ESTIMASI REDAMAN HUJAN MENGGUNAKAN
SYNTHETIC STORM TECHNIQUE (SST) IMPLEMENTASI PADA TEKNIK CELL SITE DIVERSITY
ESTIMATION OF RAIN ATTENUATION USING
SYNTHETIC STORM TECHNIQUES (SST) IMPLEMENTATION IN CELL SITE DIVERSITY
Mina Nur Tsaniya Ananda1, Eka Setia Nugraha2, Panji Kusuma Praja3 Program Studi Diploma III Teknik Telekomunikasi
Sekolah TInggi Teknologi Telematika Telkom Purwokerto
[email protected], 2 [email protected], 3 [email protected].
Abstrak – Permasalahan curah hujan pada sistem komunikasi sangat penting terhadap estimasi perencanaan pada link gelombang milimeter, pada frekuensi yang mencakup rentang 30 – 300 GHz. Permasalahan pada sistem yang menggunakan frekuensi di atas 10 GHz untuk daerah tropis yaitu redaman yang cukup besar terutama redaman yang diakibatkan oleh curah hujan, sehingga bisa menurunkan performansi dari sistem komunikasi. Hal ini disebabkan karena adanya pengurangan daya pada sinyal akibat curah hujan tinggi yang ditempuh oleh sinyal, maka semakin besar nilai redaman hujannya. Pada penelitian ini mengestimasi permasalahan besar redaman hujan pada gelombang milimeter yang dihitung sepanjang link di daerah Pejaten dan Pantai Pangandaran, dengan menggunakan pengukuran curah hujan dari data cuaca dengan mempertimbangkan arah dan kecepatan angin menggunakan metode Synthetic Storm Technique (SST). Estimasi ini dimana hasil perhitungan redaman hujan SST yang diperoleh sangat cukup beasr pada wilayah Pejaten sebesar 76,79 dB, sedangkan redaman hujan Pangandaran sebesar 45,23 dB. Redaman hujan yang menggunakan metode Synthetic Storm Technique (SST) digunkan untuk mengimplemantasikan teknik mitigasi cell site diversity, bertujuan untuk mampu memberikan diversity gain (dB) meningkatkan kualitas sinyal pada desain link budget. Hasil perhitungan link budget kehandalan sistem yang diperoleh adalah 99,99999 % dari ketiga teknik cell site diversity termasuk nilai yang cukup handal.
Kata kunci – Redaman hujan, Synthetic Storm Technique (SST), gelombang milimeter, cell site diversity, link budget.
Abstract— The problem of rainfall in communication systems is very important to the estimation of planning on millimeter wave links, at frequencies covering the range of 30 - 300 GHz. Problems in systems that use frequencies above 10 GHz for the tropics are quite large attenuation especially attenuation caused by rainfall, so that it can reduce the performance of the communication system. This is due to the reduction in power in the signal due to the high rainfall traveled by the signal, the greater the rain attenuation value. In this study, estimating the big problem of rain attenuation on millimeter waves which is calculated along the links in the Pejaten and Pangandaran Beach areas, using rainfall measurements from weather data by considering wind direction and speed using the Synthetic Storm Technique (SST) method. This estimation is where the calculation of SST rain attenuation obtained is quite large in the Pejaten area of 76.79 dB, while the Pangandaran rain attenuation is 45.23 dB. Rain attenuation using the Synthetic Storm Technique (SST) method is used to implement cell site diversity mitigation techniques, aiming to be able to provide diversity gain (dB) to improve signal quality in the link budget design. The results of the calculation of the system reliability link budget obtained were 99.99999% of the three cell site diversity techniques including quite reliable values.
Keywords- Component: Rain attenuation, Synthetic Storm Technique (SST), millimeter waves, cell site diversity, link budget.
