1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Pariwisata adalah salah satu sektor ekonomi yang penting di Indonesia.
Pada tahun 2018, devisa pariwisata telah mencapai US$ 17 miliar dan menjadi penyumbang devisa terbesar Indonesia, setelah mengalahkan industri kelapa sawit (CPO). (“Presiden”, 2019). Padahal pada tahun 2015, sektor pariwisata masih berada di peringkat keempat sebagai sektor penyumbang devisa terbesar. (“Ranking”, 2018). Hal ini menunjukkan bahwa pertumbuhan sektor pariwisata ini terus meningkat dari tahun ketahun.
Bahkan menurut Menteri Pariwisata Arief Yahya, pemerintah telah menyiapkan strategi untuk mencapai target pertumbuhan devisa pariwisata sebesar US$ 20 miliar dan kunjungan 20 juta wisatawan mancanegara (wisman) pada tahun 2019. (“Gaet”, 2019).
Meskipun perkembangan pada sektor pariwisata ini terus naik setiap tahun, nyatanya perkembangan destinasi wisata ini cenderung hanya terfokus pada kota-kota besar di Indonesia seperti kota Denpasar, Surabaya, Batam, Semarang, Bandung, dan kota besar lainnya. Berdasarkan Indeks Pariwisata Indonesia (IPI) tahun 2016, 10 peringkat tertinggi indeks pariwisata di Indonesia didominasi oleh kota dan kabupaten dari Pulau Bali dan Jawa.
Kedua pulau ini masih menjadi primadona dan surga bagi wisatawan di Indonesia, padahal banyak pulau dan kota lainnya yang juga memiliki potensi wisata yang menarik. (“Ini”, 2016).
Sumatra adalah salah satunya, sebagai pulau terbesar yang terletak
seluruhnya di Indonesia (setelah Borneo, yang terbagi antara Indonesia,
Malaysia, dan Brunei). Luasnya pulau ini menyimpan potensi wisata yang
sangat beragam, baik potensi wisata alam, budaya, kuliner, dan lain
sebagainya. Salah satu potensi wisata alam di Sumatra adalah Taman
Nasional Gunung Leuser. Taman Nasional ini menyimpan keindahan
pemandangan alam dan keanekaragaman hayati atau biodiversitas yang
sangat beragam. Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) adalah kawasan
pelestarian alam yang secara administrasi terletak di Provinsi Aceh dan Provinsi Sumatra Utara.
Sayangnya, kurangnya informasi membuat wisatawan, terutama wisatawan domestik yang jarang mengetahui ataupun mengunjungi taman nasional ini. Berdasarkan data dari Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL), jumlah wisatawan yang berkunjung ke Taman Nasional Gunung Leuser di tahun 2017, sebanyak 13.366 orang wisatawan mancanegara dan 6.777 orang wisatawan domestik. (“13.366”, 2019). Jumlah kunjungan wisatawan ini jauh lebih sedikit, jika dibandingkan dengan jumlah kunjungan wisatawan di tahun yang sama dari berbagai taman nasional lainnya yang lebih populer di Indonesia. Sebagai contoh Taman Nasional Bromo Tengger Semeru di Jawa (628.895 wisatawan domestik dan 23.568 wisatawan mancanegara), Komodo di Nusa Tenggara Timur (125.069 orang), dan Way Kambas di Sumatra (77.942 orang). (“Pariwisata”, 2018).
(“Pendapatan”, 2019). (“Peningkatan”, 2019).
Taman Nasional Gunung Leuser telah mendapatkan pengakuan internasional seperti Situs Warisan Dunia (World Heritage Sites), Cagar Biosfer (Biosphere Reserves), dan ASEAN Heritage Parks. (“Asia”, 2018).
(“ASEAN Heritage”, 2017). (“World Heritage”, 2019). Taman Nasional Gunung Leuser termasuk dalam Tropical Rainforest Heritage of Sumatra (TRHS) atau Situs Warisan Dunia Hutan Hujan Tropis Sumatra oleh Komite Warisan Dunia pada tahun 2004, bersama dengan dua taman nasional lainnya yakni Kerinci Seblat dan Bukit Barisan Selatan. Situs ini mencakup luas area 2.595.124 hektare dan merupakan salah satu kawasan konservasi paling luas di Asia Tenggara. (“Tropical”, n.d.). Dengan adanya berbagai status atau pengakuan dari berbagai lembaga internasional, Taman Nasional Gunung Leuser terbukti kaya akan potensi alam dan budaya. Potensi ini dapat terus dikembangkan, salah satunya sebagai kawasan atau objek wisata alam yang berbasis wisata edukasi bagi wisatawan domestik maupun mancanegara yang berkunjung.
