• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB IV HASIL PENELITIAN"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

52 BAB IV

HASIL PENELITIAN

A. Perencanaan Pembelajaran PKn dengan Model Cooperative Learning tipe Numbered Head Together pada peserta didik di kelas V SDN 22 Alai Kecamatan Sutera Kabupaten Pesisir Selatan

Sebelum menyampaikan materi pembelajaran, kompetensi yang harus ada pada pendidik adalah merencanakan pembelajaran, berupa persiapan tertulis maupun tidak tertulis. Hal ini bertujuan agar pembelajaran dapat dilaksanakan sesuai dengan yang diharapkan. Untuk itu pendidik harus mempunyai persiapan tertulis dan mampu membuatnya, supaya pembelajaran mencapai hasil yang optimal.

Perencanaan dan persiapan pembelajaran merupakan persyaratan utama dalam rangka menentukan keberhasilan kegitan belajar. Keberhasilan suatu pembelajaran diawali dengan perencanaan yang sangat matang. Bila perencanaan dilakukan dengan baik, maka setengah keberhasilan sudah tercapai. Setengahnya lagi terletak pada pelaksanaan.

Perencanaan merupakan proses penyusunan sesuatu yang akan dilaksanakan untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan, pelaksanaan perencanaan tersebut dapat disusun berdasarkan kebutuhan dan jangka waktu tertentu sesuai dengan keinginan pendidik yang membuat perencanaaan, namun harus dapat dilaksanakan dengan mudah dan tepat sasaran.

(2)

53

Perencanaan pembelajaran merupakan persiapan yang diperlukan untuk dapat mengajar dengan baik yaitu merumuskan standar kompetensi, kompetensi dasar, tujuan pembelajaran, menentukan indikator, memilih bahan pengajaran, menentukan sumber belajar, memilih dan mempersiapkan metode, menyediakan dan mempersiapkan media atau alat peraga serta membuat dan mempersiapkan evaluasi atau penilaian. Secara operasional dikenal dengan istilah Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) pada hakikatnya adalah perencanaan jangka pendek sebagai perkiraan yang akan dilakukan oleh pendidik dalam pembelajaran. Sebagai pendidik dalam melaksanakan proses belajar mengajar tentu harus membuat RPP. Pembuatan RPP dikembangkan berdasarkan Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) yang dijabarkan berdasarkan silabus serta sesuai dengan kompetensi yang dimiliki paserta didik.

Berdasarkan wawancara yang dilakukan dengan pendidik Kelas V SDN 22 Alai Ibu Yulnisatri tanggal 13 April 2017, di dalam ruang majelis guru jam 08.40 WIB mengatakan bahwa: “Sebelum mengajar di kelas, pada awal semester kami para pendidik di sini menyiapkan berbagai persiapan berupa Perencanaan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Silabus, Program Semester, dan Program Tahunan”.1

1Yulnisatri, Pendidik Kelas V SDN 22 Alai, di ruang majelis guru, wawancara langsung, 13 April 2017

(3)

54

Hal ini didukung juga oleh data berupa Rencana Pelaksanaan Pembelajaran PKn, yang diperoleh dari pendidik kelas V SDN 22 Alai Ibu Yulnisatri pada tanggal 08 maret 2017 (terlampir). Rencana ini tertulis berupa Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) PKn yang tersusun mulai dari kegiatan awal, kegiatan inti, dan penutup dengan model pembelajaran Cooperative Learning tipe Numbered Head Together.

Dalam wawancara tersebut, Ibu Yulnisatri juga menyatakan bahwa:

“Dalam pembuatan rencana pelaksanaan pembelajaran kami para pendidik di sini membuatnya secara pribadi atau individu. Dalam pembuatan ini Ibu tidak merasakan ada kesulitan, pembuatan RPP ini berdasarkan silabus yang telah ditetapkan pada waktu KKG yang berpedoman kepada Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar yang ditetapkan pemerintah pusat”.2

Ibu Yulnisatri juga mengatakan, “Saya membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dengan langkah-langkah pembelajarannya saya sesuaikan dengan model dan metode yang saya pilih sesuai dengan materi pelajaran yang akan ajarkan kepada peserta didik, pada pelajaran PKn KD 3.2 dan KD 3.3 saya menggunakan model pembelajaran Cooperative Learning tipe Numbered Head Together”.3

