• Tidak ada hasil yang ditemukan

Aspek Dalam Mengelola. Barang Milik Negara. Abstrak

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Aspek Dalam Mengelola. Barang Milik Negara. Abstrak"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

Halaman 1 dari 8

Aspek Dalam Mengelola

Barang Milik Negara

4

Oleh Drs. Herri Waloejo,

Widyaiswara Utama Pusdiklat KNPK

Abstrak

Dalam rangka mengelola Barang Milik Negara (BMN) yang nilainya sebesar Rp 1,694,57 triliun berdasarkan LBMN per 31 Desember 2011 (Audited) tersebut diperlukan tata kelola pemerintahan yang baik (Good Governance) dan didukung oleh pemerintahan yang bersih (Clean Government).

Pengelolaan BMN tersebut diarahkan untuk mewujudkan amanat UUD 1945 dan amandemennya pada pasal 33 ayat 3 bahwa bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat dan pada pasal 23 ayat 1 bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebagai wujud dari Pengelolaan Keuangan Negara (BMN Bagian dari Keuangan Negara) ditetapkan setiap tahun dengan Undang-Undang dan dilaksanakan secara terbuka dan bertanggung jawab untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat . Untuk mewujudkan Good Governance dan Clean Government dalam pengelolaan BMN, maka sangat perlu didukung oleh 4 (empat) aspek pengelolaan BMN yang ideal yaitu aspek sistem, dengan melalui serangkaian beberapa kebijakan publik dalam bentuk berbagai peraturan perundang-undangan, aspek organisasi/kelembagaan, yang mendukung dalam pengelolaan BMN tersebut, aspek sumber daya manusia, yang mempunyai peranan sebagai the man behind the gun dan aspek sarana prasarana, yang tidak kalah pentingnya dalam memperlancar pelayanan kepada masyarakat, keempat aspek tersebut harus saling mendukung dan bersinergi satu sama lain

(2)

Pendahuluan

Jumlah Barang Milik Negara dari tahun ke tahun terus meningkat baik secara kuantitatif maupun secara kualitatif. Barang Milik Negara (BMN) tersebut digunakan untuk penyelenggaraan tugas

pemerintahan maupun untuk tujuan pembangunan dalam rangka meningkatkan perekonomian masyarakat. Menteri Keuangan selaku Pengelola Barang diharuskan secara periodik menyusun Laporan Barang Milik Negara (LBMN) berupa Laporan Barang Milik Negara Semesteran (LBMNS) dan Laporan Barang Milik Negara Tahunan (LBMNT). LBMN tersebut digunakan sebagai dasar penyusunan neraca pemerintah, yang merupakan salah satu laporan yang disusun sebagai pertanggungjawaban anggaran, yang terdiri dari Neraca, Laporan Realisasi Anggaran, dan Catatan atas Laporan Keuangan. Berdasarkan LBMN per 31 Desember 2011 (audited) menunjukkan bahwa nilai Barang Milik Negara adala sebesar Rp1.694.574.945.549.620,00 yang terdiri dari BMN intrakomptabel

Rp1.693.038.954.236.470,00 dan BMN ekstrakomptabel

Rp1.535.991.315.150,00.

Jumlah Barang Milik Negara dari tahun ke tahun terus meningkat baik secara kuantitatif maupun secara kualitatif. Barang Milik Negara (BMN) tersebut digunakan untuk penyelenggaraan tugas-tugas pemerintahan maupun untuk tujuan pembangunan dalam rangka meningkatkan perekonomian masyarakat. Menteri Keuangan selaku Pengelola Barang haruskan secara periodik menyusun Laporan Barang Milik Negara (LBMN) berupa Laporan Barang Milik Negara Semesteran (LBMNS) dan Laporan Barang (LBMNT). LBMN gunakan sebagai dasar an neraca pemerintah, yang alah satu laporan yang disusun sebagai pertanggungjawaban anggaran, yang terdiri dari Neraca, Laporan Realisasi Anggaran, dan Catatan atas Laporan Keuangan. Berdasarkan LBMN per 31 menunjukkan bahwa nilai Barang Milik Negara adalah sebesar Rp1.694.574.945.549.620,00 yang terdiri dari BMN intrakomptabel sebesar Rp1.693.038.954.236.470,00 dan BMN sebesar

Nilai Barang Milik Negara tersebut nantinya akan bertambah dengan adanya realisasi pengadaan barang dan jasa melalui APBN Tahun Anggaran Tahun 2012 baik melalui belanja barang sebesar Rp138, 5 triliun maupun belanja modal sebesar Rp168,1 triliun.

