• Tidak ada hasil yang ditemukan

KONDILOMA AKUMINATA YANG DITERAPI DENGAN SIRKUMSISI DAN ELEKTROKAUTER

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "KONDILOMA AKUMINATA YANG DITERAPI DENGAN SIRKUMSISI DAN ELEKTROKAUTER"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

1

PRESENTASI KASUS Kepada Yth:

Dipresentasikan pada Hari/Tanggal :

Jam :

KONDILOMA AKUMINATA YANG DITERAPI DENGAN SIRKUMSISI DAN ELEKTROKAUTER

Oleh :

Margareth Juniawati Bya

Pembimbing :

Dd. dr. AAGP Wiraguna, SpKK(K), FINSDV, FAADV

PROGRAM PENDIDIKAN DOKTER SPESIALIS I BAGIAN/SMF ILMU KESEHATAN KULIT DAN KELAMIN FAKULTAS KEDOKTERAN UNUD/RSUP SANGLAH DENPASAR

2 0 1 6

(2)

2 PENDAHULUAN

Kondiloma akuminata (KA) merupakan salah satu infeksi menular seksual (IMS) yang disebabkan oleh Human Papilloma Virus (HPV). Infeksi ini ditandai dengan proliferasi jinak pada kulit dan mukosa. Infeksi HPV terutama ditularkan melalui hubungan seksual, baik genital-genital, oral-genital, maupun genital-anal. Selain itu, HPV juga dapat ditularkan melalui transmisi perinatal dari ibu ke janinnya.

Diperkirakan sekitar 30% sampai 50 % orang dewasa yang aktif secara seksual terinfeksi HPV.1,2

Insiden KA terus meningkat dan menjadi salah satu penyebab IMS utama bahkan melebihi herpes genital. Kondiloma akuminata dapat menyerang semua ras dimana frekuensi laki-laki dan perempuan adalah sama. Di Amerika KA terjadi pada 5,5 juta orang setiap tahun dan diperkirakan memiliki prevalensi 20 juta. Penelitian terbaru memperkirakan insiden KA di negara berkembang sekitar 0,15% dari populasi orang dewasa setiap tahun.3,4 Insiden KA pada poliklinik Kulit dan Kelamin Rumah Sakit Sanglah Denpasar pada tahun 2015 sebanyak 92 kasus baru per 280 kasus IMS. Dari 92 kasus baru KA yang ada tercatat sebanyak 50 kasus terjadi pada laki-laki dan 42 kasus terjadi pada perempuan 42.5

Adanya risiko penularan dan risiko untuk berkembang menjadi karsinoma sel skuamosa, lesi KA harus diobati. Banyak metode pengobatan kondiloma akuminata tetapi secara umum dapat dibedakan menjadi metode kimia dan metode ablatif.

Modalitas terapi KA terdiri dari metode kimia (podofiloks 0,5%, krim imikuimod 5%, 5-fluorourasil, salep sinatekin 15%, tingtur podofilin 15-25% dan asam triklorasetat 80-90%) dan metode ablatif (bedah eksisi, krioterapi dan elektrokauter).

Pilihan terapi ditentukan berdasarkan jumlah, ukuran, lokasi dan morfologi lesi KA.

Kenyamanan pasien, ketersediaan modalitas terapi, biaya pengobatan, efek samping pengobatan dan pengalaman dokter juga menjadi bahan pertimbangan dalam pemilihan terapi. 3,6

Sirkumsisi merupakan tindakan bedah minor yang paling banyak dikerjakan di seluruh dunia. Prosedur sirkumsisi ditoleransi baik oleh banyak pasien.

(3)

3 Berdasarkan data World Health Organization tahun 2007 tercatat di Amerika Serikat 115,56 juta orang telah menjalani sirkumsisi, di Inggris 24,22 juta dan Indonesia sebanyak 84,98 juta orang telah disirkumsisi.7

Berikut dilaporkan kasus kondiloma akuminata yang diterapi dengan sirkumsisi dan elektrokauter. Kasus ini dilaporkan untuk memberikan pemahaman mengenai kondiloma akuminta, pilihan terapi pada kondiloma akuminata yang dilakukan dengan sirkumsisi dan elektrokauter serta efektivitasnya terhadap kondiloma akuminata.

