• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN SECARA UMUM MENGENAI PEJABAT DIPLOMATIK

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II TINJAUAN SECARA UMUM MENGENAI PEJABAT DIPLOMATIK"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN SECARA UMUM MENGENAI PEJABAT

DIPLOMATIK

A. Sejarah Perkembangan Pejabat Diplomatik

Hubungan diplomatik telah lama sekali terjadi di antara negara-negara di dunia ini dan tetap berkembang dari masa ke masa. Seiring dengan perkembangan hukum Internasional maka pada saat itu juga hubungan diplomatik mengalami proses kemajuan tahap demi tahap. Dimana pada awalnya diorganisasi manusia itu dimulai dengan asumsi tentang dunia secara alami yakni alam asli dari peradaban manusia, dengan melukiskannya sebagai keadaan yang alam murni.

Thucydides, seorang sarjana Yunani mengatakan bahwa sebenarnya hubungan diplomatik tersebut telah lama ada. Negara Yunani telah mengenal hubungan ini pada zaman romawi, terbukti dengan ucapan-ucapan yang diadakan setiap tahun dalam rangka menerima misi-misi negara tetangga. Disamping itu telah dikenal pula beberapa perjanjian atau traktat yang mengatur pola hubungan diplomatik tersebut3

Sebagaimana halnya Yunani,Romawi juga memelihara dan mematuhi traktat-traktat mengenai hubungan diplomatik dengan negara tetangganya.

3

M.Sanwani Nasution,S.H., Pengantar ke Hukum Internasional Dalam Hubungan

(2)

Bahwa duta-duta negara asing juga memperlakukan hal yang sama terhadap duta-duta yang dikirimkan Romawi ketika itu.

Pada permulaan sejarah documenter yaitu sekitar 4000 tahun sebelum Masehi telah tercatat bahwa traktat-traktat yang tercipta diantara bangsa-bangsa telah memperlihatkan bahwa hukum Internasional sudah lama sekali dikenal dalam pergaulan antar bangsa. Data selanjutnya terlihat dari traktat yang diperbuat oleh raja Eannatum dari negara kota Laqash (Mesopotamia) dengan Umma, negara Mesopotamia lain yang dikalahkannya. Perjanjian tersebut diatas berumur 1000tahun dihitung sejak perjanjian selanjutnya yang diketahui orang yang tertulis dalam bahasa Somaria. Demikianlah seterusnya bahwa data-data diatas diperkuat lagi dari perjanjian-perjanjian atau traktat-traktat yang dijumpai dipahatkan dibatu-batu atau monument-monumen yaitu perjanjian antara raja-raja Mesir dengan Kheta pada 2000 tahun sebelum Masehi. Perjanjian ini mengatur masalah perbatasan, perdamaian, perniagaan dan lain-lain.4

4

M.Sanwani Nasution, S.H., Ibid, hal. 7

Demikian juga Tiongkok, terdapat juga fakta-fakta yang memperlihatkan perkembangan hukum bangsa-bangsa disana, hubungan antar raja diatur dengan berbagai-bagai cara upacara tertentu. Perkembangan lebih lanjut terlihat bahwa upacara-upacara penyambutan duta-duta pihak lain telah dikenal jenjang ataupun kedudukan masing-masing duta tersebut sedangkan hal ini baru diatur secara terperinci dalam hubungan diplomasi modern di eropah pada Kongres Wina tahun 1815.

(3)

Bilamana kita lanjut pandangan ke bahagian pertengahan abad ke-12 yang lebih dikenal dengan perkembangan pemerintahan negara kota terutama sekali di Italia lahirlah suatu bentuk Konsul perniagaan (Consules Mercatorium) yang memimpin persektuan perniagaan, terutama sekali di kota Italia seperti Milan dan Pisa yang kemudian meluas ke daerah lain di sekitar Laut Tengah yaitu Norbonne dan Barcelona.5

1. Duta-duta Besar dan para Utusan (Ambassadors and Legates) Kongres Wina 1815 telah dapat meletakkan dasar dalam diplomasi modern seperti penggolongan Kepala Perwakilan Diplomatik . Penggolongan tersebut telah ditetapkan menurut kedudukan dan fungsinya. Dalam Kongres Wina 1815 penggolongan Kepala Perwakilan Diplomatik tersebut telah ditetapkan sebagai berikut:

