• Tidak ada hasil yang ditemukan

ARSITEKTUR RESPONSIF: MEDIUM ANTARMUKA KALIMAS DAN MASYARAKAT

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "ARSITEKTUR RESPONSIF: MEDIUM ANTARMUKA KALIMAS DAN MASYARAKAT"

Copied!
47
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN TUGAS AKHIR - RA.141581

ARSITEKTUR RESPONSIF: MEDIUM ANTARMUKA

KALIMAS DAN MASYARAKAT

NISMA HAMID BARAJA 3211100003

DOSEN PEMBIMBING:

Ir. Hari Poernomo, M.Bdg.Sc

PROGRAM SARJANA JURUSAN ARSITEKTUR

FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER SURABAYA

(2)

FINAL PROJECT REPORT - RA.141581

RESPONSIVE ARCHITECTURE: INTERFACE

MEDIUM OF KALIMAS AND SOCIETY

NISMA HAMID BARAJA 3211100003

SUPERVISOR:

Ir. Hari Poernomo, M.Bdg.Sc

UNDERGRADUATE PROGRAM DEPARTMENT OF ARCHITECTURE

FACULTY OF CIVIL ENGINEERING AND PLANNING SEPULUH NOPEMBER INSTITUTE OF TECHNOLOGY SURABAYA

(3)
(4)

i

ABSTRAK

ARSITEKTUR RESPONSIF:

MEDIUM ANTARMUKA KALIMAS DAN MASYARAKAT

Oleh

Nisma Hamid Baraja NRP : 3211100003

Surabaya memiliki sejarah ‘kota pelabuhan sungai’ dengan sungai kalimas yang memiliki nilai historis tinggi, bahkan selama masa kolonial Jembatan Merah sempat menjadi pelabuhan sungai yang cukup sibuk. namun sekarang sungai kalimas kumuh dan tidak terawat. Salah satu penyebab tidak terawatnya sungai adalah karena warga tidak merasa kehadiran sungai mempunyai nilai lebih selain hanya menjadi tempat pembuangan. Perlu adanya peningkatan kesadaran warga akan nilai historis dan kepentingan hadirnya sungai kalimas, sebagai identitas kota, sarana transportasi dan rekreatif.

Pemerintah sudah melakukan beberapa upaya untuk menambah interaksi warga dengan sungai di antaranya pembangunan taman-taman yang letaknya di pinggir kalimas seperti Taman Ekspresi dan Taman Prestasi, serta wisata menggunakan river boat mini yang beroprasi setiap hari minggu. Akan tetapi upaya ini masih belum cukup mewakili indentitas dan masa jaya sungai kalimas seperti masa lalunya. Maka objek arsitektur yang disarankan untuk permasalahan ini adalah area komersil sesuai dengan fungsi lahan sekitarnya yang digabung dengan fungsi rekreatif seperti river cruise dan area kuliner.

Dengan konteks dan area yang cukup luas, maka arsitektur ini termasuk pada golongan semi urban. agar fungsi apapun yang dibutuhkan di sekitar site pada generasi selanjutnya tidak akan mengubah tujuan utama dari pembangunan arsitektur ini, yakni untuk mengerahkan masyarakat berkegiatan di sungai kembali, maka arsitektur yang dihadirkan harus berkelanjutan. Oleh karena itu dasar desain yang diambil adalah arsitektur responsif, sesuai kebutuhan pemakainya.

(5)

ABSTRACT

RESPONSIVE ARCHITECTURE:

INTERFACE MEDIUM OF KALIMAS AND SOCIETY Oleh

Nisma Hamid Baraja NRP : 3211100003

Surabaya has a lot of terrific history with Kalimas river that should be universally known and defined with its architecture. The fact is Surabaya has not had enough landmarks to bring its people to know and do activites around Kalimas river. This condition brings Surabaya citizens act neglectful to Kalimas condition, and makes the river itself ignored and identified as slum area. Thus it needs architecture as a container of activities and as a Kalimas representative to connect people and Kalimas river

The Government has made some efforts to increase interaction among residents with river construction gardens located on the edge Kalimas like Taman Ekspresi and Taman Prestasi, as well as using the river boat tour mini that operate every day of the week. However, these efforts are still not adequately represent the identity and the heyday of river Kalimas like his past. Then the object architecture suggested for this problem is a commercial area in accordance with the surrounding land use combined with recreational functions such as river cruise and culinary area. With semi-urban context, to fulfill this function, the selected architecture is sustainable

architecture that can be enjoyed and remained in use until future generations so that the initial objectives have not changed. Then the chosen architecture is the architecture with the concept of a responsive region, the architecture based on the needs and character of man as a user.

(6)

ii

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Allah SWT atas segala berkat dan rahmatNya sehingga penyusunan Tugas Akhir ini dapat diselesaikan dan disusun dengan baik. Tugas Akhir ini berjudul “Arsitektur Responsif: Medium Antarmuka Kalimas dan Masyarakat”, merupakan kawasan wisata riverfront dengan fungsi utama komersil dan kuliner. Tugas Akhir ini mengangkat issue pemanfaatan sungai kalimas kembali sebagai identitas kota Surabaya, sarana transportasi dan rekreasi.

Dalam kesempatan ini kami mengucapkan terimakasih yang sedalam-dalamnya kepada Yth : 1. Orang tua penulis, Hamid Baraja dan Feriyal Bawazier yang telah membantu baik moril

maupun materi, yang telah direpotkan dengan berbagai macam hal yang tidak dapat ditulis satu persatu.

