LEMBARAN DAERAH
KABUPATEN DAERAH TK II SLEMAN
(Berita Resmi Kabupaten Daerah Tingkat II Sleman)NOMOR : 8 TAHUN : 1997 SERI : B
PERATURAN DAERAH KABUPATEN TINGKAT II SLEMAN
NOMOR 1 TAHUN 1997
TENTANG
USAHA PENGINAPAN REMAJA
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KEPALA DAERAH TINGKAT II SLEMAN
Menimbang : a. Bahwa dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah yang nyata dan bertanggungjawab telah diserahkan sebagian urusan Pemerintahan di bidang pariwisata antara lain Usaha Penginapan Remaja;
b. bahwa untuk meningkatkan pertumbuhan dan pengembangan periwisata perlu ketentuan yang mengatur tentang Usaha Penginapan Remaja;
c. bahwa atas dasar pertimbangan-pertimbangan tersebut diatas perlu menetapkan Peraturan Daaerah Kabupaten Daerah Tingkat II Sleman tentan Usaha Penginapan Remaja.
Mengingat : 1. Undang- Undang Nomor 5 Tahun 1974, tentang Pokok-Pokok Pemerintahan di Daerah;
2. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah Kabupaten Dalam Lingkungan Daerah Istimewa Yogyakarta jo Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1950;
3. Undang- Undang Nomor 12 Drt. Tahun 1957, tentang Peraturan Umum Retribusi Daerah jo Instruksi Menteri Dalam Negeri Nomor 11 Tahun1950;
4. Undang- Undang Nomor 4 Tahun 1982, tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup jo Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 1993;
5. Undang- Undang Nomor 9 Tahun 1990, tentang Kepariwisataan; 6. Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 1969, tentang Pedoman
Pelaksanaan Pembinaan Pengembangan Pariwisata jis Instruksi Presiden Nomor 5 Tahun 1984, dan Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun 1987;
7. Keputusan Menteri Pariwisata Pos dan Telekomunikasi Nomor KM.75/PW.304/MPPT-85 tentang Peraturan Usaha Penginapan Remaja.
8. Keputusan Pariwisata Pos dan Telekomunikasi Nomor KM.3/PW.304/MPPT-85 tentang Perizinzn Usaha dibidang Pariwisata , Pos dan Telekomunikasi.
9. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 84 Tahun 1993 tentang Bentuk Peraturan Daerah dan Peraturan Daerah Perubahan
10. Peraturan Daerah Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 5 Tahun 1995, tentang Penyerahan Sebagian Urusan Pemerintah Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dalam bidan Ketenagakerjaan, Pariwisata, Pertambangan, Pekerjaan, Umum, Lalu Lintas, dan Angkutan Jalan dan Kehutanan Kepada Daerah Daerah Tingkat II Sleman.
11. Peraturan Daerah Tingkat II Sleman Nomor 1 Tahun 1987, tentang Penyidik Pegawai Sipil di Lingkungan Pemerintah Daerah Tingkat II Sleman.
12. Peraturan Daerah Tingkat II Sleman Nomor 4 Tahun 1995, tentang Pembentukan dan Organisasi Dinas Pariwisata Kabupaten Daerah Tingkat II Sleman .
Dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Sleman.