2. Menteri Berkuasa Penuh dan Duta Luar Biasa (Minister Pleipotentiary and Envoys Extraordinary)

3. Kuasa Usaha (Charge the affaires)

Pengiriman duta-duta ke neara asing sudah dikenal di Indonesia, dan negara-negara Asia serta Arab sejak sebelum negara-negara-negara-negara Barat mengetahuinya. Di benua Eropa pada abad ke 16 soal pengiriman di penempatan duta-duta itu diatur menurut hukum kebiasaan.Perkembangan pejabat diplomatik terjadi ketika tahun 1485, Raja Ricard III mengangkat seorang Konsul Florence yang merupakan konsulat kerajaan yang pertama. Sejalan dengan hal itu, maka

5

Syahmin, Ak.,S.H.,Hukum Diplomatik Suatu Pengantar, Armico, Bandung 1984, hal 6-7

(4)

semua rakyat Inggris yang ada di pisa harus tunduk pada peradilan yang dijalankan konsulat ini.

Sementara dalam konferensi di Havana yang diadakan oleh negara-negara Amerika pada tahun 1928 tidak mengganggap masalah ini penting, tetapi juga membahas secara terperinci mengenai penetapan dua konvensi dimana salah satu konvensi pejabat konsuler. Kedua konsuler ini telah diratifikasi oleh 12 negara kecuali Amerika Serikat. Hal ini disebabkan oleh adanya pencantuman tentang suaka diplomatik. Namun konvensi ini juga merintis usaha untuk mengadakan kodifikasi ini berhasil. Kemudian setelah terbentuknya Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tahun 1945 dua tahun kemudian dibentuklah komisi hukum internasional.6

Dengan perkembangan dari negara-negara Italia yang merdeka di abad 14, kedutaan-kedutaan besar (Embassies) menjadi lebih bersifat resmi, tetapi dalam hubungan-hubungan mereka yang dilakukan bukan masalah-masalah

Walaupun pada zaman dahulu belum dikenal adanya Hukum Internasional yang modern, namun duta-duta besar (Ambasaadors), dimana-mana diberikan perlindungan khusus dan hak-hak istimewa tertentu, meskipun oleh hukum hal ini tidak diberikan, tetapi oleh agama hal ini diberikan, sehingga sebagai duta-duta besar dianggap orang yang amat suci (Sacrasanct). Hal ini diperjelas dengan pengamatan, Openhaim:

6

(5)

internasional hanya mengenai gereja semata-mata, khususnya di dalam masalah perwakilan Paus yang dikirim dari tahta suci (Holysee).7

Dengan adanya pasca perdamaian Westphalen tahun 1984, mulailah dikirimkan serta diangkat duta-duta tetap. Pengiriman duta-duta tetap ini merupakan suatu keadaan baru sebab biasanya, yang dilakukan adalah pengiriman duta-duta tidak tetap. Sesuai dengan perkembangan negara-negara dan bertambahnya jumlah negara-negara baru yang merdeka maka diperlukan perwakilan diplomatik yang permanen dan merupaka suatu hal yang biasa dalam hubungan Internasional 8

7

L.Oppeinheim, MA. LLD, International Low (Peace) A.Treatise, Volume 1, Grean and Co, London -New York-Toronto, 1984,hal 687--688

8

Edy Suryono, S.H., Hukum Diplomatik Kekebalan dan Keistimewaan, Angkasa, Bandung 1986, hal.8.

B. Pengertian Pejabat Diplomatik

Sejarah membuktikan bahwa sifat hubungan antar negara

dengan negara lain senantiasa berubah-ubah menurut perubahan

masa dan keadaan, tetapi cara memelihara dan menghidupkan

perhubungan itu adalah salah satu yaitu dengan mempergunakan

cara diplomasi. Dan dengan adanya perwakilan-perwakilan

diplomatik ataupun legasi-legasi, pos-pos yang tetap, menimbulkan

kebutuhan untuk menciptakan kelas atau golongan pegawai baru

yang disebut Diplomat.

