• Tidak ada hasil yang ditemukan

Disusun oleh: ANGGRAINI MIFTACHUR ROCHMAH (03/166144/SP/20199)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Disusun oleh: ANGGRAINI MIFTACHUR ROCHMAH (03/166144/SP/20199)"

Copied!
113
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI No. 2448

MANSOUR FAKIH DAN TRANSFORMASI SOSIAL

(Studi pemikiran Mansour Fakih mengenai Transformasi Sosial di Indonesia)

Diajukan sebagai syarat wajib bagi penulisan tugas akhir untuk mendapatkan gelar strata satu

Disusun oleh:

ANGGRAINI MIFTACHUR ROCHMAH (03/166144/SP/20199)

JURUSAN ILMU PEMERINTAHAN

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS GADJAH MADA

YOGYAKARTA

2007

(2)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Masyarakat adalah sebuah kompleksitas individu dan kelompok yang terdiri dari berbagai kepentingan dan seringkali berbenturan. Pada dasarnya, interaksi yang terjadi dalam internal masyarakat sendiri merupakan suatu hubungan kekuasaan antara kekuatan kelompok–kelompok sosial yang ada. Jika dianalogikan dalam hubungan yang lebih makro, hubungan kekuasaan juga terjadi dalam hubungan antara masyarakat dengan negara. Relasi kekuasaan yang terjadi antara masyarakat dengan negara inilah yang sering menimbulkan banyak persoalan seperti persoalan keadilan dan asas kemerataan yang tidak dirasakan oleh setiap warga negara karena berbagai faktor, seperti bias suku, ras, gender, agama, kelompok ekonomi serta afiliasi politik masyarakat.

Secara sederhana, keadilan dapat dimaknai sebagai keseimbangan antara pemberian hak dan pemenuhan kewajiban. Dalam hubungan masyarakat dan negara, parameter keadilan di ukur dari kesamaan, kesempatan dan perlakuan negara terhadap masyarakat dalam berbagai aspek kehidupan berkaitan dengan kedudukannya baik sebagai individu maupun sebagai bagian dari kelompok. Ada hubungan timbal balik yang bersifat mutualisme antara negara dengan masyarakat.

Masyarakat diwajibkan untuk memenuhi kewajiban yang tertuang dalam ketentuan dan peraturan negara, sedangkan masyarakat berhak memperoleh haknya sebagai

(3)

warga negara dan sebagai manusia. Dengan demikian, akan terjadi hubungan yang sinergis diantara keduanya.

Memang terdengar sebagai sebuah hal yang utopis ketika kita mulai membicarakan masalah keadilan bagi setiap orang dan keinginan untuk menciptakan keadilan itu sendiri sehingga keadilan tersebut dapat dinikmati oleh setiap orang.

Namun, bukan pula suatu hal yang mustahil karena bisa jadi hal tersebut sangat mungkin untuk bisa diwujudkan.

Ketidakadilan termanifestasi dalam berbagai bentuk. Ada dua golongan yang mempunyai pendapat berbeda dalam melihat berbagai persoalan yang terjadi di masyarakat, seperti persoalan kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan, kesenjangan sosial dan berbagai masalah keadilan. Pertama, golongan yang berpendapat bahwa persoalan yang terjadi adalah kesalahan internal, yaitu kesalahan yang berasal dari manusia atau masyarakat sendiri. Masyarakat tidak mempunyai kemampuan untuk memajukan kesejahteraannya sendiri sebagai manusia padahal kesempatan sudah ada. Kedua, golongan yang berpendapat bahwa persoalan ketidakadilan yang terjadi adalah sebagai akibat dari sistem dan struktur yang tidak adil. Mansour Fakih menyebut keadaan ini sebagai proses dehumanisasi yang terjadi baik secara represif maupun menggunakan sistem dan struktur yang ada. Dehumanisasi ini yang menyebabkan timbulnya berbagai macam persoalan ketidakadilan dan penegakan Hak–hak Asasi Manusia.

Respon manusia terhadap keadaan di sekitarnya tidak terlepas dari pengaruh pemikiran yang melingkupinya, latar belakang pendidikan, ekonomi, sosial, politik, budaya, dll. Apakah dia menyadari suatu realitas sosial sebagai suatu kewajaran yang

(4)

memang terjadi begitu adanya atau bahkan sebenarnya realitas sosial yang ada adalah sebuah rekayasa sosial yang siapapun bisa saja menciptakan realitas sosialnya sendiri sekaligus melakukan perubahan di dalamnya. Untuk itulah diperlukan kesadaran kritis untuk memahami realitas yang ada disekitar kita.

Kesadaran kritis manusia terkadang terbelenggu oleh ideologi–ideologi yang ada disekitarnya, seperti, ideologi kapitalistik. Manusia tidak menyadari kenyataan yang sebenarnya terjadi. Sebagai contoh, bagaimana dia melihat pembangunan dan modernisasi di Indonesia yang tidak hanya sekedar menjadi jargon yang digembor- gemborkan pemerintah, tetapi juga sudah menjadi diskursus (discourse)1 dan bahkan ideologi bagi setiap rakyat Indonesia. Diskursus yang dibangun selama ini adalah pembangunan dan modernisasi diyakini sebagai solusi dari berbagai krisis yang melanda negeri ini.

Disatu sisi, moderinisasi dianggap sebagai solusi yang tepat untuk menyelesaikan berbagai persoalan ekonomi dalam mewujudkan kehidupan yang lebih baik bagi masyarakat di negara berkembang. Modernisasi di segala bidang membawa konsekuensi ke dalam seluruh aspek kehidupan masyarakat, baik secara ekonomi, politik, hukum dan sosial. Disini lain, modernisasi cenderung membuat masyarakat merasa nyaman berada dalam kemapanan yang diciptakan oleh sebuah atau beberapa sistem dan struktur yang melingkupinya. Kemapanan yang membuat manusia, baik kedudukannya sebagai seorang individu maupun sebagai suatu

1 Discourse kadang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia sebagai wacana. Namun, penggunaan wacana dianggap lebih merujuk pada efek–efek positif yang ditimbulkan. Sedangkan discourse lebih merujuk pada efek negatif. Jadi diskursus dianggap lebih tepat digunakan untuk menjelaskan bahwa segala sesuatu tidak bebas kepentingan

(5)

kelompok yang ada dalam masyarakat, memilih untuk bersikap apatis terhadap keadaan di sekitarnya.

Dibidang ekonomi, modernisasi dan pembangunan ekonomi di Indonesia tidak bisa dilepaskan begitu saja dari sistem kapitalisme yang melingkupinya.

Kapitalisme dianggap menciptakan jarak antara rakyat kecil dengan masyarakat menengah ke atas menjadi semakin jauh, siapa yang mempunyai modal dan kekuasaan dialah pemenangnya. Bahkan kapitalisme diyakini sebagai penyebab meningkatnya jumlah kemiskinan di berbagai negara, khususnya di negara–negara berkembang. Masyarakat memang dikondisikan untuk menjadi miskin. Kapitalisme merupakan sistem akumulasi modal dan keuntungan yang hanya dapat dinikmati oleh sekelompok elit.

Masyarakat menganggap ini sebagai satu solusi yang diambil negara untuk mengentaskan kemiskinan dan akan membawa perbaikan kehidupan ekonomi masyarakatnya. Pembangunan dan modernisasi yang hanya difokuskan pada aspek perekonomian saja membuat masyarakat jauh dari kehidupan politik. Asal perut kenyang, maka hal lain seperti masalah politik dan hukum tidak akan dipersoalkan lagi. Bahkan politik seperti halnya seks, menjadi hal yang tabu untuk dibicarakan.

Hal ini menjadi salah satu strategi negara untuk menjauhkan masyarakat dari kehidupan politik, mengurung kesadaran kritisnya dan membuat masyarakat menjadi apolitis dengan menggiring perhatian masyarakat pada pentingnya pertumbuhan dan pembangunan ekonomi demi kesejahteraan masyarakat.

Pembangunan dan modernisasi sebenarnya tidak seperti yang terlihat sebagaimana idealnya. Bagi Mansour Fakih, hal tersebut merupakan salah satu

(6)

bentuk dari hegemoni negara untuk mengendalikan masyarakat sekaligus mengurung kesadaran kritisnya dari realitas sosial yang sebenarnya. Pembangunan dan modernisasi diukur dari tingkat pertumbuhan dan pendapatan masyarakat.

Kesejahteraan masyarakat dijadikan tolak ukur keberhasilan pembangunan. Dengan tanpa disadari, keduanya telah merenggut hak–hak masyarakat dalam aspek kehidupan non ekonomisnya seperti aspek politik, sosial maupun aspek hukum.

Implikasinya adalah timbulnya berbagai macam persoalan yang berkaitan dengan penegakan Hak–hak Asasi Manusia.

Tidak hanya itu saja, praktek ketidakadilan juga dapat kita temui dari banyaknya perlakuan diskriminatif bagi sekelompok orang, seperti kaum perempuan, masyarakat cacat, anak–anak. Perempuan selalu diposisikan sebagai makhluk yang lemah, tidak mempunyai kekuatan untuk memajukan dirinya sendiri. Sedangkan kaum cacat selalu dilihat sebagai sekelompok orang–orang aneh yang tidak bisa melakukan apapun.

