TRANSFORMASI SOSIAL ALA MANSOUR FAKIH
C. Transformasi Sosial : Konsep Menuju Tatanan Kehidupan yang Lebih Baik
Dari uraian diatas, dapat ditarik benang merah bahwa yang menjadi permasalahan bagi Mansour Fakih adalah kehadiran praktek–praktek ketidakadilan yang tidak memanusiakan manusia (dehumanisasi) ditengah kehidupan masyarakat.
Untuk itu, Mansour Fakih berpendapat diperlukannya suatu usaha yang bertujuan untuk melakukan rehumanisasi (memanusiakan kembali manusia), yaitu dengan cara memperbaiki dan mencapai tatanan sosial yang lebih baik melalui suatu proses perubahan. Mansour Fakih menyebutnya sebagai Transformasi Sosial. Sementara itu, parameter dari rehumanisasi yang menjadi tujuan utama dari Transformasi Sosial sendiri adalah terciptanya suatu masyarakat yang berkeadilan.
Transformasi Sosial adalah sebuah pemikiran yang sama sekali bukan hal baru. Seperti yang telah diuraikan pada bab sebelumnya, Transformasi Sosial merujuk pada makna yang sama dengan perubahan sosial, yaitu melakukan perubahan terhadap keadaan yang sekarang karena dianggap tidak lagi sesuai dengan tuntutan kebutuhan. Dalam pemikiran Mansour Fakih, Transformasi Sosial didefinisikan sebagai berikut:
Transformasi sosial adalah proses penciptaan hubungan ekonomi, politik, kultural dan lingkungan yang secara mendasar baru dan lebih baik. 74
Transformasi sosial adalah perubahan yang menyeluruh dan mendasar menuju terciptanya struktur dan sistem sosial yang adil secara menyeluruh.75
74 Mansour Fakih, Masyarakat Sipil untuk Transformasi Sosial, Op.cit hal 38
75 Mansour Fakih, Masyrakakat Sipil untuk Transformasi Sosial, Op.cit hal 32.
Maksud dari hubungan mendasar yang baru dan lebih baik diatas adalah struktur, yakni perubahan dari struktur ekonomi yang eksploitatif menuju struktur tanpa eksploitasi, hubungan kultur hegemonik perlu dirubah menjadi hubungan struktur politik yang non represif, dan perlunya perubahan dari struktur gender yang mendominasi perempuan menuju struktur yang membebaskan.76 Oleh karena itu, Mansour Fakih mengatakan bahwa alat untuk mewujudkan struktur baru yang lebih baik itu adalah demokrasi.
Menurut Mansour, demokrasi yang berjalan sekarang ini belum benar-benar menjadi landasan bagi kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Demokrasi dengan wajah pembangunan dan perubahan sosial reformatif sebenarnya adalah sistem ekonomi yang memiliki watak otoriter dan eksploitatif. Sementara itu, dibidang politik ia memiliki watak represif dan secara kultural memiliki watak dominatif.77 Oleh karena itu, demokratisasi diperlukan untuk memberikan peluang dan wewenang yang memungkinkan masyarakat menentukan dan mengelola hidupnya sendiri melalui dialog, diskusi, dan aksi yang bertumpu di atas persamaan serta keadilan.78
Mansour Fakih memasukkan Transformasi Sosial sebagai salah satu model alternatif bagi perubahan sosial yang merupakan tujuan utama dari setiap gerakan sosial.79 Dikatakan sebagai model alternatif bagi perubahan sosial karena perubahan sosial yang ada selama ini adalah perubahan sosial yang hanya bersifat reformatif saja, sekedar mencari penyebab kemiskinan dan menimpakan kesalahan kepada manusia serta menempatkan rakyat sebagai obyek, bukan sebagai subyek perubahan
76 Mansour Fakih, Analisis Gender dan Transformasi Sosial, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2005 hal 66-67.
77 Ibid hal 66.
78 Ibid hal 66.
79 Mansour Fakih, Masyarakat Sipil untuk Transformasi Sosial, Log.cit hal 38
sosial. Rakyat tidak lebih dari pelaksana kebijakan yang telah didesain oleh negara dan pasar.
Menurut Mansour Fakih, Transformasi Sosial sebagai model alternatif perubahan sosial, dapat digunakan untuk menciptakan relasi sosial politik yang lebih adil dan berwatak emansipatoris dengan menekankan pada aspek kelas, gender maupun relasi kekuasaan yang lebih luas dan berimplikasi terhadap praktek dan proyek pembangunan sosial80 serta memiliki ruang lingkup yang lebih luas baik dari segi metode, dimensi maupun motivasi.81 Mansour Fakih menekankan pada aspek gender dalam melakukan suatu perubahan karena bagi Mansour Fakih analisis gender sangat diperlukan untuk memahami akar–akar munculnya ketidakadilan dan dehumanisasi.