(6)

Diplomasi berarti menggunakan segala kebikjasanaan dan kecedikiawanan dalam melaksanakan dan memelihara perhubungan-perhubungan resmi antara pemerintah-pemerintah dan negara-negara yang merdeka.9

a. Ada yang menyamakan kata itu dengan “politik luar negeri” misalnya jika dikatakan “Diplomasi Republik Indonesia di Afrika perlu ditingkatkan”.

Mengenai pemakaian kata “diplomacy”, dalam berbagai istilah menurut penggunaanya antara lain :

b. Diplomasi dapat pula diartikan sebagai “perundingan”, seperti sering dinyatakan bahwa “Masalah Timur Tengah hanya dapat diselesaikan melalui Diplomasi”. Perkataan diplomasi disini merupakan satu-satunya mekanisme yaitu perundingan.

c. Dapat pula diplomasi diartikan sebagai “Dinas Luar Negeri” seperti dalam ungkapan “selama ini ia bekerja untuk diplomasi”. d. Ada juga yang menggunakan secara kiasan dalam “Ia pandai

berdiplomasi”, yang berarti bersilat lidah.

e. Yang menarik pula adalah istilah yang dikemukakan oleh Perdana Menteri Kanada “Pierre Elliott Trudeau”, megaphone diplomacy (diplomasi pengeras suara). Istilah ini berarti diplomasi saling meneriakkan sikap keras, tuduh menuduh, ancam mengancam dan tentang menentang. Maka Trudeau pun

9

(7)

menyatakan perlunya diplomasi jenis itu direndahkan, diganti “dialoque of confidience”, dialog berdasarkan saling percaya.

f. Diplomasi perjuangan, istilah ini dicetuskan dan merupakan isi pokok pidato Presiden Suharto dalam rapat kerja kepala-kepala perwakilan Republik Indonesia bulan Maret 1977 10

Para sarjana hukum internasional masih belum banyak menuliskan secara khusus, karena pada hakekatnya diplomatik merupakan bagian dari hukum internasional yang mempunyai sebagaian sumber hukum yang sama seperti konvensi-konvensi internasional yang ada.

Walaupun demikian sebagai acuan dalam memberikan batasan tentang pengertian ini ada beberapa pendapat, seperti yang diberikan oleh para sarjana antara lain :

Ellen Denza mengenai Diplomatik pada hakekatnya hanya menyangkut komentar terhadap konvensi Wina mengenai hubungan Diplomatik.11

(diplomasi adalah penggunaan kecendiakawan dan kebijaksanaan dalam melaksakan dan memelihara perhubungan-perhubungan resmi antara pemerintah-pemerintah dari negara-negara yang merdeka, kadang-kadang juga memperluas hubungan mereka dengan negara-negara vassal ataupun lebih Sedangkan menurut Sir Ernest Satow memberikan batasan sebagai berikut :

10

Syahmin Ak., S.H., Op. Cit, hal. 1-2 11

Prof. Dr. Sumaryo Suryokusumo, S.H., Hukum Diplomatik Teori dan Kasus, Bandung 1995, hal 1

(8)

jelasnya adalah untuk melakukan urusan-urusan dengan maksud damai di antara negara-negara).12

“ Diplomasi itu berisikan maksud dimana negara-negara ingin menimbulkan ataupun membina hubungan antara bangsa-bangsa dan berhubungan dengan satu sama lain, ataupun melaksanakan politik maupun transaksi-transaksi yang sah dengan perantaraan dari pada agen-agen diplomatik yang berwenang atau diakui. Atau dengan kata lain diplomasi itu adalah perhubungan antara sesama negara dengan pertukaran misi-misi diplomatik yang diakui dalam hal mengurusi kerja sama antara negara-negara tersebut.”

Sedangkan Ian Brown Lie memberikan batasan yaitu :

13

Diplomasi adalah pengendalian serta pemeliharaan hubungan-hubungan internasional, cara daripada pengendalian serta pemeliharaan hubungan-hubungan internasional itu oleh para duta-duta besar dan duta-duta, pekerjaan ataupun pengetahuan serta kebijaksanaan seorang diplomat.

