• Tidak ada hasil yang ditemukan

SIMULASI DISTILASI BATCH BERBASIS PEMROGRAMAN BERORIENTASI OBJEK.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "SIMULASI DISTILASI BATCH BERBASIS PEMROGRAMAN BERORIENTASI OBJEK."

Copied!
86
0
0

Teks penuh

(1)

SIMULASI DISTILASI BATCH BERBASIS

PEMROGRAMAN BERORIENTASI OBJ EK

TUGAS AKHIR

Diajukan Oleh:

ARISTARKHUS ANASITO NPM : 0934215006

Kepada

J URUSAN TEKNIK INFORMATIKA FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” J AWA TIMUR

(2)

LEMBAR PENGESAHAN

Judul Tugas Akhir : SIMULASI DISTILASI BATCH SISTEM BINER BERBASIS PEMOGRAMAN BERORIENTASI OBJEK Nama Mahasiswa : ARISTARKHUS ANASITO

NPM : 0934215006

Program Studi : TEKNIK INFORMATIKA Jurusan : TEKNIK INFORMATIKA

Menyetujui,

Pembimbing I Pembimbing II

Dr. Ir. NI KETUT SARI, M.T. WAHYU SYAIFULLAH J.S., S.KOM.

NIP / NPT. 19650731 199203 2001 NIP / NPT. 3 8608 10 0295 1

KETUA JURUSAN DEKAN

TEKNIK INFORMATIKA FAKULTAS TEKNOLOGI INFORMASI

Dr. Ir. NI KETUT SARI, M.T. Ir. BAMBANG WAHYUDI, MS

NIP / NPT. 19650731 199203 2001 NIP / NPT. 030 180 480

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(3)

ABSTRAK

Simulasi distilasi batch dilakukan untuk efisiensi biaya dan waktu. Karena

dalam eksperimen distilasi batch memerlukan zat kimia yang banyak dengan hasil

percobaan yang belum pasti, sehingga dibutuhkan biaya yang banyak dan waktu

yang lama. Oleh karena itu dibutuhkanlah simulasi yang memudahkan untuk

memperoleh perkiraan komposisi kimia yang akan dilakukan percobaan. Dengan

menggunakan Visual Studio 2010 dengan menggunakan bahasa pemograman

C#.net, maka dapat dibuat halaman antar muka (User Interface) yang dapat

berjalan di Dekstop Windows dan hasil laporan dapat segera diketahui dan dapat

langsung dicetak.

Dalam penelitian ini metode yang dilakukan ialah dengan cara membuat

suatu aplikasi simulasi distilasi batch berbasis pemograman berorientasi objek.

Dari aplikasi simulasi distilasi batch ini kemudian akan dibandingkan dengan

simulasi distilasi batch yang telah dibuat dengan Matlab 6.1 dimana untuk

mendapatkan hasil simulasi berupa grafik, data yang diperoleh kemudian dibuat

grafik dengan menggunakan Microsoft Excel.

Hasil simulasi distilasi batch berbasis pemograman berorientasi objek ini

berupa profil Temperatur, Komposisi Liquida, dan Komposisi Uap dapat langsung

dilihat dan di cetak dari aplikasi yang dibuat ini.

(4)

ii

KATA PENGANTAR

Dengan menguc ap syukur kepada Tuhan Yesus Kristus, atas Kasih

KaruniaNya sehingga penulis dapat menyelesaikan Tugas Akhir dengan Judul :

SIMULASI DISTILASI BATCH BERBASIS PEMOGRAMAN

BERORIENTASI OBJ EK.

Tujuan disusun Tugas Akhir ini adalah untuk menyelesaikan Program

Strata Satu (S1) pada Program Studi Teknik Informatika, Jurusan Teknik

Informatika, Fakultas Teknologi Industri, Universitas Pembangunan Nasional

“Veteran” Jawa Timur. Selain itu, juga untuk menerapkan ilmu pengetahuan yang

didapat oleh penulis selama menimba ilmu di perkuliahan.

Terselengaranya Tugas akhir ini juga berkat bantuan dan dukungan dari

berbagai pihak, baik secara material maupun secara spiritual. Tak lupa penulis

mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah

membantu hingga Tugas Akhir ini dapat terselesaikan. Ucapan terimakasih ini

penulis berikan kepada :

1. Tuhan Yesus Kristus, sebagai Tuhan dan Juru Selamat yang sudah

memberikan kasihNya dan KaruniaNya yang telah memberikan

kesempatan kepada penulis untuk berkuliah dan dapat menyelesaikan

perkuliahan hingga Tugas Akhir ini dapat terselesaikan. “ Thanks Jesus,

You are my God and my every thing”.

2. Kedua orang tua saya, Purbojo Djojowasito Jatiman dan Susana

Karuniawati yang paling saya cintai. Terimakasih atas semua doa dan

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(5)

dukungan sehingga penulis dapat berkuliah dan dapat menyelesaikan

perkuliahan dengan terselesainya Skripsi ini. “Terimakasih Papa,

Terimakasih Mama. Terimakasih untuk semuanya”.

3. Kakak saya yang terkasih, Petry Purenia, S. Kom, M. T. Terimakasih

untuk mau jadi tempat cerita yang terimakasih untuk dukungannya

sehingga penulis dapat menyelesaikan Tugas Akhir ini.

4. Bapak Prof. Dr. Ir. Teguh Santoso, M.P. Selaku Rektor Universitas

Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.

5. Bapak Ir. Sutiyono, M.T. selaku Dekan Fakultas Teknologi Industri.

6. Ibu Dr. Ir. Ni Ketut Sari, M.T. selaku Ketua Jurusan Teknik Informatika.

7. Ibu Dr. Ir. Ni Ketut Sari, M.T. selaku Dosen Pembimbing I yang telah

memberikan bimbingan dan pengarahan selama penulis mengerjakan

Tugas Akhir ini hingga selesai.

8. Bapak Wahyu S., S.Kom. selaku Dosen Pembimbing II yang telah

memberikan bimbingan dan pengarahan selama penulis mengerjakan

Tugas Akhir ini hingga selesai.

9. Teman-teman Teknik Informatika Universitas Pembangunan Nasional

“Veteran” Jawa Timur yang telah bersama-sama menimba ilmu.

10.Teman-teman Pemuda GBT. Bethlehem yang telah memberikan dukungan

kepada penulis dalam menyelesaikan Tugas Akhir ini.

11.Terimakasih kepada semua pihak-pihak yang tidak dapat penulis sebutkan

satu persatu, yang telah memberika dukungannya selama penulis

(6)

iv

Semoga Tuhan Yesus memberikan Kasih dan KaruniaNya untuk anda

semua. Amin. Terimakasih.

Surabaya, 25 Desember 2011

Penulis

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(7)

DAFTAR ISI

1.6. Metodologi Penelitian ... 3

1.7. Sistematika Penulisan ... 4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 6

2.1. Sifat Fisika dan kegunaan Aseton – n-Butanol – Etanol ... 6

2.2. Tinjauan Thermodinamika dalam Mengevaluasi Kesetimbangan Fasa ... 7

2.2.1. Perhitungan Temperature Bubble ... 7

2.2.2. Metoda Distilasi Batch pada Sistem Terner ... 9

2.3. Pemograman Berorientasi Objek ... 12

BAB III METODA PENELITIAN ... 17

3.1. Simulasi Sistem Biner ... 17

3.1.1. Simulasi Sistem Biner Etanol – Air ... 21

3.1.2. Simulasi Sistem Biner Aseton – n-Butanol ... 22

3.1.3. Simulasi Sistem Biner Aseton – Etanol ... 23

3.1.4. Simulasi Sistem Biner n-Butanol – Etanol ... 24

3.2. Simulasi Sistem Terner ABE ... 25

3.3. Perancangan Sistem ... 27

3.3.1. Deskripsi Umum Sistem ... 27

(8)

vi

3.3.3. Activity Diagram ... 29

3.3.4. Sequence Diagram ... 33

3.3.5. Class Diagram ... 35

3.4. Analisa Kebutuhan... 37

3.4.1. Perancangan Antar Muka ... 37

3.4.1.1. Halaman Memasukkan Data Kompsisi Larutan Dua Elemen.. 37

3.4.1.2. Halaman Memasukkan Data Kompsisi Larutan Tiga Elemen . 39 3.4.2. Halaman Laporan ... 40

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 41

4.1. Proses Pembuatan Program ... 41

4.1.1. Pemanggilan Fungsi Class Sebagai Obyek ... 41

4.1.2. Source Code Rumus ... 42

4.1.3. DataSet ... 45

4.1.4. CrystalReport ... 48

4.1.5. CrystalReportViewer ... 49

4.2. User Interface (Tatapan Antar Muka) ... 51

4.2.1. User Interface Dua Elemen ... 51

4.2.2. User Interface Tiga Elemen ... 53

4.3. Halaman Laporan... 54

4.4. Hasil Laporan Simulasi Distilasi Batch ... 55

4.3.1. Sistem Biner ... 55

4.3.2. Sistem Terner ABE ... 59

BAB V UJI COBA DAN EVALUASI PROGRAM ... 63

5.1. Uji Coba Memasukkan Data Simulasi ... 63

5.2. Uji Coba Validasi Data ... 65

5.3. Uji Coba Perubahan Data Simulasi ... 66

5.4. Uji Coba Laporan ... 69

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(9)

