• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGEMBANGAN LEMBAR KERJA SISWA DENGAN PENDEKATAN STEM

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PENGEMBANGAN LEMBAR KERJA SISWA DENGAN PENDEKATAN STEM"

Copied!
60
0
0

Teks penuh

(1)

PENGEMBANGAN LEMBAR KERJA SISWA DENGAN PENDEKATAN STEM (SCIENCE, TECHNOLOGY, ENGINEERING, MATHEMATICS) UNTUK MELATIH KETERAMPILAN BERPIKIR KREATIF SISWA

PADA MATERI FLUIDA STATIS

(Tesis)

Oleh

RATRI SEKAR PERTIWI

PROGRAM PASCASARJANA MAGISTER PENDIDIKAN FISIKA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS LAMPUNG BANDAR LAMPUNG

2017

(2)

PENGEMBANGAN LEMBAR KERJA SISWA DENGAN PENDEKATAN STEM (SCIENCE, TECHNOLOGY, ENGINEERING, MATHEMATICS) UNTUK MELATIH KETERAMPILAN BERPIKIR KREATIF SISWA

PADA MATERI FLUIDA STATIS

Oleh

Ratri Sekar Pertiwi

Tesis

Sebagai salah satu syarat untuk mencapai gelar MAGISTER PENDIDIKAN

Pada

Program Pascasarjana Magister Pendidikan Fisika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Universitas Lampung

PROGRAM PASCASARJANA MAGISTER PENDIDIKAN FISIKA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS LAMPUNG BANDAR LAMPUNG

2017

(3)

Ratri Sekar Pertiwi

ABSTRAK

PENGEMBANGAN LEMBAR KERJA SISWA DENGAN PENDEKATAN STEM (SCIENCE, TECHNOLOGY, ENGINEERING, MATHEMATICS) UNTUK MELATIH KETERAMPILAN BERPIKIR KREATIF SISWA

PADA MATERI FLUIDA STATIS

Oleh

Ratri Sekar Pertiwi

Abad 21 menuntut siswa untuk mengembangakan keterampilan berpikir, salah satunya adalah keterampilan berpikir kreatif. Hasil studi TIMSS dan PISA menunjukkan bahwa keterampilan berpikir siswa masih rendah. Salah satu pendekatan pembelajaran yang dapat digunakan untuk melatih keterampilan berpikir kreatif adalah pendekatan pembelajaran STEM. Hal tersebut efektif jika didukung dengan bahan ajar berupa LKS. Tujuan dari penelitian ini adalah mengembangkan LKS dengan pendekatan STEM untuk melatih keterampilan berpikir kreatif siswa. Metode penelitian ini adalah metode penelitian dan pengembangan (Research and Development) yang memuat tujuh langkah penelitian. Pengembangan LKS diawali dengan analisis kebutuhan. Selanjutnya tahap perencanaan kemudian dilakukan pengembangan produk berupa LKS. Agar LKS yang telah dikembangkan tervalidasi dengan baik, maka dilakukan uji validitas produk dari segi isi, konstruk, dan keterbacaan menggunakan instrumen angket. Hasil rerata nilai validitas isi sebesar dan validitas konstruk masuk kategori baik, serta keterbacaan produk masuk kategori sangat baik, sehingga dapat dinyatakan bahwa LKS layak untuk digunakan dalam proses pembelajaran.

Ujicoba lapangan terhadap pengguna dilakukan untuk mengetahui efektivitas produk dengan instrumen tes dan respon pengguna dengan instrumen angket.

Hasil respon guru masuk kategori baik dan hasil respon siswa masuk kategori sangat baik. Hasil uji efektivitas diketahui bahwa rerata nilai posttest lebih besar dari rerata nilai pretest dan nilai n-gain kelas eksperimen lebih besar dari kelas kontrol. Keterampilan berpikir kreatif siswa juga mengalami peningkatan untuk setiap indikator berpikir kreatif. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa produk yang dikembangkan yakni LKS dengan pendekatan STEM telah efektif dalam melatih keterampilan berpikir kreatif siswa.

Kata kunci: keterampilan berpikir kreatif, lembar kerja siswa, pendekatan STEM

(4)

Ratri Sekar Pertiwi

ABSTRACT

THE DEVELOPMENT OF STUDENT WORKSHEETS WITH STEM (SCIENCE, TECHNOLOGY, ENGINEERING, MATHEMATICS)

APPROACH TO TRAIN STUDENTS CREATIVE THINKING SKILLS IN STATIC FLUID MATERIAL

By

Ratri Sekar Pertiwi

21st Century requires students to develop the skills of thinking, one of which is the creative thinking skills. TIMSS and PISA study results show that the thinking skills of students are still low. One approach to learning that can be used to practice the skills of creative thinking is a STEM learning approach. It is effective if supported by teaching materials in the form of the worksheets. The purpose of this research is to develop worksheets with STEM approach to train the creative thinking skills of students. This research method is a method of research and development, which contains seven steps of the study. Pengembangan LKS diawali dengan analisis kebutuhan. the development of worksheets begins with a needs analysis. Furthermore, the planning stage then do product development in the form of worksheets. In order worksheets that have been developed with well validated, then test the validity of the product in terms of content, construct, and readability using questionnaires. The results of the average value of the content validity and construct validity in the category well, as well as the legibility of the product in the category very well, so it can be stated that the worksheets eligible for use in the learning process. Field trials against users conducted to determine the effectiveness of the product with test instruments and user response with questionnaires. The results from teacher responses in the category of a good and the results from student response in the category of a very good . The effectiveness of the test results known that the average value posttest is greater than the average value pretest and the value of n-gain experiment class is larger than the control class. Creative thinking skills of students also increased for each creative thinking indicator. It can be concluded that the products are developed using the worksheets with STEM approach has been effective in training students' creative thinking skills.

Keywords : creative thinking skills, STEM approach, worksheets

(5)
(6)
(7)
(8)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Gedongtataan, pada tanggal 13 Maret 1993, sebagai anak ke- dua dari dua bersaudara pasangan Bapak Sutarto dan Ibu Marlinah.

Penulis mengawali pendidikan formal pada Tahun 1997 di TK Nurul Iman dan lulus pada tahun 1999, Sekolah Dasar (SD) diselesaikan di SD Negeri 1 Sukaraja pada Tahun 2005, Sekolah Menegah Pertama (SMP) diselesaikan di SMP Negeri 1 Gedongtataan pada Tahun 2008, Sekolah Menegah Atas (SMA) diselesaikan di SMA Negeri 1 Gadingrejo pada Tahun 2010, dan gelar sarjana diperoleh pada Tahun 2014 yakni sarjana Pendidikan Fisika, Jurusan Pendidikan MIPA, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan di Universitas Lampung. Tahun 2014, penulis melanjutkan kuliah program magister di Program Studi Magister Pendidikan Fisika, Jurusan Pendidikan MIPA, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan di Universitas Lampung. Saat ini penulis aktif sebagai pengajar di berbagai sekolah.

(9)

MOTO

“Keberhasilan adalah kemampuan untuk melewati dan mengatasi dari satu kegagalan ke kegagalan berikutnya tanpa kehilangan semangat”

(Winston Chuchill)

“Berusaha, berdoa, bersemangat, dan bersabar”

(Ratri Sekar Pertiwi)

(10)

PERSEMBAHAN

Dengan kerendahan hati, teriring doa dan puji syukur kepada Allah SWT, penulis mempersembahkan karya sederhana ini sebagai tanda bakti dan kasih cintaku yang tulus dan mendalam kepada:

1. Ibu Marlinah dan Bapak Sutarto yang telah menyayangiku dan tak pernah henti untuk selalu mendo’akanku serta memberikan semangat demi keberhasilanku.

2. Kakak Novita Lina Pertiwi tersayang, yang selalu memberikan doa dan semangatnya untuk keberhasilanku.

3. Semua Sahabat yang selalu memberikan semangat dan doa.

4. Para pendidik yang kuhormati.

5. Almamater tercinta.

(11)

vii SANWACANA

Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Allah SWT, karena kasih sayang dan rahmat-Nya tesis ini dapat terselesaikan. Tesis dengan judul “Pengembangan Lembar Kerja Siswa Dengan STEM (Science, Technology, Engineering, Mathematics) Untuk Melatih Keterampilan Berpikir Kreatif Siswa Pada Materi

Fluida Statis” adalah salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Pendidikan pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung.

Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada.

1. Bapak Prof. Dr. Ir. Hasriadi Mat Akin, M.P., selaku Rektor Universitas Lampung.

2. Bapak Dr. Muhammad Fuad, M.Hum., selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung.

3. Bapak Prof. Dr. Sudjarwo, M.S., selaku Direktur Pascasarjana Universitas Lampung.

4. Bapak Prof. Dr. Agus Suyatna, M.Si., selaku Ketua Program Studi Magister Pendidikan Fisika, pembahas, dan evaluator uji ahli atas kesediaannya untuk masukan dan saran-saran kepada penulis dalam proses penyelesaian tesis ini.

(12)

viii

5. Bapak Dr. Abdurrahman, M.Si., selaku Pembimbing Akademik dan

Pembimbing Utama atas kesediaannya untuk memberikan bimbingan, saran dan kritik dalam proses penyelesaian tesis ini.

6. Bapak Dr. Undang Rosidin, M.Pd., selaku Pembimbing Kedua atas

kesediaannya untuk memberikan bimbingan, saran, dan kritik selama proses penyelesaian tesis ini.

7. Bapak Dr. I Wayan Distrik, M.Si., selaku Anggota Penguji Ujian Tesis.

Terimakasih untuk masukan dan saran kritik selama proses penyelesaian tesis ini.