MEMUTUSKAN
Menetapkan : PERATURAN DAERAH KABUPATEN DAERAH TINGKAT II SLEMAN TENTANG USAHA PENGINAPAN REMAJA
BAB I
KETENTUAN UMUM Pasal 1
Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksud dengan :
a. Kepala Daerah adalah Kepala Kabupaten Daerah Tingkat II Sleman
b. Peraturan Daerah adalah Peraturan Daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Sleman c. Dinas Pariwisata adalah Dinas Pariwisata Kabupaten Daerah Tingkat II Sleman
d. Usaha Penginapan Remaja adalah suatu kegiatan usaha yang tidak bertujuan komersial yang menggunakan seluruh atau sebagian dari suatu bangunan yang khusus disediakan bagi remaja untuk memperoleh pelayanan penginapan dan pelayanan-pelayan lain;
e. Pengusaha Penginapan Remaja ialah orang atau Badan Hukum yang memiliki Usaha Penginapan Remaja;
f. Pimpinan Penginapan Remaja ialah Pengusaha Penginapan Remaja atau orang lain yang ditunjuk untuk memimpin sehari-hari, bertanggungjawab atas Pengelolaan Penginapan Remaja;
g. Tamu Penginapan Remaja ialah setip Remaja, Pelajar, dan Mahasiswa yang menginap di Penginapan Remaja dengan membayar;
h. Remaja ialah mereka yang berusia 10 – 15 tahun baik yang masih dalam pendidikan maupun tidak;
i. Persetujuan Prinsip adalah persetujuan sementara yang diberikn oleh Kepala Daerah kepada Badan Usaha atau usaha perorangan untuk dapat membangun penginapan remaja;
j. Izin Usaha adalah izin yang diberikan oleh Kepala Daerah untuk pengusaha Penginapan Remaja;
k. Izin Mendirikan Bangunan adalah izin yang diberikan oleh Kepala Daerah untuk mendirikan bangunan.
BAB II
BENTUK USAHA DAN PERMODALAN
Pasal 2
(1). Usah Penginapan Remaja dapat berbentuk Usaha Perorangan/ Badan Hukum (2). Modal Usaha Penginapan Remaja dimiliki oleh Warga Negara Indonesia.
BAB III
PERSYARATAN DAN KEGIATAN PENGUSAHAAN
Pasal 3
(1). Pengusahaan Penginapan Remaja pada dasarnya menyediakan fasilitas penginapan bagi remaja, pelajar, mahasiswa dan dapat dilengkapi dengan fasilitas lainnya.
(2). Pengusahaan Penginapan Remaja lebih diarahkan kepada pengembangan wisata remaja dalam pembinaan remaja dan tidak semata-mata bertujuan komersial untuk mementingkan laba.
(3). Pengusahaan Penginapan Remaja harus memenuhi persyaratan-persyaratan seperti tercantum dalam lampiran Peraturan Daerah ini.
BAB IV KEWAJIBAN
Pasal 4
Pengusaha/ Pemimpin Penginapan Remaja berkewajiban :
a. Mememberi perlindungan dan menjaga keamanan kepada tamu penginapan remaja; b. Mengadakan Pembukuan Perusahaan sesuai dengan peraturan
perundang-undangan yang berlaku;
c. Mencegah dan melarang penggunaan penginapan remaja dari kegiatan-kegiatan yang dapat mengganggu keamanan dan ketertiban umum serta melanggar norma agama dan kesusilaan;
d. Mentaati ketentuan ketanagakerjaan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku;
e. Melakukan upya secara terus menerus untuk meningkatkan tenaga kerja;
f. Memelihara hygiene dan sanitasi di dalam penginapan remaja dan lingkungan pekarangannya sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku;
g. Menetapkan persyaratan penghuni kamar dan Daftar Tarif kamar serta memasangnya ditempat yang mudah dilihat dan dibaca oleh para tamu;
h. Menempatkan surat Izin Usaha di tempat yang mudah dilihat dan dibaca oleh para tamu;
i. Menyampaikan laporan statistik setiap bulan kepada Kepala Daerah.
BAB V PERIZINAN
Pasal 5
(1). Untuk membangun dan menambah kamar Penginapan Remaja Permohonan harus memiliki Persetujuan Prinsip.
(2). Untuh mengusahakan Penginapan Remaja, Pemohon harus memiliki izin usaha; (3). Untuk mendapatkan persetujuan Prinsip dan Izin Usaha Pengusaha Penginapan
Remaja mengajukan permohonan kepada Kepala Daerah.
(4). Persetujuan Prinsip dan Izin Usaha tidak bisa dipindah tangankan.
(5). Persetujuan Prinsip dan Izin Usaha hanya dapat diberikan kepada Warga Negara Indonesia dan Badan Hukum/ Badan Usaha Indonesia.
