• Tidak ada hasil yang ditemukan

Moving House: Negosiasi Antara Sistem Konstruksi dan Nilai Budaya

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Moving House: Negosiasi Antara Sistem Konstruksi dan Nilai Budaya"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

https://doi.org/10.32315/sem.4.096

Prosiding Seminar Struktur Dalam Arsitektur 2020 | 096 Kelompok Keahlian Teknologi Bangunan, SAPPK, Institut Teknologi Bandung

Kelompok Kerja Struktur Konstruksi IPLBI

Moving House: Negosiasi Antara Sistem Konstruksi dan Nilai

Budaya

Erna Meutia1, Muhammad Heru Arie Edytia2, Zulhadi Sahputra3, Cut Dewi4

Korespondensi : [email protected]

1,2,3,4 Program Studi Arsitektur, Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Syiah Kuala

Abstrak

Arsitektur tradisional sebagai hasil budaya yang berkembang dalam masyarakat hingga kini, berupa rumah tradisional. Konstruksinya menggunakan kayu yang memiliki keunikan yang dapat dibongkar pasang. Keahlian konstruksi pada saat itu menghasilkan teknologi yang berkembang dalam masyarakat yang diperoleh secara turun temurun. sistem konstruksi hanya menggunakan sambungan menerus yang diperkuat oleh pasak sangat memudahkan konstruksi tersebut untuk dibongkar pasang. Demikian juga halnya dengan Rumoh Aceh, rumah tradisional Aceh, dibangun melalui sistem konstruksi bongkar-pasang sehingga memungkinkannya untuk berpindah tempat (moving house). Terdapat beberapa cara yang dilakukan untuk moving house, pertama dengan mengangkat rumah Aceh dan ditempatkan di lokasi yang sama, kedua dengan cara membongkar semua elemen konstruksi dan membangun kembali ke lokasi yang berbeda. Beberapa faktor pemindahan rumoh Aceh dipindahkan dari tempat asalnya, diantaranya faktor keamanan, kepemilikan sebagai pewaris, dan upaya pelestarian budaya menjadi alasan lainnya. Oleh karena itu, kajian ini dilakukan melalui pengamatan langsung dan wawancara terhadap pemilik tiga rumoh Aceh yang dipindahkan dari kabupaten Pidie ke Banda Aceh yang berjarak 100 sampai 150 km dan berusia lebih dari 100 tahun. Kajian ini dilakukan untuk melihat bagaimana proses sistem konstruksi rumoh Aceh yang dapat dipindahkan dan bagaimana nilai-nilai budaya dan sejarah tetap dipertahankan melalui proses tersebut terkait faktor fisik dan metafisik.

Kata-kunci: Aceh, fisik, house, rumoh, metafisik, moving

Pendahuluan

Rumah tradisional Aceh, rumoh Aceh, adalah salah satu bentuk arsitektur tradisional yang masih dipertahankan dan menjadi salah satu pilihan hunian masyarakat di beberapa perkampungan di Aceh. Pelestarian warisan yang telah diturunkan oleh para leluhur menjadi alasan utama masyarakat Aceh tersebut masih mempertahankan dan menempati rumoh Aceh. Namun, terdapat beberapa faktor yang menjadi alasan masyarakat Aceh lainnya memilih untuk meninggalkan rumoh Aceh dan atau memilih untuk menggantinya menjadi rumah permanen bermaterial beton yang lebih modern. Nas (2003) dalam Indonesian Houses menjelaskan faktor yang menyebabkan hunian rumoh Aceh mulai ditinggalkan, pertama kesulitan dalam

melakukan aktivitas dibandingkan rumah modern dan yang kedua ketersediaan kebutuhan material kayu yang sesuai dengan konstruksi rumoh Aceh sangat sulit untuk didapatkan. Faktor lainnya adalah tinggal di rumoh Aceh erat kaitannya dengan kemiskinan. Urbanisasi juga turut menyebabkan masyarakat di perkampungan meninggalkan kampung halaman dan tinggal di rumah yang lebih modern. Faktor sosial juga turut merubah pilihan pola huian. Keadaan ini menyebabkan banyak rumoh Aceh tidak ditempati dan tidak terawat. Oleh karena itu rumoh-rumoh Aceh ini mulai diperjualbelikan sehingga keberadaannya akan berpindah lokasi ketempat pemilik yang baru.