2. Saudara penulis, Nada Hamid Baraja, Adila Hamid Baraja, Ammar Hamid Baraja, Muhammad Hamid Baraja, Abdurrahman Hamid Baraja, Najah Baraja dan Azimah Baraja yang senantiasa membantu baik secara langsung maupun tidak langsung. Dan seluruh anggota keluarga penulis yang senantiasa mendukung penulis dengan cara yang juga tidak dapat ditulis satu persatu

3. Bapak Hari Poernomo selaku pembimbing Tugas Akhir atas saran dan bimbingan selama mata kuliah ini berlangsung.

4. Ibu Happy Ratna, Bapak Achmad Maksum, Ibu Murtijas dan Ibu Arina Hayati selaku penguji selama mata kuliah Tugas Akhir berlangsung.

5. Bapak Ngurah Antaryama dan Bapak Defry Agatha selaku koordinator mata kuliah Proposal Tugas Akhir

6. Sahabat penulis, Astri Isnaini Dewi, Safana Dewingga dan Aida Firdaus, Yang senantiasa membantu, mendukung, baik secara materi maupun moril dengan segala cara selama penulis melangsungkan kuliah di Arsitektur ITS hingga proposal ini selesai ditulis.

7. Teman-teman di jurusan Arsitektur ITS, House of Sampoerna, dan warga sekitar Jembatan Merah, dan seluruh pihak yang telah membantu penulis dengan berbagai cara. Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan laporan ini jauh dari sempurna, baik dari segi penyusunan, bahasan, ataupun penulisannya. Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun, khususnya dari pembimbing dan penguji guna menjadi acuan dalam bekal pengalaman bagi penulis untuk lebih baik di masa yang akan datang.

Surabaya, Agustus 2015

(7)

ARSITEKTUR RESPONSIF: MEDIUM ANTARMUKA KALIMAS DAN MASYARAKAT iii

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL LEMBAR PENGESAHAN LEMBAR PERNYATAAN ABSTRAK ... i KATA PENGANTAR ... ii

DAFTAR ISI... iii

DAFTAR GAMBAR ... v

DAFTAR TABEL ... vii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 LATAR BELAKANG ... 1

1.2 ISU DAN KONTEKS DESAIN ... 2

1.2.1 ISU ... 2

1.2.2 KONTEKS DESAIN ... 3

1.3 PERMASALAHAN DAN KRITERIA DESAIN ... 4

1.3.1 PERMASALAHAN DESAIN ... 4

1.3.2 KRITERIA DESAIN ... 4

BAB II PROGRAM DESAIN ... 5

2.1 TAPAK DAN LINGKUNGAN ... 5

2.1.1 TAPAK... 5

2.1.2 POTENSI TAPAK ... 6

2.1.3 ANALISA TAPAK... 7

2.2 PEMROGRAMAN DAN FASILITAS ... 8

3.2.1 FASILITAS ... 8

3.2.2 BESARAN RUANG ... 9

BAB III PENDEKATAN DAN METODE DESAIN ... 11

3.1 PENDEKATAN DESAIN ... 11

3.2 METODE DESAIN ... 11

3.3 KONSEP ... 13

BAB IV EKSPLORASI DESAIN ... 15

4.1 SITEPLAN ... 15

4.2 LAYOUT DAN DENAH ... 16

4.3 TAMPAK ... 23

4.4 POTONGAN... 24

(8)

iv 4.6 UTILITAS... 30 4.6.1 PENGHAWAAN ... 30 4.6.2 AIR BERSIH ... 30 4.6.3 AIR KOTOR ... 31 4.6.4 PENCAHAYAAN ... 31 4.6.5 PENANGANAN KEBAKARAN ... 31 4.7 STRUKTUR ... 32 BAB V KESIMPULAN ... 35 DAFTAR PUSTAKA ... 36 BIOGRAFI

(9)

ARSITEKTUR RESPONSIF: MEDIUM ANTARMUKA KALIMAS DAN MASYARAKAT

vii

DAFTAR TABEL

(10)

v

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Kondisi Jembatan merah ketika kalimas masih ... 1

