• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERENCANAAN PENDIDIKAN DALAM PERPEKTIF ISLAM

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PERENCANAAN PENDIDIKAN DALAM PERPEKTIF ISLAM"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

Oleh: Ainur Rofiq*

Abstrak

Pendidikan Islam di Indonesia sampai saat ini masih menghadapi berbagai problematika yang rumit untuk diselesaikan secara tuntas. Problematika pendidikan Islam bukan hanya bersifat kuantitatif melainkan juga kualitatif. Bahkan problematika yang terakhir inilah yang sangat dirasakan oleh para pemerhati, pelaku, dan pengelola termasuk para pejabatnya. Kualitas pendidikan Islam di Indonesia belum mampu mengimbangi pendidikan nasionalnya. Meskipun kualitas pendidikan nasionalnya sendiri juga belum terlalu hebat bila dibandingkan dengan kualitas pendidikan nasional negara lain. Misalnya, Malaysia, Singapura, Taiwan atau bahkan Jepang.

Salah satu faktor munculnya problematika pendidikan Islam khususnya yang bersifat kualitatif adalah lemahnya sistem perencanaan pendidikan dalam Islam. Perencanaan pendidikan Islam yang selama ini dijadikan landasan adalah perencanaan pendidikan yang berorientasi tambal sulam dan model pengobatan penyakit. Belum terlihat perencanaan yang bersifat prospektif dan futuristik-ilmiah. Padahal tuntutan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi semakin mendesak dan sangat kompleks.

Oleh karena itu, tulisan ini mencoba untuk memberikan sedikit pemikiran tentang perencanaan pendidikan dalam Islam yang berisi tentang ontologi perencanaan itu sendiri, kebijaksanaan strategis yang harus diambil, jenis-jenis perencanaan, dan langkah-langkah yang efektif dalam penyusunan perencanaan pendidikan Islam

A. Pendahuluan

Perencanaan dalam sistem manajemen merupakan langkah awal yang harus diperhatikan dan dipikirkan secara jernih dan mendalam. Perencanaan merupakan landasan kinerja sistem

* Penulis adalah Dosen Fakultas Syari’ah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

(2)

manajemen.1 Aktivitas dalam menentukan perencanaan dalam tugas

yang sangat besar, benar-benar ditekankan dalam ajaran Islam.

Sebagaimana firman Allah Q.S. Al-Nisa’: 94. “Hai orang-orang yang

beriman, apabila kamu pergi (berperang) di jalan Allah, maka telitilah dan jangan kamu mengatakan kepada orang yang mengucapkan ‘salam’ kepadamu: ‘Kamu bukan seorang mukmin’ (lalu kamu membunuhnya) dengan maksud mencari harta benda kehidupan di dunia, karena di sisi Allah ada harta yang banyak. Begitu jugalah keadaan kamu dahulu, lalu Allah menganugerahkan nikmat-Nya atas kamu, maka telitilah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Dari ayat di atas dapat dipahami bahwa sebelum melaksanakan suatu tugas harus ditentukan dahulu rencana yang matang dan teliti. Dengan adanya perencanaan, pencapaian target dan sasaran dapat lebih ekonomis, tepat waktu, dan akurat. Perencanaan mempermudah pengawasan terhadap aktivitas manajerial. Bila melihat begitu urgensinya perencanaan, maka perencanaan bisa dikatakan sebagai “akal dan kalbu” manajemen.

B. Ontologi Perencanaan

Bila berbicara tentang hakekat perencanaan perlu kiranya diperhatikan juga definisi-definisinya yang telah dikemukakan para pakar manajemen. Sudah banyak tokoh dan ahli manajemen yang mengemukakan pendapat dan mendefinisikannya. Namun demikian, definisi-definisi yang dikemukakan masih mengacu pada orientasi material. Seperti pendapat Richard M. Steers, et-al. yang mendefinisikan perencanaan manajemen dengan mengatakan:

“Dalam konsep yang paling sederhana, perencanaan adalah sebuah proses yang dilakukan oleh seorang manajer dalam menentukan tujuan dan mengambil langkah-langkah penting untuk menjamin bahwa

tujuan tersebut dapat dicapai”2

1 Lihat, Munir al-Mursyi Sarhan, Fi Ijtima’iyyah al-Tarbiyah, (Kairo: Maktabah al-Anglo al-Mishriyyah, 1978), p. 165.

2 Lebih jauh dia menjelaskan bahwa karakteristik perencanaan di antaranya adalah: a. perencanaan adalah sebuah proses; b. perencanaan adalah penentuan lebih dahulu (pengharapan) atau orientasi masa depan; c. perencanaan mencakup sejumlah keputusan yang saling bergantungan; d. perencanaan meliputi

(3)

Dengan nada yang sama, seorang pakar manajemen dari Universitas Penssylvania, Ernest Dale, menyatakan bahwa pekerjaan pertama seorang manajer adalah memutuskan apa yang dia inginkan untuk mencapai tujuan jangka pendek dan jangka panjang bagi

organisasinya.3

Definisi di atas adalah tentang perencanaan secara umum. Dalam masalah perencanaan pendidikan, UNESCO telah membuat definisinya dengan mengatakan bahwa perencanaan pendidikan adalah penerapan ramalan dalam menentukan kebijaksanaan, prioritas, dan biaya dari sebuah sistem pendidikan dengan melihat realitas ekonomi dan politik, potensi sistem untuk berkembang, kepentingan negara dan

pelayanan masyarakat yang tercakup dalam sistem tersebut.4

Dalam pembahasan tentang ontologi perencanaan pendidikan dalam Islam kiranya perlu dilihat terlebih dahulu dasar, tujuan, dan prinsip manajemen pendidikan dalam Islam. Setelah memperhatikan semua hal di atas dapat penulis katakan bahwa pengertian perencanaan adalah menentukan semua hal yang akan dilaksanakan dan diselesaikan sebelum pelaksanaan dan penyelesaian itu sendiri berlangsung. Penentuan itu juga disertai dengan penetapan segala sesuatu yang mendukung terwujudnya semua hal yang telah ditetapkan secara sistematis, rasional, dan transparan. Karena perencanaan ini tercakup dalam pendidikan Islam, maka hal-hal yang menjadi perhatian adalah semua unsur yang ada di dalamnya. Unsur tersebut mencakup sumber daya manusia (sebagai makhluk individu, sosial, dan makhluk Tuhan) dan sumber daya non-manusia.