Pasal 6
(1). Persetujuan Prinsip membangun dan menambah kamar Penginapan Remaja harus digunakan dalam masa 1 (satu) tahun terhitung sejak tanggal ditetapkan dan batal demi hukum bilamana pembangunan belum mulai dalam waktu tersebut.
(2). Pemberian Persetujuan Prinsip berpedoman kepadarencana kebutuhan kamar Penginapan Renaja dalam rangka pelayanan kepariwisataan di daerah.
(3). Persetujuan atau penolakan Persetujuan Prinsip diselesaikan dalam waktu selambat-lambatnya 1 (satu) bulan sejak permohonan diajukan.
Pasal 7
(1). Untuk mendapatkan Persetujuan Prinsip Penginapan Remaja mengajukan permohonan kepada Kepala Daerah dengan disertai :
a. Surat Keterangan atau Identitas Pemohon; b. Gambar rencna
c. Nomor Pokok wajib Pajak Pemohon
d. Salinan Akte Notaris pendirian badan usaha, kecuali. (2). Untuk mendapatkan Izin Usaha dengan melampirkan :
a. Izin Mendirikan Bangunan b. Nomor Pokok wajib Pajak c. Keterangan/ status tanah
d. Persetujuan Prinsip membangun Penginapan Remaja.
Pasal 8
(1). Izin Usaha berlaku untuk waktu yang tidak terbatas.
(2). Persetujuan penolakan Permohonan Izin Usaha diselesaikan selambat-lambatnya 1 (satu) bulan setelah permohonan diajukan
(3). Tersebut ayat (1) pasal ini harus didaftarkan ulang setiap 3 (tiga) tahun sekali kepada Kepala Daerah.
Pasal 9 (1). Izin Usaha tidak berlaku apabila :
a. Pemegang izin usaha meninggal dunia
b. Tidak didaftarkan ulang setelah 3 (tiga) tahun kepada Kepala Daerah c. Dipindah tangankan.
(2). Persetujuan Prinsip da Izin Usaha dapat dicabut apabila :
a. Memperoleh Persetujuan Prinsip dan Izin Usaha secara tidak sah. b. Tidak melakukan kegiatan-kegiatan sesuai dengan izin yang diberikan.
c. Tidak memenuhiketentuan-ketentuan sebagaimana ditetapkan dalam Peraturan Daerah.
d. Menyelenggarakan penambahan kamar tanpa Persetujuan Prinsip.
(3). Dalam hal pemegang Izin Usaha meninggal dunia atas kesepakatan ahli waris dapat diteruskan oleh salah seorang yang ditunjuk untuk jangka waktu 1 (satu) tahun dengan sepengetahuan Kepala Daerah dalam hal ini Kepala Dinas Pariwisata setelah itu mengajukan izin baru.
BAB VI RETRIBUSI
Pasal 10 Retribusi dikenakan terhadap :
a. Persetujuan Prinsip b. Izin Usaha
c. Daftar Ulang
Pasal 11 Besarnya retribusi :
a. Persetujuan Prinsip membangun Rp. 30.000,00 (tiga puluh ribu rupiah)
b. Persetujuan Prinsip menambah kamar Rp. 5.000,00 (lima ribu rupiah) tiap kamar. c. Izin Usaha Rp. 5.000,00 (lima ribu rupiah) tiap kamar
d. Daftar Ulang Rp. 4.000,00 (empat ribu rupiah)
Pasal 12
Hasil pungutan retribusi sebahgaimana disebut pada Pasal 11 Peraturan Daerah ini disetor oleh Bendaharawan Khusus Penerima Dinas Pariwisata ke Bank Pembangunan
Daerah Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Cabang Sleman selaku pemegang Kas Daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Sleman sesuai dengan peraturtan perundang-undangan yang berlaku.
BAB VIII
PELAKSANAAN PEMBINSAAN PENGAWASAN DAN PENGENDALIAN
Pasal 13
(1). Pelaksanaan Peraturan Daerah ini ditugaskan kepada Dinas Pariwisata.
(2). Pembinaan dan Pengawasan serta Pengendalian Usaha Penginapan Remaja ditugaskan kepada Dinas Pariwisata dengan mengikutsertakan Instansi terkait.
