Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 1 dari 42 hal. Put. Nomor 1077 K/Pdt.Sus-BPSK/2016
P U T U S A N
Nomor 1077 K/Pdt.Sus-BPSK/2016
DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA M A H K A M A H A G U N G
memeriksa perkara perdata khusus sengketa konsumen pada tingkat kasasi memutus sebagai berikut dalam perkara antara:
ZAINAL EFENDI CHANDRA, bertempat tinggal di Simpang D 2 Desa Rambah, Kecamatan Rambah Hilir, Kabupaten Rokan Hulu Provinsi Riau;
Pemohon Kasasi dahulu Termohon Keberatan;
L a w a n
PT. BANK TABUNGAN PENSIUNAN NASIONAL, Tbk, Kantor UMK Cabang Pasir Pengaraian, diwakili oleh Direktur, Anika Faisal dan Arief Harris Tandjung, dalam hal ini memberi kuasa kepada Villger Silpana, dan kawan-kawan, Para karyawan pada PT. Bank Tabungan Pensiunan Nasional, Tbk., berkantor di Jalan Diponegoro, Nomor 219, Kelurahan Pasir Pangaraian, Kecamatan Rambah, Kabupaten Rokan Hulu, Provinsi Riau, berdasarkan Surat Kuasa Khusus tanggal 8 September 2016;
Termohon Kasasi dahulu Pemohon Keberatan;
Mahkamah Agung tersebut;
Membaca surat-surat yang bersangkutan;
Menimbang, bahwa dari surat-surat tersebut ternyata bahwa sekarang Termohon Kasasi dahulu sebagai Pemohon Keberatan telah mengajukan keberatan terhadap Putusan Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen Nomor 270/Pts/Arbitrase/BPSK-BB/III/2016 tanggal 20 Juni 2016 yang amarnya sebagai berikut:
1. Mengabulkan gugatan Konsumen untuk seluruhnya;
2. Menyatakan Konsumen adalah beritikad baik dan ada kerugian dipihak Konsumen;
3. Menyatakan Pelaku Usaha tidak pernah hadir persidangan BPSK walaupun telah dipanggil dengan patut;
4. Menyatakan Batal Demi Hukum dan Tidak Sah Permintaan Lelang maupun Lelang yang telah dilakukan terhadap SHM Nomor 129, SHM Nomor 136, SHM Nomor 74 yang ketiganya atas nama Zainal Efendi Chandra/atau surat keterangan tanah lainnya yang saat ini menjadi agunan kepada Pelaku
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 1
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 2 dari 42 hal. Put. Nomor 1077 K/Pdt.Sus-BPSK/2016
Usaha, serta segala akibat hukum yang timbul karenanya seperti membalik nama atau menerbitkan sertifikat atas nama orang lain;
5. Menyatakan batal demi hukum Perjanjian Perubahan Terhadap Perjanjian Kredit Nomor 7000654-ADDPK-7563-0413 tertanggal 29 April 2013 beserta syarat dan ketentuan umum pemberian fasilitas kredit yang penuh dengan Klausula Baku;
6. Menghukum Pelaku Usaha untuk mengembalikan SHM Nomor 129, SHM Nomor 136, SHM Nomor 74 dan SHM Nomor 62 yang ke 4 (empat)nya atas nama Zainal Efendi Chandra serta 1 (satu) SKRPT No 852/SKRPT/CRH/2012 atas nama Upik Suriani kepada Konsumen;
7. Menghukum Pelaku Usaha dengan denda sebesar Rp500.000,00 (lima ratus ribu rupiah) perhari, selama tidak menjalani putusan Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen Kab. Batu Bara pada point 6 setelah putusan ini berkekuatan Hukum Tetap (in kracht);
Bahwa, terhadap amar Putusan Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen tersebut, Pemohon Keberatan telah mengajukan keberatan di depan persidangan Pengadilan Negeri Pasir Pengaraian yang pada pokoknya sebagai berikut:
A. BPSK Kabupaten Batu Bara Tidak Berwenang Memeriksa dan Mengadili Perkara/Sengketa Antara Pemohon Keberatan dengan Termohon Keberatan;
- Kompetensi Absolut :
1. Bahwa hubungan hukum antara Pemohon Keberatan dengan Termohon Keberatan diawali dari Perjanjian Kredit Nomor 0000087-SPK-7563-1011 tertanggal 28 Oktober 2011 beserta syarat dan Ketentuan Umum Pemberian Fasilitas Kredit (“SKUPK”) yang juga ditandatangani oleh Termohon Keberatan beserta dengan Isteri Termohon Keberatan (Upik Suriani);
Bahwa berdasarkan Pasal 5 Perjanjian Kredit Nomor 0000087-SPK-7563- 1011 tertanggal 28 Oktober 2011 yang ditandatangani serta disepakati oleh dan antara Termohon Keberatan dengan Pemohon Keberatan menyatakan sebagai berikut:
“... Perjanjian ini tunduk pada dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Syarat dan Ketentuan Umum Pemberian Fasilitas Kredit ... (selanjutnya berikut segala perubahan-perubahannya dan penambahan- penambahannya disebut “SKUPK”);
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 2
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 3 dari 42 hal. Put. Nomor 1077 K/Pdt.Sus-BPSK/2016
Bahwa, Pasal 11 ayat (16) (Ketentuan Penutup) SKUPK menyatakan sebagai berikut:
“Kecuali ditetapkan lain dalam Perjanjian Kredit, maka kedua belah pihak memilih tempat kedudukan hukum yang tetap dan seumumnya di Kantor Kepaniteraan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan ...”
Bahwa, merujuk Pasal 1338 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (“KUHPer”) yang menyatakan sebagai berikut:
“Semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya. Suatu Perjanjian tidak dapat ditarik kembali selain dengan sepakat kedua belah pihak, atau karena alasan-alasan yang oleh undang-undang dinyatakan cukup untuk itu. Suatu perjanjian harus dilaksanakan dengan itikad baik.”
Selanjutnya Pasal 1338 KUHPer tersebut menyatakan dan mengatur bagi pihak-pihak yang membuat dan mengikatkan dalam perjanjian, maka segala isi yang disepakati dalam perjanjian tersebut berlaku sebagai Undang- Undang bagi mereka yang membuatnya. Dengan demikian, segala perjanjian yang disepakati antara Termohon Keberatan dengan Pemohon Keberatan berlaku sebagai Undang-undang yang tidak dapat ditarik kembali serta harus dilaksanakan dengan itikad baik;
Bahwa, sesuai dengan Pasal 118 HIR ayat (4) bahwa apabila sudah diperjanjikan dalam suatu akta tentang domisili hukum, maka gugatan diajukan pada pengadilan Negeri yang ditunjuk dalam perjanjian tersebut, ketentuan tersebut juga telah diatur dalam Buku II Pedoman Pelaksanaan Tugas dan Administrasi Pengadilan dalam Empat Lingkungan Peradilan, Edisi 2007 terbitan Mahkamah Agung RI 2009, halaman 50-51 tentang wewenang relatif, yang menyatakan sebagai berikut :
g. Jika ada pilihan domisili yang tertulis dalam akta, maka gugatan diajukan di tempat domisili yang dipilih itu”
Bahwa berdasarkan fakta-fakta hukum tersebut diatas, memberikan kaidah hukum bahwa demi hukum Termohon Keberatan telah salah dalam mengajukan Gugatan/Permohonan Sengketa Konsumen melalui BPSK Kabupaten Batu Bara dikarenakan tidak memiliki kewenangan mengadili.