DAF TAR GAMBAR

Gambar 2. 1. Sketsa aliran distilasi batch sederhana (Henley and Seader, 1998) 10

Gambar 3. 1. Flowchart untuk perhitungan BUBL T... 18

Gambar 3. 2. Flowchart distilasi batch sederhana dengan Metoda Euler ... 20

Gambar 3. 3. Proses Bisnis Simulasi Distilasi Batch ... 27

Gambar 3. 4. Use Case Diagram ... 28

Gambar 3. 5. Activity Diagram “Memasukkan Nilai Umpan”... 29

Gambar 3. 6. Activity Diagram “Memproses Data” ... 30

Gambar 3. 7. Activity Diagram “Melihat Laporan” ... 31

Gambar 3. 8. Activity Diagram “Mencetak Laporan” ... 32

Gambar 3. 9. Sequence Diagram “Memasukkan Nilai Umpan” ... 33

Gambar 3. 10. Sequence Diagram “Memproses Data” ... 33

Gambar 3. 11. Sequence Diagram “Melihat Laporan” ... 34

Gambar 3. 12. Sequence Diagram “Mencetak Laporan” ... 34

Gambar 3. 13. Class Diagram Simulasi Distilasi Batch ... 35

Gambar 3. 14. Antar Muka Dua Elemen... 37

Gambar 3. 15. Antar Muka Tiga Elemen ... 39

Gambar 3. 16. Format Laporan Hasil Simulasi ... 40

Gambar 4. 1. Tabel pada DataSet ... 46

Gambar 4. 2. Desain Laporan Dua Elemen ... 48

Gambar 4. 3. Desain Laporan Dua Elemen ... 48

Gambar 4. 4. CrystalReportViewer pada Form ... 49

Gambar 4. 5 User Interface Dua Elemen ... 51

Gambar 4. 6. Radio Button Dua Elemen ... 52

Gambar 4. 7. User Interface Dua Elemen ... 53

Gambar 4. 8. Laporan Dalam Bentuk Tabel ... 54

Gambar 4. 9. Laporan Dalam Bentuk Grafik ... 55

Gambar 4. 10. Profil Komposisi Liquida di Bottom Sistem Biner Eranol – Air dengan Koefisian Aktifitas ... 55

(10)

viii

Gambar 4. 12. Profil Komposisi Uap di Bottom Sistem Biner Eranol – Air dengan

Koefisian Aktifitas ... 57

Gambar 4. 13. Profil Komposisi Uap di Bottom Sistem Biner Eranol – Air tanpa Koefisian Aktifitas ... 57

Gambar 4. 14. Profil Temperatur di Bottom Sistem Biner Eranol – Air dengan Koefisian Aktifitas ... 58

Gambar 4. 15. Profil Temperatur di Bottom Sistem Biner Eranol – Air tanpa Koefisian Aktifitas ... 58

Gambar 4. 16. Profil Komposisi Liquida di Bottom Sistem Terner Aseton – n-Butanol – Eranol Air dengan Koefisian Aktifitas ... 59

Gambar 4. 17. Profil Komposisi Liquida di Bottom Sistem Terner Aseton – n-Butanol – Eranol Air tanpa Koefisian Aktifitas ... 60

Gambar 4. 18. Profil Komposisi uap di Bottom Sistem Terner Aseton – n-Butanol – Eranol Air dengan Koefisian Aktifitas ... 60

Gambar 4. 19. Profil Komposisi uap di Bottom Sistem Terner Aseton – n-Butanol – Eranol Air tanpa Koefisian Aktifitas ... 61

Gambar 4. 20. Profil Temperatur di Bottom Sistem Terner Aseton – n-Butanol – Eranol Air dengan Koefisian Aktifitas ... 61

Gambar 4. 21. Profil Temperatur di Bottom Sistem Terner Aseton – n-Butanol – Eranol Air tanpa Koefisian Aktifitas ... 62

Gambar 5. 1. Kontrol Tab Jumlah Elemen... 63

Gambar 5. 2. Pilih Jenis Komposisi Larutan ... 64

Gambar 5. 3. Input Data Dua Elemen ... 64

Gambar 5. 4. Input Data Tiga Elemen ... 65

Gambar 5. 5. Peringatan Karena Data Yang Tidak Valid ... 65

Gambar 5. 6. Peringatan Karena Data Yang Tidak Valid ... 66

Gambar 5. 7. Hapus Baris Data ... 67

Gambar 5. 8. Hapus Baris Data ... 67

Gambar 5. 9. Ubah Data ... 68

Gambar 5. 10. Ubah Data ... 68

Gambar 5. 11. Proses Simulasi ... 69

Gambar 5. 12. Proses Simulasi ... 69

Gambar 5. 13. Halaman Laporan ... 70

Gambar 5. 14. Laporan Dalam Bentuk Tabel ... 70

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(11)
(12)

x

DAF TAR TABEL

Tabel 2. 1. Sifat Fisika Aseton, n-Butanol, Etanol ... 6

Tabel 3. 1. Komposisi Umpan Sistem Biner Etanol – Air ... 21

Tabel 3. 2. Parameter Antoine Sistem Biner Etanol – Air ... 22

Tabel 3. 3. Komposisi Umpan Sistem Biner Aseton – n-Butanol ... 22

Tabel 3. 4. Parameter Antoine Sistem Biner Aseton – n-Butanol ... 23

Tabel 3. 5. Komposisi Umpan Sistem Biner Aseton – Etanol ... 23

Tabel 3. 6. Parameter Antoine Sistem Biner Aseton – Etanol ... 24

Tabel 3. 7. Komposisi Umpan Sistem Biner n-Butanol – Etanol ... 24

Tabel 3. 8. Parameter Antoine Sistem Biner n-Butanol – Etanol ... 25

Tabel 3. 9. Komposisi Umpan Sistem Terner ABE ... 26

Tabel 3. 10. Parameter Antoine Sistem Terner Aseton – n-Butanol – Etanol ... 26

Tabel 4. 1. Field pada tabel DuaElemenDataTable ... 47

Tabel 4. 2. Field pada tabel DuaElemenDataTable ... 47

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(13)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belaka ng

Distilasi batch adalah suatu proses pemisahan suatu komponen dari

campurannya yang didasarkan pada perbedaan titik didih atau tekanan uap murni

masing-masing komponen dengan menggunakan panas sebagai tenaga pemisah.

Proses pemisahan pada operasi distilasi terjadi karena adanya perpindahan massa

akibat kontak antar fasa uap dengan fasa cairannya. Jika kontak antar fasa

dibiarkan berlangsung dalam waktu relative cukup, maka sistem akan

dimungkinkan berada dalam keseimbangan. Setelah keseimbangan tercapai, uap

segera dipisahkan dari cairannya dan dikondensasikan membentuk

embunan/distilat. Di industri, proses distilasi sering kita jumpai pada industri

pengilangan minyak bumi, pemurnian minyak atsiri, produksi etanol.

Dalam bidang industri umumnya menggunakan sistem multikomponen.

Sedangkan jika menggunakan sistem terner ABE (Aseton-Butanol-Etanol) dengan

distilasi batch sederhana dilakukan secara simulasi dan sederhana dalam skala

laboratorium secara ujicoba. Hasil dari pemisahan sistem terner ABE

(Aseton-Butanol-Etanol) menjadi komposisi lebih murni dari komposisi awal mempunyai

nilai ekonomis tinggi.

Mahasiswa teknik kimia dalam melakukan perhitungan distilasi batch

sering menggunakan perhitungan secara manual dikarenakan belum adanya

(14)

komposisi liquida, dan komposisi uap. Program sebelumnya mengunakan Matlab

6.1 untuk memperoleh hasil langkah yang dilakukan cukup panjang.

Langkah-langkah tersebut ialah membawa hasil perhitungan Matlab 6.1 dibawa ke

Microsoft Excel untuk dirubah ke bentuk grafik, setelah itu grafik tersebut dibawa

ke Microsoft Word untuk dapat dicetak laporan hasil simulasi. Dengan

menggunakan bahasa program C#.net dapat dengan mudah memasukkan data

komposisi umpan dan hasil yang diperoleh dapat langsung dilihat dan dicetak.

Hasil yang diperoleh pada penelitian ini di validasi dengan disertasi RK-3311

“Penentuan Peta Kurva Residu Sistem Terner Aseton – n-Butanol – Etanol

Dengan Distilasi Batch Sederhana” (Sari, 2007)

1.2. Per umusan Masalah

Permasalahan dari Tugas Akhir ini ialah

a. Mendesain suatu user interface / tatapan antar muka yang memudahkan

mendapatkan hasil profil distilasi batch.

b. Membuat suatu aplikasi yang menggunakan bahasa pemograman C#.net

dengan memasukkan data umpan untuk mendapatkan hasil profil temperatur,

komposisi liquida, komposisi uap.

1.3. Batasan Masalah

Dari Permasalahan yang telah disebutkan diatas, maka batasan-batasan

masalah dalam Tugas Akhir ini, ialah:

a. Dalam penelitian simulasi distilasi batch ini larutan yang digunakan berupa

larutan ideal, koefisien aktifitas sama dengan 1(satu).

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(15)

b. Hasil simulasi bukan dalam bentuk grafik 3Dimensi dan peta kurva residu

melainkan kurfa kartesius.

