• Tidak ada hasil yang ditemukan

ACHMAD FAIZAL RIWANTO FDK

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "ACHMAD FAIZAL RIWANTO FDK"

Copied!
134
0
0

Teks penuh

(1)

AKTIVITAS DAKWAH H. SANUSI DENGAN KOMUNIKASI PERSUASIF DI PERGURUAN PENCAK SILAT PUSAKA DJAKARTA

Skripsi

Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh

Gelar Sarjana Sosial (S.Sos)

Disusun Oleh: Achmad Faizal Riwanto

NIM: 1112051000155

JURUSAN KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM FAKULTAS ILMU DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

(2)
(3)
(4)
(5)

i ABSTRAK Achmad Faizal Riwanto

Komunikasi Persuasif Dalam Aktivitas Dakwah di Perguruan Pencak Silat Pusaka Djakarta

Dakwah dapat menggunakan media apa saja tanpa terkecuali seni beladiri pencak silat. Pada perakteknya seni beladiri pencak silat mengandung nilai-nilai luhur yang merujuk pada ajaran Islam. Perguruan pencak silat Pusaka Djakarta merupakan perguruan silat beraliran gerak cepat yang berasal dari Betawi. Perguruan ini selalu menerapkan nilai-nilai dakwah islam dalam setiap gerakan, visi, misi, dan sebagai pedoman perguruan silat tersebut. Cara paling tepat dalam penyampaian materi dakwah agar terlihat menarik adalah dengan menggunakan komunikasi persuasif, karena ia merupakan sarana dalam penyampaian pesan yang dilakukan dengan suatu ajakan atau seruan tanpa merasa dipaksa. Metode komunikasi persuasif inilah yang digunakan H. Sanusi (babe Uci) dalam aktivitas dakwahnya di Perguruan pencak silat Pusaka Djakarta.

Hasil Penelitian ini menampilkan aktivitas-aktivitas dakwah yang ada di Perguruan Pencak Silat Pusaka Djakarta (PSPD). Dalam dakwahnya Perguruan Silat ini menggunakan metode dakwah bil lisan dan bil hal. Dari hasil pengamatan peneliti, babe Uci selain sebagai pendiri PSPD juga sering memberikan pesan dakwah secara persuasif kepada muridnya. Hal inilah yang membedakan Perguruan Silat Pusaka Djakarta dengan Perguruan Silat lainnya.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan masuk kedalam jenis penelitian deskriptif. Dimana penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran mengenai suatu fenomena secara detil.

Teori yang digunakan dalam penelitian kali ini adalah teori komunikasi persuasif dari Jalaludin Rahmat, yaitu Komunikasi Persuasif didefinisikan sebagai proses mempengaruhi dan mengendalikan pendapat, perilaku, dan tindakan orang lain melalui pendekatan manipulasi psikologis sehingga orang tersebut bertindak seperti atas kehendaknya sendiri. Proses itu sendiri adalah setiap gejala atau fenomena yang menunjukan suatu perubahan yang terus menerus dalam konteks waktu, setiap pelaksanaa atau perlakuan secara terus-menerus.

Adapun pertanyaan dalam penelitian ini yaitu, aktivitas dakwah apa saja yang terdapat di Perguruan Pencak Silat Pusaka Djakarta?,bagaimana bentuk komunikasi persuasif H. Sanusi dalam aktivitas dakwah di perguruan pencak silat Pusaka Djakarta?, apa faktor pendukung dan penghambat aktivitas dakwah H. Sanusi dengan komunikasi persuasif di Perguruan Pencak Silat Pusaka Djakarta?

(6)

ii

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, puji dan syukur marilah kita panjatkan kehadirat Allah SWT, yang selalu mencurahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga pada akhirnya

penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Aktivitas Dakwah H. Sanusi

dengan Komunikasi Persuasif di Perguruan Pencak Silat Pusaka Djakarta”.

Shalawat serta salam semoga selalu tercurah bagi junjungan besar nabi Muhammad

SAW, yang telah membawa umat manusia kepada jalan kebenaran.

Adapun skripsi ini merupakan tugas akhir yang disusun guna memenuhi

salah satu persyaratan yang telah ditentukan dalam menempuh program studi Strata

Satu (S1) Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam, Fakultas Ilmu Dakwah dan

Ilmu Komunikasi, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Dalam hal

ini, penulis tentu menyadari bahwa skripsi ini tidak akan mampu terselesaikan tanpa

bantuan dari pihak lain yang telah memberikan bimbingan, nasihat, serta motivasi

baik secara moral maupun material. Oleh karenanya, penulis hendak

menyampaikan ucapan terima kasih kepada:

1. Dr. H. Arief Subhan, M.A, Dekan Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu

Komunikasi.

2. Drs. Masran, M.A, Ketua Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam.

3. Fita Fathurokhmah SS, M.Si, Sekertaris Jurusan Komunikasi dan

(7)

iii

4. Artiarini Puspita Arwan, M.Psi, Dosen pembimbing yang telah

meluangkan waktunya guna memberikan bimbingan, arahan serta

inspirasi yang amat berharga bagi penulis.

5. Seluruh Dosen Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi yang telah

memberikan berbagai pengarahan, pengalaman, serta bimbingan kepada

penulis selama dalam masa perkuliahan.

6. Segenap Pimpinan serta Karyawan Perpustakaan Utama dan

Perpustakaan Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi yang telah

melayani penulis dalam menggunakan buku-buku serta literatur yang

penulis butuhkan selama penyusunan skripsi ini.

7. Kedua orangtua tercinta, Suyanto dan Hj. Badriah, yang selalu menjadi

inspirasi serta memberikan dukungan baik secara moral maupun

material kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

8. Adik saya Mochammad Raihan Budiman yang selalu memberikan

dukungan serta motivasi kepada penulis.

9. Tante saya Lia Hilalia yang sudah saya anggap seperti ibu sendiri.

Beliau juga yang selalu mengingatkan saya untuk segera menyelesaikan

skripsi dan cepat lulus.

10.H. Sanusi, Guru Besar di Perguruan Silat Pusaka Djakarta, narasumber

yang sudah mau memberikan banyak pencerahan kepada penulis untuk

menyelesaikan skripsi ini.

11.Para sahabat Coeg Brotherhood, Soniatul Fallah, Mulla Sadra, Zulfikar

(8)

iv

Sastrawijaya yang dengan candaan dan bantuan mereka bisa

menenangkan pikiran dan hati penulis dikala sulit mengerjakan skripsi

ini.

12.Ahmad Sauqi dan Muhammad Soleh yang selalu siap membantu

kapanpun dan di manapun, sehingga skripsi ini bisa selesai.

13.Para Dewan pelatih di Perguruan Pencak Silat Pusaka Djakarta yang

sudah banyak memberikan masukan maupun kritiknya agar skripsi ini

bisa dipakai sebagaimana mestinya.

14.Ridho Falah Adli, Arif Faturrahman, Taufik Abdullah, Muhammad

Aidillah Putra, Dityan Zahra Pranisa, dan Annisah Bilqis sahabat

perkuliahan super, yang selalu memberikan motivasi serta suka duka

selama 4 tahun masa kuliah.

15.Para pemain futsal anti kejuaraan, Akbar Ramadhan, Giovanni, Ahmad

Fikri, Arif Syahrizal, Fahmi Syamsi, Ridho Andriansyah, Ferdy Rizki,

Rahmat Agung, Trisaka Octarian, Indra Ramadhan, dan Asep

Hermawan tetaplah mencari keceriaan dalam setiap permainan.

16.Kawan senasib sejak semester awal, Milki Amirussaleh, Hilman

Zulfahmi, Hidayatul Munir, Nirma Sugiarti, dan Imas hayati Nufus yang

selalu berbagi kesulitan maupun kebahagiaan.

17.Para keluarga kecil KPI E angkatan 2012 terimakasih sudah mengisi

warna kehidupan penulis 4 tahun terakhir, tanpa kalian kuliah mungkin

(9)

v

18.Keluarga Besar KPI angkatan 2012 serta kakak-kakak senior dan

adik-adik junior yang sudah memberikan inspirasi kepada peneliti.

19.Keluarga besar KKN Share 2015 serta Keluarga Besar Desa Pasir

Gintung, semoga tali silaturahmi tetap tersambung di antara kita.

20.Keluarga besar Teras KPI, yang selalu menjadi tempat bagi penulis

dalam menyalurkan hobi sekaligus mengasah kempuan penulis.

21.Orang-orang yang telah memberikan dukungan dan membaca skripsi ini

yang mohon maaf belum dapat saya cantumkan namanya.

Penulis berharap semoga skripsi ini mampu memberikan manfaat bagi para

pembaca khususnya mahasiswa Program Studi Komunikasi Penyiaran Islam,

Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Demikianlah pengantar yang dapat penulis sampaikan, akhir kata penulis mohon

maaf jika terdapat kesalahan penulisan dalam skripsi ini.