8. Bapak dan Ibu Dosen serta Staf Program Studi Magister Pendidikan Fisika dan Jurusan Pendidikan MIPA.

9. Sahabat seperjuangan Magister Pendidikan Fisika 2014 Genap.

10. Semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian tesis ini.

Akhir kata, Penulis menyadari bahwa tesis ini masih jauh dari kesempurnaan, akan tetapi sedikit harapan semoga skripsi yang sederhana ini dapat berguna dan bermanfaat bagi kita semua.

Bandar Lampung, Maret 2017 Penulis,

Ratri Sekar Pertiwi

(13)

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR TABEL ... xi

DAFTAR GAMBAR ... xii

DAFTAR LAMPIRAN ... xiii

I. PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 5

C. Tujuan Penelitian ... 5

D. Manfaat Penelitian ... 6

E. Ruang Lingkup Penelitian ... 6

II. TINJAUAN PUSTAKA ... 7

A. Hakikat dan Pembelajaran Fisika ... 7

B. Lembar Kerja Siswa ... 12

C. STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) ... 15

D. Berpikir Kreatif ... 18

E. Kerangka Pikir ... 23

F. Desain Produk Yang Dikembangkan ... 25

III. METODE PENELITIAN ... 26

A. Desain Penelitian ... 26

B. Prosedur Pengembangan ... 26

C. Subjek dan Desain Uji Coba ... 30

D. Teknik Pengumpulan Data ... 31

E. Teknik Analisis Data ... 32

(14)

x

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 37

A. Hasil Penelitian Pengembangan ... 37

B. Pembahasan ... 46

V. PENUTUP ... 52

A. Simpulan ... 52

B. Saran ... 53

DAFTAR PUSTAKA ... 54

LAMPIRAN ... 59

(15)

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

1. Mata pelajaran STEM yang saling terkait ... 16

2. Definisi Literasi STEM ... 16

3. Perilaku siswa dalam dalam keterampilan kognitif kreatif ... 21

4. Rincian desain lembar kerja siswa yang akan dikembangkan ... 25

5. Subjek penelitian ... 30

6. Skor penilaian terhadap pilihan jawaban ... 33

7. Konversi skor penilaian menjadi pernyataan nilai kualitas ... 33

8. Klasifikasi gain ... 34

9. Klasifikasi penilaian ... 36

10. Hasil penilaian Uji Ahli ... 40

11. Hasil rekomendasi perbaikan Uji Ahli ... 40

12. Hasil respon siswa dan guru terhadap produk ... 42

13. Hasil Uji N-Gain ... 43

14. Persentase tingkat berpikir kreatif siswa ... 44

15. Hasil perhitungan peningkatan indikator berpikir kreatif ... 45

(16)

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

1. Posisi dari pendekatan, strategi, metode, teknik, taktik dan model

pembelajaran ... 9

2. Kerangka pikir penelitian ... 24

4. Prosedur pengembangan R&D ... 27

5. Nonequivalent pre-post control group design ... 31

6. Grafik hasil penilaian uji validitas isi, konstruk, dan keterbacaan ... 47

7. Grafik hasil penilaian peningkatan indikator berpikir kreatif ... 49

8. Grafik perhitungan nilai n-gain indikator berpikir kreatif ... 49

(17)

xiii

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Halaman

1. Angket Analisis Kebutuhan ... 60

2. Hasil Angket Analisis Kebutuhan ... 63

3. Rancangan Sajian Lembar Kerja Siswa ... 65

4. Kisi-Kisi Instrumen Penilaian Uji Ahli Isi Produk ... 66

5. Instrumen Penilaian Uji Ahli Isi ... 68

6. Hasil Penilaian Uji Ahli Isi Produk ... 70

7. Kisi-Kisi Instrumen Penilaian Uji Ahli Desain Produk ... 72

8. Instrumen Penilaian Uji Ahli Desain ... 73

9. Hasil Penilaian Uji Ahli Desain Produk ... 75

10. Kisi-Kisi Angket Keterbacaan Produk ... 76

11. Instrumen Angket Keterbacaan ... 77

12. Kisi-Kisi Angket Tanggapan Guru dan Siswa Terhadap Produk ... 79

13. Instrumen Angket Tanggapan Terhadap Produk ... 81

14. Kisi-Kisi Soal Uji Efektivitas Produk ... 84

15. Soal Uji Efektivitas ... 91

16. Hasil Angket Keterbacaan Produk ... 95

17. Hasil Angket Tanggapan Pengguna ... 96

18. Hasil Uji Efektivitas ... 98

19. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) ... 106

20. Produk Lembar Kerja Siswa ... 113

(18)

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Abad 21 ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang begitu pesat. Siswa dituntut dapat mengusai berbagai keterampilan agar dapat bersaing secara global. NSTA (2011) menyatakan bahwa dalam pendidikan dapat

dikembangkan keterampilan abad 21 seperti keterampilan berpikir dan keterampilan pemecahan masalah. Pendidikan mengajarkan siswa cara berpikir yang tepat, serta memberikan informasi yang akurat untuk membawa keterampilan berpikir yang benar pada siswa (Bacanlı et al, 2009). Berbagai keterampilan berpikir tersebut merupakan suatu proses dan perilaku siswa yang diintegrasikan untuk mempelajari dan memahami konten materi

pembelajaran (Beers, 2011). Salah satu keterampilan berpikir tersebut adalah keterampilan berpikir kreatif.

Namun kenyataannya keterampilan berpikir siswa Indonesia masih tergolong rendah khususnya dalam bidang sains. Hal ini dapat terlihat dari hasil TIMSS (Trends in International Mathematics and Science Study) dan hasil PISA (Programme for International Student Assessment). Hasil TIMSS terbaru tahun 2011, literasi sains siswa Indonesia berada diperingkat ke-40 dari 42 negara peserta dengan skor rata-rata 406, masih dibawah skor rata-rata

(19)

2 internasional yaitu 500 (IEA, 2012). Kondisi yang tak jauh berbeda terlihat dari PISA terbaru tahun 2012, literasi sains siswa Indonesia berada

diperingkat ke-64 dari 65 negara peserta dengan skor rata-rata 382, dimana skor rata-rata 501 (OECD, 2014). Hasil studi TIMSS dan PISA menunjukkan bahwa keterampilan berpikir siswa masih rendah. Siswa belum memiliki keterampilan untuk menjadi pemikir yang kreatif dan pemecah masalah.

Permendiknas No. 22 Tahun 2006 menyebutkan bahwa pembelajaran sains sebaiknya dilaksanakan secara inkuiri ilmiah untuk menumbuhkan

kemampuan berpikir, bekerja dan bersikap ilmiah serta menekankan pada pemberian pengalaman belajar secara langsung.

Untuk dapat mengembangkan kreativitas siswa bergantung pada guru dalam mengetahui bagaimana kreativitas tersebut dikembangkan (Bayindir & Inan, 2008). Kebanyakan guru masih menerapkan pembelajaran yang bersifat konvensional, dimana proses pembelajaran pada umumnya hanya melatih proses berpikir konvergen, sehingga bila dihadapkan suatu permasalahan, siswa akan kesulitan memecahkan masalah tersebut secara kreatif (Munandar, 2001). Seorang guru perlu menggunakan suatu pendekatan pembelajaran yang dapat melatih keterampilan berpikir kreatif siswa. Salah satu pendekatan pembelajaran yang dapat digunakan untuk melatih keterampilan berpikir kreatif adalah pendekatan pembelajaran STEM (Beers, 2011).

STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathtematics) merupakan isu penting dalam pendidikan saat ini (Becker & Park, 2011; Kuenzi, 2008).

Pembelajaran STEM merupakan integrasi dari pembelajaran sains, teknologi,

(20)

3 teknik, dan matematika yang disarankan untuk membantu kesuksesan

keterampilan abad ke-21 (Beers, 2011). STEM dapat berkembang apabila dikaitkan dengan lingkungan, sehingga terwujud sebuah pembelajaran yang menghadirkan dunia nyata yang dialami siswa dalam kehidupan sehari-hari (Subramaniam et al, 2012). Hal ini berarti melalui pendekatan STEM siswa tidak hanya sekedar menghafal konsep saja, tetapi lebih kepada bagaimana siswa mengerti dan memahami konsep-konsep sains dan kaitanya dalam kehidupan sehari-hari. Selain penggunaan pendekatan pembelajaran yang tepat, penggunaan bahan ajar pun harus sesuai agar keterampilan berpikir siswa dapat terlatih. Bahan ajar memainkan peran penting dalam memastikan efektivitas kegiatan belajar mengajar, salah satunya adalah lembar kerja siswa (LKS) (Kaymakci, 2012).

LKS adalah materi ajar yang dikemas secara integrasi sehingga

memungkinkan siswa mempelajari materi tersebut secara mandiri (Suyanto et al, 2011). Namun kebanyakan LKS yang digunakan saat ini kurang

memfasilitiasi siswa untuk mengembangkan keterampilan berpikir kreatifnya.

LKS tersebut berisikan materi secara singkat dan soal-soal yang harus dikerjakan siswa, meskipun dapat mendukung siswa dalam belajar tetapi masih kurang efektif dilihat dari tingkat keaktifan siswa yang masih rendah dan siswa belum menunjukkan keterampilan berpikir kreatifnya (Putri, 2015).

Padahal LKS seharusnya berisikan pekerjaan yang membuat siswa lebih aktif dalam mengambil makna dari proses pembelajaran (Ozmen & Yildirim, 2005).

