• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB 2 LANDASAN TEORI"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

2.1 Tinjauan Pustaka

2.1.1 Definisi Perancangan dan Pengembangan Produk

Perancangan dan pengembangan produk adalah serangkaian aktivitas yang dimulai dari analisis persepsi dan peluang pasar, kemudian diakhiri dengan tahap produksi, penjualan, dan pengiriman produk. Perancangan dan pengembangan produk juga dapat diartikan sebagai urutan langkah-langkah atau kegiatan-kegiatan dimana suatu perusahaan berusaha untuk menyusun, merancang, dan mengkomersialkan suatu produk. Produk tersebut tidak hanya terbatas pada produk yang bersifat fisik tetapi juga produk yang tidak bersifat fisik, yaitu jasa.

2.1.2 Empat Tipe Proyek Perancangan dan Pengembangan Produk

Proyek perancangan dan pengembangan produk dapat dikelompokkan menjadi 4 tipe :

Platform produk baru

Pengembangan produk untuk merancang suatu keluarga produk baru berdasarkan platform yang baru dan umum. Keluarga produk baru akan memasuki kategori pasar dan produk yang sudah dikenal.

(2)

Turunan dari platform produk yang telah ada

Pengembangan produk untuk memperpanjang platform produk supaya lebih baik dalam memasuki pasar yang telah dikenal dengan satu atau lebih produk baru.

Peningkatan perbaikan untuk produk yang telah ada

Pengembangan produk yang mungkin hanya melibatkan penambahan atau modifikasi beberapa detil produk dari produk yang telah ada dalam rangka menjaga lini produk yang ada pesaingnya.

Pada dasarnya produk baru

Pengembangan produk yang melibatkan produk yang sangat berbeda atau teknologi produksi dan mungkin membantu untuk memasuki pasar yang belum dikenal dan baru.

2.1.3 Tahap-Tahap Dalam Perancangan dan Pengembangan Produk

Secara umum, ada enam tahap yang harus dilakukan dalam proses perancangan dan pengembangan produk baru, yaitu perencanaan produk, pengembangan konsep, perancangan tingkatan sistem, perancangan detail, pengujian dan perbaikan, dan produksi awal. Untuk lebih jelasnya, tahapan dalam perancangan dan pengembangan produk dapat dilihat dalam diagram berikut :

(3)

Fase 0 Perencanaan Fase 1 Pengembangan Konsep Fase 4 Pengujian dan Perbaikan Fase 3 Perancangan Rinci

Fase 2 Perancangan Tingkatan Sistem Fase 5 Peluncuran produk

Proses dan Organisasi Pengembangan

Perencanaan Produk

Identifikasi Kebutuhan Pelanggan Spesifikasi Produk

Penyusunan Konsep Seleksi Konsep

Pengujian Konsep Arsitektur Produk

Desain Industri

Desain untuk Manufaktur Prototype

Analisis Ekonomis Pengembangan Produk Mengendalikan Proyek

Gambar 2.1 Proses Perancangan dan Pengembangan Produk

Karena begitu luasnya proses perancangan dan pengembangan produk, maka proses pengembangan produk yang dilakukan hanya mencakup mulai dari perencanaan produk sampai pembuatan prototype, sementara analisis ekonomis pengembangan produk dan mengendalikan proyek tidak dibahas.

(4)

2.1.3.1 Perencanaan Produk

Perencanaan produk merupakan tahap awal yang dilakukan sebelum suatu proyek pengembangan produk disetujui. Perencanaan produk merupakan suatu kegiatan yang mempertimbangkan portfolio suatu proyek, sehingga suatu organisasi dapat mengikuti dan menentukan bagian apa dari proyek yang akan diikuti selama periode tertentu.

Perencanaan produk meliputi mengidentifikasi peluang-peluang yang diikuti dengan pernyataan misi. Identifikasi peluang-peluang dapat dilakukan dengan beberapa pendekatan proaktif, yang meliputi :

Mencatat kegagalan dan keluhan yang dialami pelanggan dengan produk yang ada sekarang.