2Yulnisatri, Pendidik Kelas V SDN 22 Alai, di ruang majelis guru, wawancara langsung, 13 April 2017

3Yulnisatri, Pendidik Kelas V SDN 22 Alai, di ruang majelis guru, wawancara langsung, 13 April 2017

(4)

55

Dari hasil wawancara di atas dapat diketahui bahwa pendidik sudah memiliki perencanaan mengajar yang baik terdiri dari semua unsur seperti yang telah disebutkan di atas yaitu: program tahunan, program semester, silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Dengan adanya perencanaan pembelajaran tersebut maka pendidik akan lebih mudah untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dan mempunyai petunjuk dan pedoman untuk menyelenggarakan proses pembelajaran yang baik dan maksimal.

Berdasarkan pengamatan dapat dilihat bahwa RPP yang disusun oleh Ibu Yulnisatri berisikan nama sekolah, mata pelajaran, kelas/semester, alokasi waktu, standar kompetensi, kompetensi dasar, tujuan pembelajaran, materi pelajaran, metode pembelajaran, pendekatan pembelajaran, langkah-langkah pembelajaran yang meliputi kegiatan awal, kegiatan inti yang berisikan langkah-langkah model pembelajaran Cooperative Learning tipe Numbered Head Together, kegiatan akhir.

Dari hasil wawancara, pengamatan langsung, dan dokumentasi dapat disimpulkan bahwa pendidik kelas V SDN 22 Alai membuat perencanaan pembelajaran pada setiap mata pelajaran, termasuk pelajaran PKn. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran PKn yang dibuat pendidik sudah sesuai dengan langkah-langkah model pembelajaran Cooperative Learning tipe Numbered Head Together. Namun masih terdapat kekurangan yaitu pada kegiatan inti dalam RPP yang kurang sesuai antara kegiatan eksplorasi, elaborasi dan konfirmasi dengan langkah-langkah model Cooperative Learning tipe Numbered Head Together.

(5)

56

B. Pelaksanaan Pembelajaran PKn dengan Model Cooperative Learning tipe Numbered Head Together pada peserta didik di kelas V SDN 22 Alai Kecamatan Sutera Kabupaten Pesisir Selatan

Implementasi dari rencana yang sudah disusun dalam proses pembelajaran agar tujuan pembelajaran dapat tercapai secara maksimal adalah dengan melaksanakan perencanaan tersebut di dalam kelas, hal ini bertujuan agar proses pembelajaran lebih terarah. Model pembelajaran yang akan digunakan diharapkan dapat berjalan sesuai dengan perencanaan yang telah disiapkan sebelumnya.

Model pembelajaran yang akan digunakan disesuaikan terlebih dahulu dengan materi yang diajarkan, kemudian baru dilaksanakan model pembelajaran yang telah direncanakan sebelumnya. Berkenaan dengan materi pembelajaran yang digunakan dengan model pembelajaran Cooperative Learning tipe Numbered Head Together dalam pembelajaran PKn di kelas V, Ibu Yulnisatri

menyatakan bahwa: “Materi pelajaran yang diajarkan dengan model pembelajaran Cooperative Learning tipe Numbered Head Together ini adalah materi-materi

yang berkaitan dengan pemahaman peserta didik terhadap konsep-konsep yang terdapat dalam materi pelajaran PKn. Pada pelajaran PKn kelas V semester II ini banyak terdapat materi yang berupa konsep-konsep yang diperlukan pemahaman peserta didik. Oleh karena itu, sangat tepat kiranya jika menggunakan model pembelajaran Cooperative Learning tipe Numbered Head Together”.4

4Yulnisatri, Pendidik Kelas V SDN 22 Alai, di ruang majelis guru, wawancara langsung, 13 April 2017

(6)

57

Keberhasilan seorang guru dalam kegiatan mengajar bukan dilihat dari kemampuan pribadi ataupun kemampuan sosialnya ketika dikelas, akan tetapi lebih terfokus pada kemampuan mengelola pembelajaran atau kompetensi profesionalnya selama proses pembelajaran.