I. PENDAHULUAN
Curah hujan merupakan fenomena yang menjadi bagian dari siklus air yang berlangsung secara alamiah. Indonesia terletak di iklim tropis yang mempunyai curah hujan yang sangat tinggi dan mempengaruhi desain sistem komunikasi yang bergantung pada propagasi gelombang elektromagnetik [1]. Permasalahan curah hujan pada sistem komunikasi sangat penting terhadap estimasi perencanaan pada link gelombang milimeter, khususnya dengan frekuensi tinggi di atas 10Ghz ,untuk kinerja Line Of Sight (LOS) menjadi salah satu batas yang menyebabkan redaman propagasi yang diakibatkan oleh curah hujan [2]. Terjadinya pengurangan daya pada sinyal akibat pengaruh alam, yaitu akibat curah hujan tinggi yang ditempuh oleh sinyal maka semakin besar nilai redaman hujannya.
Banyak metode yang telah dikembangkan untuk mengestimasi permasalahan redaman yang disebabkan akibat curah hujan. Salah satu cara dapat dihitung dengan menggunakan pengukuran curah hujan langsung dan data cuaca dengan mempertimbangkan intensitas hujan sebagai fungsi waktu, data cuaca berupa kecepatan dan arah angin yaitu menggunakan metode statistik Synthetic Storm Technique (SST), untuk estimasi redaman hujan sepanjang link terrestria [3]. Efek redaman hujan dapat diatasi dengan teknik mitigasi yaitu cell site diversity merupakan salah satu teknik sederhana yang bertujuan untuk menjamin ketersediaan (availability) layanan dengan mengatasi fading yang terjadi akibat pengaruh dari redaman hujan [4].
Untuk itu maksud dari penelitian ini adalah mendapatkan bagaimana gambaran atau estimasi dari redaman hujan di daerah tropis khususnya Indonesia kaitannya dengan solusi untuk menanggulangi keterbatasan frekuensi dalam evaluasi penerapan penggunaan gelombang milimeter, yang belum pernah dilakukan di daerah pantai Pangandaran, Jawa Barat, dengan frekuensi 30 GHz, dengan mengangkat judul
“ESTIMASI REDAMAN HUJAN
MENGGUNAKAN SYNTHETIC STORM TECHNIQUE (SST) IMPLEMENTASI PADA TEKNIK CELL SITE DIVERSITY”
penelitian ini akan menghitung nilai redaman
hujan dengan metode Synthetic Storm Technique (SST), dimana hasil perhitungan redaman hujan diatasi dengan teknik mitigasi cell site diversity bertujuan untuk mampu memberikan diversity gain (dB) meningkatkan kualitas sinyal pada link budget. Pada penelitian sebelumnya terdapat kekurangan yang belum tercantum hasil simulasi menggunakan simulasi software Pathloss 5.0, maka dari itu penelitian ini dirancang pada software Pathloss 5.0 mencari nilai outage probability 0,01% pada sistem komunikasi untuk kebutuhan alokasi pemilihan frekuensi gelombang milimeter dan menjamin ketersediaan (availability) yang lebih handal.
II. METODEPENELITIAN Metodologi penelitian yang digunakan dalam proses penelitian proposal Tugas Akhir ini adalah sebagai berikut : 1. 1. Studi Kasus
Metode ini dilakukan dengan cara
pengambilan data online
padahttps://www.worldweatheronline.com/
Situs web global yang menyajikan biro cuaca resmi dan informasi klimatologis untuk kota- kota tertentu, yang disediakan oleh Meteorologi dan Hidrologi Internasional, memperoleh data cuaca berupa kecepatan dan arah angin, serta data alamat site seluruh Indonesia dari PT. GCI Semarang.
2. Estimasi
Pada penelitian ini dilakukan perhitungan metode Synthetic Storm Technique (SST) terhadap redaman hujan untuk implementasi diversity gain (dB) mengatasi efek redaman hujan dengan teknik cell site diversity menggunakan beberapa teknik combining.
3. Perhitungan
Pada hasil estimasi melakukan perbandingan pada hasil perhitungan terhadap diversity gain (dB) menggunakan pembangkitan redaman hujan yang berkorelasi berdasarkan data Pangandaran, Jawa Barat dan rata-rata standar deviasi redaman hujan dapat digunakan untuk mengestimasi redaman hujan yang deras sehingga dapat digunakan untuk desain link budget.