KASUS

Seorang laki-laki usia 49 tahun, suku Bali, warga negara Indonesia, status menikah, nomor rekam medis 01487240, di rujuk dari RS Wangaya ke poliklinik kulit dan kelamin Rumah Sakit Sanglah Denpasar pada tanggal 2 Agustus 2016 dengan kondiloma akuminata.

Dari anamnesis didapatkan keluhan utama muncul benjolan pada kelamin.

Pasien mengeluh muncul benjolan di kelamin sejak 4 bulan yang lalu. Awalnya berukuran kecil, namun lama kelamaan semakin membesar dan bertambah banyak.

Benjolan tidak disertai dengan keluhan gatal, nyeri, berdarah atau bernanah. Keluhan kencing nanah atau nyeri saat buang air kecil disangkal. Untuk keluhan benjolan di kemaluan ini pasien pernah berobat ke RS Wangaya sejak 2 bulan yang lalu dan telah mendapatkan terapi untuk benjolan dengan tutul triklorasetat sebanyak 5 kali dan elektrokauter namun benjolan masih belum menghilang.

Riwayat menderita keluhan benjolan yang sama sebelumnya disangkal.

Riwayat penyakit infeksi kelamin lainnya seperti bintil berair, luka atau benjolan lainnya sebelumnya disangkal. Riwayat penyaki lain seperti tekanan darah tinggi, kencing manis, keganasan, bekas luka yang membesar (keloid), penggunaan obat kemoterapi dan kortikosteroid lama serta riwayat alergi disangkal. Pasien merokok sejak berusia remaja dan rata-rata menghabiskan 2 sampai 3 batang rokok dalam sehari. Riwayat konsumsi alkohol disangkal.

(4)

4 Pasien telah menikah sejak 18 tahun yang lalu. Kontak seksual terakhir 4 bulan yang lalu dengan istri tanpa menggunakan kondom. Pasien berhubungan seksual pertama kali pada usia 15 tahun dengan pacar pasien. Sebelum menikah pasien memiliki riwayat berganti-ganti pasangan serta melakukan hubungan seksual tanpa kondom. Pasien mengaku pasien pernah berhubungan seksual selain dengan istri yaitu dengan wanita pekerja seksual 1 tahun yang lalu tanpa menggunakan pengaman/kondom. Keluhan adanya benjolan, keputihan serta gatal pada kemaluan istri pasien disangkal.. Pasien saat ini bekerja sebagai pengusaha mobil rental.

Pada pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum baik, kesadaran kompos mentis. Tekanan darah 120/80 mmHg, nadi 80 x/menit, frekuensi nafas 20 x/menit, suhu aksila 36,70 C. Pada status generalis pasien didapatkan kepala normocephali, tidak didapatkan tanda anemia dan ikterus pada kedua mata. Pada mukosa bibir tidak ditemukan benjolan. Tidak ada pembesaran kelenjar getah bening. Pada pemeriksaan telinga, hidung, tenggorokan tidak ditemukan adanya kelainan. Pemeriksaan jantung didapatkan suara jantung (S1 dan S2) tunggal, reguler, tidak terdapat murmur. Suara nafas vesikuler, tidak ditemukan adanya ronkhi ataupun wheezing. Pemeriksaan abdomen didapatkan bising usus dalam batas normal. Pada ekstremitas teraba hangat, tidak ditemukan edema. Pembesaran kelenjar limfe inguinal tidak ditemukan.

Status venereologi lokasi pada preputium dan glans penis ditemukan papul multipel sewarna kulit, bentuk bulat-oval, batas tegas dengan permukaan verukosa, ukuran diameter 0,2-0,5cm dan tumor multipel, sewarna kulit, bentuk geografika, batas tegas dengan permukaan verukosa, ukuran 0,5x0,7 – 1x1,5 cm, konsistensi padat, sebagian bergerombol dan distribusi terlokalisir (Gambar 1a, 1b dan 1c).

(5)

5

Gambar 1. Pemeriksaan fisik 1a-1b. Lesi kondiloma akuminata multipel pada glans penis. 1c.