Jakarta, Desember 2016

(10)

vi

DAFTAR ISI

ABSTRAK ...i

KATA PENGANTAR ...ii

DAFTAR ISI ...vi

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Fokus Penelitian ... 6

C. Rumusan Masalah ... 7

D. Tujuan dan Kegunaan Penelitian ... 7

1. Tujuan penelitian ... 7

2. Manfaat penelitian ... 8

E. Tinjauan Pustaka ... 8

F. Metodologi Penelitian ... 10

1. Metode Penelitian ... 10

2. Lokasi Penelitian ... 12

3. Sumber Data ... 12

4. Teknik Pengumpulan Data ... 13

5. Teknik Analisis Data ... 14

G. Sistematika Penulisan ... 16

BAB II LANDASAN TEORI A. Ilmu Komunikasi ... 17

1. Pengertian Komunikasi ... 17

2. Fungsi dan Tujuan Komunikasi ... 19

3. Jenis-Jenis Komunikasi ... 23

B. Komunikasi Persuasif ... 26

1. Pengertian Komunikasi Persuasif ... 26

2. Metode Komunikasi Persuasif ... 27

3. Unsur-unsur Komunikasi Persuasif ... 30

4. Strategi Komunikasi Persuasif ... 32

C. Aktivitas Dakwah ... 33

(11)

vii

2. Pengertian Dakwah ... 34

3. Unsur-unsur dakwah ... 36

c. Materi dakwah ... 38

d. Metode dakwah ... 39

D. Pencak Silat ... 40

1. Pengertian Pencak Silat ... 40

2. Manfaat pencak Silat ... 42

3. Silat sebagai dakwah dan mental spritual ... 43

BAB III GAMBARAN UMUM PERGURUAN PENCAK SILAT PUSAKA DJAKARTA A. Sejarah Pencak silat Betawi ... 45

B. Sejarah Perguruan Pencak Silat Pusaka Djakarta ... 47

C. Makna Logo Pusaka Djakarta ... 51

D. Visi dan Misi Perguruan Pencak Silat Pusaka Djakarta ... 51

E. Tujuan Perguruan Silat Pusaka Djakarta... 52

F. Profil Guru Besar dan Struktur Perguruan Pencak Silat Pusaka Djakarta . 54 BAB IV HASIL ANALISIS DATA A. Data Narasumber Penelitian ... 61

B. Aktivitas Dakwah di Perguruan Pencak Silat Pusaka Djakarta ... 62

a. Dakwah Bil Lisan (Menggunakan Perkataan) ... 64

b. Dakwah Bil Hal (Dakwah Menggunakan Kegiatan) ... 66

C. Aktivitas Dakwah H. Sanusi Dengan Komunikasi Persuasif di Perguruan Pencak Silat Pusaka Djakarta ... 70

D. Faktor Pendukung Dan Penghambat Komunikasi Persuasif Dalam Aktivitas Dakwah di Perguruan Pencak Silat Pusaka Djakarta ... 82

1. Faktor Pendukung ... 82

2. Faktor Penghambat ... 86

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ... 90

B. Saran ... 91

(12)

1 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Dakwah dapat menggunakan media apa saja tanpa terkecuali seni

beladiri pencak silat

.

Olahraga seni beladiri pencak silat adalah khasanah budaya dan budaya bangsa

.

Pencak silat mengandung banyak nilai-nilai luhur di dalamnya, di antaranya dengan banyak memasukan nilai-nilai Islam

dalam perjalanannya

.

Misalnya, selalu berwudhu dan berdoa sebelum melakukan latihan silat

.

Di dalam silat mereka menemukan nilai spiritual yang lebih

mendekatkan diri kepada Allah Swt, dapat pula melatih kepekaan indrawi,

mengolah kelebihan dan kelenturan anatomi tubuh dan mempelajari

sebanyak-banyaknya pertanda alam yang ada di sekeliling

.

Banyak hal postif yang didapat dari pencak silat, pembentukan

mental yang kuat dengan kepribadian yang baik menjadi tujuan utama

.

Pada dasarnya pencak silat merupakan sebuah seni, yang banyak mengajarkan

kepada kita tentang hidup yang seimbang dan sederhana

.

Ada beberapa kegiatan yang memiliki nilai spiritual dalam pencak silat, diantaranya:

pengajian seriap malam jum’at yang menjadi jadwal rutin setiap

(13)

Hal yang positif inilah yang membuat masyarakat umumnya dan

anak-anak usia dini khususnya merasa harus mendalami pencak silat

.

Selain untuk melindungi diri dari tindakan kejahatan, juga menjaga jiwa dari

perbuatan yang dilarang agama

.

Perguruan pencak silat Pusaka Djakarta merupakan perguruan

pencak silat beraliran gerak cepat yang berasal dari betawi, selalu

menerapkan nilai-nilai dakwah Islam dalam setiap gerakan, visi, misi, dan

sebagai pedoman dalam perguruan silat tersebut. Sesuai dengan motto

perguruan “belajar untuk ibadah, istiqomah untuk jaga amanah”, selain

untuk belajar ilmu bela diri, pencak silat Pusaka Djakarta juga selalu

mengajarkan ajaran-ajaran Islam dalam setiap latihannya, seperti berwudhu

dan salat sunnah dua rakaat serta berdoa sebelum memulai latihan rutin.

Menurut H. Sanusi (babe Uci), pendiri dan guru besar Pusaka

Djakarta, berwudhu, solat sunnah dua rakaat, serta berdoa sebelum latihan

silat bertujuan agar pesilat selalu ingat dalam batin dan pikiran mereka

bahwa berlatih silat bukan untuk menjadi jagoan dan mencari musuh.

Berlatih silat bertujuan untuk membela diri dan mendekatkan diri kepada

Allah Swt serta menjain silaturahmi antara pesilat lainnya. Hal tersebut

sudah H. Sanusi atau babe Uci terapkan semenjak beliau pertama kali

mendirikan perguruan Pencak Silat Pusaka Djakarta.

Perguruan pencak silat Pusaka Djakarta menggunakan beberapa

metode dalam aktivitas dakwahnya, diantaranya adalah dakwah bil lisan

(14)

beberapa kegiatan yang berhubungan dengan dakwah islam). Kedua metode

tersebut digunakan H. Sanusi atau babe Uci dalam menyampaikan

dakwahnya kepada murid-murid di perguruan pencak silat Pusaka Djakarta.

Penjelasan di atas sangat jelas bahwa penyampaian dakwah Islam

tak selalu harus lewat majelis atau pengajian tetapi juga bisa melalui pencak

silat. Karena sesungguhnya Islam telah memberi kemudahan bagi seluruh

pemeluknya yang ingin menyebarluaskan seluruh perintah dan larangan

Allah SWT khususnya, bagi para juru dakwah

.

Allah memberikan kebebasan dalam menyampaikan pesan dakwah dengan berbagai metode

dakwah, serta saluran yang dipergunakan dalam menyampaikan

pesan-pesan agama

.

Dalam Surat An-Nahl ayat 125, Allah berfirman:

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara

yang baik

.

Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat
(15)

Seiring perkembangan zaman, da’i-da’i harus semakin kreatif untuk

menyampaikan pesan dakwah di masyarakat

.

Kehadiran dakwah dalam kehidupan sehari-hari kini memiliki porsi yang besar, terlebih ketika media

elektronik mulai menayangkan beberapa acara yang bersifat dakwah, seperti

sinetron maupun pengajian yang tidak hanya ditayangkan ketika bulan

Ramadhan saja

.

Walaupun demikian, bukan berarti dakwah dengan menggunakan metode tradisional ditinggalkan

.

Justru dakwah dengan menggunakan metode tradisional memiliki porsi tersendiri di dalamnya

.

Metode tradisional dalam berdakwah di antaranya dengan mengadakan

pengajian dari rumah-kerumah maupun menggunakan media masjid atau

majelis sebagai tempat berdakwah

.

Para ulama terdahulu menggunakan metode dakwah dengan mendatangi tempat-tempat yang yang dapat

digunakan untuk berdakwah sehingga dapat langsung berhadapan dengan

mad’unya

.

Cara paling tepat dalam penyampaian materi dakwah agar terlihat

menarik adalah dengan menggunakan komunikasi persuasif, karena ia

merupakan sarana dalam penyampaian pesan dapat dilakukan dengan suatu

ajakan atau seruan tanpa merasa dipaksa. Karena sesunguhnya dakwah

bukanlah propaganda yang memaksakan kehendak orang lain. Dengan

demikian, kegiatan dakwah pada dasarnya sebagai suatu proses komunikasi

(16)

perubahan perilaku seseorang menjadi lebih baik dari sebelumnya, karena

dengan komunikasi seseorang dapat menyampaikan apa yang ada dalam

pikiran dan perasaannya kepada orang lain dan dapat memberikan hiburan,

memberikan inspirasi, meyakinkan atau mengajak untuk berbuat sesuatu.

Kegiatan komunikasi dapat diterima dengan baik dan mendatangkan

hasil yang diinginkan, baik secara verbal atau nonverbal pesan dirumuskan

dalam bentuk yang tepat, disesuaikan, dipertimbangkan berdasarkan

keadaan penerima, hubungan pengirim dan penerima dan dengan situasi

waktu komunikasi dilakukan.