Pengamatan Lapangan atau menggunakan bantuan google earth dengan panjang lintasan 6,50 km.
Site A : Lokasi site Pejaten terletak pada latitude 7°40'0.19"S dan longitude 108°36'38.95"E dengan elevasi 17 meter.
Site B : Lokasi site Pangandaran terletak pada latitude 7°42'13.68"S dan longitude 108°39'23.83"E dengan elevasi 7 meter.
Hasil simulasi dengan pathloss 5.0, setiap skenario perancangan menjadi salah satu alasan rekonfigurasi link transmisi.
III. HASILPENELITIAN
Transmission Summary Report Hasil simulasi dengan pathloss 5.0, setiap skenario perancangan menjadi salah satu alasan rekonfigurasi link transmisi
Gambar 1 Path Profile
Gambar 2 hasil simulasi pada Pathloss 5.0 Hasil Perhitungan Metode redaman hujan Synthetic Storm Technique (SST)
Nilai redaman hujan yang terjadi pada suatu link komunikasi, dapat Keterangan dengan cara pengukuran secara langsung maupun dengan menggunakan simulasi
pemodelan redaman hujan. Salah satu metode pemodelan redaman hujan yang dapat digunakan yaitu Synthetic Storm Technique (SST). Medote SST untuk memprediksi besarnya nilai redaman hujan pada suatu panjang lintasan atau link komunikasi (Km) dengan menggunakan data intensitas curah hujan sebagai fungsi waktu dimana hujan tersebut bergerak sepanjang lintasana atau link karena adanya pergerakan arah angin (𝜃) dengan kecepatan angin (v) tertentu.
Gambar 2 Konfigurasi perhitungan redaman hujan SST multilink
Langkah-langkah estimasi redaman hujan dengan SST multilink adalah sebagai berikut[5]:
a. Kecepatan angin pada link dijelaskan pada persamaan 1 berikut:
𝑣𝑟𝑁 = | 𝑣
cos(Ψ−(900−𝜃))| (1) Keterangan:
𝑣𝑟𝑁 = kecepatan angin pada link ke-N (km/jam)
Ψ = sudut antar link 45°, 90° 135°, dan 180°.
𝜃 = sudut kedatangan angin dilihat dari arah angin (°)
b. Kecepatan angin pada link digunakan untuk memperoleh nilai panjang segmen atau obstacle yang terdapat pada sepanjang link, untuk masing- masing link dijelaskan pada persamaan 2 berikut:
∆𝐿 = 𝑉𝑟 ∙ 𝑇
(2) Keterangan:
ΔL = panjang segmen (km) 𝑉𝑟 = kecepatan angin pada link
(km/jam)
𝑇 = waktu sampling 60 detik c. Redaman hujan pada masing-masing
link diperoleh pada persamaan 2.4 berikut:
𝐴(𝑘) = ∑𝑁𝑛=0𝑎 𝑅𝑏(𝑘 − 𝑛)∆𝐿𝑛 (3)
Keterangan :
A (k) = redaman hujan untuk k=1,2,…,n (dB)
ΔL = panjang segmen (km) R = intensitas hujan (mm/h) a,b = koefisien REQ ITU-R 838-4 (a=0,187 dan b=1,021) frekuensi 30 Ghz.
Tabel 1 Hasil Perbandingan Perhitungan Redaman Hujan SST dan Tanpa SST
Redaman hujan yang diperoleh menggunakan Synthetic Storm Technique (SST) sangat cukup beasr pada wilayah Pejaten sebesar 76,79 dB, sedangkan redaman hujan Pangandaran sebesar 45,23 dB.
Gambar 3 Perbandingan Redaman Hujan SST dan Tanpa SST di Pangandaran
Gambar 4 Perbandingan Redaman Hujan SST dan Tanpa SST di Pangandaran
Perhitungan diversity gain (dB) merupakan perbedaan antara redaman hujan
(Rain Attenuasi) pada link pejaten- Pangandaran dan pada dua link dengan cell site diversity. Pada nantinya akan digunakan untuk perhitungan link budget pada diversity fading margin, merupakan cadangan daya yang digunakan untuk mempertahankan kuat level sinyal terima diatas level ambang batas.