Untuk mewujudkan rencana yang telah disusun sebelumnya maka dilaksanakanlah proses pembelajaran dengan menggunakan model Cooperative Learning tipe Numbered Head Together ini dalam pembelajaran PKn di kelas V.

Metode pembelajaran yang digunakan untuk menunjang pelaksanaan model Cooperative Learning tipe Numbered Head Together adalah metode ceramah,

tanya jawab, dan diskusi kelompok.

Pelaksanaan model pembelajaran tersebut tidak akan terlaksana dengan baik apabila tidak didukung oleh sumber belajar yang digunakan saat melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan model Cooperative Learning tipe Numbered Head Together yaitu buku paket Pendidikan Kewarganegaraan untuk kelas V dan pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan untuk masing- masing kelompok dalam proses diskusi.

Untuk mengetahui bagaimana cara pendidik melaksanakan pembelajaran PKn melalui model Cooperative Learning tipe Numbered Head Together, maka dikumpulkan data melalui observasi/pengamatan langsung dan wawancara terhadap pendidik dan peserta didik dalam proses pembelajaran PKn menggunakan model Cooperative Learning tipe Numbered Head Together.

(7)

58

Dalam wawancara yang dilakukan dengan pendidik kelas V yaitu Ibu Yulnisatri mengungkapkan bahwa:

“Langkah-langkah kegiatan pembelajaran diawali dengan pendahuluan.

Bentuk kegiatan pendahuluan yang dilakukan saat melaksanakan model Cooperative Learning tipe Numbered Head Together adalah; Pertama, membuka pelajaran dengan mengucapkan salam. Kedua, mengkondisikan kelas. Ketiga, mengajak peserta didik berdo’a bersama. Keempat, melakukan apersepsi dengan mengaitkan materi yang telah dipelajari dengan materi yang akan dipelajari peserta didik. Kelima, menyampaikan tujuan pembelajaran.

Dalam kegiatan pendahuluan waktu yang digunakan adalah 10 menit.”5

Berkenaan dengan kegiatan inti yang dilaksanakan dalam proses pembelajaran PKn dengan model Cooperative Learning tipe Numbered Head Together, Ibu Yulnisatri menjelaskan bahwa:

“Bentuk kegiatan inti dalam pembelajaran PKn dilakukan sesuai dengan tahap-tahap pelaksanaan pembelajaran dengan model Cooperative Learning tipe Numbered Head Together. Pertama, saya membagi peserta didik kedalam beberapa kelompok dan setiap anggota kelompok mendapatkan nomor.

Kedua, saya mengajukan beberapa pertanyaan kepada setiap kelompok.

Ketiga, saya memberikan kesempatan kepada setiap kelompok mendiskusikan jawaban yang benar. Keempat, saya memanggil salah satu nomor untuk menyampaikan hasil diskusi dalam kelompoknya. Kelima, nomor yang sama dari kelompok yang lain menyampaikan hasil diskusi kelompoknya. Terakhir, saya membing peserta didik untuk menyimpulkan jawaban dari pertanyaan- pertanyaan yang telah dijawab masing-masing kelompok”. Kegiatan inti ini memakai waktu selama 50 menit.6

Kegiatan penutup yang dilakukan dengan model Cooperative Learning tipe Numbered Head Together berdasarkan penuturan Ibu Yulnisatri yaitu:

“Dalam kegiatan penutup sama halnya dengan kegiatan penutup dalam pembelajaran biasanya yakni, menyimpulkan pelajaran, memberikan

5Yulnisatri, Pendidik Kelas V SDN 22 Alai, di ruang majelis guru, wawancara langsung, 13 April 2017

6Yulnisatri, Pendidik Kelas V SDN 22 Alai, di ruang majelis guru, wawancara langsung, 13 April 2017

(8)

59

penguatan mengenai materi yang telah didiskusikan pada kegiatan inti, kemudian memberikan tindak lanjut, berdo’a dan salam penutup pelajaran”7

Berdasarkan observasi yang dilakukan pada hari rabu tanggal 8 maret 2017, pada pelaksanaan pembelajaran PKn dengan model Cooperative Learning tipe Numbered Head Together di kelas V SDN 22 dapat dideskripsikan seperti berikut:

a. Kegiatan Awal

1) Mengkondisikan kelas

Mengawali proses pembelajaran PKn dengan model Cooperative Learning tipe Numbered Head Together sama seperti pembelajaran

biasanya yang dilakukan di dalam kelas, terlebih dahulu pendidik mengucapkan salam kemudian meminta peserta didik merapikan tempat duduk jika masih belum rapi.