1.4. Tujuan

Tujuan dari penelitian ini ialah untuk memperoleh profil temperatur,

komposisi liquida, dan komposisi uap dengan cara yang mudah tanpa menunggu

terlalu lama. Ketika data sudah di proses, maka hasil berupa data dalam bentuk

tabel dan Grafik sudah dapat langsung dilihat.

1.5. Manfaat

Manfaat yang diperoleh dari Tugas Akhir ini adalah

a. Mempermudah bagi para pengguna yang ingin melakukan melakukan

percobaan sebenarnya, untuk mendapatkan perkiraan hasil percobaan

sebenarnya dengan melakukan simulasi terlebih dahulu.

b. Mempermudah dalam memasukkan data umpan simulasi dan untuk

mendapatkan hasil dari simulasi tersebut.

1.6. Metodologi Penelitian

Metodologi pembuatan Tugas Akhir ini dibagi menjadi :

a. Studi Teori literatur.

Mempelajari konsep atau metode yang telah diterapkan diatas dan juga

mencari referensi metode lain sehingga dapat dijadikan panduan untuk

(16)

b. Survey atau Pengumpulan Data.

Setelah mempelajari teori maka dilanjutkan dengan mempelajari hasil dari

percobaan Distilasi Batch yang telah dilakukan, sehingga dapat mengetahui

hasil simulasi yang dapat mempermudah untuk menentukan komposisi yang

dikehendaki untuk dilakukan percobaan sebenarnya.

c. Analisis dan Perancangan Aplikasi

Pada tahap analisis dan perancangan aplikasi ini dilakukan analisa dan

rancangan awal dari aplikasi yang akan dibuat untuk kemudian ditentukan

langkah selanjutnya.

d. Pembuatan Aplikasi

Pada tahap ini dilakukan pembuatan sistem yang sesungguhnya, setelah

sebelumnya dilakukan tahap analisa dan perancangan sistem sesuai dengan

yang telah direncanakan.

e. Pengujian Aplikasi

Pada tahap pengujian program ini merupakan tahap analisa dan perancangan

sistem sesuai dengan yang telah direncanakan.

1.7. Sistematika Penulisan

Laporan Tugas Akhir ini akan dibagi menjadi beberapa bab, yaitu:

BAB I PENDAHULUAN

Berisi tentang deksripsi umum dalam penyusunan Skripsi yang

meliputi Latar Belakang, Perumusan Masalah, Batasan Masalah,

Tujuan, Manfaat, Metodologi Penilitian, dan Sistematika

Penulisan

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(17)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Berisi teori-teori, studi literatur dan konsep-konsep yang terkait

tentang penyelesaian suatu masalah atau perumusan masalah

yang diambil dalam penyusunan Skripsi.

BAB III ANALISA DAN PERANCANGAN SISTEM

Berisi tentang analisa dan perancagan dari sistem aplikasi ang

akan dibangun meliputi desain masukkan (input), desain

keluaran (output), serta desain antarmuka (interface) yang

nantinya akan dipakai oleh sistem aplikasi.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

Berisi tentang implementasi sistem aplikasi secara keseluruhan

mulai dari implementasi data yang diperlukan hingga laporan

dari Simulasi Distilasi Batch yang keluar.

BAB V UJI COBA DAN EVALUASI

Membahas tentang ujicoba dan evaluasi dari program yang

dibuat.

BAB VI PENUTUP

Berisi kesimpulan yang dapat diambil dari Tugas Akhir ini

(18)

6

BAB II

TINJ AUAN PUSTAKA

2.1. Sifat Fisika dan kegunaan Aseton – n-Butanol – Etanol

Aseton merupakan senyawa keton yang berupa liquid tak berwarna,

mudah terbakar dan larut dalam air serta pelarut organik. n-Butanol merupakan

liquid tidak berwarna, mudah menguap, mudah terbakar, larut dalam air dan

memiliki bau yang khas. Etanol merupakan liquid yang mudah terbakar, cepat

teroksidasi di dalam tubuh dan tidak terakumulasi didalam tubuh. Sifat fisika

ketiga senyawa tersebut dapat dilihat pada Tabel 2.1.

Tabel 2. 1. Sifat Fisika Aseton, n-Butanol, Etanol

Sifat Fisika

Specific grafity (20 oC), kg/m3 0,001316 0,001229 0,001256

Specific heat (20 oC), J/g.K 151,01 2,33 2,42

Panas penguapan, J/g 1690,13 591,2 839,31

Panas pembentukan, J/g 14403,8 125 104,6

Panas pembakaran, J/g 103789,0 2674 29676,69

Suhu kritis, oC 235 289,9 240,8

Tekanan uap (20 oC), kg/cm3 24,74 0,64 5,78

(19)

Tekanan kritis, kg/cm3 47,93 45,07 62,68

Sumber : Prausnitz dkk., 2001 dan Hysis versi 3.1

Kegunaan aseton dalam industri kimia antara lain sebagai bahan kimia

pembuatan methyl isobuthyl ketone, methyl isobuthyl carbiol, bisphenol butanol

solvent untuk kalium iodida dan permangant, industri cat dan pernis. Kegunaan

n-Butanol dalam industri kimia sebagai plasticizer, resin dan pelapis, bahan

pembuatan ester, dehydration agent dan pembuatan ditergent. Kegunaan etanol

dalam industri kimia sebagai solvent untuk resin, lemak, asam lemak, minyak,

hidrokarbon dan hidroksida, medium ekstraksi, bahan kosmetik, bahan farmasi,

pertumbuhan yeast dan pembuatan acetaldehyde, asam asetat, ethylene, bahan

pewarna dan bahan ditergent. Bahan campuran aseton-butanol sangat potensial

digunakan sebagai bahan bakar penganti minyak bumi. Selama ini, ABE

diproduksi dengan proses petrokimiawi dengaa menggunakan bahan baku turunan

minyak bumi yang semakin lama semakin mahal. Sebagai bahan bakar, ABE

cukup potensial karena panas pembakarannya cukup tinggi.

2.2. Tinjauan Ther modinamika dalam Mengevaluasi Kesetimbangan Fasa

2.2.1. Per hitungan Temper atur e Bubble

Prosedur iterasi untuk mencari temperature bubble yaitu mencari harga

temperatur jenuh dari komponen murni pada P (Prausnitz dkk, 2001).

=

− log −

dimana A, B, C adalah konstanta Antoine untuk spesies I, untuk semua estimasi

awal.

(20)

(2) =

Untuk i = 1, 2, 3.

Harga T sebagai awal akan digunakan untuk mengetahui tekanan uap jenuh suatu

zat yang akan diestemasi dengan persamaan Antoine.

log( ) = −

Untuk i = 1, 2, 3.

Mencari tekanan uap jenuh untuk komponen-1 :

= + +

= −

= − ∑

Untuk j = 2, 3.

Sedangkan harga T baru dicari menurut persamaan :

=

− log −

Kemudian mencari kesalahan antara T baru dengan T awal dengan persamaan :

( − )

(21)

Konstanta kesetimbangan antara fase uap dan fase liquid didefinisikan sebagai

berikut :

= = .

2.2.2. Metoda Distilasi Batch pada Sistem Ter ner

Distilasi batch dapat dibagi menjadi 4 (empat) bagian yaitu:

1. Distilasi diferensial.

2. Rektifikasi batch.

- Rektifikasi batch dengan komposisi distilat konstan dan variabel refluks.

- Rektifikasi batch dengan variabel komposisi distilat dan refluks konstan.

3. Striping batch.

4. Distilasi batch kompleks.

Dalam hal ini yang dibahas pada penelitian yang dilakukan adalah distilasi

diferensial atau distilasi sederhana. Distilasi diferensial dengan metoda rigorous

menggunakan model Differential-Algebraic-Equations (DAEs), dimana

penyelesaian modelnya menggunakan bahasa C#.Net.

Adapun asumsi yang digunakan untuk distilasi diferensial sebagai berikut:

- Tidak ada tray, packing dan refluks.

- Merupakan single equilibrium stage.

- Liquida tercampur sempurna.

- Total kondensor, yD=xD.

- Untuk menghitung komposisi uap menggunakan bubble-point temperatur.

(22)

(10)

(11)

(12)

(13)

(14)

(15) Menurut Rayleigh (1902), distilasi diferensial biasanya dilakukan

secarabatch dalam bejana distilasi,uap yang terbentuk segera diembunkan dan

distilasi yang terjadi dipisahkan dari liquida yang tertinggal dalam bejana (residu).

Karena uap akan lebih banyak mengandung komponen yang lebih volatile maka

kadar residu yang lebih volatile makin lama makin kecil, dapat digambarkan

sebagai berikut :

Gambar 2. 1. Sketsa aliran distilasi batch sederhana (Henley and Seader, 1998)

Pengurangan kecepatan aliran dalam still-pot = kecepatan aliran keluar.

(23)

(16) Dalam pemisahan sistem ternet, diasumsikan bahwa liquida bercampur sempurna

dimana = dan = , , maka persamaan dibawah ini ditulis berikut

Didefinisikan dimensionless waktu ( ) adalah sebagai berikut :

= ln

Dimana, = bilangan tak berdimensi yang tergantung pada waktu

Persamaan (16) disubstitusi ke dalam Persamaan (15), sehingga diperoleh

Persamaan (17).

(24)

(22)

(23)

(24) Persamaan (17) merupakan Model Differential-Algebraic-Equations (DAEs)

untuk distilasi batch sederhana sistem ternet, dengan asumsi tidak membentuk dua

phase liquida.