Diversity gain(dB) dihitung untuk outage probability dengan permasaan 4 berikut:
G(p) = A(p)Rx + A(p)Rx -Ad(p)[6] (4) Keterangan:
a. P = probability outage 0,01(%) b. A(p)Tx = Attenuation SST Pejaten (Tx)
76,79 (dB)
c. A(p)Rx = Attenuation SST Pangandaran (Rx) 45,23 (dB)
d. Ad(p)Rx = Attenuation site diversity single link (dB)
e. Ad(p)SC = 39,77 dB f. Ad(p)EGC = 50,07 dB g. Ad(p)MRC = 270 dB Penyelesaian:
1. Diversity gain(dB) teknik Selection Combining (SC) pada persamaan 5 berikut:
G(p) = A(p)Tx + A(p)Rx -Ad(p)SC (5) G(0,01) = 39,77 dB(0,01) + 45,23 dB (0,01) – 39,77 (0,01)
GpSC = 82,25 dB
2. Diversity gain(dB) teknik Equal Gain Combiner (EGC) pada persamaan 6 berikut:
G(p) = A(p)Tx + A(p)Rx -Ad(p)EGC (6) G(0,01) = 39,77 dB(0,01) + 45,23 dB (0,01) – 50,07 (0,01)
GpSC = 71,95 dB
3. Diversity gain(dB) teknik Maximal Ratio Combining (MRC) pada persamaan 6 berikut:
G(p) = A(p)Tx + A(p)Rx -Ad(p)EGC (7) G(0,01) = 39,77 dB(0,01) + 45,23 dB (0,01) – 270 (0,01)
GpSC = 147,98 dB
Tabel 2 Hasil Perhitungan Diversity Gain (dB)
Untuk mengatasi efek redaman hujan dapat diimplementasi teknik Cell Site Diversity
dengan menggunakan teknik Selection Combining (SC) mampu memberikan diveristy gain sebesar 82,25 dB, Equal Gain Combining (EGC) mampu memberikan diveristy gain sebesar 71,95 dB, dan Maximal Ratio Combining (MRC) mampu memberikan diveristy gain sebesar 147,95 dB.
Setelah diperoleh nilai diversity gain (dB) dari hasil implementasi dilakukan perhitungan link budget. Metode perhitungan yang digunakan untuk menunjukkan kesesuaian hasil perancangan sistem komunikasi dan mengantisipasi kemungkinan rugi-rugi sehingga kualitas dan kehandalan sistem (availabiity) tetap terjaga. Perhitungan link budget terdiri dari beberapa perhitungan parameter sebegai berikut:
1. Jarak lintasan transmisi
Jarak antar site Pejaten dan site Pangandaran dapat dihitung dengan cara menentukan posisi nominal dua titik pada garis bumi dan menghitung jaraknya. Letak nominal titik biasanya dinyatakan dalam garis lintang dan garis bujurnya. Titik garis lintang dan garis bujur tersebut dinyatakan dalam derajat, menit dan detik. Nilai tersebut perlu dikonversi dalam satuan derajat dan dikonversi dalam km. Sehingga untuk merubah titik nominal dari jam menit detik menjadi nilai jam saja adalah dengan menggunakan persamaan konversi (8) sebagai berikut :
2. Gain Antena
Daya yang dipancarkan dari antenna transmitter tidak cukup kuat jika langsung dipancarkan menuju antenna receiver, sehingga daya tersebut harus mengalami penguatan (gain) terlebih dahulu sebelum dipancarkan Gain antenna mengukur kemampuan antena untuk mengirimkan gelombang ke arah yang dituju.