Hal ini juga telah Pemohon Keberatan sampaikan pada saat hadir di pra sidang pada tanggal 19 April 2016 dengan menyampaikan dan membacakan secara langsung penyelesaian permasalahan/sengketa ini dihadapan Majelis BPSK Kabupaten Batu Bara sebagaimana yang termuat dalam surat Nomor 001/btpn/7563/0416, tertanggal 19 April 2016, Perihal:
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 3
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 4 dari 42 hal. Put. Nomor 1077 K/Pdt.Sus-BPSK/2016
Penyelesaian Sengketa di BPSK Kabupaten Batu Bara Melalui Proses Mediasi, dan dilampiri dengan Surat dari Direktorat Jenderal Standardisasi dan Perlindungan Konsumen kepada Ketua Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) Kabupaten Batubara, Perihal: Penyelesaian Sengketa Konsumen Nomor 688/SPK.3.2/SD/12/2015 tertanggal 31 Desember 2015, yang ditandatangani oleh Direktur Pemberdayaan Konsumen, dimana BPSK tidak memiliki wewenang (Kompetensi Absolut) untuk memeriksa dan memutus sengketa antara Pemohon Keberatan dengan Termohon Keberatan, sebagaimana disebutkan dalam pasal 3 point a, yang menerangkan bahwa: berdasarkan pasal 1338 KUHPerdata yang menyatakan bahwa perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi para pihak yang membuatnya. Oleh karena itu, jika di dalam perjanjian terdapat klausula yang menyatakan secara tegas bahwa apabila terjadi sengketa akan diselesaikan di Pengadilan Negeri maka para pihak dalam perjanjian harus menaati ketentuan tersebut seperti menaati undang-undang. Dengan demikian BPSK secara absolut tidak memiliki wewenang (kompetensi absolut) untuk menyelesaikan sengketa atas perjanjian tersebut, serta diperkuat juga dengan Surat dari Badan Perlindungan Konsumen Nasional Republik Indonesia Nomor 06/BPKN/K.3/1/2016, tertanggal 19 Januari 2016, Perihal: Tanggapan Penganduan Bank BTPN tentang Penyelesaian Sengketa di BPSK Kabupaten Batu Bara, yang pada intinya isi surat tersebut adalah Badan Perlindungan Konsumen Nasional Republik Indonesia telah menegur/mengingatkan kepada Ketua BPSK Kabupaten Batu Bara yang pada pokoknya mengenai dalam melaksanakan penanganan sengketa konsumen agar berpedoman kepada Peraturan perundang-undangan.
Dengan demikian, berdasarkan fakta-fakta dan dasar hukum tersebut diatas, mohon Yang Mulia Majelis Hakim Pengadilan Negeri Pasir Pangaraian yang memeriksa dan mengadili perkara a quo untuk menyatakan membatalkan Putusan Arbitrase BPSK Kabupaten Batu Bara Nomor 270/Pts/Arbitrase/BPSK-BB/III/2016 Tanggal 20 Juni 2016;
- BPSK Kabupaten Batu Bara tidak Berwenang memeriksa perkara a quo karena tidak ada sengketa konsumen
Bahwa, Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Republik Indonesia Nomor 350/MPP/Kep/12/2001, Pasal 1 poin 8, menyatakan sebagai berikut: “Sengketa konsumen adalah sengketa antara Pelaku Usaha dengan Konsumen yang menuntut ganti rugi atas kerusakan, pencemaran dan/atau
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 4
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 5 dari 42 hal. Put. Nomor 1077 K/Pdt.Sus-BPSK/2016
yang menderita kerugian akibat mengkonsumsi barang atau memanfaatkan jasa.”
Dalam perkara a quo Termohon Keberatan (Debitur) harus diuji terlebih dahulu, yaitu :
a. Apakah ada tuntutan ganti rugi atas pencemaran barang yang dikonsumsi?
Dalam hubungan hukum antara Termohon Keberatan (Debitur) dengan Pemohon Keberatan (Kreditur) adalah hubungan hukum pinjam meminjam uang dengan jaminan yang disepakati dalam Perjanjian Kredit dan pemberian hak tanggungan sehingga jelas tidak ada kerusakan atau pencemaran dari pemanfaatan uang pinjaman;
b. Apakah Termohon Keberatan (Debitur) menderita kerugian akibat mengkonsumsi barang atau memanfaatkan jasa ?
Dalam memanfaatkan dana pinjaman jelas tidak mengakibatkan kerugian pada Termohon Keberatan (Debitur) karena dana yang ada sudah digunakan oleh Termohon Keberatan dan tidak ada kerugian sama sekali, untuk lebih jelas kriteria “menderita kerugian akibat mengkonsumsi barang” akan diberikan contoh sebagai berikut:
- Konsumen membeli produk kosmetik dan menggunakan kosmetik tersebut. Setelah kosmetik digunakan pada wajahnya menimbulkan bengkak dan melepuh seluruh wajahnya dan hasil uji klinis dan ahli medis menyatakan bahwa bengkak dan melepuh tersebut disebabkan oleh kandungan kosmetik yang digunakannya mengandung bahan berbahaya;
dan;
- Konsumen memanfaatkan pengiriman uang melalui jasa transfer Bank dan uang yang dikirim tersebut tidak diterima oleh rekening yang dituju, namun dalam rekening Pengirim sudah berkurang atau terdebet, hal ini dikarenakan adanya kesalahan dalam system Bank sehingga kiriman tidak sampai, dan konsumen menderita kerugian karena uangnya berkurang sebesar jumlah kiriman;
Bahwa dari kedua contoh di atas sangat jelas kerugian yang diakibatkan mengkonsumsi barang atau memanfaatkan jasa, sedangkan dalam hubungan hubungan hukum pinjam meminjam uang yang secara nyata sudah digunakan oleh Debitur tidak ada kerugian setelah digunakannya uang pinjaman tersebut, sehingga jelas karena tidak memenuhi kriteria sebagai Sengketa Konsumen, maka BPSK harus menolak gugatan debitur tersebut. Dengan demikian, berdasarkan fakta-fakta dan dasar hukum tersebut diatas, mohon Yang Mulia Majelis Hakim Pengadilan Negeri Pasir
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 5
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 6 dari 42 hal. Put. Nomor 1077 K/Pdt.Sus-BPSK/2016
Pangaraian yang memeriksa dan mengadili perkara a quo untuk menyatakan membatalkan Putusan Arbitrase BPSK Kabupaten Batu Bara Nomor 270/Pts/Arbitrase/BPSK-BB/III/2016 Tanggal 20 Juni 2016;
- Gugatan Termohon Keberatan yang Diajukan kepada BPSK Kabupaten Batu Bara merupakan Kewenangan Lembaga Alternatif Merupakan Kewenangan Lembaga Alternatif Penyelesaian Sengketa Sektor Jasa Keuangan.