Transformasi Sosial kemudian dijadikan sebagai sebuah “ideologi”82 oleh Mansour Fakih dalam upayanya untuk melakukan perubahan–perubahan cara berpikir masyarakat. Bagi Mansour, peralihan menuju sebuah cara pandang alternatif bagi pola pikir masyarakat merupakan modal untuk melawan hegemoni dan diskursus dominan demi sebuah perubahan yang berkeadilan. Misi utamanya adalah merubah cara pandang dan pola pikir masyarakat yang ada sebelumnya dengan cara pandang baru sehingga dapat mewujudkan masyarakat yang berkeadilan.
80 Mansour Fakih, Jalan Lain, Op.cit hal 43.
81 Mansour Fakih, Jalan Lain, Op.cit hal 44.
82 Muhammad Miftakhudin, Mansour Terperosok dalam Institusi Komnas HAM dalam Refleksi kawan Seperjuangan peringatan 100 hari wafatnya Mansour Fakih, OXFAM, 2004 hal 41.
C.1 Kesadaran Kritis : Modal Awal
Dalam satu pendapatnya, Robert Owen83 mengatakan bahwa manusia adalah pangkal tolak untuk membangun kesejahteraan dan keadilan sosial. Hal tersebut dapat dipahami karena manusia pada hakekatnya merupakan makhluk yang dibekali cipta, rasa dan karsa, sehingga membedakan dia dari makhluk ciptaan Tuhan lainnya.
Dengan demikian, manusia mempunyai kesadaran dan kemampuan untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu sebagai respon terhadap lingkungan sekitarnya, baik secara langsung maupun tidak langsung. Setiap manusia memiliki tingkat kesadaran yang berbeda–beda di dalam memberikan reaksi atas aksi yang terjadi. Tingkat kesadaran manusia dapat dibedakan menjadi tiga yaitu:
a. Kesadaran naif
Kesadaran naif adalah kesadaran tingkat awal yang dimiliki oleh manusia.
Pada tingkat ini, masyarakat menyadari kepentingan dan kehidupannya sebagai seorang individu yang utuh untuk memahami realitas disekitar. Kesadaran akan pemahamannya terhadap realitas yang ada terbatas pada sikap egoistiknya, kepentingan–kepentingan pribadinya. Sulit sekali untuk bisa melihat kehidupan ini sebagai suatu hal yang kompleks.
b. Kesadaran massif
Tingkat kesadaran massif adalah tingkat kesadaran manusia dimana manusia sudah merasa memahami realitas yang ada dengan pemahaman yang lebih luas, akan tetapi hanya sebatas pemikiran, ide, gagasan dan wacana.
Analisa didasarkan pada kenyataan yang ada tetapi belum mampu untuk
83 Sigit Pamungkas, Sosialisme Islam HOS Tjokroaminoto, Skripsi, FISIPOL UGM, Yoygakarta, 2001.
menjabarkannya pada tindakan praksis, belum mempengaruhi perilakunya untuk bisa melakukan sesuatu.
c. Kesadaran kritis
Pada tingkat kesadaran kritis ini, manusia tidak hanya menyadari dan memahami realitas yang ada disekelilingnya, akantetapi tahu juga apa yang harus dilakukannya untuk menghadapi keberadaan dari realitas yang ada tersebut. Sekaligus mempunyai kemampuan untuk menghadapi realitas.
Tingkat kesadaran kritis ini jarang sekali dapat kita temukan. Kesadaran kritis kadang terbelenggu oleh berbagai macam ideologi yang diyakini dan kondisi sosial dimana kita berada.
Oleh sebab itu, Mansour Fakih menempatkan kesadaran kritis sebagai modal awal sekaligus syarat mutlak bagi Transformasi Sosial. Landasan utama yang paling penting bagi praktek Transformasi Sosial adalah adanya kesadaran kritis dari masyarakat untuk memahami realitas di sekelilingnya sekaligus memecahkan berbagai persoalan yang ada. Dengan demikian, mereka mampu menciptakan realitas sosial mereka sendiri dengan didasarkan pada kebutuhan–kebutuhan strategis mereka. Kesadaran kritis mendorong setiap manusia untuk selalu mempertanyakan apapun yang terjadi pada dirinya maupun lingkungan sekitarnya.