• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jurnal Al-Taujih Bingkai Bimbingan dan Konseling Islami

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Jurnal Al-Taujih Bingkai Bimbingan dan Konseling Islami"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

Jurnal Al-Taujih

Volume 7 No. 1 Januari - Juni 2021 Hal 29-37p-ISSN : 2502-0625, e-ISSN : 2715-7571 Bingkai Bimbingan dan Konseling Islami https://ejournal.uinib.ac.id/jurnal/index.php/attaujih/ PENGARUH BIMBINGAN KELOMPOK TEKNIK DISKUSI TERHADAP

KEMAMPUAN INTERAKSI SOSIAL REMAJA Ayu Intan Delima & Citra Ayu Kumala Sari*

Email: [email protected] IAIN Tulungagung

Abstract : The research was carried out based on field facts which showed that adolescents have

low social interaction skills. This problem makes them less optimal in interacting with other people, both family and peers. This study aims to determine the social interactions of adolescents before being given treatment, and to determine the social interactions of adolescents after being given treatment. In this study, the approach used was a quantitative experimental approach with a pre-test post-test control group design. This design is a design that consists of two different groups, namely the control group and the experimental group. In this study, the data collection technique used was an instrument in the form of a social interaction questionnaire. The hypothesis test used is the independent sample t test. Testing this hypothesis using the help of the SPSS version 20 application. The results obtained in this study indicate that the discussion engineering group guidance can improve social interaction in adolescents. These results can be proven from the results of the SPSS which indicate that the value of the hypothesis is 0.001 <0.05. Based on these results it can be concluded that HA hypotheses are accepted and Ho is rejected, it is defined that this research can increase the social interaction of teenagers in Semanding Hamlet.

Keywords: Group Guidance; Discussion Technique; Social Interaction Skills

Abstrak : Penelitian dilaksanakan berdasarkan pada fakta lapangan yang menunjukkan bahwa para remaja memiliki kemampuan interaksi sosial yang rendah. Permasalahan ini membuat mereka kurang optimal dalam melakukan interaksi dengan orang lain baik dengan keluarga, maupun teman sebaya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui interaksi sosial para remaja sebelum diberikan perlakuan, dan untuk mengetahui interaksi sosial remaja setelah diberikan perlakuan. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian adalah pendekatan kuantitatif ekperimen dengan desain penelitian pre-test post-test control group design. Desain ini adalah desain yang terdiri dari dua kelompok yang berbeda yaitu kelompok kontrol dan kelompok ekperimen. Pada penelitian ini teknik pengumpulan data yang digunakan adalah instrumen berupa angket interaksi sosial. Uji hipotesis yang digunakan adalah uji independent sampel t test. Pengujian hipotesis ini dengan menggunakan bantuan aplikasi SPSS versi 20. Hasil yang didapat pada penelitian ini menunjukkan bahwa bimbingan kelompok teknik diskusi dapat meningkatkan interaksi sosial pada remaja. Hasil ini dapat dibuktikan dari hasil SPSS yang menunjukkan bahwa nilai hipotesis sebesar 0,001<0,05. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa hipotesis Ha diterima dan Ho ditolak, diartikan bahwa penelitian ini dapat meningkatkan interaksi sosial para remaja di dusun Semanding.

(2)

A. PENDAHULUAN

Individu adalah bagian terkecil yang ada didalam lapisan masyarakat. Individu sebagai makhluk sosial yang mana mereka selalu melakukan proses sosial berupa interaksi sosial dengan sesama individu maupun kelompok lain didalam masyarakat (Walgito, 2003: 57). Manusia adalah makhluk sosial artinya adalah tidak dapat hidup sendirian dan pasti membutuhkan bantuan orang lain. Sehingga sudah dipastikan bahwa manusia pasti akan menjalin sebuah hubungan dengan orang lain dalam usaha untuk memenuhi kebutuhannya. Interakasi sosial adalah suatu kebutuhan yang harus dipenuhi oleh setiap individu. Walgito (2003: 58) juga mengatakan bahwa antara lingkungan dan individu akan terus terjadi interaksi, sehingga perilaku individu yang muncul juga tidak dapat terlepas dari lingkungannya.

Interaksi sosial disini dapat kita artikan sebagai hubungan antara individu dengan individu, individu dengan kelompok, maupun kelompok dengan kelompok, yang mana didalam hubungan tersebut terdapat timbal balik antara kedua pihak. Menurut Binti Maunah interaksi sosial dapat dilakukan secara langsung (bertatap muka) maupun tidak langsung. Interaksi sosial dapat terjalin jika terdapat dua syarat didalamnya pertama, kontak langsung antar dua belak pihak dan kedua, adanya suatu komunikasi yang terjalin dapat berupa pembicaraan, sikap, dan lain-lain (Maunah, 2016: 8).

