AKTIVITAS DAKWAH H. SANUSI DENGAN KOMUNIKASI PERSUASIF DI PERGURUAN PENCAK SILAT PUSAKA DJAKARTA
Skripsi
Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh
Gelar Sarjana Sosial (S.Sos)
Disusun Oleh: Achmad Faizal Riwanto
NIM: 1112051000155
JURUSAN KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM FAKULTAS ILMU DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
i ABSTRAK Achmad Faizal Riwanto
Komunikasi Persuasif Dalam Aktivitas Dakwah di Perguruan Pencak Silat Pusaka Djakarta
Dakwah dapat menggunakan media apa saja tanpa terkecuali seni beladiri pencak silat. Pada perakteknya seni beladiri pencak silat mengandung nilai-nilai luhur yang merujuk pada ajaran Islam. Perguruan pencak silat Pusaka Djakarta merupakan perguruan silat beraliran gerak cepat yang berasal dari Betawi. Perguruan ini selalu menerapkan nilai-nilai dakwah islam dalam setiap gerakan, visi, misi, dan sebagai pedoman perguruan silat tersebut. Cara paling tepat dalam penyampaian materi dakwah agar terlihat menarik adalah dengan menggunakan komunikasi persuasif, karena ia merupakan sarana dalam penyampaian pesan yang dilakukan dengan suatu ajakan atau seruan tanpa merasa dipaksa. Metode komunikasi persuasif inilah yang digunakan H. Sanusi (babe Uci) dalam aktivitas dakwahnya di Perguruan pencak silat Pusaka Djakarta.
Hasil Penelitian ini menampilkan aktivitas-aktivitas dakwah yang ada di Perguruan Pencak Silat Pusaka Djakarta (PSPD). Dalam dakwahnya Perguruan Silat ini menggunakan metode dakwah bil lisan dan bil hal. Dari hasil pengamatan peneliti, babe Uci selain sebagai pendiri PSPD juga sering memberikan pesan dakwah secara persuasif kepada muridnya. Hal inilah yang membedakan Perguruan Silat Pusaka Djakarta dengan Perguruan Silat lainnya.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan masuk kedalam jenis penelitian deskriptif. Dimana penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran mengenai suatu fenomena secara detil.
Teori yang digunakan dalam penelitian kali ini adalah teori komunikasi persuasif dari Jalaludin Rahmat, yaitu Komunikasi Persuasif didefinisikan sebagai proses mempengaruhi dan mengendalikan pendapat, perilaku, dan tindakan orang lain melalui pendekatan manipulasi psikologis sehingga orang tersebut bertindak seperti atas kehendaknya sendiri. Proses itu sendiri adalah setiap gejala atau fenomena yang menunjukan suatu perubahan yang terus menerus dalam konteks waktu, setiap pelaksanaa atau perlakuan secara terus-menerus.
Adapun pertanyaan dalam penelitian ini yaitu, aktivitas dakwah apa saja yang terdapat di Perguruan Pencak Silat Pusaka Djakarta?,bagaimana bentuk komunikasi persuasif H. Sanusi dalam aktivitas dakwah di perguruan pencak silat Pusaka Djakarta?, apa faktor pendukung dan penghambat aktivitas dakwah H. Sanusi dengan komunikasi persuasif di Perguruan Pencak Silat Pusaka Djakarta?
ii
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, puji dan syukur marilah kita panjatkan kehadirat Allah SWT, yang selalu mencurahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga pada akhirnya
penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Aktivitas Dakwah H. Sanusi
dengan Komunikasi Persuasif di Perguruan Pencak Silat Pusaka Djakarta”.
Shalawat serta salam semoga selalu tercurah bagi junjungan besar nabi Muhammad
SAW, yang telah membawa umat manusia kepada jalan kebenaran.
Adapun skripsi ini merupakan tugas akhir yang disusun guna memenuhi
salah satu persyaratan yang telah ditentukan dalam menempuh program studi Strata
Satu (S1) Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam, Fakultas Ilmu Dakwah dan
Ilmu Komunikasi, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Dalam hal
ini, penulis tentu menyadari bahwa skripsi ini tidak akan mampu terselesaikan tanpa
bantuan dari pihak lain yang telah memberikan bimbingan, nasihat, serta motivasi
baik secara moral maupun material. Oleh karenanya, penulis hendak
menyampaikan ucapan terima kasih kepada:
1. Dr. H. Arief Subhan, M.A, Dekan Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu
Komunikasi.
2. Drs. Masran, M.A, Ketua Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam.
3. Fita Fathurokhmah SS, M.Si, Sekertaris Jurusan Komunikasi dan
iii
4. Artiarini Puspita Arwan, M.Psi, Dosen pembimbing yang telah
meluangkan waktunya guna memberikan bimbingan, arahan serta
inspirasi yang amat berharga bagi penulis.
5. Seluruh Dosen Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi yang telah
memberikan berbagai pengarahan, pengalaman, serta bimbingan kepada
penulis selama dalam masa perkuliahan.
6. Segenap Pimpinan serta Karyawan Perpustakaan Utama dan
Perpustakaan Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi yang telah
melayani penulis dalam menggunakan buku-buku serta literatur yang
penulis butuhkan selama penyusunan skripsi ini.
7. Kedua orangtua tercinta, Suyanto dan Hj. Badriah, yang selalu menjadi
inspirasi serta memberikan dukungan baik secara moral maupun
material kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
8. Adik saya Mochammad Raihan Budiman yang selalu memberikan
dukungan serta motivasi kepada penulis.
9. Tante saya Lia Hilalia yang sudah saya anggap seperti ibu sendiri.
Beliau juga yang selalu mengingatkan saya untuk segera menyelesaikan
skripsi dan cepat lulus.
10.H. Sanusi, Guru Besar di Perguruan Silat Pusaka Djakarta, narasumber
yang sudah mau memberikan banyak pencerahan kepada penulis untuk
menyelesaikan skripsi ini.
11.Para sahabat Coeg Brotherhood, Soniatul Fallah, Mulla Sadra, Zulfikar
iv
Sastrawijaya yang dengan candaan dan bantuan mereka bisa
menenangkan pikiran dan hati penulis dikala sulit mengerjakan skripsi
ini.
12.Ahmad Sauqi dan Muhammad Soleh yang selalu siap membantu
kapanpun dan di manapun, sehingga skripsi ini bisa selesai.
13.Para Dewan pelatih di Perguruan Pencak Silat Pusaka Djakarta yang
sudah banyak memberikan masukan maupun kritiknya agar skripsi ini
bisa dipakai sebagaimana mestinya.
14.Ridho Falah Adli, Arif Faturrahman, Taufik Abdullah, Muhammad
Aidillah Putra, Dityan Zahra Pranisa, dan Annisah Bilqis sahabat
perkuliahan super, yang selalu memberikan motivasi serta suka duka
selama 4 tahun masa kuliah.
15.Para pemain futsal anti kejuaraan, Akbar Ramadhan, Giovanni, Ahmad
Fikri, Arif Syahrizal, Fahmi Syamsi, Ridho Andriansyah, Ferdy Rizki,
Rahmat Agung, Trisaka Octarian, Indra Ramadhan, dan Asep
Hermawan tetaplah mencari keceriaan dalam setiap permainan.
16.Kawan senasib sejak semester awal, Milki Amirussaleh, Hilman
Zulfahmi, Hidayatul Munir, Nirma Sugiarti, dan Imas hayati Nufus yang
selalu berbagi kesulitan maupun kebahagiaan.
17.Para keluarga kecil KPI E angkatan 2012 terimakasih sudah mengisi
warna kehidupan penulis 4 tahun terakhir, tanpa kalian kuliah mungkin
v
18.Keluarga Besar KPI angkatan 2012 serta kakak-kakak senior dan
adik-adik junior yang sudah memberikan inspirasi kepada peneliti.
19.Keluarga besar KKN Share 2015 serta Keluarga Besar Desa Pasir
Gintung, semoga tali silaturahmi tetap tersambung di antara kita.
20.Keluarga besar Teras KPI, yang selalu menjadi tempat bagi penulis
dalam menyalurkan hobi sekaligus mengasah kempuan penulis.
21.Orang-orang yang telah memberikan dukungan dan membaca skripsi ini
yang mohon maaf belum dapat saya cantumkan namanya.
Penulis berharap semoga skripsi ini mampu memberikan manfaat bagi para
pembaca khususnya mahasiswa Program Studi Komunikasi Penyiaran Islam,
Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Demikianlah pengantar yang dapat penulis sampaikan, akhir kata penulis mohon
maaf jika terdapat kesalahan penulisan dalam skripsi ini.
