SKRIPSI
PENGARUH LIKUIDITAS, LEVERAGE DAN PERTUMBUHAN
PERUSAHAAN TERHADAP PROFITABILITAS PADA PERUSAHAAN PROPERTY DAN REAL ESTATE
YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA TAHUN 2013-2017
Oleh : SHARVINA LELY
160522030
PROGRAM STUDI S1 AKUNTANSI EKSTENSI DEPARTEMEN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN 2019
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS MEDAN
Telah diuji pada
Tanggal 31 Januari 2019
TIM PENGUJI SKRIPSI
Ketua : Dra. Naleni Indra, MM, Ak
Penguji : Abdillah Arif Nasution, SE, M.Si, Ak Pembanding : Drs. Hotmal Ja’far, MM, Ak
PERNYATAAN
Saya yang bertandatangan di bawah ini menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi saya yang berjudul “Pengaruh Likuiditas, Leverage dan Pertumbuhan Perusahaan Terhadap Profitabilitas Pada Perusahaan Property dan Real Estate Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Tahun 2013-2017”
adalah benar hasil karya tulis saya sendiri yang disusun sebagai tugas akademik guna menyelesaikan beban akademik pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.
Bagian atau data tertentu yang saya peroleh dari perusahaan atau lembaga, dan/atau yang saya kutip dari hasil karya orang lain telah mendapat izin, dan dituliskan sumbernya secara jelas sesuai dengan norma, kaidah, dan etika penulisan ilmiah.
Apabila dikemudian hari ditemukan adanya kecurangan dan plagiat dalam skripsi ini, saya bersedia menerima sanksi sesuai dengan peraturan yang berlaku.
Medan, 2019 Yang membuat pernyataan,
Sharvina Lely 160522030
ABSTRAK
PENGARUH LIKUIDITAS, LEVERAGE, DAN PERTUMBUHAN PERUSAHAAN TERHADAP PROFITABILITAS PADA
PERUSAHAAN PROPERTY DAN REAL ESTATE YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK
INDONESIA TAHUN 2013-2017
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisi pengaruh likuiditas, leverage, dan pertumbuhan perusahaan terhadap profitabilitas pada perusahaan property dan real estate yang terdaftar I Bursa Efek Indonesia Tahun 2013-2017. Populasi dari penelitian ini adalah perusahaan property dan real estate yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2013 sampai 2017. Total sampel penelitian ini adalah 31 perusahaan keuangan dengan 5 tahun pengamatan, sehingga jumlah amatan adalah 155. Data yang digunakan adalah data skunder yang dilakukan dengan cara mengunduh data laporan tahunan melalui situs www.idx.co.id. Metode Analisis yang digunakan adalah statistik deskriptif, uji asumsi klasik, dan regresi linier berganda
Berdasarkan hasil pengolahan data menggunakan uji hipotesis menunjukkan secara parsial pengaruh likuiditas dan pertumbuhan perusahaan berpengaruh signifikan terhadap profitabilitas, sedangkan leverage tidak berpengaruh signifikan terhadap profitabilitas. Secara simultan likuiditas, leverage dan pertumbuhan perusahaan berpengaruh secara signifikan terhadap profitabilitas.
Kata-Kata Kunci: Likuiditas (Current Ratio), Leverage (Debt To Equity Ratio), Pertumbuhan Perusahaan, Profitabilitas (Return On Asset)
ABSTRACT
THE EFFECT OF LIQUIDITY, LEVERAGE, AND COMPANY GROWTH OF PROFITABILITY ON PROPERTY AND REAL
ESTATE COMPANIES LISTED IN INDONESIA STOCK EXCHANGE ON 2013-2017
This research aims to analyze the effect of liquidity, leverage and growth company of profitability on property and real estate Companies Listed in Indonesia Stock Exchange on 2013-2017. The population of this research is the property and real estate companies listed in Indonesia Stock Exchange 2013- 2017. The samples used were 31 companies. the sample acquired 31 companies with five years of observation that totaled 155 unit analysis. The data used are Secondary data which collection by download annual report company’s listed in BEI through the website www.idx.co.id. Analytical method used descriptive statistical, test assumptions of classical and multiple regression method.
The result of this research was showed that partial liquidity and leverage have significant effect to profitability while leverage have no significant effect to profitability on property and real estate Companies Listed in Indonesia Stock Exchange. Simultaneously of liquidity, leverage and growth company have significant effect to profitability.
Keywords : Liquidity (Current Asset), Leverage (Debt To Equity Ratio), Growth Company Profitability (Return On Asset)
KATA PENGANTAR
Segala Puji dan Syukur bagi Allah SWT yang senantiasa memberikan rahmat dan karunia-Nya kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini yang berjudul “Pengaruh Likuiditas, Leverage dan Pertumbuhan Perusahaan Terhadap Profitabilitas pada Perusahaan Property dan Real Estate yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2013 – 2017” disusun dalam rangka memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi di Universitas Sumatera Utara.
Penulisan skripsi ini tidak akan terwujud tanpa adanya dukungan berupa pengarahan, bimbingan, bantuan, dan kerja sama semua pihak yang telah turut membantu dalam proses penyelesaian skripsi ini. Untuk itu, penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Bapak Prof. Dr. Ramli, SE, MS selaku Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara.
2. Bapak Dr. Syafruddin Ginting, MAFIS, Ak, CPA, selaku Ketua Departemen Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara dan Bapak Alm.
Drs. Syahrul Rambe, MM., Ak (Almarhum) selaku sekretaris Departemen S1 Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.
3. Ibu Dra. Naleni Indra MM, Ak. selaku Dosen Pembimbing Skripsi ini.
Terimakasih atas bimbingan, arahan, dan motivasi Ibu dalam proses penyelesaian skripsi ini.
4. Bapak Drs. Firman Syarif, M.Si, Ak dan Bapak Abdillah Arif Nasution, SE., M.Si, Ak selaku Dosen Penguji dan Bapak Drs. Hotmal Ja’far, MM,
Ak selaku Dosen Pembanding yang telah memberikan waktu, saran, dan masukan untuk kesempurnaan skripsi ini. Serta kepada seluruh Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara khususnya Dosen Jurusan Akuntansi yang telah memberikan ilmu kepada penulis selama perkuliahan berlangsung.
5. Kepada kedua orang tua penulis Sudirman Harefa dan Eli Hayati serta adik penulis Marvirah Syaputri dan Muhammad Raihan Harefa, Uwak penulis Hermawati Harefa dan keluarga besar, penulis megucapkan terima kasih banyak atas dukungan, nasihat, dan doa sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.
6. Teman-teman S1 Akuntansi Ekstensi yang selalu memberikan bantuan dan dukungan kepada saya. Serta rekan-rekan kerja di Dinas Perpustakaan dan Arsip, terima kasih sudah senantiasa memberikan dukungan dan semangat atas penulisan skripsi ini.
Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan yang terdapat dalam skripsi ini. Penulis mengharapkan berbagai kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan skripsi ini. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis dan bagi semua pihak.