Interaksi sosial adalah hal penting yang pasti dan harus dilakukan oleh individu maupun kelompok. Jika interaksi tidak

berjalan maka akan menimbulkan

keterasingan. Arief (kompasiana, 19/11/2019) menyatakan bahwa "Jika proses sosial tidak terjadi secara maksimal akan menyebabkan terjadinya kehidupan yang terasing. Faktor yang menyebabkan kehidupan terasing misalnya sengaja dikucilkan dari lingkungannya, mengalami cacat, pengaruh perbedaan ras, dan perbedaan budaya”. Pentingnya sebuah interaksi juga di perlukan didalam lingkungan pendidikan, lingkungan masyarakat sekitar maupun didalam keluarga itu sendiri.

Contoh interaksi yang terjadi seperti interaksi yang terjalin antara guru dengan siswa, remaja dengan remaja, maupun siswa kepada seluruh warga yang ada disekolah. Interaksi sosial disini berperan sangat penting dalam mendukung perkembangan anak saat berada di lingkungannya. Selain interaksi antara guru dengan siswa maupun remaja dengan orang yang lebih tua, yang tidak kalah penting adalah interaksi antar sesama remaja. Interaksi antar remaja ini akan menunjang terjadinya proses pembelajaran. Septiandi menuliskan bahwa interaksi sosial dalam proses pembelajaran merupakan hal yang penting dan diperlukan. Interaksi juga akan membantu remaja dalam mengembangkan kemampuan bahasa dan kemampuan sosial mereka (kompasiana, 19/11/2019).

Dalam lingkungan pendidikan maupun lingkungan masyarakat setiap individu mempunyai kemampuan yang berbeda khususnya dalam melakukan interaksi sosial. Jika individu yang mempunyai kemampuan interaksi sosial yang baik, maka ia akan mudah beradaptasi dalam lingkungannya. Akan tetapi, jika individu mempunyai kemampuan interaksi sosial yang rendah maka ia akan mengalami hambatan dalam penyesuaikan diri, sehingga akan berakibat pula kepada pergaulannya. Selain hal tersebut individu yang mempunyai kemampuan interaksi yang rendah akan cenderung diam dan tidak mempunyai teman. Kurangnya kemampuan interaksi ini membuat individu merasa terasingkan, dan kemudian hal ini dapat menimbulkan perilaku perundungan dari individu lainnya kepada individu yang dianggap lebih diam dan kurang mempunyai teman (Pratiwi, jurnal pendidikan guru SD, 2016: 143).

Adanya kasus tersebut dikarenakan kurangnya kemampuan interaksi sosial yang baik dari individu. Berangkat dari fenomena tersebut, maka beberapa dampak dari kurangnya interaksi sosial akan muncul, antara lain akan berdampak pada dirinya maupun lingkungannya. Menurut Putri Septiani, seseorang yang belum bisa berinteraksi dengan baik akan berdampak besar terhadap kenyamanan, kondisi kejiwaan,

(3)

kesulitan dalam mengemukakan pendapat, kemauan tampil didepan umum, dan mengganggu prestasi belajar. Dengan kondisi seperti ini, maka mereka akan sulit diterima di dalam lingkungannya (kompasiana, 14/11/2019).

Jika kita lihat secara sekilas, orang yang mempunyai tingkat interaksi sosial tinggi dan rendah tidak begitu nampak perbedaannya. Perlu kita pahami lagi secara mendalam apakah seorang individu mempunyai tingkat interaksi tinggi atau rendah. Dalam membedakan kedua hal tersebut dapat kita lihat dari beberapa ciri-ciri yang muncul dari masing-masing individu dalam kehidupan sosialnya. Ciri-ciri interaksi sosial yang rendah ditunjukkan dengan perilaku berikut, pertama individu akan cenderung lebih diam. Kedua bersikap acuh dalam banyak hal terutama dalam komunikasi antar teman. Ketiga, tidak tanggap terhadap kontak sosial yang diberikan.

Keempat, individu merasa malu untuk bergaul maupun berbicara didepan umum. Kelima, minder terhadap orang lain dan tidak mempercayai kemampuan diri sendiri. Keenam, kesulitan untuk bergaul dengan teman yang lain. Ketujuh, mempunyai teman yang terbatas. Kedelapan, mempunyai kebiasaan menyendiri dan tidak bergitu suka berinteraksi dengan individu lainnya. Kesembilan, jarang berkomunikasi dengan sesama teman atau jarang bertegur sapa dengan individu lain. Kesepuluh, saat menyampaikan pendapat maupun berbicara dengan orang lain selalu meminta bantuan dari orang lain, dan gugup jika harus berbicara sendiri (Andarbeni, Jurnal BK Unesa 4, 2013: 291).