Jakarta, Desember 2016
vi
DAFTAR ISI
ABSTRAK ...i
KATA PENGANTAR ...ii
DAFTAR ISI ...vi
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Fokus Penelitian ... 6
C. Rumusan Masalah ... 7
D. Tujuan dan Kegunaan Penelitian ... 7
1. Tujuan penelitian ... 7
2. Manfaat penelitian ... 8
E. Tinjauan Pustaka ... 8
F. Metodologi Penelitian ... 10
1. Metode Penelitian ... 10
2. Lokasi Penelitian ... 12
3. Sumber Data ... 12
4. Teknik Pengumpulan Data ... 13
5. Teknik Analisis Data ... 14
G. Sistematika Penulisan ... 16
BAB II LANDASAN TEORI A. Ilmu Komunikasi ... 17
1. Pengertian Komunikasi ... 17
2. Fungsi dan Tujuan Komunikasi ... 19
3. Jenis-Jenis Komunikasi ... 23
B. Komunikasi Persuasif ... 26
1. Pengertian Komunikasi Persuasif ... 26
2. Metode Komunikasi Persuasif ... 27
3. Unsur-unsur Komunikasi Persuasif ... 30
4. Strategi Komunikasi Persuasif ... 32
C. Aktivitas Dakwah ... 33
vii
2. Pengertian Dakwah ... 34
3. Unsur-unsur dakwah ... 36
c. Materi dakwah ... 38
d. Metode dakwah ... 39
D. Pencak Silat ... 40
1. Pengertian Pencak Silat ... 40
2. Manfaat pencak Silat ... 42
3. Silat sebagai dakwah dan mental spritual ... 43
BAB III GAMBARAN UMUM PERGURUAN PENCAK SILAT PUSAKA DJAKARTA A. Sejarah Pencak silat Betawi ... 45
B. Sejarah Perguruan Pencak Silat Pusaka Djakarta ... 47
C. Makna Logo Pusaka Djakarta ... 51
D. Visi dan Misi Perguruan Pencak Silat Pusaka Djakarta ... 51
E. Tujuan Perguruan Silat Pusaka Djakarta... 52
F. Profil Guru Besar dan Struktur Perguruan Pencak Silat Pusaka Djakarta . 54 BAB IV HASIL ANALISIS DATA A. Data Narasumber Penelitian ... 61
B. Aktivitas Dakwah di Perguruan Pencak Silat Pusaka Djakarta ... 62
a. Dakwah Bil Lisan (Menggunakan Perkataan) ... 64
b. Dakwah Bil Hal (Dakwah Menggunakan Kegiatan) ... 66
C. Aktivitas Dakwah H. Sanusi Dengan Komunikasi Persuasif di Perguruan Pencak Silat Pusaka Djakarta ... 70
D. Faktor Pendukung Dan Penghambat Komunikasi Persuasif Dalam Aktivitas Dakwah di Perguruan Pencak Silat Pusaka Djakarta ... 82
1. Faktor Pendukung ... 82
2. Faktor Penghambat ... 86
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ... 90
B. Saran ... 91
1 BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Dakwah dapat menggunakan media apa saja tanpa terkecuali seni
beladiri pencak silat
.
Olahraga seni beladiri pencak silat adalah khasanah budaya dan budaya bangsa.
Pencak silat mengandung banyak nilai-nilai luhur di dalamnya, di antaranya dengan banyak memasukan nilai-nilai Islamdalam perjalanannya
.
Misalnya, selalu berwudhu dan berdoa sebelum melakukan latihan silat.
Di dalam silat mereka menemukan nilai spiritual yang lebih
mendekatkan diri kepada Allah Swt, dapat pula melatih kepekaan indrawi,
mengolah kelebihan dan kelenturan anatomi tubuh dan mempelajari
sebanyak-banyaknya pertanda alam yang ada di sekeliling
.
Banyak hal postif yang didapat dari pencak silat, pembentukan
mental yang kuat dengan kepribadian yang baik menjadi tujuan utama
.
Pada dasarnya pencak silat merupakan sebuah seni, yang banyak mengajarkankepada kita tentang hidup yang seimbang dan sederhana
.
Ada beberapa kegiatan yang memiliki nilai spiritual dalam pencak silat, diantaranya:pengajian seriap malam jum’at yang menjadi jadwal rutin setiap
Hal yang positif inilah yang membuat masyarakat umumnya dan
anak-anak usia dini khususnya merasa harus mendalami pencak silat
.
Selain untuk melindungi diri dari tindakan kejahatan, juga menjaga jiwa dariperbuatan yang dilarang agama
.
Perguruan pencak silat Pusaka Djakarta merupakan perguruan
pencak silat beraliran gerak cepat yang berasal dari betawi, selalu
menerapkan nilai-nilai dakwah Islam dalam setiap gerakan, visi, misi, dan
sebagai pedoman dalam perguruan silat tersebut. Sesuai dengan motto
perguruan “belajar untuk ibadah, istiqomah untuk jaga amanah”, selain
untuk belajar ilmu bela diri, pencak silat Pusaka Djakarta juga selalu
mengajarkan ajaran-ajaran Islam dalam setiap latihannya, seperti berwudhu
dan salat sunnah dua rakaat serta berdoa sebelum memulai latihan rutin.
Menurut H. Sanusi (babe Uci), pendiri dan guru besar Pusaka
Djakarta, berwudhu, solat sunnah dua rakaat, serta berdoa sebelum latihan
silat bertujuan agar pesilat selalu ingat dalam batin dan pikiran mereka
bahwa berlatih silat bukan untuk menjadi jagoan dan mencari musuh.
Berlatih silat bertujuan untuk membela diri dan mendekatkan diri kepada
Allah Swt serta menjain silaturahmi antara pesilat lainnya. Hal tersebut
sudah H. Sanusi atau babe Uci terapkan semenjak beliau pertama kali
mendirikan perguruan Pencak Silat Pusaka Djakarta.
Perguruan pencak silat Pusaka Djakarta menggunakan beberapa
metode dalam aktivitas dakwahnya, diantaranya adalah dakwah bil lisan
beberapa kegiatan yang berhubungan dengan dakwah islam). Kedua metode
tersebut digunakan H. Sanusi atau babe Uci dalam menyampaikan
dakwahnya kepada murid-murid di perguruan pencak silat Pusaka Djakarta.
Penjelasan di atas sangat jelas bahwa penyampaian dakwah Islam
tak selalu harus lewat majelis atau pengajian tetapi juga bisa melalui pencak
silat. Karena sesungguhnya Islam telah memberi kemudahan bagi seluruh
pemeluknya yang ingin menyebarluaskan seluruh perintah dan larangan
Allah SWT khususnya, bagi para juru dakwah
.
Allah memberikan kebebasan dalam menyampaikan pesan dakwah dengan berbagai metodedakwah, serta saluran yang dipergunakan dalam menyampaikan
pesan-pesan agama
.
Dalam Surat An-Nahl ayat 125, Allah berfirman:Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara
yang baik
.
Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapatSeiring perkembangan zaman, da’i-da’i harus semakin kreatif untuk
menyampaikan pesan dakwah di masyarakat
.
Kehadiran dakwah dalam kehidupan sehari-hari kini memiliki porsi yang besar, terlebih ketika mediaelektronik mulai menayangkan beberapa acara yang bersifat dakwah, seperti
sinetron maupun pengajian yang tidak hanya ditayangkan ketika bulan
Ramadhan saja
.
Walaupun demikian, bukan berarti dakwah dengan menggunakan metode tradisional ditinggalkan.
Justru dakwah dengan menggunakan metode tradisional memiliki porsi tersendiri di dalamnya.
Metode tradisional dalam berdakwah di antaranya dengan mengadakan
pengajian dari rumah-kerumah maupun menggunakan media masjid atau
majelis sebagai tempat berdakwah
.
Para ulama terdahulu menggunakan metode dakwah dengan mendatangi tempat-tempat yang yang dapatdigunakan untuk berdakwah sehingga dapat langsung berhadapan dengan
mad’unya
.
Cara paling tepat dalam penyampaian materi dakwah agar terlihat
menarik adalah dengan menggunakan komunikasi persuasif, karena ia
merupakan sarana dalam penyampaian pesan dapat dilakukan dengan suatu
ajakan atau seruan tanpa merasa dipaksa. Karena sesunguhnya dakwah
bukanlah propaganda yang memaksakan kehendak orang lain. Dengan
demikian, kegiatan dakwah pada dasarnya sebagai suatu proses komunikasi
perubahan perilaku seseorang menjadi lebih baik dari sebelumnya, karena
dengan komunikasi seseorang dapat menyampaikan apa yang ada dalam
pikiran dan perasaannya kepada orang lain dan dapat memberikan hiburan,
memberikan inspirasi, meyakinkan atau mengajak untuk berbuat sesuatu.
Kegiatan komunikasi dapat diterima dengan baik dan mendatangkan
hasil yang diinginkan, baik secara verbal atau nonverbal pesan dirumuskan
dalam bentuk yang tepat, disesuaikan, dipertimbangkan berdasarkan
keadaan penerima, hubungan pengirim dan penerima dan dengan situasi
waktu komunikasi dilakukan.