Medan, 2019 Penulis
Sharvina Lely NIM : 160522030
DAFTAR ISI
Halaman
PERNYATAAN ... i
ABSTRAK ... ii
ABSTACT ... iii
KATA PENGANTAR ... iv
DAFTAR ISI ... vi
DAFTAR TABEL ... viii
DAFTAR GAMBAR ... ix
DAFTAR LAMPIRAN ... x
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang ... 1
1.2. Rumusan Masalah... 8
1.3. Tujuan Penelitian ... 8
1.4. Manfaat Penelitian ... 9
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Landasan Teori ... 10
2.1.1. Teori Keagenan (Agency Theory) ... 10
2.2. Profitabilitas... 11
2.2.1. Rasio Profitabilitas ... 12
2.3. Likuiditas ... 17
2.4. Leverage ... 20
2.5. Pertumbuhan Perusahaan ... 21
2.6. Penelitian Terdahulu ... 23
2.7. Kerangka Konseptual ... 30
2.8. Hipotesis Penelitian ... 34
2.8.1. Pengaruh Likuiditas Terhadap Profitabilitas ... 34
2.8.2. Pengaruh Leverage Terhadap Profitabilitas ... 34
2.8.3. Pengaruh Pertumbuhan Perusahaan Terhadap Profitabilitas ... 35
2.8.4. Pengaruh Likuiditas, Leverage dan Pertumbuhan Perusahaan Terhadap Profitabilitas ... 35
BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Jenis Penelitian ... 36
3.2. Tempat dan Waktu Penelitian ... 36
3.3. Defenisi Operasional dan Skala Pengukuran Variabel ... 36
3.3.1. Profitabilitas (Return On Asset). ... 37
3.3.2. Likuiditas (Current Ratio). ... 37
3.3.3. Leverage (Debt to Equity Ratio).. ... 37
3.3.4. Pertumbuhan Perusahaan ... 38
3.4. Populasi dan Sampel Penelitian ... 39
3.5. Jenis dan Sumber Data ... 41
3.6. Metode Pengumpulan Data ... 41
3.7. Metode Analisis Data ... 41
3.7.1. Analisis Statistik Deskriptif ... 42
3.7.2. Analisis Regresi Berganda ... 42
3.8. Uji Asumsi Klasik ... 43
3.8.1. Uji Normalitas ... 43
3.8.2. Uji Multikolinieritas ... 44
3.8.3. Uji Autokorelasi ... 45
3.8.4. Uji Heterokedastisitas ... 46
3.9. Uji Hipotesis... 47
3.9.1. Uji Koefisien Determinasi (R2) ... 47
3.9.2 Uji Signifikansi Simultan (Uji Statistik f) ... 47
3.9.3 Uji Signifikansi Partial (Uji Statistik t) ... 48
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Gambaran Umum ... 50
4.2. Analisis Statistik Deskriptif ... 50
4.3. Uji Asumsi Klasik ... 52
4.3.1. Uji Asumsi Normalitas ... 53
4.3.2 Uji Multikolinearitas ... 55
4.3.3 Uji Heteroskedastisitas ... 55
4.3.4 Uji Autokorelasi ... 56
4.4. Analisis Koefisien Determinasi ... 57
4.5. Uji Signifikansi Pengaruh Simultan (Uji F) ... 58
4.6. Analisis Regresi Linier Berganda dan Uji t ... 59
4.7. Pembahasan ... 62
4.7.1. Pengaruh Likuiditas terhadap Profitabilitas ... 62
4.7.2. Pengaruh Leverage terhadap Profitabilitas ... 63
4.7.3. Pengaruh Pertumbuhan Perusahaan terhadap ... Profitabilitas ... 64
4.7.4. Pengaruh Likuiditas, Leverage pertumbuhan ... Perusahaan terhadap Profitabilitas ... 65
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan ... 66
5.2. Keterbatasan Penelitian ... 66
5.3. Saran ... 67
DAFTAR PUSTAKA ... 68
LAMPIRAN ... 71
DAFTAR TABEL
No. Tabel Judul Halaman
1.1. Research Gap ... 7
2.1 Penelitian Terdahulu ... 29
3.1 Definisi Operasional dan Skala Pengukuran Variabel ... 38
3.2 Daftar Perusahaan Yang Termasuk Kedalam Kriteria ... 40
4.1 Statistik Deskriptif berdasarkan Variabel Likuiditas, Leverage, Pertumbuhan Perusahaan dan Profitabilitas .... 51
4.2 Uji Normalitas………. ... 53
4.3 Uji Multikolinearitas ... 55
4.4 Uji Autokorelasi dengan Uji Durbin-Watson ... 57
4.5 Koefisien Determinasi ... 58
4.6 Uji Signifikansi Pengaruh Simultan (Uji F) ... 59
4.7 Uji Pengaruh Simultan dengan Uji F ... 59
4.8 Uji Signifikansi Pengaruh Parsial (Uji t) ... 60
4.9 Ringkasan Hasil Koefisien Regresi ... 61
4.10 Ringkasan Hasil Uji t (Uji Signifikan Pengaruh Parsial.... 62
DAFTAR GAMBAR
No. Gambar Judul Halaman
1.1 Rata-rata Pendapatan Emiten Per Sektor ... 4 2.1 Kerangka Konseptual ... 30 4.1 Uji Normalitas dengan Pendekatan Normal Probability .. 54 4.2 Uji Normalitas dengan Pendekatan Histogram ... 54 4.3 Uji Heteroskedastisitas ... 58 4.4 Daerah Keputusan berdasarkan Uji t ... 62
DAFTAR LAMPIRAN
No. Lampiran Judul Halaman
Lampiran 1 Daftar Populasi Perusahaan Property dan Real Estate 71 Lampiran 2 Daftar Sampel Perusahaan Property dan Real Estate . 73 Lampiran 3 Tabel Hasil Perhitungan Profitabilitas ... 75 Lampiran 4 Tabel Hasil Perhitungan Likuiditas... 76 Lampiran 5 Tabel Hasil Perhitungan Leverage ... 77 Lampiran 6 Tabel Hasil Perhitungan Pertumbuhan Perusahaan .... 78 Lampiran 7 Hasil output SPSS ... 79
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Perusahaan didirikan dengan tujuan untuk menghasilkan laba. Laba suatu perusahaan dapat diukur dengan profitabilitas. Profitabilitas merupakan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba pada periode tertentu.
Perusahaan yang diwakili oleh tim manajemen mempunyai target dalam mengasilkan laba yang besar. Tingkat profitabilitas suatu perusahaan akan mempengaruhi para investor dalam melakukan investasi.
Selain untuk menghasilkan laba perusahaan didirikan untuk meningkatkan nilai perusahaan sehingga dapat memberikan kemakmuran bagi pemilik atau para pemegang saham (Siallagan dan Machfoedz, 2006). Salah satu upaya untuk mencapai tujuannya, perusahaan selalu berusaha memaksimalkan labanya.
Perusahaan yang semakin besar, maka perusahaan tersebut berkembang untuk dapat mengikuti dan memenuhi kebutuhan pasar yang berubah-ubah dan bersaing untuk memperoleh manajemen berkemampuan terbaik. Kondisi finansial dan perkembangan perusahaan yang sehat akan mencerminkan efisiensi dalam kinerja perusahaan menjadi tuntutan utama untuk bisa bersaing dengan perusahaan lainnya. Perkembangan teknologi dan semakin meningkatnya spesialisasi dalam perusahaan, semakin banyak perusahaan-perusahaan yang menjadi besar dimana faktor produksi modal mempunyai arti yang penting.
Sektor property and real estate merupakan salah satu sektor terpenting di suatu negara. Hal ini dapat dijadikan indikator untuk menganalisis kesehatan ekonomi suatu negara. Menurut Santoso (2005) industri property dan real estate merupakan salah satu sektor yang memberikan sinyal jatuh atau sedang bangunnya perekonomian suatu negara. Hal ini menandakan bahwa semakin banyak perusahaan yang bergerak dibidang sektor property dan real estate mengindikasikan semakin berkembangnya perekonomian di Indonesia. Investasi di bidang property dan real estate pada umumnya bersifat jangka panjang dan akan bertumbuh sejalan dengan pertumbuhan ekonomi serta diyakini merupakan salah satu investasi yang menjanjikan. Ada berbagai jenis investasi di bidang property dan real estate yang secara umum dapat dibagi menjadi tiga yaitu, residental property, yang meliputi apartemen, perumahan, dan bangunan multi unit; commercial propety, yaitu properti yang dirancang untuk keperluan bisnis misalnya gedung penyimpanan barang dan area parkir, tanah dan industrial property, yaitu investasi di bidang properti yang dirancang untuk keperluan industri misalnya, bangunan-bangunan pabrik.
Perkembangan sektor property dan real estate tentu saja akan menarik minat investor dikarenakan kenaikan harga tanah dan bangunan yang cenderung naik.
Supply tanah bersifat tetap sedangkan demand akan selalu bertambah besar seiring dengan pertambahan jumlah penduduk serta bertambahnya kebutuhan manusia akan tempat tinggal, perkantoran, pusat perbelanjaan, dan lain-lain. Dinegara- negara maju dan berkembang, pembangunan dan bisnis property dan real estate sedang mengalami pertumbuhan yang pesat, hal ini pun terjadi di Indonesia.