Pengelolaan BMN

Ruang lingkup pengelolaan BMN sesuai dengan Peraturan Pemerintah

Tahun 2006 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah, meliputi perencanaan kebutuhan, penganggaran, pengadaan, penggunaan, pemanfaatan, penghapusan, pemindahtanganan, penilaian, penatausahaan, pengamanan, pemeliharaan, pembinaan, pengawasan dan pengendalian, dengan tujuan seluruh kegiatan tersebut dapat mewujudkan akuntabilitas dalam pengelolaan Barang Milik Negara.

Untuk mengelola Barang Milik Negara yang begitu besar nilainya yaitu sebesar Rp1.694,57 triliun tersebut tentu saja diperlukan tata kelola atas Barang Milik Negara yang ideal. Tata kelola tersebut meliputi beberapa aspek, yaitu aspek sistem, aspek organisasi, aspek sumber daya manusia dan aspek sarana dan

prasarana (teknologi informasi) yang Halaman 2 dari 8 Nilai Barang Milik Negara tersebut nantinya akan bertambah dengan adanya realisasi pengadaan barang dan jasa melalui APBN Tahun Anggaran Tahun 2012 baik melalui belanja barang sebesar Rp138, 5 triliun maupun belanja modal sebesar Rp168,1

Ruang lingkup pengelolaan BMN sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 6

tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah, meliputi perencanaan kebutuhan, penganggaran, pengadaan, penggunaan, pemanfaatan, penghapusan, dahtanganan, penilaian, penatausahaan, pengamanan, pemeliharaan, pembinaan, pengawasan dan pengendalian, dengan tujuan seluruh kegiatan tersebut dapat mewujudkan akuntabilitas dalam pengelolaan Barang

Untuk mengelola Barang Milik begitu besar nilainya yaitu sebesar Rp1.694,57 triliun tersebut tentu saja diperlukan tata kelola atas Barang Milik Negara yang ideal. Tata kelola tersebut meliputi beberapa aspek, yaitu aspek sistem, aspek organisasi, aspek sumber

ek sarana dan

(3)

diarahkan untuk mewujudkan amanat dari Undang

Dasar 1945 dan amandemennya pada pasal 33 ayat 3 yaitu bahwa bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar

kemakmuran rakyat. Untuk menuju kondisi yang demikian diperlukan waktu yang panjang dan kesungguhan dari aparatur negara yang mengelola negara melalui beberapa kali Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP).

4 (Empat) Aspek

Untuk mewujudkan pengelolaan Barang Milik Negara yang ideal diperlukan serangkaian perubahan-perubahan yang berkelanjutan dalam berbagai aspek yaitu (a) aspek sistem, melalui serangkaian kebijakan-kebijakan publik yang bermanfaat dalam bentuk peraturan perundang undangan tentang pengelolaan barang milik Negara, (b) aspek organisasi/ kelembagaan, yang mendukung

pengelolaan Barang Milik Negara tersebut, (c) aspek sumber daya manusia, mempunyai peranan penentu sangat penting dalam mengelola Barang Milik

Untuk mengelola Barang Milik Negara yang begitu besar nilainya yaitu sebesar Rp1.694,57 triliun tersebut tentu saja diperlukan tata kelola atas Barang Milik Neg

diarahkan untuk mewujudkan amanat dari Undang-Undang Dasar 1945 dan amandemennya pada pasal 33 ayat 3 yaitu bahwa bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Untuk menuju kondisi yang demikian diperlukan waktu yang njang dan kesungguhan dari aparatur negara yang mengelola negara melalui beberapa kali Rencana Pembangunan

Untuk mewujudkan pengelolaan Barang Milik Negara yang ideal diperlukan perubahan yang berkelanjutan dalam berbagai aspek yaitu melalui serangkaian kebijakan publik yang bermanfaat dalam bentuk peraturan perundang-undangan tentang pengelolaan barang

organisasi/ yang mendukung dalam pengelolaan Barang Milik Negara tersebut, daya manusia, yang mempunyai peranan penentu sangat penting dalam mengelola Barang Milik

Negara (the man behind the gun aspek sarana prasarana,

pentingnya. Selain itu perlu didukung oleh pemerintahan yang bersih ( government) dan tata kelola pemerintahan yang baik (good governance

lain pengelolaan aset berdasarkan praktik praktik terbaik (best practice

transparansi, akuntabilitas, profesionalitas, proporsionalitas, objektif, konsisten, dan acceptable. Keempat aspek tersebut harus saling mendukung dan bersinergi satu sama lain.