(21)

4 Hasil observasi yang dilakukan terhadap guru dan siswa diketahui bahwa 68%

guru telah memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengajukan berbagai pertanyaan, jawaban, dan gagasan. Namun siswa masih sulit untuk

menyampaikan berbagai pertanyaan, jawaban, dan gagasan secara bervariasi, berbeda, dan terperinci. Untuk penggunaan LKS, 60% guru menyatakan telah menggunakan LKS, dimana LKS yang digunakan belum menyajikan materi- materi kontekstual terkait sains, teknologi, teknik, dan matematika yang berimplikasi pada peningkatan keterampilan berpikir kreatif siswa. Semua guru menyatakan belum mengetahui seperti apa pendekatan STEM dalam pembelajaran, sehingga dapat dikatakan bahwa guru belum pernah menerapkan pendekatan STEM dalam pembelajaran.

Materi yang disajikan dalam LKS yang akan dikembangkan ini adalah materi fluida statis. Pemilihan materi tersebut dikarenakan banyaknya aplikasi dalam kehidupan sehari-hari yang berkaitan dengan materi tersebut. Selain itu, materi fluida statis dapat diajarkan dengan menggunakan pendekatan STEM yaitu sains dalam menemukan konsepnya, dalam hal teknologi dapat diajarkan dengan menjelaskan berbagai penerapan teknologi yang berkaitan dengan materi, kemudian melalui teknik siswa dapat diajarkan membuat alat-alat sederhana terkait materi, dan matematika digunakan untuk memformulasikan persamaan matematis terkait konsep materi serta dalam hal perhitungannya.

Oleh karena itu, maka perlu dikembangkannya LKS dengan menggunakan pendekatan STEM yang berguna untuk melatih keterampilan berpikir kreatif siswa.

(22)

5 B. Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah diperlukannya pengembangan LKS dengan pendekatan STEM untuk melatih keterampilan berpikir kreatif siswa. Adapun beberapa pertanyaan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

1. Bagaimana validitas LKS dengan pendekatan STEM untuk melatih keterampilan berpikir kreatif siswa?

2. Bagaimana efektivitas LKS dengan pendekatan STEM untuk melatih keterampilan berpikir kreatif siswa?

3. Bagaimana respon guru dan siswa tentang LKS dengan pendekatan STEM untuk melatih keterampilan berpikir kreatif siswa?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian pengembangan ini adalah membuat LKS dengan pendekatan STEM untuk melatih keterampilan berpikir kreatif siswa. Adapun beberapa tujuan dari pertanyaan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

1. Mengetahui validitas dari LKS dengan pendekatan STEM untuk melatih keterampilan berpikir kreatif siswa.

2. Mengetahui efektivitas dari LKS dengan pendekatan STEM untuk melatih keterampilan berpikir kreatif siswa.

3. Mengetahui respon guru dan siswa tentang LKS dengan pendekatan STEM untuk melatih keterampilan berpikir kreatif siswa.

(23)

6 D. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi guru dan siswa untuk meningkatkan kualitas pembelajaran yang berimplikasi terhadap pencapaian tujuan pembelajaran. Melalui pengembangan lembar kerja siswa dengan pendekatan STEM ini disamping untuk melatih keterampilan berpikir kreatif siswa juga dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.

E. Ruang Lingkup Penelitian

Ruang lingkup dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

1. Pengembangan dalam penelitian ini adalah LKS dengan pendekatan STEM untuk melatih keterampilan berpikir kreatif siswa.

2. Prosedur pengembangan ini mengacu pada prosedur penelitian dan

pengembangan Gall et al (2003). Namun hanya dibatasi sampai langkah ke tujuh.

3. Validitas produk dilihat dari segi isi, konstruk, dan keterbacaan.

4. Indikator dari keterampilan berpikir kreatif meliputi: fluency (kelancaran), flexibility (fleksibilitas), originality (orisinalitas) dan elaboration

(elaborasi).

5. Materi yang disajikan dalam LKS adalah materi fluida statis SMA kelas X pada KD 3.7 dan 4.7.

(24)

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Hakikat dan Pembelajaran Fisika

1. Pembelajaran Fisika

Fisika adalah salah satu mata pelajaran IPA yang mempelajari gejala-gejala dan fenomena alam (Amalia, 2014). Fisika merupakan salah satu mata pelajaran yang dikaitkan dengan kecerdasan bangsa yang memiliki peranan besar dalam menunjang ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga

menggugah para pendidik untuk dapat merancang dan melaksanakan pendidikan yang lebih terarah pada penguasaan konsep Fisika yang dapat menunjang dalam kehidupan sehari-hari (Chodijah et al, 2012). Menurut Abdurrahman et al (2011) fisika sebagai mata pelajaran di sekolah masih mendapatkan reputasi yang buruk, yaitu terasa sulit untuk dipelajari dan tidak diminati oleh sebagian besar siswa. Depdiknas (2006) mengungkapkan empat hakikat sains, (1) sikap: rasa ingin tahu tentang fenomena alam, makhluk hidup, serta hubungan sebab akibat yang menimbulkan masalah baru yang dapat dipecahkan melalui prosedur yang benar; (2) proses: prosedur pemecahan masalah melalui metode ilmiah; yang meliputi penyusunan hipotesis, perancangan eksperimen, evaluasi, pengukuran, dan penarikan kesimpulan; (3) produk: berupa fakta, prinsip, teori, dan hukum; (4) aplikasi:

penerapan metode ilmiah dan konsep dalam kehidupan. Keempat unsur itu

(25)

8 merupakan ciri sains yang utuh yang sebenarnya tidak dapat dipisahkan satu sama lain.

Dalam pembelajaran dikenal dengan istilah tentang pendekatan, strategi, metode, teknik, taktik dan model pembelajaran. Sudrajat (2008) menjabarkan berbagai istilah-istilah tersebut sebagai berikut.

1. Pendekatan pembelajaran, diartikan sebagai sudut pandang terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginsiprasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoritis tertentu. Dalam pembelajaran terdapat dua jenis pendekatan, yaitu: (1) pendekatan pembelajaran yang berorientasi pada siswa (student centered approach) dan (2) pendekatan pembelajaran yang berorientasi pada guru (teacher centered approach).

2. Strategi pembelajaran pada dasarnya masih bersifat konseptual tentang keputusan-keputusan yang akan diambil dalam suatu pelaksanaan pembelajaran. Ditinjau dari cara penyajian dan cara pengolahannya, strategi pembelajaran dapat dibedakan antara strategi pembelajaran induktif dan strategi pembelajaran deduktif.

3. Metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran.

4. Metode pembelajaran dijabarkan ke dalam teknik dan taktik

pembelajaran. Teknik pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang dilakukan seseorang dalam mengimplementasikan suatu metode secara

(26)

9 spesifik. Sementara taktik pembelajaran merupakan gaya seseorang dalam melaksanakan metode atau teknik pembelajaran tertentu yang sifatnya individual.

5. Pendekatan, strategi, metode, teknik dan taktik pembelajaran sudah terangkai menjadi satu kesatuan yang utuh maka terbentuklah apa yang disebut dengan model pembelajaran. Model pembelajaran pada dasarnya merupakan bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru. Model pembelajaran merupakan bungkus atau bingkai dari penerapan suatu pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran.

Untuk lebih jelas tentang posisi dari istilah-istilah tersebut dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1. Posisi dari pendekatan, strategi, metode, teknik, taktik dan model pembelajaran

Pendekatan Pembelajaran

Strategi Pembelajaran

Metode Pembelajaran

Teknik dan Taktik Pembelajaran Model Pembelajaran

Model Pembelajaran

ModelPembelajaran

ModelPembelajaran

(27)

10 Penjabaran tentang istilah pendekatan, strategi, metode, teknik, taktik dan model pembelajaran diharapkan guru dapat menggunakan yang tepat untuk dilakukan dalam pembelajaran sains secara terpadu. Permendiknas No. 22 Tahun 2006 menyebutkan bahwa pembelajaran sains sebaiknya dilaksanakan secara inkuiri ilmiah untuk menumbuhkan kemampuan berpikir, bekerja dan bersikap ilmiah serta mengkomunikasikannya sebagai aspek penting

kecakapan hidup. Pembelajaran fisika menekankan pada pemberian

pengalaman belajar secara langsung melalui penggunaan dan pengembangan keterampilan proses dan sikap ilmiah. Mata pelajaran fisika erat kaitannya antara konsep dan lingkungan sekitar, sehingga peserta didik dapat

mengaplikasikannya secara langsung (Setyowati & Subali, 2012).

2. Materi Fluida Statis

Materi fluida statis merupakan salah satu materi pembelajaran yang dapat diamati secara langsung dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga untuk mempermudah siswa dalam memahami materi tersebut, siswa harus

mengalami sendiri untuk dalam bentuk mengamati dan mempraktikan secara langsung permasalahan terkait materi fluida statis.

Materi yang disajikan dalam LKS yang dikembangkan adalah materi fluida statis kelas X SMA yakni pada KD 3.7 : menerapkan hukum-hukum pada fluida statis dalam kehidupan sehari-hari, dan KD 4.7 : merencanakan dan melaksanakan percobaan yang memanfaatkan sifat-sifat fluida untuk mempermudah suatu pekerjaan. Materi pokok fuida statis yang dijabarkan yakni tekanan hidrostatis, Hukum Pascal, dan Hukum Archimedes.