Perencanaan manajemen pendidikan dalam Islam bukan hanya diarahkan pada pencapaian kebahagiaan yang bersifat duniawi belaka,

_______________________

banyak orang dan beberapa departemen; e. perencanaan mengandung berbagai tindakan untuk mengatasi penyimpangan-penyimpangan di masa depan yang tidak terjadi jika perencanaan telah disusun. Richard M. Steers, et. al., Managing Effective Organization: an Introduction, (Boston: Kent Publishing Company, A Division of Wordsworth, Inc., 1986), p. 96-8.

3 Ernest Dale, Management: Theory and Practice, (Penssylvania, McGraw-Hill Book Company, 1978), p. 4. Teks aslinya “The Manager’s first job is to decide what he wants to accomplish to set short or long range goals for his organization.”

4 Lihat, Bebey C.E. dalam Jusuf Enoch, Dasar-dasar Perencanaan

(4)

melainkan juga diarahkan pada pencapaian kebahagiaan ukhrawi. Bahkan, perencanaan tersebut juga harus diarahkan pada terwujudnya keseimbangan di antara keduanya, bukan memberi bobot perhatian

yang lebih besar kepada salah satunya saja.5 Sebab jika perencanaan

tersebut hanya mementingkan salah satu aspek saja, berarti belum mampu menterjemahkan dasar, tujuan, dan prinsip sistem manajemen pendidikan dalam Islam.

Pemahaman yang demikian ini, juga dapat diambil dari ayat

Q.S. al-Baqarah: 201: "Dan di antara mereka ada yang berdo'a: 'Ya Tuhan

kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka.'” Dari ayat ini dapat diambil pelajaran bahwa kebahagiaan yang dicari manusia hendaknya jangan hanya kebahagiaan di dunia belaka, melainkan juga kebahagiaan di akhirat. Dengan teraihnya dua kebahagiaan tersebut, terciptalah keseimbangan di antara keduanya.

C. Unsur-unsur Perencanaan Pendidikan

Unsur-unsur perencanaan pendidikan adalah komponen-komponen yang menjadi subsistem dari perencanaan pendidikan. Komponen-komponen ini secara integral menyatu menjadi sebuah perencanaan pendidikan. Komponen-komponen tersebut mencakup semua hal, baik yang masih berada dalam dataran konsep ataupun yang sudah berada pada dataran praktis, sehingga perencanaan dapat dilaksanakan secara konkret dan terarah.

Unsur-unsur yang dimaksud ada tiga yaitu tujuan (termasuk

sasaran dan misi), sumber daya, dan implementasi atau pelaksanaan.6

5 Perencanaan yang hanya berorientasi pada satu aspek saja banyak ditemukan dalam sitem manajemen pendidikan non-Islam, misalnya pendidikan Amerika dan pendidikan sekuler. Hal ini sangat wajar sebab nilai-nilai filosofi yang mendasarinya adalah nilai-nilai nilai-nilai filosofi yang mendasarkan diri pada olah pikir manusia yang sangat terbatas. Untuk mengetahui perencanaan pendidikan dalam sistem manajemen Amerika atau sekuler dapat dilihat pada buku yang ditulis oleh Roger A. Kaufman, Educational System Planning, (New Jersey: Englewood Cliffs, 1972). Baca juga, S.V. Martorana and Eilenn Kuhns, Managing Academic Change: Interactive Forces and Leadership in Higher Education, (Washington: Jossey-Bass Publisher, 1975).

(5)

Dalam Islam, semua komponen dari perencanaan pendidikan yang ada harus mencerminkan nilai-nilai Islam yang fundamental, agar perencanaan pendidikan yang ada tetap mengacu pada ajaran-ajaran yang telah baku. Dalam menentukan perencanaan pendidikan juga perlu dilihat sumber daya yang ada. Selanjutnya, dalam melakukan akselerasi operasionalnya tidak boleh menyimpang dan melenceng dari perencanaan pendidikan semula.

1. Tujuan. Pendidikan dalam Islam itu sendiri bertujuan untuk

mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan di dunia dan di akhirat.7

Berkaitan dengan rumusan yang demikian ini, sistem perencanaan pendidikan dalam Islam harus mengacu kepadanya. Jika dikatakan bahwa tujuan tersebut sangat sulit dan kurang jelas, maka tujuan tersebut perlu dijabarkan dalam bentuk penentuan misi dari masing-masing lembaga pendidikan. Setelah menentukan misinya, lembaga pendidikan yang bersangkutan menentukan sasaran yang ingin dicapai dalam jangka waktu tertentu. Namun, sekali lagi, sasaran yang ditentukan dan siap untuk ditindaklanjuti itu harus tetap mengacu pada misi dan tujuan pendidikan Islam.

2. Sumber Daya. Sumber daya adalah kekuatan yang dimiliki oleh sebuah sebuah lembaga pendidikan untuk mewujudkan sasaran

yang telah ditentukan.8 Sumber daya ini meliputi sumber daya

materi, sumber daya non-materi, dan sumber daya manusia. Seluruh sumber daya tersebut harus dimanfaatkan secara maksimal. Artinya segala daya, kekuatan, dan kesempatan harus dikerahkan dalam rangka pemanfaatan setinggi-tingginya terhadap seluruh sumber daya yang dimiliki. Pemanfaatan sumber daya tersebut harus tetap memperhatikan prinsip-prinsip manajemen pendidikan. Penggunaaan seluruh sumber daya manusia yang ada juga hendaknya diharmonisasikan dengan realitas yang sedang dihadapi. Dengan demikian, antara lingkungan internal dan eksternal terdapat sinergi yang saling mendukung bukannya saling menjegal.

7 Bandingkan, Muhammad Munir Mursyi, Al-Tarbiyah al-Islamiyyah:

Ushuluha wa Tathawwuruha fi al-Bilad al-'Arabiyyah, (Kairo: 'Alam al-Kutub, 1982), p. 54.

8 Lihat, Lyman W. Porter, dalam Joseph A. Litterer, (ed.), Management:

(6)

Dalam proses pendidikan sumber daya yang paling sentral adalah sumber daya manusia.

