PUSAT SENI MUSIK JAZZ DI SURABAYA.

127 

Teks penuh

(1)

TUGAS AKHIR

PUSAT SENI MUSIK J AZZ DI SURABAYA

Untuk memenuhi persyaratan dalam menyelesaikan Tugas Akhir (Strata = 1)

Diajukan oleh:

ASRI KUMALA

0851010073

PROGRAM STUDI ARSITEKTUR

FAKULTAS TEKNIK SIPIL & PERENCANAAN

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” JATIM

2012

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(2)

TUGAS AKHIR

PUSAT SENI MUSIK J AZZ DI SURABAYA

Disusun Oleh:

ASRI KUMALA 0851010073

Telah Dipertahankan Didepan Tim Penguji Pada Tanggal : 30 Juli 2012

Pembimbing I: PENGUJ I I :

Ir. SYAIFUDDIN ZUHRI, MT Ir. NINIEK ANGGRIANI, MTP NIP. 19621019 199403 1 00 1 NIP. 19580124 198703 2 001

Pembimbing II: PENGUJ I II :

MOHAMMAD PRANOTO. ST., MT Ir. ERWIN DJ UNI WINARTO, MT NPT. 3 7312 06 0215 1 NPT. 3 6506 99 0166 1

PENGUJ I III :

LILY SYAHRIAL., ST., MT. NIP. 19550908 199103 1 001

Tugas Akhir ini telah diterima sebagai salah satu persyaratan Untuk memperoleh gelar Sarjana Teknik (S-1)

Tanggal : 17 September 2012

Dekan Fakultas Teknik Sipil Dan Perencanaan

Ir. NANIEK RATNI J AR, M. Kes. NIP. 19590729 198603 2 001

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(3)

iii

KATA PENGANTAR

Syukur alhamdulillah selalu kami panjatkan kepada ALLAH SWT, atas karunia dan kuasaNya sehingga penyusunan Laporan Tugas Akhir yang berjudul “Pusat

Seni Musik J azz di Sur abaya” ini dapat terselesaikan dengan baik, guna memenuhi sebgaian persyaratan dalam memperoleh Gelar Sarjana Teknik (S-1) Jurusan Teknik Arsitektur, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur di Surabaya.

Penulis menyadari bahwa penulisan Laporan Tugas Akhir ini juga tidak terlepas dari bantuan dan bimbingan berbagai pihak. Bersama ini dengan segala kerendahan hati penulis mengucapkan terima kasih kepada :

1. Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya.

2. Kedua Orang Tua saya yang selalu memberikan semangat, kasih sayang, dan dukungan baik moril maupun material, serta dukungan doa-doanya, sehingga saya dapat melalui semua dan dapat menyelesaikan Tugas Akhir ini dengan baik.

3. Ibu Dr. Ir. Pancawati Dewi, MT., selaku Ketua Jurusan Teknik Arsitektur Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.

4. Bapak Ir. Syaifuddin. Z, MT., selaku Dosen Pembimbing I yang telah menyediakan waktu, tenaga dan bimbingannya didalam penyusunan Tugas Akhir ini.

5. Bapak M. Pranoto, ST, MT., selaku Dosen Pembimbing II yang telah

menyediakan waktu, tenaga dan bimbingannya didalam penyusunan Tugas Akhir ini.

6. Ibu Ir. Ami Afrianti, MT., selaku Dosen Wali.

7. Bapak Ir. Naniek Ratni JAR, M.kes, selaku dekan Fakultas Teknik Sipil dan Perancanaan Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(4)

iv

8. Ibu Dyan Agustin,ST., selaku koordinator LAB Tugas Akhir.

9. Ibu Ir. Eva Elviana yang telah memberi masukan dan bimbingan dalam

14.Seluruh Dosen Jurusan Teknik Arsitektur Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.

15.Sayangku Adhie, yang selalu memberikan semangat, doa, dukungan dan bantuan-bantuanya, (^_^).

16.Buat adeQ Guntur yang rela nemenin aku ngelembur, makasih yah (^_^). 17.kakakQ Alan Dumalang yang selalu memberikan semangat, doa, dan

bantuannya, (^_^).

18.Sahabat-sahabat terbaikku, Bila, Kiki, Rama, Vitri, Indah yang juga bareng-bareng buat nyelesein TA ini, buat Saughi, Tama Kalian sahabat yang siip...^_^ (Semangat buat kalian,Cayo..!!)

19.Teman-teman di studio TA yang juga sudah sama-sama berjuang di studio TA. Sukses buat kalian semua ^_^.

20.Teman-teman Arch’05, Arch’06, Arch’07, Arch’08 sukses buat kalian. 21.Teman-teman dari jurusan Sipil dan Lingkungan.

22.Pihak-pihak lain yang telah memberikan bantuan, pengarahan, dan dukungannya.

Dalam kesempatan ini penulis juga memohon maaf apabila terdapat banyak kekurangan maupun kesalahan dalam menyusun laporan ini. Oleh karena

itu, penulis membuka diri untuk menerima kritik dan saran guna adanya perbaikan yang berarti agar hasil yang tercapai dapat lebih baik lagi.

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(5)

v

Akhir kata, semoga Laporan Tugas Akhir ini dapat bermanfaat bagi yang membacanya.

Surabaya, September 2012

Penulis

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(6)

vi

DAFTAR ISI

halaman

Halaman judul...i

Lembar Pengesahan...ii

Kata Pengantar...iii

Daftar isi...vi

Daftar Gambar...ix

Daftar Tabel...xi

Daftar Diagram...xii

Daftar Lampiran...xiii

Abstrak...xiv

Bab I. Pendahuluan...1

1.1. Latar Belakang...1

1.2. Tujuan dan Sasaran Perancangan...4

1.3. Batasan dan Asumsi...5

1.4. Tahapan Perancangan...6

1.5. Sistematika Laporan...7

Bab II. Tinjauan Objek Perancangan...8

2.1. Tinjauan Umum...8

2.1.1. Pengertian Judul...8

2.1.2. Studi Literatur...9

A. Tata Ruang...9

B. Bentuk Ruang Dalam Auditorium...10

C. Macam-macam musik Jazz...11

D. Perhitungan akustik...16

2.1.3. Studi Kasus...32

2.1.3.1. Jiexpo Arena Pekan Raya Jakarta...32

2.1.3.2. Sidney Opera House, Australia...35

2.1.3.3. Kodek Theatre, New York...37

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(7)

vii

2.1.4. Analisa Hasil Studi...39

2.2. Tinjauan Khusus...42

2.2.1. Penekanan Perancangan...42

2.2.2. Lingkup Pelayanan ...42

2.2.3. Aktivitas dan Kebutuhan Ruang...42

2.2.4. Perhitungan dan Kebutuhan Ruang...48

2.2.5. Program Ruang...58

Bab III. Tinjauan Lokasi Perancangan...59

3.1. Latar Belakang Pemilihan Lokasi...59

3.2. Penetapan Lokasi...61

3.3. Kondisi Fisik Lokasi...66

3.3.1. Batas existing lokasi...67

3.3.2. Aksesbilitas...68

3.3.3. Potensi Lingkungan...69

3.3.4. Infrastruktur Kota...70

3.3.5. peraturan bangunan setempat...72

Bab IV. Analisa Perancangan...73

4.1. Analisa Site...73

4.2.2.Hubungan Ruang dan Sirkulasi...81

4.2.3. Diagram Abstrak...83

4.3. Analisa Bentuk dan Tampilan...85

4.3.1. Analisa Bentuk Massa Bangunan...85

4.3.2. Analisa Tampilan...86

Bab V. Konsep Perancangan...87

5.1. Tema Rancangan...87

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(8)

viii

5.1.1. Pendekatan...87

5.1.2. Penentuan Tema Rancangan...87

5.2. Konsep Rancangan...89

5.2.1. Konsep Tatanan Massa dan Sirkulasi...89

5.2.2. Konsep Bentuk Massa Bangunan...90

5.2.3. Konsep Tampilan...91

5.2.4. Konsep Ruang Luar...92

5.2.5. Konsep Ruang Dalam...92

5.2.6. Konsep Struktur dan Material...92

5.2.7. Konsep Mekanikal Elektrikal...93

5.2.7.1. Konsep Penghawaan...93

5.2.7.2. Sistem Aliran Listrik...93

5.2.7.3. Sistem Akustika...93

5.2.7.4. sistem transportasi vertikal...93

5.2.7.5. Sistem Pencegahan Bahaya Kebakaran...93

Bab VI. Aplikasi Perancangan...95

6.1. Aplikasi Bentuk...95

6.2. Aplikasi Tampilan...96

6.3. Aplikasi Sirkulasi...97

6.4. Aplikasi Ruang Luar...97

6.5. Aplikasi Ruang Dalam...98

Penutup...100

Daftar Pustaka...xv

Lampiran...xvii

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(9)

ix

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1. auditorium musik dengan denah lantai segi empat...10