2. Bahwa, Peraturan Otoritas Jasa keuangan (POJK) Nomor 1/POJK.07/2014 tentang Alternatif Penyelesaian Sengketa di Sektor Jasa Keuangan, jelas merupakan ketentuan khusus (lex spesialis) apabila terjadi perselisihan antara Konsumen Sektor Jasa Keuangan dengan Kreditur, dikarenakan disamping kriteria Konsumen lebih tepat juga kriteria sengketa yang dimaksud karena jelas berada dalam ruang lingkup sektor jasa keuangan sedangkan BPSK lebih tepat untuk sengketa konsumen dalam ruang lingkup perindustrian dan perdagangan. Oleh karenanya, ketentuan teknis sengketa konsumen di BPSK diatur oleh Kementerian Perindustrian dan perdagangan sebagaimana diatur dalam Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Republik Indonesia Nomor 350/MPP/Kep/12/2001;
Bahwa, Pasal 1 poin 13 Peraturan Otoritas Jasa keuangan (POJK) Nomor 1/POJK.07/2014 tentang Alternatif Penyelesaian Sengketa di Sektor Jasa Keuangan, dinyatakan sebagai berikut: “Sengketa adalah perselisihan antara konsumen dengan lembaga jasa keuangan dalam kegiatan penempatan dana oleh konsumen pada Lembaga Jasa Keuangan dan/atau pemanfaatan pelayanan dan/atau produk lembaga jasa keuangan setelah melalui proses penyelesaian Pengaduan pda Lembaga Jasa Keuangan.”
Bahwa, seharusnya Termohon Keberatan mengajukan Pengaduan melalui proses Pengaduan kepada Pemohon Keberatan terlebih dahulu dan apabila tidak terselesaikan, jika hendak dilanjutkan melalui proses diluar Pengadilan, maka diselesaikanlah melalui proses Alternatif Penyelesaian Sengketa di Sektor Jasa Keuangan bukan kepada BPSK;
Bahwa, pengertian konsumen dalam POJK nomor 1/POJK.07/2013 jo Nomor 1/POJK.07/2014 lebih khusus kepada konsumen pada sektor jasa keuangan, dikarenakan lebih spesifik dan memang sudah seharusnya peraturan yang lebih spesifik (Lex Spesialis) inilah yang seharusnya digunakan dan bukan menggunakan dasar Undang-Undang Perlindungan Konsumen, sehingga secara sadar dan mengetahui seharusnya Majelis BPSK Kabupaten Batu Bara menolak dan tidak berwenang memeriksa
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 6
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 7 dari 42 hal. Put. Nomor 1077 K/Pdt.Sus-BPSK/2016
Pengaduan atau gugatan dari Termohon Keberatan (Debitur) yang nyata- nyata adalah hubungan konsumen dengan lembaga jasa keuangan sesuai dengan azas hukum Lex Spesialis Derogat Lex Generalis. Dengan demikian, berdasarkan fakta-fakta dan dasar hukum tersebut diatas, mohon Yang Mulia Majelis Hakim Pengadilan Negeri Pasir Pangaraian yang memeriksa dan mengadili perkara a quo untuk menyatakan membatalkan Putusan Arbitrase BPSK Kabupaten Batu Bara Nomor 270/Pts/Arbitrase/BPSK-BB/III/2016 Tanggal 20 Juni 2016;
B. Putusan Arbitrase BPSK Kabupaten Batu Bara Nomor 270/Pts/Arbitrase/BPSK-BB/III/2016 Tanggal 20 Juni 2016 Cacat Hukum Bahwa, Majelis BPSK Kabupaten Batu Bara telah membuat kesalahan didalam diktum Putusannya Nomor 270/Pts/Arbitrase/BPSK-BB/III/2016 Tanggal 20 Juni 2016, berdasarkan Pasal 4 ayat (1) Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan RI Nomor 350/MPP/KEP/12/2001 Tentang Pelaksanaan Tugas dan Wewenang Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen mengatur “Penyelesaian sengketa konsumen oleh BPSK dengan cara Mediasi atau, Konsiliasi atau Arbitarse sebagaimana dimaksud Pasal 3 huruf a dilakukan atas dasar pilihan dan persetujuan para pihak yang bersangkutan.”, sehingga pilihan Termohon Keberatan untuk menyelesaikan sengketa melalui Arbitrase di BPSK Kabupaten Batu Bara adalah cacat hukum karena tidak ada persetujuan terlebih dahulu dari Pemohon Keberatan baik secara lisan maupun tertulis kepada BPSK Kabupaten Batu Bara untuk menyelesaikan permasalahan/perselisihan dengan Termohon Keberatan secara Arbitrase dan juga Majelis BPSK Kabupaten Batu Bara hanya dapat menyelesaikan sengketa yang memang menjadi wewenangnya berdasarkan pilihan Penyelesaian sengketa yang disetujui atau disepakati oleh Para Pihak yang bersengketa;
1. Bahwa, Ketentuan pasal 4 ayat (1) Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan RI Nomor 350/MPP/KEP/12/2001 tentang Pelaksanaan Tugas dan Wewenang Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen tersebut sejalan dengan Peraturan Mahkamah Agung Nomor 1 Tahun 2006 tentang Tata Cara Pengajuan Keberatan Atas Putusan BPSK, dimana dalam kosideran “mengingat” poin 4 mendasarkan pada Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternative Penyelesaian Sengketa, artinya Arbitrase yang dimaksud dalam pandangan PERMA tersebut maupun Peraturan Menteri Perindustrian dan Perdagangan nomor 350/MPP/KEP/12/2001 tentang
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 7
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 8 dari 42 hal. Put. Nomor 1077 K/Pdt.Sus-BPSK/2016
Pelaksanaan Tugas dan Wewenang Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen tersebut adalah sama, adapaun Arbitrase dalam UU Nomor 30 tahun 1999, sebagai berikut:
Pasal 1 poin 1:
“Arbitrase adalah cara Penyelesaian sengketa perdata diluar peradilan umum yang didasarkan pada perjanjian arbitrase yang dibuat secara tertulis oleh para pihak yang bersengketa.”
Pasal 1 poin 3 :
“Perjanjian Arbitrase adalah suatu kesepakatan klausula arbitrase yang tercantum dalam perjanjian tertulis yang dibuat para pihak sebelum terjadi sengketa atau perjanjian arbitrase tersendiri yang dibuat para pihak setelah terjadi sengketa.”
Bahwa, pada kenyataannya proses penyelesaian arbitrase sebagaimana telah diputus melalui Putusan BPSK Nomor 270/Pts/Arbitrase/BPSK-BB/III/2016 Tanggal 20 Juni 2016 tidak didasarkan adanya persetujuan para pihak yang bersengketa (Pemohon Keberatan tidak pernah memberikan persetujuan baik secara lisan maupun tertulis kepada BPSK Kabupaten Batu Bara untuk menyelesaikan permasalahan/perselisihan dengan Termohon Keberatan secara Arbitrase), sehingga putusan Arbitrase tersebut tidak sah/cacat hukum. Dengan demikian, mohon Yang Mulia Majelis Hakim Pengadilan Negeri Pasir Pangaraian yang memeriksa dan mengadili perkara a quo untuk mengenyampingkan pertimbangan hukum tersebut diatas dan selanjutnya menyatakan membatalkan Putusan BPSK Nomor 270/Pts/Arbitrase/BPSK-BB/III/2016 Tanggal 20 Juni 2016;
C. Pemohon Keberatan Tidak Pernah Menerima Copy Permohonan Penyelesaian Sengketa Termohon Keberatan Sebagai Lampiran Dalam Semua Surat Panggilannya.