Mewawancarai pengguna utama.

Mempertimbangkan implikasi terhadap adanya kecenderungan- kecenderungan dalam gaya hidup, demografis, dan teknologi yang ada.

Mengumpulkan beberapa usulan pelanggan.

Studi para pesaing produk yang dilakukan secara hati-hati dengan memperhatikan keunggulan-keunggulan pesaing.

(5)

Sedangkan pernyataan misi mencakup beberapa dari keseluruhan informasi berikut :

Uraian produk ringkas. Mencakup manfaat produk utama untuk pelanggan namun menghindari penggunaan konsep produk secara spesifik. Mungkin saja berupa pernyataan visi produk.

Sasaran utama bisnis. Tambahan sasaran proyek yang mendukung strategi perusahaan, mencakup waktu, biaya, dan kualitas.

Pasar target untuk produk. Mengidentifikasi pasar utama dan pasar kedua yang perlu dipertimbangkan dalam usaha pengembangan.

Asumsi-asumsi dan batasan-batasan untuk mengarahkan usaha pengembangan. Asumsi membatasi kemungkinan jangkauan konsep produk, namun membantu untuk menjaga lingkup proyek yang terkelola.

Stakeholder. Mendaftar secara eksplisit seluruh stakeholder dari produk, yaitu mereka yang dipengaruhi oleh keberhasilan dan kegagalan produk, dimulai dari pengguna akhir, tenaga penjual, organisasi pelayanan, dan departemen produksi.

2.1.3.2 Pengembangan Konsep

Proses pengembangan konsep mencakup kegiatan-kegiatan sebagai berikut :

Identifikasi kebutuhan pelanggan. Sasaran kegiatan ini adalah untuk memahami kebutuhan pelanggan dan mengkomunikasikannya secara efektif

(6)

kepada tim pengembang. Output yang dihasilkan adalah sekumpulan pernyataan kebutuhan pelanggan yang tersusun rapi, diatur dalam daftar secara hierarki.

Lima tahap dalam identifikasi kebutuhan pelanggan :

1. Mengumpulkan data mentah dari pelanggan. Beberapa metode yang biasa digunakan adalah wawancara, kuisioner, kelompok fokus, dan observasi produk pada saat digunakan.

2. Menginterpretasikan data mentah menjadi kebutuhan pelanggan.

3. Mengorganisasikan kebutuhan menjadi beberapa hierarki, yaitu kebutuhan primer, sekunder dan (jika diperlukan) tertier.

4. Menetapkan derajat kepentingan relatif setiap kebutuhan.

5. Menganalisa hasil dan proses.

Penetapan spesifikasi target. Spesifikasi memberikan uraian yang tepat mengenai bagaimana produk bekerja. Merupakan terjemahan dari kebutuhan pelanggan menjadi kebutuhan secara teknis dan merupakan harapan dari tim pengembangan yang kemudian akan diperbarui agar konsisten dengan batasan-batasan berdasarkan konsep produk yang dipilih oleh tim. Output yang dihasilkan adalah suatu spesifikasi target, yang terdiri dari suatu metrik (besaran), serta nilai-nilai batas dan nilai-nilai ideal untuk besaran tersebut.

(7)

Proses pembuatan target spesifikasi terdiri dari empat langkah :

1. Menyiapkan gambar metrik, dan menggunakan metrik-metrik kebutuhan, jika diperlukan.

2. Mengumpulkan informasi tentang pesaing.

3. Menetapkan nilai target ideal dan marginal yang dapat dicapai untuk tiap metrik.

4. Merefleksikan hasil dan proses.

Penyusunan konsep. Menggali lebih jauh area konsep-konsep produk yang mungkin sesuai dengan kebutuhan pelanggan. Output yang dihasilkan adalah 10 sampai 20 konsep.

Penyusunan konsep menggunakan metode lima langkah, yaitu : 1. Memperjelas masalah.

2. Pencarian eksternal.

3. Pencarian internal.

4. Menggali secara sistematis.

5. Merefleksikan hasil dan proses.

Pemilihan konsep. Konsep-konsep tersebut dianalisis dan secara berturut- turut dieliminasi untuk mengidentifikasi konsep yang paling menjanjikan.

