• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN PBL TERHADAP KETERAMPILAN PROSES SAINS SISWA KELAS V SD DI GUGUS IV DIPONEGORO KECAMATAN MENDOYO

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN PBL TERHADAP KETERAMPILAN PROSES SAINS SISWA KELAS V SD DI GUGUS IV DIPONEGORO KECAMATAN MENDOYO"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN PBL TERHADAP KETERAMPILAN PROSES SAINS SISWA KELAS V SD DI GUGUS IV DIPONEGORO KECAMATAN MENDOYO

G.A. Dwi Lisa Novita

1

, Dw. Nym Sudana

2

, Pt. Nanci Riastini

3

123

Jurusan PGSD, FIP Universitas Pendidikan Ganesha

Singaraja, Indonesia

e-mail: [email protected]

1

, [email protected]

2

, [email protected]

3

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan keterampilan proses sains antara kelompok siswa yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dan kelompok siswa yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran konvensional pada siswa kelas V SD di gugus IV Diponegoro Kecamatan Mendoyo tahun ajaran 2013/2014. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen semu (Quasi Eksperimental Research) dan menggunakan desain post-test only control group design.

Populasi penelitian adalah seluruh kelas V SD di Gugus IV Diponegoro Kecamatan Mendoyo pada tahun ajaran 2013/2014. Sampel penelitian ini adalah kelas V SD Negeri 7 Yehembang dan kelas V SD Negeri 6 Yehembang. Data keterampilan proses sains diperoleh melalui tes keterampilan proses sains. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan teknik analisis statistik deskriptif dan uji-t. Hasil penelitian menunjukkan bahwa thitung = 7,005 dan ttabel = 2,021 (taraf signifikasi 5%). Hal ini berati thitung > ttabel, sehingga dapat diinterpretasikan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan pada keterampilan proses sains antara kelompok siswa yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dan kelompok siswa yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran konvensional. Dari rata-rata hasil post-test keterampilan proses sains, diketahui bahwa kelompok eksperimen berada pada kategori sangat tinggi dengan M = 21,44 dan kelompok kontrol berada pada kategori sedang dengan M = 13,04.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) berpengaruh terhadap keterampilan proses sains siswa kelas V SD di gugus IV Diponegoro Kecamatan Mendoyo tahun ajaran 2013/2014.

Kata kunci: Problem Based Learning (PBL), keterampilan proses sains

Abstract

The purposes of this study was to know the difference between Problem Based Learning (PBL) teaching model and conventional teaching model upon students‟ science process skills in fifth grade elementary school students in Gugus IV Diponegoro Kecamatan Mendoyo academic year 2013/2014. This research is a Quasi- Experimental Research and using the design of post-test only control group design . The population of this study was the entire fifth grade elementary school in Gugus IV Diponegoro Kecamatan Mendoyo in the academic year 2013/2014. The sample was the fifth graders of SDN. 7 Yehembang and SDN. 6 Yehembang. The data of science process skills acquired through science process skills test.

Data were analyzed using descriptive statistical analysis techniques and t-test. The results showed that thitung = 7.005 and ttabel = 2.021 (5% significance level). This means thitung > ttabel, so that it can be interpreted that there is a significant difference in the science process skills

(2)

among groups of students that learned using Problem Based Learning (PBL) teaching model and a group of students that learned using conventional teaching model. By the average post-test results of science process skills, it is known that the experimental group is at very high category with M = 21.44 and control groups in middle category with M = 13.04. So, it can be concluded that Problem Based Learning (PBL) teaching model influence on science process skills of fifth grade students in the elementary school in Gugus IV Diponegoro Kecamatan Mendoyo of the academic year 2013/2014.

Keywords: Problem Based Learning (PBL), Science Process Skills

PENDAHULUAN

Pada saat ini pendidikan sudah menjadi suatu kebutuhan primer bagi setiap manusia, termasuk di Indonesia. Hal tersebut disebabkan karena pendidikan memegang peranan penting dalam menciptakan sumber daya manusia (SDM) Indonesia yang berkualitas. SDM dibutuhkan untuk membangun negara menjadi negara yang maju dan sejahtera.

Berbagai upaya untuk memperbaiki sistem pendidikan di Indonesia sebenarnya telah dilakukan oleh pemerintah. Upaya- upaya tersebut diantaranya penggalakan wajib belajar 9 tahun, pengadaan program pendidikan gratis, pemberian dana BOS bagi SD dan SMP, peningkatan kualitas guru dengan program sertifikasi guru, dan membuat alokasi anggaran sebesar 20%

dari APBN khusus untuk pendidikan.

Namun sayangnya usaha-usaha tersebut belum mendatangkan hasil yang maksimal dan tujuan nasional belum tercapai.