Menurut Oxford English Dictionary menyebutkan :

14

Diplomasi adalah pembinaan urusan-urusan luar negeri. Menurut Encyclopedia Britannica, menyebutkan :

15

12

E.Satow, A.Guideto Diplomatic Practise, Long Means Green and com, London 4th ed. 1957, hal. 3.

13

Ian Brownlie, Principle of Public Internasional Law, ford University Press, 1979 3 rd, ed, hal. 345.

14

J. Badri, Perwakilan Diplomatik dan Konsuler, Tintamas, 1960, Jakarta, hal.19. 15

Encyclopedia Britannica, Volume 22, Society of Gentlement in Scotland, E.B. William Benton Publisher, 1973.

(9)

Pengertian pejabat diplomatik itu sendiri terdiri dari :

a. Kepala perwakilan diplomatik yaitu Duta besar; duta dan kuasa usaha

b. Anggota staf diplomatik yaitu Minister; minister counselor;sekretaris-sekretaris; counselor dan atase-atase dibidang ekonomi,perdagangan, pers, kebudayaan, dan militer

c. Kepala dan anggota staf Perwakilan PBB yang berdasarkan hukum internasional dan kebiasaan-kebiasaan internasional mendapatkan perlakuan seperti pejabat-pejabat diplomatik.

d. Kepala dan anggota-anggota staf perwakilan asing lain yang berdasarkan perjanjian dengan Pemerintah RI mendapatkan perlakuan seperti pejabat-pejabat diplomatik.16

Dari batasan itu maka dapat diartikan bahwa :

a. Ambassador atau Duta Besar adalah Duta Besar yang berkuasa Penuh yang dianngkat oleh Kepala Negara dan merupakan seorang Kepala Perwakilan diplomatik.

b. Counselor adalah Pangkat atau gelar diplomatik sesudah Sekretaris I dan sebelum Minister Counsellor, struktur kepangkatan atau gelar diplomatik dalam suatu system yang diterapkan dalam perwakilan diplomatik.

c. Atase adalah Pangkat diplomatik terendah dalam struktur kepangkatan Dinas Diplomatik dalam dalam hal ini atase menangani

16

Setyo Widagdo, S.H.,M.Hum dan Hanif Nur Widhiyanti, S.H.,M.Hum.,Hukum Diplomatik dan Konsuler, Bayumedia, 2008, Malang, hal. 242.

(10)

berbagai masalah seperti : atase pertahanan, atase perekonomian, atase perdagangan dan lain sebagainya.17

Hubungan tersebut dilandasi oleh rasa ingin memelihara perdamaian dunia dengan mewujudkan suatu kerja sama baik dalam bidang kebudayaan maupun ekonomi serta lain sebagainya yang bertujuan meningkatkan/mempererat hubungan kedua negara tersebut. Perwujudan maksud-maksud ini dibuatlah suatu cara dengan mengirimkan misi diplomatik yang mewakili.

B.Kebebasan dalam Berdiplomatik

Di dalam tahun-tahun delapan puluhan dimana lajunya kegiatan tindakan terorisme cukup menonjol khususnya yang dilakukan terhadap para diplomat merupakan tindakan yang sangat meresahkan dan membahayakan fungsi mereka dalam melaksanakan tugas sehari-hari sebagai diplomat18

17

Prof. Dr. Sumaryo Suyokusumo, S.H., Op.Cit. 162-163. 18

M. Sanwani, S.H. Hukum Internasional (Suatu Pengaaturan), Fakultas Hukum USU 1992, hal 82-88

Sebagai contoh, di dalam tahun 1980, terperinci/tercatat sebanyak 400 tindak terorisme yang ditujukan kepada para diplomatik dan konsuler yang meliputi 60 negara. Sedangkan selama enam bulan pertama 1981 terdapat 191 tindak terorisme dengan objek yang sama termasuk yang menyangkut perwakilan atau misi diplomatik asing. Gejala ini terus berlangsung dalam tahun-tahun berikutnya, tidak saja memakan korban jiwa yang besar tetapi korban harta benda serta kerusakan-kerusakan yang tidak kecil pada perwakilan asing.