Gambar 2. a. Kondisi perumahan di bantaran kalimas ... 2

Gambar 3 lokasi tapak garapan ... 5

Gambar 4. Batas-batas Site 1 ... 5

Gambar 5. Land Use Strategy di kawasan perencanaan. ... 6

Gambar 6. Tour ‘Klinong-Klinong Surabaya’ ... 7

Gambar 7. Peruntukan tapak eksisting dan sekitar tapak ... 7

Gambar 8. Sirkulasi arah kendaraan pada tapak dan sekitarnya ... 7

Gambar 9. konsep desain pada sisi menghadap sungai i ... 8

Gambar 10. Tatanan massa berdasarkan analisa tapak ... 8

Gambar 11. Contoh Street Marke ... 13

Gambar 12. Contoh aplikasi peti kemas sebagai bangunan ... 14

Gambar 13. Penerapan konsep 'Superimposition' pada desain ... 14

Gambar 14. SITE PLAN ... 15

Gambar 15. LAY OUT LANTAI 1 ... 16

Gambar 16. LAY OUT LANTAI 2 ... 17

Gambar 17. LAY OUT LANTAI 3 ... 18

Gambar 18. DENAH RETAIL LANTAI 1 (TIPIKAL) ... 19

Gambar 19. DENAH KANTOR ... 19

Gambar 20. DENAH PUBLIC SERVICE ... 19

Gambar 21. DENAH RETAIL LANTAI 2 DAN 3 (TIPIKAL) ... 20

Gambar 22. DENAH CAFE LANTAI 2... 20

Gambar 23. DENAH CAFE LANTAI 2... 20

Gambar 24. DENAH CAFE LANTAI 3... 21

Gambar 25. DENAH CAFE LANTAI 3... 21

Gambar 26. DENAH CAFE LANTAI 3... 22

Gambar 27. a. TAMPAK MENGHADAP ... 23

Gambar 28. POTONGAN A-A' ... 24

Gambar 29. POTONGAN B-B' ... 24

Gambar 30. POTONGAN C-C' ... 24

Gambar 31. POTONGAN D-D' ... 25

Gambar 32. POTONGAN E-E' ... 25

Gambar 33. POTONGAN F-F' ... 25

Gambar 34. A. POTONGAN G-G'. B. POTONGAN H-H' ... 26

Gambar 35. PERSPEKTIF DARI SUNGAI KALIMAS ... 27

Gambar 36. PERSPEKTIF DARI JL. PANGGUNG ... 27

Gambar 37. PERSPEKTIF MATA BURUNG ... 27

Gambar 38. VIEW DARI ENTRANCE MOBIL ... 28

Gambar 39. VIEW DARI LANTAI 2... 28

Gambar 40. VIEW DARI ENTRANCE PEJALAN KAKI ... 28

Gambar 41. VIEW DALAM LIFT PANORAMA ... 29

Gambar 42. SUASANA ROOFTOP CAFE ... 29

Gambar 43. SUASANA KORIDOR KANTOR ... 29

Gambar 44. Contoh AC Cassette yang disarankan ... 30

(11)

vi

Gambar 46. Skema saluran air bersih ... 30

Gambar 47. Skema saluran air kotor... 31

Gambar 48. contoh lampu downlight dan aplikasi lampu tanam pada tangga ... 31

Gambar 49. Contoh Alat pemadam kebakaran ringan berupa tabung gas ... 31

Gambar 50. Detail material pada salah satu desain bangunan ... 32

Gambar 51. Contoh aplikasi pondas bangunani peti kemas. ... 32

(12)

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

1. SUNGAI KALIMAS SEBAGAI IDENTITAS SURABAYA

Identitas adalah kebutuhan bagi suatu kota, utamanya seiring berjalannya era globalisasi dan keuniversalan style mulai dari pakaian hingga arsitektur. Mengapa identitas menjadi penting bagi suatu kota?

surabaya belum punya sesuatu yang diunggulkan sebagai identitas kota, padahal begitu kaya akan latar belakang sejarah, kota pahlawan, dan kota pelabuhan sungainya. Upaya yang telah dilakukan selama ini hanya berupa monumen (tugu pahlawan, patung bambu runcing, monkasel, dsb) Potensi-potensi yang juga (ternyata) diperkuat dengan sejarahnya ini belum dimunculkan dan belum diwadahi dalam bentuk arsitektur yang bisa

membawa masyarakat menikmati arsitektur yang tidak akan ditemukan di kota lain.

2. SEJARAH KALIMAS

Surabaya memiliki sejarah ‘kota pelabuhan sungai’ dengan sungai kalimas yang memiliki nilai historis tinggi, namun sekarang sungai kalimas kumuh dan tidak terawat. Salah satu penyebab tidak terawatnya sungai adalah karena warga tidak merasa kehadiran sungai mempunyai nilai lebih selain hanya menjadi tempat pembuangan.

Perlu adanya peningkatan kesadaran warga akan nilai historis dan kepentingan hadirnya sungai kalimas, sebagai identitas kota, sarana transportasi dan rekreatif.

Gambar 1. Kondisi Jembatan merah ketika kalimas masih menjadi pelabuhan sungai yang aktif di masa kolonial, dibandingkan dengan kondisi saat ini

(13)

ARSITEKTUR RESPONSIF: MEDIUM ANTARMUKA KALIMAS DAN MASYARAKAT

2

Gambar 2. a. Kondisi perumahan di bantaran kalimas pada masa kolonial. b. Kondisi kalimas pada saat ini.

3. RENCANA PEMERINTAH

Adanya rencana pemerintah untuk meningkatkan kualitas wilayah Cagar Budaya di kawasan Kota Lama Surabaya. Beberapa program yang terdapat pada RDTRK Surabaya

diantaranya Jembatan Merah Heritage Riverfront dan North Kalimas SOHO. Dengan tujuan untuk menciptakan daerah siang-malam yang dinamis, meningkatkan industri dan perdagangan sekaligus meningkatkan kualitas daerah kota lama pada bidang seni untuk menarik wisatawan.

1.2 ISU DAN KONTEKS DESAIN

1.2.1 ISU

Persoalan yang diangkat adalah

peningkatan kesadaran warga akan nilai historis dan kepentingan hadirnya sungai

kalimas, sebagai identitas kota, sarana transportasi dan rekreasi melalui kegiatan komersil.

Maka di sini arsitektur diharapkan menjadi medium antara sungai kalimas dan masyarakat, baik arsitektur dengan peran sebagai wadah, maupun dengan peran sebagai representasi dari sungai kalimas itu sendiri

a

(14)

3 1.2.2 KONTEKS DESAIN

Objek garapan berupa arsitektur yang terletak di pinggir sungai dengan tujuan komersil dan rekreasi oleh karena letak dan fungsinya ini, arsitektur ini dapat digolongkan sebagai Riverfront dengan lingkup semi urban.

Riverfront adalah wilayah di sepanjang sungai; sering di kota-kota besar yang berbatasan sungai, tepi sungai yang seringkali dilengkapi dengan dengan marina, dermaga, taman, pohon, atau objek wisata kecil. Saat ini banyak riverfront adalah pokok modernisme dan kecantikan kota.