Berdasarkan masalah yang ada, dibuatlah perancangan buku wisata
edukasi Taman Nasional Gunung Leuser dengan media fotografi. Media
fotografi dipilih karena dapat memberikan persepsi serta interpretasi yang personal, visualisasi yang jelas, dapat mudah dicetak, dan dibukukan untuk menceritakan informasi yang mendetail mengenai keindahan alam, objek wisata, potensi wisata edukasi, dan keanekaragaman hayati yang ada. Media ini bertujuan untuk memperoleh perhatian (awareness) dari masyarakat dan wisatawan mengenai Taman Nasional Gunung Leuser, agar tahu dan tertarik untuk berkunjung. Dengan semakin banyaknya wisatawan yang berkunjung, objek wisata dan potensi wisata edukasi yang ada dapat terus berkembang dan berguna bagi banyak pihak seperti masyarakat sekitar dan pemerintah daerah.
1.2 Rumusan Masalah
Bagaimana merancang buku wisata edukasi Taman Nasional Gunung Leuser dengan media fotografi, yang mampu menunjukkan keindahan alam dan potensi wisata edukasi yang menarik minat wisatawan untuk berkunjung?
1.3 Tujuan Perancangan
Merancang buku wisata edukasi Taman Nasional Gunung Leuser dengan media fotografi, yang mampu menunjukkan keindahan alam dan potensi wisata edukasi yang menarik minat wisatawan untuk berkunjung.
1.4 Batasan Masalah
1. Subjek dari perancangan adalah Taman Nasional Gunung Leuser.
2. Objek dari perancangan adalah perancangan buku wisata edukasi Taman Nasional Gunung Leuser dengan media fotografi.
3. Lokasi pemotretan dilakukan di Bukit Lawang dan Tangkahan.
4. Waktu perancangan dilakukan pada bulan Februari-Juni 2019.
5. Target perancangan:
Wisatawan domestik dan wisatawan mancanegara, usia 18-40 tahun.
Kalangan sosial ekonomi menengah ke atas.
Geografis: Kota-kota besar di Indonesia.
Psikografis: Suka belajar hal baru, mencintai alam.
Perilaku: Suka bepergian atau berwisata (travelling).
1.5 Manfaat Perancangan
1.5.1 Bagi Sasaran Perancangan dan Masyarakat Umum
Melalui buku wisata edukasi, masyarakat dan wisatawan dapat memperoleh informasi atau wawasan mengenai keindahan alam dan potensi wisata edukasi yang ada di Taman Nasional Gunung Leuser.
1.5.2 Bagi Subjek Perancangan
Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL) dan berbagai lembaga lainnya dapat menggunakan buku wisata edukasi sebagai media promosi untuk meningkatkan perhatian (awareness) masyarakat dan wisatawan terhadap Taman Nasional Gunung Leuser.
1.5.3 Bagi Masyarakat Lokal
Diharapkan dengan adanya buku wisata edukasi, wisatawan baik wisatawan domestik dan wisatawan mancanegara dapat tertarik untuk berkunjung ke Taman Nasional Gunung Leuser, sehingga masyarakat lokal dapat memperoleh dampak dari meningkatnya kunjungan wisatawan terhadap industri pariwisata lokal seperti penginapan, tempat makan, dan lain sebagainya.
1.5.4 Bagi Pemerintah Provinsi
Buku wisata edukasi dapat menjadi media promosi objek wisata alam daerah, serta dengan adanya kunjungan wisatawan mampu meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari Provinsi Sumatra Utara.
1.6 Definisi Operasional 1.6.1 Wisata Edukasi
Wisata edukasi adalah suatu program dimana peserta yang berpergian ke suatu lokasi sebagai satu grup dengan tujuan utama untuk memperoleh pembelajaran berupa pengalaman yang secara langsung berhubungan dengan lokasi tersebut. (Bodger, 1998).
1.6.2 Taman Nasional
Taman nasional adalah daerah alam atau daerah di sekitarnya yang luas,
yang difungsikan untuk melindungi proses ekologi berskala besar, beserta
dengan karakteristik spesies dan ekosistem, termasuk juga menyediakan
lembaga untuk kebutuhan lingkungan dan kebudayaan seperti spiritual, ilmiah, pendidikan, rekreasi, dan potensi kunjungan. (“Guidelines”, 2008).
1.6.3 Fotografi Wisata
Fotografi wisata adalah foto yang mengekspresikan segi karakteristik atau budaya pada suatu tempat sesuai dengan kondisi aslinya. (“PSA”, n.d.).
1.7 Metodologi Perancangan 1.7.1 Data yang Dibutuhkan
Dalam sebuah proses perancangan dibutuhkan data-data yang akurat.
Menurut sumbernya, data dibagi menjadi data primer dan sekunder.
1. Data Primer
Data primer adalah data-data yang didapat dan dikumpulkan secara langsung dari survei lapangan terhadap subjek perancangan mengenai permasalahan dan pihak-pihak terkait. Sumber atau pihak baik perorangan, kelompok, maupun organisasi yang terkait seperti Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL), Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Bukit Lawang, Lembaga Pariwisata Tangkahan (LPT), Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sumatra Utara, dan sebagainya. Data primer yang diambil adalah dokumentasi mengenai keindahan alam dan potensi wisata edukasi yang menarik minat wisatawan untuk berkunjung.