Secara spesifik, kebersamaan dalam komunikasi mengandung sifat

persuasif, yang artinya bahwa komunikasi merupakan upaya mempengaruhi

orang lain dalam usaha mengubah perilaku seseorang yang hendak kita

inginkan, karena bujukan, rayuan merupakan ciri khas yang menandai pada

tingkatan paling mendasar.1

Situasi komunikasi yang harus dilakukan adalah upaya seseorang

untuk mengubah tingkah laku orang lain atau sekelompok orang lain

melalui penyampaian beberapa pesan. Komunikasi persuasif disini sangat

erat hubungannya dengan pengontrolan tingkah laku. Dengan kata lain

mengubah tingkah laku seseorang dengan cara memberi

penjelasan-penjelasan yang memungkinkan orang lain atau komunikan dapat

mengikutinya dengan sadar tanpa paksaan.

(17)

Komunikasi persuasif selain sebagai sarana penyampaian pesan, ia

pun merupakan sarana penyampaian materi dakwah agar selalu menarik,

aktual, dan mempunyai efek pesan terhadap komunikator maupun

komunikannya. Sehingga secara cara penyampaian dakwah melalui

komunikasi persuasif dapat dilakukan dimanapun tanpa terkecuali di

perguruan pencak silat. Sehingga komunikasi persuasif tersebut mempunyai

ciri khas tersendiri.

Berdasarkan uraian latar belakang dan uraian pokok pikiran diatas,

penulis tertarik untuk melakukan pengkajian dan penelitian secara

mendalam dan selanjutnya dijadikan sebagai pembahasan skripsi dengan

judul: “Aktivitas Dakwah H. Sanusi dengan Komunikasi Persuasif di Perguruan Pencak Silat Pusaka Djakarta”.

B. Fokus Penelitian

Dilihat dari latar belakang diatas, maka penelitian ini fokus pada

segala macam bentuk aktivitas dakwah H. Sanusi dengan komunikasi

persuasif di Perguruan Pencak Silat Pusaka Djakarta

.

Adapun sub fokusnya adalah metode dan cara penyampaian dakwah kepada para anggota yang
(18)

C. Rumusan Masalah

Perumusan masalah diambil dari latar belakang diatas maka dibuat

rumusan masalah sebagai berikut:

1. Aktivitas dakwah apa saja yang dilakukan H. Sanusi di

Perguruan Pencak Silat Pusaka Djakarta?

2. Bagaimana komunikasi persuasif dalam aktivitas dakwah H.

Sanusi di Perguruan Pencak Silat Pusaka Djakarta?

3. Apa faktor pendukung dan penghambat komunikasi persuasif

dalam aktivitas dakwah H. Sanusi di Perguruan Pencak Silat

Pusaka Djakarta?

D. Tujuan dan Kegunaan Penelitian

Sesuai dengan pembatasan dan perumusan yang sudah dipaparkan

di atas maka tujuan dan manfaat yang ingin dicapai dari penelitian skripsi

ini sebagai berikut:

1. Tujuan penelitian

a. Untuk mengetahui dan menggambarkan komunikasi persuasif

seperti apa dalam aktivitas dakwah yang dilakukan H. Sanusi di

Perguruan Pencak Silat Pusaka Djakarta

.

b. Untuk mengetahui dan mendapatkan informasi yang objektif

mengenai hambatan dan kendala terhadap komunikasi persuasif

dalam aktivitas dakwah yang dilakukan H. Sanusi di Perguruan

(19)

2. Manfaat penelitian

a. Manfaat akademis, hasil penelitian diharpakan mampu memberikan

kontribusi positif dalam menunjang berbagai analisis studi-studi

kesenian dan bela diri dalam era sekarang ini, yang mana studi dan

analisis itu dikaitkan dengan komunikasi persuasif dalam aktivitas

dakwah pada masyarakat

.

b. Secara praktis, dengan adanya penelitian ini semoga dapat

meningkatkan mutu dan kualitas dalam kegiatan dakwah di

Perguruan Pencak Silat Pusaka Djakarta

.

Selain itu, hasil penelitian ini diharakan dapat memberikan

sumbangan teoritis bagi pengembangan dakwah melalui seni bela diri

.

E. Tinjauan Pustaka

Dalam penulisan skiripsi ini, penulis telah mengkaji beberapa

penelitian terdahulu yang berkaitan dengan judul peneliti yaitu, komunikasi

persuasif dalam aktivitas dakwah di perguruan pencak silat pusaka djakarta

.

Dari situ penulis menemukan beberapa skripsi yang memiliki kesamaan dan

perbedaan dengan judul yang penulis ambil, berikut adalah tinjauan

pustakanya:

Skripsi karya Yusra, terdapat kesamaan subjek dan metode

(20)

membedakan adalah objek penelitiannya yaitu komunikasi persuasif

Geuchik dalam pembinaan taraf hidup masyarakat Gampong Bili Sa,

Kecamatan Bireum Bayeun.2

Skripsi karya Muhammad Farhan, terdapat kesamaan subjek dan

metode penelitian yaitu komunikasi persuasif dan metode kualitatif

deksriptif. Yang membedakan adalah objek penelitiannya yaitu komunikasi

persuasif pada rubrik “perjalanan menjadi Kyai” di surat kabar Minggu

pagi.3

Pada skirpsi karya Afifah, terdapat kesamaan konsep dan

metodologi yang dipilih

.

Affifah disini menggunakan konsep tentang aktivitas dakwah dengan menggunakan metode kualitatif

.

Perbedaan dengan skripsi penulis adalah dari objek penelitiannya, Afifah fokus pada

aktivitas dakwah perguran pencak silat beksi Ciganjur

.

4

Selanjutnya pada skripsi karya A

.

Samsul Anwar, terdapat kesamaan pada konsep dan metodologi yang dipilih, yaitu aktivitas dakwah

dengan menggunakan metode kualitatif

.

Perbedaan dengan skripsi penulis

2 Yusra, Komunikasi Persuasif Geuchik dalam Peningkatan Taraf Hidup Masyarakat Gampong Paya Bili Sa, Kecamatan Bireum Bayeun, Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam, Fakultas Dakwah, Sekolah Tinggi Islam Agama Islam (STAIN) Zawiyah Cot Kala Langsa, 2013.

3 Muhamad Farhan, Ko u ikasi Persuasif Pada Rubrik Perjala a Me jadi Kyai di Surat Kabar Minggu Pagi, Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam, Fakultas Ilmu Dakwah dan Komunikasi, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2010.

4 Afifah, Aktivitas Dakwah Perguruan Pencak Silat Beksi Betawi Ciganjur, Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam, Fakultas Ilmu Dakwah dan Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah

(21)

adalah dari objek penelitiannya, Samsul fokus pada aktivitas dakwah Hizbut

Tahrir Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Bogor

.

5

F. Metodologi Penelitian 1. Metode Penelitian

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan pendekatan kualitatif,

yakni penelitian yang dilalui dengan proses observasi, pengumpulan data

yang akurat berdasarkan fakta dilapangan disertai wawancara dengan

narasumber

.

“Penelitian kualitatif dilakukan dama situasi yang wajar

(natural setting) dan data yang dikumpulkan umumnya bersifat kualitatif

.

6

Sementara metode yang peneliti gunakan dalam penelitian ini adalah

metode deskriptif kualitatif

.

Metode deskriptif kualitatif hanyalah memaparkan situasi atau peristiwa

.

Penelitian ini tidak mencari atau menjelaskan hubungan, tidak menguji hipotesa atau membuat prediksi

.

Ciri dari metode deskriptif ini ialah titik berat pada observasi dan suasana

alamiah (naturalis setting)

.

7

5 Samsul Anwar, Aktivitas Dakwah Hizbut Tahrir Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Bogor, Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam, Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Syarif

Hidayatullah Jakarta, 2010

.

6Jumroni dan Suhaimi, Metode-Metode Penelitian Komunikasi, (Ciputat: UIN Jakarta

press, 2006), hal

.

41

.

7Jalaludin Rahmat, Metode Penelitian Komunikasi, (Bandung

.

PT

.

Remaja Rosdakarya,
(22)

Metode ini digunakan untuk menghimpun data yang aktual

.

Keinginan yang dilakukan dalam pengumpulan data dengan

menggambarkan keadaan yang sebenarnya terjadi dalam perguruan pencak

silat tersebut

.

Keadaan yang peneliti gambarkan sesuai dengan judul yang diangkat

.

Penelitian ini mengunnakan analisis kualitatif bersifat deskriptif

.

Data yang dihasilkan berupa data dan apa yang didapat bedasarkan hasil

penelitian

.

Dalam hal ini peneliti membuat deskriptif tentang bagaimana

penyampaian dakwah H. Sanusi dapat diaplikasikan dalam proses pelatihan

pencak silat di Perguran Pencak Silat Pusaka Djakarta

.

Metode penelitian deskrtiptif kualitatif dipilih karena peneliti mengidentifikasi serta

mendeskripsikan masalah-masalah yang berkenaan dengan segala bentuk

aktifitas dakwah H. Sanusi dengan komunikasi persuasif di Perguruan

Pencak Silat Pusaka Djakarta

.

Adapun dalam penelitian ini juga menggunakan tradisi fenomologi.

Dalam tradisi ini, fenomologi berpandangan bahwa manusia secara aktif

menginterpretasikan pengalaman mereka, sehingga mereka dapat

memahami lingkungan

.

