konsisten variabel partisipasi adalah sebesar 0.301.

Berdasarkan output Coefficientsa diperoleh nilai signifikansi generasi millenial (gm) 0,04 < 0,05 yang berarti X dan Y berpengaruh, nilai signifikansi isu era globalisasi sebesar (ieg) 0,012 < 0,05 berarti berpengaruh, kemudian nilai signifikansi variabel terkoneksi teknologi dan media sosial (tms) 0,012 < 0,05 juga berpengaruh, nilai signifikansi Suasana Reformasi (sr) 0,000 <

0,05, dan signifikansi dorongan keluarga dibawah 0,05 sebesar 0,000, sehingga dapat di simpulkan bahwa hubungan antara keterlibatan caleg millenial dan elektabilitas partai signifikan atau berhubungan karena semua di bawah 0,05 namun yang paling signifikan atau error nya tidak ada adalah suasana reformasi dan dorongan keluarga. Kemudian berdasarkan nilat t (hitung) diketahui semua menunjukkan angka yang lebih besar dari t (tabel) 0,1256 Sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel Caleg Millenial (X) berpengaruh terhadap variabel Elektabilitas Partai (Y).

Kriteria Pengujian:

Jika taraf nilaiSig.> 0,05, maka Ho diterima.

Jika taraf nilaiSig. ≤ 0,05, maka Ho ditolak.

Pada tabel 5.45 output ANOVA tertulis bahwa taraf nilai Sig. 0,000 dan tarafl 5%.

Darii tabeli dii atasi diketahuii bahwai nilai Sig.= 0,000 < 0,05. Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima.

Artinya bahwa ada pengaruh keterlibatan caleg millennial terhadap elektabilitas partai. Seperti yangi dikemukakan dalam paragraf sebelumnya bahwa keterlibatan caleg millenial memberikan pengaruh sebesar 82,1%

terhadapi elektabilitas partai, sedangkan sisanya 17,9% dipengaruhi oleh variabel lain.

Pembahasan

Politik Indonesia pasca Orde Baru ditandai oleh banyak perubahan. Salah satunya adalah makin pentingnya peran kandidat dalam pemilu. Fealy (2014) menyatakan bahwa politik Indonesia makin lebih didorong oleh personalitas individu daripada mesin partai politik.

Caleg millenial diharapkan mampu membawa perubahan dan sesuatu hal yang baru dalam dunia politik di Indonesia. Situasi politik yang membuat generasi millenial merasa jenuh dan apatis dengan politik Indonesia, yang membuat generasi milenial memiliki idealisme untuk membuat perubahan di sistem politik Indonesia. Banyaknya anak muda yang ikut terjun dalam bidang politik juga menggambarkan kejenuhan masyarakat

(8)

72 dari golongan millenial dengan situasi politik

yang sudah terjadi.

Hal ini di sebabkan oleh beberapa alasan yang telah di rangkum setelah melakukan pendalaman alasan mengapa generasi Millenial ingin terlibat dalam politik. Berikut penjelasan masing-masing 5 indikator keterlibatan caleg millenial yang dilakukan pada 395 responden yang berasal dari pemilih millenial di tiga daerah pilihan Kabupaten Maros, yaitu:

Generasi millenial, menunjukkan bahwa sebagian besar pemilih adalah di dominasi oleh generasi millenial, pemilih millenial juga dianggap mampu mengetahui keinginan masyarakat terlihat dari kegiatan yang diselenggarakan, dengan penampilan yang menarik dan di kenal oleh banyak masyarakat menjadi modal utama dalam menaikkan elektabilitas partai.

Dalam Isu Globalisasi, caleg millenial sangat baik dalam mengenalisa isu yang terjadi ataupun permasalahan daerah dengan cara berdialog langsung dengan masyarakat, sehingga pemilih lebih dekat dan mengenal lebih baik lagi calon legislatif millenial. Hal ini bisa menjadi sebuah prestasi atau memberikan kesan rekam jejak positif .

