• Tidak ada hasil yang ditemukan

2.2. Potensi Ekonomi RPJMD KAB. SERANG_ II-18

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "2.2. Potensi Ekonomi RPJMD KAB. SERANG_ II-18"

Copied!
41
0
0

Teks penuh

(1)

2.2. Potensi Ekonomi

2.2.1. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Serang

Nilai PDRB Kabupaten Serang atas dasar harga berlaku tahun 2004 adalah sebesar 9.969 miliar rupiah, berarti mengalami kenaikan sebesar 3.428 miliar rupiah (52,51% dibandingkan dengan tahun 2000 yang besarnya baru mencapai 6.541 miliar rupiah atau mengalami pertumbuhan rata-rata 10,48% per tahun). Sedangkan jika dilihat dari nilai atas dasar harga konstan tahun 1993, nilai PDRB tahun 2004 adalah sebesar 2.977 miliar atau naik sebesar 399 miliar (15,51% dibandingkan tahun 2000 yang besarnya 2.453 miliar rupiah atau mengalami pertumbuhan rata-rata 3,10% per tahun).

Secara sektoral terdapat peningkatan positif pada seluruh sektor lapangan usaha, demikian pula pada sub sektor Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan yang pada periode krisis dan beberapa tahun pasca krisis sektor ini mengalami pertumbuhan yang negatif. Hal tersebut disebabkan besarnya kerugian yang dialami usaha perbankan. Meskipun demikian, nilai negatif pada sub sektor bank ini setiap tahunnya semakin berkurang bahkan memberikan kontribusi yang positif pada tahun-tahun berikutnya.

Dilihat dari besarnya rata-rata kontribusi terhadap PDRB Kabupaten Serang masing-masing sektor lapangan usaha selama lima tahun secara berturut-turut yaitu: Industri Pengolahan memberikan kontribusi sebesar 50,95%, Pertanian (13,31%), Perdagangan, Restoran dan Hotel (9,89%), Jasa-jasa (8,19%), Bangunan/Kontruksi (6,35%), Listrik, Gas dan Air Bersih (4,68%), Keuangan, Persewaan Bangunan dan Jasa Perusahaan (3,64%), Pengangkutan dan Komunikasi (2,89%), serta Pertambangan dan Galian (0,07%).

Nilai PDRB Kabupaten Serang atas dasar harga berlaku dan atas dasar harga konstan tahun 1993 yang diperoleh berdasarkan penjumlahan produksi barang dan jasa pada 9 sektor (Lapangan Usaha) selama tahun 2000-2004 dapat dilihat secara rinci pada tabel di bawah ini.

(2)

Tabel 2.2.1

Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Serang Atas Dasar Harga Berlaku

(Tahun 2000-2004)

Sumber: Serang dalam Angka 2000-2004

Tabel 2.2.2

Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Serang Atas Dasar Harga Konstan 1993

(Tahun 2000-2004)

Sumber: Serang dalam Angka 2000-2004

Salah satu masalah pokok yang selalu dihadapi oleh pemerintah adalah besarnya inflasi setiap tahunnya. Peningkatan pendapatan (uang) yang diterima masyarakat akan tidak berarti apabila diikuti oleh tingkat inflasi yang tinggi. Tingkat inflasi yang tinggi mengakibatkan kemampuan daya beli masyarakat menurun sehingga tentu saja akan menghambat pertumbuhan ekonomi.

Perkembangan tingkat inflasi di Kabupaten Serang selama periode tahun 2002 sampai dengan 2004 dapat dijelaskan sebagai berikut: Tahun 2002 sebesar

2000 2001 2002 2003 2004

1PERTANIAN 968.498 1.082.537 1.211.740 1.279.483 1.426.624 2PERTAMBANGAN & PENGGALIAN 4.106 4.808 5.372 5.799 6.466 3INDUSTRI PENGOLAHAN 3.404.543 3.645.759 4.106.654 4.428.399 4.937.665 4LISTRIK, GAS & AIR BERSIH 270.591 309.005 420.374 463.729 517.058 5BANGUNAN/KONTRUKSI 399.872 450.174 502.034 549.739 612.959 6PERDAGANGAN, RESTORAN & HOTEL 673.487 753.075 850.088 938.880 1.046.851 7PENGANGKUTAN DAN KOMUNIKASI 168.933 206.776 242.173 263.481 293.781 8KEU.PERSEWAAN BANGUNAN & JASA PERUSH. 174.225 204.051 213.017 284.301 316.996 9JASA-JASA 477.028 570.380 660.747 727.384 811.033

TOTAL PDRB 6.541.283 7.226.565 8.212.199 8.941.195 9.969.433

Lapangan Usaha Tahun (Rp. 000.000)

No.

2000 2001 2002 2003 2004

1PERTANIAN 339.677 358.226 370.205 381.474 396.122 2PERTAMBANGAN & PENGGALIAN 1.786 1.794 1.822 1.890 1.962 3INDUSTRI PENGOLAHAN 1.335.689 1.356.682 1.402.402 1.446.858 1.502.417 4LISTRIK, GAS & AIR BERSIH 120.119 123.329 128.900 134.981 140.164 5BANGUNAN/KONTRUKSI 160.924 166.211 175.004 184.594 191.682 6PERDAGANGAN, RESTORAN & HOTEL 246.977 260.576 273.278 288.879 299.972 7PENGANGKUTAN DAN KOMUNIKASI 71.085 76.591 79.827 84.656 87.907 8KEU.PERSEWAAN BANGUNAN & JASA PERUSH. 90.251 96.543 93.089 109.921 114.142 9JASA-JASA 210.868 217.422 227.240 233.802 242.780

TOTAL PDRB 2.577.376 2.657.374 2.751.767 2.867.055 2.977.148

Lapangan Usaha Tahun (Rp. 000.000)

(3)

9,68%; tahun 2003 laju inflasi menurun menjadi sebesar 5,21%; dan tahun 2004 sebesar 6,40% secara rata-rata tingkat inflasi selama periode tiga tahun adalah sebesar 7,10%. Inflasi terendah terjadi pada sektor pertanian dan inflasi tertinggi terjadi pada sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan. Kecuali pada sektor pertanian, sektor pertambangan dan penggalian, sektor industri pengolahan, sektor bangunan serta sektor angkutan dan komunikasi, inflasi empat sektor lainnya berada diatas rata-rata, ini berarti bahwa diluar kelima sektor tersebut masalah kenaikan harga perlu diperhatikan lebih seksama.

Tabel 2.2.3

Tingkat Inflasi Kabupaten Serang (Tahun 2002-2004)

Tahun Tingkat Inflasi

Per Tahun Rata-rata

2002 2003 2004 9,68 5,21 6,40 7,10 7,10 7,10 Sumber: Serang dalam Angka 2002-2004 (data diolah)

Untuk mengukur kinerja perekonomian Kabupaten Serang, maka digunakan salah satu indikator makro ekonomi yaitu laju pertumbuhan PDRB. Walaupun data PDRB Kabupaten Serang disajikan atas dasar harga berlaku dan atas dasar harga konstan, namun untuk mengukur kinerja perekonomian perhatian difokuskan pada laju pertumbuhan PDRB atas dasar harga konstan saja karena faktor harga pada angka tersebut sudah dieliminasi. Perekonomian Kabupaten Serang, dengan indikator laju pertumbuhan PDRB atas dasar harga konstan tahun 1993, secara agregat mengalami pertumbuhan rata-rata sebesar 3,95% per tahun (lihat tabel 2.2.4).

(4)

Tabel 2.2.4

Laju Pertumbuhan PDRB Kabupaten Serang Atas Dasar Harga Konstan 1993

(Tahun 2000-2004)

Tahun PDRB

(dalam jutaan rupiah)

Pertumbuhan

Per Tahun Rata-rata

2000 2001 2002 2003 2004 2.577.376 2.657.374 2.751.767 2.876.055 2.977.148 5,05 3,10 3,55 4,19 3,84 3,95 3,95 3,95 3,95 3,95 Sumber: Serang dalam Angka 2000-2004

Apabila dilihat secara sektoral, terdapat beberapa sektor yang mengalami pertumbuhan secara signifikan dan berada di atas rata-rata pertumbuhan yang berarti memberikan kontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi secara agregat. Sektor-sektor yang tingkat pertumbuhannya berada di atas rata-rata pertumbuhan PDRB tersebut adalah: Sektor Keuangan, Persewaan Bangunan dan Jasa Perusahaan, Sektor Pengangkutan dan Komunikasi, dan Sektor Bangunan/Kontruksi.

Adapun sektor-sektor yang tingkat pertumbuhannya berada di bawah rata-rata pertumbuhan agregat, yang berarti memerlukan upaya-upaya untuk memacu pertumbuhannya, adalah: Sektor Pertambangan dan Galian, Sektor Jasa-jasa, Sektor Listrik, Gas dan Air Bersih, Sektor Industri Pengolahan, dan Sektor Pertanian.

Sedangkan untuk mengukur tingkat kemakmuran Kabupaten Serang tahun 2002 sampai dengan tahun 2004, perlu diketahui pendapatan masyarakat Kabupaten Serang. Untuk mengetahui tingkat pendapatan masyarakat secara rata-rata tersebut, digunakan perhitungan PDRB secara agregat dibagi dengan jumlah penduduk pada tahun yang bersangkutan. Meskipun diakui bahwa metoda ini belum menggambarkan keadaan yang sesungguhnya pada masing-masing orang. Tabel 2.2.5 menggambarkan PDRB per kapita dan pertumbuhannya.

(5)

Tabel 2.2.5

PDRB per Kapita Kabupaten Serang Atas Dasar Harga Berlaku (Tahun 2002-2004)

Tahun PDRB

Per Kapita

Pertumbuhan

Per Tahun Rata-rata

2002 2003 2004 4.578.,6 5.090,9 5.439,7 5,75 11,19 6,85 8,64 8,64 8,64

2.2.2 Sub Fungsi Perdagangan, Perkoperasian Dan UMKM

Untuk menggerakan sektor riel perekonomian daerah sektor perdagangan memegang peranan yang strategis untuk memperlancar distribusi barang dan jasa. Maka sangat penting perlunya pembinaan untuk menumbuh kembangkan baik dari sisi pelaku maupun dari ketersediaan prasarananya. Pada tahun 2000 jumlah usaha perdagangan sebanyak 699 unit mengalami kenaikan menjadi 1.759 unit pada tahun 2004 atau mengalami pertumbuhan sebanyak 1.060 unit (60,26%).