3. Implementasi atau Pelaksanaan. Implementasi merupakan terjemahan dari penentuan sasaran yang telah ditetapkan. Dengan pelaksanaan

tersebut berarti sasaran yang telah ditetapkan harus diwujudkan.9

Pada saat memasuki tahapan implementasi ini sudah ditentukan terlebih dahulu orang, waktu, tempat, objek, dan metode yang harus dilaksanakan untuk mewujudkan sasaran.

Harus disadari bersama bahwa sebuah perencanaan pendidikan adalah sebuah proses. Proses tersebut dimulai dari penentuan sasaran, perhatian terhadap seluruh sumber daya yang ada, dan penentuan semua hal yang tercakup dalam pelaksanaan. Penentuan ini mencakup perangkat lunak dan perangkat keras baik yang berupa sumber daya insani maupun non-insani.

Dengan melihat ungkapan dan sedikit uraian di atas, maka dapat dikatakan bahwa pada hakekatnya, proses perencanaan pendidikan dalam Islam adalah sebuah sistem yang mencakup seluruh subsistem perencanaan dalam sistem manajemen pendidikan yang dikendalikan oleh nilai-nilai ajaran Islam.

D. Kebijaksaan Strategis Perencanaan Pendidikan

Kebijaksaaan strategis adalah kebijaksanaan yang sangat menentukan atas berhasil dan tidaknya pencapaian komponen perencanaan. Komponen tersebut meliputi sasaran, misi, dan tujuan perencanaan. Kebijaksanaan strategis pendidikan dalam Islam dapat dinyatakan sebagai berikut.

1. Mono-orientasi. Mono-orientasi adalah kebijaksanaan yang memandang bahwa semua yang telah, sedang, dan akan ditentukan harus mengacu pada orientasi yang sama. Semua hal yang ada tersebut mencakup tujuan, misi, dan sasaran yang telah ditentukan. Hal ini dimaksudkan agar segala aktivitas yang ada dapat

(7)

memberikan kontribusi positif terhadap pencapaian tujuan, misi, dan sasaran (contribution to objectives).10

2. Efisiensi dan Efektivitas. Perencanaan pendidikan dalam Islam harus mampu mendayagunakan dan menghasilgunakan semua sumber daya yang ada. Maksudnya, dalam operasionalisasi perencanaan pendidikan tidak boleh terjadi penghambur-hamburan sumber daya

yang dimiliki.11 Sikap penghambur-hamburan merupakan salah satu

kebiasaan setan. Sedangkan, setan itu sendiri bagi manusia yang

beriman adalah musuh yang nyata. Firman Allah: "Dan berikanlah

kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros itu saudara setan dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.” Q.S. al-Isra': 26-27. Ayat ini dengan jelas mengecam seseorang atau sekelompok orang (lembaga) yang suka menghambur-hamburkan harta atau modal yang dimiliki. Penerapan sikap yang demikian ini sangat tepat dalam upaya meningkatkan efisiensi dan efektivitas dalam sebuah sistem manajemen. Efisiensi dan efektivitas ini bukan hanya menggunakan daya pikir saja, melainkan juga perlu menggunakan daya zikir. Dengan dua “ujung tombak” daya (pikir dan zikir) tersebut diharapkan perencanaan pendidikan dalam Islam akan dapat berfungsi dan berperan secara optimal dan maksimal.

3. Perembesan (Pervasiveness). Perencanaan pendidikan dalam Islam menjadi tanggung jawab semua pihak. Jadi, bukan hanya menjadi monopoli top manajer saja, melainkan juga menjadi tugas dan tanggung jawab bagi semua pihak yang terkait dalam proses

pendidikan Islam.12 Pihak-pihak tersebut meliputi guru kelas, wali

10 Kunci keberhasilan perencanaan pendidikan adalah penentuan secara formal dan tegas tujuan yang manunggal serta sasaran yang transparan. Ibid., p. 101.

11 Optimalisasi perencanaan pendidikan dalam Islam dapat dilakukan dengan mengadakan analisis secara mendalam terhadap semua biaya yang berkaitan dengan sasaran perencanaan pendidikan serta sumber daya yang dibutuhkan, sehingga benar-benar meminimalisir jumlah pembiayaan dan memaksimalisir hasil atau pencapaian sasaran perencanaan tersebut. Lihat, Ross A. Webber, To Be a Manager, (Illionis: Richard D. Irwin, Inc., 1981), p. 406.

12 Lihat, Burhanuddin, Analisis Administrasi Manajemen dan Kepemimpinan

(8)

kelas, bagian kesiswaan, bagian kurikulum, petugas bimbingan dan penyuluhan, petugas kebersihan, petugas keamanan, kepala sekolah, dan seluruh pejabat negara, khususnya Departemen Pendidikan Nasional. Dalam hal pendidikan Islam adalah seluruh birokrat dan pejabat Departemen Agama.

4. Pengutamaan (Primacy). Dalam proses pendidikan Islam, tahap

perencanaan (planning) harus menjadi langkah pertama yang

mendasari semua kegiatan selanjutnya. Semua proses yang berlangsung dalam pendidikan Islam harus selalu mengacu pada

perencanaan yang telah ditetapkan.13 Walaupun demikian, bukan

berarti bahwa sebelum tahap perencanaan tidak ada aktivitas sama sekali. Sebab, dalam sebuah mata rantai proses sistem manajemen dari perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, dan pengawasan semuanya merupakan sebuah siklus yang tidak pernah berhenti. Hanya saja masing-masing mata rantai memiliki urutan yang jelas dan konstan.

5. Manusiawi. Perencanaan pendidikan yang ada dalam Islam harus mengacu pada ketinggian harkat dan martabat manusia. Hal ini didasarkan pada argumentasi bahwa betapa mulia derajat manusia dalam pandangan Islam. Manusia bukan hanya sebagai makhluk yang mengabdi kepada Allah tetapi juga sebagai khalifah Allah di bumi. Dengan demikian, perencanaan pendidikan dalam Islam

harus mengacu pada ketinggian martabat manusia.14 Manusiawi di

sini mempunyai arti bahwa manusia bukan sebagai robot pendidikan, melainkan sebagai pelaksana, pengendali, sekaligus sebagai tujuan proses pendidikan itu sendiri.