Tulisan ini akan melacak pemikiran Mansour Fakih mengenai Transformasi Sosial sekaligus melakukan beberapa catatan kritis di dalamnya. Mansour Fakih adalah seorang aktivis yang menaruh perhatian besar terhadap terjadinya proses perubahan sosial di Indonesia, kesetaraan gender, perjuangan hak–hak masyarakat cacat (yang kemudian disebut dengan istilah difable -different able people-- )2 dan penegakan Hak–hak Asasi Manusia di Indonesia. Pemikirannya mengenai Transformasi Sosial banyak dipengaruhi oleh teori–teori sosial kritis, khususnya teori

2 Ada beberapa kalangan yang menerjemahkan difabel dengan different abilities. Tetapi istilah pertama kali yang muncul dari kata difabel merupakan singkatan dari different able people yang dalam perkembangannya orang menerjemahkan dengan berbeda-beda.Lih Saleh Abdullah, Januari 2007

(7)

sosial kritis yang berasal dari kalangan neo marxis, seperti pemikiran Antonio Gramsci.

Konsep pemikiran yang menarik dari ide Mansour Fakih mengenai Transformasi Sosial ini adalah upaya perlawanan terhadap sistem yang dianggap tidak pro rakyat kelas bawah yang dilakukan tidak hanya sebatas dengan melakukan demo ataupun upaya–upaya represif yang mungkin bisa dilakukan tetapi juga bisa dilakukan dengan upaya non represif lainnya. Bukan hanya melalui aksi demonstrasi, kerusuhan, huru–hara, dan revolusi seperti bentuk–bentuk gerakan sosial3 yang umum dilakukan.

Berangkat dari asumsi kestabilan ekonomi akan menguatkan kestabilan politik, negara telah melegitimasi setiap tindakan dan kebijakannya sebagai kebijakan yang jelas pro rakyat. Dalam pandangan Mansour, sistem yang ada sekarang ini adalah penyebab keadaan sosial ekonomi yang terjadi di banyak negara berkembang semakin memburuk, misalnya saja, dibidang ekonomi, yaitu meningkatnya angka kemiskinan.

Lebih dari itu, Mansour Fakih berusaha untuk memaparkan ide Transformasi Sosial secara lebih luas dan jelas sehingga mampu mengkerangkai terjadinya proses perubahan sosial di Indonesia. Transformasi Sosial perlu dilakukan untuk merubah kondisi yang ada sekarang. Kondisi yang timpang dan sarat dengan ketidakadilan.

Proses perubahan sosial yang efektif tidak hanya memposisikan masyarakat sebagai obyek. Namun lebih dari itu, masyarakat adalah komponen penting untuk menjadi subyek dalam proses berlangsungnya perubahan sosial itu sendiri.

3 Haryanto, MA, Analisis Tahap–Tahap Gerakan Mahasiswa Indonesia : Laporan Penelitian, FISIPOL UGM, Yogyakarta, 1983

(8)

B. Rumusan Masalah

Sebuah penelitian yang dilakukan selalu berangkat dari sebuah atau beberapa persoalan. Berbagai persoalan itu yang kemudian akan dirumuskan dalam pertanyaan–pertanyaan yang menjadi kunci untuk melakukan penelitian ini. Setelah menguraikan latar belakang permasalahan yang ada, maka ada pertanyaan mendasar dan paling besar yang ingin coba di jawab oleh penulis dalam tulisan ini yaitu :

1. Apakah yang dimaksud dengan Transformasi Sosial dalam pandangan Mansour Fakih?

2. Apa yang melatar belakangi pemikirannya?

3. Apakah kontribusi Pemikiran Mansour Fakih untuk pergerakan sosial di Indonesia?

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian

Penelitian yang dilakukan oleh penulis dalam menelusuri pemikiran Mansour Fakih mengenai transformasi sosial dimaksudkan untuk:

1. Menambah pemahaman secara teoritik mengenai ide transformasi sosial yang dikembangkan oleh Mansour Fakih. Dengan pemahaman tersebut, diharapkan akan memberikan pemahaman yang lebih luas mengenai perubahan sosial yang sebenarnya terjadi di Indonesia.

2. Memberikan suatu pandangan baru bagi masyarakat Indonesia pada khususnya dalam melakukan suatu perubahan sebagai respon dalam menyikapi realitas sosial yang terjadi di sekeliling kita sekaligus wacana baru untuk memahami realitas sosial yang ada.

(9)

D. Panduan Teoritis

Kerancuan penggunaan istilah perubahan sosial dan transformasi sosial sering menyebabkan adanya multi-interpretasi di kalangan masyarakat dengan konsekuensi menimbulkan berbagai pemahaman yang berbeda-beda. Secara terminologis, perubahan sosial dan transformasi sosial memiliki makna yang sama, yaitu menciptakan tatanan kehidupan yang lebih baik. Perubahan sosial lebih familiar dipakai untuk menunjuk pada perubahan sosial yang bersifat ekonomis, sedangkan transformasi sosial merujuk pada perubahan jangka panjang yang memiliki cakupan perubahan yang lebih luas. Cakupan perubahan itu meliputi segala aspek kehidupan dan lapisan masyarakat. Beberapa kalangan menggunakan istilah perubahan sosial dan transformasi sosial secara terpisah. Namun, pada dasarnya kedua istilah tersebut merujuk pada satu makna yang sama.

D.1 Teori Perubahan Sosial

Perubahan sosial merupakan terjemahan langsung dari social change. Dari dua suku kata itu dapat diketemukan arti katanya. Social, memberi makna terhadap segala sesuatu yang ada dan berkembang bersama, melibatkan pihak–pihak lain yang didalamnya tercipta interaksi dan lahirnya nilai–nilai yang dipegang bersama.

Sedangkan change, menunjukkan adanya perubahan. Perubahan sosial atau social change dapat dipahami sebagai perubahan suatu keadaan atau norma dan nilai yang telah dipegang oleh masyarakat, namun tidak berarti mengabaikan apa yang telah ada dimasa lalu.

Kondisi ini sangat berbeda sekali dengan pemikiran–pemikiran kaum konservatif yang pro status quo. Mereka beranggapan bahwa seluruh kehidupan

(10)

dijagat raya ini sudah diatur dan ditentukan oleh kehendak Tuhan dan alam. Mereka meyakini bahwa perubahan sosial hanya akan membuat tatanan masyarakat yang telah ada menjadi porak–poranda. Dengan demikian, tidak akan menyumbangkan apapun bagi kesejahteraan masyarakat.

Dalam kajian ilmu sosiologi, perubahan sosial merupakan sebuah proses yang mencakup keseluruhan aspek kehidupan masyarakat yang bertujuan untuk mencapai ataupun menciptakan suatu keadaan yang berbeda dari keadaan sebelumnya, yaitu suatu keadaan yang memiliki tatanan sosial yang lebih baik. Perubahan sosial merupakan konsekuensi dari kehidupan sosial masyarakat yang dinamis. Namun demikian, tidak selamanya perubahan sosial mencakup seluruh aspek kehidupan masyarakat (secara bersamaan)4 tetapi akan mengalami tahapan–tahapan tertentu yang akan memberi efek bagi aspek kehidupan sosial lainnya, baik dalam tingkat pengaruh yang besar atau hanya sedikit saja.

Talcot Parsons5 menganalogikan perubahan sosial dengan manusia sebagai suatu sistem. Manusia ibarat sebuah sistem yang terdiri dari berbagai organ dimana apabila ada masalah dengan salah satu organ akan mempengaruhi fungsi organ lain.

Begitu juga dalam perubahan sosial, dimana perubahan pada satu bagian akan mengakibatkan perubahan pada bagian lain.

Namun, pada dasarnya perubahan itu ada, terjadi dan memberi pengaruh terhadap hal–hal lain karena tidak ada aspek kehidupan dalam masyarakat yang bisa berdiri sendiri. Satu sama lain saling berkaitan dan saling mempengaruhi.

4 Piotr sztomka, Sosiologi Perubahan Sosial, Prenada Media, Jakarta, 2001

5 Suwarsono dan Alvin Y.SO, Perubahan Sosial dan Pembangunan, LP3ES, Jakarta, 2000

(11)

Masyarakat akan selalu mengalami perubahan yang menuju pada keseimbangan baru.

D.1.1. Teori Perubahan Sosial dari Berbagai Perspektif

Kemunculan berbagai teori perubahan sosial tidak terlepas dari paradigma dan perspektif yang digunakan dalam menganalisa realitas sosial yang ada. Jika diklasifikasikan, secara garis besar, teori perubahan sosial terbagi menjadi dua, yaitu teori perubahan sosial mainstream dan teori perubahan sosial sebagai kritik dari teori perubahan sosial mainstream.

D.1.1.1 Teori Perubahan Sosial Mainstream

Teori perubahan sosial mainstream selalu didominasi oleh teori modernisasi dan pembangunan. Asumsinya adalah perubahan dan perbaikan ekonomi akan berpengaruh pada perubahan dan perbaikan di bidang politik dan sosial. Teori modernisasi dan pembangunan sangat populer di negara–negara berkembang. Teori ini menjadi paradigma utama dalam melakukan perubahan sosial di negara–negara dunia ketiga. Teori modernisasi ini tidak dapat dilepaskan dari pengaruh negara–

negara barat khususnya Amerika Serikat. Awalnya teori modernisasi ini digunakan untuk mencegah perluasan ideologi komunisme uni soviet di negara–negara Asia.

