• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bab IV Pemerintahan Kampung di Kabupaten Siak

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Bab IV Pemerintahan Kampung di Kabupaten Siak"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

Pemerintahan Kampung

di Kabupaten Siak

(2)
(3)

BAB IV

PEMERINTAHAN KAMPUNG

DI KABUPATEN SIAK

A. Sejarah Pemerintahan Kampung

Kerajaan Siak adalah salah satu kerajaan yang ada di Propinsi Riau sebelum masa kemerdekaan, disamping beberapa kerajaan lain-nya antara lain yaitu Kerajaan Indragiri, Kerajaan Rokan dan masih ada lagi kerajaan-kerajaan kecil lainnya.1Pemerintahan kerajaan yang

ada di Riau pada waktu itu mempunyai struktur dan gelaran pemegang pemerintahan tersendiri. Di Kerajaan Siak, dikenal pula adanya ber-bagai sistem pemerintahan diantaranya sistem pemerintahan kampung. Ditinjau dari perspektif sejarah, Siak adalah sebuah Kerajaan Melayu yang besar dipesisir pantai pulau Sumatera yang berdiri Abad ke 14 Masehi. Setelah runtuh kerajaan Sriwijaya di Muara takus. Kerajaan Gasib Kerajaan Siak pertama yang terletak Sungai Gasib anak sungai Siak (Sungai jantan) yang menganut Agama Hindu dan Budha, kerajaan Gasib diserang oleh kerajaan Melaka yang sudah beragama Islam,kemudian juga diserang oleh Iskandar Zulkarnain dari Aceh untuk mengislamkan rakyat Siak Gasib.2

1 Kajian Akademis Desa Adat Kabupaten Siak berdasarkan Peraturan Daerah Nomor

2 Tahun 2015 tentang Penetapan Kampung Adat di Kabupaten Siak, hlm.2.

2 Suwardi, dkk, Pemetaan Adat Masyarakat Melayu Riau Kabupaten/Kota Se-Provinsi

(4)

Kesultanan Siak Sri Indrapura merupakan sebuah kesultanan yang didirikan oleh Raja Kecil yang bergelar Sultan Abdul Jalil Rakhmat Syah (13-1746) pada 1723. Raja Kecil merupakan keturunan dari Sultan Abdul Jalil RahmatSyah (Sultan Johor) dan Encik Pung. Sebelum menetap di daerah yang saat ini dinamakan Kabupaten Siak, Kesul-tanan Siak Sri Indrapura beberapa kali mengalami perpindahan pusat kekuasaan. Ketika pertama kali didirikan, pusat pemerintahan Ke-sultanan Siak Sri Indrapura berada di Buantan, kemudian berpindah ke Mempura, Senapelan Pekanbaru, kembali lagi ke Mempura, dan ketika diperintah oleh Tengku Said Ismail bergelar Sultan Assyaidi Syarif Ismail Abdul Jalil Syarifuddin (1827-1864) pusat pemerintahan dipindahkan ke kota Siak Sri Indrapura dan akhirnya menetap di sana sampai pemerintahan Sultan Siak Sri Indrapura yang terakhir, Tengku (Putera) Said Kasim II bergelar Sultan Assyaidis Syarif Kasim Sani Abdul Jalil Syarifuddin (1908-1946).3

Roda pemerintahan kerajaan Siak dilaksanakan Sultan (Raja) dengan dibantu oleh Orang-orang Besar Kerajaan dan Datuk-datuk dengan diberi daerah kekuasaan, sedangkan Orang-orang Besar Kerajaan sebagai Dewan Kerajaan mendampingi Sultan dan membuat undang-undang. Pada sistem pemerintahan kerajaan Siak Sri Indra-pura, posisi Raja (Sultan) adalah menduduki tingkat yang tertinggi, kemudian Tuanku Bandar, di bawah Tuanku Bandar ialah Penghulu Dagang (Orang Kaya), dibawahnya lagi ialah Penghulu, dan seterusnya Batin. Pada masa Pemerintahan Kerajaan Siak Sri Indrapura terdapat 10 propinsi secara administrasi pemerintahan masuk dalam struktur pemerintahan Kerajaan Siak. Kemudian pada masa penjajahan terjadi perubahan-perubahan. Dengan demikian lembaga masyarakat yang ada di Kabupaten Siak mempunyai kekhasan sesuai dengan sosial budaya sendiri. Struktur masyarakat dan lembaga lokal yang ada lebih

3 Norma Dewi et.al, Selintas Sejarah Kerajaan Siak Sri Indrapura dan Peninggalannya,

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Kanwil Depdikbud Provinsi Riau Bagian Proyek Pembinaan Permuseuman Riau, Pekanbaru, 2000, hlm. 5-6.

(5)

ringkas dan sederhana bila dibandingkan dengan lembaga modern (lembaga lokal yang dibentuk oleh Pemerintah Pusat).

Secara ringkas sistem pemerintahan Kerajaan Siak dipimpin oleh Sultan yang dibantu oleh satu Dewan yang disebut “Dewan Kesultanan”. Dewan Kesultanan itu terdiri dari tiga kelompok, yaitu:4

1. Datuk Empat Suku yang merupakan penasehat utama Sultan, mereka adalah:

a. Datuk Lima Puluh; b. Datuk tanah Datar; c. Datuk Pesisir; dan d. Datuk Kampar.

2. Tunggal Manah, yaitu kelompok penasehat Sultan dalam adat, mereka adalah :

a. Penghulu-penghulu yang tertua; b. Batin-batin yang tertua; dan c. Para ketua.