Gambar 2.2. auditorium musik dengan denah bentuk kipas...11

Gambar 2.3. auditorium musik dengan denah bentuk tapal kuda... 11

Gambar 2.4. impulse response...24

Gambar 2.5. komponen utama terjadinya suara...25

Gambar 2.6. terjadinya suara langsung...30

Gambar 2.7. sinyal impulse...31

Gambar 2.8. sinyal impulse...31

Gambar 2.9. jiexpo...32

Gambar 3.0. tatanan massa jiexpo... 34

Gambar 3.1. fasade jiexpo... 35

Gambar 3.2. sidney opera house, Australia... 35

Gambar 3.3. hall utama sidney opera house... 36

Gambar 3.4. hall utama sidney pera house... 36

Gambar 3.5. kodek theatre di New York... 37

Gambar 3.6. auditorium kodek theatre di New York... 38

Gambar 3.7. auditorium kodek theatre di New York... 38

Gambar 3.8. wilayah lokasi pertimbangan...61

Gambar 3.9. lokasi yang digunakan...65

Gambar 4.0. site area...66

Gambar 4.1. batas-batas exsisting...67

Gambar 4.2. kondisi keadaan site...68

Gambar 4.3. keadaan jalan sekitar...69

Gambar 4.4. kondisi site...73

Gambar 4.5. analisa output...74

Gambar 4.6. analisa iklim...75

Gambar 4.7. fasilitas lingkungan...76

Gambar 4.8. gerbang unesa...76

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(10)

x

Gambar 4.9. analisa view...77

Gambar 5.0. analisa kebisingan...78

Gambar 5.1. analisa zoning...79

Gambar 5.2. tipologi bentuk dasar...85

Gambar 5.3. auditorium musik lantai segi empat...86

Gambar 5.4. kodek theatre...86

Gambar 5.5. layout pusat seni musik jazz...90

Gambar 5.6. lantai persegi panjang...90

Gambar 5.7. 3D pusat seni musik jazz...91

Gambar 5.8. tuts piano...91

Gambar 5.9. 3D...91

Gambar 6.0. siteplan...92

Gambar 6.1. tampak burung pusat seni musik jazz...96

Gambar 6.2. tampak depan...96

Gambar 6.3. sirkulasi dalam site...97

Gambar 6.4. vegetasi area site...98

Gambar 6.5. interior auditorium...98

Gambar 6.6. interior cafe...99

Gambar 6.7. interior function room...99

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(11)

xi

DAFTAR TABEL

Tabel 1.1. tabel peminat musik jazz komunitas C-26 di Surabaya... 2

Tabel 2.1. tentang perhitungan...18

Tabel 2.2 tentang perhitungan... 20

Tabel 2.3. analisa hasil studi...39

Tabel 2.4. aktifitas dan kebutuhan ruang ...44

Tabel 2.5. perhitungan kebutuhan ruang...49

Tabel 2.6. program ruang... 58

Tabel 3.1. Pertimbangan Pemilihan Lokasi...62

Tabel 4.1 analisis input kondisi aksesbilitas...73

Tabel 4.2. hasil kesimpulan analisis output...75

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(12)

xii

DAFTAR DIAGRAM

Diagram 1.1. tahapan perancangan pusat seni musik jazz... 6

Diagram 2.1. frekuensi Hz...19

Diagram 2.2. frekuensi Hz...20

Diagram 2.3. struktur Organisasi JIExpo Arena Pekan Raya Jakarta...33

Diagram 4.1. organisasi ruang area main hall...80

Diagram 4.2. organisasi ruang pengelola...80

Diagram 4.3. organisasi ruang area servis...81

Diagram 4.4. hubungan ruang...82

Diagram 4.5. alur sirkulasi pengunjung...83

Diagram 4.6. diagram abstrak...85

Diagram 5.1. Cara Kerja Sprinkler Semi Otomatis ...94

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(13)

xiii

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 : gambar rancangan...xvii Lampiran 2 : berita acara sidang lisan...xxv

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(14)

xiv

ABSTRAKSI

Surabaya sebagai kota terbesar kedua di Indonesia sangat pesat perkembangannya. Dari perkembangan yang terjadi maka pola kehidupan masyarakat di Surabaya juga ikut berkembang. Dengan berkembangnya pola kehidupan masyarakat di Surabaya tersebut, maka masyarakatnyapun

membutuhkan media hiburan untuk melepaskan kejenuhan dari rutinitas kesehariannya, salah satunya adalah hiburan musik. Hal inilah yang membuat apresiasi musik di Surabaya semakin meningkat.

Pusat Seni Musik Jazz di Surabaya ini dibuat berdasarkan keadaan apresiasi musik di Suarabaya yang semakin meningkat yang juga di iringi banyaknya kegiatan musik yang diadakan di Surabaya ini, namun masih kurangnya tempat yang mendukung. Untuk itu dibuatlah proyek Pusat Seni Musik di Surabaya ini agar dapat mengakomodasi segala kegiatan musik di Surabayadan sekitarnya, khususnya dalam hal ini adalah musik jazz.

Lokasi proyek ini berada di kawasan Surabaya Barat, dimana lokasi yang dipilih merupakan kawasan yang memiliki potensi besar untuk berkembang. Penetapan lokasi ini juag didasari pertimbangan potensi bangunan sekitar kawasan ini yang berupa fasilitas umum, perdagangan, yang sekiranya dapat menjadi daya dukung proyek Pusat Seni Musik Jazz di Surabaya.

Proyek ini di buat dengan konsep bangunan yang baru, yang diharapkan dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat Surabaya untuk

mengunjungi Pusat Senni Musik Jazz ini.

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(15)

xvii Lampiran 1 : Gambar Rancangan

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(16)

xviii Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(17)

xix Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(18)

xx Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(19)

xxi Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(20)

xxii Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(21)

xxiii

PUSAT SENI MUSIK JAZZ

DI SURABAYA

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(22)

xxiv

INTERIOR

INTERIOR

AUDITORIUM

INTERIOR CAFE

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(23)

xxv

BERITA ACARA UJ IAN LISAN

Nama Mahasiswa : Asri Kumala

NPM : 0851010073

Jurusan : Teknik Arsitektur Hari / Tanggal : Senin, 30 Juli 2012

Jam : 10.00 – 11.30 WIB.

Tempat : Ruang Sidang

Moderator : M. Pranoto, ST., MT. Penguji I : Ir. Niniek Anggriani, MT. Penguji II : Lily Syahrial, ST., MT. Penguji III : Ir. Erwin Djuni Winarto, MT. Notulen : Rachmat Ramadhan (0851010011)

Ir. Niniek Anggriani, MT :

Tanya : bangunan ini berapa lantai? Jawab : 4 lantai bu.

Tanya : konsep penzonningannya bagaimana? Jawab : sesuai aktifitas pengunjung.

Tanya : apa fungsi utama?

Jawab : tempat pertunjukkan musiknya bu. Tanya : ruang pelatihan bagaimana? Jawab : seperti kursus

Tanya : selain itu pendukungnya apa lagi? Jawab : galeri, ruang baca dan cafe.

Tanya : bagaimana pembagiannya per lantai?

Jawab : sesuai kegiatan pengunjungnya bu, lantai 1 publik.

Tanya : yang privat?

Jawab : kantor pengelola lantai 4.

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(24)

xxvi Tanya : pada cafe siapa pengunjungnya? Jawab : pengunjungnya bu.

Tanya : kapasitas pengunjungnya berapa? Jawab : 1000 orang bu.

Tanya : pendukung untuk lantai 3 apa? Jawab : loker pemain, ruang ganti.

Tanya :jadi bukan 1 kesatuan ya antara konser sama pelatihannya?dari yang saya lihat hanya ¼ nya saja yang utamanya, kalau 1 kesatuan harusnya saling berhubungan.

Jawab : 1 kesatuan bu. Tanya : transportasi vertikal?

Jawab : lift dan tangga bu.

Tanya : ini sama dengan pendadaran? Jawab : tidak bu, ini berubah total. Tanya : tema kamu apa?

Jawab : harmoni bu.

Lily Syahr ial, ST., MT :

Tanya : apa yang kamu tonjolkan? Jawab : akustiknya pak.

Tanya : berarti kamu buildingnya dulu ya? Terus untuk kalangan apa? Jawab : semua kalangan pak.

Tanya : pada ruangan apa?

Jawab : pada ruang diskusi, ruang pelatihan, ruang baca. Tanya : kenapa tidak di plaza saja?

Jawab : iya pak.

Tanya : pendekatan apa yang di ambil? Jawab : Metafora pak.

Tanya : bagaimana sistem strukturnya? Jawab : sistem struktur rangka batang pak. Tanya : pada halaman 92 kenapa rangka ruang?

Jawab : pada bagian atapnya pak. Tanya : coba jelaskan rangka ruang? Jawab : ruangan tanpa kolom pak.

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(25)

xxvii Ir. Erwin Djuni Winar to, MT :

Tanya : bagaimana pendekatan rancangan? Jawab : ide awal dari piano pak.

Tanya : berarti dari tatanan ruang atau dari bentuk? Jawab : dari bentuk pianonya pak.

Tanya : mana keharmonisan bentuk luar sama dalamnya?bagian utama piano? Jawab : tuts sama kakinya pak.

Tanya : yang menghasilkan suara yang mana? Jawab : senarnya pak.

Tanya : kenapa pada strukturnya memakai sistem grid?

Jawab : karena modul saya pakai 6 x 6m pak. Tanya : bagaimana penghawaannya?

Jawab : auditorium menggunakan AC central pak. Tanya : bagaimana konsep akustiknya?

Jawab : pada auditorium dan ruang pelatihan menggunakan lantai ganda berlapis glass woll dan pada dinding dilapisi selimut akustik.

Tanya : tujuannya?

Jawab : agar dapat menyerap bunyi pak.

Tanya : pada lantai auditorium menggunakan apa? Jawab : karpet pak.

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(26)

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Di Indonesia musik jazz memang sudah tidak setenar pada era 30-an. Para pelaku langsungnya sendiri yang bisa dijadikan sebagai narasumber juga sudah tidak ada. Menurut Sudibyo Pr, seorang pencinta jazz dan penulis buku tentang musik jazz tahun 1925, konon pemain jazz pribumi dari Indonesia pertama kali adalah tentara. Para tentara itu biasanya dipanggil untuk menghibur pejabat-pejabat Belanda dan orang-orang Indonesia yang haknya disamakan oleh orang Belanda. Pada waktu itu, mereka bermain musik jazz di Societet. Padahal tidak banyak orang Indonesia yang bisa memasuki gedung itu. Sedangkan di

Jakarta, pada tahun 1930-an, juga ada sebuah band beraliran jazz bernama Melody Makers yang dimotori oleh Jacob Sigarlaki. Waktu itu Jacob didukung oleh musisi lain seperti Bootje Pesolima, Hein Turangan, Nico Sidarlaki, serta Tjok Sinsu. Saat itu band tersebut di anggap sebagai band jazz yang pertama di Indonesia. Hampir 80% personil band itu adalah orang Indo-Belanda, sedangkan

yang pribumi sedikit. Di tahun 1960-an terjadi politik didalam negeri dan hal itu banyak mempengaruhi perkembangan musik jazz di Indonesia. Sehingga perkembangan musik jazz di era 60-an sedikit terhambat karena pada tahun-tahun tersebut jazz dimainkan secara sembunyi-sembunyi.