Secara spesifik, kebersamaan dalam komunikasi mengandung sifat
persuasif, yang artinya bahwa komunikasi merupakan upaya mempengaruhi
orang lain dalam usaha mengubah perilaku seseorang yang hendak kita
inginkan, karena bujukan, rayuan merupakan ciri khas yang menandai pada
tingkatan paling mendasar.1
Situasi komunikasi yang harus dilakukan adalah upaya seseorang
untuk mengubah tingkah laku orang lain atau sekelompok orang lain
melalui penyampaian beberapa pesan. Komunikasi persuasif disini sangat
erat hubungannya dengan pengontrolan tingkah laku. Dengan kata lain
mengubah tingkah laku seseorang dengan cara memberi
penjelasan-penjelasan yang memungkinkan orang lain atau komunikan dapat
mengikutinya dengan sadar tanpa paksaan.
Komunikasi persuasif selain sebagai sarana penyampaian pesan, ia
pun merupakan sarana penyampaian materi dakwah agar selalu menarik,
aktual, dan mempunyai efek pesan terhadap komunikator maupun
komunikannya. Sehingga secara cara penyampaian dakwah melalui
komunikasi persuasif dapat dilakukan dimanapun tanpa terkecuali di
perguruan pencak silat. Sehingga komunikasi persuasif tersebut mempunyai
ciri khas tersendiri.
Berdasarkan uraian latar belakang dan uraian pokok pikiran diatas,
penulis tertarik untuk melakukan pengkajian dan penelitian secara
mendalam dan selanjutnya dijadikan sebagai pembahasan skripsi dengan
judul: “Aktivitas Dakwah H. Sanusi dengan Komunikasi Persuasif di Perguruan Pencak Silat Pusaka Djakarta”.
B. Fokus Penelitian
Dilihat dari latar belakang diatas, maka penelitian ini fokus pada
segala macam bentuk aktivitas dakwah H. Sanusi dengan komunikasi
persuasif di Perguruan Pencak Silat Pusaka Djakarta
.
Adapun sub fokusnya adalah metode dan cara penyampaian dakwah kepada para anggota yangC. Rumusan Masalah
Perumusan masalah diambil dari latar belakang diatas maka dibuat
rumusan masalah sebagai berikut:
1. Aktivitas dakwah apa saja yang dilakukan H. Sanusi di
Perguruan Pencak Silat Pusaka Djakarta?
2. Bagaimana komunikasi persuasif dalam aktivitas dakwah H.
Sanusi di Perguruan Pencak Silat Pusaka Djakarta?
3. Apa faktor pendukung dan penghambat komunikasi persuasif
dalam aktivitas dakwah H. Sanusi di Perguruan Pencak Silat
Pusaka Djakarta?
D. Tujuan dan Kegunaan Penelitian
Sesuai dengan pembatasan dan perumusan yang sudah dipaparkan
di atas maka tujuan dan manfaat yang ingin dicapai dari penelitian skripsi
ini sebagai berikut:
1. Tujuan penelitian
a. Untuk mengetahui dan menggambarkan komunikasi persuasif
seperti apa dalam aktivitas dakwah yang dilakukan H. Sanusi di
Perguruan Pencak Silat Pusaka Djakarta
.
b. Untuk mengetahui dan mendapatkan informasi yang objektif
mengenai hambatan dan kendala terhadap komunikasi persuasif
dalam aktivitas dakwah yang dilakukan H. Sanusi di Perguruan
2. Manfaat penelitian
a. Manfaat akademis, hasil penelitian diharpakan mampu memberikan
kontribusi positif dalam menunjang berbagai analisis studi-studi
kesenian dan bela diri dalam era sekarang ini, yang mana studi dan
analisis itu dikaitkan dengan komunikasi persuasif dalam aktivitas
dakwah pada masyarakat
.
b. Secara praktis, dengan adanya penelitian ini semoga dapat
meningkatkan mutu dan kualitas dalam kegiatan dakwah di
Perguruan Pencak Silat Pusaka Djakarta
.
Selain itu, hasil penelitian ini diharakan dapat memberikan
sumbangan teoritis bagi pengembangan dakwah melalui seni bela diri
.
E. Tinjauan Pustaka
Dalam penulisan skiripsi ini, penulis telah mengkaji beberapa
penelitian terdahulu yang berkaitan dengan judul peneliti yaitu, komunikasi
persuasif dalam aktivitas dakwah di perguruan pencak silat pusaka djakarta
.
Dari situ penulis menemukan beberapa skripsi yang memiliki kesamaan dan
perbedaan dengan judul yang penulis ambil, berikut adalah tinjauan
pustakanya:
Skripsi karya Yusra, terdapat kesamaan subjek dan metode
membedakan adalah objek penelitiannya yaitu komunikasi persuasif
Geuchik dalam pembinaan taraf hidup masyarakat Gampong Bili Sa,
Kecamatan Bireum Bayeun.2
Skripsi karya Muhammad Farhan, terdapat kesamaan subjek dan
metode penelitian yaitu komunikasi persuasif dan metode kualitatif
deksriptif. Yang membedakan adalah objek penelitiannya yaitu komunikasi
persuasif pada rubrik “perjalanan menjadi Kyai” di surat kabar Minggu
pagi.3
Pada skirpsi karya Afifah, terdapat kesamaan konsep dan
metodologi yang dipilih
.
Affifah disini menggunakan konsep tentang aktivitas dakwah dengan menggunakan metode kualitatif.
Perbedaan dengan skripsi penulis adalah dari objek penelitiannya, Afifah fokus padaaktivitas dakwah perguran pencak silat beksi Ciganjur
.
4Selanjutnya pada skripsi karya A
.
Samsul Anwar, terdapat kesamaan pada konsep dan metodologi yang dipilih, yaitu aktivitas dakwahdengan menggunakan metode kualitatif
.
Perbedaan dengan skripsi penulis
2 Yusra, Komunikasi Persuasif Geuchik dalam Peningkatan Taraf Hidup Masyarakat Gampong Paya Bili Sa, Kecamatan Bireum Bayeun, Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam, Fakultas Dakwah, Sekolah Tinggi Islam Agama Islam (STAIN) Zawiyah Cot Kala Langsa, 2013.
3 Muhamad Farhan, Ko u ikasi Persuasif Pada Rubrik Perjala a Me jadi Kyai di Surat Kabar Minggu Pagi, Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam, Fakultas Ilmu Dakwah dan Komunikasi, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2010.
4 Afifah, Aktivitas Dakwah Perguruan Pencak Silat Beksi Betawi Ciganjur, Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam, Fakultas Ilmu Dakwah dan Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah
adalah dari objek penelitiannya, Samsul fokus pada aktivitas dakwah Hizbut
Tahrir Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Bogor
.
5F. Metodologi Penelitian 1. Metode Penelitian
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan pendekatan kualitatif,
yakni penelitian yang dilalui dengan proses observasi, pengumpulan data
yang akurat berdasarkan fakta dilapangan disertai wawancara dengan
narasumber
.
“Penelitian kualitatif dilakukan dama situasi yang wajar(natural setting) dan data yang dikumpulkan umumnya bersifat kualitatif
.
6Sementara metode yang peneliti gunakan dalam penelitian ini adalah
metode deskriptif kualitatif
.
Metode deskriptif kualitatif hanyalah memaparkan situasi atau peristiwa.
Penelitian ini tidak mencari atau menjelaskan hubungan, tidak menguji hipotesa atau membuat prediksi.
Ciri dari metode deskriptif ini ialah titik berat pada observasi dan suasanaalamiah (naturalis setting)
.
7
5 Samsul Anwar, Aktivitas Dakwah Hizbut Tahrir Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Bogor, Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam, Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta, 2010
.
6Jumroni dan Suhaimi, Metode-Metode Penelitian Komunikasi, (Ciputat: UIN Jakarta
press, 2006), hal
.
41.
7Jalaludin Rahmat, Metode Penelitian Komunikasi, (Bandung
.
PT.
Remaja Rosdakarya,Metode ini digunakan untuk menghimpun data yang aktual
.
Keinginan yang dilakukan dalam pengumpulan data dengan
menggambarkan keadaan yang sebenarnya terjadi dalam perguruan pencak
silat tersebut
.
Keadaan yang peneliti gambarkan sesuai dengan judul yang diangkat.
Penelitian ini mengunnakan analisis kualitatif bersifat deskriptif.
Data yang dihasilkan berupa data dan apa yang didapat bedasarkan hasil
penelitian
.
Dalam hal ini peneliti membuat deskriptif tentang bagaimana
penyampaian dakwah H. Sanusi dapat diaplikasikan dalam proses pelatihan
pencak silat di Perguran Pencak Silat Pusaka Djakarta
.
Metode penelitian deskrtiptif kualitatif dipilih karena peneliti mengidentifikasi sertamendeskripsikan masalah-masalah yang berkenaan dengan segala bentuk
aktifitas dakwah H. Sanusi dengan komunikasi persuasif di Perguruan
Pencak Silat Pusaka Djakarta
.
Adapun dalam penelitian ini juga menggunakan tradisi fenomologi.
Dalam tradisi ini, fenomologi berpandangan bahwa manusia secara aktif
menginterpretasikan pengalaman mereka, sehingga mereka dapat
memahami lingkungan
.