3. Orang besar kerajaan, yaitu pembantu sultan dalam urusan pertahanan, mereka terdiri dari:

a. Panglima perang; b. Datuk hamba raja; c. Datuk bintara kiri; d. Datuk bintara kanan; dan

e. Datuk bendahara (pemegang perbendaharaan istana). Di luar pusat pemerintahan, Kesultanan Siak Sri Indrapura juga mengatur sistem pemerintahan di daerah. Pemerintahan di daerah-daerah dipegang oleh Kepala Suku yang bergelar Penghulu, Orang Kaya, dan Batin. Ketiga jabatan tersebut sama kedudukannya, hanya saja Penghulu tidak mempunyai hutan tanah. Dalam menjalankan tugasnya Penghulu dibantu oleh:5

4 O.K, Nizami Jamil dkk, Sejarah Kerajaan Siak, Lembaga Warisan Budaya Melayu

Riau, Baim Grafika, 2014, hlm.58-61.

(6)

a. Sangko Penghulu (wakil Penghulu);

b. Malim Penghulu (pembantu urusan kepercayaan/agama); dan c. Lelo Penghulu (pembantu urusan adat sekaligus berfungsi

se-bagai Hulubalang).

Batin dan Orang Kaya adalah orang yang mengepalai suku asli. Jabatan ini didapat secara turun temurun. Batin mempunyai hutan tanah (ulayat). Dalam menjalankan tugasnya, Batin dibantu oleh:

a. Tongkat (pembantu Batin dalam urusan yang menyangkut kewajiban-kewajiban terhadap sultan);

b. Monti (pembantu Batin urusan adat); dan

c. Antan-antan (pembantu Batin yang sewaktu-waktu dapat mewakili Tongkat atau Monti jika keduanya berhalangan). Pada masa pemerintahan Raja Kecil, terdapat beberapa perbatinan di sepanjang aliran Sungai Siak, antara lain: Perbatinan Gassib, Senapelan, Sejaleh, dan Perawang. Perbatinan sebelah selatan Sungai Siak antara lain: Perbatinan Sakai dan Petalangan. Sedangkan perbatinan di pulau-pulau, antara lain : Perbatinan Tebing Tínggi, Senggoro, Merbau, dan Rangsang. Sementara itu, daerah asli yang kepala sukunya disebut penghulu antara lain: Siak Kecil, Siak Besar, Betung, dan Rempah. Model sistem pemerintahan yang dirancang oleh Raja Kecil bertahan hingga Kesultanan Siak Sri Indrapura diperintah oleh Sultan Assyaidis Syarif Hasim Abdul Jalil Syarifuddin (1889-1908). Sultan Assyaidis Syarif Hasim Abdul Jalil Syarifuddin merubah sistem pemerintahan dan meletakkan landasan sistem pemerintahan Monarki Konstitusional.6

Seiring dengan perkembangan zaman, Siak Sri Indrapura juga melakukan pembenahan sistem birokrasi pemerintahannya. Hal ini tidak lepas dari pengaruh model birokrasi pemerintahan yang berlaku di Eropa maupun yang diterapkan pada kawasan kolonial Belanda dan Inggris. Modernisasi sistem penyelenggaraan pemerintahan Siak

6 http://maszal.blogspot.co.id/2015/06/sistim-peradilan-kerajaan-siak.html diakses

(7)

terlihat pada naskah Ingat Jabatan yang diterbitkan tahun 1897. Naskah ini terdiri dari 33 halaman yang panjang serta ditulis de-ngan Abjad Jawi atau tulisan Arab-Melayu. Ingat Jabatan merupakan dokumen resmi Siak Sri Indrapura yang dicetak di Singapura, berisi rincian tanggung jawab dari berbagai posisi atau jabatan di peme-rintahan mulai dari pejabat istana, wakil kerajaan di daerah ja-jahan, pengadilan maupun polisi. Pada bagian akhir dari setiap uraian tugas para birokrat tersebut, ditutup dengan peringatan serta perintah untuk tidak khianat kepada sultan dan nagari.

Perkembangan selanjutnya, Siak Sri Inderapura juga menerbitkan salah satu kitab hukum atau undang-undang, dikenal dengan nama Bab al-Qawa’id. Sistem pemerintahan Kesultanan Siak Sri Indrapura digambarkan dalam Bab al-Qawa’id yang artinya “Pintu Segala Pegangan”, yaitu semacam “konstitusi” kerajaan Siak Sri Indrapura. Didalamnya diatur tata hukum, tata adat istiadat dan pembagian tugas setiap pemegang jabatan baik orang besar kerajaan, Datuk-Datuk, Para Bangsawan, Penghulu, Batin, Hakim Polisi, Imam dan Tuan Qadi, kepala suku, Hinduk-hinduk dan hendaklah patuh mengikuti adat pusaka dahulu yang telah terpakai selamanya di Kerajaan Siak dan taklukannya.

Kitab ini dicetak di Siak tahun 1901, menguraikan hukum yang dikenakan kepada masyarakat Melayu dan masyarakat lain yang terlibat perkara dengan masyarakat Melayu. Namun tidak mengikat orang Melayu yang bekerja dengan pihak pemerintah Hindia-Belanda, dimana jika terjadi permasalahan akan diselesaikan secara bilateral antara Sultan Siak dengan pemerintah Hindia-Belanda.