Pada prakteknya di lapangan, proses pembelajaran yang dilaksanakan cenderung lebih kepada suasana belajar dengan komunikasi satu arah (teacher centered). Proses pembelajaran tersebut sudah tidak cocok lagi diterapkan di tengah ledakan informasi ilmu pengetahuan dan teknologi seperti sekarang ini (Samatowa, 2010). Lebih lanjut Samatowa (2010), menyatakan bahwa “model belajar yang cocok untuk anak Indonesia adalah belajar melalui pengalaman langsung (learning by doing)”. Namun, hal ini sepertinya sedikit terabaikan karena kebanyakan guru lebih mementingkan hasil belajar khususnya dari segi ranah kognitif daripada proses pembelajaran yang dialami siswanya. Guru beranggapan bahwa semakin banyak siswa yang memperoleh hasil belajar yang

tinggi, maka guru dapat dikatakan telah berhasil dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran. Akan tetapi, sering kali guru tidak menyadari bahwa keberhasilan pembelajaran tidak hanya dilihat dari hasil yang dicapai oleh siswa, tetapi juga dari segi prosesnya. Dengan kata lain, optimalnya hasil belajar siswa ditentukan pula oleh proses belajar yang dialami siswa. Oleh sebab itu, perlu dilakukan penilaian terhadap proses belajar mereka.

Salah satu gambaran mengenai masih dikesampingkannya penilaian proses dalam pembelajaran adalah diabaikannya pengembangan keterampilan proses sains. Pada dasarnya sains bukan hanya merupakan pengetahuan mengenai fakta-fakta atau konsep-konsep, tetapi juga merupakan suatu cara kerja, cara berpikir, dan cara memcahkan masalah (Sudana, dkk, 2010). Guru tidak memahami hakikat tersebut sehingga sering kali hanya memberikan teori kepada siswa tanpa mempraktekannya secara langsung. Cara tersebut menyebabkan siswa tidak memiliki kesempatan untuk mengetahui bagaimana teori tersebut ada dan digunakan dalam kehidupan nyata. Selain itu siswa juga tidak mendapat ruang untuk melatih keterampilan proses sainsnya.

Bukti berikutnya bahwa keterampilan proses sains terabaikan tampak dari proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru-guru IPA di gugus IV Diponegoro Kecamatan Mendoyo. Saat pembelajaran, guru hanya memberikan catatan berupa materi-materi seperti yang ada pada buku sumber dengan penjelasan seperlunya.

Kegiatan siswa hanya mencatat dan mendengarkan penjelasan guru. Apabila ada hal yang tidak dimengerti siswa, maka guru akan menjelaskan kembali materi

(3)

tersebut secara berulang-ulang. Apabila terdapat materi yang memerlukan praktek, guru akan menugaskan siswa untuk mengerjakan LKS atau dilewati begitu saja.

Bukti selanjutnya diperoleh melalui pemberian tes keterampilan proses sains yang dilaksanakan pada tanggal 15 dan 16 Juli 2013. Aspek-aspek yang diteskan, yaitu aspek merencanakan percobaan, merumuskan hipotesis, prediksi, menginterpretasi data, dan mengkomunikasikan. Berdasarkan hasil observasi, diketahui bahwa nilai rata-rata keterampilan proses sains siswa berada pada rentangan 4,00 – 5,00. Jika dikonversikan terhadap Penilaian Acuan Patokan (PAP) skala lima, maka nilai yang diperoleh siswa berada pada predikat kurang. Hal tersebut menunjukkan bahwa keterampilan proses sains siswa kelas V SD gugus IV Diponegoro Kecamatan Mendoyo masih rendah.

Rendahnya keterampilan proses sains dapat disebabkan oleh beberapa permasalahan. Pertama, pembelajaran yang dilaksanakan belum dapat merangsang adanya partisipasi siswa untuk berperan aktif dalam pembelajaran, terutama dalam pengembanngan keterampilan proses sains. Hal ini disebabkan karena pembelajaran masih menggunakan model pembelajaran konvensional. Siswa hanya bersifat sebagai penerima pasif segala informasi yang disampaikan oleh guru pada saat guru menjelaskan dan berlatih soal-soal kognitif tingkat rendah. Guru sangat jarang melaksanakan pembelajaran yang ada kegiatan percobaan. Ke dua, kurang pahamnya guru tentang pembelajaran yang inovatif. Guru hanya berpatokan pada langkah pembelajaran yang biasa dilakukan dan materi yang tertulis pada buku sumber. Ke tiga, pembelajaran yang dilaksanakan tidak didukung dengan media dan alat peraga yang memadai. Padahal, pemerintah sudah memberikan bantuan berupa KIT IPA kepada setiap sekolah.

Kondisi ini diperparah dengan tidak tersedianya laboratorium di sekolah dasar, walaupun hal ini sebenarnya dapat diatasi

dengan memanfaatkan ruang kelas maupun alam terbuka sebagai tempat praktikum.

Salah satu alternatif yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah di atas adalah menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL). Model pembelajaran PBL dipilih karena PBL memiliki karakteristik, yaitu penyelidikan autentik. PBL mengharuskan siswa melakukan penyelidikan autentik yang meliputi menganalisis dan mendefinisikan masalah, membuat hipotesis, mengumpulkan dan menganalisa informasi, melakukan percobaan (eksperimen), dan merumuskan kesimpulan (Trianto, 2007). Semua kegiatan tersebut mengharuskan siswa untuk berperan aktif dalam proses pembelajaran dan melatih keterampilan proses sains mereka. Artinya, model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) sangat cocok digunakan dalam mengembangkan keterampilan proses sains siswa.

