• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh Efektivitas Komite Audit terhadap Financial Distress (Studi Empiris pada Consumer Good Industry yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia 2012-2013).

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Pengaruh Efektivitas Komite Audit terhadap Financial Distress (Studi Empiris pada Consumer Good Industry yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia 2012-2013)."

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

vii Universitas Kristen Maranatha

ABSTRACT

This study aimed to analyze the influence of the effectiveness of the audit committee on the probability of financial distress. The effectiveness of the audit committee is measured by the size of the audit committee, audit committee independence and the frequency of audit committee meetings. The data used in this study are from manufactures company annual reports, sector of consumer goods industry that listed in Indonesia Stock Exchange in 2012 and 2013. Tests carried out by multiple regression analysis to assess the effect of the size of the audit committee, audit committee independence and the frequency of audit committee meetings on the financial distress partial and simultaneous.

The results of the study indicate that partially independence of the audit committee and the frequency of audit committee meetings has a significant negative effect on the financial distress. The higher level of independence of the audit committee, the less chance the company having financial distress. And the higher level of frequency of audit committee meetings, the less chance company having financial distress. While the size of the audit committee does not affect the possibility of the company's financial distress. But simultaneously the effectiveness of the audit committee has the effect of 41% on the financial distress.

(2)

viii Universitas Kristen Maranatha

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh efektivitas komite audit terhadap probabilitas kesulitan keuangan. Efektivitas komite audit diukur oleh ukuran komite audit, independensi komite audit dan frekuensi pertemuan komite audit. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah laporan tahunan perusahaan manufaktur sektor industri barang konsumsi yang tercatat di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2012 dan 2013. Pengujian dilakukan dengan analisis regresi berganda untuk menilai pengaruh ukuran komite audit, independensi komite audit dan frekuensi pertemuan komite audit terhadap kesulitan keuangan secara parsial dan simultan.

Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa secara parsial independensi komite audit dan frekuensi pertemuan komite audit memiliki pengaruh negatif signifikan terhadap financial distress. Semakin tinggi tingkat independensi komite audit maka semakin kecil kemungkinan perusahaan mengalami kesulitan keuangan. Dan semakin tinggi tingkat frekuensi pertemuan komite audit yang dilakukan maka semakin kecil kemungkinan perusahaan mengalami kesulitan keuangan. Sementara itu ukuran komite audit tidak berpengaruh terhadap kemungkinan kesulitan keuangan pada perusahaan. Namun secara simultan efektivitas komite audit memiliki pengaruh sebesar 41% terhadap kesulitan keuangan.

(3)

ix Universitas Kristen Maranatha

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PENGESAHAN ... ii

SURAT PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ... iii

KATA PENGANTAR ... v

ASBTRACT ... vii

ABSTRAK ... viii

DAFTAR ISI ... ix

DAFTAR GAMBAR ... xiii

DAFTAR TABEL ... xiv

DAFTAR LAMPIRAN ... xv

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang Penelitian ... 1

1.2 Identifikasi Masalah ... 6

1.3 Maksud dan Tujuan Penelitian ... 6

1.4 Kegunaan Penelitian ... 7

BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS ... 8

2.1 Kajian Pustaka ... 8

2.1.1 Teori Keagenan ... 8

2.1.2 Financial Distress ... 9

2.1.2.1 Faktor Penyebab Financial Distress ... 11

(4)