Terkoneksi teknologi dan media sosial, generasi millenial juga sangat terfokus pada sosial media utamanya promosi dimana sekarang orang lebih banyak menghabiskan waktu di jejaring sosial, dan solusi yang di ambil dalam mengatasi permasalahn utamanya memajukan daerah dan menciptakan lapangan pekerjaan kerap dikaitkan dengan teknologi.

Akan tetap tetapi tidak begitu banyak responden yang berteman atau mengenal caleg pilihannya melalui sosial media

Suasana Reformasi, bisa dikatakan adalah momen yang baik untuk membuat suatu perubahan baik itu partai itu sendiri ataupun caleg millenialnya, perubahan terlihat ketika caleg millenial melakukan pendekatan langsung dengan mengunjungi rumah masyarakat untuk mensosialisasikan programnya namun hal ini juga tidak membuat semua respon begitu yakin dengan alasan atau indikator terjunnya generasi millenial di dunia

politik hal ini dikarenakan adanya pembagian fokus daerah di setiap calon legislatif.

Dorongan Keluarga, ikutnya generasi millenial dalam pemilihan umum yang paling diakui oleh responden adalah adanya indikator dorongan keluarga, pemilih millenial juga sangat mempertimbangkan latar belakang keluarga caleg millenial baik itu melihat dari orang tua caleg millenial adalah tokoh masyarakat, pernah menjadi anggota legislatif dan memiliki rekam jejak yang baik, sampai dalam hal perekonomian caleg millenial.

Mengenal perilaku pemilih dalam menghadapi pemilihan umum legislatif, yang berkaitan dengan faktor sosiologis, memuat beberapa hal yangi harus digaris bawahi.

Pertama, ketika pemilih dihadapkan pada pilihan calon legislatif dalam pemilihan umum, partai politik dan latar belakang keluarga memberi pengaruh terhadap pilihan calon legislatif, pemilih cenderung memilih caleg yang memiliki keluarga yang berperan penting dalam membangun daerah.

Kedua, dalam survei ini adanya janji- janji pemberian bantuan materi tidak banyak mempengaruhi pemilih dalam menentukan pilihannya. Namun, bagi pemilih yang telah berusia lanjut, tinggal di pedesaan, dan berpendidikan rendah, maka janji-janji tersebut merupakan hal yang menjadi pertimbangan dalam menjatuhkan pilihan dalam pemilihan umum legislatif.

Ketiga, dalam menentukan pilihan politiknya, para pemilih millenial sering terpengaruh oleh pilihan orang-orang di sekitarnya seperti keluarga dan teman sekelompoknya.

Para pemilih millenial khususnya yang tinggal di pedesaan, mayoritas mengikuti sikap orang tuanya atau tokoh yang dihormati di lingkungannya. Dalam kaitannya dengan pilihan terhadap partai politik, kaum pemilih millenial ini cenderung meneruskan tradisi keluarga dengan memilih partai politik yang selama ini telah dipilih secara turun-temurung oleh keluarganya dari generasi ke generasi.

Sementara itu, dalam memilih calon legislatif, kaum pemilih millenial ini cenderung memilih

(9)

73 figur yang terkenal meskipun mereka tahu

lebih lanjut tentang latar belakang dan visi misi calon legislatif tersebut.

Selanjutnya, mengenai perilaku pemilih dalam menghadapi pemilu legislatif, yang berkaitan dengan faktor psikologis memperlihatkan beberapa catatan penting.

Pertama, diskusi mengenai politik dalam lingkungan terkecil khususnya keluarga ikut mempengaruhi pilihan dalam pemilu. Kedua, kecenderungan pemilih millenial memilih caleg yang sama dengan dirinya, seperti usia dan aktifitas. Sementara itu, kajian mengenai perilaku pemilih menghadapi pemilu, yang berkaitan dengan faktor rasional/ekonomi memperlihatkan bahwa pemenuhan kebutuhan ekonomi merupakan isu yang strategis bagi mayoritas pemilih. Hal ini yang kemudian berkembang menjadi kompetisi antar kandidat calon anggota legislatif, maupun antar partai politik sendiri, untuk membangun kedekatan dengan pemilihnya. Tujuan utamanya adalah bagaimana mendapatkan dukungan dari pemilih yang kemudian mampu memberikan kesejahteraan kepada pemilihnya.