Ciri-ciri yang telah dijelaskan di atas juga disebutkan oleh Homans dalam bukunya Santosa yang menyebutkan bahwa dalam melihat tinggi rendahnya interaksi sosial dapat dilihat dari enam aspek. Aspek-aspeknya yaitu adanya tujuan dan motif yang sama dalam membuat kelompok, memilik suasana emosional yang sama atau pandangan yang sama dalam menghadapi permasalahan, adanya interaksi dan aksi antar anggota didalam kehidupan berkelompok, adanya

proses segitiga yaitu sebuah kelompok akan membentuk piramida yang mana pemimpin kelompok menempati tempat paling tinggi di sistem piramida tersebut, adanya sistem eksternal yaitu suatu proses penyesuaian diri secara keseluruhan yang dilakukan individu didalam sebuah kelompok secara terus menerus, dan yang terakhir adalah adanya sistem internal yaitu suatu hasil yang diperoleh individu selama proses penyesuaian di lingkunganya (Santosa, 2014: 184).

Dalam kenyataannya memang tidak semua individu dapat melakukan interaksi dengan baik. Fenomena seperti ini dapat penulis temukan pada observasi yang telah dilakukan di dusun yang ada di kabupaten Nganjuk. Dalam observasi tersebut peneliti menemukan beberapa fakta, fakta-fakta ini jelas berbeda dengan teori-teori yang ada. Fakta tersebut seperti ada beberapa anak terlihat sering menyendiri, sering berdiam diri dirumah, jarang melakukan interaksi dengan orang lain, ketika bertemu dengan tetangga dan orang yang lebih tua mereka memilih diam daripada menyapa maupun tersenyum. Kurangnya interaksi sosial yang ada pada remaja-remaja ini juga dilihat dari sedikitnya teman yang mereka miliki. Saat berada dilingkungan masyarakat mereka cenderung lebih senang dirumah dan berinteraksi dengan keluarganya saja (observasi, 15/08/2020).

Selain observasi, peneliti juga melakukan wawancara dengan beberapa remaja di dusun Semanding. Narasumber mengatakan bahwa terdapat beberapa teman yang ia kenal sering menunjukkan perilaku menyendiri, hal ini terjadi bukan hanya dilingkungan sekolah akan tetapi terjadi juga saat berada dilingkungan masyarakat sekitar rumahnya. Mereka juga cenderung acuh terhadap sesama teman yang ada disekitar rumah, ketika melihat teman yang mengalami kesulitan anak ini cenderung acuh tidak menanyai maupun membantu teman yang mengalami kesulitan. Ketika ada kesulitan dalam tugas sekolah maupun tugas yang lain remaja-remaja ini memilih diam dari pada bertanya pada orang lain. Hal yang terjadi ini sangatlah berbeda dengan norma yang di

(4)

ajarkan didalam masyarakat itu sendiri (wawancara, 18/08/2020).

Aspek-aspek yang telah disebutkan oleh Homans di atas juga digunakan sebagai acuan

dalam melihat fenomena yang ada

dilingkungan. Fenomena yang ada

dilingkungan menunjukkan bahwa terdapat penyimpangan dalam interaksi sosial para remaja yang ada di dusun tersebut. Kemampuan interaksi sosial yang mereka miliki tidak sesuai dengan teori yang ada. Sikap malu untuk bertanya kepada orang lain dan sikap acuh untuk membantu ketika melihat teman yang mengalami kesusahan. Sikap-sikap inilah yang berbeda dengan teori yang dicetuskan oleh Homans yang berbunyi bahwa dalam interaksi sosial terjadi jika terdapat interaksi dan aksi antar individu. Penyesuaian diri para remaja yang ada di dusun ini juga dikatakan kurang. Hal ini berbeda dengan teori Homans yang menjelaskan bahwa para individu itu selalu melakukan penyesuaian diri didalam lingkungannya secara menyeluruh. Sehingga mendapatkan hasil yang baik yaitu, dapat memahami setiap anggota kelompok serta dapat menyesuaikan diri dengan para anggota kelompok (Santosa, 2014: 184).

Kurangnya kemampuan interaksi sosial

pada individu akan menghambat

perkembangannya dalam menempuh

pendidikan maupun dalam kehidupan sehari-hari. Hambatan yang dapat muncul seperti seorang individu cenderung tidak percaya diri saat melontarkan pendapat, hal ini dikarenakan individu tersebut cenderung tidak percaya akan pendapatnya. Hambatan kedua, seperti individu cenderung tidak menyanggupi tugas yang diberikan oleh guru maupun orang yang lebih tua. Contohnya seperti kerjasama antar individu, jika individu tidak melakukan kerjasama maupun bergabung dengan individu lainnya maka individu tersebut akan mengalami kesulitan untuk memahami pelajaran dan akan berdampak pada turunnya prestasi dan kurangnya pengetahuan (Hermawati dan Suherman, jurnal of innovatif counseling, 1, Agustus 2017: 24-25).

Kurangnya kemampuan interaksi sosial menimbulkan perilaku perundungan. Paling

sering perundungan muncul dikarenakan individu yang mempunyai kesulitam dalam bergaul di lingkungannya. Individu-individu yang menunjukkan perilaku serta penampilan yang berbeda dari individu lainnya akan mengalami hal tersebut. Perundungan yang sering dilakukan adalah perilaku perundungan verbal dari pada bentuk perundungan yang lain. Perundungan verbal ini merupakan perundungan lewat ucapan atau perkataan yang menyakitkan seperti menyindir, menyebarkan gosip yang tidak benar, melabrak, dan lain-lain. Perundungan ini mempunyai efek panjang dan melekat sampai dewasa (Tumon, Jurnal IMUS, 2014: 7).