Beberapa catatan tentang rumoh Aceh yang ditulis oleh Hadjad (1982), Smith (1997), Dall

(2)

Moving House: Negosiasi Antara Sistem Konstruksi dan Nilai Budaya (1982), Leigh (1989), Hasan, I (2007), Waterson (2009) dan Meutia (2015) yang mengkaji konsep, bentuk, filosofi dan konstruksi rumoh Aceh, membahas tentang konstruksi rumoh Aceh yang menerapkan sistem konstruksi bongkar pasang. Setiap elemen-elemen pembentuk konstruksi memiliki sambungan bebas yang diperkuat oleh pasak yaitu tidak menggunakan paku. Setiap kolom, elemen utama rumoh Aceh, hanya diletakkan di atas sebuah batu kali ataupun umpak beton tanpa ada ikatan. Oleh karena alasan inilah, proses pemindahan rumoh Aceh bukanlah suatu hal yang sulit untuk dilakukan.

Selain faktor sistem konstruksi yang memungkinkan, terdapat beberapa faktor lain yang melatarbelakangi rumoh Aceh dipindahkan dari satu tempat ke tempat lainnya. Pertama adalah faktor keamanan yaitu kurangnya pengawasan pada rumoh Aceh yang sudah tidak ditempati lagi. Kedua adalah sebagai upaya untuk melestarikan budaya. Pemindahan rumoh Aceh ini dapat dilakukan oleh pemilik langsung, pemilik tidak langsung (masih dari garis keturunan keluarga), dan atau dibeli dari pihak lainnya.

Kajian ini dilakukan untuk melihat bagaimana proses sistem konstruksi rumoh Aceh yang dapat dipindahkan dan bagaimana nilai-nilai budaya dan sejarah tetap dipertahankan melalui proses pemindahan tersebut. Kajian ini mengambil studi kasus tiga rumoh Aceh yang berada di kota Banda Aceh. Pengamatan langsung di lapangan dan wawancara akan dilakukan untuk menggali informasi tentang faktor yang menyebabkan rumoh Aceh dipindahkan dan bagaimana proses rekonstruksi dilakukan di lokasi yang baru. Dari data tersebut akan dibahas pula nilai-nilai sejarah yang dipertahankan, tumbuh dan berkembang di lokasi yang baru.

Rumoh Aceh dan Perpindahan Lokasi

Rumah Aceh merupakan rumah yang berbentuk panggung, didirikan diatas sejumlah tiang yang diletakkan diatas sebuah batu (dahulu berupa batu kali yang pipih dan sekarang diatas umpak beton). Bentuk bangunan ini sama di seluruh Semenanjung Melayu dan kepulauan Indonesia

(Dall, 1982). Rumoh Aceh merupakan rumah tradisional masyarakat Aceh yang keberadaannya masih banyak tersebar di pendalaman perkampungan di kabupaten Aceh, seperti kabupaten Aceh Besar, kabupaten Pidie dan kabupaten Pidie Jaya. Saat ini keberadaan rumoh Aceh tidak lagi dijadikan sebagai hunian utama, banyak yang hanya menjadikannya sebagai warisan leluhur yang perlu dijaga dan dilestarikan (Meutia, 2017, 2019). Kekokohan dan ketahanannya terhadap gempa, menjadikannya sebagai tempat berlindung pada saat gempa. Waterson (2009), Meutia (2015), struktur rumoh Aceh secara keseluruhan membantu rumoh Aceh tanggap dengan gempa melalui sifat fleksibelnya terhadap getaran. Join yang menghubungkan struktur rumoh Aceh akan saling mempertahankan posisi masing-masing elemen pembentuk sturktur konstruksi rumoh Aceh.

Gambar 1. Elemen-elemen pembentuk struktur

konstruksi rumoh Aceh.

Tabel 1 berikut menjelaskan elemen-elemen pembentuk rumoh Aceh dan fungsinya. Elemen-elemen ini tergolong pada unsur-unsur utama dalam konstruksi rumoh Aceh.