Aspek Sistem

Reformasi Keuangan Negara ditandai dengan lahirnya Unda

Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, Undang Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara, dan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 Untuk mengelola Barang Milik Negara yang begitu besar nilainya yaitu sebesar Rp1.694,57

triliun tersebut tentu saja diperlukan tata kelola atas Barang Milik Negara yang ideal.

Halaman 3 dari 8 the man behind the gun), dan (d) yang tidak kalah tu perlu didukung oleh pemerintahan yang bersih (clean ) dan tata kelola pemerintahan good governance), yang antara lain pengelolaan aset berdasarkan

praktik-best practice) yaitu transparansi, akuntabilitas, profesionalitas, proporsionalitas, objektif, konsisten, dan Keempat aspek tersebut harus saling mendukung dan bersinergi satu sama

Reformasi Keuangan Negara ditandai dengan lahirnya Undang Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, Undang Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara, dan Undang Nomor 15 Tahun 2004 Untuk mengelola Barang Milik Negara yang begitu besar nilainya yaitu sebesar Rp1.694,57

(4)

Halaman 4 dari 8 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan

Tanggung Jawab Keuangan Negara. Dari ketiga undang-undang tersebut, reformasi untuk pengelolaan BMN ditandai dengan lahirnya Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah yang telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 38 tahun 2008 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah No.6 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah, dan beberapa peraturan teknis, seperti Peraturan Menteri Keuangan Nomor 96/PMK.06/2007 tentang Tata Cara Pelaksanaan Penggunaan, Pemanfaatan, Penghapusan dan Pemindah tanganan Barang Milik Negara, dan masalah sewa Barang Milik Negara telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 33/PMK.06/ 20012 tentang Tata Cara Pelaksanaan Sewa sehingga Tata Cara Pelaksanaan Sewa pada PMK Nomor 96/PMK.06/2007 dinyatakan tidak berlaku.

Selanjutnya untuk penilaian Barang Milik Negara telah dikeluarkan Peraturan

Menteri Keuangan Nomor

179/PMK.06/2009 tentang Penilaian Barang Milik Negara dan untuk penatausahaan Barang Milik Negara telah dikeluarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor

120/PMK.06/2007 tentang Penatausahaan Barang Milik Negara, Peraturan Menteri Keuangan Nomor 29/PMK.06/2010 tentang Penggolongan dan Kodefikasi Barang Milik Negara serta Nomor 171/PMK.06/2007 tentang Sistem Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Pemerintah Pusat, yang telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 233/PMK.05/2011. Untuk mempercepat pengambilan keputusan terkait pengelolaan BMN, diterbitkan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 31/KM.06/2008 tentang Pelimpahan Sebagian Wewenang Pengelolaan Barang Milik Negara Kepada Kepala Kantor Wilayah dan Kepala Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang di Lingkungan Direktorat Jenderal Kekayaan Negara untuk dan atas nama Menteri Keuangan menandatangani surat dan/atau keputusan Menteri Keuangan. Dengan diberlakukannya kebijakan tersebut di atas, maka permasalahan dalam pengelolaan Barang Milik Negara sedikit demi sedikit dapat diatasi meskipun secara keseluruhan belum sempurna dan sampai dengan sekarang ini secara bertahap Menteri Keuangan selaku pengelola barang telah banyak membuat kebijakan di bidang pengelolaan barang milik negara.

(5)

Aspek Organisasi/Kelembagaan

Sebelum Tahun 1990, berdasarkan Keppres Nomor 15 Tahun 1984 tentang Susunan Organisasi Departemen, pengelolaan BMN ditangani oleh salah satu Sub Direktorat Kekayaan Neg

Direktorat Jenderal Moneter Dalam Negeri. Kemudian pada awal Tahun 1990 terjadi reorganisasi Departemen Keuangan, Direktorat Jenderal Moneter Dalam Negeri dan Direktorat Jenderal Moneter Luar Negeri menjadi Direktorat Jenderal Moneter, kemudian Subdit Direktorat Kekayaan Negara berpindah masuk ke jajaran Direktorat Jenderal Anggaran. Pada Tahun 1995 Subdit Direktorat Kekayaan Negara ditingkatkan menjadi Direktorat Kekayaan Negara.

Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 10 Tahun 2005 tentang Unit Organisasi dan Tugas eselon I Departemen Keuangan dibentuk Direktorat Jenderal Kekayaan Negara, kemudian

elembagaan

Sebelum Tahun 1990, berdasarkan Keppres Nomor 15 Tahun 1984 tentang Susunan Organisasi Departemen, pengelolaan BMN ditangani oleh salah satu Sub Direktorat Kekayaan Negara pada Direktorat Jenderal Moneter Dalam Negeri. Kemudian pada awal Tahun 1990 terjadi reorganisasi Departemen Keuangan, Direktorat Jenderal Moneter Dalam Negeri dan Direktorat Jenderal Moneter Luar Negeri menjadi Direktorat Jenderal bdit Direktorat Kekayaan Negara berpindah masuk ke jajaran Direktorat Jenderal Anggaran. Pada Tahun 1995 Subdit Direktorat Kekayaan Negara ditingkatkan menjadi Direktorat

Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 10 Tahun 2005 tentang Unit anisasi dan Tugas eselon I Departemen Keuangan dibentuk Direktorat Jenderal Kekayaan Negara, kemudian

disempurnakan dengan Peraturan Presiden Nomor 66 Tahun 2006 tentang Perubahan ke empat atas Peraturan Presiden Nomor 10 Tahun 2005, dengan demikian Pengelolaan Barang Milik Negara ditangani pada tingkat eselon I. Selanjutnya perubahan-perubahan dari Departemen Keuangan menjadi Kementerian Keuangan diatur dalam Peraturan Pres

Tahun 2009 tentang Pembentukan dan Organisasi Kementerian Negara dan Peraturan Presiden Nomor 24 Tahun 2010 tentang Kedudukan, Tugas, dan Fungsi Kementerian Negara serta Susunan Organisasi, Tugas, dan Fungsi Eselon I Kementerian Negara. Kemudian perubahan-perubahan organisasi tersebut diatur lebih lanjut oleh Menteri Keuang dalam PMK Nomor 100/PMK.01/2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Keuangan dan terakhir dengan PMK Nomor 184/PMK.01/2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Keuangan.

Aspek sumber daya manusia

Aparatur yang menangani pengelolaan Barang Milik Negara semestinya memiliki nilai (

Kementerian Keuangan, sumber daya manusianya diharapkan berlandaskan pada 5 (lima) nilai kementerian keuangan. Nila nilai Kementerian Keuangan adalah norma

Halaman 5 dari 8 disempurnakan dengan Peraturan Presiden Nomor 66 Tahun 2006 tentang Perubahan ke empat atas Peraturan Presiden Nomor 10 Tahun 2005, dengan demikian olaan Barang Milik Negara ditangani pada tingkat eselon I. Selanjutnya perubahan dari Departemen Keuangan menjadi Kementerian Keuangan Presiden Nomor 47 Tahun 2009 tentang Pembentukan dan Organisasi Kementerian Negara dan Nomor 24 Tahun 2010 Tugas, dan Fungsi Kementerian Negara serta Susunan Organisasi, Tugas, dan Fungsi Eselon I Kementerian Negara. Kemudian perubahan organisasi tersebut diatur lebih lanjut oleh Menteri Keuangan dalam PMK Nomor 100/PMK.01/2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Keuangan dan terakhir dengan PMK Nomor 184/PMK.01/2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian

Aspek sumber daya manusia

Aparatur yang menangani Barang Milik Negara semestinya memiliki nilai (value). Untuk Kementerian Keuangan, sumber daya manusianya diharapkan berlandaskan pada 5 (lima) nilai kementerian keuangan.

