• Tidak ada hasil yang ditemukan

Gambar 2.1 Peta Proses Operasi Sumber : (Wignjosoebroto, 2000)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Gambar 2.1 Peta Proses Operasi Sumber : (Wignjosoebroto, 2000)"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

2. DASAR TEORI

2.1 Peta Proses Operasi

Peta proses operasi merupakan alat yang di gunakan untuk menggambarkan berupa kegiatan kerja suatu proses secara sistematis, jelas dan terdapat waktu yang optimal yang dapat ditentukan melalui penentuan waktu baku pada proses tersebut.

Semua langkah-langkah proses dalam peta proses operasi berupa gambaran alur produksi dari awal hingga akhir. Jenis peta kerja terdapat 2 jenis yaitu peta kerja untuk analisis kegiatan kerja keseluruhan dan peta kerja untuk analisis kegiatan kerja setempat. Peta proses operasi termasuk jenis peta kerja analisis kegiatan kerja keseluruhan. Peta proses operasi juga dapat menggambarkan tahap pemeriksaaan, operasi, transportasi, waktu, dan juga penyimpanan. Simbol-simbol pada peta proses operasi dapat dilihat pada Gambar 2.1 sebagai berikut.

Gambar 2.1 Peta Proses Operasi Sumber : (Wignjosoebroto, 2000)

Gambar 2.1 merupakan simbol-simbol yang digunakan dalam pembuatan peta proses operasi. Simbol tersebut bertujuan agar dapat menggambarkan suatu kegiatan kerja pada proses yang ditetapkan. Hasil pembuatan peta proses operasi dapat dilakukan analisis pada proses yang dilalui. Hasil analisa suatu peta proses operasi memiliki tujuan untuk melakukan perbaikan agar suatu proses kegiatan kerja dapat optimal dengan hasil output yang sesuai dan waktu baku.

(2)

2.2 Pengukuran Waktu Kerja

Pengukuran waktu kerja adalah suatu aktivitas yang melakukan penentuan waktu yang dibutuhkan pekerja operator dalam melakukan kegiatan kerja dengan kondisi normal. Pengukuran kerja bertujuan untuk menentukan waktu rata-rata yang dibutuhkan pekerja operator menyelesaikan kegiatan kerja. Hasil waktu tersebut digunakan untuk waktu standar melakukan kegiatan kerja. Teknik-teknik pengukuran waktu kerja dapat dikelompokkan menjadi 2 yaitu (Wignjosoebroto, 2008) :

 Pengukuran kerja secara langsung

Pengukuran yang dilakukan secara secara langsung pada tempat yang sudah ditentukan untuk diukur. Pengukuran kerja secara langsung terdapat 2 cara yaitu menggunakan jam henti(stopwatch time study) dan sampling kerja (work sampling).

 Pengukuran kerja secara tidak langsung

Pengukuran yang dilakukan secara tidak langsung dengan cara membagi setiap elemen-elemen kerja yang dilakukan oleh pekerja untuk kemudian dicocokkan waktu berdasarkan tabel waktu.

Pengukuran waktu kerja dilakukan untuk menganalisa hasil data waktu-waktu yang diambil untuk menjadikan waktu standar yang digunakan untuk mencapai proses kerja yang optimal. Pemilihan pengukuran waktu kerja harus disesuaikadengan kondisi observasi. Pemilihan metode yang kurang tepat menyebabkan kehilangan waktu, maka diperlukan pengukuran waktu ulang dengan metode yang lebih tepat (Wignjosoebroto, 2008).

2.3 Metode Jam Henti (Stopwatch Time Study)

Metode jam henti (Stopwatch Time Study) adalah suatu metode yang digunakan untuk dalam pengukuran waktu kerja yang singkat dan berulang. Hasil pengukuran waktu kerja tersebut digunakan untuk waktu standar yang dapat digunakan untuk menyelesaikan pekerjaan. Waktu standar kerja diperoleh dari hasil perhitungan waktu baku dari alur produksi dari awal bahan baku hingga akhir produksi jadi.

(3)

Terdapat beberapa aturan pengukuran waktu jam henti yang dilakukan untuk mencapai hasil yang optimal. Berikut merupakan aturan-aturan yang digunakan (Sutalaksana, 2006):

 Melakukan langkah-langkah sebelum pengukuran

 Melakukan pengukuran waktu.