Output yang dihasilkan adalah beberapa konsep.

(8)

Pemilihan konsep atau seleksi konsep terdiri atas enam langkah : 1. Menyiapkan matriks seleksi.

2. Menilai konsep.

3. Mengurut konsep.

4. Mengkombinasi atau memperbaiki konsep.

5. Memilih satu atau lebih konsep.

6. Merefleksikan hasil dan proses.

Pengujian konsep. Konsep-konsep yang telah dipilih diuji untuk mengetahui apakah kebutuhan pelanggan telah terpenuhi, memperkirakan potensi pasar dari produk, dan mengidentifikasi beberapa kelemahan yang harus diperbaiki.

Output yang dihasilkan bisa berupa konsep terpilih atau mengulang kembali bahkan menghentikan proyek pengembangan, jika tanggapan konsumen tidak baik terhadap konsep tersebut.

Metode pengujian konsep terdiri atas tujuh langkah : 1. Mendefinisikan maksud dari pengujian konsep.

2. Memilih populasi survei.

3. Memilih format survei.

4. Mengkomunikasikan konsep.

5. Mengukur respons pelanggan.

6. Menginterpretasikan hasil.

(9)

7. Merefleksikan hasil dan proses.

Penentuan spesifikasi akhir. Menentukan spesifikasi dari konsep yang telah dipilih dan lolos uji atau mendapat tanggapan baik dari konsumen.

2.1.3.3 Arsitektur Produk

Arsitektur produk adalah penugasan elemen-elemen fungsional dari produk terhadap kumpulan bangunan fisik (physical building blocks) produk. Tujuan arsitektur produk adalah menguraikan komponen fisik dasar dari produk, apa yang harus dilakukan oleh komponen tersebut dan seperti apa penghubung atau pembatas (interface) yang digunakan untuk peralatan lainnya.

Sebuah produk dianggap terdiri dari elemen fungsional dan fisik. Elemen- elemen fungsional dari produk terdiri atas operasi dan transformasi yang menyumbang terhadap kinerja keseluruhan produk. Sedangkan elemen fisik dari sebuah produk adalah bagian-bagian produk (part), komponen, sub rakitan yang pada akhirnya diimplementasikan terhadap fungsi produk.

Dalam menetapkan suatu keputusan arsitektur produk terdapat tiga langkah, yaitu:

1. Membuat skema produk.

Skema adalah suatu diagram yang menggambarkan pengertian tim terhadap elemen-elemen penyusunan produk.

(10)

2. Mengelompokkan elemen-elemen pada skema.

Tantangan pada langkah 2 ini adalah menugaskan setiap elemen yang terdapat pada skema menjadi chunk yang menjalankan setiap fungsi tertentu.

3. Membuat susunan geometris yang masih kasar.

Susunan geometris dapat diciptakan dalam bentuk gambar, model komputer atau model fisik (dari tripleks atau busa, sebagai contoh) yang terdiri dari dua atau tiga dimensi.

2.1.3.4 Desain Industri

Desain industri adalah “jasa profesional dalam menciptakan dan mengembangkan konsep dan spesifikasi guna mengoptimalkan fungsi-fungsi, nilai, dan penampilan produk serta sistem untuk mencapai keuntungan yang mutual antara pemakai dan produsen.”

Daftar lima tujuan penting dalam desain industri yang harus dicapai desainer- desainer ketika mengembangkan produk-produk baru mencakup :

Kegunaan

Hasil produksi manusia harus selalu aman, mudah digunakan, dan intuitif.

Setiap ciri harus dibentuk sedemikian rupa sehingga memudahkan pemakainya mengetahui fungsinya.

(11)

Penampilan

Bentuk, garis, proporsi, dan warna digunakan untuk menyatukan produk menjadi satu produk yang menyenangkan.

Kemudahan pemeliharaan.

Produk juga harus didesain untuk memberitahukan bagaimana mereka dapat dirawat dan diperbaiki.