Dalam pelaksanaan masalah pengadilan umum di Kesultanan Siak diselesaikan melalui Balai Kerapatan Tinggi yang dipimpin olehSultan Siak, Dewan Menteri dan dibantu oleh Kadi Siak serta Controleur Siak sebagai anggota. Selanjutnya beberapa nama jabatan lainnya dalam pemerintahan Siak antara lain Pangiran Wira Negara, Biduanda Pahlawan, Biduanda Perkasa, Opas Polisi. Kemudian terdapat juga warga dalam yang bertanggung jawab terhadap

(8)

harta-harta disebut dengan Kerukuan Setia Raja, serta Bendahari Sriwa Raja yang bertanggung jawab terhadap pusaka kerajaan.

Dalam administrasi pemerintahannya Kesultanan Siak membagi kawasannya atas hulu dan hilir, masing-masing terdiri dari beberapa kawasan dalam bentuk distrik yang dipimpin oleh seseorang yang bergelar Datuk atau Tuanku atau Yang Dipertuan dan bertang-gungjawab kepada Sultan Siak yang juga bergelar Yang Dipertuan Besar. Pengaruh Islam dan keturunan Arab mewarnai Kesultanan Siak, salah satunya keturunan Al-Jufri yang bergelar Bendahara Patapahan.

Pada kawasan tertentu, ditunjuk Kepala Suku yang ber-gelar Penghulu, dibantu oleh Sangko Penghulu, Malim Peng-hulu serta Lelo Penghulu. Sementara terdapat juga istilah Batin, dengan kedudukan yang sama dengan Penghulu, namun memiliki kelebihan hak atas hasil hutan yang tidak dimiliki oleh Penghulu. Batin ini juga dibantu oleh Tongkat, Monti dan Antan-antan. Istilah Orang Kaya juga digunakan untuk jabatan tertentu dalam Kesultanan Siak, seperti halnya digunakan di Kesultanan Johor dan Urang Kayo di Minangkabau terutama pada kawasan pesisir.7

Terkait dengan pemberlakuan sistem Pemerintahan Kampung belum ditemukan sumber yang pasti menjelaskan hal tersebut. Namun jika mengacu pada kerajaan pelalawan/petalangan yang masuk dalam salah satu wilayah perbatinan kerajaan Siak, maka sistem pemerintahan kampung juga dikenal dalam sistem Pemerintahan Kerajaan Siak. Pada masa kekuasaan Raja Kecil (1723-1746), Wilayah kekuasaan Ke-sultanan Siak Sri Indrapura mencakup wilayah Buantan sebagai pusat pemerintahan hingga wilayah perbatinan yang merupakan daerah perluasan wilayah. Sehingga dilihat dari wilayah perbatinan inilah, wilayah Kesultanan Siak Sri Indrapura mencakup wilayah Buantan, Gassib, Senapelan, Sejaleh, Perawang, Sakai, Petalangan, Tebing Tinggi, Senggoro, Merbau, dan Rangsang, Siak Kecil, Siak Besar,

(9)

Betung, dan Rempah8 Ditambahkan pula bahwa wilayah Kesultanan

Siak mencakup pula daerah Panai, Bilah, Asahan, dan Batu Bara.9

Di wilayah perbatinan petalangan, sistem pemerintahan kampung adalah satu fenomena baru dalam sistem pertempatan Orang Petalangan. Sebelumnya mereka tinggal pondok basolai di ladang, berpindah-pindah sejalan dengan perpindahan ladang. Belum didapatkan sumber yang jelas terkait sejak kapan Orang Asli Petalangan duduk menetap di kampung. Pada masa awal tinggal di kampung, mereka masih berulang-alik antara ladang (ujung) dengan kampung (puun). Kemungkinan besar perpindahan hidup menetap di kampung baru dimulai pada zaman kerajaan Pelalawan-Siak, terutama zaman pemerintahan Sultan Said Jaafar (1865), kerana pada masa inilah pihak kerajaan mulai membuat penataan terhadap kehidupan sosial-politik masyarakat Petalangan. Pada masa ini daerah Pelalawan secara khusus dan Riau secara umumnya mulai dimasuki oleh kekuasaan Belanda. Sebuah kampung dipimpin oleh seorang kepala kampung yang disebut penghulu. Dalam sebuah kampung tinggal penduduk dari beberapa suku. Penghulu kampung lazimnya berasal dari suku yang sama dengan Batin. Penghulu kampung bertanggung jawab atas keamanan dan kedamaian kehidupan masyarakat dalam kampung.10

Sistem Pemerintahan Kampung di Siak dapat pula dilihat dalam “Het Maleische Gebied No.12 : Zelesbestuursverordening Van Siak (1915)”/Peraturan Pemerintahan Kerajaan Siak. Pada Pasal 1 disebutkan bahwa Pemerintahan Kerajaan Siak dibagi 5 distrik yaitu Siak, Pekanbaru, Bagan Api-Api, Bukit Batu, dan Selat Panjang. Setiap distrik diperintah oleh seorang kepala distrik dan setiap distrik

8 Yuli S. Setyowati, Op.Cit, hlm. 204-205.

9 NN. Hikayat Baginda Sultan Abdul Jalil RahmatSyah (Raja Kecil) Sultan Siak

Pertama. Siak Sri Indrapura,Yayasan Amanat Sultan Syarif Qasim Siak Sri Indrapura, Siak, 1985. hlm. 16.