Saham perusahaan property dan real estate di Indonesia mulai diminati ketika tahun 2000, hal itu juga yang menyebabkan banyak perusahaan yang melakukan listing di Bursa Efek Indonesia agar saham perusahaan dapat dibeli oleh investor.
Secara umum investasi property dianggap lebih aman daripada jenis investasi lainnya. Keuntungan berinvestasi di property yang paling menarik sebenarnya dari investasi di property memungkinkan untuk menggunakan uang orang lain untuk berinvestasi. Dengan berinvestasi ke property, mempunyai kesempatan untuk mendapatkan hasil investasi dan keuntungan yang besar.
Perkembangan sektor property dan real estate di Indonesia diperngaruhi oleh beberapa faktor salah satunya pertumbuhan ekonomi. Menurut Biro Riset Konstan pertumbuhan ekonomi Indonesia sedang melambat pada tahun 2014 yaitu sebesar 5,21%. Hal itu masih dikategorikan positif akan tetapi itu merupakan pertumbuhan terendah selama lima tahun terakhir. Sekadar pembanding, pada periode yang sama tahun 2013 lalu, pertumbuhan ekonomi masih 6,03%.
Pertumbuhan ekonomi yang sedang turun berdampak kepada rata-rata pendapatan emiten per sektor hal ini dapat dilihat pada gambar 1.1
Gambar 1.1.
Rata-Rata Pendapatan Emiten Per Sektor
Sumber: Biro Riset Konstan, 2014
Pada gambar 1.1 di atas menunjukkan bahwa Emiten di sektor property and real estate tercatat mengalami perlambatan laju pertumbuhan pendapatan yang paling dalam. Per tahun 2013 lalu mereka tumbuh 66,45%, namun pada tahun 2014 hanya tumbuh 8,4%. Pertumbuhan pendapatan yang mengalami penurunan pada sektor property dan real estate tentu akan mempengaruhi jumlah keuntungan atau laba yang diperoleh masing-masing emiten pada sektor property dan real estate. Keuntungan atau laba merupakan sarana penting untuk mempertahankan kelangsungan hidup perusahaan. Menurut Sartono (2001:119) profitabilitas adalah kemampuan perusahaan memperoleh laba dalam hubungannya dengan penjualan, total aktiva maupun modal sendiri, Profitabilitas ini memberikan gambaran
-7.58 8.5
28.77 20.44
30.46
-3.45 14.36
66.45
14.4 39.84
7.65 12.72 19.98
14.82 4.8 12.52 8.4 16.27
-20 -10 0 10 20 30 40 50 60 70 80
2012-2013 2013-2014
seberapa efektif perusahaan beroperasi sehingga memberikan keuntungan bagi perusahaan.
Selain untuk mendapatkan laba/profit, perusahaan juga membutuhkan pembiayaan atau tambahan modal dengan hutang atau biasa digambarkan sebagai leverage. Pembiayaan dengan utang atau leverage keuangan memiliki tiga implikasi penting, yaitu: Pertama, jika investasi oleh pemegang saham tidak mencukupi, maka perusahaan dapat tetap beroperasi dengan cara berhutang, sehingga para pemegang saham masih tetap memiliki pengendalian atas perusahaan walaupun dengan investasi yang terbatas. Kedua, kreditur melihat ekuitas atau dana yang disetor pemilik untuk memberikan marjin pengaman, sehingga jika pemegang saham hanya memberikan sebagian kecil dari total pembiayaan, maka risiko perusahaan sebagian besar ada pada kreditur. Ketiga, Jika perusahaan memperoleh pengembalian yang lebih besar atas investasi yang dibiayai dengan dana pinjaman dibanding pembayaran bunga, maka pengembalian atas modal pemilik akan lebih besar. Menurut Sawir (2001 : 17),
“leverage dapat digunakan untuk meningkatkan hasil pengembalian pemegang saham, tetapi dengan risiko akan meningkatkan kerugian pada masa-masa suram”.
Jika perusahaan menggunakan lebih banyak hutang dibanding modal sendiri maka tingkat solvabilitas akan menurun karena beban bunga yang harus di tanggung juga meningkat. Hal ini akan berdampak terhadap menurunnya profitabilitas.
Menurut Kasmir (2008 : 88), “likuiditas adalah berhubungan dengan masalah kemampuan suatu perusahaan untuk memenuhi kewajiban finansialnya yang segera harus dipenuhi”. Selanjutnya ukuran likuiditas perusahaan yang
diproksikan dengan current ratio yang merupakan perbandingan antara aset lancar (current asset) dengan hutang lancar (current liabilities). Rasio CR yang tinggi menunjukkan kekuatan perusahaan dari segi kemampuan untuk memenuhi hutang lancar dari harta lancar yang dimiliki sehingga hal ini meningkatkan kepercayaan pihak luar terhadap perusahaan tersebut.
Pertumbuhan (growth) adalah seberapa jauh perusahaan menempatkan diri dalam sistem ekonomi secara keseluruhan atau sistem ekonomi untuk industri yang sama (Machfoedz, 1996:108). Ini berarti, pertumbuhan perusahaan ditunjukan dari seberapa baik perusahaan mempertahankan posisi ekonomi dalam industri yang sama.
Pada umumnya, perusahaan yang tumbuh dengan cepat memperoleh hasil positif dalam artian pemantapan posisi di era persaingan, menikmati penjualan yang meningkat secara signifikan dan diiringi oleh adanya peningkatan pangsa pasar. Perusahaan yang tumbuh cepat juga menikmati keuntungan dari citra positif yang diperoleh, akan tetapi perusahaan harus ekstra hati-hati, karena kesuksesan yang diperoleh menyebabkan perusahaan menjadi rentan terhadap adanya isu negatif. Perusahaan yang mempunyai tingkat pertumbuhan tinggi cenderung menggunakan sumber dana dari luar.
Perusahaan dengan tingkat pertumbuhan yang cepat harus lebih banyak mengandalkan modal eksternal daripada perusahaan yang lambat pertumbuhannya.
Penelitian ini menggunakan ROA sebagai alat untuk mengukur profitablitas perusahaan. Rasio ini merupakan rasio yang terpenting diantara rasio rentabilitas
yang ada. Return On Asset dapat merefleksikan seberapa banyak perusahaan telah memperoleh hasil atas seluruh sumber daya keuangan yang ditanamkan pada perusahaan. Rasio ROA sering digunakan oleh top manajemen untuk mengevaluasi unit-unit usaha dalam perusahaan yang multidivisional. Manajer divisi mempunyai pengaruh yang besar terhadap assets yang digunakan dalam divisi tersebut, tetapi kurang mempunyai pengaruh terhadap bagaimana aktiva tersebut dibiayai karena divisi tersebut tidak merancang untuk mencari pinjaman sendiri, pengeluaran obligasi maupun saham. Dalam beberapa penelitian yang telah dilakukan sebelumnya terdapat inkonsistensi hasil penelitian hal ini dapat dilihat dari tabel 1.1. berikut ini.
Tabel 1.1 Research Gap
Variabel Dependen
Variabel
Independen Peneliti Hasil
Likuiditas Nugroho (2011) Tidak Berpengaruh Ratnasari(2016) Berpengaruh Profitabilitas
Leverage Ratnasari (2011) Berpengaruh Tashia (2013) Tidak Berpengaruh Pertumbuhan
Perusahaan
Sunarto & Budi
(2009) Tidak Berpengaruh Sari & Abundanti
(2014) Berpengaruh
Sumber : diolah peneliti dari berbagai jurnal, 2018
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka peneliti tertarik melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh likuiditas, leverage, dan pertumbuhan perusahaan terhadap profitabilitas pada perusahaan property dan real estate yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2013-2017”.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang sudah dijelaskan di atas ada banyak faktor yang dapat mempengaruhi profitabilitas perusahaan. Faktor-faktor tersebut diantara lain rasio utang, rasio lancar dan pertumbuhan perusahaan dapat digunakan untuk mengetahui hubungan antara masing-masing variabel terhadap profitabilitas perusahaan. Adanya fenomena dan research gap yang telah diuraikan sebelumnya merupakan alasan peneliti untuk melakukan penelitian tentang rasio-rasio keuangan yang mempengaruhi profitabilitas pada perusahaan property dan real estate. Dari rumusan masalah tersebut dapat dirumuskan pertanyaan sebagai berikut “Apakah likuiditas, leverage dan pertumbuhan perusahaan berpengaruh terhadap profitabilitas pada perusahaan property dan real lestate yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2013-2017?”