Berdasarkan uraian permasalahan di atas, maka perlu dilakukan penelitian tentang pengaruh model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) terhadap keterampilan proses sains siswa kelas V SD Gugus IV Diponegoro Kecamatan Mendoyo tahun ajaran 2013/2014.

METODE

Penelitian ini menggunakan jenis penelitian eksperimen semu (Quasi Eksperimental Research) hal ini dikarenakan kelas kelompok kontrol dan kelompok eksperimen yang sudah terbentuk tidak mungkin diubah, sehingga peneliti tidak dapat mengontrol dan memanipulasi secara bebas dan intensif.

Penelitian ini dilaksanakan di SD Gugus IV Diponegoro Kecamatan Mendoyo, Kabupaten Jembrana pada rentang waktu tahun ajaran 2013/2014. Adapun populasi dalam penelitian ini adalah seluruh kelas V SD di gugus IV Diponegoro Kecamatan Mendoyo, yang terdiri dari 12 sekolah dasar. Dari populasi tersebut dipilih dua

(4)

kelas yang akan dijadikan sebagai sampel penelitian. “sampel merupakan sebagian dari populasi yang diambil, yang dianggap mewakili seluruh populasi dan diambil dengan menggunakan teknik tertentu”

(Agung, 2011:45). Teknik yang digunakan untuk memilih sampel pada penelitian ini adalah teknik random sampling. Namun, sebelum melakukan random, terlebih dahulu dilakukan pengujian kesetaraan terhadap semua anggota populasi dengan menggunakan rumus ANAVA satu jalur (ANAVA-A). Setelah dilakukan pengujian dan dinyatakan setara, kemudian dipilih dua kelas secara acak untuk dijadikan sebagai kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Yang menjadi kelompok eksperimen adalah kelas V SD Negeri 7 Yehembang, sedangkan yang menjadi kelompok kontrol adalah kelas V SD Negeri 6 Yehembang. Kelompok eksperimen akan diberikan perlakuan khusus yakni pembelajaran menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL), sedangkan kelompok kontrol tidak mendapatkan perlakukan khusus (pembelajaran konvensional).

Penelitian ini menggunakan desain post-test only control group design. “Dalam design ini terdapat dua kelompok yang masing-masing dipilih secara random (R).

Kelompok pertama diberi perlakuan (X) dan kelompok yang lain tidak” (Sugiyono, 2009:76). Kelompok yang diberikan perlakuan adalah kelompok eksperimen dan kelompok yang tidak diberi perlakuan adalah kelompok kontrol. Dalam suatu penelitian terdapat variabel penelitian.

Variabel penelitian adalah “segala sesuatu yang akan menjadi objek pengamatan penelitian” Sumadi Suryabrata (dalam Agung, 2011:39). Variabel penelitian dapat dibedakan menjadi dua yaitu, variabel bebas dan variabel terikat. Variabel bebas adalah variabel yang variabel yang memiliki pengaruh terhadap perubahan atau timbulnya variabel terikat. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) yang diterapkan pada kelompok eksperimen dan model pembelajaran

konvensional yang diterapkan pada kelompok kontrol. Sedangkan yang dimaksud dengan variabel terikat adalah variabel yang keberadaannya dipengaruhi atau bergantung pada variabel bebas.

Variabel terikat dalam penelitian ini adalah keterampilan proses sains.

Sementara itu, salah satu hal penting yang harus ada dalam suatu penelitian adalah pengumpulan data. Pengumpulan data dilakukan dengan tujuan untuk meninjau sejauh mana pengaruh model pembelajaran PBL terhadap KPS siswa.

Untuk mengumpulkan data mengenai KPS siswa digunakan metode tes. Tes adalah

“alat atau prosedur yang dipergunakan dalam rangka pengukuran dan penilaian”

(Sudijono, 2006:66). Data mengenai KPS siswa diperoleh melalui pemberian tes tertulis yang mengacu pada aspek-aspek KPS. Pemberian tes dilaksanakan pada pertemuan terakhir, yaitu pertemuan ke-9 (pemberian post-test).

Sebelum melakukan pengumpulan data, terlebih dahulu dipersiapkan instrumen yang akan digunakan untuk mengumpulkan data. Instrumen penelitian adalah alat yang dipergunakan untuk mengumpulkan data. Instrumen penelitian digunakan untuk mengambil informasi dari obyek atau subyek yang diteliti. Instrumen yang digunakan untuk memperoleh data mengenai KPS siswa adalah berupa tes KPS. Tes KPS yang digunakan berupa tes uraian yang terdiri dari 7 butir soal. Dimana masing-masing soal mencakup aspek- aspek KPS, yang terdiri dari keterampilan merencanakan percobaan, merumuskan hipotesis, keterampilan mengklasifikasikan, keterampilan menginterpretasikan data, dan keterampilan mengkomunikasikan hasil percobaan.

Instrumen penelitian yang dibuat tidak dapat langsung begitu saja dipergunakan dalam penelitian. Perlu diadakan uji coba terlebih dahulu sebelum dapat digunakan untuk mengumpulkan data penelitian. Uji coba dilakukan untuk mengetahui apakah instrumen yang akan digunakan sudah memenuhi kriteria, maka instrumen harus dianalisis dengan

(5)

menggunakan uji validitas tes dan uji reliabilitas tes. “Suatu instrumen dikatakan valid, jika instrumen yang digunakan dapat mengukur apa yang hendak diukur” Gay (dalam Sukardi, 2003:121). Untuk mengetahui tingkat validitas instrumen dilakukan dengan teknik korelasi product moment. Kriteria yang digunakan dalam menentukan validitas suatu butir soal adalah dengan membandingkan harga rhitung dengan harga rtabel pada taraf signifikasi 5%. Tes dikatakan valid apabila

tabel

hitung r

r

.