Konfigurasi Antena Tx – Rx. Antena ditambahkan melalui datasheet antena yang telah ada pada software Pathloss 5.0. Antena disesuaikan dengan frekuensi dan gain yang cocok. Antena dengan model HE2-290 dengan code antena g5584, beamwidth H 1.20, digunakan pada kedua site, dengan diameter antena 0,61 meter pada frekuensi gelombang milimeter semakin besar frekuensi yang digunakan semakin kecil diameter antena. Perhitungan gain antena dapat dihitung dengan persamaan 9 berikut:
3. Free Space Loss (FSL)
Pada saat proses transmisi microwave terjadi akan melewati ruang udara bebas, akan terjadi redaman berupa Free Space Loss yang akan mengakibatkan adanya penurunan daya gelombang radio. Besarnya nilai Free Space Loss ini sangat dipengaruhi oleh jarak antara transmitter dan receiver yaitu site Pejaten dan site Pangandaran, apa bila semakin besar frekuensi kerja yang dipakai maka semakin besar juga redaman yang terjadi di ruang udara bebas pada jarak yang semakin jauh.
Nilai Free space loss ini dapat diperoleh dengan persamaan 4.15 dengan frekuensi kerja 30 GHz dan jarak antara site Pajaten -
site Pangandaran adalah 6,5 km. Besarnya FSL dapat dihitung dengan persamaan 10 berikut:
4. Fresnel Zone
Site Pajaten - site Pangandaran berjarak 6.5 km dan besar frekuensi antara keduanya yaitu 30 GHz, jarak antara site Pajaten dengan pengalang Obstacle tertinggi ke Obstacle yaitu 1,2 km dan jarak Obstacle ke penerima site Pangandaran yaitu 1.6 km. Fresnel zone merupakan kondisi transmisi normal untuk menghindari pengaruh multipath pada pantulan tanah, maka ditetapkan daerah clearance (bebas dari penghalang atau obstacle) yang salah satu komponennya adalah Freznel Zone. Daerah Fresnel Zone merupakan hal yang patut diperhatikan dalam perencanaan lintasan gelombang radio line of sight. Daerah ini sebisa mungkin harus bebas dari halangan pandangan karena bila tidak akan menambah redaman lintasan. Persamaan 11 untuk mencari batas daerah Fresnel zone sebagai berikut:
5. hkoreksi
Dalam analisa profil lintasan diperlukan faktor koreksi terhadap ketinggian titik penghalang (obstacle) yang nilainya sama dengan kelengkungan bumi. Nilai faktor koreksi dapat dicari dengan persamaan 12 berikut:
6. Clearence
Clearance merupakan jarak antara tinggi obstacle dengan tinggi antenna, oleh karena itu daerah clearance ditentukan untuk menghindari pengaruh jamak-jamak terutama karena pantulan tanah. Sebelum menghitung daerah Fresnel, terlebih dahulu menghitung factor koreksi kelengkungan bumi. Dalam menentukan factor kelengkungan bumi, data yang harus diperoleh adalah jarak antara kedua tower dengan obstacle. Untuk menghindari pengaruh difraksi, maka ditetapkan daerah clearance (bebas dari penghalang/obstacle) yang salah satu komponennya adalah Fresnel Zone. Daerah ini sebisa mungkin harus bebas dari halangan pandangan karena bila tidak akan menambah redaman lintasan. Clearance minimum adalah 0.6 dari daerah Fresnel pertama seperti pada persamaan 13 berikut:
7. Effective Isotropic Radiated Power (EIRP) Daya maksimum yang keluar dari antena pemancar yang mengalami penguatan dipengaruhi oleh daya pancar (Tx Power) sebesar 17,00 dBm, gain antena sebesar 41,21 dBi dan transmitter loss dari site Pejaten maupun Pangandaran yang
dihasilkan. Transmitter loss yang digunakan sebesar 0,5 dB. Nilai EIRP dapat diperoleh dengan menggunakan persamaan 14 berikut:
8. Isotropic Received Level (IRL)
Nilai level daya isotropik yang diterima oleh stasiun penerima dipengaruhi daya maksimum gelombang pemancar, rugi-rugi ruang bebas dan besarnya diffraction loss (pengaruh terrain rougness dan vegetation) link tersebut. Nilai IRL dapat diperoleh dengan persamaan 15 sebagai berikut:
9. Received Signal Level (RSL)
Received Signal Level (RSL) menyatakan kuat atau level daya siyal yang diterima oleh piranti pengolah decoding. Nilai Recived Signal Level dipengaruhi oleh loss sinyal yang hilang, atau rugi-rugi termasuk redaman hujan, selama dalam lintasan saluran transmisi di sisi antenna penerima, gain antenna penerima, dan level daya isotropic yang diterima oleh stasiun penerima (IRL).