3. Bahwa, Putusan Arbitrase BPSK Kabupaten Batu Bara Nomor 270/Pts/Arbitrase/BPSK-BB/III/2016 Tanggal 20 Juni 2016 lahir/terbit dari proses yang tidak benar dan tidak berdasarkan hukum, karena pada faktanya Pemohon Keberatan tidak pernah sama sekali menerima copy permohonan penyelesaian sengketa konsumen sebagai lampiran dalam semua Surat Panggilannya, sehingga proses pemeriksaan perkara yang dilakukan oleh BPSK Kabupaten Batu Bara telah melanggar ketentuan Pasal 26 ayat (1) Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan RI Nomor 350/MPP/KEP/12/2001 Tentang
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 8
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 9 dari 42 hal. Put. Nomor 1077 K/Pdt.Sus-BPSK/2016
Pelaksanaan Tugas dan Wewenang Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen yaitu:
“Ketua BPSK memanggil pelaku usaha secara tertulis disertai dengan copy permohonan penyelesaian sengketa konsumen, selambat- lambatnya dalam waktu 3 (tiga) hari kerja sejak permohonan penyelesaian sengketa diterima secara benar dan lengkap sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16.”
Dengan demikian, berdasarkan fakta-fakta dan dasar hukum tersebut diatas, mohon Yang Mulia Majelis Hakim Pengadilan Negeri Pasir Pangaraian yang memeriksa dan mengadili perkara a quo untuk menyatakan membatalkan Putusan Arbitrase BPSK Kabupaten Batu Bara Nomor 270/Pts/Arbitrase/BPSK-BB/III/2016 Tanggal 20 Juni 2016;
D. Tentang Duduk Perkara Dalam Putusan BPSK Kabupaten Batu Bara Nomor 270/Pts/Arbitrase/BPSK-BB/III/2016 Tanggal 20 Juni 2016 Tidak Benar Dan Tidak Berdasarkan Hukum
4. Bahwa, berdasarkan Duduk Perkara, Pemohon Keberatan menolak dengan tegas seluruh dalil-dalil yang disampaikan dalam Gugatan Termohon Keberatan tertanggal 8 Maret 2016 yang disampaikan ke Majelis BPSK Kabupaten Batu Bata, terkecuali yang secara tegas dan nyata telah diakui dan dibahas kebenarannya oleh Pemohon Keberatan dalam bagian Pertimbangan Hukum Majelis BPSK Kabupaten Batu Bara dan Fakta Hukumnya yang dikarenakan maksud dan tujuannya dalam perkara a quo adalah sama;
5. Bahwa, tidak benar dan tidak berdasarkan hukum sama sekali pada paragraf 2 halaman 2 Putusan Arbitrase BPSK Nomor 270/Pts/Arbitrase/BPSK-BB/III/2016 Tanggal 20 Juni 2016 yang pada pokoknya mengenai Termohon Keberatan merupakan Konsumen yang dimaksud dalam Pasal 1 ayat (2) UUPK Nomor 8 Tahun 1999, dikarenakan jika hendak dilanjutkan melalui proses diluar Pengadilan, maka dalam perkara aquo merupakan kewenangan lembaga alternatif penyelesaian sengketa sektor jasa keuangan yang dimana telah Pemohon Keberatan jelaskan dalam Bagian II, huruf A, point 5, halaman 5 dan 6 Permohonan Keberatan ini;
6. Bahwa, didalam diktum Putusan Arbitrase BPSK Kabupaten Batu Bara Nomor 270/Pts/Arbitrase/BPSK-BB/III/2016 Tanggal 20 Juni 2016, dalil Duduk Perkara butir 4 dan 5 halaman 3, yang pada pokoknya mengenai konsumen mulai macet sejak bulan Juni 2014 adalah secara nyata dan
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 9
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 10 dari 42 hal. Put. Nomor 1077 K/Pdt.Sus-BPSK/2016
jelas Termohon Keberatan telah melakukan Perbuatan Ingkar Janji (Wanprestasi) yaitu tidak membayar angsuran kepada Pemohon Keberatan sesuai kesepakatan yang sudah tertuang dalam Perjanjian Kredit dan Syarat dan Ketentuan Umum Pemberian Fasilitas Kredit;
Bahwa, perbuatan ingkar janji (Wanprestasi) tersebut dan dikaitkan dengan Yurisprudensi Mahkamah Agung RI Nomor 42K/Pdt.Sus/2013, Putusan Mahkamah Agung Nomor 94K/Pdt.Sus/2012 dan Putusan Mahkamah Agung Nomor 208K/Pdt.Sus/2012 mengandung kaidah hukum ”bahwa BPSK tidak berwenang untuk mengadili sengketa Perdata tentang Wanprestasi (ingkar janji) karena terhadap sengketa Perdata yang berkaitan dengan Wanprestasi bukan termasuk dalam ruang lingkup tugas dan kewenangan BPSK untuk menyelesaikannya sebagaimana termuat dalam ketentuan Pasal 52 UU Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen Jo. Pasal 3 Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Republik Indonesia Nomor 350/MPP/Kep/12/2001”, sehingga semakin memperjelas bahwa Majelis BPSK Kabupaten Batu Bara tidak berwenang untuk memeriksa dan mengadili perkara/sengketa a quo;
7. Bahwa, tidak benar dan tidak berdasarkan sama sekali diktum Putusan Arbitrase BPSK Kabupaten Batu Bara Nomor 270/Pts/Arbitrase/BPSK- BB/III/2016 Tanggal 20 Juni 2016, dalil Duduk Perkara butir 5 halaman 3 sampai dengan butir 13 halaman 5, yang pada pokoknya mengenai SHM Nomor 129, SHM Nomor 136 dan SHM Nomor 74 yang dijadikan jaminan oleh Termohon Keberatan dijual oleh Pemohon Keberatan tanpa sepengetahuan Termohon Keberatan, Termohon Keberatan dipaksa untuk menandatangani surat oleh Pemohon Keberatan, Pemohon Keberatan mengambil buku tabungan dan kwitansi pembayaran milik Termohon Keberatan, Pemohon Keberatan tidak memberikan informasi yang lengkap kepada Termohon Keberatan dan Pemohon Keberatan menjual obyek jaminan hutang milik Termohon Keberatan dengan cara tidak benar dikarenakan pada faktanya Termohon Keberatan melakukan penjualan sendiri sebagian jaminannya yaitu jaminan dengan SHM Nomor 129, SHM Nomor 136 dan SHM Nomor 74 guna melakukan pelunasan sebagian hutangnya kepada Pemohon Keberatan akibat tidak melaksanakan kewajibannya untuk menunaikan prestasinya (lalai) dalam hal membayar sisa kewajiban kredit yang harus dilunasi;
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 10
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 11 dari 42 hal. Put. Nomor 1077 K/Pdt.Sus-BPSK/2016
Dengan demikian, Pemohon Keberatan tidak melanggar peraturan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan sebagaimana yang didalilkan oleh Termohon Keberatan dikarenakan Pemohon Keberatan tidak melakukan Eksekusi Hak Tanggungan, melainkan Termohon Keberatan sendirilah yang melakukan penjualan atas sebagian jaminannya yaitu jaminan dengan SHM Nomor 129, SHM Nomor 136 dan SHM Nomor 74;