Perpindahan rumoh Aceh dari dan lokasi yang berbeda dilakukan melalui proses bongkar-pasang, merupakan salah satu keunggulan dari rumoh Aceh. Waterson (2009) menjelaskan rumoh Aceh bisa dipindah-pindahkan karena konstruksinya tidak menggunakan paku. Rumoh Aceh dapat dibongkar dan dipindahkan dengan mudah dari satu tempat ke tempat lainnya. Dall (1982) turut menggambarkan konstruksi rumoh Aceh yang dapat dipindahkan ketempat lain karena konstruksi utama tidak menggunakan paku. Meutia (2015) pasak sebagai penguat pada sambungan antara

(3)

elemen-elemen utama yang membentuk konstruksi, sangat mudah untuk dibuka dan dipasang kembali. Dalam proses pemindahan konstruksi rumah bukan dengan cara mengangkat dan memindahkan ke lokasi yang paling dekat, sebagaimana dilakukan dalam proses pemindahan arsitektur tradisional lainnya di Indonesia Timur (Waterson, 78, 2009). Sejak dahulu proses pemindahan telah dilakukan melalui jalur air seperti sungai dan jalur darat seperti kereta api dan kenderaan bermotor.

Tabel. 1 Hubungan masing-masing elemen dengan

fungsinya

Terdapat dua metode untuk memindahkan rumoh Aceh. Pertama, rumoh Aceh yang dipindahkan pada site yang berbeda di lokasi yang sama. Teknik yang digunakan adalah dengan mengangkat rumoh Aceh yang dilakukan oleh masyarakat setempat secara bergotong-royong. Dalam proses ini akan dipandu oleh utoeh utama. Utoeh akan memberi kayu gelondong sebagai roda untuk menggerakkan rumoh Aceh ke lokasi yang baru. Metode kedua, Proses pemindahan ini terdiri dari proses pembongkaran, pengangkutan, dan

pemasangan dan dilakukan oleh utoeh, ahli tukang yang memiliki ilmu mendirikan rumoh Aceh. Utoeh akan memimpin dan bertanggung jawab dalam semua proses bongkar pasang yang dibantu oleh asisten atau masyarakat sekitar. Rumoh Aceh yang akan dipindahkan masih mempunyai elemen-elemen konstruksi utama dari Rumoh Aceh berupa tiang (tameh), Balok (toi dan roek, lheu, neuduk lheu,

peulangan), dan konstruksi atap (barapanyang,

bara linteung, dirie, tuelung rueng, gaseu,

gaseu gantong). Elemen-elemen tersebut

adalah bagian terpenting dari konstruksi rumoh Aceh yang juga menyimpan nilai-nilai sejarah sehingga dipertahankan oleh pemilik baru.

Studi Kasus Rumoh Aceh

Ada tiga studi kasus rumoh Aceh yang akan dibahas dalam kajian ini. Rumoh Aceh yang dijadikan studi kasus merupakan rumah yang dipindahkan pada abad 20 dan dipindahkan antar kabupaten (berjarak 100-150 km dari kota Banda Aceh). Selain itu, rumoh Aceh yang dipilih berusia lebih dari 50 tahun untuk melihat kekokohan elemen-elemen struktur utama rumoh Aceh.

Gambar 2. Peta Letak Banda Aceh di Provinsi Aceh

(kiri bawah) dan Letak Rumoh Aceh di Peta Banda Aceh (Atas)

No Elemen-elemen Pembentuk Fungsi 1 Pondasi Sebagai landasan tanpa ada ikatan 2 Tiang atau tameh Sebagai rangka utama 3

Toi dan rok Menghubungkan tiang-tiang & diperkuat dengan pasak

4

Bara panyang Menghubungkan tiang-tiang pada bagian atas sekaligus menahan rangka atap

5

Rangka atap: bara linteung, diri, gaseu gantueng, indreng dan diri

Sebagai penahan penutup atap Bara linteung menghubungkan tiang dalam arah melintang.

Diri menahan tuleng rueng. Tuleng rueng menahan gaseu gantueng Indreng sebagai penahan gaseu gantong

(4)

Moving House: Negosiasi Antara Sistem Konstruksi dan Nilai Budaya Studi Kasus I-Rumah Bapak Sulaiman Abda, Tibang

Gambar 3. Letak Rumoh Aceh milik Bapak Sulaiman

Abda di Tibang, Banda Aceh

Rumoh Aceh ini dimiliki oleh Sulaiman Abda, SE, mantan politikus Aceh, yang berasal dari Teupin Raya, kabupaten Pidie Jaya yang berjarak kira-kira 130 km dari Banda Aceh. Alasan pemindahan rumoh Aceh yang dipindahkan tahun 2015 ini adalah untuk mengenang almarhumah istri. Beliau turut membangun mushala di komplek rumoh Aceh yang difungsikan sebagai pusat studi sehingga bermanfaat bagi orang banyak. Pengangkutan dilakukan dengan menggunakan truk dalam dua kali pengangkutan. Rumoh Aceh yang berhasil dipasang kembali tahun 2016 ini merupakan rumah yang diwariskan dari generasi kelima sehingga diperkirakan umur rumah sekitar 150 tahun. Pekerjaan pemindahan dilakukan oleh dua orang utoeh setempat selama dua bulan. Sebelum proses pemindahan, utoeh

memberikan nomor pada setiap elemen-elemen struktur, yaitu pondasi, kolom, dan balok.