Tradisi fenomologi memberikan penekanan sangat kuat pada
persepsi dan interpretasi dari pengalaman subjektif manusia. Pendukung
penting dan memiliki otoritas lebih besar daripada hipotesa penelitian
sekalipun.8
Dengan menggunakan tradisi fenomenologi peneliti ingin menggali
lebih dalam bagaiamana pengalaman H. Sanusi (babe Uci) mendirikan
perguruan pencak silat sejak 1957 hingga sekarang dan memiliki ratusan
murid. Selain itu juga untuk menambah refrensi dalam penulisan skripsi
komunikasi persuasif dalam aktifitas dakwah di Perguruan pencak silat
Pusaka Djakarta.
2. Lokasi Penelitian
Bedasarkan latar belakang Penelitian ini di sanggar pusat Perguruan
Pencak Silat Pusaka Jakarta, yang beralamat di Jln
.
Swadaya III, Manggarai, Jakarta Selatan.
3. Sumber Data
Data yang akan dikumpulkan dalam penelitian ini berasal dari
berbagai sumber yaitu:
a. Data premier adalah data yang langsung dikumpulkan oleh peneliti
.
Untuk itu data premier dilakukan dengan mengadakan wawancara,
observasi dan penelusuran dokumen yang dilakukan peneliti di
Sanggar Perguruan Pencak Silat Pusaka Djakarta
.
b. Data Sekunder adalah data yang diperoleh penulis dari buku-buku,
artikel, dan bahan informasi lain yang berkaitan dengan masalah
penelitian
.
4. Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini, teknik pengumpulan data yang digunakan oleh
peneliti adalah:
a. Observasi
Observasi adalah melakukan pengumpulan langsung untuk
memperoleh data yang diperlukan
.
9 Peneliti mengawasi dengancermat setiap perkembangan yang berkaitan dengan penelitian ini
.
Data yang akan diperoleh adalah segala bentuk aktifitas dakwah H.
Sanusi dengan komunikasi persuasif di perguruan pencak silat
Pusaka Djakarta
.
Dalam penelitian ini, peneliti mengadakan pengamatan pada bagaimana metode dakwah dan cara-carapenyampaiannya guna memberikan siraman rohani kepada para
anggota pencak silat Pusaka Djakarta
.
9Lexy Meleong
.
M.
A.
Metedologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT Remaja Rosdab. Wawancara
Dalam wawancara ini peneliti akan melakukan wawancara
dengan sejumlah pihak yang berkaitan dengan penelitian ini
.
Peneliti akan melakukan wawancara terhadap pendiri sekaligus
pimpinan, guru besar, ustadz/ pelatih, dan anggota Perguruan
Pencak Silat Pusaka Djakarta
.
Peneliti akan melakukan wawancara dengan Bapak H.
Sanusi selaku pendiri sekaligus guru besar pencak silat Pusaka Djakarta, dan Soniatul Fallah sebagai pelatih PencakSilat Pusaka Djakarta cabang Buncit Pulo
.
Dalam proses wawancara, peneliti menggunakan beberapa media pendukung yaitutape recorder, alat tulis, camera digital, handphone
.
c. Dokumentasi
Pada tahap dokumentasi, peneliti mengumpulkan
buku-buku, majalah, berkas-berkas, dan juga artikel-artikel dari internet
yang berkaitan dengan Perguruan Pencak Silat Pusaka Djakarta
.
5. Teknik Analisis Data
Penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research) dalam penelitian ini peneliti menggunakan pendekatan kualitatif yang bersifat
deskriptif yang berupa kata-kata tertulis atau lisan dari subjek yang
dapat diamati
.
Pada tahapan ini penafsiran temuan melalui kerangka konsep
merupakan upaya memperoleh arti dan makna yang lebih mendalam dan
luas terhadap hasil penelitian yang sedang dilakukan
.
Pembahasan hasil penelitian dilakukan dengan cara meninjau hasil penelitian secara kritisdengan teori yang relevan dan informasi yang diperoleh dari lapangan
.
Analisis data dalam penelitian kualitatif merupakan proses yang
terus menerus dilakukan seiring dilakukannya pengumpulan data
.
Analisis data dilakukan untuk menarik kesimpulan
.
Analisis data menurut Moleong (2004) adalah proses mengorganisasikan data danmengurutkan data ke dalam pola katergori dan satuan uraian dasar
sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan menjadi hipotesis
kerja sesuai dengan pengolahan data
.
Analisis data dalam penelitian ini deskriptif kualitatif, yaitu
setelah data diklasifikasikan sesuai aspek data yang terkumpul lalu
ditafsirkan kembali secara logis
.
Dengan demikian akan tergambar sejauh manakah komunikasi persuasif dalam aktifitas dakwah dalamperguran pencak silat Pusaka Djakarta
.
dengan melihat data-data yang diperoleh penulis melalui observasi dan wawancara, setelah ituG. Sistematika Penulisan
1. Pendahuluan
Pada bab ini memaparkan latar belakang masalah ,batasan
masalah dan rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian,
metodelogi penelitian, dan sistematika penulisan
.
2. Kajian teoritisDalam bab ini memuat ruang lingkup teori tentang
pengertian komunikasi, pengertian persuasif, pengertian komunikasi
persuasif dan metode komunikasi persuasif, dakwah dan metode
dakwah, dan pencak silat.
3. Gambaran umum Perguruan Pencak Silat Pusaka Djakarta
Bab ini berisi profil Perguruan Pencak Silat Pusaka Djakarta
(PSPD), Profil itu sendiri terdiri atas sejarah singkat PSPD, Visi dan
Misi, serta struktur PSPD
.
4. Temuan dan hasil analisis data
Pada bab ini memuat deskripsi tentang aktivitas dakwah H.
Sanusi dengan komunikasi persuasif di Perguruan Pencak Silat
Pusaka Djakarta (PSPD)
.
5. Penutup
Pada bab ini meliputi kesimpulan dari hasil penelitian yang
17 BAB II
LANDASAN TEORI
A. Ilmu Komunikasi
1. Pengertian Komunikasi
Pengertian Komunikasi secara etimologis berasal dari bahasa latin,
yaitu communicatio. Istilah tersebut bersumber dari perkataan communis
yang artinya sama makna atau sama arti.10
Everet M. Rogers (1985) mengemukakan bahwa komunikasi adalah
proses dimana suatu ide dialihkan dari sumber kepada suatu penerima atau
lebih dengan maksud untuk mengubah tingkah laku mereka.11
Secara terminologi, istilah komunikasi adalah suatu tingkah laku,
perbuatan, atau kegiatan penyampaian atau pengoperan lambang-lambang,
yang mengandung arti atau makna, atau lebih jelasnya, suatu pemindahan
atau penyampaian informasi, mengenai pikiran, dan perasaan-perasaan.12
Menurut Hovlan, komunikasi dapat didefinisikan “as the process by which an individuals the communicator-transmitastimuli (ussualy verbal symbols) to modify the behavior of other individuals communicateest.”
Dengan mengkomunikasikan rangsangan dalam bentuk kata-kata terltulis
10 Suryanto, Pengantar Ilmu Komunikasi, (Bandung: Pustaka Setia, 2015), h. 14. 11 H. Hafied Cangara, Perencanaan & Strategi Komunikasi (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2013), h. 33.
atau lisan, komunikaor mampu mengubah perilaku individu atau
komunikan lainnya.13
Menurut Onong Uchayana, komunikasi berarti suatu proses
penyampaian suatu pesan seseorang kepada orang lain.14
Harold Laswell juga mendifinisikan komunikasi yang dituangkan di
dalam kata-kata “who says what to whom in what channel in what effect”, dengan pengertian sebagai berikut:
Who: merupakan sumber dari mana gagasan berkomunikasi itu dimulai dan
juga who disini dapat pula bermakna sebagai komunikator.
What: maksud says what di sini tak lain adalah pesan (message) yang disampaikan, dapat berubah buah pikiran, keterangan atau pernyataan
sebuah sikap.
Channel: adalah saluran yang menjadi medium (jamak dari media) dari
penyampain pesan tersebut sehingga dapat diterima oleh komunikan.
Whom: whom disini adalah komunikan, yaitu sasaran yang dituju oleh seorang komunikator untuk menyampaikan pesaanya.
Effect: adalah hasil dari komunikasi yang dilancarkan tersebut, diterimakah
atau ditolak.15
Dari beberapa pengertian diatas, penulis berkesimpulan bahwa
komunikasi merupakan proses transformasi pesan antara dua individu atau
lebih yang memiliki makna berupa simbol dalam bentuk kata(verbal),
13 Dr. M. Budayatna, MA, Dra. Nina Mutmainah, Komunikasi Antarpribadi, (Jakarta: Universitas Terbuka, 2002), h. 23.
gerakan (non-verbal) dengan efektif sehingga bisa dipahami dengan mudah
untuk tujuan tertentu.