8. Bahwa, tidak benar dan tidak berdasarkan sama sekali diktum Putusan Arbitrase BPSK Kabupaten Batu Bara Nomor 270/Pts/Arbitrase/BPSK- BB/III/2016 Tanggal 20 Juni 2016, dalil Duduk Perkara butir 14 halaman 5, yang menyatakan “Bahwa menurut Pelaku Usaha kedua SKT atas nama Suriani tersebut hanya dijadikan pendamping saja, namun nyatanya kedua surat keterangan tanah itu ditingkat menjadi SHM dimana biaya peningkatan statusnya dipotong dari pencairan pinjaman sebesar lebih kurang Rp35.000.000,00 (tiga puluh lima juta rupiah) namun hanya 1 (satu) saja yang berhasil dirubah menjadi SHM Nomor 62 atas nama Suriani ...” karena pada kenyataannya SHM Nomor 62 yang merupakan salah satu jaminan kredit sudah berbentuk Sertipikat Hak Milik pada saat Termohon Keberatan pertama kali mengajukan fasilitas kredit sebesar Rp1.400.000.000,00 (satu miliar empat ratus juta rupiah) kepada Pemohon Keberatan (Vide: Pasal 2 Perjanjian Kredit Nomor 0000087-SPK-7563-0510 tanggal 28 Oktober 2011), sehingga yang hanya berbentuk SKT adalah Surat Keterangan Riwayat Pemilikan/Penguasaan Tanah (“SKRPT”) Nomor 852/SKRPT/CRH2012 atas nama Upik Suriani;
Selanjutnya, jaminan dalam bentuk SKRPT Nomor 852/SKRPT/CRH2012 atas nama Upik Suriani tersebut, baru diberikan oleh Termohon Keberatan kepada Pemohon Keberatan sebagai tambahan jaminan kredit pada saat Termohon Keberatan mengajukan tambahan fasilitas kredit (Top Up) dari sebesar Rp1.400.000.000,00 (satu miliar empat ratus juta rupiah) menjadi sebesar Rp1.900.000.000,00 (satu miliar sembilan ratus juta rupiah) sebagaimana tertuang dalam Perjanjian Perubahan Terhadap Perjanjian Kredit Nomor 7000333-ADDPK-7563-0612 tanggal 29 Juni 2012;
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 11
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 12 dari 42 hal. Put. Nomor 1077 K/Pdt.Sus-BPSK/2016
9. Bahwa, Majelis BPSK Kabupaten Batu Bara yang memeriksa perkara a quo diduga telah melakukan kecurangan dan tidak terbuka didalam diktum Putusannya Nomor 270/Pts/Arbitrase/BPSK-BB/III/2016 Tanggal 20 Juni 2016 pada point 2 halaman 6, dikarenakan tidak dijelaskan secara rinci hasil pra sidang pada tanggal 19 April 2016. Atas panggilan pra sidang pada tanggal 19 April 2016 tersebut Pemohon Keberatan telah hadir di pra sidang dengan menyampaikan, membacakan dan menyerahkan secara langsung penyelesaian permasalahan/sengketa ini di hadapan Majelis BPSK Kabupaten Batu Bara sebagaimana yang termuat dalam surat Nomor 001/btpn/7563/0416, tertanggal 19 April 2016, Perihal: Penyelesaian Sengketa di BPSK Kabupaten Batu Bara Melalui Proses Mediasi, dan dilampiri dengan Surat dari Direktorat Jenderal Standardisasi dan Perlindungan Konsumen kepada Ketua Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) Kabupaten Batubara, Perihal: Penyelesaian Sengketa Konsumen Nomor 688/SPK.3.2/SD/12/
2015 tertanggal 31 Desember 2015, yang ditandatangani oleh Direktur Pemberdayaan Konsumen, dimana BPSK tidak memiliki wewenang (Kompetensi Absolut) untuk memeriksa dan memutus sengketa antara Pemohon Keberatan dengan Termohon Keberatan, sebagaimana disebutkan dalam pasal 3 point a, yang menerangkan bahwa: berdasarkan pasal 1338 KUHPerdata yang menyatakan bahwa perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi para pihak yang membuatnya. Oleh karena itu, jika di dalam perjanjian terdapat klausula yang menyatakan secara tegas bahwa apabila terjadi sengketa akan diselesaikan di Pengadilan Negeri maka para pihak dalam perjanjian harus menaati ketentuan tersebut seperti menaati undang-undang. Dengan demikian BPSK secara absolut tidak memiliki wewenang (kompetensi absolut) untuk menyelesaikan sengketa atas perjanjian tersebut;
Selain itu, diperkuat juga dengan Surat dari Badan Perlindungan Konsumen Nasional Republik Indonesia Nomor 06/BPKN/K.3/1/2016, tertanggal 19 Januari 2016, Perihal: Tanggapan Penganduan Bank BTPN tentang Penyelesaian Sengketa di BPSK Kabupaten Batu Bara, yang pada intinya isi surat tersebut adalah Badan Perlindungan Konsumen Nasional Republik Indonesia telah menegur/mengingatkan kepada Ketua BPSK Kabupaten Batu Bara yang pada pokoknya
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 12
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 13 dari 42 hal. Put. Nomor 1077 K/Pdt.Sus-BPSK/2016
mengenai dalam melaksanakan penanganan sengketa konsumen agar berpedoman kepada peraturan perundang-undangan;
Namun, penyelesaian sengketa ini tidak mendapatkan tanggapan atau perhatian yang baik dari Majelis BPSK Kabupaten Batu Bara, bahkan dalam pertimbangan hukum sama sekali tidak disinggung adanya surat yang nyata-nyata telah diterima oleh Majelis BPSK Kabupaten Batubara. Hal ini sangat jelas menunjukkan dan memperlihatkan bahwa Majelis BPSK Kabupaten Batu Bara tidak serius dalam menangani sengketa dan patut diduga seakan-akan terdapat suatu konspirasi yang menghendaki untuk menguntungkan pihak-pihak tertentu;
10. Bahwa, didalam diktum Putusannya Nomor 270/Pts/Arbitrase/BPSK- BB/III/2016 Tanggal 20 Juni 2016 pada point 3 halaman 6, yang menyatakan “Bahwa, Konsumen telah memilih penyelesaian sengketa dengan cara Arbitrase pada tanggal 28 April 2016 ...” telah membuktikan secara fakta bahwa pemilihan cara penyelesaian sengketa konsumen telah dilakukan tanpa dihadiri oleh Pemohon Keberatan dan hanya mendapatkan persetujuan dari Termohon Keberatan saja yang memilih penyelesaian sengketa konsumen melalui Arbitrase, sehingga dalam Putusan Arbitrase BPSK Kabupaten Batu Bara Nomor 270/Pts/Arbitrase/BPSK-BB/III/2016 Tanggal 20 Juni 2016 tersebut tidak terdapat fakta bahwa Pemohon Keberatan telah memilih atau memberikan persetujuan atas cara Arbitrase untuk menyelesaikan sengketa konsumen tersebut, hal ini telah melanggar ketentuan yang diatur dalam Pasal 4 ayat (1) Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan RI Nomor 350/MPP/KEP/12/2001 Tentang Pelaksanaan Tugas dan Wewenang Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen.