(28)

11 Tekanan hidrostatis merupakan tekanan zat cair yang hanya disebabkan oleh berat zat cair tersebut. Persamaan tekanan hidrostatis dapat dituliskan:

= ℎ……….(1)

Dengan :

P = tekanan (N/m2),

= massa jenis zat air (kg/m3), g = percepatan gravitasi (m/s2),

h = tinggi zat cair (m)

Hukum Pascal yang menyatakan “Tekanan yang diberikan pada zat cair dalam ruang tertutup diteruskan ke segala arah dengan sama besar“. Salah satu contoh aplikasi yang menerapkan prinsip kerja hukum Pascal adalah dongkrak hidrolik. Persamaan tekanan hidrostatis dapat dituliskan:

= ………..(2)

Dengan :

F1= gaya tekan (N), F2= berat beban (N),

A1= luas penampang silinder tekan (m2), A2= luas penampang silinder beban (m2)

Hukum Archimedes menyatakan bahwa “Suatu benda yang dicelupkan sebagian atau seluruhnya ke dalam zat cair akan mengalami gaya apung yang besarnya sama dengan berat zat cair yang dipindahkan oleh benda tersebut”.

Selain itu akan dipelajari konsep benda terapung, benda melayang, dan benda tenggelam. Benda terapung terjadi jika massa jenis benda lebih kecil dari massa jenis zat cair. Benda melayang terjadi jika massa jenis benda sama

(29)

12 besar dengan massa jenis zat cair. Benda tenggelam terjadi jika massa jenis benda lebih besar dari massa jenis zat cair. Salah satu contoh aplikasi yang menerapkan prinsip kerja hukum Archimedes adalah kapal selam.

B. Lembar Kerja Siswa (LKS)

Siswa akan lebih aktif dalam pembelajaran apabila guru dapat menggunakan model pembelajaran serta bahan ajar yang sesuai. Salah satu bahan ajar yang sering digunakan adalah lembar kerja siswa (LKS). LKS adalah salah satu bahan ajar yang memainkan peran penting dalam memastikan efektivitas kegiatan belajar mengajar (Kaymakci, 2012). Lembar kerja siswa merupakan bagian dari enam perangkat pembelajaran atau dalam IPA disebut science pack, yang meliputi : silabus; rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP);

bahan ajar; lembar kerja siswa (LKS); media; dan lembar penilaian (Suyanto et al, 2011).

Depdiknas (2006) menyatakan LKS adalah lembaran-lembaran yang berisi tugas yang harus dikerjakan oleh siswa. Lembar kerja siswa juga merupakan suatu bahan dimana siswa diberikan langkah-langkah yang seharusnya siswa pelajari (Yildirim et al, 2011). Sesuatu yang dipelajari tersebut sangat

beragam, seperti melakukan percobaan, melakukan pengamatan, menuliskan hasil pengatamantan, menganalisis data hasil pengukuran, dan menarik kesimpulan (Suyanto et al, 2011). Penggunaaan LKS diharapkan dapat membuat siswa lebih aktif dalam pembelajaran serta mampu meningkatkan efektifitas dan kelancaran proses pembelajaran agar tujuan pembelajaran dapat tercapai.

(30)

13 Menurut BSNP (2007), salah satu cara mencapai kompetensi dalam

pembelajaran adalah dengan menggunakan LKS yang telah disesuaikan dengan karakteristik peserta didik dalam mata pelajaran, yakni dengan menerapkan pembelajaran yang meliputi proses-proses eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi. LKS disusun dengan memperhatikan tiga persyaratan kualitas yaitu aspek didaktik, aspek konstruksi, dan aspek teknik serta minat siswa terhadap produk LKS yang dikembangkan.

Tiga persyaratan kualitas penyusunan LKS menurut Hendro Darmodjo &

Jenny R.E dalam Widjajanti (2008) adalah 1) syarat didaktik, yakni mengatur tentang penggunaan LKS yang bersifat universal dapat digunakan dengan baik untuk siswa yang lamban ataupun yang pandai, dan lebih menekankan pada proses untuk menemukan konsep, sehingga diharapkan mengutamakan pada pengembangan kemampuan komunikasi dan estetika; 2) syarat

konstruksi berhubungan dengan penggunaan bahasa, susunan kalimat, kosa kata, tingkat kesukaran, dan kejelasan dalam LKS; 3) Syarat teknis

menekankan penyajian LKS, yaitu berupa tulisan, gambar dan penampilannya dalam LKS.

Komponen-komponen LKS menurut Trianto (2007) meliputi: judul eksperimen, teori singkat tentang materi, alat dan bahan, prosedur

eksperimen, data pengamatan serta pertanyaan dan kesimpulan untuk bahan diskusi. Secara garis besar komponen lembar kerja siswa dijabarkan oleh Suyanto et al, (2011) sebagai berikut.

(31)

14 1. Nomor LKS, hal ini dimaksudkan untuk mempermudah guru mengenal

dan menggunakannya. Misalnya untuk kelas 1, KD, 1 dan kegiatan 1, nomor LKS-nya adalah LKS 1.1.1. Dengan nomor tersebut guru langsung tahu kelas, KD, dan kegiatannya.

2. Judul Kegiatan, berisi topik kegiatan sesuai dengan KD.

3. Tujuan, adalah tujuan belajar sesuai dengan KD.

4. Alat dan bahan, jika kegiatan belajar memerlukan alat dan bahan, maka dituliskan alat dan bahan yang diperlukan.

5. Prosedur Kerja, berisi petunjuk kerja untuk siswa yang berfungsi mempermudah siswa melakukan kegiatan belajar.

6. Tabel Data, berisi tabel di mana siswa dapat mencatat hasil pengamatan atau pengukuran. Untuk kegiatan yang tidak memerlukan data, maka bisa diganti dengan kotak kosong di mana siswa dapat menulis, menggambar, atau berhitung.

7. Bahan diskusi, berisi pertanyaan-pertanyaan yang menuntun siswa melakukan analisis data dan melakukan konseptualisasi. Untuk beberapa mata pelajaran, seperti bahasa, bahan diskusi bisa berupa pertanyaan- pertanyaan yang bersifat refleksi.

LKS memiliki beberapa fungsi sebagai berikut: 1) sebagai panduan siswa di dalam melakukan kegiatan belajar, seperti melakukan percobaan; 2) sebagai lembar pengamatan, di mana lembar kerja siswa menyediakan dan memandu siswa menuliskan data hasil pengamatan; 3) sebagai lembar diskusi, di mana lembar kerja siswa berisikan sejumlah pertanyaan yang menuntun siswa melakukan diskusi dalam rangka konseptualisasi; 4) sebagai lembar

(32)

15 penemuan (discovery), di mana siswa mengekspresikan temuannya berupa hal-hal baru yang belum pernah ia kenal sebelumnya; 5) sebagai wahana untuk melatih siswa berfikir lebih kritis dalam kegiatan belajar mengajar; dan 6) Meningkatkan minat siswa untuk belajar jika kegiatan belajar yang

dipandu melalui LKS lebih sistematis, berwarna serta bergambar serta menarik perhatian siswa (Suyanto et al, 2011).

C. Pendekatan STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics)

Istilah STEM dikenalkan oleh NSF (National Science Foundation) Amerika Serikat pada tahun 1990-an sebagai singkatan untuk “Science, Technology, Engineering, & Mathematics”(Sanders, 2009). Jadi dalam konteks Indonesia, STEM merujuk kepada empat bidang ilmu pengetahuan, yaitu sains,

teknologi, teknik, dan matematika. Pendidikan STEM merupakan suatu pendekatan pengajaran dan pembelajaran antara dua atau lebih dalam

komponen STEM atau antara satu komponen STEM dengan disiplin ilmu lain (Becker & Park, 2011). Pengintegrasian pendidikan STEM dalam pengajaran dan pembelajaran boleh dijalankan pada semua tingkatan pendidikan, mulai dari sekolah dasar sampai universitas, karena aspek pelaksanaan STEM seperti kecerdasan, kreatifitas, dan kemampuan desain tidak tergantung kepada usia (Sanders et al, 2011).

STEM yang merupakan singkatan dari ilmu pengetahuan, teknologi, teknik,

dan matematika, namun masing-masing kategori ini dapat mencakup instruksi dalam beberapa bidang studi. Tabel berikut menguraikan pelajaran STEM umum dalam pendidikan.

(33)

16 Tabel 1. Mata Pelajaran STEM yang saling terkait

Science (Sains) Biologi; Kimia; Fisika; Sains (Technology) Teknologi Komputer/SiSTEM Informasi;

Pengembangan Web/Perangkat Lunak (Engineering) Teknik Teknik Komputer; Teknik Listrik; Teknik

Kimia; Teknik Mesin; Teknik Sipil (Mathematic) Matematika Matematika; Statistk-Kalkulus

(Asmuniv, 2015)

Selain mengembangkan konten pengetahuan di bidang sains, teknologi, teknik dan matematika, pendidikan integrasi STEM juga berupaya untuk menumbuhkan keterampilan seperti penyelidikan ilmiah dan kemampuan memecahkan masalah. Melatih keterampilan pemecahan masalah yang didukung dengan perilaku ilmiah, maka pendidikan integrasi STEM berusaha untuk membangun masyarakat yang sadar pentingnya literasi STEM. Literasi STEM mengacu pada kemampuan individu untuk menerapkan pemahaman

tentang bagaimana ketatnya persaingan bekerja di dunia nyata yang membutuhkan empat domain yang saling terkait. Tabel 2 mendefinisikan literasi STEM menurut masing-masing dari empat bidang studi yang saling terkait.

Tabel 2. Difinisi Literasi STEM

Science (Sains) Literasi Ilmiah : Kemampuan dalam

menggunakan pengetahuan ilmiah dan proses untuk memahami dunia alam serta kemampuan untuk berpartisipasi dalam mengambil

keputusan untuk mempengaruhinya.