Lesi kondiloma akuminata pada preputium.

Gambar 2. Pemeriksaan penunjang acetowhite pada lesi menunjukkan reaksi pemutihan.

Gambar 3a dan 3b. Tindakan Sirkumsisi dan elektrokauter pada lesi kondiloma akuminata

Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik, diagnosis pada pasien adalah kondiloma akuminata didiagnosis banding dengan bowenoid papulosis. Pada pasien dilakukan pemeriksaan acetowhite pada benjolan dan ditemukan reaksi pemutihan (Gambar 2). Diagnosis kerja pada pasien adalah kondiloma akuminata.

Penatalaksanaan pada pasien adalah sirkumsisi dan elektrokauter (Gambar 3a dan 3b) serta pemeriksaan histopatologi pada jaringan paska tindakan, pemeriksaan VDRL dan TPHA. Terapi paska pembedahan diberikan gentamicin krim 0,1% topikal dan asam mefenamat 500 mg setiap 8 jam per oral untuk mengurangi rasa nyeri.

Pasien diberikan penjelasan dan edukasi untuk menjaga luka jahitan tetap bersih dan kering serta waktu kontrol kembali. Pasien disarankan untuk mengajak istri memeriksakan diri, Pemeriksaan pada istri pasien tidak ditemukan benjolan ataupun duh tubuh. Istri pasien telah menjalani pemeriksaan pap smear 3 bulan yang lalu dan hasilnya non reaktif.

1b 1c

1a

2 3a 3b

(6)

6 PENGAMATAN LANJUTAN I (hari ke-3 paska pembedahan, 5 Agutus 2016) Dari anamnesis didapatkan tidak ada pertumbuhan benjolan baru. Masih terdapat luka pada bekas pengangkatan lesi. Pasien mengeluh terkadang masih terasa nyeri pada luka. Luka tidak berdarah ataupun bernanah.

Pemeriksaan status present dan status generalis dalam batas normal. Status venereologi lokasi pada glans penis tampak erosi multipel, bentuk bulat-geografika, batas tegas, ukuran 0,2x0,5-0,5x1 cm. (Gambar 4c). Pada preputium tampak luka operasi kering dengan bentuk jahitan linear, panjang ±8 cm. Tidak ada edema, nekrosis, hematom maupun tanda infeksi sekunder. (Gambar 4a dan 4b).

Gambar 4. Pemeriksaan pada lesi paska sirkumsisi dan elektrokauter. 4a. Lesi paska bedah sirkumsisi jahitan tampak kering, edema (+), nekrosis (-). 4b-c. Pada glans penis masih tampak erosi.

Hasil pemeriksaan histopatologi (7 Agustus 2016), secara makroskopis diterima satu potong jaringan ukuran 0,9x0,5x0,3 cm, warna putih keabu-abuan, kenyal, bentuk tidak beraturan. Gambaran mikroskopik tampak jaringan glans penis dilapisi oleh epitel permukaan skuamosa. Tampak sel-sel epitel mengalami displasia, dengan struktur papiler dengan inti N/C ratio meningkat, hiperkromatik dengan sitoplasma eosinofilik. Tampak hallo di sekitar anak inti (koilocyt). Tampak fibrovaskuler core. Tampak sebukan sel radang neutrophil dan limfosit. Simpulan gambaran morfologi sesuai untuk kondiloma akuminata (Gambar 5a dan 5b).

Pemeriksaan VDRL dan TPHA didapatkan hasil non reaktif.

4a 4b 4c

(7)

7

Gambar 5. Hasil pemeriksaan histopatologi. 5a. Jaringan struktur papilomatik epitel skuamosa, akantosis (+), parakeratosis (+). 5b. Beberapa tampak gambaran koilosit.

Diagnosis pada pasien adalah follow up kondiloma akuminata paska sirkumsisi dan elektrokauter. Penatalaksanaan pada pasien adalah rawat luka, gentamicin 0,1% krim dioleskan 2 kali sehari. Pasien disarankan untuk kontrol kembali 3 hari lagi.