(11)

Maka dalam hal ini kebebasan dalam berdiplonmatik terhadap negara-negara tidak dapat berjalan secara lancar dan kegiatan diplomasi menjadi terbengkalai sehingga pelindungan, pengamanan dan keselamatan bagi perwakilan dan para pejabat diplomatik serta konsuler menjadi terancam sehingga PBB melalui sekretarisnya menghimbau untuk melaporkan pelanggaran-pelanggaran kebebasan diplomatik itu dan dilaporkan ke Sekretaris Jendral Perserikatan Bangsa-Bangsa sehingga hal itu tidak terjadi lagi dan dapat mengambil langkah-langkah dan mengadili para tertuduh dan usaha-usaha dalam menghindari terulangnya pelanggaran-pelanggaran tersebut.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa maksud dari resolusi majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa No.36/165 yang dikeluarkan pada tanggal 29 Januari 1980, telah nyata dilihat semata-mata adalah untuk melindungi keselamatan para diplomat dan kebebasan diplomatik dapat berjalan dengan baik sehingga kewajiban negara-negara anggota organisasi dunia (PBB) sesuai resolusi tersebut, sebagai berikut :

1. Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa minta pada negara-negara anggota untuk memberitahukan kepada Sekretaris Jendral PBB mengenai terjadinya tindakan terorisme terhadap Misi Diplomatik;

2. Negara-negara anggota diminta untuk melaporkan pada Sekretaris Jenderal PBB tindakan-tindakan apa yang harus dilakukan untuk menghukum para pelanggar dan usaha pencegahan agar tidak terjadi lagi tindakan yang tidak berperikemanusiaan tersebut.

(12)

3. Negara-negara anggota diminta untuk memberikan pandangan mereka tentang tindakan ataupun langkah-langkah yang akan diambil dimasa mendatang, untuk melindungi perwakilan diplomatik dan konsuler.

Apabila disimak secara terus teliti terhadap ketentuan-ketentuan yang dimaksud oleh resolusi ini maka dapat pula diartikan sebagai berikut :

a. Memperluas tugas-tugas Sekretaris Jenderal PBB untuk memberikan jasa-jasa baiknya (good offices) untuk melindungi Misi Diplomatik.

b. Prosedur pemberitahuan itu pada hakekatnya dapat merupakan langkah utama dalam menyelesaikan masalah-masalah tersebut.

c. Secara tidak langsung memperluas wewenang perserikatan bangsa-bangsa dalam menangani masalah-masalah yang peka, hal ini menyangkut persoalan-persoalan negara-negara anggota perserikatan bangsa-bangsa.

Usaha-usaha melalui badan dunia ini merupakan lembaga baru dalam proses pelaksanaan dari hukum diplomatik modern dimana telah dilakukan usaha-usaha untuk memperlengkapi dan memperinci secara jelas prinsip-prinsip maupun aturan-aturan didalamnya, khususnya telah dapat dibentuk suatu lingkup kerja sama antara pemerintahan negara anggota di dalam mengatasi masalah-masalah sekarang ini benar-benar menjadi perhatian masyarakat internasional secara keselurahan.

Kebebasan diplomatik kemudian lebih ditingkatkan kembali dengan adanya siding Majelis Umum Perseriktan Bangsa-bangsa yang ke 35 tahun

(13)

1980,telah memajukan masalah-masalah yang didalamnya mencari cara-cara untuk meningkatkan dipatuhinya aturan-aturan internasional mengenai hubungan diplomatik dan konsuler, disamping mempertimbangkan adanya peningkatan aksi-aksi terror yang dilakukan terhadap para pejabat diplomatik dan konsuler termasuk perwakilan masing-masing dimana mereka menjalankan fungsi dan tugasnya.

Dari pembicaraan-pembicaraan di Majelis Perserikatan Bangsa-bangsa tersebut khususnya mengenai adanya peningkatan dari tindakan terorisme dilakukan terhadap para pejabat diplomatik dan konsuler termasuk perwakilannya, terdapat kecenderungan timbulnya dua prinsip yang dianggap sangat fundamental dalam mengatasi dan mencegah tindakan-tindakan tersebut yaitu :

a. Semua negara harus melaksanakan kewajiban internasional masing-masing dengan mentaati ketentuan-ketentuan dalam konvensi termasuk peningkatannya.

b. Perlunya peningkatan tindakan-tindakan kuhusus guna melindungi perseorangan-perseorangan dan perwakilan-perwakilan diplomatik dan konsuler karena adanya kesenjangan-kesenjangan yang terdapat dalam ketentuan konvensi yang sekarang diserahkan kepala negara-negara itu sendiri untuk menafsirkan dan melaksanakan tindakan-tindakan khusus mengenai perlindungan diplomat melalui system perundang-undangan nasional negara masing-masing.