Technology (Teknologi)

Literasi Teknologi : Pengetahuan bagaimana menggunakan teknologi baru, memahami bagaimana teknologi baru dikembangkan, dan memiliki kemampuan untuk menganalisis bagaimana teknologi baru mempengaruhi individu, dan masyarakat.

(34)

17 Engineering (Teknik) Literasi Desain : Pemahaman tentang

bagaimana teknologi dapat dikembangkan melalui proses desain menggunakan tema pembelajaran berbasis proyek dengan cara mengintegrasikan dari beberapa mata pelajaran berbeda (interdisipliner).

Mathematic (Matematika)

Literasi Matematika : Kemampuan dalam menganalisis, alasan, dan mengkomunikasikan ide secara efektif dan dari cara bersikap, merumuskan, memecahkan, dan menafsirkan solusi untuk masalah matematika dalam penerapannya.

(Asmuniv, 2015)

Terdapat tiga metode pendekatan pembelajaran dalam pendidikan STEM.

Perbedaan antara masing-masing metode terletak pada tingkat konten STEM yang dapat diterapkan. Tiga metode pendekatan pendidikan STEM yang sering digunakan adalah metode pendekatan ″silo″ (terpisah), ″tertanam″

(embeded), dan pendekatan ″terpadu″ (terintegrasi).

1. Pendekatan silo (terpisah) untuk pendidikan STEM mengacu pada instruksi terisolasi, dimana masing-masing setiap mata pelajaran STEM diajarkan secara terpisah atau individu (Dugger, 2010). Studi terkonsentrasi masing-masing individu memungkinkan siswa untuk mendapatkan lebih mendalam pemahaman tentang isi dari masing- masing mata pelajaran;

2. Pendekatan tertanam (embeded) lebih menekankan untuk mempertahankan integritas materi pelajaran, bukan fokus pada interdisiplin mata pelajaran.

3. Pendidikan STEM terpadu (terintegrasi) bertujuan untuk menghapus dinding pemisah antara masing-masing bidang STEM pada pendekatan silo dan pendekatan tertanam (embeded), dan untuk mengajar siswa

(35)

18 sebagai salah satu subjek (Breiner et al, 2012). Pendekatan terintegrasi berbeda dengan pendekatan tertanam dalam hal standar evaluasi dan menilai atau tujuan dari masing-masing daerah kurikulum yang telah dimasukkan dalam pelajaran (Sanders, 2009).

Tujuan dari pendidikan STEM adalah untuk menghasilkan peserta didik yang kelak pada saat mereka akan terjun di masyarakat, mereka mampu

mengembangkan kompetensi yang telah dimilikinya untuk

mengaplikasikannya pada berbagai situasi dan permasalahan yang mereka hadapi di kehidupan sehari-hari (Mayasari et al, 2014).

Beers (2011) mengemukakan bahwa kurikulum STEM melibatkan “4C” dari keterampilan abad 21, yaitu meliputi creativity (kreatifitas), critical thinking (berpikir kritis), collaboration (kolaborasi), dan communication

(komunikasi).

D. Berpikir Kreatif

Bacanlı et al (2009) berpendapat bahwa salah satu tugas utama dari pendidikan adalah untuk mengajarkan siswa cara berpikir yang tepat Keterampilan berpikir salah satunya adalah keterampilan berpikir kreatif.

Kreativitas sering digambarkan sebagai kemampuan berpikir berbeda, peka terhadap suatu masalah, kemampuan untuk memecahkan masalah, dan mencari solusi yang tidak biasa untuk permasalahan tersebut (Bacanlı et al, 2009). Mendefinisikan, menganalisis dan memecahkan masalah adalah langkah-langkah penting dari suatu proses berpikir kreatif, sehingga jika tidak

(36)

19 ada pemecahan masalah, maka tidak ada pemikiran kreatif (Bayindir & Inan, 2008). Chua (2010) menjabarkan bahwa berpikir kreatif memiliki ciri-ciri seperti: menghasilkan ide-ide unik; menghasilkan ide-ide yang tidak biasa dipikirkan; imajinatif; mampu menghasilkan ide dalam waktu yang tetap;

kecenderungan untuk melihat masalah langsung dari berbagai perspektif.

Menurut Guilford dalam Alghafri dan Nizam (2014) terdapat empat komponen utama dari keterampilan berpikir kreatif yang meliputi: fluency (kelancaran), flexibility (fleksibilitas), originality (orisinalitas) dan

elaboration (elaborasi). Kelancaran merupakan kemampuan untuk

menghasilkan banyak ide; fleksibilitas adalah kemampuan dalam menghasilkan ide-ide yang lebih bervariasi; orisinalitas merupakan

kemampuan menghasilkan ide yang baru atau ide yang sebelumnya tidak ada;

dan elaborasi adalah suatu kemampuan menambahkan atau mengembangkan ide-ide sehingga dihasilkan ide yang lebih rinci dan detail. Dimana setiap komponen-komponen berpikir kreatif tersebut memiliki indikatornya masing- masing.

Munandar (2001) menjabarkan beberapa ciri-ciri kemampuan berpikir kreatif beserta indikatornya, yaitu sebagai berikut.

1. Keterampilan Berpikir Lancar (fluency)

Berpikir lancar diartikan sebagai ketempilan dalam mencetuskan banyak gagasan, jawaban, penyelesaian masalah, atau pertanyaan. Indikatornya:

a) mengajukan banyak pertanyaan,

b) menjawab dengan sejumlah jawaban jika ada pertanyaan,

(37)

20 c) mempunyai banyak gagasan.

2. Keterampilan Berpikir Luwes (fleksibility)

Keluwesan berarti kemampuan untuk menghasilkan gagasan, jawaban, atau pertanyaan yang bervariasi. Seorang yang luwes dapat melihat suatu permasalahan dari sudut pandang yang berbeda sehingga mampu

memberikan banyak alternative pemecahan masalahnya. Indikatornya:

a) memberikan macam-macam penafsiran terhadap gambar, cerita, atupun masalah,

b) menerapkan suatu konsep dengan cara yang berbeda,

c) memikirkan berbagai cara untuk menyelesaikan permasalahan yang diberikan.

3. Keterampilan Berpikir Orisinil (Originality)

Indikator dari keterampilan berpikir orisinil adalah:

a) memikirkan masalah atau hal-hal yang tidak pernah terpikirkan oleh orang lain,

b) mempertanyakan cara-cara yang lama dan berusaha memikirkan cara- cara yang baru,

c) memiliki cara berpikir yang lain daripada yang lain.

4. Keterampilan Berpikir Merinci atau Elaborasi (elaboration) Keterampilan berpikir merinci merupakan kemampuan untuk

menegambangkan suatu gagasan dan merinci secara detail dari suatu objek sehingga lebih menarik. Indikatornya:

a) mencari jawaban atau pemecahan masalah dengan melakukan langkah-langkah secara terperinci;

(38)

21 b) mengembangkan atau memperkaya gagasan orang lain.

Kegiatan guru dan siswa dalam pembelajaran perlu diperhatikan agar keterampilan berpikir kreatif siswa dapat terlatih dan berkembangkan.

Keterampilan berpikir kreatif siswa dapat dilihat dari perilaku siswa dalam kegiatan pembelajaran. Williams dalam Munandar (2009) menyatakan bahwa perilaku siswa yang termasuk dalam keterampilan kognitif kreatif dapat dijabarkan sebagai berikut.

Tabel 3. Perilaku siswa dalam dalam keterampilan kognitif kreatif

No Perilaku Siswa Arti

1 Berfikir Lancar (fluency)

- Menghasilkan banyak jawaban/gagasan yang relevan;

- Arus pemikiran lancar;

2 Berfikir Luwes (fleksibel)

- Menghasilkan gagasan-gagasan yang seragam;

- Mampu mengubah cara atau pendekatan;

- Arah pemikiran yang berbeda;

3 Berfikir Orisinal (Originality)

- Memberikan jawaban yang tidak lazim, yang lain dari yang lain, yang jarang diberikan kebanyakan orang;

4 Berfikir Terperinci (elaborasi)

- Mengembangkan, menambah, memperkaya suatu gagasan;

- Memperinci detail-detail;

- Memperluas suatu gagasan

(Williams dalam Munandar, 2009) Proses pembelajaran di sekolah saat ini guru belum memberi kesempatan yang optimal kepada siswa untuk dapat mengembangkan kreativitasnya.

Menurut Wenno (2010) hal tersebut terjadi karena beberapa hal, antara lain:

(1) gaya mengajar guru sains yang selalu menyuruh siswa untuk menghafal berbagai konsep tanpa disertai pemahaman terhadap konsep tersebut; (2) pengajaran sains umumnya banyak dilakukan dengan cara menghafal dan sangat minim dengan kerja laboratorium; (3) masih banyak guru sains yang

(39)

22 berpendapat bahwa mengajar itu suatu kegiatan menjelaskan dan

menyampaikan informasi tentang konsep-konsep; (4) soal-soal ujian semester dan akhir kurang memotivasi siswa berpikir kreatif, karena soal-soal yang diajukan hanya dititik beratkan pada aspek kognitif yang umumnya berbentuk pilihan ganda, dan (5) fasilitas sekolah untuk menopang siswa

mengembangkan kreativitasnya, terutama yang berkaitan dengan perkembangan sains teknologi umumnya kurang memadai.