(6)

yang dijadikan sebagai panduan moral dalam berpikir, berkata, berperilaku, dan bertindak bagi pimpinan dan seluruh pegawai di Kementerian Keuangan. Nilai nilai Kementerian Keuangan telah didefinisikan secara jelas dan disertai dengan perilaku Utama supaya dapat memberikan petunjuk yang nyata

kehidupan setiap pegawai baik secara individu maupun unit organisasi. Berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 312/KMK.01/2011 Nilai Kementerian Keuangan terdiri atas

1. Integritas. Mengandung makna bahwa Pimpinan dan seluruh Pegawai harus berpikir, berkata, berperilaku, dan bertindak dengan baik dan benar serta yang dijadikan sebagai panduan moral alam berpikir, berkata, berperilaku, dan ndak bagi pimpinan dan seluruh egawai di Kementerian Keuangan. Nilai-nilai Kementerian Keuangan telah

dan disertai erilaku Utama supaya dapat g nyata dalam kehidupan setiap pegawai baik secara dividu maupun unit organisasi. Berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 312/KMK.01/2011 Nilai-Nilai Kementerian Keuangan terdiri atas

engandung makna bahwa Pimpinan dan seluruh Pegawai harus berpikir, berkata, berperilaku, dan bertindak dengan baik dan benar serta

memegang teguh kode etik dan prinsip prinsip moral.

2. Profesionalisme. Mengandung makna bahwa Pimpinan dan seluruh Pegawai dalam bekerja harus melakukannya dengan tuntas dan akurat

kompetensi terbaik penuh tanggung jawab dan komitmen yang tinggi.

3. Sinergi. Mengandung makna bahwa Pimpinan dan seluruh Pegawai harus memiliki komitmen untuk membangun dan memastikan hubungan kerja sama internal yang produktif serta kemitraan yang harmonis dengan para pemangku kepentingan untuk menghasilkan karya yang bermanfaat dan berkualitas.

4. Pelayanan. Mengandung makna bahwa Pimpinan dan seluruh Pegawai dalam memberikan pelayanan di lingkungan Kementerian Keuangan melakukannya untuk memenuhi kepuasan pemangku kepentingan yang dilakukan dengan sepenuh hati, transparan, cepat, akurat dan mudah.

5. Kesempurnaan. Mengandung makna bahwa Pimpinan dan seluruh Pegawai senantiasa melakukan upaya perbaikan di segala bidang untuk menjadi dan memberikan yang terbaik.

Halaman 6 dari 8 memegang teguh kode etik dan

prinsip-engandung makna bahwa Pimpinan dan seluruh Pegawai dalam bekerja harus melakukannya dengan tuntas dan akurat atas dasar kompetensi terbaik penuh tanggung jawab dan komitmen yang tinggi.

engandung makna bahwa Pimpinan dan seluruh Pegawai harus memiliki komitmen untuk membangun dan memastikan hubungan kerja sama internal yang produktif serta kemitraan yang harmonis dengan para pemangku kepentingan untuk menghasilkan karya yang bermanfaat dan berkualitas.

engandung makna bahwa Pimpinan dan seluruh Pegawai dalam memberikan pelayanan di lingkungan Kementerian Keuangan melakukannya menuhi kepuasan pemangku kepentingan yang dilakukan dengan sepenuh hati, transparan, cepat, akurat

engandung makna bahwa Pimpinan dan seluruh Pegawai senantiasa melakukan upaya perbaikan di segala bidang untuk menjadi dan

(7)

Di samping nilai-nilai Kementerian Keuangan tersebut di atas, dalam mengelola Barang Milik Negara diperlukan juga nilai-nilai peninggalan leluhur kita seperti Ki Hajar Dewantoro, yaitu Ngarso Sun Tulodo, Ing Madya Mangun Karso, Tut Wuri Handayani, yang berarti bahwa seorang apabila di depan harus memberi teladan, di

tengah memberi motivasi dan di belakang mengikuti dan mengawasi. Kemudian Sri Mangku Negoro I memberikan azas Rumongso Handarbeni, Rumongsi Hangrukebi dan Ngulat Saliro Hangrosowani yang artinya harus merasa memiliki, merasa ikut mengamankan dan

memelihara serta berani bertanggung jawab sesuai dengan hak kewajibannya.

Aspek sarana dan prasarana

Dalam hal perencanaan kebutuhan barang milik Negara yang dituangkan dalam Kementerian Keuangan tersebut di atas, dalam mengelola Barang Milik Negara diperlukan nilai peninggalan leluhur kita seperti Ki Hajar Dewantoro, yaitu Ing Ngarso Sun Tulodo, Ing Madya Mangun yang berarti bahwa seorang apabila di depan harus

memelihara serta berani bertanggung jawab sesuai dengan hak kewajibannya.