Sebagai level daya terima oleh piranti pengolah decoding, seluruh loss transitions yang mencakup loss feeder, dengan ini nilai RSL dapat dihitung dengan persamaan 16 berikut:
Berdasarkan hasil RSL simulasi pathloss 5.0 site Pejaten dan site Pangandaran sebesar 43,89 dBm, sedangkan hasil perhitungan link budget adalah sebesar 73,19
dBm terdapat selisih sebesar 29,3 dBm.
Redaman hujan yang sudah diperhitungan sebelumnya menggunakan metode Synthetic Storm Technique (SST) berpengaruh sangat besar dalam kuat sinyalnya penerimaan.
Received signal level yang besar maka berpengaruh pada cadangan daya yang dihasilkan besar yaitu pada diversity fading margin yang berkorelasi pada implementasi cell site diversity.
10. Fading Margin
mendapatkan fading margin adalah factor kekasaran bumi, factor iklim, frekuensi, jarak antar site, dan factor unavailability pada jaringan transmisi Persamaan perhitungan yang digunakan untuk mendapatkan nilai fading margin dengan memasukan received signal level dan nilai threshold pada sisi penerima. Pada sistem diversity fading margin setelah implementasi cell site diversity.
menggunakan persamaan 17 berikut:
Cadangan daya yang dihasilkan mampu memperbaiki sistem perancangan mendapatkan kehandalan sistem yang optimal pada link Pejaten-Pangandaran. Received signa level yang diterima pada masing- masing site termasuk nilai yang cukup bagus.
Cadangan daya disebut fading margin.
Seberapa besar nilai dB yang diperlukan, ada beberapa pendekatan. Pendekatan paling langsung adalah asumsi bahwa fading mengikuti distribusi rayleigh, sehingga fading margin yang dapat digunakan seperti pada Tabel 3
10. Unavailability
Unavailability dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti faktor kekasaran bumi, faktor iklim, frekuensi, jarak antar site dan cadangan daya. Unavailability diperoleh pada persamaan 18 berikut:
11. Availability
Ukuran kehandalan sistem sering disebut sebagai availability. Secara ideal, semua sistem harus memiliki availability 100%. Tetapi hal tersebut tidak mungkin dipenuhi, karena dalam sistem pasti terdapat ketidakhandalan sistem (unavailability). availability sering disebut juga dengan reliability yang didefinisikan dengan kemampuan sistem dalam memberikan pelayanan Availability dinyatakan dengan persamaan 19 berikut:
Berdasarkan hasil perhitungan link budget kehandalan sistem yang diperoleh adalah 99,99999 % dari ketiga teknik cell site diversity termasuk nilai yang cukup handal.
Availability teknik Selection Combining (SC) diperoleh sebesar 99,99997%, availability teknik Equal Gain Combiner (EGC) diperoleh sebesar 99,99997%, dan availability teknik Maximal Ratio Combining (MRC) diperoleh sebesar 99,99999%. Sehingga dapat dibuktikan untuk mengatasi efek redaman hujan SST dapat diimplementasikan teknik cell site diversity yaitu menggunakan teknik combining karena lebih sederhana dan lebih mudah untuk diimlementasikan pada perancangan jaringan gelombang radio dapat digunakan untuk mengestimasi redaman hujan yang sangat deras meskipun frekuensi kerja 30 Ghz mengunakan gelombang milimeter.
PENUTUP A. Kesimpulan
1. Estimasi redaman hujan Synthetic Storm Technique (SST) multilink dipengaruhi faktor intensitas hujan sebagai fungsi waktu, data cuaca berupa kecepatan dan arah angin serta letak suatu link.