Modernisasi tidak bisa dilepaskan dari pembangunan (developement). Di hampir seluruh negara berkembang, teori ini dijadikan teori perubahan sosial dominan yang dianggap menjadi satu–satunya tujuan dalam melakukan perubahan

(12)

sosial. Bagi penganut teori perubahan sosial mainstream, teori perubahan sosial dominan ini dianggap paling banyak menjanjikan harapan.6

Modernisasi merupakan proses yang terjadi melalui berbagai tahap.7 Pada intinya, teori modernisasi menekankan pada aspek internal bagi kegagalan proses perubahan sosial yaitu pada aspek individu atau pelaku perubahan sosial itu sendiri.

Teori modernisasi bekerja dengan dimulai dari mencari penyebab kegagalan perubahan sosial yang terjadi di suatu negara, yaitu penyebab terjadinya kemiskinan di suatu negara.

Kelompok penganut teori modernisasi meyakini bahwa dalam suatu masyarakat dibutuhkan manusia modern. Manusia modern adalah manusia yang mampu mengembangkan sarana material menjadi sesuatu yang produktif. Inkeles menjelaskan mengenai karakteristik manusia modern. Manusia modern memiliki ciri–ciri sebagai berikut:

1. Sikap keterbukaan terhadap pengalaman dan ide–ide baru.

2. Berorientasi ke masa sekarang dan ke masa depan.

3. Memiliki kesanggupan untuk merencanakan.

4. Memiliki keyakinan bahwa manusia mampu menguasai alam, bukan sebaliknya.

Menurut kaum modernis, dalam konteks masyarakat tradisional, nilai–nilai dan norma masih erat dipegang. Hubungan emosional diantara individu dalam masyarakat masih sangat kuat. Masyarakat tradisional cenderung mempunyai

6 Mansour Fakih, Masyarakat Sipil untuk Transformasi Sosial: Pergoalakan Ideologi LSM Indonesia, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2004, hal 39

7 Agus Salim, Perubahan Sosial:Sketsa Teori dan Refleksi Metodologi kasus Indonesia, Tiara Wacana, Yogyakarta, 2002 hal 10

(13)

hubungan sosial hubungan yang mempribadi dan emosional.8 Hal ini berbeda dengan masyarakat modernis yang memiliki hubungan kerja yang tidak mempribadi dan berjarak9 bahkan cenderung individualistik.

Syarat untuk menjadi manusia modern adalah setiap orang harus mempunyai motivasi dalam dirinya. McClleland menyebutnya sebagai virus need for achievement (n-ach). Konsep need for achievement adalah semangat baru dalam melakukan pekerjaan yang tidak hanya dilakukan untuk memenuhi kebutuhan materialnya saja tetapi juga memenuhi kepuasan batin dengan melakukan pekerjaan yang sempurna. McClelland meyakini bahwa faktor penyebab terjadinya kemiskinan dan keterbelakangan adalah karena manusia tidak mempunyai motivasi untuk berprestasi. Dalam dunia usaha, konsep n-ach dibutuhkan untuk mendorong jiwa berwirausaha.

Parameter utama bagi keberhasilan modernisasi adalah tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi yang ditandai dengan kondisi masyarakat yang memiliki sifat terbuka, mempunyai kemampuan berusaha dan bekerja keras, penggunaan tekhnologi tinggi dan investasi modal yang memadai.

D.1.1.2 Teori Perubahan Sosial Strukturalis

Kepopuleran teori modernisasi di negara–negara berkembang tidak terlepas dari peran negara maju yang bertindak sebagai sponsor dan promotor.

Namun demikian, teori modernisasi tidak lepas dari berbagai kritikan. Teori Modernisasi mendapat kritik yang sangat tajam tidak hanya dari golongan radikal tetapi juga dari kelompok akademisi sosial lainnya. Pada perkembangan selanjutnya,

8 Ibid hal 12

9 Ibid hal 12

(14)

modernisasi di negara berkembang cenderung mengacu pada proses modernisasi yang terjadi di negara barat. Hal ini membuat tertutupnya kemungkinan model dan teori10 lain dalam melakukan pembangunan di negara dunia ketiga. Modernisasi dianggap sebagai teori ideal untuk memajukan negara–negara berkembang.

Dari sudut pandang Neo Marxis, teori modernisasi dipandang hanya sekedar sebagai ideologi yang digunakan Amerika serikat untuk melakukan intervensi terhadap negara–negara berkembang demi tercapainya kepentingan Amerika.11 Kritik dari Neo Marxis terhadap teori modernisasi ini yang melahirkan teori dependensi.

Teori dependensi menitik beratkan pada persoalan kemiskinan, keterbelakangan dan persoalan–persoalan pembangunan lainnya yang terjadi di negara berkembang. Teori dependensi mewakili suara negara berkembang untuk menentang hegemoni ekonomi, politik, budaya dan intelektual dari negara maju.12

Raul Prebish, Paul Baran, Cordoso, Andre Gunder Frank adalah beberapa tokoh penganut teori dependesia ini. Dari gagasan–gagasan mereka dapat ditarik benang merah bahwa penyebab kemiskinan dan keterbelakangan di negara berkembang adalah bukan masalah internal masyarakatnya, namun lebih dari itu, permasalahannya ada pada sistem ekonomi dan politik yang melingkupinya.

D.2 Agen Perubahan Sosial

Ada dua pola umum terjadinya perubahan sosial berdasarkan agennya. Agen perubahan sosial adalah mereka yang mempu menggerakkan terjadinya perubahan

10 Mansour Fakih, Masyrakat Sipil untuk Transformasi Sosial: Pergolakan Ideologi LSM Indonesia, Op.cit 132

11 Agus Salim, Op.cit hal 53

12 Agus Salim, Op.cit hal 89

(15)

sosial dalam masyarakat. Perubahan sosial bisa terjadi karena digerakkan dan bahkan dikendalikan oleh negara maupun diserahkan oleh pasar.13

Pertama, di negara berkembang, sering juga disebut dengan negara dunia ketiga, negara memainkan peran penting dalam proses perubahan sosial. Negara, di ibaratkan sebagai arsitek perubahan sosial yang merancang desain pembangunan sedemikian ideal. Dalam hal ini, negara memposisikan masyarakat sebagai obyek yang hanya mengikuti pola perubahan yang di desain oleh negara. Atau dengan kata lain, masyarakat adalah partisipan perubahan sosial. Kedua, disamping negara yang memegang peranan penting, pasar (market) juga berperan penting dalam perubahan sosial di Indonesia. Di Indonesia sendiri, sebagai salah satu negara berkembang, proses perubahan sosial tidak hanya dikendalikan oleh negara tetapi juga oleh pasar.

Disamping dua pola umum yang telah disebutkan diatas, sesungguhnya masyarakat juga bisa berperan dalam proses perubahan sosial itu sendiri. Pada umumnya, mereka diorganisir dalam sebuah organisasi yang mewakili mereka dalam melakukan perubahan sosial. Organisasi–organisasi ini yang dinamakan dengan Organisasi Non Pemerintah (ORNOP) dalam era Orde baru lebih dikenal dengan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).

D.3 Transformasi Sosial

Transformasi sosial hampir selalu digunakan bersamaan dengan istilah perubahan sosial. Istilah transformasi dapat di uraikan menjadi dua suku kata. Trans yang dimaknai sebagai perpindahan dan formasi yang diartikan sebagai bentuk,

13 Agus Salim, Op.cit hal 13

(16)

susunan. Jadi, secara sederhana, Transformasi dapat diartikan sebagai perubahan bentuk atau perubahan susunan.

Menurut Roy Bhaskar, perubahan sosial meliputi proses reproduction dan proses transformation. Proses reproduction adalah proses pengulangan segala hal yang menjadi warisan nenek moyang, baik berbentuk materiil maupun immateriil yang berwujud nilai, norma dan adat. Hal ini berkaitan dengan perilaku masa lampau masyarakat yang berpengaruh pada masa sekarang dan masa depan. Sedangkan proses transformasi adalah suatu proses penciptaan hal yang baru.

Perubahan sosial memang menjadi agenda utama dari setiap gerakan–gerakan sosial. Pilihannya adalah perubahan yang hanya sekedar bersifat reformatif atau transformatif.14 Perubahan sosial reformatif menekankan pada upaya untuk mendorong masyarakat miskin dan terbelakang untuk mengejar ketertinggalannya dari masyarakt maju. Perubahan sosial reformatif ini menjadi ciri khas teori perubahan sosial mainstream. Sedangkan prubahan sosial yang bersifat transformatif lebih menekankan pada perubahan yang dilakukan secara mendasar, yaitu perubahan sistem dan struktur. Perubahan sosial transformatif atau yang biasa disebut dengan transformasi sosial dinilai lebih efektif untuk memecahkan permasalahn yang ada dalam masyarakat ketimbang perubahan sosial reformatif yang hanya terfokus pada penyebab terjadinya kemiskinan dan keterbelakangan.