Interaksi sosial adalah kemampuan yang penting untuk dimiliki, jika seseorag memiliki interaksi sosial yang rendah maka harus dirubah dan ditingkatkan agar individu dapat berkembang secara optimal, sebagaimana yang diketahui oleh penulis bahwa banyak peneliti yang telah melakukan usaha-usaha dalam meningkatkan kemapuan interaksi sosial. Seperti salah satu penelitian milik Yulisa Nitami. Pada penelitian tersebut Yulisa menggunakan bimbingan kelompok teknik bermain peran untuk meningkatkan kemampuan interaksi sosial pada siswa kelas X yag tergolong rendah. Berdasarkan hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa bimbingan kelompok teknik bermain peran efektif untuk meningkatkan interaksi sosial para siswa (Nitami, Skripsi, 2018: 114).

Bimbingan kelompok sendiri diartikan sebagai suatu perkumpulan antara beberapa orang yang membentuk kelompok, dan didalam kelompok tersebut terdapat suatu proses pemberian bantuan. Proses tersebut bertujuan untuk mencegah terjadinya permasalahan, mengembangkan potensi yang dimiliki oleh setiap anggota kelompok dan memecahkan masalah (Romlah, 2001: 3). Dalam penelitian lain yang dilakukan oleh Kadek Suhardita mengenai penerapan bimbingan kelompok, yang menggunakan variabel percaya diri sebagai variabel terikat, didapatkan hasil yang signifikan terhadap perubahan variabel percaya diri setelah diberikan layanan bimbingan kelompok

(5)

(Suhardita, Jurnal BK, No. 1, Agustus 2011: 127).

Dalam bimbingan kelompok terdapat banyak teknik, salah satunya teknik diskusi kelompok. Diskusi kelompok dapat diartikan sebagai suatu teknik yang berupa sebuah percakapan yang telah direncanakan sebelumnya dan bertujuan untuk memecahkan permasalahan yang ada (Romlah, 2001: 98). Membahas mengenai teknik diskusi, teknik diskusi merupakan suatu teknik yang banyak dipergunakan dalam penelitian. Salah satu penelitian terdahulu yang menerapkan teknik diskusi kelompok adalah penelitian dari Eresia Lamajau. Penelitian ini menunjukkan hasil bahwa teknik diskusi kelompok dapat meningkatkan hasil belajar bahasa Indonesia dari siswa kelas V SD (Lamajau, Jurnal Kreatif Online, vol. 5 No. 1. 2014: 208).

Berdasarkan hasil dari beberapa penelitian tersebut diharapkan semua individu dapat mengikuti layanan ini serta mereka dapat saling bertukar pendapat, saling berbagi pengalaman, dan dapat terpengaruhi pemikirannya menuju kearah yang lebih baik lagi. Dari diskusi kelompok diharapkan anggotan kelompok dapat belajar untuk meningkatkan kemampuan interaksi sosial antar individu, dan individu-individu ini dapat berkembang sesuai dengan tahapan perkembangannya tanpa mengalami hambatan yang berarti. Berdasarkan fakta dan penjelasan tersebut, maka peneliti melakukan penelitian tentang Pengaruh Bimbingan Kelompok Teknik Diskusi Terhadap Kemampuan Interaksi Sosial pada Remaja di

Dusun Semanding Desa Tempuran

Kecamatan Ngluyu Nganjuk.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada pengaruh penerapan bimbingan kelompok teknik diskusi terhadap kemampuan Interaksi sosial remaja.

B. METODE PENELITIAN

Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif experimen, dimana

merupakan suatu pendekatan yang

dilaksanakan untuk mengetahui pengaruh dari pemberian perlakuan. Pada pendekatan ini peneliti tidak dapat mengontrol

variabel-variabel yang mungkin mempengaruhi secara langsung, hal ini dikarenakan penelitian ini masuk kedalam penelitian semu ekperimen, dan karakteristiknya tidak dapat dikontrol secara langsung (Sugiono, 2016: 11).

Desain yang digunakan dalam

penelitian adalah pretest postest control group, desain ini merupakan sebuah desain yang terdiri dari dua kelompok yaitu kelompok ekperimen (yang mendapatkan perlakuan) dan kelompok kontrol (sebagai pengontrol dan pembanding) (Soehartono, 2004: 44).

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh remaja yang ada di didusun Semanding desa Tempuran Ngluyu Nganjuk. Dusun semanding terdiri dari RT 6, RT 7, RT 8, dan RT 9. Populasi yang diambil dari penelitian ini berjumlah 37 orang. Jenis teknik pengambilan sampel yang yang diguankan adalah purposif sampling, yaitu pengambilan sampel sesuai dengan karakteristik tertentu (Martono, 2011: 79). Sampel yang di ambil dalam penelitian ini adalah berjumlah 10 orang.