PENGAMATAN LANJUTAN II (hari ke-7 paska pembedahan, 8 Agustus 2016) Anamnesis didapatkan tidak ada pertumbuhan benjolan baru. Luka jahitan telah mnegering dan luka bekas pengangkatan mulai mengecil. Keluhan nyeri, bengkak, berdarah atau bernanah disangkal..

Pemeriksaan status present dan status generalis dalam batas normal. Status venereologi lokasi pada glans penis tampak erosi multipel, bentuk bulat-geografika, batas tegas, ukuran 0,1x0,3-0,3x0,5 cm. (Gambar 6b dan 6c). Pada preputium tampak luka operasi kering dengan bentuk jahitan linear, panjang ±8 cm. Tidak ada edema, nekrosis, hematom maupun tanda infeksi sekunder. (Gambar 6a).

Gambar 6. Pemeriksaan fisik pada pengamatan lanjutan kedua. 6a. Luka jahitan telah mongering. 6b-c. Luka tampak telah mengering, sebagian masih tampak erosi.

6a 6b 6c

5a 5b

(8)

8 Diagnosis pada pasien adalah follow up kondiloma akuminata paska sirkumsisi dan elektrokauter. Penatalaksanaan pada pasien adalah rawat luka dan gentamicin 0,1% krim dioleskan setiap 12 jam. Pasien diberikan penjelasan dan edukasi untuk tetap menjaga kebersihan area genital, cara perawatan luka di rumah dan kontrol selanjutnya. Pada pasien juga dianjurkan untuk melakukan vaksin HPV.

PEMBAHASAN

Kondiloma akuminata merupakan infeksi menular seksual yang disebabkan oleh HPV. Virus ini pertama kali diidentifikasikan pada tahun 1907. Sampai saat ini lebih dari 100 jenis subtipe HPV telah diidentifikasi. Namun tidak semua tipe dapat menyebabkan kondiloma akuminata. Sekitar 90 % kondiloma akuminata diyakini berhubungan dengan tipe 6 dan tipe 11. Human Pappiloma Virus tergolong dalam DNA papovavirus dengan diameter 50-55 nm. Virus ini menginfeksi lapisan basal epitel, namun replikasi virus hanya terjadi pada sel-sel keratinosit stratum granulosum dan spinosum yang telah berdiferensiasi secara lengkap.8,9

Infeksi HPV terutama ditularkan melalui hubungan seksual, baik genital- genital, oral-genital, maupun genital-anal. Selain itu, HPV juga dapat ditularkan melalui transmisi perinatal dari ibu ke janinnya. Permukaan mukosa yang tipis lebih rentan untuk inokulasi virus daripada kulit berkeratin yang lebih tebal sehingga mikroabrasi pada permukaan epitel memungkinkan virus dari pasangan seksual yang terinfeksi masuk ke dalam lapisan sel basal pasangan yang tidak terinfeksi.1,10 Masa inkubasi bervariasi dari 2 minggu hingga 8 bulan, namun virus juga dapat bersifat dorman pada lapisan epitel dan tidak menimbulkan manifestasi klinis sepanjang hidup penderitanya.9,10

Pada kasus penularan HPV terjadi melalui hubungan seksual, dimana dari anamnesis pada pasien terdapat riwayat berhubungan seksual dengan wanita pekerja seksual 1 tahun yang lalu. Pasien menyadari adanya benjolan pada kelamin sejak 4 bulan sebelum pemeriksaan, kemungkinan sebelumnya pasien tidak menyadari

(9)

9 benjolan tersebut atau infeksi HPV bersifat dorman tanpa menimbulkan manifestasi klinis.