14 Suwarsono, Op.cit hal 89

(17)

Transformasi sosial dilakukan dengan mendasarkan pada perspektif transformatif dalam memandang sesuatu. Perspektif transformatif mempunyai ciri- ciri sebagai berikut: 15

1. Mempertanyakan paradigma mainstream yang telah berkembang dalam masyarakat dan ideologi yang tersembunyi di dalamnya.

2. Selain itu, perpektif transformatif digunakan untuk menemukan paradigma altrenatif yang akan mengubah struktur dan superstruktur yang menindas rakyat serta membuka kemungkinan bagi rakyat untuk mengontrol cara produksi dan mengontrol informasi dan ideologi mereka sendiri.

3. Menjadikan rakyat sebagai pusat perubahan yang memiliki kontrol atas sejarah dan pengetahuan mereka sendiri.16

4. Perspektif transformatif berusaha menciptakan superstruktur dan struktur yang memungkinkan bagi rakyat untuk mengontrol perubahan sosial dan menciptakan sejarah mereka sendiri, struktur yang memungkinkan bagi masyarakat menuju jalan demokratis dalam perubahan sosial, ekonomi dan politik.

Tidak seperti teori perubahan sosial mainstream dalam pemahaman umum yang mereduksi perubahan sosial sebagai perubahan besar di bidang ekonomi saja, transformasi sosial menunjuk pada perubahan yang sifatnya lebih menyeluruh dan mempunyai cakupan yang lebih luas daripada perubahan sosial seperti yang umum dipahami. Menyeluruh, dalam hal ini memberi arti bahwa perubahan sosial tidak

15 Mansour Fakih, Masyarakat Sipil untuk Transformasi Sosial, Op.cit hal 131

16 Mansour Fakih, Masyarakat Sipil untuk Transformasi Sosial, Op.cit hal 133

(18)

sekedar bertumpu pada aspek ekonomi saja sebagai titik awal untuk melakukan perubahan di aspek–aspek yang lain.

Sebagai contoh, Antonio Gramsci dapat dikatakan sebagai salah satu pemikir Neo Marxis yang juga menyumbangkan gagasan–gagasannya mengenai perubahan sosial. Gagasan besarnya yang disebut dengan hegemoni17 memberi kontribusi bagi proses perubahan sosial. Konsep perubahan sosial18 yang ditawarkan Gramsci merupakan kritik dari konsep marxisme yang terlalu deterministik dalam menjelaskan proses perubahan sosial yang terjadi dalam masyarakat. Marxisme meyakini bahwa perjuangan kelas dalam aspek ekonomi adalah hal yang utama karena buruh merupakan agen peubahan sosial yang paling penting. Sedangkan Gramsci berpendapat bahwa buruh dan perjuangan kelas bukan satu–satunya faktor penentu terjadinya perubahan sosial. Diperlukan suatu aliansi diantara kekuatan–

kekuatan sosial yang ada dalam masyarakat untuk dapat melakukan suatu perubahan yang bersifat transformatif.

Transformasi sosial tidak hanya perubahan sosial yang berkarakter kelas, yang menunjuk pada satu golongan masyarakat saja tetapi juga mencakup perubahan sosial non kelas.

D.4 Transformasi Sosial dalam Konteks Indonesia

Sejak pemerintahan Orde baru, Indonesia, seperti negara berkembang pada umumnya menggunakan teori modernisasi untuk mengatasi berbagai masalah kemiskinan dan keterbelakangan. Negara masih memegang peranan penting dalam

17 Secara umum dapat dipahami sebagai penguasaan terhadap suatu bangsa. Istilah ini pertama kali digunakan oleh seorang Marxis dari Rusia bernama Plekhanov untuk menunjukkan pada kelas pekerja mengenai pentingnya membentuk suatu aliansi dalam rangka melawan tsarisme.

18 Gramsci juga menggunakan istilah transformasi sosial untuk merujuk pada istilah perubahan sosial.

(19)

proses perubahan sosial sekaligus ada campur tangan dari pasar. Campur tangan pasar terhadap perubahan sosial tidak lebih sekedar dari konspirasi negara dengan pasar untuk tetap memegang kendali perubahan sosial, menentukan arah dan tujuan perubahan sosial bagi masyrarakat Indonesia.

Namun, yang terjadi pada kenyataannya, teori modernisasi tidak cukup mampu menjawab berbagai persoalan yang terjadi di negara ini. Jargon pembangunan yang menekankan pada aspek fisik dengan pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi pada masa Orde baru menyimpan banyak penderitaan rakyat. Dari segi ekonomi, negara sangat bergantung dari bantuan negara barat dan lembaga keuangan internasional lainnya. Implikasinya, beban utang yang ditanggung oleh rakyat semakin bertambah dan semakin bertambah. Tentu saja, hal seperti ini tidak membuat keadaan menjadi baik malah sebaliknya, negara dan masyarakat menjadi tergantung dengan negara barat.

Di bidang politik, sosial dan budaya, belum dapat dilihat hasil yang memuaskan dari perubahan sosial selama ini. Meninggalkan Orde baru dan masuk era Reformasi, tidak membuat keadaan menjadi lebih baik walau memang kran demokrasi dibuka lebih lebar. Masih banyak permasalahan yang terjadi di negara ini, seperti, masih banyak terjadi pelanggaran Hak–hak Asasi Manusia, seperti perdagangan manusia, perdagangan anak, diskriminasi suku dan kelompok dalam memperoleh hak–hak politik, hak hukum ataupun diskriminasi gender di lingkungan kerja. Era Reformasi nampaknya tidak cukup menyediakan ruang bagi proses perubahan sosial yang sebenarnya.

(20)

E. Metode Penelitian

Penelitian mengenai Transformasi Sosisal ini merupakan jenis penelitian yang menggunakan metode kualitatif deskriptif. Peneliti hanya menggambarkan dan memaparkan sebuah fenomena yang terjadi sebagai jawaban dari pertanyaan riset yang diajukan.

Dalam penelitian ini, peneliti akan mendeskripsikan dengan apa adanya pemikiran Mansour Fakih mengenai Transformasi Sosial. Apa yang melatar belakangi pemikiran itu muncul, bagaimana Mansour merumuskannya dan outcome apa yang dihasilkan.

E.1 Jenis Data

Data yang dibutuhkan untuk menjawab pertanyaan riset dari penelitian ini terbagi menjadi dua jenis, yaitu data mengenai profil Mansour Fakih yang meliputi latar belakang pendidikan, profesi, akademis, data mengenai pemikiran-pemikiran besar yang mempengaruhi pemikiran Mansour Fakih serta data yang berbicara mengenai Transformasi Sosial yang berasal dari buku dan artikel yang ditulis Mansour Fakih sendiri ataupun yang disinggung oleh penulis lain.

E.2 Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data akan dilakukan dengan menggunakan metode dokumentasi dan wawancara.

E.2.1 Metode Dokumentasi

Metode dokumentasi yang digunakan adalah dengan mengumpulkan dokumen–dokumen, yang dapat berupa buku, maupun artikel. Pengumpulan dokumen hanya terbatas pada buku–buku, artikel, jurnal dan laporan penelitian

(21)

lainnya mengenai transformasi sosial, gender dan feminisme, bahasan mengenai difabel, pendidikan dan bahasan mengenai Hak–hak Asasi Manusia.

Dari metode dokumentasi yang digunakan dalam penelitian ini maka akan dapat diperoleh data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang diperoleh dari buku yang ditulis oleh Mansour Fakih, yaitu Bebas dari Neoliberalisme, Analisis Gender dan Transformasi Sosial, Masyarakat Sipil untuk Transformasi Sosial, Runtuhnya Teori Pembangunan dan Modernisasi, Jalan Lain:

Manifesto Intelektual Organik. Data sekunder lainnya diperoleh dari artikel, laporan, jurnal yang ditulis langsung oleh Mansour Fakih maupun pernyataan–pernyataan dari Mansour Fakih yang dipublikasikan oleh media massa. Adapun data sekunder adalah data yang diperoleh dari buku, artikel, jurnal, surat kabar/koran/media massa yang mendukung.

E.2.2 Metode Wawancara

Wawancara adalah bentuk komunikasi langsung antara peneliti dengan responden dalam proses tanya jawab.19 Mengingat wawancara tidak bisa dilakukan langsung dengan sumbernya, maka wawancara akan dilakukan dengan orang–orang yang memiliki kedekatan dengan obyek. Mereka adalah rekan kerja Mansour Fakih selama berada di INSIST (Indonesian Society for Social Transformation).

Wawancara akan dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara tidak berstruktur untuk menghindari suasana formal yang akan menghambat penulis dalam menggali data lebih banyak. Wawancara dilakukan penulis dengan Saleh Abdullah sebagai sekretaris sekretariat INSIST dan Toto Raharjo sebagai Ketua dewan

19 W Gulo, Metodologi Penelitian, Grasindo, Jakarta, 2002 hal 119

(22)

Pendidikan. Hal ini dikarenakan adanya keterbatasan waktu dan tenaga yang dimiliki oleh penulis mengingat sumber-sumber wawancara yang penting tidak berada di Yogyakarta.