Teknik yang dipilih untuk pengambilan data adalah angket interaksi sosial. Angket ini di kembangkan dari teori Homans yang terdiri dari aspek mempunyai motif yang sama, adanya suasana emosional yang sama, adanya interaksi dan aksi antara kedua belah pihak, serta sistem internal atau proses penyesuaian diri dan sistem eksternal yaitu hasil dari penyesuaian diri setiap individu dalam kelompok (Santosa, 2014: 184).

Data dianalisa mengunakan uji normalitas. Uji normalitas merupakan suatu uji yang dilakukan untuk mengetahui sebaran data berdistribusi normal atau tidak (Priyatno, 2008: 16). Selanjutnya dilakukan uji homogenitas untuk mengetahui apakah dalam satu populasi memiliki varian data yang sama (homogen) atau tidak (Priyatno, 2008: 16). Setelah uji syarat diatas maka dilakukan pengujian untuk menganalisis hipotesis dengan uji independen sampel t test berbantuan aplikasi SPSS. Pengujian ini digunakan untuk membandingkan rata-rata untuk dua populasi yang berbeda (Fairuzry, 2017: 1077).

(6)

C. HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Deskripsi Data Penelitian

Berdasarkan analisis data penelitian ditemukan adanya perbedaan hasil pretes dan

postest yang dilakukan pada remaja di Dusun

Semanding. Hal ini menunjukan bahwa terdapat kenaikan nilai angket pada subyek sebelum dan sesudah diberikan perlakuan. Para subyek mengalami peningkatan dari kategori rendah menjadi kategori sedang. Hasil analisa data dapat dilihat pada tabel 1.

Tabel 1 Hasil peningkatan skor angket

Kelom

pok Subyek Skor KategoPre test Post test ri Skor Kategori Ekperi men RS 75 Rendah 101 Sedang AM 75 Rendah 113 Sedang CN 71 Rendah 96 Sedang TA 73 Rendah 108 Sedang SA 66 Rendah 99 Sedang Kontrol SI 74 Rendah 81 Rendah AD 75 Rendah 79 Rendah FI 76 Rendah 78 Rendah MD 75 Rendah 85 Rendah AE 74 Rendah 76 Rendah Berdasarkan tabel 1 terlihat kenaikan skor pretest dan posttest kelas eksperimen kenaikan lebih besar dibandingkan dengan kenaikan pada kelas kontrol.

2. Uji Prasyarat Analisis Data

Pengujian hipotesis dapat dilakukan setelah melakukan uji syarat sebagai tahap awal. Uji syarat ini terdiri dari uji normalitas dan uji homogenitas. Hasil uji normalitas dapat dilihat pada tabel 2 dan hasil uji homogenitas dapat dilihat pada tabel 3.

Tabel 2. Hasil uji normalitas

Unstandardize d Residual

N 10

Normal

Parametersa,b MeanStd. Deviation 12,881414480E-7

Most Extreme Differences Absolute ,177 Positive ,177 Negative -,125 Kolmogorov-Smirnov Z ,559

Asymp. Sig. (2-tailed) ,914 a. Test distribution is Normal.

b. Calculated from data.

Berdasarkan tabel 2 diketahui bahwa nilai Sig. tailed) sebesar 0,914. Nilai Sig. (2-tailed) lebih besar dari 0,05 sehingga dapat disimpulkan nilai residual terdistribusi secara normal.

Tabel 3 Uji homogenitas

Test of Homogeneity of Variances Levene Statistic df1 df2 Sig. 4,240 1 8 ,073

Berdasarkan tabel 3 diperoleh nilai sig pada uji homogenitas sebesar 0,073. Nilai ini lebih besar dari 0,05. Sehingga dapat disimpulkan bahwa data mempunyai variasi yang sama atau homogen. Setelah uji normalitas dan homogenitas data terpenuhi maka data penelitian dapat dilajutkan pada tahap pengujian hipotesis. Hipotesis diuji

dengan mengunakan independent t test .

Setelah dilakuan uji t didapatkan hasil nilaisig (2-tailed) sebesar 0,001. Nilai ini jauh lebih kecil dari 0,05. berdasarkan hasil pengujian ini dapat disimpulkan bahwa hipotesis Ho ditolak

dan Ha diterima. Sehingga diperoleh

pernyataan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara rata-rata hasil angket pada

kelompok ekperimen dan kontrol. Artinya

terdapat peningkatan dan perbedaan yang signifikan terhadap kemampuan interaksi sosial remaja.

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa ada beberapa remaja di dusun Semanding yang memiliki kemampuan interaksi sosial rendah. Permasalahan ini membuat para remaja mengalami kesulitan dalam menjalankan tugas perkembangannya. Mereka berisiko gagal atau kurang maksimal dalam menjalankan tugasnya sebagai makhluk sosial yang hidup ditengah masyarakat. Remaja yang memiliki kemampuan interaksi sosial rendah cenderung menunjukkan ciri-ciri seperti tidak mempunyai keinginan untuk berkomunikasi dengan orang lain, cenderung lebih diam, acuh terhadap orang lain yang ada disekitar lingkungannya.