KESIMPULAN

Adapun kesimpulan pada penelitian ini adalah pengaruh keterlibatan caleg millenial pada pemilu 2019 di kabupaten Maros sangat besar hal ini dilihat dari tingkat keterpilihan kader partai Golkar yang mampu mencapai suara tertinggi di beberapa daerah pilihan dan menambah suara partai sehingga mampu menempatkan kadernya dalam anggota legislatif terpilih hal ini menyebabkan kader partai golkar menduduki ketua DPRD Kabupaten Maros.

Jumlah persentase pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat adalah sebesar 76,4%. Selebihnya 23,6% perilaku pemilih millenial dipengaruhi oleh faktor-faktor lain.

Saran

Kepada masyarakat kabupaten maros agar lebih mengenal lagi calon legislatif pilihannya, mencari informasi terlebih dahulu tentang siapa saja calon yang akan di pilih sehingga yang terpilih betul-betul mampu memahami dan membawa aspirasi masyarakat

Partai politik agar bisa lebih memperbaiki sistem perekrutan atau kaderisasi calon legislatif atau anggota partai sehingga memiliki banyak program atau rekam jejak yang bisa terlihat oleh masyarakat sebelum pencalonan

Masyarakat tidak boleh takut akan tekanan pemerintah dalam mempengaruhi pilihannya dan tidak terpengaruh dengan imbalan bentuk apapun demi menjaga nilai- nilai dari demokrasi itu sendiri dan sebagai wujud akan pilihan dari hati nurani.

Tokoh-tokoh partai yang ada di pemerintahan untuk tidak mengintervensi semua elemen-elemen pemerintahan yang ada di masyarakat. Masyarakat harus betul-betul melihat kualitas dan kapabilitas calon legislatif dan bukan karena siapa orang-orang di belakangnya.

.

DAFTAR PUSTAKA

.

DPD Partai GOLKAR, Sulawesi Selatan. 2018.

Materi Workshop dan Orientasi Fungsionaris. Jakarta

Karim, M. Rusli. 1991. Pemilu Demokratis Kompetitif. Yogyakarta: Tiara Wacana.

Kriyantono, Rachmat. 2006. Teknik Praktis Riset Komunikasi. Jakarta: Kencana

Gambar

Tabel 9  Model Summary  M odel  R  R Square  Adjusted  R Square  Std  Error of the Estimate  1

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan observasi yang telah dilakukan menunjukkan bahwa kemampuan membaca permulaan anak TK Kelompok B di Gugus Sidomukti menunjukkan bahwa terdapat 113

Remaja yang memiliki banyak teman dan merasa dirinya diterima di dalam kelompok sebaya cenderung mempersepsikan diri positif sehingga akan menunjukkan perilaku positif di

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen dengan rancangan eksperimen desain A-B-A-B yang mana subyek diberi dua macam perlakuan yaitu

Dari uraian di atas, di mana terdapat hasil penelitian yang berbeda- beda, penulis tertarik untuk meneliti hubungan partisipasi anggaran dan informasi asimetri terhadap

Pengukuran kinerja bagi perpustakaan sangat penting untuk mengetahui kemajuan dan perkembangan yang telah dicapai dengan membandingkan dengan kinerja sebelumnya, bahan untuk evaluasi

Penelitian ini dilakukan untuk. Populasi penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang.. Penelitian ini menggunakan perusahaan manufaktur sebagai populasi karena

Menunjukkan faktor atau atribut yang mempengaruhi kepuasan Peserta Didik MA NU Banat Kudus, termasuk unsur-unsur pelayanan yang dianggap sangat penting, namun