Biaya-biaya rendah

Bentuk dan ciri memegang peranan besar dalam biaya peralatan dan produksi.

Karena itu, hal ini harus diperhatikan secara bersama-sama oleh tim.

Komunikasi

Desain produk harus dapat mewakili filosofi desain perusahaan dan misi perusahaan melalui visualisasi kualitas produk.

Dalam fase ini akan difokuskan dengan merancang bentuk-bentuk fisik dari produk baru. Pada awalnya, perusahaan memiliki beberapa ide umum dari akan seperti apa produk baru tersebut tetapi tidak terlalu spesifik. Pada akhir dari fase produk desain, perusahaan memiliki sebuah susunan dari spesifikasi produk (list komponen) dan gambar teknik secara detail sehingga pembuatan prototype awal dapat dilakukan dan diuji coba.

(12)

Dalam desain industri, terdapat kebutuhan-kebutuhan yang harus dipenuhi, yaitu kebutuhan-kebutuhan ergonomik dan kebutuhan-kebutuhan estetis. Kebutuhan- kebutuhan ergonomik mencakup hal-hal seperti :

- Seberapa penting kemudahan pemakaian?

- Seberapa pentingnya kemudahan perawatan?

- Berapa banyak interaksi pemakai yang diperlukan untuk fungsi-fungsi produk?

- Berapa banyak pembaruan yang interaksi pemakai perlukan?

- Apa pokok permasalahan keamanan?

Sedangkan kebutuhan-kebutuhan estetis mencakup hal-hal separti : - Apakah diferensiasi produk visual diperlukan?

- Seberapa penting gengsi kepemilikan, kesan, dan model?

- Akankah suatu produk estetis memotivasi team?

Pada akhirnya, terdapat penilaian kualitas desain industri produk, dimana kategori penilaiannya mencakup kualitas antarmuka pengguna, daya tarik emosional, kemampuan untuk memelihara dan memperbaiki produk, penggunaan yang tepat dari sumber, dan diferensiasi produk.

(13)

2.1.3.5 Design For Manufacturing

Kegagalan yang umumnya ditemukan dalam pengembangan produk adalah membuat produk tersebut bekerja namun sulit untuk dibangun. Kesulitan dalam manufaktur membuat sebuah produk menjadi mahal, sulit untuk dipabrikasi, membutuhkan ekstra waktu, bentuk geometri yang diinginkan sulit untuk dikerjakan dan membutuhkan perawatan ekstra dalam produksi dan lain sebagainya. Design for Manufacture (DFM) and Assembly (DFA) adalah suatu analisis dan perancangan ulang (redesign) dari sebuah produk atau konsep agar dapat menjadi lebih mudah diproduksi.

Desain untuk manufaktur biasanya sudah dilakukan selama proses pengembangan. Langkah-langkah dalam metode DFM terdiri atas lima langkah, yaitu :

1. Memperkirakan biaya manufaktur 2. Mengurangi biaya komponen 3. Mengurangi biaya perakitan

4. Mengurangi biaya pendukung produksi

5. Mempertimbangkan pengaruh keputusan DFM pada faktor lainnya.

Karena DFM bertujuan untuk mengurangi biaya-biaya yang diperlukan, termasuk biaya komponen, maka pada tahap DFM sebaiknya juga sudah terdapat daftar list komponen, struktur produk, dan Bill of Material (BOM).

(14)

Daftar list komponen.

Daftar list komponen berfungsi mendaftar komponen-komponen yang diperlukan untuk membuat produk beserta kegunaan dari tiap-tiap komponen.

Struktur Produk

Struktur produk merupakan merupakan gambaran BOM secara grafis yang membentuk sebuah pohon. Struktur produk menunjukkan bagaimana sebuah produk dibuat secara bersama-sama dari berbagai elemen, mengandung informasi yang mengidentifikasi tiap bahan, keadaan kuantitas bahan yang digunakan.

Bill of Material

Bill of Material atau BOM adalah daftar (list) dari bahan, material atau komponen yang dibutuhkan untuk dirakit, dicampur atau membuat produk akhir. Jaringan yang menggambarkan hubungan induk-komponen.