2. Fungsi dan Tujuan Komunikasi
Komunikasi tidak hanya berkutat pada persoalan pertukaran berita
dan pesan, tetapi juga melingkupi kegiatan individu dan kelompok berkaitan
dengan tukar menukar data, fakta, dan ide. Menurut Onong Uchyana (1996),
ada beberapa fungsi yang melekat dalam proses komunikasi, yaitu sebagai
berikut:
a. Informasi, pengumpulan, penyimpanan, pemrosesan,
penyebaran berita, data, gambar, pesan, opini, dan komentar
yang dibutuhkan agar dapat dimengerti dan beraksi secara jelas
terhadap kondisi lingkungan dan orang lainsehingga mengambil
keputusan yang tepat.
b. Sosialisasi (pemasyarakatan), penyediaan sumber ilmu
pengetahuan yang memungkinkan orang bersikap dan bertindak
sebagai anggota masyarakat yang efektif sehingga sadar akan
fungsi sosialnya dan dapat aktif dalam masyarakat.
c. Motivasi, menjelaskan tujuan setiap masyarakat jangka pendek
ataupun jangka panjang, mendorong orang untuk menentukan
pilihan dan keinginannya, mendorong kegiatan individu dan
d. Debat dan diskusi, menyediakan dan saling menukar fakta yang
diperlukan untuk memungkinkan persetujuan atau menyeleaikan
perbedaan pendapat mengenai masalah publik, menyediakan
bukti-bukti relevan yang diperlukan untuk kepentingan umum
agar masyarakat lebih melibatkan diri dengan masalah yang
menyangkut kepentingan bersama.
e. Pendidikan, pengalihan ilmu pengetahuan dapat mendorong
perkembangan intelektual, pembentukan watak, serta
pembentukan keterampilan dan kemahiran yang diperlukan
dalam semua bidang kehidupan.
f. Memajukan kehidupan, menyebarkan hasil kebudayaan dan seni
dengan tujuan melestarikan warisan masa lalu, mengembangkan
kebudayaan dengan memperluas horizon seseorang serta
membangun imajinasi dan mendorong kreativitas dan kebutuhan
estetikanya.
g. Hiburan, penyebarluasan sinyal, simbol, suara, dan imaji dari
tari, drama, kesenian, kesusastraan, musik, olahraga,
kesenangan, kelompok, dan individu.
h. Integrasi menyediakan bagi bangsa, kelompok, dan individu
kesempatan untuk memperoleh berbagai pesan yang diperlukan
agar saling mengenal, mengerti, serta menghargai kondisi
pandangan dan keinginan orang lain.16
Pendapat lain mengatakan, bahwa komunikasi mempunyai tiga
fungsi sosial, yaitu:
a. Fungsi pengawasan, menunjukan pada upaya pengumpulan,
pengolahan, produksi dan penyebarluasan informasi mengenai
peristiwa-peristiwa yang terjadi baik di dalam maupun di luar
lingkungan suatu masyarakat. Upaya ini selanjutnya diarahkan
pada tujuan untuk mengendalikan apa yang terjadi di lingkungan
masyarakat. Misalnya, mencegah kekerasan, memlihara
ketrtiban dan keamanan.
b. Fungsi korelasi, menunjukan pada upaya memberitakan
interpretasi atau penafsiran informasi mengenai
peristiwa-peristiwa yang terjadi. Atas dasar interpretasi informasi ini
diharapkan berbagai kalangan atau sebagian masyarakat
mempunyai pemahaman, tindakan atau reaksi yang sama atas
peristiwa-peristiwa yang terjadi. Dengan kata lain, melalui
fungsi korelasi ini komunikasi diarahkan pada upaya pencapaian
konsesus (kesepakatan). Kegiatan yang demikian, lazim disebut
sebagai kegiatan propaganda. Misalnya pemberitaan surat kabar
yang isinya menyarankan agar warga masyarakat mau menerima
dan melaksanakan program Keluarga Berencana (KB).
c. Fungsi sosialisasi merujuk pada upaya pendidikan dan warisan
nilai-nilai, norma-norma, dan prinsip-prinsip dari satu generasi
lainnya. Misalnya pendidikan dan pewarisan mengenai
kemampuan berbahasa kepada anak-anak dan cucunya, kegiatan
pendidikan yang dilakukan oleh guru kepada murid-muridnya,
penyuluhan program KB kepada masyarakat.17
Dari berbagai penjelasan fungsi diatas, penulis menyimpulkan
bahwa komunikasi berfungsi sebagai instrumen untuk mencapai
tujuan-tujuan pribadi dan pekerjaan, baik tujuan-tujuan jangka pendek ataupun jangka
panjang. Tujuan jabgka pendek, misalnya memperoleh pujian,
menumbuhkan kesan yang baik, memperoleh simpati dan sebagainya.
Adapun jangka panjang dapat diraih melalui keahlian komunikasi, misalnya
keahlian berpidato, berunding, berbahasa asing, ataupun keahlian menulis.
Kedua tujuan tersebut berkaitan dalam arti bahwa berbagai pengelolaan
kesan itu secara kumulatif dapat digunakan untuk mencapai tujuan jangka
panjang berupa keberhasilan dalam karir, misalnya memperoleh jabatan,
kekuasaan, penghormatan sosial dan kekayaan.
R. Wayne Pace, Brent D. Peterson, dan M. Dallas Burnent, dalam
buku beliau yang berjudul “Teaching for Effective Communication” bahwa tujuan sentral komunikasi terdiri atas tiga tujuan, yaitu:
a. To secure understanding (untuk menyamakan pemahaman). b. To estasblish acceptance (membangun penerimaan).
c. To motivate action (memotivasi tindakan).18
17 Sasa Djuarsa Sendjaja, Pengantar Komunikasi, (Jakarta: Universitas Terbuka, 1999),h. 44-45.
Tujuan pertama dari komunikasi adalah to secure understanding
yaitu memastikan bahwa komunikan mengerti pesan yang diterimanya.
Setelah komunikan mengerti dan menerima maka penerimanya itu harus
dibina (to establish acceptance). Pada akhirnya kegiatan dimotivasikan (to motive action). Jadi, tujuan komunikasi bagimana suatu pesan dapat sampai dan diterima oleh komunikan sehingga menimbulkan efek tertentu.
Secara singkat dapat ditegaskan bahwa komunikasi bertujuan
mengharapkan pengertian, dukungan, gagasan, dan tindakan. Setiap akan
mengadakan komunikasi, komunikator perlu mempertanyakan tujuannya.19
3. Jenis-Jenis Komunikasi
Pengelempokan jenis-jenis komunikasi bertujuan untuk
membedakan antara bentuk satu komunikasi dan komunikasi yang lainnya
dengan tujuan efektifitas pesan komunikasi, terutama pada sasaran dan
media yang dipergunakan untuk menyampaikan pesan agar sesuai dengan
tujuan komunikasi.
Jenis komunikasi dapat dibedakan menjadi:
1. Komunikasi personal, terdiri atas:
a. Komunikasi intrapersonal;
b. Komunikasi interpersonal;
2. Komuniaksi publik.
3. Komunikasi massa.
a. Komunikasi intrapersonal
Komunikasi intrapribadi atau komunikasi intrapersonal adalah
proses penggunaan bahasa atau pikiran yang terjadi dalam diri komunikator,
antara diri sendiri. Jenis komunikasi ini merupakan keterlibatan internal
secara aktif dari individu dalam pemrosesan simbolis dari pesan-pesan yang
diproduksi melalui proses pemikiran internal individu.20
Aktivitas dari dari komunikasi intrapribadi yang dilakukan
sehari-hari dalam upaya memahami diri pribadi, diantaranya berdoa, bersyukur,
intropeksi diri dengan meninjau perbuatan, seperti melamun, merencanakan
aktivitas yang akan dilakukan, dan berimajinasi secara kreatif.
b. Komunikasi interpersonal
Komunikasi interpersonal atau komunikasi antarpribadi adalah
komunikasi antarindividu yang lain atau kurang lebih secara tatap muka
(face to face). Sebagaimana dinyatakan oleh R. Wayne Pace yang dikutip oleh Hafied Changara, “international communication involving to more
people in face to face setting.”21
Menurut sifatnya komunikasi antar pribadi dapat dibedakan menjadi
dua macam, yaitu komunikasi diadik dan komunikasi kelompok-kelompok
kecil. Adapaun yang dimaksud dengan komunikasi diadik adalah
komunikasi yang berlangsung dua orang secara tatap muka.
20 Suryanto, Pengantar Ilmu Komunikasi, h. 102.
Sedangkan komunikasi kelompok kecil adalah komunikasi yang
berlangsung anatara tiga orang atau lebih secara tatap muka yang
anggotanya antara satu sama lain saling berinteraksi.22
c. Komunikasi publik
Komunikasi publik adalah prsoes komunikasi yang terjadi antara
satu individu dengan khalayak yang banyak secara tatap muka seperti acara
pidato presiden, ceramah agama, khutbah jumat, dan pengajian majelis
ta’lim.
Dalam komunikasi publik penyampaian pesan berlangsung secara
kontinu dengan pembicara dan yang dapat diidentifikasi. Interaksi antara
narasumber dengan penerima pesaan sangat terbata. Hal ini karena waktu
yang digunakan sangat terbatas.23
d. Komunikasi massa
Komunikasi massa adalah jenis komunikasi dimana pesan yang
disampaikan secara langsung oleh komunikan, tapi melalui sebuah media
massa, seperti, radio, televisi, media cetak, dan internet.