Penyerapan tenaga kerja di sektor perdagangan pada tahun 2000 tercatat sebanyak 5.928 orang, sedangkan pada tahun 2004 tercatat sebanyak 10.376 orang yang berarti mengalami pertambahan sebanyak 4.448 orang (42,87%), dengan kontribusi sebanyak 5.510 (53,10%) orang bekerja di sektor formal dan sebanyak 4.866 (46,90%) bekerja di sektor non formal.

Sedangkan ketersediaan prasarana pasar di Kabupaten Serang pada tahun 2000 sebanyak 55 buah yang terdiri dari 49 pasar tradisional dan 6 buah pasar modern mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan menjadi 111 buah pasar pada tahun 2004 atau mengalami pertumbuhan sebanyak 56 bh( 50,45%). Lebih lengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut.

(6)

Tabel 2.2.6

Perkembangan Sub Fungsi Perdagangan di Kabupaten Serang Tahun 2000-2004

(dalam satuan unit)

No U r a i a n Tahun

2000 2001 2002 2003 2004

1 Jumlah Unit Usaha 699 857 1.013 1.765 1.759

Perdagangan Formal 498 633 705 1.342 1.272

Perdagangan Non Formal 201 224 308 423 487

2 Penyerapan Tenaga Kerja 45.745 49.975 64.000 83.862 91.961

3 Jumlah Pasar 55 66 87 101 111

Sumber: Dinas Perindagkop Kabupaten Serang, 2005

Sebagai pilar demokrasi dan pembangunan ekonomi kerakyatan peranan koperasi masih sangat penting disaat masyarakat mempertanyakan dan

menyangsikan keberadaan dan kontribusi dunia koperasi terahadap

perekonomian. Hal tersebut terlihat dari eksistensi pertumbuhan koperasi di tengah-tengah masyarakat Kabupaten Serang, pada tahun 2000 jumlah koperasi berdasarkan jenisnya tercatat 832 buah koperasi meningkat menjadi 998 buah koperasi pada tahun 2004 atau mengalami pertumbuhan sebanyak 166 buah (16,63%).

Perkembangan jumlah koperasi menurut jenisnya tersebut juga diikuti oleh perkembangan jumlah anggota yang cukup menggembirakan, pada tahun 2000 tercatat anggota koperasi sebanyak 71.499 orang meningkat menjadi 85.703 orang pada tahun 2004, yang berarti ada kenaikan jumlah anggota koperasi sebanyak 14.204 orang (16,57%).

Eksisnya dunia koperasi ditengah-tengah ekonomi liberal tidak terlepas dari ketersediaan SDM yang peduli dan mempunyai kompetensi untuk menggerakan roda organisasi dan usaha koperasi, salah satunya adalah manajer sebagai orang yang profesional terhadap pengelolaan koperasi. Jumlah manajer koperasi pada tahun 2000 sebanyak 245 orang mengalami pertambahan pada tahun 2004 menjadi 279 orang atau mengalami kenaikan sebanyak 34 orang (33,33%).

(7)

Ketersediaan modal memegang peranan penting dalam bisnis, baik modal dari dalam (modal sendiri) maupun modal dari luar. Pada tahun 2000 tercatat modal sendiri koperasi sebesar Rp. 30.153 juta mengalami pertumbuhan menjadi sebesar Rp. 31.987 juta pada tahun 2004 atau mengalami kenaikan sebesar Rp. 1.834 juta (6,80%) dibanding pada tahun 2000. Sedangkan modal luar koperasi pada tahun 2000 tercatat Rp.63.766 juta naik menjadi Rp. 66.166 juta pada tahun 2004 atau mengalami kenaikan sebesar Rp. 2.400 juta (3,63%).

Kinerja koperasi dilihat dari volume usaha tidaklah mengecewakan, pada tahun 2000 volume usaha koperasi sebesar Rp. 248.673 juta yang terus menerus meningkat dari tahun ketahunnya, pada tahun 2004 tercatat menjadi Rp. 273.879 juta atau mengalami pertumbuhan sebesar Rp. 25.206 juta (9,20%). Kontribusi terbesar berturut-turut diberikan oleh jenis Koperasi Simpan Pinjam, Koperasi Karyawan, PKPRI, Koperasi Unit Desa dan Koperasi Warga.

Sedangkan kinerja koperasi dilihat dari Sisa Hasil Usaha pada tahun 2000 tercatat sebesar Rp. 15.309 juta mengalami kenaikan sebesar Rp. 4.082 juta atau menjadi Rp. 19.392 juta pada tahun 2004, yang berarti mengalami kenaikan sebesar 21,05%.

Tabel 2.2.7

Perkembangan Sub Fungsi Koperasi di Kabupaten Serang Tahun 2000-2004

No U r a i a n Tahun

2000 2001 2002 2003 2004

1 Jumlah Unit Usaha 832 848 876 908 998

2 Jumlah Anggota Koperasi 71.499 72.179 73.275 77.505 85.703 3 Jumlah Manager Koperasi 245 248 250 268 279 4 Modal Sendiri (Rp. Juta) 30.153 30.804 31.187 31.477 31.987 5 Volume Usaha (Rp. Juta) 248.673 252.437 256.135 261.170 273.879 6 Sisa Hasil Usaha (Rp. Juta) 15.309 15.062 16.908 17.052 19.392

Sumber: Dinas Perindagkop Kabupaten Serang, 2005

Di tengah-tengah tumbangnya usaha skala besar yang terkena dampak krisis, sektor usaha kecil sangat besar kontribusinya terhadap daya tahan perekonomian. Secara jelas dan nyata peranan usaha kecil terhadap pergerakan

(8)

sektor ekonomi riel dalam menyumbangkan kontribusinya baik dari sisi pertambahan nilai tambah maupun terhadap penyerapan tenaga kerja.

Pada tahun 2000 tercatat usaha mikro, kecil dan menengah sebanyak 17.429 unit usaha berkembang menjadi 26.795 unit usaha pada tahun 2004 atau mengalami pertumbuhan sebanyak 9.366 (34,95%) unit usaha. Dengan kontribusi pertumbuhan dari usaha mikro sebesar 34,34%, usaha kecil 46,29% dan usaha menengah sebesar 20,00%.

Dilihat dari penyerapan tenaga kerja UMKM pada tahun 2000 tercatat sebanyak 44.969 orang meningkat sebanyak 25.781 orang (36,44%) pada tahun 2004 yang tercatat sebanyak 70.749 orang. Dengan penyerapan sebanyak itu sangat berarti disaat orang sulit mencari pekerjaan, kasus PHK dan semakin terbatasnya lapangan pekerjaan.

Begitu juga bila dilihat dari sisi nilai investasi UMKM mengalami kenaikan cukup signifikan yaitu sebesar Rp. 167.270 juta (22,68%) pada tahun 2004 (Rp.737.544 juta) dibanding pada tahun 2000 yang tercatat sebesar Rp.570.274 juta.

Tabel 2.2.7

Perkembangan Sub Fungsi UMKM di Kabupaten Serang Tahun 2000-2004

No U r a i a n Tahun

2000 2001 2002 2003 2004

1 Jumlah Unit Usaha 17.429 19.388 21.527 24.151 26.795

Usaha Mikro 16.459 18.288 20.320 22.578 25.067 Usaha Kecil 810 900 1.006 1.357 1.508 Usaha Menengah 160 180 180 180 200 2 Penerapan Tenaga Kerja 44.968 53.313 58.237 63.709 70.749 3 Investasi (Rp. Juta) 570.274 640.305 651.450 663.834 737.544

(9)

2.2.3. Sub Fungsi Tenaga Kerja

Jumlah dan besarnya penduduk yang dikaitkan dengan pertumbuhan income perkapita secara garis besar mencerminkan kemajuan perekonomian

suatu negara. Pertumbuhan penduduk akan mempengaruhi besarnya

pertumbuhan angkatan kerja, semakin besar jumlah penduduk usia kerja, secara otomatis jumlah angkatan kerja bertambah, yang berarti partisipasi penduduk dalam angkatan kerja meningkat. Indikator ketenagakerjaan dapat memeberikan gambaran tentang seberapa besar keterlibatan penduduk dalam kegiatan ekonomi produktif adalah tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) yaitu persentase penduduk (10 tahun ke atas) yang tergolong angkatan kerja.

Semakin tinggi TPAK menggambarkan kondisi ketenagakerjaan yang semakin baik, karena hal itu berarti partisipasi angkatan kerja semakin meningkat, bila peningkatan angkatan kerja seiring dengan bertambahnya partisipasi penduduk yang bekerja. Hal ini peningkatan TPAK dipicu oleh meningkatnya partisipaasi penduduk yang bekerja atau tingkat pengangguran menurun, akan tetapi bila peningkatan angkatan kerja seiring dengan bertambahnya peningkatan partisipasi penduduk yang mencari pekerjaan, ini pertanda peningkatan TPAK dipicu oleh meningkatannya partisipasi penduduk yang mencari pekerjaan atau dengan kata lain penmgangguran bertambah.

Proporsi pendduduk yang bekerja menurut lapangan pekerjaan bisa dipakai dsebagai salah satu ukuran untuk melihat salah satu potensi sektor perekobnomian dalam menyerap tenaga kerja.