Riverfront merupakan salah satu jenis waterfront. Untuk itu, teori yang dirujuk diambil dari teori-teori waterfront. Karakteristik Waterfront sendiri Secara garis besar adalah sebagai berikut :

- Memiliki pola penataan tersendiri baik secara arsitektural maupun teknologi pada situasi pantai yang direncanakan. Pola penataan pada air dengan menggunakan

teknologi harus memiliki satu kesatuan.

- Memiliki pola pengembangan massa yang dinamis sesuai dengan karakter air.

- Memiliki unique visual character yang di pandang secara keseluruhan. Karakter yang unik diciptakan secara keseluruhan meliputi sungai sebagai latar depan, sebagai penghubung aktifitas yang menyertai.

- Orientasi bangunan, kegiatan pada air sebagai elemen utama kawasan. Air dengan aktifitas didalamnya merupakan orientasi bangunan tepi air, sebagai salah satu cara penyatuan karakter kawasan. Berdasarkan potensi dan aktivitas yang dapat dikembangkan Menurut Ann Breen dan Dick Rigby (1994), kawasan tepi (waterfront) yang direncanakan termasuk dalam Mixed Use Waterfront yaitu pengembangan waterfront yang lebih lebih ditujukan pada penggabungan fungsi perdagangan, rekreasi, perumahan, perkantoran,

(15)

ARSITEKTUR RESPONSIF: MEDIUM ANTARMUKA KALIMAS DAN MASYARAKAT

4

transportasi, wisata dan olahraga. Penerapan konsep ini merupakan salah satu cara untuk menyatukan berbagai kepentingan yang pada umumnya sering terjadi dalam pengembangan suatu kawasan di perkotaan.

1.3 PERMASALAHAN DAN KRITERIA DESAIN

1.3.1 PERMASALAHAN DESAIN • Arsitektur yang seperti apa

yang dapat mengundang masyarakat untuk kembali berkegiatan di sungai kalimas? • Bagaimana membangun

arsitektur yang berkelanjutan? • Bagaimana menyatukan fungsi

komersil dan rekreasi di arsitektur?

1.3.2 KRITERIA DESAIN

• Mampu menarik masyarakat dan menghubungkan

pengunjung dengan sungai • Desain harus mampu

mengangkat sungai sebagai atraksi dan sentral kegiatan • Desain harus mampu

memberikan pengunjung pengalaman kawasan yang responsif:

1. mudah diakses

2. mempunyai banyak pilihan kegiatan

3. mudah dikenal

4. dapat digunakan dengan berbagai tujuan (tidak kaku) 5. mempunyai makna 6. memberikan pengalaman sensorik yang kaya

7. Memungkinkan pengguna melakukan personalisasi pada arsitekturnya

(16)

5

BAB II

PROGRAM DESAIN

2.1 TAPAK DAN LINGKUNGAN

2.1.1 TAPAK

Lokasi berada di antara Jl. Kalimas Utara dan Jl. Panggung dengan batas tapak sebagai berikut:

Batas utara: Jl. Gambir Batas Timur: Jl. Panggung Barat: Sungai Kalimas Selatan: Jl. Kembang Jepun

Gambar 3 lokasi tapak garapan

(17)

ARSITEKTUR RESPONSIF: MEDIUM ANTARMUKA KALIMAS DAN MASYARAKAT

6

2.1.2 POTENSI TAPAK

RENCANA PEMERINTAH

Pemilihan ini juga dipertimbangkan dengan Rencana Detail Tata Ruang Kota Surabaya tahun 2010-2025. Beberapa program dicanangkan untuk memperbaiki kualitas dari kota lama Surabaya untuk kemudian dijadikan area perniagaan yang lebih maju sekaligus wisata historis. Dua dari beberapa program yang terdapat pada RDTRK UP Tanjung Perak diantaranya Jembatan Merah Heritage Riverfront dan North Kalimas SOHO.

Untuk Tapak yang akan dirancang, tata guna lahannya diperuntukkan untuk komersil. Maka aktivitas yang akan diwadahi adalah yang berkaitan dengan komersil

.

Gambar 5. Land Use Strategy di kawasan perencanaan. Tapak yang direncanakan adalah yang berwarna biru

POTENSI WISATA

Pemilihan lokasi didasarkan pada kriteria sebagai berikut:

1. Sesuai dengan misi di awal, lokasi harus di sekitar sungai Kalimas

2. Berpotensi menarik menarik massa 3. Berada di kawasan yang memiliki latar belakang historis yang kuat, baik arsitektur, event, maupun sungai itu sendiri. Di sepanjang di jalan Kalimas timur sampai kalimas utara, di sekitarnya terdapat bangunan-bangunan lama yang masih belum direnovasi sejak tahun 1800-an, jembatan merah yang berpotensi menjadi wisata sejarah. Selain itu terdapat area perdagangan yang cukup terkenal sejak jaman belanda, kembang jepun, dan Mall Jembatan merah. Secara keseluruhan jika

dikembangkan dengan baik, daerah ini sangat potensial untuk menarik baik wisatawan asing maupun lokal.