1.3.Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji dan menganalisis pengaruh likuiditas, leverage dan pertumbuhan perusahaan terhadap profitabilitas pada perusahaan property dan real estate yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2013-2017.
1.4. Manfaat Penelitian 1. Bagi Penulis
Untuk menambah pengetahuan penulis mengenai faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi profitabilitas perusahaan property dan real estate.
2. Manajemen Perusahaan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan konsep mengenai pengelolaan rasio keuangan terhadap profitabilitas pada perusahaan property dan real estate yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
3. Bagi Investor
Menjadi masukan yang bermanfaat dan menjadi pertimbangan bagi investor dalam mengambil keputusan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Landasan Teori
2.1.1. Teori Keagenan (Agency Theory)
Tujuan utama perusahaan adalah untuk meningkatkan nilai perusahaan melalui peningkatan kemakmuran pemilik atau para pemegang saham (Brigham, 2006). Namun pihak manajemen atau manajer perusahaan sering mempunyai tujuan lain yang bertentangan dengan tujuan utama tersebut. Sehingga timbul konflik kepentingan antara manajer dan pemilik yang dikenal dengan problem keagenan (agency problem). Hubungan antara principal dan agent ini merupakan intisari dari teori keagenan (agency theory). Menurut Anthony dan Govindrajan (2005) teori agensi merupakan suatu hubungan atau kontrak antara principal dan agent. Teori agensi diasumsikan kepentingan dari tiap-tiap individu sehingga menimbulkan konflik kepentingan antara principal
dan agent. Dalam teori ini principal adalah pemilik/pemegang saham dan yang dimaksud dengan agent adalah manajemen yang mengelola perusahaan Manajemen perusahaan mempunyai kecenderungan untuk memperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya dengan biaya pihak lain. Hubungan antara principal dan manajemen perusahaan dimana auditor sebagai penengah. Principal yang diwakili oleh para pemegang saham tentu menginginkan laba sebesar- besarnya sehingga pihak manajemen berusaha dalam memaksimalkan laba hal ini
menunjukkan hubungan yang erat antara principal dan agent dalam melaksanakan tugas masing-masing yang mempunya tujuan dalam memaksimalkan laba.
2.2. Profitabilitas
Profitabilitas atau kemampuan memperoleh laba adalah suatu ukuran dalam persentase yang digunakan untuk menilai sejauh mana perusahaan mampu menghasilkan laba pada tingkat tertentu atau periode tertentu. Profitabilitas merupakan salah satu pengukuran bagi kinerja suatu perusahaan, profitabilitas suatu perusahaan menunjukan kemampuan suatu perusahaan dalam menghasilkan laba selama periode tertentu pada tingkat penjualan, asset dan modal saham tertentu. Profitabilitas suatu perusahaan dapat dinilai melalui berbagai cara tergantung pada laba dan aktiva atau modal yang akan diperbandingkan satu dengan lainnya.
Profitabilitas adalah suatu indikasi atas bagaimana margin laba suatu perusahaan berhubungan dengan penjualan, modal rata-rata dan ekuitas saham biasa rata-rata (Greuning, 2005:29). Menurut Subramanyam dan Wild (2009:36),
“profitabilitas merupakan kemampuan perusahaan untuk memberikan imbalan aset keuangan kepada pemasok ekuitas dan pembiayaan utang”.
Berdasarkan pendapat di atas profitabilitas dapat diartikan sebagai kemampuan perusahan dalam menghasilkan laba dimana laba merupakan tujuan pada tingkat penjualan, aset, dan modal saham tertentu untuk memberikan imbalan aset keuangan kepada pemasok ekuitas dan pembiayaan utang. Terdapat tiga rasio yang dapat mengukur profitabilitas: profit margin, return on assets
(ROA), return on equity (ROE). Penggunaan rasio profitabilitas dapat dilakukan dengan menggunakan perbandingan antara komponen yang ada pada laporan keuangan seperti laporan posisi keuangan dan laba rugi.
2.1.1. Rasio Profitabilitas
Rasio Profitabilitas adalah rasio atau perbandingan untuk mengetahui kemampuan perusahaan untuk mendapatkan laba (profit) dari pendapatan (earning) terkait penjualan, aset dan ekuitas berdasarkan dasar pengukuran tertentu. Jenis-jenis rasio profitabilitas dipakai untuk memperlihatkan seberapa besar laba atau keuntungan yang diperoleh dari kinerja suatu perusahaan yang memengaruhi catatan atas laporan keuangan yang harus sesuai dengan standar akuntansi keuangan. Menurut Harahap (2008:304) “rasio profitabilitas menggambarkan kemampuan perusahaan mendapatkan laba melalui semua kemampuan, dan sumber yang ada seperti kegiatan penjualan, kas, modal, jumlah karyawan,jumlah cabang, dan sebagainya.
Menurut Kasmir (2008: 198) sesuai dengan tujuan yang dicapai, terdapat beberapa jenis rasio profitabilitas yang dapat digunakan.
1. Profit Margin (Profit Margin on Sales)
Profit Margin (Profit Margin on Sales) atau Ratio Profit Margin atau margin laba atas penjualan merupakan salah satu rasio yang digunakan untuk mengukur margin laba atas penjualan. Cara penggunaan rasio ini adalah dengan membandingkan laba bersih dengan penjualan bersih, rasio ini juga dikenal dengan profit margin. Untuk margin laba kotor dapat dihitung dengan rumus :
Margin laba kotor menunjukkan laba yang relatif terhadap perusahaan dengan cara penjualan bersih dikurangi harga pokok penjualan. Rasio ini merupakan cara untuk penetapan harga pokok penjualan. Untuk margin laba bersih dapat dihitung dengan rumus :
Margin laba bersih merupakan ukuran keuntungan dengan membandingkan antara laba setelah bunga dan pajak dibandingkan dengan penjualan. Rasio laba bersih (net profit margin) digunakan untuk mengukur besarnya laba bersih ataupun keuntungan bersih yang dicapai perusahaan dari sejumlah penjualan tertentu. Pengukuran ini adalah ukuran untuk mengukur persentase keuntungan perusahaan setelah dikurangi semua biaya dari pengeluaran termasuk bunga dan pajak.
2. Return on Investment (ROI)
Hasil pengembalian investasi atau yang lebih dikenal dengan nama Return on Investment (ROI) merupakan rasio yang menunjukkan hasil atas jumlah aktiva yang digunakan dalam perusahaan. Return on Investment (ROI) juga merupakan suatu ukuran tentang efektivitas manajemen dalam mengelola investasinya. Rumus untuk mencari Return on Investment (ROI) adalah
3. Return on Assets (ROA)
Hasil pengembalian Aset atau yang lebih dikenal dengan nama Return on Assets (ROA) merupakan rasio yang menunjukkan hasil atas jumlah aset yang digunakan dalam perusahaan. Return on Assets (ROA) juga merupakan suatu ukuran tentang efektivitas manajemen dalam mengelola asetnya. Rumus untuk mencari Return on Assets (ROA) adalah :
Return On Asset merupakan pengukuran kemampuan perusahaan secara keseluruhan untuk memperoleh keuntungan dengan jumlah keseluruhan aset yang tersedia. Dalam perusahaan, perhitungan ROA adalah semakin tinggi rasio ini, semakin baik keadaan suatu perusahaan. Return on asset menunjukkan kemampuan perusahaan menghasilkan laba dari aset yang dipergunakan.
4. Return on Equity (ROE)
Hasil pengembalian ekuitas atau Return on Equity (ROE) atau rentabilitas modal sendiri merupakan rasio untuk mengukur laba bersih sesudah pajak dengan modal sendiri. Rasio ini menunjukkan efisiensi penggunaan modal sendiri semakin tinggi rasio ini semakin baik. Hal ini berarti posisi pemilik perusahaan semakin kuat, demikian pula sebaliknya. Rumus untuk mencari Return on Equity (ROE) adalah:
Return on equity (ROE) adalah yaitu kemampuan dari modal sendiri untuk menghasilkan keuntungan bagi pemegang saham preferen dan saham
biasa. Pengukuran ini adalah ukuran pengembalian yang diperoleh pemilik atas investasi di perusahaan.