Pasien dengan KA jarang mengeluhkan adanya gejala selain mengeluhkan adanya pertumbuhan maupun benjolan yang tumbuh pada daerah genitalia dan menimbulkan ketidaknyamanan. Lesi dapat soliter atau multipel dengan ukuran yang bervariasi dari 1 mm sampai beberapa sentimeter. Beberapa lesi dapat menyatu membentuk plak yang besar dan sering terlihat pada pasien imunosupresi. Lesi KA sering ditemukan di daerah yang mengalami trauma selama hubungan seksual. Pada pria yang tidak disunat preputium, glans penis, sulkus koronal dan frenulum yang paling sering terkena, sementara pria yang telah di disunat lesi biasanya terdapat di batang penis. Pada wanita lesi dapat terjadi pada labia minor, labia mayor, pubis, klitoris, introitus, vagina dan ektoserviks. Lesi KA dapat juga terjadi pada orifisium uretra, pubis, skrotum, pangkal paha, perineum, daerah perianal dan anus.11,12

Terdapat empat bentuk klinis KA yaitu: 1) bentuk akuminata yang mempunyai gambaran seperti kembang kol, 2) bentuk papular yaitu papul-papul yang berbentuk kubah dengan permukaan halus dan licin dengan warna seperti daging, 3) bentuk keratotik yang mempunyai lapisan tebal dan dapat menyerupai veruka vulgaris atau keratosis seboroik, dan 4) bentuk papul datar yang tampak sebagai makula atau sedikit meninggi. Jarang terdapat gejala seperti gatal, nyeri ataupun perdarahan pada.13,14 Pada kasus bentuk klinis yang ditemukan adalah bentuk akuminata berupa papul dan tumor dengan permukaan verukosa menyerupai kembang kol. Lesi KA pada pasien ditemukan pada preputium dan glans penis.

Meskipun secara klinis lesi KA mudah untuk dikenali, namun pada beberapa kasus kasus diagnosis KA sulit ditegakkkan karena memiliki gambaran klinis yang berbeda-beda. Beberapa manifestasi paling umum dari infeksi HPV pada kelamin selain KA adalah Papulosis Bowenoid. Penyakit ini paling sulit didiagnosis oleh ahli kulit, dokter kandungan, ginekolog dan urologi. Bowenoid papulosis adalah lesi berwarna kecoklatan yang terkait dengan onkogenik jenis HPV dan merupakan bagian dari spektrum klinis neoplasia intraepithelial anogenital. Kecurigaan klinis

(10)

10 perubahan neoplastik harus dipertimbangkan oleh banyaknya perdarahan. Biopsi dikerjakan untuk membedakan lesi tersebut dengan lesi KA.11,15

Diagnosis KA dapat ditegakkan melalui anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Salah satu pemeriksaan penunjang yang cukup mudah untuk dikerjakan adalah pemeriksaan acetowhite. Pemeriksaan ini dilakukan dengan mengoleskan asam asetat 3-5% pada lesi yang dicurigai dan ditunggu dalam sepuluh menit. Bila positif akan tampak berwarna keputihan pada lesi yang dioleskan.

Pemeriksaan acetowhite juga dapat mendeteksi lesi KA yang subklinis dan menentukan batas pada lesi yang datar. Namun pemeriksaan ini hanya memiliki spesifisitas yang rendah yaitu sekitar 50-60 %. Biopsi tidak diperlukan untuk lesi KA yang khas. Apabila dengan pemeriksaan acetowhite masih meragukan dapat dilakukan pemeriksaan histopatologi. Biopsi juga harus selalu dilakukan jika ada kecurigaan pre-kanker atau kanker dan untuk diferensial diagnosis. Pada pemeriksaan histopatologi akan terlihat gambaran papilomatosis, akantosis, rete ridges yang memanjang dan menebal, parakeratosis dan vakuolisasi pada sitoplasma (koilositosis).1,16 Pada kasus, pemeriksaan acetowhite menunjukkan hasil positif.

Pemeriksaan histopatologi menunjukkan gambaran sel-sel epitel mengalami displasia, dengan struktur papiler dengan inti N/C ratio meningkat, hallo di sekitar inti (koilocyt), fibrovaskuler core, sebukan sel radang neutrophil dan limfosit yang mendukung diagnosis kondiloma akuminata.

Pengobatan KA bertujuan untuk mengangkat lesi KA, mengurangi persistensi HPV pada jaringan dan mengurangi paparan ulang virus HPV. Pilihan terapi KA ditentukan berdasarkan jumlah, ukuran, lokasi dan morfologi lesi KA. Kenyamanan pasien, ketersediaan modalitas terapi, biaya pengobatan, efek samping pengobatan dan pengalaman dokter juga menjadi bahan pertimbangan dalam pemilihan terapi.