(14)

Kewajiban internasional dalam memberikan kebebasan diplomatik bagi pejabat diplomat dan konsuler merupakan hal yang mutlak perlu dilakukan oleh semua negara anggota,apabila telah diberlakukannya beberapa instrument internasionl untuk memberikan kebebasan dalam berdiplomatik antara lain adalah konvensi Wina 1961 dan 1963.

Lebih dari itu ketentuan-ketentuan yang bersifat protektif tersebut telah pula dilengkapi dengan dengan konvensi-konvensi lainnya seperti konvensi 1973 mengenai pencegahan dan penghukuman kejahatan-kejahatan yang dilakukan terhadap orang-orang yang secara internasional perlu dilindungi termasuk diplomat dan Konvensi 1979 untuk memerangi tindakan penyanderaan.

D. Tugas dan Fungsi dari Pejabat Diplomatik

Tugas perwakilan diplomatik secara umum adalah menjamin efisiensi daripada perwakilan asing di suatu negara.

Tugas seorang pejabat perwakilan adalah menciptakan good will atau pengertian bersama. Selain itu dengan kepemimpinannya yang terbatas dan kritis, didasarkan pada pengalaman yang luas dan pengetahuan yang mendalam tentang kepribadian dan masalah serta menggunakan alat-alat yang ada dan berusaha untuk meningkatkan kepercayaan dan kerjasama internasional diantara pemerintah dan rakyat dari kedua negara. Tugas pejabat diplomatik sudah ditentukan oleh negara pengirim secara garis besar.

(15)

Dalam hubungan internasional modern, komunikasi tidak menjadi masalah lagi, tetapi di abad-abad yang lalu wewenang duta sangat besar dan mutlak.

Tugas seorang pejabat dinas luar negeri, dalam hal ini perwakilan diplomatik adalah memelihara dan melindungi kepentingan negara dan warga negaranya : mengadakan perjanjian (negotiation) dengan kemantapan, disertai penilaian dan pengetahuan yang tepat mengenai kondisi-kondisi di negaranya sendiri dan diluar negeri, menyelenggarakan upacara protocol, konvensi dan persetujuan (treaties) khususnya mengenai hubungan internasional secara timbal balik. Disamping itu harus diketehui hal-hal mengenai tarif, daftar bea, perkapalan, perdagangan, pemeliharaan perdamaian dan lain-lain dalam batas-batas yang tegas sesuai dengan instruksi dari pemerintahnya.

Menyelenggarakan dan mengakrabkan secara efektif hubungan secara pribadi (perorangan) dengan pandangan jauh ke depan untuk kepentingan pmerintah dan warga negara. Memberikan laporan dan analisis tentang kondisi politik,ekonomi dan memberikan bahan-bahan yang penting untuk negaranya. Menjalankan prosedur rutin dengan keahlian sesuai dengan ketentuan yang harus diikuti, sepanjang dimungkinkan.

Selain itu perwakilan diplomatik harus menunjukkan penilaian yang tepat dalam situasi yang kompleks yang memerlukan penyelidikan dan bahan-bahan informasi seperlunya, pengertian profesional tentang hukum, kebiasaaan

(16)

, kondisi setempat, dan lain sebagainya. Menyelenggarakan administrasi dengan cara yang efisien 19

Menurut Holsti, “ umumnya selama proses komunikasi, mereka yang merumuskan politik luar negeri menghitung kembali tujuan-tujuannya mengingat keadaan dan berbagai respon dari luar”

Seorang diplomat yang ditempatkan ke negara lain menjalani berbagai fungsi. Bila pada satu sisi merupakan tugasnyalah untuk tetap memberi informasi kepada pemerintahnya tentang peristiwa-peristiwa uptodate negeri dimana ia ditempatkan, maka disisi lain juga merupakan tugasnyalah untuk menjelaskan kebijaksanaan pemerintahnya kepada pemerintah lain untuk memenuhi tujuan itu.