Di Surabaya ada salah satu komunitas musik Jazz yang bernama C.TWOSIX yang berdiri pada tanggal 12 April 2003. Sebenarnya untuk lebel C.TWOSIX ini adalah nama sederhana yang diambil dari alamat sebuah rumah di kawasan Surabaya Timur. Peresmian dari komunitas ini ditandai dengan pergelaran Jazz di pelataran rumah C-26 ini. Komunitas ini diketuai oleh Roedhi Poernomo yang sekaligus pemilik rumah di daerah rungkut Surabaya. Telah bertahun-tahun jazz ikut meramaikan dan mewarnai

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(27)

2

musik didalam negeri. Namun demikian, jazz belum setenar musik pop ataupun dangdut. Di komunitas ini telah banyak aktifitas menarik yang sudah lama dilakukan, diantaranya adalah mengenalkan pada masyarakat luas tentang musik jazz serta melatih dan mendidik para jazzer muda untuk ikut meramaikan dunia jazz.

Selain itu untuk setiap minggunya selalu diadakan kegiatan berkumpul,bermain musik dan berbincang-bincang seputar dunia jazz. Di dalam kegiatan ini penonton juga merangkap menjadi pemain. Sehingga tidak jarang juga para pendatang baru di tawari untuk ikut bermain. Dan

pada beberapa waktu juga didatangkan artis dari ibu kota. Pada dasarnya semua pembiayaan dengan dengan sistem kekeluargaan. Jadi selain uang kas dari komunitas, segala pembiayaan juga patungan dari para anggota. Dengan adanya beberapa pernyataan di atas maka para komunitas jazz

memerlukan suatu tempat untuk melakukan kegiatan-kegiatannya.

Dapat di lihat dari tabel 1.1 bahwa peminat musik jazz di komunitas C-TWOSIK dalam 7 tahun terakhir di Surabaya mengalami penurunan. Namun sempat mengalami memiliki peminat yang banyak di tahun 2007. Sehingga, perlu lebih pengenalan musik jazz ini di kalangan kawula muda agar musik jazz tetap memiliki peminat yang banyak. Serta, yang tercatat di komunitas C-TWOSIX mulai tahun 2003 sampai saat ini berjumlah 976 orang. Dan ini akan terus bertambah ungkap bapak Roedhi ketua komunitas ini.

1.1 Table peminat musik jazz komunitas C-TWOSIX dalam 7 tahun ter akhir di Sur abaya Tahun Pr ia umur

17-Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(28)

3

Sumber: Data Pengurus C-TWOSIX, 2010

Di Surabaya, konser musik jazz memang semakin jarang karena tak banyak masyarakat yang mengatakan bahwa musik Jazz merupakan aliran musik bagi kalangan tertentu sehingga ini dianggap suatu persepsi yang berlebih.

Memang sedikit diakui bahwa selama ini hanya kelompok tertentu yang mampu menduduki kursi-kursi pada setiap pertunjukan Jazz. Tapi, sesungguhnya ini semua lebih banyak di pengaruhi oleh pemilihan lokasi pertunjukan yang berkencederungan di dalam ruangan-ruangan mewah seperti di “Hotel”. Tiketnya pun secara umum sulit di beli oleh kalangan

muda.

Dalam satu bulan terakhir komunitas musik jazz ini selalu berkumpul di C.TWOSIX sekalian menikmati musik jazz yang dimainkan oleh teman-teman sendiri. Lumayan banyak member C-26 yang bisa main jazz dengan baik. Event ini merupakan salah satu bentuk sosialisasi musik jazz khususnya untuk kalangan mahasiswa karena rendahnya konser musik jazz di surabaya. Sehingga, untuk kalangan mahasiswa atau kalangan muda kurang mengenal apa itu dunia jazz. Dan di harapkan pada acara ini nantinya banyak mahasiswa-mahasiswa dan kalangan muda yang antusias sehingga muncul bakat-bakat baru di bidang musik jazz Surabaya.

Peminat musik aliran ini cukup banyak, rata–rata yang hadir pada pertunjukan musik jazz secara indoor di Surabaya adalah 650 orang, namun wadahnya yang tidak memadai. Sehingga di takutkan musik jazz ini akan punah dari Kota Surabaya. Salah satu cara agar musik jazz ini tidak mati dari Kota Surabaya yaitu mengenalkan jenis musik ini ke kalangan muda oleh komunitas-komunitas yang ada di Surabaya. Setelah mengenalkan jazz ke kawula muda, nanti kita bisa melihat bahwa banyak 2010 64 or ang 60 or ang 124 or ang J umlah 492 or ang 484 or ang 976 or ang

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(29)

4

bakat-bakat yang terpendam di dalam diri generasi muda yang tinggal di Kota Surabaya.

Sehingga dari pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa komunitas jazz bukan hanya membutuhkan wadah tetapi juga harus ada yang memfasilitasi demi eksistensinya. Oleh karena itu, perlunya Pusat Seni Musik Jazz, dimana wadah berkumpulnya komunitas musik jazz di Surabaya agar peminat musik ini makin banyak serta komunitas-komunitas di Surabaya memiliki tempat yang layak dan dapat melakukan pengenalan-pengenalan tentang jazz ke semua kalangan sehingga musik jazz di surabaya

tidak akan mati dan terus berkembang.

1.2 Tujuan dan Sasaran Perancangan

Tujuan didirikannya Pusat Seni Musik Jazz di Surabaya adalah:

a. memberikan kesempatan bagi kalangan muda maupun masyarakat di luar Surabaya agar bisa lebih mengenal musik jazz.

b. menjaga musik jazz agar tidak punah dan mati yaitu dengan adanya fasilitas yang mendukung.

Sedangkan sasaran yang ingin dicapai dengan dirancangnya Pusat Seni Musik Jazz di Surabaya adalah:

a. agar musik jazz di Surabaya ini memiliki tempat yang lebih layak serta biar bisa lebih berkembang. Dengan itu diperlukan wadah-wadah sebagai berikut:

• Auditorium pertunjukan musik.

• Ruang pelatihan musik jazz.

• Galeri.

• Cafe.

• Ruang baca.

• Gift shop.

• Kantor pengelola.

• Toilet.

• Area parkir.

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(30)

5 1.3 Batasan dan Asumsi

Batasan dapat meliputi:

• Penggunaan pada Pusat seni musik jazz ini dilebihkan kepada kalangan remaja,dan manula khususnya masyarakat Surabaya.

• Untuk strata sosialnya Pusat Seni musik jazz serta fasilitas-fasilitasnya ini dapat dinikmati semua kalangan, baik kalangan menengah ke atas, sedang, serta bawah.

• Batasan jam operasional bangunan:

- Untuk tempat pertunjukkannya mulai sore hari pukul 17.00 hingga 00.00 WIB.

- Untuk fasilitas mendukung lainnya seperti ruang pelatihan mulai pagi hari jam 10.00 hingga 15.00 WIB.

Asumsi dapat meliputi:

a. Pusat Seni Musik Jazz di Surabaya ini merupakan proyek yang berbasiskan ingin memajukkan kualitas musik khususnya di jenis musik jazz, sehingga sistem pengelolaannya milik swasta. Dengan sifat tersebut, diharapkan Pusat Seni Musik Jazz di Surabaya ini dapat mandiri dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya serta dapat lebih maju dan berkembang.

b. Asumsi untuk jumlah penonton adalah berdasarkan pertimbangan :

• Rata–rata yang hadir pada pertunjukan musik jazz secara

indoor di Surabaya adalah 650 orang, sedangkan untuk

asumsi 10 tahun mendatang kurang lebih mengalami

peningkatan bisa mencapai 1000orang. Oleh karena itu, kapasitas gedung pertunjukkannya bisa untuk 1000 pengunjung.

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(31)

6 1.4 Tahapan Perancangan

Tahapan perancangan ini dimulai dari kurangnya wadah bagi pecinta musik jazz di Surabaya. Sehingga peminatnya kurang bisa menyalurkan minat serta bakat yang mereka miliki. Oleh karena itu, dari sinilah muncul ide untuk mendirikan tempat yang nyaman serta fasilitas yang memadai bagi pecinta musik jazz dan diberi judul Pusat Seni Musik Jazz. Setelah menemukan judul tersebut barulah di interprestasikan dengan melakukan sebuah metode penelitian terlebih dahulu yaitu dengan cara mengumpulkan data-data yang diperlukan dari studi literatur,studi objek kasus, dan studi kawasan.

Data-data yang diperoleh pengumpulan data yang akan dipakai untuk tahapan perancangan ini adalah sebagai berikut:

Diagr am 1.1 tahapan per ancangan Pusat Seni Musik J azz (sumber : panduan penulisan pr oposal tugas akhir , 2011) Pemilihan J udul inter pr estasi Pengumpulan data J udul

Kompilasi Analisa data

Studi asas pr insip dan metode per ancangan Mer umuskan Konsep/tema r ancangan

Gagasan ide

Pengembangan r ancangan

Gambar r ancangan

Studi liter atur Studi kasus Studi kawasan

Feedback Cont rol Feedback Cont rol

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(32)

7 1.5 Sistematika Laporan

Sistematika penyusunan laporan disusun sesuai dengan tahapan-tahapan yang disesuaikan dalam masing-masing Bab yaitu Bab 1 sampai Bab IV, seperti berikut:

1. Bab 1 Pendahuluan

Pada bab pertama ini menguraikan dan menjelaskan tentang latar belakang timbulnya objek perancangan Pusat Seni Musik Jazz.