Marzano (1988) berpendapat bahwa seorang guru harus mengetahui beberapa cara untuk mengajarkan keterampilan berpikir kreatif dan kritis siswa yaitu (1) mempersiapkan materi pelajaran dengan baik ; (2) mendiskusikan materi pelajaran yang kontropersi; (3) mengemukakan masalah yang menimbulkan konflik kognitif; (4) menugaskan siswa menemukan pandangan-pandangan yang bervariasi terhadap suatu masalah; (5) menugaskan siswa menulis artikel untuk diterbitkan dalam suatu jurnal; (6) menganalisis artikel dari koran atau media lain untuk menemukan gagasan-gagasan baru; (7) memberikan masalah untuk menemukan solusi yang berbeda-beda; (8) memberikan bacaan yang berbeda dengan tradisi siswa untuk diperdebatkan atau didiskusikan; dan (9) Mengundang orang yang memiliki pandangan- pandangan yang kontroversial.

Berdasarkan uraian di atas dapat terihat bahwa pentingnya penerapan pendekatan pembelajaran yang inovatif agar keterampilan berpikir kreatif siswa dapat terus terlatih.

(40)

23 E. Kerangka Pikir

Pembelajaran sains yang tepat dapat melatih keterampilan berpikir siswa.

Salah satu keterampilan berpikir adalah keteampilan berpikir kreatif.

Keterampilan berpikir kreatif meliputi : fluency (kelancaran), flexibility (fleksibilitas), originality (orisinalitas) dan elaboration (elaborasi). Masih

rendahnya keterampilan berpikir kreatif siswa karena belum tepatnya pendekatan pembelajaran yang digunakan, dan belum memberi kesempatan yang optimal kepada siswa untuk dapat melatih keterampilan berpikir kreatifnya.

Diantara berbagai pendekatan pembelajaran, pendekatan STEM merupakan pendekatan yang diharapkan dapat membantu melatih keterampilan berpikir kreatif siswa. Pendekatan STEM merupakan pendekatan yang

mengintegrasikan beberapa pelajaran menjadi satu, yaitu science (sains), technology (teknologi), engineering (teknik), dan mathematics (matematika).

Maelalui pendekatan STEM siswa tidak hanya sekedar menghafal konsep, tetapi lebih kepada bagaimana siswa mengerti dan memahami konsep-konsep sains dan kaitanya dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga pemilihan materi yang akan disajikan dalam LKS yang akan dikembangkan harus banyak berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Materi fluida statis dipilih karena banyaknya aplikasi dalam kehidupan sehari-hari yang berkaitan dengan materi tersebut.

Kegiatan pembelajaran harus sesuai dengan standar isi dan standar proses.

Dimana dalam standar isi memuat kompetensi inti (KI) dan kompetensi dasar

(41)

24 (KD) yang harus dicapai siswa. Agar siswa dapat mencapai KI dan KD tersebut maka perlu didukung dengan standar proses yang memuat tentang perencanaan pembelajaran dan bahan ajar yang digunakan. Salah satu dari bahan ajar yang digunakan adalah LKS.

Berdasarkan hal tersebut, peneliti mengembangkan LKS dengan pendekatan STEM yang dapat digunakan untuk melatih keterampilan berpikir kreatif siswa. Secara skematis kerangka pikir penelitian terdapat pada Gambar 2.

Gambar 2. Kerangka pikir penelitian Kegiatan Pembelajaran Standar

Isi

Standar Proses Penggunaan

bahan ajar, salah satunya adalah LKS Penggunaan

pendekatan pembelajaran yang sesuai

LKS dengan pendekatan STEM

Keterampilan Berpikir Kreatif

Fluency

Flexibility

Originality

Elaboration Sains

Teknologi Teknik Matematika

(42)

25 F. Desain Produk Yang Dikembangkan

Secara terperinci kerangka desain dari LKS yang dikembangkan dijabarkan pada Tabel 4.

Tabel 4. Rincian desain lembar kerja siswa yang akan dikembangkan

Komponen Tampilan

Cover  Judul Lembar Kerja Siswa

 Kolom Jenjang, Kelas dan Semester

 Kolom nama, kelas untuk siswa

 Nama Penulis Bagian

Pendahuluan

 Prakata

 Daftar Isi

 Standar Kompetensi

 Kompetensi Dasar

 Indikator

 Tujuan Pembelajaran Ringkasan

Materi

 Berupa ringkasan materi sains (Sains) Lembar

Kegiatan

 Kegiatan percobaan sains (Sains)

 Mengamati berbagai aplikasi teknologi yang terkait materi (teknologi)

 Percobaan tentang teknologi sederhana yang terkait materi (teknologi)

 Siswa mendesain atau merancang sendiri kegiatan percobaan yang akan dilakukan (teknik)

 Tabel Data

 Pertanyaan Diskusi Daftar Pustaka  Buku Acuan

 Website Acuan

 Sumber gambar

(43)

26

III. METODE PENELITIAN

A. Desain Penelitian

Jenis penelitian yang dilakukan adalah metode penelitian dan pengembangan (Research and Development). Research and Development adalah metode penelitian yang digunakan untuk menghasilkan produk tertentu dan menguji keefektifan produk tersebut. Pengembangan yang dilakukan adalah

pengembangan LKS dengan pendekatan STEM untuk melatih keterampilan berpikir kreatif siswa.

Saat proses pengembangan diberlakukan uji ahli dan uji coba produk. Uji ahli dilakukan untuk mengetahui validitas produk dilihat dari validitas isi dan validitas konstruk (desain) dari LKS yang telah dikembangkan, serta uji coba produk dilakukan untuk memperoleh informasi mengenai keterbacaan, respon, dan efektivitas dari LKS yang telah dikembangkan.

B. Prosedur Pengembangan

Prosedur pengembangan ini mengacu pada prosedur penelitian dan

pengembangan menurut Gall, Gall, & Borg (2003) yang memuat langkah- langkah pokok penelitian pengembangan yang bertujuan untuk menghasilkan suatu produk. Secara lengkap menurut Gall et al (2003) terdapat 10 langkah

(44)

27 prosedur penelitian pengembangan, yaitu: 1) pengumpulan informasi; 2) perencanaan; 3) pengembangan draf produk; 4) uji coba awal; 5) revisi hasil uji coba awal; 6) uji coba lapangan; 7) penyempurnaan produk uji coba lapangan; 8) uji pelaksanaan lapangan; 9) penyempurnaan produk akhir; 10) desiminasi. Namun dalam penelitian dan pengembangan ini peneliti tidak memakai langkah 8, 9 dan 10 dikarenakan keterbatasan waktu. Sehingga langkah-langkah penelitian dan pengembangan yang akan dilakukan dapat dilihat pada Gambar 3.

Gambar 3. Prosedur Pengembangan R&D (Gall, Gall, & Borg, 2003)

1. Pengumpulan Informasi

Pengumpulan informasi dilakukan melalui studi pustaka dan studi

lapangan. Studi pustaka dilakukan dengan mengkaji beberapa literatur dan hasil penelitian yang relevan dengan penelitian pengembangan ini. Studi lapangan dilakukan untuk mengumpulkan informasi bahwa diperlukan adanya LKS dengan pendekatan STEM untuk melatih keterampilan berpikir kreatif siswa. Pengumpulan informasi untuk studi lapangan ini dilakukan dengan pemberian angket kepada guru dan siswa. Tahap ini Pengumpulan

Informasi

Perencanaan

Uji Coba Produk (Validasi)

Produk Akhir

Revisi Produk Uji Coba

Lapangan

Pengembangan Draft Produk Awal

(45)

28 dilakukan untuk mencari data tentang penggunaan LKS yang telah

digunakan dalam pembelajaran, serta untuk mengetahui proses pembelajaran di kelas.

2. Perencanaan

Setelah dilakukan pengumpulan informasi, selanjutnya dilakukan perencanaan terhadap produk yang dikembangkan. Pada tahap ini yang dilakukan adalah menentukan materi pembelajaran yang disajikan dalam LKS, serta menentukan format isi dan tampilan dari LKS yang

dikembangkan.

3. Pengembangan Draf Produk

Kegiatan pada tahap ini adalah mengembangan draf produk yaitu berupa LKS dengan pendekatan STEM untuk melatih keterampilan berpikir kreatif siswa. Spesifikasi produk yang dikembangkan adalah LKS dengan pendekatan STEM yang di dalamnya memuat konten sains, teknologi, teknik, dan matematika. Materi yang disajikan adalah materi fluida statis.

Untuk konten sains akan disajikan materi mengenai fluida statis, kemudian pada konten teknologi akan disajikan mengenai berbagai aplikasi

teknologi dan penerapan konsep fluida statis dalam kehidupan sehari-hari, pada konten teknik siswa akan diajarkan untuk mendesain sendiri

percobaan terkait materi, serta pada konten matematika adalah untuk melalukan perhitungan terkait materi. Melalui berbagai konten yang terdapat pada LKS tersebut diharapkan dapat melatih keterampilan

(46)

29 berpikir kreatif siswa. Hasil pengembangan produk pendahuluan yang dilakukan pada tahap ini berupa prototipe I.

4. Uji Coba Produk

Uji coba awal merupakan uji validitas dari draft produk atau prototipe I yang dilakukan oleh ahli. Uji ahli terdiri dari uji ahli isi dan uji ahli desain konstruk. Uji ahli dilakukan untuk mengetahui validitas dan kelayakan produk yang telah dikembangan dengan berpedoman pada instrumen uji yang telah dibuat. Uji ahli terdiri dari dosen ahli dan praktisi ahli.

5. Revisi Produk

Setelah dilakukan uji coba awal, maka prototipe I mendapat saran-saran perbaikan dari ahli desain dan ahli isi. Hasil perbaikan protipe I inilah kemudian menjadi prototipe II.