Observasi dan wawancara kepada masyarakat lokal, wisatawan, dan lembaga juga dilakukan untuk memperoleh informasi yang lebih akurat mengenai Taman Nasional Gunung Leuser.
2. Data Sekunder
Data sekunder adalah data-data yang diperoleh dari membaca
literatur, buku, serta media informasi lainnya yang dianggap menunjang
dan melengkapi perancangan buku wisata edukasi Taman Nasional
Gunung Leuser dengan media fotografi. Data sekunder yang diambil
adalah studi pustaka baik melalui media cetak dan internet mengenai
transportasi, akomodasi, objek fotografi, dan potensi wisata edukasi apa
saja yang dapat ditemukan di Bukit Lawang dan Tangkahan, Taman
Nasional Gunung Leuser.
1.7.2 Metodologi Pengumpulan Data
Merupakan cara-cara yang dapat ditempuh dalam proses pengumpulan data untuk menunjang keakuratan perancangan buku wisata edukasi Taman Nasional Gunung Leuser dengan media fotografi.
1. Dokumentasi
Dokumentasi berupa hasil karya fotografi yang di dalamnya memuat informasi mengenai subjek yang diangkat sebagai suatu bagian dari proses perancangan. Dokumentasi diambil di Bukit Lawang dan Tangkahan, Taman Nasional Gunung Leuser.
2. Observasi
Observasi atau pengamatan dilakukan secara langsung di Bukit Lawang dan Tangkahan, Taman Nasional Gunung Leuser.
3. Wawancara
Wawancara dilakukan secara lisan kepada masyarakat lokal dan wisatawan baik wisatawan domestik dan wisatawan mancanegara yang ada di Bukit Lawang dan Tangkahan, Taman Nasional Gunung Leuser.
Berbagai lembaga lainnya seperti Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sumatra Utara, Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL), Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Bukit Lawang, dan Lembaga Pariwisata Tangkahan (LPT) juga dapat diwawancara.
4. Studi Pustaka
Studi pustaka berupa mencari informasi atau data dengan media cetak seperti buku, jurnal, dan internet yang berhubungan dengan wisata edukasi, fotografi, dan Taman Nasional Gunung Leuser. Informasi lain seperti mengenai pariwisata, pemerintah daerah, dan tanggapan (review) dari wisatawan yang pernah berkunjung juga dapat dikumpulkan.
1.7.3 Alat Pengumpulan Data
Instrumen yang digunakan dalam proses pengumpulan dan analisa data adalah:
1. Kamera DSLR dan peralatan fotografi seperti lensa dan flash;
2. Laptop atau komputer; dan
3. Buku dan alat tulis.
1.8 Metode Analisa
Metode analisa yang digunakan adalah metode deskriptif. Menurut Nazir (2005), metode desktiptif adalah suatu metode dalam meneliti status kelompok manusia, suatu objek, suatu set kondisi, suatu sistem pemikiran, ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sekarang. Metode analisa kualitatif yang digunakan adalah 5W1H. Metode ini dipakai untuk menjabarkan Taman Nasional Gunung Leuser. Metode perancangan ini digunakan untuk menemukan data-data serta menganalisa data tersebut untuk keperluan perancangan buku wisata edukasi Taman Nasional Gunung Leuser dengan media fotografi.
1.9 Konsep Perancangan
Perancangan mengacu dari berbagai sumber data yang diperoleh baik
secara langsung berdasarkan hasil dokumentasi, observasi, dan wawancara,
maupun tidak langsung berdasarkan hasil dari studi pustaka baik melalui
media cetak dan internet. Perancangan dibuat dalam media buku wisata
edukasi Taman Nasional Gunung Leuser dengan media fotografi. Buku
wisata edukasi ini menceritakan informasi mengenai keindahan alam, seperti
dari segi objek wisata, potensi wisata edukasi, dan keanekaragaman hayati
yang ada di Bukit Lawang dan Tangkahan, Taman Nasional Gunung Leuser,
sehingga wisatawan dapat tahu dan tertarik untuk berkunjung.
1.10 Skematika Perancangan
Program Perancangan Latar Belakang Masalah
Rumusan Masalah
Tujuan dan Manfaat Perancangan
Identifikasi Data
Data Primer Data Sekunder
Analisa Data
Konsep Perancangan
Perencanaan Media Perencanaan Kreatif
Pengembangan Ide
Visualiasi Desain dan Layout
Evaluasi
Final Artwork
Gambar 1.1 Sistematika perancangan Tujuan Media
Strategi Media Program Media
Biaya Media
Tujuan Kreatif Strategi Kreatif Program Kreatif
Biaya Kreatif
V