x Universitas Kristen Maranatha

2.1.3.1 Tugas dan Wewenang Komite Audit ... 16

2.1.3.2 Wewenang Komite Audit... 17

2.1.3.3 Komite Audit yang Efektif ... 19

2.1.3.4 Struktur Komite Audit ... 20

2.1.3.5 Independensi Komite Audit ... 22

2.1.3.6 Frekuensi Pertemuan Komite Audit ... 23

2.2 Penelitian Terdahulu ... 24

2.3 Kerangka Pemikiran ... 26

2.4 Pengembangan Hipotesis ... 28

2.4.1 Pengaruh Ukuran komite Audit dan Financial Distress ... 28

2.4.2 Pengaruh Independensi Komite Audit dan Financial Distress ... 29

2.4.3 Pengaruh Frekuensi Pertemuan Komite Audit terhadap Financial Distress ... 29

BAB III METODE PENELITIAN ... 31

3.1 Objek Penelitian ... 31

3.2 Jenis Penelitian ... 31

3.3 Definisi Operasional Variabel ... 32

3.3.1 Variabel Dependen ... 32

3.3.2 Variabel Independen ... 33

3.4 Populasi dan Sampel ... 35

3.5 Teknik Pengumpulan Data ... 38

3.5.1 Uji Asumsi Klasik ... 38

3.5.1.1 Uji Outlier ... 38

(5)

xi Universitas Kristen Maranatha

3.5.1.3 Uji Multikolinearitas ... 39

3.5.1.4 Uji Autokorelasi ... 40

3.5.1.5 Uji Heterokedastisitas ... 40

3.5.2 Analisis Regresi Berganda ... 41

3.5.3 Rancangan Pengujian Hipotesis ... 41

3.5.3.1 Uji Beda T-test ... 41

3.5.3.2 Uji ANOVA ... 42

3.5.4 Uji Koefisien Determinasi (R2) ... 42

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 43

4.1 Statistik Deskriptif ... 43

4.2 Hasil Uji Asumsi Klasik ... 44

4.2.1 Uji Outlier ... 44

4.2.2 Uji Normalitas ... 45

4.2.3 Uji Multikolinearitas ... 45

4.2.4 Uji Autokorelasi ... 46

4.2.5 Uji Heterokedastisitas ... 47

4.3 Analisis Regresi Berganda ... 48

4.4 Hasil Uji Hipotesis ... 49

4.4.1 Hasil Uji t (Parsial) ... 49

4.4.2 Hasil Uji F (Simultan) ... 50

4.5 Hasil Uji Koeefisien Determinasi ... 51

4.6 Analisis Hasil Penelitian ... 51

4.6.1 Pengaruh Ukuran Komite Audit terhadap Financial Distress ... 51

(6)

xii Universitas Kristen Maranatha

4.6.3 Pengaruh Frekuensi Komite Audit terhadap Financial Distress ... 53

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 54

5.1 Kesimpulan ... 54

5.2 Keterbatasan ... 55

5.3 Saran ... 56

DAFTAR PUSTAKA ... 57

LAMPIRAN ... 59

(7)

xiii Universitas Kristen Maranatha

DAFTAR GAMBAR

(8)

xiv Universitas Kristen Maranatha

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 3.1 Klasifikasi Sampel ... 36

Tabel 3.2 Daftar Perusahaan yang menjadi Sampel... 37

Tabel 4.1 Statistik Deskriptif ... 43

Tabel 4.2 Uji Normalitas ... 45

Tabel 4.3 Uji Multikolinearitas ... 45

Tabel 4.4 Uji Autokorelasi ... 46

Tabel 4.5 Uji Heterokedastisitas ... 47

Tabel 4.6 Uji Regresi Berganda ... 48

Tabel 4.7 Uji t-test ... 49

Tabel 4.8 Uji Anova ... 50

(9)

xv Universitas Kristen Maranatha

DAFTAR LAMPIRAN

(10)

1 Universtitas Kristen Maranatha

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Setiap perusahaan memiliki kewajiban untuk menyusun dan menyampaikan laporan tahunan. Laporan tahunan yang salah satunya terdiri dari laporan keuangan memiliki tujuan untuk menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja, serta perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai dalam pengambilan keputusan. Laporan keuangan juga menunjukan apa yang telah dilakukan manajemen atau pertanggungjawaban manajemen atas sumber daya yang dipercayakan kepadanya. Pemakai yang ingin melihat apa yang telah dilakukan atau pertanggungjawaban manajemen berbuat demikian agar mereka dapat membuat keputusan ekonomi. Keputusan ini mencakup, misalnya, keputusan untuk menahan atau menjual investasi mereka dalam perusahaan atau keputusan untuk mengangkat kembali atau mengganti manajemen. Laporan keuangan yang disampaikan harus memuat informasi yang wajar (tidak memihak), transparasi (jujur) dan independen atau bebas dari benturan kepentingan.