(3). Kepala Dinas Pariwisata atas nama Kepala Daerah dapat meminta laporan dalam hal yang dianggap perlu kepada Pengusaha/ Pimpinan Penginapan Remaja.
BAB XVII
KETENTUAN PIDANA Pasal 14
(1). Barang siapa melanggar ketentuan tersebut Pasal 3 ayat (3), Pasal 4 dan Pasal 5 Peraturan Daerah ini diancam pidana kurungan selama-lamanya 3 (tiga) bulan atau denda sebanyak-banyaknya Rp. 50.000,- (lima puluh ribu rupiah)
(2). Bagi Pengusaha Penginapan Remaja yang telah mempunyai Izin Usaha dan Persetujan Prinsip akan tetapi melanggar ketentuan Pasal 4 dan Pasal 5 Peraturan Daerah ini disamping ancaman pidana tersebut ayat (1) Pasal ini maka Izin Usahanya dapat dicabut.
(3). Disamping ancaman pidana tersebut ayat (1) Pasal ini yang bersangkutan tetap diwajibkan membayar retribusi sebagaimana diatur dalam Peraturan Daerah.
BAB XVIII
KETENTUAN PENYIDIKAN Pasal 15
Selain oleh Pejabat Penyidik POLRI penyidikan atas tindak pdana sebagaimana dimaksud Pasal 14 Peraturan Daerah ini dilakukan oleh Penyidik Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Pemerintah Kabupaten Daerah Tingkat II Sleman yang pengangkatannya ditetapkan berdasarkan perundang-undangan yang berlaku
Pasal 16
Dalam melaksanakan tugas penyidikan para Penyidik sebagaimana dimaksud Pasal 15 Peraturan Daerah ini berwenang :
a. Menerima laporan atau pengaduan dari seseorang tentang adanya tindak pidana. b. Melakukan tindakan pertama pada saat itu di tempat kejadian dan melakukan
pemeriksaan.
c. Menyuruh berhenti seseorang tersangka dan memeriksa tanda pengenal diri tersangka.
d. Melakukan penyitaan benda atau surat.
e. Mengambil sidik jari dan memotret seseorang.
f. Memanggil orang yang diperlukan dalam hubungannya dengan pemeriksaan perkara.
g. Mendatangkan orang ahli yang diperlukan dalam hubungannya dengan pemeriksaan perkara.
h. Menghentikan penyidikan setelah mendapat petunjuk dari Penyidik POLRI bahwa tidak terdapat cukup bukti atau peristiwa tersebut bukan merupakan tindak pidana dan dan selanjutnya melalui Penyidik POLRI memberitahukan hal tersebut kepada Penuntut Umum, Tersangka dan keluarganya.
BAB X
KETENTUAN PERALIHAN Pasal 17
(1). Bagi Pengusaha Penginapan Remaja yang sebelum berlakunya Peraturan Daerah ini telah mendapatkan izin usaha diwajibkan mendaftarkan kembali kepada Kepala Daerah dalam hal ini Kepala Dinas Pariwisata selambat-lambatnya 1 (satu) bulan sebelum Daftar Ulang.
(2). Dengan berlakunya Peraturan Daerah ini maka semua Usaha Penginapan Remaja yang belum memiliki Izin Usaha harus disesuaikan dengan Peraturan Daerah ini.
BAB XI
KETENTUAN PENUTUP Pasal 18
Hal-hal yang belum diatur dalam peraturan Daerah ini, sepanjang mengenai pelaksanaannya diatur oleh Kepala Daerah.
Pasal 19
Dengan berlakunya Peraturan Daerah ini maka semua peraturan yang tidak sesuai dengan Peraturan Daerah ini tidak berlaku lagi.
Pasal 20
Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkannya.
Agar supaya setiap orang dapat mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Pearaturan Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Kabupaten Daerah Tingakat II Sleman.
Ditetapkan di : Sleman
Pada tanggal : 18 Februari 1997
Dewan Perwakilan Rakyat Bupati Kepala Daerah Daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Sleman
Tingkat II Sleman
Ketua
Cap ttd. Cap ttd.