2) Berdo’a

Kegiatan berdo’a bersama dibimbing oleh pendidik dan dipimpin oleh ketua kelas.

3) Mengabsensi peserta didik

Pada observasi pertama peserta didik kelas V hadir sebanyak 25 orang peserta didik, Satu orang peserta didik laki-laki tidak hadir hari itu.

7 Yulnisatri, Pendidik Kelas V SDN 22 Alai, di ruang majelis guru, wawancara langsung, 13 April 2017

(9)

60 4) Melakukan apersepsi

Setelah mengecek kehadiran peserta didik, selanjutnya pendidik melakukan apersepsi dengan bertanya kepada peserta didik mengenai contoh organisasi yang ada di sekolah dan yang ada di masyarakat.

5) Menyampaikan tujuan pembelajaran

Pendidik menjelaskan tujuan pembelajaran yang akan dipelajari adalah mengetahui contoh-contoh organisasi yang ada di sekolah dan di masyarakat.

6) Memberikan motivasi kepada peserta didik

Pendidik memberikan semangat kepada peserta didik dengan memperlihatkan nomor-nomor yang telah dibuat pendidik dengan kertas bewarna untuk masing-masing peserta didik.

b. Kegiatan Inti 1) Eksplorasi

Sebelum memulai proses pembelajaran, terlebih dahulu pendidik menjelaskan mengenai langkah-langkah pembelajaran menggunakan model Cooperative Learning tipe Numbered Head Together kepada peserta didik. Pada tahap eksplorasi pendidik membagi peserta didik menjadi 5 kelompok, masing-masing kelompok terdapat 5 orang peserta didik.

(10)

61

Berdasarkan observasi yang dilakukan terlihat pendidik menyiapkan nomor-nomor yang berbentuk lingkaran dari kertas bewarna seperti pembuatan lot peserta lomba yang diberi sekelilingnya kertas karton bewarna. Kemudian pendidik memberikan nomor kepada setiap peserta didik dalam kelompok. Pendidik membagikan kartu nomor-nomor yang dibuat dari kertas berwarna tersebut. Peserta didik memasang nomor tersebut pada kepalanya masing-masing. Kemudian pendidik membagikan buku paket PKn kelas V untuk masing-masing peserta didik.Pendidik menuliskan materi pokok di papan tulis yaitu tentang contoh organisasi di lingkungan sekolah dan masyarakat. Kemudian pendidik memberikan beberapa pertanyaan yang ada dalam buku paket PKn kepada masing- masing kelompok.

2) Elaborasi

Pendidik menyuruh peserta didik berdiskusi dalam kelompok masing-masing untuk mencari jawaban dari pertanyaan yang ada dalam buku paket PKn. Semua peserta didik berdiskusi dalam kelompok masing- masing. Pendidik memperhatikan dan membimbing peserta didik dalam berdiskusi. Selama proses diskusi berlangsung pendidik mengisi lembar observasi penilaian proses yang telah dibuat oleh pendidik. Pendidik menyuruh peserta didik menuliskan jawaban yang diperoleh pada kelompoknya dalam buku latihan masing-masing peserta didik.

(11)

62 3) Konfirmasi

Berdasarkan observasi yang telah dilakukan, terlihat pada tahap konfirmasi ini pendidik memanggil satu nomor dalam satu kelompok untuk menyampaikan jawaban yang telah didiskusikan dalam kelompok tadi. Peserta didik yang nomornya terpanggil berdiri dan menyampaikan jawaban yang telah ditulisnya dalam buku latihan. Kemudian pendidik memanggil nomor yang lain pada kelompok yang lain. Begitu seterusnya.