Gambar 4. Tampak Selatan (kiri) dan Tampak Barat

(kanan) Rumah Bapak Sulaiman Abda

Studi Kasus II - Rumah Ibu Hindun binti Abdul Qodir, Peurada

Gambar 5. Letak Rumoh Aceh milik Ibu Hindun di

Peurada, Banda Aceh

Rumoh Aceh milik ibu Hindun ini berasal dari Jabal Ghapur, Kabupaten Pidie, Aceh yang dipindahkan ke jalan Flamboyan nomor 5, Prada Utama Banda Aceh pada tahun 1999. Ibu Hindun merupakan generasi ketiga yang secara langsung yang menerima warisan. Pemindahan rumoh Aceh ini dilakukan untuk menghindari terjadinya pengrusakan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab pada masa terjadi konflik di Aceh. Pekerjaan pemindahan dilakukan oleh dua orang utoeh setempat selama dua bulan. Pada proses pembongkaran,

utoeh melakukan pemberian nomor dan tanda (sebagai arah atau orientasi) pada semua elemen-elemen. Pada saat melakukan proses pemasangan kembali, utoeh mengikuti kaidah-kaidah adat yang berlaku dalam proses mendirikan rumoh Aceh, seperti peusijuk

(tepung tawari), menentukan tiang raja dan tiang putroe, dan pemberian sesajen.

Gambar 6. Tampak Barat Daya (kiri) dan Tampak

Timur Laut (kanan) Rumah Ibu Hindun

Gambar 7. Pemberian tanda arah atau orientasi pada

balok (kiri) dan Pemberian tanda nomor urutan pada lantai (kanan) Rumah Ibu Hindun

(5)

Studi Kasus III - Rumah Bapak M Noor, Lingke

Gambar 8. Letak Rumoh Aceh milik Bapak M Noor di

Lingke, Banda Aceh

Pemiliknya M. Noor, seorang pengusaha Aceh, telah mengubah fungsi rumoh Aceh yang dibeli menjadi kedai kopi dan rumah makan khas Aceh. Alasan pemindahan adalah untuk menjaga dan melestarikan bangunan. Proses pembongkaran dan pemasangan kembali dilakukan oleh seorang utoeh yang didatangkan dari tempat lain. Pemilik rumoh Aceh sebelumnya dan yang sekarang tidak memiliki hubungan keturunan, jadi hanya sebatas penjual dan pembeli. Rumah ini sudah berumur lebih dari 100 tahun dan tidak lagi ditempati oleh pemilik sebelumnya. Kondisi konstruksi utama masih baik meskipun elemen-elemen lainnya telah rusak. Rumoh Aceh ini dipindahkan pada tahun 2008 dan proses pemasangan kembali dilakukan selama dua bulan.

Gambar 9. Tampak Tenggara (kiri) dan Suasana di

dalam (kanan) Rumah Bapak M Noor

Pembahasan

Terdapat dua fokus pada pembahasan hasil pengumpulan data tiga rumoh Aceh di atas. Pertama adalah proses pembongkaran yang terkait fisik dari rumoh Aceh. Kedua adalah proses pemasangan kembali yang terkait fisik dan metafisis dari rumoh Aceh.

Pelaksanaan pembongkaran akan dilakukan oleh

utoeh yang mengetahui teknik membangun

rumoh Aceh yang didapat secara turun temurun

dan pengalaman. Setiap elemen yang membentuk struktur konstruksi utama akan diberi kode berupa nomor dan arah orientasi. Pengkodean nomor menggunakan nomor angka dan arah orientasi menggunakan arah mata angin dalam bahasa daerah (tunong dan baroh). Elemen utama dari rangka rumoh Aceh berupa tiang (tameh), balok (toi dan roek, lheu, neuduk lheu, peulangan), dan konstruksi atap (bara panyang, bara linteung, dirie, tuelung rueng,

gaseu, gaseugantong).