Berdasarkan hasil uji validitas butir soal, dari 10 saol yang diuji coba, 3 butir saol dinyatakan gugur dan 7 soal valid. 7 butir soal yang valid tersebut yang nantinya akan digunakan sebagai soal post-test. Selain dilakukan analisis validitas butir soal juga dilakukan analisis terhadap reliablitas butir soal. Suatu instrumen penelitian dikatakan mempunyai nilai reliabilitas tinggi, apabila tes tersebut mempunyai hasil yang konsisten dalam mengukur yang hendak diukur (Sukardi, 2003). Untuk menghitung reliabilitas instrumen tes KPS digunakan rumus Alpha-Cronbach. Berdasarkan analisis reliabilitas tes diperoleh koefisien reliabilitas sebesar 0,51. Hal tersebut berarti tes yang diuji termasuk ke dalam kriteria sedang.

Selain menguji validitas dan reliabilitas tes, dilakukan pula pengujian terhadap taraf kesukaran tes dan daya beda tes. Taraf kesukaran adalah kesulitan tes dipandang dari kemampuan peserta didik untuk menjawab soal tersebut;

artinya, tes tersebut akan lebih banyak dijawab benar oleh peserta didik yang pandai dan lebih banyak dijawab salah oleh peserta didik yang bodoh. Fernandes (dalam Koyan, 2011:140) menyatakan bahwa ”tes yang baik adalah tes yang memiliki taraf kesukaran antara 0,25-0,75”.

Berdasarkan pengujian terhadap taraf kesukaran tes diperoleh IKB = 0,52, sehingga taraf kesukaran tes yang digunakan termasuk kriteria sedang.

Selanjutnya dilakukan pengujian pada daya beda tes. Daya beda tes adalah

kesanggupan tes tersebut dalam membedakan siswa yang termasuk ke dalam kategori rendah dan kategori tinggi prestasinya. Menurut Fernandes (dalam Koyan, 2011:141), menyatakan bahwa “jika

„D‟ negatif soal tersebut sangat buruk dan harus dibuang. Tes yang baik, apabila memilki D antara 0,15-0,2 atau lebih”.

Berdasarkan hasil uji daya beda yang dilakukan, diperoleh bahwa IDB = 0,26.

Hasil tersebut menunjukkan bahwa daya beda tes yang digunakan berada pada kategori cukup baik.

Dalam penelitian ini juga menggunakan teknik analisis data. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis statistik deskriptif dan statistik inferensial. Analisis deskriptif dilakukan untuk mengetahui tinggi rendahnya kualitas dari dua variabel penelitian, yaitu model pembelajaran dan KPS. Untuk menentukan tinggi atau rendah, maka kedua variabel tersebut akan dikonversikan dengan menggunakan kriteria rata-rata ideal (X ) dan standar deviasi ideal (SDi). Deskripsi data (mean, median, modus) tentang keterampilan proses sains siswa selanjutnya disajikan ke dalam grafik poligon. Penyajian data ke dalam grafik poligon bertujuan untuk menafsirkan sebaran data keterampilan proses sains pada kelompok eksperimen dan kontrol.

Hubungan mean (M), median (Md), modus (Mo) dapat digunakan untuk menentukan kemiringan dari grafik poligon distribusi frekuensi. Pada distribusi normal mean, median, dan modus bersekutu atau M = Me

= Mo. Apabila Mo terletak di bawah puncak kurva, Me terletak di sebelah kanannya, dan mean terletak di sebelah kanannya lagi atau Mo < Me < M, maka grafik berdistribusi juling positif yang berarti sebagian besar skor cenderung rendah.

Apabila Mo terletak di bawah puncak kurva, Me terletak di sebelah kirinya, dan mean terletak di sebelah kirinya lagi atau atau Mo > Me > M, maka distribusi juling negatif. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar skor cenderung tinggi.

(6)

Sebelum dilakukan pengujian untuk memperoleh simpulan dari penelitian, maka dilakukan uji prasyarat penelitian.

Prasyarat yang harus terlebih dahulu dipenuhi adalah data setiap kelompok harus berdistribusi normal dan homogen.

Uji normalitas data penelitian ini dilakukan dengan menggunakan rumus Chi-Square (

2

). Kriteria pengujian data berdistribusi normal apabila

2 hitung<

2

tabel, dengan menggunakan taraf signifikasi 5%..selanjutnya adalah uji homogenitas varians. Uji homogenitas varians dapat dicari dengan menggunakan uji Fisher (F).

Kriteria pengujian tolak H0 adalah jika

1 , 1 2

1 n

n

hit F

F . Uji dilakukan pada taraf signifikasi 5% dengan derajat kebebasan untuk pembilang n1 – 1 dan derajat kebebasan untuk penyebut n2 – 1.