Gambaran penyerapan tenaga kerja berdasarkan perusahaan yang ada di Kabupaten Serang sebagai berikut :

(10)

Jumlah Jumlah Tenaga Kerja

No. KLUI Perusahaan Laki

laki

Perempuan Jumlah

1. Pertaniaan, Peternakan,

Kehutanan, Perburuan dan Perikanan 27 3.480 869 4.349 2. Pertambangan dan penggalian 6 259 10 269 3. IndustriPengolahan 253 34.484 38.296 72780

4. Listrik gas dan air 5 727 61 788

5. Bangunan 28 842 50 892

6. Perdagangan besar,

eceran, dan rumah makan serta hotel

130 3.208 750 3.958

7. Angkutaan, Pergudangan

dan Telekomunikasi

13 410 43 453

8. Keuangan, Asuransi, Usaha

persewaan tanah dan jasa perusahaan

37 1.246 234 1.480

9. Jasa kemasyarakatan sosial

dan perorangan

28 639 226 865

Jumlah 527 45.296 40.539 85.834

(11)

Jumlah pencari kerja berdasarkan jenjang pendidikan pada tahun 2005, adalah sebagai berikut:

Pedidikan Pencari kerja

SD 369 SMP 4521 SMA 3703 D 1 1183 D II 1308 D III 1241 S 1 3292 S 2 42

Hal tersebut diatas memerlukan perhatian dari pihak-pihak terkait, sementara jumlah lowongan/kesempatan kerja yang tersedia hanya untuk 2409 Orang. Sedangkan jumlah penempatan tenaga kerja dalam negeri adalah 144 orang, jumlah pemutusan hubungan kerja mencapai 52 kasus dimana melibatkan tenaga kerja 66 orang, jumlah penutupan perusahaan terdapat satu perusahaan

dan jumlah pelanggaran perundang – undangan ketenagakerjaan terdapat 4

kasus pelanggaran.

2.2.4. Sub Fungsi Pertanian, Kehutanan, Perikanan dan Kelautan

Dengan jumlah penduduk yang semakin bertambah pembangunan

pertanian khususnya bermuara pada ketahanan pangan karena hal tersebut didasarkan atas akses individu atau Rumah tangga terhadap pangan. Dimana semakin tinggi akses suatu Rumah tangga terhadap pangan maka semakin tinggi ketahanan pangan. Pangan merupakan kebutuhan paling dasar bagi manusia dan sangat berperan dalam ketahanan ekonomi maupun ketahanan Nasional.

Untuk memenuhi kebutuhan makanan pokok di Kabupaten Serang selama 5 (lima ) dari Tahun 2000 sampai dengan 2004 maka perkembangan produksi beras menunjukan rata-rata peningkatan produksi padi mencapai 4,15 persen per tahun, kecuali pada tahun 2002 dan 2003 terjadi penurunan produksi

(12)

masing-masing 0,62 dan 3,13 persen. Adanya penurunan tersebut disebabkan terjadinya anomaly iklim dimana pada tahun 2002 tercatat 4.304 ha sawah mengalami puso dan 10.401 ha terkena kekeringan, kebanjiran dan serangan OPT, sedangkan tahun 2003 seluas 4.952 ha sawah mengalami puso, adapun yang terkena kekeringan, kebanjiran dan serangan OPT mencapai 15.252 ha.

Tabel 3.2.1

PERKEMBANGAN LUAS PANEN, PRODUKSI DAN PRODUKTIVITAS PADI SELAMA 5 TAHUN DI KABUPATEN SERANG

URAIAN TAHUN

KOMODITAS 2000 2001 2002 2003 2004

Padi Sawah

 Luas Panen (Ha) 86.792 89,673 82.836 81,258 86,025

 Produksi (Ton) 381,885 421,463 418.359 405,208 443,029

 Produktivitas (Ton/Ha) 4,40 4,70 5,05 4,99 5,15

Padi Gogo

 Luas Panen (Ha) 4,013 3,171 3,128 2,524 3,248

 Produksi (Ton) 9.230 8.465 8,816 8,585 9,776

 Produktivitas (Ton/Ha) 2,30 2,67 2,82 3,40 3,01

Jumlah Padi

 Luas Panen (Ha) 90.805 92.844 85.964 83.782 89.271

 Produksi (ton) 391.115 429.928 427.175 413.793 451.711

(13)

Tabel 3.2.2.

PERKEMBANGAN PRODUKSI BERAS DI KABUPATEN SERANG SELAMA 5 TAHUN (2000 – 2004) TAHUN PRODUKSI (TON) PERTUMBUHAN (%) KONSUMSI BERAS (TON) SURPLUS/ DEFISIT (TON) PADI (GKG) BERAS 2000 391,115 204,709 2,32 190,894 13,815 2001 429,829 225,000 9,72 192,783 32,217 2002 427,175 223,794 -0,62 200,457 23,337 2003 413,793 216,675 -3,13 205,243 11,432 2004 452,805 243,874 12,46 209,348 34,520

Berdasarkan tabel 3.2.2. diketahui Rata-rata peningkatan produksi padi mencapai 4,15% per tahun, namun pada tahun 2002 dan 2003 terjadi penurunan produksi masing-masing 0,62 dan 3,13% disebabkan terjadinya anomalI iklim tahun 2002 tercatat 4.304 ha sawah mengalami puso dan. 101 ha terkena kekeringan, kebanjiran dan serangan OPT tahun 2003 seluas 4.952 ha sawah mengalami puso dan 15.252 ha terkena kekeringan, kebanjiran dan serangan OPT.

Tabel 3.2.4

PERKEMBANGAN KETERSEDIAAN PRODUKSI BERAS LOKAL UNTUK KONSUMSI PENDUDUK SERANG SELAMA 5 TAHUN

TAHUN KETERSEDIAAN (TON) KEBUTUHAN SURPLUS (TON) (TON) 2000 204,709 190,854 13,815 2001 225.000 192,783 32,217 2002 223,794 200,457 23,337 2003 216,675 205,243 11,432 2004 243,874 209,348 34,526

Berdasarkan tabel 3.2.4. maka dapat diperoleh informasi sebagai berikut :

- Angka sasaran produksi pada tahun 2004 (Keputusan Bupati No. 521.1/Kep 105-Nak/2004, tentang Proksi Mantap Kabupaten Serang

- Kebutuhan konsumsi beras 115,5 kg/kap/th (Badan Ketahanan Pangan, Deptan 2003)

(14)

- Ketersediaan produksi beras dihitung berdasarkan produksi padi dikurangi lossis dan kebutuhan benih dikonservasi ke beras dengan rendemen 62%.

Untuk memenuhi kebutuhan pokok hewani di Kabupaten Serang, maka perkembangan populasi ternak ruminansia (ternak besar) selama kurun waktu 5 tahun dari tahun 2000 sampai dengan 2004 menunjukan hasil sebagai berikut :1) popilasi kambing meningkat pada tahun 2000 sebanyak 115.242 ekor dan pada tahun 2004 sebanyak 147.638 ekor (28,11 %); 2) Domba meningkat pada tahun 2000 sebanyak 82.528 ekor dan pada tahun 2004 sebanyak 89.089 ekor (7,94 %);p 3) populasi sapi perah menampilkan perkembangan yang positif (6,25 %); 4) Populasi sapi potong mengalami penurunan setiap tahunnnya 0,82 % karena mutasi ternak keluar, kurangnya peternak memelihara sapi jantan, sehingga kelahiran ternak kurang; 5) populasi kerbau menurun rata-rata pertahun 4,12 %, karena masih melekatnya kultur tradisional, kebanyakan peternak untuk tidak memelihara jantan; 6) populasi kuda rata-rata per tahun menurun 14,24 % karena kebanyakan mutasi keluar kabupaten Serang, mati yang dipelihara sebagai jantan untuk digunakan angkutan gerobak.

Tabel 3.2.8

PERKEMBANGAN POPULASI TERNAK RUMINANSIA KABUPATEN SERANG TAHUN 2000 – 2004

NO KOMODITAS

PRODUKSI DALAM TAHUN

r (%) (ekor) 2000 2001 2002 2003 2004 1 Sapi Perah 3 4 6 4 3 6,25 2 Sapi Potong 4.900 2.530 2,951 3,651 3,823 - 0,82 3 Kerbau 33,786 30,504 29,411 29,823 28,454 - 4,12 4 Kuda 70 64 66 54 36 - 14,24 5 Kambing 115,242 128.540 133,685 141,171 147,638 6,43 6 Domba 82,528 79,368 80,956 84,679 89,082 1,99

Perkembangan populasi ternak unggas selama kurun waktu 5 tahun dari tahun 2000 sampai dengan tahun 2004 bahwa secara keseluruhan populasi ternak unggas berkembang dengan satuan angka pertumbuhan yang positif pertahun, namun tahun 2004 populasi unggas menurun terdiri dari ayam buras

(15)

dari 2.151.581 ekor (tahun 2003) menjadi 1.666.542 ekor (tahun 2001) (22,54%), ayam ras pedaging dari 2.721.920 ekor (tahun 2003) menjadi 2.210.500 ekor Tahun 2004 ( 18,79%), ayam ras petelur dari 1.952.246 ekor (tahun 2003) menjadi 1.294.119 ekor (tahun 2004) ( 33,71%), itik dari 359.584 ekor (tahun 2003) menjadi 296.291 ekor (tahun 2004 ( 17,60%). Hal ini terjadi penurunan berdasarkan pemeriksaan morphologis, pathologis jaringan dan organ visceral menunjukkan gejala penyakit AI (Avian Influenza) pada kasus kematian accut (mendadak). Kematian sejak tahun 2003 hingga tahun 2004.

Tabel 3.2.9

PERKEMBANGAN POPULASI TERNAK UNGGAS KABUPATEN SERANG TAHUN 2000 – 2004 NO KOMODITAS

PRODUKSI DALAM TAHUN

r (%) (ekor) 2000 2001 2002 2003 2004 1 Ayam Buras 1.537.955 1.864.132 1.984.853 2.151.581 1.666.542 3,39 2 Ayam Ras Pedaging 1.154.930 2.650.400 2.604.818 2.721.920 2.210.500 28,37 3 Ayam Ras Petelor 1.318.312 2.554.580 2.142.623 1.952.246 1.294.119 8,76 4 Itik 207,187 221,404 345,754 359,584 296,291 12,36 JUMLAH 4.218.384 7.290.516 4.078.048 7.185.331 5.467.452 -

Perkembangan produksi daging, telur dan susu di kabupaten Serang selama kurun waktu 5 tahun terakhir dari tahun 2000 sampai dengan tahun 2004 menunjukan peningkatan produksi daging sebesar 3,45 %, produksi susu 0,07

persen dan terjadi penurunan dalam hal produksi telur sebesar – 6,25 persen.