5. Laba Perlembar Saham
Rasio laba per lembar saham atau disebut juga dengan rasio nilai buku merupakan rasio untuk mengukur keberhasilan manajemen dalam mencapai keuntungan bagi pemegang saham. Rasio yang rendah berarti manajemen belum berhasil untuk memuaskan pemegang saham, sebaliknya dengan rasio yang tinggi, kesejahteraan pemegang saham meningkat. Dengan pengertian lain tingkat pengembalian yang tinggi.
Rasio ini dapat dihitung dengan rumus:
Dalam analisis Laporan keuangan, Return on assets (ROA) adalah yang paling sering digunakan, karena mampu menunjukkan keberhasilan perusahaan menghasilkan keuntungan. ROA mampu mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan pada masa lampau untuk kemudian diproyeksikan di masa yang akan datang. Assets atau aktiva yang dimaksud adalah keseluruhan harta perusahaan, yang di peroleh dari modal sendiri maupun modal asing yang telah diubah perusahaan menjadi aktiva-aktiva perusahaan yang digunakan untuk kelangsungan hidup perusahaan. Peneliti membatasi hanya menggunakan satu cara dari berbagai rasio profitabilitas yang ada, yakni dengan memakai rasio Return On Assets untuk mengukur profitabilitas perusahaan. Return On Asset adalah ukuran keefektifan manajemen dalam menghasilalkan laba dengan aktiva yang tersedia. Semakin besar return on assets perusahaan, semakin besar pula
tingkat keuntungan perusahaan yang dicapai perusahaan tersebut dan semakin baik pula posisi perusahaan tersebut dari segi penggunaan assetnya. Ada beberapa keunggulan dari Return On Asset menurut Munawir, (2002:91) adalah:
1. ROA dapat mengukur efisiensi penggunaan modal yang menyeluruh, yang sensitif terhadap setiap hal yang mempengaruhi keadaan keuangan perusahaan.
2. ROA dapat memperbandingkan posisi perusahaan dengan rasio industri sehingga dapat diketahui apakah perusahaan berada di bawah, sama atau diatas rata-rata industri. Hal ini merupakan salah satu langkah dalam perencanaan strategi.
3. ROA dapat digunakan untuk mengukur profitabilitas dari masing-masing produk yang dihasilkan oleh perusahaan,
4. ROA dapat digunakan untuk mengukur efisiensi tindakan-tindakan yang dilakukan oleh setiap divisinya dan pemanfaatan akuntansi divisinya, 5. Selain berguna untuk kepentingan kontrol, ROA juga berguna untuk
kepentingan perencanaan. Hasil pengembalian investasi atau assetmenunjukkan produktivitas dari seluruh dana perusahaan, baik modal pinjaman maupun modal sendiri. Semakin kecil atau rendah rasio ini, semakin kurang baik demikian pula sebaliknya.
Menurut Halim dan Supomo (2005 : 155), ROA juga memiliki beberapa kelemahan seperti yang dijabarkan oleh berikut ini :
1. ROA lebih menitikberatkan pada maksimasi rasio laba dibandingkan jumlah absolute laba.
2. Manajer divisi enggan menambah investasi yang menghasilkan ROA rendah dalam jangka panjang.
3. Manajer divisi mungkin mengambil investasi yang menguntungkan divisinya dalam ajngka pendek tetapi dalam jangka panjang bertentangan dengan keputusan perusahaan.
4. Kurang mendorong divisi untuk menambah investasi, jika ROA yang diharapkan untuk divisi itu terlalu tinggi.
2.3. Likuiditas
Menurut Kasmir (2008 : 88), “likuiditas adalah berhubungan dengan masalah kemampuan suatu perusahaan untuk memenuhi kewajiban finansialnya yang segera harus dipenuhi”. Jumlah alat-alat pembayaran (alat likuid) yang dimiliki
oleh suatu perusahaan pada suatu saat merupakan kekuatan membayar dari perusahaan yang bersangkutan. Suatu perusahaan yang mempunyai kekuatan membayar belum tentu dapat memenuhi segala kewajiban finansialnya yang segera harus dipenuhi atau dengan kata lain perusahaan tersebut belum tentu memiliki kemampuan membayar.
Kemampuan membayar baru terdapat pada perusahaan apabila kekuatan membayarnya adalah demikian besarnya sehingga dapat memenuhi semua kewajiban finansilanya yang segera harus dipenuhi. Dengan demikian maka kemampuan membayar itu dapat diketahui setelah membandingkan kekuatan membayarnya disatu pihak dengan kewajiban-kewajiban finansialnya yang segera harus dipenuhi dilain pihak.
Suatu perusahaan yang mempunyai kekuatan membayar sedemikian besarnya sehingga mampu memenuhi segala kewajiban finansialnya yang harus segera dipenuhi, dikatakan bahwa perusahaan tersebut adalah likuid dan sebaliknya yang tidak mempunyai kemampuan membayar adalah ilikuid. Sedangkan menurut Munawir (2002 : 66), “ likuiditas adalah menunjukkan kemampuan suatu perusahaan untuk memenuhi kewajiban keuangannya yang harus segera dipenuhi, atau kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban keuangan pada saat ditagih”. Sehingga dapat disimpulkan bahwa likuiditas adalah kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban keuangan jangka pendeknya yang segera harus dipenuhi current ratio biasanya digunakan sebagai alat untuk mengukur keadaan likuiditas suatu perusahaan, dan juga merupakan petunjuk untuk memenuhi dan menduga sampai dimanakah kemampuan perusahaan untuk
memenuhi kewajiban keuangannya. Dasar perbandingan tersebut digunakan sebagai alat petunjuk, apakah perusahaan yang medapat kredit itu kira-kira akan mampu ataupun tidak untuk mememuhi kewajibannya untuk melakukan pembayaran kembali atau pada pelunasan pada tanggal yang sudah ditentukan.
Dasar perbandingan itu menunjukkan apakah jumlah aset lancar itu cukup melampaui besarnya kewajiban lancar, sehingga dapatlah kiranya diperkirakan bahwa sekiranya pada suatu ketika dilakukan likuiditas dari aset lancar dan ternyata hasilnya dibawah nilai dari yang tercantum dineraca, namun masih tetap akan terdapat cukup kas ataupun yang dapat dikonversikan menjadi uang kas di dalam waktu singkat, sehingga dapat memenuhi kewajibannya. current ratio yang tinggi maka makin baiklah posisi para kreditor, oleh karena itu terdapat kemungkinan yang lebih besar bahwa hutang perusahaan itu akan dapat dibayar pada waktunya. Hai ini terutama berlaku bila pimpinan perusahaan menguasai pos-pos modal kerja dengan ketat/dengan semestinya. Dilain pihak ditinjau dari sudut pemegang saham suatu current ratio yang tinggi tidak selalu paling menguntungkan, terutama bila terdapat saldo kas yang kelebihan dan jumlah piutang dan persediaan adalah terlalu besar.
Pada umumnya suatu current ratio yang rendah lebih banyak mengandung resiko dari pada suatu current ratio yang tinggi, tetapi kadang-kadang suatu current ratio yang rendah malahan menunjukkan pimpinan perusahaan menggunakan aktiva lancar sangat efektif. Yaitu bila saldo disesuaikan dengan kebutuhan minimum saja dan perputaran piutang dari persediaan diringkaskan sampai pada tingkat maksimum. Jumlah kas yang diperlukan tergantung dari
besarnya perusahaan dan terutama dari jumlah uang yang diperlukan untuk membayar utang lancar, berbagi biaya rutin dan pengeluaran darurat.