Dengan adanya latar belakang ini diharapkan tujuan untuk

mengembangkan serta memajukan musik jazz di Surabaya dapat terealisasikan dengan baik.

2. Bab II Tinjauan Objek Rancangan

Beberapa tinjauan umum seperti pengertian judul perancangan yaitu

Pusat Seni Musik Jazz di Surabaya serta tinjauan khusus yang berupa batasan asumsi serta ruang lingkup palayanan, kebutuhan ruang dan aktifitas yang dibutuhkan. Juga studi kasus yang telah dilakukan sebagai tolak ukur dari perancangan ini, studi literatur untuk menjabarakan dan memperjelas perancangan.

3. Bab III Tinjauan Lokasi Perancangan

Pada bab ini menjelaskan latar belakang pemilihan lokasi dan lokasi yang tepat untuk meletakkan perancangan ini.

4. Bab IV Analisa Perancangan

Pada bab IV diuraikan mengenai konsep perancangan proyek yang akan dibangun berdasarkan kekayaan kebudayaan setempat dan disesuaikan dengan tema rancangan yaitu Pusat Seni Musik Jazz di Surabaya.

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(33)

8

BAB II

TINJ AUAN OBJ EK PER ANC ANGAN

2.1. Tinjauan Umu m

Dengan melihat latar belakang, maksud dan tujuan perancangan, serta batasan dan asumsi, maka berikut ini akan menjelaskan tentang penjelasan objek rancang Pusat Seni Musik Jazz di Surabaya, yang merupakan gambaran secara umum objek rancang tersebut, dan juga mengenai pusat seni musik jazz itu sendiri.

2.1.1. Penger tian J udu l - Pengertian Pusat Seni

• Suatu bangunan yang diperuntukkan bagi penyelenggara pagelaran seluruh kegiatan yang berbau seni.

• Sedangkan, pusat seni musik pada umumnya dibangun untuk berfungsi dalam jangka waktu yang lama dan bersifat monumental untuk menunjang pengembangan dan kemajuan budaya terutama sekali seni budaya musik.

(www.audioindonesia.com)

- Pengertian Musik Jazz

• Aliran musik yang berasal dari Amerika Serikat pada awal abad ke-20 dengan akar-akar dari musik Afrika dan Eropa.

(Wikipedia.2005)

• Sebuah aliran musik yang tidak dapat lepas dari

improvisasi, dan mendengarkannya bukan hanya dengan telinga, melainkan juga dengan perasaan. Bersifat ekspresif sehingga tergantung dari kondisi

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(34)

9

perasaan dari sang musisi pada saat itu.(Samboedi.1989).

Dari pengertian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa “ Pusat Seni M usik J a zz” adalah tempat atau wadah dimana seluruh kegiatan yang berbau seni dan berfungsi dalam jangka lama yang bersifat monumental sebagai penunjang pengembangan dan kemajuan budaya terutama seni budaya musik jazz yang ekspresif sehingga dapat dinikmati oleh para pecinta musik khususnya pecinta musik jazz di Surabaya dan sekitarnya.

2.1.2. Studi Liter atu r

Studi literatur digunakan sebagai studi pengenalan masalah untuk memperjelas pemahaman yang lebih mendalam dalam pelaksanaan yang berhubungan dengan proyek perancangan.

Studi literatur juga digunakan untuk melengkapi data atau masukan dalam proses perancangan yang berhubungan dengan Pusat Seni Musik Jazz. Berikut adalah beberapa pegangan sebagai pedoman perancangan.

A. Tata Ruan g

Mengutip dari Akustik Lingkungan, (Doelle, Leslie L. 1990). Tata ruang yang idealnya untuk pertunjukkan musik mencakup beberapa aspek, antara lain:

- Keindahan (estetis)

- Kenyamanan, supaya penonton dan pemain merasa nyaman, dalam ruangan perlu ada ventilasi udara yang cukup atau AC, sehingga udara menjadi segar.

- Artistik, ruang yanng baik, disamping indah, nyaman, sebaiknya juga artistik atau punya nilai seni, hal ini dapat dibuat dengan pengaturan dekorasi ruang interior yang baik.

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(35)

10 B. Bentuk Rua ng Da lam Auditor ium

Mengutip dari Akustik Lingkungan, (Doelle, Leslie L. 1990). Tentang bentuk yang mendasari desain auditorium memiliki beberapa aspek, yaitu bentuk lantai dan bentuk langit-langit, serta tata panggung yang kesemuanya merupakan faktor terpenting dalam perencanaan gedung konser, namun tidak ada ruang musik yang dibangun untuk satu jenis atau gaya musik tertentu, maka waktu dengung (reverberation time) merupakan kompromi yang di tetapkan dengan teliti. Hal ini diuraikan sebagai berikut: a. Lantai Bentuk Persegi Empat (Rectangular Plan)

Auditorium berebntuk persegi panjang cenderung digunakan untuk konser musik. Auditorium berbentuk persegi panjang ini mempunyai kelebihan dalam menghasilkan pantulan silang antara dinding-dinding sejajar yang menyebabkan bertambahnya kepenuhan nada, suatu segi

akustik ruang yang diperlukan oleh musik. Kerugiannya, dinding sejajar dapat menimbulkan resiko resonansi dan gema sehingga harus dibuat tidak sejajar, selain itu jarak antara penonton dan pemain lebih jauh.

Gambar 2.1 Auditorium musik dengan denah lantai segi empat (Sumber: Akustik Lingkungan, 1990)

b. Lantai Bentuk Kipas (Fan Shape Plan)

Lantai bentuk kipas ini membawa penonton lebih dekat ke sumber bunyi, sehingga memungkinkan konstruksi balkon. Dinding belakang yang melengkung cenderung dapat menciptakan gema atau pemusatan bunyi, kecuali bila pada segi aksutiknya didesain secara khusus. Bentuk kipas ini cenderung dipakai untuk pertunjukkan teater atau drama.

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(36)

11

Gambar 2.2 Auditorium musik dengan denah bentuk kipas (Sumber: Akustik Lingkungan, 1990)

c. Lantai Bentuk Tapal Kuda (Horse shoe Plan)

Auditorium bentuk tapal kuda merupakan bentuk tradisi gedung opera yang merupakan kompromi antara teater dan musik, bentuk ini

membutuhkan waktu dengung (reverberation time) yang relatif pendek bila dibandingkan dengan musik maka bentuk ini cocok untuk rumah-rumah opera, tetapi kurang cocok untuk pagelaran orkestra.

Gambar 2.3 Auditorium musik dengan denah bentuk tapal kuda (Sumber: Akustik Lingkungan, 1990)

C. M acam-ma ca m M usik J a zz

Mengutip dari sumber: http://koboy-kampus.blogspot.com.2009, dalam musik jazz ada 20 aliran musik jazz yaitu:

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(37)

12

1. Ragtime yaitu: Asal muasalnya musik jazz. Musik yang menyerupai musik afrika dengan beat dan tone yang menyerupai musik asli afrika. Vibrant, enthusiastic, and extemporaneous adalah ciri-ciri yang dapat dikenali dari ragtime. Tokoh-tokohnya antara lain Scott Joplin dan Ben Harney.

2. Classic Jazz yaitu: Sering disebut dengan “New Orleans Style”. Aslinya

berupa brass band yang ditampilkan di acara dance dan pesta-pesta diakhir tahun 1800-an dan awal 1900-an. Instrument musical dilengkapi dengan clarinet, saxophone, cornet, trombone, banjo, bass, guitar, drum dan piano. Improvisasi sangat ditekankan dalam permainannya dan aransemen musikal

dapat berbeda dari setiap penampilannya.

3. Hot Jazz yaitu: Jazz jenis ini dicirikan dengan penyanyi solo yang berimprovisasi, struktur melodi yang khas, dan biasanya mempunyai klimaks yang emosional dan “hot”. Rhytm sectionnya biasanya diiringi oleh gitar, bass, banjo, dan drum yang meningkat pelan-pelan sehingga mencapai klimaks (crescendo). Tokoh utama dari aliran ini, siapa lagi kalau bukan Louis Armstrong.

4. Chicago Style yaitu: Chicago menjadi pusat kelahiran aliran ini yang inti utamanya adalah “inventive player”. Dikarakteristikkan dengan aransement yang inovatif dan harmonis, dan teknik pemainnya yang tinggi. Tokoh-tokoh utamanya antara lain Benny Goodman, Bud Freeman, Edie Condon, dan Gene Krupa.

5. Swing yaitu: Tahun 1930-an menjadi awalnya swing. Karakteristik utamanya : robust and invigorating. Swing juga sering dikatakan musik dance. Walaupun bermain secara kolektif, sebuah band swing dapat menunjukkan performansi solo untuk mengimprovisasi melodi utamanya.

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(38)

13

Tokohnya banyak tapi yang sering dijuluki sebagai The King of Swing adalah Benny Goodman.

6. Kansas Style yaitu: Aliran ini lahir pada masa The Great Depression sekitar tahun 1920-an dan 1930-an di kota Kansas, USA. Karakteristiknya adalah gaya yang sangat soulful dan blues. Tokohnya antara lain Charlie Parker.

7. Gypsy Jazz yaitu: Aslinya diperkenalkan oleh gitaris Perancis, Django Reinhardt. Sering dipengaruhi oleh musik rakyat (folk music) dari eropa timur. Sering juga dikenal dengan nama Jazz Manouche. Ciri utamanya adalah : languid, seductive feel, yang dikarakteristikkan dengan “quirky

cadences” dan “driving rhytms”.

8. Bebop yaitu: Berkembang di awal tahun 1940-an. Masih mengandalkan improvisasi, dalam bop seorang soloist bebas mengeksplorasi kord selama

masih dalam struktur kord yang ada. Bebop berbeda dari swing, dan terlebih lagi musik dance. Bebop juga menjadi dasar bagi inovasi-inovasi dari musik jazz. Playernya antara lain : Charlie Parker (saxophon) dan Dizzi Gillespie (trumpet).