1 0Amri Marzali, Sejarah Politik Dan Pemerintahan Pelalawan Riau, Makalah tidak

(10)

dibagi dengan beberapa onderdistrict, dan beberapa onderdistrict dibagi dengan beberapa kampung-kampung yang dikepalai oleh Datuk atau Penghulu.11 Berdasarkan peraturan ini, dapat disimpulkan bahwa

satuan pemerintahan terbawah dalam sistem Pemerintahan Kerajaan Siak sejak Tahun 1915 adalah sistem Pemerintahan Kampung.

Amir Luthfi dalam penelitiannya terkait struktur pemerintahan dan kekuasaan pemerintahan Kerajaan Siak, membaginya dalam 4 (empat) periode, yaitu: Periode Tahun 1723-1784, Periode Tahun 1784-1898, Periode Tahun 1898-1915, dan Periode Tahun 1915-1945. Struktur Pemerintahan Kerajaan Siak dalam 4 (empat) periode tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:12

1. Periode Tahun 1723-1784.

Pada masa ini, struktur Pemerintahan Kerajaan Siak banyak dipengaruhi oleh proses historis dari Sultan pertama yang dibesarkan di Kerajaan Pagarruyung. Dalam pelaksanaan pemerintahan, ke-kuasaan tertinggi ada ditangan Sultan, namun dalam menjalankan pemerintahan sehari-hari, Sultan dibantu oleh satu dewan yang disebut “Dewan Kesultanan” yang terdiri dari Datuk Empat Suku, Tunggul Manah, dan Orang Besar Kerajaan. Adapun pemerintahan di tingkat daerah, dipimpin oleh Penghulu dan Batin. Sultan sebagai pemegang kekuasaan tertinggi, menetapkan dan menentukan ketentuan-ketentuan umum pemerintahan. Akan tetapi, Sultan tidak mencampuri masalah adat yang hidup di Kesultanan, namun diserahkan kepada Penghulu maupun Batin. Adapun struktur Pemerintahan Kerajaan Siak dapat digambarkan sebagai berikut:

1 1Wan Ghalib, Adat Istiadat Bidang Pemerintahan di Kerajaan Siak dan Pesukuan

Melayu yang Ada di Kabupaten Siak, makalah tidak diterbitkan, 31 Oktober 2002,

hlm. 30.

(11)

BAGAN 4.1.

STRUKTUR PEMERINTAHAN SIAK TAHUN 1723-1784

2. Periode Tahun 1784-1898.

Periode ini dimulai pada masa pemerintahan Sultan Siak ke VII, Sultan Sayyid Assyarif Ali Abdul Jalil Saifuddin. Lembaga Tunggul Manah yang dahulu merupakan anggota Dewan Kesultanan dihapuskan oleh Sultan, dan digantikan dengan lembaga Qadhi. Sultan juga mengangkat beberapa Datuk untuk mengkoordinir Penghulu dan Batin. Dengan demikian, para Penghulu dan batin tidak lagi berhubungan langsunng dengan Sultan maupun Dewan Kesultanan, tetapi harus melalui Datuk. Batin yang mempunyai tanah wilayah yang kecil dan terletak di tepi sungai berada dibawah kekuasaan Penghulu, sedangkan Batin yang mempunyai tanah wilayah luas tetap sebagaimana biasa. Adapun struktur Pemerintahan Kerajaan Siak pada masa ini dapat digambarkan sebagai berikut:

GAMBAR 4.2.

STRUKTUR PEMERINTAHAN SIAK TAHUN 1784-1898

3. Periode Tahun 1898-1915.

Keterangan : Garis Hubungan Langsung (Komando)

(12)

Periode ini dimulai pada masa pemerintahan Sultan Siak ke XI, Sultan Hasyim Abdul Jalil Saifuddin. Sultan dalam menjalankan pemerintahan didampingi oleh Dewan Kesultanan sebagai penasehat Sultan dalam pelaksanaan Pemerintahan sehari-hari dan Dewan Kerapatan Tinggi sebagai badan yang menjalankan fungsi pengadilan. Ditingkat provinsi dibentuk pula Kerapatan Provinsi yang diketuai oleh Hakim Polisi. Kerapatan ini disebut Pengadilan Hakim Polisi. Untuk menyelesaikan masalah yang berhubungan dengan agama dibentuk Kerapatan Syariah yang disebut Pengadilan Syariah yang diketuai oleh Imam setempat. Dalam Daerah Kesultanan, terdapat 37 Suku yang dikepalai oleh Kepala Suku dan 124 Hinduk yang dikepalai oleh Kepala Hinduk. Adapun struktur Pemerintahan Kerajaan Siak pada masa ini dapat digambarkan sebagai berikut:

GAMBAR 4.3.

STRUKTUR PEMERINTAHAN SIAK TAHUN 1898-1915

4. Periode Tahun 1915-1945.

Periode ini dimulai pada masa pemerintahan Sultan Siak terakhir, Sultan Syarif Qaim II. Pembagian wilayah Kerajaan Siak menjadi 5 Distrik dan 14 Onderdistrik. Adapun Onderdistrik ini membawahi para Penghulu dan Batin, dan kedua badan ini membawahi Hinduk-hinduk. Adapun struktur Pemerintahan Kerajaan Siak pada masa ini dapat digambarkan sebagai berikut:

(13)

GAMBAR 4.4.