2. Redaman hujan yang diperoleh menggunakan Synthetic Storm Technique (SST) sangat cukup beasr pada wilayah Pejaten sebesar 76,79 dB, sedangkan redaman hujan Pangandaran
sebesar 45,23 dB.
3. Efek redaman hujan Synthetic Storm
Technique (SST) dapat
diimplementaskani teknik Cell Site Diversity dengan menggunakan teknik Selection Combining (SC) mampu memberikan diveristy gain sebesar 82,25 dB, Equal Gain Combining (EGC) mampu memberikan diveristy gain sebesar 71,95 dB, dan Maximal Ratio Combining (MRC) mampu memberikan diveristy gain sebesar 147,95 dB
4. Received signal level menyatakan bahwa kuat atau level daya siyal yang diterima oleh piranti pengolah decoding diperoleh sebesar 73,19 dBm, sangat berpengaruh pada cadangan daya yang dihasilkan yaitu pada diversity fading margin yang berkorelasi pada implementasi cell site diversity.
5. Berdasarkan hasil perhitungan link budget kehandalan sistem yang diperoleh adalah 99,99999 % dari ketiga teknik cell site diversity termasuk nilai yang cukup handal.
Lebih mudah dan sederhana untuk diimlementasikan pada perancangan jaringan gelombang radio dapat digunakan untuk mengestimasi redaman hujan yang sangat deras meskipun frekuensi kerja 30 Ghz mengunakan gelombang milimeter.
B. Saran
Bedasarkan hasil “ Estimasi Redaman Hujan Menggunakan Synthetic Storm Technique (SST) Implementasi Pada Teknik Cell Site Diversity“ studi kampus PT. Gci Semarang, saran yang dapat diberikan oleh penulis diantaranya:
1. Penelitian ini dapat digunakan sebagai dasar untuk penelitian lainnya baik yang berkaitan dengan intensitas hujan, metode perhitungan redaman hujan, power control atau kombinasi lebih dari satu teknik mitigasi, sehingga diperoleh performansi sistem komunikasi yang handal terhadap redaman hujan
2. Estimasi redaman hujan diperlukan lebih banyak data cuaca curah hujan sehingga estimasi redaman hujan lebih akurat.
3. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan implementasi pemikiran bagi penyedia jasa telekomunikasi di Indonesia untuk kemajuan teknologi informasi dan komunikasi.
ACKNOWLEDGMENT
Penulis menyampaikan banyak terimakasih kepada Dosen Pembimbing Eka Setia Nugraha, Panji Kusuma Praja, yang telah mendukung penulis dalam melakukan penyelesaian penelitian Tugas Akhir. Semoga berguna dan bermanfaat bagi pembaca.
DAFTARPUSTAKA
1. G. a. E. O. Ajayi, “some tropical rainfall rate characteristics at Ile-Ife for microwave dan millimeter wave application, J. Clim.,” J. Clim, vol. 23, no.
Appl (Meteorol), pp. 562-567, 1983.
2. k. j. k. s.g, “outage performance analysis od route diversity systems of cellular structure radio,” radio science, vol. 26, no. science number 4, pp. 891-899, 1991.
3. S. K. Mitra, “Application of Synthetic Storm Technique to Predict Time Series of Rain Attenuation from Rain Rate Measurement for a Tropical Location,”
International Conference on Computers and Devices for Communication (CODEC), no. Kolkata 700150, 2012.
4. A. Wijayanti, “Estimasi Redaman Hujan untuk Aplikasi Teknik Diversity pada Gelombang Millimeter untuk Implementasi Wireless Broadband,” ISSN, no. Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Informasi, pp.
2088-0596, 2010.
5. M. Octiana Widyarena, “Kinerja Sistem Komunikasi FSO (Free Space Optics Menggunakan Cell-site Diversity di Daerah Tropis”.,”
JURNAL TEKNIK ITS , vol. 1, no.
ISSN: 2301-9271 , (Sept, 2012) . 6. M. Iqbal, “teknik diversitas,” 2011.
[Online]. Available:
https://miqbal.staff.telkomuniversit y.ac.id/teknik-diversity-combining/.
[Diakses 11 Maret 2020].