9. Mainstream yaitu: Lahir kembali dari aliran musik jazz yang tidak terlalu mengikat pada akhir 1970-an dan awal 1980-an. Aliran ini sering disebut Modern Mainstream atau Post Bop, dan mempengaruhi aliran musik yang lain seperti Cool Jazz, Classic, dan Hardbop. Mainstream juga sering diklasifikasikan sebagai aliran jazz yang tidak terlalu berhubungan dengan aliran historis dari musik jazz.

10. Vocalese yaitu: Sering disebut dengan jazz vokal. Mengkombinasikan lyric dan musik dalam suatu solo instrumental. Secara nature adalah bop, tapi diutamakan adalah nyanyian solo diiringi grup musik kecil atau ensembel. Playernya antara lain : Eddie Jefferson dan Jon Hendricks.

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(39)

14

11. Cool yaitu: Sering dikatakan sebagai “campuran” bebop dan swing jazz. Aliran ini terbentuk akhir 1940-an dan merupakan “anak kandung” bebop yang menggabungkan swing dalam tone yang harmonik dan dinamis. Dijuluki juga “West Coast Jazz”, karena inovasinya banyak berasal dari pantai barat USA, terutama kota Los Angeles.

12. Hard Bop yaitu: Salah satu aliran lain dari jazz, yang merupakan anak dari aliran bebop. Melodi pada hardbop lebih bernuansa “soulful”

dibandingkan bebop, dan terkadang dipengaruhi tema-tema musik Rhytm & Blues dan musik Gospel. Salah satu inovatornya adalah pianis Horace Silver.

13. Bossa Nova yaitu: Campuran dari West Coast Cool, European Classical

Harmonies, dan rhytm Samba Brasil. Sering disebut dengan nama Brasillian Jazz, dan berkembang di Amerika sekitar tahun 1962. Playernya antara lain Joao Gilberto, Antonio Carlos Jobim, dan di Amerika adalah Charlie Byrd dan Stan Getz.

14. Free Jazz yaitu: Kadang disebut juga dengan “Avante Garde”. Solis dari free jazz bereksperimen dengan bebas (free) terhadap musiknya. Ornette Coleman dan John Coltrane adalah contohnya.

15. Soul Jazz yaitu: Berasal dari Hardbop yang cukup terkenal di awal 1960-an. Berimprovisasi dengan progression, sama seperti bop. Tokohnya antara lain Horace Silver dengan piano Hammond-nya.

16. Groove yaitu: Sering disebut “of-shoot of Soul Jazz”. Groove sering menggunakan tone-tone dari musik blues dengan fokus terutama pada rhytms. Musik ini bernuansa gembira dan sering menyentuh emosi pendengarnya untuk dance, sedangkan blues lebih lambat. Improvisasi solo jarang digunakan dan lebih mengandalkan musik kolektif.

17. Fusion yaitu: Aliran ini merupakan campuran antara “jazz improvisation” dengan energi dan rhytm dari musik rock. Walaupun

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(40)

15

demikian, terkadang pencampuran ini sering dianggap merupakan bagian dari musik rock dan bukan jazz. Aliran ini juga merupakan semacam “pemberontakan” musisi jazz, khususnya aliran hardbop terhadap “puritan jazz”, yang seakan-akan menahbiskan bahwa jazz haruslah seperti yang sudah ada.

18. Afro-Cuban Jazz yaitu: Sering disebut dengan nama Latin Jazz. Merupakan kombinasi dari improvisasi jazz dan rhytm musik latin.

Instrumen musik yang digunakan sama dengan instrumen musik jazz pada umumnya, tetapi lebih terpusat pada rhytm section dari instrumen conga, timbale, bongo dan instrumen latin lainnya. Tokohnya antara lain Arturo Sandoval, Poncho Sanchez, dan Chucho Valdes.

19. Acid Jazz yaitu: Acid Jazz sering dikatakan bukanlah genre musik jazz, karena keterikatannya yang lemah dengan sejarah musik jazz. Awalnya adalah musik dance British. Yang kemudian dikombinasikan dengan musik klasik jazz, Funk 70-an, Hip-hop, Soul dan musik latin, dimana yang menjadi fokus adalah musik instrumentalnya dan bukan lirik. Akhirnya menghasilkan musik yang kaya dgn improvisasi musik yang kesannya “campur baur”, dan sering disebut Acid Jazz. Acid Jazz adalah Jazz.

20. European Jazz yaitu: Di akhir abad 20, musisi jazz Perancis dan negara-negara Skandinavia merasa bahwa ekspresi musik jazz amerika telah kehilangan “rasa”-nya di jaman sekarang ini. Itulah awal mereka menciptakan style baru yaitu European Jazz. Seperti Acid Jazz, european jazz berakar pada musik dance, dan mengkombinasikan dgn elemen-elemen house music (musik disco dgn basic Funk). Suara yg dihasilkan lebih bernuansa digitaly dan electronicaly dan terasa kontemporer. Tokohnya antara lain Bugge Wesseltoft, Nils Petter Molvaer, dan Martial Solal.

Dari 20 macam aliran musik jazz tersebut yang sering diminati oleh masyrakat Surabaya adalah aliran musik jazz Groove karena masyarakat

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(41)

16

Surabaya pada umumnya lebih menyukai musik jazz yang tidak terlalu lambat agar mereka dapat menikmati musik jazz tersebut dengan cara santai.

D. Perhitungan Akustik Ruang

PEMAHAMAN RT60 (Reverberation Time)

Ada beragam metode pengukuran waktu gema tetapi yang paling sering di gunakan adalah Reverberation Time 60dB yang lebih dikenal dengan istilah RT 60. Definisi RT60 adalah waktu (detik) yang dibutuhkan untuk suara melemah sebanyak 60dB.

Untuk membuat ruangan dengan hasil akustik yang baik kita perlu menghitung:

(1) besaran gema (RT60) rata-rata pada ruangan(detik)

(2)Besaran gema (RT60) pada frekuensi tertentu (detik)

Waktu gema yang ideal (RT60) untuk ruang dengar dengan volume 10

meter kubik adalah 0.9 detik dan 500 meter kubik adalah 1.4 detik. Jika angka (RT60) ruang jauh lebih kecil dari angka patokan di atas kita akan merasakan ruangan yang cenderung mati (dead room) atau jika angka (RT60) ruang jauh di atas angka patokan di atas kita akan merasakan ruang yang terlalu bergema. Misalnya anda memiliki ruangan dengan ukuran 29 meter kubik maka ideal nya waktu gemanya (RT60) adalah 1,15 detik. Tetapi jika ruangan tersebut memiliki waktu gema (RT60) sebesar 1.7 detik maka ruangan tersebut membutuhkan material serap suara. Atau sebaliknya jika pada ruangan tersebut memiliki waktu gema (RT60) sebesar 0,7 detik maka ruangan tersebut dapat kita sebut sebagai dead room dimana pada ruang tersebut banyak terdapat material serap suara.

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(42)

17 RUMUS PERHITUNGAN RT60

Setiap material memiliki karakter serap dan pantul yang berbeda untuk frekuensi yang berbeda. Misalnya material semen cenderung untuk memantulkan nada tinggi dan untuk nada rendah di teruskan. Sedangkan karpet cenderung untuk menyerap nada tinggi dan meneruskan nada rendah. Sering saya melihat orang membuat ruang studio atau ruang audio dengan memasang karpet di lantai dan dinding. Ruang seperti ini cenderung untuk

memberikan efek suara yang boomy (dengung) dengan detail suara yang tidak baik.

Rumus perhitungan RT60 adalah sebagai berikut:

RT60 = (0,161 x V) / (A x S)

V= volume ruangan (m3)

A=luas permukaan material (m2)

S=koefisien serap material (m/detik)

CONTOH PERHITUNGAN RT60

Berikut contoh soal perhitungan frekuensi gema ruang dengar. Jika kita mempunyai ruang dengar dengan dimensi:

Panjang 6.6 m; Lebar 4.8 m; Tinggi 2.4 m

Permukaan lantai: beton

Permukaan dinding: semen

Permukaan Plafon: Semen

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(43)

18

Dengan data diatas pertama kita perlu menghitung volume ruangan tersebut.

Untuk menghitung volume ruangan rumusnya adalah: panjang x lebar x tinggi. Maka kita dapat perhitungan volume ruang = 6.6m x 4.8m x 2.4m = 76.032 m3

Langkah kedua adalah menghitung luas permukaan tiap bahan yang ada dalam ruangan.

Pada contoh soal ini kita perlu menghitung luas total permukaan beton dan luas total permukaan semen. Luas total permukaan beton = (6.6 x 4.8) =

31.68 m2

Luas total permukaan semen = luas total dinding + luas plafon = 2(6.6 x 2.4) +

2(4.8 x 2.4) + (6.6 x 4.8) = 86.40 m2.

A. PERHITUNGAN RT60 RUANG SEBELUM TREATMENT AKUSTIK

Dari data di atas mari kita buat tabel 2.1 tentang perhitungan sbb:

Keterangan perhitungan:

1. S125, S250, S500, S1000, S2000, S4000 adalah koefisien serap material (semen/beton) pada frekuensi 125Hz, 250Hz, 500Hz dan selanjutnya. 2. S125 x A adalah koefisien serap 125 Hz dikali dengan luas bidang serap. Dari

tabel diatas S125 x A untuk bahan beton = 0,317.

3. RT 60 untuk frekuensi tertentu di ruangan didapat dari angka 0.161 x volume ruang di bagi dengan total S x A. Dari tabel di atas kita dapatkan RT 60 untuk

frekuensi 125 Hz adalah 0,482 detik.

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(44)

19

4. Apabila seluruh angka sudah di hitung dengan baik maka kita dapat membuat tanggapan frekuensi ruangan tersebut menjadi seperti contoh dibawah ini.