Penurunan produksi daging terbesar dialami oleh ayam ras petelor mencapai –

15,83 persen. Hal ini terjadi diakibatkan oleh populasi hewan yang terkena wabah penyakit AI (Avian Influenza).

(16)

Tabel 3.2.10

PERKEMBANGAN PRODUKSI DAGING, TELUR DAN SUSU KABUPATEN SERANG TAHUN 2000 – 2004

NO KOMODITAS

PRODUKSI DALAM TAHUN

r (%) (ekor) 2000 2001 2002 2003 2004 A Daging 15.7570.04 5 1746,877 16.113.485 15.666.399 13.601.467 3,45 Sapi 561,146 520,459 614,593 663,859 669,053 4.61 Kerbau 532,006 545,62 230,164 271.040 351,054 - 1.99 Kambing 428,589 477,34 609.600 624.900 630.000 10,60 Domba 199,275 203,458 283,813 189,438 196,313 2,99 Ayam Buras 1099,637 1.227.344 1.554.140 1.609.844 1.087.419 2,34 Ayam Ras Petelor 1.326.865 1.422.367 1.025.245 934.150 619,238 -15,83 Ayam Ras Pedaging 11.609.527 12.048.367 11.795.930 11.373.168 10.048.390 -3,39 Itik 90,489 91,828 98,756 102,624 97,393 1,96 B Telur 17.073.646 18.208.872 19.151.246 17.470.717 12.572.058 -6,25 Ayam Buras 645,941 729,616 816,637 903,664 816,606 6,48 Ayam Ras 15.555.110 16.553.678 16.865.763 14.884.197 10.484.364 -8,25 Itik 872,595 925,578 1.468.846 1.682.856 1.271.088 13,72 C Susu 1.970 1,434 2,007 2.180 1.720 0,07 Sapi Perah 1.970 1,434 2,007 2.180 1.720 0,07 JUMLAH 32.836.661 34.655.261 35.266.738 33.139.296 26.175.245

(17)

Di Kabupaten Serang luas lahan kritis diluar kawasan hutan yang direhabilitasi selama kurun waktu 5 (lima) tahun dari tahun 2000 sampai dengan 2004 menunjukkan bahwa target seluas 12.835 hektar baru sekitar 24,09 persen atau seluas 3.091,5 hektar yang terehabilitasi sedangkan sisanya mencapai 9.743,5 hektar atau 75,9 persen. Sisa luas lahan terbesar diatas 500 hektar yang belum terrehabilitasi berada di Kecamatan Bojonegara 1.808 hektar, Pulo ampel 1.072 hektar dan Taktakan 1.032 hektar, pabuaran 759 hektar, Mancak 747 hektar, Ciomas 590 hektar, Anyer 570 hektar, Petir 500 hektar dan yang lainnya dibawah 500 hektar tersebar di Kecamatan Cinangka 475 hektar, Padarincang 470,5 hektar, , Cikeusal 437,5 hektar, Cipocok Jaya 75 hektar, Mancak 416 hektar, Kramatwatu 45 hektar, Jawilan 175 hektar, Walantaka 179,5 hektar, Kopo 39 hektar, dan Tunjung Teja 362 hektar sedangkan kecamatan Pamarayan telah terehabilitasi seluas 100 hektar pada tahun 2003, Kecamatan Baros pada tahun 2003 dan 2004 telah terehabilitasi seluas 50 hektar, dan Curug telah terehabilitasi seluas 312,5 hektar pada tahun 2000, 2001 dan 2003.

Upaya rehabiltasi lahan kritis yang dilaksanakan sejak tahun 2000 sampai dengan 2004 antara lain : 1) pembuatan hutan rakyat, 2) pembuatan dam penahan, 3) pembuatan sumur resapan, 4) pembuatan kebun bibit desa, 5) pembuatan kebun bibit permanen, 6) rehabilitasi hutan pantai/ mangrove, 7) pembuatan usaha pelestarian sumberdaya alam, 8) penanaman kanan-kiri jalan, 9) penghijauan bendung pamarayan, 10) penanaman lahan di bawah tegakan dan 11) perlebahan. Kegiatan-kegiatan tersebut diatas dilaksanakan selain untuk merehabilitasi lahan kritis juga untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan perbaikan kondisi lingkungan.

(18)

Tabel 3.5.1

LAHAN KRITIS DILUAR KAWASAN HUTAN YANG DIREHABILITASI SELAMA 5 TAHUN ( 2000 S/D 2004) NO KECAMATAN LUAS LAHAN KRITIS (Ha)

REHABILITASI LAHAN SISA

2000 2001 2002 2003 2004 (Ha) 1 Cinangka 745 175 - - 20 75* 475 2 Padarincang 690,50 150 - - 20 50* 470,50 3 Ciomas 790 150 - - - 50* 590 4 Pabuaran 1,028 194 - 50 - 25* 759 5 Petir 875 100 100 25 125* 25* 500 6 Curug 312,50 100 62,5 - 150* - - 7 Cikeusal 702,50 100 - 5 5 5 437,50 150* 8 Cipocok Jaya 175 100 - - - - 75 9 Taktakan 1.123 100 - - - - 1,023 10 Wr. Kurung 747 - - - 747 11 Mancak 666 100 10 - 20 100* 416 12 Bojonegara 1.858 - - - - 20 1.808 50* 13 Anyer 815 100 - 50 - 20 570 75* 14 Pulo Ampel 1.112 - - - 20 20 1,072 15 Kramat Watu 65 - - - - 20 45 16 Jawilan 175 - - - 175 17 Walantaka 304,50 - - - 125* - 179,5 18 Kopo 39 - - - 39 19 Tunjung Teja 462 - - - 75* 25* 362 20 Pamarayan 100 - - - 100* - - 21 Baros 50 - - - 25* 25* - JUMLAH 12,835 1,369 172,5 130 85 85 9,743.5 750* 500*

(19)

* Adalah rehabilitasi lahan yang bersumber dari APBN melalui Program Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GNRHL) sebagai upaya untuk mengendalikan lahan kritis yang telah diprogramkan secara nasional.

Produksi perikanan Kabupaten Serang dalam periode tahun 2000 – 2004

relatif stabil dengan produksi pertahun 14.624 ton. Tahun 2003 produksi mengalami penurunan yang drastis yaitu sebesar 7.960 ton, tetapi pada tahun 2004 kembali mengalami peningkatan sebesar 10%. Hal ini sejalan dengan program “GERBANG MINA BAHARI” yang didengungkan oleh Departemen Kelautan dan Perikanan, maka kabupaten Serang bertekad lebih serius

menangani usaha budidaya seperti dengan dilaksanakannya kegiatan

Optimalisasi Balai Benih Ikan (BBI), Pengembangan Budidaya Perikanan, Pengembangan Pembenihan di Masyarakat, Pengelolaan Balai Benih Ikan, Budidaya Ikan Air Tawar di Keramba, Budidaya Ikan Kerapu di Keramba, Percontohan Budidaya Bandeng Umpan, Budidaya Ikan Hias dan Pembangunan Pengembangan Balai Benih Ikan sebagai upaya pemenuhan kebutuhan benih ikan bagi masyarakat Kabupaten Serang selain itu dengan terpenuhinya benih ikan diharapkan kondisi ini dapat mengurangi tekanan terhadap usaha perikanan tangkap terutama untuk wilayah perairan yang padat tangkap (over fishing).

Tabel 3.3.1

PERKEMBANGAN PRODUKSI PERIKANAN KABUPATEN SERANG , 2000 - 2004

Uraian Tahun (Ton)

2000 2001 2002 2003 2004

Penangkapan 8.829,30 11.245,30 12.134,80 6.295,30 6.795,80

Budidaya 7.465,70 7.439,50 2.351,10 1.665,50 2.946,30

Jumlah 16.295,00 18.684,80 14.485,90 7.960,80 9.742,00

Dari data produksi terlihat produksi ikan tangkap dari tahun 2000 – 2002

Tabel produksi mengalami kenaikan. Tahun 2001 naik 35,87%, tahun 2002 naik 7,79%, tetapi pada tahun 2003 mengalami penurunan yang cukup besar yaitu sebesar 47,71 %. Penurunan disebabkan antara lain karena tidak adanya cek point keluar masuknya ikan antar Kabupaten, makin maraknya perdagangan ikan ditengah laut, banyaknya ikan yang didaratkan diluar lokasi TPI sehingga tidak

(20)

terdata serta kalahnya bersaing dengan armada dari luar wilayah Serang dan juga menurunya jumlah kapal motor di Kabupaten Serang.

Pada tahun 2004 produksi ikan kembali meningkat sebesar 13,10%. Hal ini karena pada saat itu pengawasan dilaut telah mulai dilaksanakan. Patroli dilakukan baik oleh pihak Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Serang maupun Dinas Kelautan dan Perikanan Propinsi Banten.

Perkembangan produksi ikan budidaya tahun 2000 mencapai 7465,70 ton terus mengalami penurunan sampai tahun 2003. Tahun 2001 turun sebesar 0,18%; tahun 2002 turun 51,9%; dan tahun 2003 turun 17,1% tetapi tahun 2004 kembali mengalami kenaikan sebesar 27,7%. Penurunan produksi ikan budidaya tersebut pada tahun 2003 disebabkan antara lain karena usaha budidaya ikan darat masih belum mengarah ke usaha, tetapi lebih untuk pemenuhan konsumsi Rumah Tangga disamping masih lemahnya permodalan. Hal ini terlihat dari adanya kenaikan produksi pada tahun 2004 setelah diberikannya pembinaan teknis dan adanya bantuan modal untuk budidaya perikanan air tawar dan budidaya tambak.

Nilai produksi perikanan merupakan nilai jual yang didapat dan diukur dengan banyaknya uang sebagai hasil jual dari produksi perikanan. Sejalan dengan perkembangan produksi perikanan maka nilai produksinya pun relatif mengikuti trend grafik yang sama dengan jumlah produksi. Nilai tersebut diharapkan dapat meningkat lagi di tahun-tahun mendatang dengan upaya optimalisasi penanganan pasca panen. Usaha ini telah dilakukan yaitu dengan proyek Pengelolaan Pasca Panen dan Pembinaan Mutu Hasil Perikanan dan Kelautan serta Pengadaan Sarana Mutu Hasil Perikanan.