E. Pendekatan dan Perencanaan Pendidikan

Dalam merencanakan pendidikan Islam para pengelola (manajer) dapat menggunakan beberapa pendekatan. Pendekatan di sini adalah dalam pemahaman pendekatan secara komprehensif terhadap orientasi umat Islam dalam menentukan sasaran, misi, dan tujuan

13 Ibid.

14 Lihat, Sayyid Ahmad ‘Usman, Al-Ta’allum ‘Inda Burhan Islam

(9)

lembaga pendidikan. Pendekatan yang dapat digunakan dalam penentuan dan perumusan perencanaan pendidikan adalah:

1. Kebutuhan Masyarakat. Pendekatan ini mengacu pada model pendidikan yang dikehendaki masyarakat. Pendekatan ini memperhatikan keinginan dan kebutuhan bagi kelanjutan belajar

putera-puteri mereka.15 Pendekatan ini bukan hanya semata-mata

mengikuti “arus” keinginan masyarakat belaka, melainkan juga perlu diimbangi dengan dialektika antara kebutuhan masyarakat

yang sedang trendy dengan ajaran-ajaran Islam. Upaya tersebut

dilakukan demi terwujudnya harmonisasi antara kebutuhan

masyarakat (social demand) dan tujuan pendidikan dalam Islam.

2. Penyiapan Sumber Daya Manusia. Pendekatan ini sangat menekankan

adanya pengejawantahan para peserta didik sebagai asset bagi

pengembangan sumber daya manusia yang berkualitas.16 Tingginya

kualitas sumber daya manusia merupakan sebuah kondisi ideal yang diidam-idamkan masyarakat. Oleh karena itu, perencanaan pendidikan yang ditetapkan harus benar-benar mengacu pada peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pemanfaatan atau penggunaan pendekatan penyiapan sumber daya manusia dalam menyusunnya.

3. Keuntungan. Pendekatan ini biasanya lebih mengacu pada perencanaan pendidikan yang bersifat praktis dan bernuansa ekonomis. Dalam proses penentuan perencanaan pendidikannya,

pendekatan ini lebih menekankan pada keuntungan material.17

15 Kebutuhan masyarakat itu sendiri pada umumnya mengandung tiga komponen dasar yaitu trend, variasi semusim, dan kejadian-kejadian yang tidak tertentu. Untuk lebih jelas baca, Richard M. Steers, et. al., Managing Effective…, p. 241.

16 Arti pentingnya sumber daya manusia yang berkualitas dapat ditinjau dari berbagai aspek (aspek multidimensional). Di antaranya adalah aspek politik, ekonomi, hukum, sosio-kultural, administratif, dan aspek teknologikal. Lebih jauh baca, Sondang P. Siagian, Manajemen Sumber Daya Manusia, (Jakarta: Bumi Aksara, 1995).

17 Bila dibandingkan dengan pendekatan manajemen di Amerika, maka pendekatan keuntungan dalam manajemen pendidikan Islam sangat berbeda secara substansif. Sebab, manajemen yang ada di Amerika keuntungan yang diharapkan

(10)

Meskipun demikian, karena pendekatan ini digunakan dalam

perencanaan pendidikan Islam, maka hendaknya tidak

mengesampingkan keuntungan di bidang spiritual. Upaya pencapaian yang ideal ini memang sangat sulit, karena pendekatan perencanaan yang demikian ini pada umumnya hanya mengacu pada bidang material belaka. Pendekatan yang ketiga ini bisa dijadikan sebagai pendorong bagi masyarakat awam yang hanya mementingkan prestise. Karena itu, pendekatan yang semacam ini masih bisa ditolerir, selama tidak melanggar ajaran Islam.

4. Pendekatan Sistem. Dalam al-Qur’an disebutkan “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkag-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata.” Q.S. al-Baqarah: 208. Ayat di atas mendorong umat Islam untuk memasuki Islam secara keseluruhan sebagai satu kesatuan yang kokoh. Islam dalam hal ini bisa dikatakan sebagai sebuah sistem yang bulat dan utuh yang terdiri dari berbagai subsistem. Susbsistem-subsistem tersebut di antaranya adalah: iman, ilmu, dan amal; atau iman, Islam, dan ihsan; atau akidah, syari’ah, dan akhlak. Subsistem-subsistem di atas menjadi pilar dalam sistem Islam. Demikian juga, perencanaan pendidikan dalam Islam merupakan subsistem manajemen pendidikan dalam Islam. Untuk menentukannya harus menggunakan pendekatan sistem. Pendekatan sistem dalam perencanaan pendidikan Islam adalah sebuah pendekatan yang memandang bahwa perencanaan

pendidikan merupakan sebuah totalitas dari seluruh

komponennya.18 Komponen-komponen itulah yang selanjutnya

disebut sebagai subsistem dari perencanaan pendidikan dalam Islam. Subsistem-subsistem yang ada merupakan bagian-bagian

_______________________

hanya bersifat material belaka tanpa memperhatikan nuansa spiritual sama sekali. Sedangkan, pendidikan Islam sebaliknya. Ross A. Webber, To Be a Manager, p. 432.

18 Pendekatan sistem dapat berjalan dengan efektif manakala faktor-faktor utama yang mempengaruhinya dapat diharmonisasikan dalam sistem manajemen pendidikan Islam. Faktor-faktor utama itu antara lain: karakteristik organisasi, karakteristik lingkungan, karakteristik personil (pengelola), dan karakteristik kebijaksanaan atau tindakan manajerial pendidikan dalam Islam itu sendiri. Richard M. Steers, et. al., Managing Effective…, p. 77-8.

(11)

yang tidak dapat dipisahkan dari lainnya. Semua subsistem tersebut menjadi sebuah kesatuan yang bulat dan utuh. Walaupun masing-masing komponen mempunyai nilai fungsional yang berbeda, namun perbedaan tersebut justru dianggap dan dijadikan sebagai komplemen bagi komponen yang lain.

F. Jenis-jenis Perencanaan Pendidikan

Perencanaan pendidikan dalam Islam dapat dibagi menjadi beberapa jenis sesuai dengan sudut pandang yang digunakan. Dalam tulisan ini dikemukakan tujuh sudut pandang terhadap jenis perencanaan pendidikan dalam Islam.