(18)

7 2.1.3 ANALISA TAPAK

FUNGSI LAHAN EKSISTING DAN SEKITAR

Gambar 7. Peruntukan tapak eksisting dan sekitar tapak

SIRKULASI

Gambar 8. Sirkulasi arah kendaraan pada tapak dan sekitarnya

Karena pada rencananya area yang bersinggungan langsung dengan sungai dimanfaatkan untuk area pejalan kaki saja, maka pada desain diberi akses baru sejajar dengan jl. Panggung untuk menuju Jl. Kalimas Utara dan Jl. Gambir

Peserta berjalan kaki dari Museum Sampoerna ke jembatan merah, jalan panggung, bantaran kalimas di Jl. Kalimas timur, Jl. KHM Mansur sampai dengan jembatan di jalan benteng, dan kembali lagi. Tour ini eventual, dan hanya ada pada hari minggu pukul 07.00-09.00. melihat dari jam dan publikasi yang tidak terlalu besar, peserta cukup banyak, sektiar 10-15 orang per tour. Dari sini terlihat bahwa masyarakat surabaya sendiri mulai antusias dengan sejarah kalimas dan daerah sekitarnya di area kota lama.

Gambar 6. Tour ‘Klinong-Klinong Surabaya’ dengan tema ‘Surabaya Port City’ oleh House of Sampoerna

(19)

ARSITEKTUR RESPONSIF: MEDIUM ANTARMUKA KALIMAS DAN MASYARAKAT

8

MATAHARI

Climate pada site mengikuti iklim yang ada di Surabaya. Dengan iklim tropis lembab dan rata-rata suhu 24-33 derajat celcius

Posisi fasad utama yang

direncanakan adalah menghadap barat sehingga cukup terik dan butuh penanganan pada fasad barat.

Gambar 9. konsep desain pada sisi menghadap sungai untuk penanganan panas matahari

KESIMPULAN TATANAN MASSA

Gambar 10. Tatanan massa berdasarkan analisa tapak

2.2 PEMROGRAMAN DAN FASILITAS

3.2.1 FASILITAS

a. Bangunan Parkir • Parkir Mobil

• Parkir Sepeda motor • Area Utilitas

(20)

9 • Lift • Tangga kebakaran • Toilet c. Area Retail d. Area Cafe/Restaurant e. Kantor/ Area Administasi f. Public Service

• Loket River Cruise

• Administrasi River Cruise • Musholla

• Toilet dan tempat wudhu 3.2.2 BESARAN RUANG

AREA PARKIR

PARKIR MOBIL TSS 15 m2/ unit 70 1050

PARKIR MOTOR TSS 1.7 m2/unit 200 340

RUANG TUNGGU STUDI 6 m2 1 unit 12

POS SATPAM STUDI 6 m2 2 unit 12

UTILITAS STUDI 150 m2 1 unit 150

SIRKULASI NAD 30% 469,2 TOTAL 2033,2 COMMERCIAL AREA CAFE/RESTO STUDI 20 m2 12 300 RETAIL STUDI 20 m2 50 1000 SIRKULASI NAD 30% 390 TOTAL 1690 SERVICE ME Ruang pompa, genset, tandon, trafo, tangga, sirkulasi 300

(21)

ARSITEKTUR RESPONSIF: MEDIUM ANTARMUKA KALIMAS DAN MASYARAKAT

10

SHAFT shaft pipa,

shaft sampah 10

MUSHOLLA NAD 1.3 m2/ orang 20 260

RUANG WUDHU STUDI 7.5 m2/ unit 2 15

TOILET TSS 2m2/ orang 10 20

TOTAL 605

LOKET DAN ADMINISTRASI

LOKET STUDI 12 m2 1 unit 12

ADMINISTRASI STUDI 24 m2 1 unit 24

AREA KANTOR STUDI 12 m2 4 unit 48

SIRKULASI NAD 30% 25,2

TOTAL 109,2

TOTAL 4437,4

(22)

11

BAB III

PENDEKATAN DAN METODE DESAIN

3.1 PENDEKATAN DESAIN

Seperti yang sudah diuraikan pada latar belakang, Peran sungai Kalimas sangat besar bagi kota Surabaya sehingga tujuan utama harus dipertahankan dan diharapkan arsitektur yang dibangun dapat berkelanjutan sehingga jika di masa mendatang fungsinya akan diganti atau sampai dibongkar, maka tujuan utama desain, yakni mengarahkan masyarakat ke sungai, akan tetap berjalan. maka pendekatan yang diambil adalah arsitektur yang berdasar pada sifat alami manusia, terus berubah dan berkembang, yakni arsitektur berkelanjutan.

Arsitektur berkelanjutan atau sustainable architecture mencakup konteks yang luas, di sini pendekatan desain diambil dari sudut sosial dan berkelanjutan secara fisik sendiri. Pengertian Arsitektur yang

berkelanjutan, seperti dikutip dari buku James Steele Suistainable Architecture, adalah ”Arsitektur yang memenuhi kebutuhan saat ini, tanpa membahayakan kemampuan generasi mendatang, dalam memenuhi

kebutuhan mereka sendiri. Kebutuhan itu berbeda dari satu masyarakat ke masyarakat lain, dari satu kawasan ke kawasan lain dan paling baik bila ditentukan oleh masyarakat terkait.” Dalam jurnal Sustainable Architecture

Module: Qualities, Use, and Examples of

Sustainable Building Materials, Jong Jim-Kin menuliskan ciri yang dimiliki oleh bangunan sustainable, yaitu:

Pollution Prevention

Measures in Manufacturing

Waste Reduction Measures in

Manufacturing

Recycled Content

Embodied Energy Reduction

Use of Natural Materials

Reduction of Construction Waste Local Materials Energy Efficiency Water Treatment/Conservation

Use of Non-Toxic or

Less-Toxic Materials

Renewable Energy Systems

Longer Life

Reusability

Recyclability

Biodegradability

3.2 METODE DESAIN

Metode desain yang dipilih adalah teori pengaturan kawasan dari Ian bentley dkk dalam bukunya, ‘Responsive

Environments’.