Dibutuhkan sebagai input dalam perencanaan dan pengendalian aktivitas produksi. Bill of material diperoleh dengan memperhatikan struktur produk.

2.1.3.6 Prototype

Esensi dasar prototype pada umumnya didefinisikan sebagai “sebuah penaksiran produk melalui satu atau lebih dimensi yang menjadi perhatian.” Dengan definisi ini, setiap wujud yang memperlihatkan sedikitnya satu aspek produk yang menarik bagi tim pengembangan dapat ditampilkan sebagai sebuah prototype.

(15)

Definisi ini menyimpang dari penggunaan umumnya, di mana mencakup bermacam bentuk prototype seperti penggambaran konsep, model matematika, dan bentuk fungsional yang lengkap sebelum dibuat dari suatu produk. Membuat prototype merupakan proses pengembangan perkiraan-perkiraan semacam itu dari produk.

Dalam proyek pengembangan produk, prototype digunakan untuk empat tujuan, yaitu :

Pembelajaran

Prototype sering digunakan untuk menjawab dua tipe pertanyaan “Akankah dapat bekerja?” dan “Sejauh mana dapat memenuhi kebutuhan pelanggan?”

Saat harus menjawab pertanyaan semacam ini, prototype diperlakukan sebagai alat pembelajaran.

Komunikasi

Prototype memperkaya komunikasi dengan manajemen puncak, penjual, mitra, keseluruhan anggota tim, pelanggan, dan investor. Hal ini benar karena sebuah gambaran, alat, tampilan tiga dimensi dari produk lebih mudah dimengerti daripada sebuah penggambaran verbal, bahkan sebuah sketsa produk sekalipun.

Penggabungan

Prototype digunakan untuk memastikan bahwa komponen-komponen dan subsistem-subsistem dari produk bekerja bersamaan seperti yang diharapkan.

(16)

Milestone

Dalam tahap pengembangan produk berikutnya, prototype digunakan untuk mendemontrasikan bahwa produk telah mencapai tingkat kegunaan yang diinginkan. Prototype ini menyediakan hasil nyata, mempelihatkan kemajuan dan disiapkan untuk menjalankan jadwal.

Berdasarkan penggunaannya Prototype sering dibedakan menjadi dua tipe, yaitu prototype alpha dan prototype beta.

Prototype Alpha, khususnya digunakan untuk menilai apakah produk bekerja seperti yang diharapkan. Bagian-bagian dalam prototype alpha biasanya sama dalam hal material dan bentuk geometriknya dengan bagian-bagian yang akan digunakan pada versi produk hasil produksi. Namun biasanya bagian-bagian itu dibuat dengan pross produksi prototype.

Prototype Beta, khususnya digunakan untuk menilai reliabilitas dan untuk mengidentifikasi kesalahan dalam produk. Prototype ini seringkali diberikan pada pelanggan untuk pengujian pada lingkungan pengguna selanjutnya.

Bagian-bagian dalam prototype beta biasanya dibuat dengan proses produksi sebenarnya atau disuplai oleh suplier bagian tersebut, tapi produk biasaya telah dirakit dengan fasilitas perakitan akhir berikutnya.

(17)

Metode empat langkah untuk merencanakan sebuah prototype selama pengembangan produk antara lain:

Menetapkan Tujuan Prototype.

Menetapkan tingkat perkiraan konsep

Menggariskan rencana percobaan

Membuat jadwal untuk perolehan, pembuatan dan pengujian

2.1.4 Pengambilan Sampel

Dalam menentukan pengambilan sampel, maka perlu diperhatikan hubungan antara biaya, tenaga, dan waktu dengan tingkat presisi yang diinginkan. Semakin tinggi tingkat presisi yang diinginkan, maka biaya, tenaga, dan waktu yang dibutuhkan jauh lebih besar. Namun pada umumnya, semakin tinggi tingkat presisi maka tingkat keberhasilan dan ketepatan suatu penelitian menjadi jauh lebih baik.