(11)

BAB I PENDAHULUAN 2

Universtitas Kristen Maranatha transaksi yang dilakukan pada saat terjadinya, bukan pada saat kas atau setara kas diterima atau diberikan. Jika suatu entitas bisnis tidak memiliki kemampuan mempertahankan kelangsungan hidupnya, maka laporan keuangan entitas tersebut wajib disusun berdasarkan asumsi lain yakni likuidasi dan nilai realisasi sebagai basis pencatatan.

Dalam pengelolaanya, perusahaan harus menerapkan tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance), tata kelola perusahaan merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kinerja perusahaan/organisasi. Secara bersamaan dalam pengelolaannya, perusahaan juga akan menemui kendala-kendala, seperti sistem pengendalian manajemen yang tidak efektif, keputusan manajemen yang kurang tepat, strategi perusahaan yang diterapkan dan lain sebagainya. Kendala-kendala tersebut dapat menjadi indikasi perusahaan gagal untuk mempertahankan kelangsungannya. Kegagalan perusahaan dapat diukur dengan kesulitan keuangan (financial distress) yang terjadi. Kesulitan keuangan yang terjadi dapat dikatakan adalah dampak dari kelemahan dalam tata kelola perusahaan.

Menurut Brigham dan Daves (2003) dalam Fachrudin (2008) financial difficulties terjadi karena serangkaian kesalahan, pengambilan keputusan yang tidak tepat, dan kelemahan-kelemahan yang saling berhubungan yang dapat menyumbang secara langsung maupun tidak langsung kepada manajemen. Sinyal-sinyal potensi kesulitan keuangan biasanya nampak jelas melalui analisa rasio sebelum perusahaan benar-benar gagal.

(12)

BAB I PENDAHULUAN 3

Universtitas Kristen Maranatha saat ini masih menjadi isu besar perusahaan-perusahaan modern. Pemegang saham adalah pemilik perusahan yang mempercayakan pengelolaan perusahaannya kepada direksi perusahaan. Hubungan antara pemegang saham dan direksi perusahaan dikenal dengan ‘agency relationship’. Hubungan ini juga ada antara direksi dan

karyawan kunci. Kepentingan direksi perusahaan dan pemegang saham tidaklah sama dan sering berbenturan. Jika perusahaan dikelola oleh manajemen dan dimiliki oleh pemegang saham yang menjunjung tinggi prisnip-prinsip good corporate governance, maka risiko kegagalan perusahaan tersebut akan sedikit. Good

corporate governance akan tercapai apabila peranan direksi atau pengelola ditingkatkan dan tidak berada di bawah bayang-bayang pemilik perusahaan. Biasanya perusahaan publik atau perusahaan yang tidak dikuasai segelintir pemegang saham mayoritas biasanya lebih kokoh jika dibandingkan dengan perusahaan yang sepenuhnya dikuasai oleh perorangan atau perusahaan keluarga. Adanya pemisahan yang jelas antara pihak pengelola dari pihak pemilik perusahaan dapat menciptakan good corporate governance yang baik.

(13)

BAB I PENDAHULUAN 4

Universtitas Kristen Maranatha perekonomian negara-negara di Asia, termasuk Indonesia pada tahun 1997 dan 1998. Husnan (2001) dalam Anggarini (2010). Skandal kasus PT Kimia Farma, Bank Lippo dan PT Indofarma merupakan contoh dari lemahnya penerapan corporate governance dalam perusahaan Indonesia. Oleh karena itu, good corporate governance menjadi bagian untuk pembenahan pengelolaan korporasi.