STRUKTUR PEMERINTAHAN SIAK TAHUN 1915-1945

B. Eksistensi Kampung Adat

Fenomena pemerintahan desa adat dalam sejarah tata pemerintahan di Indonesia mengalami pasang surut akibat pengaruh kebijakan negara yang sentralistik mengatur kehidupan masyarakat lokal. Mengacu pada sejarah di masa lampau konsep pemerintahan lokal atau desa di bawah pimpinan Kerajaan Siak disebut Pemerintahan Kampung, maka saat ini di Kabupaten Siak telah dibentuk pula Pemerintahan Kampung yang dikepalai oleh seorang Penghulu sebagai Kepala Pemerintah Kampung. Hal ini diperkuat dengan adanya kebijakan negara melalui Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa membuka ruang bagi daerah untuk menentukan bentuk pemerintahan desa yang sesuai dengan corak dan karektarestik budaya lokal masyarakat setempat, termasuk bagi Pemerintah Kabupaten Siak.

Melalui Peraturan Daerah Kabupaten Siak Nomor 2 Tahun 2015 tentang Penetapan Kampung Adat di Kabupaten Siak sedikit demi sedikit pemerintah Kabupaten Siak mulai mereduksi bentuk pe-merintahan lama yang dianggap berkontribusi dalam penyelenggaraan

(14)

pemerintahan daerah sekaligus mengurangi beban besar negara dalam hal kemandirian dan permasalahan daerah. Usaha untuk mengembalikan format Pemerintahan Desa Adat/Pemeritahan Kampung Adat ini sejalan dengan semangat dari perumusan Pasal 18B ayat (2) yang secara tegas menyatakan bahwa: “negara mengakui dan menghormati keberadaan masyarakat hukum adat dan hak-hak tradisionalnya sepanjang masih ada dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip-prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang diatur dalam undang-undang”.

Adapun landasan filosofis pembentukan Peraturan Daerah ini adalah bertolak dari konsepsi negara mengakui dan menghormati kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang diatur dalam Undang-Undang. Sedangkan landasan sosiologis pembentukan Peraturan Daerah ini didasarkan pada upaya untuk mengembalikan nilai adat masyarakat lokal dan peranan tokoh masyarakat adat serta untuk menghidupkan kembali nilai dan norma adat di Kampung Adat atau nama lainnya perlu di lakukan Penetapan Kampung Adat di Kabupaten Siak.

Kampung Adat yang diamaksud dalam Peraturan Daerah ini adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus urusan Pemerintahan, kepentingan masyarakat setempat berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal usul, dan/atau hak tradisional yang diakui dan dihormati dalam sistem Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia (Pasal 1 angka 9). Adapun Kampung Adat adalah susunan asli yang mempunyai hak asal usul berupa hak mengurus wilayah dan mengurus kehidupan masyarakat hukum adatnya (Pasal 1 angka 9), khususnya adat Melayu Siak.

Ditinjau dari landasan pembentukan peraturan perundang-undangan, baik landasan filosofis dan sosiologis dalam Peraturan

(15)

Daerah ini memiliki landasan argumentasi hukum yang kuat. Dalam konteks NKRI, landasan filosofis pembentukan Peraturan Daerah ini harus mengacu pada nilai-nilai Pancasilayang merupakan pandangan hidup, cita-cita bangsa, falsafah atau jalan kehidupan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara (way of life). Adapun landasan sosiologis menghendaki ketentuan-ketentuan dalam Peraturan Daerah ini harus mencerminkan kenyataan hidup dalam masyarakat dan merupakan aspirasi masyarakat. Hukum yang dibuat harus sesuai dengan hukum yang hidup (living law) dalam masyarakat,13 khususnya masyarakat

Kabupaten Siak.

Pemerintah Kabupaten Siak telah menetapkan 8 (delapan) Kampung Adat di Kabupaten Siak yaitu:

1. Kampung Lubuk Jering menjadi Kampung Adat Lubuk Jering di Kecamatan Sungai Mandau;

2. Kampung Tengah menjadi Kampung Adat Kampung Tengah di Kecamatan Mempura;

3. Kampung Kuala Gasib menjadi Kampung Adat Kuala Gasib di Kecamatan Koto Gasib;

4. Kampung Penyengat menjadi Kampung Adat Asli Anak Rawa Penyengat di Kecamatan Sungai Apit;

5. Kampung Minas Barat menjadi Kampung Adat Sakai Minas di Kecamatan Minas;

6. Kampung Mandi Angin menjadi Kampung Adat Sakai Mandi Angin di Kecamatan Minas;

7. Kampung Bekalar menjadi Kampung Adat Sakai Bekalar di Kecamatan Kandis; dan

8. Kampung Libo Jaya menjadi Kampung Adat Sakai Libo Jaya di Kecamatan Kandis.

Adapun gambaran umum kedelapan wilayah Kampung Adat dari aspek wilayah, kependudukan, dan sarana prasarana sebagai berikut:

1 3Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, Raja Grafindo Persada, Jakarta,

(16)

1. Kampung Adat Lubuk Jering

Kampung Adat Lubuk Jering berada di Kecamatan Sungai Mandau merupakan hasil pemekaran dari Kecamatan Minas yang di-mekarkan menjadi menjadi dua kecamatan yaitu Kecamatan Sungai Mandau dan Kecamatan Minas yang dilaksanakan pada tahun 2001 berdasarkan pada Perda No. 13 Tahun 2001 yang dikeluarkan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Siak. Luas wilayah Kampung Adat Lubuk Jering adalah 202,72 hektar, terdiri dari 3 RW, dan 6 RT. Jumlah penduduk sebanyak 1054 orang yang terdiri dari 576 orang laki-laki dan 478 orang perempuan. Sarana dan prasarana sosial yang memadai dibutuhkan untuk menunjang kegiatan masyarakat. Beberapa suku yang ada di Kampung ini yaitu Suku Pandan, Suku Antan-Antan, Suku Geronggang, Suku Olak, Suku Botung, dan Suku Hamba Raja.14