Persamaan (17) telah ditulis oleh Doherty dan Perkins (1978) sebagai berikut :

= −

( − )

Dengan forward-finite-difference, dari Persamaan (17) akan diperoleh komposisi

liquida di bottom sebagai fungsi ∆ , sehingga didapat Persamaan (19)

sedangkan komposisi uap dihitung mengggunakan Persamaan BUBL T

(Prausnitz, 2001).

2.3. Pemogr aman Ber or ientasi Objek

Program yang baik ialah program yang dapat berkembang dari waktu ke

waktu. Dengan tujuan pengembangan program itu dan perkembangan metode

pembuatan program oleh karena itu Tugas Akhir ini mengunakan metode

pemograman yang diterapkan akhir-akhir ini yaitu Pemorgaman Berorientasi

(25)

Objek. Selain mudah dikembangkan diwaktu yang akan datang, perangkat lunak

yang menggunakan metode Pemograman berorientasi Objek ini memiliki

keuntungan yang lain yaitu dalam 1 projek perangkat lunak dapat menggunakan

bermacam-macam bahasa pemograman yang mendukung Pemograman

Berorientasi Objeck, misalnya C#.Net, VB.Net, dsb. (Novak, 2010)

Kelas adalah kumpulan atas definisi data dan fungsi-fungsi dalam suatu

unit untuk suatu tujuan tertentu. Sebuah class adalah dasar dari modularitas dan

struktur dalam pemrograman berorientasi object. Sebuah class secara tipikal

sebaiknya dapat dikenali oleh seorang non-programmer sekalipun terkait dengan

domain permasalahan yang ada, dan kode yang terdapat dalam sebuah class

sebaiknya (relatif) bersifat mandiri dan independen (sebagaimana kode tersebut

digunakan jika tidak menggunakan OOP). Dengan modularitas, struktur dari

sebuah program akan terkait dengan aspek-aspek dalam masalah yang akan

diselesaikan melalui program tersebut. Cara seperti ini akan menyederhanakan

pemetaan dari masalah ke sebuah program ataupun sebaliknya.

Objek adalah membungkus data dan fungsi bersama menjadi suatu unit

dalam sebuah program komputer; objek merupakan dasar dari modularitas

dan struktur dalam sebuah program komputer berorientasi objek.

Abstraksi adalah Kemampuan sebuah program untuk melewati aspek

informasi yang diproses olehnya, yaitu kemampuan untuk memfokus pada inti.

Setiap objek dalam sistem melayani sebagai model dari "pelaku" abstrak yang

dapat melakukan kerja, laporan dan perubahan keadaannya, dan berkomunikasi

(26)

ini diterapkan. Proses, fungsi atau metode dapat juga dibuat abstrak, dan beberapa

teknik digunakan untuk mengembangkan sebuah pengabstrakan.

Enkapsulasi adalah memastikan pengguna sebuah objek tidak dapat

mengganti keadaan dalam dari sebuah objek dengan cara yang tidak layak; hanya

metode dalam objek tersebut yang diberi izin untuk mengakses keadaannya.

Setiap objek mengakses interface yang menyebutkan bagaimana objek lainnya

dapat berinteraksi dengannya. Objek lainnya tidak akan mengetahui dan

tergantung kepada representasi dalam objek tersebut.

Polimorfisme melalui pengiriman pesan. Tidak bergantung kepada

pemanggilan subrutin, bahasa orientasi objek dapat mengirim pesan; metode

tertentu yang berhubungan dengan sebuah pengiriman pesan tergantung kepada

objek tertentu di mana pesa tersebut dikirim. Contohnya, bila sebuah burung

menerima pesan "gerak cepat", dia akan menggerakan sayapnya dan terbang. Bila

seekor singa menerima pesan yang sama, dia akan menggerakkan kakinya dan

berlari. Keduanya menjawab sebuah pesan yang sama, namun yang sesuai dengan

kemampuan hewan tersebut. Ini disebut polimorfisme karena sebuah variabel

tungal dalam program dapat memegang berbagai jenis objek yang berbeda selagi

program berjalan, dan teks program yang sama dapat memanggil beberapa metode

yang berbeda di saat yang berbeda dalam pemanggilan yang sama. Hal ini

berlawanan dengan bahasa fungsional yang mencapai polimorfisme melalui

penggunaan fungsi kelas-pertama.

Dengan menggunakan OOP maka dalam melakukan pemecahan suatu

masalah kita tidak melihat bagaimana cara menyelesaikan suatu masalah tersebut

(27)

(terstruktur) tetapi objek-objek apa yang dapat melakukan pemecahan masalah

tersebut. Sebagai contoh anggap kita memiliki sebuah departemen yang memiliki

manager, sekretaris, petugas administrasi data dan lainnya. Misal manager

tersebut ingin memperoleh data dari bag administrasi maka manager tersebut tidak

harus mengambilnya langsung tetapi dapat menyuruh petugas bag administrasi

untuk mengambilnya. Pada kasus tersebut seorang manager tidak harus

mengetahui bagaimana cara mengambil data tersebut tetapi manager bisa

mendapatkan data tersebut melalui objek petugas administrasi. Jadi untuk

menyelesaikan suatu masalah dengan kolaborasi antar objek-objek yang ada

karena setiap objek memiliki deskripsi tugasnya sendiri.

Dalam pembuatan aplikasi simulasi distilasi batch ini digunakan pembuat

program dan bahasa yang digunakan untuk membuat program tersebut.

Visual Studio 2010 – merupakan sebuah pembuat perangkat lunak

(Software Maker) yang dikeluarkan oleh salah satu perusahaan perangkat lunak

komputer terbesar didunia yaitu Microsoft. Keuntungan dari Visual Studio 2010

ini ialah sudah menganut .net Framework 4.0 dan banyak bahasa yang bisa

digunakan untuk membuat perangkat lunak tersebut, misalnya C#.Net, VB.Net,

dan lain sebagainya.

Microsoft .NET Framework (dibaca Microsoft Dot Net Framework) atau

lebih dikenal dengan singkatan dot net merupakan sebuah perangkat

lunak kerangka kerja yang berjalan utamanya pada sistem operasi Microsoft

Windows, saat ini .NET Framework umumnya telah terintegrasi dalam distribusi

(28)

lebih baru). Kerangka kerja ini menyediakan sejumlah besar pustaka

pemrograman komputer dan mendukung beberapa bahasa pemrograman serta

interoperabilitas yang baik sehingga memungkinkan bahasa-bahasa tersebut

berfungsi satu dengan lain dalam pengembangan sistem.

(29)

BAB III

METODA PENELITIAN

3.1. Simulasi Sistem Biner

Simulasi sistem biner yang diteliti menggunakan metoda rigorous dengan

model DEAs seperti yang telah diuraikan pada BAB 2, dimana penyelesaian

modelnmya menggunakan persamaan numerik yaitu metoda Euler dengan

menggunakan bahasa C# .Net. Profil simulasi sistem biner yang diteliti adalah :

1. Profil temperatur terhadap dimensionless waktu.

2. Profil komposisi liquida di bottom terhadap dimensionless waktu.

3. Profil komposisi uap di bottom terhadap dimensionless waktu.

Asumsi yang digunakan pada simulasi sistem biner dengan distilasi batch

sederhana :

1. Kolom beroperasi dalam keadaan atmosperik yaitu tekanan 1 Bar.

(30)

Gambar 3. 1. Flowchart untuk perhitungan BUBL T

(31)

Algoritma Perhitungan BUBL T :

1. Memasukkan harga, komposisi umpan komponen-i ( ), tekanan (P), data

parameter Antoine (A, B, C).

2. Menghitung harga temperatur uap jenuh komponen-i ( ) dengan

persamaan Antoine, kemudian dilanjutkan menghitung temperatur (T).

3. Menghitung harga koefisien aktivitas komponen-i ( ) dengan persamaan

Antoine.

4. Identify species j, dengan menghitung tekanan uap jenuh komponen-1 ( )

menggunakan persamaan modifikasi Hukum Raoult.

5. Menghitung harga temperatur baru (T) dengan persamaan Antoine.

6. Menormalisasi temperatur baru dengan temperatur awal, apabila memenuhi

syarat sesuai dengan kesalahan yang kita tetapkan, maka program dilanjutkan.

Jika tidak memenuhi, kembali menghitung harga temperatur uap jenuh (T).

7. Hitung disilat komponen-i ( ) .

8. Print komposisi uap distilat komponen-i ( ), dan temperatur komponen-i

(32)

Gambar 3. 2. Flowchart distilasi batch sederhana dengan Metoda Euler

Algoritma Distilasi Batch Sederhana dengan Metoda Euler :

1. Memasukkan harga, jumlah dimensionless waktu (N), incremen dimensionless

waktu ( ∆ ), komposisi umpan komponen-i ( ).

2. Menghitung harga komposisi liquida di bottom komponen-i ( ) fungsi pada

saat awal dengan forward-finite-difference.

3. Menghitung harga temperatur baru (T) fungsi dengan persaman Antoine.

(33)

4. Menghitung harga komposisi uap di distilat komponen-i ( ) fungsi pada

saat awal dengan persamaan BUBL T.

5. Ulangi langkah 2 sampai langkah 4 sebanyak 350 kali.

6. Print komposisi liquida di bottom komponen-i ( ), komposisi uap di distilat

komponen-i ( ) , dan temperatur komponen-i ( ).