Tradisi fenomologi memberikan penekanan sangat kuat pada

persepsi dan interpretasi dari pengalaman subjektif manusia. Pendukung

(23)

penting dan memiliki otoritas lebih besar daripada hipotesa penelitian

sekalipun.8

Dengan menggunakan tradisi fenomenologi peneliti ingin menggali

lebih dalam bagaiamana pengalaman H. Sanusi (babe Uci) mendirikan

perguruan pencak silat sejak 1957 hingga sekarang dan memiliki ratusan

murid. Selain itu juga untuk menambah refrensi dalam penulisan skripsi

komunikasi persuasif dalam aktifitas dakwah di Perguruan pencak silat

Pusaka Djakarta.

2. Lokasi Penelitian

Bedasarkan latar belakang Penelitian ini di sanggar pusat Perguruan

Pencak Silat Pusaka Jakarta, yang beralamat di Jln

.

Swadaya III, Manggarai, Jakarta Selatan

.

3. Sumber Data

Data yang akan dikumpulkan dalam penelitian ini berasal dari

berbagai sumber yaitu:

a. Data premier adalah data yang langsung dikumpulkan oleh peneliti

.

Untuk itu data premier dilakukan dengan mengadakan wawancara,

(24)

observasi dan penelusuran dokumen yang dilakukan peneliti di

Sanggar Perguruan Pencak Silat Pusaka Djakarta

.

b. Data Sekunder adalah data yang diperoleh penulis dari buku-buku,

artikel, dan bahan informasi lain yang berkaitan dengan masalah

penelitian

.

4. Teknik Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini, teknik pengumpulan data yang digunakan oleh

peneliti adalah:

a. Observasi

Observasi adalah melakukan pengumpulan langsung untuk

memperoleh data yang diperlukan

.

9 Peneliti mengawasi dengan

cermat setiap perkembangan yang berkaitan dengan penelitian ini

.

Data yang akan diperoleh adalah segala bentuk aktifitas dakwah H.

Sanusi dengan komunikasi persuasif di perguruan pencak silat

Pusaka Djakarta

.

Dalam penelitian ini, peneliti mengadakan pengamatan pada bagaimana metode dakwah dan cara-cara

penyampaiannya guna memberikan siraman rohani kepada para

anggota pencak silat Pusaka Djakarta

.

9Lexy Meleong

.

M

.

A

.

Metedologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT Remaja Rosda
(25)

b. Wawancara

Dalam wawancara ini peneliti akan melakukan wawancara

dengan sejumlah pihak yang berkaitan dengan penelitian ini

.

Peneliti akan melakukan wawancara terhadap pendiri sekaligus

pimpinan, guru besar, ustadz/ pelatih, dan anggota Perguruan

Pencak Silat Pusaka Djakarta

.

Peneliti akan melakukan wawancara dengan Bapak H

.

Sanusi selaku pendiri sekaligus guru besar pencak silat Pusaka Djakarta, dan Soniatul Fallah sebagai pelatih Pencak

Silat Pusaka Djakarta cabang Buncit Pulo

.

Dalam proses wawancara, peneliti menggunakan beberapa media pendukung yaitu

tape recorder, alat tulis, camera digital, handphone

.

c. Dokumentasi

Pada tahap dokumentasi, peneliti mengumpulkan

buku-buku, majalah, berkas-berkas, dan juga artikel-artikel dari internet

yang berkaitan dengan Perguruan Pencak Silat Pusaka Djakarta

.

5. Teknik Analisis Data

Penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research) dalam penelitian ini peneliti menggunakan pendekatan kualitatif yang bersifat

(26)

deskriptif yang berupa kata-kata tertulis atau lisan dari subjek yang

dapat diamati

.

Pada tahapan ini penafsiran temuan melalui kerangka konsep

merupakan upaya memperoleh arti dan makna yang lebih mendalam dan

luas terhadap hasil penelitian yang sedang dilakukan

.

Pembahasan hasil penelitian dilakukan dengan cara meninjau hasil penelitian secara kritis

dengan teori yang relevan dan informasi yang diperoleh dari lapangan

.

Analisis data dalam penelitian kualitatif merupakan proses yang

terus menerus dilakukan seiring dilakukannya pengumpulan data

.

Analisis data dilakukan untuk menarik kesimpulan

.

Analisis data menurut Moleong (2004) adalah proses mengorganisasikan data dan

mengurutkan data ke dalam pola katergori dan satuan uraian dasar

sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan menjadi hipotesis

kerja sesuai dengan pengolahan data

.

Analisis data dalam penelitian ini deskriptif kualitatif, yaitu

setelah data diklasifikasikan sesuai aspek data yang terkumpul lalu

ditafsirkan kembali secara logis

.

Dengan demikian akan tergambar sejauh manakah komunikasi persuasif dalam aktifitas dakwah dalam

perguran pencak silat Pusaka Djakarta

.

dengan melihat data-data yang diperoleh penulis melalui observasi dan wawancara, setelah itu
(27)

G. Sistematika Penulisan

1. Pendahuluan

Pada bab ini memaparkan latar belakang masalah ,batasan

masalah dan rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian,

metodelogi penelitian, dan sistematika penulisan

.

2. Kajian teoritis

Dalam bab ini memuat ruang lingkup teori tentang

pengertian komunikasi, pengertian persuasif, pengertian komunikasi

persuasif dan metode komunikasi persuasif, dakwah dan metode

dakwah, dan pencak silat.

3. Gambaran umum Perguruan Pencak Silat Pusaka Djakarta

Bab ini berisi profil Perguruan Pencak Silat Pusaka Djakarta

(PSPD), Profil itu sendiri terdiri atas sejarah singkat PSPD, Visi dan

Misi, serta struktur PSPD

.

4. Temuan dan hasil analisis data

Pada bab ini memuat deskripsi tentang aktivitas dakwah H.

Sanusi dengan komunikasi persuasif di Perguruan Pencak Silat

Pusaka Djakarta (PSPD)

.

5. Penutup

Pada bab ini meliputi kesimpulan dari hasil penelitian yang

(28)

17 BAB II

LANDASAN TEORI

A. Ilmu Komunikasi

1. Pengertian Komunikasi

Pengertian Komunikasi secara etimologis berasal dari bahasa latin,

yaitu communicatio. Istilah tersebut bersumber dari perkataan communis

yang artinya sama makna atau sama arti.10

Everet M. Rogers (1985) mengemukakan bahwa komunikasi adalah

proses dimana suatu ide dialihkan dari sumber kepada suatu penerima atau

lebih dengan maksud untuk mengubah tingkah laku mereka.11

Secara terminologi, istilah komunikasi adalah suatu tingkah laku,

perbuatan, atau kegiatan penyampaian atau pengoperan lambang-lambang,

yang mengandung arti atau makna, atau lebih jelasnya, suatu pemindahan

atau penyampaian informasi, mengenai pikiran, dan perasaan-perasaan.12

Menurut Hovlan, komunikasi dapat didefinisikan “as the process by which an individuals the communicator-transmitastimuli (ussualy verbal symbols) to modify the behavior of other individuals communicateest.”

Dengan mengkomunikasikan rangsangan dalam bentuk kata-kata terltulis

10 Suryanto, Pengantar Ilmu Komunikasi, (Bandung: Pustaka Setia, 2015), h. 14. 11 H. Hafied Cangara, Perencanaan & Strategi Komunikasi (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2013), h. 33.

(29)

atau lisan, komunikaor mampu mengubah perilaku individu atau

komunikan lainnya.13

Menurut Onong Uchayana, komunikasi berarti suatu proses

penyampaian suatu pesan seseorang kepada orang lain.14

Harold Laswell juga mendifinisikan komunikasi yang dituangkan di

dalam kata-kata “who says what to whom in what channel in what effect, dengan pengertian sebagai berikut:

Who: merupakan sumber dari mana gagasan berkomunikasi itu dimulai dan

juga who disini dapat pula bermakna sebagai komunikator.

What: maksud says what di sini tak lain adalah pesan (message) yang disampaikan, dapat berubah buah pikiran, keterangan atau pernyataan

sebuah sikap.

Channel: adalah saluran yang menjadi medium (jamak dari media) dari

penyampain pesan tersebut sehingga dapat diterima oleh komunikan.

Whom: whom disini adalah komunikan, yaitu sasaran yang dituju oleh seorang komunikator untuk menyampaikan pesaanya.

Effect: adalah hasil dari komunikasi yang dilancarkan tersebut, diterimakah

atau ditolak.15

Dari beberapa pengertian diatas, penulis berkesimpulan bahwa

komunikasi merupakan proses transformasi pesan antara dua individu atau

lebih yang memiliki makna berupa simbol dalam bentuk kata(verbal),

13 Dr. M. Budayatna, MA, Dra. Nina Mutmainah, Komunikasi Antarpribadi, (Jakarta: Universitas Terbuka, 2002), h. 23.

(30)

gerakan (non-verbal) dengan efektif sehingga bisa dipahami dengan mudah

untuk tujuan tertentu.