Metode pengambilan sampel yang digunakan dalam penyusunan skripsi ini adalah pengambilan sampel probabilita. Dari beberapa cara dalam pengambilan sampel probabilita, yang digunakan adalah pengambilan sampel ganda Hal ini disebabkan karena jumlah populasi yang letaknya tersebar secara geografis, sehingga sulit untuk mendapatkan kerangka sampel dari semua unsur-unsur yang terdapat dalam populasi tersebut. Pengambilan sampel ganda adalah mengambil sampel dari suatu populasi, dimana sampel tersebut akan digunakan sebagai populasi untuk pengambilan sampel tahap berikutnya, dan seterusnya sehingga didapatkan jumlah

(18)

sampel yang semakin mengecil namun sesuai dengan yang dibutuhkan dalam penelitian tersebut.

Untuk lebih jelasnya, pengambilan sampel ganda akan ditunjukkan dalam diagram dibawah ini :

Populasi I Populasi

Sampel I (Sampel dari

Populasi I) Sampel

Populasi II (Populasi dalam

Sampel I) Sampel II

(Sampel dari Populasi II)

Populasi III (Populasi dalam

Sampel II) dst

Diagram 2.1 Diagram Pengambilan Sampel

(19)

2.1.5 Ukuran Sampel yang Dibutuhkan

Untuk menentukan berapa minimal sampel yang dibutuhkan jika ukuran populasi diketahui dapat menggunakan rumus Slovin dibawah ini :

) ( 1 N e2 n N

= +

Ket : n = Ukuran sampel N = Ukuran populasi

e = Kelonggaran ketelitian karena kesalahan pengambilan sampel yang dapat ditolerir, misalnya 5%

2.1.6 Pengujian Data

Pengujian data dilakukan sebelum alat ukur dibagikan kepada responden.

Tujuannya adalah menguji reliabilitas dan validitas data. Disarankan pengujian data dilakukan terhadap minimal 30 responden agar distribusi skor (nilai) akan lebih mendekati kurva normal.

2.1.6.1 Uji Reliabilitas Data

Uji reliabilitas data menguji tiga unsur, yaitu : 1. Kemantapan data

Apabila dalam mengukur sesuatu berulang kali, alat-alat ukur tersebut memberikan hasil yang sama dengan syarat kondisi pada saat pengukuran tidak berubah.

(20)

2. Ketepatan

Apakah ukuran yang diperoleh merupakan ukuran yang benar dari sesuatu yang ingin kita ukur.

3. Homogenitas

Apabila pertanyaan-pertanyaan yang merupakan unsur dasarnya mempunyai kaitan yang erat satu sama lain.

Metode-metode yang dapat digunakan untuk perhitungan indeks reliabilitas antara lain :

Metode ulang (Test dan retest)

Pertanyaan yang sama diberikan kepada responden yang sama dengan situasi yang (kira-kira) sama pada dua waktu yang berlainan.

Metode paralel

Variabel diukur dua kali pada waktu yang sama atau hampir sama pada responden yang sama pula.

Metode belah dua (Split-half method)

Digunakan apabila hendak menguji suatu alat ukur yang terdiri dari beberapa pertanyaan yang biasanya dalam bentuk skala, dimana pertanyaan-pertanyaan tersebut harus mempunyai kaitan erat satu sama lain. Jadi, metode belah dua mengukur homogenitas dan konsistensi internal pertanyaan-pertanyaannya.

(21)

2.1.6.2 Uji Validitas Data

Suatu instrumen dikatakan valid apabila instrumen tersebut dapat mengukur apa yang seharusnya diukur. Ada beberapa jenis validitas, diantaranya :

Content validity

Uji validitas dilakukan dengan meminta pendapat para ahli. Dikatakan valid apabila dua atau lebih ahli memberikan pendapat yang sama terhadap suatu pertanyaan. Biasanya untuk mengukur kebenaran suatu instrumen mengukur isi (content) dari suatu area.

Constuct validity

Pengukuran validitas suatu tes dengan mengacu pada teori. Umumnya untuk mengukur sesuatu yang tidak dapat diamati secara langsung.