E.3 Kelemahan dan Kelebihan Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data yang dilakukan untuk menjawab pertanyaan riset dalam penelitian ini memiliki kelemahan dan kelebihan sebagai berikut:

a. Kelebihan dan Kelemahan Metode Dokumentasi

Kelebihan menggunakan metode dokumentasi adalah bahwa ada banyak hal yang bisa diperoleh sebagai data, baik data primer maupun data sekunder. Sedangkan kelemahan dari metode dokumentasi ini adalah kesulitan pada saat interpretasi data itu sendiri sehingga tidak mudah untuk membedakan mana data yang sebenarnya ataupun yang hanya memberikan informasi dan penjelasan yang mendukung bagi data tersebut.

b. Kelebihan dan Kelemahan Metode Wawancara Tidak Berstruktur

Kelebihan dari menggunakan metode wawancara yang tidak berstruktur adalah kejelasan data bisa digali lebih dalam tidak terbatas pada panduan- panduan wawancara yang dilakukan disamping itu juga dengan menggunakan metode wawancara tidak berstruktur akan menciptakan suasana yang lebih nyaman antara pewawancara dan sumber informasi.

Kelemahan metode wawancara tidak berstruktur ini adalah apabila wawancara tidak fokus pada topik yang dibicarakan sehingga data yang

(23)

seharusnya bisa diperoleh malah jadi tidak bisa didapatkan dari sumber informan.

E.4 Teknik Analisa Data

Analisa data dimaksudkan untuk menggali dan menggambarkan pemikiran Mansour fakih mengenai transformasi sosial. Teknik analisa data yang digunakan adalah:

1. Tahap pengumpulan data

Pengumpulan data dimulai dengan mengumpulkan data–data yang diperoleh dari buku–buku, artikel, surat kabar dan jurnal maupun dari hasil wawancara dengan rekan kerja. Data itu akan dibagi dalam bentuk data primer dan data sekunder.data primer merupakan tulisan langsung dari Mansour Fakih dan data sekunder merupakan data penunjang dari penulis–penulis lain yang berbicara mengenai Mansour Fakih dan Transformasi Sosial, gender, feminisme, pendidikan dan Hak Asasi Manusia di Indonesia.

2. Reduksi data

Reduksi data yaitu memilah–milah data yang relevan dan yang kurang relevan untuk mencapai tujuan penelitian. Pemilahan data dilakukan dengan mencari sumber dan informasi yang diperoleh dari buku, jurnal, surat kabar, artikel dan hasil akan dikumpulkan. Langkah selanjutnya adalah mencari mana sumber dan informasi yang dapat dijadikan data penting dan mendukung penelitian ini.

(24)

3. Metode interpretasi20

Metode intrepretasi data dimaksudkan untuk memahami maksud, konsep yang di kemukakan oleh Mansour Fakih.

4. Metode deskriptif

Setelah proses pengumpulan data, intrepretasi data kemudian dari hasil data yang diperoleh akan disajikan dan diuraikan secara sistematis dan runut.

F. Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan akan dibagi menjadi lima bab sebagai berikut:

1. BAB I : Pendahuluan

Berisi latar belakang permasalahan, rumusan masalah, panduan teoritis dan metodologi penelitian yang akan digunakan dalam melakukan penelitian.

2. BAB II : Mansour Fakih dan Pengaruh Pemikiran-Pemikiran Besar terhadap Pemikiran Mansour Fakih

Berisi deskripsi singkat mengenai latar belakang Mansour Fakih yang meliputi kehidupan sosialnya, latar belakang pendidikan, aktivitas dan lingkungan kerja serta pemikiran–pemikiran tokoh besar yang diadopsi Mansour Fakih dan mempengaruhinya.

3. BAB III : Transformasi Sosial Ala Manosur Fakih

Berisi penjelasan mengenai Transformasi Sosial yang dibayangkan oleh Mansour Fakih dan bagaimana Mansour Fakih merumuskan gagasan-gagasannya

20 Hadari Nawawi dan Martini Hadari, Instrumen Penelitian Bidang Sosial , Gadjah Mada Press, Yogyakarta, 1992 hal 72

(25)

tersebut. Di dalam Bab IV ini, perspektif difabel akan dibahas sebagai isu yang paling menonjol dari gagasan Transformasi Sosial Mansour Fakih.

4. BAB IV : Menumbuhkan Perspektif Difabel dalam Kerangka Hak Asasi Manusia

Berisi mengenai relevansi pemikiran Mansour Fakih tentang Transformasi Sosial dalam konteks masyarakat Indonesia, yaitu yang erat kaitannya dengan gerakan Hak Asasi Manusia di Indonesia.

5. BAB V : Penutup

Berisi mengenai kesimpulan dan refleksi kritis atas gagasan Transformasi Sosial Mansour Fakih.

(26)

BAB II

MANSOUR FAKIH DAN PENGARUH PEMIKIRAN-PEMIKIRAN BESAR TERHADAP PEMIKIRAN MANSOUR FAKIH

A. Pengantar

Penjelasan BAB II ini akan bercerita mengenai profil Mansour Fakih dan Pemikiran-pemikiran besar yang mempengaruhi pemikiran Mansour Fakih.

Menelusuri pemikiran seseorang tidak bisa dilepaskan begitu saja tanpa mengetahui latar belakang kehidupan seorang tokoh tersebut. Setiap pemikiran manusia tidak terlepas dari berbagai faktor, baik internal maupun eksternal, yang mempengaruhi pola pikir mereka sehingga mampu merumuskan satu atau beberapa hal dalam hidupnya. Pemikiran seseorang muncul melalui proses belajar dan memahami berbagai macam peristiwa serta kejadian yang secara langsung ataupun tidak langsung terjadi pada dirinya dan lingkungan sekitarnya. Pemikiran seseorang mengenai suatus hal juga sangat dipengaruhi oleh pemikiran–pemikiran lain, situasi politik

Pembahasan mengenai sosok Mansour Fakih yang meliputi latar belakang keluarga, pendidikan yang mencakup perjalanan intelektualnya sekaligus latar belakang profesi akan dibahas dalam BAB II ini. Hal tersebut merupakan faktor–

faktor internal yang membentuk citra dan pemikiran dari Mansour Fakih. Sedangkan untuk faktor eksternal, penulis membahas mengenai buah pemikiran dari sejumlah tokoh besar yang sangat berpengaruh terhadap pemikiran–pemikiran Mansour Fakih.

(27)

BAB II ini akan menjadi pengantar bagi pembaca sebelum memahami lebih jauh berbagai hasil pemikiran dari Mansour Fakih yang nantinya akan dibahas dalam BAB III. Dengan demikian, kajian dalam BAB II dan BAB III dapat dikatakan sebagai suatu rangkaian deskripsi tentang bangun pemikiran Mansour Fakih dengan pijakan awalnya dimulai dari bab ini.

B. Mengenal Mansour Fakih

Tidaklah asing menyebut nama Mansour Fakih sebagai salah satu tokoh pergerakan sosial dan pegiat Hak Asasi Manusia (HAM) di Indonesia. Sosoknya begitu mendapat tempat di kalangan para aktivis kemanusiaan, baik di tingkat nasional maupun internasional. Ia dikenal sebagai seorang pegiat perjuangan Hak–

hak Asasi Manusia terutama bagi lapisan masyarakat bawah dan masyarakat marjinal yang mengalami diskriminasi oleh struktur dan kultur dalam masyarakat Indonesia.

Mansour Fakih dikenal sebagai orang yang gigih memperjuangkan kepentingan hak–

hak sipil, hak–hak politik, hak–hak ekonomi dari kelompok–kelompok masyarakat sipil, kelompok yang termarjinalisasi, apakah itu kelompok perempuan, komunitas difabel dan sebagainya.21

B.1 Mengenal Lebih Dekat Dengan Mansour Fakih

Mansour Fakih dilahirkan di Bojonegoro, sebuah kabupaten di Jawa Timur pada tanggal 10 Oktober 1953 dari sebuah latar belakang keluarga yang biasa.

Walaupun latar belakang kehidupan Mansour Fakih yang berasal dari keluarga yang

21 Budi Santoso, Pengantar dalam Refleksi Kawan Seperjuangan peringatan 100 hari wafatnya Mansour Fakih, OXFAM, Yogyakarta, 2004 hal 22.

(28)

biasa, tetapi ia beruntung mendapat kesempatan untuk mengenyam pendidikan yang lebih tinggi di kota. Pendidikan yang pada waktu itu tidak bisa dinikmati setiap orang. Melalui kesempatan mengenyam pendidikan itu pula, Mansour Fakih berhasil merumuskan dirinya sendiri dan teguh memegang prinsip–prinsipnya.

Mansour Fakih bukanlah berasal dari lingkungan yang mempunyai trah keluarga, latar belakang komunitas, dan kelompok maupun institusi besar yang mempunyai pengaruh luar biasa besar terhadap perjalanan kariernya. Mansour Fakih adalah potret yang mewakili orang–orang yang tidak jelas asal–usulnyanya, tidak jernih kastanya, dan kabur trah sosial politik dan sosial ekonominya.22 Mansour Fakih merupakan seorang individu dengan kepekaan yang luar biasa dalam memahami realitas sosial di sekitarnya. Kepekaan yang didukung oleh rasa empati yang diwujudkan dalam tindakan–tindakan nyata.