Holsti mendefenisikan segi keberhasilan diplomat dalam kaitan ini dengan istilah berikut : “Seorang diplomat memperoleh sukses sebagian bilamana ia bisa membuat pemerintah negara dimana ia ditempatkan melihat suatu keadaan tertentu seperti persepsi pemerintahnya; ia berhasil sepenuhnya bila mana ia bias mengubah atau mempertahankan tindakan negara lain dalam sifat yang menguntungkan kepentingan pemerintahnya sendiri.”

20

1) Perwakilan (Representation)

Fungsi dan tugas kewajiban dari seorang pejabat diplomat dapat dibagi dalam 4fase yaitu :

Seorang diplomat merupakan wakil formal sekaligus simbolis negaranya denegara lain/negara asing

19

Sumarsono Mestoko, opcit, hal 41-42 20

(17)

Dia merupakan agen/pejabat komunikasi yang normal antara departemen luar negeri dari negara dimana dia ditempatkan.

Umumnya, pengiriman diplomatik oleh suatu negara dan penerimaannya oleh negara lain menunjukkan bahwa keduanya negara berdaulat.

Seorang duta besar, yang sebagai seorang diplomat mewakili negaranya, pergi ke negara lain sebagai wakil sah negaranya.

Ia harus terus menerus menghadiri fungsi-fungsi simbolis, dan pesta-pesta yang diadakan oleh negara yang ia tempati, para diplomat negara lain, atau negara-negara sahabat.

Sebagai wakil sah ia harus membuat mencari tahu tentang berbagai masalah atau pengajuan protes, seperti kapan kejadian itu muncul, atas nama negaranya. Ia menyampaikan kebijaksanaan-kebijaksanaan pemerintahnya kepada negara tuan rumah.

2) Negosiasi (Perundingan)

Dalam praktek, perundingan (negotiation) adalah sinonim dengan diplomasi. Perundingan adalah usaha par excellence (yang utama) untuk mencapai persetujuan dengan (jalan) kompromi dan kontak pribadi secara langsung.

Seorang diplomat menurut defenisinya adalah orang yang melakukan perundingan atau yang berunding.

(18)

Untuk merencanakan pelbagai macam persetujuan bilateral dan mulitilateral yang dituangkan kedalam perjanjian-perjanjian (treaties convention) yang mempunyai sifat-sifat politik, ekonomi, sosial.

Disebabkan perkembangan dan komunikasi dan makin meningkatnya penggunaan cara diplomasi multilateral dan kecenderungan mengganti pertemuan tingkat duta besar, dan sebagainya dengan pertemuan menteri atau pertemuan puncak, maka utusan diplomatik tidak lagi memainkan peranan yang penting dan menentukan didalam perundingan-perundingan internasional, sebagaimana yang telah mereka punyai. Mayoritas perjanjian internasional dengan karakter mulitelateral umumnya dirundingkan oleh para menteri luar negeri atau wakil khusus yang semakin mengurangi pentingnya duta besar yang ditempatkan diluar negeri.

Para diplomat juga semakin kurang mempunyai kebebasan bergerak daripada yang pernah mereka nikmati. Departemen-departemen luar negeri sekarang menjaga hubungan dengan para diplomat agar mereka lebih dekat dengan instruksi-instruksi mereka melalui radiogram, telegram, kantung diplomatik, telepon antar benua dan sebagainya.

3. Pelaporan

Mengumpulkan informasi dan data yang benar yang berhubungan dengan berbagai aspek negara lain merupakan faktor pokok bagi perumusan politik luar negeri. Oleh karena itu, pengumpulan informasi dan pelaporannya kepada pemerintah didalam negeri adalah fungsi yang paling penting dari diplomat.

(19)

Laporan ini mencakup hampir semua masalah yang bias diperkirakan, dan ilmu-ilmu teknik sampai pada penilaian psikologi suatu bangsa.

Seorang diplomat harus merupakan seorang pelapor yang baik. Ada beberapa hal yang sangat dihargai :

- Kemampuan untuk menaksir trends/ kecenderungan secara teliti.