Pada saat peserta didik menyampaikan hasil diskusinya pendidik melakukan penilaian individu yaitu penilaian hasil berupa sejauh mana kebenaran dan kelancaran peserta didik dalam menyampaikan hasil diskusi kelompoknya.

c. Kegiatan Penutup

Pada kegiatan penutup setelah semua peserta didik mendapat giliran menyampaikan hasil diskusinya, kemudian pendidik bersama peserta didik menyimpulkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang telah didiskusikan dalam masing-masing kelompok. Kemudian pendidik memberikan penguatan terhadap jawaban-jawaban yang disampaikan peserta didik. Selanjutnya sebagai tindak lanjut, pendidik memberikan tugas kepada peserta didik untuk dikerjakan di rumah, berdo’a bersama mengakhiri pelajaran dan pendidik mengucapkan salam penutup pelajaran.

(12)

63

Berdasarkan observasi selanjutnya yang dilakukan pada hari rabu tanggal 22 Maret 2017 Pembelajaran PKn mulai pada pukul 10.20-11.30 WIB. Dalam pelaksanaan pembelajaran, pendidik masih melaksanakan pembelajaran materi PKn dengan menggunakan model Cooperative Learning tipe Numbered Head Together yang tergambar seperti berikut ini:

a. Kegiatan Awal

1) Mengkondisikan kelas

Mengawali proses pembelajaran PKn dengan model Cooperative Learning tipe Numbered Head Together sama seperti

pembelajaran biasanya yang dilakukan di dalam kelas, terlebih dahulu pendidik mengucapkan salam kemudian meminta peserta didik merapikan tempat duduk jika masih belum rapi.

2) Berdo’a

Pendidik kemudian mengajak peserta didik untuk berdo’a agar pembelajaran yang disampaikan pendidik dapat diterima dengan baik.

Kegiatan berdo’a dipimpin oleh ketua kelas.

3) Mengabsensi peserta didik

Kemudian dilanjutkan dengan mengecek kehadiran peserta didik. Pada observasi kedua ini, peserta didik kelas V hadir semuanya yaitu sebanyak 26 orang peserta didik terdiri dari 15 orang peserta didik laki-laki dan 11 orang peserta didik perempuan.

(13)

64 4) Melakukan apersepsi

Setelah mengecek kehadiran peserta didik, selanjutnyapendidik melakukan apersepsi dengan bertanya kepada peserta didik ”anak- anak, kalian mau ikut serta dalam organisasi di sekolah? “sebelum kita memasuki/mengikuti sebuah organisasi kita harus tahu alasan kenapa kita memilih organisasi tersebut.”

5) Menyampaikan tujuan pembelajaran

Pendidik menjelaskan tujuan pembelajaran yang akan dipelajari adalah menampilkan peran serta dalam memilih organisasi di lingkungan sekolah.

6) Memberikan motivasi kepada peserta didik

Pendidik memberikan motivasi kepada peserta didik dengan mengajak peserta didik bernyanyi bersama lagu disini senang disana senang.

b. Kegiatan Inti 1) Eksplorasi

Sebelum memulai proses pembelajaran, terlebih dahulu pendidik menjelaskan kembali mengenai langkah-langkah pembelajaran menggunakan model Cooperatif Learning tipe Numbered Head Together kepada peserta didik agar nanti peserta didik bisa mengikuti

(14)

65

pembelajaran sesuai dengan yang diharapkan dan direncanakan oleh pendidik. Pada tahap eksplorasi pendidik membagi peserta didik menjadi 6 kelompok, masing-masing kelompok terdapat 4 dan 5 orang peserta didik. Pendidik meminta peserta didik duduk dalam kelompok masing-masing.

Berdasarkan observasi yang dilakukan terlihat pendidik masih menyediakan kartu-kartu nomor. Kemudian setiap peserta didik dalam kelompok diberikan nomor. Pendidik membagikan nomor-nomor yang dibuat dari kertas berwarna tersebut. Peserta didik memasang nomor tersebut di bagian kepalanya masing-masing. Kemudian pendidik membagikan buku paket PKn kelas V untuk masing-masing peserta didik. Buku paket yang dipakai adalah masih buku kewarganegaraan untuk kelas V penerbit Erlangga.