Arsitektur responsif sendiri adalah gagasan bahwa lingkungan dibangun harus

menyediakan para penggunanya dengan pengaturan dasar yang demokratis, memperkaya kesempatan mereka dengan memaksimalkan tingkat pilihan yang tersedia bagi mereka.

Jika disatukan bab 1-7 pada buku ini mempunyai kesimpulan langkah-langkah untuk mencapai Kawasan Responsif sebagai berikut:

1. Permeability: designing the overall layout of routes

and development blocks.

Menentukan lokasi serta sirkulasi utama pada site.

(23)

ARSITEKTUR RESPONSIF: MEDIUM ANTARMUKA KALIMAS DAN MASYARAKAT

12

desainer harus memutuskan berapa banyak rute harus ada,

bagaimana mereka harus

menghubungkan bersama-sama, di mana mereka harus pergi dan - Sisi lain dari koin - bagaimana membangun kasar

batas untuk blok lahan yang dapat dikembangkan dalam situs

secara keseluruhan

2. Variety: locating uses on the site.

Menentukan aktivitas apa saja yang ada pada arsitektur yang hendak dibangun.

Yang dilakukan di ahap ini adalah untuk memaksimalkan berbagai penggunaan di

proyek. Pertama kita menilai tingkat permintaan

berbagai jenis penggunaan pada situs ini, dan menetapkan berapa luas

campuran kegunaan secara ekonomi dan fungsional layak memiliki. Kemudian volume bangunan tentatif sudah didirikan sebagai spasial diinginkan diuji untuk melihat apakah bangunan-bangunan ini mampu diberi fungsi dan kegiatan ersebut

dan desain yang dikembangkan lebih lanjut yang diperlukan 3. Legibility: designing the massing of the buildings,

and the enclosure of public space. Mendesain masa, menentukan batasan dan area public space. mengambil bentuk tiga dimensi, sebagai

elemen yang memberikan struktur persepsi ke tempat yang

dibawa ke dalam proses desain. Sebagai bagian dari ini

proses, rute dan persimpangan mereka dibedakan

dari satu sama lain dengan

merancang mereka dengan berbeda

kualitas ruang batas. Pada tahap ini, oleh karena itu,

desainer yang terlibat dalam pengambilan keputusan tentatif tentang volume bangunan yang menyertakan public space. 4. Robustness: designing the spatial and constructional arrangement of individual buildings and

outdoor places.

Mendesain dan menata masing-masing bangunan, area indoor dan outdoor.

Di sini perancang mulai fokus pada bangunan individu dan tempat-tempat di luar ruangan. Tujuan perancang adalah

untuk membuat organisasi spasial dan konstruksi mereka

cocok untuk kemungkinan terbaik dalam mencakup kegiatan yang ditentukan

dan bagaimana desain dapat digunakan dalam jangka panjang. 5. Visual appropriateness: designing the external image.

Mendesain kesan dan wajah arsitektur.

Hal ini penting karena sangat mempengaruhi

interpretasi orang menaruh di tempat-tempat: apakah desainer ingin mereka atau tidak, orang menafsirkan tempat sebagai memiliki

makna. Wajah yang tepat dapat membantu untuk membuat orang sadar akan pilihan

yang ditawarkan oleh kualitas telah perancang rencanakan

6. Richness: developing the design for sensory choice.

Mengembangkan desain untuk kekayaan sensorik.

Perancang berhadapan dengan rincian terkecil

(24)

13 proyek. Perancang harus

memutuskan keberadaan dalam skema

untuk memberikan kekayaan, baik visual dan non-visual, dan

memilih bahan yang tepat dan teknik konstruksi

untuk mencapai itu.

7. Personalisation: making the design encourage

people to put their own mark on the places where

they live and work.

Bagaimana desain akhirnya membiarkan pengguna sendiri dapat mempersonalisasikan arsitektur yang dia gunakan

3.3 KONSEP

STREET MARKET

Untuk menyatukan konsep mall dan kantor yang rapi yang berada di wilayah a dan konsep toko-toko pinggir jalan yang berada di wilayah b, maka dimunculkan konsep street market.

Konsep Street market adalah sebuah kawasan pasar yang bersifat informal, namun tetap tertata.

Penataan didasarkan pada kebutuhan pengguna (dalam hal ini pedagang) dan definisi ruang, kegunaan ruang dan sebagainya dapat didefinisikan secara variatif oleh pengunjung. Konsep street market digabungkan dengan ruko, jadi bentuknya tidak hanya bilik-bilik tetapi satu rumah-toko yang semi permanen

Gambar 11. Contoh Street Marke

ARSITEKTUR PETI KEMAS (CARGOTECTURE)

Fleksibilitas dari kawasan tidak hanya dimunculkan dengan konsep kegiatan street market saja, tapi dari upaya bentuk dan ruang yang fleksibel. Menggunakan sistem dan material yang mudah diolah, ringan, mudah diganti dan dapat

diaplikasikan dalam berbagai varian, yakni dengan menggunakan peti kemas yang tidak hanya memenuhi kriteria di atas, tetapi juga melambangkan identitas laut

dan sangat mudah di dapatkan di

lingkungan sekitar tapak. Peti kemas ini juga akan menjadi unsur yang ramah dan tidak formal seperti kesan pada area perdagangan di kembang jepun dan

sekitarnya. Penggunaan peti kemas sebagai bahan bangunan pun dikenal oleh

masyarakat sehingga pengolahan dari masyarakatnya sendiri diperkirakan tidak sulit.