Pada tahun 2014, jumlah fasilitas tempat ibadah yang ada di Kampung Adat Lubuk Jering yakni 1 masjid dan 2 mushalla/langgar. Sementara untuk gereja Kristen, gereja khatolik, vihara, maupun pura belum ter-sedia.15

2. Kampung Adat Kampung Tengah

Kampung Adat Kampung Tengah berada di Kecamatan Mem-pura. Wilayah kecamatan Mempura seperti pada umumnya wilayah Kecamatan Mempura terdiri dari dataran rendah dan berbukit-bukit dengan struktur tanah pada umumnya terdiri dari tanah podsolik merah kuning dari batuan dan aluvial serta tanah organosol dan gley humus dalam bentuk rawa-rawa atau tanah basah. Hampir seluruh desa di Kecamatan Mempura berada di daerah aliran sungai yaitu Sungai Mempura, sehingga dengan demikian sebagian besar wilayahnya me-rupakan dataran rendah. Demikian pula dengan keseharian penduduk wilayah ini, banyak pula yang menggantungkan kehidupan mereka

1 4Dokumen Kelengkapan Administrasi Untuk Desa Adat, Pemerintah Kecamatan

Sungai Mandau, 2014.

(17)

dengan memanfaatkan keberadaan Sungai Mempura. Luas wilayah Kampung Adat Kampung Tengah adalah 107,21 hektar, terdiri dari 1 RW dan 3 RT. Jumlah penduduk sebanyak 415 orang yang terdiri dari 213 orang laki-laki dan 202 orang perempuan. Pada tahun 2014, jumlah fasilitas tempat ibadah yang ada di Kampung Adat Kampung Tengah yakni 3 masjid dan 2 mushalla/langgar.16 Dalam sejarahnya,

Kampung Tengah merupakan tempat tinggal bekas Petinggi Kerajaan Siak yang dahulu kala disebut Kampung Kelakap. Segala sesuatu yang terjadi di masyarakat didasarkan pada hukum adat Melayu dengan falsafah “adat bersendikan Syara’, Syara’ bersendikan Kita-bullah.17

3. Kampung Adat Kuala Gasib.

Kampung Adat Kuala Gasib berada di Kecamatan Koto Gasib beribukotakan di Desa Pangkalan Pisang yang berjarak 45 km dari pusat pemerintahan Kabupaten Siak. Wilayah Kecamatan Koto Gasib seperti pada umumnya wilayah Kabupaten Siak terdiri dari dataran rendah dan berbukit-bukit dengan struktur tanah pada umumnya terdiri dari tanah podsolik merah kuning dari batuan dan aluvial serta tanah organosol dan gley humus dalam bentuk rawa-rawa atau tanah basah. Kecamatan Koto Gasib secara umum berada pada daerah dataran dengan mayoritas sektor pertanian didominasi oleh perkebunan kelapa sawit dan karet selain itu kecamatan ini terdapat pelabuhan yang melakukan kegiatan ekspor impor sehingga dapat menggerakkan per-ekonomian masyarakat sekitarnya. Luas wilayah Kampung Adat Kuala Gasib adalah 85,2 hektar, 6 RW, 13 RT. Jumlah penduduk sebanyak 2340 orang yang terdiri dari 1211 orang laki-laki dan 1129 orang perempuan. Jumlah Kepala Keluarga sebanyak 584 KK yang terdiri dari Suku Melayu sebanyak 1052 jiwa, Suku Jawa sebanyak 568 jiwa,

1 6BPS Kabupaten Siak, Statistik Daerah Kecamatan Mempura 2015.

1 7Dokumen Notulen Rapat Sosialisasi Desa Adat, Pemerintah Desa Kampung Tengah,

(18)

Suku Batak sebanyak 370 jiwa, dan Suku Minang sebanyak 245 jiwa. Adapu adat istiadat yang berlaku di Kampung ini adalah adat Melayu. Adapun suku-suku asli yang awal mula mendiami Kampung ini adalah Suku Hambo Ajo, Suku Salak, Suku Pandan, dan Suku Lalang. Namun dahulu yang biasanya memimpin Kampung ini adalah dari Suku Hambo Ajo. Pada tahun 2014, jumlah fasilitas tempat ibadah yang ada di Kampung Adat Kuala Gasib yakni 3 masjid dan 1 mushalla/ langgar.18

4. Kampung Adat Asli Anak Rawa Penyengat.

Kampung Adat Asli Anak Rawa Penyengat berada di Kecamatan Sungai Apit beribukotakan Kelurahan Sungai Apit yang berjarak 37 km dari pusat pemerintahan Kabupaten Siak. Sungai Apit merupakan kecamatan dengan wilayah nomor tiga paling luas di antara kecamatan se-kabupaten Siak yakni sebesar 15,74 % dari total wilayah Kabupaten Siak. Kecamatan ini berada pada daerah aliran Sungai Siak serta di sebagian tempat merupakan pantai landai yang berhadapan dengan Pulau Tebing Tinggi dan Pulau Padang wilayah Kabupaten Bengkalis. Luas wilayah Kampung Adat Asli Anak Rawa Penyengat adalah 24.740 hektar, terdiri dari 4 RW dan 12 RT. Jumlah penduduk sebanyak 1.412 orang. Jumlah fasilitas tempat ibadah yang ada di Kampung Adat Asli Anak Rawa yakni 1 masjid dan 2 Gereja Katholik.19