3.1.1. Simulasi Sistem Biner Etanol – Air

Komposisi umpan yang digunakan dipilih beberapa data untuk

memperoleh profil yang diteliti seperti Tabel dibawah ini.

Tabel 3. 1. Komposisi Umpan Sistem Biner Etanol – Air

Run

Untuk menghitung tekanan uap jenuh digunakan persamaan Antoine, data

parameter Antoine seperti tabel dibawah ini, dimana suhu (T) dalam satuan K dan

(34)

Tabel 3. 2.Parameter Antoine Sistem Biner Etanol – Air

3.1.2. Simulasi Sistem Biner Aseton – n-Butanol

Komposisi umpan yang digunakan dipilih beberapa data untuk

memperoleh profil yang diteliti dan profil tidak saling berhimpitan seperti data

dibawah ini.

Tabel 3. 3.Komposisi Umpan Sistem Biner Aseton – n-Butanol

Run

Data parameter Antoine sistem biner Aseton – n-Butanol ditunjukan pada

tabel dibawah ini.

(35)

Tabel 3. 4. Parameter Antoine Sistem Biner Aseton – n-Butanol

Komponen

Par ameter Antoine

A B C

Aseton 4.2184 1197.01 228.06

n-Butanol 4.6493 1395.14 182.739

Sumber : Prausnitz, 2001

3.1.3. Simulasi Sistem Biner Aseton – Etanol

Komposisi umpan yang digunakan dipilih beberapa data untuk

memperoleh profil yang diteliti seperti Tabel dibawah ini.

Tabel 3. 5.Komposisi Umpan Sistem Biner Aseton – Etanol

Run

Data parameter Antoine sistem biner Aseton – n-Butanol ditunjukan pada

(36)

Tabel 3. 6. Parameter Antoine Sistem Biner Aseton – Etanol

3.1.4. Simulasi Sistem Biner n-Butanol – Etanol

Komposisi umpan yang digunakan dipilih beberapa data untuk

memperoleh profil yang diteliti seperti Tabel dibawah ini.

Tabel 3. 7. Komposisi Umpan Sistem Biner n-Butanol – Etanol

Run

Data parameter Antoine sistem biner n-Butanol – Butanol ditunjukan pada

tabel dibawah ini.

(37)

Tabel 3. 8. Parameter Antoine Sistem Biner n-Butanol – Etanol

Komponen

Par ameter Antoine

A B C

n-Butanol 4.6493 1395.14 182.739

Etanol 5.3365 1648.22 230.918

Sumber : Prausnitz, 2001

3.2. Simulasi Sistem Ter ner ABE

Simulasi sistem terner ABE secara distilasi batch sederhana menggunakan

metoda rigorous dengan model DEAs seperti yang telah diuraikan pada BAB 2,

dimana penyelesaian modelnya menggunakan persamaan numerik yaitu metoda

Euler dengan menggunakan bahasa C#.net.

Adapun simulasi sistem terner ABE adalah sebagai berikut :

1. Perkiraan kesetimbangan fasa uap-cair untuk = 1, diasumsikan larutan ideal.

2. Perhitugan BUBL T.

3. Perhitungan komposisi liquida di bottom.

Asumsi yang digunakan pada simulasi sistem terner ABE sama dengan

simulasi sistem biner. Dalam menentukan komposisi umpan sistem ternet ABE

dilakukan secara acak kuran lebih 24 run, kemudian dipilin 7 run yang mewakili

seperti tabel dibawah ini. Dimana kurva yang dihasilkan tidak saling berhimpitan,

sehingga dari kurva yang diperoleh bisa mewakili pa yang akan ditinjau dan

(38)

Tabel 3. 9. Komposisi Umpan Sistem Terner ABE

Untuk menghitung tekanan uap jenuh digunakan persamaan Antoine, data

parameter Antoine seperti tabel dibawah ini, dimana suhu (T) dalam satuan K dan

tekanan uap jenuh (Psat) dalam satuan Bar.

Tabel 3. 10.Parameter Antoine Sistem Terner Aseton – n-Butanol – Etanol

Komponen Par ameter Antoine

A B C

Aseton 4.2184 1197.01 228.06

n-Butanol 4.6493 1395.14 182.739

Etanol 5.3365 1648.22 230.918

Sumber : Prausnitz, 2001

(39)

3.3. Per ancangan Sistem

Pada bab ini akan menjelaskan mengenai proses desain dari sistem yang

akan dibuat.

3.3.1. Deskr ipsi Umum Sistem

Secara umum, proses bisnis yang terjadi dalam aplikasi ini dapat

dijelaskan melalui diagram berikut :

Gambar 3. 3. Proses Bisnis Simulasi Distilasi Batch

Penjelasan Diagr am Diatas :

User disini ialah mahasiswa yang akan melakukan percobaan Distilasi

Batch.

Sebelum melakukan percobaan yang sebenarnya di laboratorium kimia,

mahasiswa dapat melakukan simulasi percobaan distilasi batch untuk menentukan

komposisi dari elemen. Sehingga hasil dari percobaan yang akan dilakukan dapat

(40)

3.3.2. Use Case Diagram

Pada aplikasi Simulasi Distilasi Batch ini, terdapat 4 proses yang terjadi.

Proses tersebut ialah :

1. Pengguna dapat memasukkan nilai umpan simulasi.

2. Pengguna menjalankan perintah untuk memproses data dari nilai

umpan yang dimasukkan.

3. Pengguna dapat melihat laporan hasil dari nilai umpan yang diproses.

4. Pengguna dapat mencetak laporan yang hasil proses data.

(41)

3.3.3. Activity Diagram

Act ivit y Diagram “ M emasukkan Nilai Umpan”

Sistem

Gambar 3. 5. Activity Diagram “Memasukkan Nilai Umpan”

Dalam activity diagram memasukkan nilai umpan, setelah program

dijalankan ialah pengguna harus memilih jumlah elemen yang akan dilakukan

simulasi. Jika pengguna memilih pada tab control Dua Elemen, maka tampil dua

(42)

Gambar 3. 6. Activity Diagram “Memproses Data”

Setelah nilai umpan dimasukkan, maka :

1. Pengguna menekan tombol “Proses” untuk memulai data diproses.

2. Sistem melakukan cek apakah ada nilai yang dimasukkan?! Jika ada maka

lanjut langkah selanjutnya. Jika tidak maka sistem menampilkan pesan

kesalahan dan pengguna harus membenarkan nilai umpan yang dimasukkan

dan menekan tombol “Proses” kembali.

(43)

3. Sistem melakukan cek apakah nilai yang dimasukkan berupa angka?! Jika ya

maka lanjut langkah selanjutnya. Jika tidak maka sistem menampilkan pesan

kesalahan dan pengguna harus membenarkan nilai umpan yang dimasukkan

dan menekan tombol “Proses” kembali.

4. Sistem melakukan cek apakah ada nilai total tiap baris sama dengan 1?! Jika

ya maka lanjut langkah selanjutnya. Jika tidak maka sistem menampilkan

pesan kesalahan dan pengguna harus membenarkan nilai umpan yang

dimasukkan dan menekan tombol “Proses” kembali.

5. Sistem melakukan cek apakah Masih ada data yang diproses?! Jika ya maka

proses kembali ke langkah nomor 2 dengan nilai dari baris selanjutnya yang

diproses. Jika tidak maka sistem memproses semua data yang dimasukkan

nilai tersebut.

(44)

Setelah data diproses, maka sistem menampilkan data yang telah diproses.

Pada laporan menampilkan hasil proses dari tiap satu baris data yang diinputkan.

Jika masih ada data selanjutnya, maka sistem menampilkan laporan hasil proses

dari data tersebut. Laporan yang ditampilkan sesuai dengan banyaknya data yang

dimasukkan. Jika laporan sudah semua ditampilkan maka pengguna dapat melihat

semua laporan tersebut.

Gambar 3. 8. Activity Diagram “Mencetak Laporan”

Pengguna memilih laporan yang ingin untuk dicetak. Untuk mencetak

maka pengguna menekan tombol “Print”, kemudia sistem akan mencetak laporan

tersebut. Setelah laporan dicetak pengguna mendapatkan hasil laporan yang

dicetak.

(45)

3.3.4. Sequence Diagr am

Gambar 3. 9.Sequence Diagram “Memasukkan Nilai Umpan”

Ketika pengguna memulai aplikasi, pengguna memilih jumlah elemen

yang akan dilakukan simulasi. Ketika pengguna memilih dua elemen, maka sistem

menampilkan kolom dua elemen. Ketika pengguna memilih tiga elemen, maka

sistem menampilkan kolom tiga elemen.

(46)

Ketika Pengguna menekan tombolo “Proses” maka sistem melakukan

pen-cek-an data pada masing-masing data umpan yang dimasukkan. Jika terdapat

kesalahan sistem menampilkan pesan kesalahan. Jika benar maka proses

dilanjutkan.

Gambar 3. 11.Sequence Diagram “Melihat Laporan”

Setelah proses data selesai maka sistem menampilkan data hasil proses

berupa laporan. Jumlah laporan yang ditampilkan sesuai dengan banyaknya data

yang dimasukkan.

Gambar 3. 12. Sequence Diagram “Mencetak Laporan”

(47)

Untuk mencetak laporan maka pengguna memilih laporan yang akan

dicetak kemudian pengguna menekan tombol “Print”.