Menurut Munawir (2002:72), ”current ratio 200% kadang sudah memuaskan bagi suatu perusahaan, tetapi jumlah modal kerja dan besarnya rasio tergantung pada beberapa faktor, suatu standar atau rasio yang umum tidak dapat ditentukan untuk seluruh perusahaaan”. Current ratio 200% hanya merupakan kebiasaan atau rule of thumb dan akan digunakan sebagai titik tolak untuk mengadakan penelitian atau analisa yang lebih lanjut. Current ratio ini menunjukkan tingkat keamanan (margin of safety) kreditor jangka pendek, atau kemampuan perusahaan untuk membayar hutang-hutang tersebut. Namun, suatu perusahaan dengan current ratio yang tinggi bukan merupakan jaminan bahwa perusahaan mampu membayar hutang yang sudah jatuh tempo karena proporsi atau distribusi dari aktiva lancar yang tidak menguntungkan, misalnya jumlah persediaan yang relatif tinggi dibandingkan taksiran tingkat penjualan yang akan datang sehingga tingkat perputaran persediaan rendah dan menunjukkan adanya over investment dalam persediaan tersebut atau adanya saldo piutang yang besar yang mungkin sulit untuk ditagih.
Menurut Kasmir (2008:44),” bagi perusahaan bukan kredit, current ratio kurang dari 2:1 dianggap kurang baik, sebab apabila aktiva lancar turun misalnya sampai lebih dari 50% maka jumlah aktiva lancarnya tidak akan cukup lagi menutup utang lancarnya”. Pedoman current ratio 2:1, sebenarnya hanya didasarkan pada prinsip “hati-hati”. Pedoman currernt ratio 200% bukanlah pedoman mutlak.
Formulasi dari current ratio adalah sebagai berikut :
2.4. Leverage
Rasio leverage digunakan untuk menilai kemampuan perusahaan (entitas) dalam memenuhi kewajiban jangka panjangnya. Buruknya kinerja perusahaan dapat dilihat dari kemampuan perusahaan tersebut di dalam melunasi kewajibannya. Rasio leverage ini terdiri dari rasio utang dan rasio utang terhadap ekuitas.
Beberapa indikator yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat leverage suatu perusahaan yaitu rasio hutang terhadap ekuitas (debt to equity ratio) dan rasio hutang terhadap total aktiva (debt to total assets ratio). Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan debt to equity ratiosebagai alat ukur dari rasio leverage.
Debt to Equity Ratio merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur seberapa besar total modal sendiri yang dibiayai dengan total hutang. Bagi kreditor, semakin besar rasio ini semakin merugikan karena berarti risiko yang ditanggung semakin tinggi. Sebaliknya bagi perusahaan semakin besar rasio ini semakin baik karena DER yang rendah menandakan pendanaan yang disediakan pemilik sebagai jaminan semakin tinggi dan batas pengamanan bagi peminjam semakin besar (Kasmir, 2014:158). Semakin besar DER menandakan struktur permodalan usaha lebih banyak memanfaatkan hutang-hutang relatif terhadap ekuitas.
Pembayaran dividen yang lebih besar meningkatkan kesempatan untuk memperbesar modal dari Sumber terkenal. Sumber modal eksternal ini salah satunya adalah melalui hutang. Manajemen memberikan sinyal positif melalui
pembagian dividen, sehingga investor mengetahui bahwa terdapat peluang investasi di masa depan yangmenjanjikan bagi nilai perusahaan. Selain itu dividen yang tinggi berarti bahwa perusahaan akan lebih banyak menggunakan hutang untuk membiayai investasinya. Secara empiris ditemukan bahwa kebijakan hutang berpengaruh positif terhadap kebijakan dividen. Umumnya, perusahaan dengan pendapatan yang relatif stabil memiliki rasio utang terhadap total aset yang lebih tinggi dibandingkan perusahaan musiman dengan pendapatan yang sangat berfluktuasi (Kieso dkk 2008:407).
Rasio leverage adalah rasio-rasio yang dimaksudkan untuk mengukur sampai berapa jauh aktiva perusahaan dibiayai dengan utang. Untuk mengukur seberapa besar perbandingan total utang dengan total ekuitas, digunakan rumus :
2.5. Pertumbuhan Perusahaan
Pertumbuhan perusahaan sangat diharapkan oleh pihak internal maupun eksternal suatu perusahaan karena dapat memberikan suatu aspek yang positif bagi mereka. Dari sudut pandang investor, pertumbuhan suatu perusahaan merupakan tanda bahwa perusahaan memiliki aspek yang menguntungkan, dan mereka mengharapkan rate of return (tingkat pengembalian) dari investasi mereka memberikan hasil yang lebih baik.
Pertumbuhan perusahaan menggambarkan tolak ukur keberhasilan perusahaan. Keberhasilan tersebut juga menjadi tolak ukur investasi untuk pertumbuhan pada masa yang akan datang. Growth adalah perubahan (penurunan
atau peningkatan) total aset yang dimiliki oleh perusahaan. Pertumbuhan aset dihitung sebagai persentase perubahan aset pada saat tertentu terhadap tahun sebelumnya (Saidi, 2004). Berdasarkan difinisi di atas dapat dijelaskan Growth merupakan perubahan total aset baik berupa peningkatan maupun penurunan yang dialami oleh perusahaan selama satu periode (satu tahun).
Menurut Titman dan Wessel (1988) mengatakan bahwa kesempatan tumbuh sebagai perusahaan merupakan proxy yang tepat untuk biaya agency hutang.
Mereka menyarankan bahwa tendensi untuk melakukan investasi adalah terjadi pada perusahaan-perusahaan yang berada dalam industry yang sedang tumbuh.
Pertumbuhan perusahaan dapat ditunjukkan dengan petumbuhan aset yang dimiliki perusahaan. Aset menunjukkan aset yang digunakan untuk aktivitas operasional perusahaan. Semakin besar aset diharapkan semakin besar hasil operasional yang dihasilkan oleh perusahaan. Ukuran yang digunakan adalah dengan menghitung proporsi kenaikan atau penurunan aset. Pada penelitian ini, pertumbuhan perusahaan diukur dari proporsi perubahan aset, untuk membandingkan kenaikan atau penurunan atas total aset yang dimiliki oleh perusahaan.
Tingkat pertumbuhan suatu perusahaan akan menunjukkan sampai seberapa jauh perusahaan akan menggunakan hutang sebagai sumber pembiayaannya.
Dalam hubungannya dengan leverage, perusahaan dengan tingkat pertumbuhan yang tinggi sebaiknya menggunakan ekuitas sebagai sumber pembiayaannya agar tidak terjadi biaya keagenan (agency cost) antara pemegang saham dengan manajemen perusahaan, sebaliknya perusahaan dengan tingkat pertumbuhan yang
rendah sebaiknya menggunakan hutang sebagai sumber pembiayaan karena penggunaan hutang akan mengharuskan perusahaan tersebut membayar bunga secara teratur. Pertumbuhan perusahaan sangat diharapkan oleh pihak internal maupun eksternal perusahaan, karena pertumbuhan yang baik member tanda bagi perkembangan perusahaan. Dalam penelitian ini pertumbuhan perusahaan (growth) diukur dengan menggunakan perubahan total aset.
Growth = Total Assetst – Total Assett-1
Total Assett-1
2.6. Penelitian Terdahulu
Berikut disajikan tinjauan hasil penelitian terdahulu untuk mendukung kerangka konseptual penelitian. Beberapa peneliti terdahulu meneliti tentang profitabilitas sebagai berikut:
1. Dani (2003) melakukan penelitian tentang pengaruh likuiditas, leverage dan efisiensi modal kerja terhadap profitabilitas (studi kasus pada PT Modern Toolsindo Bekasi). Rasio keuangan yang digunakan adalah Current Ratio, Debt to Equyity Ratio (DER), Working Capital Turnover (WCT) dan Return On Invesment. Alat analisis yang digunakan adalah analisis regresi linier berganda. Menggunakan 1 sampel perusahaan dengan menganalisis neraca dan laporan laba rugi tahun 1997-2002.
Dalam penelitiannya Dani (2003) menggunakan analisis regresi linier berganda yang hasilnya menunjukkan bahwa secara simultan faktor likuiditas, leverage dan efisiensi modal kerja terbukti memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap tingkat profitabilitas PT Modern
Toolsindo. Sedangkan secara parsial hanya variabel leverage yang tidak berpengaruh positif terhadap variabel profitabilitas.