 Tingkat ketelitian

 Tingkat keyakinan,

 Pengujian data normal

 Pengujian keseragaman data

 Pengujiankecukupan data.

 Melakukan perhitungan waktu baku.

2.3.1 Melakukan Langkah-langkah Sebelum Pengukuran

Untuk mencapai hasil optimal dibutuhkan hasil pengukuran yang sesuai kondisi observasi. Banyak faktor yang dibutuhkan untuk memperoleh waktu standar yang sesuai dengan operator ketika melakukan pekerjaan, berikut merupakan langkah- langkah yang diperlukan (Sutalaksana, 2006):

 Penetapan tujuan pengukuran

 Melakukan penelitian pendahuluan

 Memilih operator

 Melatih operator

 Menguraikan pekerjaan atas elemen pekerjaan

 Menyiapkan perlengkapan pengukuran

2.3.2 Melakukan Pengukuran Waktu

Kegiatan pekerjaan dengan mengamati dan mencatat waktu-waktu kerja setiap elemen dengan menggunakan alat-alat yang sudah disiapkan. Pengumpulan data waktu-waktu kerja dilakukan dengan metode jam henti. Tahap ini bertujuan untuk

(4)

mendapatkan waktu kerja dari banyaknya pengukuran yang dilakukan untuk tingkat- tingkat ketelian dan keyakinan yang ditetapkan (Sutalaksana, 2006).

2.3.3 Tingkat Ketelitian dan Tingkat Keyakinan

Tingkat ketelitan dan tingkat keyakinan merupakan tingkat kepastian yang diinginkan oleh pengukur setelah mendapatkan hasil data waktu pengukuran tersebut.

Tingkat ketelitian merupakan penyimpangan maksimum hasil pengukuran waktu penyelesain sebenarnya. Tingkat ketelitian dinyatakan dalam persentase sedangkan tingkat keyakinan dinyatakan berupa besarnya keyakinan pengukur dari hasil yang diperoleh selama pengamatan memenuhi tingkat keyakinan (Dengan tingkat ketelitian 5% dan tingkat keyakinan 95% artinya adalah bahwa pengukur mengunakan rata-rata waktu pengamatan menyimpang sejauh 5% dan kemungkinan berhasil adalah 95%

(Sutalaksana, 2006).

2.3.4 Pengujian Normalitas Data

Pengujian normalitas data adalah pengujian yang dilakukan untuk mengetahui persebaran nilai pada suatu kelompok data atau variabel tersebut berdistribusi normal atau tidak.Pengujian normalitas data bertujuan untuk dapat menentukan data yang dikumpulkan berdistribusi normal dari populasi normal.Data yang telah di kumpulkan dengan berdistribusi normal memiliki p-value > 0.05 (Sutalaksana, 2006).

2.3.5 Pengujian Keseragaman Data

Pengujian keseragaman data bertujuan untuk mendapatkan hasil pola data yang seragam. Alat yang digunakan untuk mendapatkan hasil pola data tersebut adalah batas-batas kontrol. Data yang dikatakan seragam yaitu pola data berada diantara batas kontrol atas dan bawah. Batas kontrol atas (BKA) dan batas kontrol bawah(BKB) dapat dihitung dengan persamaan (2.1) dan persamaan (2.2) (Sutalaksana, 2006):

BKA=x̄ + zt . σ (2.1)

BKB= x̄ - zt . σ (2.2)

(5)

Dimana:

x̄= ∑ 𝑋𝑖𝑁 (2.3)

σ= 𝛔

√𝑛 (2.4)

σ=√∑(𝑋𝑖−x̄)𝑵−𝟏 2 (2.5)

Keterangan:

Zt = nilai Z dari x̄ = rata-rata dari nilai

N = jumlah pengukuran saat pengamatan xi = data ke-i

σ = standar deviasi

σ=standar deviasi subgrup n = banyaknya subgrup

2.3.6 Pengujian Kecukupan Data

Pengujian kecukupan data adalah untuk mengetahui data yang dikumpulkan dengan jumlah yang ditentukan oleh pengukur sudah cukup dalam pengukuran waktu proses. Pengambilan waktu berdasarkan pengamatan jika dilakukan perhitungan jumlah pengambilan masih belum cukup maka perlu dilakukan pengambilan data waktu lagi. Uji kecukupan data dengan perhitungan sebagai berikut (Sutalaksana, 2006):

𝑁 = (σ . dt𝑘 . x̄)2 (2.6)