3.3.5. Class Diagr am

Gambar 3. 13. Class Diagram Simulasi Distilasi Batch

Class SimulasiForm

Class SimulasiForm ini ialah class utama. Semua proses dipanggil melalui

class ini. Pada class ini terdapat fungsi “ProsesButton()” yang berfungsi

menjalankan proses perhitungan ketika tombol proses ditekan. Proses tersebut

(48)

Class Proses

Pada class Proses ini merupakan class utama yang melakukan

pemanggilan objek yang melakukan perhitungan. Class yang dipanggil ialah class

MetodeEuler dan class BublT yang terdapat proses perhitungan dari simulasi

diatilasi batch ini.

Class BublT

Class BublT merupakan class yang berisikan proses simulasi distilasi

Batch dengan metode BublT. Pada class BublT terdapat objek dari class Rumus

dan class Antoine.

Class MetodeEuler

Class MetodeEuler merupakan class yang berisikan proses simulasi

distilasi Batch dengan metode MetodeEuler. Pada class MetodeEuler terdapat

objek dari class Rumus dan class Antoine.

Class Rumus

Class Rumus ini berisikan semua rumus perhitungan yang diperlukan oleh

simulasi distilasi batch ini. Jika membutuhkan rumus di class ini maka class

tersebut tinggal menanggil class ini dengan memanggilnya sebagai obyek.

Class Antoine

Class Antoine ini berisikan paramete Antoine dari larutan yang yang

dijadikan simulasi distilasi batch.

Class ReportForm

(49)

Class ReportForm ini berisikan proses yang akan menampilkan hasil dari

perhitungan simulasi distilasi batch yang berlangsung diatas. Seluruh nilai hasil

perhitungan di berikan pada class ini untuk diproses agak bisa ditampilkan dalam

bentuk tabel dan grafik.

3.4. Analisa Kebutuhan

3.4.1. Per ancangan Antar Muka

3.4.1.1.Halaman Memasukkan Data Kompsisi Lar utan Dua Elemen

Gambar 3. 14. Antar Muka Dua Elemen

Keterangan :

Halaman ini digunakan untuk memasukkan komposisi larutan dua elemen yang

akan dijadikan data simulasi untuk mendapatkan hasil prediksi / perkiraan jika

(50)

Radio Button :

Radio Button ini digunakan untuk memilih komposisi larutan yang akan

digunakan dalam simulasi distilasi batch. Pilihan komposisi larutan tersebut ialah:

a. Komposisi Etanol dengan Komposisi Air.

b. Komposisi Aseton dengan Komposisi n-Butanol.

c. Komposisi Aseton dengan Komposisi Etanol.

d. Komposisi Etanol dengan Komposisi n-Butanol.

DataGridView1:

Digunakan untuk memasukkan data komposisi larutan yang digunakan untuk data

simulasi.

Kolom X1 : Komposisi larutan 1.

Kolom X2 : Komposisi larutan 2.

Tab1 :

Digunakan untuk memilih banyaknya elemen yang digunakan untuk melakukan

simulasi. Elemen yang tersedia ialah Dua Elemen dan Tiga Elemen.

Button1 :

Digunakan untuk melakukan proses dari komposisi larutan Dua Elemen yang

telah dimasukkan.

Button2 :

Digunakan untuk melakukan penghapusan baris data yang telah dimasukkan.

(51)

3.4.1.2.Halaman Memasukkan Data Kompsisi Lar utan Tiga Elemen

Gambar 3. 15. Antar Muka Tiga Elemen

Keterangan :

Halaman ini digunakan untuk memasukkan komposisi larutan tiga elemen yang

akan dijadikan data simulasi untuk mendapatkan hasil prediksi / perkiraan jika

melakukan percobaan yang sebenarnya.

DataGridView1:

Digunakan untuk memasukkan data komposisi larutan yang digunakan untuk data

simulasi.

Kolom X1 : Komposisi larutan Aseton.

Kolom X2 : Komposisi larutan Butanol.

(52)

Tab2 :

Digunakan untuk memilih banyaknya elemen yang digunakan untuk melakukan

simulasi. Elemen yang tersedia ialah Dua Elemen dan Tiga Elemen.

Button3 :

Digunakan untuk melakukan proses dari komposisi larutan Tiga Elemen yang

telah dimasukkan.

Button4 :

Digunakan untuk melakukan penghapusan baris data yang telah dimasukkan.

3.4.2. Halaman Lapor an

Gambar 3. 16. Format Laporan Hasil Simulasi

Keterangan :

Halaman ini merupakan bentuk laporan dari hasil simulasi yang dilakukan, agar

mahasiswa yang melakukan simulasi dapat mengetahui perkiraan hasil yang akan

didapat dari percobaan yang akan dilakukan. Pada laporan ini terdapat tabel hasil

perhitungan dan grafik yang terbentuk dari hasil perhitungan dimulasi.

(53)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Pr oses Pembuatan Pr ogr am

Pada sub bab ini akan dibahas beberapa hal yang mendukung dalam

pembuatan simulasi distilasi batch. Yang akan dibahas pada proses pembuatan

program simualsi distilasi batch ini, mulai dari contoh pemanggilan fungsi class

sebagai obyek, merubah rumus yang dipahami manusia menjadi rumus yang

dipahami oleh komputer, hingga proses pembuatan laporan mulai dari degain

laporan hingga menampilkan data hasil perhitungan simulasi distilasi batch.

4.1.1. Pemanggilan Fungsi Class Sebagai Obyek

Program aplikasi apapun untuk menghitung rumus apapun tidak bisa

menerima rumus seperti rumus yang diciptakan dan dipelajari oleh manusia. Agar

program dapat melakukan perhitungan dengan hasil yang sama dengan manusia

melakukan perhitungan, maka rumus-rumus tersebut diubah dengan bahasa

pemograman yang dapat diterima oleh program yang digunakan untuk membuat

aplikasi tersebut.

Dalam program simulasi distilasi batch yang dibuat kali ini, semua rumus

di buat di 1(satu) class yang dapat dipanggil sebagai obyek. Pemanggilan Class

sebagai obyek dapat dilihat seperti contoh dibawah ini pada class Process dan

(54)

4.1.2. Source Code Rumus

Berikut ini ialah Source Code dari rumus-rumus yang digunakan dalam

aplikasi simulasi distilasi batch ini.

a. Menghitung temperatur jenuh dari komponen murni . (Rumus no. 1 pada

Bab 2)

(55)

b. Menghitung Nilai Suhu Awal. (Rumus no. 2 pada Bab 2)

3. Ti ialah nilai Suhu Awal.

(56)

c. Menghitung tekanan uap jenuh [ ]. (Rumus no. 3 pada Bab 2)

d. Menghitung tekanan uap jenuh komponen-1[ ]. (Rumus no. 6 pada Bab 2)

e. Menghitung harga T baru. (Rumus no. 7 pada Bab 2)

Penjelasan :

Dalam menghitung harga T baru sama dengan menghitung temperatur jenuh

dari komponen murni pada point a. Hanya dibedakan nilai P pada point

a digantikan dengan nilai [ ] dari point d.

Listing Program :

(57)

f. Mencari kesalahan antara T baru dengan T awal. (Rumus no. 8 pada Bab 2)

g. Mendapatkan nilai dari dari konstanya kesetimbangan antara fase uap dan

fase liquida. (Rumus no. 9 pada Bab 2)

h. Menghitung komposisi liquida di bottom. (Rumus no 24 pada Bab 2)

4.1.3. DataSet

Dalam pembuatan laporan hasil simulasi distilasi batch ini, dibutuhkanlah

parameter yang membawa nilai dari fungsi perhitungan simulasi ke CristalReport

yang digunakan untuk menampilkan data perhitungan. Dibutuhkannya DataSet ini

karena aplikasi ini tidak menggunakan database untuk penyimpanan data hasil

(58)

Gambar 4. 1. Tabel pada DataSet

Untuk mengirimkan data pada CrystalReport, dibutuhkanlah DataSet

sebagai parameter ke CrystalReport. Pada DataSet dibuatlah suatu tabel yang

digunakan untuk menyimpan data yang akan ditampilkan pada CrystalReport.

Pada Skripsi ini dibuat 2(dua) tabel yang digunakan untuk menampung data

tersebut, yaitu DuaElemenDataTable (digunakan untuk menyimpan data dari

simulasi distilasi batch dengan 2(dua) elemen) dan TigaElemenDataTabel

(digunakan untuk menyimpan data dari simulasi distilasi batch dengan 3(tiga)

elemen).

Setelah dibuat tabel yang diperlukan, maka dibuat field yang dibutuhkan

untuk menyimpan data. Berikut ini banyaknya field yang dibutuhkan dan

konfigurasi tiap field tersebut.