1. Perencanaan Menurut Waktu

Secara garis besar jenis perencanaan pendidikan dalam Islam ditinjau dari sudut waktunya dapat dibagi menjadi dua, yaitu perencanaan pendidikan dalam waktu yang tak terbatas dan dalam waktu yang terbatas. Perencanaan dalam waktu yang tak terbatas adalah perencanaan pendidikan yang jangka waktunya melampaui batas kehidupan manusia. Perencanaan jenis ini disusun dengan proyeksi sampai ke alam akhirat atau kehidupan sesudah di dunia ini. Semua aktivitas yang dilakukan untuk mencapai tujuan kehidupan di akhirat ini sudah direncanakan dalam sistem pendidikan Islam. Sementara, perencanaan pendidikan dalam waktu yang terbatas adalah perencanaan yang jangka waktunya dibatasi oleh kehidupan manusia ketika berada di dunia ini.

Perencanaan ini dapat dibagi menjadi tiga jenis. Yaitu: Pertama,

Perencanaan Jangka Panjang. Perencanaan pendidikan jangka panjang adalah perencanaan pendidikan yang meliputi jangka waktu 25 sampai 30 tahun ke depan. Mengingat jangka waktu yang demikian panjang, maka perencanaannya masih bersifat prospektif-perspektif. Artinya perencanaan pendidikan jangka panjang ini masih berisi perencanaan pendidikan yang masih umum, global, dan belum terperinci dengan orientasi ke depan dalam perspektif

kekinian.19 Kedua, Perencanaan Jangka Menengah. Perencanaan

19 Dalam menentukan perencanaan jangka panjang ini walaupun masih bersifat umum, global, dan belum terperinci, tetap perlu memperhatikan kriteria

(12)

pendidikan jangka menengah adalah perencanaan pendidikan yang

mencakup jangka waktu 5 sampai 10 tahun ke depan.20

Perencanaan jangka menengah ini meskipun masih bersifat prospektif-perspektif, namun sudah semakin memfokus pada target, tujuan, dan sasaran yang semakin terarah dan jelas. Perencanaan jangka menengah ini merupakan penjabaran atau perincian terhadap perencanaan pendidikan jangka panjang. Dan ketiga, Perencanaan Jangka Pendek. Perencanaan pendidikan jangka pendek adalah perencanaan pendidikan yang meliputi jangka waktu satu sampai dua tahun. Pada umumnya, pendidikan di Indonesia membutuhkan waktu satu tahun untuk perencanaan pendidikan jangka pendek ini, dengan pembagian dua semester untuk perguruan tinggi atau tiga catur wulan untuk pendidikan dasar dan menengah. Dalam perencanaan pendidikan jangka pendek ini semua sasaran, target, dan tujuan telah menjadi transparan, jelas dan terperinci. Sehingga, semua pihak yang terlibat di dalamnya dapat memahami dan mengaplikasikan dalam proses pendidikan

secara konkret.21

2. Perencanaan Menurut Sifat

Perencanaan pendidikan dalam Islam ditinjau dari sudut sifatnya dapat dikelompokkan menjadi dua jenis, yaitu perencanaan

_______________________

perencanaan yang baik agar perencanaan pendidikan jangka panjang ini rasional dan objektif. Di antara kriteria yang perlu diperhatikan adalah: 1. Akseptabilitas, maksudnya perencanaan tersebut berdasarkan norma-norma moralitas dan etika yang berlaku secara universal; 2. Fleksibilitas, artinya perencanaan tersebut relatif mudah disesuaikan dengan tuntutan perubahan di berbagai bidang; 3. Dapat diukur, maksudnya perencanaan tersebut dinyatakan dengan jelas dan konkret menurut batasan waktu yang telah ditentukan, baik secara kualitatif maupun kuantitaif. Lihat, Sondang P. Siagian, Manajemen Stratejik, (Jakarta: Bumi Aksara, 1995), p. 134-6.

20 Bandingkan, Jusuf Enoch, Dasar-dasar Perencanaan …, p. 39.

21 Arti pentingnya perencanaan jangka pendek adalah a. Lebih menjamin suksesnya pelaksanaan perencanaan pendidikan jangka panjang dan jangka menengah yang bersifat menyeluruh; b. Meletakkan dasar yang kuat untuk mengendalikan dan memantau kinerja organisasi (performance); c. Memicu bagi para manajer untuk sabar terhadap kemungkinan timbulnya permasalahan yang disebabkan oleh adanya bidang-bidang kegiatan tertentu yang tidak membuahkan hasil maksimal sebagaimana yang diharapkan semula. Lihat, Sondang P. Siagian,

(13)

pendidikan kuantitatif dan perencanaan pendidikan kualitatif.22

Perencanaan pendidikan kuantitatif adalah perencanaan pendidikan yang semua target dan sasarannya dinyatakan dengan angka-angka kuantitas. Dengan perencanaan pendidikan kuantitatif ini, diharapkan setiap jangka waktu tertentu senantiasa dapat dipantau perkembangan dari proses pendidikan dalam Islam. Sedangkan, perencanaan pendidikan kualitatif adalah perencanaan pendidikan yang semua target dan sasaran yang ingin dicapai ditentukan secara kualitatif. Perencanaan pendidikan jenis ini tidak membutuhkan angka-angka kuantitatif.

3. Perencanaan Menurut Luas Wilayah

Perencanaan pendidikan dalam Islam bila ditinjau dari sudut luas

wilayah dapat dikategorikan menjadi empat jenis perencanaan.23

Yaitu, pertama, perencanaan pendidikan lokal. Perencanaan

pendidikan jenis ini adalah perencanaan pendidikan yang ditentukan oleh lembaga-lembaga pendidikan Islam yang berada di daearah tertentu dan terbatas. Dalam konteks Indonesia biasanya ditentukan oleh semacam Kelompok Kerja Madrasah (KKM). KKM ini terdiri dari beberapa madrasah baik negeri maupun swasta yang memberikan masukan dan sekaligus menentukan perencanaan pendidikan tingkat lokal. Bahkan sekarang ini pada era otonomi daerah layak dipertimbangkan penentuan perencanaan pendidikannya diserahkan kepada lembaga pendidikan Islam

masing-masing. Kedua, perencanaan pendidikan regional.