6. Uji Coba Lapangan

Uji coba lapangan ini dilakukan untuk mengetahui keterbacaan, respon, dan keefektifan LKS yang telah dikembangkan. Uji keterbacaan dilakukan terhadap siswa meliputi uji satu lawan satu dengan pemberian angket keterbacaan. Uji keefektifan LKS dilakukan pada dua sampel kelas yang akan di uji, yaitu kelas eksperimen dan kelas kontrol. Kelas kontrol adalah kelas dengan menggunakan LKS yang biasa siswa gunakan, sedangkan kelas eksperimen adalah kelas dengan menggunakan LKS yang telah dikembangkan. Uji efektifitas ini dilakukan dengan pemberian soal.

Sedangkan untuk mengetahui pendapat siswa terhadap penggunaan LKS

(47)

30 maka siswa diberikan angket respon terhadap produk kepada siswa pada kelas eksperimen.

7. Produk Akhir

Hasil akhir dari pengembangan ini adalah produk LKS dengan pendekatan STEM untuk melatih keterampilan berpikir kreatif siswa yang telah

tervalidasi dan siap digunakan sebagai media pembelajaran.

C. Subjek dan Desain Uji Coba

1. Subjek Penelitian

Subjek dalam penelitian ini terdiri dari tiga kelompok. Kelompok pertama adalah subjek untuk melakukan analisis kebutuhan yang terdiri dari siswa dan guru. Kelompok kedua adalah subjek untuk melakukan uji validitas terhadap produk yang telah dikembangkan yang terdiri dari dosen ahli dan praktisi ahli. Kelompok ketiga adalah subjek untuk mengetahui

keterbacaan, respon, dan keefektivitasan terhadap produk yang telah dikembangkan.

Tabel 5. Subjek penelitian

No Tahapan Subjek Penelitian

1 Analisis Kebutuhan - Siswa;

- Guru.

2 Uji Validitas Produk (Validitas isi dan konstruk)

- Dosen Ahli;

- Praktisi Ahli.

3

Uji Keterbacaan Siswa uji satu lawan satu Uji Respon Pengguna Terhadap

Produk

- Siswa kelas eksperimen;

- Guru.

Uji Keefektivitasan - Siswa kelas eksperimen;

- Siswa kelas kontrol.

(48)

31 2. Desain Uji Coba

Desain penelitiant yang digunakan adalah quasi experimental design dalam bentuk nonequivalent pre-post control group design. Desain ini digunakan untuk melihat perbandingan kemajuan siswa setelah

pembelajaran dengan sebelum pembelajaran antara kelas eksperimen dengan kelas kontrol. Desain penelitian ini ditunjukkan oleh Gambar 5 berikut ini.

Kelas Eksperimen O1 X1 O2

Kelas Kontrol O3 X2 O4

Gambar 4. Nonequivalent pre-post control group design Keterangan:

: Perlakuan berupa pembelajaran menggunakan LKS yang telah dikembangkan

: Perlakuan dengan pembelajaran menggunakan LKS konvensional : Pretest siswa kelas eksperimen

: Posttest siswa kelas eksperimen : Pretest siswa kelas control : Posttest siswa kelas kontrol

(Sugiyono, 2013: 116)

D. Teknik Pengumpulan Data

Data dalam penelitian pengembangan ini diperoleh melalui instrumen angket, dan instrumen tes.

(49)

32

1. Angket

Angket digunakan untuk mengumpulkan data kebutuhan awal yang ditujukan kepada guru dan siswa. Angket juga digunakan untuk mengumpulkan data tentang validitas dari produk yang telah

dikembangkan. Validitas yang dimaksud adalah dari validitas isi, validitas konstruk, dan keterbacaan. Validitas isi dan konstruk diperoleh melalui instrumen angket yang ditujukan pada dosen ahli dan praktisi ahli, sedangkan keterbacaan ditunjukkan kepada siswa selaku pengguna.

Instrument angket juga digunakan untuk mengetahui respon dari guru dan siswa mengenai produk yang telah dikembangkan.

2. Tes

Data mengenai keefektivan produk digunakanlah instrument tes berupa soal-soal yang ditujukan kepada siswa pada kelas ekperimen maupun kelas kontrol.

E. Teknik Analisis Data

1. Analisis Instrumen Penilaian Validitas Produk

Instrumen yang digunakan untuk melakukan penilaian validitas produk adalah isntrumen angket. Instrumen angket penilaian validasi isi dan validasi konstruk produk ditujukan kepada ahli dan instrumen angket keterbacaan ditunjukkan kepada siswa, serta instrumen angket respon pengguna ditunjukkan kepada guru dan siswa yang semuanya memiliki

(50)

33 pilihan 4 pilihan jawaban sesuai konten pertanyaan, misalnya: “sangat sesuai”, “sesuai”, “kurang sesuai” dan “tidak sesuai”.

Masing-masing pilihan jawaban memiliki skor berbeda yang mengartikan tingkat kesesuaian produk. Skor penilaian dari tiap pilihan jawaban ini dapat dilihat dalam Tabel 6.

Tabel 6. Skor penilaian terhadap pilihan jawaban Pilihan Jawaban Skor

Sangat sesuai 4

Sesuai 3

Kurang sesuai 2

Tidak sesuai 1

Instrumen yang digunakan memiliki 4 pilihan jawaban, sehingga skor penilaian total dapat dicari dengan menggunakan rumus:

= ℎ

ℎ × 4

Hasil dari skor penilaian tersebut kemudian dicari rata-ratanya dari sejumlah subyek sampel uji coba dan dikonversikan ke pernyataan penilaian. Pengkonversian skor menjadi pernyataan penilaian ini dapat dilihat dalam Tabel 7.

Tabel 7. Konversi skor penilaian menjadi pernyataan nilai kualitas Skor Penilaian Rerata Skor Klasifikasi

4 3,26 - 4,00 Sangat Baik

3 2,51 – 3,25 Baik

2 1,76 – 2,50 Kurang Baik

1 1,01 – 1,75 Tidak Baik

(Suyanto & Sartinem, 2009)

(51)

34 2. Analisis Instrumen Penilian Keefektivan Produk

Instrumen uji tes digunakan untuk mengetahui keefektifan produk yang telah dikembangkan. Kegiatan analisis data dari kegiatan uji efektivitas dilakukan selain menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, juga menggunakan analisis statistic kuantitatif. Untuk analisis statistik kuantitatif terhadap data hasil penelitian dilakukan uji dibawah ini:

a. Penilaian Peningkatan Antara Pre Test Dengan Post Test

Mengetahui terdapat peningkatan antara pre test dengan post test atau Gain. Besarnya peningkatan dihitung dengan rumus gain

ternormalisasi yaitu:

( ) = = −

Hasil perhitungan gain kemudian diinterpretasikan dengan menggunakan klasifikasi seperti pada Tabel 8.

Tabel 8. Klasifikasi Gain Rata-rata gain ternormalisasi

Klasifikasi

(g)≥ 0,70 Tinggi

0,30≤ (g) > 0,70 Sedang

(g) < 0,30 Rendah

(Meltzer, 2002)

Mengetahui terdapat peningkatan antara pre test dengan post test juga dapat menggunakan uji statistik yang diformulasikan sebagai berikut :

H0: μ1≤ μ2

H1: μ1> μ2

(52)

35 Keterangan:

H0 : secara signifikan skor post-test lebih kecil atau sama dengan skor pre-test

H1 : secara signifikan skor post-test lebih tinggi dari skor pre-test

Uji hipotesis menggunakan paired sample t-test. Dasar pengambilan keputusan berdasarkan nilai probabilitas, dimana jika sig > 0,05 maka

diterima. Akan tetapi, jika sig < 0,05 maka ditolak.

b. Penilaian Perbedaan Rata-Rata Nilai Antara Kelas Eksperimen Dan Kelas Kontrol

Mengetahui adanya perbedaan rata-rata nilai antara kelas eksperimen yang menggunakan LKS dengan pendekatan STEM dan kelas kontrol yang menggunakan LKS konvensional dapat diformulasikan sebagai berikut:

H0: μ1≤ μ2

H1: μ1> μ2

Keterangan:

H0 : secara signifikan skor siswa kelas eksperimen lebih kecil atau sama dengan skor siswa kelas control

H1 : secara signifikan skor siswa kelas eksperimen lebih tinggi dari skor siswa kelas control

Uji hipotesis menggunakan Independent Sample t Test. Dasar

pengambilan keputusan berdasarkan nilai probabilitas, dimana jika sig

(53)

36

> 0,05 maka diterima. Akan tetapi, jika sig < 0,05 maka ditolak.

c. Penilaian Hasil Tes Berpikir Kreatif

Penilaian yang digunakan untuk mengukur keterampilan berpikir kreatif siswa dapat menggunakan persamaan :

= ℎ

ℎ × 100%

Hasil perhitungan kemudian diinterpretasikan dengan menggunakan klasifikasi penilaian seperti pada Tabel 9.

Tabel 9. Klasifikasi penilaian

Persentase Klasifikasi 81% - 100% Tinggi Sekali

61% - 80% Tinggi

41% -60% Cukup

21% - 40% Rendah

0% - 20% Rendah sekali

(Arikunto, 2006)

(54)

52

V. PENUTUP

A. Simpulan

Kesimpulan dari penelitian ini adalah:

1. Telah dikembangkan LKS dengan pendekatan STEM untuk melatih

keterampilan berpikir kreatif siswa pada materi fluida statis yang tervalidasi berdasarkan validitas isi sebesar 3,15, validitas konstruk sebesar 3,16, dan keterbacaan sebesar 3,36.