Concurrent validity

Suatu tes dianggap valid apabila nilainya bila dibandingkan dengan tes lainnya yang mengukur hal yang sama dimana validitasnya telah teruji yang diberikan pada waktu yang bersamaan menghasilkan nilai tes yang sama.

Predictive validity

Kebenaran suatu instrumen dalam memprediksi kemampuan seseorang melakukan sesuatu di waktu yang akan datang.

(22)

2.2 Kerangka Pemikiran

Kerangka pemikiran adalah proses berpikir yang dilakukan penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. Kerangka pikir biasanya dimulai dari suatu variabel, yaitu suatu masalah atau hambatan dan diakhiri dengan result (hasil), yaitu solusi yang dipilih untuk menyelesaikan masalah tersebut.

Untuk lebih jelasnya, tahapan dalam kerangka pikiran ini antara lain :

Variabel.

Dalam hal ini yang menjadi variabel adalah suatu permasalahan, yaitu suatu kebutuhan cahaya penerangan pada saat mati lampu. Penggunaan lilin mempunyai resiko terjadi kebakaran. Kasus kebakaran akibat penggunaan lilin pada saat mati lampu di Indonesia sudah seringkali terjadi.

Ide.

Berawal dari variabel tersebut, maka timbul suatu ide untuk mengembangkan suatu alat yang dapat menjadi cahaya penerangan yang dapat menggantikan lilin pada saat mati lampu untuk meminimasi resiko kebakaran.

Resources search.

Berangkat dari ide tersebut, maka dicari suatu tekonologi yang sesuai dengan ide yang dikembangkan. Dalam pencarian teknologi yang dapat dipakai ditemukan beberapa alat yang dapat menjadi cahaya penerangan pada saat mati lampu tanpa adanya resiko kebakaran, yaitu senter dan emergency lamp.

(23)

Selection.

Dari hasil resources searching, ditemukan dua alat bantu penerangan yang telah ada sekarang, yaitu senter dan emergency lamp. Namun, pada kenyataannya, kedua alat tersebut belum dapat menggantikan peran lilin.

Result.

Hasil yang didapatkan adalah merancang dan mengembangkan produk alat penerangan baru yang dapat menggabungkan kelebihan-kelebihan dari lilin, senter, dan emergency lamp.

Gambar

Gambar 2.1  Proses Perancangan dan Pengembangan Produk
Diagram 2.1 Diagram Pengambilan Sampel

Referensi

Dokumen terkait

a. Untuk memodifikasi tingkah laku konsumen. Memberitahukan atau menginformasikan produk kepada konsumen. 1) Memberi tahu pasar mengenai suatu produk baru. 2) Mengusulkan kegunaan

Analisis pasar merupakan kegiatan penelitian dalam perusahaan untuk mengarahkan produk dan layanan dari produsen ke konsumen, termasuk desain produk baru, penentuan harga

Merupakan strategi bagi pertumbuhan perusahaan dengan mengidentifikasi dan mengembangkan segmen pasar yang baru untuk produk perusahaan yang sekarang sudah ada..

a) Menginformasikan pasar mengenai produk baru. b) Memperkenalkan cara pemakaian yang baru dari suatu produk. c) Menyampaikan perubahan harga kepada pasar. d) Menjelaskan cara

Dalam penulisan skripsi ini produk yang dikembangkan adalah produk berbasis teknologi (technology push) yaitu keberadaan teknologi mendorong untuk dapat melakukan pengembangan

Kedua, perusahaan yang masuk dalam sel III, V, atau VII terbaik dapat dikelola dengan strategi pertahankan dan pelihara; penetrasi pasar dan pengembangan produk merupakan

memisahkan antara ide yang baik dan ide yang kurang baik karena pengembangan produk baru membutuhkan biaya yang tidak sedikit,.. oleh karena itu perusahaan

Analisis yang lebih rinci diperlukan untuk penggantian aktiva yang akan menurunkan biaya, untuk penambahan lini ragam produk, dan terutama untuk investasi pada produkk atau