(59)

Tabel 4. 1. Field pada tabel DuaElemenDataTable

Name Caption DataType Max

Length Keter angan

id id System.String 4 Untuk menyimpan dimensionless

waktu

X1 X1 System.Double -1 Untuk menyimpan komposisi

liquida 1

X2 X2 System.Double -1 Untuk menyimpan komposisi

liquida 2

Y1 Y1 System.Double -1 Untuk menyimpan komposisi

uap 1

Y2 Y2 System.Double -1 Untuk menyimpan komposisi

uap 2

T1 T1 System.Double -1 Untuk menyimpan profil

temperature 1

T2 T2 System.Double -1 Untuk menyimpan profil

temperature 2

Tabel 4. 2. Field pada tabel DuaElemenDataTable

Name Caption DataType Max

Length Keter angan

id id System.String 4 Untuk menyimpan dimensionless

waktu

X1 X1 System.Double -1 Untuk menyimpan komposisi

liquida 1

X2 X2 System.Double -1 Untuk menyimpan komposisi

liquida 2

X3 X3 System.Double -1 Untuk menyimpan komposisi

liquida 3

Y1 Y1 System.Double -1 Untuk menyimpan komposisi

uap 1

Y2 Y2 System.Double -1 Untuk menyimpan komposisi

uap 2

Y3 Y3 System.Double -1 Untuk menyimpan komposisi

(60)

4.1.4. CrystalReport

Untuk membuat laporan yang akan ditampilkan dan dapat untuk dicetak,

maka dibutuhkannya suatu desain untuk membuat laporan tersebut. Desain

tersebut dalam Microsoft Visual Studio disebut dengan CrystalReport. Berikut ini

ialah contoh desain CrystalReport.

Gambar 4. 2. Desain Laporan Dua Elemen

Gambar 4. 3. Desain Laporan Dua Elemen

(61)

4.1.5. CrystalReportViewer

Untuk menampilkan laporan dari CrystalReport maka dibutuhkan

CrystalReportViewer. CrystalReportViewer terdapat di Tools Control Form.

Tempatkan CrystalReportViewer pada form yang akan menampilkan laporan

tersebut. Contohnya seperti dibawah ini.

Gambar 4. 4. CrystalReportViewer pada Form

Karena simulasi distilasi batch ini tidak menggunakan database, oleh

karena itu dibutuhkan lah suatu cara untuk membawa nilai hasil perhitungan ke

dalam CrystalReport dengan cara menggunakan tabel DataSet untuk menyimpan

nilai sementara.

Contoh script program untuk mengisi data ke tabel DataSet hingga

(62)

Penjelasan :

a. SimulasiDataSet ialah class dari DataSet yang bernama SimulasiDataSet yang

definisikan sebagai obyek.

b. TigaElemenCrystalReport ialah class dari CrystalReport yang bernama

TigaElemenCrystalReport yang definisikan sebagai obyek.

Listing Program :

(63)

TigaElemenCrystalReport ialah desain laporan dari Simulasi Distilasi Batch

3(tiga) elemen.

c. reportCrystalReportViewer ialah nama dari CrystalReportViewer yang akan

digunakan untuk menampilkan laporan hasil simulasi.

4.2. User Interface (Tatapan Antar Muka)

4.2.1. User Interface Dua Elemen

Gambar 4. 5 User Interface Dua Elemen

Pada halaman User Interface Dua Elemen ini terdapat beberapa fungsi

yang digunakan untuk kemudahan dalam memasukan data simulasi distilasi batch

dan dalam memproses data tersebut. Fungsi-fungsi itu ialah :

1. Tab Control.

Tab Control ini digunakan untuk menentukan banyaknya komposisi elemen

yang akan digunakan dalam melakukan Simulasi Distilasi Batch.

(64)

Gambar 4. 6. Radio Button Dua Elemen

Radio Button ini berfungsi untuk merubah jenis komposisi elemen yang

digunakan untuk melakukan Simulasi Distilasi Batch. Adapun pilihan jenis

komposisinya ialah Etanol – Air, Aseton – Butanol, Aseton – Etanol,

n-Butanol – Etanol. Dipilihnya 4 jenis komposisi campuran diatas ialah karena

keempat komposisi tersebut sudah memiliki hasil yang digunakan untuk

menvalidasi hasil dari simulasi yang dibuat kali ini.

3. Hapus data.

Terdapat fungsi untuk hapus data jika terdapat kesalahan dalam

peng-input-kan data atau jika terdapat data yang ingin dihilangpeng-input-kan dari proses Simulasi

Distilasi Batch.

4. Validari komposisi.

Pada user interface ini terdapat juga validasi komposisi yang digunakan untuk

simulasi. Validasi ini menghitung komposisi X1 dan komposisi X2 harus sama

dengan 1. Jika terdapat komposisi X1 dan komposisi X2 kurang dari 1 atau

lebih dari 1, maka proses tidak dapat dilanjutkan dan keluar peringatan yang

menunjukkan kesalahan pada data.

5. Perhitungan Simulasi.

Ini ialah proses akhir yang bertujuan untuk menghitung komposisi yang sudah

dimasukkan dan memprosesnya menjadi data-data dan grafik.

(65)

4.2.2. User Interface Tiga Elemen

Ga mbar 4. 7. User Interface Dua Elemen

Pada halaman User Interface Dua Elemen ini terdapat beberapa fungsi

yang digunakan untuk kemudahan dalam memasukan data simulasi distilasi batch

dan dalam memproses data tersebut. Fungsi-fungsi itu ialah :

1. Tab Control.

Tab Control ini digunakan untuk menentukan banyaknya komposisi elemen

yang akan digunakan dalam melakukan Simulasi Distilasi Batch.

2. Hapus data.

Terdapat fungsi untuk hapus data jika terdapat kesalahan dalam

peng-input-kan data atau jika terdapat data yang ingin dihilangpeng-input-kan dari proses Simulasi

(66)

3. Validari komposisi.

Pada user interface ini terdapat juga validasi komposisi yang digunakan untuk

simulasi. Validasi ini menghitung komposisi X1 dan komposisi X2 harus sama

dengan 1. Jika terdapat komposisi X1 dan komposisi X2 kurang dari 1 atau

lebih dari 1, maka proses tidak dapat dilanjutkan dan keluar peringatan yang

menunjukkan kesalahan pada data.

4. Perhitungan Simulasi.

Ini ialah proses akhir yang bertujuan untuk menghitung komposisi yang sudah

dimasukkan dan memprosesnya menjadi data-data dan grafik.

4.3. Halaman Lapor an

Pada halaman laporan ini yang akan ditampilkan ialah data dalam bentuk

tabel yang berisi nilai profil Temperatur, Komposisi Liquida, dan Komposisi Uap

tiap dimensionless waktu dan yang kedua ialah grafik yang menunjukkan profil

Temperatur, Komposisi Liquida, dan Komposisi Uap.

Gambar 4. 8. Laporan Dalam Bentuk Tabel

(67)

Gambar 4. 9. Laporan Dalam Bentuk Grafik

4.4. Hasil Laporan Simulasi Distilasi Batch

4.3.1. Sistem Biner

v Profil Komposisi Liquida di Bottom Sistem Biner Etanol-Air

Sumber : Sari, 2007

(68)

Gambar 4. 11. Profil Komposisi Liquida di Bottom Sistem Biner Eranol – Air tanpa Koefisien Aktifitas

Pada kedua grafik diatas, dapat dilihat perbedaan hasil simulasi profil

komposisi liquida di Bottom meski nilai umpan yang dimasukkan sama yaitu

Etanol=0.8 dan Air=0.2. Bentuk Grafik Gambar 4.10 dan Grafik Gambar 4.11

terjadi perbedaan disebabkan karena Grafik Gambar 4.10 dilakukan

perhitungan koefisien aktifitas sedangkan pada Grafik Gambar 4.11 tidak

dilakukan perhitungan koefisien aktifitas.

Koefisien Aktifitas ialah menghitung kadar ideal larutan. Sedangkan

pada Gambar 4.11 tidak dihitung koefien aktifitas karena larutan dianggap

ideal yaitu bernilai 1 (Batasan Masalah pada BAB 2).

Dengan tidak dihitungnya koefisien aktifitas maka hasil simulasi

berbeda jauh dengan hasil percobaan yang sebenarnya. Sebagai contoh

perbandingan, pada Gambar 4.10 yang dilakukan perhitungan koefisien

aktifitas menghasilkan penguapan etanol yang terjadi menyebabkan komposisi

liquida di bottom dari 0.8 dingga menjadi 0.45. Sedangkan pada Gambar 4.11

karena tidak ada perhitungan koefisien aktifitas, maka penguapan etanol yang

terjadi menyebabkan komposisi liquida di bottom dari 0.8 dingga menjadi 0.2.

(69)

v Profil Komposisi Uap di Bottom Sistem Biner Etanol-Air

Sumber : Sari, 2007

Gambar 4. 12. Profil Komposisi Uap di Bottom Sistem Biner Eranol – Air dengan Koefisian Aktifitas

Gambar 4. 13. Profil Komposisi Uap di Bottom Sistem Biner Eranol – Air tanpa Koefisian Aktifitas

Hal yang terjadi pada hasil grafik Komposisi Liquida di Bottom terjadi

juga pada pada hasil grafik Komposisi Uap di Bottom. Hal ini disebabkan oleh

tidak dihitungnya koefisien aktifitas karena larutan dianggap ideal sehingga

koefisien aktifitas dianggap bernilai 1. Sebagai contoh perbedaan itu ialah pada

(70)

0.9 menjadi 0.625. Sedangkan pada Gambar 4.13 dimana Komposisi Uap di

Bottom tanpa perhitugan koefisien aktifitas, hasil penguapan etanol dari 0.9

menjadi 0.4.

v Profil Temperatur di Bottom Sistem Biner Etanol-Air

Sumber : Sari, 2007

Gambar 4. 14. Profil Temperatur di Bottom Sistem Biner Eranol – Air dengan Koefisian Aktifitas

Gambar 4. 15. Profil Temperatur di Bottom Sistem Biner Eranol – Air tanpa Koefisian Aktifitas

(71)

Pada perhitungan Profil Temperatur di Bottom, jika tanpa menghitung

koefisien aktifitas maka profil temperatur yang di dapat antara etanol dan air

terjadi kenaikan dan penurunan secara konstan tiap dimensionless waktu, seperti

tampak pada Gambar 4.15. Sebaliknya, jika perhitungan Profil Temperatur di

Bottom dengan menghitung koefisien aktifitas, maka terjadi penurunan temperatur

secara signifikan (Gambar 4.14. Run-1), hal ini disebabkan oleh perhitungan

koefisien aktifitas. Jadi perubahan temperatur pada percobaan sebenarnya akan

sama dengan simulasi jika dihitung juga koefisien aktifitasnya.