Keterangan:

σ = standar deviasi dt= distribusi t

k= nilai derajat ketelitian x̄ = rata-rata dari nilai

(6)

2.3.7 Perhitungan Waktu Baku

Waktu baku adalah waktu yang dibutuhkan oleh pekerja untuk menyelesaikan suatu aktivitas pekerjaan dengan mempertimbangkan nilai allowance. Aktivitas pekerjaan dilakukan dengan kondisi normal sehingga dapat menghasilkan waktu standar secara umum. Waktu baku membutuhkan 2 waktu yaitu waktu siklus dan waktu normal, dimana waktu siklus berupa waktu siklus rata-rata pengamatan dan waktu normal adalah waktu kerja yang mempertimbangkan performe rating dari pekerja operator. Untuk mendapatkan perhitungan waktu baku membutuhkan cara sebagai berikut(Sutalaksana, 2006):

 Waktu siklus

Waktu siklus adalah waktu untuk menyelesaikan suatu proses dari awal hingga akhir proses. Waktu siklus merupakan waktu nilai rata-rata dari waktu proses yang diambil pada saat pengamatan secara langsung. Berikut merupakan perhitungan rumus waktu siklus:

𝑊𝑠 = ∑ 𝑥𝑖𝑁 (2.7) Keterangan:

∑ 𝑥𝑖= jumlah waktu pengamatan N= jumlah pengamatan

 Waktu normal

Waktu normal adalah waktu yang diperlukan operator untuk menyelesaikan sebuah pekerjaan. Waktu normal didapatkan berdasarkan perhitungan waktu siklus dengan nilai performa dari operator pada saat melakukan pekerjaan. Penentuan nilai performa operator berdasarkan tabel penilaian pada Tabel 2.1. Berikut perhitungan waktu normal dapat dilihat pada persamaan 2.8

𝑊𝑛 = 𝑊𝑠 . 𝑃 (2.8) Ws= waktu siklus

P= performance rating

(7)

 Waktu baku

Waktu baku adalah waktu yang dibutuhkan oleh operator untuk menyelesaikan pekerjaan dengan kondisi normal. Perhitungan waktu baku membutuhkan nilai allowance dan waktu normal. Penentuan nilai allowance berdasarkan tabel standart pada Tabel 2.2. Berikut rumus perhitungan dalam menentukan waktu baku:

𝑊𝑏 = 𝑊𝑛 .100%−𝐴(%)100% (2.9) Wn= Waktu normal

A= Allowance (%)

2.4 Performance rating

Perfomance rating merupakan sebuah aktivitas penilaian kecepatan pekerja dalam melakukan aktivitas bekerja. Penilaian tersebut dalam bentuk persentase (%) diantara 0-100. Penilaian tersebut berdasarkan kategori-kategori yang ada sehingga dapat di kelompokan kriteria pekerja yang diamati. Hasil penilaian perfromace rating dapat digunakan untuk perhitungan waktu normal berdasarkan waktu siklus dan performance rating. Berikut merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi performance rating:

(8)

Tabel 2.1 Perfomance Rating Sumber:(Sutalaksana, 2006)

 Keterampilan (Skill)

Keterampilan adalah kemampuan yang dimiliki oleh operator dalam melakukan aktivitas kerja disetiap operasi. Keterampilan juga dapat mengalami penurunan yang disebabka ketika operator tidak dapat menangani pekerjaan tersebut atau karena kondisi kesehatan yang menganggu operator, rasa fatique yang berlebihan, dan pengaruh lingkungan kerja.

 Usaha (Effort)

Usaha adalah tenaga yang perlu dikeluarkan oleh operator untuk menyelesaikan pekerjaannya setiap operasi. Usaha terbagi atas dengan beberapa aspek antara lain excellent, good, average,fair dan poor.

 Kondisi Kerja

Kondisi kerja adalah suatu faktor kondisi lingkungan fisik dengan pencahayaan, suhu, dan kebisingan. Kondisi terbagi atas dengan beberapa aspek antara lain excellent, good, average,fair dan poor.