Sehingga pilihan Termohon Keberatan untuk menyelesaikan sengketa melalui Arbitrase di BPSK Kabupaten Batu Bara adalah cacat hukum;
Dengan demikian, berdasarkan fakta-fakta dan dasar hukum tersebut diatas, mohon Yang Mulia Majelis Hakim Pengadilan Negeri Pasir Pangaraian yang memeriksa dan mengadili perkara a quo untuk menyatakan membatalkan Putusan Arbitrase BPSK Kabupaten Batu Bara Nomor 270/Pts/Arbitrase/BPSK-BB/III/2016 Tanggal 20 Juni 2016;
E. Bukti-Bukti Tertulis yang diajukan oleh Termohon Keberatan Tidak Mempunyai Nilai Kekuatan Pembuktian Dalam Perkara A Quo
11. Bahwa, bukti yang diajukan ke Majelis BPSK Kabupaten Batu Bara dari Termohon Keberatan yang diberi tanda K 1 dan K 2 tidak ada satupun
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 13
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 14 dari 42 hal. Put. Nomor 1077 K/Pdt.Sus-BPSK/2016
bukti yang menguatkan mengenai Pemohon Keberatan telah menjual obyek jaminan Termohon Keberatan secara tidak benar dan tanpa sepengetahuannya, mengancam Termohon Keberatan, pemaksaan tandatangan dan pengambilan buku tabungan;
Berdasarkan fakta-fakta dan dasar-dasar hukum tersebut diatas, mohon Yang Mulia Majelis Hakim Pengadilan Negeri Pasir Pangaraian yang memeriksa dan mengadili perkara a quo untuk menyatakan secara tegas bukti-bukti tertulis sebagaimana diberi tanda K 1 dan K 2 yang diajukan oleh Termohon Keberatan tidak mempunyai nilai kekuatan pembuktian dalam perkara a quo;
Dengan demikian, berdasarkan fakta-fakta dan dasar hukum tersebut diatas, mohon Yang Mulia Majelis Hakim Pengadilan Negeri Pasir Pangaraian yang memeriksa dan mengadili perkara a quo untuk menyatakan membatalkan Putusan Arbitrase BPSK Kabupaten Batu Bara Nomor 270/Pts/Arbitrase/BPSK-BB/III/2016 Tanggal 20 Juni 2016;
F. Pertimbangan Hukum Majelis BPSK Kabupaten Batu Bara Dalam Putusan Arbitrase BPSK Kabupaten Batu Bara Nomor 270/Pts/Arbitrase/BPSK- BB/III/2016 Tanggal 20 Juni 2016 Tidak Cermat, Keliru Dan Bertentangan Dengan Hukum.
12. Bahwa, tidak benar dan tidak berdasarkan hukum sama sekali pertimbangan hukum Majelis BPSK Kabupaten Batu Bara dalam Putusan Arbitrase BPSK Nomor 270/Pts/Arbitrase/BPSK-BB/III/2016 Tanggal 20 Juni 2016, sebagai berikut:
- pada paragraf 2 halaman 7 yang menyatakan:
“... Majelis BPSK Kabupaten Batu Bara berpendapat bahwa Konsumen adalah pihak yang berkepentingan dan berhak untuk mendapatkan advokasi perlindungan konsumen secara patut sebagaimana dimaksud pada Pasal 1 ayat (2) dan Pasal 4 huruf (e) dan begitu juga Pelaku Usaha tidak mematuhi kewajibannya sebagaimana dimaksud Pasal 7 huruf (c) Undang-undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, sehingga majelis mempunyai kewenangan untuk memutus perkara ini”;
- pada paragraf 5 halaman 8 yang menyatakan:
“Menimbang, bahwa berdasarkan bunyi Pasal 7 huruf (c) Undang- Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen yang berbunyi “kewajiban Pelaku Usaha adalah memperlakukan
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 14
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 15 dari 42 hal. Put. Nomor 1077 K/Pdt.Sus-BPSK/2016
atau melayani Konsumen secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif”;
karena pada kenyataannya konsumen yang berhak untuk mendapatkan advokasi, perlindungan dan upaya Penyelesaian sengketa perlindungan konsumen secara patut adalah konsumen yang mempunyai itikad baik.