(25)

ARSITEKTUR RESPONSIF: MEDIUM ANTARMUKA KALIMAS DAN MASYARAKAT

14

Gambar 12. Contoh aplikasi peti kemas sebagai bangunan

SUPERIMPOSITION Superimposition sendiri secara harfiah berarti keadaan tumpang tindih.. superimposition adalah suatu metode desain dengan cara

menumpangtindihkan fungsi yang berbeda (overlay). Metode ini dikenalkan oleh Bernard Tschumi dalam karyanya, Parc de La Vilette pada kasus ini dengan menggabungkan bangunan sejajar sungai dengan fungsi rekreasi dan sejajar jalan panggung dengan fungsi retail.

(26)

15

BAB IV

EKSPLORASI DESAIN

4.1 SITEPLAN

(27)

ARSITEKTUR RESPONSIF: MEDIUM ANTARMUKA KALIMAS DAN MASYARAKAT

16

4.2 LAYOUT DAN DENAH

(28)

17 Gambar 16. LAY OUT LANTAI 2

(29)

ARSITEKTUR RESPONSIF: MEDIUM ANTARMUKA KALIMAS DAN MASYARAKAT

18

(30)

19 Gambar 18. DENAH RETAIL LANTAI 1 (TIPIKAL)

Gambar 19. DENAH KANTOR

(31)

ARSITEKTUR RESPONSIF: MEDIUM ANTARMUKA KALIMAS DAN MASYARAKAT

20

Gambar 21. DENAH RETAIL LANTAI 2 DAN 3 (TIPIKAL)

Gambar 22. DENAH CAFE LANTAI 2

(32)

21 Gambar 24. DENAH CAFE LANTAI 3

(33)

ARSITEKTUR RESPONSIF: MEDIUM ANTARMUKA KALIMAS DAN MASYARAKAT

22

(34)

23

4.3 TAMPAK

Gambar 27. a. TAMPAK MENGHADAP SUNGAI KALIMAS b. TAMPAK MENGHADAP JL. PANGGUNG

(35)

ARSITEKTUR RESPONSIF: MEDIUM ANTARMUKA KALIMAS DAN MASYARAKAT

24

4.4 POTONGAN

Gambar 28. POTONGAN A-A'

Gambar 29. POTONGAN B-B'

(36)

25 Gambar 31. POTONGAN D-D'

Gambar 32. POTONGAN E-E'

(37)

ARSITEKTUR RESPONSIF: MEDIUM ANTARMUKA KALIMAS DAN MASYARAKAT 26 Gambar 34. A. POTONGAN G-G'. B. POTONGAN H-H' A B

(38)

27

4.5 PERSPEKTIF

Gambar 35. PERSPEKTIF DARI SUNGAI KALIMAS

Gambar 36. PERSPEKTIF DARI JL. PANGGUNG

(39)

ARSITEKTUR RESPONSIF: MEDIUM ANTARMUKA KALIMAS DAN MASYARAKAT

28

Gambar 38. VIEW DARI ENTRANCE MOBIL

Gambar 39. VIEW DARI LANTAI 2

(40)

29 Gambar 41. VIEW DALAM LIFT PANORAMA

Gambar 42. SUASANA ROOFTOP CAFE

(41)

ARSITEKTUR RESPONSIF: MEDIUM ANTARMUKA KALIMAS DAN MASYARAKAT

30

4.6 UTILITAS

4.6.1 PENGHAWAAN

Penghawaan bergantung pada masing-masing bangunan dan disesuaikan dengan fungsi. Secara umum, utamanya Pada bangunan retail seluruhnya menggunakan penghawaan buatan dengan sistem AC split untuk menghindari sistem utilitas yang tersentral. Sehingga leboh fleksibel penggunaannya. untuk area cafe sistem penghawaan bergantung pada pemilik cafe, namun disarankan untuk area indoor menggunakan penghawaan buatan berupa AC split

Gambar 44. Contoh AC Cassette yang disarankan 4.6.2 AIR BERSIH

Untuk kolam di sekeliling bangunan, air yang digunakan adalah air sungai.

Sedangkan untuk fungsi lain seperti toilet dan keran menggunakan air PDAM

Gambar 45. Ilustrasi penyaringan air sungai

(42)

31 4.6.3 AIR KOTOR

Gambar 47. Skema saluran air kotor 4.6.4 PENCAHAYAAN

Pencahayaan dasar pada bangunan cukup menggunakan pencahayaan alami karena material dinding menggunakan kaca. Namun pencahayaan buatan tetap digunakan

berupa down light yang akan diaplikasikan di langit-langit

Dan lampu yang ditanamkan di lantai dan tangga untuk area outdoor dan semi outdoor

Gambar 48. contoh lampu downlight dan aplikasi lampu tanam pada tangga

4.6.5 PENANGANAN KEBAKARAN Karena bangunan maksimal adalah tiga lantai, maka tidak perlu menggunakan sprinkler.

Antisipasi kebakaran cukup dengan menyediakan hydrant dan alat pemadam kebakaran ringan pada masing-masing lantai di bangunan

(43)

ARSITEKTUR RESPONSIF: MEDIUM ANTARMUKA KALIMAS DAN MASYARAKAT

32

4.7 STRUKTUR

Struktur yang digunakan pada area retail, cafe dan restaurant, kantor, dan public service menggunakan frame peti kemas yang sudah diolah seperti contoh di bawah ini

Gambar 50. Detail material pada salah satu desain bangunan

Fondasi bangunan peti kemas menggunakan beton yang ditanamkan tidak lebih dari dua meter, oleh karena fondasi yang tidak mendalam penggunaan peti kemas sebagai dasar bahan bangunan memiliki kelebihan sistem fondasi yang sederhana

Gambar 51. Contoh aplikasi pondas bangunani peti kemas. Sumber:

(44)

33 Gambar 52. potongan detail sambungan peti kemas. Sumber:

(45)

ARSITEKTUR RESPONSIF: MEDIUM ANTARMUKA KALIMAS DAN MASYARAKAT

36

DAFTAR PUSTAKA

Breen, Ann & Dick Rigby (1994). WaterfrontCities Reclaim Their Edge. New York : Mc. Graw-Hill.