2. LKS telah efektif digunakan dalam proses pembelajaran dilihat dari hasil rerata nilai N-Gain sebesar 0,71 yang masuk kategori tinggi, dan hasil uji hipotesis bahwa terdapat perbedaan antara rata-rata nilai pada kelas

eksperimen dengan nilai pada kelas kontrol. LKS yang telah dikembangkan efektif melatif keterampilan berpikir kreatif siswa dilihat dari peningkatan keterampilan berpikir siswa pada setiap indikatornya.

3. Respon siswa dan guru terhadap LKS yang dikembangkan juga sudah baik.

Hasil respon guru sebesar 3,16 masuk dalam kategori baik, dan hasil respon siswa sebesar 3,47 masuk dalam kategori sangat baik.

(55)

53 B. Saran

Penelitian ini dapat dikembangkan lebih lanjut, maka peneliti menyarankan hal-hal sebagai berikut:

1. LKS yang dikembangkan telah tervalidasi dengan baik, sehingga dapat digunakan dalam proses pembelajaran pada materi fluida statis. Sehingga keterampilan berpikir kreatif siswa dapat terus dilatih selama proses pembelajaran.

2. Penelitian selanjutnya disarankan untuk mengembangkan pada materi yang lain, sehingga dapat diketahui peningkatan keterampilan berpikir kreatif siswa tiap indikatornya.

(56)

54

DAFTAR PUSTAKA

Abdurrahman, Liliasari, Rusli, A., & Waldrip, B. 2011. Implementasi

Pembelajaran Berbasis Multi Representasi Untuk Peningkatan Penguasaan Konsep Fisika Kuantum. Cakrawala Pendidikan, 1(1).

Alghafri, A. S. R., & Ismail, H. N. B. 2014. The Effects of Integrating Creative and Critical Thinking on Schools Students' Thinking. International Journal of Social Science and Humanity, 4(6), 518.

Amalia, Y. D. 2014. Pengaruh Penerapan Lks Berorientasi Pembelajaran Berbasis Masalah Terhadap Kompetensi Siswa Kelas X SMA Negeri 1 Gunung Talang. Pillar Of Physics Education, 4(2).

Arikunto, S. 2006. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

Asmuniv. 2015. Pendekatan Terpadu Pendidikan STEM Upaya Mempersiapkan Sumber Daya Manusia Indonesia Yang Memiliki Pengetahuan

Interdisipliner Dalam Menyosong Kebutuhan Bidang Karir Pekerjaan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Diakses dari

http://www.vedcmalang.com/pppptkboemlg/index.php/menuutama/listrik- electro/1507-asv9.

Bacanlı, H., Dombaycı, M. A., Demir, M., & Tarhan, S. 2011. Quadruple thinking: Creative thinking. Procedia-Social and Behavioral Sciences, 12, 536-544.

Bayindir, N., & Inan, H. Z. 2008. Theory into practice: Examination of teacher practices in supporting children's creativity and creative thinking. Ozean Journal of Social Science, 1(1).

Becker, K., & Park, K. 2011. Effects of integrative approaches among science, technology, engineering, and mathematics (STEM) subjects on students' learning: A preliminary meta-analysis. Journal of STEM Education:

Innovations and Research, 12(5/6), 23.

(57)

55 Beers, S. 2011. 21st Century Skills : Preparing Students For Their Future. Diakses

dari http://www.yinghuaacademy.org/wp-content/uploads/2014/10/

21st_century_skills.pdf

Breiner, J. M., Harkness, S. S., Johnson, C. C., & Koehler, C. M. 2012. What is STEM? A discussion about conceptions of STEM in education and partnerships. School Science and Mathematics, 112(1), 3-11.

BSNP. 2007. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 2007 Tentang Standar Proses untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta: Kementerian Pendidikan Nasional Badan Penelitian dan Pengembangan Pendidikan.

Chodijah, S., Fauzi, A., & Wulan, R. 2012. Pengembangan Perangkat

Pembelajaran Fisika Menggunakan Model Guided Inquiry yang Dilengkapi Penilaian Portofolio pada Materi Gerak Melingkar. Jurnal Penelitian Pembelajaran Fisika, 1(1).

Chua, Y. P. 2010. Building a test to assess creative and critical thinking simultaneously. Procedia Social and Behavioral Sciences 2. 551–559.

Depdiknas. 2006. Standar Isi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Jakarta:

Departemen Pendidikan Nasional.

________. 2006. Panduan pengembangan pembelajaran IPA terpadu, SMP/MTS.

Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.

________. 2008. Panduan Pengembangan Bahan Ajar. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.

Dugger, W. E. 2010. Evolution of STEM in the United States. In 6th Biennial international conference on technology education research, Gold Coast, Queensland, Australia.

Gall, M. D., Gall, J. P.,& Borg, W. R. (Eds.). 2003. Educational research: An introduction (7th ed.). New York: Pearson Education Inc.

Handayani, F. 2013. Pengembangan Lembar Kerja Siswa (LKS) Berbasis Science, Tecnology, Engineering, and Mathematics (STEM) Pada Materi Hidrolisis Garam. Electronic Thesis And Dissertation Unsyiah. Banda Aceh :

Universitas Syiah Kuala.

IEA. 2012. TIMSS and PIRLS 2011Achievement. Diakses dari

http://timssandpirls.bc.edu/data-release-2011/pdf/Overview-TIMSS-and- PIRLS-2011-Achievement.pdf.

(58)

56 Kaymakci, S. 2012. A Review of Studies on Worksheets in Turkey. US-China

Education Review A 1. 57-64.

Kuenzi, J. J. 2008. Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) Education: Background, federal policy, and legislative action.

Congressional Research Service Report for Congress.

Marzano, R. J. 1988. Dimensions of thinking: A framework for curriculum and instruction. The Association for Supervision and Curriculum Development, 125 N. West St., Alexandria, VA 22314-2798.

Mayasari, T., Kadarohman, A., & Rusdiana, D. 2014. Pengaruh Pembelajaran Terintegrasi Science, Technology, Engineering, And Mathematics (STEM) Pada Hasil Belajar Peserta Didik: Studi Meta Analisis. Prosiding Semnas Pensa VI ”Peran Literasi Sains”. 371-377.

Meltzer, D. E. 2002. The Relationship Between Mathematics Preparation And Conceptual Learning Gains In Physic: A Possible Hidden Variable In Diagnostic Pre-Test Score. Journal of am J Phys, 70 (12), 1260.

Munandar, Utami. 2001. Mengembangakan Bakat dan Kreatifitas Anak Sekolah.

Jakarta: PT. Gramedia Widiasarana.

. 2009. Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat. Jakarta:

PT.Rineka Cipta.

National Science Teacher Association. 2011. Quality Science Education and 21st- Century Skills. Diakses dari

http://www.nsta.org/about/positions/21stcentury.aspx

OECD. 2014. PISA 2012 Results in Focus: What 15-year-olds know and what they can do with what they know. Diakses dari

http://www.oecd.org/pisa/keyfindings/pisa-2012-results-overview.pdf. Ozmen, H & Yildirim, N. 2005. Effect Of Work Sheets on students success:

Acids and Bases Sample. Journal of Turkish Science Education 2 (2). 10- 11.

Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006 Tentang Standar Isi Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta: Kemendikbud.

Putri, D. 2015. Pengembangan Lembar Kerja Siswa Berbasis Mind Mapping Pada Materi Laju Reaksi Untuk Melatihkan Keterampilan Berfikir Kreatif Siswa Kelas XI SMA (Development Of Students Worksheet Based On Mind Mapping Inreaction Rates Material To Practice Students Creative Thinking Skills For Senior High School Grade XI). Jurnal Mahasiswa Teknologi Pendidikan, 4(2).

Referensi

Dokumen terkait

9 Upaya-upaya ini disebut Obama sebagai common-sense steps atau langkah-langkah yang masuk akal karena selama ini upaya untuk mengurangi kekerasan bersenjata api telah

Seandainya diketahui bahwa skripsi ini ternyata merupakan hasil karya orang lain, maka saya sadar dan menerima konsekuensi bahwa skripsi ini tidak dapat saya

masalah dalam kehidupanya, memahami hubungan interaksi antara sains, teknologi, dan masyarakat.17 PISA menyatakan bahwa yang dimaksud dengan literasi sains yaitu kemampuan

Penelitian ini tidak sesuai dengan penelitian yang dilakukan Suryadi (2013) dan Himam (2015) menyatakan bahwa peran perawat dalam discharge planning pada

Selain adanya variasi berat jenis pada kelapa sawit ( E. guineesis Jacq) disebabkan oleh struktur anatomi kayunya, dimana bagian tengah dari pangkal ke ujung didominasi oleh

Dinas Tata Ruang &amp; Cipta Karya, DPKAD, Bagian perekonomian, UMKM Indag, Disbudpar, Kewilayahan Perbaikan Saluran Drainase Dinas Bina Marga &amp;.

4.. SKRIPSI\LAPORAN SKRIPSI\LAMPIRAN\PRETEST.ANA Nomor Nomor No.. SKRIPSI\LAPORAN SKRIPSI\LAMPIRAN\PRETEST.ANA No.Urut No.. SKRIPSI\LAPORAN SKRIPSI\LAMPIRAN\POSTEST 1.ANA

1) Untuk menyelenggarakan media massa cetak di Indonesia, perusahaan harus bersifat badan hukum, jika berupa Perusahaan Terbatas dengan akta dari Departemen Kehakiman (Depkeh),