(21)

Tabel 3.3.2

PERKEMBANGAN NILAI PRODUKSI PERIKANAN KABUPATEN SERANG 2000 - 2004 Uraian Tahun (Rp. 1.000) 2000 2001 2002 2003 2004 Penangkapan 34.604.600 53.940.750 55.515.560 26.937.600 29.571.700 Budidaya 67.629.300 85.960.600 25.391.400 14.626.987 20.496.600 Jumlah 102.233.900 139.901.350 80.906.960 41.564.587 50.068.300

Jumlah nelayan yang bekerja dibidang usaha perikanan tangkap baik dilaut maupun perairan umum tahun 2000 mencapai 6.820 orang dengan didominasi oleh buruh nelayan. Pada tahun 2001 sampai dengan 2002 mengalami penurunan karena banyaknya petani ikan dan nelayan yang beralih profesi. Tetapi tahun 2003 kembali meningkat mencapai 5.166 orang seiring dengan bertambahnya armada perikanan dan petani ikan dan nelayan. Demikian pula tahun 2004 meningkat lagi menjadi 6.486 orang karena armada perikanan yang bertambah cukup signifikan

Tabel 3.3.3

PERKEMBANGAN RUMAH TANGGA PERIKANAN DAN NELAYAN 2000 - 2004

Uraian Tahun (Ton)

2000 2001 2002 2003 2004

RTP 1.446 917 942 1261 1.125

RTBP 4.974 3.905 3.905 3905 5.361

JUMLAH 6.820 4.965 4.965 5.166 6.486

Keterangan :

RTP = Rumah Tangga Perikanan RTBP = Rumah Tangga Buruh Perikanan

Untuk menunjang produksi perikanan, maka sarana perikanan dan alat tangkap yang digunakan oleh nelayan sangat berperan. Untuk perikanan tangkap, perahu atau kapal sebagai sarana angkutan air sangat dibutuhkan . Sarana angkutan ini berupa perahu tanpa motor ( PTM ), perahu motor tempel (PMT) dan kapal motor (KM). Dari tabel terlihat dari tahun 2000 sampai dengan 2002 jumlah sarana perikanan cenderung menurun, tahun 2003 jumlah sarana angkutan ini

(22)

meningkat sedikit, penambahan terjadi pada PTM dan MT sedangkan KM menurun cukup banyak. Penurunan jumlah KM ini diduga merupakan salah satu penyebab menurunnya produksi perikanan di Kabupaten Serang pada tahun 2003. Ini disebabkan kapal motor merupakan salah satu andalan dalam upaya

kegiatan perikanan tangkap karena kemampuannya untuk melakukan

penangkapan diluar perairan pantai, sebab jika hanya mengandalkan motor tempel atau perahu tanpa motor kemampuannya sangat terbatas hanya di perairan pantai saja. Sedangkan kondisi perairan pantai Kabupaten Serang telah mengalami over fishing. Pada tahun 2004 produksi perikanan kembali meningkat karena adanya penambahan sarana baru serta adanya pencacahan ulang.

Tabel 3.3.4

Perkembangan Sarana Perikanan tahun 2000-2004

Uraian Tahun (Unit) 2000 2001 2002 2003 2004 PTM 300 50 50 57 50 MT 906 827 829 387 882 KM 187 238 238 209 243 JUMLAH 1.393 1.115 1.117 653 1.175 Keterangan :

PTM = Perahu Tanpa Motor MT = Motor Tempel

(23)

2.2.5. Sub Fungsi Bahan Bakar dan Energi

Program Pengembangan Listrik Pedesaan adalah salah satu program yang dikembangkan oleh Dinas Perikanan dan Kelautan. Dari tahun 2000 sampai dengan 2003 telah terpasang 210 unit di desa Wangun, desa Cikedung, desa Padarincang, dan desa Kedung Soka.

Tabel 3.4.3

Pemasangan PLTS di Kabupaten Serang Tahun 2000 – 2004

Tahun (unit)

2000 2001 2002 2003 2004

PLTS 50 60 50 50 -

2.2.6. Sub Fungsi Pertambangan

Perkembangan hasil produksi pertambangan galian dari tahun 2000 sampai dengan 2004 berfluktuasi. Fluktuasi produksi ini karena penambangan yang disesuaikan dengan permintaan pasar. Produksi pasir laut baru dimulai pada

tahun 2003 dengan jumlah 337.500.000 M3 dan meningkat menjadi 1.949.430 M3

pada tahun 2004 adapun potensi pasir laut yang dimiliki sebesar 65.807.142 M3

Tabel 3.4.1

Perkembangan Potensi dan Pemanfaatan Pertambangan di Kab. Serang Tahun 2000 – 2004

Potensi Pemanfaatan Potensi Pemanfaatan Potensi Pemanfaatan Potensi Pemanfaatan (M3) (M3) (M3) (M3) (M3) (M3) (M3) (M3) Pertambangan a. Galian C - Batu - - 1.895.906,414 211.971,580 1.683.934,834 364.569,190 1.319.365,644 320.716,273 - Pasir - - - - - - - -- Tanah urug - - 133.142,685 61.300 71.824,685 - 68.224,685 3.600 b. Pasir laut - - - - 65.807,142 337.500 65.469.642 1.949.430 Indikator 2000/2001 2002 2003 2004

(24)

Tabel 3.4.2

Perkembangan Produksi dan Nilai Produksi dan Pertambangan Kab. Serang Tahun 2000 – 2004

Perusahaan pemakai air bawah tanah di Kabupaten Serang mulai tahun 2002 sampai dengan tahun 2004 mulai di data secara bertahap. Pada tahun 2002 ada 52 perusahaan pemakai air bawah tanah, tahun 2003 sebanyak 45 perusahaan dan tahun 2004 sebanyak 143 perusahaan yang tersebar di beberapa kecamatan. Jadi jumlah perusahaan pemakai air bawah tanah yang sudah di data sebanyak 241 perusahaan. Dan dengan diberlakukannya Perda No 2 tahun 2004 maka pada tahun 2004 telah 80 perusahaan yang membuat SIPAT / SIP yang menyumbang PAD sebesar RP 109.000.000, -

Tabel 3.4.4

Perusahaan Pemakai Air Bawah Tanah di Kabupaten Serang Tahun 2000 – 2004

Tahun (Buah)

2000-2001 2002 2003 2004

Perusahaan Pemakai

Air Bawah Tanah - 52 45 143

Jumlah Produksi Jumlah Produksi Jumlah Produksi Jumlah Produksi

(M3) (M3) (M3) (M3) Pertambangan a. Galian C - Batu - - 211.972 211.972 364.569 3.645.691.900 320.716.273 3.207.162.730 - Pasir - - - - - - - -- Tanah urug - - 61.300 153.250.000 - - 3.600 900.000 b. Pasir laut - - - - 337.500 3.375.000.000 1.949.430 19.494.300.000 2003 Nilai Produksi Indikator 2004 Nilai Produksi 2000/2001 Nilai Produksi 2002 Nilai Produksi

(25)

2.2.7. Sub Fungsi Industri dan Kontruksi

Berdasarkan data PDRB Kabupaten Serang sejak tahun 2000 sampai dengan tahun 2004 sektor industri memberikan kontribusi PDRB lebih dari 50%, untuk mempertahankan dan bahkan memacu sektor industri tersebut maka perlu dipacu pertumbuhannya baik dari segi jumlah unit usaha maupun dari sisi investasinya. Berdasarkan jumlah unit usaha, diketahui pada tahun 2000 jumlah unit usaha sektor industri sebanyak 15.189 buah meningkat menjadi 18.453 buah pada tahun 2004 atau mengalami pertumbuhan sebanyak 3.264 buah (17,69%) dengan didominasi oleh industri non formal sebanyak 17.514 (94,91%).

Penyerapan tenaga kerja tahun 2004 di sektor industri mengalami kenaikan sebesar 37.454 orang (29,50%) dibanding pada tahun 2000 sebanyak 89.530 orang. Tenaga kerja yang terserap tahun 2004 pada kelompok industri formal sebanyak 74.442 orang atau meningkat sebesar 38,17%. Sedangkan kelompok industri non formal dapat menyerap sebesar 52.542 orang (41,38%) pada tahun 2004 yang berarti mengalami kenaikan sebesar 17,21, lebih lengkap dari uraian tersebut di atas dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 2.2.7

Perkembangan Sub Fungsi Koperasi di Kabupaten Serang Tahun 2000-2004

No U r a I a n Tahun

2000 2001 2002 2003 2004

1 Jumlah Unit Usaha 15.189 16.050 16.749 17.612 18.453

Industri Formal 689 750 785 848 939

Industri Non Formal 14.500 15.300 15.964 16.764 17.514

2 Jumlah Tenaga Kerja 89.530 96.421 101.434 108.423 126.984

Industri Formal 46.030 50.521 54.653 58.224 74.442

Industri Non Formal 43.500 45.900 46.781 50.199 52.542

(26)

2.2.8.Sub Fungsi Ekonomi Lainnya

Peranan investasi dunia usaha swasta mempunyai arti penting bagi pembangunan baik secara regional maupun nasional. Investasi merupakan kegiatan ekonomi yang bersifat makro dan merupakan motor penggerak pertumbuhan ekonomi yang bersifat lintas wilayah dan intas sektoral, oleh karena itu tidak mengenal batas-batas kegiatannya dan berlangsung secara terus menerus berkesinambungan dan tidak dapat diputus.

Investasi yang dampak positifnya terhadap adanya kesempatan kerja, peningkatan pendapatan masyarakat, peningkatan daya beli, tingkat konsumsi dan tingkat tabungan masyarakat sangat dibutuhkan oleh suatu negara/daerah guna merubah kondisi ekonomi potensial menjadi ekonomi riil.

Tanpa investasi swasta negara/daerah dimanapun tidak dapat membangun dan pada hakekatnya investasi pemerintah (Public Investment) yang dilihat dari segi nilai hanya sebagian kecil mutlak dilaksanakan untuk penunjang, merangsang, memfasilitasi investasi dunia swasta (Private Investment).