5. Kampung Adat Sakai Minas.

Kampung Adat Sakai Minas berada di Kecamatan Minas beribukotakan Minas Jaya yang jarak lurusnya 66 km dari pusat pemerintahan Kabupaten Siak. Minas merupakan kecamatan dengan

1 8BPS Kabupaten Siak, Statistik Daerah Kecamatan Koto Gasib 2015, lihat juga

Dokumen Identifikasi Desa Dalam Rangka Persiapan/Penetapan Desa Adat Provinsi Riau, Lembaga Adat Melayu Riau, 2014.

(19)

wilayah Nomor 8 yang paling luas di antara kecamatan se-kabupaten Siak yakni sebesar 4,05% dari total wilayah Kabupaten Siak. Wilayah kecamatan Minas seperti pada umumnya wilayah Kabupaten Siak terdiri dari dataran rendah dan berbukit-bukit dengan struktur tanah pada umumnya terdiri dari tanah podsolik merah kuning dari batuan dan aluvial serta tanah organosol dan gley humus dalam bentuk rawa-rawa atau tanah basah. Kecamatan Minas merupakan Kecamatan induk yang dimekarkan menjadi dua Kecamatan, yaitu Kecamatan Minas dan Kecamatan Sungai Mandau yang dilaksanakan pada tahun 2001 berdasarkan pada Perda Nomor 13 Tahun 2001 yang dikeluarkan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Siak dan pada tahun 2002 dimekarkan kembali menjadi Kecamatan Minas dan Kecamatan Kandis. Tujuan pemekaran ini adalah untuk mempermudah masyarakat juga pemerintah dalam menjalankan hubungan administrasi, serta mempermudah jangkauan pembangunan dari pemerintahan kecamatan. Luas wilayah Kampung Adat Sakai Minas adalah 310 hektar terdiri dari 6 RW dan 21 RT. Jumlah penduduk sebanyak 5.255 orang terdiri dari 2.779 orang laki-laki dan 2.476 orang perempuan. Jumlah Kepala Keluarga sebanyak 1.407 KK yang terdiri dari Suku Sakai sebanyak 8 %, Suku Jawa sebanyak 20 %, Suku Batak sebanyak 60 %, dan Suku Minang sebanyak 12 %. Pada tahun 2014, jumlah fasilitas tempat ibadah yang ada di Kampung Adat Sakai Minas yakni 5 masjid, 7 mushalla/langgar, 1 Gereja Katholik, dan 3 Gereja Protestan , 20

Masyarakat Suku Sakai adalah penduduk asli tempatan yang secara turun temurun merupakan penghuni kampung ini sejak sebelum Indonesia merdeka. Pada awalnya, Suku Sakai mempunyai hutan tanah dengan adat istiadat dibawah naungan Batin Limo Bomban Mineh , diangkat, dan disahkan oleh Kerajaan Siak untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakatnya.21

2 0BPS Kabupaten Siak, Statistik Daerah Kecamatan Minas 2015. 2 1Dokumen Permohonan Desa Adat, Pemerintah Minas Barat, 2014.

(20)

6. Kampung Adat Sakai Mandi Angin.

Kampung Adat Sakai Mandi Angin berada di Kecamatan Minas beribukotakan Minas Jaya yang jarak lurusnya 66 km dari pusat pemerintahan Kabupaten Siak. Luas wilayah Kampung Adat Sakai Mandi Angin adalah 150 hektar (± 32.000 Km²), terdiri dari 10 RW dan 21 RT. Jumlah penduduk sebanyak 2.642 orang terdiri dari 1.428 orang laki-laki dan 1.214 orang perempuan. Jumlah Kepala Keluarga sebanyak 640 KK yang terdiri dari Suku Sakai sebanyak 22%, Suku Jawa sebanyak 67 %, Suku Batak sebanyak 10 %, dan Suku Minang sebanyak 0,1 %. Pada tahun 2014, jumlah fasilitas tempat ibadah yang ada di Kampung Adat Sakai Mandi Angin yakni 5 masjid, 3mushalla/langgar, dan 1 Gereja Protestan.22 Masyarakat

Suku Sakai adalah penduduk asli tempatan yang secara turun temurun merupakan penghuni kampung ini sejak sebelum Indonesia merdeka. Pada awalnya, Suku Sakai mempunyai hutan tanah dengan adat istiadat dibawah naungan Batin Limo Bomban Mineh. Batin adalah sebagai pemangku adat Suku Sakai yang ditunjuk, diangkat, dan disahkan oleh Kerajaan Siak untuk mengatur dan mengurus kepentingan mas-yarakatnya.23

7. Kampung Adat Sakai Bekalar

Kampung Adat Sakai Bekalar bearada di wilayah kecamatan Kandis seperti pada umumnya wilayah Kabupaten Siak terdiri dari dataran rendah dan berbukit-bukit dengan struktur tanah pada umumnya terdiri dari tanah podsolik merah kuning dari batuan dan aluvial serta tanah organosol dan gley humus dalam bentuk rawa-rawa atau tanah basah. Dengan topografi yang berbukit dan berlembah Kecamatan Kandis merupakan daerah lintas Sumatera yang ramai dilalui kendaraan, selain itu di daerah ini juga banyak terdapat perkebunan kelapa sawit yang dikelola oleh swasta. Kampung Adat

2 2Ibid.