2. Fungsi dan Tujuan Komunikasi

Komunikasi tidak hanya berkutat pada persoalan pertukaran berita

dan pesan, tetapi juga melingkupi kegiatan individu dan kelompok berkaitan

dengan tukar menukar data, fakta, dan ide. Menurut Onong Uchyana (1996),

ada beberapa fungsi yang melekat dalam proses komunikasi, yaitu sebagai

berikut:

a. Informasi, pengumpulan, penyimpanan, pemrosesan,

penyebaran berita, data, gambar, pesan, opini, dan komentar

yang dibutuhkan agar dapat dimengerti dan beraksi secara jelas

terhadap kondisi lingkungan dan orang lainsehingga mengambil

keputusan yang tepat.

b. Sosialisasi (pemasyarakatan), penyediaan sumber ilmu

pengetahuan yang memungkinkan orang bersikap dan bertindak

sebagai anggota masyarakat yang efektif sehingga sadar akan

fungsi sosialnya dan dapat aktif dalam masyarakat.

c. Motivasi, menjelaskan tujuan setiap masyarakat jangka pendek

ataupun jangka panjang, mendorong orang untuk menentukan

pilihan dan keinginannya, mendorong kegiatan individu dan

(31)

d. Debat dan diskusi, menyediakan dan saling menukar fakta yang

diperlukan untuk memungkinkan persetujuan atau menyeleaikan

perbedaan pendapat mengenai masalah publik, menyediakan

bukti-bukti relevan yang diperlukan untuk kepentingan umum

agar masyarakat lebih melibatkan diri dengan masalah yang

menyangkut kepentingan bersama.

e. Pendidikan, pengalihan ilmu pengetahuan dapat mendorong

perkembangan intelektual, pembentukan watak, serta

pembentukan keterampilan dan kemahiran yang diperlukan

dalam semua bidang kehidupan.

f. Memajukan kehidupan, menyebarkan hasil kebudayaan dan seni

dengan tujuan melestarikan warisan masa lalu, mengembangkan

kebudayaan dengan memperluas horizon seseorang serta

membangun imajinasi dan mendorong kreativitas dan kebutuhan

estetikanya.

g. Hiburan, penyebarluasan sinyal, simbol, suara, dan imaji dari

tari, drama, kesenian, kesusastraan, musik, olahraga,

kesenangan, kelompok, dan individu.

h. Integrasi menyediakan bagi bangsa, kelompok, dan individu

kesempatan untuk memperoleh berbagai pesan yang diperlukan

agar saling mengenal, mengerti, serta menghargai kondisi

pandangan dan keinginan orang lain.16

(32)

Pendapat lain mengatakan, bahwa komunikasi mempunyai tiga

fungsi sosial, yaitu:

a. Fungsi pengawasan, menunjukan pada upaya pengumpulan,

pengolahan, produksi dan penyebarluasan informasi mengenai

peristiwa-peristiwa yang terjadi baik di dalam maupun di luar

lingkungan suatu masyarakat. Upaya ini selanjutnya diarahkan

pada tujuan untuk mengendalikan apa yang terjadi di lingkungan

masyarakat. Misalnya, mencegah kekerasan, memlihara

ketrtiban dan keamanan.

b. Fungsi korelasi, menunjukan pada upaya memberitakan

interpretasi atau penafsiran informasi mengenai

peristiwa-peristiwa yang terjadi. Atas dasar interpretasi informasi ini

diharapkan berbagai kalangan atau sebagian masyarakat

mempunyai pemahaman, tindakan atau reaksi yang sama atas

peristiwa-peristiwa yang terjadi. Dengan kata lain, melalui

fungsi korelasi ini komunikasi diarahkan pada upaya pencapaian

konsesus (kesepakatan). Kegiatan yang demikian, lazim disebut

sebagai kegiatan propaganda. Misalnya pemberitaan surat kabar

yang isinya menyarankan agar warga masyarakat mau menerima

dan melaksanakan program Keluarga Berencana (KB).

c. Fungsi sosialisasi merujuk pada upaya pendidikan dan warisan

nilai-nilai, norma-norma, dan prinsip-prinsip dari satu generasi

(33)

lainnya. Misalnya pendidikan dan pewarisan mengenai

kemampuan berbahasa kepada anak-anak dan cucunya, kegiatan

pendidikan yang dilakukan oleh guru kepada murid-muridnya,

penyuluhan program KB kepada masyarakat.17

Dari berbagai penjelasan fungsi diatas, penulis menyimpulkan

bahwa komunikasi berfungsi sebagai instrumen untuk mencapai

tujuan-tujuan pribadi dan pekerjaan, baik tujuan-tujuan jangka pendek ataupun jangka

panjang. Tujuan jabgka pendek, misalnya memperoleh pujian,

menumbuhkan kesan yang baik, memperoleh simpati dan sebagainya.

Adapun jangka panjang dapat diraih melalui keahlian komunikasi, misalnya

keahlian berpidato, berunding, berbahasa asing, ataupun keahlian menulis.

Kedua tujuan tersebut berkaitan dalam arti bahwa berbagai pengelolaan

kesan itu secara kumulatif dapat digunakan untuk mencapai tujuan jangka

panjang berupa keberhasilan dalam karir, misalnya memperoleh jabatan,

kekuasaan, penghormatan sosial dan kekayaan.

R. Wayne Pace, Brent D. Peterson, dan M. Dallas Burnent, dalam

buku beliau yang berjudul “Teaching for Effective Communication” bahwa tujuan sentral komunikasi terdiri atas tiga tujuan, yaitu:

a. To secure understanding (untuk menyamakan pemahaman). b. To estasblish acceptance (membangun penerimaan).

c. To motivate action (memotivasi tindakan).18

17 Sasa Djuarsa Sendjaja, Pengantar Komunikasi, (Jakarta: Universitas Terbuka, 1999),h. 44-45.

(34)

Tujuan pertama dari komunikasi adalah to secure understanding

yaitu memastikan bahwa komunikan mengerti pesan yang diterimanya.

Setelah komunikan mengerti dan menerima maka penerimanya itu harus

dibina (to establish acceptance). Pada akhirnya kegiatan dimotivasikan (to motive action). Jadi, tujuan komunikasi bagimana suatu pesan dapat sampai dan diterima oleh komunikan sehingga menimbulkan efek tertentu.

Secara singkat dapat ditegaskan bahwa komunikasi bertujuan

mengharapkan pengertian, dukungan, gagasan, dan tindakan. Setiap akan

mengadakan komunikasi, komunikator perlu mempertanyakan tujuannya.19

3. Jenis-Jenis Komunikasi

Pengelempokan jenis-jenis komunikasi bertujuan untuk

membedakan antara bentuk satu komunikasi dan komunikasi yang lainnya

dengan tujuan efektifitas pesan komunikasi, terutama pada sasaran dan

media yang dipergunakan untuk menyampaikan pesan agar sesuai dengan

tujuan komunikasi.

Jenis komunikasi dapat dibedakan menjadi:

1. Komunikasi personal, terdiri atas:

a. Komunikasi intrapersonal;

b. Komunikasi interpersonal;

2. Komuniaksi publik.

3. Komunikasi massa.

(35)

a. Komunikasi intrapersonal

Komunikasi intrapribadi atau komunikasi intrapersonal adalah

proses penggunaan bahasa atau pikiran yang terjadi dalam diri komunikator,

antara diri sendiri. Jenis komunikasi ini merupakan keterlibatan internal

secara aktif dari individu dalam pemrosesan simbolis dari pesan-pesan yang

diproduksi melalui proses pemikiran internal individu.20

Aktivitas dari dari komunikasi intrapribadi yang dilakukan

sehari-hari dalam upaya memahami diri pribadi, diantaranya berdoa, bersyukur,

intropeksi diri dengan meninjau perbuatan, seperti melamun, merencanakan

aktivitas yang akan dilakukan, dan berimajinasi secara kreatif.

b. Komunikasi interpersonal

Komunikasi interpersonal atau komunikasi antarpribadi adalah

komunikasi antarindividu yang lain atau kurang lebih secara tatap muka

(face to face). Sebagaimana dinyatakan oleh R. Wayne Pace yang dikutip oleh Hafied Changara, “international communication involving to more

people in face to face setting.”21

Menurut sifatnya komunikasi antar pribadi dapat dibedakan menjadi

dua macam, yaitu komunikasi diadik dan komunikasi kelompok-kelompok

kecil. Adapaun yang dimaksud dengan komunikasi diadik adalah

komunikasi yang berlangsung dua orang secara tatap muka.

20 Suryanto, Pengantar Ilmu Komunikasi, h. 102.

(36)

Sedangkan komunikasi kelompok kecil adalah komunikasi yang

berlangsung anatara tiga orang atau lebih secara tatap muka yang

anggotanya antara satu sama lain saling berinteraksi.22

c. Komunikasi publik

Komunikasi publik adalah prsoes komunikasi yang terjadi antara

satu individu dengan khalayak yang banyak secara tatap muka seperti acara

pidato presiden, ceramah agama, khutbah jumat, dan pengajian majelis

ta’lim.