2. Raheman dan Nasr (2007) meneliti tentang manajemen modal kerja dan profitabilitas pada perusahaan Pakistan. Dalam penelitian ini menggunakan sampel dari 94 perusahaan Pakistan yang terdaftar di Bursa Efek Karachi selama 6 tahun pada periode 1999-2004. Penelitian ini menggunakan analisis regresi dan korelasi. Rasio hutang, ukuran perusahaan (diukur dari segi logaritma alami penjualan) dan aset keuangan terhadap total aset telah digunakan sebagai variabel kontrol.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan negatif yang kuat antara variabel manajemen modal kerja dan profitabilitas perusahaan. Ini berarti bahwa jika siklus konversi kas meningkat maka akan mengakibatkan penurunan profitabilitas perusahaan, sehingga manajer dapat menciptakan nilai positif bagi pemegang saham dengan mengurangi siklus konversi kas ke tingkat minimum mungkin.
Dalam penelitian ini juga menunjukkan bahwa ada hubungan negatif signifikan antara likuiditas dan profitabilitas. Selain itu ada hubungan positif antara ukuran perusahaan dan profitabilitas. Ada juga hubungan negatif yang signifikan antara hutang yang digunakan oleh perusahaan dan profitabilitas.
3. Sunarto dan Budi (2009) melakukan penelitian mengenai pengaruh leverage, ukuran dan pertumbuhan perusahaan terhadap profitabilitas pada PDAM Provinsi Jawa Tengah. Sampel penelitian diambil atas dasar
purposive sampling. Kriteria sampel yang memenuhi sebanyak 21 perusahaan. Sedangkan teknik analisis yang digunakan adalah analisis regresi berganda dengan teknik ordinary least square (OLS). Jumlah sampel yang memenuhi normalitas sebanyak 81 yang selanjutnya digunakan untuk analisis. Hasil analisis membuktikan bahwa secara bersama-sama variabel leverage, ukuran perusahaan dan pertumbuhan perusahaan berpengaruh terhadap profitabilitas PDAM yang ada di Provinsi Jawa Tengah. Hasil ini ditunjukkan dengan nilai F sig 0,000 yang berarti signifikan pada level kurang dari 0,05. sedangkan secara parsial, variabel leverage dan ukuran perusahaan berpengaruh terhadap profitabilitas, sedangkan variabel pertumbuhan perusahaan tidak berpengaruh terhadap profitabilitas PDAM
4. Nugroho (2010) melakukan penelitian tentang analisis pengaruh likuiditas, pertumbuhan penjualan, perputaran modal kerja, ukuran perusahaan dan leverage terhadap profitabilitas perusahaan (Studi pada perusahaan manufaktur yang terdaftar pada BEI tahun 2005-2009).
Populasi dari penelitian ini adalah seluruh perusahaan manufaktur yang listing di BEI pada tahun 2005-2009. Sampel diambil dengan menggunakan metode purposive sampling sehingga diperoleh 15 perusahaan yang memenuhi syarat sebagai sampel. Penelitian ini menggunakan metode analisis regresi untuk mengetahui pengaruh variabel bebas yang terdiri dari likuiditas, pertumbuhan penjualan, perputaran modal kerja, ukuran perusahaan dan leverage terhadap
profitabilitas (ROA) perusahaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel likuiditas berpengaruh positif tidak signifikan terhadap profitabilitas, variabel pertumbuhan penjualan berpengaruh negatif tidak signifikan signifikan, variabel perputaran modal kerja dan ukuran perusahaan berpengaruh positif signifikan terhadap profitabilitas, dan variabel leverage berpengaruh negatif signifikan terhadap profitabilitas.
Sehingga hanya perputaran modal kerja, ukuran perusahaan dan leverage memiliki pengaruh yang besar terhadap tingkat profitabilitas perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI pada tahun 2005-2009.
5. Sari dan Abundanti (2014) melakukan penelitian tentang pengaruh pertumbuhan perusahaan dan leverage terhadap profitabilitas dan nilai perusahaan. Sampel penelitian ini berjumlah 33 sampel yang dipilih dengan menggunakan teknik purposive sampling. Teknik analisis jalur adalah teknik analisis yang dipakai dalam penelitian ini. Berdasarkan hasil analisis pertumbuhan perusahaan (growth) berpengaruh positif signifikan terhadap profitabilitas (ROA), pertumbuhan perusahaan (growth) berpengaruh positif signifikan terhadap nilai perusahaan (PBV), leverage (DAR) berpengaruh negatif signifikan terhadap profitabilitas (ROA), leverage (DAR) berpengaruh negatif signifikan terhadap nilai perusahaan (PBV), dan profitabilitas (ROA) bepengaruh positif signifikan terhadap nilai perusahaan (PBV).
6. Tashia (2013) melakukan penelitian tentang Pengaruh Total Assets Turn Over, Debt to Equity Ratio,dan Debt to Asset Ratio terhadapProfitabilitas
pada Perusahaan Real Estate yang terdaftar di BEI. Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling dan diperoleh sampel sebanyak 25 perusahaan property dan real estate. Data yang digunakan adalah laporan keuangan dari masing-masing perusahaan sampel yang dipublikasikan melalui situs www.idx.com. Adapun variabel yang berkaitan dengan penelitian ini adalah total asset turnover, debt to equity ratio dan debt to asset ratio sebagai variabel bebas dan profitabilitas sebagai variabel terikat. Metode penelitian yang digunakan adalah metode analisis deskriptif dan metode analisis statistik. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara simultan total asset turnover, debt to equity ratio dan debt to asset ratio berpengaruh secara signifikan terhadap profitabilitas. Namun secara parsial, debt to equity ratio dan debt to asset ratio tidak berpengaruh signifikan terhadap terhadap profitabilitas, sedangkan total asset turnover berpengaruh signifikan terhadap profitabilitas.
7. Ratnasari (2016) melakukan penelitian mengenai pengaruh leverage, likuiditas, ukuran perusahaan terhadap profitabilitas pada perusahaan otomotif yang terdaftar di BEI. Jenis penelitian ini menggunakan jenis metode penelitian kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan otomotif yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia sesuai publikasi Indonesian Capital Market Directory (ICMD), yang berjumah 12 Perusahaan Sektor Automotif dan komponen. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah metode sampling jenuh, merupakan teknik
penentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah studi dokumentasi, ada 2 macam data dokumentasi yaitu data primer dan data sekunder yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder.
Teknik analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah analisis regresi berganda, uji asumsi klasik, uji kelayakan model, uji hipotesis.
Hasil pengujian hipotesis menunjukkan bahwa leverage berpengaruh signifikan dan negatif terhadap profitabilitas, likuiditas berpengaruh tidak signifikan terhadap profitabilitas, demikian juga ukuran perusahaan berpengaruh tidak signifikan terhadap profitabilitas.
8. Indriyani, dkk (2017) melakukan penelitian tentang analisis pengaruh current ratio dan total assets turn over terhadap return on asset. Hasil penelitian ini menunjukkan secara simultan current ratio dan total asset turn over berpengaruh terhadap return on asset. Sedangkan secara parsial current ratio berpengaruh negative terhadap return on asset dan total asset turn over berpengaruh positif terhadap return on asset.
Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu
No Peneliti Variabel Penelitian Hasil Penelitian 1. Dani (2003) Independen: CR, DER,
dan WCT Dependen: ROA
CR dan WCT berpengaruh positif signifikan terhadap ROA. DER berpengaruh negative terhadap ROA.
2. Raheman dan Nasr (2007)
Independen:
ACP, ITID, APP,CCC,CR, DR, Firm Size (LOS) FATA
Dependen: ROA
Komponen modal kerja, CR dan DR berpengaruh negative signifikan terhadap ROA. Firm size berpengaruh positif terhadap ROA.
3. Sunarto dan Budi (2009)
Independen:
1. Leverage
Variabel leverage dan ukuran perusahaan berpengaruh terhadap
2. Ukuran Perusahaan 3. Pertumbuhan
Perusahaan Deoenden: Profitabilitas
profitabilitas sedangkan variabel pertumbuhan perusahaan tidak berpengaruh terhadap profitabilitas.