Dimata para sahabatnya, Mansour Fakih dikenal sebagai orang yang paling tidak bisa mengucapkan kata “tidak”23 sehingga banyak hal yang sebetulnya sederhana menjadi suatu hal yang demikian rumitnya bagi seorang Mansour hanya karena ia tidak mau menyakiti orang lain. Itulah yang menjadi kekurangan Mansour sekaligus kelebihan yang membuat ia dan pemikiran–pemikirannya bisa dengan mudah diterima banyak pihak.24 Ia adalah sosok multidimensi dan gampang bergaul dengan orang lain.25

22 Puthut EA, Orbituari Mansour Fakih: Buku yang Selalu Terbuka dalam Refleksi Kawan Seperjuangan peringatan 100 hari wafatnya Mansour Fakih, OXFAM, Yogyakarta 2004 hal 17.

23 Ibid hal 18.

24 Ibid hal 18.

25 Budi Santoso, Op.cit hal 23.

(29)

Bermula dari pengalaman Mansour kecil26 ketika ia tidak dipilih sebagai pasukan inti untuk mewakili sekolah dalam perlombaan baris–berbaris karena badannya dianggap terlalu kecil dan tidak memenuhi syarat untuk menjadi pasukan inti, Mansour kecil bertanya mengapa alasan tidak terpilihnya dia adalah persoalan tinggi badan. Dalam benaknya, Mansour kecil berontak, dan melontarkan pertanyaan, “Bukankah tinggi badan adalah persoalan fisik yang mutlak di atur oleh Tuhan tanpa bisa kita mengaturnya?” Jika demikian halnya, bagaimana dengan mereka yang dilahirkan dalam keadaan yang “kurang sempurna”? Apakah masyarakat juga tidak akan memilihnya untuk urusan–urusan yang sebenarnya menjadi haknya untuk terlibat? Peristiwa tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan hidup Mansour Fakih, dimana hal tersebut di kemudian hari memotivasi Mansour Fakih untuk ikut berpatisipasi dalam berbagai aktivitas penegakan hak–hak masyarakat yang terpinggirkan.

Mansour Fakih dikenal sebagai salah seorang fasilitator Hak–hak Asasi Manusia yang tidak pernah lelah dan terus–menerus mempromosikan pentingnya semua orang memiliki kesamaan visi untuk mengembalikan harkat kemanusiaan, persamaan dalam hak–hak sipil, politik, ekonomi, sosial dan budaya. Usaha yang dilakukannya adalah dengan aktif memfasilitasi kawan–kawan muda aktivis pergerakan masyarakat melalui beragam kegiatan yang dilengkapi oleh kerangka kerja dengan prinsip hak–hak asasi manusia (Human Rights Mainstream).27 Ia adalah trainner bagi NGO–NGO untuk memasukkan Human Rights Mainstream ke dalam

26 M.B Wijaksana, In Memoriam Mansour Fakih, Yayasan Jurnal Perempuan, Jakarta, 2004 hal 118.

27 Idham Ibty, Mitra senior, Mansour Fakih, Mewasiatkan Pembelajaran HAM dalam Refleksi Kawan seperjuangan peringatan 100 hari wafatnya Mansour Fakih, OXFAM, Yogyakarta, 2004 hal 124.

(30)

kerangka kerjanya. Bahkan secara radikal, ia mengusulkan adanya reorientasi LSM Indonesia yang secara tidak sadar telah ikut andil memperburuk kehidupan rakyat Indonesia yang semakin tergantung pada industrialisasi negara–negara penghutang.28 Ia selalu mengingatkan kepada kawan–kawan muda untuk percaya bahwa Hak–hak Asasi Manusia perlu dijaga, dihormati dan dilindungi serta disosialisasikan dalam lingkungan masyarakat. Sebagaimana penuturannya berikut ini:

“…sebagai pribadi Anda mempunyai tanggung jawab terhadap proses humanisasi. Sebagai pribadi Anda juga punya tanggung jawab menjadikan bumi sebagai tempat singgah kita semua, menjadi tempat yang berkah dan penuh rahmat bagi semua penghuninya, bagi semua manusia. Apa yang dapat Anda lakukan untuk memajukan HAM?...Anda harus terlibat untuk membela HAM…., apa yang mungkin Anda perankan untuk memajukan HAM?sudah waktunya Anda ikut melakukan usaha Pemberantasan Buta HAM…”29

Mansour Fakih seolah berwasiat kepada siapa saja mengenai keharusan mendesak negara untuk melakukan Human Rights Mainstreaming, yakni mengintegrasikan semua konvensi HAM PBB yang telah diratifikasi ke dalam semua kebijakan negara maupun program pembangunan.30

B.2 Perjalanan Intelektual Mansour Fakih

Perjalanan intelektual Mansour Fakih diawali dengan keseriusannya dalam menyelesaikan pendidikan tinggi di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) (sekarang UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta dengan mengambil jurusan Teologi dan Perbandingan Agama Fakultas Ushuludin pada tahun 1978. Melihat dari riwayat pendidikan tingginya, Mansour Fakih menjadikan filsafat dan teologi sebagai basic

28 Fajar Sudarwo, Pemikirannya (Mansour Fakih) Terus Menggelinding di Kepala Aktivis Pro Keadilan dan Demokratisasi dalam Refleksi Kawan Seperjuangan peringatan 100 hari wafatnya Mansour Fakih, OXFAM, Yoygakarta, 2004 hal 121.

29 Mansour Fakih dalam kata Pengantar buku Keadilan Untuk Semua (Sirikit Syah,2004) yang dituturkan kembali oleh Idham Ibty ibid hal 125.

30 Ibid hal 125.

(31)

keilmuannya. Mansour adalah seorang pengagum pemikiran–pemikiran islam rasional (Mu’tazillah)31 yang memang menjadi pemikiran–pemikiran islam populer dalam mewarnai menguatnya wacana islam rasional pada masa itu. Kekagumannya tersebut kemudian mengantarkan Mansour Fakih pada perkenalannya dengan cendekiawan–cendekiawan muda tahun 1970-an seperti Alm. Nurcholis Madjid, Alm. Ahmad Wahib hingga Azyumardi Azra.32

Setelah menempuh pendidikan strata satunya di IAIN Syarif Hidayatullah, Mansour kemudian melanjutkan pendidikan di Universitas Massachusetts untuk meraih gelar Master of Education dari Centre International Education pada tahun 1990 melalui tesisnya yang berjudul Participatory Research on Economic Development : A Source Book of Practicioners. Pada tahun 1994, di universitas yang sama, Mansour Fakih berhasil menyelesaikan pendidikan doktornya dengan meraih gelar Doctor of Education. Disertasinya yang berjudul The Role of Non Governmental Organizations in Social Transformation: A Participatory in Indonesia sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan telah dibukukan dengan judul Masyarakat Sipil untuk Transformasi Sosial: Pergolakan Ideologi LSM di Indonesia.

Desertasinya ini merupakan hasil penggalian dan diskusi yang mendalam bersama rekan–rekannya sesama aktivis pendidikan kritis, yang meneliti tipologi LSM–LSM di Indonesia.33 Desertasinya menunjukkan bukti kekritisan pemikiran Mansour Fakih mengenai posisi LSM di Indonesia. Salah satu wacana yang

31 M.B Wijaksana, Op.cit hal 119.

32 M.B Wijaksana, Log.cit hal 119.

33 M.B Wijaksana, Op.cit hal 119.

(32)

ditawarkan berdasarkan penelitian tersebut adalah LSM34 di Indonesia harus mengambil posisi sebagai ORNOP35 dengan cara keluar dari paradigma developmentalis dan mengembangkan program–programnya. Ia menawarkan wacana kepada ORNOP dalam mengembangkan demokratisasi di Indonesia tidak justru dilakukan dengan cara membantu pemerintah menjadi agen pembangunanisme yang jelas–jelas menguntungkan negara donor.36

Sejak tahun 1979, Mansour Fakih mulai bergabung dengan NGO (Non Govermental Organization) dan kemudian malang melintang di dunia itu selama hidupnya. Pada waktu itu, ia menjadi peneliti dan petugas lapangan LP3ES Jakarta sampai pada tahun 1981. Inilah yang menjadi awal Mansour Fakih berkecimpung di dunia pergerakan sosial di Indonesia melalui pendidikan, sesuai dengan latar belakang akademisnya.

Berbekal analisis sosial struktural dan metodologi partisipatif, Mansour Fakih37 kemudian malang melintang dalam dunia pendidikan dan pengorganisasian masyarakat yang kemudian membawanya bertemu dengan orang–orang dan berbagai kelompok yang aktif melakukan proses–proses pendidikan kerakyatan (popular education) dan kerja–kerja advokasi. Dari dunia itulah ia selanjutnya bertemu dengan orang–orang seperti Toto Rahardjo, Erwin Pandjaitan, Simon Hate, Ahmad Mahmudi, dan Roem Topatimasang, yang telah cukup lama bergerak di lapis bawah,

34 Penggunaan istilah LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) dianggap sebagai diskursus yang merujuk pada organisasi kemasyarakatan yang merupkan alat dari developmentalisme. Tangan kanan pemerintah dalam developmentalisme. Oleh karena itu, melalui pedebatan yang panjang diantara aktivis–aktivis NGO (Non Governmental Organization), digunakanlah kata ORNOP (Organisasi Non Pemerintah) yang merupakan terjemahan langsung dari NGO untuk menggantikan istilah LSM.