- Memasang mata yang tajam untuk menangkap semua informasi yang berguna, dan kemudian menyusun fakta yang penting dalam suatu bentuk laporan yang tepat, tegas dan mudah dimengerti.

4. Perlindungan

Diplomat mempunyai tugas ganda perlindungan :

a. Perlindungan atas kepentingan nasionalnya dan

mengedepankannya melalui berbagai cara adalah tugas primer seorang diplomat. Betapapun tampaknya pendekatan ini mementingkan diri sendiri, ini merupakan dasar praktek diplomatik. Meskipun ada anggapan bahwa dalam sebuah masyarakat internasional yang ideal masing-masing negara akan berusaha untuk membuat kerangka dan menginterpretasikan kebijakan-kebijakannya agar harmonis dengan negara lain, bukanlah tugas diplomat untuk berusaha untuk membuat suatu interpretasi semacam itu. Tugasnya adalah untuk melindungi kepentingan negaranya agar tetap sesuai dengan interpretasi yang dibuat oleh para pembuat keputusan.

b. Seorang diplomat diisyaratkan untuk melindungi kepentingan warga negaranya sendiri di negara asing. Ia juga meningkatkan dan

(20)

melindungi kepentingan usahawan, pelaut dan semua warga negara lainnya yang sedang berada atau melakukan perjalanan di negara dimana ia ditempatkan.

Merupakan tugas seorang diplomat juga untuk membantu mereka dengan pengadilan setempat apabila mereka dipenjara, dan melindungi harta milik mereka atau kepentingan lainnya apabila pemerintah setempat tidak menyediakan pelayanan-pelayanan semacam itu. 21

a) Mewakili negara pengirim di dalam negara penerima.

Fungsi dan perwakilan diplomatik menurut konvensi Wina 1961 pasal 3 ayat 1 adalah :

b) Melindungi kepentingan-kepentingan negara pengirim dan warga negaranya di negara penerima di dalam batas-batas yang diizinkan oleh hukum internasional.

c) Mengadakan persetujuan dengan pemerintah dari negara penerima.

d) Memberikan keterangan tentang kondisi dan perkembangan negara penerima dengan cara yang diizinkan Undang-Undang dan melaporkannya kepada pemerintah negara pengirim.

e) Memelihara hubungan persahabatan antara negara pengirim dan negara penerima dan memperkembangkan hubungan ekonomi, kebudayaan, dan ilmu pengetahuan.22

21

Drs. Suwardi Wiraatmaja M.A., Pengantar Hubungan Internasional, Alumni, Bandung, 1970, hal 136-140.

22

Referensi

Dokumen terkait

Hasil yang diperoleh adalah, nilai rata-rata postes kelas eksperimen setelah diterapkan model pembelajaran berbasis masalahberbantuan peta pikiran (mind map) sebesar

Melalui identi- fikasi awal hambatan melaluipembelajaran bersama dengan guru PAUD Gugus 11 Arjowinangun untuk menemukenali faktor kegagalan pemahaman pada K13 PAUD dari

Karakteristik substrat maupun sedimennya pada Kawasan Pantai Ujong Pancu sendiri memiliki karateristik sedimen yang didominasi oleh pasir halus dimana pada

Aset dan liabilitas pajak tangguhan diakui pada saat nilai tercatat suatu aset atau liabilitas dalam laporan posisi keuangan konsolidasian berbeda dengan dasar pengenaan

Pemberdayaan SDM untuk pelaku Usaha Mikro dengan memberikan pelatihan pembukuan sederhana diadakan di Balai Pertemuan Desa Bangunrejo, dengan jumlah peserta yang hadir 17 orang

Komponen Impor Barang dan Jasa tumbuh 3,69 persen, komponen ekspor barang dan jasa tumbuh 3,12 persen, komponen pembentukan modal tetap bruto tumbuh sebesar

Dilihat dari volume pengaduan yang masuk, yang menggambarkan kepedulian para pelapor terhadap isu keamanan Internet menjadi tanggung jawab pihak-pihak terkait dengan

Kebijakan subsidi LPG 3 Kg mulai dilaksanakan pada tahun 2007. Untuk mendukung kebijakan tersebut pemerintah juga melakukan penyediaan dan pendistribusian paket perdana LPG