Dalam komunikasi publik penyampaian pesan berlangsung secara

kontinu dengan pembicara dan yang dapat diidentifikasi. Interaksi antara

narasumber dengan penerima pesaan sangat terbata. Hal ini karena waktu

yang digunakan sangat terbatas.23

d. Komunikasi massa

Komunikasi massa adalah jenis komunikasi dimana pesan yang

disampaikan secara langsung oleh komunikan, tapi melalui sebuah media

massa, seperti, radio, televisi, media cetak, dan internet.

Perbedaan komunikasi massa dengan komunikasi lain intinya adalah

sifat pesan dan komunikasi massa yang terbuka dengan khalayak yang

variatif baik dilihat dari segi agama, suku, pekerjaan, dan sebagainya.24

(37)

B. Komunikasi Persuasif

1. Pengertian Komunikasi Persuasif

Secara etimologi, persuasi adalah “meyakinkan, lunak, tanpa

kekerasan”. Sedangkan secara istilah persuasif dapat diartikan “sebuah

pendekatan untuk dapat meyakinkan, membujuk, dengan sebuah argumen

yang menguraikan suatu masalah atau keadaan yang dibuktikan dengan

data-data dan fakta-fakta yang bertujuan untuk memengaruhi dan agar

mereka mau mengikuti atau melakukan sebagaimana yang diharapkan.25

Jalaludin Rahmat dalam bukunya yang berjudul Psikologi

Komunikasi mengatakan bahwa komunikasi persuasif dapat didefinisikan

juga sebagai proses memengaruhi dan mengendalikan pendapat, perilaku,

dan tindakan orang lain melalui pendekatan manipulasi psikologis sehingga

orang tersebut bertindak seperti atas kehendaknya sendiri.26

Dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa komunikasi

persuasif adalah sebuah proses mempengaruhi sikap, pendapat, dan perilaku

orang lain, baik secara verbal maunpun non verbal. Proses itu sendiri adalah

setiap gejala atau fenomena yang menunjukan suatu perubahan yang terus

menerus dalam konteks waktu, setiap pelaksanaa atau perlakuan secara

terus-menerus. Ada dua persoalan yang berkaitan dengan pengunaan proses,

yakni persoalan dinamika objek, dan persoalan penggunaan bahasa.

25 Pius A. Partanto dan M. Dahlan Al Barry, Kamus Ilmiah Populer, (Surabaya: Penerbit Arkola, 1994), h. 593.

(38)

Komunikasi persuasif dapat dilakukan secara rasional dan secara

emosional. Dengan cara rasional, komponen kognitif pada diri seseorang

dapat dipengaruhi. Aspek yang dipengaruhi berupa ide ataupun konsep.

Sementara komunikasi persuasi secara emosional, biasanya menyentuh

aspek afeksi, yaitu hal yang berkaitan dengan kehidupan emosional

seseorang. Melalui cara emosional, aspek simpati dan empati seseorang

dapat digugah.27

Maksud komunikasi persuasif dalam kerangka dakwah adalah

komunikasi yang senantiasa berorientasi pada segi-segi psikologis mad’u

dalam rangka membangitkan kesadaran mereka untuk menerima dan

melaksanakan ajaran Islam.

2. Metode Komunikasi Persuasif

Seorang komunikator hendaknya membekali diri mereka dengan

teori-teori persuasif agar ia dapat menjadi komunikator yang efektif.

Sehubungan dengan proses komunikasi persuasif, terdapat beberapa teori

yang dapat digunakan sebagai dasar kegiatan yang dalam pelaksanaanya

bisa dikembangkan menjadi beberapa metode, anatara lain:28

a) Metode asosiasi: adalah penyajian pesan komunikasi dengan jalan menumpangkan pada suatu peristiwa yang

aktual, atau sedang menarik perhatian dan minat massa.

Metode ini secara umum sering dilakukan oleh kalangan

27 Soleh Soemirat, dkk, Komunikasi Persuasif (Universitas Terbuka, 2007) h. 4-5.

(39)

pebisnis atau para politikus. Popularitas figur-figur tertentu

dimanfaatkan dalam kerangka pencapaian tujuan-tujuan

tertentu.

b) Metode integrasi: kemampuan untuk menyatukan diri dengan komunikan dalam arti menyatukan diri secara

komunikatif, sehingga tampak menjadi satu, atau

mengandung arti kebersamaan dan senasib serta

sepenanggungan dengan komunikan, baik dilakukan secara

verbal maupun nonverbal. Contoh pada penggunaan kata

kita bukan kata saya atau kami. Kata kita berarti saya dan

anda. Hal ini mengandung makna bahwa yang

diperjuangkan komunikator bukan kepentingan diri sendiri

melainkan juga kepentingan komunikan.

c) Metode pay-off dan fear-arousing: yakni kegiatan mempengaruhi orang lain dengan jalan melukiskan hal-hal

yang menggembirakan dan menyenangkan perasaannya

atau memberi harapan (iming-iming), dan sebaliknya

dengan menggambarkan hal-hal yang menakutkan atau

menyajikan konsekuensi yang buruk dan tidak

menyenangkan perasaan.

d) Metode Icing: yaitu upaya menyusun pesan komunikasi sedemikian rupa sehingga enak didengar, atau enak dilihat

(40)

mengikuti apa yang disarankan oleh pesan tersebut. Metode

Icing dalam kegiatan komunikasi persuasif adalah seni menata pesan dengan imbauan-imbauan sedemikian rupa

sehingga menarik.

.

Wilbur Schramm di dalam bukunya “The Process and Effect of Mass

Communication,” mengemukakan bahwa berhasilnya komunikasi persuasif perlu dilaksanakan suatu persuasif yang biasa disebut AIDDA.29 Formula

AIDDA merupakan kesatuan dari tahapan-tahapan komunikasi persuasif, di

antara penjelasannya sebagai berikut:

a. Attention (perhatian) b. Interest (ketertarikan) c. Desire (keinginan) d. Action (kegiatan)

Formulasi AIDDA diatas didahului dengan upaya membangkitkan

perhatian. Apabila perhatian sudah terbangkit kini menyusul upaya

menumbuhkan rasa tertarik atau “minat” dalam mengutarakan hal-hal yang

menyangkut kepentingan komunikan, oleh karenanya seorang komunikator

terlebih dahulu harus mengenal siapa komunikan yang dihadapinya.

Selanjutnya memunculkan hasrat keinginan pada komunikasi untuk ajakan,

bujukan, dan rayuan. Di sini himbauan emosional perlu ditampilkan oleh

(41)

komunikator sehingga selanjutnya komunikan dapat mengambil keputusan

untuk melakukan suatu keinginan “kegiatan”, sebagaimana diharapkan oleh

komunikator.

3. Unsur-unsur Komunikasi Persuasif

Menurut Aristoteles, komunikasi dibangun oleh tiga usur yang

fundamental, yakni, orang yang berbicara, materi pembicarannya, dan orang

yang mendengarkannya. Aspek pertama yang disebut persuader atau komunikator, yang merupakan sumber komunikasi; aspek kedua adalah

pesan; aspek ketiga adalah persuadee atau komunikan, yang merupakan penerima komunikasi.

Persuader adalah sekelompok orang atau individu yang menyampaikan pesan dengan tujuan untuk mempengaruhi sikap, pendapat,

dan perilaku orang lain baik secara verbal maupun non- verbal. Oleh karena

itu seorang persuader harus memiliki nilai etos yang tinggi. Selain itu seorang komunikator juga harus memiliki sifat reseptif, yaitu bersedia menerima gagasan dari orang lain, selektif dalam menerima berbagai

informasi, digestif, yaitu mampu menerima berbagai gagasan, asimilatif

yaitu mampu menciptakan gagasan-gagasan baru yang orisinal sebagai

bahan untuk komunikasi, transitif, yaitu memiliki kemampuan meilih kata-kata yang funsional, mampu menyusun kata-kata secara logis, memilih waktu

yang tepat untuk komunikasinya dan lain-lain.

Dengan semikian tugas seorang komunikator dalam komunikasi

(42)

untuk meyampaikan pesannya agar dapat diterima oleh komunikan dengan

baik yang kemudian ia mampu melakukan saran yang diajukan oleh

komunikator.

Persuadee adalah orang/ sekelompok orang yang menjadi tujuan pesan itu disampaikan dan disalurkan oleh persuader baik secara verbal maupun non verbal. Kepribadian dan ego merupakan dua faktor yang

berpengaruh terhadap penerimaan komunikan terhadap komunikasi,

termasuk di dalamnya faktor persepsi dan pengalaman.

Pesan adalah segala sesuatu yang memberikan pengertian kepada

penerima. Pesan bisa berbentuk verbal maupun non verbal, baik disengaja

maupun tidak disengaja.

Efek komunikasi persuasif adalah perubahan yang terjadi pada diri

persuader sebagai akibat dan diterimanya pesan melalui proses komunikasi, efek yang bisa terjadi berbentuk perubahan sikap, pendapat, dan tingkah

laku. Lingkungan komunikasi persuasif adalah konteks situaisonal dimana

proses komunikasi persuasif ini terjadi. Hal itu bisa berupa konteks historis,

konteks fisik temporal, kejadian-kejadian kontemporer, impending events

dan norma-norma sosiokultural.30

(43)

4. Strategi Komunikasi Persuasif

Strategi adalah rencana terpilih yang bersifat teliti dan hati-hati atau

serangkaian manuver yang teah dirancang untuk mencapai tujuan yang telah

ditetapkan. Dalam mempertimbangkan strategi komunikasi persuasif yang

akan diterapkan, perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

a) Spesifikasi tujuan persuasif;

b) Identfikasi kategori sasaran;

c) Perumusan strategi persuasif;

d) Pemilihan metode persuasif yang akan diterapkan.31

Dalam komunikasi persuasif paling tidak memiliki tiga tujuan, yakni

membentuk tanggapan, memperkuat tanggapan, dan mengubah tanggapan.