Tahap yang terakhir adalah tahap pengujian hipotesis. Uji hipotesis digunakan untuk menguji hipotesis yang dikemukakan dalam penelitian. Hipotesis penelitian yang diajukan ddalam penelitian ini adalah terdapat perbedaan yang siginifikan pada keterampilan proses sains antara kelompok siswa yang dibelajarkan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dan kelompok siswa yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran konvensional pada siswa kelas V SD di gugus IV Diponegoro Kecamatan Mendoyo tahun ajaran 2013/2014. Teknik analisis data yang digunakan untuk menguji hipotesis dalam penelitian ini adalah uji-t sampel independent (tidak berkorelasi) dengan rumus polled varians. Hal ini dikarenakan jumlah anggota sampel n1 ≠ n2 dan varians homogen (ϭ12 = ϭ22). Kriteria untuk pengujian hipotesis adalah terima H0 jika thitung ttabel dan tolak H0 jika thitung > ttabel. Harga t pengganti ttabel (dengan taraf signifikasi 5%) dengan db = (n1 + n2 2).

Apabila H0 ditolak dan H1 diterima maka dapat diintepretasikan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan pada keterampilan proses sains antara kelompok

siswa yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dan kelompok siswa yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran konvensional. Jika X kelompok eksperimen > X kelompok kontrol, maka dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) berpengaruh terhadap keterampilan proses sains siswa.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan analisis data soal post- test keterampilan proses sains pada kelompok eksperimen terhadap 27 orang siswa diperoleh hasil bahwa skor tertinggi siswa adalah 28 dan skor terendah adalah 13. Deskripsi mean, median dan modus masing-masing adalah M = 21,44, Md = 22,14, dan Mo = 23,33. Data hasil post-test kelompok eksperimen dapat disajikan dalam bentuk grafik poligon seperti pada Gambar 01.

Gambar 01. Grafik Poligon Data Hasil Post-test Kelompok Eksperimen Gambar 01 di atas menunjukkan bahwa sebaran data skor tes keterampilan proses sains siswa kelompok eksperimen membentuk sebuah kurva juling negatif.

Hal ini dapat diartikan bahwa sebagian besar skor post-test kelompok siswa yang mengikuti pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) cenderung tinggi. Untuk mengetahui kualitas variabel keterampilan proses sains siswa, maka rerata skor keterampilan proses sains

(7)

siswa dikonversikan ke dalam PAP skala lima. Berdasarkan hasil konversi, diperoleh bahwa skor rata-rata keterampilan proses sains siswa kelompok eksperimen dengan mean = 21,44 berada pada kategori sangat tinggi.

Selanjutnya, berdasarkan hasil analisi data soal post-test keterampilan proses sains pada kelompok kontrol terhadap 25 orang siswa yang dijadikan subjek penelitian, diperoleh bahwa skor tertinggi siswa adalah 21 dan skor terendahnya adalah 5. Setelah dilakukan perhitungan, diperoleh hasil M = 13,04, Md

= 12,57, dan Mo = 12,21. Data hasil post- test keterampilan proses sains kelompok kontrol dapat disajikan dalam bentuk grafik poligon seperti pada Gambar 02 berikut.

Gambar 02. Grafik Poligon Data Hasil Post-test Kelompok Kontrol

Gambar 02 di atas menunjukkan bahwa sebaran data skor keterampilan proses sains siswa kelompok kontrol membentuk sebuah kurva juling positif.

Dengan demikian dapat diinterpretasikan bahwa sebagian besar skor post-test kelompok kontrol yang mengikuti pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran konvensional cenderung rendah. Rerata skor post-test kelompok kontrol kemudian dikonversikan ke dalam PAP skala lima dengan tujuan untuk mengetahui kualitas sebaran data.

Berdasarkan hasil konversi, diperoleh bahwa rata-rata skor keterampilan proses sains siswa kelompok kontrol, yaitu 13,04 berada pada kategori sedang.

Analisis data dalam penelitian ini menggunakan teknik statistik deskriptif dan

teknik statisitik inferensial. Analisis deskriptif dilakukan untuk mengetahui tinggi rendahnya kualitas keterampilan proses sains pada siswa yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dan siswa yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran konvensional. Sedangkan, statistik infferensial digunakan untuk menguji hipotesis penelitian. Namun, sebelum melakukan uji hipotesis, terlebih dahulu dilakukan beberapa uji prasyarat diantaranya adalah sebaran data berdistribusi normal dan varians antar kelompok homogen.

Uji normalitas pada penellitian ini menggunakan rumus Chi-Square. Kriteria pengujian uji normalitas sebaran data adalah apabila hitung tabel

2 2

, maka sebaran data dikatakan berdistribusi normal. Sedangkan, jika 2hitung 2tabel

, maka sebaran data dikatakan tidak berdistribusi normal. Dari hasil perhitungan diperoleh hasil uji normalitas sebaran data keterampilan proses sains siswa kelompok eksperimen dengan taraf signifikasi 5%

dan db (jumlah kelas dikurangi parameter, dikurangi 1) = 3, diperoleh hasil hitung

χ2

adalah 6,19 dan tabel

χ2 adalah 7,82.

Dengan demikian, hitung tabel

2 2

(6,19 <

7,82), sehingga data hasil post-test keterampilan proses sains siswa kelompok eksperimen dikatakan berdistribusi normal.