4.3.2. Sistem Ter ner ABE

v Profil Komposisi Liquida di Bottom Sistem Terner Aseton – n-Butanol –

Etanol

Sumber : Sari, 2007

Gambar 4. 16. Profil Komposisi Liquida di Bottom

(72)

Gambar 4. 17. Profil Komposisi Liquida di Bottom

Sistem Terner Aseton – n-Butanol – Eranol Air tanpa Koefisian Aktifitas

Pada Profil Komposisi Liquida di Bottom seperti tampak Gambar 4.16 dan

Gambar 4.17 memiliki hasil yang sama. Hal ini disebabkan tidak terdapatnya

cairan berupa air. Sehingga hasil simulasi memiliki hasil yang sama. Karena

koefisien aktifitas Aseton, Butanol, Etanol memiliki koefien aktifitas yang tetap,

sedangkan air memiliki koefisien aktifitas yang berbeda karena air dibedakan

antara ideal dan non-ideal.

v Profil Komposisi Uap di Bottom Sistem Terner Aseton – n-Butanol – Etanol

Sumber : Sari, 2007

Gambar 4. 18. Profil Komposisi uap di Bottom

Sistem Terner Aseton – n-Butanol – Eranol Air dengan Koefisian Aktifitas

(73)

Gambar 4. 19. Profil Komposisi uap di Bottom

Sistem Terner Aseton – n-Butanol – Eranol Air tanpa Koefisian Aktifitas

Pada Profil Komposisi Uap di Bottom seperti tampak Gambar 4.18 dan

Gambar 4.19 memiliki hasil yang. Hal ini disebabkan tidak terdapatnya cairan

berupa air. Sehingga hasil simulasi memiliki hasil yang sama. Karena koefisien

aktifitas Aseton, Butanol, Etanol memiliki koefien aktifitas yang tetap, sedangkan

air memiliki koefisien aktifitas yang berbeda karena air dibedakan antara ideal dan

non-ideal.

v Profil Komposisi Temperatur di Bottom Sistem Terner Aseton – n-Butanol –

Etanol

Sumber : Sari, 2007

(74)

Gambar 4. 21. Profil Temperatur di Bottom

Sistem Terner Aseton – n-Butanol – Eranol Air tanpa Koefisian Aktifitas

Pada Profil Komposisi Temperatur di Bottom seperti tampak Gambar 4.20

dan Gambar 4.21 memiliki hasil yang sama meskipun Gambar 4.21 didapat tanpa

menghitung koefisien simulasi. Hal ini disebabkan tidak terdapatnya cairan

berupa air. Sehingga hasil simulasi memiliki hasil yang sama. Karena koefisien

aktifitas Aseton, Butanol, Etanol memiliki koefien aktifitas yang tetap, sedangkan

air memiliki koefisien aktifitas yang berbeda karena air dibedakan antara ideal dan

non-ideal.

(75)

BAB V

UJ I C OBA DAN EVALUASI PROGRAM

Pada bab ini membahas tentang ujicoba dan evaluasi program yang

menerangkan bagaimanan jalannya program secara detail yang akan dijelaskan

pada sub bab dibawah ini.

5.1. Uji Coba Memasukkan Data Simulasi

Pada pembuatan aplikasi Simulasi Distilasi Batch ini dilakukan ujicoba

program. Selain itu, dari hasil uji coba yang telah dilakukan akan dianalisa apakah

rancangan ini dapat memenuhi tujuan yang akan dicapai seperti yang telah

dipaparkan pada Bab I.

Berikut dapat dilihat beberapa proses dari aplikasi yang dibuat dengan cara

melakukan ujicoba pada beberapa menu. Uji coba tersebut dapat dilihat sebagai

berikut :

(76)

Seletah memilih jumlah elemen komposisi larutan yang akan diproses

simulasi, maka masukkan data komposisi larutan. Total dari komposisi larutan

tiap baris harus bernilai 1. Dalam sekali proses larutan dapat dilakukan banyak

data sekaligus. Khusus pada tab control Dua Elemen, pilih jenis komposisi

elemen yang ingin dilakukan pengujian secara simulasi.

Gambar 5. 2. Pilih Jenis Komposisi Larutan

Gambar 5. 3. Input Data Dua Elemen

(77)

Gambar 5. 4. Input Data Tiga Elemen

5.2. Uji Coba Validasi Data

Jika data sudah dimasukkan, lanjutkan tekan tombol “Proccess” untuk

melakukan perintah Simulasi Distilasi Batch. Ketika menekan tombol “Proccess”

maka dilakukan validasi data. Validasi data tersebut ialah nilai total data tiap baris

harus bernilai 1, jika nilai total data perbaris lebih dari 1 atau kurang dari 1 maka

ada peringatan yang ditampilkan oleh sistem dan sistem memberikan fokus pada

data yang salah.

(78)

Ga mbar 5. 6. Peringatan Karena Data Yang Tidak Valid

Untuk merubah data simulasi dari kesalahan diatas, dapat dilakukan

dengan cara 5.3 Uji Coba Per ubahan Data point 2. Jika sudah sesuai, maka

dapat menekan tombol “Proccess” untuk memproses data simulasi.

5.3. Uji Coba Per ubahan Data Simulasi

Terkadang ketika memasukkan data, terdapat kesalahan memasukkan data.

Ada 2 macam yang dapat kita lakukan untuk melakukan perubahan data, yaitu.

1. Hapus baris yang akan dihilangkan dari proses simulasi. Caranya :

a. Pilih baris yang ingin datanya dihilangkan.

Untuk memilih baris yang akan dihilangkan maka klik pada baris yang

data pada baris tersebut yang datanya akan dihilangkan.

b. Kemudian klik tombol “Delete Row”.

Fungsi dari tombol “Delete Row” ini ialah menghapus baris telah dipilih

untuk dihilangkan datanya. Tombol “Delete Row” ini berfungsi ketika ada

baris yang dipilih untuk dihilangkan datanya.

(79)

Gambar 5. 7. Hapus Baris Data

Gambar 5. 8. Hapus Baris Data

2. Ubah data, Dengan cara :

a. Pilih cell data yang akan diubah.

Untuk merubah data yang akan diubah maka klik pada cell yang

data pada cell tersebut yang akan diubah.

b. Lakukan perubahan data.

Setelah cell terpilih maka ubah data pada cell tersebut sesuai yang

(80)

Gambar 5. 9. Ubah Data

Gambar 5. 10. Ubah Data

Jika data sudah diubah sesuai dengan yang dibutuhkan dan diinginkan,

maka proses simulasi untuk mendapatkan hasil Profil Temperatur, Profil

komposisi Larutan, dan Profil Komposisi Uap dapat dilakukan dengna cara

menekan tombol “Proccess”.

Gambar

Gambar 3. 1. Flowchart untuk perhitungan BUBL T
Gambar 3. 2. Flowchart distilasi batch sederhana dengan Metoda Euler
Tabel 3. 10. Parameter Antoine Sistem Terner Aseton – n-Butanol – Etanol
Gambar 3. 4. Use Case Diagram
+7

Referensi

Dokumen terkait

Sifat-sifat termodinamik sistem biner 1-propanol-air, seperti perubahan entalpi penguapan, koefisien aktifitas, perubahan entropi dan perubahan energi bebas Gibbs dapat

Sifat-sifat termodinamik sistem biner etanol-air, seperti perubahan entalpi penguapan, koefisien aktifitas, perubahan entropi dan perubahan energi bebas Gibbs dapat ditentukan

Maksud dari statis di sini adalah method yang dapat diakses secara berbagi dengan semua objek lain tanpa harus membuat objek yang memiliki method statis tadi (tanpa proses new),

Sifat-sifat termodinamik sistem biner 1-propanol-air, seperti perubahan entalpi penguapan, koefisien aktifitas, perubahan entropi dan perubahan energi bebas Gibbs dapat

memiliki keseimbangan psikologi antara introvert dan ekstrovert.\nTipe ini seperti karakter ekstrovert suka bersosialisasi dengan orang lain, namun di sisi lain mereka\njuga

Ide dasar pada bahasa berorientasi obyek (POB) adalah mengkombinasikan data dan fungsi untuk mengakses data menjadi sebuah kesatuan unit. Unit ini di kenal dengan nama

Sifat-sifat termodinamik sistem biner etanol-air, seperti perubahan entalpi penguapan, koefisien aktifitas, perubahan entropi dan perubahan energi bebas Gibbs dapat ditentukan

Output Penjelasan Pada program di atas, method HitungLuas yang mulanya mengembalikan nilai dengan tipe data int dan double diubah menjadi void sehingga langsung mencetak hasil