2) Elaborasi

Pendidik menyuruh peserta didik berdiskusi dalam kelompok masing-masing untuk mencari jawaban dari pertanyaan yang ada dalam buku paket PKn. Semua peserta didik berdiskusi dalam kelompok masing-masing. Pendidik memperhatikan dan membimbing peserta didik dalam berdiskusi. Selama proses diskusi berlangsung pendidik mengisi lembar observasi penilaian proses yang telah dibuat oleh pendidik. Pendidik menyuruh peserta didik menuliskan jawaban yang diperoleh pada buku latihan masing-masing peserta didik.

(15)

66 3) Konfirmasi

Berdasarkan observasi yang telah dilakukan, terlihat pada tahap konfirmasi ini pendidik memanggil satu nomor dalam satu kelompok untuk menyampaikan jawaban yang telah didiskusikan dalam kelompok tadi. Peserta didik yang nomornya terpanggil berdiri dan menyampaikan jawaban yang telah ditulisnya dalam buku latihan.

Kemudian pendidik memanggil nomor yang lain pada kelompok yang lain, begitu seterusnya. Pada saat peserta didik menyampaikan hasil diskusinya pendidik melakukan penilaian individu yaitu penilaian hasil berupa sejauh mana kebenaran dan kelancaran peserta didik dalam menyampaikan hasil diskusi kelompoknya.

c. Kegiatan Penutup

Pada kegiatan penutup setelah semua peserta didik mendapat giliran menyampaikan hasil diskusinya, kemudian pendidik bersama peserta didik menyimpulkan pelajaran mengenai materi yang telah dipelajari melalui jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang telah didiskusikan dalam masing-masing kelompok. Kemudian pendidik memberikan penguatan terhadap jawaban-jawaban yang disampaikan peserta didik. Selanjutnya pendidik memberikan tugas kepada peserta didik untuk dikerjakan di rumah, berdo’a bersama mengakhiri pelajaran dan pendidik mengucapkan salam menutup pelajaran.

(16)

67

Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan, Ibu Yulnisatri menyatakan,“Saya merasa senang dan terbantu dengan kegiatan pembelajaran melalui model Cooperative Learning tipe Numbered Head Together ini, karena saya tidak kesulitan dalam mengelola kelas yang

biasanya sering ribut jika saya sedang menerangkan pelajaran dan yang paling penting anak-anak terlihat sangat senang belajar dengan model ini karena menggunakan nomor-nomor yang dibuat dengan kertas bewarna”

Hal demikian juga dikuatkan oleh salah seorang peserta didik yaitu Pelangi Husnatul Aini menyatakan bahwa,“Saya senang sekali belajar dengan cara yang dilakukan dalam pelajaran PKn, memakai nomor-nomor yang dipasang di kepala, saya menjadi semangat dalam menjawab pertanyaan dan menulisnya pada buku latihan, karena saya ingin menyampaikan jawaban saya dengan baik di akhir diskusi”.8

Hal yang demikian juga dibenarkan oleh seorang peserta didik yang bernama Showatul Islha yang menyatakan bahwa,”Saya juga semangat sekali belajar dengan cara yang tadi, tapi saya juga takut kalau pas nomor saya terpanggil saya belum siap untuk menyampaikan, tapi ternyata saat giliran nomor saya yang dipanggil, Alhamdulillah saya bisa”.9

8Pelangi Husnatul Aini, Peserta didik Kelas V SDN 22 Alai, di Ruang kelas V, wawancara langsung, 22 maret 2017

9Showatul Islha, Peserta didik Kelas V SDN 22 Alai, di Ruang kelas V, wawancara langsung, 22 maret 2017

(17)

68

Hal yang sama juga disampaikan oleh peserta didik yang lain bernama Tania Larosha Putri bahwa,”Kami sangat senang belajar dengan cara yang tadi, walaupun saya deg-degan sekali belajar karena saya takut kalau nomor saya yang dipanggil Ibu duluan sementara saya belum mengetahui jawabannya untungnya saja tidak nomor saya yang dipanggil duluan”.10

Berdasarkan hasil wawancara tersebut dapat disimpulkan bahwa dalam pembelajaran PKn peserta didik mudah memahami pelajaran dan merasa senang selama proses pembelajaran PKn yang menggunakan model pembelajaran Cooperative Learning tipe Numbered Head Together dilakukan, karena pembelajaran dilaksanakan dengan kegiatan diskusi dan menggunakan kartu-kartu nomor dari kertas bewarna yang dipasangkan pada kepala masing-masing peserta didik.