Skill Effort Conditions Consistency Super Excessive Ideal Super A1= + 0.15 A1= + 0.13

A2= + 0.13 A2= + 0.12

Excellent Excellent Excellent Excellent B1= + 0.11 B1= + 0.10

B2= + 0.08 B2= + 0.08

Good Good Good Good

C1= + 0.06 C1= + 0.05 C2= + 0.03 C2= + 0.02

Average Average Average Average

D=0.00 D=0.00 D=0.00 D=0.00

Fair Fair Fair Fair

A1= - 0.05 A1= - 0.04 A2= - 0.10 A2= - 0.08

Poor Poor Poor Poor

A1= - 0.16 A1= - 0.12

A2= - 0.22 A2= - 0.17 F= - 0.07 F= - 0.04 B= + 0.03 B= + 0.04

C= 0.00 C= 0.00

E= - 0.02 E= - 0.03

A= + 0.06 A= + 0.04

(9)

 Konsistensi

Konsistensi merupakan tingkat kestabilan operator ketika melakukan aktivitas kerja.

Tingkat kestabilan ini dapat diperhatikan dengan waktu penyelesaian pekerjaan yang dihasilkan oleh operator untuk menyelesaikan aktivitas kerja.

2.5 Allowance (%)

Allowance adalah kelonggaran yang diberikan pekerja ketika melakukan sebuah pekerjaan. Kelonggaran yang diberikan berupa kebutuhan pribadi atau kebutuhan yang dibutuhkan pekerja ketika melakukan pekerjaan. Hasil nilai allowance dapat dilakukan perhitungan waktu baku berdasarkan waktu normal dan nilai allowance. Tabel allowance dapat dilihat pada gambar dibawa ini.

(10)

Gambar 2.2 Allowance Sumber : (Sutalaksana, 2006)

2.6 Perencanaan Produksi

Perencanaan produksi adalah suatu sistem perencanaan produksi yang berisi dalam bentuk agregat bertujuan untuk merancang jadwal induk produksi. Jadwal induk produksi menjalankan operasi manufactur untuk menghasilkan produk dalam jumlah dan jenis yang sudah ditentukan. Penetapan jumlah dan jenis produk dalam perencanaan produksi berdasarkan lead time setiap komponen terkait (Ginting, 2007).

Pria Wanita

0.0-5.0 0.0-6.0 6.0-7.5 6.0-7.5 7.5-12 7.5-16.0 12.0-19.0 16.0-20.0 19.0-30.0

30.0-50.0

>50.0

0.0-6.0 0.0-6.0 6.0-7.5 6.0-7.5 3. pandangan yang menerus dengan fokus berubah-ubah 7.5-12.0 7.5-16.0 4. pandangan yang terus menerus dengan fokus tetap 19.0-30.0 16.0-30.0

Di bawah 0 Di atas 12

0.0-13 12.0-5.0

13-22 8.0-0

22-28 0.0-8.0

28-38 8.0-100

Diatas 38 diatas 100

1. Baik (Ruang ventilasi baik, udara segar ) 2. Cukup Baik(Ventilasi kurang bai, ada bau-bau an)

0.0 0.0-5.0 F. Keadaan atmosfer

Temperature Kelemahan normal Berlebihan

Baik Buruk

5.0-40 Diatas 40 1. Beku

2. Rendah 3. Sedang 4. Normal 5. Tinggi 6. Sangat tinggi

Di atas 10 10-0

5-0 0-5 Kelonggaran(%)

>20.0 6. Sangat Berat

7. Luar biasa Berat A. Tenaga yang dikeluarkan

B. Sikap kerja 1. Duduk 1. Dapat diabaikan

2. Sangat ringan 3. Ringan 4. Sedang 5. Berat

3. Berdiri diatas satu kaki 4. Berbaring 5. Membungkuk

0.0-1.0 1.0-2.5 2.5-4.0 2.5-4.0 2. Berdiri diatas kaki

5.0-10.0 10.0-15.0

4.0-10.0 C. Gerakan kerja

1. Normal 2. Agak terbatas

3. Sulit

0 0.0-5.0 0.0-5.0

E. Keadaan temperature tempat kerja D. Kelalahan mata 1. pandangan yang terputus-putus 2. pandangan yan ghampir terus-menerus

4. Pada Anggota badan terbatas 5. Seluruh anggota badan terbatas

(11)

2.7 Kapasitas Produksi

Kapasitas produksi adalah suatu parameter pengukuran yang dapat menghasilkan produk yang dipengaruhi dengan penggunaan mesin, jumlah tenaga kerja, dan jumlah jam kerja. Hasil pengukuran tersebut menghasilkan output berupa hasil produksi maksimal pada suatu sistem diperiode tertentu. Kapasitas produksi dinyatakan dalam jumlah produk per satuan waktu. Perhitungan kapasitas produksi menggunakan rumus (Barry & Heizer, 2005)