(21)

Sakai Bekalar merupakan pemekaran dari Desa Belutu pada tahun 2010. Luas wilayah Kampung Adat Sakai Bekalar adalah 8.471 hektar, yang terdiri dari 8 RW dan 21 RT. Jumlah penduduk sebanyak 6.672 orang terdiri dari 3.470 orang laki-laki dan 3.202 orang pe-rempuan. Jumlah Kepala Keluarga sebanyak 1256 KK yang terdiri dari Suku Sakai sebanyak 15%, Suku Jawa sebanyak 50 %, Suku Batak sebanyak 20 %, dan suku lainnya sebanyak 15 %. Jumlah fasi-litas tempat ibadah yang ada di Kampung Adat Sakai Bekalar yakni 5 masjid, 4 mushalla/langgar, dan 5 Gereja.24 Masyarakat Suku Sakai

adalah penduduk asli tempat di kampung ini sejak sebelum Indonesia merdeka, memiliki hutan tanah adat yang diakui dan dihormati hak tradisional oleh Pemerintah Kerajaan Siak dibawah kepemimpinan Batin Belutu yang diberikan kewenangan sepenuhnya untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakatnya.25

8. Kampung Adat Sakai Libo Jaya.

Kampung Adat Sakai Libo Jaya berada di wilayah kecamatan Kandis seperti pada umumnya wilayah Kabupaten Siak terdiri dari dataran rendah dan berbukit-bukit dengan struktur tanah pada umumnya terdiri dari tanah podsolik merah kuning dari batuan dan aluvial serta tanah organosol dan gley humus dalam bentuk rawa-rawa atau tanah basah.Kampung Adat Sakai Libo Jaya merupakan pemekaran dari Desa Sam Sam pada tahun 2011. Luas wilayah Kampung Adat Sakai Libo Jaya adalah 13.200 hektar, yang terdiri dari 11 RW dan 25 RT. Jumlah penduduk sebanyak 7.620 orang terdiri dari 3.984 orang laki-laki dan 3.636 orang perempuan. Jumlah Kepala Keluarga sebanyak 1321 KK yang terdiri dari Suku Sakai sebanyak 15%, Suku Jawa sebanyak 50 %, Suku Batak sebanyak 40 %, dan Suku Karo sebanyak 20 %, dan suku lainnya sebanyak 15 %. Jumlah fasilitas tempat ibadah yang ada di Kampung Adat Sakai

2 4BPS Kabupaten Siak, Statistik Daerah Kecamatan Kandis 2015. 2 5Dokumen Permohonan Desa Adat, Pemerintah Desa Bekalar, 2014.

(22)

Libo Jaya yakni 8 masjid, 6 mushalla/langgar, dan 16 Gereja.26

Masyarakat Suku Sakai adalah penduduk asli tempat di kampung ini sejak sebelum Indonesia merdeka, memiliki hutan tanah adat yang diakui dan dihormati hak tradisional oleh Pemerintah Kerajaan Siak dibawah kepemimpinan Batin Singo Majo yang diberikan kewenangan sepenuhnya untuk mengatur dan mengurus kepentingan mas-yarakatnya.27

2 6BPS Kabupaten Siak, Statistik Daerah Kecamatan Kandis 2015. 2 7Dokumen Permohonan Desa Adat, Pemerintah Desa Libo Jaya, 2014.

Referensi

Dokumen terkait

Desa Bturijal Hulu merupakan sebuah Desa di Kecamatan Peranap Kabupaten Indrragiri Hulu yang terdiri dari dataran rendnah dan rawa-rawa serta berbukit-bukit dengan hutan

Berdasarkan hasil dari penelitian dan juga pembahasan penerapan good governance pada pemerintahan kampung Empang Pandan Kecamatan Koto Gasib Kabupaten Siak, secara umum telah

Menetapkan calon Penghulu terpilih 4 Merujuk pada Peraturan Daerah (Perda) Kabupaten Siak Nomor 5 Tahun 2015 tentang Badan Permusyawaratan Kampung (Bapekam) pasal 3,

Dari sistem pernikaha antar wilayah masyarakat Kampung Naga dalam memiliki kerabat di luar lingkungan adat Kampung Naga.Dalam adanya tradisi di lingkungan adat Kampung Naga

Dijelaskan pada pasal 17 dan 18 tentang tugas dan fungsi dari BPBD Kabupaten Siak, maka Program yang dilakukan BPBD Kabupaten Siak dalam mencegah banjir yang terjadi di Kampung Tualang

Kecamatan Minas 10.Kecamatan Sungai Apit 11.Kecamatan Pusako 12.Kecamatan Lubuk Dalam 13.Kecamatan Sungai Mandau 14.Kecamatan Mempura Sedangkan batas wilayah Kabupaten Siak yaitu :

Dampak Partisipasi Masyarakat dalam Penerapan Community Based Tourism CBT Dalam Pengembangan Kampung Wisata Dayun Kabupaten Siak Provinsi Riau Community-based tourism CBT

HASIL DAN KETERCAPAIAN SASARAN PEMBAHASAN Kegiatan penyuluhan bahaya pencemaran limbah plastik di sungai dan laut di Kampung Sungai Kayu Ara Kecamatan Sungai Apit Kabupaten Siak yang