Pembentukan komite audit, merupakan salah satu bagian dari mekanisme tata kelola perusahaan dalam melakukan pengendalian internal. Keputusan Ketua Bapepam dan LK Nomor : Kep-643/BL/2012 mengenai Pembentukan dan Pedoman Pelaksanaan Kerja Komite Audit, menyebukan bahwa dengan semakin kompleksnya tugas dan fungsi dewan komisaris dalam melakukan pengawasan terhadap emiten atau perusahaan publik maka diperlukan komite audit yang dibentuk oleh dan bertanggung jawab kepada dewan komisaris dalam membantu melaksanakan tugas dan fungsinya. Keputusan ini dibuat dalam rangka meningkatkan independensi dan menyempurnakan tugas, tanggung jawab, serta kewenangan komite audit peraturan nomor IX.I.5, lampiran Keputusan Ketua Badan Pengawas Pasar Modal Nomor: Kep-29/PM/2004 tentang Pembentukan dan Pedoman Pelaksanaan Kerja Komite Audit, dengan menetapkan Keputusan Ketua Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan yang baru. Keputusan tersebut secara tersirat memberikan atau menegaskan keberadaan komite audit menjadi sangat penting sebagai salah satu perangkat utama dalam penerapan good corporate governance.

(14)

BAB I PENDAHULUAN 5

Universtitas Kristen Maranatha operasi serta sistem pengendalian internal perusahaan yang bertujuan untuk melindungi kepentingan para pemegang saham. Komite audit yang efektif diharapkan dapat fokus untuk mengoptimalisasi kepentingan pemegang saham dan mencegah maksimalisasi kepentingan pribadi dari manajemen puncak

Anggraini (2010) menyatakan bahwa efektivitas kinerja dari komite audit dapat diukur melalui karakteristik-karakteristik yang dimiliki antara lain ukuran, independensi, aktivitas dari komite audit, dan kompetensi yang dimiliki oleh anggota komite audit. Ukuran komite audit berhubungan dengan jumlah anggota komite audit. Independensi komite audit berhubungan dengan seberapa besar keterlibatan anggota komite audit dengan aktivitas perusahaan. Aktivitas dari komite audit diwujudkan melalui frekuensi pertemuan komite audit dalam satu tahun. Sedangkan kompetensi yang dimiliki oleh anggota komite audit berhubungan dengan pengetahuan akuntansi, keuangan dan audit serta pengalaman dalam tata kelola perusahaan. Melalui karakteristik komite audit yang baik diharapkan akan memiliki hubungan negatif yang signifikan dengan kesulitan keuangan. Oleh karena itu, efektivitas komite audit dikaitkan dengan kemakmuran atau kesulitan keuangan perusahaan.

(15)

BAB I PENDAHULUAN 6

Universtitas Kristen Maranatha Uraian tersebut mendorong penulis untuk melakukan penelitian mengenai “Pengaruh Efektivitas Komite Audit terhadap Financial Distress (Studi Empiris Pada

Consumer Good Industry yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia 2012-2013).

Karakteristik komite audit yang digunakan dalam penelitian ini meliputi ukuran komite audit, independensi komite audit dan frekuensi pertemuan komite audit.

1.2 Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, penelitian ini memunculkan rumus masalah sebagai berikut:

1. Apakah ukuran komite audit berpengaruh terhadap kemungkinan terjadinya financial distress pada perusahaan ?

2. Apakah proporsi anggota komite audit independen berpengaruh terhadap kemungkinan terjadinya financial distress pada perusahaan ?

3. Apakah frekuensi pertemuan komite audit berpengaruh terhadap kemungkinan terjadinya financial distress pada perusahaan ?