Davies, Colin (2011). Thinking About Architecture: An Introduction to Architectural Theory . London: Laurence King Publishing.

Ian Bentley, dkk (1985). Responsive Environments. Oxford: Architectural Press.

Jong-Jin Kim and Brenda Rigdon (1998). Sustainable Architecture Module: Qualities, Use, and Examples of Sustainable Building Materials. Michigan: National Pollution Prevention Center for Higher Education.

(46)

35

BAB V

KESIMPULAN

Isu yang diangkat pada Tugas Akhir ini adalah bagaimana desain arsitektur dapat menjadi medium agar masyarakat berkegiatan di sungai kembali. Dengan rincian permasalahan desain sebagai berikut:

• Arsitektur yang seperti apa yang dapat mengundang masyarakat untuk kembali berkegiatan di sungai kalimas?

• Bagaimana membangun arsitektur yang berkelanjutan?

• Bagaimana menyatukan fungsi komersil dan rekreasi di arsitektur? desain yang sudah direncanakan yang akhirnya menjawab pertanyaan di atas adalah:

• Memancing masyarakat dengan kegiatan komersil di sisi yang menghadap pasar • Arsitektur berkelanjutan didapat dari bangunan yang semi permanen, yakni

menggunakan peti kemas sebagai bahan dasar seluruh bangunan

• Dengan menghadirkan fungsi komersil-rekreatif seperti cafe, utamanya rooftop cafe

dengan pemandangan menghadap sungai dan juga memberi wadah untuk kegiatan pada sungai seperti river cruise

(47)

BIOGRAFI PENULIS

Nama : Nisma Hamid Baraja

Tempat / Tanggal Lahir : Surabaya/ 5 Desember 1993

Agama : Islam

Jenis Kelamin : Perempuan

Alamat Asal : Jl. Tanjung Sadari no. 101 Surabaya Telepon : 08981196119 Email : [email protected] Pendidikan Formal : 1996–1998 / TK Al-Irsyad Surabaya 1998–2004 / SD Muhammadiyah 4 Surabaya 2004–2007 / SMP Al-Hikmah Surabaya 2007–2010 / SMA Al-Hikmah Surabaya

2010–2014 / S1 Arsitektur Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya

Pengalaman Organisasi :

Anggota Departemen SKI OSIS Al-Hikmah Surabaya [2009/2010]

Anggota Hima Sthapati Arsitektur ITS – Departemen Hubungan Luar dan Sosial. [2012/2013]

Anggota Hima Sthapati Arsitektur ITS – Sekertaris Departemen Sosial Masyarakat. [2013/2014]

Berbagai macam kepanitiaan kegiatan – Hima Sthapati Arsitektur ITS, [2012/2013, 2013/2014]

Instructor Committee – Pengkaderan Hima Sthapati Arsitektur ITS. [2013/2014]

Gambar

Gambar 2 . a. Kondisi perumahan di bantaran kalimas pada masa kolonial. b. Kondisi kalimas  pada saat ini
Gambar 3 lokasi tapak garapan
Gambar 5 . Land Use Strategy di kawasan  perencanaan. Tapak yang direncanakan  adalah yang berwarna biru
Gambar 7. Peruntukan tapak eksisting dan sekitar tapak
+7

Referensi

Dokumen terkait

Sedangkan penelitian lain oleh Roy Budiharjo (2016) menyatakan bahwa ROA tidak mampu memediasi pengaruh hubungan kepemilikan institusional terhadap return saham.1.

Arah Kebijakan dalam Melaksanakan Strategi ”Pengembangan Infrastruktur”. Mewujudkan penyediaan prasarana dan sarana pengelolaan sumber daya air, pelayanan air minum dan

kerja dan kompetensi secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap kinerja pegawai pada Dinas Pendidikan Kabupaten Sragen.Hasil uji R 2 didapatkan hasil

Dapatan kajian yang dipeolehi oleh pengkaji iaitu mendapati bahawa 3 orang informan mengalami pengabaian disebabkan oleh faktor anak-anak yang tidak tahan dengan

(Wawancara, 4 Desember 2015). Hal ini mengambarkan bahwa Implementasi kebijakan penertiban hewan ternak di Kecamatan Banawa belum memiliki sumber daya yang belum

Etika dan estetika promosi dalam bagian dari program corporate social responsibility sekolah yang akan dijalankan oleh bagian kehumasan atau public relations sekolah keju-

Bu yapıtta, alaturka kurnazlıklara başvurarak gerçekleri soyut suçlamalarla örtbas etmek kolaycılığını seçenlerin maskelerini düşürmek için, bundan sonra

1) Hermhaprodite complexus yaitu seorang manusia yang mempunyai kedua alat kelamin dan kedua kelenjar laki-laki maupun perempuan. Khuntsa semacam ini menurut para fuqaha