Diagram grafik 2.1. frekuensi (HZ)

A2. Grafik frekuensi gema sebelum treatment

Grafik A2. Memberikan gambaran:

1. Pada frekuensi 1000 Hz gema (RT60) berlangsung selama 2.993 detik dan

gema pada frekuensi 125 Hz selama 0.482 detik. Hal ini menyebabkan selisih fase dan selisih waktu untuk suara pada frekuensi 125Hz dan pada frekuensi 1000Hz.

Faktor negatif untuk hal diatas adalah rusaknya stereo imaging suara serta kenyaman orang dalam menyimak dialog ataupun musik menjadi berkurang. 2. RT 60 rata – rata sebesar 1,776 detik. Dimana angka tersebut di atas dari angka RT60 yang ideal yang di anjurkan untuk ruang tersebut.

B. LANGKAH TREATMENT AKUSTIK

Untuk mendapatkan RT60 yang ideal kita perlu melakukan:

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(45)

20

1. Mengurangi RT60 sampai dengan angka yang ideal untuk ruangan dengan volume di atas.

2. Mengurangi RT60 pada frekuensi 1000 Hz dengan kombinasi material akustik yang tepat

C. HASIL TREATMENT AKUSTIK YANG IDEAL

Setelah dianalisa dan dihitung dengan cermat maka dipilihlah material akustik dengan komposisi:

1. Lantai karpet dengan luas permukaan bidang 31,68 m2.

2. Dinding dan plafon MDF dengan luas permukaan bidang 76,40 m2 3. Panel Acourete Fiber dengan luas permukaan bidang 10 m2.

Mari kita lihat perbedaan nya dengan membuat tabel 2.2 perhitungan dan grafik seperti dibawah ini.

diagram grafik 2.2. frekuensi HZ

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(46)

21

B2. Grafik frekuensi gema setelah treatmentGrafik B2. garis warna merah jambu menggambarkan waktu gema (RT60) ruangan sebelum treatment pada tingkatan frekuensi yang berbeda. Garis biru tua menggambarkan waktu gema (RT60) ruangan yang telah ditreatment.

Dari grafik di atas dapat di tarik kesimpulan bahwa:

1. RT 60 rata – rata ruang telah berkurang dari 1,776 menjadi 0,426 2. Grafik RT 60 untuk tiap tingkatan frekuensi menjadi lebih landai berkisar antara 0,3 – 0,6 detik di banding grafik sebelumnya antara 0,4 – 2,5 detik.

Panduan membuat dinding par tisi insulasi suar a

Dibawah ini adalah beberapa tips singkat mengenai panduan untuk mendesign partisi dinding yang memiliki nilai insulasi suara yang baik.

1. PERENCANAAN LAYOUT. Pertama kali yang perlu direncanakan adalah melakukan design penempatan ruangan yang baik. Apabila hal ini dilakukan dengan baik dapat mengurangi biaya untuk melakukan insulasi serta produktifitas ruangan. Usahakan untuk memposisikan ruangan yang butuh ketenangan berjauhan dari ruangan yang bising. Apabila memungkinkan letakan ruangan yang jarang dipakai seperti toilet, gudang dan sebagainya diantara ruang yang berisik dan ruangan yang butuh ketenangan.

2. RESONANSI ANTAR RUANG. Salah satu penyebab kebocoran suara antar ruangan adalah terjadinya resonansi antara dua ruangan. Solusi yang dapat di lakukan untuk meminimalkan permasalahan ini adalah sebagai berikut. Apabila memungkinkan bedakan dimensi ruang yang berdempetan dengan perbedaan ukuran 1/3, 1/5, atau 1,7. Apabila memungkinkan cobalah mengindari perbedaan ukuran ? dan ?. Saran untuk mengurangi resonansi yang terjadi di ruang adalah dengan menghindari design dengan permukaan dinding yang pararel begitu pula dengan plafond dan lantai.

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(47)

22

3. BAYANGAN SUARA. Penyebab lain kebocoran suara adalah karena kebocoran suara yang disebabkan karena adanya celah pada dinding partisi di bagian atas. Sebaiknya dinding partisi harus dibuat full dari lantai sampai dengan dek atap.

4. KONDUKSI SUARA. Kebocoran suara dihantarkan atau dikonduksikan melalui dua media. Konduksi pertama adalah konduksi melalui media udara dan konduksi kedua adalah konduksi melalui media struktur. Solusi

untuk mengurangi konduksi suara melalui media udara adalah dengan membuat rongga udara diantara dua dinding partisi. Sedangkan solusi untuk mengurangi konduksi yang terjadi karena rambatan getaran pada struktur adalah mengisolasi struktur dengan vibration damping material seperti Acourete Mat dan Acourete

Resilient Channel. Gunakan double door dan double window untuk menginsulasi suara keluar dari ruangan atau sebaliknya.

5. RESONANSI PADA RONGGA. Ada beberapa saran untuk mengurangi resonansi yang terjadi pada rongga. Pertama – tama adalah mengisi rongga udara dengan sound absorbing material seperti Acourete Fiber. Cara lain untuk mengurangi resonansi yang terjadi pada rongga adalah memiringkan salah satu atau kedua dinding partisi. Terakhir adalah untuk meminimalkan resonansi antar bidang partisi gunakan material partisi dengan ketebalan yang berbeda atau bahan yang berbeda.

6. MENINGKATKAN MASSA PARTISI. Partisi dengan massa yang besar memiliki nilai insulasi yang lebih baik dibandingkan dengan partisi dengan massa yang kecil. Menambahkan sound insulation material dengan massa yang besar seperti Acourete Mat pada partisi yang ada dapat meningkatkan nilai insulasi suara terutama suara dengan frekuensi yang rendah.

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(48)

23 Persyar atan Akustik Auditorium

Persyaratan akustik untuk bisa menampung fungsi suatu auditorium yaitu:

1. Kekerasan(loudness): Seringkali dalam sebuah ruang auditorium musik terjadi suara keras namun kekuatannya terus melemah. Hal ini disebabkan oleh energi suara hilang pada saat perambatan gelombang bunyi atau diserap oleh media ruang besar.

2. Difusi: Suatu kondisi dimana gelombang bunyi merambat ke segala arah sehingga tekanannya pada tiap bagian sama besar. Hal ini didapat dengan menonjolkan elemen – elemen bangunan, misalnya langit langit dibuat

bergerigi, menonjol, atau dengan dekorasi pahatan.

3. Kepadatan(fullness of tone) Kualitas dengung ditentukan oleh besarnya nilai Reverberation Time (RT). Semakin besar volume ruang akan semakin sedikit lapisan penyerap, maka RT akan semakin besar, sehingga kejelasan (clarity) akan semakin berkurang.

4. Keseimbangan(balance): Perbandingan loudness yang seimbang antara bagian. Balance juga ditentukan oleh banyaknya permukaan pemantulan dan difuser yang dipasang di sekeliling sumber bunyi.

5. Daya campur: Keharmonisan bunyi ketika sampai ke telinga sebagai bunyi dari musik yang diaransir dengan baik.

6. Bebas cacat akustik: Yaitu kondisi akustik tanpa adanya gangguan dari hal – hal berikut:

- Gema, adalah pantulan dan penundaan bunyi pantul yang cukup lama disebabkan oleh selang wktu lebih dari 60 meter/sec, dan beda jarak bunyi langsung yang dipantulkan lebih dari 30 meter/sec. Gema merupakan cacat akustik ruang yang palling berat.

- Gaung, adalah gema – gema kacil yang berurutan dengan cepat yang timbul karena ledakan bunyi yang singkat. Gema dan gaung dapat dicegah

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(49)

24

dengan memasang bahan penyerap bunyi pada permukaan pemantul atau difusi dibuat miring.

- Resonansi, terjadi dari bunyi tertentu pada pita frekuensi sempit yang mempunyai kecenderungan berbunyi lebih keras jika dibanding dengan frekuensi yang lain.Bayangan bunyi, terjadi di ruang bawah balkon yang terlalu menjorok ke dalam (lebih dari dua kali tinggi) menyebabkan bunyi langsung dan bunyi pantul berkurang.

Sumber: (Suptandar, J. Pamudji : ( 2004 ) Faktor Akustik dalam Perancangan Disain Interior, Djambatan, Jakarta, hal. 89 – 92).

Objektif Perancangan Akustik dan Peranan ‘Impulse Response’

Gambar 2.4.‘Impulse Response’

Perkembangan bisnis sistem tata suara dan juga peranan ilmu akustik untuk menunjang perkembangan rancangan arsitektur dan interior bagi ruangan yang dimanfaat untuk menunjang performansi sistem tata suara, pada saat ini menunjukkan peningkatan yang cukup menggembirakan. Hal ini ditunjukkan dengan bertambah banyaknya kebutuhan akan ruangan ‘home theatre’ baik itu di ibukota maupun di kota-kota besar lainnya. Perkembangan perangkat sistem tata suara yang menunjang ‘home theatre’ inipun, menjadi pemicu bagi peningkatan minat dan kebutuhan para pengemar audio khususnya dan masyarakat pada umumnya. Perkembangan budaya ‘karaoke’ pun menambah gairah perkembangan

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(50)

25

kebutuhan akan ruangan yang memiliki kondisi akustik yang memadai untuk kebutuhan tersebut.

Apapun bentuk dan jenis ruangan atau ‘venue’ yang membutuhkan perancangan akustik yang tepat, semestinya memiliki objektif untuk menghasilkan medan suara yang sesuai dengan tujuan dan maksud pemanfaatan ruangan atau ‘venue’ tersebut. Sebelum membicarakan objektif tersebut, perlu kita pahami bersama mekanisme dari terjadinya suara dan juga medan suara di dalam ruangan.