Dari hasil wawancara dan pengamatan yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan pembelajaran PKn dengan model Cooperative Learning tipe Numbered Head Together pada peserta didik

kelas V SDN 22 Alai Kecamatan Sutera Kabupaten Pesisir Selatan sudah terlaksana dengan baik, namun masih terdapat kekurangan yaitu dalam hal sumber belajar yang masih hanya menggunakan buku paket saja, tidak terdapat buku sumber yang lain ataupun Lembar Kerja Peserta didik.

10Tania Larosha Putri, Peserta didik Kelas V SDN 22 Alai, di Ruang kelas V, wawancara langsung, 22 maret 2017

(18)

69

C. Evaluasi Pembelajaran PKn dengan Model Cooperative Learning tipe Numbered Head Togetherpada peserta didik di kelas V SDN 22 Alai

Kecamatan Sutera Kabupaten Pesisir Selatan

Evaluasi adalah suatu alat untuk mengukur kemampuan peserta didik dalam menguasai materi yang telah diberikan. Dengan diadakannya evaluasi ini pendidik dapat mengetahui sampai di mana pemahaman peserta didik dalam memahami materi. Pada dasarnya penilaian bukan hanya sekedar menemukan angka keberhasilan peserta didik saja, tapi juga mengukur kualitas pembelajaran yang dilaksanakan.

Evaluasi dalam KTSP diarahkan bukan hanya sekedar untuk mengukur keberhasilan setiap peserta didik dalam pencapaian hasil belajar, tetapi juga mengumpulkan informasi tentang proses pembelajaran setiap peserta didik, oleh sebab itu dalam perencanaan pembelajaran setiap pendidik tidak hanya menentukan tes sebagai alat evaluasi akan tetapi juga menggunakan nontes dalam bentuk tugas, wawancara, dan lain sebagainya. Penilaian merupakan tugas pendidik yang paling sulit. Meskipun demikian harus dilakukan dengan adil.

Berdasarkan observasi yang dilakukan, dalam melakukan evaluasi pada pembelajaran PKn melalui model Cooperative Learning tipe Numbered Head Together pendidik menggunakan dua penilaian yaitu penilaian proses dan penilaian hasil. Penilaian proses dilakukan saat peserta didik berdiskusi dalam kelompok untuk mencari jawaban dari pertanyaan yang diberikan oleh pendidik.

(19)

70

Penilaian proses dilakukan dengan mengisi lembar penilaian sikap peserta didik yang terdiri dari aspek kedisiplinan, minat, kerjasama, keaktifan dan tanggung jawab. Sedangkan penilaian hasil dilkakukan berdasarkan hasil kerja yang dilakukan peserta didik dalam memaparkan hasil diskusi kelompok.

Berdasarkan hasil wawancara dengan pendidik mengatakan bahwa,

“Dalam melakukan evaluasi pada pembelajaran menggunanakan model ini, saya menilai secara individu dan kelompok. Penilaian individu berupa penilaian secara tertulis yaitu hasil jawaban dari pertanyaan yang diberikan untuk masing-masing kelompok dan penilaian lisan pada saat peserta didik menyampaikan hasil diskusi kelompoknya. Penilaian kelompok dilakukan pada saat peserta didik melakukan diskusi dalam kelompok”.11

Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan, Ibu Yulnisatri menyatakan bahwa: ”Dalam melakukan evaluasi pada pembelajaran PKn menggunakan model ini mencakup penilaian aspek sikap, pengetahuan dan psikomotor. Aspek sikap peserta didik saya nilai menggunakan lembar observasi, selanjutnya aspek pengetahuan saya nilai dari kebenaran jawaban dari diskusi yang disampaikan peserta didik dan aspek psikomotor dari penampilan peserta didik menyampaikan hasil diskusinya”12

11Yulnisatri, Pendidik Kelas V SDN 22 Alai, di ruang majelis guru, wawancara langsung, 13 April 2017

12Yulnisatri, Pendidik Kelas V SDN 22 Alai, di ruang majelis guru, wawancara langsung, 13 April 2017

(20)

71

Adapun lembar observasi penilaian sikap yang dilakukan pendidik pada penilaian proses adalah seperti dibawah ini.