Permasalahan ini berbanding terbalik dengan norma-norma yang ada dimasyarakat sekitar. Masyarakat lebih mengutamakan

(7)

remaja yang mempunyai tata krama yang baik, mempunyai sopan santun dan selalu menyapa kepada orang lain terutama kepada yang lebih tua. Hal ini sejalan dengan apa yang diungkapkan Andarbeni dalam penelitiannya. Jika seseorang memiliki interaksi sosial yang rendah maka mereka akan menunjukkan ciri-ciri seperti cenderung lebih diam, bersikap cuek terhadap orang lan, tidak tanggap terhadap kontak sosial, mempunyai sikap pemalu, bersikap minder dan tidak percaya diri, sulit untuk bergaul, mempunyai teman yang terbatas, mempunyai kebiasaan menyendiri, jarang berkomunikasi, dan gugup

ketika menyampaikan pendapatnya

(Andarbeni, Jurnal BK Unesa, 2013: 291). Rendahnya interaksi sosial disebabkan beberapa faktor yaitu kurangnya orang tua dalam memberikan contoh yang baik kepada anak-anaknya mengenai norma atau tata cara untuk hidup dalam bermasyarakat. Selain itu juga disebabkan oleh kurangnya dorongan dari orang tua sehingga anak remajanya merasa acuh dan tidak peduli terhadap

keadaan disekitar. Maunah juga

mengungkapkan hal yang sama dengan penjelasan di atas, salah satu faktor yang mempengaruhi interaksi sosial adalah motivasi. Motivasi dapat kita maknai sebagai suatu usaha yang dilakukan untuk mendorong dan mempengaruhi orang lain untuk melakukan sesuatu. Ada pula beberapa faktor penting yang dapat mempengaruhi interaksi sosial antara lain yaitu seperti imitasi, sugesti, motivasi, identifikasi, simpati, dan empati (Maunah, 2016: 18).

Selain hal tersebut rendahnya interaksi sosial juga dipengaruhi faktor kurangnya kemampuan untuk bergaul. Kurangnya kemampuan ini menyebabkan para subyek memiliki teman yang sedikit. Hal ini menyebabkan para subyek kurang dalam melakukan peniruan didalam kehidupan sosialnya. Peniruan ini dapat kita contohkan seperti cara berterimakasih terhadap orang lain, cara memberi hormat kepada orang yang lebih tua dan lain-lain. Penjelasan ini sesuai dengan penjabaran Soekanto dalam bukunya (Soekanto, 2007: 54), Soekanto menjelaskan bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi

interaksi sosial adalah imitasi. Imitasi dapat kita artikan sebagai suatu kegiatan meniru, baik meniru perilaku, gaya bahasa, maupun tindakan orang lain.

Jika permasalahan mengenai rendahnya interaksi sosial ini dibiarkan dan berlangsung lama, maka akan menimbulkan beberapa dampak. Salah satunya adalah munculnya kasus perundungan bagi para remaja yang memiliki kemampuan interaksi sosial rendah. Kasus tersebut muncul karena remaja-remaja ini dipandang berbeda dari individu lainnya, mereka terlihat cenderung pendiam dan tidak banyak memiliki teman. Hal ini sesuai dengan penelitian Pratiwi yang menyebutkan bahwa individu yang mempunyai kemampuan interaksi sosial yang rendah akan membuat mereka merasa terasing dan menimbulkan perilaku perundungan dari individu lainnya (Pratiwi, jurnal pendidikan guru SD, 2016: 143).

Perilaku perundungan yang sering terjadi adalah perundungan verbal. Perundungan verbal ini berupa ucapan seperti mengejek dan mengolok-ngolok, mengunjing. Berdasarkan kaitan dengan penjelasan ini Tumon dalam jurnalnya (Jurnal IMUS, 2014:7) juga menjelaskan bahwa kurangnya kemampuan interaksi sosial dapat menimbulkan perilaku perundungan. Perilaku perundungan yang sering terjadi didalam lingkungan adalah perundungan verbal. Perundungan ini bentuknya lewat ucapan atau perkataan, perundungan ini contohnya seperti menyindir, menggungjing, menyebarkan gosip yang tidak benar, melabrak dan lain-lain.

Berdasar pada permasalahan diatas, peneliti berusaha untuk membantu para remaja meningkatkan kemampuan interaksi sosial mereka agar lebih baik kedepannya dengan bantuan berupa bimbingan kelompok teknik diskusi. Pemberian bantuan ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan bersosialisasi dan berkomunikasi, melatih kepekaan para subyek terhadap kontak sosial yang diberikan, serta dapat membantu mereka menjadi lebih baik dalam menyesuaikan diri didalam lingkungan masing-masing. Tujuan ini sesuai dengan pendapat Romlah yang menyebutkan bahwa teknik diskusi

(8)

mempunyai kelebihan yaitu untuk membuat para subyek aktif, terutama aktif dalam komunikasi dan bersosialiasi dengan sesama anggota kelompok (Romlah, 2001: 100).