Modalitas terapi KA terdiri dari metode kimia (podofiloks 0,5%, krim imikuimod 5%, 5-fluorourasil, salep sinatekin 15%, tingtur podofilin 15-25% dan asam triklorasetat 80-90%) dan metode ablatif (bedah eksisi, krioterapi dan elektrokauter).6,17

(11)

11 Keuntungan dan efektivitas dari masing-masing modalitas terapi perlu dibandingkan dengan efek samping dan biaya terapi. Pembedahan merupakan suatu terapi yang efektif dan biasanya dipertimbangkan pada lesi KA yang berkeratin, berukuran besar, pedunkul atau gagal dengan terapi sebelumnya. Pembedahan telah lama digunakan untuk mengobati KA dengan tingkat keberhasilan tinggi. Kombinasi pembedahan dan elektrokauter dianggap sebagai gold standard untuk pengobatan KA. Tingkat keberhasilan dari pembedahan berkisar antara 89-100% sedangkan tingkat rekurensi sebesar 19-29%.4,18

Sirkumsisi adalah tindakan pembuangan sebagian atau seluruh preputium penis dengan tujuan tertentu. Indikasi utama dilakukan sirkumsisi adalah indikasi budaya, agama, sosial dan medis. Alasan medis untuk dilakukan sirkumsisi adanya kondisis seperti fimosis, parafimosis, balanitis, kondiloma akuminata dan penil limfedema dan karsinoma penis. Sirkumsisi dilakukan jika lesi KA meliputi permukaan glans penis atau permukaan dalam preputium. Maka tindakan sirkumsisi dapat mencegah perluasan dan kekambuhan KA. Dengan sirkumsisi permukaan glans penis akan menjadi lebih tebal dan dilapisi epitel yang membuatnya lebih tahan terhadap abrasi yang akan mengurangi kerentanan masuknya virus. Studi oleh Xavier dan kawan-kawan pada tahun 2002 di beberapa negara Brasil, Filipina, Thailand, Kolumbia dan Spanyol menyimpulkan bahwa sirkumsisi menurunkan risiko terinfeksi HPV pada pria.7,19

Lesi pada area glans penis dikombinasi dengan terapi elektrokauter.

Elektrokauter dapat menjaga haemostasis pada area glans penis dengan proses desikasi, cutting dan koagulasi. Tindakan dapat menghilangkan lesi yang dengan bersih dengan kerusakan jaringan sekitar yang lebih minimal. Elektrokauter efektif untuk menghancurkan KA namun teknik ini memerlukan keterampilan operator untuk mengontrol kedalaman dan lebar kauterisasi tersebut. Mengontrol kedalaman luka penting untuk mencegah jaringan parut dan luka. Jika penyakit ini sangat luas atau melingkar, upaya-upaya harus dilakukan untuk mempertahankan kontinuitas kulit.

(12)

12 Terapi dapat diulang jika diperlukan. Tingkat keberhasilan elektrokauter berkisar 94- 100% dengan angka rekurensi sebesar 22%.3,4,19

Pembedahan sering menimbulkan rasa nyeri dibandingkan terapi lain, risiko lainnya adalah perdarahan dan infeksi. Risiko dengan menggunakan elektrokauter selain menimbulkan rasa nyeri dapat mengakibatkan luka bakar pada jaringan sekitar.

Pasien biasanya mendapatkan antibiotika untuk mengurangi risiko infeksi dan analgetik setelah prosedur pembedahan untuk mengurangi rasa nyeri.4,18 Pada kasus dilakukan terapi dengan sirkumsisi dan elektrokauter, diberikan terapi krim gentamicin 0,% dioleskan setiap 12 jam untuk mencegah infeksi sekunder dan analgetik asam mefenamat 500 mg setiap 8 jam untuk mnegurangi rasa nyeri paska pembedahan.