4. Nugroho (2011)
Dependen:
Profitabilitas Independen:
1. Likuiditas 2. Pertumbuhan
Penjualan
3. Perputaran Modal Kerja
4. Ukuran Perusahaan 5. Leverage
Variabel likuiditas dan pertumbuhan penjualan tidak berpengaruh signifikan terhadap profitabilitas, sedangkan variabel perputaran modal kerja, ukuran perusahaan,dan leverage berpengaruh signifikan terhadap profitabilitas.
5. Tashia (2013) Independen:
Total Assets turn over, Debt to Equity Ratio, dan Debt to asset ratio.
Dependen:
1. Profitabilitas
Secara simultan total assets turn over, debt to equity ratio, dan debt to asset ratio berpengaruh signifikan.
Sedangkan secara parsial hanya debt to equity ratio yang tidak berpengaruh signifikan terhadap profitabilitas.
6. Sari dan
Abundanti (2014)
Independen:
1. Pertumbuhan Perusahaan 2. Leverage Dependen:
1. Profitabilitas (Return On Asset) 2. Nilai Perusahaan
1. Pertumbuhan perusahaan
(growth) terhadap
profitabilitas berpengaruh positif signifikan pada sektor perusahaan food and beverages
2. Leverage berpengaruh negatif signifikan terhadap profitabilitas pada sektor perusahaan food and beverage 3. Pertumbuhan perusahaan (Growth) terhadap nilai perusahaan berpengaruh positif signifikan pada sektor perusahaan.
7. Ratnasari (2016)
Independen:
1. Leverage 2. Likuiditas 3. Ukuran
Perusahaan Dependen: Profitabilitas
Levearge berpengaruh signifikan terhadap profitabilitas pada Perusahaan Otomotif, karena hasil karena signifikasi 0.026< 0.05. 2. Likuiditas berpengaruh tidak signifikan terhadap profitabilitas Perusahaan Otomotif yang Terdaftar di BEI, karena signifikasi 0.239> 0.05. 3. Ukuran Perusahaan berpengaruh tidak signifikan terhadap profitabilitas.
8. Indriyani, dkk (2017)
Independen:
1. Current Ratio 2. Total Asset Turn
Over Dependen:
Return On Asset
Secara simultan current ratio dan total asset turn over berpengaruh terhadap return on asset. Sedangkan secara parsial current ratio berpengaruh negative terhadap return on asset dan total asset turn over berpengaruh positif terhadap return on asset.
Sumber: dari berbagai referensi, 2018
2.7. Kerangka Konseptual
Berdasarkan uraian diatas maka dapat digambarkan suatu kerangka pemikiran teoritis yang menyatakan bahwa likuiditas, leverage dan pertumbuhan perusahaan merupakan faktor yang mempengaruhi profitabilitas perusahaan yang dalam penelitian ini menggunakan rasio ROA. Oleh karena itu kerangka konseptual dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
H1
H2 H4
H3
Gambar 2.1 Kerangka Konseptual
Kerangka konseptual adalah suatu model yang menerangkan bagaimana suatu hubungan suatu model dengan faktor-faktor yang penting telah diketahui dalam suatu masalah tertentu. Kerangka konseptual menghubungkan secara teoritis dengan variabel penelitian yaitu antara variabel independen dan variabel dependen. Variabel independen dalam kerangka konseptual penelitian ini adalah likuiditas, leverage dan pertumbuhan perusahaan sedangkan variabel dependen adalah profitabilitas. Berdasarkan gambar 2.1 kerangka konseptual diatas dapat dijelaskan sebagai berikut:
Likuiditas
( X1)
Leverage ( X2)
Pertumbuhan Perusahaan ( X3)
Profitabilitas ( Y )
1. Likuiditas merupakan suatu indikator mengenai kemampuan perusahaan untuk membayar semua kewajiban finansial jangka pendek pada saat jatuh tempo dengan menggunakan aset lancar yang tersedia. Likuiditas tidak hanya berkenaan dengan keadaan keuangan perusahaan, tetapi juga berkaitan dengan kemampuannya untuk mengubah aset lancar tertentu menjadi uang kas. Likuiditas yang diukur menggunakan rasio lancar atau current ratio merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur seberapa besar likuiditas perusahaan. Rasio lancar merupakan perbandingan antara aktiva lancar dengan hutang lancar. Rasio ini dapat menunjukkan kemampuan perusahaan untuk membayar kewajiban jangka pendeknya.
Pengaruh likuiditas terhadap profitabilitas menurut Horne dan Wachowicz (2009:216) adalah sebagai berikut : “The greater the level of current assets, the greater the liquidity of the firm, all other things equal.
With greater liquidity comes less risk, but also less profitability.
Profitability varies inversely with liquidity.” Dari pernyataan yang dikemukakan oleh Horne dan Wachowicz tersebut dapat diketahui bahwa semakin besar tingkat aset lancar, maka semakin besar likuiditas perusahaan, hal lain kedudukannya sama. Dengan besarnya likuiditas menghasilkan resiko yang kecil, namun profitabilitas yang kecil juga.
Profitabilitas berbanding terbalik dengan likuiditas. Artinya, semakin tinggi likuiditas perusahaan maka kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba semakin rendah. Hal tersebut terjadi karena perusahaan telah menggunakan sebagian besar dananya untuk memenuhi
kewajibannya atau likuiditasnya daripada digunakan untuk investasi yang dapat menghasilkan keuntungan kembali bagi perusahaan.
2. Leverage yang dalam penelitian ini diukur menggunakan debt to equity ratio mengukur berapa besar jumlah ekuitas perusahaan yang dibiayai dengan hutang atau berapa besar hutang perusahaan berpengaruh terhadap pengelolaan ekuitas. Semakin besar DER menandakan struktur permodalan usaha lebih banyak memanfaatkan hutang-hutang relatif terhadap ekuitas. DER digunakan untuk mengetahui setiap satuan modal sendiri yang digunakan untuk menjamin hutang. Bagi kreditor, semakin besar rasio ini semakin merugikan karena berarti risiko yang ditanggung semakin tinggi. Sebaliknya bagi perusahaan semakin besar rasio ini semakin baik karena DER yang rendah menandakan pendanaan yang disediakan pemilik sebagai jaminan semakin tinggi dan batas pengamanan bagi peminjam semakin besar (Kasmir, 2014:158). Ketika perusahaan meningkatkan hutang, timbul komitmen untuk menanggung arus kas keluar tetap selama beberapa periode ke depan meskipun arus kas masuk pada periode yang sama tidak terjamin kepastiannya. Oleh karena itu risiko yang harus ditanggung semakin besar.
3. Pertumbuhan perusahaan menggambarkan tolok ukur atau rata-rata pertumbuhan, perubahan kekayaan perusahaan. Suatu perusahaan yang sedang berada pada tahap pertumbuhan akan membutuhkan dana yang besar. Karena kebutuhan dana semakin besar, maka perusahaan lebih cenderung menahan sebagian besar labanya. Semakin besar laba yang
ditahan dalam perusahaan, berarti semakin rendah deviden yang dibayarkan kepada pemegang saham, sehingga tidak menarik lagi.
Tingkat pertumbuhan perusahaan dilihat dari perubahan atau penurunan peningkatan total aktiva yang dimiliki perusahaan. Semakin tinggi pertumbuhan perusahaan maka semakin baik.
4. Likuiditas merupakan kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban jangka pendek ketika perusahaan dapat membayar kewajiban jangka pendek berarti perusahaan tersebut likuid. Semakin tinggi likuiditas maka kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba semakin rendah. Leverage dalam penelitian ini yaitu debt to equity ratio diukur dengan membandingkan total hutang dengan ekuitas. Semakin tinggi DER maka perusahaan semakin rugi karena resiko yang ditanggung semakin tinggi. Apabila DER rendah menandakan pendanaan yang disediakan pemilik sebagai jaminan semakin tinggi dan batas pengamanan bagi peminjam semakin besar. Pertumbuhan perusahaan merupakan penurunan atau peningkatan total aktiva yang dimiliki perusahaan jika semakin tinggi semakin baik
2.8. Hipotesis Penelitian
2.8.1. Pengaruh Likuiditas terhadap Profitabilitas
Berdasarkan penjelasan yang terdapat pada kerangka konseptual diatas serta didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Indriyani dkk (2017), Dani (2003), dan Ratnasari (2016) yang mengemukakan bahwa likuiditas berpengaruh terhadap