Gambar 2.5. Komponen utama terjadinya suara

Pada Gambar 2.4, secara sederhana digambarkan bahwa akustik atau terjadinya suara itu menyangkut 3 komponen utama yaitu sumber suara, ruangan/medium dan penerima. Jika salah satu dari ketiga komponen utama tersebut tidak ada, maka suara pun tidak ada. Ketiga komponen utama akustik ini memiliki karakteristik yang dapat dinilai dan diukur baik itu secara objektif maupun secara subjektif. Penilaian objektif tentunya berdasarkan kepada besaran2 yang bersifat objektif yaitu besaran-besaran fisika, misalnya besaran ‘sound pressure level’ dari sumber suara, besaran waktu dengung ruangan atau juga ‘directivity’ dari mikrophone (dalam hal ini mikrophone bertindak sebagai penerima suara). Sementara itu penilaian subjektif pada umumnya berdasarkan kepada ‘subjective preference’ dari orang yang menilainya, meskipun penilaian yang dilakukan tersebut sering juga didasarkan kepada besaran-besaran fisika, misalnya seseorang lebih menyukai ‘speaker A’ dibandingkan dengan ‘speaker B’ akibat adanya perbedaan karakteristik frekwensi atau juga perbedaan karakteristik dinamiknya.

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(51)

26 Objektif per ancangan akustik

Tujuan atau objektif dari perancangan akustik suatu ‘venue’, baik itu ‘indoor’ maupun ‘outdoor’, semestinya menyertakan dan memperhitungkan juga ketiga karakteristik objektif komponen utama akustik tersebut. Pada umumnya, apapun perancangan akustik yang dilakukan, apakah itu perancangan tata suara lengkap, tanpa memberikan ‘acoustics treatment’ pada ‘venue’ di luar ruangan, maupun perancangan akustik ruangan, misalnya perancangan akustik ruang ‘home theatre’ atau studio rekaman, maka tujuan atau objektifnya adalah menghasilkan medan suara yang optimal dan tepat yang dapat didengarkan oleh pendengarnya. Medan suara yang didengarkan oleh pendengar ini tentunya memiliki karakteristik yang ditentukan oleh besaran-besaran yang bersifat objektif yaitu karakteristik fisika dari medan suara.

Karakteristik medan suara yang diterima pendengar dapat dibagi menjadi komponen yang bersifat temporal, yaitu besaran yang dapat dinyatakan sebagai fungsi waktu. Disamping itu ada juga komponen yang bersifat spatial, yaitu besaran

yang dapat dinyatakan dengan dimensi ruang. Jika penerimanya adalah manusia atau orang, bukan mikrophone untuk perekaman misalnya, maka karakteristik medan suara yang diterima itu dapat dinyatakan dengan 4 par ameter utama yaitu :

1. Tingkat pendengar an (listening level), biasanya besaran ini dinyatakan dengan besaran dBA.

2. Waktu tunda pantulan awal (initial delay time), yaitu waktu tunda yang terjadi antara suara langsung dan suara pantulan,

3. Waktu dengung subsequent (subsequent reverberation time), yaitu waktu dengung yang berhubungan satu-satu dengan posisi sumber suara dan penerima dan

4. Korelasi silang sinyal antar kedua telinga (inter-aural cross correlation, IACC), yaitu besaran yang menyatakan adanya perbedaan sinyal suara yang diterima di telinga kiri dan kanan pendengar.

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(52)

27

Tiga parameter utama dari 1 sampai 3 di atas adalah parameter yang bersifat temporal dan besaran ini dapat diukur dengan menggunakan satu channel pengukuran saja, misalnya menggunakan sound level meter atau frequency analyser 1 channel. Disamping itu, ketiga parameter tersebut memiliki karakteristik yang juga sangat tergantung kepada frekwensi. Sementara parameter utama yang keempat adalah besaran yang bersifat spatial dan hanya dapat diukur dengan menggunakan instrumen dual channel dengan memanfaatkan dummy head. Hal ini disebabkan karena manusia memiliki dua buah telinga yang posisinya sedemikian rupa sehingga dapat mendeteksi adanya ruang dan juga dapat melokalisasikan posisi dari sumber

suara. Adanya ke-empat parameter utama akustik ini, bukan hanya berlaku bagi medan suara di dalam ruangan (indoor) tetapi juga berlaku untuk sistem tata suara di luar ruangan (outdoor).

Dari penjelasan di atas, maka objektif perancangan akustik, baik indoor maupun outdoor, termasuk juga perancangan sistem tata suara dari studio rekaman sampai kepada gedung konser, sudah semestinya dapat memanfaatkan keempat parameter utama ini. Kebutuhan atau tujuan yang dikehendaki oleh ‘klien’ atau ‘owner’ dari ruangan atau ‘venue’ mesti diterjemahkan ke dalam besaran objektif dari keempat parameter tersebut. Sebagai contoh, jika klien menginginkan agar ruangan dapat digunakan sebagai auditorium tanpa menggunakan musik misalnya, maka perancangan akustik mesti menerjemahkan kebutuhan medan suara bagi pembicaraan/pidato ini ke dalam besaran-besaran keempat parameter tersebut. Perancang mesti menentukan suatu posisi yang disebut dengan ‘design point’ dimana di posisi ini nilai besaran keempat parameter tersebut mesti dirancang berada pada nilai yang ‘optimum’, bagi tujuan pemanfaatan ruangan atau ‘venue’ tersebut. Jika ruangan atau ‘venue’ tersebut cukup luas, maka dapat dibuatkan rancangan ‘mapping’ dari besaran keempat parameter tersebut, terutama sekali di daerah dimana penonton atau audience berada.

Setelah ‘propose’ nilai keempat parameter tersebut disetujui, dimengerti dan sesuai dengan apa yang diinginkan oleh ‘klien’ atau ‘owner’, termasuk juga perlu dikonsultasikan dan didiskusikan tentang ‘appearance’ dari ‘design interior’ atau

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(53)

28

‘venue set up’ nya, maka besaran keempat parameter ini dapat diterjemahkan kembali ke dalam besaran2 fisika yang sesuai dan berhubungan dengan arsitektur dan juga design interior. Besaran-besaran itu, misalnya volume ruangan, luas ruangan, ketinggian langit, karakteristik akustik permukaan dinding langit-langit dan juga semua bidang permukaan di dalam ruangan atau di daerah ‘venue’ tersebut. Besaran-besaran inilah yang mesti di’implementasi’kan oleh pelaksana/kontraktor dan juga ‘sound engineer’ di lapangan.

Setelah pelaksanaan ‘implementasi’ rancangan hampir selesai, maka perlu dilakukan pengukuran untuk mengetahui sejauh mana kondisi objektif di lapangan sudah mendekati atau sesuai dengan besaran-besaran yang di’propose’. Apabila masih terjadi penyimpangan antara kondisi riil dengan kondisi ‘propose’, maka

dengan tepat dan cermat pelaksana dilapangan dapat melakukan perbaikan-perbaikan, bahkan dapat memberikan usulan perubahan rancangan kepada perancangnya. Perubahan atau ‘modifikasi’ rancangan inipun perlu juga untuk dikonsultasikan dan didiskusikan terlebih dahulu dengan ‘klien’ ataupun ‘owner’. Sebelum seluruh hasil pekerjaan akhir dari ‘treatment acoustics’ diserah-terimakan kepada ‘klien’ atau ‘owner’, kembali perlu dilakukan pengukuran parameter-parameter tersebut, dimana hal ini akan menunjukkan sejauh mana kesesuaian antara karakteristik objektif dari hasil rancangan dengan karakteristik hasil implementasi rancangan. Dengan demikian maka akan dapat dihindari ‘judgement’ yang sangat bersifat ‘subjective’ dan juga menunjukkan ‘quality product’ dari seluruh proses perancangan akustik tersebut.

Impulse Response

Salah satu ‘tool’ yang cukup baik dan memadai untuk melakukan ‘verifikasi’ besaran2 keempat parameter akustik seperti yang dijelaskan di atas adalah impulse

response. Untuk kondisi akustik di dalam ruangan, fenomenanya dapat dijelaskan

dengan menggunakan Gambar 2.6 berikut ini.

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(54)

29

Di dalam setiap ruangan, maka sinyal suara yang dihasilkan oleh sumber suara akan diterima oleh pendengar atau penerima suara, setelah sinyal suara tersebut menjalar di dalam ruangan. Sinyal suara ini akan mengalami semua proses penjalaran gelombang mekanis di dalam ruangan seperti pantulan, penyerapan dan transmisi oleh permukaan ruangan disamping juga pembelokan gelombang suara oleh permukaan tertentu. Pada posisi penerima, sinyal suara dari sumber suara tersebut diterima dalam bentuk suara langsung dinyatakan dengan L pada Gamba r 2.5, suara pantulan yang dinyatakan dengan P dan juga suara dengung yang dinyatakan dengan D. Akibat sifat penjalaran suara yang berupa penjalaran

gelombang mekanis dengan kecepatan penjalaran yang jauh-jauh lebih lambat dibandingkan dengan kecepatan cahaya, maka pada penerimaan ketiga jenis suara tadi akan diterima dengan susunan waktu yang berbeda-beda. Jika sinyal dari sumber suara berupa sinyal impulse yaitu sinyal dengan daya yang cukup besar --

idealnya secara matematis dayanya tidak berhingga-- dan memiliki waktu kejadian

yang sangat pendek --idealnya waktu kejadiannya mendekati nol detik-- maka pada penerima akan diterima urutan sinyal impulse yang berjumlah tidak berhingga. Sekuensial sinyal inilah yang disebut dengan ‘response impulse’. Pada masa lalu, sebagai sinyal pemicu impulse digunakan letusan balon atau ledakan pistol kosong, tetapi pada saat ini dengan perkembangan teknologi ‘digital signal processing’, maka digunakanlah suatu sinyal digital yang disebut dengan sinyal ‘maximum length sequence, MLS’. Dengan memanfaatkan teknologi ‘digital signal processing’ tersebut, sinyal impulse yang diterima di kedua telinga pendengar dapat diukur dan hasil proses ini disebut dengan ‘binaural impulse response’. Dari ‘binaural impulse response’ inilah, parameter IACC dapat ditentukan. Tentang fenomena alami dan arti dari IACC ini dan juga hubungannya dengan masalah ‘spatialisasi’ atau ‘kesan ruang’ pada medan suara, akan penulis jelaskan dikesempatan lain. Sebelumnya perlu juga untuk dinyatakan bahwa ‘implementasi’ konsep IACC ini juga ikut

menentukan pengembangan konsep ‘home theatr e’ yang saat ini sudah ada.