K= 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑗𝑎𝑚 𝑒𝑓𝑒𝑘𝑡𝑖𝑓

𝑊𝑎𝑘𝑡𝑢 𝑏𝑎𝑘𝑢 𝑡𝑒𝑟𝑙𝑎𝑚𝑎 (3.0)

2.8 Bill of Material

Bill of Material adalah suatu bagan yang menggambarkan tentang komponen- komponen terkait dalam pembuatan satu unit produk. Perancangan Billof Material juga memiliki hubungan antara komponen satu dengan komponen penyusunnya. BOM memiliki 2 model yaitu single level dan multi level, dimana single level tidak terdapat proses perakitan suatu produk di dalamnya sedangkan BOM dengan model multi level digunakan untuk produk yang dirakit. BOM juga didefinisikan sebagai cara komponen- komponen itu bergabung ke dalam suatu produk selama proses produksi. Berdasarkan penjelasan BOM juga dapat digunakan sebagai suatu standar susunan komponen produk untuk dapat digunakan dalam perhitungan biaya dalam perakitan produk akhir (Gasperz, 2001)

2.9 Master Production Schedule

Master Production Schedule (MPS) merupakan rencana produksi dalam suatu periode untuk menghasilkan produksi jadi. MPS bertujuan untuk mengatur perencanaan produksi dan monitoring hasil produksi. MPS membutuhkan lima input utama yaitu (Chapman, 2006) :

(12)

 Data Permintaan

Data permintaan berisikan data jumlah produk yang diinginkan dan mampu dibeli oleh konsumen. Data ini berkaitan dengan hasil peramalan yang dilakukan oleh perusahaan untuk dapat memperkirakan jumlah permintaan konsumen. Data permintaan digunakan untuk sumber data bagi penjadwalan produksi.

 Status Inventori

Status inventori memiliki beberapa hal yang terkait dengan status yaitu, on hand inventory (jumlah inventori yang tersedia dalam stok), released dan purchase orders (pesanan produksi dan pembelian produk yang dilakukan), dan allocated stok(stok yang digunakan untuk kebutuhan dalam periode tertentu).

 Rencana Produksi

Rencana produksi digunakan untuk perencanaan jumlah produksi agar dapat memenuhi permintaan konsumen pada periode yang sudah ditetapkan. Pembuatan jadwal produksi melakukan perhitungan penentuan tingkat produksi, inventori dan sumber daya yang digunakan.

 Data Perencanaan

Data perencannan memiliki keterkaitan dengan lot sizing yang digunakan dari setiap masing-masing komponen.

 Informasi mengenai Rough Cut Capacity Planning

Informasi mengenai Rough Cut Capacity Planning berisikan kebutuhan kapasitas produk jadi yang digunakan untuk penerapan Master Production Scheduling.

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa proses pembelajaran menulis puisi menggunakan teknik peta pasang kata dengan media gambar telah dilaksanakan dengan baik

Guru telah melakukan upaya perbaikan proses pembelajaran dengan memotivasi siswa dan menggunakan metode demonstrasi, tetapi belum memberikan hasil yang optimal karena

Berikut ini adalah langkah-langkah untuk dapat melakukan proses pelayanan publik yaitu dengan mengisikan field-field sesuai keterangan dibawah ini :.

Pelaksanaan prosedur pencegahan infeksi yang sesuai standar akan mempercepat proses penyembuhan luka pada pasien post operasi, dengan melakukan tindakan perawatan

Berdasarkan hasil pengamatan, maka dilakukan pembuatan Peta Proses Operasi guna mengetahui secara detail urutan proses diikuti dengan data waktu siklus rata-rata

Menanggapi proses bagaimana model untuk meningkatkan meningkatkan proses pembelian barang secara optimum sesuai dengan hasil analisa regresi linier berganda

Peristiwa yang berhubungan dengan operasi pesawat terbang yang terjadi pada waktu diantara pesawat tinggal landas, melakukan penerbangan hingga mendarat kembali, dan seseorang

Peta Proses Operasi Servis Motor Simpulan Berdasarkan hasil pembahasan yang telah dilakukan, maka dapat ditarik kesimpulan dari pengukuran yang dilakukan terhadap mekanik didapatkan