Sedangkan hasil uji normalitas pada kelompok kontrol dengan taraf signifikasi 5% dan db = 3, diperoleh hasil hitung

χ2

adalah 3,56 dan tabel

χ2 adalah 7,82. Hal ini berarti, hitung

χ2 hasil post-test kelompok

kontrol lebih kecil dari tabel

χ2 (3,56 < 7,82).

Dengan demikian, data hasil post-test keterampilan proses sains siswa kelompok kontrol berdistribusi normal.

Selanjutnya dilakukan uji homogenitas. homogenitas dilakukan terhadap varians antara kelompok

(8)

eksperimen dan kelompok kontrol dengan menggunakan rumus uji Fisher (F).

Berdasarkan hasil analisis, diperoleh Fhitung

= 1,26 dan Ftabel dengan taraf signifikasi 5%, dbpembilang = 27-1=26, dan dbpenyebut = 25-1=24 adalah 1,95. Dengan demikian, varians data keterampilan proses sains siswa kelompok eksperimen dan kelompok kontrol adalah homogen.

Berdasarkan hasil uji prasyarat yang telah dilakukan yaitu uji normalitas dan uji homogenitas, diperoleh hasil bahwa data dari kelompok eksperimen dan kelompok kontrol berdistribusi normal dan homogen.

Berdasarkan hasil tersebut, maka dilanjutkan pada pengujian hipotesis penelitian (H1) dan hipotesis nol (H0).

Pengujian hipotesis dilakukan dengan menggunakan uji-t sampel independent (tidak berkolerasi) dengan rumus polled varians (n1 ≠ n2 dan varians homogen) dengan db = n1 + n2 2. Dengan kriteria terima H0 apabila thitung < ttabel, dan tolak H0 apabila thitung > ttabel. Dari hasil pengujian diketahui bahwa thitung = 7,005 dan ttabel dengan taraf signifikasi 5% dan db=50 adalah 2,021. Hal ini berarti thitung > ttabel (7,005 > 2,021), maka H0 ditolak dan H1 diterima. Dengan demikian, dapat

diinterpretasikan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan pada keterampilan proses sains antara kelompok siswa yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dan kelompok siswa yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran konvensional pada siswa kelas V SD di Gugus IV Diponegoro Kecamatan Mendoyo tahun ajaran 2013/2014.

Berdasarkan analisis perhitungan, rerata hasil tes keterampilan proses sains siswa yang mengikuti pembelajaran menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) lebih tinggi (=21,44) dibandingkan dengan rerata hasil tes keterampilan proses sains siswa yang mengikuti pembelajaran menggunakan model konvensional. Jadi, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) berpengaruh terhadap keterampilan proses sains siswa di kelas V SD Gugus IV Diponegoro Kecamatan Mendoyo.

Rekapitulasi hasil perhitungan skor kelompok eksperimen dan kontrol dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Rekapitulasi Hasil Perhitungan Skor Kelas Kontrol dan Eksperimen

Variabel Kelompok Eksperimen Kelompok Kontrol

Mean 21,44 13,04

Median 22,14 12,57

Modus 23,33 12,21

Standar Deviasi 4,55 4,06

Normalitas 6,19 3,57

Homogenitas 1,26

Analisis Uji-t 7,005

Berdasarkan hasil analisis data penelitian, dapat diketahui bahwa pembelajaran menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dan model pembelajaran konvensional memiliki pengaruh yang berbeda terhadap keterampilan proses sains siswa. Kelompok siswa yang dibelajarkan menggunakan model

pembelajaran Problem Based Learning (PBL) memiliki keterampilan proses sains yang lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok siswa yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran konvensional. Kelompok siswa yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) memiliki keterampilan proses sains

(9)

yang lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok siswa yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran konvensional. Hal ini terlihat dari rerata skor keterampilan proses sains kedua kelompok. Kelompok eksperimen memiliki rerata skor yang lebih tinggi, yaitu sebesar 21,44 dan berada pada kategori sangat tinggi, sedangkan kelompok kontrol memiliki rerata skor sebesar 13,04 berada pada kategori sedang.

Selanjutnya, berdasarkan hasil uji hipotesis menggunakan uji-t sampel tidak berkorelasi dengan rumus polled varians diketahui bahwa thitung = 7,005 dan ttabel dengan db = 50 pada taraf signifikasi 5%

adalah 2,021. Berdasarkan hasil perhitungan tersebut, diketahui bahwa thitung

> ttabel. Hal ini berarti bahwa terdapat perbedaan yang signifikan pada keterampilan proses sains antara kelompok siswa yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran PBL dengan kelompok siswa yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran konvensional.

Adanya perbedaan yang signifikan pada keterampilan proses sains antara kelompok siswa yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dan kelompok siswa yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran konvensional disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, model pembelajaran PBL lebih menitikberatkan pada permasalahan- permasalahan yang sering terjadi di lingkungan siswa. Permasalahan yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari siswa yang bersifat kontekstual menjadikan siswa terlatih untuk merumuskan permasalahan dan merancang penyelesaian masalah. Hal ini berarti, siswa belajar mengembangkan keterampilan proses sainsnya. Pendapat ini didukung oleh pendapat Arends (dalam Riyanto, 2010:287) yang menyatakan bahwa “langkah awal dari pembelajaran berbasis masalah adalah mengajukan masalah, selanjutnya berdasarkan masalah ditemukan konsep, prinsip, serta aturan- aturan. Masalah yang diajukan secara

autentik ditujukan dengan mengacu pada kehidupan nyata”.