Pada pasien KA yang menjalani terapi pembedahan seperti sirkumsisi dan elektrokauter, waktu penyembuhan tergantung lokasi dan jumlah KA. Biasanya proses penyembuhan terjadi 2 sampai 6 minggu. Perlu diperhatikan bila terjadi perdarahan lebih dari 1 minggu, demam, nyeri berat atau tanda-tanda infeksi lain serta kemungkinan terjadinya skar. Hindari kontak seksual sampai area yang diobati sembuh dan rasa nyeri telah menghilang.11,20 Pada kasus setelah 1 minggu pengamatan, luka bekas sirkumsisi mulai menyembuh dan luka elektrokauter telah mengecil. Tidak didapatkan adanya perdarahan, nyeri berat, demam ataupun tanda infeksi lainnya. Pasien disarankan untuk menghindari kontak seksual sampai luka benar-benar telah menyembuh.

Beberapa penelitian menyebutkan bahwa sirkumsisi mampu menurunkan penyebaran IMS dan mencegah terjadinya kanker penis karena menghilangkan kesempatan untuk terjadinya smegma. Suatu penelitian RCT di Uganda menemukan prevalensi terjadinya HPV subtipe risiko tinggi karsinoma lebih rendah pada kelompok laki-laki yang di sirkumsisi. Penelitian retrospektif di Afrika Selatan dari tahun 1954 sampai 1997 dari 89 kasus kanker penis invasif didapatkan 98% terjadi pada laki-laki yang tidak disirkumsisi dan dari 118 kasus karsinoma in situ, 84%

terjadi pada laki-laki yang tidak di sirkumsisi.19

(13)

13 Pencegahan terhadap infeksi HPV juga dapat dilakukan dengan pemberian vaksin HPV. Terdapat 2 jenis vaksin HPV yaitu vaksin bivalen dan vaksin kuadrivalen. Vaksin bivalen digunakan untuk melindungi paparan terhadap infeksi HPV tipe 16 dan 18. Sedangkan vaksin kuadrivalen memberikan perlindungan terhadap HPV tipe 6, 11, 16 dan 18. Vaksin biasanya diberikan pada umur 18-25 tahun atau sebelum aktif secara seksual. Prognosis KA dengan terapi sirkumsisi dan elektrokauter adalah dubius ad bonam. Pengobatan memiliki respon klinis yang baik dan cepat karena dalam satu kali terapi dapat langsung terlihat hasil dengan terangkatnya lesi KA.4,20 Prognosis dari kasus adalah dubius karena walaupun lesi telah diangkat namun risiko rekurensi masih tetap ada. Pasien tetap diberikan informasi mengenai penyakitnya dan kemungkinan rekurensi yang dapat terjadi serta kemungkinan risiko komplikasi yang mungkin dapat terjadi. Pasien disarankan melakukan vaksin HPV untuk mencegah reinfeksi virus. Istri pasien juga disarankan untuk divaksin untuk mencegah infeksi HPV.

SIMPULAN

Dilaporkan satu kasus kondiloma akuminata yang diterapi dengan sirkumsisi dan elektrokauter. Diagnosis kondiloma akuminata ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang berupa pemeriksaan acetowhite dan histopatologi. Pada pengamatan lanjutan didapatkan lesi paska pembedahan telah mongering. Prognosis pada kasus adalah dubius karena risiko rekurensi masih tetap ada meskipun lesi telah terangkat semuanya.

(14)

14 DAFTAR PUSTAKA

1. Winer, R.L., Koutsky, L.A. Genital Human Papillomavirus Infection. In:

Holmes, K.K., Sparling, P.F., Stamm, W.E., Piot, P., Wasserheit, J.N., Corey, L., Cohen, M.S., Watts, D.H., eds. Sexually Transmitted Disease. 4th edition.

New York: McGraw Hill; 2008, p. 490-501.

2. Kalichman, S.C., Pellowski, J., Turner, C. Prevalence of Sexually Transmitted Co-infection in People Living with HIV/AIDS. Sex Transm Infect. 2011;

87(3): 183-190.

3. Chang GJ, Welton M. Human Papilloma Virus, Condylonata Acuminata, and Anal Naoplasia. Clinic in Colon and Rectal Surgery. 2004., 17(4), p. 221-230.

4. Gilson R, Nathan M, Sonnex C, Lazaro N, Keirs T. UK National Guidelines on the Management of Anogenital Warts 2015. British Association for Sexual Health and HIV. 2015. p.1-24.