35 Istilah ORNOP lebih banyak digunakan karena memberi kesan sebagai oposan pemerintah.

36 Fajar Sudarwo, Op.cit hal 122.

37 Puthut EA, Op.cit hal 4.

(33)

melakukan kerja–kerja pengorganisasian rakyat melalui media kesenian. Toto dan Simon-lah yang mengenalkan Mansour dengan seniman dan budayawan sekelas Emha Ainun Nadjib yang kemudian menjadi kawan diskusi Mansour mengenai teologi islam. Melalui orang–orang inilah Mansour mengenal langsung pemikiran–

pemikiran dan metodologi kritis dari Paulo Freire. Bahkan ketika di Amerika, ia mendapat kesempatan untuk bertemu dan berdiskusi dengan Freire secara langsung.

Kiprah pertamanya dimulai dengan menjadi fasilitator dalam berbagai penelitian dan pelatihan. Disinilah ia bertemu dengan orang–orang, seperti Tawang Alun, Dawam Rahardjo, Aswab Mahasin, dan Ismid Hadad yang kemudian menjadi guru sekaligus rekan Mansour Fakih dalam mendalami ilmu–ilmu sosial ekonomi kritis terutama dengan pendekatan strukturalis.38

Pada tahun 1982–1984, ia menjadi fasilitator utama dan peneliti di Lembaga Studi Pembangunan (LSP) serta konsultan Pan Asia Research Jakarta. Setahun kemudian, tepatnya pada tahun 1985, ia menjadi fasilitator utama di Perhimpunan Pengembangan Masyarakat (P3M) sampai pada tahun 1987. Dua tahun kembali dari menyelesaikan pendidikan masternya, ia menjadi konsultan senior Indeco de Unie Bandung. Mansour Fakih juga menjadi country representative OXFAM-UK untuk Indonesia di Yogyakarta selama tiga tahun, yaitu pada tahun 1993-1996. Pada tahun yang sama, ia juga menjadi anggota dewan pengurus YLKI. Pada tahun 1997–2002, ia menjadi konsultan senior REMDEC Jakarta sekaligus menjabat sebagai direktur INSIST (Indonesian Society for Social Transformation) di Yogyakarta. Selain itu, ia pernah menjadi peneliti tamu pada Institute for Development Studies di Universitas

38 M.B Wijaksana, Log.cit hal 119.

(34)

Sussex, Inggris. Ia juga menjadi dosen pasca sarjana di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta pada tahun 2000 dan tugas itu berakhir bersamaan dengan wafatnya Mansour Fakih di tahun 2004.

Pada tahun 2002, dia menerima tawaran sebagai anggota Komisi Nasional Hak Asasi Manusia sampai pada tahun 2004. Tawaran ini ia terima karena selain dukungan dari teman–temannya juga karena keyakinannya bahwa proses dehumanisasi di Indonesia terjadi secara struktural. Menurutnya, ia harus terlibat dalam sebuah struktur tertentu untuk mengurangi terjadinya proses dehumanisasi di Indonesia dan struktur itu adalah Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (KOMNAS HAM).

Mansour juga bergaul dengan kelompok intelektual dari kalangan Katholik yang banyak menerapkan metodologi pendidikan Freirean, seperti Romo Ruedi Hoffmann dari PUSKAT (Pusat Kateketik) dan Romo Mangunwijaya dari Pastoran Salam, Yogyakarta.

Roem Topatimasang adalah nama yang tidak bisa dipisahkan dari nama Mansour Fakih di kalangan akitivis gerakan sosial di Indonesia. Bersama Utomo dan Roem, Mansour melakukan berbagai kegiatan pendidikan dan pelatihan di seluruh Indonesia. Mansour, berbekal teori dan latar belakang akademisnya, dan Roem dengan latar belakang pengalaman empiriknya sebagai aktivis gerakan politik mahasiswa dan pengorganisir masyarakat lapis bawah, menjadi pasangan fasilitator utama. Keduanya menjelajahi berbagai daerah di Indonesia dan mendidik kesadaran masyarakat sekitar untuk melakukan perlawanan atas berbagai ketidakadilan yang sedang dirasakan.

(35)

Mansour Fakih juga dikenal sebagai seorang yang sangat anti neoliberalisme.

Sebagai contoh misalnya, hal seperti ini dapat dilihat ketika ia mulai menggunakan Linux dikomputernya disaat masih banyak orang menggunakan Microsoft. Hal ini ia lakukan sebagai bagian dari aksi menentang rezim hak kepemilikan intelektual yang didukung neoliberalisme. Baginya, Microsoft merupakan bagian dari neoliberalisme.

Dengan tidak menggunakan Microsoft itu berarti ia telah melakukan perlawanan terhadap neoliberalisme.

B.2.1 Mansour Fakih dan INSIST (Indonesian Society for Social Transformation)

Kehidupan Mansour tidak bisa dilepaskan dari organisasi–organisasi pergerakan sosial dan Hak–hak Asasi manusia yang memiliki skope nasional maupun internasional, terlebih dalam dunia NGO dan LSM. Kiprahnya dalam NGO (Non Government Organization) di Indonesia tidak diragukan lagi. Salah satunya adalah INSIST (Indonesian Society for Social Transformation). Organisasi yang dirintisnya bersama Roem Topatimasang serta beberapa kawannya, seperti Rizal Malik, Sri Kusyuniati, Sita Aripurnami, Fauzi Abdullah dan Wilarsa Budiharga.

Pada tahun 1997, setelah INSIST dibentuk, beberapa kawan yang lain pun ikut bergabung, seperti Toto Raharjo, Saleh Abdullah, Amir Sutoko, Simon Hate, Noer Fauzi, dan Yando Zakaria. Beberapa intelektual, seperti P.M Laksono, Francis Wahono, dan Ivan A. Hadar juga ikut aktif dalam kegiatan–kegiatan INSIST.

Mansour menyebut INSIST sebagai sekolah para aktivis gerakan sosial di Indonesia untuk mengembangkan pola pengorganisasian masyarakat. Sekarang,

(36)

INSIST berkembang menjadi suatu organisasi terbuka bagi banyak aktivis gerakan sosial dan intelektual dari berbagai tempat di seluruh Indonesia.

INSIST bisa dikatakan sebagai “alat”39 bagi berjalannya proses Transformasi Sosial di Indonesia. Dikatakan sebagai alat karena Mansour menyadari akan kelemahannya sebagai manusia yang tidak bisa berjuang sendiri. Oleh karena itu, ia membutuhkan organisasi dengan kesamaan visi dan misi mengenai pergerakan sosial dan transformasi sosial di Indonesia dan teman yang memiliki komitmen untuk melakukan perubahan tatanan sosial yang mendasar dan baru. Kumpulan orang–

orang yang berada di INSIST ini yang oleh Mansour Fakih kemudian disebut sebagai komunitas santun.

Selain melahirkan aktivis muda, penulis, budayawan maupun sastrawan muda yang berwawasan transformasi sosial dengan program INVOLEVMENT-nya (Indonesia Volunteers for Social Movement), Mansour bersama Roem Topatimasang, Anu Lounela dan Eko Prasetyo memimpin Dewan Redaksi tetap jurnal INSIST, WACANA. WACANA merupakan salah satu jurnal pemikiran yang diperhitungkan di Indonesia. Jurnal ini dimaksudkan untuk mewadahi pergulatan–

pergulatan wacana transformasi sosial, bukan sekedar menyalurkan kegenitan intelektual semata. INSIST merupakan realisasi pemikiran Mansour Fakih dalam mengembangkan demokratisasi dan perjuangan hak–hak sipil di Indonesia.40

Demikian besar cita–cita dan semangatnya dalam memperjuangkan keadilan bagi setiap orang, tetapi belum sempat ia melihat proses rehumanisasi benar–benar tercapai, Mansour Fakih meninggal dunia karena serangan stroke. Mansour tutup

39 Wawancara dengan Saleh Abdullah (direktur INSIST) Januari 2007.

40 Fajar Sudarwo, Log.cit hal 122.

(37)

usia pada tanggal 15 Februari 2004, pukul 23.00 WIB di rumah Sakit Bethesda Yogyakarta.

C. Elaborasi Pemikiran-Pemikiran Besar dibalik Pemikiran Mansour Fakih

Pemikiran Mansour Fakih mengenai Transformasi Sosial sangat dipengaruhi oleh pemikiran–pemikiran kaum strukturalis dan posmodernis. Selama di Amerika Serikat, dalam rangka menempuh pendidikan formal master dan doktornya, Mansour Fakih sangat dipengaruhi oleh pemikiran–pemikiran Antonio Gramsci tentang hegemoni dan juga pandangan–pandangan serta teori–teori gerakan feminisme.

Pemikiran lainnya adalah pemikiran Paulo Freire mengenai metodologi pendidikan kritis yang digunakan sebagai acuan bagi Mansour Fakih untuk mengadakan pelatihan dan training–training pendidikan.

Rangkaian pemaparan berikut ini memuat sejumlah penjelasan mengenai pemikiran tokoh yang mempengaruhi pemikiran Mansour Fakih. Pemaparan tersebut akan dibatasi pada konsep-konsep yang diserap oleh Mansour, baik itu berasal dari seorang tokoh seperti Gramsci, Freire, Foulcault, maupun teori feminisme lainnnya.

Rangkaian pemaparan berikut ini tentunya memuat juga uraian tentang bagaimana buah pemikiran dari para tokoh-tokoh tersebut membentuk dan mempengaruhi pemikiran Mansour Fakih.