Perbedaan komunikasi massa dengan komunikasi lain intinya adalah
sifat pesan dan komunikasi massa yang terbuka dengan khalayak yang
variatif baik dilihat dari segi agama, suku, pekerjaan, dan sebagainya.24
B. Komunikasi Persuasif
1. Pengertian Komunikasi Persuasif
Secara etimologi, persuasi adalah “meyakinkan, lunak, tanpa
kekerasan”. Sedangkan secara istilah persuasif dapat diartikan “sebuah
pendekatan untuk dapat meyakinkan, membujuk, dengan sebuah argumen
yang menguraikan suatu masalah atau keadaan yang dibuktikan dengan
data-data dan fakta-fakta yang bertujuan untuk memengaruhi dan agar
mereka mau mengikuti atau melakukan sebagaimana yang diharapkan.25
Jalaludin Rahmat dalam bukunya yang berjudul Psikologi
Komunikasi mengatakan bahwa komunikasi persuasif dapat didefinisikan
juga sebagai proses memengaruhi dan mengendalikan pendapat, perilaku,
dan tindakan orang lain melalui pendekatan manipulasi psikologis sehingga
orang tersebut bertindak seperti atas kehendaknya sendiri.26
Dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa komunikasi
persuasif adalah sebuah proses mempengaruhi sikap, pendapat, dan perilaku
orang lain, baik secara verbal maunpun non verbal. Proses itu sendiri adalah
setiap gejala atau fenomena yang menunjukan suatu perubahan yang terus
menerus dalam konteks waktu, setiap pelaksanaa atau perlakuan secara
terus-menerus. Ada dua persoalan yang berkaitan dengan pengunaan proses,
yakni persoalan dinamika objek, dan persoalan penggunaan bahasa.
25 Pius A. Partanto dan M. Dahlan Al Barry, Kamus Ilmiah Populer, (Surabaya: Penerbit Arkola, 1994), h. 593.
Komunikasi persuasif dapat dilakukan secara rasional dan secara
emosional. Dengan cara rasional, komponen kognitif pada diri seseorang
dapat dipengaruhi. Aspek yang dipengaruhi berupa ide ataupun konsep.
Sementara komunikasi persuasi secara emosional, biasanya menyentuh
aspek afeksi, yaitu hal yang berkaitan dengan kehidupan emosional
seseorang. Melalui cara emosional, aspek simpati dan empati seseorang
dapat digugah.27
Maksud komunikasi persuasif dalam kerangka dakwah adalah
komunikasi yang senantiasa berorientasi pada segi-segi psikologis mad’u
dalam rangka membangitkan kesadaran mereka untuk menerima dan
melaksanakan ajaran Islam.
2. Metode Komunikasi Persuasif
Seorang komunikator hendaknya membekali diri mereka dengan
teori-teori persuasif agar ia dapat menjadi komunikator yang efektif.
Sehubungan dengan proses komunikasi persuasif, terdapat beberapa teori
yang dapat digunakan sebagai dasar kegiatan yang dalam pelaksanaanya
bisa dikembangkan menjadi beberapa metode, anatara lain:28
a) Metode asosiasi: adalah penyajian pesan komunikasi dengan jalan menumpangkan pada suatu peristiwa yang
aktual, atau sedang menarik perhatian dan minat massa.
Metode ini secara umum sering dilakukan oleh kalangan
27 Soleh Soemirat, dkk, Komunikasi Persuasif (Universitas Terbuka, 2007) h. 4-5.
pebisnis atau para politikus. Popularitas figur-figur tertentu
dimanfaatkan dalam kerangka pencapaian tujuan-tujuan
tertentu.
b) Metode integrasi: kemampuan untuk menyatukan diri dengan komunikan dalam arti menyatukan diri secara
komunikatif, sehingga tampak menjadi satu, atau
mengandung arti kebersamaan dan senasib serta
sepenanggungan dengan komunikan, baik dilakukan secara
verbal maupun nonverbal. Contoh pada penggunaan kata
kita bukan kata saya atau kami. Kata kita berarti saya dan
anda. Hal ini mengandung makna bahwa yang
diperjuangkan komunikator bukan kepentingan diri sendiri
melainkan juga kepentingan komunikan.
c) Metode pay-off dan fear-arousing: yakni kegiatan mempengaruhi orang lain dengan jalan melukiskan hal-hal
yang menggembirakan dan menyenangkan perasaannya
atau memberi harapan (iming-iming), dan sebaliknya
dengan menggambarkan hal-hal yang menakutkan atau
menyajikan konsekuensi yang buruk dan tidak
menyenangkan perasaan.
d) Metode Icing: yaitu upaya menyusun pesan komunikasi sedemikian rupa sehingga enak didengar, atau enak dilihat
mengikuti apa yang disarankan oleh pesan tersebut. Metode
Icing dalam kegiatan komunikasi persuasif adalah seni menata pesan dengan imbauan-imbauan sedemikian rupa
sehingga menarik.
.
Wilbur Schramm di dalam bukunya “The Process and Effect of Mass
Communication,” mengemukakan bahwa berhasilnya komunikasi persuasif perlu dilaksanakan suatu persuasif yang biasa disebut AIDDA.29 Formula
AIDDA merupakan kesatuan dari tahapan-tahapan komunikasi persuasif, di
antara penjelasannya sebagai berikut:
a. Attention (perhatian) b. Interest (ketertarikan) c. Desire (keinginan) d. Action (kegiatan)
Formulasi AIDDA diatas didahului dengan upaya membangkitkan
perhatian. Apabila perhatian sudah terbangkit kini menyusul upaya
menumbuhkan rasa tertarik atau “minat” dalam mengutarakan hal-hal yang
menyangkut kepentingan komunikan, oleh karenanya seorang komunikator
terlebih dahulu harus mengenal siapa komunikan yang dihadapinya.
Selanjutnya memunculkan hasrat keinginan pada komunikasi untuk ajakan,
bujukan, dan rayuan. Di sini himbauan emosional perlu ditampilkan oleh
komunikator sehingga selanjutnya komunikan dapat mengambil keputusan
untuk melakukan suatu keinginan “kegiatan”, sebagaimana diharapkan oleh
komunikator.
3. Unsur-unsur Komunikasi Persuasif
Menurut Aristoteles, komunikasi dibangun oleh tiga usur yang
fundamental, yakni, orang yang berbicara, materi pembicarannya, dan orang
yang mendengarkannya. Aspek pertama yang disebut persuader atau komunikator, yang merupakan sumber komunikasi; aspek kedua adalah
pesan; aspek ketiga adalah persuadee atau komunikan, yang merupakan penerima komunikasi.
Persuader adalah sekelompok orang atau individu yang menyampaikan pesan dengan tujuan untuk mempengaruhi sikap, pendapat,
dan perilaku orang lain baik secara verbal maupun non- verbal. Oleh karena
itu seorang persuader harus memiliki nilai etos yang tinggi. Selain itu seorang komunikator juga harus memiliki sifat reseptif, yaitu bersedia menerima gagasan dari orang lain, selektif dalam menerima berbagai
informasi, digestif, yaitu mampu menerima berbagai gagasan, asimilatif
yaitu mampu menciptakan gagasan-gagasan baru yang orisinal sebagai
bahan untuk komunikasi, transitif, yaitu memiliki kemampuan meilih kata-kata yang funsional, mampu menyusun kata-kata secara logis, memilih waktu
yang tepat untuk komunikasinya dan lain-lain.
Dengan semikian tugas seorang komunikator dalam komunikasi
untuk meyampaikan pesannya agar dapat diterima oleh komunikan dengan
baik yang kemudian ia mampu melakukan saran yang diajukan oleh
komunikator.
Persuadee adalah orang/ sekelompok orang yang menjadi tujuan pesan itu disampaikan dan disalurkan oleh persuader baik secara verbal maupun non verbal. Kepribadian dan ego merupakan dua faktor yang
berpengaruh terhadap penerimaan komunikan terhadap komunikasi,
termasuk di dalamnya faktor persepsi dan pengalaman.
Pesan adalah segala sesuatu yang memberikan pengertian kepada
penerima. Pesan bisa berbentuk verbal maupun non verbal, baik disengaja
maupun tidak disengaja.
Efek komunikasi persuasif adalah perubahan yang terjadi pada diri
persuader sebagai akibat dan diterimanya pesan melalui proses komunikasi, efek yang bisa terjadi berbentuk perubahan sikap, pendapat, dan tingkah
laku. Lingkungan komunikasi persuasif adalah konteks situaisonal dimana
proses komunikasi persuasif ini terjadi. Hal itu bisa berupa konteks historis,
konteks fisik temporal, kejadian-kejadian kontemporer, impending events
dan norma-norma sosiokultural.30
4. Strategi Komunikasi Persuasif
Strategi adalah rencana terpilih yang bersifat teliti dan hati-hati atau
serangkaian manuver yang teah dirancang untuk mencapai tujuan yang telah
ditetapkan. Dalam mempertimbangkan strategi komunikasi persuasif yang
akan diterapkan, perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
a) Spesifikasi tujuan persuasif;
b) Identfikasi kategori sasaran;
c) Perumusan strategi persuasif;
d) Pemilihan metode persuasif yang akan diterapkan.31
Dalam komunikasi persuasif paling tidak memiliki tiga tujuan, yakni
membentuk tanggapan, memperkuat tanggapan, dan mengubah tanggapan.