1.3 Maksud dan Tujuan Penelitian

Berdasarkan uraian rumusan masalah di atas, maksud dan tujuan penelitian ini

adalah sebagai berikut:

1. Mengetahui pengaruh ukuran komite audit terhadap kemungkinan terjadinya

financial distress pada perusahaan

2. Mengetahui pengaruh independensi komite audit terhadap kemungkinan

(16)

BAB I PENDAHULUAN 7

Universtitas Kristen Maranatha

3. Mengetahui pengaruh frekuensi pertemuan komite audit terhadap kemungkinan

terjadinya financial distress pada perusahaan

1.4 Kegunaan Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi berbagai pihak sebagai

berikut:

1. Bagi Akademisi

Dengan adanya penelitian ini, diharapkan dapat menambah ilmu pengetahuan

dan wawasan mengenai efektivitas komite audit terhadap financial distress yang

mungkin dihadapi suatu perusahaan. Komite audit yang merupakan bagian dari

tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance), hal ini didukung

dengan keputusan Bapepam yang merekomendasikan suatu perusahaan untuk

membentuk komite audit. Sehingga komite audit dirasa penting dalam

pengelolaan suatu entitas perusahaan untuk mempertahankan kelangsungan

perusahaannya.

2. Bagi Manajemen Perusahaan

Bagi perusahaan, diharapkan penelitian ini dapat menjadi masukan dan bahan

pertimbangan dalam pembentukan komite audit yang memiliki peran dan

tangggung jawab untuk memberikan pengendalian dalam pelaksanaan kegiatan

perusahaan. Komite audit berperan dalam pengawasan terhadap mekanisme good

(17)

54 Universitas Kristen Maranatha

BAB V

KESIMPULAN

5.1 Kesimpulan

Motivasi dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh efektivitas komite audit yang terdiri dari ukuran komite audit, independensi komite audit dan frekuensi pertemuan komite audit terhadap kemungkinan perusahaan mengalami financial distress (kesulitan keuangan). Dengan menggunakan sampel pada perusahaan manufaktur (industri pengolahan) dengan sektor industri barang konsumsi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2012-2013, diperoleh kesimpulan sebagai berikut:

1. Hasil penelitian secara parsial membuktikan bahwa ukuran komite audit yang diproksikan oleh jumlah anggota komite audit pada perusahaan tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap financial distress. Dengan nilai signifikansi sebesar 0.695 lebih besar dari 0.05 (tingkat signifikan). Hasil ini diperoleh karena objek penelitian memiliki rata-rata ukuran komite audit 3 orang sampai 4 orang, sehingga ukuran komite audit tidak berpengaruh secara signifikan terhadap financial distress.

(18)

BAB V KESIMPULAN 55

Universitas Kristen Maranatha penelitian yang memiliki nilai rata-rata independensi sebesar 60%, sehingga penerapan imdependensi dalam komite audit telah dilakukan dengan baik dan dapat mempengaruhi kondisi keuangan perusahaan agar terhindar dari financial distress.

3. Hasil penelitian secara parsial membuktikan bahwa frekuensi pertemuan komite audit yang diproksikan oleh jumlah rapat komite audit dalam satu tahun pada perusahaan memiliki pengaruh yang signifikan dengan pengaruh negatif terhadap financial distress. Dengan nilai signifikan sebesar 0.043 lebih kecil dari 0.05 (tingkat signifikan). Hasil penelitian didukung oleh objek penelitian yang telah melaksanakan pertemuan komite audit rata-rata dalam satu tahun sebanyak 5 kali pertemuan, namun masih ada beberapa perusahaan yang sama sekali tidak melakukan pertemuan komite audit.

4. Hasil penelitian secara simultan membuktikan bahwa ukuran komite audit, independensi komite audit dan frekuensi pertemuan komite audit secara bersamaan memiliki pengaruh terhadap financial distress pada perusahaan. Pengaruh yang dihasilkan adalah sebesar 41% , sedangkan 59% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diamati oleh peneliti.