Perencanaan pendidikan regional adalah perencanaan yang disusun

secara bersama oleh lembaga-lembaga atau pemegang

kebijaksanaan pendidikan Islam dalam sebuah wilayah propinsi. Ketiga, perencanaan pendidikan nasional. Perencanaan pendidikan nasional adalah perencanaan pendidikan yang menjadi landasan bagi penyusunan perencanaan lokal dan regional yang meliputi seluruh wilayah pada sebuah negara. Dalam konteks pendidikan Islam di Indonesia disusun oleh Departemen Agama dengan

mempertimbangkan masukan-masukan dari Departemen

22 Jusuf Enoch, Dasar-dasar Perencanaan…, p. 42.

(14)

Pendidikan Nasional. Keempat, perencanaan pendidikan internasional (global). Perencanaan pendidikan internasional dalam Islam adalah perencanaan pendidikan yang disusun dari kesepakatan negara-negara Muslim dari seluruh dunia yang melewati batas-batas teritorial sebuah negara. Penyusunan perencanaan pendidikan yang terakhir ini dilaksanakan oleh wakil-wakil dari negara-negara muslim dengan mengadakan konferensi internasional untuk menentukan perencanaan pendidikan Islam secara universal dan global.

4. Perencanaan Menurut Luas Jangkauan

Perencanaan pendidikan dalam Islam ditinjau dari sudut luas

jangkauannya dapat dibedakan menjadi dua jenis. Yaitu, pertama,

perencanaan pendidikan makro. Perencanaan pendidikan makro adalah perencanaan pendidikan dalam Islam yang bersifat

universal, menyeluruh, dan sangat luas.24 Perencanaan pendidikan

makro ini direpresentasikan pada situasi dan kondisi secara

nasional dan internasional. Kedua, perencanaan pendidikan mikro.

Perencanaan pendidikan mikro dalam Islam adalah perencanaan pendidikan yang disusun berdasarkan situasi dan kondisi tertentu yang berkembang baik dalam lingkungan internal maupun eksternal sebuah lembaga pendidikan.

5. Perencanaan Menurut Otoritas Pembuat

Perencanaan pendidikan dalam Islam menurut otoritas

pembuatnya dapat dibagi menjadi dua jenis. Yaitu, pertama,

perencanaan pendidikan sentralistik. Perencanaan pendidikan sentralistik dalam Islam adalah perencanaan pendidikan yang ditentukan dan disusun oleh pemerintah pusat dalam sebuah negara. Perencanaan pendidikan ini menjadi dasar dan landasan bagi penyusunan perencanaan pendidikan Islam di berbagai wilayah dalam negara tersebut. Perencanaan model ini dalam konteks Indonesia telah dipraktikkan dengan manis oleh

pemerintahan Orde Baru. Kedua, perencanaan pendidikan

desentralistik. Perencanaan pendidikan desentralistik dalam Islam adalah perencanaan pendidikan yang disusun oleh pemerintah

(15)

wilayah atau daerah setelah mereka diberi hak otonom dalam penyusunan perencanaan pendidikannya. Perencanaan model ini diharapkan mampu menyerap peradaban dan kebudayaan di daerah-daerah tertentu semaksimal mungkin, sehingga masyarakat atau peserta didiknya tidak merasa terasing hidup di dalam

masyarakatnya.25

6. Perencanaan Menurut Objek.

Perencanaan pendidikan dalam Islam dilihat dari objek yang menjadi sasaran pendidikan dapat dibagi menjadi dua jenis. Yaitu, pertama, perencanaan pendidikan rutin (repeat planning). Perencanaan pendidikan rutin adalah perencanaan pendidikan yang harus selalu ada dan harus dilaksanakan dalam setiap jangka waktu tertentu. Misalnya kegiatan belajar-mengajar, evaluasi, atau pengawasan. Semua kegiatan ini harus ada dan terlaksana pada tiap tahunnya. Kedua, perencanaan pendidikan aksidental. Perencanaan pendidikan aksidental adalah perencanaan pendidikan yang disusun sesuai dengan kebutuhan yang sangat perlu dan harus ada pada saat-saat tertentu yang hanya digunakan sekali saja, bukan secara rutin muncul. Misalnya, pelatihan penelitian, pelatihan komputer atau pelatihan kepemimpinan.

7. Perencanaan Menurut Proses.

Perencanaan pendidikan menurut prosesnya dapat digolongkan

menjadi tiga jenis. Yaitu: pertama, perencanaan filosofikal.

Perencanaan filosofikal adalah perencanaan pendidikan dalam Islam yang masih sangat umum, global, dan hanya berupa konsep-konsep nilai yang sangat ideal. Perencanaan jenis ini masih perlu

diterjemahkan ke dalam program-program di bawahnya. Kedua,

25 Bandingkan dengan pernyataan Irving Smith Kogan: “A decentralization

organization requires many more capable managers than does highly centrallized one. On the other hand, the latter may find itself overly dependent on one or two key executives who are responsible for managing everything.” Artinya, organisasi model desentralisasi mempunyai kemampuan lebih tinggi daripada model sentralisasi dari pusat. Dengan kata lain, organisasi model desentralisasi untuk masa selanjutnya sangat tergantung pada satu atau dua manajer ekskutif kunci yang bertanggung jawab terhadap pengelolaan segala sesuatunya. Organisasi di sini bisa dianalogikan dengan sistem perencanaan. Irving Smith Kogan, Business Organization, (New York: Alexander Hamilton Institute, 1970), p. 157.