5. Anonim. Register pasien poliklinik Kulit dan Kelamin Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah Denpasar Januari 2015 – Juni 2016. Tidak dipublikasikan.

6. CDC. Sexually transmitted disease treatment Guidelines. MMWR. 2010; 59:

69-70.

7. Castellsague X, Bosch X, Munoz, Nubia. Male circumcision, penile human papillomavirus infection, and cervical in female partners. N Engl J Med.2002;346:1105-12

8. Montana N, Labra AW, Schiappacasse GF. Giant Condyloma Acuminatum (Buschke-Lowenstein tumor). Series of seven cases and review of the literature. Rev Chil Radiol. 2014; 20(2):57-63.

9. Rowen, D., Fox, P., Goon, P. Anogenital Human Pappilomavirus Infection:

Natural History, Epidemiology. In: Gupta, S., Kumar, B., eds. Sexually Transmitted Infections. 2nd ed. Elsevier; 2012, p. 360-65.

10. Murtiastutik, D. Kondiloma Akuiminata. In: Barakbah, J., Lumintang, H., Martodiharjo, S., eds. Buku Ajar Infeksi Menular Seksual. 1st ed. Surabaya:

Airlangga University Press; 2007, p.165-70

11. Lacey C, Woodhall S, Wikstrom A, Ross J. European guideline for the management of anogenital warts. IUSTI GW Guidelines. 2011:2-11.

12. Sterling, J.C. Virus Infection. In: Burns, T., Breathnach, S., Cox, N., Griffiths, C. eds. Rook’s Textbook of Dermatology. 8 ed. UK: Willey-Blackwell;

2010,p. 235-46.

13. Choudhry, S., Ramachandran, V.G., Das, S., Bhattacharya, S.N., Moghan, N.S. Characterization of patients with multiple sexually transmitted infection:

A hospital-based survey. Indian Journal of Sexually Transmitted Disease.

2010; 31(2): 87-91.

14. Androphy EJ, Kirnbauer RK. Human Papilloma Virus Infection. In:

Goldsmith LA, Katz SI, Gilchrest BA, Paller AS, Leffell DJ. Wolff K. eds.

Fitzpatrick’s Dermatology in General Medicine. 8th ed. USA: McGraw Hill.

2012. P.2421-33.

(15)

15 15. Nadal SR, Formiga FB, Manzione CR. Papulosis Buwenoid- A Clinical

Feature of the HPV Infection. Braz J Infect Dis. 2009:29(4);505-7.

16. Murtiastutik, D. Penatalaksanaan Kondiloma Akuiminata. In: Barakbah, J., Lumintang, H., Martodiharjo, S., eds. Buku Ajar Infeksi Menular Seksual. 1st ed. Surabaya: Airlangga University Press; 2007, p.170-80.

17. Bakardzhiev I, Pehlivanov G, Stransky D, Gonevski M. Treatment of Candylomata Acuminata and Bowenoid Papulosis With CO2 Laser and Imiquimod. J of IMAB- Annual Procceding (Scientific Papers). 2012;18:246- 9.

18. Buck HW. Warts (genital). British Medical Journal. 2009. p.1-24

19. CDC : sexually transmitted diseases treatment guidelines 2006. In MMWR 2006;55(11):1-93

20. Akhavizadegan H. Electrocautery Resection, Shaving with a Scalpel, and Podophyllin: a Combination Therapy for Giant Condyloma Acuminatum.

World J Mens Health. 2015;33(1):39-41.

Gambar

Gambar 1. Pemeriksaan fisik 1a-1b. Lesi kondiloma akuminata multipel pada glans penis
Gambar  4.  Pemeriksaan  pada  lesi  paska  sirkumsisi  dan  elektrokauter.  4a.  Lesi  paska  bedah  sirkumsisi  jahitan  tampak  kering,  edema  (+),  nekrosis  (-)
Gambar  6.  Pemeriksaan  fisik  pada  pengamatan  lanjutan  kedua.  6a.  Luka  jahitan  telah  mongering

Referensi

Dokumen terkait