Pada kegiatan bimbingan kelompok terdapat empat materi pembahasan yaitu pemahaman mengenai kehidupan sosial, pentingnya interaksi sosial dalam kehidupan bermasyakat, peristiwa terkini yng muncul akibat rendahnya interaksi sosial, dan komunikasi yang baik dengan sesama dalam kehidupan sosial. Dengan adanya dinamika kelompok dalam kegiatan tersebut, peneliti berharap penelitian ini dapat menghasilkan sesuatu yang positif, sekaligus dapat membantu para subyek meningkatkan pemahamannya mengenai pentingnya interaksi sosial dalam menunjang kehidupan bermasyarakat.

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan selama pelaksanaan bimbingkan kelompok teknik diskusi terlihat para subyek dapat mengikuti tahapan-tahapan kegiatan bimbingan kelompok dengan baik, walaupun belum pernah mengikuti bimbingan kelompok sebelumnya. Partisipasi mereka dalam bimbingan kelompok juga dinilai cukup baik, walaupun membutuhkan waktu yang tidak sedikit untuk mendapatkan respon dari para subyek ketika diskusi. Melalui bimbingan kelompok ini terlihat para subyek mampu untuk mengungkapkan pendapatnya dengan diiringi suara yang pelan. Hal ini serupa dengan yang diungkapkan oleh Fatnar dalam penelitiannya. Fatnar mengungkapkan bahwa remaja-remaja yang mempunyai kemampuan interaksi sosial yang baik maka akan ditandai

dengan mudahnya mereka dalam

mendapatkan teman, mereka juga mampu berkomunikasi dan menyampaikan pendapat dengan baik tanpa ada perasaan yang tidak enak dan mempengaruhi emosi mereka (Fatnar dkk, Jurnal Fakultas Psikologi, 2014: 72).

Peneliti disini juga mengamati subyek ketika sebelum memulai kegiatan, mereka terlihat saling memberikan kontak sosial dan saling berkomunikasi seperti saling bertanya dan menjawab. Disini sangat terlihat bahwa mereka mulai mempunyai keinginan untuk

menunjukkan intraksi sosial yang lebih baik. Penjelasan ini sesuai dengan pendapat Soekanto dalam bukunya yang menjelaskan bahwa sebuah interaksi sosial dapat terjadi jika sudah memenuhi dua syarat utama yaitu komunikasi dan kontak sosial. Tanpa adanya kedua syarat tersebut maka, tidak akan mungkin terjadi kehidupan bersama yang saling berdampingan (Soekanto, 2007: 61).

Berdasarkan analisis data penelitian didapatkan hasil bahwa terdapat peningkatan rata-rata yang signifikan dari kelompok ekperimen. Hal ini menunjukan bahwa pemberian perlakuan bimbingan kelompok mampu mempengaruhi kemampuan interaksi sosial subyek. Setelah mengikuti kegiatan bimbingan kelompok para subyek terlihat lebih mengerti dan memahami tentang perannya dalam bermasyarakat. Oleh sebab itu diharapkan melalui bimbingan kelompok teknik diskusi diharpakan subjek dapat meningkatkan kemampuan interaksi sosial mereka secara lebih maksimal. Karena kemampuan interaksi sosial merupakan kemampuan yang penting untuk dimiliki. Dengan kemampuan inilah para individu akan dapat diantarkan untuk menyesuaikan diri secara lebih mudah didalam lingkungannya. D. SIMPULAN

Berdasarkan hasil pada penelitian di atas maka, dapat disimpulkan bahwa teknik diskusi dapat meningkatkan kemampuan interaksi sosial secara signifikan pada remaja dusun Semanding. Melalui uji t dapat dibuktikan bahwa terdapat perbedaan rata-rata yang signifikan terhadap hasil angket pada kelompok ekperimen dan kontrol sebelum maupun sesudah diberikan perlakuan.

E. DAFTAR PUSTAKA

Andarbeni, Sari Lisdian. Studi tentang

Kemampuan Interaksi Sosial Anak

Kelompok A dalam Kegiatan Metode

Proyek di TK Plus AL-FALLAH

Pungging Mojokerto. Jurnal BK UNESA. Vol. 04. No. 01. 2013.

Fairuzry dkk. Analisis Perbedaan Pemahaman

Antara Experienced dan

(9)

Pengembangan Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer. Vol. 1, No. 10, Oktober 2017.

Fatnar dkk. 2014. Kemampuan Interaksi Sosial

Remaja yang Tinggal Dipondok

Pesantren Dengan yang Tinggal Bersama Keluarga. Jurnal Fakultas Psikologi. Vol. 2, No 2.