Secara umum, sasaran persuasif dapat diidentifikasi berdasarkan umur, jenis

kelamin, pendidikan, pekerjaan, keanggotaan dalam kelompok primer, dan

minat khusus sasaran. Selain itu, dapat dilihat dari aspek sasaran pedestrian,

sasaran pasif dan kelompok diskusi, sasarn terpilih, sasaran kesepakatan,

dan sasaran terorganisasi.

Dalam memilih metode persuasif, ada tiga pendekatan yang bisa

dilakukan, yakni pendekatan berdasarkan media yang digunakan, sifat

hbungan antara persuader dan sasarannya, serta pendekatan psikososial.

(44)

C. Aktivitas Dakwah

Aktivitas dakwah dapat diartikan sebagai bentuk kegiatan yang

mengarah pada perubahan terhadap sesuatu yang belum baik agar menjadi lebih

baik lagi.

1. Pengertian Aktivitas

Aktivitas menurut kamus besar bahasa Indonesia adalah keaktifan,

kegiatan, atau kesibukan atau bisa juga salah satu kegiatan kerja yang

dilaksanakan dalam tiap bagian sesuatu organisasi.32

Banyak sekali aktivitas yang kita lakukan dalam kehidupan

sehari-hari, namun berarti atau tidaknya kegiatan bergantung pada individu

tersebut. Karena menurut Samuel Sahoe sebenarnya aktivitas bukan hanya

sekedar kegiatan, beliau mengatakan bahwa aktivitas dipandang sebagai

usaha mencapai atau memenuhi kebutuhan.

Salah satu kebutuhan manusia adalah menuntut ilmu untuk menjadi

pintar atau pandai. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut maka manusia

harus belajar dengan cara membaca buku atau mengeyam pendidikan di

sekolah, berdiskusi dalam suatu organisasi atau komunitas, atau

tempat-tempat menimba ilmu.

Seseorang yang ingin mendalami ilmu agama dan ingin membangun

atau berinteraksi dengan masyarakat yang islami misalnya, tentu ia harus

(45)

melakukan aktivitas yang membantu tercapainya keinginan tersebut. Seperti

membaca buku-buku keagamaan, mengikuti pengajian, atau melakukan

diskusi-diskusi tentang keagamaan dan kemasyarakatan. Mengkaji

norma-norma ajaran Islam tentang hubungan sesama manusia dan tak kalah

pentingnya adalah mengadaptasikannya atau menerapkan ilmu yang telah

diperoleh ke dalam kehidupan yang nyata.

2. Pengertian Dakwah

Pengertian dakwah dalam bahasa Arab merupakan bentuk masdar

dari kata kerja (fi’il) da’a, yad’u, da’watan yang berarti menyeru, memanggil, dan mengajak.33 Dakwah dalam bahasa Indonesia dipahami

sebagai “ajakan, seruan, panggilan, dan undangan kepada ajaran Tuhan”.34

Secara terminologi (istilah), pengertian dakwah akan dikemukakan

oleh beberpa pendapat para tokoh yang memberikan pengertian menurut

sudut pandang masing-masing, yaitu sebagai berikut:

a. Prof. Toha Yahya Omar mendefinisikan dakwah sebagai usaha

mengajak manusia dengan cara bijaksana kepada jalan yang

benar sesuai dengan perintah Tuhan untuk kemaslahatan dan

kebahagiaan mereka di dunia dan akhirat.35

b. Drs. Hamzah Yakub dalam bukunya publistik Islam,

memberikan pengertian dakwah sebagai usaha mengajak

33 Mahmud Yunus, Kamus Arab-Indonesia, (Jakarta: PT. Hidakarya Agung, 1989), h. 127. 34 Toha Yahya Omar, Ilmu Dakwah (Jakarta: Widjaya,1992), h. 1

(46)

manusia dengan hikmah kebijaksanaan untuk mengikuti

petunjuk Allah Swt dan Rasul-Nya.36

c. Drs. Arifin M.Ed mendefinisikan dakwah sebagai sesuatu

kegiatan ajakan baik dalam bentuk lisan, tulisan, tingkah laku

yang dilakukan secara sadar dan terencana dalam usaha

mempengaruhi orang lain baik secara individual maupun

kelompok agar timbul dalam dirinya suatu pengertian,

kesadaran, sikap, penghayatan, serta pengamalan terhadap

ajaran agama sebagai massage yang disampaikan padanya tanpa adanya unsur paksaan.37

d. Syeikh Ali Mahfudh mendefinisikan bahwa inti dari dakwah

adalah mengajak manusia ke jalan Allah agar mereka berbahagia

di dunia dan di akhirat.38

e. Prof. Dr. Quraisy Shihab mendifinisikan dakwah sebagai seruan

atau ajakan kepada keinsyafan, atau usaha mengubah situasi

tertentu kepada situasi yang lebih baik dan sempurna, baik

terhadap pribadi maupun masyarakat dan dakwah seharusnya

berperan dalam pelaksanaan ajaran Islam secara lebih

menyeluruh dalam berbagai aspek kehidupan.39

36 Asmuni Syukir, Dasar-Dasar Strategi Dakwah Islam, (Surabaya: Al-Ikhlas, 1983), h. 19. 37 H. M. Arifin, Psikologi Dakwah, (Jakarta: Bumi Aksara, 1994), cet ke-3, h. 6.

38 Syeikh Ali Mahfudh, Hidayah Al-Mursyidin, (Beirut: Daar Al-Ma’rif), h. 17.

(47)

Bila dipahami dari berbagai sudut pandang terlihat bahwa esensi

dakwah Islam sesungguhnya kegiatan dan upaya mengajak manusia atau

orang lain agar kembali kepada kesucian, agar menjalankan perintah Allah

dan menjauhi larangan-Nya secara utuh dan menyeluruh.

3. Unsur-unsur dakwah

Unsur-unsur dakwah merupakan pembagian penting dalam

berdakwah. Disini, terdapat banyak kesamaan yang amat sangat mendasar

antara teori yang digunakan para ulama atau pun para cendikiawan muslim

dengan teori Laswell S-M-C-R=Ef, maka dalam dakwah ada istilah da’i (pelaku dakwah), mad;u (sasaran dakwah), maddah (maeri dakwah), wasilah (media dakwah), thariqah (pesan dakwah), dan atsar (efek).

a. Da’i (pelaku dakwah)

Da’i adalah individu atau sekelompok muslim dan muslimah yang

mempunyai keteladanan yang baik dalam mengemban misi Islam dalam

upaya menyeru kepada yang ma’ruf dan menegah dari perbuatan

munkar.40 Pada prinsipnya setiap seorang muslim mempunyai

kewajiban untuk menyampaikan dakwah islamiyah, paling tidak untuk

dirinya dan keluarga. Sebagaimana diamanatkan oleh Allah SWT dalam

Al-Quran yang berbunyi:

(48)

َ ُيَأٓ َي

َ يِ

َٱ

ذ

َهُل ُقَو امر َن ۡ ُكيِ ۡهَأَو ۡ ُكَسُفنَأ ْاك ُق ْا ُنَماَء

ُس ذنٱ

َو

ُةَر َجِ

ۡٱ

ۡ

َ ۡيَ َع

َن ُصۡعَي

َ ٞلاَدِش ٞظ ََِغ ٌةَ ِئٓ

ذ

َلَم

َ ذّٱ

َنوُرَ ۡؤُي َم َن ُ َعۡفَيَو ۡ ُهَرَ

َ

أ ك َم

٦

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan

keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah

manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar,

keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang

diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan

apa yang diperintahkan (Q.S. At-Tahrim: 6)

Dengan demikian dapat dipahami bahwa setiap seorang yang

menyatakan beragama Islam, maka secara otomatis ia memikul suatu

kewajiban untuk meaksanakan dakwah Islam.

b. Mad’u (sasaran dakwah)

Mad’u merupakan target yang menjadi objek utama dalam

berdakwah. A.H. Hasanuddin berpendapat bahwa “Orang yang diseru,

dipanggil, atau diundang”.41 Berdasarkan pengertian tersebut dapat

dipahami, bahwa yang dinamakan dengan mad’u memiliki berbagai

kelas yang terbagi dalam sosial, ekonomi, geografis, profesi, bahkan

sampai kepada tingkatan usia dan pengetahuan. H.M. Arifin dalam

bukunya yang berjudul Psikologi Dakwah, menjabarkan tingkatan yang ada, yaitu:

(49)

1. Sosiologis, meliputi berbagai lapisan masyarakat, yaitu masyarakat

terasing, pedesaan, perkotaan, Kota kecil, serta masyarakat marjinal

di Kota besar.