Dimana konsumen tersebut telah melaksanakan seluruh kewajibannya, tetapi hak-haknya tidak diberikan oleh Pelaku Usaha. Namun, dalam perkara ini, pada faktanya Termohon Keberatan (Konsumen) tidak melaksanakan kewajibannya sebagaimana telah diperjanjikan dalam Perjanjian Kredit, sehingga tidak termasuk dalam konsumen yang beritikad baik, sehingga sangat naif dan mengada-ada serta tidak berdasarkan hukum apabila BPSK Kabupaten Batu Bara berpendapat Termohon Keberatan (Konsumen) tersebut perlu mendapatkan advokasi dan perlindungan, padahal Pasal 6 huruf b Undang-undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen, memberikan perlindungan hukum kepada Pelaku Usaha (Pemohon Keberatan/
Penggugat) dari tindakan Konsumen (Termohon Keberatan/Tergugat) yang beritikad tidak baik;
Selanjutnya, Pemohon Keberatan telah memperlakukan/melayani Termohon Keberatan secara benar dan jujur dimana pada saat pengajuan permohonan kredit, perubahan terhadap perjanjian kredit (Top Up maupun Restrukturisasi) telah dipelajari, diteliti terlebih dahulu dan telah disepakati serta ditandatangani oleh Termohon Keberatan (tidak ada catatan dari Termohon Keberatan). Selain itu, Pemohon Keberatan juga tidak pernah membeda-bedakan (diskriminatif) terhadap semua konsumen/debiturnya termasuk kepada Termohon Keberatan/
Konsumen, hal ini dapat dilihat dari tindakan Pemohon Keberatan terhadap seluruh debitur/konsumennya yang telah wanprestasi, dimana Pemohon Keberatan/Pelaku Usaha akan melakukan pelelangan terhadap objek Jaminan kredit;
Dengan demikian, berdasarkan fakta-fakta dan dasar hukum tersebut diatas, mohon Yang Mulia Majelis Hakim Pengadilan Negeri Pasir Pangaraian yang memeriksa dan mengadili perkara a quo untuk menyatakan membatalkan Putusan Arbitrase BPSK Kabupaten Batu Bara Nomor 270/Pts/Arbitrase/BPSK-BB/III/2016 Tanggal 20 Juni 2016;
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 15
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 16 dari 42 hal. Put. Nomor 1077 K/Pdt.Sus-BPSK/2016
13. Bahwa, tidak benar dan tidak berdasarkan hukum sama sekali pertimbangan hukum Majelis BPSK Kabupaten Batu Bara dalam Putusan Arbitrase BPSK Nomor 270/Pts/Arbitrase/BPSK-BB/III/2016 Tanggal 20 Juni 2016, sebagai berikut:
- pada paragraf 3 halaman 7 yang menyatakan:
“Bahwa Pelaku Usaha tidak menghadiri persidangan Arbitrase pertama (I) dan kedua (II), walaupun telah dipanggil dengan Patut pada persidangan Arbitrase, sesuai Pasal 52 Huruf (g) Undang- Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, sehingga Majelis berpendapat bahwa Pelaku Usaha telah melepaskan haknya untuk bersidang di BPSK Kabupaten Batu Bara”
- pada paragraf 4 halaman 7 dan 8, yang menyatakan:
“Menimbang, bahwa tugas dan wewenang BPSK adalah melaksanakan penanganan dan Penyelesaian sengketa Konsumen dengan cara Mediasi atau Arbitrase atau Konsiliasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 huruf (a) dan huruf (c) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen serta dihubungkankan dengan Pasal 54 ayat (4) UU Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen Jo. Pasal 36 ayat 3 Kepmenperindag Nomor 350/MPP/Kep/12/2001 tentang pelaksanaan tugas dan wewenang BPSK, maka Majelis BPSK berwenang menyelesaikan sengketa ini walaupun tanpa kehadiran Pelaku Usaha dan tidak menandatangani Formulir Arbitrase tersebut”, karena pada faktanya Pemohon Keberatan telah hadir di pra sidang dengan menyampaikan, membacakan dan menyerahkan secara langsung penyelesaian permasalahan/sengketa ini di hadapan Majelis BPSK Kabupaten Batu Bara sebagaimana yang termuat dalam surat Nomor 001/btpn/7563/0416, tertanggal 19 April 2016, Perihal: Penyelesaian Sengketa di BPSK Kabupaten Batu Bara Melalui Proses Mediasi, dan dilampiri dengan Surat dari Direktorat Jenderal Standardisasi dan Perlindungan Konsumen kepada Ketua Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) Kabupaten Batubara, Perihal: Penyelesaian Sengketa Konsumen Nomor 688/SPK.3.2/SD/12/2015 tertanggal 31 Desember 2015, yang ditandatangani oleh Direktur Pemberdayaan Konsumen, dimana BPSK tidak memiliki wewenang (Kompetensi Absolut) untuk memeriksa dan memutus sengketa antara Pemohon Keberatan
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 16
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 17 dari 42 hal. Put. Nomor 1077 K/Pdt.Sus-BPSK/2016
dengan Termohon Keberatan, sebagaimana disebutkan dalam pasal 3 point a, yang menerangkan bahwa: berdasarkan pasal 1338 KUH.Perdata yang menyatakan bahwa perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi para pihak yang membuatnya. Oleh karena itu, jika di dalam perjanjian terdapat klausula yang menyatakan secara tegas bahwa apabila terjadi sengketa akan diselesaikan di Pengadilan Negeri, maka para pihak dalam perjanjian harus menaati ketentuan tersebut seperti menaati undang-undang. Dengan demikian BPSK secara absolut tidak memiliki wewenang (kompetensi absolut) untuk menyelesaikan sengketa atas perjanjian tersebut, serta diperkuat juga dengan Surat dari Badan Perlindungan Konsumen Nasional Republik Indonesia Nomor 06/BPKN/K.3/1/2016, tertanggal 19 Januari 2016, Perihal:
Tanggapan Penganduan Bank BTPN tentang Penyelesaian Sengketa di BPSK Kabupaten Batu Bara, yang pada intinya isi surat tersebut adalah Badan Perlindungan Konsumen Nasional Republik Indonesia telah menegur/mengingatkan kepada Ketua BPSK Kabupaten Batu Bara yang pada pokoknya mengenai dalam melaksanakan penanganan sengketa konsumen agar berpedoman kepada peraturan perundang-undangan;
Selain itu, Surat Panggilan Sidang Arbitrase tersebut menunjukkan bahwa majelis BPSK Kabupaten Batu Bara telah melanggar ketentuan yang diatur dalam Pasal 4 ayat (1) Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan RI Nomor 350/MPP/KEP/12/2001 Tentang Pelaksanaan Tugas dan Wewenang Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen, sehingga pilihan Termohon Keberatan untuk menyelesaikan sengketa melalui Arbitrase di BPSK Kabupaten Batu Bara adalah cacat hukum karena tidak ada persetujuan terlebih dahulu dari Pemohon Keberatan dan juga Majelis BPSK Kabupaten Batu Bara hanya dapat menyelesaikan sengketa yang memang menjadi wewenangnya berdasarkan pilihan Penyelesaian sengketa yang disetujui atau disepakati oleh Para Pihak yang bersengketa;
Bahwa, patut diduga penanganan perkara a quo seakan-akan terdapat suatu konspirasi yang menghendaki untuk menguntungkan pihak-pihak tertentu, sehingga Majelis BPSK Kabupaten Batu Bara melanjutkan pemeriksaan perkara ini secara arbitrase padahal syarat Penyelesaian melalui Arbitrase harus disetujui oleh kedua
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 17
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 18 dari 42 hal. Put. Nomor 1077 K/Pdt.Sus-BPSK/2016
belah pihak yang bersengketa yang dalam hal ini tidak mendapatkan persetujuan dari Pemohon Keberatan;