Ke dua, langkah-langkah model pembelajaran PBL membantu siswa melakukan metode ilmiah yang di dalamnya terdapat keterampilan proses sains. Jika ditinjau pada langkah yang pertama, yaitu orientasi masalah, siswa belajar tentang bagaimana permasalahan tersebut terjadi, apa yang menyebabkan permasalahan tersebut terjadi, dan siapa yang terlibat dalam permasalahan tersebut.

Dengan kata lain, siswa melakukan pengamatan/observasi, yang merupakan bagian dari keterampilan proses sains, sebagai langkah awal dalam melaksanakan pembelajaran. Keterampilan observasi dapat menjadi titik tumpu untuk pengembangan keterampilan proses sains berikutnya. Bundu (2006:25) menyatakan bahwa “kemampuan melakukan observasi merupakan keterampilan yang paling mendasar dalam Sains, dan penting untuk mengembangkan keterampilan proses yang lainnya”.

Langkah yang ke dua, yaitu mengorganisir siswa untuk belajar. Pada tahap ini, siswa mencari informasi dari berbagai sumber yang terkait dengan permasalahan yang sedang diselidiki. Pada tahap ini, siswa diharapkan mampu mengembangkan aspek keterampilan proses sains yang dimiliki, yaitu merumuskan sebuah hipotesis berdasarkan informasi dan konsep yang telah dimiliki. Perumusan hipotesis mendorong siswa untuk mampu dalam merancang kerja ilmiah. Samatowa (2006:20), yang menyatakan bahwa “dalam suatu penyelidikan yang lengkap, para siswa memulai dengan sebuah pertanyaan, mendesain suatu penyelidikan, mencari fakta-fakta, menyusun jawaban untuk pertanyaan semula, dan menyampaikan proses penyelidikan dan hasil penyelidikan”.

Langkah pembelajaran yang ke tiga, yaitu melakukan penyelidikan mandiri maupun kelompok. Jika dihubungkan dengan aspek keterampilan proses sains, langkah ini sangat erat kaitannya dengan

(10)

aspek keterampilan proses sains, yakni merencanakan dan melaksanakan percobaan. Kegiatan yang dapat dilakukan siswa pada tahap ini adalah merencanakan sebuah penyelidikan untuk membuktikan hipotesis yang telah dirumuskan sebelumnya dengan bantuan teori dan konsep yang telah dimilikinya. Dengan demikian, siswa dapat termotivasi dan meningkatkan kemampuan intelektualnya.

Pendapat tersebut juga didukung oleh pernyataan Samatowa (2006:146) yang menyatakan bahwa “pembelajaran melalui discovery learning (penemuan) dapat meningkatkan motivasi belajar IPA siswa”.

Langkah ke empat, yaitu mengembangkan dan menyajikan hasil penelitian. Dalam hal ini aspek keterampilan proses sains, yang berupa interpretasi data dan mengkomunikasikan sangat diperlukan. Siswa dituntut aktif mencari solusi pemecahan dari permasalahan yang diberikan berdasarkan data hasil penyelidikan yang dilakukan.

Setelah diperoleh hasil dan solusi dari permasalahan tersebut, siswa perlu menyajikan kesimpulan yang diperoleh baik dalam bentuk laporan tertulis maupun lisan. Hal tersebut dimaksudkan agar siswa terbiasa melakukan analisis dan mengkomunikasikan hasil. Langkah yang ke lima adalah mengamati dan menganalisa solusi pemecahan masalah.

Setelah mendapatkan masukan dan saran perbaikan baik dari guru maupun kelompok lain, siswa kemudian menyimpulkan solusi pemecahan masalah yang paling tepat digunakan.

Hasil penelitian ini didukung oleh beberapa penelitian relevan yang telah dilakukan sebelumnya berkaitan dengan model pembelajaran PBL. Penelitian menggunakan model pembelajaran PBL sebelumnya telah dilakukan oleh Darmawan (2010). Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa keterampilan berpikir kritis siswa dan hasil belajar siswa pada konsep peristiwa alam menggunakan pembelajaran berbasis masalah (PBL) mengalami peningkatan yang berarti jika dibandingkan dengan sebelum dilakukan

tindakan, yaitu sebesar 5,9. Setelah diberi tindakan pada siklus I diperoleh nilai 6,4;

pada siklus II meningkat menjadi 7,2; dan pada siklus tindakan III meningkat lagi sebesar 7,8. Berdasarkan hasil tersebut dapat dinyatakan bahwa model pembelajaran PBL sangat efektif dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa pada pembelajaran IPS di MI Darrusaadah Pandeglang.

Penelitian lainnya dilakukan oleh Fachrurazi (2011), yang menuemukan adanya perbedaan peningkatan berpikir kritis antara siswa yang belajar matematika menggunakan model pembelajaran berbasis masalah dengan siswa yang memperoleh pembelajaran konvensional.