Proses pembongkaran akan dimulai dari bagian paling atas dari rumoh Aceh, yang disebut alat ateuh, terdiri dari tuelungrung, gaseugantong,

gaseu, dirie, baralinteung dan barapanyang.

Gambar 10. Proses pembongkaran struktur bagian

atas rumoh Aceh

Selanjutnya utoeh akan membongkar bagian tengah yang disebut alat rumoh, berupa dinding (binteh), tiang (tameh), balok (toi dan roek,

lheu, neuduklheu, peulangan).

Faktor kedua adalah proses pemasangan kembali yang terkait secara fisik dan metafisis. Kedua proses ini akan dilakukan oleh utoeh.

Utoeh akan melakukan proses pemasangan

dengan mengikuti kaidah-kaidah adat yang berlaku dalam mendirikan rumoh Aceh. Proses awal mendirikan rumoh Aceh dilalui dengan upacara peusijuk dan pembacaan doa (Hadjad, Snough, Leigh dan Dall). Demikian juga halnya dengan proses mendirikan kembali rumah yang dipindahkan, utoeh akan memimpin upacara

peusijuk dan doa yang dihadiri oleh pemilik rumah. Pemberian sesajen juga masih dipertahankan dalam pelaksanaan pemasangan kembali rumoh Aceh. Sesajen ini dinamakan “kurah” berisi emas dan kain putih yang melambangkan pemilik rumah agar tetap berjaya dan suci. Pemasangan kembali rangka utama struktur konstruksi rumoh Aceh yang

(6)

Moving House: Negosiasi Antara Sistem Konstruksi dan Nilai Budaya dimulai dari mendirikan Tiang Raja dan Putroe, selanjutnya akan disambungkan dengan balok

Roek dan Balok Toi.

Selanjutnya utoeh akan memasang alat ateuh

berupa rangka atap dan dilanjutkan dengan pemasangan elemen lainnya berupa atap, dinding lantai, pintu dan jendela. Proses pemasangan kembali rumoh Aceh dilakukan dalam waktu selama 2-6 bulan yang tergantung pada besar dan kecil rumahnya.

Kesimpulan

Rumoh Aceh yang menjadi studi kajian merupakan rumoh Aceh yang dipindahkan dari kabupaten Pidie, Aceh. Konstruksi rumoh Aceh dibongkar dengan terlebih dahulu memberi kode pada semua elemen-elemen konstruksi untuk kemudahan dalam proses rekonstruksi kembali. Terkadang beberapa elemen rumoh Aceh yang dibongkar seperti kayu-kayu dinding mengalami kerusakan dan hilang, sehingga pemilik yang baru mengganti elemen-elemen ini dengan material kayu yang baru. Demikian juga dengan material atap yang menggunakan daun rumbia diganti dengan atap seng metal. Secara keseluruhan konstruksi utama pembentuk rumoh Aceh berupa rangka yang masih menggunakan material pada saat konstruksi rumoh Aceh tersebut dibangun. Utoeh akan melakukan rekonstruksi kembali dengan mengikuti kaidah-kaidah adat yang berlaku dalam proses mendirikan rumoh Aceh. Meskipun demikian beberapa kaidah dan filosofi dalam mendirikan rumoh Aceh tidak dapat dilaksanakan terkait kondisi tapak dari pemilik yang baru. Hal ini menunjukkan bahwa kaidah dan filosofi dalam mendirikan rumoh Aceh menyesuaikan dengan kondisi tapak.

Rumoh Aceh memiliki sistem struktur yang dapat dibongkar pasang, sehingga dapat dipindah-pindahkan dan sudah banyak dipindahkan dari tempat asalnya. Ada beberapa faktor yang menyebabkan rumoh Aceh dipindahkan. Pertama faktor keamanan dimana rumah tersebut sudah tidak ada penghuni dan jauh dari pengawasan. Kedua sebagai upaya melestarikan budaya. Pemindahan Rumoh Aceh ini dilakukan baik oleh pemilik langsung maupun tidak langsung (masih dari garis

keturunan keluarga), atau dibeli dari pihak lainnya. Pemindahan dilakukan dari tempat asal dan dibawa ke lokasi pemilik yang baru. Rumah Aceh yang akan dipindahkan dibongkar terlebih dahulu yang dilakukan oleh tukang atau utoeh. Sebelum proses pembongkaran dilakukan, utoeh

akan melakukan pengkodean untuk semua elemen-elemen bangunan. Setiap bagian dari elemen-elemen tersebut seperti tiang, balok, lantai, dinding dan rangka atap diberi kode dengan penomoran. Pengkodean bukan hanya berdasarkan urutan jumlah namun juga orientasi atau arah.