Dengan demikian, berdasarkan fakta-fakta dan dasar hukum tersebut diatas, mohon Yang Mulia Majelis Hakim Pengadilan Negeri Pasir Pangaraian yang memeriksa dan mengadili perkara a quo untuk menyatakan membatalkan Putusan Arbitrase BPSK Kabupaten Batu Bara Nomor 270/Pts/Arbitrase/BPSK-BB/III/2016 Tanggal 20 Juni 2016;
14. Bahwa, tidak benar dan tidak berdasarkan hukum sama sekali pertimbangan hukum Majelis BPSK Kabupaten Batu Bara dalam Putusan Arbitrase BPSK Nomor 270/Pts/Arbitrase/BPSK-BB/III/2016 Tanggal 20 Juni 2016 pada paragraf 6 halaman 8, yang menyatakan
“... sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 huruf g Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen ... dan lagi pula dihubungkan dengan bunyi Pasal 54 ayat (4) UU Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen Jo. Pasal 36 ayat 3 Kepmenperindag Nomor 350/MPP/Kep/12/2001 ... sehingga gugatan Konsumen patut dikabulkan seluruhnya” dikarenakan pada kenyataannya penyelesaian sengketa melalui Arbitrase di BPSK Kabupaten Batu Bara tersebut adalah cacat hukum karena tidak ada persetujuan terlebih dahulu dari Pemohon Keberatan dan selain itu, kedua pasal tersebut diatas tidak ada korelasinya dan mengatur hal yang saling berbeda. Selanjutnya seperti yang telah Pemohon Keberatan jelaskan di dalil-dalil sebelumnya bahwa dengan tidak ditanggapinya pertimbangan melalui surat dari Pemohon Keberatan tersebut dan bahkan meneruskan pemeriksaan perkara secara arbitrase yang tidak mendapatkan persetujuan dari Pemohon Keberatan, maka seakan-akan terdapat suatu konspirasi yang menghendaki untuk menguntungkan pihak-pihak tertentu;
Bahwa, pertimbangan Majelis BPSK Kabupaten Batu Bara tersebut di atas khususnya mengenai fakta riil adanya perjanjian kredit dengan jaminan adalah keliru dan nyata-nyata tidak sempurna didalam mempertimbangkan hukum terkait dan yang melingkupinya. Majelis BPSK Kabupaten Batu Bara tidak mempertimbangkan adanya kenyataan peristiwa, perbuatan dan hubungan hukum Perjanjian Kredit beserta Syarat dan Ketentuan Umum Pemberian Fasilitas Kredit (“SKUPK”). Selain itu, Majelis BPSK Kabupaten Batu Bara juga tidak
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 18
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 19 dari 42 hal. Put. Nomor 1077 K/Pdt.Sus-BPSK/2016
mempertimbangkan bahwa permasalahan antara Termohon Keberatan/
Konsumen dengan Pemohon Keberatan/Pelaku Usaha merupakan sengketa keperdataan murni yang terdapat adanya peristiwa dan perbuatan hukum pemberian kredit dengan jaminan yang ternyata telah terdapat kualifikasi debitur ”wanprestasi”. Berdasarkan Duduk Perkara yang disampaikan oleh Termohon Keberatan/Konsumen yaitu Konsumen mulai macet sejak bulan Juni 2014 adalah secara nyata dan jelas Termohon Keberatan telah melakukan Perbuatan Ingkar Janji (Wanprestasi) yaitu tidak membayar angsuran kepada Pemohon Keberatan sesuai kesepakatan yang sudah tertuang dalam Perjanjian Kredit dan Syarat dan Ketentuan Umum Pemberian Fasilitas Kredit dan selain itu jika dikaitkan dengan Yurisprudensi Mahkamah Agung RI Nomor 42K/Pdt.Sus/2013, Putusan Mahkamah Agung Nomor 94K/Pdt.Sus/2012 dan Putusan Mahkamah Agung Nomor 208K/Pdt.Sus/2012 yang mengandung kaidah hukum ”bahwa BPSK tidak berwenang untuk mengadili sengketa Perdata tentang Wanprestasi (ingkar janji) karena terhadap sengketa Perdata yang berkaitan dengan Wanprestasi bukan termasuk dalam ruang lingkup tugas dan kewenangan BPSK untuk menyelesaikannya sebagaimana termuat dalam ketentuan Pasal 52 UU Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen Jo. Pasal 3 Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Republik Indonesia Nomor 350/MPP/Kep/12/2001”, Atas hal tersebut diatas, semakin memperjelas bahwa BPSK Kabupaten Batu Bara tidak berwenang untuk memeriksa dan mengadili perkara/sengketa aquo, maka ketentuan penjualan atas barang jaminan menjadi melekat, di samping itu juga tidak dipertimbangan nilai suatu azas hukum dari perikatan yang timbul karena perjanjian memiliki konsekuensi hukum adanya azas konsensualisme bagi yang membuatnya (Pemohon Keberatan/Pelaku Usaha dengan Termohon Keberatan/Konsumen);
Bahwa, pertimbangan Majelis BPSK Kabupaten Batu Bara dalam perkara a quo yang demikian nyata nyata bertentangan dengan azas keabsahan suatu akta outentik (Presumptio Iustae Causa – Vermoeden van rechtmatigheid). Nyata nyata Perjanjian Kredit beserta Syarat dan Ketentuan Umum Pemberian Fasilitas Kredit telah ditandatangani secara sadar dan disepakati oleh para pihak, sehingga sah pula pernyataan kehendak bersama tersebut dan perbuatan hukumnya telah
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 19
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 20 dari 42 hal. Put. Nomor 1077 K/Pdt.Sus-BPSK/2016
berlangsung. Karenanya Termohon Keberatan hanyalah mencari-cari alasan dan keuntungan semata yang bertentangan dengan prinsip keadilan, kemanfaatan dan kepastian hukum sehingga untuk dikategorikan sebagai pihak Konsumen yang dirugikan adalah tidak benar. Dalil pertimbangan hukum Majelis BPSK Kabupaten Batu Bara tersebut tidak dapat dipergunakan untuk membatalkan perjanjian kredit (Vide: Yurisprudensi Mahkamah Agung RI. Nomor 702 K/Sip/1973 Tanggal 5 September 1973);
Dengan demikian, berdasarkan fakta-fakta dan dasar hukum tersebut diatas, mohon Yang Mulia Majelis Hakim Pengadilan Negeri Pasir Pangaraian yang memeriksa dan mengadili perkara a quo untuk menyatakan membatalkan Putusan Arbitrase BPSK Kabupaten Batu Bara Nomor 270/Pts/Arbitrase/BPSK-BB/III/2016 Tanggal 20 Juni 2016;
15. Bahwa, tidak benar dan tidak berdasarkan hukum sama sekali pertimbangan hukum Majelis BPSK Kabupaten Batu Bara dalam Putusan Arbitrase BPSK Nomor 270/Pts/Arbitrase/BPSK-BB/III/2016 Tanggal 20 Juni 2016, pada paragraf 7 halaman 8, yang menyatakan
“...harus ada penyelesaian atau keputusan oleh BPSK, apalagi konsumen telah memilih arbitrase berdasarkan surat pernyataan memilih penyelesaian sengketa melalui Arbitrase pada tanggal 16 Oktober 2015” karena bagaimana mungkin berdasarkan Duduk Perkara dalam Putusan Arbitrase BPSK Nomor 270/Pts/Arbitrase/BPSK- BB/III/2016 Tanggal 20 Juni 2016, Termohon Keberatan/Konsumen mengajukan Gugatan pada tanggal 8 Maret 2016, namun Termohon Keberatan/konsumen telah memilih arbitrase berdasarkan surat pernyataan memilih penyelesaian sengketa melalui Arbitrase pada tanggal 16 Oktober 2015. Hal ini patut diduga adanya rekayasa Kasus yang merupakan suatu kebohongan yang menyesatkan dan sesuatu penyesatan yang ada dalam sengketa ini dan dan patut diduga juga seakan-akan terdapat suatu konspirasi yang menghendaki untuk menguntungkan pihak-pihak tertentu;
Bahwa, disisi lain berdasarkan Pasal 4 ayat (1) Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan RI Nomor 350/MPP/KEP/12/2001 Tentang Pelaksanaan Tugas dan Wewenang Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen mengatur “Penyelesaian sengketa konsumen oleh BPSK dengan cara Mediasi atau, Konsiliasi atau Arbitarse sebagaimana dimaksud Pasal 3 huruf a dilakukan atas dasar pilihan dan persetujuan
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 20