Secara umum, sasaran persuasif dapat diidentifikasi berdasarkan umur, jenis
kelamin, pendidikan, pekerjaan, keanggotaan dalam kelompok primer, dan
minat khusus sasaran. Selain itu, dapat dilihat dari aspek sasaran pedestrian,
sasaran pasif dan kelompok diskusi, sasarn terpilih, sasaran kesepakatan,
dan sasaran terorganisasi.
Dalam memilih metode persuasif, ada tiga pendekatan yang bisa
dilakukan, yakni pendekatan berdasarkan media yang digunakan, sifat
hbungan antara persuader dan sasarannya, serta pendekatan psikososial.
C. Aktivitas Dakwah
Aktivitas dakwah dapat diartikan sebagai bentuk kegiatan yang
mengarah pada perubahan terhadap sesuatu yang belum baik agar menjadi lebih
baik lagi.
1. Pengertian Aktivitas
Aktivitas menurut kamus besar bahasa Indonesia adalah keaktifan,
kegiatan, atau kesibukan atau bisa juga salah satu kegiatan kerja yang
dilaksanakan dalam tiap bagian sesuatu organisasi.32
Banyak sekali aktivitas yang kita lakukan dalam kehidupan
sehari-hari, namun berarti atau tidaknya kegiatan bergantung pada individu
tersebut. Karena menurut Samuel Sahoe sebenarnya aktivitas bukan hanya
sekedar kegiatan, beliau mengatakan bahwa aktivitas dipandang sebagai
usaha mencapai atau memenuhi kebutuhan.
Salah satu kebutuhan manusia adalah menuntut ilmu untuk menjadi
pintar atau pandai. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut maka manusia
harus belajar dengan cara membaca buku atau mengeyam pendidikan di
sekolah, berdiskusi dalam suatu organisasi atau komunitas, atau
tempat-tempat menimba ilmu.
Seseorang yang ingin mendalami ilmu agama dan ingin membangun
atau berinteraksi dengan masyarakat yang islami misalnya, tentu ia harus
melakukan aktivitas yang membantu tercapainya keinginan tersebut. Seperti
membaca buku-buku keagamaan, mengikuti pengajian, atau melakukan
diskusi-diskusi tentang keagamaan dan kemasyarakatan. Mengkaji
norma-norma ajaran Islam tentang hubungan sesama manusia dan tak kalah
pentingnya adalah mengadaptasikannya atau menerapkan ilmu yang telah
diperoleh ke dalam kehidupan yang nyata.
2. Pengertian Dakwah
Pengertian dakwah dalam bahasa Arab merupakan bentuk masdar
dari kata kerja (fi’il) da’a, yad’u, da’watan yang berarti menyeru, memanggil, dan mengajak.33 Dakwah dalam bahasa Indonesia dipahami
sebagai “ajakan, seruan, panggilan, dan undangan kepada ajaran Tuhan”.34
Secara terminologi (istilah), pengertian dakwah akan dikemukakan
oleh beberpa pendapat para tokoh yang memberikan pengertian menurut
sudut pandang masing-masing, yaitu sebagai berikut:
a. Prof. Toha Yahya Omar mendefinisikan dakwah sebagai usaha
mengajak manusia dengan cara bijaksana kepada jalan yang
benar sesuai dengan perintah Tuhan untuk kemaslahatan dan
kebahagiaan mereka di dunia dan akhirat.35
b. Drs. Hamzah Yakub dalam bukunya publistik Islam,
memberikan pengertian dakwah sebagai usaha mengajak
33 Mahmud Yunus, Kamus Arab-Indonesia, (Jakarta: PT. Hidakarya Agung, 1989), h. 127. 34 Toha Yahya Omar, Ilmu Dakwah (Jakarta: Widjaya,1992), h. 1
manusia dengan hikmah kebijaksanaan untuk mengikuti
petunjuk Allah Swt dan Rasul-Nya.36
c. Drs. Arifin M.Ed mendefinisikan dakwah sebagai sesuatu
kegiatan ajakan baik dalam bentuk lisan, tulisan, tingkah laku
yang dilakukan secara sadar dan terencana dalam usaha
mempengaruhi orang lain baik secara individual maupun
kelompok agar timbul dalam dirinya suatu pengertian,
kesadaran, sikap, penghayatan, serta pengamalan terhadap
ajaran agama sebagai massage yang disampaikan padanya tanpa adanya unsur paksaan.37
d. Syeikh Ali Mahfudh mendefinisikan bahwa inti dari dakwah
adalah mengajak manusia ke jalan Allah agar mereka berbahagia
di dunia dan di akhirat.38
e. Prof. Dr. Quraisy Shihab mendifinisikan dakwah sebagai seruan
atau ajakan kepada keinsyafan, atau usaha mengubah situasi
tertentu kepada situasi yang lebih baik dan sempurna, baik
terhadap pribadi maupun masyarakat dan dakwah seharusnya
berperan dalam pelaksanaan ajaran Islam secara lebih
menyeluruh dalam berbagai aspek kehidupan.39
36 Asmuni Syukir, Dasar-Dasar Strategi Dakwah Islam, (Surabaya: Al-Ikhlas, 1983), h. 19. 37 H. M. Arifin, Psikologi Dakwah, (Jakarta: Bumi Aksara, 1994), cet ke-3, h. 6.
38 Syeikh Ali Mahfudh, Hidayah Al-Mursyidin, (Beirut: Daar Al-Ma’rif), h. 17.
Bila dipahami dari berbagai sudut pandang terlihat bahwa esensi
dakwah Islam sesungguhnya kegiatan dan upaya mengajak manusia atau
orang lain agar kembali kepada kesucian, agar menjalankan perintah Allah
dan menjauhi larangan-Nya secara utuh dan menyeluruh.
3. Unsur-unsur dakwah
Unsur-unsur dakwah merupakan pembagian penting dalam
berdakwah. Disini, terdapat banyak kesamaan yang amat sangat mendasar
antara teori yang digunakan para ulama atau pun para cendikiawan muslim
dengan teori Laswell S-M-C-R=Ef, maka dalam dakwah ada istilah da’i (pelaku dakwah), mad;u (sasaran dakwah), maddah (maeri dakwah), wasilah (media dakwah), thariqah (pesan dakwah), dan atsar (efek).
a. Da’i (pelaku dakwah)
Da’i adalah individu atau sekelompok muslim dan muslimah yang
mempunyai keteladanan yang baik dalam mengemban misi Islam dalam
upaya menyeru kepada yang ma’ruf dan menegah dari perbuatan
munkar.40 Pada prinsipnya setiap seorang muslim mempunyai
kewajiban untuk menyampaikan dakwah islamiyah, paling tidak untuk
dirinya dan keluarga. Sebagaimana diamanatkan oleh Allah SWT dalam
Al-Quran yang berbunyi:
َ ُيَأٓ َي
َ يِ
َٱ
ذ
َهُل ُقَو امر َن ۡ ُكيِ ۡهَأَو ۡ ُكَسُفنَأ ْاك ُق ْا ُنَماَء
ُس ذنٱَو
ُةَر َجِ
ۡٱ
ۡ
َ ۡيَ َع
َن ُصۡعَي
َ ٞلاَدِش ٞظ ََِغ ٌةَ ِئٓ
ذ
َلَم
َ ذّٱ
َنوُرَ ۡؤُي َم َن ُ َعۡفَيَو ۡ ُهَرَ
َ
أ ك َم
٦
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan
keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah
manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar,
keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang
diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan
apa yang diperintahkan (Q.S. At-Tahrim: 6)
Dengan demikian dapat dipahami bahwa setiap seorang yang
menyatakan beragama Islam, maka secara otomatis ia memikul suatu
kewajiban untuk meaksanakan dakwah Islam.
b. Mad’u (sasaran dakwah)
Mad’u merupakan target yang menjadi objek utama dalam
berdakwah. A.H. Hasanuddin berpendapat bahwa “Orang yang diseru,
dipanggil, atau diundang”.41 Berdasarkan pengertian tersebut dapat
dipahami, bahwa yang dinamakan dengan mad’u memiliki berbagai
kelas yang terbagi dalam sosial, ekonomi, geografis, profesi, bahkan
sampai kepada tingkatan usia dan pengetahuan. H.M. Arifin dalam
bukunya yang berjudul Psikologi Dakwah, menjabarkan tingkatan yang ada, yaitu:
1. Sosiologis, meliputi berbagai lapisan masyarakat, yaitu masyarakat
terasing, pedesaan, perkotaan, Kota kecil, serta masyarakat marjinal
di Kota besar.