Hermawati dan Suherman. Kesulitan Belajar Berlatar Interaksi Sosial Peserta Didik di Sekolah. Jurnal of Inovatif Counseling: Teori,

Praktice, Reserch. Vol. 1. No. 2, Agustus

2017.

https://www.kompasiana.com/aspiandi/5528 d490f17e617b0e8b45a9/meningkatkan-interaksi-antar-siswa-di-kelas# di akses pada November 2019, pukul 15.29 WIB. https://www.kompasiana.com/putriseptiani/5

ae353a9cf01b4586778c102/apakah- rendahnya-interaksi-sosial-dapat-diatasi-melalui-konseling-kelompok diakses pada tanggal 14 November 2019, pukul 07.18 WIB.

https://www.kompasiana.com/yogaarief/5b4a 1ccbdd0fa80d2131d2c6/melemahnya-

interaksi-manusia-di-dunia-nyata-akibat-adanya-media-baru?page=all diakses

pada 19 November 2019, pukul 19.12 WIB.

Lamajau, Eresia. Peningkatan Kemampuan Keterampilan Berbicara Siswa Kelas V SDN Sampaka Kec. Bualemo Kab.

Banggai Melalui Metode Diskusi

Kelompok. Jurnal Kreatif Online. Vol. 5 No. 1.

Martono, Nanang 2011. Metode Penelitian

Kuantitatif: Analisis Isi dan Ananlisis Data Skunder Edisi Revisi. Jakarta: PT Raja

Grafindo Persada.

Maunah, Binti. 2016. Interaksi Sosial Anak di

dalam Keluarga, Sekolah, dan Masyarakat.

Surabaya: Jenggala Pustaka Utama. Nitami, Yulisa. 2018. " Peninngkatan interaksi

sosial siswa menngunakan layanan bimbingan kelompok pada siswa kelas X SM negeri 1 natar tahun pelajaran 2017/2018".

Skripsi. Fakultas Keguruan dan Ilmu

Pendidikan. Universitas Lampung.

Bandar Lampung.

Pratiwi, Regina Putri. 2016. Hubungan

Perilaku Bullying dengan Kemampuan Ineraksi Sosial Siswa. Jurnal Pendidikan

Guru SD, Edisi2, tahun ke-5.

Priyatno, Dwi. 2008. Mandiri Belajar SPSS

Untuk Analisis dan Uji Statistik. Jakarta.

Gramedia Pustaka Utama.

Romlah, Tatiek 2001. Teori dan Praktik

Bimbingan Kelompok. Malang: Universitas

Negeri Malang.

Santosa, Slamet. 2014. Teori-Teori Psikologi

Sosial. Bandung: PT Refika Aditama.

Soehartono, Irawan. 2004. Metode Penelitian

Sosial (Suatu Teknik Penelitian Bidang Kesejahteraan Sosial dan Ilmu Sosial Lainnya). Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Soekanto, Sarjono. 2007. Sosiologi Suatu

Pengantar. Jakarta. Raja Grafindo Persada.

Sugiono. 2016. Metode Penelitian Kuantitatif,

Kualitatif, dan Kombinasi (Mixed Method).

Bandung: Alfabeta.

Suhardita, Kadek. Efektifitas Penggunaan Teknik Permainan Dalam Bimbingan Kelompok untuk Meningkatkan Percaya Diri Siswa. Jurnal BK. Vol. No. 1, Agustus 2011.

Tumon, Matraisa Bara Asie. Studi Deskriptif Perilaku Bullying pada Remaja. Jurnal

Ilmiah Mahsiswa Universitas Surabaya. Vol.

3. No. 1. 2014.

Walgito, Bimo. 2003. Psikologi Sosial: Suatu

Gambar

Tabel 2. Hasil uji normalitas

Referensi

Dokumen terkait

Bimbingan dan konseling Islami adalah proses pemberian bantuan kepada individu agar menyadari kembali eksistensinya sebagai makhluk Allah yang

Sedangkan faktor sosial disebabkan faktor frustasi karena tidak tercapainya suatu keinginan yang dikehendaki serta dari pembelajaran model kekerasan dimedia dan

Dengan demikian, terapi atau psikoterapi tidak bisa terlepaskan dari bimbingan konseling, karena pada dasarnya manusia tidak bisa luput dari permasalahan, baik permasalahan itu

Dengan demikian, terapi atau psikoterapi tidak bisa terlepaskan dari bimbingan konseling, karena pada dasarnya manusia tidak bisa luput dari permasalahan, baik permasalahan itu

Harapan peneliti untuk melakukan penelitian pada mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling FKIP Universitas Lambung Mangkurat adalah membantu dan menjelaskan

UNSUR-UNSUR  Suatu proses yang berkelanjutan  Suatu proses membantu individu  Bantuan dalam bimbingan diberikan pada individu baik perseorangan dan kelompok  Bantuan diberikan

Yang dilakukan oleh seorang yang memiliki pengetahuan di bidang konseling kepada orang yang memiliki permasalahan, yang berharap dengan proses bimbingan tersebut ia berharap bahwa

Agar tidak terjadi permasalahan aatupun keluh kesah sesudah menikah perlu adanya bimbingan konseling pranikah yang akan dilakukan oleh kedua pengantin yang akan di bantu oleh konselor