Siswa yang dibelajarkan menggunakan pembelajaran berbasis masalah mengalami peningkatan kemampuan berpikir kritis yang lebih tinggi (M = 0,414) daripada siswa yang dibelajarkan menggunakan pembelajaran konvensional (M = 0,215). Selain itu, terdapat pula perbedaan peningkatan kemampuan komunikasi matematis antara siswa yang belajar matematika menggunakan model pembelajaran berbasis masalah dengan siswa yang dibelajarkan menggunakan pembelajaran konvensional. Siswa yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran berbasis masalah mengalami peningkatan kemampuan komunikasi matematis yang lebih tinggi (M

= 0,414) daripada siswa pada kelas konvensional (0,241).

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat diinterpretasikan bahwa terdapat perbedaan keterampilan proses sains antara kelompok siswa yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dan kelompok siswa yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran konvensional. Adanya perbedaan menunjukkan bahwa model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) berpengaruh terhadap keterampilan proses sains siswa.

(11)

PENUTUP

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan pada keterampilan proses sains antara kelompok siswa yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dan kelompok siswa yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran konvensional pada siswa kelas V SD di Gugus IV Diponegoro Kecamatan Mendoyo tahun ajaran 2013/2014.

Adanya perbedaan yang signifikan menunjukkan bahwa pembelajaran menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) memberikan pengaruh terhadap keterampilan proses sains siswa.

Beberapa saran yang dapat disampaikan berdasarkan penelitian ini adalah 1) kepada guru diharapkan mampu berinovasi dan berkreasi dalam menyajikan materi pembelajaran kepada siswa, seperti

dengan mengaitkan dengan

permasalahan-permasalahan yang ada di lingkungan siswa agar dalam pembelajaran siswa merasa lebih tertantang untuk mencari tahu sendiri sehingga siswa dapat aktif dalam belajar; 2) kepada kepala sekolah diharapkan dapat menganjurkan para guru untuk menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dalam pembelajaran khususnya untuk meningkatkan keterampilan proses sains siswa. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, keterampilan proses sains siswa yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) lebih baik dibandingkan menggunakan model pembelajaran konvensional; 3) kepada peneliti lain yang ingin melakukan penelitian lebih lanjut mengenai model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dalam lingkupnya yang lebih luas, penelitian ini dapat dijadikan bahan bandingan dan pertimbangan untuk perbaikan dan penyempurnaan terhadap penelitian yang akan dilakukan.

DAFTAR RUJUKAN

Agung, A. A. Gede. 2011. Metodologi Penelitian Pendidikan: Suatu Pengantar. Singaraja: Undiksha.

Bundu, Patta. 2006. Penilaian Keterampilan Proses dan Sikap Ilmiah dalam Pembelajaran Sains Sekolah Dasar. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.

Koyan, I Wayan. 2011. Asesmen dalam Pendidikan. Singaraja: Universitas Pendidikan Ganesha.

Samatowa, Usman.2006. Bagaimana Pembelajaran IPA di Sekolah Dasar.

Jakarta: Depdiknas.

Sudana, dkk. 2010. Bahan Ajar Pendidikan IPA SD. Singaraja: FIP Undiksha.

Sudijono, Anas. 2006. Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.

Sugiyono. 2009. Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif dan R&D.

Bandung: Alfabeta.

Sukardi. 2003. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

Gambar

Gambar 01. Grafik Poligon Data Hasil  Post-test Kelompok Eksperimen  Gambar  01  di  atas  menunjukkan  bahwa sebaran data skor  tes keterampilan  proses  sains  siswa  kelompok  eksperimen  membentuk  sebuah  kurva  juling  negatif
Gambar 02. Grafik Poligon Data Hasil  Post-test Kelompok Kontrol

Referensi

Dokumen terkait

Pada bab ini akan menguraikan tentang telaah pustaka yang terdiri dari pengertian dan arti penting laporan keuangan, jenis dan manfaat rasio keuangan, pengertian

Pada tabel 5.3 menunjukkan bahwa mean fungsi motorik sebelum pemberian kombinasi latihan theraband PNF dengan musik aktif pada kelompok intervensi 2.28 dan

Pada kelompok kontrol negatif peningkatan kadar glukosa ini terus terjadi hingga menit ke 60, meskipun pada menit ke 30 hingga 60 terjadi penurunan yang tidak

Penelitian yang dilakukan oleh Marlina (2009), Maria (2013), Mardiyanti (2012) dan Dionisius (2012), menemukan hasil kinerja keuangan berpengaruh positif signifikan

kelompok lain. Untuk analisis kuantitatif berdasarkan tes siklus. Setelah melaksanakan 4 kali pertemuan, selanjutnya diberikan tes sebagai penutup siklus I. Berdasarkan

Gagasan dasarnya adalah bahwa perilaku membantu dapat memotivasi pengamatan orang terhadap penderitaan korban, karena pengamat mulai menempatkan diri di tempat

The sustainability of cocoa production in Tanggamus faced some weaknesses i.e: (1) low availability of high yielding planting materials and that resistant to pest and

Berdasarkan hasil penelitian ini, menunjukkan bahwa adanya perbedaan dari segi hasil belajar, motivasi, dan aktivitas siswa setelah diajar dengan menggunakan