Daftar Pustaka

Dall, Greg. (1982). The Traditional Acehnese House. In The Malay-Islamic World of Sumatra: Studies in Polities and Culture, edited by John Maxwell. Melbourne: Monash University.

Hadjad, Abdul, Drs and team. (1985), Arsitektur Tradisional Propinsi Daerah Istimewa Aceh. Edited by M.J. Melalatoa and Rivai Abu. 2nd ed. Banda Aceh: Pusat Penelitian Sejarah dan Budaya Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah. Hasan, Izziah. (2009), Architecture and Politics of

Identity in Indonesia: A study of the Cultural History of Aceh, The University of Adelaide, Adelaide. Leigh, Barbara. (1989), Hands of Time: The Craft Motifs

of Aceh, Djambatan Publisher, Jakarta

Meutia, Erna. (2011), Sustainable Architecture Within The Local Wisdom Concept of the Acehnese traditional House, Proceeding International Conference on SENVAR 12, Brawijaya University, Malang.

Meutia, Erna, Thermal Performance in Adapted-Acehnese traditional House, Proceeding International Conference on SENVAR 14, Banda Aceh, 2013 Meutia, Erna. (2015), Respon Struktur Rumah

Tradisional Aceh Terhadap Gempa. Workshop: Inventarisasi dan Dokumentasi Arsitektur Rumah TRadsional Etnis di Aceh, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banda Aceh

Meutia, Erna. (2017), The Development Of Acehnese Traditional Architecture In Lubuk Sukun Village Based On Local Knowledge, Proceeding International Conference on SENVAR 14-INTA, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh.

Waterson, Roxana. 2009. The Living House, An Anthropology of Architecture in South-East Asia. Singapore: Tuttle.

Gambar

Gambar 1.  Elemen-elemen pembentuk struktur  konstruksi rumoh Aceh.
Gambar 2. Peta Letak Banda Aceh di Provinsi Aceh  (kiri bawah) dan Letak Rumoh Aceh di Peta Banda  Aceh (Atas)
Gambar 3. Letak Rumoh Aceh milik Bapak Sulaiman  Abda di Tibang, Banda Aceh
Gambar 8. Letak Rumoh Aceh milik Bapak M Noor di  Lingke, Banda Aceh

Referensi

Dokumen terkait

Hal tersebut yang akhirnya melatarbelakangi peneliti untuk mengadakan suatu kajian ilmiah dengan tema “ Konstruksi Nilai-Nilai Nasionalisme dalam Syair Lagu (Studi

Adapun observasi yang dilakukan oleh peneliti dalam penelitian ini, yaitu pada kesenian tarawangsa untuk melihat perwujudan nilai-nilai luhur budaya yang

Secara umum kajian naskah Sejarah Cikundul ini bertujuan untuk memperkenalkan aspek budaya yang terkandung dalam sastra klasik kepada masyarakat luas agar mereka lebih

Proses dalam menginternalisasikan nilai-nilai relief candi Penataran dalam pembelajaran sejarah untuk menumbuhkan kesadaran budaya bagi generasi muda melalui

(3) Proses internalisasi nilai-nilai budaya Peumulia Jamee dalam pembelajaran sejarah di SMA Negeri 1 Darul Makmur terdapat beberapa kendala yang dihadapi oleh guru

Hal itu disebabkan karena nilai – nilai budaya itu merupakan konsep – konsep mngenai apa yang hidup dalam alam pikiran sebagian besar dari dari warga suatu masyarakat mengenai

Seperti halnya kesenian PMToH yang telah mendapat tempat dihati rakyat Aceh, mempunyai peranan penting dalam menyebarkan nilai-nilai budaya tidak dapat dipisahkan dari tatanan kehidupan

Strategi Aktualisasi Nilai-nilai Kepesantrenan Dalam Konstruksi Budaya Religius Strategi yang merupakan suatu langkah yang dirancang untuk mengaktualisasikan sebuah konsep, ide atau