5.2 Keterbatasan

Keterbatasan dalam penelitian ini adalah:

1. Ketiadaan informasi yang memadai mengenai laporan tahunan dan laporan komite audit yang tersedia sehingga jumlah sampel yang digunakan sedikit. 2. Hanya menggunakan tiga variabel dari karakteristik komite audit dalam

(19)

BAB V KESIMPULAN 56

Universitas Kristen Maranatha 3. Hanya menggunakan sampel dari perusahaan manufaktur (industri pengolahan) dengan sektor industri barang konsumsi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dan hanya menggunakan tahun penelitian 2012 dan 2013

5.3 Saran

1. Untuk Otoritas Jasa Keuangan (pengalihan tugas dan fungsi dari Bapepam-LK), selaku badan pengawasan pasar modal yang memiliki otoritas dalam membuat pedoman pelaksanaan kerja komite audit, untuk lebih mengawasi kepatuhan perusahaan dalam pembentukan dan pelaksanaan kegiatan komite audit.

2. Untuk perusahaan, selaku badan yang menjalankan usahanya, diharapkan untuk melaksanakan dan mematuhi peraturan dalam pembentukan komite audit dan meningkatkan efektivitas dengan memperhatikan ukuran komite audit, frekuensi pertemuan anggota komite audit dan terlebih independensi anggota komite audit.

(20)

57 Universitas Kristen Maranatha

DAFTAR PUSTAKA

Anggarini, Tifani Vota. (2010). Pengaruh Karakteristik Komite Audit Terhadap Financial Distress (Studi Empiris pada Perusahaan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia). Fakultas Ekonomi. Universitas Diponegoro. Semarang.

Anthony, Robert N. dan Vijay Govindarajan. (2005). Management Control Systems. Salemba Empat. Jakarta.

Arens, Alvin, Randal J. Elder dan Mark S. Beasley. (2008). Auditing & Jasa Assurance. Edisi 12. Penerjemah Herman Wibowo. Erlangga. Jakarta.

Atika, Darminto dan Siti Ragil Handayani. (2012). Pengaruh Beberapa Rasio Keuangan Terhadap Prediksi Kondisi Financial Distress: Studi Pada Perusahaan Tekstil dan Garmen yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2008-2011. Fakultas Ilmu Administrasi. Universitas Brawijaya. Malang.

BAPEPAM. (2012). Keputusan Ketua Bapepam dan LK Nomor : Kep-643/BL/2012 bertanggal 7 Desember 2012, tentang mengenai Pembentukan dan Pedoman Pelaksanaan Kerja Komite Audit. Jakarta.

Elyanto, Alvin Agus. (2013). Analisis Pengaruh Karakteristik Komite Audit Terhadap Financial Distress. Fakultas Ekonomika dan Bisnis. Universitas Diponegoro Semarang.

Fachrudin, Khaira Amalia. (2008). Kesulitan Keuangan Perusahaan dan Personal. USU Press. Medan.

Fadhilah, Fauziah Nurul. (2013). Analisis Pengaruh Karakteristik Corporate Governance Terhadap Kemungkinan Financial Distress. Fakultas Ekonomika dan Bisnis. Universitas Diponegoro. Semarang.

Forum for Corporate Governance in Indonesia. Peranan Dewan Komisaris dan Komite Audit dalam Pelaksanaan Corporate Governance (Tata Kelola Perusahaan). www.fcgi.or.id. Diakses pada tanggal 28 Oktober 2014.

Ghozali, Iman. (2006). Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS. Edisi Keempat. Badan Penerbit Universitas Diponegoro. Semarang.

Haryanti,Asni. (2012) , Statistik II, Penerbit Andi. Yogyakarta.

(21)

58

Universitas Kristen Maranatha Indrayati, Martha Rizky (2010). Pengaruh Karakteristik Dewan Komisaris Terhadap

Tingkat Konservatisma Akuntansi. Fakultas Ekonomi. Universitas Diponegoro. Semarang.

Kristanti, Martina Eny dan Muchamad Syafruddin. (2012). Pengaruh Karakteristik Komite Audit Pada Kondisi Financial Distress Perusahaan, Studi Pada Perusahaan Manufaktur yang Terdafrar Di Bursan Efek Indonesia Tahun 2008-2010. Diponegoro Journal of Accounting. Volume 1. Nomor 2. Tahun 2012. Halaman 1-14.