Dalam rangka merubah kondisi ekonomi potensial menjadi ekonomi riil dibutuhkan investasi swasta yang cukup besar baik asing maupun dalam negeri.

Sesuai dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri No.3 Tahun 1995 tentang Pedoman Perencanaan Pananaman Modal Daerah, mempunyai maksud untuk memberikan arahan dan dorongan, agar kegiatan penanaman modal dapat ditingkatkan dalam rangka menunjang pertumbuhan ekonomi daerah. Tujuan perencanaan penanaman modal daerah, adalah :

a. Optimalisasi pemanfaatan potensi penanaman modal yang dimiliki oleh masing-masing daerah

b. Terarahnya lapangan/bidang usaha yang akan dipromosikan

c. Mantapnya usulan proyek-proyek pemerintah sebagai penunjang kegiatan penanaman modal daerah

Untuk itu Pemerintah Daerah harus proaktif dalam mengelola dan memanfaatkan seluruh kekuatan ekonomi potensial diwilayahnya baik yang berupa potensi Sumber Daya Alam (SDA), Sumber Daya Manusia (SDM), maupun sumber daya lainnya untuk menjadi kekuatan ekonomi riil yang tumbuh dan berkembang lebih cepat. Salah satu faktor dominan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi tersebut adalah kegiatan investasi di seluruh sektor, baik

(27)

yang bersumber dari dalam negeri dalam rangka PMDN, maupun dari luar negeri dalam rangka PMA serta dalam rangka Non PMA/PMDN. Investasi merupakan salah satu variabel yang sangat penting dalam perekonomian suatu negara/daerah. Karena melalui kegiatan investasi akan terbentuk nilai tambah yang diperoleh dari proses produksi yang menghasilkan output barang dan jasa untuk dipasarkan di dalam negeri maupun ekspor.

Kemajuan suatu negara atau suatu daerah salah satunya ditentukan oleh kegiatan investasi yang berlangsung di negara/daerah tersebut. Perkembangan investasi yang pesat di suatu negara/daerah sangat berdampak luas (multiplier effect)yaitu selain mendorong pertumbuhan ekonomi juga akan menimbulkan kestabilan sosial politik yang baik, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta dapat digunakan sebagai indikator meningkatkan kepercayaan dunia terhadap suatu negara/daerah. Dalam kenyataannya keinginan untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi di suatu negara/daerah tersebut dapat menarik dan mengembangkan investasi di wilayahnya baik yang bersumber dari dalam/luar negeri. Terjadinya krisis ekonomi di berbagai negara Asia khususnya Indonesia sejak tahun 1997, kegiatan investasi turun tajam. Hal ini membuktikan adanya indikator yang kuat hubungan yang saling berkaitan antara investasi dan perekonomian.

Dalam kaitannya dengan pelaksanaan otonomi daerah, maka pemerintah daerah tidak ada pilihan lain kecuali harus mampu menarik dan menggerakkan kegiatan investasi di daerahnya untuk memberdayakan dan mempercepat pertumbuhan ekonominya.

Perkembangan investasi di sektor industri mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan sebesar Rp. 1.636.225 juta (42,27%) sampai dengan tahun 2004 yang tercatat sebesar Rp. 3.871.402 juta dari investasi awal pada tahun 2000 sebesar Rp. 2.235.148 juta. Kenaikan jumlah invesatsi tersebut dipacu oleh semakin kondusifnya ekonomi makro setelah mengalami krisis, juga oleh semakin kondusifnya iklim investasi.

(28)

Tabel 3.8.1

Perkembangan Jumlah Investasi Bidang Industri di Kabupaten Serang Tahun 2000-2004

(dalam satuan Rp. 000.000)

NO KELOMPOK INDUSTRI TAHUN

2000 2001 2002 2003 2004

I FORMAL

1 Industri Agro dan Hasil Hutan 32 98 136.065 154.542 179.580 2 Industri Kimia dan Pulp dan Kertas 790.444 887.494 921.666 997.828 1.034.526 3 Industri Logam, Mesin & Alat Angkut 23.150 46.161 52.236 26.165 22.885 4 Industri Teksil, Elektronika dan AI 1.413.282 1.448.615 1.852.373 1.895.451 2.580.089 II NON FORMAL

5 Indsutri Non Formal 8.240 43.667 51.373 53.947 54.322 Jumlah……….. 2.235.148 2.426.035 3.013.713 3.127.933 3.871.402

Dari sisi jumlah invesatsi sektor perdagangan pada tahun 2000 tercatat Rp. 45.745 juta mengalami kenaikan sebesar Rp. 46.612 juta (50,26%) atau nilai investasi yang tercatat pada tahun 2004 senilai Rp. 91.961 juta. Dengan kontribusi dari perdagangan non formal sebesar 13,23% dan perdagangan formal sebesar 86,77%.

Tabel 3.8.2

Perkembangan Jumlah Investasi Bidang Perdagangan di Kabupaten Serang Tahun 2000-2004

(dalam satuan Rp. 000)

NO KELOMPOK USAHA TAHUN

2000 2001 2002 2003 2004 I FORMAL 1 Perusahaan Kecil (PK) 11.610 15.390 16.740 33.777 30.996 2 Perusahaan Menengah (PM) 17.100 14.700 17.400 18.900 28.500 3 Perusahaan Besar (PB) 7.700 9.800 18.900 19.600 20.300 II NON FORMAL 4 Perdagangan Non Formal 9.335 10.085 10.960 11.585 12.165 Jumlah……… 45.745 49.975 64.000 83.862 91.961

(29)

Perkembangan nilai asset PD BPR-LPK di Kabupaten Serang dari tahun 2000 sampai dengan tahun 2004 mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan sebesar Rp. 20.088.038 atau sebesar 248,40%, nilai volume kredit berkembang sebesar Rp. 13.711.156 atau sebesar 142,42%, jumlah modal disetor berkembang sebesar Rp. 4.473.678 atau sebesar 272,49%, Tabungan berkembang sebesar Rp. 5.177.782 atau sebesar 315,72%, Deposito berkembang sebesar Rp. 9.130.334 atau sebesar 680,90%, dan pendapatan Laba yang diperoleh berkembang Rp. 412.924 atau sebesar 125,01%, dan terakhir nilai yang Dividen Rp. 235.198 atau sebesar 172,41%.

Tabel 3.8.3

Perkembangan BUMD PD. BPR-LPK di Kabupaten Serang Tahun 2000-2004

(dalam satuan Rp. 000) URAIAN TAHUN 2000 2001 2002 2003 2004 Asset 8.086.856 11.804.502 14.025.818 18.521.325 28.174.894 Volume Kredit 9.627.575 15.676.400 18.774.220 20.873.935 23.338.731 Modal disetor 1.641.800 1.843.500 1.966.650 4.177.928 6.115.478 Tabungan 1.639.966 3.117.577 3.322.848 4.818.557 6.817.748 Deposito 1.340.916 2.126.318 3.450.722 5.879.425 10.471.250 Laba 330.315 431.106 467.305 569.047 743.239 Dividen 136.421 190.793 233.551 284.523 371.619

Perkembangan nilai asset BUMD PDAM di Kabupaten Serang dari tahun 2000 sampai dengan tahun 2004 mengalami pertumbuhan sebesar Rp. 6.941.374.000 atau sebesar 58,63%, modal disetor berkembang sebesar Rp.150.000.000 atau 60%, perolehan laba meningkat sebesar Rp.113.959.000 atau sebesar 22,07, namun dibandingkan tahun 2003 perolehan laba mengalami penurunan dikarenakan terdapat beberapa perkiraan yang belum dihitung secara konsolidasi antar cabang, perkiraan penyusutan biaya aktiva yang menggunakan dasar perhitungan estimasi rata-rata. Perkembangan Dividen sampai dengan tahun 2003 mengalami kenaikan sebesar Rp. 229.000.000 atau sebesar 114,5%. Namun pada tahun 2004 pembagian dividen mengalami penurunan sebesar 47%, hal ini disebabkan sedang dilakukan penyelesaian administratif sebagai

(30)

kompensasi terhadap kelebihan pembayaran dividen akumulasi dari tahun 1994 sampai dengan 2002 sebesar Rp. 527 juta sesuai dengan hasil temuan BPKP No. LHE-4480/PW30/4/4/2003 tanggal 8 agustus 2003.

Jumlah pelanggan meningkat sebanyak 4.706 sambungan langsung (SL) atau sebesar 25,34%. Produksi sampai dengan tahun 2003 mengalami kenaikan

sebesar 387.010 m3 sampai atau sebesar 4,29%, Distribusi juga mengalami

kenaikan sampai dengan tahun 2003 sebesar 392.414 m3 atau 4,37% begitu juga

Air terjual mengalami kenaikan sebesar 1.265.342 m3 atau 24,14%. Akan tetapi

pada tahun 2004 baik produksi, distribusi maupun air terjual mengalami penurunan dibandingkan tahun 2003 hal ini disebabkan adanya kebocoran air mencapai sebesar 30,49%.

Tabel 3.8.4

Perkembangan BUMD PDAM di Kabupaten Serang Tahun 2000-2004

Uraian TAHUN 2000 2001 2002 2003 2004 Asset (Rp.000) 11.839.692 11.780.331 12.017.894 16.836.803 18.781.066 Modal disetor (Rp.000) 250.000 200.000 300.000 400.000 400.000 Laba (Rp.000) 516.448 640.818 780.700 892.036 630.407 Dividen (Rp.000) 200.000 157.000 350.000 429.000 200.000 Jumlah Pelanggan (SL) 18.570 19.761 22.011 22.799 23.276 Produksi (m3) 9.023.130 9.150.769 10.000.737 9.410.140 8.658.830 Distribusi (m3) 8.983.408 9.117.854 9.936.830 9.375.822 8.613.100 Air terjual (m3) 5.240.626 6.454.908 6.741.035 6.505.968 5.986.679

Perkembangan investasi di Bank Jabar Cabang Serang dari tahun 2000 sampai dengan tahun 2004, sebagaimana terlihat pada tabel 3.8.5, sangat signifikan untuk semua jenis indikator.