Dalam hal perencanaan kebutuhan barang milik Negara yang dituangkan dalam

Peraturan Menteri Keuangan Nomor 226/PMK.06/2011 tanggal 19 Desember 2011 dan Standar Barang dan Standar Kebutuhan Barang Milik Negara berupa tanah dan/atau bangunan yang dituangkan dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 248/PMK.06/2011 tanggal 23 Desember 2011 sedangkan untuk pengelolaan Barang

Milik Negara yang tidak digunakan untuk menyelenggarakan tugas dan fungsi Kementerian/Lembaga terutama berupa tanah dan/atau bangunan telah diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 250/PMK.06/2011.

Halaman 7 dari 8 Peraturan Menteri Keuangan Nomor 226/PMK.06/2011 tanggal 19 Desember 2011 dan Standar Barang dan Standar Kebutuhan Barang Milik Negara berupa tanah dan/atau bangunan yang dituangkan dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 248/PMK.06/2011 tanggal 23 Desember 2011 sedangkan untuk pengelolaan Barang

Milik Negara yang tidak digunakan untuk menyelenggarakan tugas dan fungsi Kementerian/Lembaga terutama berupa tanah dan/atau bangunan telah diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor

(8)

Halaman 8 dari 8 Referensi:

Peraturan-peraturan mengenai Pengelolaan Barang Milik Negara

a. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 Tentang Keuangan Negara b. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 Tentang Perbendaharaan Negara

c. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 Tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara

d. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 Tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah

e. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2008 Tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 Tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah f. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 96/PMK.06/2007 Tentang Tata Cara

Pelaksanaan Penggunaan, Pemanfaatan, Penghapusan Dan Pemindah Tanganan Barang Milik Negara

g. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 31/KM.06/2006 Tentang Pelimpahan sebagian wewenang pengelolaan BMN kepada Kepala Kantor Wilayah dan Kepala Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang dilingkungan Direktorat Jenderal Kekayaan Negara untuk dan atas nama Menteri Keuangan Menandatangani Surat dan/atau Keputusan Menteri Keuangan.

h. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 312/KMK.01/2011 mengenai Nilai-nilai Kementerian Keuangan

i. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 226/PMK.06/ 2011 tentang perencanaan kebutuhan Barang Milik Negara

j. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 248/PMK.06/ 2011 tentang standar barang dan standar kebutuhan Barang Milik Negara berupa tanah dan/atau bangunan

k. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 250/PMK.06/2011 tentang tata cara

pengelolaan Barang Milik Negara yang tidak digunakan untuk menyelenggarakan tugas dan fungsi Kementerian / Lembaga

l. Ikhtisar Laporan Barang Milik Negara Tahun 2011 (Audited) oleh Direktorat Jenderal Kekayaan Negara, Kementerian Keuangan

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan penulis ketika pelaksanaan pembelajaran Matematika di kelas VIII MTs Muhammadiyah 3 Al-Furqan Banjarmasin pada tanggal

Berdasarkan berbagai perubahan-perubahan positif yang terjadi selama proses belajar mengajar dari siklus pertama hingga siklus ketiga, maka guru dan observer

Dalam pembuatan kolam limbah yang akan digunakan untuk pengolahan limbah cair hingga siap dibuang untuk land application , harus sudah direncanakan terlebih dahulu

Dengan demikian, Sastra *HQGLQJ pada esensinya adalah karya akademik yang banyak mengandung simbol GDQ DOHJRULV IDOVD¿ \DQJ NHGDODPDQQ\D menunjukkan ketajaman analisis Sultan

tentang mengkarakterisasi dan mengkuatifikasi perbaikan (repair) suatu item yang gagal, mengaplikasikan, maintainability untuk proses desain serta menentukan perawatan sesuai

Sebagai ilm pengetahuan yang umum, dan bukan merupakan ilmu pengetahuan yang khusus, maka dalam sosiologi mempelajari gejala umum yang ada pada interaksi manusia... OBYEK

Naskah Skripsi dengan Judul: Pengaruh Penggunaan Tepung Beras dan Tepung Tapioka dalam Berbagai Konsentrasi Terhadap Sifat Fisikokimia dan Organoleptik Flake

“Ya Allah ..waktu mana kami kecil2..ayah kami mandikan kami dgn penuh kasih sayang dgn penuh kelembutan…jadi kami mandikan jenazah ayah kami ini maka Kau ampunkan dosanya