(16)

perencanaan programial. Perencanaan pendidikan programial dalam Islam adalah perencanaan yang merupakan penjabaran lebih lanjut dari perencanaan pendidikan filosofikal. Dalam perencanaan pendidikan programial ini telah dapat diketahui target dan sasaran

dari nilai-nilai filosofis yang harus diterjemahkan. Dan ketiga,

perencanaan pendidikan operasional. Perencanaan pendidikan operasional dalam Islam adalah perencanaan pendidikan yang benar-benar sudah transparan dan jelas dalam pelaksanaannya. Dalam perencanaan operasional ini sudah ditentukan dan dijawab

secara jelas pertanyaan secara menyeluruh, yaitu apa (what), siapa

(who), kapan (when), di mana (where), dan bagaimana (how) atau 5 W

+ 1 H. Dengan demikian, perencanaan jenis terakhir ini

benar-benar telah siap pakai dan siap dilaksanakan.26

G. Langkah-langkah Penyusunan Perencanaan yang Efektif

Perencanaan pendidikan dalam Islam yang menjadi “akal dan kalbu” bagi manajemen pendidikan Islam harus dipikirkan secara

mendalam dan benar-benar akurat.27 Hal ini didasarkan pada

argumentasi bahwa kesalahan dalam menentukan perencanaan pendidikan bukan hanya merugikan peserta didik belaka, akan tetapi juga merugikan masyarakat umum dan umat Islam. Kesalahan tersebut juga merupakan sebuah dosa terhadap Allah. Oleh karena itu, sangat wajar bila setiap manajer pendidikan yang Muslim –yang telah diberikan amanat dan tanggung jawab penuh terhadap penyusunan perencanaan pendidikan Islam—harus menggunakan dan melakukan

langkah-langkah yang benar-benar telah terbukti kehandalannya.28

Langkah-langkah penyusunan perencanaann pendidikan dalam Islam tersebut dimaksudkan sebagai upaya untuk melaksanakan ijtihad dan jihad fi sabilillah. Dengan semangat tersebut Allah pasti akan

memberikan pertolongan (ma’unah) kepada para manajer pendidikan

26 Bandingkan, Burhanuddin, Analisis Administrasi…, p. 176. Lihat pula, Roger A. Kaufman, Educational System…, p. 13.

27 Munir al-Mursyi Sarhan, Fi Ijtima’iyyah…, p. 280.

28 Lihat, Fathimah Mahjub, Nahwa Madaris Afdhal, edisi Arab dari, Kimbas Wiles, Supervision for Better Schools, (New Jersey: Prentice-Hall, Inc., Englewood Cliffs, 1955), p. 82-90.

(17)

Muslim. Firman Allah: “Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” Q.S. Muhammad: 7. Walaupun demikian, --sebagai manajer yang mempunyai sikap dinamis—perlu juga memperhatikan hukum-hukum alam dan kemasyarakatan yang telah teruji. Sebab, pada hakekatnya

hukum-hukum alam tersebut adalah sebagian dari sunnatullah.

Langkah-langkah penyusunan perencanaan pendidikan dalam Islam yang efektif adalah:

1. Mengadakan penelitian secara mendalam dan benar-benar akurat

terhadap segala informasi dan data yang berkaitan dengan proses pendidikan dalam Islam.

2. Mengadakan kategorisasi dan klasifikasi terhadap semua informasi

dan data yang telah diteliti. Hal ini dimaksudkan sebagai upaya untuk memudahkan perhatian terhadap suatu masalah. Dengan perhatian yang fokus pada satu titik, perhatian tersebut menjadi semakin mendalam dan lebih akurat.

3. Mengadakan refleksi secara mendalam dan jernih dengan disertai

kesucian diri dan hati terhadap semua yang telah, sedang, dan akan dilaksanakan. Dengan demikian, dapat ditemukan hal-hal yang

mengandung nilai positif bagi proses pendidikan dalam Islam.29

4. Mengadakan peramalan (forecasting). Peramalan di sini bukan

meramal berdasarkan angka-angka atau perjalanan bulan dan matahari. Peramalan di sini harus benar-benar didasarkan pada penalaran yang sangat mendalam dan sistematis. Penalaran tersebut

bukan hanya memakai akal an sich, melainkan juga diiringi dengan

zikir kalbu kepada Allah. Sebab, dengan upaya olah pikir dan zikir, Allah akan memberikan ilmu pengetahuan yang sebelumnya sama

sekali belum diketahui.30

29 Langkah-langkah yang ditawarkan Munir al-Mursyi Sarhan adalah: 1. Menentukan tujuan; 2. Mendahulukan prioritas utama; 3. Mengumpulkan semua informasi dan data; 4. Menentukan pembiayaan; 5. Mengorganisir semua aktivitas; 6. Motivasi yang kuat; dan 7. Penilaian terhadap operasionalisasi perencanaan. Munir al-Mursyi Sarhan, Fi Ijtima’iyyah…, p. 275-9.

30 Lihat, Q.S. al-Qalam: 5. "Yang mengajarkan manusia ilmu pengetahuan yang

(18)

5. Menentukan sasarn-sasaran dan target yang akan dicapai dengan

memperhatikan SWOT (strengths atau kekuatan, weaknesss atau

kelemahan, opportunities atau peluang, dan threats atau ancaman)

untuk mewujudkan tujuan pendidikan dalam Islam.

6. Menentukan kebijaksanaan strategis yang diyakini mampu

memberikan kontribusi positif terhadap upaya pencapaian tujuan pendidikan dalam Islam.

7. Menentukan penjadwalan (scheduling) secara sistematis dan terpadu.

Hal ini dimaksudkan agar jangan sampai terjadi tumpang tindih. Seperti adanya dua macam pekerjaan di tempat yang berbeda dalam waktu yang bersamaan dan hanya dilakukan oleh satu orang.

8. Menentukan program yang jelas, transparan, dan terbuka tentang

semua masalah yang tercakup dalam proses pendidikan Islam. Agar, semua pihak –yang bertanggung jawab baik secara langsung atau tidak langsung terhadap keberhasilan perencanaan pendidikan-memahami, mengerti, dan selanjutnya melaksanakan dalam tindakan konkret.

9. Mengadakan penganggaran yang jelas dan terbuka. Hal ini

dimaksudkan untuk menjelaskan secara terperinci tentang dana yang dibutuhkan dalam semua program yang telah dijadwalkan secara akurat.

10. Mengadakan pengawasan (controlling/monitoring) secara

terus-menerus dan berkesinambungan. Hal ini dimaksudkan sebagai upaya untuk mengetahui efektivitas dan efisiensi implementasi dari

semua program dan penjadwalan yang telah ditetapkan.31 Upaya

yang demikian ini juga dimaksudkan untuk mengetahui berbagai

macam penyelewengan sedini mungkin (preventif).

11. Mengadakan penilaian terhadap seluruh kinerja yang dilaksanakan

oleh semua pihak yang bertanggung jawab. Jika terjadi sebuah penyimpangan dari perencanaan yang telah ditetapkan, maka dengan cepat penyimpangan tersebut dapat segera diluruskan dengan cara dan metode yang manusiawi.