Nilai asset pada akhir tahun 2004 tercatat mengalami kenaikan sebesar

(31)

Rp.251.652.568.000 atau meningkat sebesar 412%, perolehan Laba juga naik sangat tajam sebesar Rp.33.900.362.000 atau sebesar 641%. Jumlah dana yang terkumpul dalam bentuk tabungan meningkat sebesar Rp.64.458.984.000 atau

sebesar 566%, sedangkan deposito mengalami kenaikan sebesar

Rp.56.930.080.000 atau sebesar 277%. Untuk modal disetor meningkat sebesar Rp.12.754.363.000 atau sebesar 192% dan Dividen meningkat sebesar Rp. 1.391.329.000 atau 98%.

Tabel 3.8.5

Perkembangan Investasi Bank Jabar Cabang Serang di Kabupaten Serang Tahun 2000-2004

(dalam satuan Rp. 000) Uraian TAHUN 2000 2001 2002 2003 2004 Asset 96.281.621 328.338.279 444.832.382 501.397.048 740.849.706 Volume kredit 61.110.737 132.634.615 175.018.275 229.830.143 312.763.305 Laba 5.287.404 19.287.404 36.028.530 34.231.504 39.187.766 Tabungan 11.379.623 34.950.000 50.366.259 57.849.079 75.838.607 Deposito 20.575.505 52.114.800 114.872.335 126.776.185 77.505.585 Modal disetor 6.650.230 12.014.653 14.404.593 16.904.593 19.404.593 Dividen 1.414.423 2.389.941 2.245.116 2.537.566 2.805.752

(32)

2.2.9. Pajak dan Retribusi Daerah Pajak Daerah No Tahun Kelompok Pendapatan Target (Rp) Realisasi (Rp.) % 1. 2. 3. 4. 5. 2000 2001 2002 2003 2004 Pajak Daerah Pajak Daerah Pajak Daerah Pajak Daerah Pajak Daerah 13.637.950.053,00 19.638.000.000,00 19.215.000.000,00 22.085.000.000,00 23.175.000.000,00 11.778.444.497.74 20.762.868.640,97 19.695.878.232.12 21.349.786.556.25 27.876.514.908.43 86.37 105.73 102.50 96.67 120.29 Retribusi Daerah No Tahun Kelompok Pendapatan Target (Rp) Realisasi (Rp.) % 1. 2. 3. 4. 5. 2000 2001 2002 2003 2004 Retribusi Daerah Retribusi Daerah Retribusi Daerah Retribusi Daerah Retribusi Daerah 13.716.642.868,00 21.315.001.000,00 24.964.285.859,00 23.386.702.000,00 32.193.791.200.,00 14.124.920.433.80 21.336.163.745.85 27.773.665.237.22 23.672.809.254.11 33.940.333.201.30 102.98 100.10 111.25 99.52 105.43 2.2.10. Dana Perimbangan Dana Perimbangan No Tahun Kelompok Pendapatan Target (Rp) Realisasi (Rp.) % 1. 2. 3. 4. 5. 2000 2001 2002 2003 2004 Dana Perimbangan Dana Perimbangan Dana Perimbangan Dana Perimbangan Dana Perimbangan 108.702.772.890,0027 9.656.608.264,00311. 551.337.567,00412.18 6.170.040,00425.940. 940.758,00 114.562.497.631,61 283.752.645.541,64 320.984.935.906,19 418.993.535.529,00 439.411.325.032,00 105,39 101.46 103,03 101,65 103,16

(33)

2.2.11. Sumber Penerimaan Lainnya

Lain-lain Pendapatan Yang Sah

No Tahun Kelompok Pendapatan Target (Rp) Realisasi (Rp.) % 1. 2. 3. 4. 5. 2000 2001 2002 2003 2004

Lain-lain Pendapatan Yang Sah Lain-lain Pendapatan Yang Sah Lain-lain Pendapatan Yang Sah Lain-lain Pendapatan Yang Sah Lain-lain Pendapatan Yang Sah

13.728.924.000,00 0,00 0,00 22.920.000.000,00 21.682.045.000,00 5.200.813.636,00 0,00 0,00 22.959.974.000,00 22.218.947.000,00 37,88 00,00 00,00 100.17 102.48

REALISASI PENDAPATAN DAERAH TAHUN 2000-2004

Perbandingan Realisasi Pendapatan Terhadap Target Pendapatan Tahun 2000 – 2004

a. Tahun 2000 (1 April 2000 s/d 31 Desember 2000)

No Jenis Pendapatan Target (Rp.) Realisasi (Rp.) %

I. 1. 2. 3. 4. II. 1. 2. 3. 4. III. 1. 2. 3.

Pendapatan Asli Daerah Pajak Daerah

Retribusi Daerah

Hasil Perusahaan Milik Daerah dan Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah Yang Dipisahkan/Laba Usaha Daerah

Lain-lain PAD Yang Sah Dana Perimbangan

Bagi Hasil Pajak/Bagi hasil Bukan Pajak

Dana Alokasi Umum/Subsidi Dana alokasi Khusus/Bantuan Bagi Hasil Pajak dan Bantuan Keuangan dari Provinsi Banten Lain-lain Pendapatan Yang Sah Dana Penyeimbang

Dana Fungsional/Dana Eks Pegawai BKKBN

Dana Pegawai Baru/UKP/Dana Pengadaan CPNSD 29.482.444.356,87 13.637.950.053,00 13.716.642.868,00 803.535.000,00 1.324.316.435,87 108.702.772.890,00 16.086.150.793,00 69.859.521.097,00 22.757.101.000,00 0,00 13.728.924.000,00 0,00 0,00 13.728.924.000,00 28.181.061.287,04 11.778.444.497,74 14.124.920.433,80 786.684.120,20 1.491.012.235,30 114.562.497.631,61 19.389.871.331,61 70.126.027.902,00 25.046.598.398,00 0,00 5.200.813.636,00 0,00 0,00 5.200.813.636,00 95,59 86,37 102,98 97,90 112,59 105,.39 120,54 100,38 110,06 0,00 37,88 0,00 0,00 37,88 J u m l a h (I + II + III) 151.914.141.246,87 148.904.565.515,65 98,02

(34)

b. Tahun 2001

No Jenis Pendapatan Target (Rp.) Realisasi (Rp.) %

I. 1. 2. 3. 4. II. 1. 2. 3. 4. III. 1. 2. 3.

Pendapatan Asli Daerah Pajak Daerah

Retribusi Daerah

Hasil Perusahaan Milik Daerah dan Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah Yang Dipisahkan/Laba Usaha Daerah Lain-lain PAD Yang Sah

Dana Perimbangan

Bagi Hasil Pajak/Bagi hasil Bukan Pajak Dana Alokasi Umum/Subsidi

Dana alokasi Khusus/Bantuan

Bagi Hasil Pajak dan Bantuan Keuangan dari Provinsi Banten

Lain-lain Pendapatan Yang Sah Dana Penyeimbang

Dana Fungsional/Dana Eks Pegawai BKKBN

Dana Pegawai Baru/UKP/Dana Pengadaan CPNSD 44.346.372.669,92 19.638.000.000,00 21.315.001.000,00 1.640.447.669,00 1.752.924.000,92 279.656.608.264,00 35.336.608.264,00 244.320.000.000,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 45.990.197.111,54 20.762.868.640,97 21.336.163.745,85 1.640.433.823,26 2.250.730.901,46 283.752.645.541,64 39.435.494.541,64 244.317.151.000,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 103,71 105,73 100,10 100,00 128,40 101,46 111,60 100,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 2 J u m l a h (I + II + III) 324.002.980.933,92 329.742.842.653,18 101,77

(35)

c. Tahun 2002

N o

Jenis Pendapatan Target (Rp.) Realisasi (Rp.) %

I. 1. 2. 3. 4. II. 1. 2. 3. 4. III . 1. 2. 3.

Pendapatan Asli Daerah Pajak Daerah

Retribusi Daerah

Hasil Perusahaan Milik Daerah dan Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah Yang Dipisahkan/Laba Usaha Daerah Lain-lain PAD Yang Sah

Dana Perimbangan

Bagi Hasil Pajak/Bagi hasil Bukan Pajak

Dana Alokasi Umum/Subsidi Dana alokasi Khusus/Bantuan

Bagi Hasil Pajak dan Bantuan Keuangan dari Provinsi Banten Lain-lain Pendapatan Yang Sah Dana Penyeimbang

Dana Fungsional/Dana Eks Pegawai BKKBN

Dana Pegawai Baru/UKP/Dana Pengadaan CPNSD 52.468.060.859,0 0 19.215.000.000,0 0 24.964.285.859,0 0 2.800.643.000,00 5.488.132.000,00 311.551.337.567, 00 48.731.337.567,0 0 262.820.000.000, 00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 60.183.777.461, 01 19.695.878.232, 12 27.773.665.237, 22 2.855.265.226,4 5 9.858.968.765,2 2 320.984.935.90 6,19 56.666.462.156, 19 264.318.473.75 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 114,7 1 102,5 0 111,2 5 101,9 5 179,6 4 103,0 3 116,2 8 100,5 7 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 3 J u m l a h (I + II + III) 364.019.398.426, 00 381.168.713.36 7,20 104,7 1

(36)

d. Tahun 2003

No Jenis Pendapatan Target (Rp.) Realisasi (Rp.) % I. 1. 2. 3. 4. II. 1. 2. 3. 4. III. 1. 2. 3.