2. Struktur kelembagaan, biasanya dikenal dengan istilah priyai,

abangan, dan santri. Hal ini banyak ditemukan di daerah masyarakat

jawa.

3. Tingkatan usia, mulai dari yang muda hingga yang tua. Hal ini

terjadi karena dipengaruhi tingkat kedewasaan yang seiring dengan

usia.

4. Profesi, tingkatan ini biasanya mencakup petani hingga eksekutif.

5. Ekonomi, struktur antara yang kaya hingga yang miskin.

6. Jenis kelamin (baik pria maupun wanita).

7. Masyarakat khusus, tunasusila, tunawisma, tunakarya, narapidana

dan sebagainya.42

c. Materi dakwah

Materi dakwah yang disampaikan oleh da’i tidak lain adalah sesuai

dengan Islam yang bersumber dari Al-Quran dan Hadis sebagai sumber

utama yang meliputi aqidah, syariah, dan akhlak.43

Seorang da’i dituntut untuk memilih dan menentukan topik tertentu

yang akan disampaikan kepada mad’u yang mendengarkannya dengan

memperhatikan kondisi serta kebutuhan mad’u yang menjadi objek

42 H.M. Arifin, Psikologi Dakwah, (Jakarta: Bulan Bintang, 1977), h. 13-14.

(50)

dakwah tersebut, dengan harapan da’unya dapat memahami betul apa

yang disampaikan da’i sehingga mad’u tidak mengalami kesulitan untuk

memahami dan mencernanya.

d. Metode dakwah

Abdul Kadir Munsyi, mengartikan metode sebagai cara untuk

menyampaikan sesuatu.44 Sedangkan dalam metodologi pengajaran

ajaran agama Islam disebutkan bahwa metode adalah “suatu cara yang

sistematis dan umum terutama dalam mencari kebenaran ilmiah”.45

Metode adalah cara kerja yang sistematis dan teratur untuk pelaksanaan

suatu cara kerja.46

Dari banyaknya pengertian diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa

metode adalah sebuah cara yang digunakan dalam menyampaikan

sesuatu kepada orang lain dengan tujuan agar tercapainya kesepahaman

tentang apa yang disampaikan. Rafiffuddin dan M. Abdul Djalil,

menguraikan beberapa metode dalam berdakwah, yaitu sebagai berikut:

1) Qoulan Ma’rufan, bakwah bil lisan atau dengan bicara

dalam pergaulannya sehari-hari yang disertai dengan misi

agama seperti penyebarluasan salam.

2) Dakwah bil qalam dengan menggunakan keterampilan tulis menulis berupa artikel.

44 Abd. Kadir Munsyi, Metode Diskusi dalam Dakwah, (Surabaya: al-Ikhlas, 1983), cet ke-1, h. 29.

45 Soeleiman Yusuf, Slamet Susanto, Pengantar Pendidian Sosial, (Surabaya: Usaha Nasional, 1981), h. 38.

(51)

3) Dakwah bil hal dengan menggunakan berbagai kegiatan yang langsung menyentuh kepada masyarakat.

4) Dakwah dengan alat-alat elektronik seperti radio, televisi,

komputer, dan alat lainnya yang dapat menunjang

berdakwah.47

D. Pencak Silat

1. Pengertian Pencak Silat

Menurut kamus besar bahasa indonesia, silat berarti “permainan”

(keahlian) dalam mempertahankan diri dengan kepandaian menangkis,

menyerang, dan membela diri, baik dengan maupun tanpa senjata.

Menurut Ali Sabeni, pencak dapat diartikan jurus-jurus. Silat dapat

diartikan Shalat, sebelum Shalat didahului dengan wudhu. Di dalam proses

wudhu, tangan kiri dan tangan kana saling membersihkan dari hal-hal yang

kotor. Jadi pencak silat itu bukan untuk mencari permusuhan atau berkelahi,

namun untuk sarana pergaulan seperti layaknya tangan kiri dan tangan

kanan tadi.48 Sebab itulah orang-orang yang pandai silat janganlah sombong

dan takabur. Dia harus ramah-tamah, dan jangan sekali-kali berbuat

keonaran.

47 Raffifuddin, M. Abd. Djalil, Prinsip dan Strategi Dakwah, (Pustaka Setia, 1997), cet ke-1, h. 25.

(52)

Selain itu Ali Sabeni menyatakan bahwa Silat itu kependekan dari

Silaturahmi. Jadi orang-orang yang belajar silat dapat diartikan dididik

untuk bersilaturahmi dengan sesama umat.

Ada juga tentang kode menghormat kepada para tamu dengan cara

kepalan tangan kanan ditutup oleh telapak tangan kiri diletakkan di muka

dada. Ini mengandung arti bahwa kekuatan yang dimiliki oleh tangan kanan

jangan sampai ditonjolkan (sombong), karena itu tandanya harus ditutup

dengan telapak tangan kiri. Jelasnya gerakan tersebut melambangkan

jangan sampai memperlihatkan kekuatan pada siapapun, jangan sombog,

dan takabur.

Dengan demikian yang disebut pencak silat itu adalah jurus-jurus

serta kembangannya yang berupa tarian baik mempergunakan senjata

maupun tangan kosong yang berfungsi sebagai silaturahmi, olahraga,

pendidikan mental spiritual, sarana pergaulan serta untuk membela diri.

Ada banyak sekali aliran pencak silat di tanah air Indonesia, salah

satunya adalah pencak silat khas Betawi. Pencak silat Betawi atau maen

pukulan, memiliki peranan sangat penting dalam kancah penccak silat

nasional. Mengingat hampir separuh dari sekitar 600-800 aliran atau

perguruan yang ada di Indonesia berasal dari Jakarta. Ada sekitar 317 aliran

maen pukulan di tanah Betawi, yang merupakan pengembangan dari sekitar

100-200 pecahan aliran dari aliran inti. Jumlah 317 aliran tersebut

merupakan data yang dimiliki PPS (Perguruan Pencak Silat) Putra Betawi,

(53)

inti itu didasarkan atas karakter dan bentuk maen pukulan, yang terdiri dari

gerak cepat, gerak rasa, gerak kuat, gerak teguh, dan gerak rasa.49

2. Manfaat pencak Silat

Pencak silat merupakan bagian dari budaya bangsa Indonesia yang

bernilai luhur. Nilai-nilai luhur pencak silat terkandung dalam jati diri yang

meliputi 3 hal pokok sebagai satu kesatuan, yaitu budaya Indonesia sebagai

jiwa dan sumber motivasi penggunaannya, pembinaan mental spiritual/ budi

pekerti, bela diri, seni, dan olahraga sebagai aspek integral dan

substansinya.

R. Asikin mengatakan bahwa fungsi atau manfaat pencak silat bukan

untuk berkelahi semata, tetapi untuk:

a. olahraga, di dalam pencak silat terdapat unsur-unsur olahraga untuk

menyehatkan badan. Tidak sedikit para atlet silat yang memiliki badan

sehat, dikarenakan dengan silat kita dapat merenggangkan otot-otot

yang tegang, sehingga otot-otot tersebut menjadi kuat. Jadi, jelas disini

bahwa pencak silat itu mengandung unsur olahraga.

b. Kesenian, dalam gerakan pencak silat banyak sekali mengandung

gerakan-gerakan tarian. Tiap aliran pun memiliki gerakan atau tarian

yang berbeda-beda, tergantung asal aliran pencak silat tersebut. Jadi

(54)

dengan kita berlatih silat, secara tidak langsung kita melestarikan

kesenian bangsa Indonesia.

c. Pendidikan, di dalam pelatiahn pencak silat terdapat proses latih-melatih

jurus silat. Ada orang yang melatih dan ada juga orang yang dilatih.

Dalam penyampaiannya, materi pelatihan sangat beragam, tergantung

kepada pengalaman dan pengetahuan si pelatih itu sendiri.

d. Membela diri, suda sangat jelas bahwa silat bukan untuk berkelahi tetapi

untuk membela diri. Ali Sabeni mengatakan bahwa pencak silat bukan

untuk berkelahi atau mencari musuh, melainkan untuk membela diri jika

ada yang menyerang.50

3. Silat sebagai dakwah dan mental spritual

Silat sebagai seni budaya yang sudah ada sejak dahulu memberikan

cerita tersendiri, di antaranya adalah silat sebagai media dakwah oleh para

ulama dalam menyebarkan ajaran Islam di bumi Nusantara. Untuk menarik

minat masyarakat, dalam silat yang diajarkan oleh para ulama umumnya

memiliki muatan nilai keislaman.

Namun, tidak semua perguruan pencak silat memiliki dan

mengajarkan pencak silat mental spritual. Perguran pencak silat yang

menajarkan pencak silat mental spiritual tidak ditampilkan secara tersendiri,

tetapi bersama-sama atau terpadu dengan cabang pencak silat lain yang

(55)

diajarkan oleh perguruan pencak silat tersebut sebagai bagian yang terpadu.

Dalam hal ini, pencak silat merupakan pelengkap tetapi sangat penting dari

cabang pencak silat lain yang tampilannya merupakan penc

Referensi

Dokumen terkait