(38)

C.1 Hegemoni Gramscian

Selama menempuh pendidikan di Amherst Amerika Serikat, pemikiran Mansour Fakih sangat dipengaruhi oleh pemikiran Antonio Gramsci.41 Diantara banyaknya gagasan-gagasan politik dan perubahan sosial Gramsci, terdapat tiga gagasan utama yang sangat mempengaruhi pemikiran Mansour Fakih, yaitu konsep Gramsci mengenai hegemoni, perubahan sosial dan intelektual organik.

Hegemonik Gramscian42 bertitik tolak dari pemikiran Gramsci mengeni hubungan antar kelas yang ada dalam masyarakat dengan kekuatan-kekuatan sosial yang ada di dalamnya dengan menekankan pada faktor politik dan ideologi yang mengacu pada gagasan dasar Marx mengenai hubungan antar kelas, serta hubungan antara kelas dan negara. Yang harus digaris bawahi dari gagasan Gramsci adalah hegemoni bukanlah konsep hubungan dominasi kekerasan melainkan sebuah konsensus. Konsensus dilakukan melalui jalur politik dan ideologis dimana kelas terdominasi mengakui keunggulan dan kekuasaan kelas hegemonik.

41 Antonio Gramsci lahir di Ales Sardinia pada tanggal 22 januari 1891 dan meninggal di Roma pada 27 April 1937. Gramsci adalah salah satu pemikir dalam tradisi pemikiran teori kritis dengan karyanya yang terkenal Quqreni del Carcere atau Selection from the Prison Notebooks mengenai mengapa dan bagaimana negara modern mendapatkan konsensus atas kekuasaannya terhadap mayoritas masyarakat dan bagaimana konsensus itu dapat diubah menjadi konsensus baru yang mendukung nilai – nilai sosialisme yang merupakan kumpulan dari catatan harian yang ditulis sewaktu dia di penjara pada tahun 1929-1935. Pemerintahan Fasis Italia menjatuhkan hukuman 20 tahun penjara. Minatnya terhadap politik khusunya mengenai gerakan sosial dan gerakan kaum buruh di Turin pada waktu itu muncul sejak dia duduk dibangku kuliah. Gramsci kemudian menekui bidang media massa, kebudayaan dan kritik ideologi. Seiring dengan perjalanan hidupnya sebagai seorang aktivis, dia mulai terlibat dalam aktivitas – aktivitas politik dengan aktif dalam kegiatan partai politik yang concern terhadap gerakan – gerakan perjuangan kaum buruh.Gramsci memberikan konsepsi mengeni partai – partai komunis yang demokratis di negara – negara barat dengan menjadi peletak dasar western communism sebagai suatu alternatif komunisme untuk membedakan dengan perkembangan dan praktek komunisme di Uni Soviet. Gramsci juga mewariskan perubahan yang besar dalam berbagai perdebatan pemikiran dan teori mengenai perubahan sosial, terutama bagi perubahan sosial radikal dan revolusioner.

42 Hegemoni merupakan teori yang didasarkan pada analisis Gramsci mengenai penyerahan ideologi kelompok tertindas terhadap rezim Mussolini pada masa formasi social kapitalistik eksploitatif dan penindasan ekonomi politik yang di ikuti oleh dukungan terhadap keradaan rezim Mussolini.

(39)

Konsep Hegemoni Gramsci didasarkan pada analisis Gramsci terhadap peristiwa penyerahan ideologi kelompok tertindas terhadap rezim Mussolini pada masa formasi sosial kapitalistik yang eksploitatif dan penindasan ekonomi politik oleh rezim Mussolini. Penyerahan ideologi ini kemudian diikuti dengan pemberian dukungan terhadap keberadaan rezim Mussolini. Penyerahan ideologi ini dilakukan melalui jalur konsensus yang berimplikasi pada munculnya suatu kelompok yang mempunyai kekuasaan dan pengaruh besar untuk mengendalikan kelompok lain.

Kelompok inilah yang dinamakan Gramsci sebagai kelas hegemonik.43

Gramsci memberikan persyaratan bagi suatu kelas untuk bisa menjadi kelas hegemonik. Pertama, disamping harus memiliki kesadaran politik kolektif dan organisasi, untuk menjadi kelas hegemonik, suatu kelas haruslah bisa menggabungkan perjuangan dari berbagai kepentingan dan perjuangan yang dilakukan oleh kekuatan–kekuatan sosial lain dengan kepentingan kelas mereka untuk bisa meraih kepemimpinan nasional.44 Kedua, bagi Gramsci, suatu kelas belum bisa dikatakan kelas hegemonik hanya karena kelas tersebut mampu untuk mempengaruhi kelas lain. Tetapi lebih dari itu, kelas hegemonik harus mampu menampung seluruh aspirasi masyarakat, tidak hanya dalam bentuk perjuangan kelas, tetapi juga perjuangan non kelas seperti perjuangan hak–hak politik, perjuangan gerakan kaum perempuan, gerakan mashasiswa, dan lain-lain,45 dengan cara–cara yang demokratis. Inilah yang disebut Gramsci dengan nasional kerakyatan.

Ketiga, Gramsci mensyaratkan adanya kelompok intelekual organik yang mampu

43 Kelas yang mendapatkan persetujuan dan pengakuan dari kekuatan dan kelas social lain dengan cara menciptakan sistem aliansi.

44 Roger Simon, Gagasan–Gagasan Politik Gramsci, Pustaka Pelajar-INSIST, Yogyakarta, 2004 hal 56. 45 Ibid hal 58.

(40)

menjabarkan ideologi organik dan mengemban tugas melaksanakan reformasi moral dan intelektual.46 Mereka adalah orang–orang yang mampu menjalankan fungsi–

fungsi intelektualnya.

Analisis yang digunakan Gramsci, digunakan juga oleh Mansour Fakih dengan kontekstualisasi masyarakat Indonesia di era developmentalisme dan neoliberalisme. Masyarakat tidak menyadari bahwa sesungguhnya mereka sedang ditindas oleh negara dan sistem neoliberalisme. Penindasan yang tidak tampak sebagai penindasan karena tidak ada tindakan kekerasan yang bisa dilihat secara kasat mata. Namun dibalik itu, masyarakat sesungguhnya sedang mengalami penindasan ideologis. Sadar atau tidak, masyarakat telah melakukan penyerahan ideologi kepada kelas hegemonik (negara dan pasar).

Hegemoni pada dasarnya merupakan upaya merebut kekuasaan sekaligus mempertahankan kekuasaan yang telah diperoleh. Dengan demikian, kelompok yang tertindas bisa menggunakan hegemoni untuk melawan dan merebut kekuasaan dari kelas hegemonik. Hal ini dilakukan apabila keadaan yang ada tidak lagi memberikan ruang gerak dan keadilan bagi kelas yang terhegemoni. Ini yang disebut Gramsci sebagai counter hegemoni. Dengan melakukan counter hegemoni bukan tidak mungkin bagi kelas terhegemoni untuk bisa berganti menjadi kelas hegemonik.

Hegemonik Gramscian digunakan Mansour sebagai pisau analisis ketika melakukan kajian intensif terhadap sistem dan struktur di Indonesia. Menurutnya struktur yang ada di Indonesia merupakan struktur yang hegemonik. Dan struktur

46 Ibid hal 85.

(41)

yang bersifat hegemonik ini yang menurut Mansour sebagai pangkal dari apa yang dinamakan dehumanisasi.

Menurut Mansour Fakih, pengakuan terhadap keunggulan dan kekuasaan hegemoni dapat dilihat dari perubahan cara hidup, cara berpikir dan cara pandang masyarakat yang meniru serta menerima cara maupun gaya hidup dari kaum kapitalis yang mendominasi dan sesungguhnya mengeksploitasi mereka.47 Masyarakat, sebagai kelas terhegemoni, tidak menyadari sesungguhnya mereka berada dalam hubungan kekuasaan yang menindas. Hubungan kekuasaan yang bersifat menindas dan eksploitatif itu dibangun dalam sebuah struktur dan dijaga oleh sistem. Dengan kata lain, hegemoni sangat berpengaruh bagi kehidupan masyarakat secara sosial dan pribadi yang mencakup moralitas, keagamaan dan intelektual masyarakat sendiri.48 Kelas yang terhegemoni akan dengan sukarela, tanpa mereka sadari, menyerahkan ideologi mereka terhadap kelompok hegemonik dan bersedia membuat kesepakatan untuk membentuk sistem aliansi dengan maksud dan tujuan yang menurut kelas terhegemoni sama.

Gagasan Gramsci inilah yang menjadi landasan bagi Transformasi Sosial Mansour Fakih. Mansour Fakih mengembangkan gagasan–gagasan utama Gramsci mengenai model alternatif perubahan sosial non-deterministik. Perubahan sosial yang tidak hanya berpangkal pada aspek ekonomi saja. Mansour berpendapat, dengan mewujudkan masyarakat yang inklusif, otomatis juga akan mewujudkan tatanan sosial baru, yaitu masyarakat yang berkeadilan. Pendapat ini merupakan pengembangan dari gagasan Gramsci mengenai kelas hegemonik.

47 Mansour Fakih, Jalan Lain: Manifesto Intelektual Organik, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2002 hal 140.

48 Ibid hal 140.

Referensi

Dokumen terkait