2. Struktur kelembagaan, biasanya dikenal dengan istilah priyai,
abangan, dan santri. Hal ini banyak ditemukan di daerah masyarakat
jawa.
3. Tingkatan usia, mulai dari yang muda hingga yang tua. Hal ini
terjadi karena dipengaruhi tingkat kedewasaan yang seiring dengan
usia.
4. Profesi, tingkatan ini biasanya mencakup petani hingga eksekutif.
5. Ekonomi, struktur antara yang kaya hingga yang miskin.
6. Jenis kelamin (baik pria maupun wanita).
7. Masyarakat khusus, tunasusila, tunawisma, tunakarya, narapidana
dan sebagainya.42
c. Materi dakwah
Materi dakwah yang disampaikan oleh da’i tidak lain adalah sesuai
dengan Islam yang bersumber dari Al-Quran dan Hadis sebagai sumber
utama yang meliputi aqidah, syariah, dan akhlak.43
Seorang da’i dituntut untuk memilih dan menentukan topik tertentu
yang akan disampaikan kepada mad’u yang mendengarkannya dengan
memperhatikan kondisi serta kebutuhan mad’u yang menjadi objek
42 H.M. Arifin, Psikologi Dakwah, (Jakarta: Bulan Bintang, 1977), h. 13-14.
dakwah tersebut, dengan harapan da’unya dapat memahami betul apa
yang disampaikan da’i sehingga mad’u tidak mengalami kesulitan untuk
memahami dan mencernanya.
d. Metode dakwah
Abdul Kadir Munsyi, mengartikan metode sebagai cara untuk
menyampaikan sesuatu.44 Sedangkan dalam metodologi pengajaran
ajaran agama Islam disebutkan bahwa metode adalah “suatu cara yang
sistematis dan umum terutama dalam mencari kebenaran ilmiah”.45
Metode adalah cara kerja yang sistematis dan teratur untuk pelaksanaan
suatu cara kerja.46
Dari banyaknya pengertian diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa
metode adalah sebuah cara yang digunakan dalam menyampaikan
sesuatu kepada orang lain dengan tujuan agar tercapainya kesepahaman
tentang apa yang disampaikan. Rafiffuddin dan M. Abdul Djalil,
menguraikan beberapa metode dalam berdakwah, yaitu sebagai berikut:
1) Qoulan Ma’rufan, bakwah bil lisan atau dengan bicara
dalam pergaulannya sehari-hari yang disertai dengan misi
agama seperti penyebarluasan salam.
2) Dakwah bil qalam dengan menggunakan keterampilan tulis menulis berupa artikel.
44 Abd. Kadir Munsyi, Metode Diskusi dalam Dakwah, (Surabaya: al-Ikhlas, 1983), cet ke-1, h. 29.
45 Soeleiman Yusuf, Slamet Susanto, Pengantar Pendidian Sosial, (Surabaya: Usaha Nasional, 1981), h. 38.
3) Dakwah bil hal dengan menggunakan berbagai kegiatan yang langsung menyentuh kepada masyarakat.
4) Dakwah dengan alat-alat elektronik seperti radio, televisi,
komputer, dan alat lainnya yang dapat menunjang
berdakwah.47
D. Pencak Silat
1. Pengertian Pencak Silat
Menurut kamus besar bahasa indonesia, silat berarti “permainan”
(keahlian) dalam mempertahankan diri dengan kepandaian menangkis,
menyerang, dan membela diri, baik dengan maupun tanpa senjata.
Menurut Ali Sabeni, pencak dapat diartikan jurus-jurus. Silat dapat
diartikan Shalat, sebelum Shalat didahului dengan wudhu. Di dalam proses
wudhu, tangan kiri dan tangan kana saling membersihkan dari hal-hal yang
kotor. Jadi pencak silat itu bukan untuk mencari permusuhan atau berkelahi,
namun untuk sarana pergaulan seperti layaknya tangan kiri dan tangan
kanan tadi.48 Sebab itulah orang-orang yang pandai silat janganlah sombong
dan takabur. Dia harus ramah-tamah, dan jangan sekali-kali berbuat
keonaran.
47 Raffifuddin, M. Abd. Djalil, Prinsip dan Strategi Dakwah, (Pustaka Setia, 1997), cet ke-1, h. 25.
Selain itu Ali Sabeni menyatakan bahwa Silat itu kependekan dari
Silaturahmi. Jadi orang-orang yang belajar silat dapat diartikan dididik
untuk bersilaturahmi dengan sesama umat.
Ada juga tentang kode menghormat kepada para tamu dengan cara
kepalan tangan kanan ditutup oleh telapak tangan kiri diletakkan di muka
dada. Ini mengandung arti bahwa kekuatan yang dimiliki oleh tangan kanan
jangan sampai ditonjolkan (sombong), karena itu tandanya harus ditutup
dengan telapak tangan kiri. Jelasnya gerakan tersebut melambangkan
jangan sampai memperlihatkan kekuatan pada siapapun, jangan sombog,
dan takabur.
Dengan demikian yang disebut pencak silat itu adalah jurus-jurus
serta kembangannya yang berupa tarian baik mempergunakan senjata
maupun tangan kosong yang berfungsi sebagai silaturahmi, olahraga,
pendidikan mental spiritual, sarana pergaulan serta untuk membela diri.
Ada banyak sekali aliran pencak silat di tanah air Indonesia, salah
satunya adalah pencak silat khas Betawi. Pencak silat Betawi atau maen
pukulan, memiliki peranan sangat penting dalam kancah penccak silat
nasional. Mengingat hampir separuh dari sekitar 600-800 aliran atau
perguruan yang ada di Indonesia berasal dari Jakarta. Ada sekitar 317 aliran
maen pukulan di tanah Betawi, yang merupakan pengembangan dari sekitar
100-200 pecahan aliran dari aliran inti. Jumlah 317 aliran tersebut
merupakan data yang dimiliki PPS (Perguruan Pencak Silat) Putra Betawi,
inti itu didasarkan atas karakter dan bentuk maen pukulan, yang terdiri dari
gerak cepat, gerak rasa, gerak kuat, gerak teguh, dan gerak rasa.49
2. Manfaat pencak Silat
Pencak silat merupakan bagian dari budaya bangsa Indonesia yang
bernilai luhur. Nilai-nilai luhur pencak silat terkandung dalam jati diri yang
meliputi 3 hal pokok sebagai satu kesatuan, yaitu budaya Indonesia sebagai
jiwa dan sumber motivasi penggunaannya, pembinaan mental spiritual/ budi
pekerti, bela diri, seni, dan olahraga sebagai aspek integral dan
substansinya.
R. Asikin mengatakan bahwa fungsi atau manfaat pencak silat bukan
untuk berkelahi semata, tetapi untuk:
a. olahraga, di dalam pencak silat terdapat unsur-unsur olahraga untuk
menyehatkan badan. Tidak sedikit para atlet silat yang memiliki badan
sehat, dikarenakan dengan silat kita dapat merenggangkan otot-otot
yang tegang, sehingga otot-otot tersebut menjadi kuat. Jadi, jelas disini
bahwa pencak silat itu mengandung unsur olahraga.
b. Kesenian, dalam gerakan pencak silat banyak sekali mengandung
gerakan-gerakan tarian. Tiap aliran pun memiliki gerakan atau tarian
yang berbeda-beda, tergantung asal aliran pencak silat tersebut. Jadi
dengan kita berlatih silat, secara tidak langsung kita melestarikan
kesenian bangsa Indonesia.
c. Pendidikan, di dalam pelatiahn pencak silat terdapat proses latih-melatih
jurus silat. Ada orang yang melatih dan ada juga orang yang dilatih.
Dalam penyampaiannya, materi pelatihan sangat beragam, tergantung
kepada pengalaman dan pengetahuan si pelatih itu sendiri.
d. Membela diri, suda sangat jelas bahwa silat bukan untuk berkelahi tetapi
untuk membela diri. Ali Sabeni mengatakan bahwa pencak silat bukan
untuk berkelahi atau mencari musuh, melainkan untuk membela diri jika
ada yang menyerang.50
3. Silat sebagai dakwah dan mental spritual
Silat sebagai seni budaya yang sudah ada sejak dahulu memberikan
cerita tersendiri, di antaranya adalah silat sebagai media dakwah oleh para
ulama dalam menyebarkan ajaran Islam di bumi Nusantara. Untuk menarik
minat masyarakat, dalam silat yang diajarkan oleh para ulama umumnya
memiliki muatan nilai keislaman.
Namun, tidak semua perguruan pencak silat memiliki dan
mengajarkan pencak silat mental spritual. Perguran pencak silat yang
menajarkan pencak silat mental spiritual tidak ditampilkan secara tersendiri,
tetapi bersama-sama atau terpadu dengan cabang pencak silat lain yang
diajarkan oleh perguruan pencak silat tersebut sebagai bagian yang terpadu.
Dalam hal ini, pencak silat merupakan pelengkap tetapi sangat penting dari
cabang pencak silat lain yang tampilannya merupakan penc