Lembar Observasi

No Nama Siswa

Apek Yang Dinilai

Displin dan kerjasama Keaktifan dan tanggungjawab

K C B SB K C B SB

1 2 3 4 1 2 3 4

1 Randa 2 Andri 3 Trincya 4 Bela 5 Pelangi 6 Daya 7 Didwandi 8 Showatul 9 Fajri 10 Agib 11 Oktra 12 Dea 13 Ilham 15 Yazid 16 Rara 17 David 18 Tania 19 Rika 20 M. Ilham 21 Agung 22 Ayan 23 Anggun 24 Ryan 25 Candira 26 Meizi

Keterangan:

BT : Belum Terlihat MT : Mulai Terlihat MB : Mulai Membudaya SM : Sudah Membudaya

Berilah dengan tanda (√) pada kolom yang sesuai

(21)

72

Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa dalam evaluasi pelaksanaan pembelajaran PKn dengan model Cooperative Learning tipe Numbered Head Together dilakukan pendidik tidak

hanya menggunakan penilaian tertulis saja, akan tetapi juga ada penilaian proses dengan menjadikan setiap kegiatan yang terjadi dalam proses pembelajaran sesuai langkah-langkah pembelajaran dengan model Cooperative Learning tipe Numbered Head Together sebagai acuan bagi pendidik dalam memberikan

penilaian terhadap peserta didik.

Selanjutnya berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang dilakukan terlihat bahwa pendidik dalam melakukan evaluasi terhadap peserta didik pada pembelajaran PKn dengan model Cooperative Learning tipe Numbered Head Together telah terlaksana dengan baik, karena penilaian yang dilakukan pendidik

terhadap peserta didik sudah sesuai dengan penilaian dalam kurikulum yang berlakuk yakni KTSP yang mencakup tiga aspek penilaian yaitu aspek sikap, aspek pengetahuan dan aspek psikomotor. Kemudian penilaian yang dilakukan pendidik juga sudah sesuai dengan penilaian dalam pembelajaran model Cooperative Learning tipe Numbered Head Together yaitu penilaian individu dan penilaian kelompok.

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil observasi, diketahui bahwa guru ISTD dalam membuka pelajaran sudah sesuai dengan apa yang seharusnya dilakukan oleh pendidik pada umumnya, yakni memberi salam

Dari hasil wawancara peneliti dengan kepala sekolah tentang guru pendamping dijelaskan bahwa memang selama ini guru pendamping yang mengajar disekolah memiliki

Berdasarkan hasil wawancara dengan guru mata pelajaran Quran Hadis, bahwa metode yang digunakan dalam mengajar adalah kombinasi (gabungan) dari beberapa metode diantaranya

Berdasarkan hasil wawancara yang penulis lakukan, dapat diketahui bahwa membuat silabus dan RPP sebelum mengajar itu sangatlah penting dan berguna sekali bagi

Berdasarkan observasi yang dilakukan oleh penulis dan hasil wawancara dengan kepala sekolah sekaligus dengan guru-guru yang mengajar di TK Tarbiyatul Athfal,

Dari hasil wawancara dengan pembina dan koordinator pembina dapat diketahui bahwa di SMKN 1 Pogalan ini dalam melakukan teknik evaluasi dalam menanamkan sikap disiplin dan

Berdasarkan hasil wawancara dengan ustadz Udin diketahui bahwa pembelajaran Alquran menggunakan metode Ummi pada siswa ABK di SDIT Firdaus Banjarmasin berlangsung

Dari hasil wawancara di atas bahwa rangkaian acara yang ada dalam program muhadharah mendapatkan respon yang baik dan positif dari penghuni asrama sebagaimana pemaparan dari salah satu