(19)

12. Mengadakan kajian ulang terhadap semua program yang telah

dilaksanakan.32

Demikianlah langkah-langkah penyusunan perencanaan

pendidikan dalam Islam yang efektif. Memang memerlukan banyak langkah agar tidak sampai terjerumus ke dalam jurang kesalahan yang

kedua kalinya.33 Langkah-langkah tersebut merupakan salah satu jalan

penyusunan perencanaan pendidikan dalam Islam. Karena dalam masalah perencanaan pendidikan masih terdapat permasalahan lain yang perlu diperhatikan. Misalnya pendekatan, jenis, atau kebijaksanaan strategis.

H. Penutup

Perencanaan pendidikan dalam Islam merupakan "akal dan kalbu" bagi seluruh proses manajerial pendidikan Islam. Selain itu, perencanaan pendidikan dijadikan sebagai dasar landasan pelaksanaan proses pendidikan dalam Islam baik yang bersifat lokal, nasional, atau bahkan global. Perencanaan pendidikan dalam Islam yang baik adalah perencanaan pendidikan yang memperhatikan seluruh aspek yang terkait dengan proses pendidikan umat Islam secara komprehensif. Perencanaan pendidikan yang "amburadul" akan mengakibatkan kesalahan manajerial yang fatal. Kesalahan ini bukan hanya menjadi kesalahan diri pribadi pengelola lembaga atau para pejabat pendidikan Islam, melainkan juga merupakan dosa seluruh umat Islam.

Oleh karena itu, menjadi sangat penting ketika pemikiran tentang perencanaan pendidikan dalam Islam diungkap dan dikembangkan. Karena menurut hemat penulis salah satu faktor kegagalan pendidikan Islam dan kelembagaannya adalah kesalahan dalam perencanaan yang tidak pernah sistematis dan jelas. Sebagai upaya untuk mengurangi atau menghentikan kesalahan agar tidak terulang kembali, layak kiranya perencanaan pendidikan dalam Islam didasarkan pada teori-teori pendidikan yang lebih riil dan aplikatif.

32 Bandingkan dengan langkah-langkah penyusunan perencanaan pendidikan yang ada di Amerika. Lihat, Roger A. Kaufman, Educational System…, p. 14. Lihat pula, Ross A. Webber, To Be a Manager, p. 23-58.

33 Kesalahan pertama adalah realitas rendahnya kualitas pendidikan Islam di Indonesia.

(20)

Daftar Pustaka

Bebey C.E. dalam Jusuf Enoch, Dasar-dasar Perencanaan Pendidikan,

Jakarta: Bumi Aksara, 1992.

Burhanuddin, Analisis Administrasi Manajemen dan Kepemimpinan

Pendidikan, Jakarta: Bumi Aksara, 1990.

Dale, Ernest, Management: Theory and Practice, Penssylvania, McGraw-Hill

Book Company, 1978.

Kaufman, Roger A., Educational System Planning, New Jersey:

Englewood Cliffs, 1972.

Kogan, Irving Smith, Business Organization, New York: Alexander

Hamilton Institute, 1970.

Mahjub, Fathimah, Nahwa Madaris Afdhal, edisi Arab dari, Kimbas

Wiles, Supervision for Better Schools, New Jersey: Prentice-Hall,

Inc., Englewood Cliffs, 1955.

Martorana, S.V. and Eilenn Kuhns, Managing Academic Change: Interactive

Forces and Leadership in Higher Education, Washington: Jossey-Bass Publisher, 1975.

Mursyi, Muhammad Munir, Al-Tarbiyah al-Islamiyyah: Ushuluha wa

Tathawwuruha fi al-Bilad al-'Arabiyyah, Kairo: 'Alam al-Kutub, 1982.

Porter, Lyman W., dalam Joseph A. Litterer, (ed.), Management: Concepts

and Theories, Wiley: Hamilton, 1978.

Sarhan, Munir al-Munir, Fi Ijtima’iyyah al-Tarbiyah, Kairo: Maktabah

al-Anglo al-Mishriyyah, 1978.

Siagian, Sondang P., Manajemen Stratejik, Jakarta: Bumi Aksara, 1995.

---, Manajemen Sumber Daya Manusia, Jakarta: Bumi Aksara, 1995.

Steers, Richard M., et. al., Managing Effective Organization: an Introduction,

Boston: Kent Publishing Company, A Division of Wordsworth, Inc., 1986.

‘Usman, Sayyid Ahmad, Al-Ta’allum ‘Inda Burhan al-Islam al-Zarnuji,

Kairo: Maktabah al-Anglo al-Mishriyyah, 1989.

Referensi

Dokumen terkait

Faktor tragakan dan gliserin memberikan efek yang signifikan terhadap respon sag , sedangkan interaksi keduanya tidak memberikan efek yang signifikan terhadap respon sag

Teknik mutasi dalam bidang pemuliaan tanaman dapat meningkatkan keragaman genetik tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui toleransi tanaman kedelai regeneran M3

Pada Arduino Nano dan Arduino Mega 2560 juga dipasang masing-masing satu buah modul komunikasi wireless NRF24L01 agar dapat mengirim dan menerima data sensor yang telah

Dalam penulisan skripsi ini, unit variabel dependen (variabel yang dipengaruhi) yaitu: “Dengan disepakatinya Merida Initiative antara Amerika Serikat - Meksiko.”

Anda bisa merasakan manfaat dari waktu pengisian ulang yang berkurang dan waktu operasi yang lebih lama dengan lift scissor eS Series.. ■ Paket aksesori spesifik

Walaupun tawaran pendekatan Kuntowijoyo tidak lekang dari kritikan para sarjana akan proyek Islamisasi ilmu pengetahuan secara umum seperti disinggung di atas, dan dalam hal

Dari hasil observasi yang telah dilaksanakan melalui pengamatan, pembelajaran Bahasa Indonesia pada aspek membaca dengan penggunaan metode ceramah dan media papan

Peneliti juga melihat dalam penelitian ini bahwa, demam berdarah dengue terjadi bukan hanya karena dari 1 fakror seperti masyarakat yang tidak melakukan