S U D I Y O N O DRS. H. ARIFIN ILYAS
Diundangkan dalam Lembaran Daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Sleman Nomor : 8
Seri : B
Tanggal : 14 Juni 1997
Disyahkan oleh Gubernur Kepala Daerah Istimewa Yogyakarta dengan Surat Keputusan :
Nomor : 153/ KPTS/ 1997 Tanggal : 12 Mei 1997
SEKRETARIS WILAYAH / DAERAH KABUPATEN DAERAH TINGKAT II SLEMAN
Cap ttd.
RM. H. TIRUN MARWITO, SH NIP. : 490013928
PENJELASAN
PERATURAN DAERAH KABUPATEN DAERAH TINGKAT II SLEMAN NOMOR : 1 TAHUN 1997
TENTANG
USAHA PENGINAPAN REMAJA
I. PENJELASAN UMUM
Berdasarkan Peraturan Daerah Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 5 Tahun 1995, tentang Penyerahan Sebagian Urusan Pemerintah Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dalam bidan Ketenagakerjaan, Pariwisata, Pertambangan, Pekerjaan, Umum, Lalu Lintas, dan Angkutan Jalan dan Kehutanan Kepada Daerah Daerah Tingkat II Sleman.
Sebagai pedoman pembunaan Usaha Penginapan Remaja oleh Pemerintah Pusat tela dikeluarkan Keputusan Menteri Pariwisata Pos dan Telekomunikasi Nomor KM.75/PW.304/MPPT-85 tentang Peraturan Usaha Penginapan Remaja.
Mengingat Kabupaten Daerah Tingkat II Sleman merupakan Daerah pendukung Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai daerah tujuan utama, serta banyak tempat yang memungkinkan untuk Usaha Penginapan Remaja yang ruang lingkupnya menyediakan sarana dan prasarana penginapan bagi remaja, agar perkembangannya dapat tercapai keserasian dan keselarasan lingkungan perlu diadakan pembinaan, pengturan dan pengawasan yang diatur dalam Peraturan Daerah.
Atas dasar hal-hal tersebut diatas dipandang perlu menetapkan Peraturan Daerah Tingkat II Sleman tentang Usaha Penginapan Remaja.
II. PENJELASAN PASAL DEMI PASAL
Pasal 1 s/d huruf a dan c : Cukup jelas
huruf d : Tidak bertujuan komersial adalah suatu usaha yang tidak mementingkan laba tetapi lebih diarahkan terciptanmya sarana pembinaan remaja.
huruf e s/d k : Cukup jelas Pasal 5 ayat (1) : Cukup jelas
ayat (2) : Usaha Penginapan Remaja tidak dibenarkan untuk menggunakan modal asing baik seluruhnya atau patungan.
Pasal 3 ayat (1) : Yang dimaksud fasilitas lainnya adalah fasilitas makan, minum, cuci dan setrika.
Pasal 3 ayat (2)
dan (3) : Cukup jelas
Pasal 4 huruf a : Perlindungan kepada Tamu Penginapan Remaja ini bukan berarti melindungi Tamu Penginapan Remaja yang bersangkutan/ berurusan dengan pihak yang berwajib.
huruf b s/d h : Cukup jelas
huruf i : Yang dimaksud dengan laporan statistik bulanan meliputi :
- Lama tinggal Tamu/ tingkat hunian kamar - Jumlah tamu
- Propinsi asal Tamu - Kebangsaan Tamu Pasal 5 s/d Pasal 6
Ayat (2) : Didalam pemberian Persetujuan Prinsip tembusannya dikirim kepada Direktur Jendral Pariwisata.
Pasal 6 ayat (3) : Yang dimaksuyd dengan dalam waktu secepat-cepatnya adalah kesempatan pertama penyelesaian terhadap setiap permohonan setelah berkas permohonan diterima dengan lengkap.