Mhd. Hasymi (2007). Analisis Penyebab Kesulitan Keuangan (Financial distress) Studi Kasus pada Perusahaan Bidang Konstruksi PT. X. Magister Sains Akuntansi. Universitas Diponegoro. Semarang.

Nuresa, Ardina dan Basuki Hadiprajitno. (2013). Pengaruh Efektivitas Komite Audit Terhadap Financial Distress. Diponegoro Journal of Accounting, Volume 2. Nomor 2. Tahun 2013. Halaman 1-10.

PT. Bursa Efek Indonesia. http://www.idx.co.id/. Diakses pada 1 November 2014. Purba, Marisi P. (2009). Asumsi Going Concern Suatu Tinjauan Terhadap Dampak

Krisis Keuangan atas Opini Audit dan Laporan Keuangan. Graha Ilmu. Jakarta. Rahmat, M.M., Takiah, M.I., N.M., Saleh. (2008). Audit Committee Characteristics

in Financially Distressed and Non distressed Company. Managerial Auditing Journal, No 7. Volume.24. Halaman 179-212.

Sarwono, Jonathan dan Ely Suhayati. (2010). Riset Akuntansi Menggunakan SPSS. Edisi Pertama. Graha Ilmu. Yogyakarta.

Saunders, A dan Cornett, M.M (2008). Financial Institutions Management: A risk Management Approach. 6th Edition, McGraw-hill International Edition, Singapore.

Subramanyam, K.R. DAN Wild, John J. (2010). Analisis Laporan Keuangan. Edisi 10. Penerjemah Dewi Yanti. Penerbit Salemba Empat. Jakarta.

Sulistyo, Basuki. (2010). Metode Penelitian. Penaku. Jakarta.

Sunjoyo, Rony Setiawan, Verani Carolina, Nonie Magdalena dan Albert Kurniawan. (2013). Aplikasi SPSS untuk SMART Riset. Penerbit Alfabeta, Bandung.

Suroso. (2006). Investasi Pada Saham Perusahaan Yang Menghadapi Financial Distress, Usahawan. Jurnal Manajemen Usahawan Indonesia Vol 35 No.2. Tahun 2006. Halaman 7.

Referensi

Dokumen terkait

AICS - Inventarisasi Bahan Kimia Australia; ASTM - Masyarakat Amerika untuk Pengujian Bahan; bw - Berat badan; CERCLA - Undang-Undang Tanggapan, Kompensasi, dan Tanggung Jawab

Profitability index atau Benefit Cost Ratio (B/C Ratio) adalah perbandingan antara nilai sekarang dari penerimaan-penerimaan kas bersih di masa yang akan datang

model TSI-PS memperoleh prestasi belajar lebih baik daripada siswa yang dikenai model. TPS-PS dan Klasikal-PS, sedangkan siswa yang dikenai model pembelajaran

Berkat rahmat, hidayah dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah (KTI) dengan judul “Perbandingan Tingkat Kecerahan Kulit Wajah Pada Penggunaan Vitamin C

$a spai borap jtahkah oeaeatukan planning itu ditarap^a* bagaicona approach atau katakcniafc* elaaat piepicaa/karyavan tarfeedap pianal*3 p$- raaafeaan* Apotah

Guru memberikan kesempatan pada siswa bertanya tentang materi pelajaran yang disampaikan kemudian memberikan ulasan cara mengerjakan soal cerita menggunakan media

Jenis tempat usaha PKL dalam Perbup tersebut digolongkan ke dalam dua jenis yakni tempat usaha bergerak (bermotor roda dua, tiga dan empat, serta tidak

benar di bawah 50 %. Dalam hal ini ada 12 item atau 30% kemampuan yang diuji dari 40 kemampuan yang diuji, dimana persentase siswa menjawab benar di bawah 50 % pada