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(55)

30

Gambar 2.6. Terjadinya suara langsung (L), pantulan awal (P) dan dengung (D) di dalam suatu ruangan Implementasi konsep ‘impulse response’ dalam perancangan akustik

Dengan memahami, konsep-konsep dasar akustik maka perancangan kondisi akustik untuk setiap ruangan ataupun ‘venue’ dapat dilakukan. Disini akan diberikan bagaimana perancangan akustik dan ‘acoustic treatment’ dari Gereja Sidang Jemaat Allah Bethlehem Bogor yang berlokasi di Jalan Suryakencana, Bogor. Dengan memanfaatkan perangkat lunak komputer EASE -- bisa juga dengan memanfaatkan perangkat lunak akustik lainnya seperti CATT Acoustics ataupun ODEON-- sinyal

impulse dari mimbar maupun dari audience dapat digambarkan seperi ditunjukkan pada Gambar 2.7 dan Gambar 2.8.

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(56)

31

Gambar 2.7. Sinyal impulse yang dibangkitkan dari posisi mimbar GSJA Bethlehem Bogor (diperoleh dari laporan AcETS, perancang akustik GSJA).

Gambar 2.8. Sinyal impulse yang dibangkitkan dari posisi jemaat/audience GSJA Bethlehem Bogor (diperoleh dari laporan AcETS, perancang akustik GSJA).

Dengan bantuan perangkat lunak akustik tersebut, posisi sumber suara perlu ditetapkan dan demikian juga semua karakteristik akustik dari sumber suara tersebut mesti diperhitungkan, misalnya ‘directivity’ dari speaker, ‘frequency response’ nya, karakteristik daya dan sebagainya. Disamping itu, karakteristik akustik ruangan seperti posisi dan karakteristik permukaan-permukaan yang berfungsi untuk menyerap suara, karakteristik spesifik dan posisi ‘Schroeder Diffusor’, reflektor suara dan juga karakteristik akustik ‘audience’ juga mesti diperhitungkan. Selanjutnya, pada semua posisi ‘audience’ dapat diperoleh besaran parameter

akustiknya dari hasil perhitungan analisis ‘impulse response’nya. Segala hal yang berhubungan dengan masalah ‘cacat akustik’ baik itu cacat akustik temporal maupun spektral dapat diidentifikasi dan ditanggulangi sejak awal pada tahap perencanaan ini. Perlu juga ditegaskan disini, ‘Schroeder Diffusor’ yang dipasang di

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

(57)

32

GSJA ini, dirancang sepenuhnya oleh perencana, mengingat karakteristik akustik ‘Schroeder Diffusor’ tersebut bersifat unik untuk keperluan yang bersifat ‘customize’. Ini berarti, suatu jenis ‘Schroeder Diffusor’ tertentu hanya berfungsi dengan tepat jika dipasang pada posisi dan ruang yang tertentu pula, sesuai dengan hasil perancangan akustik yang berdasar kepada konsep ‘impulse response’ tersebut.

Setelah pelaksanaan ‘acoustics treatment’ dikerjakan oleh kontraktor, pengukuran karakteristik akustik ruangan dilakukan dengan mengukur ‘impluse response’nya

pada posisi-posisi audience dan juga posisi yang dianggap penting lainnya. ‘Acoustics mapping’ yang diperoleh dari pengukuran ini kemudian digunakan untuk mem’verifikasi’ data ‘Acoustics mapping’ yang di’propose’ pada tahap perancangan dengan batuan perangkat lunak EASE tersebut. Semua hasil proses perancangan dan

juga pengukuran ini kemudian dituangkan kedalam dokumen laporan, yang merupakan dokumen penting bagi ‘klien’ atau ‘owner’ untuk keperluan ‘acoustics performance maintenance’ dimasa mendatang. (Sumber : Komang Merthayasa at 22:58 ) Labels: Arsitektur, Auditorium, Concert Hall, Design Akustik, Design Interior, Impulse response,

Musik tradisional

2.1.3. Studi K asus

2.1.3.1. J IExpo Ar ena Pekan Raya J a ka r ta

Gambar 2.9 JIExpo

(Sumber: Data Pribadi, 2010)

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

Figur

Gambar rancangan
Gambar rancangan . View in document p.31
grafik seperti dibawah ini.
grafik seperti dibawah ini. . View in document p.45
Gambar 2.6. Terjadinya suara langsung (L), pantulan awal (P) dan dengung (D) di dalam suatu ruangan
Gambar 2 6 Terjadinya suara langsung L pantulan awal P dan dengung D di dalam suatu ruangan . View in document p.55
Gambar 2.9 JIExpo
Gambar 2 9 JIExpo . View in document p.57
Gambar 3.2 Sydney Opera House, Australia
Gambar 3 2 Sydney Opera House Australia . View in document p.60
Gambar 3.3 Hall utama Sydney Opera House
Gambar 3 3 Hall utama Sydney Opera House . View in document p.61
Gambar 3.4 Hall utama Sydney Opera House
Gambar 3 4 Hall utama Sydney Opera House . View in document p.61
Gambar 3.5 kodek theatre di New York
Gambar 3 5 kodek theatre di New York . View in document p.62
Tabel 2.4. aktifitas dan kebutuhan ruang Pusat Seni Musik Jazz
Tabel 2 4 aktifitas dan kebutuhan ruang Pusat Seni Musik Jazz . View in document p.69
Tabel 2.6. Program Ruang
Tabel 2 6 Program Ruang . View in document p.83
Gambar 3. 9. Lokasi yang digunakan (Sumber : Peta Surabaya, 2011)
Gambar 3 9 Lokasi yang digunakan Sumber Peta Surabaya 2011 . View in document p.90
Gambar 4.3. Keadaan  jalan sekitar
Gambar 4 3 Keadaan jalan sekitar . View in document p.94
Gambar 4. 5. Analisis output kondisi aksesbilitas site  (Sumber : analisa penulis, 2011)
Gambar 4 5 Analisis output kondisi aksesbilitas site Sumber analisa penulis 2011 . View in document p.99
Tabel 4.2 hasil kesimpulan analisis output kondisi aksesbilitas site
Tabel 4 2 hasil kesimpulan analisis output kondisi aksesbilitas site . View in document p.100
Gambar 4.7. fasilitas lingkungan sekitar (Sumber : Data Pribadi, 2011)
Gambar 4 7 fasilitas lingkungan sekitar Sumber Data Pribadi 2011 . View in document p.101
Gambar 4.8 Gerbang Unesa (Sumber : Data Pribadi, 2011)
Gambar 4 8 Gerbang Unesa Sumber Data Pribadi 2011 . View in document p.101
Gambar 4. 9. Analisa View ( Sumber : Analisis penulis, 2011 )
Gambar 4 9 Analisa View Sumber Analisis penulis 2011 . View in document p.102
Gambar 5.0. Analisa Kebisingan ( Sumber : Analisis penulis, 2011 )
Gambar 5 0 Analisa Kebisingan Sumber Analisis penulis 2011 . View in document p.103
Gambar 5.1. Analisa zonning  ( Sumber : analisis penulis, 2011)
Gambar 5 1 Analisa zonning Sumber analisis penulis 2011 . View in document p.104
Gambar 5.2 bentuk tipologi dasar bangunan
Gambar 5 2 bentuk tipologi dasar bangunan . View in document p.110
Gambar 5.4. kodek theatre
Gambar 5 4 kodek theatre . View in document p.111
Gambar 5.6. piano. (Sumber: www.piano.com, 2012)
Gambar 5 6 piano Sumber www piano com 2012 . View in document p.115
Gambar 6.0.. siteplan (Sumber: Data Penulis, 2012)
Gambar 6 0 siteplan Sumber Data Penulis 2012 . View in document p.116
Gambar 5.8. Tuts Piano (Sumber: www.piano.com, 2012)
Gambar 5 8 Tuts Piano Sumber www piano com 2012 . View in document p.116
Gambar 6. 2. Tampak depan (Sumber : Berkas Tugas Akhir, 2012)
Gambar 6 2 Tampak depan Sumber Berkas Tugas Akhir 2012 . View in document p.121
Gambar 6. 1. Tampak burung Pusat Seni Musik jazz di Surabaya (Sumber : Berkas Tugas Akhir, 2012)
Gambar 6 1 Tampak burung Pusat Seni Musik jazz di Surabaya Sumber Berkas Tugas Akhir 2012 . View in document p.121
Gambar 6. 3. Sirkulasi dalam site (Sumber : Berkas Tugas Akhir, 2012)
Gambar 6 3 Sirkulasi dalam site Sumber Berkas Tugas Akhir 2012 . View in document p.122
Gambar 6. 4. Vegetasi area site (Sumber : Berkas Tugas Akhir, 2012)
Gambar 6 4 Vegetasi area site Sumber Berkas Tugas Akhir 2012 . View in document p.123
Gambar 6. 5. Interior Auditorium  (Sumber : Berkas Tugas Akhir, 2012)
Gambar 6 5 Interior Auditorium Sumber Berkas Tugas Akhir 2012 . View in document p.123
Gambar 6. 6. Interior cafe (Sumber : Berkas Tugas Akhir, 2012)
Gambar 6 6 Interior cafe Sumber Berkas Tugas Akhir 2012 . View in document p.124

Referensi

Memperbarui...