Pasal 7 s/d Pasal 8
Ayat (2) : Cukup jelas
Pasal 8 ayat (3) : Pendaftaran ulang setiap Izin Usaha setiap 3 (tiga) tahun sekali dimaksudkan untuk pembinaan, pengawasan, dan pengendalian Usaha Penginapan Remaja.
LAMPIRAN
PERATURAN DAERAH KABUPATEN DAERAH TINGKAT II SLEMAN NOMOR : 1 TAHUN 1997
TENTANG
USAHA PENGINAPAN REMAJA
Pengusahaan Penginapan Remaja harus memiliki persyaratan sebagai berikut :
I. PENJELASAN UMUM
1. Lokasi : a. Bebas dari kebisingan, bau tidak enak, debu, binatang pengerat dan serangga.
b. Mudah dicapai oleh kendaraan bermotor roda 4 (empat) atau bus.
2. Bangunan : Konstruksi bangunan bersifat permanen dan memenuhi persyaratan tata bangunan.
3. Pertamanan : Mempunyai taman di luar gedung yang terpelihara baik.
4. Parkir : Tersedia tempat parkir untuk kendaraan bermotor roda 4 (empat) kendaraan.
1. Kantor depan : kantor depan dilengkapi dengan :
a. Meja penerima tamu
b. Rak tempat kunci
c. Tempat penitipan barang berharga
d. Tempat penmbayaran (kasir)
e. Rak arsip
f. Tempat duduk di lobby (ruang tamu)
g. Toilet umum pria dan wanita terpisah
h. Peralatan/ perlengkapan
1) Mesin hitung
2) Mesik ketik
3) Papan penepelan peta atau brosur dan pengumuman
4) Sistem tata suara di lobby
5) Radio dan televisi di lobby
6) Tersedia kios tempat penjualan barang kebutuhan tamu sehari-hari.
2. Ruang serbaguna : a. Indeks luas untuk tiap 1 (satu) orang minimal 4,0 m2
b. Ruang pertemuan, ruang baca dan ruang rekreasi.
c. Toilet pria dan wanita terpisah.
3. Kamar tidur : a. Indeks luas kamar tidur minimal 2,7 m2
b. Jumlah tempat tidur susun minimal 30 buah.
c. Tiap kamar tidur maksimal 6 tempat tidur susun.
d. Ukuran tempat tidur susun minimal 2.00 x 0,90 x 1,70 m.
f. Kelompok kamar tidur pria dan wanita terpisah.
g. Peralatan/ perlengakapan :
1) Tempat tidur susun lengkap dengan kasur dan bantal.
2) Sprei, sarung bantal dan selimut untuk setiap tempat tidur.
3) Lemari kecil dengan kunci untuk setiap kamar tidur.
4) Alat penggantung pakaian/ kapstok minimal 2 (dua) buah setia tempat tidur.
5) Tempat menaruh ransel/ kopor.
6) Memiliki sistem penerangan lampu/ cahaya minimal 4 (empat) watt per m2
7) Keranjang tempat sampah
8) Lampu darurat atau lilin dengan tempatnya
9) Peralatan/ perlengkapan pembersih kamar tidur.
4. Kamar mandi/ WC : a. Kamar mandi/ WC pria dan wanita terpisah
b. Kamar mandi/ WC masing masing pria dan wanita minimal.
1) 1 (satu) WC untuk 4 – 8 orang
2) 1 (satu) kamar mandi untuk 4 – 8 orang
3) 1 (satu) urinoir untuk 6 – 10 orang
c. Memiliki tata udara yang baik
d. Peralatan/ perlengakapan :
1) Bak air mandi
2) Gayung
4) Wastafel fdan kaca rias
5) Alat penggantung pakaian, handuk atau kapstok
6) Keranjang tempat sampah
7) Keset
8) Peralatan/ perlengkapan pembersih kamar mandi/ WC.
e. Dinding kamar mandi dilapisi bahan kedap air setinggi 2,0 m.
5. Ruang makan : a. Indeks luas ruang makan minimal 1,2 m2 per orang.
b. Tinggi ruang makan minimal 3,0 m
c. Ruang saji (pantry)
d. Peralatan/ perlengkapan
1) Meja kasir
2) Meja makan dan kursinya
3) Piring makan, sendok makan, garpu dan serbet makan.