Pendapatan Asli Daerah Pajak Daerah

Retribusi Daerah

Hasil Perusahaan Milik Daerah dan Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah Yang Dipisahkan/Laba Usaha Daerah

Lain-lain PAD Yang Sah Dana Perimbangan

Bagi Hasil Pajak/Bagi hasil Bukan Pajak

Dana Alokasi Umum/Subsidi Dana alokasi Khusus/Bantuan Bagi Hasil Pajak dan Bantuan Keuangan dari Provinsi Banten Lain-lain Pendapatan Yang Sah

Dana Penyeimbang

Dana Fungsional/Dana Eks Pegawai BKKBN Dana Pegawai Baru/UKP/Dana Pengadaan CPNSD 63.564.065.649,00 22.085.000.000,00 23.786.702.000,00 2.814.500.963,00 14.877.862.686,00 412.186.170.040,00 61.490.170.040,00 327.760.000.000,00 2.000.000.000,00 20.936.000.000,00 22.920.000.000,00 16.095.000.000,00 4.981.000.000,00 1.844.000.000,00 61.863.024.644,83 21.349.786.556,25 23.672.809.254,11 2.815.050.596,10 14.025.378.238,37 418.993.535.529,00 68.297.535.529,00 327.760.000.000,00 2.000.000.000,00 20.936.000.000,00 22.959.974.000,00 21.076.004.000,00 0,00 1.883.970.000,00 97,32 96,67 99,52 100,02 94,27 101,65 111,07 100,00 100,00 100,00 100,17 130,95 0,00 102,17 4 J u m l a h (I + II + III) 498.670.235.689,00 503.816.534.173,83 101,03

(37)

e. Tahun 2004

No Jenis Pendapatan Target (Rp.) Realisasi (Rp.) % I. 1. 2. 3. 4. II. 1. 2. 3. 4. III. 1. 2. 3.

Pendapatan Asli Daerah Pajak Daerah

Retribusi Daerah

Hasil Perusahaan Milik Daerah dan Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah Yang Dipisahkan/Laba Usaha Daerah

Lain-lain PAD Yang Sah Dana Perimbangan

Bagi Hasil Pajak/Bagi hasil Bukan Pajak

Dana Alokasi Umum/Subsidi Dana alokasi Khusus/Bantuan Bagi Hasil Pajak dan Bantuan Keuangan dari Provinsi Banten Lain-lain Pendapatan Yang Sah

Dana Penyeimbang

Dana Fungsional/Dana Eks Pegawai BKKBN Dana Pegawai Baru/UKP/Dana Pengadaan CPNSD 60.782.683.163,00 23.175.000.000,00 32.193.791.200,00 3.106.949.963,00 2.306.942.000,00 425.940.940.758,00 66.574.940.758,00 346.946.000.000,00 5.000.000.000,00 7.420.000.000,00 21.682.045.000,00 17.818.000.000,00 3.864.045.000,00 0,00 67.915.308.460,96 27.876.514.908,43 33.940.333.201,30 2.937.688.959,52 3.160.771.391,71 439.411.325.032,00 80.045.325.032,00 346.946.000.000,00 5.000.000.000,00 7.420.000.000,00 22.218.947.000,00 17.818.000.000,00 4.364.609.000,00 36.338.000,00 111,73 120,29 105,43 94,55 137,01 103,16 120,23 100,00 100,00 100,00 102,48 100,00 112,95 0,00 5 J u m l a h (I + II + III) 508.405.668.921,00 529.545.580.492,96 104,16

(38)

Perbandingan Realisasi Kelompok Pendapatan Terhadap Realisasi Total Pendapatan

a. Tahun 2000

No Kelompok Pendapatan Jumlah (Rp.) %

1. 2. 3.

Pendapatan Asli Daerah Dana perimbangan

Lain-lain Pendapatan Yang Sah

28.181.061.287,04 114.562.497.631,61 5.200.813.636,00 19,05 77,44 3,52 6 Total Pendapatan 147.944.372.554,65 100,00 b. Tahun 2001

No Kelompok Pendapatan Jumlah (Rp.) %

1. 2. 3.

Pendapatan Asli Daerah Dana perimbangan

Lain-lain Pendapatan Yang Sah

45.990.197.111,54 283.752.645.541,64 0,00 13,95 86,05 0,00 7 Total Pendapatan 329.742.842.653,18 100,00 c. Tahun 2002

No Kelompok Pendapatan Jumlah (Rp.) %

1. 2. 3.

Pendapatan Asli Daerah Dana perimbangan

Lain-lain Pendapatan Yang Sah

60.183.777.461,01 320.984.935.906,19 0,00 15,79 84,21 0,00 8 Total Pendapatan 381.168.713.367,20 100,00 d. Tahun 2003

No Kelompok Pendapatan Jumlah (Rp.) %

1. 2. 3.

Pendapatan Asli Daerah Dana perimbangan

Lain-lain Pendapatan Yang Sah

61.863.024.644,83 418.993.535.529,00 22.959.974.000,00 12,28 83,16 4,56 9 Total Pendapatan 503.816.534.173,83 100,00

(39)

e. Tahun 2004

No Kelompok Pendapatan Jumlah (Rp.) %

1. 2. 3.

Pendapatan Asli Daerah Dana perimbangan

Lain-lain Pendapatan Yang Sah

67.915.308.460,96 439.411.325.032,00 22.218.947.000,00 12,83 82,98 4,20 10 Total Pendapatan 529.545.580.492,96 100,00

Pertumbuhan Realisasi Pendapatan Tahun 2000 – 2004

a. Pertumbuhan Realisasi Pendapatan Total

No Tahun Realisasi (Rp.) % 1. 2. 3. 4. 5. 2000 2001 2002 2003 2004 147.944.372.554,65 329.742.842.653,18 381.168.713.367,20 503.816.534.173,83 529.545.580.492,96 0,00 122,88 15,60 32,18 5,11

b. Pertumbuhan Realisasi Pendapatan

Per Kelompok Pendapatan Pendapatan Asli Daerah

No Tahun Kelompok Pendapatan Realisasi (Rp.) %

1. 2. 3. 4. 5. 2000 2001 2002 2003 2004

Pendapatan Asli Daerah Pendapatan Asli Daerah Pendapatan Asli Daerah Pendapatan Asli Daerah Pendapatan Asli Daerah

28.181.061.287,04 45.990.197.111,54 60.183.777.461,01 61.863.024.644.83 67.915.308.460,96 0,00 63,20 30,86 2,79 9,78

(40)

2.2.12. Kebijakan Pengembangan Ekonomi Daerah

Arah kebijakan pembangunan Kabupaten Serang periode 2002–2006 aspek ekonomi diharapkan dapat meningkatkan daya beli dan pendapatan masyarakat dan stakeholders lainnya melalui pemenuhan kebutuhan dasar / pokok dan pengembangan sektor-sektor potensial lainnya terutama sektor pariwisata, industri, jasa-perdagangan, dan pertanian dalam arti luas (agrobisnis, agroindustri, kelautan, dsb), dll sesuai dengan potensi kewilayahan. Selain itu akan didorong ke arah terciptanya iklim yang kondusif bagi investor dan dunia usaha yang berorientasi kepada kemitraan yang sinergis terutama dalam membuka lapangan pekerjaan baru dan menumbuh-kembangkan pemberdayaan ekonomi kerakyatan berdasarkan keunggulan komparatif dan kompetitif esuai kompetensi dan produk unggulan daerah / wilayah di sektor-sektor potensial dalam rangka memperkuat struktur ekonomi daerah.

Deskripsi kondisi yang diharapkan adalah sebagai berikut :

1. pulihnya ekonomi masyarakat sebagai dampak pasca krisis ekonomi melalui pengembangan perekonomian daerah yang berorientasi global dan penerapan kemajuan iptek berdasarkan keunggulan komparatif dan kompetitif sesuai kompetensi dan produk unggulan daerah (pewilayahan) di sektor-sektor potensial.

2. meningkatnya pendapatan dan daya beli masyarakat, khususnya melalui pengembangan usaha di bidang jasa dan perdagangan, pariwisata, industri, agroindustri, pertanian dalam arti luas (termasuk perikanan, peternakan, kehutanan dan kelautan), dll.

3. berdayanya pengusaha kecil, menengah dan koperasi agar lebih efisien, produktif dan berdaya saing dengan adanya peranan pemerintah secara agresif berupa bantuan fasilitas dari pemerintah yang diberikan secara selektif, pendidikan dan pelatihan, informasi bisnis, harga, pasar, dan teknologi, permodalan, dan penyediaan lokasi/tempat usaha serta penerapan teknologi.

4. meningkanya produksi sektor pertanian, perikanan, peternakan, perkebunan dan kehutanan untuk memenuhi kebutuhan dasar/pokok dan menjamin ketahanan pangan, sandang, dan papan masyarakat yang berorientasi kepada permintaan pasar.

(41)

5. bekembangnya proses investasi, perluasan usaha, dan penciptaan usaha baru dengan mempermudah perijinan dan penyediaan fasilitas yang memadai dalam meningkatkan kesempatan kerja dan berusaha bagi seluruh masyarakat.

6. terjalinnya hubungan kemitraan yang sinergis dalam bemtuk keterkaitan usaha yang saling menunjang dan menguntungkan antara bidang-bidang terkait (stakeholders) yaitu koperasi, usaha kecil, dan menengah, swasta (dunia usaha), perguruan tinggi, perbankan, Non

Government Organization (NGOs), masyarakat, dan Pemerintah

sebagai fasilitator dalam rangka memperkuat struktur ekonomi daerah. 7. meningkatnya kerjasama antara Pemerintah Daerah dengan pengusaha untuk mendukung penyediaan fasilitas publik yang memadai, pengusahaan lahan tidur dan lahan mati menjadi lahan produktif, penyuluhan yang dibutuhkan masyarakat.

Referensi

Dokumen terkait

[r]

Pendampingan kegiatan dilakukan oleh pendamping yang ditunjuk oleh Dinas yang membidangi perkebunan dari Dinas Provinsi dan atau Direktorat Jenderal Perkebunan, untuk ikut mengawasi

Elen berusaha memberikan pelayanan yang baik kepada pembeli dengan menjalin komunikasi yang baik dengan.. merespon chat di Shopee segera mungkin ketika sedang online

Hasil karakterisasi komponen minyak mint dengan menggunakan KG-SM menghasilkan Total Ionic Chromatogram (TIC) yang disajikan pada Gambar 1, sedangkan komponen

Sedangkan melihat dari penggunaan bahan bakar, efisiensi termal mesin diesel dengan menggunakan DJM5 lebih kecil bila dibandingkan dengan menggunakan bahan bakar

Berdasarkan hasil analisis statistik diperoleh bahwa tidak ada interaksi antara perlakuan batang bawah dengan batang atas, namun secara terpisah tinggi tanaman sampai dengan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil dan kinerja KM dari segi struktur organisasinya, proses kredensial dan kewenangan klinis, pengembangan profesi dan audit, serta