4) Gelas, cangkir dan sendok teh/ kopi.
5) Poci air teh/ kopi, termos air.
6) Tempat nasi, tempat sayur dan lauk pauk
7) Mangkok cuci tangan
8) Tempat saos sambal
9) Tusuk gigi
10) Alat pembuka botol
11) Peralatan/ perlengkapan pembersih ruang makan
6. Ruang masak/ : a. Luas ruang dapur minimal 50 % dari luas ruang
b. Tinggi dapur minimal 3,5 m
c. Dinding dapur dilapisi bahan kedap air dengan tinggi minimal 50 % dari tinggi dapur
d. Cerobong asap dan tata udara yang baik
e. Ruang pencucian peralatan/ perlengkapan dapur
f. Lantai dapur mudah dibersihkan dan tidak licin, dilengkapi dengan saluran pembuangan air.
g. Peralatan/ perlengkapan :
1) Kompor
2) Alat penggorengan/ wajan
3) Berbagai jenis panci
4) Nampan
5) Telenan
6) Pisau dapur
7) Pengocok telur
8) Kulkas
9) Lemari tempat menyimpan bahan makanan yang mudah rusak
10) Lemari tempat menyimpan bahan makanan yng tahan lama
11) Lemari peralatan/ perlengkapan makanan dan minuman
12) Rak untuk mengeringkan peralatan perlengkapan makanan dan minuman
13) Tempat pembuangan sampah
14) Peralatan/ perlengkapan pembersih ruang masak/ dapur
7. Binatu (cuci setrika ): a. Luas ruang binatu minimal 0,5 m2 per orang
b. Peralatan/ perlengkapan :
1) Alat mencuci dengan tangan atau mesin cuci
2) Alat seterika dan mejanya.
c. Jemuran pakaian
8. Gudang : a. Gudang umum untuk peralatan/ perlengkapan
b. Gudang makanan dan minuman
c. Daftar inventaris gudang
9. Ruang Karyawan : a. Tempat ganti pakaian
b. Kamar mandi/ WC
c. Ruang makan
10. Ruang Ibadat : Tersedia tempat ibadah yang bersih.
11. Ruang PPPK : Tersedia peralatan dan obat-obatan PPPK
12. Instalasi dan : a. Sumber daya listrikdari PLN atau generator
sumber energi b. Sumber air bersih/ air minum dari PAM atau sumber lain yang memenuhi persyaratan hygiene dan sanitasi.
c. Bahan bakar untuk keperluan masak dari minyak tanah atau gas.
d. Sistem sirkulasi udara yang baik
e. Mempunyai sistem pencegahan dan pemadam kebakaran.
f. Tersedia tabung pemadam kebakaran di kamar tidur, dapur, ruang makan, gudang, ruangf kantor, dan tempat-tempat penting.
g. Sistem pembuangan limbah yang tidak mengganggu hyginee dan sanitasi sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
h. Ruamg pemeliharaan teknik atau ruang panel mekanikal elektrikal.
i. Pemasangan instalasi listrik dan air harus memenuhi peraturan perundang-undangan yang berlaku.
13. Ruang kantor : a. Ruang kantor terdiri dari :
1) Ruang pimpinan
2) Ruang staf Administrasi, keuangan dan Pelaksana.
b. Toilet
III. PENGELOLAAN DAN ADMINISTRASI
1. Pengelolaan : a. Tenaga kerja terdiri dari : 1) Pimpinan
2) Staf administrasi dan keuangan 3) Staf pelaksana
b. Memilik bagan organisasi
c. Memiliki uraian tugas secara tertulis 2. Administrasi : Administrasi Pengelolaan
a. Sistem Pengelolaan keuangan yang baik. b. Peralatn/ perlengkapan kantor.
Dewan Perwakilan Rakyat Bupati Kepala Daerah Daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Sleman
Tingkat II Sleman
Ketua
Cap ttd. Cap ttd.